Tag: BPBD Kotim

  • Misteri Dusun Danau Purun: Kakek 65 Tahun Hilang Tak Berbekas, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    Misteri Dusun Danau Purun: Kakek 65 Tahun Hilang Tak Berbekas, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kecemasan mendalam tengah menyelimuti warga Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Ayang, Kecamatan Bukit Santuai. Seorang kakek berusia 65 tahun bernama Anudin alias Aket—yang akrab disapa Bapak Yusuf—dilaporkan hilang secara misterius dari kediamannya sejak Sabtu dini hari, 9 Mei 2026. Hingga memasuki hari kelima, Rabu (13/5/2026), keberadaan pria lansia tersebut masih menjadi teka-teki besar bagi pihak keluarga maupun tim pencari.

    Pencarian Lintas Medan: Teknologi Drone Dikerahkan

    ​Upaya pencarian dilakukan tanpa henti, menembus lebatnya kawasan hutan di sekitar desa baik saat matahari terik maupun di bawah kegelapan malam. Mengingat luasnya medan dan kondisi geografis yang menantang, Tim SAR mulai meningkatkan intensitas pencarian dengan mengerahkan teknologi drone guna memantau area dari udara yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

    ​Nur Reniwati, pihak keluarga korban, mengonfirmasi bahwa segala cara tengah ditempuh untuk menemukan titik terang mengenai posisi Anudin.

    ​“Hari ini dilakukan pencarian menggunakan drone oleh petugas SAR. Kami terus berusaha maksimal agar beliau segera ditemukan,” ujar Nur Reniwati dengan nada penuh harap, Rabu (13/5/2026).

    Harapan dan Doa dari Warga Sekitar

    ​Solidaritas warga Tumbang Ayang terlihat nyata dalam proses pencarian ini. Tak hanya membantu menyisir hutan, warga juga terus memantau setiap perkembangan informasi di lapangan. Yuliandi, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan seluruh komunitas desa atas hilangnya sosok yang mereka kenal baik tersebut.

    ​“Kami semua di sini terus berupaya membantu dan sangat berharap segera ada titik terang mengenai keberadaan Bapak Yusuf. Kasihan pihak keluarga, kami ingin beliau segera ditemukan dalam keadaan selamat,” tutur Yuliandi.

    Di samping operasi teknis, keluarga bersama warga juga telah menggelar doa bersama dan ritual tolak bala pada Selasa malam (12/5/2026). Isak tangis dan harapan mewarnai suasana rumah korban, mencerminkan betapa besarnya keinginan warga agar Bapak Yusuf bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

    Kasus hilangnya lansia di kawasan hutan Kalimantan selalu menjadi balapan melawan waktu. Memasuki hari kelima, faktor kelelahan, dehidrasi, dan risiko paparan alam menjadi ancaman nyata bagi keselamatan korban. Penggunaan drone oleh tim SAR adalah langkah tepat, namun dukungan moral dan fisik dari warga seperti yang disampaikan Yuliandi adalah modal sosial yang sangat berharga.

    ​Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih memperketat pengawasan terhadap anggota keluarga lanjut usia, terutama di daerah yang berbatasan langsung dengan alam liar. Harapan publik Sampit kini tertuju pada Tim SAR; semoga koordinasi yang apik antara teknologi dan kearifan lokal segera membuahkan hasil. (***)

  • Waspada Jalur Licin di Jemaras: Truk CPO Terguling dan Menumpahkan Muatan ke Badan Jalan

    Waspada Jalur Licin di Jemaras: Truk CPO Terguling dan Menumpahkan Muatan ke Badan Jalan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk pengangkut Crude Palm Oil (CPO) kembali terjadi di jalur vital Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada Minggu sore (10/5/2026).

    Insiden yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB ini mengakibatkan tangki kendaraan bocor hingga meluberkan minyak ke permukaan aspal, menciptakan kondisi jalan yang sangat berbahaya bagi para pengguna jalan lainnya.

    Kecelakaan bermula saat truk bermuatan minyak sawit mentah tersebut melaju dari arah Palangka Raya menuju Sampit. Di lokasi kejadian, truk diduga mengalami kerusakan teknis pada bagian blombongan hingga mengakibatkan salah satu ban terlepas secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat sopir kehilangan kendali, hingga akhirnya kendaraan tersebut terguling di sisi jalan.

    Sebuah mobil Daihatsu Sigra putih yang berada tepat di belakang truk pun nyaris terlibat benturan, namun berhasil menghindar saat ban truk tersebut menggelinding liar di badan jalan.

    Novita, seorang warga yang berada di sekitar lokasi, menceritakan kepanikan saat peristiwa tersebut pecah. Menurutnya, ban truk yang terlepas menjadi pemicu utama kendaraan oleng hingga terbalik.

    “Awalnya ban truk CPO terlepas, lalu langsung terbalik sendiri. Minyak dari tangki bocor dan meluber ke jalan,” ujar Novita saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.

    Dampak dari tumpahan minyak ini langsung dirasakan oleh pengendara lain. Permukaan aspal yang dilapisi minyak sawit menjadi sangat licin dan sulit dilalui, terutama bagi kendaraan roda dua. Novita menambahkan bahwa sudah ada korban yang terjatuh akibat kondisi jalan yang tidak kondusif tersebut.

    “Informasinya dua pengendara sempat jatuh karena jalannya licin kena minyak CPO. Ada juga mobil putih yang tadi sempat menghindari ban truk yang terlepas itu supaya tidak kena,” tambahnya.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim segera merespons laporan warga yang masuk melalui layanan hotline. Dalam laporan darurat tersebut, warga mendesak agar armada bantuan segera tiba untuk menetralisir tumpahan minyak agar tidak memakan lebih banyak korban.

    “Mohon izin bisa minta bantu armada tangki. Ada kecelakaan lalu lintas antara mobil truk CPO dan mobil Sigra di Jemaras dekat SPBU Jemaras. CPO-nya tumpah di jalan sehingga jalan licin Pak,” demikian bunyi laporan yang diterima BPBD Kotim.

    Hingga berita ini diturunkan, petugas kepolisian telah berada di lokasi untuk mengatur lalu lintas serta melakukan pendalaman terkait penyebab pasti kerusakan mekanis pada truk tersebut. Pengendara yang melintas di kawasan Jemaras diimbau untuk sangat berhati-hati dan menurunkan kecepatan secara drastis.

    Insiden ban lepas ini adalah pengingat keras bahwa kelaikan teknis kendaraan angkutan berat tidak bisa ditawar. Tumpahan CPO di jalan umum bukan hanya merugikan pemilik barang, tetapi menjadi ancaman nyawa bagi masyarakat umum yang melintas. Kejadian ini mempertegas perlunya pengawasan lebih ketat terhadap standar perawatan armada angkutan sebelum mereka dilepas ke jalan raya lintas kabupaten. (***)

  • Sampit Terendam Lagi! Bukti Nyata Drainase Kota Belum Mampu Menampung Air Langit

    Sampit Terendam Lagi! Bukti Nyata Drainase Kota Belum Mampu Menampung Air Langit

     SAMPIT, Kanalindependen.id-  Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Sampit pada Minggu pagi (3/5/2026), kembali memicu banjir di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Baamang.

    Luapan air tidak hanya merendam badan jalan, tetapi mulai merembes masuk ke dalam rumah warga di beberapa lokasi strategis. Kondisi di Jalan Soeprapto Selatan dilaporkan cukup parah hingga air masuk ke dalam kediaman warga. Salah satu warga terdampak, Didi, menceritakan langsung kondisi di kediamannya:

    “Jalan Soeprapto Selatan banjir bahkan masuk ke dalam rumah,” ujar Didi.

    Genangan air juga meluas secara signifikan di sepanjang ruas Jalan Pelita hingga mencapai Jalan DI Panjaitan. Berdasarkan laporan Hery di lapangan, air mulai terlihat menggenangi jalan dari ujung hingga ke ruas-ruas sekitarnya. Ia memberikan gambaran visual mengenai skala genangan tersebut:

    “Sama juga di sini juga banjir, sepanjang Jalan Pelita,” kata kata Akbar.

    Sementara itu, di Kecamatan Baamang, banjir merendam jalur penting seperti Jalan Cristopel Mihing, Jalan Kenan Sandan, Jalan Tjilik Riwut, dan Jalan Walter Condrat yang menyebabkan arus lalu lintas melambat drastis. Lisa, warga yang berada di titik rawan tersebut, memperingatkan pengendara agar waspada saat melintas di depan kantor PDAM:

    “Banjir di depan PDAM Jalan Cristopel Mihing, hati-hati bila melintas,” ungkap Ziah.

    Persoalan klasik ini diduga kuat bersumber dari tingginya curah hujan yang tidak mampu diimbangi oleh sistem drainase kota yang belum optimal. Warga di sejumlah titik kini berupaya menyelamatkan barang-barang berharga mereka ke tempat yang lebih tinggi guna menghindari kerusakan lebih lanjut. Hingga saat ini, air dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda akan surut dan masih menggenangi permukiman serta akses utama warga. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada serta menghindari aktivitas di area tergenang dalam demi keselamatan bersama. (***)

  • Ritual Genangan yang Melelahkan: Sampai Kapan Sampit Bertahan dengan Drainase ‘Seadanya’?

    Ritual Genangan yang Melelahkan: Sampai Kapan Sampit Bertahan dengan Drainase ‘Seadanya’?

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit seolah terjebak dalam siklus yang tak berujung. Setiap kali langit mengguyur tanpa jeda, wajah kota seketika berubah menjadi hamparan genangan yang melumpuhkan aktivitas. Kamis (30/4/2026) dini hari menjadi saksi bisu kembalinya drama klasik ini: drainase yang tak berdaya menghadapi terjangan awan konvektif ekstrem.

    Lumpuhnya mobilitas warga terlihat jelas di sejumlah urat nadi kota. Jalan HM Arsyad, Jalan Pelita, hingga Jalan Tjilik Riwut berubah menjadi aliran sungai dadakan. Tercatat sedikitnya 14 ruas jalan utama terdampak dengan ketinggian air mencapai 25 sentimeter di beberapa titik. Kendaraan dipaksa melaju pelan, bahkan sebagian harus memutar arah demi menghindari risiko mogok.

    Ironisnya, genangan ini tidak hanya menyerang aspal jalanan. Fasilitas vital mulai dari SDN 2 Mentawa Baru Hilir, Kantor Kelurahan, hingga area Bandara H Asan Sampit termasuk apron dan halaman Stasiun Meteorologi ikut terendam air.

     Berdasarkan kaji cepat Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotawaringin Timur, ruang privat warga kembali terinvasi. Di Jalan Cristopel Mihing, tercatat 24 rumah tergenang, disusul 14 rumah di Jalan Jeruk 1. Ketinggian air di dalam permukiman bervariasi antara 10 hingga 20 sentimeter, merambah hingga ke halaman dan ruang hidup masyarakat di kawasan Ketapang dan Baamang.

    “Sejak subuh sampai pagi hujan deras. Air cepat naik, drainase tidak mampu menampung,” keluh Mursalin, warga Ketapang yang sudah jengah dengan kondisi berulang ini.

    Fenomena ini bukan lagi sekadar faktor alam murni. Meski BMKG mencatat adanya fenomena konvergensi dengan suhu puncak awan ekstrem mencapai minus 100 derajat Celsius, alasan “drainase tidak mampu menampung” telah menjadi narasi usang yang terus terulang.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengakui bahwa sistem drainase yang ada memang tidak memadai untuk mendebit curah hujan yang tinggi. Persoalannya, sampai kapan masyarakat harus memaklumi infrastruktur “seadanya” ini? Kecepatan surutnya air bukanlah indikator keberhasilan jika setiap hujan lebat datang, warga harus kembali berjibaku dengan lumpur dan genangan.

    Sampit membutuhkan audit total sistem sanitasi kota dan tindakan nyata, bukan sekadar imbauan rutin untuk menjaga kebersihan saluran air yang kapasitasnya memang sudah mencapai batas maksimal. (***)

  • Gambut Sampit Mulai ‘Haus’, Dua Titik Api Muncul Serentak

    Gambut Sampit Mulai ‘Haus’, Dua Titik Api Muncul Serentak

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lahan gambut di sekitar Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin, mulai menunjukkan kerentanannya seiring dengan meningkatnya suhu udara. Pada Selasa (28/4) siang, dua titik api muncul secara bersamaan di kawasan Jalan Mekar Sari, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Vegetasi yang mengering dan cuaca terik membuat api dengan cepat merambat, mengancam perkebunan nanas dan area pemukiman warga.

    ​Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengonfirmasi bahwa panas yang menyengat menjadi faktor utama meningkatnya kerawanan lahan gambut di wilayah tersebut.

    ​“Cuaca yang cukup terik membuat lahan gambut menjadi kering dan sangat rentan terbakar. Kami mengimbau keras kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, karena berpotensi menimbulkan kebakaran yang jauh lebih luas,” tegas Multazam.

    ​Berdasarkan laporan di lapangan, peristiwa ini terdeteksi sekitar pukul 11.29 WIB. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotim segera meluncur ke lokasi setelah menerima informasi dari warga setempat guna memutus perambatan api.

    ​Setibanya di lokasi, petugas mendapati api sudah membakar dua titik berbeda dalam satu kawasan. Titik pertama berada sekitar 500 meter dari Jalan Mekar Sari dengan luas terdampak mencapai 0,12 hektare. Sementara titik kedua, yang berjarak hanya 100 meter dari lokasi pertama, menghanguskan lahan seluas 0,08 hektare. Kedua titik ini melahap semak belukar dan sebagian kebun nanas milik warga.

    ​Medan yang cukup sulit dengan akses yang jauh dari jalan utama sempat menghambat upaya pemadaman awal. Sebanyak 12 personel BPBD bersama regu dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) berjibaku menggunakan mobil tangki, mesin pompa portabel, serta memanfaatkan sumber air dari parit sekitar untuk menjinakkan si jago merah.

    ​Petugas menangani setiap titik secara sistematis, dimulai dengan memadamkan api utama kemudian dilanjutkan dengan proses pendinginan (mopping up) yang mendalam guna memastikan tidak ada bara yang tersisa di bawah permukaan gambut. Operasi dinyatakan selesai pada pukul 13.04 WIB tanpa adanya korban jiwa.

    ​BPBD Kotim kembali menegaskan pentingnya kerja sama masyarakat dalam mencegah Karhutla. Warga diminta segera melaporkan jika melihat kepulan asap atau titik api sekecil apa pun agar bisa ditangani dengan cepat sebelum meluas.

    ​Insiden ini menjadi peringatan dini yang nyata. Seiring masuknya musim panas, gambut Sampit yang mulai ‘haus’ sangat mudah tersulut api, dan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih besar. (***)

  • Panen Air di Tengah Kepungan Cumulonimbus: Strategi ‘Lari’ BPBD Kotim Hadapi Kemarau Panjang

    Panen Air di Tengah Kepungan Cumulonimbus: Strategi ‘Lari’ BPBD Kotim Hadapi Kemarau Panjang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di saat sebagian wilayah Kotawaringin Timur (Kotim) masih berjibaku dengan genangan air, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) justru melempar peringatan untuk bersiap menghadapi “dahaga” panjang. Masyarakat diimbau segera memaksimalkan penampungan air hujan selagi awan Cumulonimbus masih merajai langit hingga akhir April ini.

    ​Kepala Pelaksana BPBD KotimnMultazam, menegaskan bahwa intensitas hujan sedang hingga lebat saat ini adalah momentum krusial. Alih-alih membiarkan air mengalir sia-sia ke muara, warga diminta menabung air untuk kebutuhan bersih saat musim kemarau tiba nanti.

    ​“Dari sisi alam, saat ini air sedang disediakan. Tinggal bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan dengan menampung air hujan sebanyak-banyaknya,” ujar Multazam, Selasa (28/4/2026).

    ​Meski curah hujan tinggi dianggap peluang, BPBD tetap memantau titik-titik rawan. Kawasan Sei Ubar sempat terdampak tingginya debit Sungai Cempaga yang menghambat aliran air di daratan rendah. Meski status banjir masih dikategorikan “ringan”, kewaspadaan terhadap fluktuasi air laut dan sungai tetap menjadi harga mati.

    ​Ancaman tidak hanya datang dari air, tapi juga dari penghuninya. BPBD kembali mengeluarkan alarm keras bagi warga pesisir Sungai Mentaya: Pindahkan ternak ke daratan. Aktivitas ternak di tepi sungai adalah “undangan terbuka” bagi predator seperti buaya yang kian sering menampakkan diri saat air pasang siang hari.

    ​Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami menilai imbauan “panen air” ini adalah langkah cerdas namun menuntut kesiapan infrastruktur rumah tangga yang memadai. Pertanyaannya: sejauh mana masyarakat kecil mampu menyediakan penampungan air bersih di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif?

    ​Selain itu, narasi banjir “ringan” jangan sampai membuat kita lengah. Di wilayah selatan, genangan di halaman rumah adalah sinyal awal bahwa tata kelola drainase dan MCK kita masih sangat rapuh. Penataan fasilitas publik di kawasan rawan bukan lagi sekadar wacana mitigasi, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera dieksekusi sebelum kemarau dan predator benar-benar mengunci ruang gerak warga.

    ​Alam sedang memberi kita air hari ini, namun ia juga mengirimkan predator sebagai pengingat akan batas aman.

    Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kotim telah menetapkan status siaga bencana karhutla dan kekeringan selama 185 hari, terhitung sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026. Penetapan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dini menghadapi potensi bencana saat musim kemarau.

    Multazam menjelaskan, status siaga tersebut bukan berarti kondisi darurat telah terjadi, melainkan bentuk kesiapsiagaan agar seluruh pihak dapat mempersiapkan langkah mitigasi secara lebih matang.

    “Walaupun saat ini masih masa transisi, kita tetapkan status siaga lebih awal selama 185 hari, agar semua pihak punya waktu untuk bersiap,” katanya.

    Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit memprediksi musim kemarau di Kotim akan mulai terjadi pada awal Juni 2026 dan berlangsung selama sekitar 120 hari hingga September, dengan puncak pada Agustus.

    Wilayah selatan seperti Teluk Sampit dan Pulau Hanaut diperkirakan menjadi daerah terakhir yang memasuki musim kemarau, yakni sekitar 21 Juni. Namun, kawasan ini juga dinilai paling rentan terhadap dampak kekeringan, termasuk ancaman krisis air bersih akibat intrusi air laut.

    BMKG juga mengingatkan adanya potensi fenomena El Nino lemah hingga moderat yang dapat memperpanjang durasi kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan.


    Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air bersih serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, khususnya di wilayah pesisir dan bantaran Sungai Mentaya.(***)

  • Status Siaga 185 Hari, Stok Selang Sisa 46: Menguji Kesiapan Kotim Menghadapi Kemarau

    Status Siaga 185 Hari, Stok Selang Sisa 46: Menguji Kesiapan Kotim Menghadapi Kemarau

    SAMPIT, kanalindependen.id – Seratus delapan puluh lima hari. Selama rentang waktu itulah Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan, terhitung sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026.

    Keputusan ini lahir dari proyeksi BMKG bahwa kemarau 2026 berpotensi lebih ekstrem dan berlangsung lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya.

    Pemerintah daerah membentangkan perisai regulasi, bersiap menghadapi krisis selama setengah tahun penuh.

    Namun, ketetapan panjang itu terasa rapuh ketika menengok isi gudang markas pemadam.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim justru mengalami keterbatasan logistik vital. Stok selang pelempar berukuran 1,5 inci merosot tajam, menyisakan hanya 46 gulung.

    Ketersediaan ini sangat timpang dengan realitas lapangan. Regu pemadam memerlukan 15 hingga 20 gulung selang hanya untuk mengoperasikan satu unit mobil tangki air demi mengejar titik api di kedalaman lahan gambut.

    Parahnya lagi, perangkat ini rentan jebol dalam 10 sampai 15 hari ketika dipaksa bekerja keras. Ratusan hari masa siaga kini terpaksa dipertaruhkan dengan puluhan gulung selang yang tersisa.

    Keterbatasan ini telah disampaikan dalam rapat koordinasi teknis. Bupati Kotim Halikinnor bahkan telah menginstruksikan BPBD untuk memetakan anggaran dan mengusulkan percepatan perubahan APBD guna memenuhi kebutuhan peralatan.

    Kemarau Datang Lebih Awal

    Jejak panas (hotspot) sudah memberikan sinyal peringatan sejak awal tahun. Berdasarkan pantauan, Januari 2026 saja sudah mencatat kemunculan titik api di sejumlah kecamatan, mendahului puncak kemarau itu sendiri.

    Rekam jejak daerah ini memperlihatkan pola serupa: dalam beberapa tahun terakhir, rentetan insiden karhutla berulang menghanguskan bentang lahan yang luas di berbagai kecamatan.

    Kondisi tersebut menempatkan Kotim sebagai salah satu titik kerentanan utama di Kalimantan Tengah.

    Ancaman ini adalah siklus berulang yang menuntut perencanaan logistik berbasis data, bukan lagi sekadar respons darurat yang bersifat reaktif.

    Daya Jelajah Armada yang Terpasung

    Pengakuan Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengenai sisa 46 unit selang 1,5 inci membuka celah dalam sistem kesiapsiagaan daerah. Dengan stok setipis itu, daya jelajah regu pemadam menjadi terbatas.

    Titik api di Kotim mayoritas tersembunyi di kedalaman lahan gambut dan semak belukar yang sulit dijangkau kendaraan.

    Tanpa cadangan selang yang memadai, armada tangki air terpaksa hanya beroperasi dalam radius sempit dari akses jalan, membiarkan api di bagian tengah lahan terus merambat.

    Hingga kini, BPBD belum memublikasikan secara rinci jumlah armada tangki air yang benar-benar siap operasi, termasuk kelayakan pompa portabel, mesin apung, hingga kepastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasi maraton berhari-hari.

    Celah informasi ini krusial, mengingat perangkat dasar seperti selang saja sudah menyentuh batas kritis sebelum pertempuran sesungguhnya dimulai.

    Posko, Relawan, dan Risiko Struktur Administratif

    Pemerintah daerah merancang skema komando lintas instansi untuk memitigasi krisis. Sebuah pos komando tingkat kabupaten disiapkan untuk menyatukan kekuatan BPBD, TNI, Polri, dan unsur terkait.

    Mengalir ke bawah, pos lapangan di kecamatan dan desa dirancang sebagai garis pertahanan pertama.

    Kecamatan seperti Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Ketapang, Baamang, hingga Cempaga selalu masuk radar zona merah.

    Pemerintah menyatakan telah mengonsolidasikan aparat desa hingga kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk memangkas waktu respons.

    Namun, narasi kesiapan ini diuji oleh pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Ritme kerja posko kerap berfluktuasi mengikuti intensitas kebakaran, memunculkan keraguan soal kontinuitas latihan maupun perawatan alat secara berkala.

    Sampai saat ini, belum ada publikasi yang merinci inventaris logistik di setiap posko desa: berapa unit pompa yang mereka pegang, ketersediaan alat pelindung pernapasan bagi relawan, hingga jaminan dukungan operasional dasar.

    Tanpa rincian tersebut, posko-posko ini berisiko lebih banyak hadir sebagai struktur administratif ketimbang basis operasi yang benar-benar siap ketika api mulai meluas.

    Persimpangan Kritis: Api dan Krisis Air

    Kebakaran lahan selalu membawa kembarannya: krisis air bersih. BPBD merespons dengan mendorong pembangunan sumur artesis di wilayah pesisir.

    Kawasan Ujung Pandaran, misalnya, diinformasikan masih memiliki cadangan air layak konsumsi pada kedalaman delapan meter untuk saat ini.

    Kondisi tersebut rentan berubah ketika kemarau memuncak akibat penurunan muka air tanah dan intrusi laut.

    Situasi di Kecamatan Pulau Hanaut bahkan lebih mengkhawatirkan. Berdasarkan pemetaan awal, kualitas air tanah di sana mayoritas tidak layak konsumsi, memaksa warga bergantung pada sumber air dari kawasan hutan.

    Hal ini menciptakan persimpangan yang sulit. Wilayah yang krisis air minum adalah titik yang sama dengan wilayah rawan karhutla.

    Operasi pemadaman menuntut pasokan air dalam jumlah besar. Tanpa perencanaan yang presisi, risiko terjadinya gesekan kepentingan antara kebutuhan air untuk pemadaman dan kebutuhan harian warga menjadi nyata.

    Beban Berat di Pundak Desa

    Secara manajerial, BPBD Kotim merancang penanggulangan karhutla dari struktur paling bawah.

    ”Kami ingin penanganan ini dimulai dari desa, naik ke kecamatan, baru ke kabupaten,” kata Multazam.

    Konsep penanganan berjenjang ini logis secara taktis. Memadamkan percikan awal di tingkat desa jauh lebih efektif daripada menunggu api membesar.

    Namun, kapasitas riil desa kembali dipertanyakan. Mengingat tingkat kabupaten saja menghadapi tantangan stok logistik, relawan MPA di desa-desa pelosok kemungkinan besar memikul beban yang jauh lebih berat. Ditambah kendala infrastruktur jalan dan akses komunikasi.

    Api belum datang. Tapi 46 gulung selang itu tidak akan bertahan lama setelah kebakaran pertama meluas. (ign)

  • Duka di Parenggean, Jasad Andika Sifa Alfianur Berhasil Ditemukan, Operasi SAR Parenggean Ditutup

    Duka di Parenggean, Jasad Andika Sifa Alfianur Berhasil Ditemukan, Operasi SAR Parenggean Ditutup

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kabut duka yang menyelimuti aliran Sungai Tualan akhirnya menemui titik akhir. Setelah pencarian intensif yang melibatkan Forkopincam dan ratusan warga, jasad Andika Sifa Alfianur bin Untung Supriadi (15), siswa MTs Al Fajar yang dilaporkan tenggelam pada Senin siang (27/4/2026), berhasil ditemukan.

    Camat Parenggean M Jais, mengonfirmasi kabar ditemukannya korban. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi seluruh elemen masyarakat, TNI, Polri, dan para relawan yang tidak berhenti menyisir sungai sejak laporan pertama kali diterima.

    “Alhamdulillah, berkat upaya semua masyarakat Parenggean dan Forkopincam yang melakukan pencarian, korban sudah berhasil ditemukan,” ujar M Jais, Senin sore.

    Usai dievakuasi dari aliran sungai, jenazah Andika segera dibawa ke Rumah Sakit Pratama Parenggean. Saat ini, tim medis sedang melakukan proses otopsi untuk memastikan penyebab kematian sebelum jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.

    Ditemukannya Andika mengakhiri spekulasi dan ketegangan yang sempat melumpuhkan aktivitas di sekitar Pasar Parenggean. Tragedi yang bermula dari niat mandi bersama rekan sejawat ini menjadi catatan kelam bagi keselamatan remaja di bantaran sungai.

    Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami menundukkan kepala atas berpulangnya Andika Sifa Alfianur. Ditemukannya korban adalah buah dari solidaritas warga Parenggean yang luar biasa, namun hasil ini tetap menyisakan lubang besar di hati keluarga dan rekan-rekan di sekolah.

    Tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pengawasan aktivitas remaja di perairan terbuka. Sungai Tualan telah menunjukkan kekuatannya, dan kita sebagai manusia harus menghormatinya dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Pendidikan keselamatan air bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan yang mendesak.

    Satu nyawa pelajar telah hilang; mari pastikan ini menjadi duka terakhir yang kita tulis dari tepian sungai di Kotim.

    Diberitakan sebelumnya , Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Kecamatan Parenggean. Seorang pelajar laki-laki berusia 15 tahun dari MTsN Al Fajar dilaporkan tenggelam di kawasan perairan sekitar Pasar Parenggean, Senin (27/4/2026). Hingga berita ini terbit, tim gabungan masih berjibaku menyisir aliran sungai guna menemukan keberadaan korban. (***)

  • Siswa MTsN Al Fajar Tenggelam di Parenggean: Tim TRC BPBD Terjunkan Personel Water Rescue

    Siswa MTsN Al Fajar Tenggelam di Parenggean: Tim TRC BPBD Terjunkan Personel Water Rescue

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Kecamatan Parenggean. Seorang pelajar laki-laki berusia 15 tahun dari MTsN Al Fajar dilaporkan tenggelam di kawasan perairan sekitar Pasar Parenggean, Senin (27/4/2026). Hingga berita ini terbit, tim gabungan masih berjibaku menyisir aliran sungai guna menemukan keberadaan korban.

     Laporan insiden ini diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim pada pukul 13.03 WIB. Merespons kondisi darurat tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung diberangkatkan dari Sampit menuju lokasi kejadian.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan unit air khusus untuk operasi ini.

    “TRC BPBD meluncur ke Kecamatan Parenggean dengan unit air dan personel Water Rescue untuk melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan orang tenggelam,” jelas Multazam dalam keterangan resminya.

    Hingga saat ini, identitas lengkap korban masih dalam pendataan petugas di lapangan. Namun, koordinasi intensif dengan Pos SAR, masyarakat setempat, serta para sukarelawan terus dilakukan untuk memperluas radius pencarian di titik diduga jatuhnya korban.

    Kawasan Pasar Parenggean yang berada di tepian sungai memang memiliki intensitas aktivitas yang tinggi. Namun, derasnya arus sungai sering kali menjadi ancaman bagi siapa saja yang kurang waspada, terutama bagi kalangan remaja. Upaya penyisiran kini difokuskan pada titik-titik pusaran air dan hambatan alami di sepanjang aliran sungai dekat pasar.

    Di meja redaksi Kanalindependen.id, kami melihat insiden tenggelamnya pelajar ini sebagai pengingat keras akan pentingnya pengawasan kolektif terhadap anak-anak di sekitar bantaran sungai. Aliran sungai di wilayah Kotim sering kali tampak tenang di permukaan, namun menyimpan arus bawah yang mematikan.

    Pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan saat ini adalah perlombaan melawan waktu. Kami berharap koordinasi antara BPBD, Pos SAR, dan warga dapat membuahkan hasil secepatnya. Namun, lebih dari itu, kita harus mulai mempertanyakan: sejauh mana mitigasi keamanan di area publik seperti pasar yang berbatasan langsung dengan air, agar kejadian serupa tidak terus berulang?

    Doa kami bersama keluarga korban dan tim pencari; semoga titik terang segera ditemukan di tengah derasnya arus Parenggean. (***)

  • Banjir Jadi Rutinitas, Kantor Kecamatan Pulau Hanaut Ikut Terendam, Pelayanan Publik Terganggu

    Banjir Jadi Rutinitas, Kantor Kecamatan Pulau Hanaut Ikut Terendam, Pelayanan Publik Terganggu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Banjir kembali menjadi “tamu rutin” di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Hujan deras yang mengguyur sejak malam, berpadu dengan pasang air sungai pada pagi hari, memicu genangan yang merendam hampir seluruh desa bahkan hingga ke fasilitas pemerintahan.

    Kantor Kecamatan Pulau Hanaut tak luput dari dampak. Air setinggi sekitar 30 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa menggenangi halaman hingga akses masuk kantor. Kondisi ini bukan sekadar gangguan visual, tapi langsung menghambat pelayanan publik.

    “Karena malam tadi hujan, air belum sempat turun, pagi tadi sungai pasang sehingga terjadi banjir. Saat ini air masih terus naik,” ujar Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, Jumat, (24/4/2026).

    Meski bangunan utama kantor kecamatan berada di posisi lebih tinggi, bagian aula yang lebih rendah kerap menjadi langganan genangan.

    “Kalau di kantor memang lebih tinggi, tapi aula lebih rendah, jadi sering terendam. Ini sudah biasa terjadi,” katanya.

    Namun “kebiasaan” itu bukan berarti tanpa konsekuensi. Warga yang ingin mengurus administrasi tetap harus berjibaku dengan genangan air.

    “Pasti mengganggu, karena masyarakat harus melewati banjir untuk masuk ke kantor,” tambahnya.

    Fenomena ini mencerminkan kondisi yang lebih luas. Dari total 14 desa di Kecamatan Pulau Hanaut, sebanyak 11 hingga 12 desa hampir selalu terdampak banjir saat curah hujan tinggi dan sungai pasang. Hanya Desa Rawasari dan Makarti Jaya yang relatif aman karena letaknya jauh dari aliran sungai.

    Di beberapa wilayah seperti Desa Santiruk dan Hantipan, banjir bahkan kerap masuk ke dalam rumah warga. Sementara di Desa Babirah, genangan di ruas Jalan Bapinang–Pagatan mencapai rata-rata 50 sentimeter, bahkan hingga 1 meter di titik terendah.

    Meski umumnya air akan surut dalam waktu 4 hingga 6 jam, kondisi ini tetap menyisakan persoalan klasik: infrastruktur yang tak kunjung memadai.

    Fahrujiansyah mengaku pihaknya telah berulang kali mengusulkan perbaikan melalui musrenbang, terutama untuk pembenahan aula dan bangunan lama yang sebagian masih berbahan kayu dan mengalami kebocoran.

    “Kami tidak muluk-muluk, hanya berharap ada perbaikan aula dan bangunan lama yang kondisinya sudah banyak rusak,” ujarnya.

    Selain soal infrastruktur, ancaman lain juga mengintai saat banjir datang. Kemunculan buaya di bantaran sungai menjadi risiko yang terus diingatkan kepada masyarakat.

    “Kami imbau masyarakat tetap berhati-hati, terutama yang beraktivitas di pinggir sungai. Untuk wilayah pesisir juga kami larang memelihara ternak di bantaran sungai karena bisa mengundang buaya,” tandasnya.

    Di Pulau Hanaut, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman ia telah menjadi pola berulang yang menuntut solusi lebih dari sekadar penanganan sementara. (***)