Kategori: Humaniora

  • Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi

    Dari Tari ke Dawai Kecapi: Langkah Khoirul Saputra, Pemuda Keruing Raih Prestasi

    Di balik seragam pramuka rapi dan topi biru yang dikenakannya, Khoirul Saputra menyimpan rahasia tentang rasa sakit yang pernah melumpuhkan semangatnya. Namun siapa sangka, penari yang kini tekun memetik kecapi ini pernah dipaksa menyerah oleh aspal jalanan.

    Savira Yuni Florenzya

    Bel pulang sekolah belum berbunyi, aku sudah berada di luar kelas karena guru mengakhiri pelajaran lebih awal.

    Langkah kakiku menuju taman bacaan sekolah, aku pun menunggu. Tak lama kemudian, duduklah seorang remaja laki-laki. Ia mengenakan seragam pramuka lengkap, bertopi biru sedikit miring, terkesan santai.

    Penulis mewawancarai Khoirul Saputra di area perpustakaan sekolah. (Dokumentasi pribadi penulis)

    Sebelumnya, aku mendengar namanya dari perbincangan guru, ia salah seorang siswa berprestasi.

    Berbagai pengalaman dan pencapaian telah diraih, sehingga menumbuhkan rasa penasaranku untuk menulis kisahnya.

    Dialah Khoirul Saputra, dulunya dikenal sebagai penari, dan kini menapaki jalan baru sebagai pemain musik tradisional Kalimantan Tengah.

    Di bangku sekolah menengah pertama, ketertarikannya pada seni tari tumbuh karena sang nenek.

    Khoirul terpukau oleh balutan kain anggun serta gerakan indah penuh makna. Kekaguman itu berubah menjadi hasrat untuk menjadi penari seperti sang nenek.

    Kesehariannya saat itu cukup padat. Saat pulang sekolah, waktunya banyak dihabiskan untuk membantu orang tua, memuat dan mengirim hasil panen sawit. Bahkan pernah mengirim sawit dengan beban dua ton.

    Hal itu tentu menghambat masa berlatihnya. Namun di tengah keterbatasan waktu, tersimpan cita-cita menjadi penari terkenal sekaligus memperkenalkan budaya. Inilah yang memaksanya pandai-pandai mencuri waktu untuk berlatih.

    Memasuki masa SMK, bakat menari pemuda kelahiran 13 Maret 2008, Desa Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ini semakin terlihat.

    Ia pertama kali tampil dalam kegiatan unjuk bakat saat masa pengenalan lingkungan sekolah.

    Momentum ini menjadi titik awal tumbuhnya kepercayaan diri untuk menari di atas panggung. Sejak itu, ia terus menekuni dunia tari dan semakin serius mengasah kemampuan demi mewujudkan impian yang telah lama tersimpan.

    Khoirul Saputra menampilkan tarian dengan penuh ekspresi dalam perlombaan antar kelas, disaksikan seluruh siswa di halaman sekolah. (Dokumentasi pribadi narasumber)

    Namun, nasib malang menimpa anak ketiga dari enam bersaudara itu. Pada suatu hari di akhir tahun 2023, saat dalam perjalanan dari kos di Sampit menuju rumah orang tuanya di Keruing, Kecamatan Cempaga Hulu ia mengalami kecelakaan di tikungan tajam Desa Bejarum, Kecamatan Kota Besi. Ia mengalami tabrak lari.

    ”Tiba-tiba pandangan saya gelap saat melewati tikungan tajam itu. Ketika sadar, saya sudah berada di dalam selokan. Saat melihat kaki kiri saya yang tampak patah, saya hanya bisa pasrah. Sepertinya saya tidak bisa menari lagi,” ucapnya.

    Setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Kota Besi. Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Murjani Sampit dengan ambulans.

    Pandangannya tertuju pada wajah kedua orang tuanya yang tampak sedih melihat putra mereka terbaring menahan sakit.

    Situasi itu membuatnya semakin terpuruk. Terlebih melihat wajah ayahnya yang berkeringat dan berlumur arang, ia sadar ayahnya baru saja berjuang memadamkan kebakaran di lahan.

    Di dalam ambulans, rasa sakit yang menjalar di kakinya membuatnya terdiam. Namun di tengah rasa nyeri itu, terlintas dalam benaknya bahwa ia masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah dan masih memiliki peluang untuk membanggakan kedua orang tuanya.

    Dari titik itulah ia memanjatkan doa, menguatkan tekad untuk bangkit kembali dan memberikan kebahagiaan untuk kedua orang tuanya.

    Khoirul berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia harus membalas budi dan memberi kebahagiaan kepada kedua orang tuanya.

    Sesampainya di RSUD Murjani, ia menjalani rontgen dan diketahui paha bagian kirinya patah.

    Namun, operasi tidak bisa segera dilakukan karena alat yang dibutuhkan tidak tersedia dan harus menunggu lama.

    Tak ingin membebani orang tua dan ragu menjalani operasi, ia memilih pengobatan alternatif menggunakan obat tradisional.

    Ia akhirnya menuju Kota Besi untuk menjalani pengobatan selama lebih dari satu bulan hingga masa pemulihan.

    Setelah ia kembali bersekolah, seorang guru mengatakan bahwa ia adalah harapan dalam lomba tari.

    Rasa kecewa menyesak di dadanya, karena ia sudah tak bisa meraih impian menjadi penari terkenal sekaligus melestarikan budayanya. Tapi ia mencoba menerima keadaan itu, meski menganggapnya sebagai titik terburuk dalam hidupnya.

    Setelah perlahan bangkit dari keterpurukan, ia mulai menemukan kembali semangatnya melalui seni, namun kali ini di bidang yang berbeda.

    Sebelum masuk SMK, ia sebenarnya sudah tertarik mempelajari kecapi. Ketertarikan itu sekarang kembali saat melihat temannya memainkan alat musik tradisional di sekolah, hingga ia mulai mencari tahu lebih jauh.

    Awal perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Fasilitas alat musik di sekolah yang sebagian rusak membuatnya sempat tidak bergairah.

    Senar kecapi yang putus membuatnya tidak bisa langsung belajar alat yang diminatinya.

    Namun, di luar sekolah, ia memanfaatkan alat musik ukulele yang nadanya diatur seperti kecapi.

    Bahkan ia menghabiskan waktu bermalam-malam untuk berlatih kecapi menggunakan ukulele hingga akhirnya mulai menguasainya.

    Baginya, beralih dari dunia tari ke musik bukanlah hal yang mudah, namun ia merasa musik lebih dapat dipelajari dengan santai meski dengan kondisi kakinya yang masih sakit.

    ”Tantangan dalam mempelajari bidang baru bukanlah alasan untuk menyerah. Sesulit apa pun itu, selagi mau berusaha pasti mudah,” ujarnya.

    Ketika teman-temannya belum terlihat di ruang latihan, ia sudah lebih dulu menginjakkan kaki di ruangan itu, menunggu sambil belajar secara mandiri. Jemarinya mulai terbiasa menepuk permukaan gendang nan bersemangat dan memetik dawai kecapi nan menenangkan.

    Ketekunannya membuahkan hasil. Ia mulai dipercaya memainkan berbagai instrumen dalam latihan, mulai dari gendang hingga kecapi dalam musik karungut.

    Kesempatan tampil pertama datang saat pembukaan acara temu alumni di sekolah. Pengalaman tersebut menjadi langkah awalnya sebelum mengikuti perlombaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) pada tahun 2025.

    Saat pelaksanaan FLS3N, musik tradisional membawanya pada prestasi beruntun. Juara I tingkat kabupaten hingga juara III tingkat provinsi.

    Khoirul (mengenakan kacamata) bersama tim dan pelatihnya sebelum rekaman FLS3N tingkat provinsi. (Dokumentasi pribadi narasumber)

    Sementara dalam Festival Habaring Hurung ia berhasil meraih juara pertama. Prestasi tersebut mengantarkannya mewakili kabupaten pada ajang Isen Mulang di Palangka Raya.

    Dalam perlombaan tersebut, ia kembali dipercaya menjadi bagian dari tim pemusik untuk mengiringi pertunjukan tari.

    Saat ini, ia bersama timnya tengah mempersiapkan diri menghadapi perlombaan selanjutnya.

    Khoirul (memegang kecapi) sedang berlatih bersama timnya untuk persiapan lomba Festival Habaring Hurung. (Dokumentasi pribadi narasumber)

    Dari berbagai pencapaian yang diraih, kini ia memiliki mimpi lebih besar.

    ”Saya ingin menjadi pemain musik tradisional yang dikenal luas,” ucapnya.

    Baginya, musik tradisional bukan hanya sebuah seni, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

    Khoirul membuktikan keterbatasan saat tak bisa lagi menari bukanlah halangan untuk berprestasi.

    Kecintaan terhadap seni dan budaya telah mengakar kuat di dalam diri. Bidang apapun yang digeluti justru menjadi pintu baru meraih mimpi.

    ”Saya harap, dari perjalanan yang saya tempuh, semakin banyak generasi muda yang tertarik mengikuti jejak saya untuk mencintai dan melestarikan budaya daerah. Apapun kendala dan tantangannya,” tutupnya. (***)

    Juara Harapan 1 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Savira Yuni Florenzya, SMKN 2 Sampit

  • Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman

    Kornadi, Sang Penjaga Karungut di Tengah Perubahan Zaman

    DI tengah dominasi budaya populer, generasi muda semakin akrab tren yang datang silih berganti. Tanpa sadar, mereka perlahan menjauh dari akar budayanya.

    Di saat musik modern dengan mudah menguasai ruang dengar, ada satu suara yang kian tergerus.

    Bukan karena kehilangan makna, melainkan tak lagi dianggap relevan. Karungut, seni tutur khas Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah, kini berada di persimpangan: dilupakan, atau diperjuangkan agar tetap hidup.

    Di tengah situasi itu, sosok seperti Kornadi memilih untuk tetap bertahan, menjaga suara itu tidak benar-benar hilang.

    Pencarian saya terhadap kesenian tradisional yang akan diangkat dalam lomba ini tidak berjalan mudah.

    Sejumlah pilihan sempat muncul, namun tak satu pun yang benar-benar terasa tepat. Hingga suatu ketika, ingatan saya kembali pada sebuah momen di awal tahun 2026.

    Saat itu, saya tengah berjalan menyusuri area Sampit Expo 2026. Di antara riuh pengunjung dan deretan stan, perhatian saya tertuju pada seorang pria berpostur tinggi, berkumis dan berambut putih yang memainkan alat musik tradisional dengan bentuk yang unik.

    Lantunan syair terdengar asing, sulit saya pahami namun meninggalkan kesan. Saya tersadar, saya belum pernah menyaksikan penampilan seperti itu.

    Dari situlah secercah ide mulai muncul. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang kesenian.

    Setelah menelusuri berbagai informasi melalui media digital, saya akhirnya mengenal Karungut: sebuah seni tutur khas Dayak yang perlahan mulai jarang terdengar.

    Rasa ingin tahu yang semakin besar membawa saya pada sosok tersebut. Seorang seniman yang setia menjaga keberlangsungan Karungut.

    Namun, untuk menemukan kontaknya tidaklah mudah. Di tengah kebuntuan, saya mencoba untuk bertanya kepada ayah saya.

    ”Bah, pian kenal dengan sidin?” tanya saya, sembari menunjukkan foto di Expo Sampit.

    ”Oh, ini tampil di depan stan DSDABMBKPRKP seingat Abah namanya Pak Kornadi,” jawab ayah.

    Setelah percakapan dengan ayah dan mencari informasi akhirnya saya mendapatkan kontak Kornadi.

    Saya segera menghubunginya untuk wawancara. Setelah beberapa percakapan, kami pun sepakat untuk bertemu secara langsung di kediamannya pada Kamis, 16 April 2026, selepas waktu magrib.

    Pertemuan itulah yang kemudian akan membuka lebih dalam cerita tentang Karungut—dan perjuangan seniman dalam menjaganya tetap hidup.

    Malam telah turun ketika saya tiba di kediaman Kornadi. Halaman rumahnya cukup luas, dikelilingi oleh pepohonan dan tanaman yang membuat suasana terasa sejuk.

    Dari kejauhan, cahaya lampu teras memancar hangat, menjadi sumber terang di tengah malam.

    Rumah itu sederhana, namun terasa hidup. Di salah satu sisi teras, sebuah sepeda motor tua terparkir diam. Angin malam berembus pelan, diiringi suara jangkrik yang sesekali memecah kesunyian.

    Kornadi, pegiat seni Karungut di Sampit memegang kecapi elektrik khas Kalteng ciptaannya sendiri. (Dokumentasi Pribadi Penulis)

    Tak lama kemudian, sosok yang saya cari terlihat. Kornadi berdiri di teras, menyambut saya yang saat itu masih melangkah mendekat. Kesan pertama yang saya rasakan begitu hangat.

    Ia menyambut saya dengan sikap ramah dan tenang, mengurangi rasa gugup yang sejak tadi saya rasakan.

    Tanpa banyak basa basi, ia mempersilakan saya masuk ke ruang tamu.

    Di dalam, suasana ruangan dipenuhi nuansa seni. Beberapa alat musik tradisional tersusun rapi di pojok ruangan, berpadu dengan hiasan dinding yang unik. Ruang itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan seni yang ia jalani.

    Wawancara pun dimulai. Awalnya suasana terasa canggung. Saya sempat gugup dalam menyusun pertanyaan, sementara ia menjawab dengan tenang.

    Namun, seiring waktu, percakapan kami mulai mengalir, membuka satu per satu kisah tentang Karungut dan perjalanan panjang yang telah ia tempuh.

    ”Dibayar tidak membuat kaya, tidak dibayar juga pun tidak menjadi miskin. Jadi saya tetap maju.”

    Kalimat itu diucapkan Kornadi dengan nada tenang, namun sarat makna. Bagi dirinya, Karungut bukan sekadar seni, melainkan bagian dari hidup yang telah ia jalani sejak muda.

    Ia mulai mengenal Karungut sejak masih duduk di bangku SMA pada tahun 1980-an. Ketertarikannya bukan datang begitu saja, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga yang kental dengan dunia seni.

    ”Saya itu dari bakat, turunan,” ujar pria berusia 63 tahun ini.

    Ia bercerita, sang kakak menjadi salah satu sosok yang lebih dahulu terjun dalam dunia Karungut, bahkan termasuk di antara yang pertama melakukan rekaman di Kalimantan Tengah pada masa kaset pita.

    Sementara dirinya, saat itu hanya mengikuti jejaknya.

    ”Awalnya saya sih cuma ikut-ikutan Kakak. Tetapi juga ada kemauan dan tertarik seni Karungut,” tambahnya.

    Sejak masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan dan sempat meraih juara di tingkat SMA.

    Dari situlah, Karungut perlahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

    Bagi Kornadi, Karungut bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, ia merupakan media untuk menyampaikan berbagai pesan.

    ”Karungut itu, untuk hiburan tapi juga bisa menyampaikan aspirasi. Bisa juga seperti cerita tentang kehidupan, legenda, hingga kritik,” jelasnya.

    Kornadi menceritakan, dahulu Karungut kerap hadir dalam berbagai acara adat, mulai dari pesta panen hingga upacara tertentu.

    Liriknya yang khas dengan pola sajak tertentu serta cengkok yang unik menjadikannya berbeda dari bentuk seni tutur lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan Karungut mulai menghadapi tantangan.

    ”Sekarang ini ditekan terus dari budaya luar,” ujarnya, dengan lirih.

    Ia mengakui minat generasi muda terhadap Karungut semakin berkurang. Selain dianggap kuno kesenian ini juga dinilai kurang memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

    Meskipun demikian, hal itu tidak membuatnya berhenti. Ia melakukan berbagai cara agar Karungut tetap bertahan.

    ”Kalau tidak ikut perkembangan, ya bisa hilang,” selorohnya.

    Bagi Kornadi, mengikuti perkembangan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menyadari bahwa mempertahankan bentuk lama tanpa penyesuaian hanya akan membuat Karungut semakin tertinggal.

    Dari pemahaman itulah ia menciptakan kecapi elektrik dengan bentuk etnik yang tetap mempertahankan identitas aslinya. Inovasi ini bukan sekadar bunyi modern, tetapi cara agar Karungut tetap relevan.

    Di tengah keterbatasan, langkah tersebut menunjukkan bahwa kreativitas bukan sekadar kemampuan mencipta, melainkan cara bertahan.

    Sebuah bentuk keteguhan untuk tidak menyerah pada perubahan, sekaligus upaya menjaga agar nilai-nilai yang terkandung di dalam Karungut tetap hidup.

    Tak hanya itu, ia juga mulai menyesuaikan bahasa dalam Karungut agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas, termasuk menggunakan bahasa Banjar atau Indonesia dalam beberapa penampilannya.

    Upaya ini ia lakukan bukan tanpa alasan. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana Karungut tetap dikenal dan bertahan.

    ”Hanya untuk memperkenalkan saja, mempertahankan bahwa masih ada Karungut,” tuturnya.

    Di tengah berbagai keterbatasan, ia masih melihat secercah harapan. Kehadiran generasi muda yang mulai mengenalkan Karungut melalui media sosial menjadi tanda bahwa kesenian ini belum sepenuhnya ditinggalkan.

    ”Kalau menurut saya masih ada harapanlah kalau Karungut ini bisa bertahan lebih lama,” Kornadi optimistis.

    Baginya, melestarikan Karungut bukan sekadar soal mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.

    Sebuah langkah kecil yang berdampak besar, agar suara lama itu tetap memiliki tempat di tengah zaman yang berjalan dinamis.

    Di tengah perubahan zaman, Karungut mungkin tak lagi menjadi suara utama. Namun, melalui keteguhan sosok seperti Kornadi, ia tetap hidup, membawa nilai tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan.

    Malam itu di Sampit, saya belajar bahwa budaya tidak mati karena zaman. Ia akan hilang ketika kita berhenti menjaganya. (***)

    Juara 3 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Ahmad Raja, SMAN 1 Sampit.

  • Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa

    Metamorfosis Mariatul Khiptiah: Jeda Tiga Tahun dan Panggung Membangkitkan Jiwa

    Di bawah sorot panggung, Mariatul Khiptiah adalah pusat semesta yang lantang bicara. Namun, tak banyak yang tahu, dia pernah akrab dengan kesunyian. Selama tiga tahun sempat vakum dari pendidikan formal demi menjaga sang ayah dan usaha keluarga. Perjalanan panjang dari keputusasaan menuju panggung nasional inilah yang membawaku menembus hujan menuju Bagendang.

    Thovan Maulana Putera

    PEREMPUAN berbusana serba hitam melangkah tepat di jantung panggung. Disoroti cahaya lampu. Tak ada orang lain. Tak ada properti yang bisa dijadikan tameng.

    Hanya cahaya memisahkannya dari kegelapan di atas lantai pertunjukan dan cerita yang harus dia lantangkan.

    Caranya menarasikan tiap jengkal cerita dengan emosi yang begitu hidup, membungkam mulut setiap pasang mata hingga tenggelam dalam bisu.

    Begitulah imajinasiku pada monolog yang ditampilkan Mariatul Khiptiah dalam FLS3N 2025 tingkat Nasional di Jakarta sebelum aku temui.

    Penampilan monolog Mariatul Khiptiah dalam pentas FLS3N di Institut Kesenian Jakarta. (Dokumentasi milik Narasumber)

    Sekitar pukul 13.40, aku berangkat ke Mentaya Hilir Utara atau kerap disebut Bagendang untuk menemui Mariatul Khiptiah.

    Sepanjang perjalanan dari Sampit ke wilayah itu, mobil yang aku tumpangi harus menembus derasnya hujan.

    Sekitar setengah jam perjalanan menelusuri jalan trans Kalimantan akhirnya aku tiba di lokasi tujuan.

    Aku berlari kecil menyusuri koridor hingga akhirnya berhenti di salah satu ruangan yang dipakai untuk latihan kesenian.

    Aku menunggu. Tak lama dia pun datang. Akhirnya aku bisa bertatap muka dengan Mariatul Khiptiah, kesan pertama begitu hangat dan santai, dan tak pelit bicara.

    Mariatul Khiptiah (Berpakaian hitam) sedang diwawancarai penulis. (Dokumentasi milik Penulis)

    Bagi Mariatul Khiptiah atau akrab dipanggil Maria, pukul 06.05 bukan sekadar angka di jam, melainkan janji.

    Perempuan kelahiran 06 Oktober 2004 asal Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

    Dia selalu tepat waktu. Di sekolahnya, dia menjalani hari-harinya seperti siswa lain seperti piket pagi, bercengkerama dengan teman.

    Namun saat jam kosong di mana teman-temannya bercakap riang, dia memilih membenamkan diri di pojok baca, nyaris semua buku seni nonfiksi yang disediakan sekolah itu dia lahap.  

    Di balik seragam putih abu-abunya, dia menyimpan kisah sebagai Finalis FLS3N 2025 cabang Monolog.

    Namun, Maria tak pernah sombong, dia tetap seperti air tenang, tak berisik, dan selalu tahu arah yang dia tuju.

    Tahun 2020, saat badai pandemi Covid-19 mengusik dunia, menjadi masa berat bagi banyak orang.

    Tak terkecuali bagi keluarga Maria. Bahkan ironisnya, pandemi usai saat lulus SMP cobaan baru kembali datang, kesehatan sang ayah malah menurun. Ini memaksa jejaknya menggali ilmu terhenti.

    ”Saat itu, mau tidak mau aku menunda melanjutkan pendidikan untuk mengurus usaha ayah,” ucapnya dengan nada bicara turun.

    Maria terpaksa terjun untuk membantu usaha keluarganya. Tangan yang mestinya mengetik tugas dan telinga menerima penjelasan guru, kini justru sibuk berkutat dengan tandan buah segar kelapa sawit.

    Saat teman-temannya belajar dari rumah, dia malah disibukkan dengan pekerjaan yang lumayan berat. Keinginan melanjutkan sekolah pun sempat terlupa.

    Suatu ketika, kakak pertamanya berkata kepada Maria ”Dek, kamu harus sekolah lagi. Sudahlah, soal usaha ini serahkan ke kakak,” ujarnya.

    Kalimat itu ibarat cambuk yang memacu semangat Maria. Dia pun mencari sekolah terdekat. Langkahnya jatuh pada salah satu sekolah, saksi bisu permulaan dunia teater milik Maria.

    Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momentum paling berkesan bagi Maria.

    Saat itu dia dipertontonkan video monolog dari kakak kelasnya. Ini sangat membekas di benaknya, hingga dia pun bertekad tak hanya menonton namun harus menjadi bagian cerita.

    Memulai lagi dari nol belajar di bangku SMA dalam usia lebih dewasa daripada teman-teman sekelasnya tidak membuatnya malu.

    Justru, ini jadi pemantik semangat bagi Maria untuk pembuktian diri. Demikian halnya dengan teater. Akan tetapi, dunia teater ternyata tak semudah ekspektasinya.

    ”Bayangkan, untuk menghafal naskah selama tiga hari, aku hanya bisa mencerna satu kata,” ujarnya dengan nada pelan, seolah itu rahasia.

    Tanpa dasar, tanpa pengalaman, Maria memulai kegiatan berteater dari awal, di bawah bimbingan Tiara Permata Sukma. Di teater, mental maupun fisiknya ditempa.

    Saat lomba, selama tiga bulan dia melatih diri dengan gestur, artikulasi, blocking, dan penguasaan ekspresi. Teater memberinya pelajaran berharga: kehidupan, kesabaran, cara mengendalikan emosi, dan bagaimana bekerja sama dengan banyak individu.

    Kalamantana, karya Titi (pembimbing monolog) merupakan salah satu naskah paling membekas yang pernah dia bawakan di panggung. Baginya, itu bukan sekadar dialog, melainkan teguran.

    Memerankan tokoh “Tanah” dengan watak lelah, marah, dan tersakiti oleh kerakusan manusia.

    ”Jangan sombong manusia! Karena aku mengingat semua bentukmu sebelum kau mengenakan nama,” ucap Maria, menirukan di depanku.

    Kalimat itu mengakar dalam benaknya. Menurutnya, satu kutipan naskah ini begitu kuat, dapat membuatnya berapi-api.

    Di lantai panggung, Maria membiarkan tubuhnya menjadi wadah untuk kemarahan bumi, seolah jiwanya tergantikan.

    Meskipun gestur dan ekspresi dilatih secara khusus, saat lampu menyorot, dia biarkan intuisi mengalir. Jika meleset dari naskah, improvisasi spontan menjadi pilihan terbaik untuknya, tanpa harus berganti jiwa.

    ”Ini bukan hanya cuma lomba biasa, tapi itu adalah kecintaanku pada seni,” ujarnya dengan mata berbinar.

    Menurut Maria, kerja keras tanpa dorongan orang-orang terdekat nyaris mustahil.

    Dukungan kedua orangtuanya, arahan pembimbing, serta dedikasi pelatih dan kru menjadi mesin bagi raga dan mentalnya. Sedangkan doa dan ikhtiar jadi bahan bakarnya.

    Di pedesaan Bagendang jarang ada anak bisa berdiri di panggung nasional, namun siapa sangka Maria dapat membantah stigma tersebut.

    Dengan latar belakang sempat tertunda tiga tahun absen di meja sekolah, semangat dan kecintaannya terhadap seni dapat menorehkan prestasi mengagumkan.

    Perjalanannya mengalir deras melewati satu demi satu tahapan: Juara 1 tingkat kabupaten, berlanjut ke provinsi, hingga terbang ke Jakarta dan bersaing dengan 35 perwakilan masing-masing provinsi.

    Banyaknya perwakilan tersebut tak bisa memadamkan api semangat Maria.

    Di balik setiap langkah Maria menuju panggung nasional, ada doa dua orang tak pernah absen: orangtuanya, mereka paling percaya padanya sejak awal.

    ”Kalau dipikir-pikir, jika saja dulu aku tidak kembali ke sekolah,” gumamnya pelan, matanya menerawang sendu.

    Dia berhenti sejenak, seolah merangkai kata-kata berikutnya.

    ”Pencapaian ini tidak pernah ada. Mungkin aku bisa ikut sanggar, tapi tak akan pernah bisa membawa nama sekolah dan provinsi sejauh ini.”

    Seni teater telah mengubah jati diri Maria. Jika saja dulu dia hanya mengenal disiplin yang kaku, kini dia belajar tentang batasan dan sikap saat bertemu orang baru.

    Menjadi lebih mawas diri, namun tetap rendah hati dan bersosialisasi dengan teman. Salah satu nilai dibawa Maria hingga sekarang adalah, setinggi apapun prestasi kita, janganlah berlagak sombong, layaknya napas tokoh “Tanah” dalam naskah Kalamantana.

    Mariatul Khiptiah telah menyelesaikan perjalanan panjang dalam hidupnya. Dari perempuan kehilangan harapan sekolah, menjadi peraih gelar menginspirasi orang lain.

    ”Untuk siapa pun yang berada di posisi sepertiku atau merasa tertinggal. Jangan menyerah, apa pun keadaannya. Jangan pernah berpikir kalau hidupmu berhenti di situ saja.”

    Dari pertemuan dan wawancara dengan Maria menambah khazanah baruku soal seni yang menguatkan karakter.

    Ternyata, sering kali sorot lampu paling terang justru dimenangkan kepada jiwa berani bangkit setelah terjatuh. (***)

    Juara 2 Lomba Jurnalistik FLS3N Kotim: Thovan Maulana Putra, SMKN 2 Sampit

  • Cegah Stunting, Alfamart dan Darya Varia Gelar Layanan Posyandu untuk 2.800 Penerima Manfaat

    Cegah Stunting, Alfamart dan Darya Varia Gelar Layanan Posyandu untuk 2.800 Penerima Manfaat

    SAMPIT, kanalindependen.id – Komitmen Alfamart dalam mendukung program nasional pencegahan stunting masih terus dilakukan.

    Hal ini diwujudkan melalui pelaksanaan program Alfamart Sahabat Posyandu yang digelar bersama PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, dengan menyasar 2.800 ibu dan anak di 28 kota di Indonesia.

    Di Kota Sampit, kegiatan ini dilaksanakan di halaman gerai Alfamart Jalan Tjilik Riwut KM 1 pada Rabu (22/4/2026).

    Layanan pos pelayanan terpadu yang dimulai sejak pagi disambut antusias warga. Para ibu tampak datang membawa anak mereka untuk mendapatkan berbagai layanan kesehatan yang disediakan.

    Program ini menghadirkan layanan kesehatan, mulai dari imunisasi, pemeriksaan tumbuh kembang anak, edukasi gizi, hingga Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

    Seluruh layanan diberikan langsung oleh kader posyandu bersama tenaga dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur guna memastikan pelayanan berjalan optimal.

    Program Alfamart Sahabat Posyandu telah digagas sejak awal 2023 dan secara konsisten dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap isu tumbuh kembang anak, khususnya dalam upaya pencegahan stunting.

    Salah satu warga, Rahmah (35), mengaku terbantu dengan kehadiran layanan posyandu yang lebih dekat dari tempat tinggalnya.

    Menurutnya, selain memudahkan akses, program ini juga memberikan pengalaman berbeda dibanding layanan posyandu pada umumnya.

    ”Programnya bagus ya, maksudnya juga sama dengan posyandu pada umumnya serta tentu ada banyak hal menarik yang didapat di sini. Dekat dengan rumah juga sih,” ujarnya.

    LAYANAN POSYANDU: Kegiatan layanan posyandu yang diselenggarakan Alfamart berkolaborasi bersama Darya Varia di Halaman Gerai Alfamart Jalan Tjilik Riwut KM 1, Kota Sampit, Rabu (22/4/2026). (Ist/ Kanal Independen)

    General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan program Sahabat Posyandu merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap isu tumbuh kembang anak yang menjadi perhatian para orang tua.

    ”Alfamart yang dekat dengan keseharian masyarakat, juga turut memberikan dampak sosial yang dekat pula dengan kekhawatiran para ibu tentang tumbuh kembang buah hatinya. Dengan kolaborasi kebaikan bersama stakeholder lainnya, posyandu dirasa langkah yang tepat,” kata Rani Wijaya.

    Ia menambahkan, keterlibatan kader posyandu dan dinas kesehatan menjadi kunci dalam memastikan layanan yang diberikan tepat sasaran dan berjalan maksimal.

    ”Diharapkan dengan kolaborasi lintas sektor ini, di mana sektor swasta ikut berperan memperkuat upaya pemerintah melalui pelayanan posyandu, stunting anak di Indonesia dapat dicegah secara lebih luas,” ujar Rani.

    Corporate Secretary Darya-Varia, Widya Tobing, menegaskan bahwa partisipasi Darya-Varia dalam program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan sebagai entitas di bidang kesehatan.

    ”Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-50 Darya-Varia, sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap isu pencegahan stunting yang menjadi salah satu prioritas kami. Sejak tahun 2019, Darya-Varia telah menjalankan program serupa di Desa Cibatok, Bogor, Jawa Barat, sehingga pengalaman ini menjadi landasan kuat untuk memperluas manfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

    Apresiasi juga disampaikan Kepala Puskesmas Ketapang 1, Miftahun Nisa. Ia menilai program ini memberikan dampak nyata, khususnya bagi para ibu yang membutuhkan pendampingan dalam memantau tumbuh kembang anak.

    ”Program ini dapat memberikan manfaat langsung terhadap para ibu yang membutuhkan pendampingan untuk tumbuh kembang anaknya. Sehingga memang program seperti ini diharapkan terus berkelanjutan dan menjadi percontohan,” tandasnya. (hgn)

  • 44 Persen Lagu Baru Kini Buatan AI, Industri Musik Mulai Diserbu Bot 

    44 Persen Lagu Baru Kini Buatan AI, Industri Musik Mulai Diserbu Bot 

    Kanalindependen.id – Perubahan besar tengah mengguncang industri musik global. Platform streaming Deezer mengungkap fakta mencengangkan: hampir setengah lagu baru yang diunggah setiap hari kini merupakan hasil kecerdasan buatan (AI).

    Dalam laporan terbarunya, Deezer mencatat sekitar 44 persen dari total unggahan harian setara puluhan ribu lagu dibuat menggunakan teknologi AI. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dalam waktu singkat, seiring semakin mudahnya akses ke alat produksi musik berbasis AI.

    Namun, di balik ledakan produksi tersebut, tersembunyi persoalan serius. Mayoritas lagu AI ternyata tidak benar-benar dinikmati oleh pendengar manusia. Deezer menemukan sebagian besar streaming terhadap lagu-lagu ini justru berasal dari aktivitas tidak wajar yang diduga kuat menggunakan bot.

    Fenomena ini memunculkan istilah baru: “industri musik tanpa musisi.” Lagu diproduksi secara massal oleh mesin, diunggah ke platform, lalu diputar secara otomatis demi mengejar keuntungan dari sistem royalti. Bukan kualitas yang dikejar, melainkan kuantitas dan celah sistem.

    Ironisnya, meski jumlah lagu AI sangat besar, kontribusinya terhadap total streaming masih tergolong kecil. Artinya, publik belum sepenuhnya beralih ke musik buatan mesin. Namun, ancaman terhadap ekosistem tetap nyata, terutama bagi musisi independen yang bergantung pada distribusi digital.

    Deezer sendiri mulai mengambil langkah tegas. Platform ini mengembangkan teknologi untuk mendeteksi lagu buatan AI, membatasi distribusinya dalam sistem rekomendasi, hingga menahan pembayaran royalti untuk aktivitas streaming yang terindikasi manipulatif.

    Langkah ini menjadi sinyal bahwa perang antara kreativitas manusia dan produksi massal berbasis algoritma telah dimulai. Di satu sisi, AI membuka peluang baru dalam berkarya. Di sisi lain, ia juga menghadirkan risiko eksploitasi yang dapat merusak nilai ekonomi dan artistik dalam industri musik.

    Pertanyaan besar pun mengemuka: ketika musik bisa dibuat dalam hitungan detik oleh mesin, apakah makna karya masih sama? Atau justru industri ini tengah memasuki era baru, di mana batas antara manusia dan teknologi semakin kabur dan keaslian menjadi barang langka? (***)

  • FOMO Kafe di Sampit: Sepertiga Gaji Menguap, Anak Muda Tersandera Eksistensi

    FOMO Kafe di Sampit: Sepertiga Gaji Menguap, Anak Muda Tersandera Eksistensi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Gelas Lia sudah kosong sejak setengah jam lalu. Ia tak memesan lagi, tak juga beranjak pulang.

    Perempuan 20 tahun itu tahu persis nominal yang telah menguap malam itu: Rp150 ribu.

    Angka itu setara upah lelah dua hari kerja, memotong gajinya yang mandek di angka Rp3,6 juta sebulan. Jauh di bawah batas aman UMK Kotawaringin Timur 2026 sebesar Rp3,75 juta.

    Namun, urusan tekor bisa dipikir besok. Prioritas malam ini: kursinya tetap terisi selama teman-temannya masih sudi bertahan.

    ”Kalau lagi ramai sama teman, ya bayar masing-masing. Kalau sudah tanggal tua, pindah ke kopi Rp20 ribuan. Yang penting tetap nongkrong,” katanya, baru-baru ini.

    Satu kalimat pendek meluncur dari bibirnya saat ditanya alasan bertahan di tengah impitan finansial. ”Kadang bukan soal mampu. Tapi takut ketinggalan.”

    Ironi Statistik yang Menampar

    Realitas Lia mengonfirmasi anomali tajam dalam catatan resmi pemerintah. Beban terberat dari gaya hidup ini secara ironis justru dipikul oleh mereka yang paling rentan.

    Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kotawaringin Timur 2025 lansiran Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap rata-rata warga Kotim menghabiskan Rp206.833 per bulan untuk makanan dan minuman di luar rumah. Seluruh kategori, bukan hanya kafe.

    Fakta mengejutkan bersembunyi di balik nominal tersebut. Kelompok 40 persen berpenghasilan terendah nekat membakar 16 persen dari total pengeluaran bulanan mereka untuk kategori ini.

    Angka ini jauh mengungguli kelompok 20 persen teratas yang hanya menyisihkan 11,7 persen.

    Semakin tipis ketebalan dompet seseorang, semakin buas hasrat membelanjakannya di luar rumah.

    BPS mencatat fenomena ini sebagai imbas modernisasi. Namun, lompatan angka tersebut menggarisbawahi realitas sosiologis yang lebih kelam: tekanan sosial memaksa warga terus hadir di ruang publik, menabrak rasionalitas kondisi keuangan mereka.

    Bukan Kopi, Tapi Validasi Sosial

    Yuli (30) menjadi potret hidup tekanan tersebut. Mengantongi gaji bulanan Rp3,5 juta, ia rutin mengalokasikan Rp1 juta khusus untuk rutinitas kafe.

    Nominal itu menembus lima kali lipat rata-rata pengeluaran warga Kotim yang dicatat BPS. Minimal dua kali seminggu, ia wajib hadir.

    “Bukan karena kopinya. Lebih ke foto-foto buat media sosial,” tegasnya.

    Motivasi Yuli mewakili keresahan massal. Riset Kaloeti dkk. (2021) membedah bahwa 64,6 persen remaja Indonesia terjangkit Fear of Missing Out (FOMO).

    Kecemasan ini memicu individu memaksakan presensi demi menghindari pengucilan dari lingkaran pergaulan.

    Dampaknya telak menghantam. Lonjakan kecemasan, kelelahan mental, dan kebocoran finansial yang tak terencana.

    Pakar psikologi Vera Itabiliana menelanjangi peran media sosial sebagai akselerator tekanan.

    Deretan likes, komentar, dan repost bermutasi menjadi mata uang baru penentu kelas sosial. Fluktuasi metrik virtual ini mampu mendikte suasana hati pemiliknya sepanjang hari.

    Temuan Kartohadiprodjo dan Suryadi (2025) mengerucutkan benang merahnya.

    FOMO memantik gairah konsumsi impulsif remaja di kafe-kafe viral. Kafe telah bersalin rupa. Ia kini adalah panggung teater eksistensi.

    Tempat manusia hadir, direkam, dan dipamerkan. Tanpa jejak konten, sebuah kunjungan dianggap batal demi hukum pergaulan.

    Survei Jakpat 2024 menyajikan bukti konkret: 66 persen Gen Z menenggak kopi setiap hari, menobatkan mereka sebagai ras penyumbang pengeluaran kopi tertinggi dibanding generasi pendahulu.

    Siasat Bertahan di Tanggal Tua

    Industri kafe di Sampit mekar subur memangsa peluang tersebut. Mulai dari warung trotoar hingga kedai estetik berbalut nuansa Instagramable, semua berebut isi kantong anak muda.

    Data BPS 2023 merekam lonjakan usaha penyediaan makanan dan minuman nasional hingga 4,85 juta unit, meroket 21 persen dari tahun 2016. Kota-kota seperti Sampit turut tersapu gelombang invasi ini.

    Taktik gerilya mulai dimainkan saat saldo rekening kian sekarat. Lia menurunkan standar gengsinya ke kopi Rp20 ribuan.

    Yuli mengasah ketelitiannya membedah daftar harga sebelum melangkah melewati pintu kaca. Keduanya menolak menyerah.

    ”Kalau lagi ada uang, ke kafe yang agak naik kelas. Kalau lagi tipis, cari yang harganya miring saja. Yang penting tetap nongkrong,” ucap Lia.

    Esensi nongkrong di Sampit telah bergeser fatal. Bukan lagi tentang tempat atau sajian di atas meja, melainkan soal fungsi pembuktian diri.

    Kehadiran fisik dan digital di meja kafe adalah cara memvalidasi bahwa mereka masih ada, masih relevan, dan belum terdepak dari arena sosial.

    Layaknya kewajiban kredit, tagihan eksistensi ini akan terus datang bulan depan, tanpa peduli sisa saldo di rekening mereka. (ign)


    Catatan Redaksi: Sumber data pengeluaran per kapita dan distribusi kelompok penghasilan bersumber dari Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kotawaringin Timur 2025, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, diterbitkan November 2025. Data pertumbuhan usaha makanan dan minuman bersumber dari Statistik Penyediaan Makanan dan Minuman 2023, BPS Pusat. Data perilaku konsumsi kopi Gen Z bersumber dari Survei Jakpat, Desember 2024.

  • Tak Didukung Anggaran, Pengembangan Wisata Pulau Hanibung Tetap Diupayakan Melibatkan CSR Perusahaan

    Tak Didukung Anggaran, Pengembangan Wisata Pulau Hanibung Tetap Diupayakan Melibatkan CSR Perusahaan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pengembangan Pulau Hanibung sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Kotawaringin Timur belum didukung anggaran daerah.

    Namun, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Ramadansyah tak kehabisan akal.

    Ia bertekad akan mendorong perusahaan untuk turut berkontribusi mendukung program pengembangan wisata menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.

    ”Tahun ini tidak dianggarkan. Kami fokus inventarisir dulu. Nanti akan dorong tanggungjawab perusahaan menggunakan dana CSS, terutama PBS di sekitar lokasi, untuk ikut berkontribusi mengembangkan objek wisata di Pulau Hanibung,” kata Ramadansyah yang baru-baru ini dilantik sebagai Kepala Disbudpar Kotim pada Senin, (6/4/2026).

    Setelah resmi melepas jabatan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kotim, Ramadansyah bisa lebih fokus mengembangkan sektor wisata di Kotim.

    Wacana pengembangan wisata Pulau Hanibung mulanya diinisiasi oleh Ramadansyah, ketika ia masih merangkap jabatan sebagai Kepala Bapenda Kotim dan Plt Baperida Kotim sekitar tahun 2024 lalu.

    Ide itu muncul ketika ia memancing di areal tersebut. Menurutnya, Pulau Hanibung punya potensi wisata yang bisa dikembangkan. Jika Pangkalan Bun memiliki Taman Nasional Tanjung Puting, Kotim juga memiliki Wisata Pulau Hanibung.

    Untuk menuju Pulau Hanibung ada dua jalur alternatif melalui jalur sungai dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit atau melalui jalur darat melewati Desa Camba dengan jarak tempuh sekitar 1 jam.

    ”Dari utara Desa Camba ke Pulau Hanibung bisa menaiki perahu klotok jaraknya hanya 15 menit. Dan, juga bisa ditempuh lewat jalur darat melewati Jalan Poros Desa Kandan-Camba,” ujarnya.

    Ramadansyah mengatakan pengembangan pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat.

    ”Pulau Hanibung bisa menjadi tempat wisata baru. Kita sudah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Desa Camba dan langkah awal kita saat ini adalah penataan serta inventarisasi kawasan,” kata Ramadansyah.

    Pulau Hanibung termasuk dalam kawasan areal penggunaan lainnya (APL) seluas 260 hektare yang diperuntukkan untuk kawasan lahan pertanian. Jika mengitari atau mengelilingi Pulau Hanibung berjarak 8 kilometer.

    Namun, lokasinya yang berupa rawa-rawa dinilai kurang cocok dijadikan lahan pertanian. Sehingga, perubahan tata ruang dari kawasan pertanian menjadi kawasan satwa alam perlu direvisi.

    Sesuai dengan regulasi Permenhut Nomor P.19/Menhut-II/2005 lokasi di Pulau Hanibung dapat ditetapkan sebagai wisata taman satwa.

    Dipilihnya Pulau Hanibung juga didasari atas berbagai pertimbangan diantaranya kawasan ini masih hutan alami, dikeliling Sungai Mentaya dan berjarak tidak terlalu jauh dari Kota Sampit.

    ”Pak Bupati memang ada merencanakan lokasi Pulau Lepeh sebagai tempat penangkaran buaya, tetapi melihat dari lokasinya, disitu jalur keluar masuk kapal, gelombang cukup tinggi dan pertimbangan lain yang tidak memungkinkan. Kalau di Pulau Hanibung ini lokasinya strategis dan cocok,” ujarnya.

    Bupati Kotim Halikinnor bersama sejumlah pejabat terkait sudah meninjau lokasi Pulau Hanibung pada Selasa, 16 Januari 2024 lalu dengan menaiki kapal KPLP KNP 342 yang difasilitasi Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit.

    Selanjutnya, pada Rabu (24/4/2024) lalu, Pemkab Kotim telah melaksanakan pertemuan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalanbun, Kalteng di Bapperida Kotim untuk membahas rencana titik survey sekaligus pembentukan Tim Survey Kehati Pulau Hanibung.

    Tim sudah terbentuk melibatkan 7 orang dari BKSDA Kalteng dan enam orang masyarakat Desa Camba. Selanjutnya, survey sosial, ekonomi dan keanekaragaman hayati di Pulau Hanibung telah dijadwalkan selama empat hari mulai 27-30 Mei 2024.

    Sebelum dilaksanakan survey, digelar sosialisasi mengumpulkan puluhan tokoh masyarakat, tokoh adat dan pemuda untuk menyampaikan terkait rencana Pulau Hanibung yang akan dijadikan wisata taman satwa.

    Dalam pengelolaannya ke depan, Pemkab Kotim memastikan akan melibatkan masyarakat Desa Camba dalam hal pengembangan wisata.

    ”Rencana Pulau Hanibung sebagai wisata taman satwa ini sangat bagus dikembangkan dan akan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Dengan adanya Pokdarwis diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat semakin bagus dengan memaksimalkan pengembangan wisata di Pulau Hanibung,” katanya.

    Ramadansyah juga telah merancang konsep pengembangan Pulau Hanibung dengan menggabungkan wisata alam dan pemberdayaan masyarakat. Aktivitas yang sudah ada seperti kebun rotan akan tetap berjalan, namun akan dikembangkan dengan tambahan usaha seperti budidaya lebah madu, budidaya udang galah dan potensi ekonomi lainnya.

    ”Yang punya kebun rotan tetap berkebun, bisa juga  tambahkan ternak lebah supaya menghasilkan madu. Itu potensi ekonomi yang bisa berkembang,” ujarnya.

    Dalam waktu dekat, Disbudpar Kotim akan turun langsung ke lokasi untuk sosialisasi kepada masyarakat, termasuk imbauan menjaga kelestarian lingkungan.

    ”Kita akan ke lokasi, minimal pasang spanduk dan sosialisasi. Kita imbau masyarakat tidak menebang pohon, tidak membakar, dan tidak berburu di sana,” katanya.

    Selain itu, program penanaman pohon akan menjadi prioritas, termasuk kemungkinan penanaman pohon khas seperti ulin melalui kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan KPHP.

    Ia menargetkan, dalam dua tahun ke depan Pulau Hanibung sudah bisa dikunjungi wisatawan.

    ”Insya Allah dua tahun ke depan sudah bisa jadi tujuan wisata. Orang datang untuk cari suasana tenang, healing. Di sana itu sangat mendukung,” ungkapnya.

    Buka Peluang Investor Bangun Penginapan di Pesisir Pantai Ujung Pandaran

    Selain membuka destinasi objek wisata baru, Disbudpar Kotim juga berencana mengembangkan kawasan wisata di Pantai Ujung Pandaran.

    Menurutnya, aset milik pemerintah daerah di kawasan tersebut belum dikelola secara optimal.

    ”Tempat milik pemda itu bahkan belum ada nama. Itu saja dulu kita benahi. Kemudian kita kaji bagaimana pemanfaatannya,” ujarnya.

    Ia membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta, termasuk investasi pembangunan hotel atau tempat penginapan yang nyaman di kawasan tersebut.

    ”Kita akan kaji regulasinya, apakah bisa kerja sama pemanfaatan dengan swasta. Kalau bisa, kenapa tidak kita tawarkan investasi hotel di situ,” katanya.

    Ramadansyah melihat potensi besar dari tingginya kunjungan wisatawan ke Ujung Pandaran, bahkan di luar musim liburan.

    ”Sekarang saja, penginapan sering penuh. Bahkan banyak tamunya orang luar daerah. Ini peluang besar,” ungkapnya.

    Dengan akses jalan yang semakin baik dan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Sampit, ia optimistis kawasan tersebut bisa berkembang seperti destinasi wisata Pantai di Bali.

    ”Kita bisa bikin konsep hotel tepi pantai seperti di Bali. Itu sangat memungkinkan,” tambahnya.

    Selain infrastruktur dan destinasi, Ramadansyah juga menyoroti pentingnya penguatan ekonomi kreatif dalam pengembangan sektor pariwisata.

    Saat ini, nomenklatur Disbudpar Kotim belum mencakup ekonomi kreatif, sehingga menjadi perhatian untuk segera disesuaikan.

    ”Enkraf belum masuk. Kita akan dorong perubahan nomenklatur supaya bisa sinergi dengan program pusat dan mendukung pelaku ekonomi kreatif,” jelasnya.

    Menurutnya, keberadaan ekonomi kreatif akan memperkuat ekosistem pariwisata, mulai dari kuliner, kerajinan, hingga produk lokal lainnya.

    Selain Pulau Hanibung dan Ujung Pandaran, Disbudpar juga mulai melirik potensi lain, termasuk bekas galian C yang telah ditinjau sebelumnya sebagai alternatif objek wisata baru.

    ”Kita ingin banyak pilihan. Ada Ujung Pandaran, Hanibung, dan potensi lain. Supaya masyarakat punya banyak tempat rekreasi,” tutupnya.

    Dengan membangun destinasi baru sekaligus mengoptimalkan yang sudah ada, Disbudpar Kotim menargetkan sektor pariwisata mampu menjadi penggerak ekonomi baru daerah dalam beberapa tahun ke depan. (hgn/ign)

  • Bukan untuk Dipelihara! Saat Seekor Trenggiling 5 Kg Menemukan Jalan Pulang

    Bukan untuk Dipelihara! Saat Seekor Trenggiling 5 Kg Menemukan Jalan Pulang

    KUALA PEMBUANG, Kanalindependen.id – ​Di tangan manusia, ia mungkin terlihat seperti peliharaan yang unik. Namun bagi alam, keberadaannya adalah penjaga keseimbangan yang tak tergantikan. Inilah kisah tentang seekor trenggiling jantan seberat 5 kilogram yang akhirnya “pulang” ke tangan negara setelah sempat berpindah tangan di pelosok Kalimantan Tengah.

    ​Kesadaran hukum dan empati terhadap satwa liar kembali menunjukkan tunas positifnya di Kabupaten Seruyan. Pada Rabu (8/4/2026) sore, sekitar pukul 15.30 WIB, satwa bersisik ini resmi diserahkan secara sukarela kepada petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Resort Sampit.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menyambut baik penyerahan ini. Saat diperiksa, sang “penggulung” ini dalam kondisi yang menggembirakan.

    ​“Tidak ditemukan luka. Satwa terlihat sangat aktif dan dalam kondisi kesehatan yang baik,” jelasnya dalam laporan resmi.

    ​Edukasi yang Berbuah Aksi

    ​Cerita ini bermula di Desa Mekar Indah, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Kabupaten Seruyan. Seorang warga yang sedang membersihkan kebun tak sengaja menemukan satwa dilindungi tersebut. Tanpa memahami aturan hukum yang mengikat, warga sempat merawatnya selama empat hari di rumah.

    ​Titik balik terjadi ketika Bagas, seorang staf Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), memberikan pemahaman kepada warga. Lewat pendekatan yang persuasif, ia menjelaskan bahwa trenggiling bukan sekadar hewan biasa ia adalah satwa yang dilindungi undang-undang. Memeliharanya, apalagi memperjualbelikannya, adalah tindakan melanggar hukum.

    ​Pesan edukasi itu rupanya menyentuh kesadaran sang warga. Lewat perantara M. Rendy Bahtiar, satwa tersebut pun diserahkan di halaman kantor SPTN Wilayah II Kuala Pembuang untuk kemudian dibawa ke Sampit.

    ​Pulang ke Habitat Alami

    ​Langkah ini menjadi sinyal positif di tengah bayang-bayang gelap praktik perdagangan satwa liar yang masih menghantui. Kasus ini membuktikan bahwa edukasi yang tepat sasaran mampu mengubah pola pikir: dari keinginan untuk memiliki menjadi tekad untuk melindungi.

    ​Saat ini, trenggiling tersebut tengah beristirahat di Pos Sampit, menunggu keputusan dari pimpinan BKSDA terkait langkah konservasi selanjutnya. Besar kemungkinan, ia akan segera dilepasliarkan kembali ke hutan tempat di mana ia bisa menggulung diri dengan bebas tanpa jeruji.

    ​Di balik serah terima sore itu, terselip sebuah pesan sederhana namun mendalam: satwa liar bukan untuk dimiliki secara pribadi. Mereka adalah milik alam, dan tugas kita hanyalah memastikan mereka tetap ada di sana. (***)

  • Dilepas ke Hutan Bakau, Lutung Hirangan Dipulangkan Namun Ancaman di Kota Belum Usai

    Dilepas ke Hutan Bakau, Lutung Hirangan Dipulangkan Namun Ancaman di Kota Belum Usai

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Setelah menjalani perawatan intensif, lutung hirangan yang sebelumnya ditemukan tersengat listrik di kawasan Jalan Cilik Riwut akhirnya dipulangkan ke alam.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, memastikan satwa tersebut telah diserahterimakan dari Komunitas Pecinta Satwa Liar di Sampit kepada pihaknya untuk kemudian dilepasliarkan.

    “Lutung sudah kami terima, dan langsung kami lepasliarkan ke wilayah Kecamatan Teluk Sampit,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

    Keputusan pelepasliaran itu, kata Muriansyah, bukan tanpa pertimbangan. Dari hasil pemeriksaan, kondisi lutung dinilai cukup sehat dan memungkinkan untuk kembali ke habitatnya. Luka di bagian tangan akibat sengatan listrik pun disebut telah mengering.

    “Secara umum kondisinya baik. Luka akibat tersetrum sudah kering, sehingga tidak menghambat pergerakan di alam,” jelasnya.

    Langkah tersebut juga telah melalui koordinasi dengan pimpinan BKSDA Kalimantan Tengah. Hasilnya, pelepasliaran dinilai sebagai opsi terbaik dibandingkan rehabilitasi jangka panjang.

    Lokasi pelepasliaran pun dipilih secara selektif. Wilayah Kecamatan Teluk Sampit dinilai memiliki habitat yang masih mendukung kehidupan lutung, terutama dengan keberadaan vegetasi hutan bakau yang relatif terjaga.

    “Di sana masih ada kawasan yang cocok dan layak bagi lutung untuk bertahan hidup, khususnya vegetasi mangrove,” tambahnya.

    Pemilihan kawasan bakau bukan tanpa alasan. Selain menyediakan sumber pakan alami, ekosistem ini juga relatif minim gangguan manusia dibanding wilayah perkotaan yang padat jaringan listrik dan aktivitas.

    Namun, pelepasliaran ini sekaligus menutup satu bab dan membuka bab lain yang belum selesai.

    Kasus lutung tersengat listrik di tengah kota kembali menegaskan bahwa ruang hidup satwa liar kian terdesak. Ketika satu individu berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke hutan, tidak ada jaminan peristiwa serupa tidak akan terulang pada yang lain.

    BKSDA boleh saja berhasil “memulangkan” satu lutung hari ini. Tetapi tanpa pembenahan serius terhadap tata ruang, perlindungan habitat, dan mitigasi infrastruktur berisiko, kota akan terus menjadi medan berbahaya bagi satwa yang seharusnya tak pernah berada di sana.

    Dan di antara tiang-tiang listrik yang menjulang, ancaman itu masih menggantung nyata, dan belum terselesaikan. (***)

  • Tersengat Listrik di Tengah Kota, Lutung Hirangan Jadi Korban “Kemajuan” yang Tak Ramah Satwa

    Tersengat Listrik di Tengah Kota, Lutung Hirangan Jadi Korban “Kemajuan” yang Tak Ramah Satwa

    SAMPIT, Kanalindependen.id — Seekor lutung hirangan ditemukan tergeletak tak berdaya di pinggir Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di samping Jalan Arjuno, Sampit, Selasa (7/4/2026). Tubuhnya lemas, nyaris tak bergerak. Dugaan sementara: tersengat aliran listrik dari jaringan yang melintang di kawasan tersebut.

    Peristiwa ini bukan sekadar insiden satwa liar tersesat ke dalam kota. Ia adalah potret konflik yang terus berulang antara ruang hidup satwa dan ekspansi infrastruktur manusia yang kian tak terkendali.

    Menurut keterangan Aktivis Pecinta Satwa Liar di Sampit Harry Siswanto, awalnya tidak ada warga yang berani mendekati lutung tersebut. Kondisinya yang terkapar menimbulkan kekhawatiran sekaligus ketidakpastian.

    Namun situasi berubah ketika seorang warga, Arut, dari kawasan Metro Happy, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, memberanikan diri untuk mengevakuasi satwa tersebut. Dengan peralatan seadanya dan risiko yang tidak kecil, ia membawa lutung itu pulang sebelum akhirnya diserahkan kepada komunitas aktivis pecinta satwa di Sampit.

    “Selanjutnya hewan itu akan dilakukan perawatan intensif dan pemeriksaan lanjutan agar cepat pulih dan bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya,” ujar pria yang terkenal dengan panggilan Amang Rimba Borneo.

    Namun, kisah penyelamatan ini menyisakan pertanyaan yang lebih besar.

    Lutung hirangan yang dikenal sebagai salah satu primata endemik Kalimantan sejatinya adalah penghuni kanopi hutan tropis. Mereka hidup berkelompok, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, menggantungkan hidup pada kesinambungan tajuk hutan. Dalam ekosistem, lutung berperan penting sebagai penyebar biji, menjaga regenerasi hutan tetap berjalan.

    Di Indonesia, lutung termasuk satwa yang dilindungi. Populasinya terus tertekan akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, hingga konflik dengan manusia. Ketika hutan menyempit, mereka tak punya banyak pilihan selain “turun” ke ruang-ruang yang telah dikuasai manusia perkebunan, permukiman, hingga jaringan listrik.

    Di titik inilah bahaya mengintai.
    Jaringan kabel listrik terbuka, tanpa pengaman bagi satwa arboreal, berubah menjadi perangkap mematikan. Bagi lutung yang terbiasa melompat antar cabang, kabel-kabel itu tampak seperti jalur alternatif. Padahal, sekali salah pijak, nyawa menjadi taruhan.

    Kasus tersengat listrik yang menimpa lutung hirangan ini menjadi pengingat keras bahwa pembangunan kerap berjalan tanpa mempertimbangkan keselamatan satwa liar. Minimnya mitigasi seperti pelindung kabel atau jalur lintasan satwa membuat insiden serupa terus berulang.
    Kini, lutung itu tengah menjalani perawatan. Harapannya sederhana: pulih, lalu kembali ke hutan.

    Namun persoalannya tak sesederhana itu. Selama hutan terus tergerus dan ruang hidup satwa makin terjepit, kota akan terus menjadi “jebakan” berikutnya.

    Dan setiap kali seekor lutung ditemukan terkapar di bawah tiang listrik, kita diingatkan pada satu hal: yang hilang bukan hanya satu nyawa satwa, tapi juga satu bagian dari keseimbangan alam yang perlahan runtuh. (***)