Penulis: Usay Nor Rahmad

  • CFD Taman Kota Sampit Rehat Sejenak Selama Ramadan

    CFD Taman Kota Sampit Rehat Sejenak Selama Ramadan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Minggu pagi di Taman Kota Sampit biasanya dimulai dengan langkah-langkah ringan warga yang berolahraga. Ada yang berlari kecil, ada pula yang sekadar berjalan santai sambil menyapa sesama. Jalanan di sekeliling taman lengang dari kendaraan, memberi ruang bagi napas kota untuk beristirahat sejenak lewat Car Free Day.

    Namun, suasana itu akan rehat sementara selama Bulan Suci Ramadan.

    Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur memastikan kegiatan CFD di Taman Kota Sampit ditiadakan selama Ramadan dan akan kembali digelar setelah Hari Raya Idulfitri. Penyesuaian ini dilakukan seiring perubahan ritme aktivitas masyarakat selama bulan ibadah.

    “CFD di Taman Kota Sampit kita tiadakan selama Ramadan dan akan aktif kembali setelah Lebaran Idulfitri,” ujar Kepala Dishub Kotim, Raihansyah, Rabu (18/2/2026).

    CFD di Taman Kota Sampit bukan sekadar penutupan jalan. Sejak pertama kali digelar pada September 2024 dan diresmikan oleh Bupati Kotim Halikinnor, ruang ini menjelma menjadi tempat berkumpul, berolahraga, dan melepas penat bagi warga. Setiap Minggu pagi, kendaraan bermotor menepi, digantikan langkah kaki, sepeda, dan tawa anak-anak.

    Di balik keramaian itu, denyut ekonomi warga ikut bergerak. Lapak-lapak UMKM tumbuh di sekitar taman, menjajakan aneka makanan, minuman, hingga kebutuhan kecil yang selalu dicari pengunjung. CFD memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk bertahan, bahkan berkembang.

    Memasuki Ramadan, perhatian Dishub Kotim tak hanya tertuju pada CFD. Pengaturan lalu lintas juga disiapkan untuk mendukung kelancaran Pasar Ramadan 2026 yang digelar oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kotim. Tahun ini, pasar dipusatkan di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Swalayan UMKM, serta di Jalan S Parman, di kawasan Taman Kota Sampit.

    Sore hari menjadi waktu paling sibuk. Kendaraan datang silih berganti, pengunjung berburu takjil, dan kepadatan lalu lintas kerap tak terhindarkan. Untuk itu, Dishub Kotim akan berkoordinasi dengan Polres Kotawaringin Timur guna mengantisipasi kemacetan.

    “Pengaturan lalu lintas Pasar Ramadan akan kami lakukan bersama Satlantas Polres Kotim, dengan menempatkan personel di titik-titik rawan agar arus kendaraan tetap lancar,” kata Raihansyah.

    CFD memang berhenti sejenak, tetapi denyut kota tak pernah benar-benar padam. Ramadan menghadirkan ritmenya sendiri. Dan setelah Lebaran, jalanan di Taman Kota Sampit akan kembali menjadi ruang bebas—tempat warga bergerak, bernapas, dan merayakan kebersamaan. (***)

  • Ketika Ramadan Mendekat, Harga Ayam di Sampit Tak Ikut Melonjak

    Ketika Ramadan Mendekat, Harga Ayam di Sampit Tak Ikut Melonjak

    SAMPIT, Kanalindependen.id–  Pagi itu, Pasar Ikan Mentaya Sampit mulai dipenuhi warga. Langkah-langkah kecil menyusuri lorong pasar berpadu dengan aroma bumbu dapur dan suara pedagang yang saling menyapa.  Ramadan kian dekat, dan satu pertanyaan kerap berputar di benak para pembeli: apakah harga bahan pokok akan ikut melonjak?

    Di lapak ayam potong, jawabannya masih menenangkan. Hingga Selasa (17/2), harga ayam terpantau stabil. Ayam potong kotor dijual di kisaran Rp40 ribu per kilogram, sementara ayam potong bersih berada di angka sekitar Rp37 ribu per kilogram. Meski permintaan perlahan meningkat menjelang bulan puasa, harga belum menunjukkan tanda-tanda bergerak naik.

    Hidayah, salah seorang pembeli, mengaku lega. Sambil menunggu ayam pesanannya ditimbang, ia bercerita bahwa kestabilan harga sangat berarti bagi keluarganya.

    “Alhamdulilllah masih normal. Ayam bersih Rp37 ribu, ayam kotor Rp40 ribu per kilogram. Ini sangat membantu, karena biasanya menjelang Ramadan kebutuhan meningkat,” katanya.

    Baginya, ayam bukan sekadar lauk. Ia adalah menu andalan untuk sahur dan berbuka. Karena itu, Dayah sapaan akrabnya berharap harga tetap bertahan hingga Lebaran.

    “Kalau sampai naik, pasti terasa berat. Semoga tetap stabil,” ujarnya.

    Cerita serupa datang dari para pedagang. Mereka menyebutkan stok ayam potong masih aman, pasokan dari peternak dan distributor berjalan lancar, dan belum ada lonjakan permintaan yang signifikan. Kondisi inilah yang membuat harga tetap terkendali.

    “Kami terus menjaga stok supaya kebutuhan masyarakat terpenuhi. Selama pasokan lancar, harga biasanya bisa tetap stabil,” ungkap Yani, seorang pedagang.

    Di tengah kekhawatiran umum akan naiknya harga bahan pokok jelang Ramadan, kondisi ini memberi rasa tenang. Ayam potong bahan pangan utama di banyak rumah masih bisa dijangkau. Harapannya, kestabilan ini bertahan hingga Lebaran, dengan dukungan pemantauan distribusi dan ketersediaan bahan pokok agar Ramadan dapat dijalani tanpa beban tambahan bagi masyarakat. (***)

  • Bayang-bayang Juara Umum dan Krisis Dukungan, KONI Kotim Hadapi Ujian Serius Jelang Porprov XIII

    Bayang-bayang Juara Umum dan Krisis Dukungan, KONI Kotim Hadapi Ujian Serius Jelang Porprov XIII

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di balik status juara umum yang pernah diraih, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini menghadapi realitas yang tidak sepenuhnya ideal. Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XIII Kalimantan Tengah, dukungan anggaran dari pemerintah daerah belum juga terealisasi, sementara progres pendaftaran atlet masih berjalan lambat.

    Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: seberapa siap Kotim mempertahankan dominasi, ketika fondasi pembinaan justru berjalan dengan keterbatasan.

    Porprov XIII dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Ajang ini bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga panggung pembuktian bagi Kotim yang sebelumnya tampil sebagai juara umum saat menjadi tuan rumah Porprov di Sampit. Status tersebut kini berubah menjadi beban prestasi yang tidak ringan.

    Ketua KONI Kotim, Alexius Esliter, mengakui tantangan yang dihadapi tidak kecil. Di satu sisi, Kotim dituntut mempertahankan tradisi juara. Di sisi lain, dukungan anggaran yang menjadi tulang punggung pembinaan belum juga terlihat.

    “Menyandang juara umum tentu tantangan berat. Namun Kotim tetap siap berpartisipasi,” ujarnya.

    Pendaftaran atlet Porprov XIII telah dibuka sejak 2 Februari dan berlangsung hingga 10 April 2026 melalui sistem daring panitia. Setelah itu, proses akan berlanjut ke verifikasi faktual pada Juni. Namun hingga kini, partisipasi atlet dinilai belum maksimal dan berbeda-beda di tiap cabang olahraga.

    “Pendaftaran masih berjalan, tapi progresnya masih rendah. Itu tergantung kesiapan masing-masing cabor,” kata Alexius.

    Di balik angka pendaftaran yang belum ideal, KONI Kotim telah menggelar rapat internal bersama seluruh cabang olahraga untuk memetakan kekuatan riil. Pendataan dilakukan, termasuk menyaring atlet yang tidak lagi memenuhi syarat usia. Namun persoalan utama tetap bermuara pada dukungan sumber daya.

    Tanpa kepastian anggaran, sebagian besar cabang olahraga masih bertahan dengan dana mandiri sebuah pola yang dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi kualitas persiapan dan daya saing atlet.

    “Prestasi sangat bergantung pada kesiapan cabor dan dukungan pemerintah daerah. Sampai sekarang belum ada dana yang masuk,” tegasnya.

    Kondisi ini menempatkan KONI Kotim pada persimpangan: mempertahankan reputasi sebagai kekuatan olahraga daerah, atau menghadapi risiko penurunan performa akibat keterbatasan dukungan struktural.

    Porprov XIII di Kobar nanti bukan hanya soal perebutan medali, tetapi juga ujian serius bagi konsistensi pembinaan olahraga Kotim apakah tradisi juara masih bisa dipertahankan, atau mulai terkikis oleh persoalan klasik pendanaan dan kesiapan sistem. (***)

  • Mengakhiri Tahun dengan Syukur, Memulai Tahun Baru dengan Harapan

    Mengakhiri Tahun dengan Syukur, Memulai Tahun Baru dengan Harapan

    Umat Konghucu Sampit Bersiap Sambut Tahun 2577 Kongzili

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana di Klenteng Kong Miau Litang, Jalan MT Haryono Sampit, dipenuhi cahaya hangat lilin, aroma dupa, dan denting suara lonceng kecil, Senin (16/2/2026). Malam itu, umat Konghucu di Kota Sampit berkumpul untuk menjalani ritual tutup tahun 2576 Kongzili, menutup lembaran tahun yang telah dilalui dengan rasa syukur dan membuka pintu harapan bagi tahun baru spiritual 2577 Kongzili.

    Tokoh agama Konghucu setempat, Wen Shi Suhardi, menuturkan, “Esensi doa yang kami panjatkan malam ini adalah agar di tahun baru, Tien melimpahkan kasih karubianya. Sehingga setiap langkah kita dapat dilalui dengan aman, selamat, dan sentosa.”

    Suasana ibadah malam itu terasa khidmat dan inspiratif. Umat berdiri bersama di depan altar klenteng, mengikuti doa secara kolektif. Selanjutnya sebagian ada yanh beribadah secara pribadi, menulis harapan dan ucapan syukur pada kertas doa yang telah disediakan.

    “Kertas doa ini dibuat oleh dewan rohaniawan Konghucu, dan tokoh agama Konghucu dari seluruh Indonesia. Formatnya sudah dikonsep: umat mengucap syukur atas tahun yang telah dilalui selamat, aman, dan sentosa serta menaruh harapan agar diberkahi keberuntungan sepanjang tahun baru,” jelas Wen Shi Suhardi.

    Ritual malam itu tidak hanya sekadar ibadah, tetapi juga momen refleksi dan motivasi. “Ada umat yang aktif beribadah sepanjang tahun, ada pula yang hanya beribadah saat hari raya. Namun malam ini semua bersatu, memanjatkan doa dan menyatukan energi spiritual untuk menghadapi tahun yang baru,” imbuhnya.

    Setiap doa yang dipanjatkan membawa pesan kuat: menutup tahun lama dengan rasa syukur, mengakui tantangan yang telah dilalui, dan menatap masa depan dengan optimisme serta harapan. Lampion-lampion yang berkelap-kelip, aroma dupa yang menenangkan, dan lirihnya doa yang bergema di ruang klenteng menjadi saksi kebersamaan dan keteguhan iman umat Konghucu Sampit.

    Malam itu menjadi pengingat bahwa setiap akhir adalah awal yang baru. Dengan hati yang penuh syukur dan doa yang tulus, umat Konghucu Sampit bersiap menyambut karunia Tien di tahun 2577 Kongzili, berharap perjalanan hidup yang akan datang dipenuhi berkah, keselamatan, dan ketentraman. (***)

  • Kilau Tenang Pasar Emas Sampit Menjelang Ramadan

    Kilau Tenang Pasar Emas Sampit Menjelang Ramadan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Deretan etalase di sebuah toko emas di pusat perbelanjaan Sampit memantulkan cahaya lembut pagi itu. Suasana diramaikan hiruk pikuk peminat investasi melalui perhiasan logam mulia itu. Meski demikian, menjelang Ramadan, denyut pasar emas di kota ini bergerak dengan ritme yang tenang.

    Di Toko Emas Mitra Baru, suasana tersebut terasa jelas. Pembeli datang silih berganti, sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lain serius memilih perhiasan. Tidak ada lonjakan signifikan, tetapi pasar juga tidak lesu.

    “Untuk saat ini penjualan masih stabil, sama seperti hari biasa,” ujar pengelola toko, Muliana Sari, Senin (16/2/2026).

    Di balik kestabilan itu, Muliana mencatat satu kecenderungan menarik. Emas kadar tinggi atau emas 999 justru lebih banyak diminati pembeli. Jumlah orang yang membeli emas jenis ini lebih dominan dibandingkan mereka yang menjual kembali.

    “Kalau emas kadar tinggi, pembelinya lebih banyak. Sementara untuk kadar 375 dan 700 masih seimbang, ada yang jual dan ada juga yang beli,” tuturnya.

    Perubahan selera menjadi salah satu faktor pendorong. Jika dulu emas 999 identik dengan desain klasik, kini perhiasan emas tampil lebih modern dan variatif. Model yang mengikuti tren membuat emas kadar tinggi tak lagi sekadar simbol investasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup.

    “Sekarang desainnya sudah lebih kekinian. Itu yang membuat masyarakat tertarik,” kata Muliana.

    Di antara berbagai pilihan perhiasan, cincin masih menjadi favorit. Selain disiapkan sebagai tabungan nilai, emas juga mulai dibeli untuk kebutuhan menjelang Hari Raya Idulfitri.

    Dari sisi harga, pasar emas di Sampit juga bergerak relatif stabil. Berdasarkan daftar harga terbaru per Senin (16/2/2026), emas kadar 999 dijual Rp2.750.000 per gram. Sementara emas kadar 750 berada di angka Rp2.260.000 per gram, kadar 700 Rp2.110.000 per gram, kadar 420 Rp1.310.000 per gram, dan kadar 375 Rp1.220.000 per gram. Harga tersebut dapat berubah mengikuti dinamika pasar.

    Muliana memperkirakan, suasana yang kini masih tenang akan perlahan berubah. Biasanya, mendekati Lebaran, pembeli mulai mendominasi transaksi.

    “Nanti kalau sudah dekat Lebaran, biasanya pembeli bisa jauh lebih banyak, sekitar 80 persen,” ujarnya.

    Bagi para pedagang emas, Ramadan menjadi masa menanti. Bukan hanya menunggu ramainya transaksi, tetapi juga menyaksikan bagaimana kilau emas tetap hadir di tengah langkah pelan masyarakat yang bersiap menyambut hari kemenangan. (***)

  • Jejak Diaspora Cina di Tepi Mentaya, Dari Perdagangan Sungai hingga Harmoni Komunitas

    Jejak Diaspora Cina di Tepi Mentaya, Dari Perdagangan Sungai hingga Harmoni Komunitas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sejarah Sampit bergerak mengikuti aliran Sungai Mentaya. Dari jalur air inilah kota ini tumbuh melalui perahu dagang, pertemuan manusia, dan jaringan ekonomi yang telah hidup jauh sebelum Sampit menjadi pusat perdagangan di Kalimantan Tengah seperti sekarang.

    Kehadiran masyarakat Tionghoa menjadi bagian penting dari proses panjang itu. Catatan sejarah menunjukkan, kontak pedagang Cina dengan masyarakat Borneo telah berlangsung sejak berabad-abad lalu melalui perdagangan hasil hutan dan laut. Namun, sekitar tahun 1847 menjadi penanda penting dimulainya fase pemukiman dan keterlibatan yang lebih permanen di wilayah Sampit.

    Bagi komunitas Tionghoa di Kotawaringin Timur, kisah ini bukan sekadar arsip, melainkan bagian dari ingatan kolektif yang terus hidup. Menurut Wen Shi Suhardi, tokoh agama Konghucu Kotim, orang Tionghoa khususnya dari suku Han telah bermigrasi ke tanah Borneo sejak ribuan tahun lalu dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal, bahkan sebelum masa kolonial.

    “Dalam catatan sejarah, orang Tionghoa sudah ada di Borneo jauh sebelum kemerdekaan. Ketika penjajah Belanda masuk, mereka memanfaatkan kedekatan orang Tionghoa dengan masyarakat lokal untuk menjadi mediator antar suku,” kata Suhardi.

    Sungai Mentaya dan Awal Perdagangan

    Letak geografis Sampit di tepian Sungai Mentaya menjadikannya simpul strategis perdagangan di pesisir selatan Borneo. Sungai ini memungkinkan kapal-kapal berukuran besar masuk hingga ke pusat kota, menjadikan Sampit pelabuhan penting bagi arus keluar-masuk komoditas seperti karet, rotan, dan kayu.

    Pada fase awal, masyarakat Tionghoa dikenal sebagai pedagang perantara. Mereka mendistribusikan kebutuhan pokok beras, garam, minyak, hingga berbagai perkakas kepada masyarakat Dayak dan Banjar, sekaligus membangun jaringan perdagangan antarpulau yang menghubungkan Sampit dengan kawasan lain di Nusantara hingga luar negeri.

    Seiring waktu, para pendatang yang semula datang sebagai penambang dan pedagang perlahan menetap, membangun permukiman, serta menjadi bagian dari struktur ekonomi lokal yang terus berkembang.

    Dari Karet hingga Industri Kayu

    Memasuki akhir abad ke-19, geliat ekonomi Sampit meningkat seiring dibukanya perkebunan karet. Pada fase ini, jumlah pendatang Tionghoa bertambah sebagai pedagang, pengusaha, maupun tenaga kerja. Aktivitas ekonomi mereka menghidupkan pasar-pasar di tepi sungai dan mendorong tumbuhnya pusat niaga baru di kawasan kota.

    Peran ekonomi komunitas Tionghoa mencapai puncak pada dekade 1940-an, ketika Belanda membangun industri penggergajian kayu berskala besar di tepi Sungai Mentaya. Pabrik kayu tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara pada masanya, memperkuat posisi Sampit sebagai pusat ekonomi kolonial sekaligus membuka ruang kerja bagi masyarakat setempat.

    Dinamika Sosial dan Jejak Budaya

    Dalam perjalanan sejarahnya, komunitas Tionghoa di Sampit dikenal dengan berbagai sebutan Cina Totok, Cina Peranakan, hingga Cina Tongkang yang merujuk pada gelombang kedatangan dan proses sosial yang berbeda. Meski secara demografis tidak dominan, peran mereka dalam ekonomi dan kehidupan kota sangat signifikan.

    Interaksi dengan komunitas Dayak, Banjar, Jawa, dan Madura membentuk karakter multikultural Sampit. Kawasan pasar dan bantaran sungai menjadi ruang perjumpaan antarbudaya yang terus berlangsung dari masa ke masa.

    Proses panjang itu melahirkan asimilasi sosial. Etnis Tionghoa tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat, tetapi turut memperkaya kehidupan budaya lokal melalui tradisi dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi.

    Di Kotim, jejak budaya tersebut terlihat dari berdirinya klenteng pertama pada tahun 2000 oleh Hadi Siswanto, yang menghibahkan tanah untuk membangun rumah ibadah Konghucu bernama Kong Miao Litang atau klenteng Harmoni Kehidupan.

    “Sebelumnya, umat Konghucu beribadah di Tri Dharma bersama umat Buddha. Namun, karena jumlah penganut semakin banyak, akhirnya klenteng ini didirikan untuk memfasilitasi umat Konghucu,” ujar Wenshi.

    Keberadaan klenteng ini menjadi ruang penting dalam menjaga identitas budaya komunitas Tionghoa di Kotim. Tradisi seperti barongsai dan festival Tionghoa tumbuh dari praktik keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

    Hingga akhir masa kolonial pada 1942, komunitas Tionghoa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan Sampit. Jejak mereka tidak hanya tercatat dalam arsip dan bangunan lama, tetapi juga dalam struktur ekonomi, jaringan perdagangan, dan dinamika sosial kota.  

    Kini, Sungai Mentaya tetap mengalir, pelabuhan masih bekerja, dan kehidupan kota terus bergerak di atas fondasi sejarah yang dibangun berbagai komunitas. Kisah diaspora Tionghoa di Sampit bukan sekadar cerita migrasi, melainkan perjalanan panjang tentang adaptasi, kerja, dan kebersamaan dalam membentuk wajah kota.

    Pada akhirnya, sejarah Sampit menunjukkan bahwa sebuah kota tidak tumbuh secara tiba-tiba. Ia dibangun oleh pertemuan manusia, kerja ekonomi, dan proses sosial yang berlangsung lintas generasi jejak yang masih terasa hingga hari ini. (***)

  • Kabar dari Langit, Ramadan di Kotim Berpeluang Lebih Sejuk

    Kabar dari Langit, Ramadan di Kotim Berpeluang Lebih Sejuk

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, langit di atas Kabupaten Kotawaringin Timur seolah membawa pesan menenangkan. Setelah melewati hari-hari panas di awal tahun, warga Kotim kini berpeluang menjalani ibadah puasa dengan suasana yang lebih bersahabat. Hujan ringan hingga sedang diprakirakan akan lebih sering turun, menghadirkan udara yang terasa lebih adem.

    Kabar ini disampaikan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leonardo. Ia menjelaskan, pada periode 1 hingga 10 Maret 2026, hujan dengan intensitas ringan sampai sedang masih akan mendominasi wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

    “Prakiraan hujan di bulan Maret ini masuk kategori menengah, sekitar 200 sampai 300 milimeter. Kemungkinan bulan Ramadan akan lebih adem, mudah-mudahan tidak terlalu panas,” ujar Mulyono.

    Tak hanya di awal bulan, kondisi cuaca yang relatif sejuk ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir Maret. Suhu udara diprediksi tidak sepanas awal tahun kemarin, ketika hujan sempat berkurang dan panas terasa lebih menyengat.

    Menurut Mulyono, secara umum sifat hujan di Kotim pada periode tersebut masih tergolong normal. Pola ini selaras dengan siklus klimatologi tahunan yang memang rutin terjadi di wilayah ini.

    BMKG mencatat, Kotim memiliki dua puncak musim hujan dalam satu tahun. Puncak pertama terjadi pada Desember 2025. Setelah itu, curah hujan menurun pada Januari dan membuat cuaca terasa lebih panas. Memasuki Februari hingga Maret, hujan kembali turun secara bertahap.

    “Pada bulan April nanti akan kembali terjadi puncak kedua musim hujan. Itu memang siklus tahunan di Kotim,” jelasnya.

    Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar terus memantau informasi cuaca terbaru. Prakiraan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung dinamika dan fenomena alam yang terjadi.

    Setidaknya, kabar dari langit ini memberi harapan. Ramadan tahun ini berpeluang hadir dengan udara yang lebih sejuk, menemani sahur dan berbuka warga Kotim dengan suasana yang lebih nyaman. (***)

  • Menjaga Ramadan di Kotim: THM Tutup, Warung Tertirai, Bagarakan Sahur Diatur Waktu

    Menjaga Ramadan di Kotim: THM Tutup, Warung Tertirai, Bagarakan Sahur Diatur Waktu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang Ramadan, pemerintah kembali menata ritme ruang publik di Kotawaringin Timur. Aktivitas hiburan malam diminta berhenti, sebagian warung makan menyesuaikan jam operasional, dan masyarakat diingatkan menjaga ketertiban. Kebijakan yang berulang tiap tahun ini bukan sekadar soal aturan, tetapi tentang bagaimana keseimbangan antara kekhusyukan ibadah, kebutuhan ekonomi, dan stabilitas sosial dijaga.

    Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui imbauan bersama Bupati, Kapolres, dan Kementerian Agama meminta seluruh Tempat Hiburan Malam (THM) tidak beroperasi selama Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Karaoke, diskotik baik di hotel berbintang maupun melati serta bentuk hiburan malam lainnya diminta menghentikan aktivitas, siang maupun malam.

    Asisten I Setda Kotim, Waren, menyebut kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kekhusyukan ibadah puasa sekaligus memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

    “Pelaku usaha diharapkan mematuhi imbauan ini sebagai bentuk toleransi dan penghormatan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

    Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, persoalan Ramadan di Kotim tidak berhenti pada penutupan hiburan malam. Warung makan dan aktivitas sosial di ruang publik kerap menjadi titik sensitif antara kebutuhan ekonomi dan tuntutan ketertiban.

    Dalam imbauan tersebut, pemilik warung, rumah makan, kedai minuman, dan kantin diminta tidak membuka usaha pada pagi hingga siang hari. Jika tetap beroperasi, tempat usaha wajib ditutup menggunakan tirai agar tidak terlihat terbuka secara umum sebuah praktik yang sudah lama dikenal masyarakat sebagai bentuk kompromi sosial.

    Di sisi lain, potensi gangguan ketertiban juga menjadi perhatian. Pemerintah melarang produksi, penjualan, maupun penggunaan petasan tanpa izin, termasuk aksi kebut-kebutan dan aktivitas lain yang dapat mengganggu ketenangan Ramadan.

    Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan lingkungan, memastikan keamanan rumah saat ditinggal beribadah, serta mengaktifkan kembali Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling).

    Untuk tradisi bagarakan sahur, batas waktu turut diatur. Kegiatan menggunakan peralatan kesenian diperbolehkan mulai pukul 01.30 WIB, sedangkan penggunaan pengeras suara paling cepat pukul 02.00 WIB, dengan catatan tidak mengganggu ketertiban umum dan tetap mematuhi aturan lalu lintas.

    Di atas kertas, imbauan ini tampak jelas. Namun, pertanyaan yang kerap muncul setiap Ramadan tetap sama: apakah pengawasan akan berjalan konsisten, atau hanya berhenti pada dokumen administratif.

    Waren menegaskan, pemerintah daerah bersama aparat kepolisian akan melakukan pemantauan lapangan guna memastikan seluruh ketentuan dijalankan.

    Ramadan di Kotim pada akhirnya bukan hanya soal menutup hiburan malam atau menertibkan warung makan. Ini tentang bagaimana pemerintah hadir secara konsisten—menjaga kekhusyukan ibadah, melindungi ketertiban sosial, sekaligus memastikan toleransi tidak sekadar menjadi slogan. (***)

  • Rasa Waswas di Bantaran Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    Rasa Waswas di Bantaran Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana di bantaran Sungai Tabuk, Kelurahan Kota Besi Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, tak lagi setenang biasanya. Kemunculan seekor buaya berukuran besar di dekat permukiman memunculkan waswas di kalangan warga yang selama ini menggantungkan aktivitas sehari-hari pada aliran sungai tersebut.

    Menindaklanjuti laporan warga, BKSDA Resort Sampit turun langsung ke lokasi untuk menemui masyarakat sekaligus memberikan imbauan kewaspadaan agar aktivitas di sungai sementara waktu dibatasi.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya telah berdialog dengan warga di sekitar bantaran Sungai Tabuk, termasuk Ruminah, warga Jalan Iskandar RT 06 RW 04, yang mengaku melihat langsung kemunculan buaya pada pagi hari sebelumnya.

    “Menurut keterangan Ibu Ruminah, buaya itu muncul tidak jauh dari belakang rumahnya,” ujar Muriansyah, Sabtu (14/2/2026).

    Kemunculan reptil besar tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama karena anak-anak di lingkungan tersebut masih kerap mandi dan bermain di lanting yang berada di atas sungai  aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga bantaran.

    Sebagai langkah antisipasi, BKSDA Resort Sampit memasang empat spanduk peringatan di sejumlah titik rawan di sekitar Kota Besi Hulu. Selain itu, petugas juga memberikan pengarahan langsung kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai, terutama pada malam hari ketika buaya cenderung lebih aktif.

    Dalam imbauannya, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memancing kedatangan buaya ke perairan sekitar permukiman. Warga diingatkan untuk tidak menambatkan atau memelihara ternak di tepi maupun di atas sungai, tidak membuang bangkai hewan ke sungai, serta tidak membuang sampah rumah tangga ke aliran sungai karena dapat menarik buaya mendekati kawasan tempat tinggal.

    Masyarakat juga diminta segera melapor apabila melihat kemunculan buaya di sekitar permukiman. Laporan dapat disampaikan kepada BKSDA Resort Sampit, pemerintah desa atau kelurahan setempat, maupun aparat kepolisian dan TNI terdekat agar penanganan dapat segera dilakukan.

    Dalam penjelasannya, Muriansyah mengungkapkan kemunculan buaya di wilayah permukiman umumnya dipicu oleh berkurangnya habitat alami akibat perubahan lingkungan, ketersediaan sumber makanan di sekitar sungai, serta meningkatnya aktivitas manusia di bantaran sungai yang memicu pergeseran wilayah jelajah satwa.

    BKSDA memastikan pemantauan akan terus dilakukan di kawasan Sungai Tabuk, sembari berkoordinasi dengan aparat setempat guna mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar  situasi yang kini mulai dirasakan nyata oleh warga bantaran sungai. (***)

  • Pers, Ingatan, dan Penghormatan, Anjangsana PWI Kotim di Hari Pers Nasional

    Pers, Ingatan, dan Penghormatan, Anjangsana PWI Kotim di Hari Pers Nasional

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gerimis tipis masih menyelimuti Sampit ketika rombongan Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur mengetuk satu per satu pintu rumah wartawan senior, Jumat (13/2/2026). Tak ada panggung, tak ada pidato panjang. Yang hadir justru percakapan hangat, tawa kecil, dan ingatan-ingatan lama yang perlahan dibuka kembali.

    Anjangsana ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Namun lebih dari sekadar agenda tahunan, kunjungan tersebut menjadi cara PWI Kotim merawat ingatan tentang masa ketika pers dibangun dengan keterbatasan, idealisme, dan keberanian.

    Di ruang-ruang sederhana itu, kisah perjuangan jurnalistik mengalir. Tentang berita yang ditulis tanpa kemewahan teknologi, tentang keberanian bersuara di tengah tekanan, juga tentang etika yang dijaga meski keadaan tak selalu berpihak.

    Ketua PWI Kotim, Siti Fauziah, menyebut HPN sebagai momentum untuk berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk belajar dari jejak yang telah dilalui para pendahulu.

    “HPN tidak seharusnya berhenti pada seremoni. Ini saat yang tepat untuk mengingat dan menghargai perjuangan para senior. Mereka adalah bagian dari sejarah pers di Kotim, dan nilai-nilai itu masih sangat relevan hari ini,” ujarnya.

    Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era digital, Siti menilai pers justru dituntut kembali pada akar: integritas, keberpihakan pada kebenaran, serta tanggung jawab sosial.

    “Semangat dan idealisme para senior inilah yang harus terus dijaga. Pers tidak boleh kehilangan jati dirinya,” tegasnya.

    Dalam suasana yang akrab, jajaran pengurus PWI Kotim menyerahkan bingkisan sebagai tanda penghormatan. Gestur sederhana itu menyimpan makna besar. Bagi para senior, kunjungan tersebut bukan soal materi, melainkan pengakuan bahwa kerja dan dedikasi mereka masih diingat.

    Haru pun tak terelakkan. Joni Abdi, salah satu wartawan senior, mengaku terkejut sekaligus terharu atas perhatian yang diberikan.

    “Terima kasih atas perhatian rekan-rekan PWI Kotim. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi pengingat bahwa apa yang kami lakukan dulu tidak sia-sia,” ucapnya dengan suara bergetar.

    Apresiasi serupa disampaikan Arbit Safari. Ia berharap semangat kebersamaan dan solidaritas di tubuh PWI Kotim terus terjaga.

    “Semoga PWI Kotim semakin solid dan tetap menjadi rumah yang baik bagi wartawan,” katanya singkat.

    Anjangsana itu pun berakhir tanpa gegap gempita. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan penting: pers bukan hanya soal hari ini dan besok, tetapi juga tentang menghormati masa lalu agar langkah ke depan tetap berpijak pada nilai yang benar. (***)