Kategori: Daerah

  • Kimsin di Kong Miao Litang: Membersihkan Rupang, Menyucikan Hati Menjelang Imlek

    Kimsin di Kong Miao Litang: Membersihkan Rupang, Menyucikan Hati Menjelang Imlek

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Aroma bunga bercampur dupa perlahan memenuhi Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit, Rabu (11/2/2026). Di ruang utama kelenteng, umat Khonghucu tampak khidmat melaksanakan ritual Kimsin, tradisi penyucian patung dewa-dewi yang selalu dilakukan menjelang Tahun Baru Imlek.

    Satu per satu patung dewa-dewi dimandikan dengan air bunga. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian, seolah mengingatkan bahwa ritual ini bukan sekadar membersihkan benda, melainkan perjalanan batin menyambut tahun yang baru. Total ada sekitar 30 patung yang menjalani prosesi penyucian.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, mengatakan Kimsin merupakan tradisi tahunan yang sarat makna spiritual.

    “Membersihkan patung dewa bukan hanya soal kebersihan fisik. Spiritnya adalah membersihkan hati, agar saat menyongsong tahun baru, batin kita juga bersih dan lapang,” ujarnya.

    Prosesi dilakukan menggunakan air bunga, bukan tanpa alasan. Bagi Wen Shi, air bunga melambangkan keharuman dan kebaikan yang diharapkan melekat dalam kehidupan umat. Setelah dimandikan, patung kemudian dibersihkan dengan saksama dan diberi parfum.

    “Maknanya sederhana tapi dalam. Kita ingin membuang sifat-sifat buruk dan membiarkan sifat baik yang melekat. Seperti harum bunga, semoga kehidupan kita ke depan juga membawa kebaikan,” tuturnya.

    Jumlah patung yang cukup banyak membuat proses pembersihan dilakukan bertahap. Jika tidak selesai dalam satu hari, ritual akan dilanjutkan keesokan harinya. Selain patung dewa, altar persembahyangan juga turut dibersihkan sebagai bagian dari persiapan ibadah Imlek.

    “Kenyamanan umat saat sembahyang juga penting. Media persembahyangan harus bersih agar ibadah bisa lebih khusyuk,” kata Wen Shi.

    Dalam kepercayaan Khonghucu, momen menjelang Imlek diyakini sebagai waktu ketika para dewa melaporkan perbuatan manusia selama setahun kepada Tian atau langit. Karena itu, Kimsin juga menjadi refleksi atas sikap dan perbuatan yang telah dijalani umat sepanjang tahun.

    “Harapannya, dengan kebaikan yang kita lakukan, umpan balik yang kita terima juga baik,” ungkapnya.

    Tak sembarang orang bisa terlibat dalam ritual ini. Sebelum prosesi dimulai, umat yang ikut membersihkan patung diwajibkan menyucikan diri secara jasmani dan rohani. Ada ketentuan khusus yang harus dipatuhi demi menjaga kesakralan ritual.

    “Sebelum membersihkan rupang, kami membersihkan hati dulu. Secara jasmani juga harus bersih, mandi dan keramas. Ada aturan, misalnya perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan ikut,” jelas Wen Shi.

    Di Kelenteng Kong Miao Litang, Kimsin tidak menggunakan arak ataupun air kelapa. Pilihan jatuh pada air bunga yang dianggap lebih merepresentasikan kesucian dan keharuman.

    “Air bunga menurut kami lebih membawa makna kebaikan. Itu yang kami pegang,” pungkasnya.

    Di balik kesederhanaan ritual Kimsin, tersimpan pesan mendalam: menyongsong Imlek bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang kesiapan hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru. (***)

  • Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    SAMPIT,Kanalindependen.id  – Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tidak hanya menghadirkan ritual dan tradisi, tapi juga filosofi mendalam yang dibawa oleh Shio Kuda Api.

    Menurut Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, shio tahun ini membawa pesan penting bagi umat dan masyarakat luas.

    “Tahun ini kita dengan Shio Kuda Api. Kuda itu lambangnya kecepatan, energi, dan kekuatan, sementara api adalah simbol perubahan dan transformasi,” ujar Wen Shi.

    Ia menjelaskan, secara filosofis, tahun 2577 Kongzili mengajarkan bahwa orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan lebih maju, sementara yang lambat akan tertinggal.

    “Seperti seekor kuda yang dinamis dan selalu bergerak, api melambangkan perubahan. Siapa pun yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, maka mereka akan selangkah lebih maju,” tambahnya.

    Lebih dari sekadar simbolisme shio, Wen Shi menekankan pentingnya keharmonisan antarumat beragama di Kotawaringin Timur. “Kami bersyukur berada di Kotim. Hubungan lintas agama di sini sangat harmonis dan kondusif. Saya sendiri merupakan anggota FKUB, mewakili agama Khonghucu, dan bekerja bersama perwakilan lima agama lainnya,” jelasnya.

    Ia menegaskan bahwa toleransi di Sampit tergolong tinggi, terbukti dari berbagai kegiatan keagamaan dan modernisasi praktik ibadah yang berjalan berdampingan.

    “Kami hidup berdampingan dengan agama lain. Ketika Natal dan Idul Fitri, kami juga bersilaturahmi. Bahkan, kami biasa mengadakan open house bagi tamu dari kalangan pemerintahan,” ujarnya.

    Pesan utama Wen Shi untuk umat dan masyarakat luas adalah menjaga kerukunan dan keharmonisan. “Sebagai umat minoritas, kami berterima kasih kepada pemerintah yang telah mengayomi, memberi kami kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti umat lain,” tuturnya.

    Dengan filosofi Shio Kuda Api dan semangat kebersamaan antarumat beragama, Wen Shi berharap keadaan bangsa semakin membaik dan setiap individu mampu bergerak dinamis menyesuaikan perubahan zaman.

    “Hanya mereka yang adaptif yang bisa melangkah lebih maju,” pungkasnya. (***)

  • Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lilin-lilin merah menyala pelan di Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit. Asap dupa mengepul tipis, membawa doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Di antara barisan umat yang hadir, tak semua datang dengan kecukupan. Namun malam itu, tak ada jarak antara yang mampu dan yang berkekurangan.

    Di tengah gemerlap lampion dan persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, umat Khonghucu di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menunjukkan sisi lain dari perayaan yang hangat dan penuh makna. Di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tampak aktivitas ibadah persaudaraan yang sarat dengan nilai kemanusiaan.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, menjelaskan bahwa ibadah persaudaraan bukan sekadar ritual, tapi juga momentum berbagi bagi mereka yang kurang mampu. “Tidak semua umat Konghucu berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Momentum ini kami gunakan untuk saling berbagi agar mereka tetap dapat merayakan Imlek dengan kebahagiaan,” ujarnya, Rabu malam (12/2/2026).

    Dalam kesempatan ini, sekitar 50 umat yang dinilai kurang mampu menerima bantuan dari komunitas. Wen Shi menekankan bahwa tradisi berbagi ini sudah berjalan ribuan tahun, menjadi bagian dari nilai luhur agama Khonghucu yang menekankan persaudaraan dan kepedulian sosial.

    “Harapannya, mereka yang kurang mampu tetap bisa merasakan sukacita Imlek. Perayaan bukan hanya tentang kemeriahan, tapi tentang hati yang bersih dan kebersamaan,” tambahnya.

    Ibadah persaudaraan berlangsung bertahap. Sebelum tahun baru, umat Khonghucu melakukan ritual enam hari sebelumnya. Malam ini, mereka melaksanakan ibadah khusus, lalu akan kembali melaksanakan ibadah menyambut malam Tahun Baru Imlek pada 16 Februari. Seminggu setelah Imlek akan digelar ibadah syukur, dan dua minggu kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang menandai puncak perayaan Imlek.

    Selain ritual, tradisi bersih-bersih juga tetap dijalankan. Seluruh patung dewa dimandikan dan disucikan sebagai simbol penyambutan tahun baru dengan hati yang bersih. Aktivitas ini juga menjadi momen refleksi dan persiapan spiritual bagi seluruh umat.

    Bagi Wen Shi, Imlek adalah pengingat bahwa dalam perbedaan kondisi ekonomi, semua umat tetap disatukan dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. “Di sinilah makna Imlek yang sesungguhnya,” tuturnya. (***)

  • Penggelapan di Lingkungan Perusahaan, Polisi Amankan Karyawan Perempuan di Sampit

    Penggelapan di Lingkungan Perusahaan, Polisi Amankan Karyawan Perempuan di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Aktivitas di lingkungan kantor PT Laut Timur Adiprima, Jalan Moh Hatta, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sempat berjalan seperti biasa. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan persoalan yang akhirnya berujung ke ranah hukum.

    Unit Reserse Kriminal Polsek Ketapang, Polres Kotawaringin Timur (Kotim), mengungkap dugaan kasus penggelapan yang diduga dilakukan oleh seorang karyawan perempuan berinisial ADA (31). Dugaan perbuatan tersebut menyebabkan perusahaan mengalami kerugian hampir Rp100 juta.

    Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 19 Juli 2025, sekitar pukul 13.00 WIB. Namun laporan resmi baru diterima pihak kepolisian beberapa bulan kemudian.

    “Laporan masuk ke Polsek Ketapang pada Rabu, 4 Februari 2026, sekitar pukul 09.00 WIB,” ujar Edy, Rabu (11/2/2026).

    Berbekal laporan dari pelapor berinisial RSD (39), Unit Reskrim Polsek Ketapang langsung bergerak melakukan penyelidikan. Sejumlah saksi diperiksa, termasuk pihak-pihak yang mengetahui aktivitas terduga pelaku di lingkungan perusahaan.

    Dari hasil penyelidikan tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa enam lembar nota barang toko yang dikeluarkan oleh PT Laut Timur Adiprima. Nota-nota inilah yang kemudian menjadi petunjuk awal dalam mengurai dugaan penggelapan.

    “Berdasarkan hasil pemeriksaan dan perhitungan sementara, kerugian yang dialami perusahaan mencapai Rp99.999.958 atau hampir Rp100 juta,” jelas Edy.

    Setelah dinilai cukup bukti, terduga pelaku akhirnya diamankan dan dibawa ke Polsek Ketapang untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Saat ini, ADA masih menjalani pemeriksaan intensif guna pendalaman kasus dan melengkapi berkas perkara.

    Atas dugaan perbuatannya, terduga pelaku disangkakan Pasal 488 subsider Pasal 486 dan Pasal 492 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023.

    Polisi menegaskan, proses hukum akan dilakukan secara profesional dan transparan. Sementara itu, penyidik masih terus mendalami kemungkinan adanya unsur lain dalam perkara tersebut. (***)

  • Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi berakhir. Setelah diberlakukan selama 30 hari sejak 23 Januari 2026, pemerintah daerah memutuskan untuk tidak memperpanjang status tersebut. Namun, berakhirnya status siaga bukan berarti ancaman karhutla benar-benar sirna.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menegaskan, kewaspadaan tetap menjadi kunci di tengah kondisi cuaca yang masih sulit diprediksi. Meski wilayah Kotim saat ini berada dalam musim hujan, kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah titik.

    “Kalau melihat informasi BMKG, Februari sampai Maret masih musim hujan. Tapi cuacanya berubah-ubah. Sempat panas dua hari saja, langsung terjadi karhutla di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 19 sampai 20, luasnya sekitar 0,3 hektare,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu (11/2/2026).

    Status siaga darurat karhutla sebelumnya ditetapkan Pemkab Kotim menyusul lonjakan titik panas yang tidak lazim pada Januari lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang dipimpin Wakil Bupati Kotim, Irawati, di Aula BPBD Kotim.

    Saat itu, kondisi cuaca di Kotim menjadi perhatian serius. Ketika sejumlah daerah di Indonesia dilanda hujan lebat hingga banjir, sebagian wilayah Kotim justru mengalami cuaca panas dan kering.

    “Cuaca sekarang sulit diprediksi. Di daerah lain banjir, tapi di Kotim justru panas dan rawan karhutla. Karena itu kita sepakati status siaga darurat diaktifkan,” kata Irawati dalam rapat tersebut.

    BPBD Kotim mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi 61 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan periode Januari pada tahun-tahun sebelumnya. Pada Januari 2023 tercatat 14 hotspot, Januari 2024 sebanyak 18, dan Januari 2025 hanya empat hotspot.

    Lonjakan tersebut dinilai berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut di Kotim. Penurunan muka air tanah hingga minus 35 sampai 60 sentimeter membuat lahan sangat mudah terbakar ketika tersulut api. Sejumlah wilayah rawan berada di Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Cempaga.

    Memasuki Februari, intensitas hujan yang meningkat menjadi salah satu pertimbangan utama tidak diperpanjangnya status siaga darurat karhutla yang berakhir pada 21 Februari 2026. Meski demikian, BPBD menegaskan pemantauan tetap dilakukan.

    “Status siaga kita hentikan dulu, tapi bukan berarti kita lengah. Kami tetap melihat perkembangan cuaca ke depan,” jelas Multazam.

    Selain ancaman karhutla, Kotim juga dihadapkan pada potensi bencana lain seperti banjir, angin kencang, dan petir. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    Multazam menambahkan, musim kemarau di Kotim umumnya mulai terjadi pada Juli. Jika disertai suhu panas tinggi, risiko karhutla berpotensi kembali meningkat, terutama akibat aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.

    “Kalau kemarau dengan panas tinggi, dampaknya bisa fatal. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

    Berakhirnya status siaga mungkin menandai meredanya ancaman sementara. Namun bagi Kotim, kewaspadaan tetap menjadi pelindung utama, karena karhutla bisa kembali muncul kapan saja, bahkan di tengah musim hujan. (***)

  • Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, suasana penjualan pernak-pernik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terlihat lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pedagang mengaku omzet tahun ini menurun sekitar 30 persen, seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat.

    Kondisi itu terlihat jelas di Toko Maju Jaya Dupa Sampit, Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Pada Selasa (10/2/2026), deretan angpao merah cerah, bunga hias, hingga gantungan khas Imlek tampak masih tersusun rapi di rak, menunggu tangan-tangan pembeli yang biasanya mulai ramai sejak dua pekan sebelum Imlek.

    Pedagang pernak-pernik Imlek, Gustiana, menatap rak-rak itu sambil menghela napas. “Kalau biasanya tanggal segini sudah ramai, tahun ini kelihatannya sepi-sepi saja. Barang juga terasa tertahan,” katanya, menambahkan bahwa puncak penjualan biasanya terjadi sekitar 15 hari sebelum perayaan hingga sehari menjelang Imlek.

    Tahun ini, tren tersebut tidak terlihat. Penurunan penjualan diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, Gustiana memilih tetap bertahan, menyesuaikan stok dan strategi agar tetap bisa menjajakan pernak-pernik Imlek dengan aman.

    Stok Dikurangi, Tetap Bertahan

    Menurunnya daya beli membuat Gustiana lebih berhati-hati dalam mendatangkan barang. Tahun ini, jumlah stok sengaja dikurangi untuk mengurangi risiko barang tidak laku.

    “Barang yang kita datangkan juga dikurangi. Apalagi kemarin sempat ada imbauan supaya tidak terlalu meriah karena ada bencana di Sumatera, jadi kita menyesuaikan,” ujarnya sambil menata ulang rak-rak angpao yang masih tersusun rapi.

    Tidak semua barang yang dijual baru. Sebagian merupakan stok lama, sementara pernak-pernik baru umumnya bergambar atau berbentuk kuda, simbol Tahun Kuda Api. “Kalau kuda api ini kesannya panas, mungkin juga pengaruh ke ekonomi yang lagi lesu sekarang,” katanya sambil tersenyum tipis.

    Gustiana menilai, kondisi ekonomi tahun ini semakin tertekan karena Imlek berdekatan dengan momen hari besar lainnya, seperti Ramadan dan Idul Fitri, serta dampak bencana di beberapa daerah.

    Harga Variatif, Angpao Masih Favorit

    Harga pernak-pernik bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp300.000. Angpao tetap menjadi favorit pembeli, dengan kisaran harga Rp3.000 hingga Rp15.000 per buah.

    Selain angpao, bunga hias dan gantungan Imlek masih banyak dicari pembeli, meski tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Lampion menjadi pernak-pernik termahal, dijual sekitar Rp300 ribu per buah.

    “Ada lampion yang lebih bagus, tapi harganya mahal. Karena ekonomi sekarang, kita tidak berani mendatangkan banyak, takut barangnya tertahan,” jelas Gustiana sambil menunjuk beberapa lampion yang tersusun di pojok toko.

    Meski rak-rak masih terlihat penuh, Gustiana tetap memilih bertahan. Baginya, menjaga toko tetap buka dan menyiapkan pernak-pernik Imlek adalah cara untuk tetap berbagi keceriaan perayaan, meski di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (***)

  • BMKG Kalteng Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Meluas

    BMKG Kalteng Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Meluas

    Kanalindependen.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Tengah mengeluarkan peringatan dini cuaca terkait potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang di sejumlah wilayah Kalteng, Senin (10/2/2026) sore.

    Dalam pembaruan peringatan dini yang dirilis pukul 16.55 WIB, BMKG menyebutkan kondisi cuaca ekstrem berpotensi terjadi mulai sekitar pukul 17.00 WIB, dengan wilayah terdampak awal berada di Kabupaten Pulang Pisau, khususnya Kecamatan Sebangau Kuala dan sekitarnya.

    BMKG juga mengingatkan bahwa potensi cuaca buruk tersebut dapat meluas ke sejumlah kabupaten dan kota lain di Kalimantan Tengah.

    Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi Kabupaten Kotawaringin Barat (Kumai), Kabupaten Kotawaringin Timur seperti Kota Besi, Cempaga, Mentaya Hulu, Parenggean, Baamang, Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Seranau, Cempaga Hulu, dan Telawang.

    Selain itu, hujan lebat berpotensi terjadi di Kabupaten Kapuas (Selat, Kapuas Hilir, Kapuas Timur, Kapuas Kuala, Kapuas Barat, Pulau Petak, Basarang, Tamban Catur, Bataguh), Kabupaten Barito Selatan (Dusun Utara, Gunung Bintang Awai, Dusun Selatan), serta Kabupaten Barito Utara (Montallat dan Gunung Timang).

    Wilayah lain yang juga masuk dalam peringatan dini meliputi Kabupaten Katingan (Kamipang, Mendawai, Katingan Kuala, Tasik Payawan), Kabupaten Seruyan (Seruyan Hilir, Danau Sembuluh, Hanau, Seruyan Hulu, Seruyan Hilir Timur, Seruyan Raya, Danau Seluluk, Suling Tambun), serta Kabupaten Lamandau (Lamandau, Delang, Bulik Timur, Belantikan Raya, Batang Kawa).

    BMKG juga mencatat potensi hujan lebat di Kabupaten Pulang Pisau bagian lain seperti Pandih Batu, Kahayan Kuala, Kahayan Hilir, Maliku, dan Jabiren, serta Kabupaten Barito Timur yang mencakup Dusun Timur, Banua Lima, Patangkep Tutui, Awang, Dusun Tengah, Pematang Karau, Paju Epat, Raren Batuah, Paku, dan Karusen Janang.

    Sementara itu, Kota Palangka Raya, khususnya Kecamatan Sabangau dan sekitarnya, juga masuk dalam wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem.

    BMKG memperkirakan kondisi cuaca ini masih akan berlangsung hingga sekitar pukul 19.00 WIB. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak lanjutan seperti genangan air, pohon tumbang, serta gangguan aktivitas akibat angin kencang dan petir. (***)

  • Kenal Lewat Media Sosial, Pernikahan Perempuan Sampit dengan WNA Kian Terlihat

    Kenal Lewat Media Sosial, Pernikahan Perempuan Sampit dengan WNA Kian Terlihat

    Kanalindepen.id- Fenomena pernikahan lintas negara mulai tampak di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejumlah perempuan asal Sampit tercatat menikah dengan Warga Negara Asing (WNA), setelah berkenalan melalui media sosial dan melanjutkan hubungan tersebut hingga ke jenjang pernikahan resmi.

    Pernikahan lintas negara ini dilangsungkan secara sah melalui Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK). Kepala KUA MBK Kementerian Agama RI Kotim, Mohamad Yusuf, membenarkan bahwa mayoritas pernikahan tersebut melibatkan laki-laki WNA dengan perempuan warga lokal.

    “Sebagian besar WNA yang kita nikahkan adalah laki-laki, dan kebanyakan dari mereka berkenalan dengan pasangannya melalui media sosial,” ujar Yusuf.

    Menurutnya, meskipun jumlahnya belum signifikan, pernikahan antara perempuan Sampit dan WNA tercatat hampir setiap tahun. Sepanjang 2025, dari total 577 pernikahan yang dicatat KUA MBK, sekitar lima hingga enam pasangan merupakan pernikahan antara perempuan warga Sampit dengan laki-laki berkewarganegaraan asing.

    “Kalau dipersentasekan, jumlahnya sekitar satu persen dari total pernikahan sepanjang tahun 2025,” jelasnya.

    Memasuki tahun 2026, KUA MBK kembali mencatat satu pernikahan antara perempuan Sampit dengan WNA asal Amerika Serikat. Selain itu, terdapat pula WNA asal Singapura dan Italia yang tengah menjalani konsultasi serta melengkapi persyaratan administrasi pernikahan.

    Proses Administrasi Ketat

    Yusuf menegaskan, pernikahan dengan WNA tidak dapat dilakukan secara sederhana. Ada sejumlah persyaratan administratif yang wajib dipenuhi dan prosesnya relatif panjang.

    “WNA wajib melengkapi identitas dari negara asalnya, termasuk surat keterangan tidak berhalangan menikah. Jika pernah bercerai, harus dilampirkan surat cerai dari negara asal,” katanya.

    Seluruh dokumen tersebut wajib diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris resmi, kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Indonesia sebelum diproses oleh KUA. Selain itu, WNA juga harus menyelesaikan administrasi di kedutaan besar negara terkait di Indonesia.

    “Setelah semua persyaratan lengkap, barulah pernikahan bisa dilaksanakan di wilayah Kotim,” tegas Yusuf.

    KUA Siap Layani Pernikahan Lintas Negara

    Dalam pelaksanaan bimbingan perkawinan hingga prosesi akad nikah, KUA MBK menyesuaikan penggunaan bahasa agar dapat dipahami oleh kedua mempelai.

    “Untuk bimbingan perkawinan sampai akad nikah yang melibatkan WNA, seluruh proses menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Arab,” ujarnya.

    Yusuf memastikan sumber daya manusia di KUA MBK telah siap menangani pernikahan lintas negara sesuai ketentuan yang berlaku.

    “Alhamdulillah, SDM kita siap,” pungkasnya.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini tidak hanya menjadi ruang perkenalan, tetapi juga membuka peluang terbentuknya relasi lintas negara yang berujung pada ikatan pernikahan, dengan konsekuensi administratif dan budaya yang tidak sederhana. (***)

  • Api Menyala di Suka Bumi Barat, Damkar Kotim Berpacu dengan Waktu Selamatkan Permukiman

    Api Menyala di Suka Bumi Barat, Damkar Kotim Berpacu dengan Waktu Selamatkan Permukiman

    SAMPIT, kanalindepen.id -Sore itu, Senin (9/2/2026), langit di Jalan Suka Bumi Barat, Kelurahan Baamang Hilir, belum sepenuhnya gelap ketika kepanikan mulai terasa. Sekitar pukul 16.45 WIB, api tiba-tiba muncul dari sebuah rumah semi permanen milik Pak Toto. Asap pekat perlahan naik, membuat warga sekitar waswas bisa menjalar kapan saja di kawasan permukiman yang saling berhimpitan.

    Tak menunggu lama, seorang warga bergegas mendatangi Markas Komando Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur. Laporan itu langsung direspons cepat. Dua menit berselang, tepat pukul 16.47 WIB, armada pemadam meluncur menuju lokasi yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari markas.

    Di lapangan, petugas dari Peleton II Regu 1, 2, dan 3 langsung melakukan size up. Api diketahui telah membakar bagian bangunan seluas kurang lebih 5 x 6 meter. Fokus utama bukan hanya memadamkan api, tetapi juga memastikan kobaran tidak menjalar ke rumah-rumah lain di sekitarnya.

    “Kami langsung lakukan pemadaman dan pelokalisiran agar api tidak meluas,” kata Kepala Disdamkarmat Kotim, Akhmad Taufik, saat di lokasi.

    Dalam waktu sekitar 16 menit, api berhasil dikendalikan. Petugas kemudian melanjutkan dengan pendinginan dan overhaul untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Pada pukul 17.05 WIB, status kebakaran dinyatakan aman. Warga yang sejak awal menyaksikan dengan cemas akhirnya bisa bernapas lega.

    Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini menyisakan luka. Seorang warga bernama Kurniawan Riski Rahmadi mengalami cedera ringan berupa luka sobek di telapak kaki kanan. Ia langsung mendapatkan penanganan di lokasi.

    Dari hasil sementara, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik. Kerugian materiil ditaksir mencapai sekitar Rp50 juta.

    Proses penanganan kebakaran ini melibatkan banyak pihak. Selain personel Disdamkarmat Kotim, bantuan juga datang dari BPBD, PMI, relawan pemadam kebakaran Ketapi, Relawan Api Swadaya Baamang, hingga Relawan Masjid Jami’ As-Salam. Sejumlah pejabat Disdamkarmat Kotim turut hadir langsung di lokasi memastikan penanganan berjalan optimal.

    Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap instalasi listrik di rumah, terutama di kawasan padat penduduk. Satu percikan kecil saja, bisa berujung pada kepanikan besar jika tak ditangani cepat. (***)

  • Dari Pasar ke Masjid Noor Agung, Jejak Aksi Perempuan Misterius Berakhir di Tangan Warga

    Dari Pasar ke Masjid Noor Agung, Jejak Aksi Perempuan Misterius Berakhir di Tangan Warga

    SAMPIT, kanalindependen.id –   Jejak aksi seorang perempuan misterius yang diduga kerap menyasar warga saat lengah akhirnya terhenti di Masjid Jami Noor Agung Sampit, Minggu pagi (8/2/2026). Setelah sebelumnya disebut meresahkan pedagang di kawasan Pasar Subuh, perempuan tak dikenal itu diamankan warga usai diduga mengambil telepon genggam milik jemaah yang tengah beristirahat.

    Pagi itu, suasana Masjid Jami Noor Agung Sampit tampak seperti biasa. Sejumlah jemaah dan warga sekitar memanfaatkan waktu untuk beristirahat di sela aktivitas. Namun ketenangan tersebut mendadak pecah ketika warga mencurigai gerak-gerik seorang perempuan tak dikenal yang mondar-mandir di area masjid.

    Kecurigaan itu bukan tanpa alasan. Saat sebagian jemaah terlelap, perempuan tersebut diduga mengambil satu unit telepon genggam milik jemaah yang sedang beristirahat. Aksinya keburu diketahui warga, hingga ia langsung diamankan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sambil menunggu petugas kepolisian datang ke lokasi.

    “Aksinya ketahuan pas jemaah lagi istirahat. Warga langsung mengamankan,” ujar Isna, salah seorang warga yang berada di lokasi kejadian.

    Namun cerita tak berhenti di situ. Saat diamankan, perempuan tersebut diduga berusaha mengelabui warga dengan berpura-pura mengalami gangguan jiwa. Bahkan, ia sempat bertingkah tidak wajar hingga nekat melepas sebagian pakaiannya, membuat warga semakin yakin bahwa situasi harus segera dikendalikan.

    Belakangan, terungkap dugaan bahwa aksi perempuan tersebut bukan kali pertama terjadi. Warga menyebut, sosoknya memiliki kemiripan dengan perempuan yang sebelumnya terekam kamera pengawas (CCTV) saat melakukan dugaan pencurian di kawasan Pasar Subuh Belakang Golden.

    Dalam rekaman kamera pengawas di pasar tersebut, peristiwa terjadi pada Jumat (6/2/2026) sekitar pukul 23.47 WIB. Saat itu, korban diduga kehilangan barang ketika tertidur di lapak dagangannya. Aksi serupa disebut sudah beberapa kali terjadi dan membuat para pedagang resah.

    “Kalau di pasar, kejadian seperti ini sudah sering. Pedagang takut kalau tertidur, karena barang bisa hilang,” ujar Sri, salah satu warga.

    Dugaan bahwa perempuan tersebut beraksi dari pasar hingga masjid membuat keresahan warga semakin meningkat. Mereka khawatir lokasi-lokasi yang seharusnya aman justru menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan.

    “Saat ditanya mengaku tiga kali beraksi, katanya sekali di Belakang Golden,” ungkap Wawan, warga yang sempat menginterogasi tersangka.

    Hingga berita ini diturunkan, seluruh informasi masih bersumber dari keterangan warga. Pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi terkait identitas maupun keterlibatan perempuan tersebut dalam rangkaian kejadian di beberapa lokasi. Proses penyelidikan masih berlangsung, termasuk penelusuran rekaman kamera pengawas yang diharapkan dapat mengungkap fakta sebenarnya.

    Warga pun berharap aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

    “Kami cuma ingin merasa aman, baik di pasar maupun di masjid,” ujar warga lainnya. (***)