SAMPIT, Kanalindependen.id – Teras menjadi bagian yang tersisa dari Masjid Al-Muhajirin setelah kebakaran melanda Gang Al-Muhajirin, Jalan Tjilik Riwut Km 32, Desa Cempaka Mulia Barat, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (25/10/2026) petang.
Api yang dilaporkan muncul sekitar pukul 18.42 WIB itu membakar empat rumah warga, Masjid Al-Muhajirin, dan satu bangunan sarang burung walet. Sejumlah keluarga kehilangan tempat tinggal, sementara warga setempat harus menghadapi kerusakan tempat ibadah yang selama ini menjadi ruang salat berjemaah.
Bagi warga, kebakaran itu bukan sekadar bangunan yang hangus. Rumah yang terbakar merupakan tempat keluarga menjalani kehidupan sehari-hari, sedangkan masjid menjadi ruang untuk beribadah dan berkumpul bersama.
“Sedih rasanya melihat masjid yang biasanya tempat kami salat Id, kini hanya tersisa terasnya,” ungkap seorang warga.
Kesedihan itu tergambar dari kondisi masjid setelah api melalap bangunan di sekitarnya. Menurut warga setempat, Murni, bangunan sarang burung walet yang terbakar roboh dan mengenai masjid.
“Bangunan yang terdampak ada tiga rumah warga, satu masjid, dan satu bangunan walet. Api cepat membesar hingga merembet ke bangunan lain. Bangunan walet itu juga roboh dan mengenai masjid,” ujar Murni.
Informasi warga lainnya menyebutkan, rumah yang terbakar mencakup bangunan berbentuk barak dengan sekat-sekat dinding. Empat kepala keluarga dilaporkan tinggal di ruang-ruang terpisah dalam bangunan tersebut. Kebakaran itu pun berdampak pada keluarga yang berbagi ruang dalam satu bangunan hunian.
Saat api membesar, warga berupaya menyelamatkan diri dan barang-barang yang masih bisa dijangkau. Sebagian warga juga membantu memadamkan api menggunakan peralatan seadanya sambil menunggu bantuan petugas dari Sampit.
Operasi pemadaman telah selesai. Namun, kerusakan bangunan menyisakan persoalan lain yang perlu ditangani, mulai dari tempat tinggal sementara bagi keluarga terdampak hingga kebutuhan warga untuk kembali beribadah.
Penyebab kebakaran masih diduga
Berdasarkan informasi sementara, api diduga bermula dari bangunan sarang burung walet. Korsleting listrik disebut sebagai salah satu kemungkinan penyebab, tetapi belum ada hasil pemeriksaan resmi yang memastikan sumber api.
Hingga berita ini disusun, belum tersedia informasi terkonfirmasi mengenai identitas seluruh keluarga terdampak maupun taksiran kerugian material. Kebutuhan mendesak warga dan rencana pemulihan masjid juga masih memerlukan pendataan lebih lanjut.
Kebakaran meninggalkan kerusakan pada rumah dan tempat ibadah di Gang Al-Muhajirin. Bagi warga yang terdampak, pekerjaan berikutnya bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menemukan kembali tempat untuk tinggal dan menjalankan ibadah bersama. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Seekor anak beruang madu (Helarctos malayanus) berwajah polos berhasil diselamatkan warga setelah ditemukan berkeliaran sendirian di area perkebunan Desa Lampasa, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Satwa liar dilindungi undang-undang tersebut ditemukan terpisah dari induknya di dekat pondok kebun sebelum akhirnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit.
Penyelamatan satwa langka ini bermula saat seorang warga lokal, Sugiarto, mendapati anak beruang madu tersebut sendirian. Sugiarto sempat menunggu beberapa jam di sekitar lokasi untuk memastikan keberadaan sang induk. Namun, karena induk beruang tak kunjung muncul dan khawatir akan keselamatan satwa tersebut, ia membawanya pulang lalu melapor ke BKSDA.
Mendapat laporan pada Kamis (22/10/2026), personel BKSDA Pos Sampit bersama rombongan Direktur Polisi Satwa Korsabhara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto, S.I.K., bergerak ke lokasi pada Jumat (23/10/2026) untuk melakukan prosesi serah terima.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa saat diserahkan, anak beruang madu dalam kondisi fisik yang prima.
“Anak beruang madu ini sudah diserahkan kepada petugas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Saat proses serah terima, kondisinya dilaporkan sehat dan aktif,” terang Muriansyah, Sabtu (24/10/2026).
Dievakuasi ke SKW II Pangkalan Bun untuk Rehabilitasi Medis
Pascaserah terima dari warga Desa Lampasa, anak beruang madu tersebut langsung diboyong menuju Kantor Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (SKW) Wilayah II di Pangkalan Bun. Penanganan medis serta observasi perilaku diperlukan untuk memastikan kesiapan fisik satwa sebelum nantinya masuk ke tahap rehabilitasi dan pelepasliaran kembali ke habitat alaminya.
Muriansyah memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian Sugiarto yang memilih melapor ketimbang memelihara atau memperjualbelikan satwa dilindungi tersebut secara ilegal. BKSDA mengimbau seluruh masyarakat di Kotim dan Seruyan untuk segera melapor jika menemukan satwa langka yang tersesat atau terancam konflik di area pemukiman dan perkebunan.
Fenomena ditemukannya anak beruang madu sendirian di kebun warga Seruyan Raya merupakan sinyal bahaya terhadap kerusakan ekosistem dan habitat asli satwa liar. Terpisahnya anak dari induknya kerap dipicu oleh maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghancurkan ruang jelajah satwa, atau akibat sang induk menjadi korban perburuan liar dan jerat.
BKSDA Kalteng bersama Satgas Karhutla didesak melakukan penyisiran terbatas di sekitar hutan Desa Lampasa guna memastikan apakah induk beruang madu masih hidup di sekitar lokasi atau menjadi korban konflik lahan/jerat liar.
Keberhasilan Sugiarto menyerahkan satwa secara sukarela harus dijadikan percontohan edukasi hukum bagi masyarakat perdesaan. Pemkab Seruyan dan BKSDA dituntut memperluas sosialisasi UU No. 5 Tahun 1990 agar warga tidak memelihara anak beruang madu yang lucu sebagai peliharaan rumahan. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Tim Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menggagalkan peredaran gelap narkotika di wilayah hukum Kota Sampit. Pria berinisial RW (45) tak berkutik saat digerebek petugas di depan sebuah rumah kos di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Rabu (21/10/2026) siang sekitar pukul 14.00 WIB.
Dari hasil penggeledahan badan, petugas menemukan dua kantong plastik klip berisi kristal bening diduga sabu dengan berat kotor 10,18 gram yang disembunyikan secara rapi dalam saku celana.
Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo, mewakili Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, mengonfirmasi bahwa penangkapan berawal dari laporan warga yang curiga terhadap aktivitas transaksi narkotika di sekitar kawasan kos Dewi Sartika.
“Dari hasil penggeledahan badan yang disaksikan ketua RT dan warga setempat, petugas menemukan dua bungkus plastik klip diduga sabu dengan berat kotor 10,18 gram. Barang haram tersebut dibalut selembar tisu dan disimpan di kantong celana bagian belakang sebelah kiri tersangka,” ungkap IPTU Edi Walujo, Sabtu (24/10/2026).
Sabu Kantong Celana Dibalut Tisu, Motor Ninja dan Ponsel Diamankan
Prosedur penggeledahan berlangsung transparan dengan penunjukan surat perintah tugas di hadapan pengurus RT setempat. Selain barang bukti sabu seberat 10,18 gram, Satresnarkoba Polres Kotim turut menyita sejumlah barang bukti operasional milik tersangka RW: Satu unit telepon genggam merk Tecno Pova 7 Ultra yang diduga kuat berisi rekam jejak jalur komunikasi transaksi. Satu unit sepeda motor sport Kawasaki Ninja yang digunakan tersangka saat menanti pembeli di depan kos-kosan.
Tersangka RW secara kooperatif mengakui kepemilikan seluruh barang bukti tersebut di lokasi kejadian. Pria paruh baya ini langsung digelandang ke Mapolres Kotim untuk menjalani pemeriksaan mendalam, yang belakangan menjadi pintu masuk pengungkapan jaringan sabu jaringan 306 gram di Jalan Moh. Hatta.
Penangkapan RW di depan kos Dewi Sartika mempertegas bahwa kawasan kos-kosan dan kontrakan padat di Ketapang rawan dijadikan tempat transit atau pangkalan transaksi narkoba. Pengedar kerap memanfaatkan mobilitas penghuni kos yang tinggi sebagai kamuflase aksi kejahatannya.
Satpol PP Kotim, Bhabinkamtibmas, dan pengurus RT/RW di kawasan Telaga Baru dan Mentawa Baru Ketapang dituntut memperketat pengawasan serta mewajibkan pemilik kos melapor identitas penghuni secara berkala guna memutus rantai persebaran barang haram.
Penyidik Polres Kotim telah menjerat RW dengan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo KUHP jo UU No. 1 Tahun 2026. Penegakan hukum dengan ancaman hukuman berat wajib dikawal hingga persidangan untuk memberikan efek jera yang nyata. (***)
KOTIM, Kanalindependen.id – Praktik pemasangan jerat liar kembali mengancam keselamatan satwa dilindungi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Seksi KSDA Wilayah II bersama Orangutan Foundation International (OFI), aktivis lingkungan, dan aparat kepolisian menggelar operasi penyelamatan (rescue) dramatis di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Jumat (23/10/2026) dini hari.
Dua individu orangutan yang diselamatkan dari kawasan perkebunan warga pada pukul 02.00 WIB tersebut terdiri dari induk betina berusia sekitar 25 tahun yang diberi nama Gadis, serta anaknya yang merupakan jantan berusia sekitar 10 bulan yang dinamai Garis. Operasi penyelamatan di tengah kegelapan malam ini turut disaksikan langsung oleh Dirpolsatwa Korshabara Baharkam Polri, Brigjen Pol Tory Kristianto, S.I.K., bersama jajaran Polda Kalteng dan Polres Kotim.
Luka Parah Menganga di Kedua Pergelangan Tangan Induk
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, membeberkan bahwa keberadaan induk dan anak orangutan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak Senin (12/10/2026), namun satwa tersebut sempat menghilang saat tim melakukan observasi awal. Baru pada Kamis (22/10/2026) sore pukul 16.49 WIB, aktivis lingkungan Sampit, Awil, menginformasikan bahwa kedua individu tersebut muncul kembali di Desa Kandan.
Mendapat laporan presisi dari warga setempat bernama Karyadi, tim penyelamat dari Pangkalan Bun langsung bergerak pada pukul 19.00 WIB dan tiba di lokasi pukul 01.00 WIB untuk mengeksekusi tindakan medis. Saat proses pembiusan dan pemeriksaan fisik dilakukan oleh dokter hewan, kondisi induk orangutan sangat memprihatinkan karena tali jerat melingkar erat dan merobek jaringan kulit di kedua pergelangan tangannya.
“Ditemukan tali di pergelangan tangan kiri dan kanan induk orangutan. Tali tersebut langsung diputuskan dan terdapat luka yang cukup parah di bekas posisi tali. Diduga kuat tali tersebut merupakan jerat babi,” ungkap Muriansyah dalam laporan resminya, Sabtu (24/10/2026).
Setelah mendapat penanganan medis darurat untuk menutup luka bekas jerat, Gadis dan Garis langsung diboyong menuju Pangkalan Bun pada pukul 03.00 WIB untuk menjalani perawatan intensif serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat yang aman.
Tragedi yang menimpa Gadis merupakan bukti nyata tingginya ancaman jerat sling atau tali liar di area persinggungan hutan dan perkebunan Kotim. Membiarkan pemasangan jerat babi tanpa pengawasan sama saja dengan membiarkan pembantaian perlahan terhadap satwa langka terancam punah (endangered species).
Oleh karena itu, BKSDA Kalteng bersama Ditreskrimsus Polda Kalteng dan Polres Kotim didesak untuk segera menggelar operasi pembersihan (sweeping) jerat babi secara massal di sepanjang area perkebunan Desa Kandan dan Kecamatan Kota Besi, serta menindak tegas para pemasang jerat sesuai UU Nomor 5 Tahun 1990. Selain itu, kehadiran Dirpolsatwa Korshabara Baharkam Polri Brigjen Pol Tory Kristianto di lokasi evakuasi harus menjadi batu pijakan untuk memperketat patroli penegakan hukum lingkungan di wilayah rawan konflik satwa-manusia di Kotawaringin Timur. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Operasi terukur jajaran Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) berhasil membongkar mata rantai peredaran narkotika jaringan besar di Kota Sampit. Pengembangan kasus dari kawasan Jalan Dewi Sartika berujung pada penggerebekan rumah di Jalan Moh. Hatta, Kelurahan Ketapang, dengan total barang bukti sitaan mencapai 306,7 gram sabu, Rabu (21/10/2026) sore.
Dalam pengungkapan bernilai ratusan juta rupiah tersebut, petugas berhasil membekuk seorang pria berinisial SMF yang disinyalir bertindak sebagai gudang/penyimpan barang haram tersebut.
Kasi Humas Polres Kotim, AKP Edi Walujo, membeberkan bahwa terbongkarnya markas SMF berawal dari penangkapan tersangka pertama berinisial RW di Jalan Dewi Sartika sekitar pukul 14.00 WIB.
“Setelah mengamankan pelaku R W di Jalan Dewi Sartika, anggota Satresnarkoba langsung melakukan pengembangan untuk mengetahui asal sabu tersebut. Hasilnya, petugas bergerak ke Jalan Moh. Hatta dan mengamankan seorang pria berinisial S M F,” kata Edi, Jumat (23/10/2026).
Sabu Kemasan Chinese Tea Tersembunyi di Bawah Kasur Kamar
Proses penggeledahan di kediaman SMF di Jalan Moh. Hatta berlangsung ketat dengan disaksikan langsung oleh perangkat kelurahan dan ketua RT setempat.
Saat menyisir area kamar tidur, petugas mendapati sebuah tas putih yang disembunyikan secara rapat di bawah kasur. Di dalam tas tersebut, polisi menemukan tujuh paket besar sabu berkemas bungkus Chinese Tea (Teh Cina) modus klasik jaringan internasional untuk mengelabui aparat dengan berat kotor keseluruhan 306,7 gram.
Selain sabu, petugas mengamankan uang tunai Rp3,6 juta, satu bungkus plastik klip kecil, dan telepon genggam Oppo A5 Pro yang ditemukan di lantai kamar. Seluruh barang bukti kemudian dibawa ke Mapolres Kotim untuk kepentingan penyidikan.
Edi menyebutkan, berdasarkan keterangan kepolisian, S M F mengakui barang bukti yang ditemukan merupakan miliknya.
“Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan tujuh bungkus sabu dengan berat kotor 306,7 gram yang disimpan dalam tas putih di bawah kasur. Selain itu, turut diamankan uang tunai Rp3,6 juta, telepon genggam, dan sejumlah barang lain yang berkaitan dengan perkara tersebut,” ujarnya.
Hubungan kedua terlapor masih perlu ditelusuri
Pengungkapan di Jalan Moh. Hatta berlangsung sekitar dua jam setelah penangkapan R W di Jalan Dewi Sartika. Namun, hubungan antara kedua pria tersebut, asal-usul sabu, dan dugaan peran masing-masing dalam perkara ini masih perlu dijelaskan lebih lanjut melalui proses penyidikan.
Polisi menyangkakan S M F dengan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Sangkaan tersebut merupakan bagian dari proses hukum dan bukan penetapan bahwa terlapor telah terbukti bersalah. Pembuktian atas dugaan tindak pidana serta peran setiap pihak tetap harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Teror kepekatannya kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Sampit kembali memakan korban jiwa. Dua orang pria yang mengendarai sepeda motor dilaporkan tewas di tempat usai terlibat kecelakaan maut dengan sebuah truk bak terbuka di Jalan Jenderal Sudirman Km 10, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (23/10/2026).
Tragedi berdarah yang merenggut dua nyawa sekaligus ini terjadi saat gumpalan racun asap pekat menyelimuti jalur utama Sampit–Pangkalan Bun, yang melumpuhkan jarak pandang (visibility) horizontal pengemudi.
Apriandi, seorang pengguna jalan yang melintas di lokasi kejadian beberapa saat setelah benturan, mengonfirmasi bahwa kabut asap di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Km 10 dalam kondisi sangat tebal dan membahayakan.
“Benar, saat kejadian kabut asap sangat tebal. Dua orang dilaporkan meninggal di tempat dalam kecelakaan motor dengan truk,” ungkap Apriandi menahan duka di TKP, Jumat (23/10/2026).
Dua Pria Meninggal di Tempat, Identitas Korban dan Kronologi Masih Ditelusuri
Informasi awal di lapangan mengindikasikan bahwa kedua korban tewas merupakan laki-laki yang berboncengan menggunakan sepeda motor. Benturan keras dengan bodi truk bak terbuka membuat kedua korban mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian sebelum sempat dievakuasi ke RSUD dr. Murjani Sampit.
Hingga berita ini diturunkan, jajaran Satlantas Polres Kotim masih melakukan olah TKP, mengumpulkan keterangan saksi, serta mengamankan armada truk dan sepeda motor korban yang mengalami kerusakan parah.
Identitas lengkap kedua korban serta kronologi pasti arah laju kendaraan sebelum benturan masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak kepolisian.
Tragedi maut di Jalan Jenderal Sudirman Km 10 merupakan puncak ancaman keselamatan berlalu lintas saat krisis Bencana Udara Karhutla Kotim. Ketika jarak pandang memburuk secara drastis, memacu kendaraan tanpa penerangan maksimal atau nekat mendahului (overtaking) adalah tindakan fatal yang berujung maut.
Kabut Asap dan risiko di Jalan Raya
Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan menyulitkan pengendara memperkirakan jarak kendaraan lain. Meski kecelakaan ini terjadi saat kabut asap dilaporkan tebal, belum ada informasi yang memastikan kondisi tersebut menjadi penyebab langsung tabrakan.
Kecelakaan tersebut kembali menyoroti risiko keselamatan di jalan ketika jarak pandang terbatas. Dalam kondisi demikian, pengendara perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menyalakan lampu kendaraan yang sesuai, serta menghindari menyalip atau bermanuver secara mendadak.
Jika pandangan tidak lagi memungkinkan pengendara mengendalikan kendaraan dengan aman, perjalanan sebaiknya dihentikan di tempat yang aman dan jauh dari arus lalu lintas.
Informasi lebih lanjut mengenai kronologi kejadian, identitas korban, serta hasil penanganan kecelakaan masih menunggu keterangan resmi Satlantas Polres Kotim.
Kabut asap dan risiko di jalan raya
Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan menyulitkan pengendara memperkirakan jarak kendaraan lain. Meski kecelakaan ini terjadi saat kabut asap dilaporkan tebal, belum ada informasi yang memastikan kondisi tersebut menjadi penyebab langsung tabrakan.
Kecelakaan tersebut kembali menyoroti risiko keselamatan di jalan ketika jarak pandang terbatas. Dalam kondisi demikian, pengendara perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menyalakan lampu kendaraan yang sesuai, serta menghindari menyalip atau bermanuver secara mendadak.
Jika pandangan tidak lagi memungkinkan pengendara mengendalikan kendaraan dengan aman, perjalanan sebaiknya dihentikan di tempat yang aman dan jauh dari arus lalu lintas.
Informasi lebih lanjut mengenai kronologi kejadian, identitas korban, serta hasil penanganan kecelakaan masih menunggu keterangan resmi Satlantas Polres Kotim. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabut asap menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis, 22 Oktober 2026. Data BMKG Kotim menunjukkan jarak pandang yang tercatat pukul 07.00 WIB hanya 5 meter, sebelum meningkat menjadi 100 meter pada pukul 08.00 WIB dan 300 meter pada pukul 09.00 WIB.
Meski jarak pandang berangsur meningkat dalam rentang pengamatan tersebut, kondisi cuaca masih dilaporkan berkabut. Pada pukul 08.00 WIB, cuaca dikategorikan sebagai kabut tebal, sedangkan pada pukul 09.00 WIB berubah menjadi kabut asap.
Pada pukul 07.00 WIB, suhu udara tercatat 24,2 derajat Celsius dengan kelembapan 98 persen. Angin berada dalam kondisi tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.
Satu jam kemudian, suhu meningkat menjadi 25,1 derajat Celsius dengan kelembapan tetap 98 persen. Angin masih tenang. Pada pukul 09.00 WIB, suhu kembali meningkat menjadi 28,1 derajat Celsius, sementara kelembapan turun menjadi 83 persen. Angin tercatat bertiup dari selatan dengan arah 200 derajat dan kecepatan 6 kilometer per jam.
Data tersebut memperlihatkan perubahan jarak pandang dan parameter cuaca sepanjang pagi. Namun, peningkatan jarak pandang hingga pukul 09.00 WIB belum cukup untuk memastikan kabut asap telah menghilang atau kondisi sudah aman di seluruh wilayah Sampit.
512 titik panas terdeteksi di Kotim
Di tengah kondisi tersebut, infografis BMKG per 22 Oktober 2026 mencatat 512 titik panas di Kotim dalam periode pemantauan 24 jam terakhir. Sebanyak 480 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 21 titik rendah, dan 11 titik tinggi.
Pulau Hanaut mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 142 titik. Berikutnya Teluk Sampit dengan 111 titik, Seranau 100 titik, Telaga Antang 34 titik, dan Mentaya Hilir Utara 32 titik.
Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Data tersebut tidak otomatis membuktikan seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Verifikasi lapangan diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di setiap lokasi.
Kotim masuk kategori sangat mudah terbakar
Analisis parameter cuaca BMKG untuk periode 22–23 Oktober 2026 menempatkan Kotim dalam kategori sangat mudah terbakar. Sementara itu, prakiraan cuaca harian menunjukkan kondisi berawan, dengan potensi pertumbuhan awan hujan kategori sedang, yakni 50–70 persen, di wilayah utara Kotim.
Potensi pertumbuhan awan hujan tidak menjamin hujan turun merata di seluruh kabupaten. Karena itu, perkembangan cuaca dan kondisi titik panas masih perlu dipantau bersamaan dengan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Kotawaringin Timur, Suci Priatin Ningsih, menjelaskan jarak pandang dari 5 meter berangsur membaik menjadi 300 meter dalam dua jam pengamatan.
“Hingga data pengamatan pukul 09.00 WIB, jarak pandang Sampit tercatat membaik dibandingkan dua jam sebelumnya,” katanya.
Sementara itu kabut asap masih berpotensi terjadi di setiap pagi tergantung dengan kecepatan angin. Apalagi dalam beberapa hari belakangan kebakaran hutan dan lahan masih terjadi terutama di wilayah selatan Kotawaringin Timur. (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mengganas dan mengintai keselamatan nyawa warga. Lahan hutan dan semak belukar seluas kurang lebih tiga hektare di Desa Basirih Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), hangus terbakar pada Kamis (22/10/2026) malam.
Kobaran api yang berkobar hebat hingga merambat mendekati kawasan pemukiman padat penduduk tersebut memicu kepanikan warga di sekitar lokasi kejadian.
Laporan darurat diterima Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Sektor Samuda dari masyarakat setempat. Armada pemadam meluncur pukul 18.27 WIB, tiba di TKP pukul 18.40 WIB, dan langsung menggempur titik api utama mulai pukul 18.42 WIB.
Kepala Pos Damkar Sektor Samuda, Supianor, menegaskan pengerahan personel gabungan skala besar untuk mengisolasi kobaran api agar tidak merembet melahap rumah-rumah warga.
**”Personel langsung menuju lokasi setelah menerima laporan kebakaran hutan dan semak belukar di dekat permukiman warga. Setelah api berhasil ditangani, petugas melanjutkan dengan pendinginan
Pemadaman melibatkan personel Pos Damkar Sektor Samuda, unsur Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Polsek Samuda, Koramil Samuda, serta masyarakat peduli api (MPA) tingkat kecamatan dan desa.
Operasi berakhir pukul 20.00 WIB. Setelah itu, unit kembali untuk mengisi tangki air dan bersiaga menghadapi kemungkinan adanya laporan kebakaran berikutnya.
Laporan petugas tidak mencatat adanya korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Namun, penyebab kebakaran dan sumber awal api belum diketahui.
Kebakaran ini menjadi perhatian karena terjadi di dekat permukiman warga. Informasi lebih lanjut mengenai jarak titik api dari rumah penduduk serta langkah pencegahan di sekitar lokasi masih diperlukan untuk menggambarkan tingkat risiko yang dihadapi warga (***)
SAMPIT, Kanalindependen.id – Di tengah kepungan asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengisolasi wilayah pedalaman Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sebuah fenomena langka menyita perhatian publik. Seekor burung berparuh besar yang didorong dugaan kuat sebagai Rangkong jenis Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus) mendadak muncul dan hinggap tenang di atas sepeda motor warga di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu, Rabu (21/10/2026).
Aksi pasrah satwa langka tersebut terekam dalam video berdurasi 15 detik yang viral di media sosial. Burung tersebut tampak tenang dan tidak terbang menjauh saat didekati perekam dari jarak sangat dekat, sementara latar belakang pepohonan di sekitarnya samar tertutup jelutut kabut asap.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi identifikasi visual satwa langka tersebut dan menegaskan status perlindungannya di mata hukum.
“Sepertinya kangkareng hitam. Kangkareng hitam termasuk spesies burung rangkong dan termasuk jenis burung yang dilindungi UU. Spesies ini masih ditemukan di wilayah Kotim, terutama kawasan hutan yang terjaga dengan pohon besar di Telaga Antang, Antang Kalang, Mentaya Hulu, dan Bukit Santuai,” terang Muriansyah, Rabu (21/10/2026).
Sikap Jinak Memicu Dugaan Peliharaan Terlepas, BKSDA Ingatkan Sanksi Pidana
Muriansyah menganalisis bahwa perilaku burung yang terlampau jinak saat didekati manusia merupakan indikasi kuat bahwa satwa tersebut merupakan peliharaan warga yang terlepas, bukan burung liar yang mendadak turun akibat terpapar asap karhutla.
Secara alami, burung kangkareng hitam liar memiliki sifat kewaspadaan tinggi dan dipastikan akan langsung terbang menghindar jika berhadapan dengan manusia.
Meski demikian, BKSDA Pos Sampit mengingatkan masyarakat luas bahwa seluruh spesies burung rangkong termasuk Kangkareng Hitam merupakan satwa yang dilindungi penuh oleh Undang-Undang. Penangkapan, pemeliharaan, hingga pemeliharaan secara ilegal tanpa izin resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki konsekuensi sanksi pidana berat.
Kemunculan Kangkareng Hitam di pemukiman Tanjung Jariangau merupakan peringatan kritis bagi kelestarian biodiversitas ekosistem gambut Kotim yang kian terdesak amukan karhutla. Baik akibat habitatnya yang terbakar maupun akibat lepas dari pemeliharaan ilegal, keberadaan satwa dilindungi di pemukiman warga sangat rentan menjadi sasaran perburuan liar.
Tim BKSDA Pos Sampit didesak segera menerjunkan personel ke Desa Tanjung Jariangau untuk mengamankan (rescue) burung Kangkareng Hitam tersebut, guna mencegah penangkapan ilegal oleh oknum tidak bertanggung jawab.
BKSDA dan Polres Kotim dituntut melakukan razia serta penegakan hukum terhadap praktik pemeliharaan satwa liar dilindungi secara ilegal di kawasan perdesaan, sembari membuka layanan penyerahan sukarela satwa dari masyarakat. (***)
SAMPIT, kanalindependen.id – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berlangsung dalam suasana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Sampit juga membuat pelaksanaan peringatan Hari Santri Nasional ke-12 yang jatuh pada Kamis (22/10/2026) dilaksanakan di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim. Berbeda dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya digelar di lapangan terbuka.
“Sebagaimana kita rasakan bersama, saat ini wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur sedang dalam kondisi suasana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, demi menjaga kesehatan kita semua, terutama anak-anakku para santri, kegiatan yang sedianya dilaksanakan di lapangan terbuka seperti tahun-tahun dulu, kita pindahkan ke aula rumah jabatan bupati ini,” kata Bupati Kotim Halikinnor, Kamis (22/10/2026).
Halikinnor mengatakan upaya pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat untuk menangani karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Meski pemadaman terus dilakukan, kebakaran belum sepenuhnya terkendali dan titik api terus bertambah.
Pemerintah juga telah mengupayakan hujan buatan melalui teknologi modifikasi cuaca. Namun, upaya tersebut bergantung pada kondisi awan yang memungkinkan untuk dimodifikasi menjadi hujan.
Halikinnor menjelaskan, hujan hasil modifikasi cuaca tidak turun merata di seluruh wilayah. Karena itu, pemerintah dan masyarakat masih mengharapkan hujan alami yang dapat membantu memadamkan kebakaran.
”Untuk itu saya imbau kita semua, terutama tentunya di masjid-masjid juga, waktu salat Jumat, mari kita perbanyak doa dan mudah-mudahan Allah segera turunkan hujan yang membawa berkah dan manfaat untuk kita semua,” ucapnya.
Ia mengakui, perkiraan cuaca sebelumnya sempat memberikan harapan bahwa hujan akan turun pada pertengahan September hingga Oktober. Namun, hingga peringatan Hari Santri pada 22 Oktober, kondisi kemarau masih dirasakan masyarakat.
“Karena ramalan cuaca kemarin bahwa pertengahan September, Oktober ini sudah hujan. Tapi ternyata hari ini sudah tanggal 22, luput. Namanya ramalan itu kan tidak selalu benar,” tuturnya.
Menurut Halikinnor, kondisi tersebut memperlihatkan keterbatasan manusia dalam menghadapi fenomena alam. Berbagai upaya pemadaman dan rekayasa cuaca telah dilakukan, tetapi kebakaran masih menjadi persoalan yang harus ditangani bersama.
”Kita sudah berusaha, baik pemerintah bersama komunitas, seluruh masyarakat, bagaimana memadamkan api. Tapi memadamkan api, apalagi saat ini banyak titik-titik api yang bertambah,” katanya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan musibah tersebut sebagai bahan introspeksi dan meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam.
Halikinnor menegaskan, pemerintah dan masyarakat perlu terus berikhtiar, sembari memohon pertolongan Allah SWT agar kabut asap segera berlalu dan kehidupan kembali normal.
“Mudah-mudahan dengan doa kita semua, mudah-mudahan sekali lagi kita bermohon agar musibah kebakaran hutan dan lahan dan kabut asap yang berlangsung selama lebih dari 4 bulan ini bisa segera berakhir sehingga aktivitas kita kembali normal,” ujarnya.
Halikinnor juga mengingatkan para santri agar tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kepedulian terhadap lingkungan.
”Santri sebagai generasi penerus harus menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan dan senantiasa bersyukur atas ciptaan Tuhan,” katanya.
Halikinnor mengakhiri sambutannya dengan mengajak para santri terus menuntut ilmu dan menjaga kecintaan terhadap tanah air.
”Wahai para santri, teruslah belajar dengan tekun. Jangan pernah lelah mencintai tanah air. Karena hubbul wathan minal iman, mencintai tanah air adalah sebagian dari iman,” pungkasnya.
Sementara itu, Achmad Robita selaku penceramah menanggapi penyampaian Bupati Kotim, bahwa peringatan Hari Santri di dalam ruangan merupakan keputusan yang tepat dalam kondisi kabut asap.
Menurutnya, menjaga keselamatan dan menghindari kemudaratan harus didahulukan daripada mempertahankan kegiatan di tempat terbuka.
Ia mengutip dua kaidah fikih yang menjadi landasan pertimbangan tersebut, yakni la dharara wa la dhirar dan dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih.
“Ini juga ada kaidah fikihnya, ‘La dharara wa la dhirar.’ Jadi, kita harus mengambil langkah yang tidak membahayakan,” kata Achmad Robita.
Robita berharap peringatan Hari Santri tetap berlangsung khidmat dan istighosah yang dilaksanakan menjadi sarana memohon pertolongan Allah SWT agar hujan turun membawa manfaat bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan acara ini tetap khidmat dan menjadi wasilah, apalagi tadi kita bersama melaksanakan istighosah memohon pertolongan disituasi mendesak, kita harap dapat menjadi wasilah Allah turunkan hujan yang membawa manfaat untuk kita semua,” ujarnya.
Hari Santri Berakar dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Robita kemudian mengajak peserta memahami kembali sejarah penetapan Hari Santri Nasional. Menurut dia, peringatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Ketika Indonesia baru merdeka, kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan negara. Situasi itu mendorong para ulama untuk merumuskan sikap keagamaan dan kebangsaan dalam menghadapi upaya penjajahan kembali.
Pada 21–22 Oktober 1945, para kiai dan utusan Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah di Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya untuk membahas kewajiban mempertahankan kemerdekaan.
Hasilnya adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut menegaskan kewajiban umat Islam untuk membela tanah air dari penjajahan.
Seruan itu menjadi salah satu pemantik semangat perlawanan rakyat, termasuk dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Robita menjelaskan, sebelum Resolusi Jihad dicetuskan, Presiden Soekarno meminta pandangan KH Hasyim Asy’ari mengenai hukum mempertahankan negara dan tanah air.
“Melihat gelagat itu, Presiden Soekarno lantas berinisiatif untuk mencegah itu dan meminta fatwa kepada Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Meminta pendapat, apa hukumnya membela negara atau tanah air?” tuturnya.
Ia mengatakan, pembahasan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah peran ulama dalam menjawab persoalan kebangsaan. Kajian keagamaan tidak hanya membahas persoalan ibadah dan hukum sehari-hari, tetapi juga menjawab tantangan sosial yang dihadapi bangsa.
“Akhirnya, setelah istikharah dan melakukan berbagai riyadah, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan satu resolusi yang terdiri dari beberapa butir, yang kita dengar, kita kenal dengan Resolusi Jihad. Bahwa melawan penjajah dan mempertahankan tanah air termasuk jihad fi sabilillah,” katanya.
Penetapan Hari Santri Nasional kemudian dilakukan pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.
Dan, Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengenang Resolusi Jihad sekaligus menghormati kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pesantren Harus Bertransformasi Menjawab Tantangan Zaman
Selain mengingatkan sejarah perjuangan santri, Robita menyoroti perubahan pendidikan pesantren yang harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat.
Pesantren sejak lama dikenal memiliki pola pendidikan yang disiplin. Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi menjalani pembinaan selama 24 jam melalui kegiatan belajar, ibadah, dan kehidupan bersama.
Namun, perubahan kebutuhan masyarakat membuat pesantren perlu memperluas kompetensi lulusannya. Pendidikan agama tetap menjadi fondasi, tetapi harus dilengkapi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan terapan.
“Tadi Bapak Bupati menyampaikan bahwa santri harus bertransformasi. Betul sekali. Santri itu memang terkenal dengan pola ajar yang sangat ketat dan disiplin. Dua puluh empat jam mereka dididik,” kata Robita.
Ia menjelaskan, pendidikan pesantren yang dahulu banyak berpusat pada kajian kitab kuning kini berkembang dengan berbagai program tambahan. Tahfiz Al-Qur’an, kajian tafsir, hingga pendidikan vokasional menjadi bagian dari upaya pesantren menjawab kebutuhan zaman.
Robita menilai, pengembangan pendidikan keterampilan penting agar santri dapat berkontribusi di berbagai bidang pekerjaan dan kehidupan sosial, tanpa kehilangan identitas keagamaannya.
“Kalau tidak bertransformasi sedemikian, bagaimana santri bisa berkontribusi dalam rangka menyambut Indonesia Emas, bonus demografi 2045?” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pilihan pendidikan masyarakat semakin beragam. Karena itu, pesantren perlu memastikan lulusannya memiliki bekal yang memadai untuk melanjutkan pendidikan tinggi, bekerja, mengembangkan usaha, maupun mengabdi kepada masyarakat.
Menurut Robita, santri yang memiliki kemampuan agama sekaligus keterampilan praktis dapat mengambil peran dalam berbagai sektor, termasuk pertanian dan perkebunan yang berkembang di Kotim.
“Apalagi sekarang ini di daerah kita perkebunan banyak. Barangkali nanti bisa mengisi ruang-ruang itu sambil berdakwah. Kalau dakwah di sini banyak sudah. Yang di pelosok itu, Pak. Yang di pelosok kurang,” tuturnya.
Ia berharap santri tidak hanya mengisi ruang pengabdian yang selama ini sudah dikenal, tetapi juga hadir di daerah terpencil dan sektor-sektor yang membutuhkan tenaga terampil dengan landasan moral yang kuat.
“Oleh karena itu, santri harus bisa bersinergi dengan zaman, mengisi kemerdekaan, mengisi aspek-aspek kehidupan dan lini sosial, dan terus berdakwah menebarkan kebaikan,” katanya.
Integrasi Agama, Sains, dan Teknologi
Robita menilai tantangan pendidikan masa depan bukan sekadar menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu agama atau sains secara terpisah, melainkan membangun integrasi keduanya.
Namun, penguasaan ilmu pengetahuan tanpa landasan moral dapat menimbulkan persoalan. Sebaliknya, pemahaman agama yang tidak diiringi kompetensi dan kemampuan memahami perkembangan ilmu pengetahuan juga dapat membatasi kontribusi seseorang dalam masyarakat.
“Yang menguasai teknologi banyak, yang menguasai agama banyak. Tapi perlu ada satu integrasi keilmuan dalam pondok pesantren,” ujarnya.
Ia mendorong santri mempelajari persoalan keagamaan secara mendalam sekaligus memahami konteks penerapannya dalam kehidupan modern. Dengan demikian, santri dapat berperan dalam berbagai bidang tanpa kehilangan prinsip keislaman.
Robita mencontohkan pengembangan pendidikan di sejumlah pesantren yang memadukan tahfiz Al-Qur’an, kajian kitab-kitab klasik, serta ilmu pengetahuan umum. Salah satu pesantren yang ia sebut adalah Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto.
Ia berharap model pendidikan terpadu tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pesantren, sehingga santri memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan mengisi berbagai profesi.
“Kemampuan akademik harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Santri perlu memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan keterampilan praktis agar mampu menjawab persoalan masyarakat,” ujarnya.
Kejujuran dan Keteladanan Menjadi Ujian Santri
Robita menegaskan, penguasaan ilmu dan keterampilan tidak akan cukup tanpa integritas. Ia menilai kejujuran menjadi persoalan mendasar yang perlu terus ditanamkan melalui pendidikan dan keteladanan.
Dalam ceramahnya, ia menyampaikan ilustrasi mengenai kantin kejujuran di lingkungan sekolah. Program tersebut dirancang agar siswa mengambil barang dan membayar sendiri tanpa pengawasan langsung.
Namun, berdasarkan kisah yang disampaikannya, program itu beberapa kali mengalami kegagalan karena sebagian pembeli tidak membayar barang yang diambil.
Robita menjadikan kisah tersebut sebagai pengingat bahwa pendidikan moral tidak cukup disampaikan melalui pelajaran atau nasihat. Nilai kejujuran harus benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan.
“Persoalan kita hari ini adalah persoalan integritas, kejujuran. Banyak orang berkompetensi, tapi kejujurannya perlu diangkat,” katanya.
Ia mengingatkan para pendidik dan pengelola pesantren agar memastikan nilai akhlakul karimah tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Robita juga mengisahkan pengalaman seorang santri yang tinggal di California dan menarik perhatian warga setempat melalui kebiasaan menjaga kebersihan. Dari kebiasaan tersebut, ia menggambarkan bagaimana ajaran agama dapat diperkenalkan melalui perilaku yang nyata.
Menurutnya, keteladanan dapat menjadi jalan dakwah yang efektif karena masyarakat dapat melihat langsung manfaat dari nilai yang diterapkan.
Ia mengutip ungkapan, “Lisanul hal afshahu min lisanil maqal.” Ungkapan tersebut bermakna bahwa bahasa perbuatan atau keteladanan lebih fasih daripada bahasa perkataan. Karena itu, santri diharapkan tidak hanya mampu menjelaskan ajaran agama, tetapi juga memperlihatkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Robita yang juga menjabat Ketua Tanfidziyah PCNU Kotim menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kotim atas dikabulkannya permohonan hibah lahan untuk pembangunan kantor atau gedung NU.
Ia mengatakan, lahan tersebut akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung kegiatan organisasi dan pelayanan kepada masyarakat.
PCNU Kotim juga menggelar musabaqah santri sebagai kegiatan tahunan. Robita menyebut kegiatan tersebut tetap dapat dilaksanakan melalui swadaya meskipun terdapat kebijakan efisiensi anggaran.
“Usulan terkait kegiatan ini telah disepakati DPRD dan selanjutnya menunggu proses di pemerintah daerah,” ujarnya.
Baznas Salurkan Bantuan untuk Empat Pondok Pesantren
Peringatan Hari Santri Nasional di Kotim juga diisi dengan penyerahan bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kepada empat pondok pesantren. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan sarana air bersih, pembangunan toilet, dan renovasi bangunan pesantren.
Empat penerima bantuan tersebut meliputi; Pondok Pesantren Nurul Jannah di Sawahan, menerima bantuan dua unit profil tank berkapasitas masing-masing 2.300 liter.
Pondok Pesantren Libasut Taqwa di Parebok, menerima bantuan Rp10 juta untuk pembangunan toilet dua pintu.
Pondok Pesantren Nurul Ilmiyah di Seranau, menerima bantuan Rp20 juta untuk renovasi bangunan.
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Babussalam di Ketapang, menerima bantuan Rp20 juta untuk pembangunan toilet putri.
Selain bantuan sarana dan prasarana tersebut, kegiatan juga diisi dengan pemberian tali asih sekitar 100 santri.
Bantuan itu menjadi bagian dari dukungan bagi lembaga pendidikan keagamaan dan para santri yang menjalani pendidikan di pondok pesantren. (hgn/ign)