Tag: SMKN 2 Sampit

  • Menembus Standar Berita: Evolusi Karya Feature Pelajar FLS3N Kotim Tampil Lebih Bernyawa

    Menembus Standar Berita: Evolusi Karya Feature Pelajar FLS3N Kotim Tampil Lebih Bernyawa

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tumpukan naskah lomba jurnalistik pelajar tak lagi didominasi rentetan laporan kegiatan yang kaku.

    Dari 17 karya feature pelajar tingkat SMA sederajat yang bersaing dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Kabupaten Kotawaringin Timur 2026, dewan juri menemukan napas baru: nyawa tokoh, konflik emosional, dan observasi lapangan yang tajam.

    Lomba yang dilaksanakan di SMAN 3 Sampit sebagai tuan rumah ini dikawal Pahnai dari SMKN 1 Sampit selaku koordinator, didampingi Ikhsan Hidayat Lubis dari SMAN 3 Sampit sebagai anggota.

    Pahnai menuturkan, standar tinggi perlombaan sengaja dipatok sejak awal, terutama dalam menentukan tim penilai agar kualitas karya peserta benar-benar teruji.

    ”Pemilihan juri lomba jurnalistik bukan kaleng-kaleng, tapi dari orang-orang yang memang sudah berpengalaman di bidang jurnalistik,” ujar Pahnai, Selasa (28/4/2026).

    Penilaian ketat itu dipercayakan kepada dua jurnalis kawakan, yakni Norjani Aseran dari Antara Biro Kalimantan Tengah di Sampit dan Gunawan, Pemimpin Redaksi Kanal Independen (kanalindependen.id).

    Keduanya menilai secara kritis karya peserta dari segi konten, kaidah jurnalistik, hingga kebahasaan.

    Sudut cerita, kedalaman liputan, serta cara peserta mengolah fakta menjadi narasi yang mengalir mendapat perhatian khusus.

    Norjani melihat lompatan kualitas yang nyata dari karya para peserta tahun ini. Tulisan para tunas muda tersebut perlahan berevolusi, memotret manusia sebagai pusat cerita.

    ”Kualitas rata-rata peserta tahun ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebagian besar feature yang dibuat sudah memenuhi standar berita,” katanya.

    JUARA: Para juara lomba jurnalistik FLS3N Kabupaten Kotawaringin Timur 2026 bersama dewan juri dan koordinator lomba, Selasa (28/4/2026) di SMAN 3 Sampit. (Panitia FLS3N/Kanal Independen)

    Hasil penilaian akhir menempatkan Halisah dari SMAN 1 Kota Besi (nomor peserta 14) sebagai kampiun.

    Naskahnya yang bertajuk ”Perjuangan di Balik Kanvas Putih” meraih skor tertinggi 181,25.

    Tulisan ini mengangkat kehidupan Elwani Sarwando atau Iwan, seorang perupa asal Sampit.

    Juri terpukau kemampuan Halisah menyajikan detail observasi yang hidup. Mulai dari aroma cat minyak, ukiran kayu berbentuk ikan jelawat, sisa warna di tangan narasumber, hingga konflik batin sang seniman yang sempat ditentang ayahnya.

    Tulisan ini dinilai mampu menghadirkan suasana kerja perupa secara kuat.

    Posisi kedua diamankan Thovan Maulana Putera dari SMKN 2 Sampit (nomor 04) dengan nilai 177,25.

    Lewat naskah ”Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa,” Thovan merangkai alur penceritaan yang kokoh.

    Dia memotret jatuh bangun seorang pelajar yang sempat putus sekolah tiga tahun demi merawat sang ayah, lalu bangkit menemukan ketahanan mental lewat panggung monolog hingga menembus level nasional.

    Ahmad Raja dari SMAN 1 Sampit (nomor 02) menyusul di tempat ketiga dengan nilai 173,75.

    Karyanya, ”Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman,” tampil sangat kuat secara reportase.

    Dia merekam langsung proses pelestarian seni tutur tradisional melalui inovasi kecapi elektrik, menyajikan suasana wawancara yang utuh serta relevan dengan dinamika zaman.

    Kekuatan sudut pandang kemanusiaan (human interest) juga kuat terlihat pada karya para peraih juara harapan.

    Savira Yuni Florenzya dari SMKN 2 Sampit (Harapan 1, nilai 168,25) menyuguhkan kisah haru Khoirul Saputra, penari yang harus banting setir menjadi pemain kecapi setelah paha kirinya patah akibat tabrak lari di tikungan Desa Bejarum.

    Sementara itu, Bilal Aqso Setiawan dari SMAN 1 Sampit (Harapan 2, nilai 167,75) mengeksplorasi kekayaan kearifan lokal melalui sosok seniman kriya H. Haitami A.M.

    Selanjutnya, Selvia Maharani dari SMAS PGRI 2 Sampit (Harapan 3, nilai 162) merekam ketangguhan Salsabila, penyanyi muda dari Desa Terantang yang menopang ekonomi keluarga lewat musik.

    Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap kerja keras peserta, Kanal Independen menerbitkan artikel feature juara 2, 3, serta harapan 1 hingga 3 di portal Kanal Independen (kanalindependen.id).

    Redaksi hanya memoles aspek teknis seperti ejaan dan tanda baca, memastikan orisinalitas substansi dan gaya bahasa khas pelajar tetap utuh.

    ”Peserta sudah punya modal besar. Mereka tidak boleh berhenti menulis. Ide dan gagasan yang mereka miliki bisa menjadi inspirasi bagi orang lain jika terus diasah dan berani dipublikasikan,” ujar Gunawan.

    Langkah publikasi ini telah mengantongi restu panitia. Satu-satunya karya yang belum ditayangkan adalah milik sang juara pertama.

    Keputusan ini merupakan bagian dari persiapan menuju tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

    Ajang FLS3N tahun ini menunjukkan bahwa pelajar Kotim memiliki ketajaman bercerita melalui proses kerja jurnalistik.

    Mereka tidak hanya menyalin fakta, tetapi mampu merangkum seni, budaya, dan karakter manusia dalam sebuah narasi jurnalistik yang layak dibaca publik. (ign)

    Berikut Karya para Juara:

    Juara 2: Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa (Thovan Maulana Putera, SMKN 2 Sampit)

    Juara 3: Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman (Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit

    Juara Harapan 1: Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi (Savira Yuni Florenzya, SMKN 2 Sampit)

    Juara Harapan 2: Satu Tumbuh Seribu: Dari Bapak Haitami untuk Generasi Muda (Bilal Aqso Setiawan, SMAN 1 Sampit)

    Juara Harapan 3: Menguatkan Karakter Diri lewat Seni Musik (Selvia Maharani, SMAS PGRI 2 Sampit)

  • Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi

    Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi

    Di balik seragam pramuka rapi dan topi biru yang dikenakannya, Khoirul Saputra menyimpan rahasia tentang rasa sakit yang pernah melumpuhkan semangatnya. Namun siapa sangka, penari yang kini tekun memetik kecapi ini pernah dipaksa menyerah oleh aspal jalanan.

    Savira Yuni Florenzya

    Bel pulang sekolah belum berbunyi, aku sudah berada di luar kelas karena guru mengakhiri pelajaran lebih awal.

    Langkah kakiku menuju taman bacaan sekolah, aku pun menunggu. Tak lama kemudian, duduklah seorang remaja laki-laki. Ia mengenakan seragam pramuka lengkap, bertopi biru sedikit miring, terkesan santai.

    Penulis mewawancarai Khoirul Saputra di area perpustakaan sekolah. (Dokumentasi pribadi penulis)

    Sebelumnya, aku mendengar namanya dari perbincangan guru, ia salah seorang siswa berprestasi.

    Berbagai pengalaman dan pencapaian telah diraih, sehingga menumbuhkan rasa penasaranku untuk menulis kisahnya.

    Dialah Khoirul Saputra, dulunya dikenal sebagai penari, dan kini menapaki jalan baru sebagai pemain musik tradisional Kalimantan Tengah.

    Di bangku sekolah menengah pertama, ketertarikannya pada seni tari tumbuh karena sang nenek.

    Khoirul terpukau oleh balutan kain anggun serta gerakan indah penuh makna. Kekaguman itu berubah menjadi hasrat untuk menjadi penari seperti sang nenek.

    Kesehariannya saat itu cukup padat. Saat pulang sekolah, waktunya banyak dihabiskan untuk membantu orang tua, memuat dan mengirim hasil panen sawit. Bahkan pernah mengirim sawit dengan beban dua ton.

    Hal itu tentu menghambat masa berlatihnya. Namun di tengah keterbatasan waktu, tersimpan cita-cita menjadi penari terkenal sekaligus memperkenalkan budaya. Inilah yang memaksanya pandai-pandai mencuri waktu untuk berlatih.

    Memasuki masa SMK, bakat menari pemuda kelahiran 13 Maret 2008, Desa Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ini semakin terlihat.

    Ia pertama kali tampil dalam kegiatan unjuk bakat saat masa pengenalan lingkungan sekolah.

    Momentum ini menjadi titik awal tumbuhnya kepercayaan diri untuk menari di atas panggung. Sejak itu, ia terus menekuni dunia tari dan semakin serius mengasah kemampuan demi mewujudkan impian yang telah lama tersimpan.

    Khoirul Saputra menampilkan tarian dengan penuh ekspresi dalam perlombaan antar kelas, disaksikan seluruh siswa di halaman sekolah. (Dokumentasi pribadi narasumber)

    Namun, nasib malang menimpa anak ketiga dari enam bersaudara itu. Pada suatu hari di akhir tahun 2023, saat dalam perjalanan dari kos di Sampit menuju rumah orang tuanya di Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ia mengalami kecelakaan di tikungan tajam Desa Bejarum, Kecamatan Kota Besi. Ia mengalami tabrak lari.

    ”Tiba-tiba pandangan saya gelap saat melewati tikungan tajam itu. Ketika sadar, saya sudah berada di dalam selokan. Saat melihat kaki kiri saya yang tampak patah, saya hanya bisa pasrah. Sepertinya saya tidak bisa menari lagi,” ucapnya.

    Setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Kota Besi. Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Murjani Sampit dengan ambulans.

    Pandangannya tertuju pada wajah kedua orang tuanya yang tampak sedih melihat putra mereka terbaring menahan sakit.

    Situasi itu membuatnya semakin terpuruk. Terlebih melihat wajah ayahnya yang berkeringat dan berlumur arang, ia sadar ayahnya baru saja berjuang memadamkan kebakaran di lahan.

    Di dalam ambulans, rasa sakit yang menjalar di kakinya membuatnya terdiam. Namun di tengah rasa nyeri itu, terlintas dalam benaknya bahwa ia masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah dan masih memiliki peluang untuk membanggakan kedua orang tuanya.

    Dari titik itulah ia memanjatkan doa, menguatkan tekad untuk bangkit kembali dan memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya.

    Khoirul berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia harus membalas budi dan memberi kebahagiaan kepada kedua orang tuanya.

    Sesampainya di RSUD Murjani, ia menjalani rontgen dan diketahui paha bagian kirinya patah.

    Namun, operasi tidak bisa segera dilakukan karena alat yang dibutuhkan tidak tersedia dan harus menunggu lama.

    Tak ingin membebani orang tua dan ragu menjalani operasi, ia memilih pengobatan alternatif menggunakan obat tradisional.

    Ia akhirnya menuju Kota Besi untuk menjalani pengobatan selama lebih dari satu bulan hingga masa pemulihan.

    Setelah ia kembali bersekolah, seorang guru mengatakan bahwa ia adalah harapan dalam lomba tari.

    Rasa kecewa menyesak di dadanya, karena ia sudah tak bisa meraih impian menjadi penari terkenal sekaligus melestarikan budayanya. Tapi ia mencoba menerima keadaan itu, meski menganggapnya sebagai titik terburuk dalam hidupnya.

    Setelah perlahan bangkit dari keterpurukan, ia mulai menemukan kembali semangatnya melalui seni, namun kali ini di bidang yang berbeda.

    Sebelum masuk SMK, ia sebenarnya sudah tertarik mempelajari kecapi. Ketertarikan itu sekarang kembali saat melihat temannya memainkan alat musik tradisional di sekolah, hingga ia mulai mencari tahu lebih jauh.

    Awal perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Fasilitas alat musik di sekolah yang sebagian rusak membuatnya sempat tidak bergairah.

    Senar kecapi yang putus membuatnya tidak bisa langsung belajar alat yang diminatinya.

    Namun, di luar sekolah, ia memanfaatkan alat musik ukulele yang nadanya diatur seperti kecapi.

    Bahkan ia menghabiskan waktu bermalam-malam untuk berlatih kecapi menggunakan ukulele hingga akhirnya mulai menguasainya.

    Baginya, beralih dari dunia tari ke musik bukanlah hal yang mudah, namun ia merasa musik lebih dapat dipelajari dengan santai meski dengan kondisi kakinya yang masih sakit.

    ”Tantangan dalam mempelajari bidang baru bukanlah alasan untuk menyerah. Sesulit apa pun itu, selagi mau berusaha pasti mudah,” ujarnya.

    Ketika teman-temannya belum terlihat di ruang latihan, ia sudah lebih dulu menginjakkan kaki di ruangan itu, menunggu sambil belajar secara mandiri. Jemarinya mulai terbiasa menepuk permukaan gendang nan bersemangat dan memetik dawai kecapi nan menenangkan.

    Ketekunannya membuahkan hasil. Ia mulai dipercaya memainkan berbagai instrumen dalam latihan, mulai dari gendang hingga kecapi dalam musik karungut.

    Kesempatan tampil pertama datang saat pembukaan acara temu alumni di sekolah. Pengalaman tersebut menjadi langkah awalnya sebelum mengikuti perlombaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) pada tahun 2025.

    Saat pelaksanaan FLS3N, musik tradisional membawanya pada prestasi beruntun. Juara I tingkat kabupaten hingga juara III tingkat provinsi.

    Khoirul (mengenakan kacamata) bersama tim dan pelatihnya sebelum rekaman FLS3N tingkat provinsi. (Dokumentasi pribadi narasumber)

    Sementara dalam Festival Habaring Hurung ia berhasil meraih juara pertama. Prestasi tersebut mengantarkannya mewakili kabupaten pada ajang Isen Mulang di Palangka Raya.

    Dalam perlombaan tersebut, ia kembali dipercaya menjadi bagian dari tim pemusik untuk mengiringi pertunjukan tari.

    Saat ini, ia bersama timnya tengah mempersiapkan diri menghadapi perlombaan selanjutnya.

    Khoirul (memegang kecapi) sedang berlatih bersama timnya untuk persiapan lomba Festival Habaring Hurung. (Dokumentasi pribadi narasumber)

    Dari berbagai pencapaian yang diraih, kini ia memiliki mimpi lebih besar.

    ”Saya ingin menjadi pemain musik tradisional yang dikenal luas,” ucapnya.

    Baginya, musik tradisional bukan hanya sebuah seni, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

    Khoirul membuktikan keterbatasan saat tak bisa lagi menari bukanlah halangan untuk berprestasi.

    Kecintaan terhadap seni dan budaya telah mengakar kuat di dalam diri. Bidang apapun yang digeluti justru menjadi pintu baru meraih mimpi.

    ”Saya harap, dari perjalanan yang saya tempuh, semakin banyak generasi muda yang tertarik mengikuti jejak saya untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah. Apapun kendala dan tantangannya,” tutupnya. (***)

    Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Savira Yuni Florenzya, SMKN 2 Sampit

  • Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa

    Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa

    Di bawah sorot panggung, Mariatul Khiptiah adalah pusat semesta yang lantang bicara. Namun, tak banyak yang tahu, dia pernah akrab dengan kesunyian. Selama tiga tahun sempat vakum dari pendidikan formal demi menjaga sang ayah dan usaha keluarga. Perjalanan panjang dari keputusasaan menuju panggung nasional inilah yang membawaku menembus hujan menuju Bagendang.

    Thovan Maulana Putera

    PEREMPUAN berbusana serba hitam melangkah tepat di jantung panggung. Disoroti cahaya lampu. Tak ada orang lain. Tak ada properti yang bisa dijadikan tameng.

    Hanya cahaya memisahkannya dari kegelapan di atas lantai pertunjukan dan cerita yang harus dia lantangkan.

    Caranya menarasikan tiap jengkal cerita dengan emosi yang begitu hidup, membungkam mulut setiap pasang mata hingga tenggelam dalam bisu.

    Begitulah imajinasiku pada monolog yang ditampilkan Mariatul Khiptiah dalam FLS3N 2025 tingkat Nasional di Jakarta sebelum aku temui.

    Penampilan monolog Mariatul Khiptiah dalam pentas FLS3N di Institut Kesenian Jakarta. (Dokumentasi milik Narasumber)

    Sekitar pukul 13.40, aku berangkat ke Mentaya Hilir Utara atau kerap disebut Bagendang untuk menemui Mariatul Khiptiah.

    Sepanjang perjalanan dari Sampit ke wilayah itu, mobil yang aku tumpangi harus menembus derasnya hujan.

    Sekitar setengah jam perjalanan menelusuri jalan trans Kalimantan akhirnya aku tiba di lokasi tujuan.

    Aku berlari kecil menyusuri koridor hingga akhirnya berhenti di salah satu ruangan yang dipakai untuk latihan kesenian.

    Aku menunggu. Tak lama dia pun datang. Akhirnya aku bisa bertatap muka dengan Mariatul Khiptiah, kesan pertama begitu hangat dan santai, dan tak pelit bicara.

    Mariatul Khiptiah (Berpakaian hitam) sedang diwawancarai penulis. (Dokumentasi milik Penulis)

    Bagi Mariatul Khiptiah atau akrab dipanggil Maria, pukul 06.05 bukan sekadar angka di jam, melainkan janji.

    Perempuan kelahiran 06 Oktober 2004 asal Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

    Dia selalu tepat waktu. Di sekolahnya, dia menjalani hari-harinya seperti siswa lain seperti piket pagi, bercengkerama dengan teman.

    Namun saat jam kosong di mana teman-temannya bercakap riang, dia memilih membenamkan diri di pojok baca, nyaris semua buku seni nonfiksi yang disediakan sekolah itu dia lahap.  

    Di balik seragam putih abu-abunya, dia menyimpan kisah sebagai Finalis FLS3N 2025 cabang Monolog.

    Namun, Maria tak pernah sombong, dia tetap seperti air tenang, tak berisik, dan selalu tahu arah yang dia tuju.

    Tahun 2020, saat badai pandemi Covid-19 mengusik dunia, menjadi masa berat bagi banyak orang.

    Tak terkecuali bagi keluarga Maria. Bahkan ironisnya, pandemi usai saat lulus SMP cobaan baru kembali datang, kesehatan sang ayah malah menurun. Ini memaksa jejaknya menggali ilmu terhenti.

    ”Saat itu, mau tidak mau aku menunda melanjutkan pendidikan untuk mengurus usaha ayah,” ucapnya dengan nada bicara turun.

    Maria terpaksa terjun untuk membantu usaha keluarganya. Tangan yang mestinya mengetik tugas dan telinga menerima penjelasan guru, kini justru sibuk berkutat dengan tandan buah segar kelapa sawit.

    Saat teman-temannya belajar dari rumah, dia malah disibukkan dengan pekerjaan yang lumayan berat. Keinginan melanjutkan sekolah pun sempat terlupa.

    Suatu ketika, kakak pertamanya berkata kepada Maria ”Dek, kamu harus sekolah lagi. Sudahlah, soal usaha ini serahkan ke kakak,” ujarnya.

    Kalimat itu ibarat cambuk yang memacu semangat Maria. Dia pun mencari sekolah terdekat. Langkahnya jatuh pada salah satu sekolah, saksi bisu permulaan dunia teater milik Maria.

    Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momentum paling berkesan bagi Maria.

    Saat itu dia dipertontonkan video monolog dari kakak kelasnya. Ini sangat membekas di benaknya, hingga dia pun bertekad tak hanya menonton namun harus menjadi bagian cerita.

    Memulai lagi dari nol belajar di bangku SMA dalam usia lebih dewasa daripada teman-teman sekelasnya tidak membuatnya malu.

    Justru, ini jadi pemantik semangat bagi Maria untuk pembuktian diri. Demikian halnya dengan teater. Akan tetapi, dunia teater ternyata tak semudah ekspektasinya.

    ”Bayangkan, untuk menghafal naskah selama tiga hari, aku hanya bisa mencerna satu kata,” ujarnya dengan nada pelan, seolah itu rahasia.

    Tanpa dasar, tanpa pengalaman, Maria memulai kegiatan berteater dari awal, di bawah bimbingan Tiara Permata Sukma. Di teater, mental maupun fisiknya ditempa.

    Saat lomba, selama tiga bulan dia melatih diri dengan gestur, artikulasi, blocking, dan penguasaan ekspresi. Teater memberinya pelajaran berharga: kehidupan, kesabaran, cara mengendalikan emosi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak individu.

    Kalamantana, karya Titi (pembimbing monolog) merupakan salah satu naskah paling membekas yang pernah dia bawakan di panggung. Baginya, itu bukan sekadar dialog, melainkan teguran.

    Memerankan tokoh “Tanah” dengan watak lelah, marah, dan tersakiti oleh kerakusan manusia.

    ”Jangan sombong manusia! Karena aku mengingat semua bentukmu sebelum kau mengenakan nama,” ucap Maria, menirukan di depanku.

    Kalimat itu mengakar dalam benaknya. Menurutnya, satu kutipan naskah ini begitu kuat, dapat membuatnya berapi-api.

    Di lantai panggung, Maria membiarkan tubuhnya menjadi wadah untuk kemarahan bumi, seolah jiwanya tergantikan.

    Meskipun gestur dan ekspresi dilatih secara khusus, saat lampu menyorot, dia biarkan intuisi mengalir. Jika meleset dari naskah, improvisasi spontan menjadi pilihan terbaik untuknya, tanpa harus berganti jiwa.

    ”Ini bukan hanya cuma lomba biasa, tapi itu adalah kecintaanku pada seni,” ujarnya dengan mata berbinar.

    Menurut Maria, kerja keras tanpa dorongan orang-orang terdekat nyaris mustahil.

    Dukungan kedua orangtuanya, arahan pembimbing, serta dedikasi pelatih dan kru menjadi mesin bagi raga dan mentalnya. Sedangkan doa dan ikhtiar jadi bahan bakarnya.

    Di pedesaan Bagendang jarang ada anak bisa berdiri di panggung nasional, namun siapa sangka Maria dapat membantah stigma tersebut.

    Dengan latar belakang sempat tertunda tiga tahun absen di meja sekolah, semangat dan kecintaannya terhadap seni dapat menorehkan prestasi mengagumkan.

    Perjalanannya mengalir deras melewati satu demi satu tahapan: Juara 1 tingkat kabupaten, berlanjut ke provinsi, hingga terbang ke Jakarta dan bersaing dengan 35 perwakilan masing-masing provinsi.

    Banyaknya perwakilan tersebut tak bisa memadamkan api semangat Maria.

    Di balik setiap langkah Maria menuju panggung nasional, ada doa dua orang tak pernah absen: orangtuanya, mereka paling percaya padanya sejak awal.

    ”Kalau dipikir-pikir, jika saja dulu aku tidak kembali ke sekolah,” gumamnya pelan, matanya menerawang sendu.

    Dia berhenti sejenak, seolah merangkai kata-kata berikutnya.

    ”Pencapaian ini tidak pernah ada. Mungkin aku bisa ikut sanggar, tapi tak akan pernah bisa membawa nama sekolah dan provinsi sejauh ini.”

    Seni teater telah mengubah jati diri Maria. Jika saja dulu dia hanya mengenal disiplin yang kaku, kini dia belajar tentang batasan dan sikap saat bertemu orang baru.

    Menjadi lebih mawas diri, namun tetap rendah hati dan bersosialisasi dengan teman. Salah satu nilai dibawa Maria hingga sekarang adalah, setinggi apapun prestasi kita, janganlah berlagak sombong, layaknya napas tokoh “Tanah” dalam naskah Kalamantana.

    Mariatul Khiptiah telah menyelesaikan perjalanan panjang dalam hidupnya. Dari perempuan kehilangan harapan sekolah, menjadi peraih gelar menginspirasi orang lain.

    ”Untuk siapa pun yang berada di posisi sepertiku atau merasa tertinggal. Jangan menyerah, apa pun keadaannya. Jangan pernah berpikir kalau hidupmu berhenti di situ saja.”

    Dari pertemuan dan wawancara dengan Maria menambah khazanah baruku soal seni yang menguatkan karakter.

    Ternyata, sering kali sorot lampu paling terang justru dimenangkan kepada jiwa berani bangkit setelah terjatuh. (***)

    Juara 2 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Thovan Maulana Putra, SMKN 2 Sampit

  • Pelajar SMK Negeri 2 Sampit Menghilang, Diduga Tenggelam di Danau Bina Karya

    Pelajar SMK Negeri 2 Sampit Menghilang, Diduga Tenggelam di Danau Bina Karya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Seorang pelajar SMK Negeri 2 Sampit dilaporkan menghilang dan diduga tenggelam saat berenang di Danau Bina Karya, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis sore  (26/2/2026).

    Korban diketahui bernama Ananda Putra Wijaya (19). Berdasarkan informasi awal, korban berenang bersama teman-temannya sebelum akhirnya diduga kelelahan dan tenggelam.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur Multazam, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 WIB.

    “Korban berenang menuju titik tertentu untuk mengejar kawan-kawannya, jaraknya sekitar 75 sampai 100 meter dari tepi danau. Diduga karena kelelahan, korban kemudian tenggelam,” ujar Multazam.

    Usai menerima laporan, BPBD Kotim langsung bergerak cepat dengan menurunkan satu unit perahu karet ke lokasi kejadian. Tim gabungan melakukan upaya pencarian dengan penyelaman di sekitar titik korban terakhir terlihat.

    “Kami sudah meluncurkan satu unit perahu karet dan mencoba melakukan penyelaman di sekitar lokasi kejadian,” tambahnya.

    Selain itu, BPBD Kotim juga telah berkoordinasi dengan Pos SAR Sampit untuk memperkuat upaya pencarian korban.

    “Kami masih menunggu bantuan dari Pos SAR Sampit, mudah-mudahan bisa segera berkolaborasi dalam proses pencarian,” katanya.

    Sementara itu, pihak keluarga korban telah dihubungi. Orang tua Ananda diketahui berada di Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Sampit.

    Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan dengan harapan korban dapat segera ditemukan. (***)