Tag: Karhutla Kotim 2026

  • Dikepung 3.840 Hotspot, Karhutla Kotim Tembus 1.317 Hektare Lahan Terbakar

    Dikepung 3.840 Hotspot, Karhutla Kotim Tembus 1.317 Hektare Lahan Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mengalami eskalasi kritis. Rekapitulasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim hingga Selasa (18/8/2026) mencatat total akumulasi lahan terbakar di bumi Habaring Hurung telah menembus angka 1.317,15 hektare dari 354 kejadian yang ditangani petugas sepanjang tahun ini.

    Skala bencana yang masif ini berbanding lurus dengan tingginya aktivitas pemantauan satelit, di mana rekap hotspot BPBD Kotim hingga Selasa siang pukul 13.24 WIB mencatat sebanyak 3.840 titik panas terdeteksi mengepung seluruh wilayah kecamatan di Kotim.

    Ancaman terbesar saat ini terkonsentrasi di wilayah selatan dan seberang perkotaan Sampit. Kecamatan Teluk Sampit menyumbang indikator hotspot tertinggi yang mencapai 829 titik.

    Sementara itu, Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan kerusakan lahan terluas, yakni hangus hingga 703,50 hektare atau menyedot 53,41 persen dari total seluruh lahan terbakar di Kotim dengan sebaran 314 hotspot.

    Di tempat lain, Kecamatan Kota Besi mencatatkan 551 hotspot dengan luas lahan terbakar 172,76 hektare (13,12 persen). Wilayah lainnya yang turut membara meliputi Mentaya Hilir Selatan dengan 434 titik dan 83,21 hektare lahan terbakar, Mentaya Hilir Utara dengan 397 titik, Baamang dengan 309 titik dan 122,11 hektare, Mentawa Baru Ketapang dengan 309 titik, serta Pulau Hanaut dengan luasan terbakar mencapai 82,65 hektare.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengaitkan luasan terukur tersebut dengan pergerakan cepat tim di lapangan, sekaligus mengingatkan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis.

    “Data ini berdasarkan penanganan kejadian yang dilakukan petugas di lapangan dan merupakan area terukur saat kejadian berhasil ditangani,” ungkapnya, Selasa (18/8/2026).

    Angka ini mengutamakan kecepatan sehingga masih dapat berubah sesuai kelengkapan data. Multazam menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menekan laju perluasan titik api dengan tidak membakar lahan serta segera melapor jika melihat indikasi asap, tanpa harus menunggu api membesar.

    Tingginya akumulasi 3.840 hotspot yang berbanding lurus dengan hangusnya 1.317 hektare lahan adalah bukti bahwa strategi pencegahan di tingkat tapak belum mampu membendung laju pembersihan lahan secara sporadis.

    Lonjakan hotspot di Teluk Sampit serta dominasi kerusakan di Seranau mengindikasikan bahwa wilayah gambut dalam pesisir dan seberang sungai sangat rentan menjadi penyumbang kabut asap pekat (haze) yang mengancam penerbangan Bandara H. Asan Sampit.

    Tingginya angka titik panas di Seranau dan Teluk Sampit tidak bisa hanya mengandalkan satgas darat. BNPB dan BPBD Kalteng wajib memprioritaskan helikopter water bombing untuk memutus rantai api di lahan gambut dalam yang tidak terjangkau selang pemadam.

    Di sisi lain, banyaknya hotspot di wilayah pertanian dan perkebunan pesisir harus ditindaklanjuti dengan investigasi lapangan oleh Satreskrim Polres Kotim dan Gakkum KLHK guna menindak tegas pelaku pembakaran lahan secara sengaja.

    Cegah kabut asap melumpuhkan Sampit, tindak tegas pembakar lahan!  Karhutla Kotim tembus 1.317 hektare! Kepungan 3.840 hotspot butuh gempuran pemadaman udara! (***)

  • 490 Hotspot Terdeteksi di Kotim, 189 Titik Terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan

    490 Hotspot Terdeteksi di Kotim, 189 Titik Terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 490 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam akumulasi 24 jam terakhir. Sebaran titik panas tersebut didominasi kawasan selatan Kotim, dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah paling banyak menyumbang hotspot.

    Data rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses pada 17 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan, dari 490 titik panas yang terpantau, sebanyak 441 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 37 titik rendah dan 12 titik tinggi.

    ”Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Kecamatan tersebut mencatat 189 titik panas, atau hampir 40 persen dari seluruh hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo dalam perbaruan data titik panas di Kotim, Senin (17/8/2026).

    Sebaran di Mentaya Hilir Selatan juga tidak merata. Samuda Besar menyumbang 50 titik, disusul Handil Sohor 35 titik, Kelurahan Samuda Kota 32 titik, Samuda Kecil 23 titik, Sebamban 22 titik dan Jaya Karet 18 titik.

    Kondisi ini membuat kawasan selatan Kotim menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian serius di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Setelah Mentaya Hilir Selatan, jumlah hotspot terbanyak berada di Teluk Sampit dengan 75 titik. Selanjutnya Mentaya Hilir Utara mencatat 60 titik dan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 54 titik.

    Di Teluk Sampit, sebagian besar hotspot terkonsentrasi di Lampuyang dengan 53 titik, kemudian Parebok 17 titik dan Kuin Permai lima titik.

    Sementara di Mentaya Hilir Utara, Bagendang Tengah menjadi titik konsentrasi utama dengan 53 hotspot dari total 60 titik yang terpantau di kecamatan tersebut.

    Adapun di Mentawa Baru Ketapang, hotspot tersebar di sejumlah wilayah. Kelurahan Ketapang mencatat 16 titik, Kelurahan Pasir Putih 12 titik dan Bangkuang Makmur 12 titik. Selain itu, terdapat hotspot di Bapeang, Eka Bahurui, Kelurahan Mentawa Baru Hulu dan Telaga Baru.

    Jika empat kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi tersebut digabungkan, terdapat 378 titik panas. Angka itu setara sekitar 77 persen dari total hotspot Kotim dalam periode pemantauan.

    Sebaran hotspot juga terpantau di sejumlah kecamatan lain. Baamang mencatat 41 titik, Antang Kalang 10 titik, Mentaya Hulu 11 titik, Seranau sembilan titik, sedangkan Kota Besi, Parenggean dan Telawang masing-masing delapan titik.  

    Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi memang hanya berjumlah 12. Namun, seluruhnya terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan, sehingga wilayah tersebut menjadi perhatian tersendiri dalam pemantauan potensi karhutla.

    “Data hotspot sendiri merupakan indikator adanya anomali panas yang terdeteksi sensor satelit dan bukan otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Karena itu, temuan tersebut tetap membutuhkan verifikasi di lapangan,” katanya.

    Dengan ratusan hotspot yang tersebar dalam 24 jam terakhir, ancaman karhutla di Kotim masih cukup tinggi. Pemantauan dan pemeriksaan lapangan menjadi penting, terutama pada wilayah dengan konsentrasi hotspot yang padat.

    Kondisi ini juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus di sekitar pusat Kota Sampit. Kawasan selatan Kotim kini menjadi salah satu titik perhatian karena konsentrasi hotspot yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. (***)

  • Titik Panas Kotim Menyusut Hingga 70 Hotspot, Satgas Diminta Tak Lengah di Desa Lampuyang

    Titik Panas Kotim Menyusut Hingga 70 Hotspot, Satgas Diminta Tak Lengah di Desa Lampuyang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tekanan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan tren penurunan signifikan. Berdasarkan data rekapitulasi satelit BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit pada Jumat sore (14/8/2026) pukul 16.00 WIB, sebaran titik panas (hotspot) di Kotim menyusut drastis menjadi 70 titik, dari yang sebelumnya sempat menembus angka 181 titik.

    Meski secara akumulasi terjadi penurunan drastis, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim diimbau untuk tidak melonggarkan pengawasan.

    “Pasalnya, sebaran titik panas masih terkonsentrasi kuat di wilayah selatan Kotim, khususnya di Kecamatan Teluk Sampit yang menyumbang 28 titik atau sekitar 40 persen dari total hotspot di Kotim,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo.

    Desa Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit menjadi lokasi paling rawan dengan dominasi 26 titik panas (25 tingkat kepercayaan menengah dan 1 tingkat kepercayaan tinggi). Sementara dua titik sisanya berada di Desa Parebok.

    Selain Teluk Sampit, sebaran 70 titik panas di Kotim terdeteksi di beberapa wilayah lain;  Mentawa Baru Ketapang: 9 titik (Kelurahan Pasir Putih 4, Bapanggang Raya 2, Bangkuang Makmur 1, Eka Bahurui 1, MB Hulu 1). Mentaya Hilir Selatan: 8 titik (Basirih Hulu 4, Sebamban 4). Kecamatan Baamang: 7 titik (Baamang Barat 4, Baamang Hulu 3). Mentaya Hilir Utara: 6 titik (Bagendang Tengah 6). Bukit Santuai: 4 titik (Tumbang Tilap 2, Tumbang Kaminting 1, Tumbang Penyahuan 1). Kecamatan Lain: Kota Besi (2 titik), Seranau (2 titik), serta Antang Kalang, Cempaga Hulu, Mentaya Hulu, dan Telaga Antang masing-masing 1 titik.

    Dari total 70 hotspot, sebanyak 68 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (30–79 persen), dan 2 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi (80 persen) yang berada di Desa Bukit Batu (Cempaga Hulu) dan Desa Lampuyang (Teluk Sampit).

    BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mengingatkan bahwa melandainya angka hotspot tidak boleh mengurangi intensitas patroli darat. Keberadaan titik panas berkepercayaan tinggi di Lampuyang menegaskan adanya potensi kebakaran aktif yang membutuhkan pemadaman dan penyekatan segera di lahan gambut sebelum membesar.

    Menyusutnya angka hotspot dari 181 menjadi 70 titik adalah kabar baik, namun bukan alasan bagi Satgas Karhutla Kotim untuk menurunkan titik siaga. Karakteristik lahan gambut di Kotim terutama di kawasan pesisir Lampuyang sering kali menyimpan bara api di bawah permukaan tanah (subsurface fire) yang tidak selalu terdeteksi oleh sensor termal satelit saat tertutup asap tebal atau awan tipis.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan aksi lapangan yang sangat tajam: Di antaranya yakni penguatan Posko Aju dan Patroli Gambut di Lampuyang: Konsentrasi 26 titik panas di Desa Lampuyang membuktikan bahwa kawasan ini adalah titik lemah (vulnerable spot) yang berisiko menyulut kabut asap ke alur pelayaran Sungai Mentaya dan perkotaan Sampit. Satgas Karhutla harus memastikan ketersediaan pasokan air dan tim pemadam di posko aju Teluk Sampit berfungsi 24 jam.

    Selanjutnya, pengawasan ketat lahan pertanian pesisir: Menjelang musim tanam, pencegahan aktivitas pembakaran lahan (zero burning) oleh pemilih lahan di kawasan Lampuyang dan Basirih Hulu wajib diperketat. Langkah tegas aparat penegak hukum sangat dibutuhkan agar tren penurunan angka hotspot ini dapat dipertahankan hingga akhir musim kemarau.

    Jangan terkecoh penurunan angka satelit, padamkan bara gambut Lampuyang sampai tuntas! Hotspot Kotim turun jadi 70 titik!  Satgas Karhutla dilarang lengah di Desa Lampuyang!

  • Lahan Pinggir Jalan Niaga Pelangsian Terbakar, Asap Sempat Ancam Pengguna Jalan

    Lahan Pinggir Jalan Niaga Pelangsian Terbakar, Asap Sempat Ancam Pengguna Jalan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran lahan kembali mengancam keselamatan lalulintas harian warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sebuah lahan kosong yang terletak persis di pinggir Jalan Niaga Pelangsian, Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, hangus terbakar pada Jumat siang(14/8/2026).

    Kepulan asap tebal yang membubung dari lokasi kejadian sempat membahayakan jarak pandang para pengguna jalan yang melintas di koridor penghubung tersebut.

    Informasi kebakaran pertama kali masuk ke Mako Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim pada pukul 13.34 WIB dari seorang warga setempat bernama Dedi. Menanggapi ancaman yang berada di pinggir jalur lalu lintas publik, tim siaga Peleton 2 Regu 2 Damkarmat Kotim bergerak cepat (fast response) meninggalkan markas pada pukul 13.42 WIB.

    Mengerahkan 1 unit armada MUPK 05 di bawah komando Plh. Kepala Regu Fikri Alfaridzi, petugas menempuh jarak 12 kilometer dalam waktu 18 menit dan tiba di titik lokasi pada pukul 14.00 WIB.

    “Setiba di lokasi kejadian, petugas segera melakukan pemadaman kebakaran lahan kosong di pinggir jalan. Dalam kurun waktu kurang lebih satu jam setengah, api berhasil dilokalisir total,” ungkap Fikri Alfaridzi, Jumat (14/8/2026).

    Operasi pemadaman dan pendinginan (overhaul) berlangsung hingga pukul 15.24 WIB. Berkat penanganan taktis petugas, area terbakar berhasil disekat pada luasan  80 x 60 meter persegi (4.800 meter persegi)   sehingga tidak merembet ke pemukiman maupun memperparah kepulan asap di jalan raya.

    Meski tidak ada korban jiwa maupun kerugian materiil bangunan, pihak Damkarmat Kotim mencatat dugaan awal pemicu kebakaran (arson) yang mengarah pada indikasi kesengajaan atau kelalaian pembersihan lahan dengan cara membakar.

    Kebakaran lahan di pinggir Jalan Niaga Pelangsian ini menjadi peringatan keras mengenai tingginya risiko kecelakaan lalu lintas akibat paparan asap karhutla di jalur angkutan publik. Pembakaran lahan di tepi jalan raya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga secara langsung mempertaruhkan nyawa para pengguna jalan akibat penurunan jarak pandang drastis (blind spot).

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan penegakan hukum yang sangat tajam:

    1. Tindakan Tegas Terhadap Pelaku Pembakaran di Tepi Jalan: Pencatatan indikasi arson oleh Damkarmat Kotim harus ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian. Pembakaran lahan sembarangan di pinggir jalan umum adalah bentuk kelalaian berat yang dapat dijerat pasal tindak pidana membahayakan keselamatan umum.
    2. Patroli Rutin Jalur Poros Desa: Pemerintah Desa Pelangsian bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa perlu mengintensifkan patroli pengawasan di sepanjang koridor Jalan Niaga guna mencegah aktivitas pembersihan lahan (land clearing) secara ilegal selama musim kemarau. (***)

  • 181 Hotspot Mengepung Kotim, Teluk Sampit Menyumbang 102 Titik

    181 Hotspot Mengepung Kotim, Teluk Sampit Menyumbang 102 Titik

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan tekanan karhutla yang belum mereda. Hingga Kamis (13/8/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat 181 hotspot tersebar di sejumlah wilayah. Namun, sebarannya tidak merata.

    Teluk Sampit menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Kecamatan yang berada di bagian selatan Kotim itu menyumbang 102 titik, atau lebih dari separuh total hotspot yang tercatat dalam rekapitulasi BMKG.

    Data tersebut tercantum dalam Rekapitulasi Hotspot Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit dan diakses pada Kamis sore.

    Dari 102 hotspot di Teluk Sampit, sebanyak 95 titik berada di Desa Lampuyang. Sementara tujuh titik lainnya terdeteksi di Desa Parebok.

    Kondisi tersebut membuat Lampuyang menjadi salah satu lokasi yang patut mendapat perhatian serius dalam pemantauan karhutla Kotim.

    Setelah Teluk Sampit, konsentrasi hotspot terbanyak berada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan 27 titik. Hotspot tersebar di Desa Basirih Hulu sebanyak 15 titik, Sei Ijum Raya empat titik, Jaya Karet empat titik, Sebamban dua titik dan Jaya Kelapa dua titik.

    Sementara Kecamatan Baamang tercatat memiliki 12 hotspot. Sebanyak sembilan titik berada di Kelurahan Baamang Barat dan tiga titik lainnya di Kelurahan Baamang Hulu.

    Di Telawang terdapat 10 hotspot. Seluruhnya tersebar di Desa Sebabi dan Tanah Putih, masing-masing lima titik.

    Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menyusul dengan sembilan hotspot. Enam titik berada di Desa Bangkuang Makmur dan tiga titik di Kelurahan Pasir Putih.

    Wilayah lainnya yang masih terpantau hotspot yakni Seranau dengan tujuh titik, Bukit Santuai lima titik, Kota Besi empat titik, Mentaya Hilir Utara tiga titik, serta Cempaga dan Parenggean masing-masing dua titik.

    Yang juga menjadi perhatian, 180 hotspot berada pada tingkat kepercayaan menengah, sedangkan satu titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi. Tidak tercatat hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah dalam rekapitulasi tersebut.

    Sebaran ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum terkonsentrasi pada satu wilayah saja. Meski Teluk Sampit menjadi episentrum berdasarkan jumlah hotspot, titik panas juga muncul di kawasan perkotaan dan sejumlah kecamatan lain.

    Kondisi tersebut perlu dibaca bersama dengan situasi di lapangan. Sebab, hotspot merupakan indikasi adanya sumber panas yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif.

    Tetapi ketika jumlahnya mencapai ratusan dan terdapat konsentrasi sangat tinggi di wilayah tertentu, data tersebut tetap menjadi sinyal penting bagi tim penanganan karhutla untuk melakukan pengecekan lapangan.

    Lampuyang kini menjadi nama yang paling menonjol dalam peta hotspot Kotim. Sebanyak 95 titik panas terkonsentrasi di satu desa tersebut.

    Pertanyaannya kemudian bukan hanya berapa banyak hotspot yang muncul, tetapi apa yang sedang terjadi di balik konsentrasi titik panas tersebut dan apakah ada kebakaran aktif yang membutuhkan penanganan segera.

    Pemerintah daerah bersama tim gabungan perlu memastikan titik-titik tersebut segera diverifikasi di lapangan. Terlebih, karhutla di Kotim dalam beberapa pekan terakhir telah berdampak pada munculnya asap dan penurunan kualitas udara di Sampit.

    Data hotspot ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di Kotim belum selesai. Ketika satu wilayah mulai mendominasi peta titik panas, respons cepat menjadi penting sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (***)

  • Manggala Agni Tembus Gambut 24 Meter di Baamang, Solusi Kelangkaan Air Pemadaman Karhutla

    Manggala Agni Tembus Gambut 24 Meter di Baamang, Solusi Kelangkaan Air Pemadaman Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kesulitan mengakses sumber air di tengah ganasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tanah gambut membuat tim pemadam harus memutar otak. Guna memastikan pasokan air tak pernah terputus, Manggala Agni merintis pembuatan sumur bor manual di titik-titik rawan bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Langkah taktis ini salah satunya direalisasikan di kawasan Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di sekitar pintu masuk Sagonta Kota, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Sampit.

    Komandan Daerah Operasi (Daops) Pangkalan Bun Seksi Wilayah III Kalsel-Teng, Binsar Oktavianus Togatorop, menegaskan bahwa krisis air di lapangan selama ini menjadi penghambat utama proses pemadaman lahan gambut sehingga api kerap menyala kembali.

    “Sumur bor ini dibuat karena wilayah Baamang kesulitan akses air untuk pemadaman karhutla. Hal ini juga yang mengakibatkan pemadaman api di lahan gambut sering tidak tuntas,” ungkap Binsar Oktavianus Togatorop saat memberikan keterangannya.

    Penetapan kawasan Baamang sebagai lokasi prioritas pembuatan fasilitas penyuplai air ini didasari pertimbangan posisi geografisnya yang sangat krusial dan berdampak langsung pada fasilitas publik vital.

    “Atensinya di wilayah Baamang dulu karena dekat dengan akses jalan Trans Kalimantan dan alur penerbangan Bandara, jadi ini yang prioritas utama,” tegas Binsar.

    Proses pengeboran manual yang ditempuh jajaran Manggala Agni kini telah menembus kedalaman 24 meter di bawah permukaan gambut. Meski baru dibangun di satu titik uji coba, sumur bor tersebut sudah mulai menyemburkan air bersih.

    “Sumur bor yang dibuat saat ini masih satu titik dan sudah menghasilkan air meski debitnya belum maksimal. Harapannya, seluruh petugas pemadam kebakaran dan BPBD nantinya bisa langsung mengakses air di sini tanpa harus berputar jauh mencari titik pengisian tangki,” tuntasnya.

    Keberadaan sumur bor mandiri seluas 24 meter ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam mempercepat respons (response time) satgas pemadam karhutla di sektor perkotaan Sampit, sekaligus memutus rantai rembetan api gambut yang membahayakan transportasi darat dan udara.

    💡 Analisis Kanal Independen: Terobosan Sumur Bor Gambut dan Urgensi Replikasi Massal di Kotim ⚖️

    Inisiatif Manggala Agni membuat sumur bor manual seluas 24 meter di Baamang Hulu adalah solusi rekayasa lapangan yang sangat tepat sasaran (problem-solving) untuk mengatasi kelemahan mendasar mitigasi karhutla di Sampit. Selama ini, armada damkar kerap membuang waktu kritis (golden time) hanya untuk mengantre atau memburu parit air yang mengering saat musim kemarau.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan kebijakan lingkungan yang sangat tajam:

    1. Replikasi Massal Sumur Bor oleh BPBD dan Pemkab Kotim: Keberhasilan pengeboran 24 meter di Sagonta Kota wajib dijadikan cetak biru (blueprint). Pemkab Kotim melalui dana alokasi Bencana Karhutla didesak memperbanyak titik sumur bor darurat di seluruh kecamatan rawan karhutla, seperti Seranau, Mentawa Baru Ketapang, dan Kota Besi.
    2. Standardisasi Hydrant Gambut untuk Armada Gabungan: Titik sumur bor yang telah berfungsi wajib dilengkapi dengan penanda visual, pompa high-pressure, serta konektor selang berstandar nasional agar dapat diakses secara instan oleh seluruh unsur Satgas, baik Pemadam Swakarsa, BPBD, maupun TNI/Polri saat kondisi darurat.

    Inovasi air darurat adalah kunci memadamkan bara gambut hingga ke akar-akarnya! Manggala Agni buat sumur bor di Baamang! Perbanyak titik pasokan air untuk amankan Bandara dan Trans Kalimantan! (***)

  • Karhutla Tak Berhenti Membakar Lahan, Rantai Ekosistem Kotim Ikut Terputus

    Karhutla Tak Berhenti Membakar Lahan, Rantai Ekosistem Kotim Ikut Terputus

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini menyingkap fakta ekologis yang memprihatinkan. Karhutla tidak sekadar meninggalkan amparan gambut yang legam dan pekatnya kabut asap perkotaan, melainkan resmi memutus rantai ekosistem darat secara sistematis. Satwa liar kehilangan ruang jelajah, predator alami mati terpanggang, ancaman ledakan populasi hama tikus mengintai, hingga serangga penyerbuk pun terancam punah.

    Retaknya struktur ekologis Kotim tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit Muriansyah. Pihaknya mencatat pergerakan darurat seekor orangutan (Pongo pygmaeus) berukuran besar yang terdesak keluar dari habitatnya dan masuk ke perkebunan warga Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Laporan kemunculan primata terlindungi ini pertama kali dikirimkan oleh Ketua RW setempat, Amrullah. Tim BKSDA yang diterjunkan meyakini satwa tersebut melintas untuk menyelamatkan diri dari amukan api dan kepulan asap karhutla yang melahap kawasan hutan Desa Bapanggang Raya dan Desa Bapeang.

    “Diduga kuat kebakaran hutan dan lahan itulah yang menyebabkan orangutan masuk ke kebun warga untuk menghindari kebakaran dan asap. Bukan hanya orangutan, beruang madu juga berpotensi masuk ke area pertanian warga karena kebun dinilai memiliki sumber makanan, air, dan keamanan,” terang Muriansyah, Rabu (12/8/2026).

    Guna mengantisipasi terjadinya konflik berdarah antara manusia dan satwa liar (human-wildlife conflict), BKSDA mengimbau keras agar masyarakat yang mendapati kehadiran orangutan atau beruang madu tidak bertindak main hakim sendiri. Warga diminta segera melapor ke posko BKSDA dan dilarang keras memburu, melukai, apalagi membunuh satwa yang tengah terdesak tersebut.

    Namun, tidak semua satwa liar seberuntung orangutan yang mampu melarikan diri dari kepungan api. Hewan melata yang menghuni lapisan bawah tanah menjadi korban paling masif dari karhutla.

    Muriansyah mengungkapkan, timnya menemukan sedikitnya dua ekor ular mati terpanggang di kawasan Jalan Lingkar Selatan (Jalan Sheikh Jumadil Kubro), Mentawa Baru Ketapang. Kematian masif ular sebagai predator puncak dalam rantai makanan sawit dan holtikultura diproyeksikan akan memicu ledakan (outbreak) populasi hama tikus pengerat.

    “Ular bersarang di dalam tanah sehingga saat api membakar lahan gambut, mereka mati di dalam sarang. Ketika predatornya habis, populasi tikus akan melonjak tajam dan merusak tanaman pertanian serta perkebunan kelapa sawit milik warga,” jelasnya.

    Ancaman yang tak kalah mematikan justru menyasar mikro-organisme dan serangga penyerbuk (pollinators). Muriansyah memaparkan bahwa paparan paparan racun asap karhutla mampu memusnahkan populasi serangga pembawa serbuk sari.

    Berdasarkan riset sektor perkebunan, hilangnya serangga penyerbuk akibat karhutla dapat memangkas produksi buah kelapa sawit hingga 50 hingga 70 persen, serta melumpuhkan komoditas buah-buahan warga seperti nangka, buah naga, dan jambu kristal. Proses pemulihan ekosistem serangga ini bahkan membutuhkan waktu hingga dua tahun setelah api padam.

    Mengingat struktur tanah Kotim didominasi oleh kubah gambut dalam, BKSDA meminta warga menghentikan total praktik pembersihan lahan dengan cara membakar (zero burning), sekecil apa pun skalanya.

    “Jangan pernah menganggap membakar lahan sedikit itu aman. Selama masih ada asap di gambut, berarti api terus menjalar di bawah permukaan tanah dan siap memicu bencana besar,” tegas Muriansyah mengakhiri keterangannya.

    Kepungan asap, kematian ular pemangsa, dan hilangnya penyerbuk alami adalah bukti tak terbantahkan bahwa karhutla di Kotim telah memicu krisis ekologis multidimensi (ecological crisis). Kerugian karhutla tidak boleh lagi hanya dihitung dari berapa hektare lahan yang hangus, melainkan dari potensi kegagalan panen jangka panjang dan ancaman kepunahan satwa endemik.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan kebijakan lingkungan yang sangat tajam:

    1. Proteksi Koridor Satwa dan Bantuan Petani Terdampak: Dinas Pertanian Kotim bersama BKSDA Kalteng harus berkolaborasi membuat skema antisipasi serangan hama tikus secara hayati (biological control) pasca-karhutla. Petani yang tanamannya dirusak oleh satwa terdesak harus diberikan edukasi serta skema ganti rugi agar tidak timbul aksi pembantaian terhadap orangutan maupun beruang madu.
    2. Penegakan Hukum Tanpa Kompromi bagi Pembakar Gambut: Polres Kotim dan Satgas Gakkum Karhutla wajib menindak tegas pelaku pembakaran lahan tanpa memandang skala. Pembakaran sekecil apa pun di atas lahan gambut adalah tindakan kejahatan lingkungan yang merusak rantai kehidupan seluruh warga Kotawaringin Timur.

    Stop membakar gambut! Hentikan kehancuran rantai makanan dan lindungi satwa Kalimantan! Karhutla putus rantai ekosistem Kotim! Selamatkan orangutan dan antisipasi ledakan hama pertanian!. (***)

  • Hutan Terbakar, Orangutan Keluar Mencari Ruang Aman di Kebun Warga Sampit

    Hutan Terbakar, Orangutan Keluar Mencari Ruang Aman di Kebun Warga Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya memenuhi udara di sekitar Jalan Jenderal Sudirman Km 15, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah kawasan yang terbakar, seekor orangutan diduga meninggalkan habitatnya dan bergerak menuju kebun warga.

    Kemunculan satwa dilindungi itu menjadi gambaran lain dari dampak karhutla. Ketika habitatnya terganggu api dan asap, ruang aman bagi satwa semakin menyempit.

    Laporan mengenai keberadaan orangutan tersebut ditindaklanjuti BKSDA Resort Sampit dengan melakukan observasi pada Senin (10/8/2026), pukul 09.00 hingga 11.30 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, petugas bersama pelapor bernama Fahmi dan sejumlah warga menyisir kawasan yang menjadi lokasi kemunculan orangutan.

    Namun, satwa tersebut sudah tidak terlihat.

    Warga sebelumnya melaporkan ada satu individu orangutan berukuran besar yang masuk ke area kebun. Dari hasil penelusuran, petugas menemukan satu sarang orangutan kelas tiga.

    Bekas aktivitas satwa juga terlihat pada sejumlah tanaman. Pelepah kelapa sawit ditemukan dalam kondisi telah dimakan. Berdasarkan pengamatan terhadap bekas tersebut, aktivitas orangutan diperkirakan terjadi sekitar dua hingga empat minggu sebelumnya.

    Sedikitnya 15 batang anakan kelapa sawit milik warga dilaporkan mengalami kerusakan.

    Namun, bukan semua tanaman di sekitar lokasi menjadi sasaran. Tanaman cabai tidak ditemukan mengalami kerusakan. Sementara tanaman nanas yang berada dekat kawasan hutan justru ditemukan banyak yang rusak dan diduga dimakan orangutan.

    Bagi warga, kemunculan satwa ini mungkin terlihat sebagai gangguan terhadap tanaman. Tetapi dari sisi konservasi, situasinya menunjukkan persoalan yang lebih besar.

    Hutan yang terbakar membuat satwa kehilangan ruang.

    Muriansyah mengatakan, saat melakukan observasi, petugas melihat asap kebakaran di sejumlah titik di sekitar lokasi.

    Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa orangutan keluar dari habitatnya untuk menghindari kebakaran dan asap.

    “Di sekitar lokasi banyak terlihat asap kebakaran. Diduga kuat, orangutan masuk ke kebun warga untuk menghindari kebakaran dan asap,” kata Muriansyah.

    Orangutan bukan satu-satunya satwa yang terdampak. BKSDA sebelumnya juga menemukan pola serupa pada satwa liar lain yang bergerak menuju kebun dan ladang warga ketika terjadi karhutla.

    Persoalannya, ketika satwa masuk ke lahan pertanian, perjumpaan antara manusia dan satwa menjadi tidak terhindarkan. Tanaman warga berpotensi rusak, sementara satwa juga menghadapi risiko diusir, ditangkap, bahkan dilukai.

    Karena itu, BKSDA meminta warga tidak mengambil tindakan sendiri apabila orangutan kembali muncul.

    Muriansyah mengingatkan warga agar segera melaporkan keberadaan satwa kepada petugas dan tidak berusaha menangkap, melukai, maupun membunuhnya.

    Petugas juga telah memberikan pengarahan kepada Fahmi dan warga yang berada di sekitar lokasi agar segera melapor apabila orangutan kembali terlihat.

    Hingga observasi dilakukan, keberadaan orangutan tersebut belum diketahui. Petugas juga menggali informasi dari sejumlah peladang di sekitar lokasi, namun belum menemukan warga yang kembali melihat satwa itu.

    Akses menuju lokasi tergolong mudah. Kendaraan roda empat masih dapat mencapai kawasan kebun yang merupakan lahan semak belukar yang dibuka untuk pertanian. Di sekelilingnya, warga juga menanam sejumlah tanaman perkebunan, termasuk kelapa sawit.

    Kemunculan orangutan di tengah kawasan seperti ini menjadi peringatan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar.

    Ketika hutan kehilangan ruang aman, satwa akan mencari ruang lain. Dan ruang itu bisa saja berada di kebun warga. (***)

  • Desa Batuah Sumbang Hotspot Tertinggi di Kotim, Satgas Ingatkan Bedanya Titik Panas dan Api

    Desa Batuah Sumbang Hotspot Tertinggi di Kotim, Satgas Ingatkan Bedanya Titik Panas dan Api

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mencatatkan lonjakan konsentrasi titik panas (hotspot) tertinggi dalam pemantauan 24 jam terakhir. Pemutakhiran data BMKG pada Sabtu sore (8/8/2026) pukul 16.00 WIB merekam sebanyak 78 hotspot mengepung wilayah desa yang terletak di seberang Sungai Mentaya tersebut.

    Dari total 78 titik panas di Desa Batuah, rincian indikator satelit menunjukkan 73 titik berada pada tingkat kepercayaan (confidence level) menengah, 4 titik tingkat kepercayaan rendah, dan 1 titik tingkat kepercayaan tinggi.

    Meski angka indikator satelit di Desa Batuah melonjak signifikan, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim mengingatkan publik agar tidak serta-merta mengartikan angka hotspot sebagai jumlah pasti lokasi kebakaran aktif (fire spot). Data sensor termal satelit ditegaskan tetap membutuhkan verifikasi faktual (ground-check) langsung di lokasi.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, menjelaskan fenomena teknis di mana anomali suhu panas yang ditangkap oleh satelit memiliki berbagai kemungkinan kondisi nyata di lapangan.

    “Yang kawa dilihat di depan mata di Kota Besi itu yang pasti Soren, Camba dan kelurahannya. Memang ada hotspot, api jua ada. Ada yang jalur menuju Kandan sebelah kiri. Namun mun mengacu data keseluruhan, mana yang pasti ada titik apinya kada kawa dipastikan, karena alat kita untuk terbang mengecek itu kada ada ke seluruh 17 kecamatan,” terang Rihel, Sabtu (8/8/2026).

    Rihel memaparkan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu panas permukaan yang ditangkap sensor satelit BMKG maupun LAPAN. Ketika tim bergerak menuju lokasi koordinat, kondisi kebakaran bisa saja sudah berubah, padam ditangani, atau hanya tersisa kepulan asap tipis dari bara gambut bawah tanah.

    Selain itu, tingginya jumlah hotspot di satu area desa tidak selalu menggambarkan puluhan titik lokasi kebakaran yang berbeda atau terpisah.

    “Mun dalam satu wilayah desa banyak hotspot, itu dua kemungkinan. Satu memang tersebar di mana-mana, lokasi hotspot saling berjauhan. Kedua, bisa juga dalam satu hamparan lahan 5 sampai 10 hektare ditemukan hotspot sampai 20 titik karena suhu panasnya tertangkap beberapa sensor satelit sekaligus,” lanjutnya.

    Data akumulasi Satgas Karhutla Kotim mencatat total 206 hotspot tersebar di seluruh wilayah kabupaten. Kecamatan Seranau menjadi penyumbang tertinggi dengan 78 titik yang seluruhnya terkonsentrasi di Desa Batuah.

    Wilayah lain yang mencatatkan keberadaan hotspot antara lain Kecamatan Kota Besi (47 titik), Mentawa Baru Ketapang (20 titik), Baamang (19 titik), Cempaga Hulu (12 titik), Mentaya Hilir Utara (7 titik), Parenggean (6 titik), Tualan Hulu (5 titik), Cempaga (3 titik), serta Telawang (3 titik).

    Satgas Karhutla Kotim menekankan bahwa data hotspot berfungsi sebagai early warning system atau peta navigasi awal untuk mengarahkan pergerakan personel darat dan helikopter water bombing, bukan sebagai angka mutlak luas lahan yang terbakar.

    Pernyataan Satgas Karhutla Kotim mengenai perbedaan mendasar antara hotspot satelit dan titik api aktif adalah penjelasan edukatif yang penting agar masyarakat tidak terjebak kepanikan data. Kendati demikian, fakta bahwa petugas memiliki keterbatasan armada untuk memverifikasi 17 kecamatan menelanjangi celah evaluasi pada sistem mitigasi bencana daerah.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan teknologi pengawasan yang sangat tajam; Pengadaan Drone Pengintai Termal Jarak Jauh: Keterbatasan pemantauan darat di area rawan gambut seperti Desa Batuah (Seranau) dan Kota Besi harus diatasi Pemkab Kotim dengan memobilisasi armada long-range drone berkamera termal. Pengawasan udara nirawak jauh lebih cepat untuk real-time ground check ketimbang menerjunkan personel menembus rawa gambut terisolasi.

    Prioritas Water Bombing di Klaster Batuah: Pengerahan helikopter water bombing BNPB harus difokuskan mengguyur klaster 78 hotspot Batuah guna mencegah asap tebal menyeberangi Sungai Mentaya dan melumpuhkan alur pelayaran serta aktivitas penerbangan.

    Data satelit adalah alarm awal, verifikasi drone dan aksi cepat pemadaman darat adalah kunci penentu! 78 Hotspot kepung Desa Batuah! Tingkatkan teknologi pengawasan dan padamkan gambut Seranau! (***)

  • Gambut Masih Membara di Belasan Titik, Kabut Asap Sabtu Pagi Lumpuhkan Pandangan Sampit

    Gambut Masih Membara di Belasan Titik, Kabut Asap Sabtu Pagi Lumpuhkan Pandangan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menekan ruang hidup warga Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pada Sabtu pagi (8/8/2026), kabut asap tebal menyelimuti area perkotaan hingga memangkas jarak pandang horizontal secara drastis menjadi hanya sekitar 300 hingga 400 meter.

    Langit Kota Sampit tampak kelabu pekat sejak fajar. Paparan asap karhutla tidak hanya mengganggu penglihatan para pengguna jalan di jalur protokol, melainkan juga memicu penurunan kualitas udara pada level yang membahayakan kesehatan pernapasan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengonfirmasi bahwa penipisan jarak pandang pada Sabtu pagi merupakan dampak akumulasi dari letupan ratusan titik panas (hotspot) yang membakar lahan gambut di berbagai wilayah Kotim.

    “Hotspot pagi sempat menyentuh 223 titik, lalu pada sore hari berada di angka 108 titik. Pada Sabtu pukul 06.00 WIB, jarak pandang horizontal turun menjadi 300–400 meter akibat kabut asap. Konsentrasi polutan PM2.5 juga masuk dalam kategori tidak sehat,” ungkap Multazam dalam laporan resmi Posko Tanggap Darurat Karhutla Kotim, Sabtu (8/8/2026).

    Laporan tim gabungan merekam sedikitnya 15 lokasi karhutla aktif yang terus ditangani hingga Jumat malam (7/8/2026). Titik-titik api tersebut tersebar di kawasan strategis, antara lain Jalan Tjilik Riwut Km 7 (Kelurahan Baamang Hulu), Jalan Tidar Gang Kenari (Kelurahan Baamang Barat), Jalan Lembur Kuring (Desa Telaga Baru), Jalan Lingkar Utara Km 10, Desa Soren (Kecamatan Kota Besi), hingga Desa Batuah (Kecamatan Seranau).

    Di Desa Batuah, tim gabungan terpaksa mengandalkan pengerahan helikopter water bombing BNPB guna memadamkan titik api di area gambut dalam yang terisolasi dari akses darat. Sementara itu, titik api di Jalan Ir. H. Juanda Gang Resmi (sekitar SDN 3 Ketapang) dilaporkan telah berhasil dipadamkan total.

    Beratnya medan dan kepungan asap tebal memaksa petugas pemadam gabungan di lapangan mengambil opsi time-out atau penghentian sementara operasional pada Jumat malam pukul 22.45 WIB demi keselamatan nyawa personel.

    Mengingat konsentrasi partikel mikro PM2.5 telah menembus ambang batas tidak sehat, Pemkab Kotim mengimbau seluruh masyarakat khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, balita, lansia, dan penderita riwayat pernapasan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta wajib mengenakan masker standar medis/N95.

     

    Letupan 223 hotspot dalam sehari dan kemerosotan jarak pandang hingga 300 meter di Kota Sampit adalah bukti nyata bahwa ancaman Bencana Karhutla Kotim 2026 berada pada tingkat krisis tertinggi. Kepungan asap pekat di ring-1 perkotaan Baamang dan Ketapang membuktikan bahwa bara api pada lapisan gambut bawah tanah (subsurface fire) terus aktif memproduksi gas beracun.

    Pengerahan helikopter water bombing di Desa Batuah Seranau dan Kota Besi harus ditingkatkan frekuensi pemukulannya guna mengunci penyebaran api sebelum dorongan angin membawa asap masuk ke alur pelayaran Sungai Mentaya dan Bandara H. Asan Sampit. Di saat yang sama, keputusan time-out petugas pada pukul 22.45 WIB adalah langkah manusiawi yang patut didukung. BPBD dan Pemkab Kotim wajib menjamin ketersediaan suplai tabung oksigen portabel, asupan gizi, serta peralatan keselamatan (PPE) yang memadai bagi seluruh benteng terakhir pemadam darat di lapangan.

    Selain itu, dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan parameter PM2.5 yang telah berada di level Tidak Sehat, Dinas Kesehatan Kotim wajib segera mengoperasikan posko oksigen gratis di titik-titik publik serta membagikan masker N95 secara masif.

    Keselamatan paru-paru warga dan kebersihan udara Sampit tidak boleh dikorbankan oleh lambatnya penanganan bara gambut! Sampit dikepung asap jarak pandang 300 meter! Kerahkan water bombing dan lindungi petugas pemadam darat! (***)