Kategori: Daerah

  • Menjaga Ramadan di Kotim: THM Tutup, Warung Tertirai, Bagarakan Sahur Diatur Waktu

    Menjaga Ramadan di Kotim: THM Tutup, Warung Tertirai, Bagarakan Sahur Diatur Waktu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang Ramadan, pemerintah kembali menata ritme ruang publik di Kotawaringin Timur. Aktivitas hiburan malam diminta berhenti, sebagian warung makan menyesuaikan jam operasional, dan masyarakat diingatkan menjaga ketertiban. Kebijakan yang berulang tiap tahun ini bukan sekadar soal aturan, tetapi tentang bagaimana keseimbangan antara kekhusyukan ibadah, kebutuhan ekonomi, dan stabilitas sosial dijaga.

    Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui imbauan bersama Bupati, Kapolres, dan Kementerian Agama meminta seluruh Tempat Hiburan Malam (THM) tidak beroperasi selama Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Karaoke, diskotik baik di hotel berbintang maupun melati serta bentuk hiburan malam lainnya diminta menghentikan aktivitas, siang maupun malam.

    Asisten I Setda Kotim, Waren, menyebut kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kekhusyukan ibadah puasa sekaligus memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

    “Pelaku usaha diharapkan mematuhi imbauan ini sebagai bentuk toleransi dan penghormatan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

    Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, persoalan Ramadan di Kotim tidak berhenti pada penutupan hiburan malam. Warung makan dan aktivitas sosial di ruang publik kerap menjadi titik sensitif antara kebutuhan ekonomi dan tuntutan ketertiban.

    Dalam imbauan tersebut, pemilik warung, rumah makan, kedai minuman, dan kantin diminta tidak membuka usaha pada pagi hingga siang hari. Jika tetap beroperasi, tempat usaha wajib ditutup menggunakan tirai agar tidak terlihat terbuka secara umum sebuah praktik yang sudah lama dikenal masyarakat sebagai bentuk kompromi sosial.

    Di sisi lain, potensi gangguan ketertiban juga menjadi perhatian. Pemerintah melarang produksi, penjualan, maupun penggunaan petasan tanpa izin, termasuk aksi kebut-kebutan dan aktivitas lain yang dapat mengganggu ketenangan Ramadan.

    Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan lingkungan, memastikan keamanan rumah saat ditinggal beribadah, serta mengaktifkan kembali Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling).

    Untuk tradisi bagarakan sahur, batas waktu turut diatur. Kegiatan menggunakan peralatan kesenian diperbolehkan mulai pukul 01.30 WIB, sedangkan penggunaan pengeras suara paling cepat pukul 02.00 WIB, dengan catatan tidak mengganggu ketertiban umum dan tetap mematuhi aturan lalu lintas.

    Di atas kertas, imbauan ini tampak jelas. Namun, pertanyaan yang kerap muncul setiap Ramadan tetap sama: apakah pengawasan akan berjalan konsisten, atau hanya berhenti pada dokumen administratif.

    Waren menegaskan, pemerintah daerah bersama aparat kepolisian akan melakukan pemantauan lapangan guna memastikan seluruh ketentuan dijalankan.

    Ramadan di Kotim pada akhirnya bukan hanya soal menutup hiburan malam atau menertibkan warung makan. Ini tentang bagaimana pemerintah hadir secara konsisten—menjaga kekhusyukan ibadah, melindungi ketertiban sosial, sekaligus memastikan toleransi tidak sekadar menjadi slogan. (***)

  • Rasa Waswas di Bantaran Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    Rasa Waswas di Bantaran Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana di bantaran Sungai Tabuk, Kelurahan Kota Besi Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, tak lagi setenang biasanya. Kemunculan seekor buaya berukuran besar di dekat permukiman memunculkan waswas di kalangan warga yang selama ini menggantungkan aktivitas sehari-hari pada aliran sungai tersebut.

    Menindaklanjuti laporan warga, BKSDA Resort Sampit turun langsung ke lokasi untuk menemui masyarakat sekaligus memberikan imbauan kewaspadaan agar aktivitas di sungai sementara waktu dibatasi.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya telah berdialog dengan warga di sekitar bantaran Sungai Tabuk, termasuk Ruminah, warga Jalan Iskandar RT 06 RW 04, yang mengaku melihat langsung kemunculan buaya pada pagi hari sebelumnya.

    “Menurut keterangan Ibu Ruminah, buaya itu muncul tidak jauh dari belakang rumahnya,” ujar Muriansyah, Sabtu (14/2/2026).

    Kemunculan reptil besar tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama karena anak-anak di lingkungan tersebut masih kerap mandi dan bermain di lanting yang berada di atas sungai  aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga bantaran.

    Sebagai langkah antisipasi, BKSDA Resort Sampit memasang empat spanduk peringatan di sejumlah titik rawan di sekitar Kota Besi Hulu. Selain itu, petugas juga memberikan pengarahan langsung kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai, terutama pada malam hari ketika buaya cenderung lebih aktif.

    Dalam imbauannya, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memancing kedatangan buaya ke perairan sekitar permukiman. Warga diingatkan untuk tidak menambatkan atau memelihara ternak di tepi maupun di atas sungai, tidak membuang bangkai hewan ke sungai, serta tidak membuang sampah rumah tangga ke aliran sungai karena dapat menarik buaya mendekati kawasan tempat tinggal.

    Masyarakat juga diminta segera melapor apabila melihat kemunculan buaya di sekitar permukiman. Laporan dapat disampaikan kepada BKSDA Resort Sampit, pemerintah desa atau kelurahan setempat, maupun aparat kepolisian dan TNI terdekat agar penanganan dapat segera dilakukan.

    Dalam penjelasannya, Muriansyah mengungkapkan kemunculan buaya di wilayah permukiman umumnya dipicu oleh berkurangnya habitat alami akibat perubahan lingkungan, ketersediaan sumber makanan di sekitar sungai, serta meningkatnya aktivitas manusia di bantaran sungai yang memicu pergeseran wilayah jelajah satwa.

    BKSDA memastikan pemantauan akan terus dilakukan di kawasan Sungai Tabuk, sembari berkoordinasi dengan aparat setempat guna mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar  situasi yang kini mulai dirasakan nyata oleh warga bantaran sungai. (***)

  • Pers, Ingatan, dan Penghormatan, Anjangsana PWI Kotim di Hari Pers Nasional

    Pers, Ingatan, dan Penghormatan, Anjangsana PWI Kotim di Hari Pers Nasional

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gerimis tipis masih menyelimuti Sampit ketika rombongan Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur mengetuk satu per satu pintu rumah wartawan senior, Jumat (13/2/2026). Tak ada panggung, tak ada pidato panjang. Yang hadir justru percakapan hangat, tawa kecil, dan ingatan-ingatan lama yang perlahan dibuka kembali.

    Anjangsana ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Namun lebih dari sekadar agenda tahunan, kunjungan tersebut menjadi cara PWI Kotim merawat ingatan tentang masa ketika pers dibangun dengan keterbatasan, idealisme, dan keberanian.

    Di ruang-ruang sederhana itu, kisah perjuangan jurnalistik mengalir. Tentang berita yang ditulis tanpa kemewahan teknologi, tentang keberanian bersuara di tengah tekanan, juga tentang etika yang dijaga meski keadaan tak selalu berpihak.

    Ketua PWI Kotim, Siti Fauziah, menyebut HPN sebagai momentum untuk berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Bukan untuk bernostalgia semata, melainkan untuk belajar dari jejak yang telah dilalui para pendahulu.

    “HPN tidak seharusnya berhenti pada seremoni. Ini saat yang tepat untuk mengingat dan menghargai perjuangan para senior. Mereka adalah bagian dari sejarah pers di Kotim, dan nilai-nilai itu masih sangat relevan hari ini,” ujarnya.

    Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era digital, Siti menilai pers justru dituntut kembali pada akar: integritas, keberpihakan pada kebenaran, serta tanggung jawab sosial.

    “Semangat dan idealisme para senior inilah yang harus terus dijaga. Pers tidak boleh kehilangan jati dirinya,” tegasnya.

    Dalam suasana yang akrab, jajaran pengurus PWI Kotim menyerahkan bingkisan sebagai tanda penghormatan. Gestur sederhana itu menyimpan makna besar. Bagi para senior, kunjungan tersebut bukan soal materi, melainkan pengakuan bahwa kerja dan dedikasi mereka masih diingat.

    Haru pun tak terelakkan. Joni Abdi, salah satu wartawan senior, mengaku terkejut sekaligus terharu atas perhatian yang diberikan.

    “Terima kasih atas perhatian rekan-rekan PWI Kotim. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi pengingat bahwa apa yang kami lakukan dulu tidak sia-sia,” ucapnya dengan suara bergetar.

    Apresiasi serupa disampaikan Arbit Safari. Ia berharap semangat kebersamaan dan solidaritas di tubuh PWI Kotim terus terjaga.

    “Semoga PWI Kotim semakin solid dan tetap menjadi rumah yang baik bagi wartawan,” katanya singkat.

    Anjangsana itu pun berakhir tanpa gegap gempita. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan penting: pers bukan hanya soal hari ini dan besok, tetapi juga tentang menghormati masa lalu agar langkah ke depan tetap berpijak pada nilai yang benar. (***)

  • Saat Gerimis Tak Menghalangi, Pangan Murah Jadi Penyangga Ekonomi Warga Jelang Ramadan

    Saat Gerimis Tak Menghalangi, Pangan Murah Jadi Penyangga Ekonomi Warga Jelang Ramadan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gerimis tipis yang turun sejak pagi tak menyurutkan langkah warga menuju Taman Kota, Sampit, Jumat (13/2/2026). Di bawah payung dan jas hujan, antrean sudah mengular bahkan sebelum lapak dibuka. Mayoritas yang datang adalah ibu-ibu, membawa harapan sederhana: bahan pokok dengan harga yang masih bisa dijangkau menjelang Ramadan.

    “Dari rumah sudah siap pakai jas hujan. Takutnya kalau telat, kebagian juga enggak,” kata Niah, salah satu warga yang ikut mengantre sejak pagi. Bagi banyak keluarga, pasar murah bukan sekadar agenda bulanan, melainkan penyangga dapur agar tetap berasap di tengah harga yang kian sensitif.

    Antusiasme warga pagi itu menjadi potret kebutuhan yang nyata. Menjelang Ramadan, tekanan harga kerap terasa—dan gerimis tak cukup kuat untuk membendung kekhawatiran itu. Karena itu, Gerakan Pangan Murah (GPM) kembali menjadi tumpuan.

    Kegiatan GPM digelar oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk Imlek, Ramadan, dan Idulfitri. Program ini dilaksanakan serentak secara nasional.

    Analis Ketahanan Pangan DPKP Kotim, Mira Septiasari, menyebut pemantauan harga bersama Tim Satgas Sapu Bersih (Saber) Pusat Badan Pangan Nasional wilayah Kalimantan Tengah menemukan kenaikan pada sejumlah komoditas. “Memang ada beberapa harga bahan pangan yang naik. Karena itu, GPM kami fokuskan menjelang Ramadan sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.

    Secara rutin GPM digelar setiap bulan. Namun kali ini, momentumnya dipertegas: memberi bantalan bagi rumah tangga agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

    Sejumlah komoditas dijual dengan harga terjangkau, antara lain beras SPHP Rp60.000 per sak lima kilogram, beras lokal Rp72.000 per sak lima kilogram, gula pasir Rp16.500 per kilogram, bawang merah Rp36.000 per kilogram, bawang putih Rp30.000 per kilogram, minyak goreng Rp15.000 per liter, telur ayam Rp56.000 per sap, serta sayuran Rp5.000 per ikat.

    Untuk memastikan pasokan, panitia menyiapkan beras SPHP sebanyak dua ton, minyak goreng 600 liter, bawang merah 80 kilogram, bawang putih 70 kilogram, dan telur ayam 70 sap. Stok itu cepat berkurang—seiring antrean yang tak putus meski gerimis terus turun.

    Di Taman Kota pagi itu, gerimis, antrean, dan harga murah bertemu. Bukan sekadar transaksi, melainkan upaya bersama menahan beban ekonomi jelang Ramadan.

  • Tunggakan Honor Desa di Bantian: Cermin Tata Kelola Desa yang Retak di Kotim

    Tunggakan Honor Desa di Bantian: Cermin Tata Kelola Desa yang Retak di Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Enam bulan tanpa gaji, perangkat desa dan unsur kemasyarakatan di Desa Bantian, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tetap menunaikan tugas pelayanan masyarakat. Ironisnya, keterlambatan pembayaran bukan akibat kekurangan anggaran, tetapi persoalan tata kelola internal yang berulang dan sistemik di sejumlah desa di Kotim.

    Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, membongkar fakta yang mengagetkan: anggaran penghasilan tetap (siltap) dan bantuan langsung tunai (BLT) periode Juni–Desember 2025 sejatinya tersedia, namun pengelolaan internal desa membuat pembayaran tertunda.

    “Dana itu ada. Masalahnya pengelolaannya di tingkat desa,” tegas Fahrujiansyah, Kamis (12/2/2026).

    Akibatnya, perangkat desa – mulai dari RT, RW, kader posyandu, kader posbindu, hingga anggota LPMD dan BPD – harus menunaikan tugas pelayanan publik meski hak finansial mereka diabaikan selama berbulan-bulan.

    “Dari Juli 2025 sampai sekarang belum gajian. Tapi pelayanan tetap jalan,” ungkap salah seorang perangkat yang enggan disebutkan namanya.

    Kondisi ini bukan kasus tunggal. Berdasarkan catatan lapangan, sejumlah desa di Kotim sering mengalami keterlambatan honor dan BLT, meski anggaran tersedia. Sumber masalah utama: lemahnya koordinasi internal, dominasi satu oknum dalam pengelolaan keuangan, serta minimnya pengawasan.

    Di Desa Bantian, dana dipegang Kaur Keuangan yang juga merangkap bendahara. Komunikasi antara kepala desa, sekretaris desa, dan Kaur keuangan tidak berjalan lancar, sehingga aliran anggaran macet. Fenomena ini menggambarkan celah sistemik dalam pengelolaan desa di Kotim.

    Inspektorat Kotim melalui Irbansus akhirnya turun tangan. Pemeriksaan khusus menyorot kepala desa, staf keuangan, dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Akhirnya, pada Senin (9/2/2026), seluruh tunggakan honor dan BLT senilai Rp36 juta berhasil dicairkan.

    Fahrujiansyah menegaskan, APBDes 2026 tidak akan diproses jika desa belum menyelesaikan kewajiban tahun 2025. Langkah ini menjadi bentuk pencegahan agar masalah serupa tidak menular ke desa lain.

    “Syaratnya kalau kegiatan 2025 belum dirampungkan, saya tidak akan memproses APBDes 2026. Ini bentuk komitmen agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

    Kasus Desa Bantian menjadi refleksi lebih luas: perangkat desa yang tetap bekerja di tengah haknya diabaikan, dan sistem pengelolaan keuangan desa yang berulang kali menimbulkan masalah. Jika tidak ada reformasi tata kelola, kasus tunggakan honor akan terus berulang di Kotim. (***)

  • Buaya Muncul di Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    Buaya Muncul di Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pagi yang biasanya tenang di bantaran Sungai Tabuk mendadak berubah tegang. Seekor buaya dilaporkan muncul di aliran sungai yang berada di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat pagi (13/2/2026).

    Kemunculan satwa liar tersebut sontak mengundang perhatian warga. Sungai Tabuk yang terhubung langsung dengan Sungai Mentaya selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian masyarakat mulai dari mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya.

    Kini, aliran sungai yang biasa memberi kehidupan justru menghadirkan rasa waswas, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan anak-anak yang kerap bermain di sekitarnya.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengatakan buaya terlihat timbul di belakang rumah warga pada pagi hari.

    “Informasi yang kami terima, buaya muncul di belakang rumah warga di kawasan Sungai Tabuk, Kelurahan Kota Besi Hulu. Waktunya sekitar pukul 07.36 WIB,” ujar Muriansyah saat dikonfirmasi.

    Fenomena kemunculan buaya di wilayah permukiman bukan kali pertama terjadi di Kotim. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik buaya–manusia kerap muncul di daerah aliran Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat alami buaya.

    Alih fungsi lahan, aktivitas manusia di bantaran sungai, serta berkurangnya ruang jelajah satwa liar diduga menjadi faktor yang mendorong buaya mendekati permukiman. Di sisi lain, ketergantungan warga terhadap sungai membuat potensi konflik semakin sulit dihindari.

    Menyikapi kondisi tersebut, warga diimbau untuk sementara waktu mengurangi aktivitas di sungai, khususnya mandi dan berenang yang berisiko tinggi. Masyarakat juga diminta saling mengingatkan, terutama kepada anak-anak, agar tidak bermain di tepi sungai tanpa pengawasan.

    Apabila buaya kembali terlihat, warga diminta segera melapor kepada aparat desa atau pihak berwenang agar dapat segera ditindaklanjuti.

    “Keselamatan warga menjadi prioritas. Kami harap masyarakat tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang membahayakan diri,” tegas Muriansyah.

    Hingga saat ini, pihak terkait masih memantau perkembangan di lapangan guna memastikan situasi tetap terkendali serta mencegah terjadinya konflik yang dapat merugikan manusia maupun satwa liar. (***)

  • Terpisah dari Induk, Tenggiling Betina Dilepasliarkan di Kawasan Restorasi

    Terpisah dari Induk, Tenggiling Betina Dilepasliarkan di Kawasan Restorasi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Seekor tenggiling betina yang ditemukan warga di kebun kelapa sawit akhirnya kembali ke habitat yang lebih aman. Satwa dilindungi dengan berat sekitar 1,5 kilogram itu dilepasliarkan di kawasan Restorasi Ekosistem PT RMU, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (12/2/2026).

    Tenggiling tersebut sebelumnya ditemukan warga Desa Hantipan saat membersihkan kebun sawit. Karena lokasi penemuan berada di luar habitat alaminya, warga memilih melaporkan keberadaan satwa tersebut kepada pihak terkait.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan diterima pada Rabu siang dari staf PT RMU yang bertugas di wilayah Pulau Hanaut. Petugas kemudian meminta agar tenggiling segera diamankan.

    “Ditemukan saat warga membersihkan kebun kelapa sawit. Lokasi itu memang bukan habitat tenggiling,” ujar Muriansyah.

    Proses pengamanan melibatkan anggota Babinsa setempat. Satwa tersebut kemudian dibawa ke Kota Samuda dan diamankan sementara oleh pihak PT RMU sambil menunggu keputusan pelepasliaran.

    Pada Rabu malam, BKSDA Resort Sampit berkoordinasi dengan pihak PT RMU, termasuk manajer biodiversity perusahaan. Hasil koordinasi menyepakati tenggiling betina tersebut dilepasliarkan di kawasan konsesi restorasi ekosistem.

    “Untuk ukuran seperti itu, tenggiling memang sudah terpisah dari induknya,” jelas Muriansyah.

    Sebelum dilepasliarkan, petugas memastikan kondisi fisik satwa dalam keadaan sehat. Pemeriksaan tidak menemukan luka pada tubuh tenggiling.

    “Sudah dicek, tidak ada luka,” katanya.

    Pelepasliaran dilakukan setelah proses serah terima di Samuda, kemudian dilanjutkan langsung ke kawasan restorasi. Langkah ini diharapkan memberi kesempatan bagi tenggiling untuk kembali hidup di lingkungan yang sesuai.

    Muriansyah mengapresiasi kesadaran warga yang melaporkan temuan satwa dilindungi tersebut. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menangkap atau memelihara satwa liar.

    “Jika menemukan satwa dilindungi, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani dengan benar,” pungkasnya. (***)

  • Kimsin di Kong Miao Litang: Membersihkan Rupang, Menyucikan Hati Menjelang Imlek

    Kimsin di Kong Miao Litang: Membersihkan Rupang, Menyucikan Hati Menjelang Imlek

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Aroma bunga bercampur dupa perlahan memenuhi Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit, Rabu (11/2/2026). Di ruang utama kelenteng, umat Khonghucu tampak khidmat melaksanakan ritual Kimsin, tradisi penyucian patung dewa-dewi yang selalu dilakukan menjelang Tahun Baru Imlek.

    Satu per satu patung dewa-dewi dimandikan dengan air bunga. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian, seolah mengingatkan bahwa ritual ini bukan sekadar membersihkan benda, melainkan perjalanan batin menyambut tahun yang baru. Total ada sekitar 30 patung yang menjalani prosesi penyucian.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, mengatakan Kimsin merupakan tradisi tahunan yang sarat makna spiritual.

    “Membersihkan patung dewa bukan hanya soal kebersihan fisik. Spiritnya adalah membersihkan hati, agar saat menyongsong tahun baru, batin kita juga bersih dan lapang,” ujarnya.

    Prosesi dilakukan menggunakan air bunga, bukan tanpa alasan. Bagi Wen Shi, air bunga melambangkan keharuman dan kebaikan yang diharapkan melekat dalam kehidupan umat. Setelah dimandikan, patung kemudian dibersihkan dengan saksama dan diberi parfum.

    “Maknanya sederhana tapi dalam. Kita ingin membuang sifat-sifat buruk dan membiarkan sifat baik yang melekat. Seperti harum bunga, semoga kehidupan kita ke depan juga membawa kebaikan,” tuturnya.

    Jumlah patung yang cukup banyak membuat proses pembersihan dilakukan bertahap. Jika tidak selesai dalam satu hari, ritual akan dilanjutkan keesokan harinya. Selain patung dewa, altar persembahyangan juga turut dibersihkan sebagai bagian dari persiapan ibadah Imlek.

    “Kenyamanan umat saat sembahyang juga penting. Media persembahyangan harus bersih agar ibadah bisa lebih khusyuk,” kata Wen Shi.

    Dalam kepercayaan Khonghucu, momen menjelang Imlek diyakini sebagai waktu ketika para dewa melaporkan perbuatan manusia selama setahun kepada Tian atau langit. Karena itu, Kimsin juga menjadi refleksi atas sikap dan perbuatan yang telah dijalani umat sepanjang tahun.

    “Harapannya, dengan kebaikan yang kita lakukan, umpan balik yang kita terima juga baik,” ungkapnya.

    Tak sembarang orang bisa terlibat dalam ritual ini. Sebelum prosesi dimulai, umat yang ikut membersihkan patung diwajibkan menyucikan diri secara jasmani dan rohani. Ada ketentuan khusus yang harus dipatuhi demi menjaga kesakralan ritual.

    “Sebelum membersihkan rupang, kami membersihkan hati dulu. Secara jasmani juga harus bersih, mandi dan keramas. Ada aturan, misalnya perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan ikut,” jelas Wen Shi.

    Di Kelenteng Kong Miao Litang, Kimsin tidak menggunakan arak ataupun air kelapa. Pilihan jatuh pada air bunga yang dianggap lebih merepresentasikan kesucian dan keharuman.

    “Air bunga menurut kami lebih membawa makna kebaikan. Itu yang kami pegang,” pungkasnya.

    Di balik kesederhanaan ritual Kimsin, tersimpan pesan mendalam: menyongsong Imlek bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang kesiapan hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru. (***)

  • Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    SAMPIT,Kanalindependen.id  – Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tidak hanya menghadirkan ritual dan tradisi, tapi juga filosofi mendalam yang dibawa oleh Shio Kuda Api.

    Menurut Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, shio tahun ini membawa pesan penting bagi umat dan masyarakat luas.

    “Tahun ini kita dengan Shio Kuda Api. Kuda itu lambangnya kecepatan, energi, dan kekuatan, sementara api adalah simbol perubahan dan transformasi,” ujar Wen Shi.

    Ia menjelaskan, secara filosofis, tahun 2577 Kongzili mengajarkan bahwa orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan lebih maju, sementara yang lambat akan tertinggal.

    “Seperti seekor kuda yang dinamis dan selalu bergerak, api melambangkan perubahan. Siapa pun yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, maka mereka akan selangkah lebih maju,” tambahnya.

    Lebih dari sekadar simbolisme shio, Wen Shi menekankan pentingnya keharmonisan antarumat beragama di Kotawaringin Timur. “Kami bersyukur berada di Kotim. Hubungan lintas agama di sini sangat harmonis dan kondusif. Saya sendiri merupakan anggota FKUB, mewakili agama Khonghucu, dan bekerja bersama perwakilan lima agama lainnya,” jelasnya.

    Ia menegaskan bahwa toleransi di Sampit tergolong tinggi, terbukti dari berbagai kegiatan keagamaan dan modernisasi praktik ibadah yang berjalan berdampingan.

    “Kami hidup berdampingan dengan agama lain. Ketika Natal dan Idul Fitri, kami juga bersilaturahmi. Bahkan, kami biasa mengadakan open house bagi tamu dari kalangan pemerintahan,” ujarnya.

    Pesan utama Wen Shi untuk umat dan masyarakat luas adalah menjaga kerukunan dan keharmonisan. “Sebagai umat minoritas, kami berterima kasih kepada pemerintah yang telah mengayomi, memberi kami kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti umat lain,” tuturnya.

    Dengan filosofi Shio Kuda Api dan semangat kebersamaan antarumat beragama, Wen Shi berharap keadaan bangsa semakin membaik dan setiap individu mampu bergerak dinamis menyesuaikan perubahan zaman.

    “Hanya mereka yang adaptif yang bisa melangkah lebih maju,” pungkasnya. (***)

  • Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lilin-lilin merah menyala pelan di Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit. Asap dupa mengepul tipis, membawa doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Di antara barisan umat yang hadir, tak semua datang dengan kecukupan. Namun malam itu, tak ada jarak antara yang mampu dan yang berkekurangan.

    Di tengah gemerlap lampion dan persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, umat Khonghucu di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menunjukkan sisi lain dari perayaan yang hangat dan penuh makna. Di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tampak aktivitas ibadah persaudaraan yang sarat dengan nilai kemanusiaan.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, menjelaskan bahwa ibadah persaudaraan bukan sekadar ritual, tapi juga momentum berbagi bagi mereka yang kurang mampu. “Tidak semua umat Konghucu berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Momentum ini kami gunakan untuk saling berbagi agar mereka tetap dapat merayakan Imlek dengan kebahagiaan,” ujarnya, Rabu malam (12/2/2026).

    Dalam kesempatan ini, sekitar 50 umat yang dinilai kurang mampu menerima bantuan dari komunitas. Wen Shi menekankan bahwa tradisi berbagi ini sudah berjalan ribuan tahun, menjadi bagian dari nilai luhur agama Khonghucu yang menekankan persaudaraan dan kepedulian sosial.

    “Harapannya, mereka yang kurang mampu tetap bisa merasakan sukacita Imlek. Perayaan bukan hanya tentang kemeriahan, tapi tentang hati yang bersih dan kebersamaan,” tambahnya.

    Ibadah persaudaraan berlangsung bertahap. Sebelum tahun baru, umat Khonghucu melakukan ritual enam hari sebelumnya. Malam ini, mereka melaksanakan ibadah khusus, lalu akan kembali melaksanakan ibadah menyambut malam Tahun Baru Imlek pada 16 Februari. Seminggu setelah Imlek akan digelar ibadah syukur, dan dua minggu kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang menandai puncak perayaan Imlek.

    Selain ritual, tradisi bersih-bersih juga tetap dijalankan. Seluruh patung dewa dimandikan dan disucikan sebagai simbol penyambutan tahun baru dengan hati yang bersih. Aktivitas ini juga menjadi momen refleksi dan persiapan spiritual bagi seluruh umat.

    Bagi Wen Shi, Imlek adalah pengingat bahwa dalam perbedaan kondisi ekonomi, semua umat tetap disatukan dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. “Di sinilah makna Imlek yang sesungguhnya,” tuturnya. (***)