Kategori: Daerah

  • Lalai Penanganan ODGJ Memicu Petaka: Rumah di Jalan Kembali 1 Sampit Diduga Sengaja Dibakar

    Lalai Penanganan ODGJ Memicu Petaka: Rumah di Jalan Kembali 1 Sampit Diduga Sengaja Dibakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kelemahan sistem penanganan dan pengawasan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memicu ancaman keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat.

    Suasana tenang dini hari warga di Jalan Kembali 1, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), berubah menjadi mencekam setelah sebuah rumah semi-permanen seluas 150 meter persegi ludes dibakar pada Rabu (30/9/2026) sekitar pukul 02.10 WIB.

    Kobaran api pecah saat mayoritas warga sekitar sedang terlelap. Konstruksi bangunan yang didominasi material kayu membuat si jago merah membumbung tinggi dan melahap habis seluruh isi rumah peninggalan almarhum Asikinoor hanya dalam hitungan menit.

    Saksi mata di lokasi kejadian, Lidia, menceritakan kepanikan warga saat melihat api melahap bangunan tersebut.

    “Api cepat sekali membesar. Rumah itu sebagian besar kayu, sehingga dalam waktu singkat kobaran api sudah menghanguskan seluruh bangunan,” tutur Lidya, Rabu (30/9/2026).

    Sengaja Dibakar Anak Pemilik Rumah dan Respons Tim Damkar

    Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim menerima laporan darurat pada pukul 02.39 WIB dan langsung menerjunkan dua unit armada ke lokasi di bawah pimpinan Komandan Regu III, Supriansyah.

    Tiba di TKP pukul 02.49 WIB, petugas berjibaku melokalisir perambatan api agar tidak meluas ke permukiman padat di sekitarnya.

    Proses pemadaman hingga pendinginan selesai penuh pada pukul 04.12 WIB dengan bantuan personel PMI Kotim, Redkar Ketapi 3, serta relawan MPA Teluk Dalam. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, meski kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp200 juta.

    Sisi paling krusial dari insiden ini terungkap dalam laporan resmi Disdamkarmat Kotim. Supriansyah menyampaikan bahwa pemicu kebakaran diduga kuat berasal dari tindakan sengaja membakar yang dilakukan oleh anak pemilik rumah yang mengidap gangguan jiwa (ODGJ).

    Kendati demikian, pihak Disdamkarmat menegaskan bahwa kepastian motif dan dinamika kejadian masih memerlukan pembuktian serta investigasi mendalam dari pihak berwajib.

    Tragedi kebakaran di Jalan Kembali 1 MB Ketapang ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan cermin buram dari pengabaian sistemik terhadap penanganan medis dan sosial ODGJ di daerah. Ketika individu yang mengalami gangguan kejiwaan berat dibiarkan tanpa pendampingan intensif, isolasi medis, atau terapi berkala di lingkungan pemukiman padat kayu, risiko kelalaian yang mengancam keselamatan publik tinggal menunggu waktu.

    Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kotim didesak untuk tidak lepas tangan. Harus ada langkah aktif (outreach) pendataan, evakuasi medis, serta penyediaan fasilitas perawatan ODGJ yang layak di Kotim agar pasien tidak menjadi ancaman bahaya bagi keluarga dan lingkungannya.

    Pihak Polres Kotim juga dituntut untuk mengusut tuntas kronologi peristiwa secara transparan (scientific crime investigation) guna memastikan penyebab pasti kebakaran serta menetapkan langkah penanganan hukum atau rekomendasi medis yang tepat bagi terduga pelaku. (***)

  • Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mendesak ruang jelajah satwa langka yang dilindungi.

    Di tengah kepulan asap dan bara api yang belum padam di kawasan kebun warga Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, tim BKSDA menemukan jejak aktivitas orangutan yang terisolasi di lingkaran kebakaran, Rabu (30/9/2026).

    Menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan primata raksasa tersebut, personel BKSDA Pos Sampit menerjunkan tim untuk melakukan observasi dan penyisiran lapangan mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengungkapkan bahwa saat tim tiba di lokasi sasaran, hamparan kebun warga telah hangus terbakar dan beberapa titik api tampak masih aktif membara.

    “Sekitaran lokasi telah terjadi kebakaran lahan dan saat ini masih terjadi kebakaran. Meski satwa tidak ditemukan saat observasi berlangsung, tim menemukan dua sarang orangutan masing-masing kategori kelas 2 dan kelas 4 di atas pohon kawasan kebun,” terang Muriansyah, Rabu (30/9/2026).

    Sarang di Tengah Kebun Karet-Sawit dan Edukasi Penanganan Satwa bagi Warga

    Temuan dua sarang orangutan (sarang bekas dan sarang baru) tersebut menjadi bukti sah bahwa kawasan kebun warga Kota Besi Hulu yang didominasi tanaman karet, kelapa sawit, semak belukar, serta pepohonan buah—merupakan koridor jelajah aktif bagi orangutan.

    Lokasi tersebut juga tergolong sangat dekat dengan akses manusia karena terhubung langsung dengan jalan aspal menuju Desa Kandan.

    Saat penyisiran, petugas bertemu dengan penyadap karet setempat yang membenarkan bahwa individu orangutan tersebut memang kerap menampakkan diri sebelum kobaran api karhutla mengepung area tersebut.

    Merespons potensi konflik dan bahaya kebakaran, Muriansyah memberikan arahan langsung kepada warga mengenai mitigasi perilaku satwa liar. Warga diimbau tegas tidak mengganggu, mengusir secara anarkis, atau melukai orangutan yang terdesak keluar dari hutan akibat karhutla.

    “Segera lapor kamijika satwa tersebut kembali muncul agar proses evakuasi (rescue/translocation) dapat segera dilakuka,” imbuhnya.

    Temuan sarang orangutan di tengah amukan api Kota Besi Hulu mempertegas ancaman nyata genosida satwa secara perlahan akibat karhutla. Ketika hutan penyangga hancur dan kebun warga di sekitarnya ikut terbakar, orangutan terperangkap dalam lingkaran api (fire trap), memicu risiko kematian akibat terpanggang, ISPA parah, atau konflik fatal dengan manusia.

    BKSDA Resort Sampit bersama masyarakat dan stakeholder terkait didesak meningkatkan frekuensi pemantauan di jalur Kandan–Kota Besi Hulu guna mengunci pergerakan api agar tidak membumihanguskan pohon-pohon pakan tersisa.

    Sementara itu, BKSDA Kalteng diminta bersiap mengerahkan regu pembiusan dan evakuasi jika orangutan tersebut kembali ke lokasi sarang, mengingat struktur tanah gambut di Kota Besi masih menyimpan underground fire yang sangat membahayakan keselamatan satwa.  (***)

  • Kualitas Air Baku Anjlok, Perumda Tirta Mentaya Imbau Warga 3 Kecamatan Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi

    Kualitas Air Baku Anjlok, Perumda Tirta Mentaya Imbau Warga 3 Kecamatan Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Krisis lingkungan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang dipicu kemarau dan karhutla makin mengancam kebutuhan dasar masyarakat. Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Mentaya Sampit mengeluarkan imbauan resmi bahwa air bersih yang didistribusikan ke ribuan pelanggan di tiga kecamatan saat ini belum aman dan tidak diperuntukkan untuk konsumsi (minum dan memasak).

    Langkah darurat ini diambil setelah hasil pengujian laboratorium menunjukkan kualitas air baku Sungai Mentaya mengalami penurunan signifikan dan tidak memenuhi standar baku mutu air minum.

    Kepala Seksi Teknik Perumda Tirta Mentaya Sampit Edy Dyufriadi mengatakan, air yang saat ini didistribusikan kepada pelanggan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).

    “Perumdam Tirta Mentaya menginformasikan bahwa air yang didistribusikan saat ini belum diperuntukkan untuk konsumsi karena kondisi kualitas air baku belum memenuhi standar untuk dikonsumsi. Air tersebut untuk sementara hanya dapat digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus (MCK),” ujar Edy, Rabu (30/9/2026).

    Pengolahan Tetap Berjalan

    Edy menjelaskan, proses pengolahan air tetap berjalan di instalasi pengolahan. Namun, kondisi air baku menjadi kendala yang harus dihadapi dalam menghasilkan air yang memenuhi standar untuk konsumsi.

    Penurunan kualitas air baku terjadi di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang masih berlangsung di Kotim.

    Perumda Tirta Mentaya terus melakukan proses pengolahan sesuai tahapan yang berlaku. Namun, untuk sementara air hasil distribusi belum diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi.

    Tiga wilayah kecamatan yang menjadi sasaran imbauan tersebut yakni Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentawa Baru Ketapang.

    Perumda meminta pelanggan di wilayah tersebut mematuhi imbauan sampai terdapat pemberitahuan lebih lanjut mengenai kondisi kualitas air.

    Masyarakat juga diminta tidak menggunakan air yang didistribusikan untuk minum maupun memasak selama larangan konsumsi masih berlaku.

    Perkembangan kualitas air akan menjadi dasar untuk menentukan kapan air kembali dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi. (***)

  • ISPU Kotim Tembus 763, Sampit Kembali Masuk Level Berbahaya

    ISPU Kotim Tembus 763, Sampit Kembali Masuk Level Berbahaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memburuk. Setelah sempat membaik, indeks pencemaran udara di Sampit pada Rabu (30/9/2026) pagi kembali menembus kategori Berbahaya.

    Berdasarkan pemantauan aplikasi ISPUnet pada pukul 07.00 WIB, nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kotim mencapai 763. Parameter paling tinggi adalah PM10 dengan angka yang sama.

    PM2.5 juga berada pada kategori Berbahaya dengan nilai 439. Sementara parameter lainnya tercatat lebih rendah, yakni ozon (O3) sebesar 51 atau kategori Sedang.

    Adapun sulfur dioksida (SO2) berada pada angka 26, karbon monoksida (CO) 5, nitrogen dioksida (NO2) 5, dan hidrokarbon (HC) 0. Parameter tersebut berada dalam kategori Baik.

    Jarak Pandang Hanya 600 Meter

    Kondisi kualitas udara tersebut sejalan dengan pengamatan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim.

    Pada pukul 07.00 WIB, Sampit terpantau mengalami kabut asap dengan jarak pandang hanya 600 meter. Suhu tercatat 26,6 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 91 persen.

    Kondisi angin juga tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.

    Kondisi kabut asap juga dirasakan warga yang melakukan perjalanan dari Sampit menuju wilayah sekitar.

    Didi Mursidi mengatakan, dirinya melakukan perjalanan dari Sampit menuju Bapanggang pada Rabu pagi dan mendapati kondisi kabut asap cukup tebal sepanjang perjalanan.

    “Saya pagi perjalanan dari Sampit-Bapanggang, kondisi kabut asap tebal,” kata Didi.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya terpantau dari data BMKG, tetapi juga dirasakan langsung masyarakat yang beraktivitas dan melakukan perjalanan pada pagi hari.

    Dengan ISPU yang kembali berada pada level Berbahaya, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap dan polusi udara. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi dan penggunaan masker yang sesuai untuk perlindungan dari polusi dapat dipertimbangkan.

    Kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, juga perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. (***)

  • Kepungan Titik Panas di Pesisir Mentaya: Seranau dan Mentaya Hilir Utara Dominasi Hotspot Kotim

    Kepungan Titik Panas di Pesisir Mentaya: Seranau dan Mentaya Hilir Utara Dominasi Hotspot Kotim


    SAMPIT, Kanalindependen.id
     – Peta titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan sebaran yang luas. Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa (29/9/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 218 titik panas di berbagai wilayah.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan Kecamatan Seranau dan Mentaya Hilir Utara menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi.

    “Keduanya mencatat total 123 titik panas atau lebih dari separuh keseluruhan hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkpa Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.

    Seranau menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 78 titik. Sebarannya berada di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 44 titik dan Desa Ganepo 34 titik.

    Mentaya Seberang berada tepat di seberang pusat Kota Sampit. Kondisi tersebut membuat perkembangan titik panas di wilayah tersebut perlu mendapat perhatian, terutama jika kebakaran berkembang dan asap bergerak ke arah permukiman.

    Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 45 titik panas. Sebanyak 35 titik berada di Desa Bagendang Tengah, sembilan titik di Bagendang Hilir, dan satu titik di Bagendang Permai.

    Seluruh hotspot tersebut terdeteksi melalui sensor satelit NOAA-20 dan S-NPP dengan tingkat kepercayaan sedang, yakni 30–79 persen.

    Hotspot Menyebar ke Sejumlah Wilayah

    Sebaran titik panas tidak hanya terkonsentrasi di dua kecamatan tersebut. Kota Besi mencatat 28 titik yang tersebar di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kandan, Simpur, dan Soren.

    Di kawasan muara, Pulau Hanaut terdeteksi 25 titik. Sebarannya antara lain berada di Desa Satiruk dan Hanaut, serta Serambut, Bapinang Hilir, dan Babaung.

    Sementara itu, Mentawa Baru Ketapang mencatat 11 titik yang berada di Bangkuang Makmur dan Bapeang.

    Kecamatan Baamang juga masih memiliki titik panas dengan total sembilan titik. Sebarannya berada di Baamang Hulu, Baamang Barat, dan Tanah Mas.

    Di wilayah selatan, Teluk Sampit terdeteksi tujuh titik panas yang berada di Lampuyang dan Ujung Pandaran.

    “Sebaran juga muncul di wilayah pedalaman. Antang Kalang mencatat enam titik, Bukit Santuai empat titik, Telawang tiga titik, serta Mentaya Hulu dan Tualan Hulu masing-masing satu titik,” tambahnya.

    Dengan sebaran yang mencakup wilayah pesisir, perkotaan hingga pedalaman, kondisi ini menjadi perhatian bagi tim penanganan karhutla. Titik panas yang terdeteksi satelit tetap memerlukan pengecekan lapangan untuk memastikan apakah merupakan kebakaran aktual dan menentukan kebutuhan penanganannya. (***)

  • Rumahnya Hangus Terbakar, Anak Kucing Hutan Lucu ini Ditemukan Merayap Sendirian di Bumi Raya Sampit

    Rumahnya Hangus Terbakar, Anak Kucing Hutan Lucu ini Ditemukan Merayap Sendirian di Bumi Raya Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung mereda di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban satwa tak berdosa. Seekor anak kucing hutan (Prionailurus bengalensis) mungil bercorak indah terpaksa kehilangan tempat tinggalnya setelah hutan gambut tempat ia berlindung hangus dilalap si jago merah di kawasan Jalan Bumi Raya 1, Perumahan Citra Mandiri Tahap 1, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Senin (28/9/2026) malam.

    Dalam kondisi terpisah dari induknya, anak kucing hutan yang imut dan polos tersebut ditemukan merayap sendirian di sekitar pekarangan rumah warga sekitar pukul 22.00 WIB.

    Saksi mata yang menemukan satwa malang tersebut, Muhamad Wildan Halim (Awil), mengaku terenyuh melihat kondisi anak kucing hutan yang kebingungan dan ketakutan di tengah kepulan asap karhutla yang masih membara di sepanjang Jalan Bumi Raya.

    Merespons temuan tersebut, Awil bersama komunitas aktivis lingkungan di Sampit bergerak cepat menyerahkan anak kucing hutan lucu itu ke Pos BKSDA Resort Sampit pada malam yang sama sekitar pukul 23.10 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, membenarkan penyerahan satwa dilindungi yang terdesak akibat karhutla di pemukiman Baamang Barat tersebut.

    “Anak kucing hutan ditemukan sendirian di dekat rumah warga di tengah kondisi kawasan sekitar yang terdampak kebakaran. Saat diserahkan, kondisinya terlihat sehat dan aktif, meski terdapat sedikit luka lecet pada bagian mulutnya,” jelas Muriansyah, Selasa (29/9/2026).

    Saat ini, anak kucing hutan mungil tersebut diamankan di Pos BKSDA Sampit untuk mendapatkan perawatan intensif, pemulihan trauma, serta penanganan medis lebih lanjut sebelum ditentukan langkah konservasi berikutnya.

    Penemuan anak kucing hutan yang imut dan terpisah dari induknya di Baamang Barat ini menjadi potret pilu betapa kejamnya dampak karhutla terhadap keberlangsungan hidup satwa endemik Kalimantan. Ketika habitat gambut yang menjadi benteng perlindungan hangus terbakar, anakan satwa yang belum mandiri menjadi pihak yang paling rentan—terancam mati terpanggang, kehabisan nafas akibat racun asap, atau kelaparan.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen: Pertama, edukasi penyelamatan satwa oleh warga: Kesadaran dan kepedulian Muhamad Wildan Halim bersama relawan lingkungan yang menyelamatkan tanpa melukai atau memelihara ilegal satwa dilindungi ini patut menjadi contoh patut diapresiasi bagi seluruh masyarakat Kotim.

    Kedua, penanganan darurat habitat satwa terisolasi: BKSDA bersama Satgas Karhutla didesak memperketat patroli di titik-titik perbatasan pemukiman dan vegetasi gambut Baamang guna mengantisipasi makin banyaknya anakan satwa liar yang terisolasi dari induknya akibat amukan api. (***)

  • Langkah Catur dan Penanya Kini Hening: Obituari H. Ruslan Abdul Gani, Pewarta Senior Kotim

    Langkah Catur dan Penanya Kini Hening: Obituari H. Ruslan Abdul Gani, Pewarta Senior Kotim

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Dunia jurnalistik dan komunitas olahraga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kehilangan salah satu pilar terbaiknya. H. Ruslan Abdul Gani, SH bin Kanti Hamdan, jurnalis senior yang dikenal gigih menyuarakan fakta sekaligus benteng pecatur andal di bumi Tambun Bungi, mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa pagi (29/9/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.

    ​Kabar duka yang mengejutkan insan pers tersebut disampaikan langsung oleh putra bungsu almarhum, Rendy Muhamad Iqbal, PhD.

    ​“Assalamualaikum wr wb. Saya Rendy Muhamad Iqbal, PhD putra bungsu Bapak H. Ruslan Abdul Gani, SH bin Kanti Hamdan. Izin menyampaikan bahwa ayahanda saya meninggal pagi tadi pada pukul 08.00 WIB,” tutur Rendy, Selasa (29/9/2026).

    ​Jenazah almarhum disemayamkan di kediaman keluarga di Jalan Delima 5 Nomor 117, Sampit. Berdasarkan keterangan keluarga, almarhum diberangkatkan dan dimakamkan ba’da salat Zuhur di Pemakaman Sanaim Samaun Al-Qurbah, Sampit. Mewakili keluarga besar, Rendy menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh kerabat, rekan sejawat, serta masyarakat atas segala kekhilafan almarhum sepanjang hayatnya.

    ​Harmoni Pena Tajam dan Langkah Strategi di Atas Papan 64 Petak

    ​Kepergian H. Ruslan Abdul Gani, SH menyisakan ruang hampa yang mendalam. Bagi dunia pers Kotim, almarhum adalah sosok wartawan yang konsisten merawat integritas dan nurani publik lewat karya tulisnya. Sementara di lingkungan olahraga, ia adalah pecatur yang disegani karena kalkulasi strateginya yang tenang serta dedikasinya menginspirasi para pemuda di Kotim.

    ​Pemimpin Redaksi Kanalindependen.id, Gunawan, yang juga merupakan sahabat karib almarhum sesama jurnalis dan insan catur, mengungkapkan rasa duka mendalam atas berpulangnya sang senior.

    ​“Beliau adalah wartawan senior sekaligus pecatur andal. Langkah penanya tajam dan langkah caturnya begitu tenang. Kami sangat kehilangan sosok teladan dan merasa berduka yang sangat mendalam atas kepergian almarhum,” ungkap Gunawan.

    ​Kiprah H. Ruslan Abdul Gani dalam membangun iklim media yang independen serta memajukan olahraga catur di Kotawaringin Timur akan terus membekas sebagai warisan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.

    ​Analisis Kanal Independen: Penghormatan Terakhir untuk Rekam Jejak Pers dan Olahraga Kotim

    ​Berpulangnya H. Ruslan Abdul Gani, SH menjadi momen perenungan bersama bagi seluruh ekosistem media independen dan persatuan catur di Kalimantan Tengah. Almarhum mengajarkan bahwa kedalaman berpikir seorang jurnalis dalam mengawal isu publik berbanding lurus dengan ketenangan seorang pecatur dalam mengkalkulasi setiap keputusan.

    ​Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    ​Merawat Warisan Integritas Pers: Generasi muda wartawan di Kotim didesak untuk terus melanjutkan keberanian dan profesionalisme yang telah diteladankan almarhum H. Ruslan Abdul Gani dalam menjaga independensi serta keberpihakan pers pada kebenaran.

    ​Penghargaan Dedikasi Percasi Kotim: Pengurus Percasi Kotim diimbau untuk memberikan panggung penghormatan atas kontribusi almarhum, salah satunya dengan menginisiasi turnamen catur peringatan (memorial tournament) guna menjaga cita-cita almarhum dalam melahirkan bibit-bibit pecatur muda daerah.

    ​Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhum H. Ruslan Abdul Gani, SH diampuni segala khilafnya, diterima amal ibadahnya, dan diberikan tempat termulia di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa dianugerahi ketabahan dan kekuatan.

    ​Langkah catur dan penanya kini hening!  Pewarta senior dan pecatur andal H. Ruslan Abdul Gani tutup usia!  Kanalindependen.id menyampaikan duka cita mendalam, keteladanan almarhum abadi! (***)

  • Hujan Guyur Kotim Dua Hari, BMKG: Belum Cukup untuk Redakan Karhutla

    Hujan Guyur Kotim Dua Hari, BMKG: Belum Cukup untuk Redakan Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam dua hari terakhir. Namun, turunnya hujan belum menjadi tanda bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut akan segera berakhir.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, hujan yang mulai turun menjadi salah satu tanda Kotim memasuki fase awal transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

    Meski demikian, secara umum Kotim masih berada dalam musim kemarau.

    “Bisa dikatakan kita memasuki awal transisi dari musim kemarau ke hujan, tapi secara umum kita masih musim kemarau,” kata Mulyono, Senin (28/9/2026).

    BMKG memperkirakan awal musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh wilayah Kotim. Bagian utara diprakirakan lebih dahulu memasuki musim hujan sekitar pertengahan Oktober 2026.

    Sementara Sampit dan sekitarnya diperkirakan memasuki awal musim hujan pada awal November. Adapun wilayah selatan diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada akhir November.

    Hingga akhir September, peluang pertumbuhan awan hujan di Kotim masih cukup tinggi. BMKG memperkirakan peluang tersebut berada di kisaran 50–70 persen, bahkan pada 27 September potensinya diprakirakan di atas 70 persen.

    “Untuk besok hingga akhir bulan ini ada potensi pertumbuhan awan hujan sekitar 50–70 persen di wilayah Kotim. Besok 27 September potensi di atas 70 persen,” jelasnya.

    Hujan Belum Jadi Jaminan Karhutla Reda

    Di tengah masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah Kotim, hujan yang turun memang membantu mengurangi kondisi kering di permukaan lahan.

    Namun, Mulyono menegaskan hujan tersebut belum dapat disebut mampu meredakan karhutla secara menyeluruh. Api, terutama pada lahan yang kering, membutuhkan hujan dengan intensitas lebih tinggi dan durasi yang cukup lama.

    “Untuk meredakan masih belum bisa dikatakan demikian, tepatnya mengurangi. Hujan dengan intensitas lebat dan durasinya lama yang bisa meredakan karhutla,” pungkasnya.

    Dengan demikian, hujan yang mulai mengguyur Kotim belum menjadi alasan untuk menganggap ancaman karhutla telah berakhir. Wilayah Kotim masih berada dalam masa kemarau dan baru memasuki fase peralihan menuju musim hujan.(***)

  • Lutung Merah Ditemukan Kritis di Tepi Jalan Cempaga Hulu, Mati Sebelum Ditangani Dokter

    Lutung Merah Ditemukan Kritis di Tepi Jalan Cempaga Hulu, Mati Sebelum Ditangani Dokter

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Seekor lutung merah atau kelasi ditemukan dalam kondisi terluka parah di tepi jalan raya wilayah Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (28/9/2026).

    Satwa liar tersebut ditemukan di kawasan yang berada di sekitar areal bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisinya mengenaskan karena mengalami patah tulang pada kedua kaki.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan informasi mengenai keberadaan lutung merah tersebut diterimanya sekitar pukul 13.00 WIB dari wartawan media online Borneo.news, Dewi, yang meneruskan laporan warga di media sosial.

    Petugas kemudian menelusuri informasi tersebut dan menghubungi Arlan, warga Kecamatan Tualan Hulu yang mengunggah informasi keberadaan satwa tersebut.

    Dari keterangan Arlan, lutung merah berada di tepi jalan raya. Satwa itu diduga mengalami kecelakaan saat hendak menyeberang jalan.

    “Lutung terluka di kedua kaki, kemungkinan besar tertabrak mobil atau truk saat mau menyeberang jalan,” kata Muriansyah berdasarkan laporan yang diterimanya.

    Setelah mendapat informasi tersebut, lutung kemudian dijemput komunitas atau aktivis lingkungan dari Sampit untuk dibawa ke klinik hewan.

    Namun, upaya penyelamatan itu berakhir tragis.

    Mati Sebelum Mendapat Penanganan

    Lutung merah tersebut sempat dibawa ke klinik hewan. Namun, sebelum dokter sempat memberikan tindakan medis, satwa tersebut mengembuskan napas terakhir.

    Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan terdapat tiga bagian tulang yang patah.

    Patahan ditemukan pada paha kaki kanan, paha kaki kiri serta bagian engkel kaki kanan.

    Kondisi luka pada bagian paha juga cukup parah. Pada paha kanan terdapat luka robek besar yang mengeluarkan banyak darah.

    Sementara pada paha kiri, ujung tulang yang patah bahkan terlihat menyembul keluar.

    Kondisi tersebut menunjukkan lutung mengalami cedera berat sebelum berhasil dievakuasi dari tepi jalan.

    Setelah lutung dinyatakan mati, petugas BKSDA Resort Sampit melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan di Pangkalan Bun.

    Berdasarkan arahan pimpinan, bangkai lutung kemudian dikuburkan dan dibuatkan berita acara kematian sebagai bagian dari penanganan satwa liar dilindungi tersebut.

    Kemunculan lutung merah dalam kondisi terluka di tepi jalan kembali menunjukkan risiko yang dihadapi satwa liar ketika wilayah jelajahnya bersinggungan dengan jalur kendaraan dan kawasan yang terdampak kebakaran.

    Kali ini, pertolongan datang sebelum terlambat, tetapi cedera yang dialami terlalu parah. Lutung merah itu akhirnya mati sebelum sempat mendapat penanganan dokter. (***)

  • Enam Gedung SMAN 1 Cempaga Terbakar, Api Diduga Bermula dari Solar Cell

    Enam Gedung SMAN 1 Cempaga Terbakar, Api Diduga Bermula dari Solar Cell

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Api mengamuk di lingkungan SMAN 1 Cempaga, Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (27/9/2026) dini hari. Sedikitnya enam gedung sekolah dilaporkan terbakar.

    Kebakaran diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Api dengan cepat membesar dan merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya di lingkungan sekolah.

    Camat Cempaga Agustiawany mengatakan, berdasarkan informasi awal yang diterimanya, titik api diduga berada di ruang wakil kepala sekolah. Di ruangan tersebut terdapat instalasi solar cell.

    “Informasi sementara yang kami terima, kebakaran terjadi sekitar pukul 02.30 WIB dan diduga bermula dari ledakan pada solar cell,” katanya.

    Dari titik awal tersebut, api kemudian menjalar ke sejumlah bangunan. Ruang kepala sekolah, ruang guru hingga musala termasuk bangunan yang terdampak.

    “Berdasarkan informasi sementara, ada sekitar enam gedung yang terbakar. Di antaranya ruang kepala sekolah, ruang guru dan musala,” ujarnya.

    Api Cepat Merambat

    Upaya pemadaman langsung dilakukan setelah kebakaran diketahui. Petugas pemadam kebakaran bersama Masyarakat Peduli Api (MPA), warga dan unsur lintas sektor dikerahkan ke lokasi.

    Namun, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Api bergerak cepat, sementara ketersediaan sumber air di sekitar lokasi terbatas.

    “Petugas bersama MPA, masyarakat dan unsur lintas sektor sudah berada di lokasi untuk melakukan pemadaman. Semua bersama-sama berupaya menangani kebakaran,” kata Agustiawany.

    Hingga kini, penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan. Dugaan kebakaran yang bermula dari instalasi solar cell masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

    Tingkat kerusakan masing-masing bangunan juga masih dalam pendataan.

    Kebakaran tersebut menjadi kejadian pertama di lingkungan SMAN 1 Cempaga. Sekolah itu diketahui telah berdiri sejak 1997.

    “Selama ini belum pernah terjadi kebakaran di sekolah tersebut. Bangunannya sudah berdiri sejak 1997,” jelasnya.

    Belajar Tetap Berjalan

    Kebakaran tidak hanya menyisakan persoalan kerusakan bangunan. Pemerintah juga harus memastikan kegiatan belajar mengajar siswa tetap berjalan.

    Pemkab Kotim telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terkait penanganan dampak kebakaran, termasuk rencana pembangunan kembali gedung sekolah yang terbakar.

    “Sudah dilakukan koordinasi dengan Gubernur Kalimantan Tengah terkait penanganan gedung sekolah, termasuk rencana pembangunan gedung baru,” katanya.

    Untuk sementara, siswa tetap diarahkan belajar di ruangan sekolah yang masih aman dan dapat digunakan.

    Dengan kondisi tersebut, siswa belum perlu dipindahkan ke gedung SD di Desa Sungai Paring.

    “Untuk sementara anak-anak tetap diarahkan belajar di ruangan yang masih bisa digunakan. Masih ada beberapa gedung yang dapat difungsikan,” pungkasnya.

    Enam gedung terbakar dalam hitungan dini hari. Kini, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan penyebab kebakaran, tetapi menjaga agar aktivitas belajar siswa SMAN 1 Cempaga tetap berjalan di tengah kerusakan yang ditinggalkan api. (***)