Kategori: Daerah

  • Malam Hiburan di Desa Sudan yang Memantik Luka dan Kejanggalan di Balik Penanganan Kasus

    Malam Hiburan di Desa Sudan yang Memantik Luka dan Kejanggalan di Balik Penanganan Kasus

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam itu, Sabtu (15/2/2026), jam hampir setengah satu. Di Desa Sudan, Kecamatan Cempaga Hulu, Desa Sudan, riuh rendah suara musik dan tawa masih saja terdengar dari panggung sore yang berubah jadi arena hiburan. Namun bagi satu keluarga, suara itu tercampur ketakutan.

    Di tempat duduk penonton, Suyetno (44) menatap langit gelap yang mulai meresap ke bumi. Ia tak menyangka, malam yang seharusnya sederhana menonton acara kampung dan bercengkrama dengan tetangga justru menjadi titik dimana hidupnya nyaris terseret maut.

    “Saat itu saya hendak naik ke panggung,” ceritanya pelan, suara tersekat sesekali oleh napas yang belum pulih. “Tiba-tiba… seperti ada yang menarik saya dari belakang.”

    Ia tak sempat berteriak. Tubuhnya terjatuh dengan keras, dan saat ia bangun, ia sudah merasakan darah segar mengalir deras dari dada sebelah kiri. Betapa terkejutnya ia ketika sadar bahwa sebuah senjata tajam telah menusuk dadanya, tembus hingga paru-paru.

    Sekarang, saat cerita itu diulang lagi, ada suara selang yang berdenyut di sampingnya. Selang itu bukan sekadar alat medis ia adalah saksi bisu perjuangan hidup melawan luka dalam yang hampir merenggutnya. Itu adalah selang yang membantu mengeluarkan darah dari luka yang menembus paru-parunya.

    Di ujung ranjang rumah sakit RSUD dr Murjani Sampit, Juaty, sang istri, duduk tak jauh dari suaminya. Matanya kosong sesaat, lalu berkaca-kaca saat mengingat detik-detik ketika Suyetno dibawa dari Puskesmas Cempaga ke rumah sakit ini.

    “Waktu itu saya melihat dia penuh darah… langsung kami bawa ke Puskesmas, lalu dirujuk ke sini,” ujarnya lirih, suaranya menahan getar harap.

    Namun luka fisik itu bukan satu-satunya yang menoreh dalam hidup keluarga ini. Sejak peristiwa itu dilaporkan ke polisi, pertanyaan demi pertanyaan justru muncul dari mulut keluarga.

    Ibam, salah seorang kerabat yang mewakili keluarga korban, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap proses hukum yang berjalan lambat dan penuh kejanggalan.

    Ia mengungkapkan, laporan yang mereka buat pada 15 Februari  sesuai kronologi kejadian justru tertulis pada kertas laporan sebagai tanggal 15 April 2023, dan lebih aneh lagi, insiden itu diklasifikasikan sebagai tindak pidana pencurian, bukan penganiayaan berat.

    “Ini kasus penganiayaan, kenapa dibuat seperti pencurian?” tanya Ibam, penuh keheranan.

    Menurutnya, kejanggalan administratif itu justru memperlambat penanganan kasus sementara pelaku yang diduga saat kejadian diketahui oleh banyak orang masih bebas berkeliaran.

    Keluarga bahkan diminta kembali melapor dan membawa saksi ulang, sebuah prosedur yang bagi mereka terasa tak masuk akal dan kontraproduktif. “Disuruh ke sana lagi dan bawa saksi, ini terkesan seperti ada intervensi,” tambah Ibam, menyinggung soal proses yang menurutnya tak sejalan dengan urgensi kasus penganiayaan berat.

    Di lingkungan Desa Sudan, warga pun bertanya-tanya. Orang-orang yang menyaksikan malam itu kini tak bisa lagi tidur nyenyak tanpa pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi?

    Mengapa seorang pria, yang hanya ingin menikmati hiburan kampung, harus menderita luka parah? Dan lebih dari itu kenapa pelaku belum juga ditangkap sementara kejanggalan dalam laporan polisi dibiarkan begitu saja?

    Sementara Suyetno masih berjuang di ranjang rumah sakit, dan keluarganya terus mendesak jawaban, malam itu tetap bergema dalam benak mereka sebagai pengingat bahwa kehidupan bisa berubah dalam sekejap, dan bahwa keadilan tak boleh hanya menjadi sebuah janji di atas kertas laporan. (***)

  • Ketika Lampu Menyala Lebih Mahal dan Emas Tak Lagi Sekadar Tabungan

    Ketika Lampu Menyala Lebih Mahal dan Emas Tak Lagi Sekadar Tabungan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang senja di Sampit, lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Dapur kembali hidup, kipas angin berputar lebih lama, dan rice cooker tak pernah benar-benar dingin. Ramadan pun mulai menyapa. Namun, di balik rutinitas itu, ada kegelisahan yang ikut menyala tagihan listrik.

    Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Baamang, Risna (39) menyodorkan ponselnya. Di layar kecil itu, angka tagihan listrik bulan terakhir terpampang jelas.

    “Pemakaian saya sama saja. Masak ya tetap masak, malam kadang kipas nyala karena panas. Tapi begitu mau Ramadan, tagihannya naik,” ujarnya.

    Ia mengaku kini harus lebih berhitung. Bukan hanya soal listrik, tapi juga pengeluaran dapur yang ikut menyesuaikan.

    Data  Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat inflasi Januari 2026 di Sampit sebesar 3,85 persen (y-on-y). Salah satu pendorong terbesarnya adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 13,64 persen, dengan tarif listrik sebagai penyumbang utama.

    Bagi banyak keluarga, angka itu bukan sekadar statistik. Ia menjelma pilihan-pilihan kecil yang terasa berat: mengurangi lauk berbuka, menunda beli kebutuhan nonpokok, hingga membatasi penggunaan listrik di malam hari padahal Ramadan justru membuat aktivitas rumah tangga kian padat.

    Kegelisahan serupa terasa di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Hidayah (35), ibu rumah tangga, menyebut Ramadan tahun ini terasa berbeda.

    “Biasanya jelang puasa saya simpan sedikit uang di emas. Kalau perlu mendadak, bisa dijual. Tapi sekarang harga emas tinggi sekali. Mau beli berat, mau jual juga sayang,” katanya.

    Kenaikan emas perhiasan tercatat menjadi penyumbang terbesar inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melesat 15,05 persen. Bagi rumah tangga seperti Hidayah, emas bukan simbol gaya hidup, melainkan penyangga ekonomi terakhir saat kondisi mendesak.

    Ironisnya, di bulan puasa kebutuhan justru bertambah: zakat, sedekah, persiapan lebaran, hingga biaya sekolah anak. Sementara harga makanan mungkin masih terlihat “terkendali”, biaya memasak yang bergantung pada listrik pelan-pelan menggerus anggaran.

    “Kalau listrik naik, otomatis semua ikut naik. Kita mau hemat juga ada batasnya,” ujar Risna, sambil tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip upaya menenangkan diri.

    Di tengah inflasi yang didorong listrik mahal dan emas yang kian tinggi, pertanyaan kritis pun muncul: sejauh mana rumah tangga kecil mampu bertahan? Tanpa bantalan pengaman yang memadai, tekanan harga akan selalu jatuh paling cepat ke dapur-dapur sederhana.

    Malam-malam Ramadan akan dilalui. Lampu-lampu rumah tetap menyala bukan karena boros, tetapi karena hidup harus berjalan. Dan di balik cahaya itu, ada harapan sederhana agar kebijakan harga lebih peka pada denyut warga, sehingga Ramadan tetap menjadi bulan ketenangan, bukan bulan kecemasan.(***)

  • Ramadan Datang, Gelandangan dan Pengemis Berpotensi Menjamur, Kotim Diuji Antara Kepedulian dan Ketertiban

    Ramadan Datang, Gelandangan dan Pengemis Berpotensi Menjamur, Kotim Diuji Antara Kepedulian dan Ketertiban

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Setiap Ramadan tiba, kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur seolah memiliki dua wajah. Di satu sisi, masjid dan musala dipenuhi jemaah, empati sosial tumbuh, dan semangat berbagi menguat. Di sisi lain, ruang-ruang publik kembali diwarnai pemandangan lama yang berulang: gelandangan dan pengemis muncul di titik-titik keramaian.

    Fenomena ini bukan hal baru. Namun justru karena terus berulang, pertanyaan itu selalu kembali: sejauh mana negara hadir, dan sejauh mana ketertiban bisa dijaga tanpa menggerus kemanusiaan?

    Dinas Sosial Kotawaringin Timur menyadari potensi tersebut. Kepala Dinsos Kotim, Hawianan, menyebut Ramadan hampir selalu diikuti peningkatan aktivitas gepeng, situasi yang dinilai berpotensi mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah.

    “Biasanya saat Ramadan bermunculan gepeng, sehingga perlu penertiban. Termasuk tahun ini, potensi itu harus kita waspadai,” ujarnya.

    Kotim, menurut Hawianan, adalah daerah terbuka. Jalur darat, laut, dan udara membuat arus manusia masuk dan keluar relatif mudah. Kemudahan ini menjadi berkah bagi mobilitas ekonomi, namun sekaligus tantangan dalam pengawasan sosial terutama saat momentum keagamaan meningkatkan simpati publik.

    “Karena Kotim bisa diakses dari berbagai jalur, maka perlu pengawasan agar keamanan dan kenyamanan masyarakat tetap terjaga,” katanya.

    Di titik inilah persoalan menjadi rumit. Tidak semua yang mengaku terlantar adalah bagian dari modus. Sebagian benar-benar berada dalam kondisi rapuh dan membutuhkan perlindungan negara. Namun, Dinsos Kotim juga tak menampik adanya praktik berpura-pura terlantar demi memperoleh bantuan atau belas kasihan.

    “Kadang ada yang benar-benar terlantar, tapi ada juga yang hanya modus. Kalau tidak dilayani, dampaknya bisa ke nama baik pemerintah daerah,” jelas Hawianan.

    Pernyataan ini menyiratkan dilema klasik birokrasi sosial: antara kewajiban melayani dan risiko disalahgunakan. Jika terlalu longgar, bantuan bisa salah sasaran. Jika terlalu ketat, negara bisa dianggap abai terhadap warganya yang paling lemah.

    Untuk itu, Dinsos Kotim mendorong kerja sama lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama dengan Satpol PP dan aparat kepolisian. Penertiban diperlukan, tetapi tidak cukup hanya dengan razia tanpa skema penanganan yang berkelanjutan, persoalan ini akan terus berulang setiap Ramadan.

    Dinsos juga berharap dukungan operator jasa pelayaran di Pelabuhan Sampit untuk memfasilitasi pemulangan orang terlantar ke daerah asalnya. Namun pemulangan pun bukan solusi akhir jika akar persoalan kemiskinan dan mobilitas sosial tak disentuh.

    “Kami akan lakukan asesmen. Kalau hanya modus, tentu penanganannya berbeda,” tegas Hawianan.

    Ramadan seharusnya menjadi momentum memperkuat empati dan kehadiran negara. Tetapi ketika gepeng terus bermunculan dari tahun ke tahun, pertanyaan yang lebih besar patut diajukan: apakah penanganan sosial selama ini benar-benar menyentuh akar masalah, atau sekadar memindahkan persoalan dari satu sudut kota ke sudut lainnya?

    Di sinilah Ramadan menguji Kotim antara menjaga ketertiban kota, dan memastikan tak ada manusia yang benar-benar ditinggalkan. (***)

  • CFD Taman Kota Sampit Rehat Sejenak Selama Ramadan

    CFD Taman Kota Sampit Rehat Sejenak Selama Ramadan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Minggu pagi di Taman Kota Sampit biasanya dimulai dengan langkah-langkah ringan warga yang berolahraga. Ada yang berlari kecil, ada pula yang sekadar berjalan santai sambil menyapa sesama. Jalanan di sekeliling taman lengang dari kendaraan, memberi ruang bagi napas kota untuk beristirahat sejenak lewat Car Free Day.

    Namun, suasana itu akan rehat sementara selama Bulan Suci Ramadan.

    Dinas Perhubungan Kotawaringin Timur memastikan kegiatan CFD di Taman Kota Sampit ditiadakan selama Ramadan dan akan kembali digelar setelah Hari Raya Idulfitri. Penyesuaian ini dilakukan seiring perubahan ritme aktivitas masyarakat selama bulan ibadah.

    “CFD di Taman Kota Sampit kita tiadakan selama Ramadan dan akan aktif kembali setelah Lebaran Idulfitri,” ujar Kepala Dishub Kotim, Raihansyah, Rabu (18/2/2026).

    CFD di Taman Kota Sampit bukan sekadar penutupan jalan. Sejak pertama kali digelar pada September 2024 dan diresmikan oleh Bupati Kotim Halikinnor, ruang ini menjelma menjadi tempat berkumpul, berolahraga, dan melepas penat bagi warga. Setiap Minggu pagi, kendaraan bermotor menepi, digantikan langkah kaki, sepeda, dan tawa anak-anak.

    Di balik keramaian itu, denyut ekonomi warga ikut bergerak. Lapak-lapak UMKM tumbuh di sekitar taman, menjajakan aneka makanan, minuman, hingga kebutuhan kecil yang selalu dicari pengunjung. CFD memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk bertahan, bahkan berkembang.

    Memasuki Ramadan, perhatian Dishub Kotim tak hanya tertuju pada CFD. Pengaturan lalu lintas juga disiapkan untuk mendukung kelancaran Pasar Ramadan 2026 yang digelar oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kotim. Tahun ini, pasar dipusatkan di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Swalayan UMKM, serta di Jalan S Parman, di kawasan Taman Kota Sampit.

    Sore hari menjadi waktu paling sibuk. Kendaraan datang silih berganti, pengunjung berburu takjil, dan kepadatan lalu lintas kerap tak terhindarkan. Untuk itu, Dishub Kotim akan berkoordinasi dengan Polres Kotawaringin Timur guna mengantisipasi kemacetan.

    “Pengaturan lalu lintas Pasar Ramadan akan kami lakukan bersama Satlantas Polres Kotim, dengan menempatkan personel di titik-titik rawan agar arus kendaraan tetap lancar,” kata Raihansyah.

    CFD memang berhenti sejenak, tetapi denyut kota tak pernah benar-benar padam. Ramadan menghadirkan ritmenya sendiri. Dan setelah Lebaran, jalanan di Taman Kota Sampit akan kembali menjadi ruang bebas—tempat warga bergerak, bernapas, dan merayakan kebersamaan. (***)

  • Ketika Ramadan Mendekat, Harga Ayam di Sampit Tak Ikut Melonjak

    Ketika Ramadan Mendekat, Harga Ayam di Sampit Tak Ikut Melonjak

    SAMPIT, Kanalindependen.id–  Pagi itu, Pasar Ikan Mentaya Sampit mulai dipenuhi warga. Langkah-langkah kecil menyusuri lorong pasar berpadu dengan aroma bumbu dapur dan suara pedagang yang saling menyapa.  Ramadan kian dekat, dan satu pertanyaan kerap berputar di benak para pembeli: apakah harga bahan pokok akan ikut melonjak?

    Di lapak ayam potong, jawabannya masih menenangkan. Hingga Selasa (17/2), harga ayam terpantau stabil. Ayam potong kotor dijual di kisaran Rp40 ribu per kilogram, sementara ayam potong bersih berada di angka sekitar Rp37 ribu per kilogram. Meski permintaan perlahan meningkat menjelang bulan puasa, harga belum menunjukkan tanda-tanda bergerak naik.

    Hidayah, salah seorang pembeli, mengaku lega. Sambil menunggu ayam pesanannya ditimbang, ia bercerita bahwa kestabilan harga sangat berarti bagi keluarganya.

    “Alhamdulilllah masih normal. Ayam bersih Rp37 ribu, ayam kotor Rp40 ribu per kilogram. Ini sangat membantu, karena biasanya menjelang Ramadan kebutuhan meningkat,” katanya.

    Baginya, ayam bukan sekadar lauk. Ia adalah menu andalan untuk sahur dan berbuka. Karena itu, Dayah sapaan akrabnya berharap harga tetap bertahan hingga Lebaran.

    “Kalau sampai naik, pasti terasa berat. Semoga tetap stabil,” ujarnya.

    Cerita serupa datang dari para pedagang. Mereka menyebutkan stok ayam potong masih aman, pasokan dari peternak dan distributor berjalan lancar, dan belum ada lonjakan permintaan yang signifikan. Kondisi inilah yang membuat harga tetap terkendali.

    “Kami terus menjaga stok supaya kebutuhan masyarakat terpenuhi. Selama pasokan lancar, harga biasanya bisa tetap stabil,” ungkap Yani, seorang pedagang.

    Di tengah kekhawatiran umum akan naiknya harga bahan pokok jelang Ramadan, kondisi ini memberi rasa tenang. Ayam potong bahan pangan utama di banyak rumah masih bisa dijangkau. Harapannya, kestabilan ini bertahan hingga Lebaran, dengan dukungan pemantauan distribusi dan ketersediaan bahan pokok agar Ramadan dapat dijalani tanpa beban tambahan bagi masyarakat. (***)

  • Bayang-bayang Juara Umum dan Krisis Dukungan, KONI Kotim Hadapi Ujian Serius Jelang Porprov XIII

    Bayang-bayang Juara Umum dan Krisis Dukungan, KONI Kotim Hadapi Ujian Serius Jelang Porprov XIII

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di balik status juara umum yang pernah diraih, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini menghadapi realitas yang tidak sepenuhnya ideal. Menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XIII Kalimantan Tengah, dukungan anggaran dari pemerintah daerah belum juga terealisasi, sementara progres pendaftaran atlet masih berjalan lambat.

    Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: seberapa siap Kotim mempertahankan dominasi, ketika fondasi pembinaan justru berjalan dengan keterbatasan.

    Porprov XIII dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Ajang ini bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga panggung pembuktian bagi Kotim yang sebelumnya tampil sebagai juara umum saat menjadi tuan rumah Porprov di Sampit. Status tersebut kini berubah menjadi beban prestasi yang tidak ringan.

    Ketua KONI Kotim, Alexius Esliter, mengakui tantangan yang dihadapi tidak kecil. Di satu sisi, Kotim dituntut mempertahankan tradisi juara. Di sisi lain, dukungan anggaran yang menjadi tulang punggung pembinaan belum juga terlihat.

    “Menyandang juara umum tentu tantangan berat. Namun Kotim tetap siap berpartisipasi,” ujarnya.

    Pendaftaran atlet Porprov XIII telah dibuka sejak 2 Februari dan berlangsung hingga 10 April 2026 melalui sistem daring panitia. Setelah itu, proses akan berlanjut ke verifikasi faktual pada Juni. Namun hingga kini, partisipasi atlet dinilai belum maksimal dan berbeda-beda di tiap cabang olahraga.

    “Pendaftaran masih berjalan, tapi progresnya masih rendah. Itu tergantung kesiapan masing-masing cabor,” kata Alexius.

    Di balik angka pendaftaran yang belum ideal, KONI Kotim telah menggelar rapat internal bersama seluruh cabang olahraga untuk memetakan kekuatan riil. Pendataan dilakukan, termasuk menyaring atlet yang tidak lagi memenuhi syarat usia. Namun persoalan utama tetap bermuara pada dukungan sumber daya.

    Tanpa kepastian anggaran, sebagian besar cabang olahraga masih bertahan dengan dana mandiri sebuah pola yang dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi kualitas persiapan dan daya saing atlet.

    “Prestasi sangat bergantung pada kesiapan cabor dan dukungan pemerintah daerah. Sampai sekarang belum ada dana yang masuk,” tegasnya.

    Kondisi ini menempatkan KONI Kotim pada persimpangan: mempertahankan reputasi sebagai kekuatan olahraga daerah, atau menghadapi risiko penurunan performa akibat keterbatasan dukungan struktural.

    Porprov XIII di Kobar nanti bukan hanya soal perebutan medali, tetapi juga ujian serius bagi konsistensi pembinaan olahraga Kotim apakah tradisi juara masih bisa dipertahankan, atau mulai terkikis oleh persoalan klasik pendanaan dan kesiapan sistem. (***)

  • Mengakhiri Tahun dengan Syukur, Memulai Tahun Baru dengan Harapan

    Mengakhiri Tahun dengan Syukur, Memulai Tahun Baru dengan Harapan

    Umat Konghucu Sampit Bersiap Sambut Tahun 2577 Kongzili

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana di Klenteng Kong Miau Litang, Jalan MT Haryono Sampit, dipenuhi cahaya hangat lilin, aroma dupa, dan denting suara lonceng kecil, Senin (16/2/2026). Malam itu, umat Konghucu di Kota Sampit berkumpul untuk menjalani ritual tutup tahun 2576 Kongzili, menutup lembaran tahun yang telah dilalui dengan rasa syukur dan membuka pintu harapan bagi tahun baru spiritual 2577 Kongzili.

    Tokoh agama Konghucu setempat, Wen Shi Suhardi, menuturkan, “Esensi doa yang kami panjatkan malam ini adalah agar di tahun baru, Tien melimpahkan kasih karubianya. Sehingga setiap langkah kita dapat dilalui dengan aman, selamat, dan sentosa.”

    Suasana ibadah malam itu terasa khidmat dan inspiratif. Umat berdiri bersama di depan altar klenteng, mengikuti doa secara kolektif. Selanjutnya sebagian ada yanh beribadah secara pribadi, menulis harapan dan ucapan syukur pada kertas doa yang telah disediakan.

    “Kertas doa ini dibuat oleh dewan rohaniawan Konghucu, dan tokoh agama Konghucu dari seluruh Indonesia. Formatnya sudah dikonsep: umat mengucap syukur atas tahun yang telah dilalui selamat, aman, dan sentosa serta menaruh harapan agar diberkahi keberuntungan sepanjang tahun baru,” jelas Wen Shi Suhardi.

    Ritual malam itu tidak hanya sekadar ibadah, tetapi juga momen refleksi dan motivasi. “Ada umat yang aktif beribadah sepanjang tahun, ada pula yang hanya beribadah saat hari raya. Namun malam ini semua bersatu, memanjatkan doa dan menyatukan energi spiritual untuk menghadapi tahun yang baru,” imbuhnya.

    Setiap doa yang dipanjatkan membawa pesan kuat: menutup tahun lama dengan rasa syukur, mengakui tantangan yang telah dilalui, dan menatap masa depan dengan optimisme serta harapan. Lampion-lampion yang berkelap-kelip, aroma dupa yang menenangkan, dan lirihnya doa yang bergema di ruang klenteng menjadi saksi kebersamaan dan keteguhan iman umat Konghucu Sampit.

    Malam itu menjadi pengingat bahwa setiap akhir adalah awal yang baru. Dengan hati yang penuh syukur dan doa yang tulus, umat Konghucu Sampit bersiap menyambut karunia Tien di tahun 2577 Kongzili, berharap perjalanan hidup yang akan datang dipenuhi berkah, keselamatan, dan ketentraman. (***)

  • Jejak Diaspora Cina di Tepi Mentaya, Dari Perdagangan Sungai hingga Harmoni Komunitas

    Jejak Diaspora Cina di Tepi Mentaya, Dari Perdagangan Sungai hingga Harmoni Komunitas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sejarah Sampit bergerak mengikuti aliran Sungai Mentaya. Dari jalur air inilah kota ini tumbuh melalui perahu dagang, pertemuan manusia, dan jaringan ekonomi yang telah hidup jauh sebelum Sampit menjadi pusat perdagangan di Kalimantan Tengah seperti sekarang.

    Kehadiran masyarakat Tionghoa menjadi bagian penting dari proses panjang itu. Catatan sejarah menunjukkan, kontak pedagang Cina dengan masyarakat Borneo telah berlangsung sejak berabad-abad lalu melalui perdagangan hasil hutan dan laut. Namun, sekitar tahun 1847 menjadi penanda penting dimulainya fase pemukiman dan keterlibatan yang lebih permanen di wilayah Sampit.

    Bagi komunitas Tionghoa di Kotawaringin Timur, kisah ini bukan sekadar arsip, melainkan bagian dari ingatan kolektif yang terus hidup. Menurut Wen Shi Suhardi, tokoh agama Konghucu Kotim, orang Tionghoa khususnya dari suku Han telah bermigrasi ke tanah Borneo sejak ribuan tahun lalu dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal, bahkan sebelum masa kolonial.

    “Dalam catatan sejarah, orang Tionghoa sudah ada di Borneo jauh sebelum kemerdekaan. Ketika penjajah Belanda masuk, mereka memanfaatkan kedekatan orang Tionghoa dengan masyarakat lokal untuk menjadi mediator antar suku,” kata Suhardi.

    Sungai Mentaya dan Awal Perdagangan

    Letak geografis Sampit di tepian Sungai Mentaya menjadikannya simpul strategis perdagangan di pesisir selatan Borneo. Sungai ini memungkinkan kapal-kapal berukuran besar masuk hingga ke pusat kota, menjadikan Sampit pelabuhan penting bagi arus keluar-masuk komoditas seperti karet, rotan, dan kayu.

    Pada fase awal, masyarakat Tionghoa dikenal sebagai pedagang perantara. Mereka mendistribusikan kebutuhan pokok beras, garam, minyak, hingga berbagai perkakas kepada masyarakat Dayak dan Banjar, sekaligus membangun jaringan perdagangan antarpulau yang menghubungkan Sampit dengan kawasan lain di Nusantara hingga luar negeri.

    Seiring waktu, para pendatang yang semula datang sebagai penambang dan pedagang perlahan menetap, membangun permukiman, serta menjadi bagian dari struktur ekonomi lokal yang terus berkembang.

    Dari Karet hingga Industri Kayu

    Memasuki akhir abad ke-19, geliat ekonomi Sampit meningkat seiring dibukanya perkebunan karet. Pada fase ini, jumlah pendatang Tionghoa bertambah sebagai pedagang, pengusaha, maupun tenaga kerja. Aktivitas ekonomi mereka menghidupkan pasar-pasar di tepi sungai dan mendorong tumbuhnya pusat niaga baru di kawasan kota.

    Peran ekonomi komunitas Tionghoa mencapai puncak pada dekade 1940-an, ketika Belanda membangun industri penggergajian kayu berskala besar di tepi Sungai Mentaya. Pabrik kayu tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara pada masanya, memperkuat posisi Sampit sebagai pusat ekonomi kolonial sekaligus membuka ruang kerja bagi masyarakat setempat.

    Dinamika Sosial dan Jejak Budaya

    Dalam perjalanan sejarahnya, komunitas Tionghoa di Sampit dikenal dengan berbagai sebutan Cina Totok, Cina Peranakan, hingga Cina Tongkang yang merujuk pada gelombang kedatangan dan proses sosial yang berbeda. Meski secara demografis tidak dominan, peran mereka dalam ekonomi dan kehidupan kota sangat signifikan.

    Interaksi dengan komunitas Dayak, Banjar, Jawa, dan Madura membentuk karakter multikultural Sampit. Kawasan pasar dan bantaran sungai menjadi ruang perjumpaan antarbudaya yang terus berlangsung dari masa ke masa.

    Proses panjang itu melahirkan asimilasi sosial. Etnis Tionghoa tidak hanya menjadi bagian dari masyarakat, tetapi turut memperkaya kehidupan budaya lokal melalui tradisi dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi.

    Di Kotim, jejak budaya tersebut terlihat dari berdirinya klenteng pertama pada tahun 2000 oleh Hadi Siswanto, yang menghibahkan tanah untuk membangun rumah ibadah Konghucu bernama Kong Miao Litang atau klenteng Harmoni Kehidupan.

    “Sebelumnya, umat Konghucu beribadah di Tri Dharma bersama umat Buddha. Namun, karena jumlah penganut semakin banyak, akhirnya klenteng ini didirikan untuk memfasilitasi umat Konghucu,” ujar Wenshi.

    Keberadaan klenteng ini menjadi ruang penting dalam menjaga identitas budaya komunitas Tionghoa di Kotim. Tradisi seperti barongsai dan festival Tionghoa tumbuh dari praktik keagamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

    Hingga akhir masa kolonial pada 1942, komunitas Tionghoa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan Sampit. Jejak mereka tidak hanya tercatat dalam arsip dan bangunan lama, tetapi juga dalam struktur ekonomi, jaringan perdagangan, dan dinamika sosial kota.  

    Kini, Sungai Mentaya tetap mengalir, pelabuhan masih bekerja, dan kehidupan kota terus bergerak di atas fondasi sejarah yang dibangun berbagai komunitas. Kisah diaspora Tionghoa di Sampit bukan sekadar cerita migrasi, melainkan perjalanan panjang tentang adaptasi, kerja, dan kebersamaan dalam membentuk wajah kota.

    Pada akhirnya, sejarah Sampit menunjukkan bahwa sebuah kota tidak tumbuh secara tiba-tiba. Ia dibangun oleh pertemuan manusia, kerja ekonomi, dan proses sosial yang berlangsung lintas generasi jejak yang masih terasa hingga hari ini. (***)

  • Persempit Ruang Balap Liar, Polsek Pahandut Pasang Barier

    Persempit Ruang Balap Liar, Polsek Pahandut Pasang Barier

    PALANGKA RAYA, kanalindependen.id – Aparat Polsek Pahandut mengintensifkan Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) di sejumlah ruas jalan utama untuk merespons keresahan warga terhadap aksi balap liar di Kota Palangka Raya.

    Patroli difokuskan pada pencegahan balap liar dan potensi tindak pidana lain yang berpotensi mengganggu kenyamanan warga pada malam akhir pekan.

    Kegiatan yang berlangsung sejak Sabtu malam (14/2/2026) sekitar pukul 22.30 WIB hingga Minggu (15/2/2026) pukul 04.30 WIB itu diawali apel kesiapan di Mapolsek Pahandut.

    Kapolsek Pahandut AKP Iyudi Hartanto memimpin langsung apel, didampingi Kanit Lantas bersama 16 personel gabungan dari beberapa fungsi.

    ”Langkah preventif ini merupakan komitmen kami dalam menciptakan Harkamtibmas yang kondusif di wilayah Pahandut. Kami ingin memastikan masyarakat dapat beristirahat dan beraktivitas dengan tenang tanpa gangguan kebisingan balap liar maupun ancaman kriminalitas,” ujar Iyudi di sela kegiatan.

    Salah satu titik yang menjadi sorotan adalah Jalan Dr. Murjani yang dalam beberapa pekan terakhir kerap disorot sebagai salah satu lokasi favorit aksi balap liar di Palangka Raya, selain sejumlah ruas lain seperti Yos Sudarso dan Diponegoro.

    Sebagai langkah antisipasi, petugas melakukan rekayasa fisik dengan memasang barier di beberapa titik strategis di kawasan tersebut.

    Sebanyak 10 barier dipasang di simpang tiga Jalan A Yani–Jalan Bali dan 8 barier ditempatkan di putaran depan Bengkel Subur Ban, Jalan Dr. Murjani.

    Rekayasa ini diharapkan dapat memutus lintasan yang sering dimanfaatkan pelaku balap liar untuk memacu kendaraan hingga dini hari.

    Tak hanya bersifat statis, tim patroli juga menyisir rute-rute rawan yang meliputi Jalan Dr. Murjani, Jalan P. Diponegoro, Bundaran Kecil, Bundaran Besar, dan sejumlah jalan protokol lain sebelum kembali siaga di sekitar Murjani.

    Sejak awal 2026, beberapa ruas jalan di Palangka Raya memang menjadi target razia dan patroli kepolisian menyusul maraknya aksi balap liar yang bahkan sempat berujung pada penyitaan puluhan hingga ratusan sepeda motor.

    Di sela patroli, personel Polsek Pahandut juga merespons laporan warga terkait seorang pria dalam kondisi mabuk yang mengganggu jalannya sebuah acara di lingkungan SMA Negeri 1 Palangka Raya. Petugas kemudian mengamankan pria tersebut ke Mapolsek untuk dilakukan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.

    Menurut Iyudi, pola patroli malam dan rekayasa lalu lintas ini akan terus dievaluasi dan disesuaikan dengan dinamika di lapangan.

    Langkah seperti ini sejalan dengan upaya Polresta Palangka Raya yang sejak Januari memperketat patroli dan penindakan balap liar di sejumlah titik, termasuk Jalan Dr. Murjani, Yos Sudarso, dan koridor menuju Bandara Tjilik Riwut.

    Hingga patroli berakhir sekitar pukul 04.30 WIB, situasi di wilayah hukum Polsek Pahandut dalam kondisi aman, tertib, dan tidak ditemukan aktivitas balap liar di koridor yang disasar. Petugas menyatakan akan melanjutkan pola patroli dan pengawasan serupa, terutama pada akhir pekan ketika potensi balap liar dinilai meningkat.​ (ign)

  • Kabar dari Langit, Ramadan di Kotim Berpeluang Lebih Sejuk

    Kabar dari Langit, Ramadan di Kotim Berpeluang Lebih Sejuk

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, langit di atas Kabupaten Kotawaringin Timur seolah membawa pesan menenangkan. Setelah melewati hari-hari panas di awal tahun, warga Kotim kini berpeluang menjalani ibadah puasa dengan suasana yang lebih bersahabat. Hujan ringan hingga sedang diprakirakan akan lebih sering turun, menghadirkan udara yang terasa lebih adem.

    Kabar ini disampaikan Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leonardo. Ia menjelaskan, pada periode 1 hingga 10 Maret 2026, hujan dengan intensitas ringan sampai sedang masih akan mendominasi wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

    “Prakiraan hujan di bulan Maret ini masuk kategori menengah, sekitar 200 sampai 300 milimeter. Kemungkinan bulan Ramadan akan lebih adem, mudah-mudahan tidak terlalu panas,” ujar Mulyono.

    Tak hanya di awal bulan, kondisi cuaca yang relatif sejuk ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir Maret. Suhu udara diprediksi tidak sepanas awal tahun kemarin, ketika hujan sempat berkurang dan panas terasa lebih menyengat.

    Menurut Mulyono, secara umum sifat hujan di Kotim pada periode tersebut masih tergolong normal. Pola ini selaras dengan siklus klimatologi tahunan yang memang rutin terjadi di wilayah ini.

    BMKG mencatat, Kotim memiliki dua puncak musim hujan dalam satu tahun. Puncak pertama terjadi pada Desember 2025. Setelah itu, curah hujan menurun pada Januari dan membuat cuaca terasa lebih panas. Memasuki Februari hingga Maret, hujan kembali turun secara bertahap.

    “Pada bulan April nanti akan kembali terjadi puncak kedua musim hujan. Itu memang siklus tahunan di Kotim,” jelasnya.

    Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar terus memantau informasi cuaca terbaru. Prakiraan dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung dinamika dan fenomena alam yang terjadi.

    Setidaknya, kabar dari langit ini memberi harapan. Ramadan tahun ini berpeluang hadir dengan udara yang lebih sejuk, menemani sahur dan berbuka warga Kotim dengan suasana yang lebih nyaman. (***)