Kategori: Kalteng

  • Sinyal Merah Karhutla di Atas Bara Gambut Kotim: Dua Titik Api Menyala dalam Semalam, BMKG Warning Kemarau Ekstrem 2026

    Sinyal Merah Karhutla di Atas Bara Gambut Kotim: Dua Titik Api Menyala dalam Semalam, BMKG Warning Kemarau Ekstrem 2026

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Siklus krisis ekologis tahunan kini resmi kembali mengintai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Seiring bergesernya musim menuju kemarau, ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai menampakkan taringnya. Hanya dalam kurun waktu 24 jam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim melaporkan telah menerima dua hantaman titik api (hotspot) di dua lokasi spasial berbeda, menegaskan bahwa vegetasi gambut daerah ini sudah masuk dalam fase kritis mudah terbakar.

    Bara Siang Bolong di Lingkar Selatan dan Kelumpuhan Medan Tjilik Riwut

    Letupan karhutla pertama kali terdeteksi merobek kawasan Jalan Mohammad Hatta atau yang akrab dikenal sebagai jalur Lingkar Selatan, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang pada Senin (15/6/2026) siang sekitar pukul 13.56 WIB. Api dengan cepat melumat permukaan tanah gambut (peatland) kering yang ditumbuhi semak belukar rimbun.

    Merespons ancaman yang berpotensi meluas ke jalur logistik tersebut, sebanyak 10 personel taktis BPBD Kotim diterjunkan ke titik koordinat dengan dukungan satu unit armada mobil tangki air. Setelah bertempur melawan asap pekat, petugas berhasil mengisolasi pergerakan api. Luas lahan yang hangus terbakar diestimasi mencapai 0,12 hektare sebelum berhasil dijinakkan sepenuhnya.

    Belum sempat barisan pemadam melepas lelah, petaka kedua kembali dilaporkan menyala pada Senin malam di kawasan koridor Jalan Tjilik Riwut. Namun, operasi pemadaman di lokasi ini terpaksa membentur dinding kegagalan. Titik api terpantau berada jauh di dalam hutan, sekitar 700 meter merangsek dari tepi jalan utama.

    Petugas BPBD bersama kekuatan taktis dari Relawan Ketapi III sempat menembus kegelapan untuk melakukan asesmen lapangan. Sayangnya, kombinasi medan belukar yang ekstrem, tiadanya akses untuk kendaraan roda empat maupun unit water tank, serta minimnya visibilitas pencahayaan pada malam hari membuat tim terpaksa membatalkan eksekusi penyemprotan demi menghindari risiko fatalitas personel.

    Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menegaskan situasi ini harus dibaca sebagai early warning bagi seluruh elemen korporasi dan masyarakat. Berdasarkan analisis awal, hilangnya guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir telah mengubah karakteristik permukaan tanah Kotim menjadi bahan bakar yang sangat reaktif.

    “Kami mengimbau secara keras kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dalam bentuk apa pun. Saat ini kita sudah resmi memasuki musim kemarau, sehingga potensi karhutla mulai meningkat tajam secara eksponensial,” tegas Multazam dalam keterangan persnya pada Selasa (16/6/2026).

    Multazam tidak menampik dugaan bahwa mayoritas peristiwa karhutla di Kotim selalu berkorelasi dengan faktor kelalaian atau kesengajaan manusia (human-induced wildfire). Mulai dari taktik murah membersihkan kaplingan tanah secara instan dengan api, hingga puntung rokok yang ditinggalkan berceceran di atas semak kering tanpa pengawasan.

    Kembalinya asap karhutla di Lingkar Selatan dan Tjilik Riwut adalah alarm keras bahwa Kotim sama sekali belum beranjak dari status wilayah rapuh bencana ekologis. Statmen mitigasi dari BPBD yang menyatakan lokasi kebakaran malam hari di Tjilik Riwut “aman karena jauh dari permukiman” adalah sebuah cara pandang defensif yang berisiko melahirkan kelengahan kolektif.

    Hukum alam tanah gambut (peatland) Kalimantan memiliki karakteristik subsurface fire (kebakaran di bawah permukaan). Api yang terlihat padam di atas, bisa terus merayap di kedalaman lapisan gambut setinggi dua meter selama berhari-hari. Membiarkan titik api di Tjilik Riwut menyala semalaman hanya karena alasan medan yang sulit adalah keputusan taktis yang dilematis; jika bara bawah tanah itu tidak diinjeksi air secara total, ia akan meledak menjadi kebakaran masif begitu dihantam angin kencang kemarau.

    Kanal Independen mendesak Satgas Karhutla Kotim dan jajaran Polres untuk tidak membiarkan dua kasus awal ini menguap begitu saja sebagai “kecelakaan alam”. Jalur Lingkar Selatan dan Tjilik Riwut adalah dua magnet pertumbuhan properti dan investasi yang sangat seksi di Sampit. Ada indikasi kuat bahwa kemunculan titik api di sana merupakan bagian dari taktik spekulan tanah (land clearing) yang sengaja memicu kebakaran terkontrol demi menekan biaya pembersihan lahan komersial.

    Mitigasi di tahun 2026 ini menuntut ketegasan hukum yang radikal. Terlebih, BMKG sudah mengeluarkan prognosis buruk bahwa musim kemarau tahun ini akan berjalan jauh lebih panjang, lebih kering, dan lebih ekstrem akibat anomali iklim jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Pemerintah daerah tidak bisa lagi sekadar mengandalkan unit water tank atau ketangkasan Relawan Ketapi III di hilir ketika api sudah membesar. Penegakan hukum berlapis berupa penyegelan lahan yang terbakar menggunakan garis polisi (police line) serta penelusuran status kepemilikan sertifikat tanah di TKP wajib dijalankan. Selama para pemilik lahan atau pelaku pembakaran liar tidak pernah diseret ke meja hijau, maka Sampit akan terus dipaksa menghirup racun asap pekat demi kemakmuran segelintir mafia tanah. (***)

  • Klaim Lestari dan Suara Ekskavator: Menguji Janji Sawit Berkelanjutan di Teluk Bayur Seruyan

    Klaim Lestari dan Suara Ekskavator: Menguji Janji Sawit Berkelanjutan di Teluk Bayur Seruyan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Deru mesin ekskavator memecah senyap di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Seruyan Tengah.

    Mata pisau baja perlahan mengeruk tanah, membentuk parit gajah yang membelah deretan sawit dan hamparan yang selama ini diyakini warga sebagai ladang mereka.

    Ketegangan lekas menjalar. Ruang hidup yang menjadi sandaran ekonomi sejumlah keluarga kini terancam terputus oleh galian sedalam beberapa meter tersebut.

    Aparat Pemerintah Desa Teluk Bayur langsung merespons keresahan penduduk sesaat setelah aktivitas penggalian ramai dipersoalkan pada awal Juni 2026.

    Kepala desa beserta perangkatnya mengonfirmasi temuan lapangan mengenai jalur parit yang memotong area garapan warga.

    Menyikapi kekhawatiran itu, warga mendesak agar segera dilakukan musyawarah yang melibatkan seluruh pihak guna mencari solusi damai sebelum konflik terbuka meletus.

    Sejalan dengan tuntutan tersebut, pemerintah desa meminta seluruh aktivitas alat berat dihentikan sementara, setidaknya hingga batas perizinan dan status lahan terverifikasi dengan terang.

    Desakan Verifikasi dan Upaya Meredam Gesekan

    Anggota DPRD Seruyan dari Fraksi NasDem, Kuling, turut mendesak pembuktian fakta di lapangan.

    Dia menekankan perlunya keterlibatan aktif Pemerintah Kabupaten Seruyan dan Polres Seruyan untuk segera turun tangan.

    ”Saya tidak memihak ke perusahaan ataupun warga. Yang saya dorong adalah adanya penyelesaian dengan pemerintah turun tangan melakukan cek faktual dan verifikasi terhadap persoalan tersebut,” tegasnya, Senin (15/6/2026).

    ”Saya mendorong dilakukan pengecekan kebenaran di lapangan mengenai persoalan itu sehingga daerah tersebut tetap kondusif. Ini penting untuk mencegah konflik antara masyarakat dan investasi,” tambahnya.

    Pijakan Legalitas Perusahaan

    Menghadapi tuntutan verifikasi dan desakan dialog tersebut, PT Ciptatani Kumai Sejahtera (PT CKS) berdiri tegak pada pijakan legalitas.

    Melalui penjelasan kepada media lokal sepanjang 12–13 Juni 2026, kuasa hukum perusahaan, Henri Wijaya, menepis segala tudingan pelanggaran.

    Galian parit gajah itu, menurut Henri, berada lurus di dalam areal konsesi sah perusahaan dan murni dikerjakan untuk kepentingan pengelolaan sekaligus pengamanan aset kebun.

    ”Penggalian parit gajah yang dilakukan perusahaan berada dalam cakupan Izin Usaha Perkebunan dan tidak keluar dari ketentuan yang berlaku,” kata Henri kepada wartawan.

    Henri menegaskan, PT CKS menjalankan seluruh rantai operasional, mulai dari pembukaan lahan, pembangunan infrastruktur, hingga pola kemitraan plasma, berdasarkan dokumen perizinan resmi pemerintah dan ketentuan teknis.

    Dia juga menampik kabar adanya gelombang penolakan luas dari masyarakat setempat, seraya menilai pemberitaan di sebagian media belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi faktual.

    Perusahaan pun menaruh harapan agar persoalan ini disikapi secara objektif oleh aparat kepolisian dan pemerintah daerah demi menjaga kemungkinan gesekan di lapangan.

    Riak Baru dari Jejak Lama

    Sengketa parit gajah ini sejatinya sekadar riak baru dari sejarah tarik-ulur yang jauh lebih panjang antara warga, perusahaan, dan pemangku kebijakan.

    Mundur ke pertengahan 2021, perwakilan lima desa dari Kecamatan Seruyan Tengah dan Batu Ampar mendatangi gedung DPRD Seruyan di Kuala Pembuang.

    Tuntutan mereka tunggal, yakni menagih janji realisasi kebun plasma dari PT CKS (entitas yang berafiliasi dengan Medco Group) yang dinilai belum merata menyentuh desa-desa penyangga.

    Gaung tuntutan itu bahkan menembus Senayan melalui Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi IV DPR RI pada 2021.

    Menempati mimbar forum, anggota DPRD Kalimantan Tengah, Jainudin Karim, mendorong audit investigatif terhadap izin HGU dan kewajiban plasma PT CKS beserta PT Sungai Rangit.

    Dia turut menyinggung isu sensitif soal penggusuran makam dalam proses pengembangan kebun.

    ”Ada dua permasalahan, yakni penggusuran makam dan terkait plasma,” ujar Jainudin kepada Komisi IV saat itu.

    Tekanan bertubi-tubi sejak 2021 itu dijawab PT CKS dengan membeberkan deretan pencapaian pada tahun-tahun berikutnya.

    Melalui forum mediasi dan sosialisasi bentukan Pemerintah Kabupaten Seruyan sepanjang 2023–2025, manajemen perusahaan memaparkan komitmen penyaluran kebun plasma seluas 1.114 hektare.

    Pada Februari 2026, perusahaan tercatat menyalurkan dana bagi hasil panen plasma lebih dari Rp160 juta ke rekening anggota Koperasi Padang Tagari Sejahtera di Desa Derawa, sebagai hasil dua periode panen.

    Menjelaskan pola kerja sama lainnya pada sosialisasi kemitraan 2023, Kepala Humas Fordayak PT CKS, Bakti Yusuf Irwandi, merinci komitmen perusahaan kepada Koperasi Hapakat.

    ”PT CKS juga memberikan tali asih kemitraan seluas 200 hektare,” kata Bakti.

    Ujian bagi Sertifikat Lestari

    Catatan administratif memperlihatkan posisi PT CKS yang terhitung kokoh. Analisis implementasi Peraturan Bupati Nomor11/2021 yang dirilis awal 2025 menempatkan Teluk Bayur Estate sebagai bagian dari hamparan izin perkebunan kelapa sawit seluas 3.888,58 hektare di Seruyan.

    Profil pelaporan RSPO dan dokumen lain menempatkan entitas ini di bawah bendera Medco Agro. Daftar resmi GAPKI juga mencatat mereka sebagai anggota cabang Palangka Raya.

    Langkah korporasi menuju sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) telah bergulir sejak 2019, ditandai pengumuman publik audit tahap kedua oleh PT Mutuagung Lestari (MUTU International).

    Memasuki 2024, perwakilan perusahaan dan pejabat Pemkab Seruyan secara terbuka menyebut PT CKS sebagai mitra strategis dalam membangun entitas yurisdiksi kelapa sawit berkelanjutan.

    Sokongan pemerintah tampak kental menghiasi berbagai panggung resmi sepanjang 2023–2025.

    Pejabat daerah, termasuk Bupati Seruyan, kerap menyandingkan operasional PT CKS dengan jargon pemerataan ekonomi melalui skema plasma.

    Bahkan, pada Oktober 2025, Kuling sempat melontarkan apresiasi atas kegiatan sosialisasi manajemen PT CKS, menilai realisasi plasma 20 persen sebagai langkah maju bagi warga sekitar kebun.

    Namun, kontras dengan deretan stempel legal dan narasi resmi tersebut, koalisi masyarakat sipil memotret realitas yang buram.

    Laporan dan siaran pers yang dirilis sepanjang 2024–2025 menyimpulkan hasil kajian implementasi sertifikasi yurisdiksi di Seruyan dengan temuan tajam: keberadaan sawit di kawasan hutan, mandeknya pembangunan kebun plasma, hingga rentetan pelanggaran hak warga.

    ”Kabupaten Seruyan menjadi contoh pengelolaan perkebunan kelapa sawit monokultur yang sangat buruk bagi lingkungan hidup,” ungkap salah satu peneliti koalisi dalam rilis awal 2025.

    Meski tidak menunjuk Teluk Bayur secara spesifik, temuan ini menempatkan letupan parit gajah PT CKS bulan ini sebagai bagian dari pola sengketa agraria yang lebih lebar di Seruyan.

    Instrumen hukum sejatinya telah disiapkan jauh sebelum gesekan di Teluk Bayur memanas.

    Pemkab Seruyan menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2021 dan Perbup Nomor 48 Tahun 2022 sebagai pedoman penanganan konflik usaha perkebunan.

    Gemuruh ekskavator di Teluk Bayur hari-hari ini menjelma menjadi batu uji bagi narasi besar Kabupaten Seruyan.

    Kini, warga Teluk Bayur menuntut kejelasan status lahan yang terancam galian mesin serta mendesak adanya ruang musyawarah yang transparan.

    Pemerintah daerah dan aparat kepolisian yang didesak melakukan verifikasi faktual kini terjepit di antara dua klaim berlawanan, menguji konsistensi Seruyan, yakni antara tumpukan dokumen sertifikasi lestari dan kepastian ruang hidup warga di akar rumput. (ign)

  • BKSDA Pasang Kandang Jebak Bermuatan Madu, Deteksi Jejak Cakar Beruang di Pekarangan Sungai Paring

    BKSDA Pasang Kandang Jebak Bermuatan Madu, Deteksi Jejak Cakar Beruang di Pekarangan Sungai Paring

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi ketegangan antara warga dan satwa liar dilindungi di kawasan hulu Bincut, Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki babak baru. Menindaklanjuti laporan viralnya rekaman video seekor beruang madu (Helarctos malayanus) raksasa yang menjarah kebun rambutan warga, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit resmi menaikkan status penanganan menjadi intervensi taktis di lapangan pada Senin (15/6/2026).

    ​Pemasangan Box Trap dan Manifes Umpan Harum di RT 9

    ​Setelah menggelar observasi makro selama beberapa jam di sekitar titik koordinat RT 9, tim taktis BKSDA yang dipimpin langsung oleh Muriansyah menemukan bukti otentik yang mengonfirmasi tingkat kerawanan wilayah tersebut. Di lapangan, petugas mengidentifikasi rentetan jejak cakar segar sedalam beberapa sentimeter pada kulit pohon rambutan serta struktur tanah berlumpur yang berbatasan langsung dengan pekarangan rumah Mayang.

    ​Guna mengantisipasi terjadinya benturan fisik (foul play) yang dapat mengancam nyawa penduduk maupun kelestarian satwa omnivora tersebut, BKSDA Resort Sampit memutuskan untuk mengevakuasi beruang tersebut dari ekosistem pemukiman. Satu unit kandang jebak besi berukuran masif (box trap) resmi dideploy dan disembunyikan di bawah rimbunnya vegetasi pembatas hutan sekunder sore ini.

    ​“Kami telah memasang perangkap besi di titik yang paling sering dilalui satwa berdasarkan peta pergerakan yang kami himpun. Untuk menarik perhatian beruang keluar dari persembunyiannya, kandang jebak tersebut telah kami persenjatai dengan umpan beraroma kuat, mulai dari lumatan buah matang hingga cairan madu murni,” terang Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, Senin sore  (15/6/2026).


    ​Muriansyah menambahkan, berdasarkan hasil pemetaan perimeter, beruang tersebut diduga kuat merupakan individu dewasa yang memiliki penciuman sangat sensitif terhadap glukosa. BKSDA kembali mengeluarkan maklumat keras agar warga RT 9 dan sekitarnya tidak mendekati area pemasangan perangkap agar aroma manusia (human scent) tidak mengontaminasi lokasi dan membuat satwa menjadi waspada atau enggan mendekat.

    ​Langkah taktis BKSDA Resort Sampit menaruh box trap bermuatan madu di hulu Bincut adalah prosedur baku yang tepat demi meredam histeria massa di hilir. Namun, dari kacamata ekologi politik sosiologis, pemasangan satu kotak besi di pinggiran Desa Sungai Paring ini hanyalah obat penenang sementara bagi penyakit tata ruang yang sudah stadium akut di Kabupaten Kotawaringin Timur.

    ​Konflik spasial ini adalah bukti otentik bahwa daya dukung lingkungan (carrying capacity) hutan sekunder di Kecamatan Cempaga telah runtuh total akibat ekspansi masif perkebunan kelapa sawit monokultur. Asumsi bahwa beruang keluar semata-mata karena tergiur musim rambutan adalah cara pandang yang naif. Kenyataannya, beruang madu terpaksa mempertaruhkan nyawanya mendekati pemukiman manusia karena rumah asli mereka wilayah jelajahnya (home range) telah dikupas habis oleh aktivitas pembukaan lahan (land clearing) korporasi berskala besar.

    ​Ketika komoditas pakan alami seperti rayap, larva, dan lebah hutan musnah akibat alih fungsi lahan, maka kebun buah milik warga pedesaan menjadi benteng logistik terakhir bagi satwa endemik Kalimantan ini untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan massal.

    ​BKSDA dan Pemkab Kotim tidak boleh terus-menerus menggunakan pola penanganan “pemadam kebakaran”—datang saat viral, pasang perangkap, lalu memindahkan satwa ke lokasi lain. Jika akar masalah berupa fragmentasi habitat diabaikan, konflik serupa akan terus berulang di kecamatan lain. Pemerintah daerah wajib melakukan audit lingkungan secara radikal terhadap Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan kelapa sawit yang mengepung wilayah Cempaga.

    ​Korporasi harus dipaksa secara hukum untuk menyisakan dan merawat Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) berupa koridor hijau (wildlife corridor) yang saling terhubung. Jika tidak, kebun rambutan di Sungai Paring ini kelak akan mencatat sejarah kelam di mana manusia dan satwa dilindungi terpaksa saling membantai demi memperebutkan ruang hidup yang kian menyempit di Bumi Tambun Bungai. (***)

  • Teror Satwa Dilindungi di Hulu Bincut: Beruang Madu Raksasa Jarah Kebun Rambutan Sungai Paring, BKSDA Sampit Siaga Konflik

    Teror Satwa Dilindungi di Hulu Bincut: Beruang Madu Raksasa Jarah Kebun Rambutan Sungai Paring, BKSDA Sampit Siaga Konflik

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Konflik spasial antara manusia dan satwa liar dilindungi kembali meletus di wilayah hulu Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Ketakutan melanda warga Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, setelah seekor beruang madu (Helarctos malayanus) berukuran besar secara masif menginvasi kawasan pekarangan rumah penduduk demi menjarah buah rambutan yang tengah memasuki musim panen raya.

    ​Infiltrasi Subuh di RT 9 dan Rekaman Video yang Viral

    ​Berdasarkan manifes data lapangan yang dihimpun pada Senin (15/6/2026), intensitas kemunculan predator omnivora ini kian eksponensial dalam beberapa hari terakhir. Satwa pencakar tersebut terpantau mengubah pola perilakunya dengan keluar dari vegetasi hutan sekunder tepat pada waktu subuh hingga pagi hari mengeksploitasi jam-jam rawan di mana aktivitas pengawasan warga masih longgar.

    ​Keresahan publik kian memuncak setelah sejumlah rekaman video amatir berdurasi pendek beredar luas di jejaring sosial. Dalam visualisasi tersebut, beruang madu berbobot masif itu tampak begitu lihai memanjat pohon rambutan di belakang rumah warga, mematahkan dahan, dan melahap buah matang tanpa memedulikan radius pemukiman yang hanya berjarak beberapa meter.

    ​Mayang, salah seorang warga Desa Sungai Paring, membeberkan bahwa titik penetrasi awal satwa liar ini terdeteksi di kawasan RT 9 wilayah hulu Bincut. Area ini memang dikenal berbatasan langsung dengan sabuk semak belukar dan sisa-sisa hutan dataran rendah yang kian terfragmentasi.

    ​“Benar, pagi tadi terlihat jelas di belakang rumah. Sepertinya setiap subuh turun dari hutan hanya untuk makan rambutan di kebun. Kondisi ini membuat kami takut karena lokasinya sangat dekat dengan tempat tinggal penduduk,” ungkap Mayang dengan nada cemas, Minggu (14/6/2026).

    ​Dampak psikologis dari infiltrasi ini seketika mengubah ritme sosial warga Sungai Paring. Para petani kini menolak untuk pergi ke ladang karet atau kelapa sawit seorang diri. Sementara itu, barisan orang tua mulai menerapkan jam malam dan melarang keras anak-anak mereka bermain di luar rumah, khususnya pada transisi waktu pagi dan sore hari.

    ​Respons BKSDA: Daya Tarik Musim Buah dan Protokol Evakuasi

    ​Merespons eskalasi ancaman tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit langsung menerjunkan tim taktis ke lokasi konflik. Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, membenarkan bahwa insting satwa liar keluar dari habitat aslinya murni dipicu oleh dorongan pemenuhan kebutuhan pakan akibat mencium aroma manis buah-buahan yang menyengat hingga ke dalam hutan.

    ​“Beruang madu adalah omnivora yang sangat menggemari buah-buahan dengan kadar gula tinggi seperti rambutan. Keberadaan kebun warga yang berbuah lebat di batas hutan bertindak sebagai generator pakan yang menarik mereka keluar,” urai Muriansyah saat memberikan konfirmasi resmi pada Senin (15/6/2026).

    ​Saat ini, tim BKSDA tengah melakukan observasi makro, mulai dari identifikasi jejak cakar pada kulit pohon, pemetaan pola pergerakan (grid mapping), hingga pemasangan kamera pengawas tersembunyi (camera trap). Jika aktivitas beruang tersebut dinilai kian membahayakan keselamatan publik, opsi evakuasi menggunakan peluru bius atau pemasangan kandang jebak (box trap) bermuatan umpan madu akan segera dieksekusi sesuai prosedur operasi standar.

    ​Muriansyah juga mengeluarkan maklumat keras agar warga tidak sekali-kali melakukan tindakan provokatif seperti melempar, mengejar, atau mencoba mengusir beruang menggunakan senjata tajam secara mandiri. Beruang madu memiliki struktur rahang dan cakar depan yang sangat destruktif, yang dapat berubah menjadi mesin pembunuh agresif jika merasa terpojok atau terancam.

    ​Kemunculan beruang madu di hulu Bincut, Desa Sungai Paring ini tidak boleh disederhanakan hanya sebagai fenomena “hewan kelaparan yang sedang berpesta rambutan”. Analisis ekologi politik sosiologis melihat peristiwa ini sebagai sinyal darurat bahwa daya dukung lingkungan (carrying capacity) hutan sekunder di Kecamatan Cempaga telah runtuh total.

    ​Mitos bahwa satwa keluar hanya karena musim buah adalah cara pandang yang keliru. Realitas yang terjadi di koridor Cempaga hingga Cempaga Hulu adalah terjadinya ekspansi masif perkebunan kelapa sawit skala besar (monokultur) dan aktivitas pembukaan lahan (land clearing) yang mengamputasi wilayah jelajah (home range) beruang madu. Ketika hutan alami diubah menjadi hamparan sawit, beruang kehilangan sumber makanan pokoknya seperti rayap, larva, dan madu hutan. Akibatnya, kebun buah milik masyarakat di pinggiran desa menjadi satu-satunya pelarian logistik terakhir bagi satwa tersebut untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan.

    ​BKSDA Resort Sampit di bawah komando Muriansyah tidak boleh hanya bertindak sebagai “petugas pemadam kebakaran” yang datang memasang perangkap lalu memindahkan beruang ke lokasi lain. Pola penanganan hilir seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan konflik satwa-manusia di Kotim jika akar masalahnya diabaikan.

    ​Pemerintah Kabupaten Kotim bersama BKSDA wajib mengevaluasi tata ruang konsesi perusahaan sawit yang mengepung Desa Sungai Paring. Korporasi perkebunan harus dipaksa secara hukum untuk menyediakan dan merawat kawasan ekosistem esensial berupa koridor hijau (wildlife corridor) di dalam HGU mereka agar satwa besar seperti beruang, orangutan, dan lutung tidak perlu melompati batas desa untuk menyambung nyawa.

    ​Jika Pemkab terus membiarkan hutan hulu dikupas habis tanpa menyisakan ruang hidup bagi satwa endemik, maka kebun rambutan Sungai Paring hanyalah awal dari tragedi baru di mana manusia dan satwa dilindungi akan saling membantai demi memperebutkan ruang spasial yang kian menyempit di Kalimantan Tengah. (***)

  • Airbus A320 Perdana Mendarat di Sampit, Pemkab Kotim Siapkan Pengembangan Bandara dan Konektivitas Umrah

    Airbus A320 Perdana Mendarat di Sampit, Pemkab Kotim Siapkan Pengembangan Bandara dan Konektivitas Umrah

    SAMPIT, kanalindependen.id – Penerbangan perdana maskapai Super Air Jet (SAJ) rute Jakarta–Sampit–Jakarta menggunakan pesawat Airbus A320 resmi mengudara di Bandara Haji Asan Sampit, Jumat (12/6/2026).

    Kehadiran pesawat berkapasitas sekitar 180 penumpang milik Lion Group tersebut menjadi sejarah baru transportasi udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pengembangan investasi, mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, pengembangan pariwisata, hingga layanan umrah yang terintegrasi dengan jaringan penerbangan nasional dan internasional.

    Momentum bersejarah itu dihadiri Bupati Kotim Halikinnor, Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda, perwakilan Pemerintah Kabupaten Katingan, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan Ferdinand Nurdin, Direktur Utama Super Air Jet Ari Azhari, Kepala Bandara Haji Asan Sampit Abdul Haris, unsur Forkopimda, pelaku usaha, asosiasi perjalanan wisata, tokoh masyarakat, dan tamu undangan lainnya.

    Kepala Otban Wilayah VII Balikpapan Ferdinand Nurdin mengatakan hadirnya Super Air Jet merupakan capaian penting bagi Sampit dan Kalimantan Tengah karena maskapai tersebut berada dalam jaringan Lion Group yang memiliki konektivitas luas ke berbagai wilayah domestik maupun internasional.

    Dia mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghadirkan maskapai ke suatu daerah, tetapi menjaga agar maskapai tersebut dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

    ”Mendatangkan pesawat itu sulit, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Tidak ada maskapai yang ingin rugi. Karena itu diperlukan kolaborasi dan sinergi seluruh pihak agar penerbangan yang sudah hadir di Bandara Sampit bisa terus berkelanjutan,” ujarnya.

    Menurut Ferdinand, Kepala Bandara maupun pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga keberlangsungan layanan penerbangan.

    ”Pak Kabandara bukan Superman, Ibu-ibu bukan Wonder Woman, Bapak-bapak juga bukan Superboy. Yang perlu dibangun adalah super team agar penerbangan di Sampit bisa terus bertahan dan berkembang,” katanya.

    Ia menilai kehadiran Super Air Jet merupakan langkah tepat karena jaringan Lion Group memungkinkan konektivitas yang lebih luas bagi masyarakat Kalimantan Tengah.

    Ferdinand bahkan menyebut Super Air Jet sebagai salah satu maskapai yang patut dijaga keberlangsungannya karena berpotensi membuka akses penerbangan yang lebih besar bagi masyarakat dan dunia usaha.

    Selain konektivitas umum, ia melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari hadirnya maskapai tersebut adalah sektor umrah.

    Menurutnya, keberadaan pelaku usaha perjalanan umrah di Sampit yang telah memiliki jaringan dengan Lion Group dapat menjadi peluang besar untuk membangun konektivitas penerbangan umrah yang lebih mudah dan efisien bagi masyarakat.

    ”Potensi besar di sini adalah umrah. Kalau bisa dikoneksikan dengan jaringan Lion Group tentu akan sangat baik bagi masyarakat,” ujarnya.

    Di sisi lain, Ferdinand memberikan sejumlah catatan penting terkait keselamatan dan keamanan penerbangan yang masih perlu mendapat perhatian serius.

    Ia mengungkapkan panjang runway Bandara Haji Asan Sampit yang saat ini mencapai 2.060 meter masih tergolong minimum untuk operasional Airbus A320.

    Berdasarkan pengamatannya saat penerbangan perdana berlangsung, pesawat masih mampu berhenti sebelum taxiway sehingga tidak perlu keluar melalui ujung landasan yang berpotensi menambah konsumsi bahan bakar.

    ”Tadi saya sempat berbincang dengan pihak maskapai. Kalau runway Bandara Haji Asan yang ada saat ini 2.060 meter dengan lebar 30 meter, masih terasa berat untuk Airbus A320. Syukur pesawat bisa berhenti sebelum taxiway. Kalau harus keluar di ujung runway tentu konsumsi fuel akan lebih besar,” katanya.

    Karena itu, ia mengusulkan agar landasan pacu diperpanjang menjadi minimal 2.250 meter dengan lebar ideal 45 meter agar operasional Airbus A320 dapat berlangsung lebih aman dan nyaman bagi kru maupun penumpang.

    ”Kalau runway bisa diperpanjang menjadi 2.250 meter dan lebarnya 45 meter, itu sudah ideal untuk Airbus A320,” ujarnya.

    Ferdinand juga menyoroti masih adanya akses menuju kawasan bandara yang menggunakan portal atau palang sehingga regulator harus menerbitkan sejumlah exemption atau pengecualian.

    Kondisi tersebut, menurutnya perlu segera dibenahi mengingat Bandara Haji Asan kini melayani lebih dari satu maskapai jet.

    ”Dengan sekarang ada dua maskapai besar yang melayani pesawat jet, aspek safety harus benar-benar compliance. Karena insiden dan accident tidak mengenal waktu dan tempat,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti keberadaan sejumlah pohon yang masih menjadi obstacle atau hambatan pada area pendekatan penerbangan.

    Meski sebagian telah ditebang, Ferdinand meminta proses penanganan terus dilanjutkan karena faktor keselamatan menjadi pertimbangan penting bagi pilot saat melakukan pendaratan.

    ”Kalau aspek safety dianggap berisiko, pilot bisa saja enggan melakukan pendaratan. Karena itu langkah yang sudah dilakukan pemerintah daerah perlu terus dilanjutkan,” katanya.

    Ferdinand menambahkan masyarakat berpeluang menikmati harga tiket yang lebih kompetitif apabila tiga faktor utama terpenuhi, yakni penggunaan pesawat jet, penerbangan langsung tanpa transit, dan adanya kompetitor dalam satu rute.

    Menurutnya, ketiga faktor tersebut kini mulai tersedia di Sampit setelah hadirnya Super Air Jet yang akan berdampingan dengan maskapai yang lebih dulu beroperasi.

    ”Harapan kita harga tiket semakin kompetitif tanpa mengabaikan aspek keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan operasional maskapai,” ujarnya.

    Ia juga mengingatkan agar pasar penerbangan tidak hanya bergantung pada penumpang reguler, tetapi turut memanfaatkan potensi sektor perkebunan, pertanian, kehutanan, perikanan, pariwisata, hingga produk UMKM yang dapat dipasarkan ke berbagai daerah melalui dukungan konektivitas udara.

    ”Bandara bukan hanya soal konektivitas. Bandara juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membantu menekan inflasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

    Sementara itu, Direktur Utama Super Air Jet Ari Azhari mengatakan pembukaan rute Jakarta–Sampit–Jakarta menjadi tonggak penting dalam pengembangan jaringan penerbangan perusahaan.

    Dengan beroperasinya rute tersebut, Sampit resmi menjadi kota ke-36 yang dilayani Super Air Jet.

    Saat ini Super Air Jet melayani 35 kota domestik dan satu rute internasional serta terus memperluas jaringan penerbangan guna mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

    ”Hari ini menjadi momen bersejarah bagi perjalanan Super Air Jet. Dengan resmi beroperasinya rute Jakarta–Sampit–Jakarta, Sampit menjadi kota ke-36 yang kami layani,” ujarnya.

    Ari menjelaskan masyarakat kini dapat menikmati konektivitas yang lebih luas karena jaringan Super Air Jet telah terintegrasi dengan Lion Air dan Batik Air.

    Melalui sistem tersebut, penumpang dari Sampit dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai kota besar di Indonesia hanya dengan satu tiket penerbangan.

    ”Dari Sampit bisa terkoneksi ke Palembang, Kualanamu, dan berbagai kota lain di Sumatera. Dengan satu tiket semuanya dapat terhubung,” katanya.

    Ia juga memastikan potensi perjalanan umrah dari Sampit akan semakin terbuka.

    Lion Air saat ini mengoperasikan pesawat Airbus A330 berkapasitas 430 kursi untuk melayani rute Jakarta–Jeddah.

    Jadwal penerbangan Sampit–Jakarta akan disesuaikan dengan jadwal penerbangan menuju Arab Saudi sehingga memudahkan jemaah umrah dari Kotim dan daerah sekitar.

    ”Sampai Jakarta tinggal masuk imigrasi, lalu langsung terkoneksi ke Jeddah. Jadwalnya akan kami sesuaikan agar perjalanan umrah lebih nyaman,” ujarnya.

    Ari menilai Sampit merupakan daerah yang memiliki potensi besar dan posisi strategis di Kalimantan Tengah sehingga layak menjadi bagian dari jaringan penerbangan nasional yang terus berkembang.

    Menurutnya, kehadiran Super Air Jet bukan sekadar menyediakan layanan transportasi udara, tetapi juga menjadi mitra dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.

    ”Kami melihat Sampit sebagai daerah yang memiliki potensi besar dan peran strategis di Kalimantan Tengah. Karena itu kami berkomitmen mendukung konektivitas dan kemajuan daerah ini,” katanya.

    Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor menyambut kehadiran Super Air Jet sebagai peristiwa bersejarah bagi daerah yang dipimpinnya.

    Menurutnya, sepanjang sejarah Bandara Haji Asan Sampit, baru kali ini pesawat Airbus A320 dengan kapasitas sekitar 180 penumpang melakukan penerbangan reguler ke Sampit.

    ”Ini pertama kali sepanjang sejarah pesawat dengan kapasitas sekitar 180 penumpang landing di Bandara Haji Asan Sampit,” ujarnya.

    Ia menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, pihak bandara, Dinas Perhubungan, hingga dukungan masyarakat.

    Bahkan, perjuangan menghadirkan pesawat jet berbadan besar ke Sampit telah berlangsung cukup lama hingga akhirnya terwujud.

    ”Kadis Perhubungan sampai meneteskan air mata karena apa yang selama ini menjadi mimpi akhirnya menjadi kenyataan,” ungkap Halikinnor.

    Menanggapi catatan regulator terkait keselamatan penerbangan, Halikinnor memastikan pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran untuk penanganan berbagai obstacle di sekitar bandara.

    Menurutnya, sebagian pohon telah ditebang, sementara sisanya masih menunggu penyelesaian administrasi dan pembayaran sebelum dilakukan penebangan.

    ”Terkait obstacle sebenarnya sudah kami anggarkan. Ada yang masih menunggu proses administrasi dan pembayaran, tetapi akan kami selesaikan,” katanya.

    Selain itu, pemerintah daerah juga akan menindaklanjuti rekomendasi Kementerian Perhubungan terkait peningkatan pagar pengaman di ujung runway.

    ”Pagar di ujung runway juga akan kami tingkatkan sesuai saran dari Kementerian Perhubungan,” ujarnya.

    Halikinnor menjelaskan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit juga telah menjadi pembahasan bersama pemerintah pusat.

    Berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai, perpanjangan dan pelebaran runway menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan, sedangkan pembangunan gedung PK dan pemindahan apron menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur.

    ”Saya jamin tahun 2027 pembangunan gedung PK dan pemindahan apron sudah selesai,” tegasnya.

    Selain memperpanjang dan melebarkan runway, pemerintah daerah juga akan mendorong peningkatan PCN atau kekuatan landasan pacu agar mampu mendukung operasional pesawat yang lebih besar di masa mendatang.

    ”Apa yang disampaikan Pak Ferdinand menjadi catatan bagi kami. Nanti akan kami koordinasikan dengan kementerian agar peningkatan panjang, lebar, dan PCN runway bisa direalisasikan,” katanya.

    Halikinnor menilai prospek penerbangan di Kotim sangat menjanjikan karena daerah tersebut memiliki jumlah penduduk terbesar di Kalimantan Tengah.

    Selain itu, Kotim juga memiliki sektor perkebunan kelapa sawit yang sangat besar dengan luas mendekati satu juta hektare, disertai potensi pertambangan, perdagangan, dan jasa.

    ”Dari 13 kabupaten dan satu kota di Kalimantan Tengah, penduduk terbesar ada di Kotawaringin Timur. Investasi terbesar juga banyak bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit, pertambangan, perdagangan, dan jasa,” ujarnya.

    Menurut Halikinnor, kehadiran Super Air Jet akan mempermudah akses investor yang selama ini harus mendarat di Palangka Raya sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Sampit.

    ”Selama ini banyak investor datang melalui Palangka Raya, lalu melanjutkan perjalanan ke Sampit. Ke depan kami berharap mereka bisa langsung datang ke sini,” katanya.

    Ia juga berharap ke depan tidak hanya Super Air Jet yang beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit, tetapi maskapai lain seperti Batik Air juga dapat melayani penerbangan ke Sampit.

    Selain itu, pemerintah daerah terus mendorong pembukaan rute penerbangan langsung Sampit–Surabaya yang dinilai memiliki potensi pasar sangat besar.

    Saat ini penerbangan rute menuju Surabaya hampir selalu penuh karena tingginya mobilitas pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat yang memiliki hubungan bisnis dengan Kota Surabaya.

    ”Harapan berikutnya adalah penerbangan Super Air Jet rute Sampit–Surabaya karena kebutuhannya sangat besar. Banyak pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat yang memiliki aktivitas bisnis ke Surabaya,” ujarnya.

    Halikinnor mengatakan, konektivitas penerbangan yang semakin baik juga akan mendukung pengembangan sektor umrah dan pariwisata daerah.

    Ia mengungkapkan sejumlah pelaku usaha perjalanan umrah di Kotim telah menjalin komunikasi dengan pihak Lion Group untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas.

    Di sektor pariwisata, pemerintah daerah ingin memperkenalkan wajah baru Sampit kepada masyarakat luar daerah yang selama ini mungkin masih memiliki persepsi lama terhadap kota tersebut.

    ”Kami ingin orang datang ke Sampit bukan hanya mendengar cerita lama, tetapi melihat langsung perkembangan daerah ini sekarang,” katanya.

    Menutup sambutannya, Halikinnor menyampaikan optimisme bahwa konektivitas udara yang semakin baik akan memperkuat perdagangan, investasi, pariwisata, dan mobilitas masyarakat di wilayah Kotim dan sekitarnya.

    ”Kalau sekali minum air Mentaya, Insya Allah akan kembali lagi ke Sampit,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • 163 Jemaah Kotim Tiba dengan Selamat, Empat Jemaah Kloter 19 Dijadwalkan Tiba Awal Juli

    163 Jemaah Kotim Tiba dengan Selamat, Empat Jemaah Kloter 19 Dijadwalkan Tiba Awal Juli

    SAMPIT, kanalindependen.id – Suasana haru menyelimuti Bandara Haji Asan Sampit, Jumat (12/6/2026), saat ratusan keluarga menyambut kepulangan jemaah haji asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Sebanyak 163 jemaah yang telah menuntaskan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci tiba dalam kondisi sehat dan selamat, sementara empat jemaah lainnya dijadwalkan pulang pada awal Juli mendatang.

    Sejak siang hari, area kedatangan bandara dipadati keluarga yang menanti sanak saudara mereka kembali dari Arab Saudi.

    Aroma minyak wangi khas Timur Tengah menyebar saat satu per satu jemaah keluar dari pintu kedatangan dengan wajah penuh syukur, disambut pelukan hangat dan tangis haru keluarga.

    Kedatangan rombongan jemaah haji tersebut juga disambut langsung oleh Wakil Bupati Kotim Irawati bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kotim.

    Irawati menjelaskan, pada penerbangan pertama pihak panitia memprioritaskan jemaah lanjut usia (lansia) serta mereka yang memiliki penyakit bawaan.

    ”Pada penerbangan pertama ini kami mendahulukan para lansia dan jemaah yang memiliki penyakit bawaan. Kurang lebih ada 103 jemaah yang tiba pada penerbangan pertama, sedangkan sisanya menyusul pada penerbangan kedua,” kata Irawati.

    Ia mengaku bersyukur seluruh jemaah yang tiba dapat kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat setelah menjalani rangkaian ibadah haji.

    ”Alhamdulillah, kami juga berterima kasih kepada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji, tim kesehatan, Kementerian Agama, dan seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan ibadah haji mulai dari keberangkatan hingga kepulangan para jemaah dengan selamat,” ujarnya.

    Irawati mengatakan ada terdapat enam jemaah yang menggunakan kursi roda saat tiba di Sampit. Namun kondisi tersebut bukan karena sakit serius, melainkan keluhan kesehatan yang umum dialami setelah menjalani aktivitas ibadah haji.

    ”Tadi ada enam orang yang menggunakan kursi roda. Rata-rata karena keluhan sakit lutut dan faktor kelelahan. Tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan,” jelasnya.

    Ia berharap seluruh jemaah dapat menjadi haji yang mabrur dan mabrurah serta membawa manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

    ”Kita bersyukur jemaah haji kita berangkat dengan selamat dan pulang dengan selamat. Mudah-mudahan mereka menjadi haji yang mabrur dan mabrurah,” tuturnya.

    Irawati juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga yang telah sabar menunggu kepulangan para jemaah.

    ”Terima kasih kepada keluarga yang telah menunggu dengan penuh kesabaran. Hari ini menjadi momen kebahagiaan karena mereka dapat kembali berkumpul setelah menjalankan ibadah haji,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kotim, Tiariyanto, menjelaskan bahwa secara keseluruhan jemaah haji asal Kotim tahun ini terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter), yakni Kloter 6 sebanyak 167 orang dan Kloter 19 sebanyak empat orang.

    Jemaah asal Kotim yang tergabung dalam Kloter 6 telah tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, pada 11 Juni 2026 pukul 18.08 WITA menggunakan penerbangan Garuda Indonesia nomor GIA 8406.

    Selanjutnya mereka tiba di Embarkasi Banjarmasin dan bermalam di Asrama Haji Banjarbaru sebelum diterbangkan ke Sampit.

    ”Sebanyak 163 jemaah asal Kotim yang tergabung dalam Kloter 6 telah tiba di Embarkasi Banjarmasin pada 11 Juni 2026 dalam kondisi sehat dan selamat. Setelah bermalam di Asrama Haji Banjarbaru, mereka diberangkatkan ke Sampit menggunakan pesawat carter NAM Air Boeing 737-500 yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kotim,” kata Tiariyanto.

    Ia menjelaskan, kepulangan jemaah ke Sampit dilakukan dalam dua penerbangan. Penerbangan pertama membawa 103 jemaah dan tiba di Bandara Haji Asan Sampit sekitar pukul 12.10 WIB. Sedangkan penerbangan kedua membawa 60 jemaah dan tiba sekitar pukul 14.50 WIB.

    ”Masih ada empat jemaah asal Kotim yang tergabung dalam Kloter 19 yang belum tiba. Mereka dijadwalkan tiba kembali di tanah air pada 1 Juli 2026 pukul 16.00 WITA,” ujarnya.

    Sebelumnya, para jemaah haji Kotim diberangkatkan dari Bandara Haji Asan Sampit menuju Embarkasi Banjarmasin pada 2 Mei 2026.

    Selanjutnya mereka terbang dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menuju Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz di Madinah menggunakan pesawat Garuda Indonesia untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

    Salah seorang jemaah haji asal Kotim, Haramain, mengaku bersyukur dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dan kembali ke kampung halaman dengan selamat.

    ”Alhamdulillah, tentunya senang dan bahagia bisa kembali ke tanah air, berkumpul dengan keluarga setelah menjalankan proses ibadah haji,” ujarnya.

    Menurut Haramain, selama berada di Tanah Suci ia memperoleh banyak pengalaman berharga.

    Ia juga menilai pelayanan yang diberikan kepada jemaah selama pelaksanaan ibadah berjalan dengan baik.

    ”Alhamdulillah, rangkaian ibadah haji tahun ini berjalan lancar. Pelayanan dari KBIH maupun petugas haji semuanya baik. Saya bersama istri, mertua, dan saudara berangkat berlima merasa sangat bersyukur telah menyelesaikan ibadah haji,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Paradoks Lumbung Sawit Kotim: Misteri ‘Gaibnya’ Satu Truk Minyakita dalam Semalam di Tengah Rekor Inflasi 4,18 Persen

    Paradoks Lumbung Sawit Kotim: Misteri ‘Gaibnya’ Satu Truk Minyakita dalam Semalam di Tengah Rekor Inflasi 4,18 Persen

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Tata kelola niaga pangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memamerkan ironi yang sangat telanjang. Sebagai salah satu kabupaten dengan bentangan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, Kotim justru terseok-seok melawan badai inflasi yang dipicu oleh tingginya harga minyak goreng. Teka-teki ini kian menyengat setelah muncul indikasi kuat adanya kebocoran masif pada jalur distribusi minyak goreng subsidi merek Minyakita yang mendadak “gaib” dalam hitungan jam pasca-bongkar muat.

    Anomali Bongkar Muat Baamang: Satu Truk Ludes dalam Semalam

    Jeritan konsumen kelas bawah mengenai sulitnya berburu Minyakita dengan harga normal di pasaran Sampit memicu reaksi keras dari gedung DPRD Kotim. Anggota Komisi Fraksi Golkar DPRD Kotim, Abdul Kadir, membongkar adanya anomali spasial yang sangat tidak masuk akal sehat di tingkat pengecer logistik.

    Berdasarkan laporan intelijen yang diterimanya dari para pedagang di Kecamatan Baamang, pasokan Minyakita dalam volume besar sebenarnya masih rutin masuk ke ibu kota daerah. Namun, pasokan tersebut menguap secara misterius sebelum sempat menyentuh tangan masyarakat yang membutuhkan.

    “Saya mendapat informasi dari pedagang di Baamang. Sore hari ada bongkaran Minyakita satu truk, tetapi pagi harinya saat ditanyakan lagi, jawabannya sudah habis. Ini yang menjadi pertanyaan. Ke mana barang itu? Masa belum sampai satu hari satu truk langsung habis,” cetus Abdul Kadir dengan nada interogatif, Kamis (11/6).

    Secara logika distribusi, satu armada truk bermuatan penuh minyak subsidi seharusnya mampu mengamankan ketahanan stok untuk kebutuhan rumah tangga komunal selama beberapa hari ke depan. Abdul Kadir menegaskan, kelangkaan artifisial ini tidak hanya mengunci warung-warung kelontong kecil di gang sempit, melainkan juga berimbas pada kosongnya rak-rak pajangan di sejumlah supermarket modern di Kota Sampit. Ia mendesak Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kotim untuk berhenti bersikap pasif dan segera melancarkan operasi pengawasan radikal di pintu-pintu keluar gudang agen.

    Sidak PT SSM Bagendang: Benang Kusut Gurita Distribusi dan Pemotongan Kuota

    Merespons eskalasi kegaduhan publik, Pemerintah Kabupaten Kotim langsung menggelar inspeksi mendadak (sidak) skala besar pada Jumat (12/6/2026) siang. Dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kotim, Irawati, tim gabungan yang terdiri dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Satgas Pangan Polres Kotim, Kejaksaan Negeri, dan Bulog mencegat rantai hulu dengan mendatangi pangkalan LPG hingga pabrik pengolahan minyak goreng raksasa PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) di kawasan pelabuhan Bagendang.

    Dari hasil pelacakan manifes di lapangan, Pemkab memastikan bahwa keran produksi dari pihak produsen sebenarnya berjalan normal dan stok fisik Minyakita di gudang utama dalam status aman. Namun, Irawati tidak menampik adanya benang kusut berupa gurita jalur distribusi yang terlalu panjang (multi-tier distribution) sehingga memicu hambatan pasokan di hilir.

    “Kalau stok dikatakan aman memang aman. Tetapi Kotim ini merupakan kabupaten penghasil sawit terbesar, kebun sawitnya sangat banyak, namun minyak goreng justru menjadi penyumbang inflasi. Setelah kami turun langsung, ternyata yang perlu dibenahi adalah pola distribusinya,” tutur Irawati di sela-sela pemeriksaan pabrik.

    Jalur distribusi yang gemuk ini secara otomatis memicu pemangkasan jatah retail secara drastis. Jika sebelumnya para mitra resmi Bulog yang terdaftar mampu menerima kiriman hingga 50 dus Minyakita per satu kali pengiriman, kini kuota tersebut menyusut tajam menjadi hanya sekitar 20 dus saja. Penurunan suplai sebesar lebih dari 50 persen inilah yang membuat stabilitas harga di pasar tradisional rontok.

    Efek dominonya mengerikan. Berdasarkan data agregat pemerintah daerah, angka inflasi Kotim saat ini telah meroket menyentuh angka 4,18 persen—menempatkan wilayah ini sebagai salah satu zona dengan inflasi tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah.

    “Bukan langka, stok aman. Yang menjadi laporan masyarakat adalah harga yang tinggi. Karena harga tinggi, daya beli masyarakat menurun dan akhirnya berdampak terhadap inflasi,” imbuh Irawati.

    Pukulan Beruntun: Menteri Perdagangan Ketok Palu Kenaikan HET

    Di saat pemerintah daerah masih terseok-seok merapikan karut-marut tata niaga di tingkat lokal, masyarakat Kotim dipastikan harus bersiap menghadapi pukulan ekonomi baru yang datang dari pusat. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, secara resmi mengumumkan bahwa pemerintah telah menyepakati keputusan untuk mengerek Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita dalam waktu dekat.

    “Hari ini kita menyepakati akan menaikkan harga eceran tertinggi untuk Minyakita,” ujar Budi Santoso pasca-rapat koordinasi tingkat menteri bidang pangan di Jakarta.

    Langkah penyesuaian harga ini diklaim tidak bisa dihindari lantaran beban biaya produksi di sektor hulu terus membengkak seiring dengan merangkaknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global serta fluktuasi harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani. Sebagai informasi, regulasi HET Minyakita yang saat ini bertengger di angka Rp15.700 per liter tercatat sudah bertahan selama lebih dari tiga tahun. Ketukan palu mengenai besaran nominal HET baru tersebut ditargetkan akan rilis resmi dalam satu hingga dua pekan ke depan.

     Kasus “gaibnya” satu truk Minyakita dalam semalam di Baamang adalah indikator paling valid bahwa pasar subsidi di Kotim sedang dikendalikan oleh para mafia dan spekulan koridor. Fenomena habisnya stok dalam hitungan jam ini secara sosiologi ekonomi mustahil dipicu oleh konsumsi organik rumah tangga warga Sampit. Ada indikasi kuat terjadinya praktik illegal hoarding (penimbunan) atau penyelundupan kuota domestik ke sektor industri perkebunan kelapa sawit dan pertambangan ilegal di wilayah hulu.

    Para spekulan sengaja membeli memborong habis jatah Minyakita dari truk bongkaran, lalu mengemas ulang atau menjualnya dengan harga tinggi di atas HET ke wilayah pelosok yang tidak terjangkau operasi pasar. Paradoks bahwa Kotim sebagai lumbung sawit raksasa namun menyumbang rekor inflasi 4,18 persen akibat minyak goreng adalah tamparan keras bagi kredibilitas TPID dan DKUKMPP.

    Sidak yang dipimpin Wagub Irawati ke PT SSM Bagendang patut diapresiasi, namun mengambinghitamkan “pola distribusi yang panjang” tanpa adanya tindakan hukum yang tegas (punishment) terhadap agen nakal adalah bentuk kelemahan siber-intelijen pangan. Pemotongan kuota mitra Bulog dari 50 dus ke 20 dus mengindikasikan adanya kebocoran barang di tingkat distributor sekunder.

    Rencana evaluasi total niaga bersama Bulog pasca-sidak tidak boleh hanya berakhir menjadi dokumen seremonial di atas meja kerja. Jika DKUKMPP tidak berani memotong rantai tengkulak dan tidak secara tegas mencabut izin usaha pangkalan atau agen yang terbukti memicu “gaibnya” satu truk Minyakita dalam semalam, maka kenaikan HET dari pusat dalam dua pekan ke depan hanya akan menjadi legitimasi baru bagi para predator pangan untuk semakin mencekik leher rakyat kecil di Kotawaringin Timur. Polisi harus mulai memasang garis polisi di gudang-gudang penampung tersembunyi, bukan sekadar memeriksa tangki pabrik. (***)

  • Teror Tumpahan CPO Melumuri 250 Meter Aspal Hancur, Pemotor Bertumbangan

    Teror Tumpahan CPO Melumuri 250 Meter Aspal Hancur, Pemotor Bertumbangan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Koridor logistik yang membelah wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali bertransformasi menjadi sirkuit maut bagi keselamatan publik. Pengendara yang melintasi ruas Jalan Negara lintas Sampit-Samuda, tepatnya di kawasan kilometer 23 Desa Bapeang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dipaksa bertaruh nyawa setelah ratusan liter minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tumpah secara masif melumuri badan jalan pada Jumat (12/6/2026) pagi.

    Tangki Bocor yang Diabaikan dan Jatuhnya Korban Cedera Kepala

    Petaka logistik dan keselamatan jalan raya ini mulai memicu alarm darurat sejak pukul 08.00 WIB. Cairan kental berwarna kuning pekat khas minyak sawit mentah terlihat mengucur deras dari buritan sebuah truk tangki angkutan industri perkebunan yang melaju. Alih-alih berhenti untuk melakukan mitigasi kebocoran katup, sang sopir truk raksasa tersebut justru tetap tancap gas memacu kendaraannya seolah buta terhadap bahaya yang ditinggalkannya di belakang aspal.

    “Limbah CPO turun ke jalan. Sopirnya tidak sadar, jalan terus,” ketus Sahmil, salah seorang warga Desa Bapeang yang menyaksikan langsung awal mula insiden berdarah tersebut di lokasi kejadian.

    Kombinasi antara karakter minyak sawit yang sangat licin dengan topografi infrastruktur jalan yang hancur lebur seketika melahirkan jebakan maut yang sempurna. Kendaraan roda dua yang melintas tanpa pengawalan visual langsung terjungkal satu per satu akibat kehilangan traksi roda secara instan saat menghantam lubang jalan yang sudah lama rusak dan bergelombang selama hampir dua tahun terakhir.

    Berdasarkan data yang dihimpun tim investigasi, sedikitnya ada empat unit sepeda motor yang langsung terjungkal menjadi korban dalam hitungan jam. “Yang kami tahu ada sekitar empat motor yang jadi korban. Ada satu yang dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka robek serius di bagian kepala,” ungkap Sahmil dengan nada geram.

    Banjir Laporan Netizen, Regu Taktis Damkar Kepung Titik Koordinat

    Eskalasi kecelakaan yang kian liar dan masifnya unggahan video amatir warga di jejaring sosial seketika memicu kedaruratan digital. Rentetan laporan berantai masuk melalui aduan akun media sosial, mulai dari tag kolektif ke akun Instagram Sampitinfo hingga laporan resmi dari masyarakat ke akun Instagram Humaskotimfire.

    Merespons gelombang aduan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, langsung berkoordinasi secara taktis dengan dinas pemadam kebakaran. Berdasarkan dokumen manifes laporan bernomor R/4/VI/2026 yang diterbitkan Peleton II Damkar, Regu 1 di bawah komando Plh Kepala Regu Ragil Ramadhan Paslah langsung diterjunkan menuju titik koordinat 2,683958S 112,948367E menggunakan Unit Rescue Hilux Merah.

    Menempuh jarak sejauh 23 kilometer dari pusat kota, armada penyelamat dari Sektor Eka Bahurui tiba di lokasi kejadian pada pukul 10.24 WIB bersama jajaran Satlantas Polres Kotim guna memblokade jalur dan mengatur arus lalu lintas yang macet total. Di lapangan, petugas mendapati tumpahan minyak sawit mentah telah memapar jalur aspal sepanjang kurang lebih 250 meter.

    Tim taktis yang beranggotakan Aldi Irfansyah, Simping, M. Rifani, Zulkipli, Rahmah Hidayanti, dan Dina Aulia Ajiningrum langsung melakukan pembersihan radikal menggunakan semprotan air bertekanan tinggi dicampur cairan deterjen khusus guna mengikis lapisan lemak nabati yang menempel di aspal. Operasi pembersihan yang berjalan penuh ketegangan ini memakan waktu hampir satu jam, dan baru dinyatakan selesai serta aman untuk dilintasi pada pukul 11.59 WIB.

     Insiden berdarah di KM 23 Desa Bapeang ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa akibat faktor kelalaian teknis, melainkan sebuah kelalaian struktural berlapis (structural negligence) yang melibatkan ketidakberdayaan Pemkab Kotim di hadapan raksasa korporasi kelapa sawit. Di sini ada dua dosa besar yang harus dibedah secara radikal oleh publik.

    Pertama, absennya fungsi kontrol kelaikan kendaraan angkutan (KIR) oleh Dinas Perhubungan Kotim terhadap armada tangki CPO swasta. Kebocoran katup atau dinding tangki di jalan umum adalah bukti otentik bahwa perusahaan angkutan logistik abai terhadap standarisasi safety transportasi. Truk tangki bocor yang tetap melaju tanpa memedulikan keselamatan pengendara lain di belakangnya secara sosiologi hukum dapat dikategorikan sebagai tindakan pidana kejahatan yang secara nyata membahayakan nyawa publik.

    Kedua, pengakuan jujur warga mengenai kondisi jalan rusak yang dibiarkan mati suri selama hampir dua tahun tanpa ada ketukan palu perbaikan dari Dinas PUPR Kotim maupun Provinsi Kalimantan Tengah adalah rapor merah tata kelola infrastruktur hulu. Jalan yang berlubang dan compang-camping bertindak sebagai “katalisator” fatalitas; ia mengunci ruang manuver bagi pengendara motor yang kaget saat mendapati aspal di depannya sudah berubah menjadi lautan minyak sawit pekat.

    Kita tentu belum lupa bahwa dua tahun lalu jalur horor Bapeang ini sudah pernah memakan korban jiwa meninggal dunia akibat pola kecelakaan yang identik. Intervensi dari Sektor Eka Bahurui dan Satlantas memang patut diapresiasi karena sigap membersihkan jalur sepanjang 250 meter tersebut, namun itu hanyalah solusi jangka pendek di hilir.

    Jika Pemkab Kotim tidak berani memanggil pimpinan perusahaan kelapa sawit pemilik angkutan CPO tersebut untuk menuntut ganti rugi materiil pengobatan korban serta mendesak konsorsium perusahaan sawit melakukan pembiayaan pemeliharaan aspal (corporate social responsibility), maka warga Bapeang dan Ketapang akan terus diposisikan sebagai tumbal sunyi di bawah roda-roda raksasa truk logistik industri perkebunan Kalimantan. (***)

  • Modus Baru Penjarahan ‘Emas Hijau’ di Antang Kalang: Sulap Avanza Hitam Jadi Armada Pengangkut Sawit Curian PT KMB

    Modus Baru Penjarahan ‘Emas Hijau’ di Antang Kalang: Sulap Avanza Hitam Jadi Armada Pengangkut Sawit Curian PT KMB

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi konflik agraria dan kriminalitas di sektor hilir perkebunan kelapa sawit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali mencatat modus operandi yang tidak biasa. Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Antang Kalang sukses menggagalkan aksi penjarahan Tandan Buah Segar (TBS) milik korporasi raksasa PT Karya Makmur Bahagia (KMB) yang nekat menggunakan satu unit minibus keluarga untuk mengelabui petugas pengamanan, Selasa (9/6/2026) petang sekitar pukul 17.00 WIB.

    Pengepungan 30 Meter di Blok G19Y Desa Gunung Makmur

    Operasi tangkap tangan (vlagrante delicto) ini terjadi di kawasan rawan konflik Divisi 5 Mage, Blok G19Y, Desa Gunung Makmur, Kecamatan Antang Kalang. Dua dari tiga kawanan pelaku yang berhasil diringkus berinisial DD (37) dan BB (24). Sementara itu, satu unit mobil Toyota Avanza warna hitam tanpa nomor polisi (bodong) disita sebagai manifes utama armada kejahatan mereka.

    Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas AKP Edy Wiyoko membeberkan bahwa terbongkarnya kasus ini berkat kejelian barisan petugas keamanan (security) internal perusahaan yang tengah melakukan patroli wilayah secara terjadwal.

    “Pada saat patroli, saksi bersama rekan security mendapati tiga orang laki-laki sedang melakukan aksi pencurian buah kelapa sawit di area blok perkebunan,” ungkap AKP Edy Wiyoko, Jumat (12/6/2026).

    Mendapati adanya pergerakan mencurigakan, tim sekuriti melakukan infiltrasi senyap dengan mendekati titik koordinat dari jarak aman sekitar 30 meter. Dari balik kerapatan pohon sawit, petugas menyaksikan para pelaku memanen secara ilegal dan menyusun janjang demi janjang sawit langsung ke dalam kabin penumpang mobil Avanza sebuah taktik kamuflase visual guna menghindari kecurigaan patroli jalan raya jika dibandingkan memakai mobil bak terbuka (pick-up).

    Begitu kendaraan bodong tersebut mulai bergerak maju sejauh 100 meter untuk keluar dari perimeter konsesi perkebunan, petugas langsung melakukan penghadangan taktis. DD dan BB yang berada di dalam kabin mobil tak berkutik saat dikepung. Namun sayang, satu aktor pelaku lainnya berhasil meloloskan diri dari sergapan dengan memacu sepeda motornya menembus jalan tikus perkebunan.

    “Setelah dilakukan pemeriksaan, di dalam kendaraan ditemukan buah kelapa sawit hasil curian. Total terdapat 38 janjang dengan berat sekitar 650 kilogram,” tambah Edy. Jika dikonversi ke nilai rupiah, total jarahan seberat lebih dari setengah ton tersebut merugikan pihak PT KMB senilai Rp2.270.729.

    Gaya penjarahan TBS menggunakan mobil Toyota Avanza di Antang Kalang ini memperlihatkan pergeseran taktis yang dinamis dari para pelaku kriminal agro-industri. Penggunaan minibus pribadi menunjukkan adanya perencanaan yang matang untuk mengelabui pos penjagaan terdepan (check-point) perusahaan yang biasanya hanya memperketat pemeriksaan terhadap truk atau kendaraan bak terbuka. Kabin tengah dan belakang Avanza sengaja dikosongkan (dicopot kursinya) demi menampung beban 650 kilogram “emas hijau” tersebut.

    Dari kacamata hukum, penyidik Polsek Antang Kalang mengambil langkah radikal dengan tidak hanya bersandar pada pasal pencurian konvensional (KUHP). Penggunaan Pasal 107 huruf d Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan menunjukkan komitmen aparat untuk melindungi iklim investasi industri ekstraktif di Kotim dari rongrongan penjarahan sistematis.

    Namun, tantangan sesungguhnya berada pada pengungkapan hilir: kemana 38 janjang sawit curian ini akan dilarikan? Nilai kerugian yang berada di angka Rp2,2 juta adalah indikator bahwa barang ini menyasar pasar peron atau “pabrik kelapa sawit mini” ilegal berskala penampung (tengkulak) yang kerap menerima TBS tanpa kelengkapan dokumen asal-usul buah (Surat Pengantar Buah/SPB).

    Polsek Antang Kalang tidak boleh berhenti pada penahanan DD dan BB atau sekadar memburu satu pelaku yang buron menggunakan motor. Selama jajaran Satreskrim Polres Kotim tidak berani menindak tegas para pemilik peron atau cukong penadah sawit curian di wilayah hulu, maka status “Darurat Penjarahan Sawit” di Kotim akan terus membara. Peron-peron ilegal itulah hulu dari segala anarki perkebunan yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan di pedalaman. (***)

  • Bazar Dua Wajah Kotim: Ketika Pemuda Menolak Jadi Penonton Pembangunan

    Bazar Dua Wajah Kotim: Ketika Pemuda Menolak Jadi Penonton Pembangunan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Puluhan lapak berdiri memecah rutinitas Kota Sampit selama empat hari. Menarik keluar ratusan produk lokal yang sebelumnya hanya beredar senyap dari mulut ke mulut.

    Bazar Swalayan UMKM Kotim 2026 yang berlangsung 10-13 Juni ini merangsek maju sebagai sebuah penegasan sikap.

    Gelaran tersebut lahir dari tangan para pemuda, kelompok yang kerap dibiarkan pasif sekadar menjadi penonton laju pembangunan daerah.

    Kotawaringin Timur menyimpan kontras yang tajam. Kabupaten dengan populasi mendekati 450 ribu jiwa ini terbesar di Kalimantan Tengah.

    Namun, daerah ini juga mencatat jumlah penduduk miskin terbanyak di tingkat provinsi, yakni 26.690 jiwa.

    Ketimpangan ini terasa kian tebal jika disandingkan dengan data nasional, ketika 66 juta pelaku UMKM mampu menyumbang 61 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB), setara Rp9.500 triliun.

    Potensi itu nyata, tetapi bagi Kotim, peluang tersebut kerap tertidur lelap akibat sempitnya akses pasar.

    Kehadiran bazar ini menjadi upaya mendobrak keterbatasan tersebut. Inisiatif datang dari Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM). Tiga tahun berdiri, organisasi ini berulang kali membuktikan diri menjauhi agenda seremonial belaka.

    Oktober tahun lalu, KPPM bersama Kotim Creative Network mendesak DPRD Kotim memasukkan rancangan Peraturan Daerah (Perda) Ekonomi Kreatif ke dalam agenda legislasi daerah 2026.

    Desakan itu dilakukan setelah Ketua Umum KPPM Muhammad Ridho vokal mengingatkan parlemen agar tidak kehilangan ketajaman membaca beban hidup masyarakat bawah.

    Kini, mereka bergerak menggalang kolaborasi bersama Swalayan UMKM Pusat Jajanan dan Oleh-Oleh Kota Sampit, PC SAPMA PP Kotim, BEM STIE Sampit, serta jaringan pelaku usaha lokal.

    Momentum ini sekaligus diselaraskan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80.

    ”Bazar Swalayan UMKM Kotim 2026 menjadi bukti bahwa pemuda mampu menghadirkan aksi nyata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Muhammad Ridho, Ketua Umum KPPM sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan.

    Tema yang diusung sarat target: Kolaborasi Pemuda untuk Ekonomi Daerah yang Mandiri, Inovatif dan Berdaya Saing. Slogan pendampingnya diracik lebih padat: Bangga Produk Lokal, Maju Ekonomi Daerah.

    Sisi lain dari deretan stan pameran, muncul tuntutan mengenai efektivitas jangka panjang dari sebuah pasar temporer.

    Mukhlan, Sekretaris Pelaksana yang juga menjabat Ketua PC SAPMA PP Kotim, menangkap kesadaran tersebut.

    ”Bazar ini bukan hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan pemuda, mahasiswa, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu tujuan,” tuturnya.

    Dia menekankan harapan agar inisiatif ini berlanjut menjadi agenda rutin.

    Keberlanjutan adalah poros persoalannya. Gelaran empat hari mampu menyuntikkan eksposur bagi pelaku usaha kecil.

    Tantangan sesungguhnya menanti setelah itu. UMKM membutuhkan jejaring distribusi yang terstruktur, kemudahan akses modal, dan penguasaan literasi digital agar mampu bertahan di pasar yang kompetitif.

    Andriyanto, Ketua BEM STIE Sampit, melihat celah itu sebagai ruang gerak mahasiswa.

    ”Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan yang mampu memberikan edukasi, promosi, serta inovasi bagi UMKM,” ungkapnya.

    Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor membuka kegiatan ini secara resmi dan menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen yang terlibat menggerakkan roda ekonomi lokal.

    Rahmadnoor, Ketua Swalayan UMKM Pusat Jajanan dan Oleh-Oleh Kota Sampit, mewakili posisi pelaku usaha. “Kolaborasi adalah kunci kemajuan ekonomi daerah,” tegasnya.

    Pintu peluang telah dibuka selama empat hari penuh. Ujian sesungguhnya bagi daerah ini adalah memastikan ekosistem pasar lokal tetap hidup, dan akses tersebut tidak ikut tertutup seiring dengan dibongkarnya tenda-tenda pameran. (ign)