Kategori: Daerah

  • Menagih Wajah Baru Titik Nol Sampit: Proyek Terpadu Bundaran KB Wajib Masuk APBD Kalteng 2027

    Menagih Wajah Baru Titik Nol Sampit: Proyek Terpadu Bundaran KB Wajib Masuk APBD Kalteng 2027

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kawasan strategis Bundaran KB yang menjadi titik nol ruas jalan penghubung Sampit–Samuda di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK) kini resmi masuk radar prioritas pembangunan skala besar. Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah melancarkan desakan kuat agar proyek penataan kawasan terpadu di gerbang selatan Kota Sampit ini resmi diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kalteng Tahun Anggaran 2027.

    Langkah ini diambil seiring dengan pesatnya pertumbuhan pemukiman, sentra ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta kepadatan arus lalu lintas menuju wilayah pesisir Samuda dan Ujung Pandaran yang melintasi kawasan bersejarah tersebut.

    Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Abdul Hafid, menegaskan bahwa penataan Bundaran KB tidak boleh sekadar menyentuh polesan estetika Tugu KB semata, melainkan wajib mengeksekusi infrastruktur penunjang secara holistik guna menciptakan simpul lalu lintas yang tertib, modern, dan representatif.

    “Saya mengusulkan agar penataan kawasan Bundaran KB ini dapat masuk pada tahun anggaran 2027. Ruas jalannya merupakan kewenangan provinsi, sementara bundarannya kewenangan kabupaten. Dengan kolaborasi penataan dari provinsi, pemerintah kabupaten tentu terdorong menata tugu bundaran ini agar lebih ikonik dan menjadi salah satu titik wisata baru,” ujar Abdul Hafid usai meninjau lokasi, Sabtu (3/10/2026).

    Sinergi Lintas Kewenangan dan Rencana Pengoperasian Infrastruktur Terpadu

    Kawasan Bundaran KB memiliki irisan kewenangan yang unik. Badan jalan utama yang menghubungkan Sampit–Samuda berada di bawah wewenang Dinas PUPR Provinsi Kalteng, sedangkan fisik Tugu KB berada di bawah kewenangan Pemkab Kotim.

    Menanggapi usulan legislatif tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kalteng, Chandra Puji Asmara mewakili Kepala Dinas PUPR Kalteng Juni Gultom menyatakan kesiapannya untuk mematangkan konsep teknis penataan kawasan terpadu.

    PUPR Kalteng merancang penataan terpadu yang mencakup: Pertama, Pelebaran Badan Jalan: Mengantisipasi kemacetan dan lonjakan volume kendaraan menuju wilayah selatan.

    Selanjutnya, Drainase Modern dan Trotoar Ramah Pejalan Kaki: Mencegah genangan air saat hujan deras serta menyediakan ruang pedestrian yang aman.

    Kemudian, Ruang Terbuka Hijau (RTH): Menjadikan kawasan bersejarah simbol Keluarga Berencana (KB) tersebut lebih tertata dan asri.

    Dukungan penuh juga disampaikan oleh Camat Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang), Irpansyah. Pihak kecamatan menegaskan kesiapan jajarannya untuk memfasilitasi sosialisasi dan pendekatan komunikatif kepada para pedagang serta warga jika terdampak langsung rencana pelebaran lahan proyek tersebut.

    Rencana penataan Bundaran KB masuk APBD 2027 merupakan langkah progresif untuk mempercantik gerbang selatan Kota Sampit. Namun, belajar dari proyek infrastruktur publik terdahulu di Kotim, kolaborasi antar-pemerintah (cross-jurisdictional collaboration) sering kali terkendala ego sektoral dan koordinasi lapak warga.

     Pemprov Kalteng dan Pemkab Kotim didesak menyusun MoU resmi serta Detail Engineering Design (DED) yang transparan sejak 2026, guna memastikan proyek ini tidak sekadar menjadi wacana politik menjelang pembahasan anggaran.

    Sementara itu, Pemerintah Kecamatan MB Ketapang bersama Satpol PP wajib mengedepankan pendekatan komunikatif terhadap para pelaku UMKM dan pemilik lapak di sekitar Bundaran KB agar rencana pelebaran jalan dan trotoar tidak memicu konflik sosial baru di tengah kondisi ekonomi yang tertekan. (***)

  • Korban Jiwa Karhutla Seranau: Seekor Tenggiling Terpanggang Api di Desa Ganepo

    Korban Jiwa Karhutla Seranau: Seekor Tenggiling Terpanggang Api di Desa Ganepo

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kehancuran ekosistem akibat amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban satwa langka yang dilindungi. Seekor Tenggiling (Manis javanica) ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat terpanggang hidup-hidup setelah terjebak di dalam benteng api di kawasan lahan Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Jumat (2/10/2026).

    Penemuan memilukan ini terjadi saat kobaran api membakar habis semak belukar dan vegetasi gambut di Seranau wilayah yang saat ini tercatat sebagai penyumbang hotspot terbesar di Kotim.

    Mengetahui keberadaan satwa malang tersebut, tim relawan karhutla setempat, Manggala Agni  bersama Aktivis Peduli Lingkungan dan Pecinta Satwa Liar Harry Siswanto bergerak cepat melakukan evakuasi darurat dari tengah kepungan bara api.

    Salah seorang warga yang terlibat langsung dalam proses evakuasi, Wildan, menuturkan bahwa kondisi Tenggiling tersebut sangat kritis saat ditemukan dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.

    “Ketika ditemukan kondisinya sudah terbakar parah. Kemungkinan besar tidak sempat menyelamatkan diri saat api membesar dengan cepat. Sampai saat ini posisi Tenggiling masih berada di Ganepo, kondisinya sangat memprihatinkan dengan bau menyengat akibat luka bakar,” ungkap Wildan, Sabtu (3/10/2026).

    Tragedi memilu ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman karhutla tidak hanya berdampak pada polusi udara racun ISPU bagi manusia atau kehancuran fisik lahan, tetapi juga memicu kepunahan perlahan (silent extinction) bagi biodiversitas liar yang kehilangan ruang hidup. Satwa lambat seperti Tenggiling kerap kali tidak memiliki kesempatan melarikan diri saat melompatnya lidah api menjebak habitat mereka.

    Tragedi terpanggangnya Tenggiling dilindungi di Desa Ganepo menjadi tamparan keras bagi efektivitas mitigasi bencana ekologis di Kotim. Ketika penanganan karhutla hanya difokuskan pada pemadaman fisik lahan, keselamatan dan penyelamatan darurat satwa terabaikan, menyerahkan nasib satwa kritis sepenuhnya pada inisiatif swakarsa relawan tanpa dukungan peralatan medis yang memadai.

    BKSDA Resort Sampit bersama BKSDA Kalteng didesak untuk segera mengevakuasi tenggiling yang selamat ke pusat rehabilitasi. Sehingga tak ada tenggiling lainnya yang menjadi korban.

    Polres Kotim dan Gakkum KLHK dituntut tidak menutup mata. Pembakaran lahan di Seranau yang membumihanguskan habitat dan membinasakan satwa dilindungi merupakan tindak pidana kejahatan lingkungan berat yang harus diusut tuntas hingga ke dalang utamanya. (***)

  • Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumihanguskan ekosistem gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa satwa liar keluar dari habitat aslinya. Diduga akibat habitatnya terkurung api, satu keluarga orangutan (Pongo pygmaeus) yang terdiri dari induk, anak, dan satu individu jantan dewasa, terusir dan merangsek masuk ke kawasan kebun karet milik warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi kemunculan tiga individu orangutan tersebut di Jalan Ir. Soekarno (Lingkar Utara), Gang Mustika, berdasarkan laporan yang diterima pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Laporan awal disampaikan oleh Hadi Suryani, staf DPMD Kotim, berdasarkan kesaksian warga bernama Rey yang mendapati dua individu orangutan (induk dan anak) merusak tanaman di kebun karet miliknya.

    Petugas BKSDA Pos Sampit bersama tim pendamping dari Kumai langsung bergerak ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB untuk melakukan observasi. Di lokasi, tim bertemu dengan Rey dan keluarganya yang mengonfirmasi bahwa satwa tersebut semakin sering terlihat selama kemarau dan karhutla massif terjadi di sekitar area tersebut.

    “Warga mendokumentasikan individu orangutan pada Rabu lalu di dekat pondok. Namun dari foto tersebut, individu yang terlihat diduga kuat jantan dewasa. Dipadukan dengan laporan warga yang melihat induk dan anak, besar kemungkinan terdapat 3 individu yang terisolasi di lokasi tersebut,” jelas Muriansyah, Sabtu (3/10/2026).

    BKSDA Temukan Belasan Sarang di Zona Kepungan Api

    Petugas kemudian membagi personel menjadi dua regu untuk menyisir kebun karet seluas 4 hektare tersebut. Meski ketiga individu orangutan tidak berjumpa fisik saat penyisiran berlangsung, tim menemukan bukti otentik berupa belasan sarang orangutan di atas pohon, termasuk dua di antaranya merupakan sarang Kelas A (sarang segar).

    Penemuan belasan sarang tersebut, dipadukan dengan kondisi sekeliling kebun karet yang hangus bekas terbakar dan tebalnya kepulan asap aktif dari karhutla di ekosistem gambut sekitarnya, memperkuat dugaan bahwa habitat asli orangutan telah hancur. Aktivitas pembakaran dan asap pekat memaksa satwa merangsek ke kebun warga demi menyelamatkan diri.

    BKSDA Pos Sampit mengimbau keras warga untuk tidak melukai atau mengusir satwa secara anarkis, serta segera melapor ke petugas jika orangutan kembali muncul agar proses evakuasi darurat (rescue/translocation) dapat segera dieksekusi.

    Terusirnya satu keluarga orangutan ke Baamang Hulu menjadi pukulan telak atas kepunahan biodiversitas akibat ambisi land clearing ilegal dan karhutla. Ketika hutan gambut di zona penyangga Jalan Ir. Soekarno terbakar habis, orangutan terperangkap di pulau-pulau vegetasi tersisa di tengah kepungan asap dan api, memicu risiko kematian akibat ISPA parah atau konflik fatal dengan manusia.

     BKSDA Kalteng bersama tim medis konservasi diharapkan harus segera menggelar operasi evakuasi darurat untuk translokasi tiga individu orangutan ini ke zona konservasi aman sebelum satwa tewas atau konflik pecah.

    Sementara itu, Pemkab Kotim dan penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut terbakar di sepanjang Lingkar Utara guna mencegah adanya oknum spekulan yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah alih fungsi lahan ilegal. (***)

  • Perang Panjang Setelah Api Padam: Sinergi Pasukan Gabungan Basahi Ekosistem Gambut Kritis Kotim

    Perang Panjang Setelah Api Padam: Sinergi Pasukan Gabungan Basahi Ekosistem Gambut Kritis Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan tidak akan berakhir saat kobaran api di permukaan berhasil dipadamkan. Realitas geologis lahan gambut dalam yang menyimpan bara api (smoldering fire) menuntut perang panjang berupa pendinginan intensif dan restorasi hidrologis agar kawasan terdegradasi tidak kembali meledak menjadi titik api baru (fire risk).

    Merespons ancaman tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotim menginisiasi langkah taktis berupa pemulihan hidrologis awal ekosistem gambut pascaterbakar sejak 26 September hingga 30 September 2026 di sejumlah kawasan terdampak parah.

    Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kotim Titik Setiyowati menegaskan bahwa memadamkan api hanyalah tahap awal dari siklus pencegahan bencana permanen.

    “Karhutla tidak selesai ketika api padam. Setelah itu, kita harus memastikan lahan benar-benar aman, kelembapannya terjaga, dan fungsi hidrologis gambut dapat dipulihkan. Ini membutuhkan kerja bersama, komitmen sinergis, dan pemantauan berkelanjutan,” ujar Dr. Titik Setiyowati, Jumat (2/10/2026).

    Aksi “Perang Panjang Setelah Api Padam” ini difokuskan di tiga zona kritis: Baamang Hulu, Baamang Barat, dan Pasir Putih. Di lokasi-lokasi tersebut, sinergi pasukan gabungan menggelontorkan pasokan air mulai dari 5.000 liter hingga lebih dari 22.000 liter menggunakan armada mobil tangki, mesin pompa alkon, serta jaringan selang pemadaman guna membasahi permukaan dan lapisan bawah tanah (underground fire).

    Operasi pemulihan ini melibatkan kekuatan 30 personel gabungan yang terdiri dari: 10 personel DLH Kotim. 10 personel Yonif TP 923/Mentaya yang dipimpin oleh Letda Inf Jonni H Manalu 10 personel Masyarakat Peduli Api (MPA)

    Tidak sekadar menyiram permukaan, DLH Kotim bersama TNI dan MPA juga mengambil langkah taktis jangka panjang dengan membangun 14 titik sumur bor baru di zona ekosistem gambut terdampak. Pembangunan sumur bor ini dirancang untuk membasahi kembali (rewetting) dan merawat kelembapan tanah gambut agar tidak mengering secara ekstrem di musim kemarau.

    “Gambut adalah ekosistem yang harus kita jaga bersama. Ketika kita menjaga air dan kelembapannya, kita juga sedang menjaga lingkungan dan masa depan masyarakat,” tambah Titik Setiyowati.

     

    Langkah DLH Kotim membasahi kembali gambut pascaterbakar merupakan pendekatan sains lingkungan yang tepat untuk memutus siklus tahunan karhutla. Fenomena kebakaran membara di bawah tanah gambut sering kali menjadi jebakan yang memicu kebakaran ulang saat diterpa tiupan angin kencang dan suhu tinggi, meski asap di permukaan tidak terlihat.

    Pemkab Kotim dan DLH didesak untuk memastikannya tidak sekadar menjadi proyek fisik seremonial. Sinergi TNI dan DLH harus memastikan sumur bor yang telah dibangun wajib dipelihara secara rutin dan dipastikan fungsinya tetap optimal saat puncak kemarau, bukan dibiarkan terbengkalai atau rusak saat difungsikan.

    Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut pascaterbakar di Baamang dan Pasir Putih guna mencegah adanya oknum spekulan atau pengusaha ilegal yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah pembersihan lahan (land clearing). (***)

  • Kabut Asap Serang Sampit, Jarak Pandang Anjlok hingga 100 Meter

    Kabut Asap Serang Sampit, Jarak Pandang Anjlok hingga 100 Meter

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (2/10/2026) dini hari hingga pagi. Hampir seluruh kawasan kota terdampak, dengan jarak pandang sempat anjlok hingga hanya 100 meter.

    Kondisi tersebut terpantau dari pengamatan BMKG Kotim di Stasiun Meteorologi H Asan Sampit. Pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang tercatat hanya 100 meter dengan kondisi cuaca berupa kabut asap.

    Saat itu suhu udara berada di 23,3 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 96 persen. Angin dalam kondisi tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.

    Kondisi tersebut membuat kabut asap tampak pekat di sejumlah kawasan Sampit. Warga yang beraktivitas sejak pagi harus berhadapan dengan jarak pandang yang sangat terbatas.

    Sampit Ikut Dikepung Asap

    Warga Sampit, Didi Mursidi, mengatakan kondisi kabut asap kali ini terasa cukup parah karena tidak hanya terjadi di kawasan luar kota.

    “Kabut asap pagi ini makin merajalela, jarak pandang beberapa meter saja. Jarang-jarang dalam kota Sampit sampai parah begini, biasanya yang parah di luar kota yang masih banyak lahan kosongnya,” kata Didi.

    Pengamatan BMKG menunjukkan kondisi mulai membaik setelah matahari meninggi. Namun, kabut asap masih bertahan.

    Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 300 meter. Suhu naik menjadi 26,4 derajat Celsius dengan kelembapan 88 persen.

    Angin mulai bergerak dari arah timur dengan kecepatan 4 kilometer per jam.

    Satu jam kemudian, pukul 09.00 WIB, jarak pandang kembali meningkat menjadi 800 meter. Meski demikian, BMKG masih mencatat kondisi cuaca berupa kabut asap.

    Suhu saat itu mencapai 29,8 derajat Celsius dengan kelembapan 70 persen. Angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 7 kilometer per jam.

    Dini Hari Jadi Titik Terparah

    Perubahan jarak pandang tersebut menunjukkan kondisi paling buruk terjadi pada pagi buta. Dari 100 meter pukul 07.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 300 meter pada pukul 08.00 WIB dan 800 meter pada pukul 09.00 WIB.

    Namun, kabut asap yang masih tercatat hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan kualitas udara dan kondisi atmosfer di Sampit belum sepenuhnya terbebas dari paparan asap.

    Kondisi angin yang sempat tenang pada pagi hari juga membuat asap lebih mudah bertahan di sekitar permukaan. Terlebih, kelembapan udara saat itu mencapai 96 persen.

    Kabut asap kembali menjadi ancaman bagi aktivitas warga Sampit. Selain mengganggu jarak pandang pengguna jalan, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak selalu berhenti di lokasi lahan yang terbakar.

    Asap dapat terbawa hingga kawasan permukiman dan pusat kota, tergantung kondisi angin serta atmosfer. (***)

  • Jeratan Inflasi Sampit: Harga Pangan dan Bensin Mengamuk, Daya Beli Warga Terbakar

    Jeratan Inflasi Sampit: Harga Pangan dan Bensin Mengamuk, Daya Beli Warga Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tekanan ekonomi yang menimpa masyarakat Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kini berada dalam taraf yang sangat memprihatinkan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim melaporkan laju inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada September 2026 melonjak hingga 4,21 persen.

    Kenaikan tak terkendali pada kelompok bahan makanan harian dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi biang kerok utama yang menggerus daya beli masyarakat di tengah kepungan krisis bencana ekologis.

    Data tersebut tertuang secara resmi dalam Berita Resmi Statistik (BRS) No. 10/10/6202/Th. XX yang dirilis BPS Kotim pada Kamis (1/10/2026). Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Sampit melompat signifikan dari angka 108,00 pada September 2025 menjadi 112,55 pada September 2026.

    “Secara bulanan (month-to-month), Sampit mengalami inflasi sebesar 0,62 persen, sementara laju inflasi tahun kalender (year-to-date) telah menyentuh angka 3,57 persen,” katanya, Kamis (1/10/2026).

    Membumbungnya inflasi ini dipicu oleh lonjakan harga pada berbagai sektor pengeluaran rumah tangga. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pemicu utama jeratan inflasi dengan mencatatkan kenaikan harga tahunan sebesar 6,23 persen dan memberikan andil dominan sebesar 2,28 persen terhadap total inflasi daerah.

    Sektor transportasi turut menguras dompet warga dengan inflasi 6,03 persen dan memberikan andil 0,54 persen. Sementara itu, persentase kenaikan paling drastis dicatat oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meroket hingga 8,72 persen.

    Tekanan harga juga merembet ke sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 1,95 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga yang naik 2,86 persen, serta sektor usaha kuliner dan restoran yang meningkat 2,42 persen.

    Di tingkat pasar tradisional, BPS Kotim mencatat bahwa emas perhiasan memberikan andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 0,46 persen, diikuti oleh komoditas ikan nila sebesar 0,43 persen dan bensin sebesar 0,40 persen.

    Komoditas bahan pokok lainnya seperti minyak goreng turut memberi sumbangan inflasi sebesar 0,22 persen, sedangkan cabai rawit, beras, dan bahan bakar rumah tangga masing-masing menyumbangkan andil sebesar 0,16 persen.

    Khusus untuk dinamika inflasi bulanan pada September 2026, cabai rawit menjadi komoditas yang paling melambung dengan andil 0,10 persen, disusul oleh ikan nila sebesar 0,09 persen, ketimun sebesar 0,08 persen, serta rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,05 persen. Meski demikian, laju inflasi sempat tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami deflasi, seperti daging ayam ras dengan andil -0,15 persen, biaya pendidikan SMP dan telur ayam ras masing-masing sebesar -0,10 persen, serta tarif angkutan udara sebesar -0,08 persen.

    Data historis menunjukkan tren kenaikan inflasi tahunan pada bulan September di Sampit dalam tiga tahun terakhir. Pada September 2024, inflasi tahunan tercatat berada pada level 1,46 persen dengan inflasi bulanan 0,11 persen. Angka tersebut merangkak naik pada September 2025 menjadi 2,76 persen secara tahunan dan 0,47 persen secara bulanan, hingga akhirnya menembus puncaknya pada September 2026 di angka 4,21 persen secara tahunan dan 0,62 persen secara bulanan.

     Meledaknya inflasi Sampit hingga 4,21 persen menjadi bukti sah rapuhnya ketahanan pangan dan distribusi logistik di Kotim saat bencana karhutla melanda. Ketika jalur transportasi terganggu oleh kabut asap pekat dan harga BBM eceran melambung di pasaran, beban biaya distribusi langsung dialihkan kepada rakyat kecil melalui lonjakan harga bahan pokok seperti cabai, beras, hingga ikan budidaya.

    Pemerintah Kabupaten Kotim bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tidak boleh bersikap pasif. Intervensi pasar harus difokuskan pada pemangkasan rantai tengkulak dan spekulan yang memanfaatkan situasi krisis bencana karhutla untuk mendongkrak harga pangan dan bahan bakar demi keuntungan sepihak.

    Dinas Sosial bersama Dinas Perdagangan didesak untuk segera menyalurkan bantuan subsidi pangan terfokus bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang menjadi kelompok paling rentan dan paling terdampak oleh tingginya inflasi bahan pokok ini.(***)

  • Penyangga Kota Sampit Meredup: Seranau Sumbang Separuh Hotspot Kotim

    Penyangga Kota Sampit Meredup: Seranau Sumbang Separuh Hotspot Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 176 titik panas (hotspot) masih terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (1/10/2026) pukul 16.00 WIB. Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, menyumbang 88 titik atau tepat separuh dari seluruh hotspot yang terpantau.

    Data pemantauan BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan hotspot di Seranau tersebar di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 60 titik dan Desa Ganepo 28 titik.

    Titik panas tersebut terdeteksi dengan tingkat kepercayaan 30–79 persen melalui pantauan satelit SNPP dan NOAA20.

    Seranau berada tepat di seberang Kota Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya. Tingginya konsentrasi hotspot di wilayah ini membuat perkembangan kebakaran lahan tetap perlu dipantau, terutama terkait potensi asap yang dapat bergerak mengikuti kondisi angin.

    Hotspot Mulai Berkurang

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo mengatakan, jumlah hotspot sebenarnya mulai menunjukkan penurunan dibandingkan hari sebelumnya.

    Pada 29 September, BMKG mendeteksi sekitar 306 hotspot di Kotim. Konsentrasinya saat itu masih dominan berada di wilayah selatan.

    “Untuk hotspot hari ini, terdeteksi sekitar 306 titik. Jumlah itu mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya, tetapi titik panas masih dominan berada di wilayah selatan,” kata Mulyono.

    Sehari kemudian, kondisi kemudahan terbakar diperkirakan mulai menurun. Namun, penurunan tersebut tidak berlangsung lama karena potensi kemudahan terbakar diprediksi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober.

    “Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Pada 30 September dan 1 Oktober diperkirakan berkurang, tetapi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober,” paparnya.

    Hujan Belum Banyak Membantu

    Persoalan lainnya adalah minimnya peluang pembentukan awan hujan. BMKG memperkirakan peluang pertumbuhan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil hingga 5 Oktober.

    “Berdasarkan potensi pertumbuhan awan kumulus pada 29 September hingga 5 Oktober, peluang pembentukan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil,” ujar Mulyono.

    Potensi pertumbuhan awan yang lebih besar justru berada di Kalimantan Barat dan wilayah utara Kalimantan.

    Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran lahan di Kotim masih membutuhkan kewaspadaan. Apalagi hotspot masih tersebar di sejumlah kecamatan.

    Selain Seranau, Mentaya Hilir Utara mencatat 28 titik, dengan konsentrasi terbesar di Desa Bagendang Tengah sebanyak 21 titik. Kota Besi menyusul dengan 23 titik, termasuk 14 titik di Desa Simpur.

    Pulau Hanaut mencatat 10 titik. Hotspot lainnya tersebar di Baamang empat titik, Mentawa Baru Ketapang empat titik, Teluk Sampit empat titik, Bukit Santuai tiga titik, Cempaga Hulu tiga titik, Mentaya Hilir Selatan tiga titik, Mentaya Hulu tiga titik, Cempaga dua titik, dan Antang Kalang satu titik.

    Dengan kondisi cuaca yang masih kering dan peluang hujan signifikan yang rendah, pemantauan terhadap titik panas dan potensi kebakaran masih menjadi pekerjaan penting di sejumlah wilayah Kotim. (***)

  • Lalai Penanganan ODGJ Memicu Petaka: Rumah di Jalan Kembali 1 Sampit Diduga Sengaja Dibakar

    Lalai Penanganan ODGJ Memicu Petaka: Rumah di Jalan Kembali 1 Sampit Diduga Sengaja Dibakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kelemahan sistem penanganan dan pengawasan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memicu ancaman keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat.

    Suasana tenang dini hari warga di Jalan Kembali 1, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), berubah menjadi mencekam setelah sebuah rumah semi-permanen seluas 150 meter persegi ludes dibakar pada Rabu (30/9/2026) sekitar pukul 02.10 WIB.

    Kobaran api pecah saat mayoritas warga sekitar sedang terlelap. Konstruksi bangunan yang didominasi material kayu membuat si jago merah membumbung tinggi dan melahap habis seluruh isi rumah peninggalan almarhum Asikinoor hanya dalam hitungan menit.

    Saksi mata di lokasi kejadian, Lidia, menceritakan kepanikan warga saat melihat api melahap bangunan tersebut.

    “Api cepat sekali membesar. Rumah itu sebagian besar kayu, sehingga dalam waktu singkat kobaran api sudah menghanguskan seluruh bangunan,” tutur Lidya, Rabu (30/9/2026).

    Sengaja Dibakar Anak Pemilik Rumah dan Respons Tim Damkar

    Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim menerima laporan darurat pada pukul 02.39 WIB dan langsung menerjunkan dua unit armada ke lokasi di bawah pimpinan Komandan Regu III, Supriansyah.

    Tiba di TKP pukul 02.49 WIB, petugas berjibaku melokalisir perambatan api agar tidak meluas ke permukiman padat di sekitarnya.

    Proses pemadaman hingga pendinginan selesai penuh pada pukul 04.12 WIB dengan bantuan personel PMI Kotim, Redkar Ketapi 3, serta relawan MPA Teluk Dalam. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, meski kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp200 juta.

    Sisi paling krusial dari insiden ini terungkap dalam laporan resmi Disdamkarmat Kotim. Supriansyah menyampaikan bahwa pemicu kebakaran diduga kuat berasal dari tindakan sengaja membakar yang dilakukan oleh anak pemilik rumah yang mengidap gangguan jiwa (ODGJ).

    Kendati demikian, pihak Disdamkarmat menegaskan bahwa kepastian motif dan dinamika kejadian masih memerlukan pembuktian serta investigasi mendalam dari pihak berwajib.

    Tragedi kebakaran di Jalan Kembali 1 MB Ketapang ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan cermin buram dari pengabaian sistemik terhadap penanganan medis dan sosial ODGJ di daerah. Ketika individu yang mengalami gangguan kejiwaan berat dibiarkan tanpa pendampingan intensif, isolasi medis, atau terapi berkala di lingkungan pemukiman padat kayu, risiko kelalaian yang mengancam keselamatan publik tinggal menunggu waktu.

    Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kotim didesak untuk tidak lepas tangan. Harus ada langkah aktif (outreach) pendataan, evakuasi medis, serta penyediaan fasilitas perawatan ODGJ yang layak di Kotim agar pasien tidak menjadi ancaman bahaya bagi keluarga dan lingkungannya.

    Pihak Polres Kotim juga dituntut untuk mengusut tuntas kronologi peristiwa secara transparan (scientific crime investigation) guna memastikan penyebab pasti kebakaran serta menetapkan langkah penanganan hukum atau rekomendasi medis yang tepat bagi terduga pelaku. (***)

  • Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mendesak ruang jelajah satwa langka yang dilindungi.

    Di tengah kepulan asap dan bara api yang belum padam di kawasan kebun warga Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, tim BKSDA menemukan jejak aktivitas orangutan yang terisolasi di lingkaran kebakaran, Rabu (30/9/2026).

    Menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan primata raksasa tersebut, personel BKSDA Pos Sampit menerjunkan tim untuk melakukan observasi dan penyisiran lapangan mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengungkapkan bahwa saat tim tiba di lokasi sasaran, hamparan kebun warga telah hangus terbakar dan beberapa titik api tampak masih aktif membara.

    “Sekitaran lokasi telah terjadi kebakaran lahan dan saat ini masih terjadi kebakaran. Meski satwa tidak ditemukan saat observasi berlangsung, tim menemukan dua sarang orangutan masing-masing kategori kelas 2 dan kelas 4 di atas pohon kawasan kebun,” terang Muriansyah, Rabu (30/9/2026).

    Sarang di Tengah Kebun Karet-Sawit dan Edukasi Penanganan Satwa bagi Warga

    Temuan dua sarang orangutan (sarang bekas dan sarang baru) tersebut menjadi bukti sah bahwa kawasan kebun warga Kota Besi Hulu yang didominasi tanaman karet, kelapa sawit, semak belukar, serta pepohonan buah—merupakan koridor jelajah aktif bagi orangutan.

    Lokasi tersebut juga tergolong sangat dekat dengan akses manusia karena terhubung langsung dengan jalan aspal menuju Desa Kandan.

    Saat penyisiran, petugas bertemu dengan penyadap karet setempat yang membenarkan bahwa individu orangutan tersebut memang kerap menampakkan diri sebelum kobaran api karhutla mengepung area tersebut.

    Merespons potensi konflik dan bahaya kebakaran, Muriansyah memberikan arahan langsung kepada warga mengenai mitigasi perilaku satwa liar. Warga diimbau tegas tidak mengganggu, mengusir secara anarkis, atau melukai orangutan yang terdesak keluar dari hutan akibat karhutla.

    “Segera lapor kamijika satwa tersebut kembali muncul agar proses evakuasi (rescue/translocation) dapat segera dilakuka,” imbuhnya.

    Temuan sarang orangutan di tengah amukan api Kota Besi Hulu mempertegas ancaman nyata genosida satwa secara perlahan akibat karhutla. Ketika hutan penyangga hancur dan kebun warga di sekitarnya ikut terbakar, orangutan terperangkap dalam lingkaran api (fire trap), memicu risiko kematian akibat terpanggang, ISPA parah, atau konflik fatal dengan manusia.

    BKSDA Resort Sampit bersama masyarakat dan stakeholder terkait didesak meningkatkan frekuensi pemantauan di jalur Kandan–Kota Besi Hulu guna mengunci pergerakan api agar tidak membumihanguskan pohon-pohon pakan tersisa.

    Sementara itu, BKSDA Kalteng diminta bersiap mengerahkan regu pembiusan dan evakuasi jika orangutan tersebut kembali ke lokasi sarang, mengingat struktur tanah gambut di Kota Besi masih menyimpan underground fire yang sangat membahayakan keselamatan satwa.  (***)

  • Kualitas Air Baku Anjlok, Perumda Tirta Mentaya Imbau Warga 3 Kecamatan Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi

    Kualitas Air Baku Anjlok, Perumda Tirta Mentaya Imbau Warga 3 Kecamatan Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Krisis lingkungan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang dipicu kemarau dan karhutla makin mengancam kebutuhan dasar masyarakat. Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Mentaya Sampit mengeluarkan imbauan resmi bahwa air bersih yang didistribusikan ke ribuan pelanggan di tiga kecamatan saat ini belum aman dan tidak diperuntukkan untuk konsumsi (minum dan memasak).

    Langkah darurat ini diambil setelah hasil pengujian laboratorium menunjukkan kualitas air baku Sungai Mentaya mengalami penurunan signifikan dan tidak memenuhi standar baku mutu air minum.

    Kepala Seksi Teknik Perumda Tirta Mentaya Sampit Edy Dyufriadi mengatakan, air yang saat ini didistribusikan kepada pelanggan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).

    “Perumdam Tirta Mentaya menginformasikan bahwa air yang didistribusikan saat ini belum diperuntukkan untuk konsumsi karena kondisi kualitas air baku belum memenuhi standar untuk dikonsumsi. Air tersebut untuk sementara hanya dapat digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus (MCK),” ujar Edy, Rabu (30/9/2026).

    Pengolahan Tetap Berjalan

    Edy menjelaskan, proses pengolahan air tetap berjalan di instalasi pengolahan. Namun, kondisi air baku menjadi kendala yang harus dihadapi dalam menghasilkan air yang memenuhi standar untuk konsumsi.

    Penurunan kualitas air baku terjadi di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang masih berlangsung di Kotim.

    Perumda Tirta Mentaya terus melakukan proses pengolahan sesuai tahapan yang berlaku. Namun, untuk sementara air hasil distribusi belum diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi.

    Tiga wilayah kecamatan yang menjadi sasaran imbauan tersebut yakni Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentawa Baru Ketapang.

    Perumda meminta pelanggan di wilayah tersebut mematuhi imbauan sampai terdapat pemberitahuan lebih lanjut mengenai kondisi kualitas air.

    Masyarakat juga diminta tidak menggunakan air yang didistribusikan untuk minum maupun memasak selama larangan konsumsi masih berlaku.

    Perkembangan kualitas air akan menjadi dasar untuk menentukan kapan air kembali dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi. (***)