Tag: Wisata Sampit

  • Misteri Bekantan Mati di Ujung Pandaran: BKSDA Buka Suara, Penyebabnya Masih Gelap

    Misteri Bekantan Mati di Ujung Pandaran: BKSDA Buka Suara, Penyebabnya Masih Gelap

    ​SAMPIT , Kanalindependen.id – Kematian seekor bekantan (Nasalis larvatus) di kawasan wisata Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menyisakan teka-teki besar. Satwa endemik Kalimantan yang dilindungi undang-undang tersebut ditemukan mati membusuk, sementara penyebab pasti hilangnya nyawa satwa tersebut hingga kini masih gelap.

    ​Informasi kematian satwa berhidung panjang ini mencuat setelah rekaman video bangkai bekantan beredar luas di media sosial. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit bergerak menelusuri laporan tersebut sejak Senin (21/9/2026).

    ​Bangkai bekantan pertama kali ditemukan pada Minggu (20/9/2026) sore oleh Indra, petugas penjaga kawasan wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim. Saat ditemukan, kondisi bangkai sudah tidak segar, mengalami pembusukan tingkat lanjut, berbelatung, serta mengeluarkan bau menyengat.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menjelaskan bahwa lantaran bangkai telah dikuburkan oleh petugas di lokasi dan pemeriksaan awal hanya bersandar pada dokumentasi video, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik yang jelas.

    ​“Dari video yang kami periksa, tidak terlihat luka akibat jerat ataupun bekas benda tajam. Kondisinya memang sudah membusuk ketika ditemukan. Untuk penyebab kematiannya masih belum bisa kami pastikan, apakah karena faktor alam, sakit, atau hal lainnya,” ungkap Muriansyah, Selasa (22/9/2026).


    ​Fakta lain terungkap saat BKSDA mencocokkan fisik bangkai dengan rekaman video bekantan yang beberapa pekan terakhir kerap muncul menyapa pengunjung di objek wisata Ujung Pandaran. Hasil identifikasi memastikan bahwa bekantan yang mati merupakan individu yang berbeda.

    ​Perbedaan fisik terlihat mencolok pada ukuran tubuh dan bentuk hidung, di mana individu yang kerap terekam sebelumnya memiliki postur tubuh jauh lebih besar serta hidung yang lebih panjang. Temuan ini sekaligus menepis spekulasi publik bahwa bekantan langganan pengunjung Ujung Pandaran tersebut telah tewas.

    ​BKSDA Sampit mengimbau pengelola kawasan wisata dan pengunjung untuk tidak memberikan makanan (feeding) kepada satwa liar yang muncul di area pantai. Praktik pemberian makan dikhawatirkan mengubah perilaku alami satwa, memicu ketergantungan pada manusia, serta meningkatkan risiko penularan penyakit (zoonosis) maupun konflik interaksi.

    ​Kematian bekantan di Ujung Pandaran—terlepas dari belum pastinya pemicu utama—menjadi peringatan keras atas rentannya interaksi antara aktivitas pariwisata massal dan habitat alami satwa liar. Terlebih di tengah situasi karhutla Kotim yang merusak vegetasi pesisir Teluk Sampit, perubahan perilaku satwa dan ancaman gangguan lingkungan wajib diantisipasi dengan penanganan konservasi yang terukur.

    ​BKSDA Sampit diharapkan bisa berkonsultasi dengan dokter hewan guna mengetahui kepastian pemicu kematian.

    Di sisi lain, pengelola wisata Ujung Pandaran wajib memasang papan larangan memberi makan satwa serta menyiagakan petugas pengawas guna mencegah potensi konflik manusia dan satwa liar.(***)

  • Bubur Baayak Tak Sekadar Manis, Ada Tradisi dan Sedekah di Baliknya

    Bubur Baayak Tak Sekadar Manis, Ada Tradisi dan Sedekah di Baliknya

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Semangkuk Bubur Baayak mungkin terlihat sederhana. Rasanya manis dengan gurih santan. Namun bagi sebagian masyarakat di Sampit, panganan tradisional itu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar resep dan rasa.

    Bubur Baayak menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banjar dalam menyambut Arba Mustamir, yakni Rabu terakhir pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriah.

    Pada momen tersebut, masyarakat membuat bubur secara bersama-sama. Setelah didoakan, panganan tersebut kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan warga sekitar.

    Penggiat tradisi di Sampit, Muhammad Yunus, mengatakan kebiasaan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mempererat silaturahmi sekaligus membiasakan diri berbagi.

    “Makna dari tradisi berbagi tentunya memupuk rasa peduli antar sesama atau membiasakan diri untuk bersedekah,” jelasnya.

    Sedekah dalam tradisi ini tidak selalu berbentuk uang atau barang bernilai besar. Panganan yang dibuat dengan biaya sederhana pun dapat menjadi sarana berbagi.

    Bubur Baayak biasanya juga dikaitkan dengan tradisi Mandi Safar, yaitu kegiatan mandi bersama di sungai pada Rabu terakhir bulan Safar. Karena keterkaitan tersebut, sebagian masyarakat menyebutnya sebagai Bubur Safar.

    Setelah proses pembuatan selesai dan bubur didoakan, masyarakat membagikannya kepada orang-orang di sekitar. Panganan tersebut bahkan kerap menjadi buruan warga yang mengikuti tradisi Mandi Safar.

    Dari Ayakan Daun Nyiur

    Nama Bubur Baayak sendiri tidak muncul begitu saja.

    Yunus menjelaskan, sebutan tersebut berkaitan dengan proses pengolahannya. Adonan tepung beras terlebih dahulu melalui proses penyaringan atau pengayakan.

    Dalam bahasa Banjar, proses menggoyang atau mengayak tersebut disebut ayak. Dari proses itulah kemudian muncul nama Bubur Baayak.

    Pada cara tradisional, proses pengayakan menggunakan saringan yang dibuat dari anyaman daun nyiur. Kini, peralatan tersebut mulai banyak digantikan saringan berbahan aluminium atau bahan lain yang lebih mudah diperoleh.

    Bahan utama bubur adalah tepung beras. Warna dasarnya cenderung cokelat karena penggunaan gula merah. Rasa manis berpadu dengan gurih santan dan sedikit rasa asin.

    Namun, mempertahankan rasa bukan satu-satunya tantangan. Tradisi membuatnya secara bersama-sama juga menghadapi perubahan zaman.

    Bubur Baayak kini semakin jarang dijumpai sebagai jajanan sehari-hari di pasaran. Karena itu, kegiatan membuat dan membagikannya saat Arba Mustamir menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan panganan tersebut tetap dikenal.

    Puluhan Kilogram Tepung untuk Ribuan Mangkuk

    Skala pembuatan Bubur Baayak dalam tradisi masyarakat juga tidak sedikit.

    Yunus mencontohkan kegiatan yang dilakukan ibu-ibu di Jalan Ir H Juanda, Sampit, pada Rabu, 20 Agustus 2025.

    Sebanyak 40 kilogram tepung beras diolah menggunakan 10 kawah atau wajan besar.

    Bahan lainnya terdiri dari 35 kilogram gula pasir, 15 kilogram gula merah, dan 30 kilogram santan. Adonan juga dilengkapi garam, daun pandan dan air.

    Bukan hanya Bubur Baayak. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga membuat panganan manis lainnya, yakni bubur hintalu karuang.

    Setelah selesai dimasak dan didoakan selepas salat Ashar, sedikitnya 1.200 mangkuk bubur dibagikan kepada warga sekitar dan masyarakat lainnya.

    Di titik itulah tradisi tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan memasak.

    Ada orang-orang yang menyiapkan bahan. Ada yang mengolah adonan. Ada yang mengayak. Ada yang memasak. Ada yang menyiapkan wadah hingga membagikannya kepada warga.

    Semua dilakukan bersama.

    Bubur kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Bukan hanya membawa rasa manis, tetapi juga membawa pesan tentang berbagi dan menjaga hubungan antarsesama.

    Bagi Yunus, tradisi seperti ini penting untuk terus dikenalkan karena kuliner tradisional tidak hanya menyimpan resep, tetapi juga merekam kebiasaan dan nilai yang diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.

    Bubur Baayak akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga tradisi tidak selalu harus dilakukan melalui acara besar. Terkadang cukup dengan mempertahankan cara memasak, berkumpul, berdoa, lalu membagikan semangkuk panganan kepada orang lain. (***)