Kategori: Humaniora

  • Ancaman Dua Wabah Kemarau Mengintai Kotim: Dinkes Siagakan Masker dan Obat-Obatan di Tengah Risiko Lonjakan Kasus ISPA serta Diare

    Ancaman Dua Wabah Kemarau Mengintai Kotim: Dinkes Siagakan Masker dan Obat-Obatan di Tengah Risiko Lonjakan Kasus ISPA serta Diare

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Perubahan siklus cuaca di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya membawa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan juga mulai memicu krisis kesehatan masyarakat. Seiring dengan datangnya musim kemarau yang membuat udara semakin panas dan kering, potensi merebaknya berbagai jenis penyakit infeksi kini berada pada level yang sangat diwaspadai. Dinas Kesehatan Kotim secara rigid menempatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare sebagai dua momok penyakit utama yang paling mengancam ketenteraman warga di tingkat tapak.

    Prediksi Kemarau Panjang BMKG and Risiko Gangguan Pernapasan

    Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, membeberkan bahwa berdasarkan manifes prakiraan cuaca dari BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung dalam durasi yang lebih panjang dengan paparan suhu udara yang jauh lebih panas. Kondisi ekstrem tersebut dipastikan bakal berdampak destruktif pada sirkuit kesehatan masyarakat apabila tidak dilakukan langkah mitigasi taktis sejak dini.

    Kombinasi antara parameter udara yang kering, debu jalanan yang beterbangan, hingga potensi kepulan asap pekat akibat karhutla dinilai menjadi motor penggerak utama yang memperbesar risiko gangguan saluran pernapasan pada warga.

    Di sisi lain, menyusutnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah pelosok juga menjadi pemicu utama di balik merangkaknya kasus diare, terutama jika higienitas makanan dan sirkuit sanitasi lingkungan tidak dijaga secara ketat oleh masyarakat.

    “Biasanya saat musim kemarau kasus diare dan ISPA mengalami peningkatan. Karena itu masyarakat perlu lebih memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta menjaga daya tahan tubuh,” urai Umar Kaderi saat memberikan konfirmasi pada Selasa (7/7/2026).

    Manifes Kesiapan Logistik Medis and Pemetaan Zona Merah Diare

    Guna menghadapi potensi lonjakan pasien di sisa musim kering ini, Dinas Kesehatan Kotim mengklaim telah mengaktifkan status siaga dengan mengamankan pasokan logistik medis hulu. Langkah taktis yang diambil meliputi: Penyediaan stok obat-obatan esensial yang memadai di seluruh lini pelayanan. Pengadaan cadangan masker dalam jumlah masif untuk didistribusikan saat kualitas udara memburuk. Mobilisasi tenaga kesehatan (SDM) and penyiapan fasilitas pelayanan kesehatan (Faskes) agar tetap optimal memberikan penanganan darurat.

    “Kesiapan sudah kami lakukan. Masker, obat-obatan, SDM, dan fasilitas kesehatan sudah kami siapkan agar pelayanan tetap optimal apabila terjadi peningkatan kasus akibat musim kemarau maupun dampak karhutla,” tegas Umar.

    Selain penguatan logistik, Dinkes Kotim juga telah merampungkan sirkuit pemetaan wilayah rawan (vulnerability mapping) yang selama ini memiliki rekam jejak historis lonjakan kasus diare tertinggi saat kemarau melanda. Peta risiko ini dijadikan acuan rigid bagi para petugas kesehatan di tingkat Puskesmas hingga Posyandu untuk mempertegas sirkuit edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Warga diimbau kuat untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi cairan agar terhindar dari dehidrasi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mulai merasakan gejala klinis ISPA atau diare.

    Peringatan dari Dinas Kesehatan Kotim mengenai ancaman ISPA and diare di awal Juli 2026 ini adalah manifes rutinitas birokrasi yang klise and selalu berulang setiap tahun tanpa ada terobosan solutif di tingkat hulu. Membagikan masker and menumpuk stok obat-obatan di Puskesmas adalah strategi kuratif-defensif yang hanya mengobati gejala, bukan menyelesaikan akar masalah. Ketika Dinkes menyatakan bahwa debu, asap karhutla, and berkurangnya air bersih adalah pemicu utama penyakit, mereka sebenarnya sedang menelanjangi kegagalan lintas sektoral Pemkab Kotim dalam melindungi hak-hak dasar rakyat atas lingkungan and air bersih.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam terkait ancaman wabah diare akibat menyusutnya air bersih. Masalah ini bukan semata-mata karena faktor “alam yang mengering”, melainkan akibat belum meratanya infrastruktur pipa air bersih (PDAM) hingga ke pemukiman pelosok and desa-desa riparian di Kotim. Saat kemarau tiba, warga miskin di pinggiran kota and pedalaman terpaksa mengonsumsi air sungai atau sumur gali yang surut and telah tercemar bakteri demi bertahan hidup. Menyuruh masyarakat menjaga sanitasi tanpa memberikan akses air bersih yang layak adalah sebuah ironi kebijakan yang tidak adil.

    Dinkes Kotim and jajaran lintas dinas tidak boleh hanya berlindung di balik tameng imbauan moral agar warga “rajin berolahraga and minum air putih”.

    Pemkab Kotim harus melakukan intervensi struktural: aktifkan armada tangki air bersih untuk menyuplai zona-zona merah diare secara gratis, pasang alat monitor kualitas udara (ISPU) yang transparan di ruang publik, and tindak tegas faskes atau Puskesmas yang lamban dalam melayani pasien miskin terdampak ISPA.

    Jika penanganan kesehatan ini tetap dikelola dengan mentalitas proyek tahunan yang reaktif, maka warga Kotim terutama anak-anak and lansia akan terus dipaksa menjadi korban musiman yang bertaruh nyawa di tengah kepungan debu asap and krisis air bersih. (***)

  • Sambut Kedatangan Don Muzakir, Tani Merdeka Kotim Panaskan Mesin Jelang Pelantikan

    Sambut Kedatangan Don Muzakir, Tani Merdeka Kotim Panaskan Mesin Jelang Pelantikan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Mesin pergerakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur mulai dipanaskan.

    Menjelang pelantikan pengurus, organisasi ini merapatkan barisan untuk mematangkan seluruh agenda, termasuk menyambut rencana kedatangan Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir.

    Konsolidasi tersebut dibedah melalui rapat di kediaman Ibu Cindy, Sabtu (4/7/2026). Tercatat sekitar 20 peserta hadir menyusun berbagai kebutuhan teknis dan organisatoris.

    Fokus utamanya tidak berhenti pada kelancaran seremonial semata, melainkan merancang pijakan awal organisasi untuk menggarap sektor pertanian di Kotawaringin Timur.

    Berdasarkan hasil pembahasan, Don Muzakir diagendakan hadir di Kotawaringin Timur pada 25 Juli 2026 bersama rombongan sebanyak empat orang.

    Rencana kedatangan pimpinan pusat ini langsung direspons panitia pelaksana dengan membagi tugas secara terperinci.

    Sektor sekretariat, pengaturan acara, konsumsi, perlengkapan, keamanan, hingga transportasi mulai dipersiapkan secara maksimal.

    Rapat juga menyoroti kebutuhan akomodasi tamu, kesiapan kendaraan operasional, dukungan seragam, serta menggodok alternatif lokasi pelantikan yang saat ini masih dalam tahap finalisasi.

    Di luar urusan seremonial, panitia rupanya tengah merancang kegiatan tambahan berupa kunjungan lapangan.

    Apabila waktu dan kondisi memungkinkan, rombongan pusat akan diarahkan meninjau langsung sejumlah lokasi program Corporate Social Responsibility (CSR) di wilayah ini.

    Bagi jajaran DPD Tani Merdeka Kotim, momentum pelantikan dibidik sebagai ruang untuk memperkuat koordinasi.

    Harapan terbesarnya adalah mempererat sinergi bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan demi mengawal pemberdayaan petani.

    ”Kami berharap pelantikan ini menjadi awal yang baik bagi DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur untuk berkontribusi nyata dalam mendukung kesejahteraan petani dan pembangunan pertanian di daerah,” ucap Lukito, Ketua Terpilih DPD TMI Kabupaten Kotim. (ign)

  • Wajah Tegang dan Tawa Lega di Cempaga, Jejak Bakti Tahunan PT BSP untuk Warga Desa

    Wajah Tegang dan Tawa Lega di Cempaga, Jejak Bakti Tahunan PT BSP untuk Warga Desa

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ketegangan menyelimuti ruang Aula Hayak Membesei, Kantor Kecamatan Cempaga, Kamis (25/6/2026).

    Hamparan karpet berlapis tikar dan bantal sederhana menjadi alas bagi anak-anak yang berbaring menanti giliran.

    Sejumlah tim medis tampak cekatan melakukan tindakan secara lesehan. Membumi tanpa sekat.

    Deretan kursi pada bagian lain di aula ruangan dipenuhi para ibu yang menanti dengan cemas campur haru.

    Dari balik kaca jendela, tampak wajah anak-anak lain mengintip penasaran, merekam momen teman sekampung mereka yang sedang menjalani sunatan massal persembahan PT Borneo Sawit Perdana (BSP), perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah tersebut.

    Hari itu, ketakutan khas masa kecil perlahan luruh, berganti menjadi tawa lega. Mengakses fasilitas kesehatan bagi warga pedesaan selama ini kerap bermuara pada dua kendala utama: biaya dan jarak tempuh menuju kota.

    Menjawab keresahan nyata tersebut, PT BSP hadir mengambil peran.

    Anak usaha dari Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) Grup ini secara konsisten membawa layanan medis langsung ke pusat kecamatan, memangkas beban ekonomi keluarga dari delapan desa di sekitar area operasional perusahaan.

    Tercatat 70 anak dari Desa Rubung Buyung, Patai, Luwuk Ranggan, Jemaras, Cempaka Mulia Timur, Cempaka Mulia Barat, Sungai Paring, hingga Luwuk Bunter menjadi penerima manfaat dalam kegiatan bertajuk “Generasi Maju, Sehat, dan Berakhlak Mulia demi Masa Depan Kotim Berkah” ini.

    Momen sarat nilai kemanusiaan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial belaka.

    Sebuah standing banner hijau berlogo NSS menjadi latar saksi pemandangan sinergi yang tergambar nyata.

    Tidak ada satu pun pejabat yang duduk manis di kursi VIP. Jajaran manajemen PT BSP memilih turun langsung memantau tindakan medis.

    Pimpinan PT BSP, Ari Rachmanto, tampak berdiri berbaur, didampingi Safwan selaku Manajer Kebun Jemaras dan Rahmad Aidil RM, Manajer Kebun Terantang.

    Kehadiran manajemen menyatu dengan dukungan solid unsur Forkopimcam Cempaga. Kapolsek Cempaga AKP Hieronymus Tri Diantoro dan Danramil Cempaga Kapten Wiranto berdiri mengawal area tindakan dengan seragam dinasnya.

    Sosok Damang Cempaga Nur Imansyah juga hadir berwibawa dengan pakaian dan ikat kepala khas Dayak.

    Prosesi ini turut dikawal Kepala Puskesmas Cempaga Saifudin Ansari, Ketua Bhayangkari Ranting Cempaga Lilis Teguh, Sekcam Cempaga Hadi Ikhsan, serta Kasi Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Ari Cahyadi.

    Semuanya mengitari anak-anak, memberikan dukungan moril dan memastikan proses medis berjalan tanpa hambatan.

    Agenda sosial semacam ini telah mengakar menjadi tradisi perusahaan. PT BSP merancang sasaran desa secara bergilir guna memastikan pemerataan manfaat.

    Jejak rekam bakti serupa sebelumnya telah menyentuh Desa Sungai Paring pada 2023 dan Desa Terantang pada penghujung 2024.

    Waktu pelaksanaannya pun melalui perhitungan matang. Pemilihan masa libur sekolah sengaja diterapkan agar anak-anak dapat menjalani masa pemulihan tanpa mengorbankan jadwal pendidikan mereka.

    Usai melewati ketegangan ruang tindakan, setiap anak melangkah pulang membawa senyum, bingkisan, serta uang saku sebagai bentuk apresiasi perusahaan atas keberanian mereka berpartisipasi dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) ini.

    Sebagai penutup, manajemen PT BSP secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Kecamatan Cempaga selaku penyedia fasilitas, tim medis yang bekerja keras hari itu, jajaran Polsek dan Koramil, serta seluruh kepala desa yang telah menjembatani pendaftaran warganya.

    Sinergi membumi yang tersaji di Aula Hayak Membesei ini memastikan satu hal: kesehatan dan masa depan generasi penerus Kotawaringin Timur akan selalu dirawat bersama-sama. (advertorial)

  • Penyusutan Masif Debit Parit Teluk Sampit Menjadi Isyarat Gambut Menjelma Menjadi Bom Waktu Karhutla

    Penyusutan Masif Debit Parit Teluk Sampit Menjadi Isyarat Gambut Menjelma Menjadi Bom Waktu Karhutla

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Otoritas penanggulangan bencana daerah menangkap sinyal penurunan drastis daya dukung lingkungan di wilayah pesisir selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Hasil pemantauan berkala di tingkat tapak mengonfirmasi bahwa pasokan air di kanal-kanal pembatas lahan surut secara ekstrem. Fenomena ini menjadi alarm dini bahwa hamparan lahan gambut dalam kini tengah bertransformasi menjadi bom waktu yang siap memicu bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) massal.

    ​Fakta Lapangan Koridor Teluk Sampit dan Manifesto Kering Pantauan BPBD

    ​Indikator awal transisi menuju puncak musim kemarau ekstrem terpantau benderang saat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim melakukan penyisiran fisik ke kawasan Kecamatan Teluk Sampit pada Selasa (23/6/2026). Petugas menemukan bentang alam pesisir yang biasanya basah, kini mulai menunjukkan gejala defisit hidrologis yang sangat mengkhawatirkan.

    ​Lanskap vegetasi di sepanjang bahu jalan lintas selatan dilaporkan mulai menguning and mengering akibat terpapar terik matahari tanpa tutupan awan konvektif. Yang paling krusial, parit-parit sekunder and saluran drainase gambut yang bertindak sebagai benteng pembatas api (firebreak alami) mengalami penyusutan debit air yang masif hingga mendekati titik kering total.

    ​Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menegaskan bahwa kombinasi rontoknya cadangan air permukaan and mengeringnya semak belukar adalah penanda otentik masuknya fase rawan bencana yang akan menguji kesiapsiagaan daerah.

    ​“Kondisi cuaca di lapangan terpantau bersih total dari awan. Rumput-rumput di sisi jalan sudah mulai kering dan suasana pagi berembun. Selain itu, beberapa parit utama juga mulai mengering. Kombinasi cuaca panas, berkurangnya curah hujan, dan menurunnya cadangan air merupakan tanda yang umum muncul saat memasuki musim kemarau,” ungkap Multazam saat memaparkan hasil evaluasi visual timnya, Selasa (23/6 /2026).

    ​Anomali Embun Pagi Kota Sampit dan Jebakan Api Baamang Hilir

    ​Kondisi kritis di Teluk Sampit berkelindan erat dengan situasi psikologis warga di pusat Kota Sampit yang sempat dikejutkan oleh fenomena “ilusi optik” selimut kabut putih tebal pada Selasa pagi. Berdasarkan instrumen BMKG Kotim, kabut dengan jarak pandang terbatas hingga 900 meter tersebut murni merupakan pengembunan uap air akibat rekor kelembapan udara yang menyentuh angka jenuh 99 persen, bukan asap kebakaran.

    ​Kendati udara pagi diselimuti embun basah, lapisan bawah tanah gambut Kotim sejatinya sudah berada dalam kondisi yang sangat ringkih and mudah tersulut bara api. Bukti otentik kebobolan perimeter pertahanan api ini pecah pada Senin (22/6/2026) siang sekitar pukul 12.27 WIB, ketika kebakaran lahan gambut seluas 0,5 hektare mendadak meledak di Jalan Tidar Raya, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang.

    ​Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD dipaksa bertaruh dengan waktu untuk melakukan penjinakan and lokalisasi bara bawah tanah sebelum melumat pemukiman terdekat. Kasus Baamang Hilir ini menggenapi manifes kerentanan Kotim sepanjang tahun berjalan.

    ​“Berdasarkan data rekapitulasi hingga 22 Juni 2026, tercatat sudah ada 49 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 102,22 hektare. Sementara jumlah titik panas atau hotspot yang berhasil dideteksi sejak awal tahun telah menembus angka 194 titik,” tambah Multazam, seraya mengingatkan bahwa Status Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan Kotim terus mengikat secara hukum berdasarkan keputusan bupati hingga 10 Oktober 2026.


    ​Sebagai langkah intervensi hulu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengaktifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan mengerahkan armada penyemaian garam sebanyak dua kali penerbangan di atas langit Kalteng guna merangsang hujan buatan sebelum gambut benar-benar kehabisan pasokan air.

    ​Penyusutan masif debit air parit di Teluk Sampit yang dilaporkan BPBD bukanlah sekadar fenomena alamiah siklus kemarau, melainkan buah dari kesalahan sistemik pengelolaan air (water management failure) akibat kanalisasi ugal-ugalan. Wilayah pesisir selatan Kotim selama bertahun-tahun telah dikepung oleh jaringan parit buatan industri perkebunan skala besar yang berfungsi menguras air dari kubah gambut agar bisa ditanami komoditas monokultur. Ketika musim kering datang, kanal-kanal ini bertindak sebagai jalan tol yang mempercepat hilangnya kadar air tanah, mengubah lahan gambut menjadi tumpukan bahan bakar kering setebal belasan meter yang siap meledak di bawah permukaan.

    ​Kanal Independen mengingatkan bahwa dengan proyeksi kemarau ekstrem yang diprediksi mampu mencengkeram wilayah ini hingga 120 hari ke depan, strategi pemadam kebakaran di hilir (reactive firefighting) tidak akan pernah cukup. Menurunnya debit air parit membuktikan bahwa jika api telanjur menyusup ke dalam struktur gambut dalam, petugas lapangan tidak akan memiliki pasokan air yang cukup untuk melakukan proses pembasahan (rewetting).

    ​Bupati Kotim tidak boleh lagi sekadar berlindung di balik status siaga darurat di atas kertas atau menyerahkan seluruh nasib daerah pada pesawat penyemai garam milik BNPB. Pemerintah daerah harus mengambil tindakan radikal: paksa seluruh perusahaan swasta di koridor Teluk Sampit untuk menutup total pintu-pintu sekat kanal (canal blocking) mereka agar tinggi muka air tanah di sekitar lahan warga tetap terjaga.

    ​Selain itu, alokasi anggaran daerah wajib digeser secara instan untuk memperkuat persenjataan logistik mesin pompa and selang pemadam milik posko-posko relawan di tingkat desa. Jangan biarkan parit-parit di Teluk Sampit berubah menjadi parit kematian ekologis yang menguapkan ruang hidup and masa depan kesehatan generasi muda Kotim. (***)

  • Membongkar Sindikat Penyebar Konten Pelajar di Sampit Tanpa Mengorbankan Masa Depan Psikologis Korban

    Membongkar Sindikat Penyebar Konten Pelajar di Sampit Tanpa Mengorbankan Masa Depan Psikologis Korban

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Jagat maya Bumi Tambun Bungai mendadak diguncang gelombang kegemparan digital yang masif. Sebuah rekaman video amatir yang memperlihatkan dugaan tindakan asusila berupa ciuman bibir yang direkam oleh seseorang di dalam ruang kelas beredar liar, memicu badai kecaman sekaligus menguji integritas sistem pendidikan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

    ​Respons Taktis Dinas Pendidikan dan Pembongkaran Fakta Lapangan

    ​Video kontroversial yang merekam aksi tidak pantas oknum pelajar di salah satu sekolah menengah atas di Sampit tersebut dengan cepat bertransformasi menjadi perbincangan panas di berbagai platform media sosial dan grup percakapan digital. Menanggapi eskalasi kegaduhan publik yang kian liar, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah langsung mengambil langkah taktis darurat untuk menjajaki kebenaran informasi.

    ​Kepala Dinas Pendidikan Kalteng M Reza Prabowo, mengonfirmasi bahwa unitnya telah bergerak cepat membentuk tim khusus guna menelusuri keaslian materi digital serta melakukan koordinasi berlapis dengan manajemen sekolah yang bersangkutan. Langkah ini diambil untuk menguliti kronologi riil dan mengamankan fakta otentik di lapangan tanpa intervensi opini siber.

    ​“Kami telah melakukan koordinasi intensif dan penelusuran mendalam bersama pihak manajemen sekolah untuk memastikan kebenaran informasi serta validitas video yang beredar luas di masyarakat,” tegas M Reza Prabowo saat memberikan konfirmasi taktis, Minggu (21/6/2026).


    ​Reza menekankan bahwa otoritas pendidikan tidak akan tinggal diam jika hasil investigasi komprehensif membuktikan adanya pelanggaran berat terhadap tata tertib institusi maupun degradasi nilai-nilai moralitas luhur pendidikan. Pembinaan sanksi yang terukur dan restoratif terhadap peserta didik yang terlibat akan diposisikan sebagai prioritas utama demi mengembalikan marwah kondusif lingkungan belajar-mengajar.

    ​Imbauan Filter Digital agar Menghindari Penghakiman Massal

    ​Di tengah ketidakpastian fakta, Dinas Pendidikan Kalteng juga melayangkan alarm imbauan keras kepada warganet dan masyarakat luas agar menahan diri dari tindakan penghakiman massal (cyberbullying) di ruang digital. Penyebaran video yang memperlihatkan wajah anak di bawah umur tanpa sensor dikhawatirkan akan memicu trauma psikologis sekunder dan merusak masa depan pihak-pihak yang terlibat sebelum adanya verifikasi hukum yang final.

    ​Masyarakat diminta memberikan ruang bagi tim pemeriksa untuk merampungkan tugasnya secara objektif. Fenomena viralitas ini bertindak sebagai pengingat pahit mengenai urgensi pengawasan gawai di area steril sekolah serta pentingnya kolaborasi segitiga emas antara pihak sekolah, pengawasan guru di kelas, dan kontrol moral dari orang tua di rumah pada era disrupsi digital ini.

    ​Pusaran viralnya video ciuman bibir oknum pelajar di Sampit ini tidak boleh hanya dipandang sebagai kegagalan moral personal dari para pelakunya belaka. Kasus ini secara radikal menelanjangi rapuhnya sistem pengawasan internal di dalam ruang kelas (classroom surveillance failure) serta kegagalan institusi pendidikan dalam memitigasi dampak buruk teknologi di tangan anak di bawah umur.

    ​Ruang kelas yang seharusnya bertindak sebagai episentrum sterilitas akademik dan pembentukan karakter, dalam kasus ini justru bobol menjadi panggung tindakan menyimpang yang direkam secara sadar oleh orang lain di lokasi yang sama. Kehadiran gawai pintar yang tidak terkontrol saat jam-jam krusial membuktikan bahwa pakem aturan sekolah kerap kali tumpul di tingkat implementasi lapangan. Guru tidak boleh lagi sekadar berdiri di depan papan tulis tanpa memiliki kepekaan situasional terhadap dinamika interaksi sosial dan pergerakan digital anak didiknya di bangku belakang.

    ​Di sisi lain, Kanal Independen mengecam keras budaya voyeurisme digital netizen Sampit yang gemar membagikan ulang video bermuatan sensitif tersebut tanpa melakukan penyaringan (blurring) identitas wajah maupun atribut sekolah. Tindakan menyebarluaskan materi mentah anak di bawah umur demi memburu klik dan keterlibatan algoritma media sosial adalah bentuk kejahatan digital sekunder.

    Penegakan etika jurnalisme dan kepatuhan hukum privasi mengharuskan semua pihak menyamarkan simbol-simbol institusi guna melindungi masa depan psikologis anak, sembari mendesak evaluasi total terhadap sistem pengajaran karakter digital. Kepala dinas dan jajaran kepala sekolah di Kotim harus berani menerapkan aturan tegas berupa penyitaan gawai selama jam belajar aktif jika tidak ingin ruang kelas beralih fungsi menjadi studio produksi konten amoral massal. (***)

  • Amarah Warga Seranau Memuncak, Pelaku Peracun Udang Diintai dengan Senapan Angin dan Ketapel

    Amarah Warga Seranau Memuncak, Pelaku Peracun Udang Diintai dengan Senapan Angin dan Ketapel

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Eskalasi kemarahan masyarakat di pesisir Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan. Praktik culas pemanenan udang menggunakan zat kimia beracun (potasium) kembali bergerilya di sepanjang aliran utama Sungai Mentaya pada Minggu subuh  (7/6/2026). Menanggapi lambatnya respons penegakan hukum, warga setempat kini mulai mengorganisasi barisan pengawasan mandiri bersenjata untuk memburu hidup-hidup para pelaku perusakan lingkungan tersebut.

    Misteri Udang Mengapung Subuh Hari dan Persiapan Perang Warga

    Gelombang keresahan ini pertama kali pecah saat fajar menyingsing, ketika warga bantaran sungai dikejutkan oleh pemandangan puluhan hingga ratusan ekor udang galah yang mendadak lemas, mengapung, dan menumpuk secara tidak wajar di tepian Sungai Mentaya. Warga yang menduga komoditas bernilai ekonomis tersebut merupakan hasil penjarahan menggunakan racun langsung berbondong-bondong ke lokasi untuk mengamankan perimeter.

    “Ramai warga mengambil udang diduga diracuni orang di situ, kabarnya subuh tadi di tepian Mentaya Seberang,” ungkap Ijai, salah seorang warga setempat yang menyaksikan langsung kerumunan massa di tepi sungai.

    Namun, kepasrahan warga seketika berubah menjadi aksi perlawanan taktis. Sadar bahwa racun air tidak hanya mematikan komoditas hayati melainkan juga bertindak sebagai agen pembunuh massal bagi manusia yang mengonsumsinya, barisan pemuda dan nelayan tradisional Seranau mulai melakukan pengintaian gelap di sepanjang titik buta sungai.

    Warga lainnya, Radimannor, membeberkan secara gamblang bahwa tensi emosional warga saat ini sudah sangat sulit untuk diredam. Rencana penghakiman jalanan di tengah sungai kini mengintai siapapun yang berani kembali menebar racun.

    “Sudah banyak warga yang mengawasi. Ada yang bilang kalau ketemu pelakunya mau diserang pakai ketapel, bahkan ada yang membawa senapan angin. Saking kesalnya warga dengan perbuatan itu,” tegas Radimannor dengan nada getir.

    Langkah nekat ini diambil karena warga cemas terhadap dampak fatalitas kesehatan. “Karena dampaknya bahaya, bisa mati orang yang makan udang hasil racunan ini,” imbuhnya.

    Senada dengan itu, tokoh pemuda Rahmat Hidayat juga melemparkan proteksi peringatan keras agar masyarakat tidak tergiur memungut atau mengonsumsi udang sisa tebaran zat kimia tersebut. “Bahaya itu kalau makan udang yang sudah tercemar atau diracun. Dampaknya bisa pada kesehatan jangka panjang,” cetusnya.

    Mengulang Memori Kelam Januari dan Ultimatum Dinas Perikanan

    Teror racun di Mentaya Seberang ini secara otomatis membongkar kembali memori kelam kolektif warga Seranau atas insiden serupa yang terjadi di Desa Terantang pada Januari 2026 lalu. Kala itu, seorang bromocorah peracun udang dari desa tetangga berhasil dipergoki warga dengan modus operandi yang sangat rapi: berpura-pura bertamu ke rumah warga bantaran sambil mengobrol santai, sementara zat beracun yang ia tebar di hulu sungai sedang bekerja membunuh ekosistem di hilir. Saat itu pelaku nyaris tewas dikeroyok amuk massa sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri ke dalam hutan sawit.

    Maraknya residu kasus illegal fishing yang kian berani menembus batas perimeter pemukiman ini memicu reaksi keras dari otoritas terkait. Kepala Dinas Perikanan Kotim, Ahmad Sarwo Oboi, secara tegas menyatakan bahwa segala bentuk penangkapan biota perairan menggunakan bahan kimia, alat setrum listrik, maupun bom air merupakan pelanggaran hukum berat.

    “Praktik illegal fishing seperti peracunan tidak hanya merusak ekosistem perairan, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat dan mengancam mata pencaharian nelayan tradisional,” cetus Ahmad Sarwo Oboi dalam pernyataan resminya.

    Pihak dinas juga mencium adanya indikasi bahwa praktik ini kerap dilakukan oleh oknum luar daerah yang memanfaatkan perairan umum Kotim secara destruktif, yang pada akhirnya memicu sumbu pendek konflik sosial berdarah antar-kampung.

     Aksi warga Mentaya Seberang yang mulai mempersenjatai diri dengan ketapel dan senapan angin untuk menjaga sungai adalah sinyal merah (red flag) yang menandakan runtuhnya kepercayaan publik terhadap supremasi hukum di sektor perairan. Ketika regulasi di atas kertas yang melarang illegal fishing tidak dibarengi dengan eksistensi patroli fisik secara reguler oleh Satpolair Polres Kotim maupun Dinas Perikanan, maka hukum rimba secara otomatis akan mengambil alih ruang kosong tersebut.

    Modus peracunan udang merupakan salah satu bentuk kejahatan lingkungan paling egois. Dampak yang ditimbulkan bersifat jangka panjang (long-term ecological damage); tidak hanya membunuh udang ukuran konsumsi, zat kimia keras tersebut juga memusnahkan jutaan mikroorganisme bawah air, merusak rantai makanan, dan meracuni air yang menjadi sumber sanitasi harian warga Seranau.

    Ancaman warga untuk menyerang pelaku menggunakan senapan angin tidak boleh dipandang sebagai gertakan sambal. Ini adalah akumulasi frustrasi para nelayan tradisional yang ruang hidupnya dirampas oleh para penjarah instan. Jika Kapolres Kotim dan instansi terkait terus berdiam diri di balik meja dan menunggu keterangan resmi tanpa melakukan penangkapan konkret di lapangan, maka tinggal menunggu hitungan hari sebelum Sungai Mentaya kembali berubah warna menjadi merah bukan karena racun, melainkan karena tumpahan darah akibat amuk massa yang terlambat dimitigasi. Otoritas harus bergerak mencokok pelaku hulu sebelum masyarakat menegakkan hukumnya sendiri di atas perahu. (***)

  • Sinyal Darurat Deforestasi Baamang: Di Balik Misteri Kerangka ‘Pongo Pygmaeus’ di Jalur Pemukiman Warga

    Sinyal Darurat Deforestasi Baamang: Di Balik Misteri Kerangka ‘Pongo Pygmaeus’ di Jalur Pemukiman Warga

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Misteri mencekam sempat menyelimuti warga Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Senin (8/6/2026). Penemuan sesosok tengkorak lengkap dengan beberapa jajaran tulang di bawah kolong Jembatan Jalan Bumi Raya I mendadak viral di berbagai platform media sosial dan memicu spekulasi liar mengenai adanya korban pembunuhan atau mutilasi yang dibuang di jalur pelintasan harian warga tersebut.

    Berawal dari Lensa Pelajar Menuju Meja Reskrim

    Petaka visual ini pertama kali mencuat ke permukaan setelah sejumlah pelajar SMP yang tengah beraktivitas di sekitar lokasi mendapati benda mencurigakan di area kolong jembatan yang dikenal sepi saat malam hari. Para pelajar tersebut kemudian mendokumentasikannya dalam bentuk foto dan video, lalu mengunggahnya ke grup informasi publik pada Minggu malam (7/6), sebelum diteruskan ke grup koordinasi Info Emergency Sampit hingga memicu pergerakan taktis relawan dan aparat penegak hukum ke titik koordinat.

    Salah satu petugas Info Emergency Sampit, Sidik, mengonfirmasi bahwa penemuan di lapangan memang sekilas menyerupai anatomi tubuh manusia.

    “Benar, kami menerima laporan dan langsung melakukan pengecekan di lokasi. Ada temuan di bawah kolong Jembatan Bumi Raya I, diduga tengkorak manusia, namun masih menunggu pihak berwajib untuk memastikan,” ungkap Sidik saat dikonfirmasi di sela-sela evakuasi.

    Ia menambahkan, selain struktur kepala, petugas juga mendapati fragmen tulang lain. “Tadi itu ada tengkorak kepala, kaki, dan tangan,” imbuhnya.

    Tak berselang lama, tim identifikasi kepolisian bersama personel PMI Kotim mengepung lokasi untuk melakukan sterilisasi perimeter dan pengamanan area guna menenangkan kerumunan warga yang mulai memadati jembatan. Bau busuk menyengat yang sempat dikeluhkan warga sekitar saat melintas beberapa hari terakhir seolah memperkuat narasi horor di tengah masyarakat.

    Bantahan Medis dan Migrasi Satwa dari Ladang Nanas

    Namun, kabut misteri pembunuhan tersebut seketika runtuh begitu tim medis dan unit identifikasi melakukan analisis morfologi awal di lapangan. Struktur rahang, rongga mata, dan volume batok kepala yang dievakuasi menunjukkan karakteristik yang sangat berbeda dengan struktur tubuh manusia (Homo sapiens).

    “Kalau berdasarkan hasil analisa sementara, yang pasti tengkorak bukan manusia. Itu binatang, dugaan kuat tengkorak orangutan,” ungkap salah satu petugas pemeriksa di lapangan secara tegas.

    Kesimpulan sementara ini selaras dengan kondisi demografis wilayah Baamang Barat yang dibeberkan oleh Ketua RT setempat, Ramadani. Ia menegaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, sistem keamanan lingkungan di wilayahnya sangat kondusif, dan sama sekali tidak ada laporan mengenai warga yang hilang secara misterius.

    “Hingga saat ini belum ada terdengar yang aneh di lingkungan kami. Kami hampir setiap malam kerap patroli di wilayah sini,” jelas Ramadani.

    Lebih lanjut, Ramadani memaparkan sudut pandang ekologis yang rasional. Sektor Baamang Barat diketahui masih memiliki kantong-kantong vegetasi liar serta hamparan perkebunan hortikultura warga, seperti tanaman nanas. Komoditas buah manis inilah yang disinyalir kuat menjadi daya tarik magnetis bagi satwa liar dilindungi untuk keluar dari habitatnya dan bermigrasi mendekati perimeter pemukiman domestik.

    “Tempat kami memang ada tumbuhan seperti nenas, makanya bisa jadi mengundang orangutan ke sini. Bahkan beruang juga pernah muncul,” tambahnya.

     Kasus “prank ekologis” yang sempat membuat geger jagat maya Sampit ini sejatinya membawa pesan investigatif yang jauh lebih serius ketimbang sekadar kepanikan warga. Penemuan tengkorak yang diduga kuat merupakan primata dilindungi Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan) di bawah kolong jembatan beton urban adalah indikator nyata bahwa konflik ruang antara manusia dan satwa liar di Kotim sudah memasuki fase kritis akibat deforestasi yang terfragmentasi.

    Secara teoritis, orangutan adalah satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas tajuk pohon. Mengapa kerangkanya bisa berakhir mengenaskan di bawah kolong jembatan yang kotor? Ada dua kemungkinan jalur investigasi yang harus dibuka secara lebar oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II Sampit bersama Polres Kotim.

    Pertama, satwa tersebut masuk ke area pemukiman karena kelaparan akibat habitat aslinya terfragmentasi masif oleh pembukaan lahan, lalu mati secara alami di bawah jembatan setelah memakan sisa makanan atau tanaman warga.

    Kedua dan ini yang paling berbahaya adalah indikasi tindak pidana kejahatan lingkungan hidup (wildlife crime), di mana orangutan tersebut sengaja diburu, dibunuh karena dianggap sebagai hama perkebunan, lalu tulang-belulangnya dibuang ke sungai untuk menghilangkan jejak digital pelaku.

    Langkah kepolisian memboyong kerangka tersebut ke instalasi pemulasaran jenazah RSUD dr. Murjani Sampit untuk uji forensik lanjutan adalah keputusan yang sangat tepat. Publik kini tidak boleh sekadar bernapas lega karena tengkorak itu bukan korban mutilasi manusia.

    Jika hasil autopsi resmi dari dokter forensik dan tim ahli satwa memastikan ada bekas luka sabetan tajam atau proyektil senapan angin pada tulang tersebut, maka Polres Kotim memiliki kewajiban moral dan hukum untuk memburu pelaku pembantai satwa dilindungi ini. Baamang Barat tidak boleh menjadi kuburan sunyi bagi kepunahan keanekaragaman hayati Kalimantan. (***)

  • Melawan Arus Zaman di Telaga Baru: Membedah Filosofi ‘Satu Keping Pintu’ Dayak Ngaju  

    Melawan Arus Zaman di Telaga Baru: Membedah Filosofi ‘Satu Keping Pintu’ Dayak Ngaju  

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Di tengah gempuran penetrasi budaya modern dan visualisasi digital yang kian mendominasi ruang domestik generasi muda, denyut nadi tradisi leluhur Suku Dayak Ngaju rupanya belum sepenuhnya padam. Sebuah potret ketahanan budaya bernilai tinggi tersaji apik dalam rangkaian resepsi pernikahan pasangan Serli Marselina dan Rizky Ramadani yang memadati koridor Jalan Ir H Juanda, Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Minggu (7/6/2026).

    Simbol Perjuangan Hidup Lewat Gerakan Kuntau

    Alih-alih mengadopsi hiburan modern sekuler secara penuh, pelataran halaman perkawinan tersebut justru disulap menjadi arena pertunjukan sakral atraksi Lawang Sakepeng. Seni bela diri tradisional yang dikemas dalam format penyambutan gapura adat ini seketika menyedot perhatian ratusan pasang mata, mulai dari para tamu undangan hingga masyarakat bahu-jalan yang sengaja berhenti menyaksikan pertunjukan.

    Secara etimologi dan akar filosofinya, kata lawang merepresentasikan sebuah pintu atau gerbang kehidupan, sementara sakepeng bermakna satu keping tunggal. Tradisi turun-temurun ini merupakan manifestasi simbolis dari ritual pembukaan gerbang rintangan demi menjemput maslahat (kebaikan), sekaligus sebagai bekal spiritual bagi sepasang kekasih dalam mengarungi ombak dan perjuangan keras di realitas kehidupan baru.

    Meskipun gapura penahan yang didirikan di lokasi Desa Telaga Baru tersebut dirancang dalam balutan kesederhanaan, esensi magis dan nilai historisnya sama sekali tidak luntur. “Ini bukan pertandingan, tetapi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan budaya. Jadi semua harus menjunjung sportivitas,” tegas sang pembawa acara melalui pengeras suara di sela-sela dentuman musik pengiring.

    Dalam lingkaran arena, pasang mata penonton disuguhi oleh kelenturan taktis para pesilat yang memperagakan jurus silat khas Dayak yang tersohor dengan nama Kuntau. Gerakan-gerakan dinamis namun mematikan tersebut secara historis terinspirasi dari observasi mendalam para leluhur terhadap perangai tangkas satwa kera atau beruk hutan. Dua pesilat lintas generasi berhadapan secara jantan dengan satu target utama: memutus tali penghalang yang membentang kokoh di tengah-tengah bentang gapura adat.

    Kehadiran Lawang Sakepeng di koridor Telaga Baru ini bukan sekadar pemanis seremonial belaka, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan yang sangat krusial dari masyarakat pinggiran Sampit. Kaspul Anwar, orang tua dari mempelai wanita, mengonfirmasi sebuah paradoks sosial yang nyata terjadi saat ini.

    “Kami sengaja menghadirkan Lawang Sakepeng untuk hiburan bagi tamu undangan dan masyarakat. Kalau di kawasan perkotaan mungkin sudah jarang terlihat, tetapi di desa-desa tradisi ini masih sering ditampilkan dalam acara pernikahan,” ujar Kaspul Anwar dengan nada bangga sekaligus reflektif.

    Pernyataan Kaspul tersebut menguak fakta bahwa lanskap urban pusat kota Sampit perlahan-lahan mulai mengalami amnesia budaya. Nilai-nilai sakralitas komunal kian terpinggirkan oleh efisiensi gaya hidup modern yang serbainstan dan artifisial. Namun, kantong-kantong pemukiman pedesaan seperti Desa Telaga Baru terbukti masih konsisten berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir (the last bastion) bagi eksistensi tradisi Dayak Ngaju.

    Menariknya, regenerasi di atas tanah Bapanggang-Ketapang ini memperlihatkan dinamika yang sehat. Keterlibatan aktif aktor-aktor budaya dari level usia remaja, dewasa, hingga barisan pendekar senior menunjukkan bahwa Lawang Sakepeng berhasil memosisikan diri sebagai ruang perjumpaan lintas generasi. Fenomena sorak-sorai penonton seperti yang dituturkan oleh Bahrudin, salah seorang tamu undangan, menandakan bahwa denyut apresiasi publik terhadap seni Kuntau masih sangat organik.

    Tantangan terbesar pasca-resepsi Serli dan Rizky ini adalah bagaimana komitmen pelestarian ini tidak berhenti pada level perayaan domestik (pernikahan) semata. Lembaga Adat Dayak (DAD) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim dituntut untuk merumuskan kebijakan struktural yang mampu mengintegrasikan seni Lawang Sakepeng ke dalam kurikulum pendidikan lokal atau ruang-ruang festival urban. Selama ruang publik perkotaan tidak memberikan panggung yang layak, warisan takbenda Kalteng ini akan selalu terancam terdomestikasi di sudut-sudut sepi pedalaman, menunggu waktu untuk tergerus sepenuhnya oleh zaman.(***)

  • Jalan Hukum Sapriyadi: Anak Dayak yang Membayar Luka Agraria Tanah Kelahiran di Ruang Sidang

    Jalan Hukum Sapriyadi: Anak Dayak yang Membayar Luka Agraria Tanah Kelahiran di Ruang Sidang

    SAMPIT, kanalindependen.id – Berhadapan dengan dua anak usaha Sinar Mas Group dalam sengketa agraria bernilai triliunan rupiah di Kotawaringin Timur, posisi Sapriyadi tak bergeser sedikit pun dari barisan warga.

    Banyak yang penasaran, mengapa ia berani memilih rute pertarungan paling berisiko ini?

    Jawabannya tidak tertulis di buku tebal atau ruang kuliah. Semuanya bermula dari memori lampau, ketika ladang tempat orang tuanya menggantungkan hidup tiba-tiba diklaim masuk dalam batas konsesi perusahaan kelapa sawit.

    Saat itu, tahun 2012, ia masih duduk di kelas dua SMA di Desa Bangkal, Kabupaten Seruyan.

    ”Saya sudah pernah melihat dan merasakan kesedihan itu. Karena korbannya adalah orang tua saya sendiri,” katanya saat ditemui di Sampit, Jumat (5/6/2026).

    Kalimat tersebut memuat seluruh alasan mengapa Sapriyadi kini menempati posisi yang ia pilih.

    Ayah dan ibunya adalah petani teguh yang mewariskan pedoman sederhana, namun jelas.

    ”Selalu membantu masyarakat kecil dan jangan menunjukkan kesombongan,” katanya, menirukan ucapan orang tuanya.

    Namun, ketika investasi perkebunan merangsek masuk, kehidupan yang tenang itu terbentur realitas.

    Tanah tempat orang tuanya berladang dipersoalkan karena masuk dalam klaim Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan.

    Tidak ada kompensasi yang layak. Hanya kepastian bahwa mereka harus berhadapan dengan entitas yang jauh lebih masif dari diri mereka.

    ”Saya termotivasi dari keserakahan investor perusahaan kelapa sawit kepada orang tua saya yang merampas tanahnya untuk berladang dengan alasan karena HGU perusahaan. Jadi suatu saat saya akan memperjuangkan hak-hak milik orang tua saya,” kata Sapriyadi.

    Sejak hari itu, arahnya terbentuk. Hukum tidak lagi ia pandang sebagai pilihan profesi. Ia adalah alat.

    Menajamkan Alat Perlawanan

    Tahun 2013 menjadi awal langkahnya memasuki Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya.

    Datang dari keluarga sederhana dan tanpa keluarga dekat di kota itu, ia berjuang secara mandiri.

    Dia tidak mau hanya menjadi mahasiswa duduk, melainkan merintis jalan melalui Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum dan Himpunan Mahasiswa Kotawaringin Timur.

    Proses penempaan ini mengasah ketajaman berpikirnya. Sapriyadi mendalami pemikiran hukum tokoh nasional Yusril Ihza Mahendra.

    Sementara itu, daya kritisnya di dalam kelas dibentuk kuat oleh dosennya, Dr. Kiki Kristanto.

    Dari fase inilah ia menyadari satu hal mendasar, teks undang-undang dan realitas sengketa adalah dua dunia yang sering bertolak belakang.

    ”Teori yang kita dapatkan di bangku kuliah tidak selalu sama dengan kondisi nyata di lapangan. Di situlah saya belajar bagaimana hukum benar-benar bekerja dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

    Dorongan pemungkas untuk mengenakan toga advokat datang dari ayahnya sendiri, dalam sebuah percakapan yang tak pernah ia lupakan.

    ”Nak, kamu lulusan S1 hukum kenapa tidak jadi pengacara saja, agar bisa membantu ayah dan membantu orang lain nantinya.”

    Setelah lulus ujian profesi melalui Perkumpulan Pengacara dan Konsultan Hukum Indonesia (PPKHI), ia mendirikan Kantor Hukum Sapriyadi, SH dan Rekan pada 10 Februari 2025. Klien pertamanya adalah keluarganya sendiri dalam perkara perdata.

    Dari sana arah perjuangannya semakin jelas. Mendampingi masyarakat adat dan masyarakat kecil yang tersingkir dalam konflik agraria.

    Menghantam Raksasa Korporasi

    Kini, nama Sapriyadi muncul di perkara-perkara besar dengan konsekuensi berat.

    Salah satu sengketa besar melawan korporasi raksasa mencuat saat enam warga dari kesatuan masyarakat hukum adat Dayak di Desa Pantap, Kecamatan Mentaya Hulu, menggugat PT Tapian Nadenggan, anak usaha Golden Agri-Resources milik Sinar Mas Group.

    Klaim mereka, sembilan bidang tanah adat seluas 179 hektare di kawasan Hulu Sungai Paken telah digarap perusahaan sejak 2005-2006, padahal berada di luar batas HGU dan IUP perusahaan.

    Sapriyadi menjadi kuasa hukum warga, melayangkan tuntutan senilai Rp5 triliun ke Pengadilan Negeri Sampit pada Oktober 2025.

    Perjalanan perkara itu terjal. Pengadilan Negeri Sampit memutus perkara nomor 67/Pdt.G/2025/PN Spt dengan memenangkan perusahaan pada April 2026.

    Tim kuasa hukum warga mengajukan banding. Namun, sebelum berkas banding selesai berjalan, pada 13 Mei 2026, alat berat perusahaan masuk ke lokasi sengketa dengan pengawalan aparat.

    Sapriyadi merespons keras tindakan sepihak di lapangan tersebut. “Objek sengketa ini sudah berproses di Pengadilan Tinggi atau banding. Belum ada keputusan final dan mengikat,” tegasnya.

    Front perlawanan lain yang tak kalah berat menunggunya di Desa Sebabi. Tiga dekade warga menagih janji program kebun plasma dari PT Binasawit Abadipratama (PT BAP), anak usaha Sinar Mas Group.

    Janji itu tidak pernah datang. Yang tiba justru penetapan tersangka terhadap seorang warga.

    PT BAP juga menggugat tiga tokoh masyarakat Sebabi, yakni Damang Kepala Adat Telawang Yustinus Saling Kupang, Kepala Desa Dematius, dan anggota DPRD Kotim Parimus, dengan total tuntutan lebih dari Rp100 miliar.

    Bersama rekannya, Ardon, Sapriyadi mengambil posisi sebagai penasihat hukum tergugat.

    Dia membalik arah pertarungan. Melalui dokumen eksepsi, jawaban, dan rekonvensi setebal 18 halaman yang diajukan pada Mei 2026, mereka mempertanyakan dasar legal PT BAP sebagai penggugat, mengajukan gugatan balik senilai Rp8,8 miliar, dan meminta hakim meletakkan sita jaminan atas kebun sawit perusahaan.

    “Pada prinsipnya kami tetap bertahan pada seluruh dalil yang telah kami ajukan sebelumnya,” kata Sapriyadi, Kamis (4/6/2026), setelah perusahaan menyampaikan replik.

    Satu Garis Lurus Perjuangan

    Dua perkara itu menegaskan pola yang terus berulang di Kalimantan Tengah. Masyarakat yang berada di tanah leluhur jauh sebelum ada konsesi, tidak memiliki dokumen formal yang diakui negara, dan terpaksa membuktikan diri di hadapan korporasi yang menguasai sistem hukum formal.

    ”Saya anak orang Dayak. Saya sangat merasakan yang namanya kehilangan mata pencaharian untuk keberlanjutan anak cucu nantinya,” katanya.

    Bukan retorika. Dia bicara dari pengalaman konkret keluarganya di Bangkal. Pengalaman itu pula yang membuatnya menuntut negara agar tidak pasif menjadi penonton.

    ”Pemerintah harus hadir di tengah-tengah masyarakat saat terjadi konflik agraria dan mengedepankan penyelesaian secara musyawarah mufakat dengan itikad baik,” ujarnya.

    Sampai saat ini, ia tak pernah menyebut penghargaan formal apa pun. Namun, ketika ditanya bagaimana ia merangkum perjalanan hidupnya, jawabannya lugas.

    ”Berjuang untuk melawan ketidakadilan,” katanya.

    Perjalanan hidupnya membentang jelas. Dari anak petani di Bangkal yang menyaksikan ladang orang tuanya dirampas, hingga pengacara yang berhadapan dengan korporasi raksasa di pengadilan. Luka masa lalu dan tujuan akhirnya tetap berada dalam satu garis lurus.

    ”Perubahan tidak datang dari orang apatis. Perubahan datang dari orang kritis dan peduli,” tegasnya. Persidangan masih berjalan. Banding masih menunggu. Sapriyadi sudah tahu persis di mana dia berdiri. (ign)

  • Wujud Sinergi BUMN Peduli Lingkungan, Pelni Sampit Berikan 60 Bibit Pohon untuk Pelindo Bagendang

    Wujud Sinergi BUMN Peduli Lingkungan, Pelni Sampit Berikan 60 Bibit Pohon untuk Pelindo Bagendang

    SAMPIT, kanalindependen.id – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Sampit menyerahkan 60 bibit pohon kepada PT Pelindo Terminal Petikemas (TPK) Bagendang melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

    Bantuan tersebut diwujudkan melalui aksi penanaman pohon bersama di kawasan Pelabuhan Bagendang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kamis (4/6/2026).

    Kegiatan yang mengusung tema “Sinergi BUMN untuk Bumi: Penghijauan dan Penanaman Pohon Bersama” itu menjadi bagian dari komitmen Pelni dalam mendukung aksi iklim, pelestarian lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan.

    Selain meningkatkan kualitas lingkungan kawasan pelabuhan, program tersebut juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan target Net Zero Emission Indonesia.

    Sebanyak 60 bibit pohon yang ditanam terdiri atas tanaman produktif dan pohon pelindung, yakni jambu, mangga, rambutan, dan bunga bougenville.

    Pohon-pohon tersebut diharapkan mampu memperbaiki kualitas udara, meningkatkan tutupan hijau, serta memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi lingkungan sekitar.

    Kepala PT Pelni Cabang Sampit, Siti Nafillah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program TJSL Pelni yang secara nasional menargetkan penanaman 1.000 pohon di berbagai wilayah Indonesia.

    ”Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pelni melaksanakan program TJSL berupa penanaman pohon dengan target 1.000 pohon. Untuk Cabang Sampit, kami menyerahkan 60 bibit pohon yang terdiri dari jambu, mangga, rambutan dan bougenville untuk ditanam di kawasan Pelindo Bagendang,” kata Siti Nafillah, Kepala PT Pelni Cabang Sampit saat diwawancarai Kanal Independen usai kegiatan penanaman pohon di Pekarangan Kantor Pelindo Pelabuhan Bagendang, Kamis (4/6/2026) pagi.

    Nafillah mengatakan, lokasi kegiatan awalnya direncanakan di kawasan Pelabuhan Sampit.

    Namun, karena pelabuhan tersebut masih dalam proses renovasi dan dikhawatirkan pohon yang ditanam harus dipindahkan kembali, kegiatan akhirnya dialihkan ke Pelabuhan Bagendang di Jalan HM Arsyad Km 23.

    ”Penyerahan bantuan dan penanaman pohon sebenarnya direncanakan di Pelabuhan Sampit. Namun karena masih dalam renovasi dan dikhawatirkan pohon yang ditanam nantinya harus dipindahkan, maka lokasi kegiatan kami pilih di Kantor Pelindo Pelabuhan Bagendang,” jelasnya.

    Ia menegaskan peringatan Hari Lingkungan Hidup harus menjadi momentum untuk memperkuat aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam.

    ”Peringatan hari ini bukan sekadar seremonial tahunan atau pelengkap kalender kerja kita. Hari Lingkungan Hidup adalah momen pengingat sekaligus panggilan aksi nyata bagi kita semua. Sebagai bagian dari perusahaan yang bergerak di sektor operasional, kita memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa jejak langkah operasional kita tidak merusak bumi, melainkan ikut merawatnya,” tegasnya.

    Nafillah menjelaskan, tahun ini Pelni memfokuskan perhatian pada penghijauan area terbuka karena ruang hijau memiliki peran penting sebagai penyaring udara, penyerap air tanah, dan pemberi kesejukan di tengah aktivitas kerja.

    ”Tahun ini, kita memfokuskan perhatian dan tenaga kita pada tema yang sangat krusial, yaitu penghijauan area terbuka. Karena ruang-ruang inilah yang menjadi paru-paru di sekitar kita, yang menyaring udara, mengikat air tanah, dan memberikan kesejukan di tengah padatnya aktivitas kerja. Menanam pohon dan menghijaukan area terbuka bukan sekadar menancapkan bibit ke dalam tanah. Ini adalah investasi masa depan. Satu pohon yang kita tanam hari ini akan menjadi warisan oksigen dan kehidupan bagi generasi mendatang,” katanya.

    Melalui aksi penanaman pohon tersebut, ia mengajak seluruh insan Pelni untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan penghijauan, merawat tanaman yang telah ditanam, serta menerapkan budaya ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari.

    ”Saya mengajak seluruh insan cabang untuk berpartisipasi aktif menyukseskan agenda penanaman pohon dan penghijauan di area terbuka yang telah dijadwalkan. Tugas kita juga tidak selesai setelah bibit ditanam. Kita harus ikut menjaga dan merawatnya agar tumbuh dengan baik. Selain itu, mari membawa semangat hijau ke ruang kerja dengan mengurangi sampah, menghemat energi, dan menjaga kebersihan lingkungan kantor maupun lapangan demi terciptanya ekosistem kerja yang lebih sehat,” ujarnya.

    Nafillah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, tim TJSL, dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

    ”Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, tim TJSL, dan rekan-rekan sekalian yang telah menyiapkan sarana, bibit tanaman, hingga perlengkapan untuk kelancaran aksi nyata kita hari ini. Mari kita tunjukkan bahwa insan cabang tidak hanya unggul dalam kinerja dan pelayanan, tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian alam. Stronger Together, Greater Future. Mari kita hijaukan area terbuka demi masa depan bumi yang lebih asri dan berkelanjutan,” tuturnya.

    Nafillah menambahkan, pemilihan Pelabuhan Bagendang juga tidak terlepas dari hubungan kerja sama yang selama ini terjalin baik antara Pelni dan Pelindo, khususnya dalam pelayanan embarkasi dan debarkasi penumpang kapal di Sampit.

    ”Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian bersama terhadap isu perubahan iklim. Melalui sinergi ini, kami berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus menginspirasi berbagai pihak untuk turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam,” ucapnya.

    Sementara itu, Terminal Head TPK Bagendang Bumiharjo, Akhmad Fajar, menyampaikan apresiasi atas bantuan bibit pohon yang diberikan Pelni kepada Pelindo Bagendang.

    ”Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Pelni Cabang Sampit yang telah memberikan bantuan 60 bibit pohon untuk Pelindo Bagendang. Program TJSL yang dilaksanakan oleh PT Pelni merupakan wujud nyata kontribusi BUMN dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Fajar.

    Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas operasional pelabuhan dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

    ”Melalui kegiatan penghijauan ini, kami ingin menunjukkan bahwa operasional pelabuhan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Penanaman pohon merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam mendukung pengurangan emisi karbon dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau, sehat, serta berkelanjutan bagi generasi mendatang,” katanya.

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengangkat tema global “Climate Action” atau aksi iklim yang diinisiasi oleh United Nations Environment Programme (UNEP).

    Tema tersebut menjadi seruan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mempercepat langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

    Melalui kegiatan penanaman pohon di Pelabuhan Bagendang, Pelni dan Pelindo menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. (hgn)