Tag: Polres Kotim

  • Jebakan di Pasir Putih: Menggasak BTS Rp258 Juta, Barang Mahal Diobral Murah ke Penadah

    Jebakan di Pasir Putih: Menggasak BTS Rp258 Juta, Barang Mahal Diobral Murah ke Penadah

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pencurian perangkat di shelter tower Telkomsel Pasir Putih menorehkan kerugian sekitar Rp258 juta bagi perusahaan.

    Angka ini memotret anatomi gelap kejahatan infrastruktur telekomunikasi. Perangkat vital yang harganya selangit seketika anjlok menjadi barang murah begitu masuk ke pasar penadah.

    Rantai ekonomi kotor inilah yang ikut terhantam ketika aparat kepolisian menyergap kelompok terduga pelaku di Sampit.

    Penyergapan tersebut bermula ketika empat orang melangkah mendekati shelter tower Telkomsel SPT 017 di Jalan Jenderal Sudirman Km 7, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Mereka diduga hendak mengambil sisa perangkat di dalam bangunan yang sebelumnya pernah dibobol. Namun, kelompok ini tidak sadar telah berjalan masuk ke dalam jaring aparat.

    Personel Satreskrim Polres Kotawaringin Timur (Kotim) diam-diam sudah bersiaga mengawasi pergerakan mereka.

    Dua dari empat orang itu ditangkap pada Sabtu (24/10/2026). Dua lainnya berhasil melarikan diri dari kejaran.

    Untuk memetakan rantai pasar gelap dan mengukur seberapa parah kejatuhan harga perangkat BTS curian, Kanal Independen melacak sejumlah kasus serupa di sejumlah daerah. Penelusuran ini mengonfirmasi pola ekonomi kotor yang ekstrem.

    Dalam perkara pencurian modul di Jakarta pada 2024, pelaku mengaku menjual rata-rata lima modul seharga Rp5,9 juta kepada penadah.

    Padahal, dengan harga sekitar Rp90 juta per modul menurut polisi, lima modul itu bernilai sekitar Rp450 juta.

    Pola kejatuhan harga serupa menimpa perangkat baterai. Agustus 2026, Kapolres Malang AKBP Rulian Syauri mengungkap fakta bahwa baterai lithium tower senilai sekitar Rp16 juta per unit dijual komplotan pencuri di wilayahnya hanya Rp1 juta.

    Sindikat lain di Kalimantan Selatan, menurut pengakuan tersangkanya, bahkan melego baterai tower curian layaknya besi tua secara kiloan, Rp10.500 per kilogram.

    Kasus di Pasir Putih terungkap setelah pihak perusahaan mendapati pintu shelter terbuka dan sejumlah perangkat hilang.

    Temuan itu dilaporkan ke Polres Kotim. Aparat kepolisian lalu mengintai lokasi karena menduga kelompok pelaku akan kembali beraksi.

    ”Selanjutnya pada saat melakukan pengintaian terdapat empat orang yang dicurigai datang ke TKP dan dua dari empat orang yang diduga hendak mengambil perangkat tersebut dilakukan penangkapan, sementara dua lainnya berhasil melarikan diri,” kata Kasi Humas Polres Kotim Iptu Edi Walujo, Minggu (26/10/2026).

    Sejumlah barang bukti turut disita, meliputi perangkat modem, aki, panel surya, sepeda motor, serta peralatan yang diduga dipakai untuk melancarkan aksi. Dua terduga pelaku yang ditangkap beserta barang bukti kini berada di Polres Kotim untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

    Kartu Modem dan Incaran Lain di Shelter

    Rilis kepolisian tidak merinci daftar perangkat yang hilang dari shelter tersebut. Namun, foto barang bukti dari Polres Kotim memperlihatkan 13 kartu sirkuit (plug-in card) dengan konektor di bagian belakang, jenis yang biasa terpasang berjajar dalam rak perangkat.

    Lima di antaranya ramping, berpelindung logam, dan punya konektor kabel koaksial di panel depan.

    Ciri fisik ini serupa dengan kartu modem pada unit dalam ruangan (IDU) perangkat transmisi microwave, yaitu perangkat yang menyambungkan tower ke jaringan operator. Rilis polisi juga menyebut perangkat modem di antara barang bukti yang disita.

    Selain kartu sirkuit, baterai dan modul BTS tetap menjadi kelompok perangkat lain yang kerap menjadi incaran utama sindikat di shelter.

    Kelompok pertama adalah baterai atau aki yang memegang peran sebagai detak jantung cadangan bagi pemancar sinyal ketika pasokan listrik PLN terputus.

    Harga baterai generasi baru tergolong tinggi. Pertengahan Oktober 2026, dua unit baterai lithium Huawei ESM-Li 48 yang dicuri dari tower Telkomsel di Cilongok, Banyumas, dinilai Rp20 juta.

    Perkara serupa di Lamandau pada Januari 2026, mencatatkan kerugian Rp124.464.000 atas hilangnya 24 unit baterai dari satu tower, atau sekitar Rp5,2 juta per baterai.

    Kelompok kedua adalah modul BTS, yakni unit pemroses sinyal yang beroperasi sebagai otak utama pemancar.

    Harganya menjulang jauh melampaui rentang harga baterai. Saat membongkar komplotan pencuri modul pada Oktober 2024, Kapolres Metro Jakarta Pusat saat itu, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, menyebut satu modul bisa bernilai sekitar Rp90 juta.

    Dari Jutaan Jadi Ratusan Ribu

    Harga perangkat vital ini runtuh seketika begitu berpindah tangan di pasar gelap. Pada Desember 2025, Ditreskrimum Polda Kalimantan Selatan membongkar sindikat pencuri baterai tower Telkomsel di Tanah Bumbu dan Kotabaru.

    Seorang tersangka mengaku baterai curian dijual Rp10.500 per kilogram, dengan berat per unit berkisar 60 hingga 75 kilogram.

    Artinya, satu baterai hanya dihargai sekitar Rp630 ribu sampai Rp790 ribu oleh penadah.

    Hitungan matematika yang nyaris sama muncul dalam perkara Lamandau. Dakwaan jaksa di Pengadilan Negeri Nanga Bulik menyebut 24 baterai curian dibawa ke Kotawaringin Barat lalu dijual kepada penadah berinisial J seharga Rp19 juta.

    Hitungannya sekitar Rp790 ribu per baterai, atau nilainya merosot tajam hingga tinggal sekitar 15 persen dari nilai kerugian yang dicatat pihak perusahaan.

    Uang tersebut lalu dibagi tiga. Masing-masing terdakwa mengantongi Rp5,8 juta, sisanya menguap untuk membayar ongkos sewa mobil dan bensin.

    Pola selisih harga ekstrem juga terlihat gamblang pada komplotan Malang tadi. Polisi menduga komplotan ini membobol sedikitnya 17 lokasi.

    Menurut polisi, mereka memaketkan dan menjual baterai lithium ke pembeli di luar daerah melalui jasa ekspedisi. Dari harga normal sekitar Rp16 juta per unit, barang itu dilepas hanya Rp1 juta per unit. Nilainya menyusut drastis, tinggal sekitar enam persen.

    Penyusutan nilai paling brutal menimpa perangkat modul. Pada perkara Jakarta tadi, nilainya tinggal sekitar 1,3 persen dari harga aslinya.

    Dari Pengepul Desa hingga Luar Negeri

    Jejak pergerakan barang curian semacam ini pernah terekam di Kotawaringin Timur. September 2018, Polres Seruyan membekuk lima anggota komplotan pencuri aki tower antarkabupaten.

    Kepada polisi, para pelaku mengaku menjual hasil curian ke pengepul rongsokan di sebuah desa di Kecamatan Telawang, Kotim.

    Menurut pengakuan itu, rongsokan yang ditampung pengepul tersebut selalu dikirim melintasi laut ke Pulau Jawa.

    Perangkat modul BTS menempuh jalur pengiriman yang jauh melampaui batas negara. Pada 2024, polisi di Jakarta menyita 227 modul curian yang rencananya dikirim ke China.

    Hampir dua tahun kemudian, Juli 2026, Bareskrim Polri membongkar jaringan pencuri modul BTS milik XLSmart.

    Modul hasil curian dijual murah ke penadah, lalu dikirim ke luar negeri lewat jasa ekspedisi atas arahan warga negara asing berinisial JZ yang berada di Bangkok, Thailand.

    Sejumlah perkara juga melibatkan mereka yang paham seluk-beluk tower. Polda Kalimantan Selatan menyebut pelaku sindikat di Tanah Bumbu dan Kotabaru adalah mantan karyawan Telkomsel.

    Dalam perkara Lamandau, salah satu terdakwa merupakan karyawan kontrak perusahaan terkait. Sebaliknya, komplotan di Malang berlatar pekerja serabutan dan kuli bangunan.

    Polres Kotim belum menyampaikan latar belakang profesi dua terduga pelaku yang ditangkap di Pasir Putih.

    Sinyal Terganggu dan Jerat Pidana

    Pencurian di Pasir Putih langsung memukul kualitas jaringan setempat. Menurut keterangan Polres Kotim, kejadian itu mengganggu pelayanan terhadap pelanggan.

    Selain melapor ke polisi, pihak perusahaan melakukan penanganan teknis terhadap layanan agar tidak terus merugikan konsumen.

    Besar kecilnya gangguan layanan selalu bergantung pada jenis perangkat yang hilang. Kehilangan baterai berpotensi mengganggu layanan ketika aliran listrik utama terputus.

    Fakta teknis ini pernah dijelaskan Kasat Reskrim Polres Way Kanan, Lampung, Iptu Riswanto, dalam perkara pencurian baterai tower Indosat di wilayahnya.

    Kehilangan perangkat modul membawa dampak pemutusan sinyal yang lebih mendadak.

    Saat membongkar jaringan pencuri modul XLSmart, Kepala Satuan Reserse Mobile Bareskrim Polri Kombes Pol Teuku Arsya Khadafi menyebut ribuan pelanggan tidak bisa memakai layanan seluler dan internet akibat perangkat yang raib dicuri.

    Bila kartu dari shelter Pasir Putih memang kartu transmisi, tower kehilangan sambungan ke jaringan operator, terlepas dari ada atau tidaknya pasokan listrik PLN.

    Kini, kedua terduga pelaku di Sampit bersiap menghadapi hukum.

    ”Keduanya disangkakan melanggar Pasal 477 ayat (1) huruf f dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP (KUHP Baru),” kata Edi.

    Huruf f mengatur pencurian dengan cara merusak, membongkar, memotong, memecah, memanjat, memakai anak kunci palsu, menggunakan perintah palsu, atau memakai pakaian jabatan palsu. Huruf g menjerat pencurian yang dilakukan secara bersama-sama dan bersekutu. Ancamannya pidana penjara paling lama tujuh tahun atau denda maksimal Rp500 juta.

    Dua orang lainnya yang lolos dari sergapan di Pasir Putih belum tertangkap hingga rilis Polres Kotim diterbitkan. (ign)

  • Geledah Pria Ber-Ninja di Depan Kos Dewi Sartika: Satresnarkoba Polres Kotim Temukan 10,18 Gram Sabu Dibalut Tisu!  

    Geledah Pria Ber-Ninja di Depan Kos Dewi Sartika: Satresnarkoba Polres Kotim Temukan 10,18 Gram Sabu Dibalut Tisu!  

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Tim Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menggagalkan peredaran gelap narkotika di wilayah hukum Kota Sampit. Pria berinisial RW (45) tak berkutik saat digerebek petugas di depan sebuah rumah kos di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Rabu (21/10/2026) siang sekitar pukul 14.00 WIB.

    Dari hasil penggeledahan badan, petugas menemukan dua kantong plastik klip berisi kristal bening diduga sabu dengan berat kotor 10,18 gram yang disembunyikan secara rapi dalam saku celana.

    Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo, mewakili Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, mengonfirmasi bahwa penangkapan berawal dari laporan warga yang curiga terhadap aktivitas transaksi narkotika di sekitar kawasan kos Dewi Sartika.

    “Dari hasil penggeledahan badan yang disaksikan ketua RT dan warga setempat, petugas menemukan dua bungkus plastik klip diduga sabu dengan berat kotor 10,18 gram. Barang haram tersebut dibalut selembar tisu dan disimpan di kantong celana bagian belakang sebelah kiri tersangka,” ungkap IPTU Edi Walujo, Sabtu (24/10/2026).

    Sabu Kantong Celana Dibalut Tisu, Motor Ninja dan Ponsel Diamankan

    Prosedur penggeledahan berlangsung transparan dengan penunjukan surat perintah tugas di hadapan pengurus RT setempat. Selain barang bukti sabu seberat 10,18 gram, Satresnarkoba Polres Kotim turut menyita sejumlah barang bukti operasional milik tersangka RW: Satu unit telepon genggam merk Tecno Pova 7 Ultra yang diduga kuat berisi rekam jejak jalur komunikasi transaksi. Satu unit sepeda motor sport Kawasaki Ninja yang digunakan tersangka saat menanti pembeli di depan kos-kosan.

    Tersangka RW secara kooperatif mengakui kepemilikan seluruh barang bukti tersebut di lokasi kejadian. Pria paruh baya ini langsung digelandang ke Mapolres Kotim untuk menjalani pemeriksaan mendalam, yang belakangan menjadi pintu masuk pengungkapan jaringan sabu jaringan 306 gram di Jalan Moh. Hatta.

     

    Penangkapan RW di depan kos Dewi Sartika mempertegas bahwa kawasan kos-kosan dan kontrakan padat di Ketapang rawan dijadikan tempat transit atau pangkalan transaksi narkoba. Pengedar kerap memanfaatkan mobilitas penghuni kos yang tinggi sebagai kamuflase aksi kejahatannya.

    Satpol PP Kotim, Bhabinkamtibmas, dan pengurus RT/RW di kawasan Telaga Baru dan Mentawa Baru Ketapang dituntut memperketat pengawasan serta mewajibkan pemilik kos melapor identitas penghuni secara berkala guna memutus rantai persebaran barang haram.

    Penyidik Polres Kotim telah menjerat RW dengan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo KUHP jo UU No. 1 Tahun 2026. Penegakan hukum dengan ancaman hukuman berat wajib dikawal hingga persidangan untuk memberikan efek jera yang nyata. (***)

  • Jaringan Sabu Kemasan Teh Cina Diberondong Polisi: Dari Dewi Sartika Hingga Moh. Hatta, Satresnarkoba Polres Kotim Sita 306,7 Gram Sabu

    Jaringan Sabu Kemasan Teh Cina Diberondong Polisi: Dari Dewi Sartika Hingga Moh. Hatta, Satresnarkoba Polres Kotim Sita 306,7 Gram Sabu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Operasi terukur jajaran Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) berhasil membongkar mata rantai peredaran narkotika jaringan besar di Kota Sampit. Pengembangan kasus dari kawasan Jalan Dewi Sartika berujung pada penggerebekan rumah di Jalan Moh. Hatta, Kelurahan Ketapang, dengan total barang bukti sitaan mencapai 306,7 gram sabu, Rabu (21/10/2026) sore.

    Dalam pengungkapan bernilai ratusan juta rupiah tersebut, petugas berhasil membekuk seorang pria berinisial SMF yang disinyalir bertindak sebagai gudang/penyimpan barang haram tersebut.

    Kasi Humas Polres Kotim, AKP Edi Walujo, membeberkan bahwa terbongkarnya markas SMF berawal dari penangkapan tersangka pertama berinisial RW di Jalan Dewi Sartika sekitar pukul 14.00 WIB.

     “Setelah mengamankan pelaku R W di Jalan Dewi Sartika, anggota Satresnarkoba langsung melakukan pengembangan untuk mengetahui asal sabu tersebut. Hasilnya, petugas bergerak ke Jalan Moh. Hatta dan mengamankan seorang pria berinisial S M F,” kata Edi, Jumat (23/10/2026).

    Sabu Kemasan Chinese Tea Tersembunyi di Bawah Kasur Kamar

    Proses penggeledahan di kediaman SMF di Jalan Moh. Hatta berlangsung ketat dengan disaksikan langsung oleh perangkat kelurahan dan ketua RT setempat.

    Saat menyisir area kamar tidur, petugas mendapati sebuah tas putih yang disembunyikan secara rapat di bawah kasur. Di dalam tas tersebut, polisi menemukan tujuh paket besar sabu berkemas bungkus Chinese Tea (Teh Cina) modus klasik jaringan internasional untuk mengelabui aparat dengan berat kotor keseluruhan 306,7 gram.

    Selain sabu, petugas mengamankan uang tunai Rp3,6 juta, satu bungkus plastik klip kecil, dan telepon genggam Oppo A5 Pro yang ditemukan di lantai kamar. Seluruh barang bukti kemudian dibawa ke Mapolres Kotim untuk kepentingan penyidikan.

    Edi menyebutkan, berdasarkan keterangan kepolisian, S M F mengakui barang bukti yang ditemukan merupakan miliknya.

    “Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan tujuh bungkus sabu dengan berat kotor 306,7 gram yang disimpan dalam tas putih di bawah kasur. Selain itu, turut diamankan uang tunai Rp3,6 juta, telepon genggam, dan sejumlah barang lain yang berkaitan dengan perkara tersebut,” ujarnya.

    Hubungan kedua terlapor masih perlu ditelusuri

    Pengungkapan di Jalan Moh. Hatta berlangsung sekitar dua jam setelah penangkapan R W di Jalan Dewi Sartika. Namun, hubungan antara kedua pria tersebut, asal-usul sabu, dan dugaan peran masing-masing dalam perkara ini masih perlu dijelaskan lebih lanjut melalui proses penyidikan.

    Polisi menyangkakan S M F dengan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

    Sangkaan tersebut merupakan bagian dari proses hukum dan bukan penetapan bahwa terlapor telah terbukti bersalah. Pembuktian atas dugaan tindak pidana serta peran setiap pihak tetap harus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. (***)

  • Puing Raksasa Kembali Ditemukan di Agro Bukit Kotim: Objek Berukuran Besar di Blok H-27 Perluas Zona Sebaran Roket China Zhuque 2E

    Puing Raksasa Kembali Ditemukan di Agro Bukit Kotim: Objek Berukuran Besar di Blok H-27 Perluas Zona Sebaran Roket China Zhuque 2E

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Teka-teki dan kepanikan akibat jatuhnya sampah antariksa (space debris) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali berlanjut. Hanya berselang sehari setelah ditemukannya serpihan roket di Blok G.37/38, warga dan pekerja perkebunan sawit PT Agro Bukit, Kilometer 26 Jalan Sampit–Pangkalan Bun, kembali mendapati benda misterius berukuran besar terserak di Blok H-27, Selasa (20/10/2026).

    Penemuan puing raksasa terbaru ini memperluas radius persebaran komponen material luar angkasa yang jatuh menembus atmosfer Kotim usai memicu dentuman dahsyat pada Minggu (18/10/2026) petang.

    Warga setempat, Ismail, mengonfirmasi bahwa lokasi ditemukannya puing kedua tersebut masih berada di dalam lanskap area konsesi perkebunan PT Agro Bukit.

    “Ya, dapat lagi serpihannya di Agro Bukit, Blok H-27, Km 26 Sampit–Pangkalan Bun. Ukurannya besar,” ungkap Ismail mengonfirmasi temuan tersebut, Selasa (20/10/2026).

    Perluas Zona Dampak Jatuhnya Roket Zhuque 2E, Dievakuasi Bersama TNI–Polri

    Sebelumnya, otoritas Bandara H. Asan Sampit bersama BRIN dan KNKT telah memverifikasi bahwa puing pertama di Blok G.37/38 merupakan bagian dari roket pembawa satelit milik China, Zhuque 2E, berdasarkan stampel kode manufaktur 2ZQE31-20-15.

    Temuan benda berukuran besar di Blok H-27 diduga kuat merupakan bagian utama (main stage) atau tangki pendorong tambahan (booster) dari roket Zhuque 2E yang pecah berhamburan saat mengalami gesekan ekstrem (re-entry) di atmosfer bumi.

    Meskipun BRIN menyatakan bahwa analisis serpihan pertama bebas dari paparan racun radiatif, penemuan puing berukuran besar di Blok H-27 menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Otoritas TNI, Polri, dan BPBD Kotim telah bergerak melokalisasi area guna melakukan sterilisasi serta evakuasi susulan menuju Lanud Iskandar Pangkalan Bun.

    Bertambahnya temuan objek raksasa di Blok H-27 mempertegas fakta bahwa area perkebunan PT Agro Bukit Km 26 merupakan zona hantaman utama (impact zone) guguran roket China Zhuque 2E. Membiarkan pekerja kebun beraktivitas tanpa penyisiran menyeluruh adalah tindakan berbahaya yang mempertaruhkan keselamatan jiwa.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Gelar Penyisiran Udara dan Darat Gabungan (Sweeping Zone): Polres Kotim, Kodim 1015/Sampit, dan manajemen PT Agro Bukit didesak menerjunkan tim gabungan atau drone pemantau untuk menyisir seluruh blok perkebunan di Km 26. Langkah ini krusial guna memastikan tidak ada puing tajam atau komponen berbahaya lain yang tersembunyi di rimbunnya kelapa sawit.

    2. Edukasi Keras Larangan Memindahkan Puing: Pemkab Kotim dan Kepolisian dituntut mengeluarkan maklumat resmi agar warga serta buruh sawit tidak mendekat, membongkar, atau mengambil komponen kabel/logam dari puing roket sebagai cenderamata sebelum diverifikasi penuh oleh tim ahli BRIN dan KNKT. (***)

  • Jelaga di Lahan Berplang Perumahan, Praktisi Hukum: Jangan Biarkan Warga Terus Menanggung Dampaknya

    Jelaga di Lahan Berplang Perumahan, Praktisi Hukum: Jangan Biarkan Warga Terus Menanggung Dampaknya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Hamparan gambut seluas sekitar satu hektare di Jalan Bumi Raya, Kecamatan Baamang, menyisakan jejak hangus, Jumat, 26 Juni 2026.

    Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim) mendapati sebuah pemandangan ganjil di tengah jelaga sisa pembakaran itu. Papan nama perumahan berdiri tegak menancap di atas lahan.

    Titik panas di lokasi itu sebenarnya sudah memancar sejak malam sebelumnya. Tim BPBD langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan dari Polsek Baamang, sebagaimana diberitakan detikKalimantan.

    Melihat pola presisi api yang melahap lahan, Kepala Pelaksana BPBD Kotim saat itu, Multazam, melontarkan kecurigaannya.

    ”Lahan yang terbakar ini kalau kita lihat lokasinya berbentuk segi empat, kemudian di atasnya ada tulisan nama perumahan,” katanya. Dari temuan visual tersebut, BPBD menduga api sengaja disulut demi kepentingan komersial.

    Tiga bulan berlalu, kecurigaan itu belum terjawab. Polres Kotim memang memaparkan hasil pengusutan karhutla, tetapi dari 11 tersangka yang ditetapkan hingga 1 Oktober 2026, seluruhnya adalah perorangan.

    Sepuluh orang mengaku membakar lahan milik sendiri, sedangkan satu orang lainnya membakar lahan orang lain setelah menerima bayaran Rp500 ribu.

    Pembaruan data kepolisian itu tidak merinci nasib perkara di lahan berplang perumahan. Dua pekan sebelumnya, dalam rilis 17 September 2026, Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra menyebut dugaan karhutla di kawasan Baamang tersebut masih berkutat pada tahap pengumpulan bahan dan keterangan.

    Polisi tidak menyebut lokasi persis lahan yang diselidiki. Saat ditanya apakah ada pengembang perumahan yang ikut diperiksa, ia menjawab hingga saat itu belum ada.

    Praktisi hukum di Sampit, Bambang Nugroho, mengingatkan bahwa kepemilikan atas sebidang tanah terikat erat dengan tanggung jawab.

    ”Pemilik lahan jangan hanya merasa memiliki hak atas tanah, tetapi juga harus memperhatikan kewajiban dan dampak dari pengelolaannya. Kalau lahannya berulang kali terbakar, harus ditelusuri penyebabnya dan siapa yang bertanggung jawab,” kata Bambang.

    Menurut dia, bila kebakaran terbukti dilakukan atas perintah pemilik lahan, sang empunya tanah juga dapat diproses hukum sesuai perannya dan bukti yang ditemukan.

    Koridor Api Bumi Raya

    Lahan yang menghitam pada Juni itu bukan satu-satunya titik api di sepanjang koridor Jalan Bumi Raya. Pada 17 Agustus 2026, rambatan kobaran di Jalan Bumi Raya 1, Kelurahan Baamang Barat, menelan sebuah pondok di lahan warga.

    Sejumlah lokasi karhutla di kawasan ini sempat dipasangi garis polisi, sebelum akhirnya dilepas kembali.

    Kapolres Kotim saat itu, AKBP Resky Maulana Zulkarnain, menegaskan penyelidikan tetap berjalan meski garis polisi telah dilepas.

    Pada 15 September, anggota Satgas Aman Nusa II yang sedang berpatroli memergoki seorang pria menyulut api di lahan Jalan Bumi Raya 1.

    Kepada polisi, pria itu menyebut lahan tersebut miliknya. Ia mengaku membakar untuk membersihkan bekas kebakaran sebelumnya, dan lahan itu rencananya ditanami nanas.

    Dua hari kemudian, rilis Polres Kotim memaparkan dua tersangka di Kelurahan Baamang Barat. Satu perkara menjerat tersangka M dengan luas kebakaran sekitar 0,1 hektare di Jalan Bumi Raya 1.

    Satu lagi menjerat WN di Jalan Wengga Agung Raya 2, yang diduga membakar tumpukan ranting.

    Melacak sosok di balik hamparan tanah terbakar ini tak ubahnya mencari jejak bayangan. Pada Februari 2023, Kepala BPBD Kotim saat itu, Rihel, mengaku kesulitan saat lahan di Jalan Bukit Raya, Kelurahan Baamang Barat, diamuk api.

    ”Kami masih belum mengetahui dengan jelas siapa pemilik lahan tersebut, sehingga menyulitkan kami untuk memberikan teguran maupun peringatan kepada pemiliknya,” katanya.

    Juli 2025, saat lahan di Jalan Karya Bersama, Kelurahan Baamang Hulu terbakar, BPBD juga menyatakan identitas pemilik lahannya masih dalam proses penyelidikan.

    Situasi berulang seperti inilah yang ditentang Bambang. ”Jangan sampai masyarakat terus menanggung dampaknya, sementara persoalan di lahannya tidak pernah diselesaikan,” ujarnya.

    Lebih jauh Bambang menekankan, pemilik lahan tidak otomatis berkalung jerat pidana hanya karena jilatan api melahap tanahnya. Penyebab kebakaran, peranan pihak tertentu, hingga unsur pelanggaran hukum harus ditelusuri dan dibuktikan.

    Untuk pembukaan lahan dengan cara membakar, Pasal 69 ayat (1) huruf h UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memancangkan larangan tegas. Setelah penyesuaian lewat UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, pelanggarnya diintai ancaman penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda maksimal Rp2 miliar.

    Undang-undang yang sama juga sanggup menjangkau entitas badan usaha. Pasal 116 memungkinkan tuntutan dan sanksi pidana ditimpakan kepada badan usaha dan/atau orang yang memberi perintah atau memimpin kegiatan, bila tindak pidana lingkungan itu dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha.

    Sertifikat Tak Otomatis Hilang

    Bambang juga menyinggung nasib hamparan tanah yang dibiarkan bertahun-tahun. ”Tanah yang dibiarkan puluhan tahun bukan berarti otomatis kehilangan sertifikat. Namun, jika kondisi dan bukti di lapangan memenuhi kriteria dalam peraturan, penertiban dapat diproses pemerintah melalui mekanisme pertanahan,” ujarnya.

    Menurut Bambang, pedang penertiban tidak bisa diayunkan sepihak hanya dengan alasan lahan terbakar. Pemerintah wajib meniti setiap tahapan, termasuk melayangkan peringatan resmi kepada sang pemegang hak.

    Jalan panjang tahapan itu kini diatur lewat Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan dan Tanah Telantar. Prosesnya merangkak dari inventarisasi tanah terindikasi telantar yang dilaksanakan Menteri ATR/BPN, beralih ke evaluasi, peringatan, hingga akhirnya bermuara pada penetapan.

    Khusus untuk tanah hak milik, pintunya teramat sempit. PP tersebut membentengi tanah hak milik agar tidak menjadi objek penertiban, kecuali secara sengaja dibiarkan sehingga dikuasai masyarakat menjadi perkampungan, dikuasai pihak lain terus-menerus selama 20 tahun tanpa hubungan hukum dengan pemegang hak, atau fungsi sosial hak atas tanahnya tidak terpenuhi.

    Bila ujungnya ditetapkan sebagai tanah telantar, pertalian hukum sang pemegang hak dengan tanahnya terputus dan lahan itu dikuasai negara. Aset tersebut kemudian bergeser menjadi milik Bank Tanah dan/atau berstatus Tanah Cadangan Umum Negara.

    Jalur pertanahan berliku inilah yang disentuh Bupati Kotim Halikinnor saat Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau karhutla di Sampit, Sabtu malam, 17 Oktober 2026.

    ”Saya juga mohon dengan Pak Menhut, lahan-lahan yang terlantar, mungkin koordinasi dengan ATR/BPN, bagaimana lahan-lahan yang notabene orangnya ada di luar negeri, ada yang di Jakarta, ada yang di Surabaya. Ini kalau tidak terkelola dengan baik, bagaimana penanganannya,” ujar Halikinnor.

    Raja Juli menyatakan akan memperkuat koordinasi dengan ATR/BPN. Jika lahan tersebut memenuhi ketentuan tanah telantar, kata dia, penanganannya dapat dikoordinasikan lebih lanjut.

    Sejak akhir September, Pemkab Kotim juga meminta camat dan lurah menginventarisasi lahan kosong yang belum dimanfaatkan.

    Keberadaan papan nama perumahan di tengah jelaga Bumi Raya bagi BPBD merupakan petunjuk kuat yang mempertebal dugaan bahwa api sengaja dipantik untuk kepentingan komersial. Akan tetapi, dalam rilis aparat, belum satu pun pengembang perumahan yang diperiksa polisi dalam perkara karhutla. (ign)

  • 19 Tahun Menagih Penyelesaian Lahan, Warga Sebabi Justru Dilaporkan PT BSK ke Polisi

    19 Tahun Menagih Penyelesaian Lahan, Warga Sebabi Justru Dilaporkan PT BSK ke Polisi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ebok mengaku sudah sembilan belas tahun menagih penyelesaian lahan peninggalan ayahnya. Upaya itu justru berujung pada masuknya nama warga Desa Sebabi ini ke dalam surat resmi PT Bumi Sawit Kencana (BSK).

    Anak usaha Wilmar International itu mencantumkan namanya sebagai pihak yang dilaporkan ke Polres Kotawaringin Timur (Kotim) atas pendudukan lahan.

    Surat bertanggal 27 Juli 2026 itu dikirimkan PT BSK kepada Damang Kepala Adat Kecamatan Telawang. Hari itu juga, Damang membalas.

    Ia menegaskan Ebok sudah resmi melapor ke Kedamangan sejak Desember 2025. Mengacu aturan Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah, ia menyatakan perkara yang sudah bergulir di satu peradilan tidak bisa diproses di peradilan lain.

    Dua bulan lebih sesudahnya, menurut Ebok, terjadi pembongkaran di objek yang tengah berproses adat itu pada malam 2 Oktober 2026, saat keluarganya tidak berada di lokasi.

    Jejak Turun-Temurun di Sungai Berambas

    Lahan tersebut berada di kawasan Sungai Berambas, Desa Sebabi, Kecamatan Telawang, Kotim.

    Menurut Ebok yang didampingi sang ibu, keluarganya menempati kawasan itu secara turun-temurun sejak 1960. Jejak historis ini bersandar pada cerita orang tuanya.

    ”Awalnya, tanah ini memang tempat kedudukan serta tempat tinggal kami secara turun-temurun,” kata Ebok.

    Kawasan itu juga menjadi tempat keluarganya bercocok tanam. “Aktivitas kami di sini dari dulu tidak lepas dari menanam, seperti sayuran, singkong, pisang, terong asam, dan sebagainya,” ujarnya. Nanas, pisang, dan karet, menurut Ebok, masih tumbuh di lokasi dan bisa ia tunjukkan.

    PT BSK, kata Ebok, datang sekitar 2004 hingga 2005 dan mulai beraktivitas di atas objek tersebut. Dalam surat permohonannya kepada Camat Telawang, ia menulis tanah garapan almarhum ayahnya telah ditanami perusahaan sejak 2007. Areal itu kini masuk Blok 091, yang sebelumnya bernomor Blok 291.

    Tahun itu pula tuntutan dimulai. Bersama sang ayah, Ebok mengaku berkali-kali mendatangi kantor perusahaan, tetapi belum mendapat tanggapan serius. Ayahnya, Uis bin Jahu, meninggal pada 2019. Ebok lalu meneruskan perjuangan itu bersama keluarganya.

    “Tanah ini adalah bekas jerih payah orang tua kami sendiri. Sampai sekarang belum pernah dilakukan GRTT,” ujarnya, merujuk ganti rugi tanam tumbuh.

    Menurut Ebok, pihak perusahaan selama ini menyatakan lahan itu sudah di-GRTT. Keluarganya lalu meminta bukti.

    ”Kami meminta mereka membuktikan GRTT terkait kepemilikan objek ini. Namun, sampai sekarang mereka belum pernah menunjukkan kepada kami,” katanya.

    Ebok menepis anggapan bahwa klaimnya baru muncul belakangan. “Untuk objek ini, bukan baru sekarang,” ujarnya.

    Catatan Kedamangan Telawang sejalan dengan penuturannya. Damang menulis Ebok telah mengklaim lahan tersebut sejak 2007, sebagaimana disampaikan Ebok saat melapor secara lisan pada 2022.

    Jalur Mediasi dan Surat-menyurat

    Ebok mengaku sejak awal memilih jalan baik-baik. “Harapan kami dari dulu, kehadiran perusahaan itu agar bertetangga dengan baik serta berkeadilan,” katanya. Permohonan lisan hingga tertulis, menurut dia, belum ditanggapi perusahaan.

    Pada 10 Desember 2025, Ebok menyurati Camat Telawang. Ia memohon camat memfasilitasi mediasi keluarganya dengan PT BSK 1, sekaligus meminta pertemuan di Kantor Camat Telawang bersama pimpinan perusahaan yang dapat mengambil keputusan.

    Tujuannya, tertulis dalam surat itu, agar persoalan terselesaikan dengan baik dan tidak ada pihak yang saling dirugikan.

    Surat itu ditembuskan antara lain kepada Kapolsek Telawang, Danramil Telawang, Kepala Desa Sebabi, Damang Kecamatan Telawang, Mantir Adat Simpang Sebabi, dan PT BSK 1.

    Salinan yang diperoleh Kanal Independen memuat stempel Kecamatan Telawang dengan tanda tangan atas nama camat, paraf penerima di samping tembusan untuk Kapolsek dan Danramil Telawang, serta stempel bagian keamanan PT BSK Estate 1.

    Delapan hari kemudian, 18 Desember 2025, Ebok resmi melapor secara tertulis kepada Damang Kecamatan Telawang. “Sekarang lahan ini sedang berproses secara adat di Kecamatan Telawang,” kata Ebok.

    Memasuki Juli 2026, Ebok kembali bersurat mengenai rencana pemasangan batas tanah almarhum Uis bin Jahu.

    Lembar tanda terimanya mencatat sepuluh penerima. Mereka berasal dari Kedamangan Telawang, pemerintah desa, Setda, DAD Kotim, SPKT Polres Kotim, piket Posramil dan Polsek Telawang, Kecamatan Telawang, DAD kecamatan, hingga pihak keamanan PT BSK Estate 1.

    SPKT Polres Kotim menerima dokumen itu pada 21 Juli 2026, tepat enam hari sebelum PT BSK menyurati Damang.

    Dua Surat di Hari yang Sama

    PT BSK menanggapi surat itu lewat dokumen tertanggal 27 Juli 2026, perihal pemberitahuan klaim lahan oleh Ebok dan Dewi Uwis. Surat ini ditandatangani Koordinator SSL atas nama PT Bumi Sawit Kencana.

    Perusahaan merujuk surat Ebok yang ditembuskan kepadanya. Menurut uraian PT BSK, surat Ebok berisi rencana anak-anak almarhum Uis bin Jahu memasang pagar pembatas antara lahan almarhum yang sudah diganti rugi dan yang belum.

    Artinya, berdasarkan uraian tersebut, keluarga hendak memisahkan sendiri bagian lahan yang sudah diganti rugi dari bagian yang belum.

    Melalui surat yang sama, PT BSK menyampaikan tiga hal. Pertama, lahan di Blok 091, 057, dan 058 PT BSK 1 yang diklaim Ebok dan Dewi Uwis disebut sebagai lahan perusahaan yang telah diganti rugi kepada warga Sebabi. Surat itu tidak mencantumkan nama penerima maupun waktu pembayaran ganti rugi.

    Kedua, pendudukan lahan oleh Ebok dan Dewi Uwis telah dilaporkan ke Polres Kotim dan masih dalam proses. Ketiga, rencana pemasangan pagar pembatas di dalam areal PT BSK 1 dinilai tidak memiliki dasar legalitas yang sah terkait kepemilikan lahan.

    Hari itu juga, Damang Kepala Adat Kecamatan Telawang Yustinus Saling Kupang membalas melalui surat Nomor 39/DKA/TLWG/VII/2026. Ia mencatat Ebok resmi melapor secara tertulis kepada Kedamangan pada 18 Desember 2025.

    Damang lalu merujuk Peraturan DAD Kalimantan Tengah Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Peradilan Adat Dayak. “Suatu perkara yang sudah bergulir di salah satu peradilan maka tidak bisa diproses di peradilan lain,” tulisnya, seraya meminta surat itu diperhatikan PT BSK.

    Balasan tersebut ditembuskan antara lain kepada Camat Telawang dan Kapolsek Telawang. Salinannya memuat stempel bagian keamanan PT BSK, Polsek Telawang, Kepala Desa Sebabi, dan Kecamatan Telawang. Bukti stempel ini menandakan bahwa institusi-institusi tersebut telah menerima pemberitahuan mengenai proses adat yang sedang berjalan.

    Dibongkar Saat Tak Ada Orang

    Menurut Ebok, respons perusahaan terhadap proses adat itu justru berupa pembongkaran. Ia menyebut pembongkaran di objek yang tengah berproses adat tersebut terjadi pada 2 Oktober 2026, ketika keluarganya tidak berada di lokasi.

    Berdasarkan informasi yang ia terima, pembongkaran dilakukan pada malam hari. Informasi itu ia peroleh dari seorang mandor PT BSK 1, yang menyebut pembongkaran dilakukan oleh tim respons BSK 1.

    Rekaman dan video keterangan mandor itu, kata Ebok, ada padanya. Ia juga mengaku bertemu seorang anggota tim respons yang menyebut perintah pembongkaran datang dari koordinator lapangan (korlap).

    ”Jadi, kelihatannya, jangankan menindaklanjuti, yang kami dapatkan justru hanya pembongkaran. Tidak ada keseriusan,” kata Ebok.

    Alasan pembongkaran itu tidak ia ketahui. ”Saya tidak mendapat informasi mengenai kejelasan dan alasannya. Jadi, yang kami lihat di lokasi hanya pembongkaran itu saja,” ujarnya. Ebok mengaku sudah meminta pertanggungjawaban perusahaan, tetapi belum ditanggapi secara serius.

    Menurut Ebok, pembongkaran itu bukan yang pertama. “Kalau pondok yang ini, kurang lebih satu tahun kami dirikan. Sebenarnya sudah lebih, tetapi sebelumnya dibongkar oleh pihak perusahaan,” katanya.

    Pembongkaran pondok sebelumnya, menurut dia, juga dilakukan tim respons BSK 1 saat keluarganya tidak di tempat. “Kami hanya terlambat satu jam. Ketika kembali ke objek tersebut, sudah dilakukan pembongkaran,” ujarnya. Peristiwa itu ia sebut terjadi sekitar Oktober 2025. Ia tidak ingat tanggal pastinya, tetapi menyebut videonya masih ada.

    Kanal Independen telah mengirimkan permohonan konfirmasi kepada PT BSK melalui pesan WhatsApp pada Senin (19/10/2026).

    Pertanyaan yang diajukan mencakup kejelasan GRTT, pelaporan polisi, kesediaan mediasi, hingga dugaan pembongkaran di area sengketa. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak perusahaan.

    Dilaporkan, Belum Dipanggil

    Soal laporan ke kepolisian, Ebok membenarkan lokasi itu pernah didatangi anggota polisi. Ia menegaskan kedatangan itu berlangsung tanpa intimidasi.

    ”Mereka hanya mendatangi objek tersebut, bersilaturahmi,” katanya. Ia menyebut masih menyimpan foto kedatangan itu. Hingga wawancara berlangsung, ia menyatakan belum pernah dipanggil.

    Kuasa hukum Ebok, Sapriyadi, menyayangkan langkah PT BSK membawa persoalan ini ke kepolisian. Ia menilai klaim lahan Ebok adalah persoalan agraria.

    ”Kami menyampaikan kepada pihak perusahaan agar lebih kooperatif, lebih memahami permasalahannya. Jika ini permasalahan perdata, maka selesaikan keperdataannya terlebih dahulu,” kata Sapriyadi.

    “Jangan selalu mengandalkan APH, dalam artian melaporkan masyarakat-masyarakat adat ini ke proses hukum,” tambahnya.

    Ia merujuk agenda reforma agraria, surat telegram Kapolri, dan Peraturan Mahkamah Agung yang menurutnya mengatur penangguhan sementara proses pidana bila terdapat perkara perdata.

    ”Apalagi ini berkenaan dengan hak-hak masyarakat yang belum pernah dilakukan ganti rugi. Menurut pendapat saya, lebih baik menahan diri untuk tidak melaporkan ini ke ranah pidana,” ujarnya.

    Sapriyadi menilai poin kedua surat PT BSK menunjukkan perusahaan cenderung mengandalkan kepolisian. ”Ini sangat disayangkan menurut kami. Ini ada upaya untuk mengkriminalisasi masyarakat adat,” katanya.

    Laporan PT BSK itu dibuat sebelum Polri memberlakukan moratorium perkara pidana konflik agraria. Dalam rapat bersama Badan Legislasi DPR RI, Senin, 7 September 2026, Kabareskrim Polri Komjen Pol Syahardiantono menyatakan Polri menangguhkan sementara seluruh penanganan perkara pidana yang berkaitan erat dengan konflik agraria struktural.

    Syahardiantono beralasan, konflik agraria belum tentu persoalan pidana, sebab dapat berkaitan dengan urusan perdata dan hak masyarakat adat. Polri, kata dia, mengutamakan penyelesaian lewat mediasi dan keadilan restoratif, serta menunda proses pidana atas perkara yang bertaut dengan perjuangan hak atas tanah.

    Langkah mediasi inilah yang sudah diminta Ebok kepada Camat Telawang sejak Desember 2025.

    Kebijakan kepolisian tersebut berpedoman pada kesimpulan rapat Komisi III DPR RI bersama Kabareskrim dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada 26 Agustus 2026. Salah satu poinnya meminta Bareskrim dan Polda jajaran mencegah kriminalisasi warga, khususnya pada kasus yang sedang dalam proses penyelesaian sesuai peraturan perundang-undangan.

    Harapan kepada Negara

    Ebok kini menggantungkan harapan kepada negara. Ia memohon Presiden dan aparat penegak hukum memberi perlindungan penuh bagi keluarganya, yang ia sebut masyarakat adat yang menempati tempat itu secara turun-temurun.

    ”Inilah tempat tinggal kami. Inilah tempat usaha kami,” kata Ebok.

    ”Kalau memang tidak ada perlindungan hukum, mohon maaf, kami masyarakat adat mau ke mana lagi, Pak? Mata pencaharian dan penghidupan kami sudah sempit. Ini ibu kami sendiri,” ujarnya, merujuk perempuan yang sejak awal wawancara berada di sampingnya. (ign)

  • Misteri Dentuman Bergetar dan Benda Menyerupai Bangkai Pesawat Gempar di PT Agro Bukit Kotim!

    Misteri Dentuman Bergetar dan Benda Menyerupai Bangkai Pesawat Gempar di PT Agro Bukit Kotim!

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendadak digemparkan oleh rangkaian peristiwa misterius yang memicu teka-teki besar. Sehari setelah suara dentuman keras menggelegar dan memicu getaran hebat pada Minggu (18/10/2026) petang, sebuah benda misterius dengan komponen menyerupai bangkai pesawat ditemukan di area perkebunan sawit PT Agro Bukit, Blok G.37/38, Senin (19/10/2026) pagi.

    Dalam rekaman video durasi pendek yang mendadak viral di media sosial, objek berukuran sedang tersebut tampak hancur sebagian dengan rincian material kabel, panel logam, dan struktur komposit yang terserak di antara pohon kelapa sawit.

    Perekam video secara eksplisit menyebut objek tersebut mirip dengan puing pesawat atau perangkat antariksa.

    “Kami menemukan benda mungkin bangkai pesawat, karena masih ada kabel-kabelnya ini,” tutur seorang warga dalam rekaman video penemuan di lokasi PT Agro Bukit.

    Dentuman Magrib Getarkan Kaca Rumah, Benda Bercahaya Melintas di Langit Kotim

    Penemuan objek misterius ini terjadi selang beberapa jam dari insiden dentuman dahsyat yang menghentak wilayah Cempaga Hulu, Telawang, Mentawa Baru Ketapang (MBK), hingga Baamang pada Minggu (18/10/2026) pasca-Magrib.

    Sejumlah saksi mata melaporkan getaran kuat yang menyertai dentuman keras tersebut. Vina, warga MBK, mengaku dikejutkan oleh suara bergemuruh yang disangkanya merupakan truk material, sementara Wiwik dan Aina mengonfirmasi getaran yang ditimbulkan cukup kuat hingga merobohkan tiang jemuran serta menggetarkan kaca jendela rumah.

    Bersamaan dengan laporan dentuman, beredar pula dokumentasi foto yang memvisualisasikan benda bercahaya (fireball) melintas di langit malam Kotim sebelum akhirnya padam, menguatkan dugaan adanya objek luar angkasa atau sampah antariksa (space debris) yang jatuh menembus atmosfer Bumi.

     

    Kemunculan benda menyerupai bangkai pesawat yang didahului dentuman bergetar merupakan fenomena serius yang membutuhkan investigasi ilmiah transparan (scientific investigation) oleh otoritas gabungan. Penanganan cepat diperlukan untuk meredam spekulasi liar serta mengantisipasi potensi bahaya zat kimia/radiasi dari benda asing tersebut.

    Polres Kotim bersama Polsek setempat didesak segera memasang garis polisi (police line) di Blok G.37/38 PT Agro Bukit. Masyarakat dan pekerja kebun diimbau keras untuk tidak menyentuh, membongkar, atau mengambil komponen kabel/logam dari lokasi kejadian sebelum dinyatakan bebas dari bahan berbahaya toxic/radiatif.

    Pemkab Kotim dan Polres dituntut berkoordinasi langsung dengan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) serta AirNav/Kemenhub untuk mengidentifikasi secara pasti apakah pecahan tersebut merupakan sampah satelit, roket, pendorong antariksa, atau komponen pesawat udara. (***)

  • Kebakaran HKBP Parulian Sampit: Titik Awal Terlihat, Penyebab Belum Terjawab

    Kebakaran HKBP Parulian Sampit: Titik Awal Terlihat, Penyebab Belum Terjawab

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Api terlihat dari bagian belakang Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parulian Sampit sebelum kebakaran membesar dan melanda bangunan tersebut, Sabtu (17/10/2026). Meski titik awal kemunculan api telah disebut dalam keterangan saksi, penyebab kebakaran di Jalan Lingkar Utara atau Jalan Ir Soekarno, kawasan Wengga Metropolitan, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), itu belum diketahui.

    Kobaran api terlihat dari bangunan gereja dalam video yang beredar. Sejumlah warga berkumpul di sekitar lokasi dan berupaya membantu memadamkan api sembari menunggu petugas pemadam kebakaran tiba.

    Kasi Humas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim, Hery Wahyudi, mengatakan laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 13.28 WIB. Personel berangkat dua menit kemudian dan tiba di lokasi pada pukul 13.46 WIB.

    “Berdasarkan keterangan saksi yang tercatat dalam laporan petugas, api terlihat dari bagian belakang gereja atau dapur. Untuk penyebab kebakaran masih belum diketahui,” ujarnya.

    Informasi tersebut menunjukkan lokasi awal api berdasarkan keterangan saksi, tetapi belum menjelaskan pemicu kebakaran. Belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan penyebab api muncul dan kemudian membesar.

    Api dilokalisir dalam 16 menit

    Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan pemadaman. Penanganan melibatkan tim Posko Kebakaran Hutan dan Lahan Kotim, kepolisian, serta relawan pemadam kebakaran.

    Api berhasil dilokalisir pada pukul 14.02 WIB, atau 16 menit setelah petugas tiba. Petugas kemudian melanjutkan dengan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

    Bangunan yang terbakar merupakan bangunan semi permanen dengan perkiraan ukuran sekitar 20 x 10 meter. Laporan sementara tidak mencatat adanya korban jiwa maupun korban luka. Sementara itu, kerugian material belum ditaksir.

    Operasi pemadaman berakhir pada pukul 15.05 WIB setelah proses pendinginan dan pemeriksaan selesai. Petugas kemudian kembali ke markas komando pada pukul 15.23 WIB.

    Kerusakan dan penyebab masih perlu dipastikan

    Kebakaran di kawasan Wengga Metropolitan itu menjadi perhatian warga sekitar. Namun, informasi yang tersedia belum merinci tingkat kerusakan bangunan setelah api berhasil dikendalikan.

    Penyebab kebakaran juga belum dapat dipastikan. Keterangan mengenai api yang terlihat dari bagian belakang gereja masih mengacu pada kesaksian yang tercatat dalam laporan petugas, bukan kesimpulan akhir mengenai sumber api.

    Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab kebakaran, kondisi bangunan setelah kejadian, serta besarnya kerugian yang ditimbulkan. (***)

  • Sabu 4,82 Gram Tergeletak di Atas Meja Kamar: Pengedar Pasir Putih Dibekuk Bersama Timbangan Digital

    Sabu 4,82 Gram Tergeletak di Atas Meja Kamar: Pengedar Pasir Putih Dibekuk Bersama Timbangan Digital

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Praktik peredaran gelap narkotika di kawasan pemukiman Pasir Putih kembali terbongkar. Tim Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim) menyergap seorang pria berusia 43 tahun berinisial M di dalam kamar rumahnya di Jalan Jenderal Sudirman Km 9, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kamis (15/10/2026) malam sekitar pukul 22.30 WIB.

    Dalam penggeledahan yang disaksikan lurah setempat dan warga, petugas mendapati satu paket bungkus plastik klip berisi kristal bening diduga sabu seberat 4,82 gram yang tergeletak secara terbuka di atas meja kamar tersangka.

    Penggerebekan ini mengeksekusi laporan masyarakat yang resah akan maraknya aktivitas transaksi narkoba yang dijalankan tersangka di kawasan tersebut.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Plt. Kasi Humas IPTU Edi Walujo mengonfirmasi penangkapan dan penyitaan barang bukti dari kamar M.

    “Setelah menerima informasi masyarakat, anggota melakukan penyelidikan hingga mengamankan terlapor di dalam kamar rumahnya. Saat penggeledahan yang disaksikan aparat kelurahan dan warga, ditemukan barang yang diduga sabu dengan berat kotor 4,82 gram beserta sejumlah barang lainnya,” terang IPTU Edi Walujo, Jumat (16/10/2026).

    Timbangan Digital dan HP Vivo Tergeletak di Lantai Kamar

    Selain menyita 4,82 gram sabu dari atas meja, petugas membongkar perlengkapan transaksi milik tersangka yang terserak di lantai kamar. Polisi mengamankan satu unit timbangan digital, satu unit telepon genggam Vivo Y27s berwarna ungu, serta kartu SIM yang diduga kuat digunakan untuk mengendalikan pesanan pelanggan.

    Kepada petugas, tersangka M mengakui secara terbuka bahwa seluruh barang bukti yang ditemukan di dalam kamar tersebut adalah milik pribadinya.

    Atas perbuatannya, M disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

     

    Penangkapan M di Km 9 Jalan Jenderal Sudirman hanya berselang beberapa jam dari penangkapan tersangka lain di kawasan yang sama menjadi bukti otentik bahwa Kelurahan Pasir Putih telah berstatus darurat narkotika. Keberadaan timbangan digital di lantai kamar membuktikan M bukan sekadar pemakai, melainkan sub-agen pemecah paket (retailer) yang aktif melayani pembeli eceran di perkotaan Sampit.

    Penyidik Satresnarkoba Polres Kotim dituntut tidak berpuas diri dengan barang bukti 4,82 gram. Jejak digital dan riwayat pesan singkat pada ponsel milik M wajib dibongkar secara transparan guna melacak identitas bandar besar yang menyuplai paket sabu siap timbang tersebut.

    Berulangnya pengungkapan kasus narkotika di Pasir Putih menuntut Polres Kotim dan Pemkab Kotim untuk menggelar operasi pembersihan skala besar (sweeping) serta menempatkan pos pemantauan kepolisian permanen di koridor Jalan Jenderal Sudirman. (**)

  • Sabu dan Somadril Lolos ke THM Sampit: Razia Dini Hari Jaring Dua Pengunjung Positif

    Sabu dan Somadril Lolos ke THM Sampit: Razia Dini Hari Jaring Dua Pengunjung Positif

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ruang hiburan malam di Kota Sampit terbukti masih menjadi zona nyaman yang rawan disusupi peredaran gelap zat terlarang. Dalam razia gabungan yang digelar Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim) pada Kamis (15/10/2026) dini hari, dua pengunjung tempat hiburan malam (THM) terjaring usai terbukti positif mengonsumsi narkotika jenis sabu (methamphetamine) dan obat keras somadril.

    Operasi penertiban intensif yang berlangsung selama dua jam mulai pukul 01.00 hingga 03.00 WIB tersebut melibatkan personel lintas fungsi dari Satresnarkoba, Satintelkam, Satsamapta, Propam Polres Kotim, serta Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kotim.

    Petugas mengambil sampel urine secara acak terhadap 12 pengunjung THM di lokasi. Hasil skrining cepat menunjukkan satu pengunjung positif methamphetamine dan satu pengunjung lainnya positif somadril.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Plt. Kasi Humas IPTU Edi Walujo mengonfirmasi bahwa kedua pengunjung tersebut langsung diamankan dan digelandang ke kantor BNK Kotim guna menjalani pemeriksaan medis dan prosedur hukum lanjutan.

    “Pemeriksaan ini merupakan langkah pencegahan untuk mengantisipasi penyalahgunaan narkoba serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif. Kedua pengunjung yang tes urine-nya menunjukkan hasil positif langsung diserahkan ke BNK Kotim untuk penanganan sesuai prosedur,” terang IPTU Edi Walujo, Kamis (15/10/2026).

    Lolosnya penggunaan methamphetamine dan obat keras somadril di dalam lingkungan THM Sampit menjadi bukti otentik bahwa pengawasan internal pengelola tempat hiburan malam sangat lemah atau sengaja membiarkan barang haram beredar. Penindakan tidak boleh berhenti sebatas penyerahan dua pengunjung ke BNK untuk asesmen rehabilitasi, melainkan harus menyasar keterlibatan jaringan pengedar di area hiburan tersebut.

    Pemkab Kotim melalui Satpol PP serta Polres Kotim didesak untuk tidak tebang pilih. Pengelola THM yang terbukti membiarkan tempat usahanya dijadikan arena transaksi atau konsumsi narkoba wajib dikenai sanksi tegas hingga pencabutan izin usaha (blacklisting).

    Satresnarkoba Polres Kotim dituntut melacak dari mana pengunjung tersebut mendapatkan pasokan methamphetamine dan somadril sebelum memasuki THM, guna memutus rantai pasokan jaringan pengedar yang beroperasi di kawasan perkotaan Sampit. (***)