Tag: Sungai Tabuk

  • Rasa Waswas di Bantaran Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    Rasa Waswas di Bantaran Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana di bantaran Sungai Tabuk, Kelurahan Kota Besi Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, tak lagi setenang biasanya. Kemunculan seekor buaya berukuran besar di dekat permukiman memunculkan waswas di kalangan warga yang selama ini menggantungkan aktivitas sehari-hari pada aliran sungai tersebut.

    Menindaklanjuti laporan warga, BKSDA Resort Sampit turun langsung ke lokasi untuk menemui masyarakat sekaligus memberikan imbauan kewaspadaan agar aktivitas di sungai sementara waktu dibatasi.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya telah berdialog dengan warga di sekitar bantaran Sungai Tabuk, termasuk Ruminah, warga Jalan Iskandar RT 06 RW 04, yang mengaku melihat langsung kemunculan buaya pada pagi hari sebelumnya.

    “Menurut keterangan Ibu Ruminah, buaya itu muncul tidak jauh dari belakang rumahnya,” ujar Muriansyah, Sabtu (14/2/2026).

    Kemunculan reptil besar tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama karena anak-anak di lingkungan tersebut masih kerap mandi dan bermain di lanting yang berada di atas sungai  aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga bantaran.

    Sebagai langkah antisipasi, BKSDA Resort Sampit memasang empat spanduk peringatan di sejumlah titik rawan di sekitar Kota Besi Hulu. Selain itu, petugas juga memberikan pengarahan langsung kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai, terutama pada malam hari ketika buaya cenderung lebih aktif.

    Dalam imbauannya, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memancing kedatangan buaya ke perairan sekitar permukiman. Warga diingatkan untuk tidak menambatkan atau memelihara ternak di tepi maupun di atas sungai, tidak membuang bangkai hewan ke sungai, serta tidak membuang sampah rumah tangga ke aliran sungai karena dapat menarik buaya mendekati kawasan tempat tinggal.

    Masyarakat juga diminta segera melapor apabila melihat kemunculan buaya di sekitar permukiman. Laporan dapat disampaikan kepada BKSDA Resort Sampit, pemerintah desa atau kelurahan setempat, maupun aparat kepolisian dan TNI terdekat agar penanganan dapat segera dilakukan.

    Dalam penjelasannya, Muriansyah mengungkapkan kemunculan buaya di wilayah permukiman umumnya dipicu oleh berkurangnya habitat alami akibat perubahan lingkungan, ketersediaan sumber makanan di sekitar sungai, serta meningkatnya aktivitas manusia di bantaran sungai yang memicu pergeseran wilayah jelajah satwa.

    BKSDA memastikan pemantauan akan terus dilakukan di kawasan Sungai Tabuk, sembari berkoordinasi dengan aparat setempat guna mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar  situasi yang kini mulai dirasakan nyata oleh warga bantaran sungai. (***)

  • Buaya Muncul di Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    Buaya Muncul di Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pagi yang biasanya tenang di bantaran Sungai Tabuk mendadak berubah tegang. Seekor buaya dilaporkan muncul di aliran sungai yang berada di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat pagi (13/2/2026).

    Kemunculan satwa liar tersebut sontak mengundang perhatian warga. Sungai Tabuk yang terhubung langsung dengan Sungai Mentaya selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian masyarakat mulai dari mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya.

    Kini, aliran sungai yang biasa memberi kehidupan justru menghadirkan rasa waswas, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan anak-anak yang kerap bermain di sekitarnya.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengatakan buaya terlihat timbul di belakang rumah warga pada pagi hari.

    “Informasi yang kami terima, buaya muncul di belakang rumah warga di kawasan Sungai Tabuk, Kelurahan Kota Besi Hulu. Waktunya sekitar pukul 07.36 WIB,” ujar Muriansyah saat dikonfirmasi.

    Fenomena kemunculan buaya di wilayah permukiman bukan kali pertama terjadi di Kotim. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik buaya–manusia kerap muncul di daerah aliran Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat alami buaya.

    Alih fungsi lahan, aktivitas manusia di bantaran sungai, serta berkurangnya ruang jelajah satwa liar diduga menjadi faktor yang mendorong buaya mendekati permukiman. Di sisi lain, ketergantungan warga terhadap sungai membuat potensi konflik semakin sulit dihindari.

    Menyikapi kondisi tersebut, warga diimbau untuk sementara waktu mengurangi aktivitas di sungai, khususnya mandi dan berenang yang berisiko tinggi. Masyarakat juga diminta saling mengingatkan, terutama kepada anak-anak, agar tidak bermain di tepi sungai tanpa pengawasan.

    Apabila buaya kembali terlihat, warga diminta segera melapor kepada aparat desa atau pihak berwenang agar dapat segera ditindaklanjuti.

    “Keselamatan warga menjadi prioritas. Kami harap masyarakat tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang membahayakan diri,” tegas Muriansyah.

    Hingga saat ini, pihak terkait masih memantau perkembangan di lapangan guna memastikan situasi tetap terkendali serta mencegah terjadinya konflik yang dapat merugikan manusia maupun satwa liar. (***)