Kategori: Humaniora

  • Merries Dukung Posyandu Alfamart di Sampit, Layanan Kesehatan Sasar 2.800 Ibu dan Balita di 28 Titik

    Merries Dukung Posyandu Alfamart di Sampit, Layanan Kesehatan Sasar 2.800 Ibu dan Balita di 28 Titik

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kota Sampit menjadi salah satu dari 28 titik pelaksanaan Alfamart Sahabat Posyandu sepanjang Oktober 2026.

    Kegiatan yang berlangsung di halaman Alfamart Tjilik Riwut KM 1, Kabupaten Kotawaringin Timur, Selasa (6/10/2026), tersebut menghadirkan layanan kesehatan dasar bagi ibu dan balita yang didukung oleh Merries.

    Sejumlah ibu membawa anak mereka mengikuti layanan Posyandu yang meliputi pemeriksaan tumbuh kembang, imunisasi, pemberian makanan tambahan, serta edukasi mengenai pemenuhan gizi anak. Peserta juga mendapatkan produk popok Merries secara gratis.

    Pelaksanaan di Sampit merupakan bagian dari rangkaian Alfamart Sahabat Posyandu yang sepanjang Oktober digelar di 28 titik di sejumlah wilayah Indonesia. Program tersebut menargetkan sekitar 2.800 penerima manfaat.

    General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan pelaksanaan Posyandu dilakukan secara rutin setiap bulan dengan memanfaatkan halaman gerai Alfamart sebagai lokasi kegiatan.

    ”Konsistensi program ini terus Alfamart jaga dengan menjangkau lebih banyak penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia,” ungkap Rani dalam keterangannya.

    Menurut Rani, pemanfaatan halaman gerai sebagai lokasi Posyandu ditujukan untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat. Keberadaan gerai yang berada di sekitar permukiman dinilai dapat memudahkan orang tua membawa anak mengikuti kegiatan Posyandu.

    ”Dengan keberadaan gerai Alfamart yang dekat dengan masyarakat, Alfamart berharap kehadiran program ini dapat memberikan nilai tambah, khususnya dalam mendukung kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaannya, kader Posyandu bersama tenaga dari dinas kesehatan setempat memberikan pendampingan kepada peserta. Selain pemeriksaan kondisi anak, orang tua mendapatkan informasi mengenai tumbuh kembang dan kebutuhan gizi.

    ”Kehadiran kader Posyandu bersama tenaga dari dinas kesehatan memberikan pendampingan yang dibutuhkan para ibu untuk memantau tumbuh kembang anak,” kata Rani.

    Ia mengatakan edukasi menjadi bagian dari layanan agar orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan kesehatan dan gizi anak.

    ”Kami berharap layanan dan edukasi yang diberikan dapat membantu orangtua lebih memahami kebutuhan kesehatan dan gizi anak,” lanjutnya.

    Merries Dukung Pelaksanaan di 28 Titik

    Dukungan Merries pada Alfamart Sahabat Posyandu Oktober 2026 merupakan kolaborasi perdana merek tersebut dalam program Posyandu Alfamart.

    Vice President Marketing Kao Indonesia, Susilowati, mengatakan kerja sama tersebut mempertemukan kegiatan layanan Posyandu dengan perhatian terhadap kebutuhan perawatan dan kenyamanan bayi.

    ”Kolaborasi bersama Alfamart Sahabat Posyandu pada Oktober 2026 menjadi kerja sama perdana bagi Merries dalam program tersebut,” tutur Susilowati.

    Dalam kegiatan di Kota Sampit, dukungan Merries diwujudkan antara lain melalui pemberian produk popok kepada peserta. Susilowati mengatakan Merries terus menghadirkan produk yang ditujukan untuk mendukung orang tua dalam merawat bayi.

    ”Merries terus berinovasi dengan menghadirkan produk berkualitas untuk mendukung orang tua dalam memberikan perawatan kesehatan dan kenyamanan untuk kulit Jagoan Kecil Keluarga,” ujarnya.

    Susilowati juga menyampaikan bahwa Merries Jagoan Kulit Bayi telah melalui pengujian klinis terkait pencegahan iritasi kulit bayi di Indonesia oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (PERDOSKI).

    ”Merries Jagoan Kulit Bayi yang menjaga kulit Jagoan Kecil Keluarga, terbukti sebagai satu-satunya popok bayi yang telah teruji klinis dapat cegah iritasi kulit pada bayi di Indonesia oleh PERDOSKI,” katanya.

    Ia berharap keterlibatan Merries dalam kegiatan Posyandu dapat turut mendukung edukasi bagi orang tua mengenai perawatan bayi dan tumbuh kembang anak.

    ”Semoga kolaborasi bersama Merries dalam program Posyandu ini dapat memberikan solusi yang dapat mendukung edukasi kepada orang tua dalam menghadirkan kenyamanan dan tumbuh kembang Jagoan Kecil Keluarga se-Indonesia,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Konflik antara manusia dan satwa liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memanas dengan tren yang makin memprihatinkan. Seekor beruang madu (Helarctos malayanus) berusia remaja-dewasa ditemukan berkeliaran dengan kondisi kaki belakang kiri luka parah membusuk di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Selasa (6/10/2026).

    ​Kemunculan satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut sempat direkam oleh warga saat beruang pincang tersebut merayap di dekat pohon tumbang tepi saluran parit. Video berdurasi singkat itu mendadak viral dan langsung direspons oleh BKSDA Pos Sampit.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa dari visual luka menganga pada kaki beruang, terdapat indikasi kuat satwa tersebut merupakan korban kejahatan jerat berburu berbahan seling baja (jerat sisit).

    ​“Dari kondisi kakinya, kami menduga beruang ini sebelumnya terkena jerat. Biasanya jerat seperti itu menggunakan seling baja atau yang dikenal warga sebagai jerat sisit. Perkiraan kami beruang sempat terjerat cukup lama sebelum akhirnya berhasil memutus rantai atau melepaskan diri secara paksa ,” terang Muriansyah, Rabu (7/10/2026).


    ​Merespons laporan darurat warga, tim gabungan BKSDA Resort Sampit bersama para aktivis lingkungan diterjunkan ke lokasi kejadian. Petugas langsung membagi tim untuk menyisir kawasan perkebunan kelapa sawit seluas dua hektare di Gang Budi Mufakat.

    ​Namun hingga Rabu sore hari menjelang gelap, keberadaan beruang terluka tersebut belum berhasil dijumpai fisik. Petugas terpaksa menghentikan sementara penyisiran demi alasan keselamatan operasional.

    ​”Beruang dalam kondisi normal saja wajib kita waspadai, apalagi dalam kondisi terluka parah. Satwa yang kesakitan akan jauh lebih agresif, defensif, dan berisiko menyerang jika merasa terancam. Kami tidak ingin mengambil risiko, pencarian lanjutan akan diatur kembali,” tegas Muriansyah.

    ​Meskipun keterkaitan antara kemunculan beruang ini dengan kepungan 506 titik panas (hotspot) karhutla Kotim belum bisa disimpulkan secara medis sebelum satwa dievakuasi, warga sekitar mengakui bahwa beruang tersebut belakangan makin sering merangsek ke kebun kelapa sawit dan mengincar tanaman nanas milik warga untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan

    ​Kemunculan beruang dengan kaki hancur di Jalan Tjilik Riwut Km 8 ini membuka sisi gelap ganda bencana lingkungan di Kotim: kehancuran habitat akibat karhutla dan maraknya perburuan liar menggunakan jerat seling baja.

    ​BKSDA Resort Sampit bersama aparat kepolisian didesak tidak hanya fokus mencari keberadaan beruang, tetapi wajib menggelar operasi penyisiran dan pembersihan jerat seling baja di sekitar perkebunan Km 8 Tjilik Riwut. Jerat sisit merupakan pemicu cacat permanen dan kematian perlahan bagi satwa dilindungi.

    Mengingat kondisi beruang mengalami luka infeksi serius, BKSDA Kalteng didesak menyiagakan dokter hewan dan senapan pembius saat pencarian dilanjutkan. Beruang terluka yang terdesak ke pemukiman padat Km 8 berpotensi memicu puncaknya konflik fatal dengan masyarakat jika tidak ditangani secara profesional. (***)

  • Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumihanguskan ekosistem gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa satwa liar keluar dari habitat aslinya. Diduga akibat habitatnya terkurung api, satu keluarga orangutan (Pongo pygmaeus) yang terdiri dari induk, anak, dan satu individu jantan dewasa, terusir dan merangsek masuk ke kawasan kebun karet milik warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi kemunculan tiga individu orangutan tersebut di Jalan Ir. Soekarno (Lingkar Utara), Gang Mustika, berdasarkan laporan yang diterima pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Laporan awal disampaikan oleh Hadi Suryani, staf DPMD Kotim, berdasarkan kesaksian warga bernama Rey yang mendapati dua individu orangutan (induk dan anak) merusak tanaman di kebun karet miliknya.

    Petugas BKSDA Pos Sampit bersama tim pendamping dari Kumai langsung bergerak ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB untuk melakukan observasi. Di lokasi, tim bertemu dengan Rey dan keluarganya yang mengonfirmasi bahwa satwa tersebut semakin sering terlihat selama kemarau dan karhutla massif terjadi di sekitar area tersebut.

    “Warga mendokumentasikan individu orangutan pada Rabu lalu di dekat pondok. Namun dari foto tersebut, individu yang terlihat diduga kuat jantan dewasa. Dipadukan dengan laporan warga yang melihat induk dan anak, besar kemungkinan terdapat 3 individu yang terisolasi di lokasi tersebut,” jelas Muriansyah, Sabtu (3/10/2026).

    BKSDA Temukan Belasan Sarang di Zona Kepungan Api

    Petugas kemudian membagi personel menjadi dua regu untuk menyisir kebun karet seluas 4 hektare tersebut. Meski ketiga individu orangutan tidak berjumpa fisik saat penyisiran berlangsung, tim menemukan bukti otentik berupa belasan sarang orangutan di atas pohon, termasuk dua di antaranya merupakan sarang Kelas A (sarang segar).

    Penemuan belasan sarang tersebut, dipadukan dengan kondisi sekeliling kebun karet yang hangus bekas terbakar dan tebalnya kepulan asap aktif dari karhutla di ekosistem gambut sekitarnya, memperkuat dugaan bahwa habitat asli orangutan telah hancur. Aktivitas pembakaran dan asap pekat memaksa satwa merangsek ke kebun warga demi menyelamatkan diri.

    BKSDA Pos Sampit mengimbau keras warga untuk tidak melukai atau mengusir satwa secara anarkis, serta segera melapor ke petugas jika orangutan kembali muncul agar proses evakuasi darurat (rescue/translocation) dapat segera dieksekusi.

    Terusirnya satu keluarga orangutan ke Baamang Hulu menjadi pukulan telak atas kepunahan biodiversitas akibat ambisi land clearing ilegal dan karhutla. Ketika hutan gambut di zona penyangga Jalan Ir. Soekarno terbakar habis, orangutan terperangkap di pulau-pulau vegetasi tersisa di tengah kepungan asap dan api, memicu risiko kematian akibat ISPA parah atau konflik fatal dengan manusia.

     BKSDA Kalteng bersama tim medis konservasi diharapkan harus segera menggelar operasi evakuasi darurat untuk translokasi tiga individu orangutan ini ke zona konservasi aman sebelum satwa tewas atau konflik pecah.

    Sementara itu, Pemkab Kotim dan penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut terbakar di sepanjang Lingkar Utara guna mencegah adanya oknum spekulan yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah alih fungsi lahan ilegal. (***)

  • Hiswana Migas Serahkan 12 Mesin Pompa dan Sarpras Pemadam untuk Penanganan Karhutla di Kotim

    Hiswana Migas Serahkan 12 Mesin Pompa dan Sarpras Pemadam untuk Penanganan Karhutla di Kotim

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kepedulian terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diwujudkan DPP Hiswana Migas bersama DPC Hiswana Migas Sampit melalui penyerahan bantuan sarana dan prasarana pemadam kepada BPBD Kotim serta relawan yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla.

    Bantuan tersebut terdiri dari 12 unit mesin pompa air beserta 12 unit selang pemadam dan perlengkapan pendukung lainnya.

    Peralatan itu diharapkan dapat memperkuat kemampuan petugas dan relawan dalam menyuplai air menuju lokasi kebakaran, terutama ketika titik api berada jauh dari sumber air.

    Ketua DPC Hiswana Migas Sampit, Axcel Arfriando Narang, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus komitmen organisasi untuk ikut mengambil bagian dalam penanganan bencana karhutla yang terjadi di Kotim, Katingan dan Seruyan yang mencakup wilayah kerja DPC Hiswana Migas Sampit.

    ”Kami menyadari bahwa penanganan karhutla bukan hanya tugas pemerintah dan aparat, melainkan tanggung jawab bersama,” ujar Axcel, Rabu (23/9/2026).

    Menurutnya, penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah dan aparat. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan masyarakat, diperlukan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan lebih cepat.

    Ia berharap bantuan peralatan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petugas maupun relawan yang berada di garis depan pemadaman.

    ”Melalui bantuan ini, kami berharap dapat mempercepat proses pemadaman titik api dan meminimalkan dampak kabut asap yang mengganggu kesehatan serta aktivitas ekonomi masyarakat Sampit,” katanya.

    Selain menyerahkan bantuan, Hiswana Migas juga mengajak masyarakat dan pelaku usaha meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

    Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitar.

    Bantuan dari DPP, Disalurkan ke Tiga Kabupaten

    Bendahara Hiswana Migas Sampit, Yusran, menjelaskan bantuan tersebut merupakan bagian dari arahan DPP Hiswana Migas di tingkat pusat untuk ikut membantu penanganan karhutla di wilayah yang terdampak.

    Penyerahan dilakukan di Kantor Hiswana Migas Sampit, Jalan Bamang Hulu. Selain Kotim, bantuan juga diarahkan untuk membantu penanganan karhutla di Kabupaten Katingan dan Seruyan.

    ”Kami mendapat arahan dari organisasi di tingkat DPP pusat untuk menyalurkan bantuan penanganan karhutla, khususnya di Kabupaten Kotawaringin Timur,” kata Yusran.

    Untuk Kotim, bantuan diserahkan kepada BPBD Kotim sebagai salah satu unsur yang menangani penanggulangan bencana. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan operasional pemadaman di lapangan.

    ”Kami menyerahkan bantuan 12 mesin pompa dan peralatan pendukung lainnya untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur,” ujarnya.

    Ia berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat nyata dalam menghadapi karhutla yang masih terjadi.

    ”Mudah-mudahan dengan bantuan ini, bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur dapat segera berlalu. Kami juga berharap musim hujan segera hadir, khususnya di Kotawaringin Timur,” ujar Yusran.

    Distribusi BBM dan LPG Tetap Berjalan

    Wakil Ketua Bidang LPG Hiswana Migas, Retia Arnofah, menambahkan bahwa kondisi karhutla dan kabut asap juga menjadi perhatian organisasi karena aktivitas anggota Hiswana Migas berkaitan langsung dengan kebutuhan energi masyarakat.

    Meski demikian, sejauh ini kegiatan anggota Hiswana Migas masih dapat berjalan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) serta LPG tetap diupayakan berlangsung normal.

    ”Kami prihatin dengan keadaan saat ini. Kami dari Hiswana Migas memang tidak dapat turun langsung ke lapangan seperti para petugas, tetapi bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada petugas dan relawan di Kota Sampit, khususnya,” ujar Retia.

    Ia mengatakan, dukungan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Hiswana Migas sesuai kapasitas organisasi, sementara pekerjaan pemadaman secara langsung tetap dilakukan oleh petugas dan relawan di lapangan.

    ”Sementara ini masih dapat diatasi dan kegiatan tetap berjalan normal. Kami dari Hiswana Migas terus mengupayakan distribusi BBM dan LPG tetap berjalan karena itu merupakan kebutuhan masyarakat,” katanya.

    Retia juga menegaskan kembali bahwa DPC Hiswana Migas Sampit memiliki wilayah kerja yang mencakup tiga kabupaten.

    ”DPC Hiswana Migas Sampit berkedudukan di Sampit dan mencakup tiga wilayah, yakni Kabupaten Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Katingan. Karena itu, bantuan ini insyaallah akan disebarkan ke tiga wilayah tersebut,” tutur Retia.

    Dengan cakupan tersebut, penyaluran sarana pemadam diharapkan tidak hanya membantu kebutuhan penanganan di satu lokasi, tetapi dapat mendukung upaya penanggulangan karhutla di wilayah lain yang menjadi bagian dari cakupan kerja DPC Hiswana Migas Sampit.

    Relawan Masih Andalkan Swadaya, Mesin Portabel Sangat Dibutuhkan

    Dukungan tersebut mendapat apresiasi dari relawan yang selama ini terlibat langsung dalam pemadaman karhutla di lapangan.

    Perwakilan Relawan Damkar Ketapi III, Dani, mengatakan bantuan mesin, selang, dan perlengkapan pemadam sangat berarti karena kebutuhan peralatan di lapangan masih cukup besar.

    Selama ini, sebagian kebutuhan operasional bahkan masih dipenuhi secara swadaya oleh para relawan.

    ”Saat ini, kebutuhan mesin masih banyak dipenuhi secara swadaya. Artinya, kami bersama rekan-rekan terkadang patungan untuk membeli selang ataupun perlengkapan lainnya,” ucap Dani.

    Dani mengungkapkan, saat ini kelompok relawan yang diwakilinya memiliki tiga unit mesin. Jumlah tersebut belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan ketika harus menangani beberapa lokasi atau titik api dengan kondisi medan yang berbeda.

    ”Untuk mesin, saat ini kami memiliki tiga unit,” katanya.

    Salah satu persoalan yang dihadapi relawan adalah jarak sumber air yang cukup jauh dari lokasi lahan terbakar. Kondisi tersebut membuat keberadaan mesin pompa portabel menjadi penting untuk mempercepat penyediaan air ke titik pemadaman.

    ”Bisa dikatakan masih kurang. Saat ini titik sumber air cukup jauh. Selain itu, mesin portabel sangat dibutuhkan untuk menyuplai air dari tangki langsung menuju lokasi lahan yang terbakar,” jelasnya.

    Dengan tambahan peralatan tersebut, relawan memiliki dukungan lebih untuk menghadapi kondisi lapangan yang membutuhkan mobilitas dan penyediaan air secara cepat.

    ”Alhamdulillah, dengan adanya bantuan ini kami sangat terbantu, karena peralatan damkar sangat diperlukan untuk menunjang operasional di lapangan,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Misteri Bekantan Mati di Ujung Pandaran: BKSDA Buka Suara, Penyebabnya Masih Gelap

    Misteri Bekantan Mati di Ujung Pandaran: BKSDA Buka Suara, Penyebabnya Masih Gelap

    ​SAMPIT , Kanalindependen.id – Kematian seekor bekantan (Nasalis larvatus) di kawasan wisata Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menyisakan teka-teki besar. Satwa endemik Kalimantan yang dilindungi undang-undang tersebut ditemukan mati membusuk, sementara penyebab pasti hilangnya nyawa satwa tersebut hingga kini masih gelap.

    ​Informasi kematian satwa berhidung panjang ini mencuat setelah rekaman video bangkai bekantan beredar luas di media sosial. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit bergerak menelusuri laporan tersebut sejak Senin (21/9/2026).

    ​Bangkai bekantan pertama kali ditemukan pada Minggu (20/9/2026) sore oleh Indra, petugas penjaga kawasan wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim. Saat ditemukan, kondisi bangkai sudah tidak segar, mengalami pembusukan tingkat lanjut, berbelatung, serta mengeluarkan bau menyengat.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menjelaskan bahwa lantaran bangkai telah dikuburkan oleh petugas di lokasi dan pemeriksaan awal hanya bersandar pada dokumentasi video, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik yang jelas.

    ​“Dari video yang kami periksa, tidak terlihat luka akibat jerat ataupun bekas benda tajam. Kondisinya memang sudah membusuk ketika ditemukan. Untuk penyebab kematiannya masih belum bisa kami pastikan, apakah karena faktor alam, sakit, atau hal lainnya,” ungkap Muriansyah, Selasa (22/9/2026).


    ​Fakta lain terungkap saat BKSDA mencocokkan fisik bangkai dengan rekaman video bekantan yang beberapa pekan terakhir kerap muncul menyapa pengunjung di objek wisata Ujung Pandaran. Hasil identifikasi memastikan bahwa bekantan yang mati merupakan individu yang berbeda.

    ​Perbedaan fisik terlihat mencolok pada ukuran tubuh dan bentuk hidung, di mana individu yang kerap terekam sebelumnya memiliki postur tubuh jauh lebih besar serta hidung yang lebih panjang. Temuan ini sekaligus menepis spekulasi publik bahwa bekantan langganan pengunjung Ujung Pandaran tersebut telah tewas.

    ​BKSDA Sampit mengimbau pengelola kawasan wisata dan pengunjung untuk tidak memberikan makanan (feeding) kepada satwa liar yang muncul di area pantai. Praktik pemberian makan dikhawatirkan mengubah perilaku alami satwa, memicu ketergantungan pada manusia, serta meningkatkan risiko penularan penyakit (zoonosis) maupun konflik interaksi.

    ​Kematian bekantan di Ujung Pandaran—terlepas dari belum pastinya pemicu utama—menjadi peringatan keras atas rentannya interaksi antara aktivitas pariwisata massal dan habitat alami satwa liar. Terlebih di tengah situasi karhutla Kotim yang merusak vegetasi pesisir Teluk Sampit, perubahan perilaku satwa dan ancaman gangguan lingkungan wajib diantisipasi dengan penanganan konservasi yang terukur.

    ​BKSDA Sampit diharapkan bisa berkonsultasi dengan dokter hewan guna mengetahui kepastian pemicu kematian.

    Di sisi lain, pengelola wisata Ujung Pandaran wajib memasang papan larangan memberi makan satwa serta menyiagakan petugas pengawas guna mencegah potensi konflik manusia dan satwa liar.(***)

  • Merawat Damai Bumi Tambun Bungai, Yanto E Saputra Pimpin Forum Kebangsaan Kalteng

    Merawat Damai Bumi Tambun Bungai, Yanto E Saputra Pimpin Forum Kebangsaan Kalteng

    PALANGKA RAYA, kanalindependen.id – Gesekan kepentingan sektoral dan potensi konflik akar rumput menjadi bayang-bayang yang melatarbelakangi lahirnya konsolidasi 93 organisasi masyarakat di Kalimantan Tengah.

    Guna memutus celah letupan tersebut, elemen-elemen ini menggelar Musyawarah Besar (Mubes) I Forum Kebangsaan di Hotel Aurila Palangka Raya, Minggu (6/9/2026), yang berujung pada mandat bagi Yanto E. Saputra sebagai Koordinator terpilih.

    Mencegah Letupan Ego Sektoral

    Wadah ini lahir dari inisiatif akar rumput. Ketua Dewan Pengarah, Brigjen Pol (Purn) Andreas Wayan Wicaksono, membedah alasan utama pendirian forum tersebut.

    Kesadaran kolektif untuk merawat kedamaian menjadi landasannya. Konsolidasi ini didesain guna mencegah gesekan antar-elemen yang rawan tersulut ego sektoral maupun ragam kepentingan.

    ”Kita punya latar belakang sejarah yang mengajarkan bahwa konflik dan kerusuhan hanya membawa kerugian bagi semua pihak. Forum ini kita bangun dari bawah (bottom-up), dari akar rumput secara mandiri, layaknya pohon yang tumbuh kuat dari akarnya agar bisa menjadi tempat berteduh yang aman bagi siapa saja,” tegas Andreas saat membuka acara.

    Memosisikan suku Dayak sebagai tuan rumah, Andreas menilai nilai-nilai luhur Huma Betang mampu menjadi perekat keberagaman etnis dan paguyuban.

    Pendekatan kultural ini turut menentukan sistem kepemimpinan forum yang menghindari model hierarki kaku.

    ”Di forum ini tidak ada istilah ‘ketua di atas ketua’. Yang kita pilih adalah seorang Koordinator, di mana fungsinya adalah merangkul dan mengoordinasikan seluruh pengurus serta ormas untuk merumuskan kegiatan yang mendukung kebijakan pemerintah, menjaga ketertiban, dan mengawal keamanan,” jelasnya.

    Transisi Cepat, Mandat Baru

    Proses menemukan figur koordinator baru bergulir pasca-berpulangnya koordinator sebelumnya, almarhum Adi Abdian Noor.

    Ketua Panitia Mubes, Tomu Sibarani, menyebut pergerakan panitia dilakukan sesuai kesepakatan dewan pembina dan pengurus demi menjaga keberlanjutan organisasi.

    ”Panitia bekerja dengan cepat, tepat, dan terus berkoordinasi dengan seluruh elemen, baik dari unsur pemerintah, masyarakat, maupun akademisi. Dari data yang ada, terdapat 93 ormas yang memiliki hak suara dan dapat melakukan pemungutan suara (voting) apabila diperlukan dalam dinamika Mubes nantinya,” ujar Tomu Sibarani.

    Membawa slogan “Bersatu, Damai, dan Bermanfaat”, Tomu memproyeksikan forum kebangsaan sebagai ruang kolaborasi strategis antara masyarakat dan pemangku kebijakan.

    ”Ormas adalah mitra kritis dari pemerintah daerah. Kami berharap melalui forum ini, narasi akademis dan tata kelola administratif organisasi semakin diperkuat,” imbuh Tomu.

    Kini, mandat kepemimpinan beralih ke tangan Yanto E. Saputra. Bersama tim formatur, koordinator terpilih ini memikul tanggung jawab merumuskan langkah strategis dan menyusun Peraturan Forum sebagai haluan organisasi.

    Dukungan terhadap mandat kepemimpinan ini langsung mengalir pasca-pemilihan. Ketua Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (KMHA) Dayak Kalimantan Tengah Erko Mojra turut memberikan pernyataan resmi menyambut hasil musyawarah tersebut.

    ”Selamat dan sukses kepada Yanto Eko yang terpilih sebagai Koordinator Forum Kebangsaan Ormas Kalteng pada Musyawarah Besar Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban dan Kerukunan Kalimantan Tengah yang menaungi atau sebagai tempat berhimpunnya 90 (sembilan puluh) Ormas, Paguyuban dan Kerukunan Se Kalimantan Tengah,” ucap Erko.

    Apresiasi serupa juga datang dari Ketua Koordinator Damang se-Kalteng, Wawan Embang, yang turut menyambut baik hasil konsolidasi tersebut.

    ”Selamat dan sukses untuk Yanto E. Saputra sebagai Koordinator Umum Forum Kebangsaan Ormas Kalteng,” tuturnya.

    Seperti pesan Andreas sebelum sidang ditutup, seluruh elemen didorong menekan kepentingan pribadi demi menjaga harmoni kolektif. (ign)

  • Logo Baru Instagram Bikin Salah Baca, Mirip Kesalahan Visual AI

    Logo Baru Instagram Bikin Salah Baca, Mirip Kesalahan Visual AI

    Kanalindependen.id  – Instagram memperbarui tampilan wordmark atau logo berbentuk tulisan yang selama ini menjadi bagian dari identitas visual platform tersebut. Namun, perubahan itu justru memicu kritik karena desain barunya dinilai sulit dibaca.

    Sekilas, tulisan Instagram pada wordmark baru bahkan dapat membuat orang salah mengenali beberapa huruf. Kritik terhadap desain tersebut kemudian dikaitkan dengan fenomena yang sering muncul pada gambar buatan kecerdasan buatan (AI).

    Kesalahan seperti huruf yang bentuknya tidak jelas, susunan karakter yang terasa janggal, atau tulisan yang hampir benar tetapi sulit dibaca merupakan salah satu ciri yang pernah banyak ditemukan pada gambar hasil AI generatif.

    Karena itu, desain baru Instagram dinilai ironis. Logo tersebut dibuat untuk memperbarui identitas visual agar terlihat lebih modern, tetapi sebagian orang justru melihat kemiripannya dengan kesalahan visual yang biasa ditemukan pada konten AI.

    Persoalan utamanya bukan karena Instagram disebut menggunakan AI untuk membuat logo tersebut. Kritik lebih mengarah pada hasil akhirnya yang dianggap memiliki karakter visual serupa dengan kesalahan tipografi pada gambar generatif AI.

    Perubahan paling terasa terlihat pada bentuk sejumlah huruf dalam kata Instagram. Gaya huruf yang lebih khas membuat beberapa karakter tidak langsung dikenali ketika dibaca sekilas.

    Hal itu berbeda dengan wordmark sebelumnya yang menggunakan bentuk tulisan kursif dan relatif mudah dikenali. Meski desain lama juga telah berusia cukup lama, nama Instagram tetap terbaca jelas.

    Pembaruan wordmark merupakan bagian dari upaya Instagram menyegarkan identitas visualnya. Platform tersebut mempertahankan sejumlah elemen yang sudah melekat pada mereknya, tetapi memberikan sentuhan baru pada bentuk tulisan.

    Namun, desain logo memiliki satu fungsi dasar yang sulit diabaikan, yaitu membuat sebuah nama mudah dikenali. Ketika bentuk huruf justru membuat pembaca harus berhenti untuk memastikan kata yang dilihat, penyegaran visual dapat berubah menjadi persoalan keterbacaan.

    Kritik terhadap logo baru Instagram akhirnya memperlihatkan persoalan yang lebih luas dalam desain digital. Tampilan yang semakin eksperimental belum tentu lebih efektif jika mengorbankan kejelasan.

    Dalam kasus Instagram, logo baru yang dimaksudkan tampil lebih modern justru membuat sebagian orang bertanya-tanya apakah mereka benar-benar sedang membaca kata “Instagram”.

    Di tengah maraknya penggunaan AI generatif, kemunculan desain yang menyerupai kesalahan visual AI juga menjadi ironi tersendiri. Teknologi AI terus berusaha memperbaiki kemampuan menghasilkan teks dan bentuk yang presisi, sementara sebuah identitas merek justru dikritik karena menghasilkan efek visual yang mengingatkan orang pada kesalahan tersebut. (***)

  • Manggala Agni Tembus Gambut 24 Meter di Baamang, Solusi Kelangkaan Air Pemadaman Karhutla

    Manggala Agni Tembus Gambut 24 Meter di Baamang, Solusi Kelangkaan Air Pemadaman Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kesulitan mengakses sumber air di tengah ganasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tanah gambut membuat tim pemadam harus memutar otak. Guna memastikan pasokan air tak pernah terputus, Manggala Agni merintis pembuatan sumur bor manual di titik-titik rawan bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Langkah taktis ini salah satunya direalisasikan di kawasan Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di sekitar pintu masuk Sagonta Kota, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Sampit.

    Komandan Daerah Operasi (Daops) Pangkalan Bun Seksi Wilayah III Kalsel-Teng, Binsar Oktavianus Togatorop, menegaskan bahwa krisis air di lapangan selama ini menjadi penghambat utama proses pemadaman lahan gambut sehingga api kerap menyala kembali.

    “Sumur bor ini dibuat karena wilayah Baamang kesulitan akses air untuk pemadaman karhutla. Hal ini juga yang mengakibatkan pemadaman api di lahan gambut sering tidak tuntas,” ungkap Binsar Oktavianus Togatorop saat memberikan keterangannya.

    Penetapan kawasan Baamang sebagai lokasi prioritas pembuatan fasilitas penyuplai air ini didasari pertimbangan posisi geografisnya yang sangat krusial dan berdampak langsung pada fasilitas publik vital.

    “Atensinya di wilayah Baamang dulu karena dekat dengan akses jalan Trans Kalimantan dan alur penerbangan Bandara, jadi ini yang prioritas utama,” tegas Binsar.

    Proses pengeboran manual yang ditempuh jajaran Manggala Agni kini telah menembus kedalaman 24 meter di bawah permukaan gambut. Meski baru dibangun di satu titik uji coba, sumur bor tersebut sudah mulai menyemburkan air bersih.

    “Sumur bor yang dibuat saat ini masih satu titik dan sudah menghasilkan air meski debitnya belum maksimal. Harapannya, seluruh petugas pemadam kebakaran dan BPBD nantinya bisa langsung mengakses air di sini tanpa harus berputar jauh mencari titik pengisian tangki,” tuntasnya.

    Keberadaan sumur bor mandiri seluas 24 meter ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mempercepat respons (response time) satgas pemadam karhutla di sektor perkotaan Sampit, sekaligus memutus rantai rembetan api gambut yang membahayakan transportasi darat dan udara.

    💡 Analisis Kanal Independen: Terobosan Sumur Bor Gambut dan Urgensi Replikasi Massal di Kotim ⚖️

    Inisiatif Manggala Agni membuat sumur bor manual seluas 24 meter di Baamang Hulu adalah solusi rekayasa lapangan yang sangat tepat sasaran (problem-solving) untuk mengatasi kelemahan mendasar mitigasi karhutla di Sampit. Selama ini, armada damkar kerap membuang waktu kritis (golden time) hanya untuk mengantre atau memburu parit air yang mengering saat musim kemarau.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan kebijakan lingkungan yang sangat tajam:

    1. Replikasi Massal Sumur Bor oleh BPBD dan Pemkab Kotim: Keberhasilan pengeboran 24 meter di Sagonta Kota wajib dijadikan cetak biru (blueprint). Pemkab Kotim melalui dana alokasi Bencana Karhutla didesak memperbanyak titik sumur bor darurat di seluruh kecamatan rawan karhutla, seperti Seranau, Mentawa Baru Ketapang, dan Kota Besi.
    2. Standardisasi Hydrant Gambut untuk Armada Gabungan: Titik sumur bor yang telah berfungsi wajib dilengkapi dengan penanda visual, pompa high-pressure, serta konektor selang berstandar nasional agar dapat diakses secara instan oleh seluruh unsur Satgas, baik Pemadam Swakarsa, BPBD, maupun TNI/Polri saat kondisi darurat.

    Inovasi air darurat adalah kunci memadamkan bara gambut hingga ke akar-akarnya! Manggala Agni buat sumur bor di Baamang! Perbanyak titik pasokan air untuk amankan Bandara dan Trans Kalimantan! (***)

  • Geger Buaya Dua Meter Menganga di Atas Lanting Padas

    Geger Buaya Dua Meter Menganga di Atas Lanting Padas

    Menjadi Isyarat Nyata Kerusakan Ekosistem Sungai Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kedamaian warga di kawasan pedalaman Kecamatan Parenggean mendadak terguncang oleh tontonan mistis sekaligus mengerikan. Seekor reptil raksasa berukuran cukup besar secara mengejutkan ditemukan tergeletak pasrah di atas lanting (dermaga apung) milik warga di Desa Padas, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Kamis siang (9/7/2026). Fenomena ganjil ini memperlihatkan sang predator air tawar berada dalam posisi diam membatu dengan kondisi mulut terbuka lebar menganga ke langit.

    Misteri Predator Tak Bergerak yang Mengguncang Jagat Maya Warga Parenggean

    Kemunculan satwa berdarah dingin ini sontak menjadi magnet perhatian masyarakat di sepanjang bantaran sungai. Puluhan warga berdatangan memadati lokasi tapak untuk menyaksikan dari dekat penampakan tidak biasa tersebut. Sebagian besar di antaranya langsung memanfaatkan momentum menegangkan ini untuk merekam and mengabadikan sang buaya melalui kamera ponsel hingga sirkuit rekaman videonya beredar viral and memicu kehebohan di berbagai jejaring media sosial.

    Dalam visualisasi rekaman yang tersebar luas, buaya tersebut sama sekali tidak menunjukkan respons sensorik atau pergerakan defensif sedikit pun, meskipun posisinya berada di area terbuka yang sangat mudah dijangkau oleh sirkuit aktivitas manusia. Absennya pergerakan agresif ini memicu spekulasi and dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa sang predator ganas tersebut sesungguhnya telah mati.

    Testimoni BKSDA Kalteng and Peringatan Zona Merah Tiga Aliran Sungai Besar

    Otoritas perlindungan satwa liar segera merespons kehebohan publik ini. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resorrt Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil pengamatan visual awal, reptil bertubuh besar tersebut diduga kuat memang sudah dalam kondisi tidak bernyawa saat pertama kali ditemukan terdampar di atas lanting.

    “Sepertinya buaya sudah mati. Tidak menyerang warga saat didekati,” urai Muriansyah saat memberikan keterangan resmi mengenai status awal satwa tersebut pada Jumat (10/7/2026).

    Muriansyah memaparkan analisis biologis bahwa apabila satwa air ini masih dalam kondisi hidup and memiliki energi normal, mereka dipastikan akan memberikan reaksi spontan saat mendeteksi kehadiran manusia di radius dekat. Reaksi alami predator tersebut umumnya terbagi dalam dua sirkuit tindakan taktis, yakni melancarkan serangan balik yang agresif untuk mempertahankan teritori atau memilih menghindar dengan menceburkan diri kembali ke dalam sirkuit air sungai.

    Berdasarkan sirkuit identifikasi morfologi sementara, satwa yang menggegerkan warga Padas ini merupakan jenis buaya muara (Crocodylus porosus) dengan estimasi panjang tubuh mencapai sekitar dua meter. Kendati ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, BKSDA Kalteng memberikan peringatan keras bahwa peristiwa ini sama sekali tidak boleh dijadikan pembenaran bagi masyarakat untuk melonggarkan kewaspadaan. Mati atau hilangnya satu ekor buaya tidak menjadi jaminan bahwa sirkuit perairan tersebut telah steril dari keberadaan koloni buaya muara lainnya.

    Guna menekan potensi fatalitas konflik satwa and manusia di masa mendatang, BKSDA merilis panduan mitigasi darurat bagi warga: Kewaspadaan Tiga DAS Besar: Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Mentaya, Sungai Cempaga, and Sungai Tualan diminta melipatgandakan kesiapsiagaan. Sirkuit Hunting Malam Hari: Warga dilarang lengah terutama saat beraktivitas pada malam hari karena waktu tersebut merupakan sirkuit aktif bagi buaya untuk berburu pakan. Sterilisasi Bantaran dari Ternak: Warga diimbau keras tidak memelihara hewan ternak di tepi sungai karena aromanya memicu insting predator untuk mendekati pemukiman. Stop Pembuangan Bangkai: Larangan keras membuang bangkai binatang ke aliran sungai guna memutus rantai umpan yang mengundang satwa liar. Larangan Kontak Fisik Mandiri: Warga dilarang keras menyentuh atau mengevakuasi mandiri satwa liar yang ditemukan diam, and diwajibkan segera melapor ke pos petugas berwenang demi keselamatan sirkuit publik. 

    Terterdamparnya seekor buaya muara sepanjang dua meter dalam kondisi mati dengan mulut menganga di atas lanting pemukiman Desa Padas bukan sekadar fenomena mistis atau tontonan viral biasa, melainkan sebuah jeritan ekologis otentik yang membongkar hancurnya sirkuit habitat alami di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kotim. Buaya muara adalah predator puncak yang memiliki sirkuit teritori sangat ketat and cenderung menghindari kontak langsung dengan peradaban manusia jika ruang hidupnya melimpah. Fakta bahwa bangkai predator ini harus berakhir di atas fasilitas domestik warga membuktikan bahwa ruang sungai telah mengalami degradasi parah, penyusutan pakan alami, and pencemaran sirkuit air yang akut akibat masifnya ekspansi industri serta pembukaan lahan di hulu.

    Kanal Independen memberikan catatan investigatif yang tajam terhadap pola mitigasi pasif yang selama ini diadopsi. Imbauan klasik BKSDA yang meminta warga untuk tidak memelihara ternak and tidak membuang bangkai ke sungai adalah bentuk pembebanan tanggung jawab hulu ke tingkat tapak masyarakat, tanpa menyentuh akar masalah yang sebenarnya. Mengapa warga masih membuang bangkai and memelihara ternak di tepi sungai? Karena Pemkab Kotim and dinas terkait gagal menyediakan infrastruktur tata kelola sampah and zonasi peternakan yang layak di wilayah pedalaman seperti Parenggean!

    Lebih jauh lagi, kematian buaya dua meter ini menyisakan misteri besar yang harus diusut secara forensik oleh BKSDA and penegak hukum lingkungan. Apakah buaya ini mati karena faktor usia, keracunan limbah industri yang mencemari sirkuit Sungai Tualan, atau justru merupakan korban dari tindakan perburuan and pembantaian rahasia (illegal culling) oleh pihak-pihak yang merasa terganggu?

    BKSDA Kalteng tidak boleh sekadar datang, mencatat estimasi panjang, lalu menutup kasus dengan selembar kertas rilis imbauan. Lakukan autopsi menyeluruh terhadap bangkai buaya Padas, petakan kembali sirkuit populasi buaya di Sungai Mentaya, Cempaga, and Tualan secara transparan, serta tindak tegas korporasi perusak sempadan sungai! Jika otoritas terkait terus menutup mata terhadap hancurnya rumah alami para predator ini, maka di sisa tahun 2026 ini, konflik berdarah antara buaya lapar and warga Kotim di sepanjang sirkuit sungai tradisional akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. (***)

  • Lonjakan Ugal-ugalan Harga Sembako di Awal Juli Memaksa Konsumen Sampit Memangkas Belanjaan

    Lonjakan Ugal-ugalan Harga Sembako di Awal Juli Memaksa Konsumen Sampit Memangkas Belanjaan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Tekanan ekonomi di tingkat domestik kian menghimpit ruang gerak masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki pekan kedua Juli 2026. Semburan harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Sampit dilaporkan mengalami lonjakan gila-gilaan and tidak terkendali. Berdasarkan pantauan riil di tingkat tapak, penyesuaian harga sepihak dari koridor pemasok hulu kini memaksa para konsumen mengambil langkah ekstrem dengan memangkas volume belanjaan harian mereka secara drastis demi menyiasati keterbatasan anggaran dapur.

    Daftar Kenaikan Harga Sembako di Pasar Al Kamal yang Kian Mencekik

    Sirkuit transaksi di salah satu pasar tradisional di Sampit pada Rabu (8/7/2026) merekam potret lesunya aktivitas jual beli. Meskipun perputaran barang tetap berjalan normal, para pedagang mengeluhkan kemerosotan daya beli masyarakat karena konsumen memilih selektif and mengurangi kuantitas belanjaan mereka secara masif.

    Manifes pergerakan harga komoditas pangan and hortikultura di pasar tradisional:

    • Terong: Mencatat lonjakan paling radikal, melejit dari harga semula Rp15 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram atau mengalami kenaikan sebesar Rp10 ribu dalam waktu singkat.
    • Beras Kemasan (5 Kilogram): Komoditas karbohidrat utama ini ikut terkerek naik dari harga Rp80 ribu—Rp88 ribu menjadi Rp90 ribu hingga Rp97 ribu per kemasan, hampir menembus angka seratus ribu rupiah.
    • Bawang Putih: Mengalami eskalasi harga yang cukup tinggi, dari sebelumnya dijual kisaran Rp35 ribu—Rp40 ribu kini bertengger kokoh di angka Rp45 ribu per kilogram.
    • Bawang Merah: Masih terjebak dalam tren fluktuasi yang tidak stabil and cenderung mahal, dipatok pada kisaran Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

    “Harga barang pokok ini rata-rata naik karena kami mengikuti harga dari pemasok hulu. Kalau harga dari distributor sana sudah naik, otomatis harga jual kami di pasar juga ikut naik. Akibatnya banyak pembeli yang protes and memilih mengurangi jumlah timbangan belanjaan mereka,” urai Dina, salah seorang pedagang sayur di Pasar Al Kamal.

    Data Inflasi Sebagai Pembanding Nyata Lonjakan Harga Bulan Ini

    Pahitnya lonjakan harga sembako di awal Juli ini terasa jauh lebih menekan jika dikomparasikan dengan kondisi bulan sebelumnya. Berdasarkan manifes data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur, angka inflasi tahunan (year-on-year) Kota Sampit pada Juni 2026 sebenarnya sudah bertengger di level tinggi sebesar 4,02 persen, dengan inflasi bulanan (month-to-month) Juni sebesar 0,28 persen.

    Namun, Kepala BPS Kotim Eddy Surahman menjelaskan bahwa pemicu utama inflasi pada Juni lalu didominasi oleh kelompok non-pangan, seperti kenaikan harga emas perhiasan, fluktuasi Bahan Bakar Minyak (BBM), serta mahalnya tarif angkutan udara. Bahkan pada periode Juni tersebut, beberapa komoditas pangan esensial seperti cabai rawit, bawang merah, and tomat sempat mencatat penurunan harga (deflasi) yang memberikan sedikit napas lega bagi warga.

    Sirkuit infleksi ini berbalik arah secara ugal-ugalan saat memasuki siklus Juli. Penurunan harga pangan di bulan lalu terbukti hanya menjadi ilusi sesaat. Begitu kalender bergeser ke bulan Juli, benteng harga pangan langsung jebol beruntun, dipimpin oleh beras and kelompok hortikultura yang harganya melonjak melampaui batas kewajaran komparasi bulan lalu akibat dinamika pasokan distributor.

    Meroketnya harga beras and kelompok sayuran seperti terong hingga memaksa emak-emak di Sampit memangkas belanjaan adalah bukti nyata dari rapuhnya ketahanan pangan and mandulnya pengawasan tata niaga di Kotim. Alasan klasik mengenai “perubahan pasokan dari distributor” yang selalu diproduksi berulang kali adalah indikasi kuat bahwa sirkuit distribusi pangan di Sampit telah total disandera oleh gurita kartel spekulan yang mendikte pasar secara sepihak. Sangat memalukan melihat komoditas lokal sekelas terong and sayuran harganya harus melonjak hingga Rp25 ribu per kilogram hanya karena kelengahan pemerintah daerah dalam mengamankan sirkuit pasokan lokal di awal kemarau ini.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis and tajam terhadap kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim. Ketika harga beras kemasan 5 kilogram sudah merayap naik mendekati Rp100 ribu, ini bukan lagi sekadar dinamika pasar biasa, melainkan sinyal bahaya pengetatan perut rakyat miskin Sampit. TPID and Dinas Perdagangan tidak boleh hanya bersikap pasif and berlindung di balik data statistik bulanan BPS.

    Lakukan intervensi radikal ke lapangan sekarang juga. Audit gudang-gudang penyimpanan milik distributor besar di wilayah Kotim, potong jalur tengkulak nakal yang sengaja menahan pasokan untuk memicu kelangkaan buatan, and gelar operasi pasar murah sembako secara masif di tingkat kelurahan.

    Jika tata niaga pangan ini dibiarkan berjalan tanpa adanya tindakan represif and sanksi pencabutan izin usaha bagi distributor ugal-ugalan, maka daya beli masyarakat Sampit akan terus diperas habis and warga kelas bawah dipaksa kelaparan di tengah kemilau tingginya harga pasar. (***)