Tag: Sampit

  • Tongkang Datang, Lanting Jadi Korban, Cerita Lama yang Terus Berulang di Sungai Cempaga

    Tongkang Datang, Lanting Jadi Korban, Cerita Lama yang Terus Berulang di Sungai Cempaga

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di Sungai Cempaga, suara mesin tongkang bukan lagi hal asing. Ia datang pelan, berat, membawa muatan besar dan bagi sebagian warga di bantaran sungai, kehadirannya justru membawa cemas.

    Kamis (26/3) siang itu, kecemasan itu kembali jadi nyata.

    Sebuah tongkang pengangkut bauksit melintas di wilayah Desa Patai, Kecamatan Cempaga. Tak lama berselang, gelombang besar menghantam tepian. Lanting-lanting warga yang sebelumnya tenang, mendadak bergoyang keras. Tali tambatan tak mampu menahan. Ada yang terlepas. Ada yang rusak. Bahkan satu sempat hanyut terbawa arus.

    “Kurang jelas apakah karena gelombang atau tertabrak, saya kurang tahu. Namun katanya dua lanting kena, tapi” kata Ardi, warga setempat, Jumat (27/3/2026).

    Video kejadian itu cepat menyebar. Suara panik terdengar jelas. Bukan karena baru pertama justru karena kejadian ini terlalu sering terjadi.

    Di dalam video menyebutkan ada empat lanting warga kena imbas senggolan tongkang.

    Di Sungai Cempaga, cerita seperti ini bukan lagi insiden, tapi pola.

    Warga mengaku aktivitas tongkang pengangkut bauksit sudah lama berlangsung dan nyaris tanpa jeda. Jalurt air yang dulunya jadi ruang hidup masyarakat, kini berubah menjadi lintasan rutin angkutan industri. Dan di tengah arus besar kepentingan itu, lanting-lanting kecil milik warga kerap jadi pihak yang paling rentan.

    “Sudah beberapa kali kejadian seperti ini. Lanting kami sering kena dampaknya,” ujar Ardi.

    Pertanyaannya sederhana: mengapa ini terus berulang?

    Apakah tidak ada pengaturan kecepatan saat tongkang melintas di kawasan permukiman? Apakah tidak ada jalur aman atau batas jarak yang wajib dijaga? Atau justru, keberadaan warga di bantaran sungai dianggap sebagai risiko yang harus mereka tanggung sendiri?

    Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan pemilik tongkang. Belum ada pula kejelasan soal tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

    Padahal bagi warga, lanting bukan sekadar bangunan terapung. Ia adalah rumah. Tempat bernaung. Sekaligus ruang hidup yang tak tergantikan.

    Setiap kali tongkang melintas tanpa kendali, yang dipertaruhkan bukan hanya kayu dan paku, tapi rasa aman yang perlahan terkikis.

    Warga tidak menolak aktivitas ekonomi. Mereka paham sungai adalah jalur vital. Tapi mereka juga ingin diakui bahwa di tepian sungai itu, ada kehidupan yang harus dilindungi.

    “Kalau memang ada kerugian, kami harap ada tanggung jawab. Dan ke depan, harus lebih hati-hati,” tegas Ardi.

    Namun sampai hari ini, Sungai Cempaga masih bercerita hal yang sama: tongkang datang, gelombang menghantam, lanting jadi korban.

    Dan pertanyaan itu tetap menggantung sampai kapan?. Yang jelas setiap, ada kabar ganti rugi oeh perusahaan keluhan warga terhenti. Begitu terus bila terjadi insiden serupa selanjutnya. Mungkin ceritanya baru akan berbeda bila sudah ada korban nyawa.  (***)

  • Dihadiri Ratusan Pelayat, Sufiansyah Diantar dengan Doa ke Peristirahatan Terakhir

    Dihadiri Ratusan Pelayat, Sufiansyah Diantar dengan Doa ke Peristirahatan Terakhir

    SAMPIT, kanalindependen.id – Cuaca pagi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Usman Harun, Jumat (27/3/2026), tampak teduh. Seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti ratusan pelayat.

    Satu per satu warga, kerabat, hingga jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berdatangan, mengiringi kepergian Camat Baamang, almarhum Sufiansyah bin Nazaruddin, ke peristirahatan terakhirnya.

    Jenazahnya digiring menggunakan ambulans dari kediaman rumahnya di Jalan Cristopel Mihing sekitar pukul 08.10 WIB. Kemudian disalatkan untuk terakhir kalinya di Langgar Al Muhibin, berdekatan dengan Tempat Pemakaman Umum di Jalan Usman Harun.

    Liang kubur sedalam kurang lebih dua meter telah dipersiapkan. Peti jenazah dihantarkan ke pusara terakhir sekitar pukul 08.30 WIB.

    Di antara para pelayat, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, turut hadir memberikan penghormatan terakhir.

    Dengan wajah penuh duka, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian almarhum yang mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Murjani Sampit pada 14.27 WIB, Kamis (26/3/2026).

    ”Pemerintah daerah merasa sangat kehilangan atas sosok ASN yang memiliki integritas cukup tinggi. Sosok seperti beliaulah yang sangat kami harapkan untuk membantu kami dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujar Umar Kaderi saat diwawancarai usai proses pemakaman selesai.

    Almarhum Sufiansyah merupakan salah satu aparatur sipil negara (ASN) terbaik yang dimiliki Kotim.

    Rekam jejaknya yang dimulai dari lurah hingga dipercaya menjabat sebagai Camat Baamang menjadi bukti dedikasi dan pengabdian panjang dalam birokrasi.

    Menurutnya, banyak jasa yang telah diberikan almarhum selama bertugas. Meski tidak dapat dirinci satu per satu, kontribusinya sangat dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

    Lebih dari sekadar pejabat, Sufiansyah dikenal sebagai sosok pemimpin yang humanis dan responsif.

    Umar yang juga merupakan warga Kecamatan Baamang menuturkan, almarhum kerap sigap membantu warga, terutama dalam hal pelayanan kesehatan.

    ”Beliau sangat cepat membantu apabila ada masyarakat yang sakit, yang perlu rujukan ke rumah sakit, atau sekadar berobat ke puskesmas. Respons beliau terhadap kebutuhan warga sangat luar biasa,” kenangnya.

    Di antara pelayat, sejumlah warga tampak saling berbagi cerita tentang kebaikan almarhum semasa hidup.

    Ada yang mengenang kepeduliannya, ada pula yang mengingat kesederhanaannya dalam bergaul tanpa memandang status.

    Bagi jajaran pemerintah daerah, kepergian ini menjadi kehilangan besar sekaligus pengingat akan pentingnya integritas dan pengabdian.

    Umar menegaskan bahwa semangat perjuangan almarhum akan terus dilanjutkan.

    ”Kami akan melanjutkan pengorbanan dan perjuangan beliau. Harapan kami, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan,” katanya.

    Prosesi pemakaman berlangsung khidmat hingga selesai. Gundukan tanah yang masih basah menutup liang lahat bertabur bunga. Ratusan doa dipanjatkan mengantar kepergian Sufiansyah, sekaligus meninggalkan jejak keteladanan yang akan terus dikenang di Bumi Habaring Hurung. (hgn/ign)

  • Konflik Irigasi Danau Lentang Kotim: Potret Memilukan Lahan Pria Renta Dihargai Rp7 Juta

    Konflik Irigasi Danau Lentang Kotim: Potret Memilukan Lahan Pria Renta Dihargai Rp7 Juta

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ekspansi alat berat PT Borneo Sawit Perdana (BSP) disinyalir melumat ruang hidup petani lokal di kawasan irigasi Danau Lentang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Sebuah manuver di atas lahan tiga hektare yang memicu hilangnya sumber penghidupan masa tua seorang pria renta dengan kompensasi hanya Rp7 juta.

    Data lapangan menunjukkan nasib tragis ini dialami Esau (60), warga Desa Luwuk Bunter. Kebun berisi tanaman sawit produktif dan karet yang telah ia kelola secara mandiri sejak tahun 2010 itu, diratakan ekskavator pada Oktober 2025.

    Baca Juga: Membongkar Ruang Gelap Konflik: Operasi Pengepungan Sawit di Irigasi Danau Lentang

    Atas hilangnya aset yang sebelumnya mampu menghasilkan setengah ton Tandan Buah Segar (TBS) dalam sekali panen tersebut, Esau hanya menerima uang ganti rugi sebesar Rp7 juta.

    Gejolak ini merupakan ekses dari sengkarut panjang pembebasan lahan yang diklaim perusahaan ditujukan untuk pencadangan kebun plasma Koperasi Produsen Mitra Borneo Sejahtera (MBS).

    Manajemen korporasi bersikukuh seluruh aktivitas pembukaan lahan itu berada di dalam poligon Hak Guna Usaha (HGU) perseroan.

    Tangan renta Esau tak lagi sekuat lima belas tahun silam. Namun, dalam ingatan Esau, setiap jengkal tanah di tepian jaringan irigasi Danau Lentang itu masih tergambar begitu jelas.

    Di atas lahan itulah, pria paruh baya ini menanamkan bibit sawit dan karet satu per satu dengan peluhnya sendiri sebagai benteng pertahanan hari tua.

    Baca Juga: Melindas Urat Nadi: Invasi Alat Berat di Jantung Irigasi (1)

    Kini, napas penyambung hidup keluarganya itu telah diputus paksa. Petaka datang merayap beriringan dengan raga Esau yang kian merapuh.

    Memasuki awal tahun 2025, kesehatannya merosot tajam, memaksanya absen memagari kebun dari subuh hingga petang.

    Absennya Esau di pematang rupanya menjadi celah bagi masuknya deru mesin perusak.

    “Saat kami datang ke lokasi, tanahnya sudah habis dicincang alat berat. Rasanya sakit hati sekali melihatnya,” rintih Esau, mengenang momen saat tanah harapannya dihancurkan pada Oktober 2025.

    Baca Juga: Siasat Administrasi Kawasan Irigasi Danau Lentang: Uang Perusahaan Berlabuh atas Nama Koperasi (2)

    Esau dipaksa menelan kenyataan pahit di usia senjanya. Menatap tak berdaya ketika hamparan hijau tempatnya menggantungkan hidup berubah drastis menjadi area pembukaan lahan baru.

    ”Kalau saya masih muda dan tidak sakit begini, saya pasti bertahan di atas lahan itu,” ujarnya lirih. Ada nada perlawanan yang tersisa, namun terkurung dalam fisik yang tak lagi menunjang.

    Didampingi pengurus organisasi adat setempat, Esau sempat berupaya menuntut keadilan atas hilangnya ruang hidup yang ia rasakan sebagai perampasan haknya.

    Namun, ia hanya membentur tembok tebal kekuasaan modal. Uang kompensasi Rp7 juta terpaksa ia terima dengan dada sesak, semata-mata karena impitan keadaan yang memaksanya berpikir bahwa itu lebih baik daripada pulang dengan tangan kosong.

    Menurut pengakuannya, uang Rp7 juta itu ia terima dalam kondisi terdesak dan tanpa pernah menandatangani pelepasan hak kebun.

    ”Tidak jelas juga yang mana mereka ganti rugi itu. Dulu waktu lahan ini masih saya kelola dan saya jaga, perusahaan tidak berani masuk menggarap. Tapi, sejak saya sakit, lahan itu langsung digarap,” tuturnya.

    Baca Juga: Jejak Modal Korporasi: Mengendus Aliran Dana di Garis Sempadan Danau Lentang (3)

    Humas PT Borneo Sawit Perdana (BSP), Martin Tunius, membenarkan adanya gelombang pembebasan lahan baru yang dieksekusi perusahaan pada tahun 2025 di kawasan tersebut.

    ”Seluruh area yang dibebaskan itu berada di dalam izin kami. Kami tidak pernah membebaskan lahan di luar wilayah izin perusahaan,” tegas Martin usai forum mediasi sengketa lahan di kawasan tersebut pada 12 Maret 2026 di Kantor Kecamatan Cempaga.

    ”(Lahan) itu di dalam HGU. Perusahaan ini sudah berdiri sejak 2008. Kami tidak akan membebaskan lahan kalau berada di luar izin,” ujarnya lagi. (ign)

  • Detik-Detik Terakhir Camat Baamang: Tetap Tersenyum di Tengah Sakit, Tinggalkan Pesan Perpisahan lewat Secarik Kertas

    Detik-Detik Terakhir Camat Baamang: Tetap Tersenyum di Tengah Sakit, Tinggalkan Pesan Perpisahan lewat Secarik Kertas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ketegasan sosok Sufiansyah sebagai pemimpin Kecamatan Baamang rupanya membungkus rapat rasa sakit yang ia tahan hingga embusan napas terakhir.

    Camat Baamang, Kotawaringin Timur, itu meninggal dunia di RSUD dr. Murjani Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.

    Berpulangnya birokrat yang lekat dengan sapaan hangat ini memukul batin banyak pihak. Kehilangannya merayap jauh melampaui sekat dinding keluarga, meresap ke tengah masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang pernah merasakan langsung sentuhan pelayanannya.

    Suasana ruang rawat inap di RSUD dr. Murjani Sampit pada Kamis (26/3/2026) siang, mulanya tampak tenang.

    Di ruang perawatan Cempaka, Sufiansyah masih sempat menyambut tamu-tamu yang datang membesuk dengan senyuman khasnya. Tidak ada yang menyangka bahwa senyuman itu adalah salam perpisahan.

    Di tengah kondisi yang terus menurun, Camat Baamang yang terbaring lemas dengan alat bantu pernapasan, masih menyempatkan diri menenangkan keluarga, hingga akhirnya menuliskan pesan perpisahan sebelum akhirnya berpulang, pukul 14.27 WIB, Kamis (26/3/2026).

    Kisah kepergian pria berusia 53 tahun itu diungkap langsung oleh adik kandungnya, Nanang Suriansyah, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur.

    Nanang mengungkapkan, kondisi almarhum sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan sebulan sebelum memasuki Ramadan 1447 Hijriah.

    Ia mengaku kehilangan selera makan dan mengurangi aktivitas di Kantor Kecamatan Baamang, karena tubuhnya sudah memberi sinyal bahwa kondisinya tidak baik-baik saja.

    Sekitar dua minggu memasuki Ramadan, ketika menghadiri safari di salah satu wilayah, mobilnya mogok. Dia sempat mencoba mendorongnya.

    Saat itulah, almarhum mengeluhkan rasa sakit di bagian tungkai paha bagian atas yang membuatnya agak sulit berjalan.

    Namun, di mata keluarga, ia tetap terlihat santai dan tidak pernah mengeluh berlebihan.

    Sifatnya yang tenang membuat orang-orang di sekitarnya tidak menyangka bahwa kondisi tersebut merupakan awal dari penyakit yang lebih serius.

    Memasuki Selasa (24/3/2026) sore, kondisi Sufiansyah mulai memburuk. Ia mengalami sesak napas hingga akhirnya dibawa ke salah satu dokter untuk mendapatkan bantuan uap atau nebulizer.

    Sempat diperbolehkan pulang, namun keluarga merasa kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele.

    Malam harinya, sekitar pukul 20.30 WIB, keluarga memutuskan membawa almarhum ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Di ruang IGD, almarhum menjalani observasi selama kurang lebih dua jam, termasuk pemeriksaan rontgen.

    Hasilnya menunjukkan adanya flek di paru-paru sebelah kiri. Dokter bahkan mengibaratkan kondisi paru-parunya seperti “baling-baling yang jalan sebelah”.

    Selain itu, ditemukan pula adanya cairan di paru-paru yang semakin memperburuk kondisi pernapasannya.

    Namun, fakta yang lebih mengejutkan baru diketahui beberapa waktu kemudian.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel darah yang diambil secara berkala, pada Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, dokter memastikan bahwa almarhum juga mengidap Tuberkulosis (TBC).

    Meski kondisi medisnya cukup serius, suasana di ruang perawatan pada Kamis pagi masih terasa hangat. Sekitar pukul 10.30 WIB, Bupati Kotim Halikinnor bersama istrinya, Khairiyah serta sejumlah pejabat lainnya, datang membesuk.

    Sufiansyah terlihat masih bisa tersenyum. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.00 WIB, giliran Wakil Bupati Irawati yang datang menjenguk.

    Saat itu ia masih tampak santai dan komunikatif meski hanya berinteraksi dengan isyarat gerakan tangan dan anggukan kepala.

    Tak ada tanda bahwa waktu yang dimilikinya tinggal menghitung jam. Sekitar pukul 14.05 WIB, Nanang sempat menawarkan makanan kepada sang kakak agar menambah tenaga.

    Nanang juga menanyakan apakah ada keluhan di bagian tubuhnya. Sufiansyah menggeleng tidak sakit perut, hanya mengakui rasa nyeri di dada. Namun, lagi-lagi, ia tetap menunjukkan ketenangan. Bahkan tersenyum di hadapan istri dan anak-anaknya.

    Lima menit berselang, tepat pukul 14.10 WIB, almarhum meminta kertas. Dengan tulisan tangan, ia menuliskan pesan singkat.

    ”Mau guring (tidur) istirahat,” katanya.

    Tak ada kata panjang, tak ada keluhan. Hanya sebuah kalimat sederhana yang kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga.

    Tak lama setelah itu, Nanang turun dari ruangan, sejenak membakar sebatang rokok. Namun, dalam hitungan menit, Feny anak almarhum memanggilnya kembali. Saat ia bergegas naik melalui lift, waktu seakan berjalan begitu cepat.

    Nanang tak sempat menyaksikan saudara kandungnya menghembuskan napas terakhir. Sufiansyah dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.27 WIB.

    Kepergian mendadak itu meninggalkan duka mendalam. Sufiansyah lahir di Kotawaringin Timur, 5 Desember 1972.

    Ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak mengeluh, bahkan dalam kondisi sakit. Ia juga disebut jarang mengonsumsi obat dan tidak memiliki riwayat penyakit turunan.

    Almarhum merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia meninggalkan seorang istri bernama Wiwit, serta tiga orang anak, yakni Yanti, Fenny, dan Reza.

    Rencananya, almarhum akan dimakamkan Jumat (27/3/2026) pagi sebelum waktu salat Jumat di Tempat Pemakaman Umum Keramat, Sampit.

    Bagi keluarga, kenangan tentang senyum terakhir dan pesan sederhana itu akan selalu melekat.

    Sebuah perpisahan yang singkat, namun menyisakan cerita panjang tentang ketegaran, keikhlasan, dan cinta yang tak sempat terucap sepenuhnya.

    ​Dikenang Karena Kebaikan

    ​Bupati Kotim Halikinnor yang terlihat menjenguk jasad Sufiansyah di rumah duka Jalan Cristopel Mihing juga menunjukkan raut wajah kesedihan dan duka mendalam.

    Halikinnor datang bersama istrinya. Duduk bersila menghadap jasad Sufiansyah yang terbujur kaku dalam balutan kain jarik bercorak batik. Wabup Kotim Irawati juga turut datang mendoakan kepergian almarhum.

    ”Kami atas nama pribadi dan keluarga dan atas nama Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, menyatakan turut berdukacita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke rahmatullah saudara kita Sufiansyah, Camat Baamang, Kabupaten Kotim,” kata Halikinnor, saat diwawancarai awak media usai mendoakan almarhum Sufiansyah.

    ​Menurutnya, Sufiansyah merupakan salah satu putra terbaik daerah Kotim yang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil dari beberapa jabatan dan terakhir menjabat sebagai Camat Baamang di Kecamatan Baamang.

    ”Untuk itu kita merasa kehilangan dan kita sama-sama berdoa semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosa dan kesalahannya,” ujarnya.

    ”Dan, kita juga berdoa mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan itu mendapat ketabahan, kesabaran, serta keikhlasan, sehingga insyaAllah beliau kita doakan husnul khatimah. Jadi sekali lagi, kami pemerintah daerah berdukacita yang sedalam-dalamnya karena kehilangan salah satu putra daerah terbaik kita yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur,” tambahnya.

    ​Halikinnor juga mengenal sosok almarhum sebagai sosok yang mudah bergaul dan tidak banyak mengeluh.

    ”Beliau orang yang supel bergaul. Kalian mungkin tahu sendiri karena beliau baik dengan pemuda, dengan yang tua, beliau bergaul. Makanya dia disenangi sebagai Camat di Baamang ini. Sudah cukup lama di Baamang karena diminta masyarakat di sini, karena dia mudah bergaul,” katanya.

    ”Dan banyak juga kiprah (beliau), untuk itu kami atas nama pemerintah daerah sekali lagi terima kasih atas jasa pengabdian beliau selama beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dan beliau masih belum memasuki pensiun, masih kurang lebih 2 tahun lagi. Tapi ya, Allah memanggil dan sudah saatnya beliau kembali. Sekali lagi kita doakan mudah-mudahan beliau husnul khatimah,” ujar Halikinnor. (hgn/ign)

  • Sungai Mentaya Bergejolak, Kelotok Muatan Sawit Nyaris Tenggelam

    Sungai Mentaya Bergejolak, Kelotok Muatan Sawit Nyaris Tenggelam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebuah kelotok bermuatan buah kelapa sawit nyaris tenggelam di Sungai Mentaya, tepatnya di hilir Dermaga Sebamban, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kamis sore (26/3/2026).

    Peristiwa ini langsung menghebohkan warga setelah video detik-detik kejadian beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, kelotok tampak oleng dihantam gelombang sebelum hampir karam.

    Diketahui, kelotok tersebut milik seorang warga bernama Badri. Saat kejadian, kapal tengah mengangkut muatan buah kelapa sawit yang diduga baru saja dipanen dari wilayah Muara Babirah, Kecamatan Pulau Hanaut.

    “Kelotok tersebut bermuatan kelapa sawit dari Muara Babirah,” ujar Kasmiri Ikas, warga yang berada di lokasi sekaligus perekam video.

    Diduga, kondisi Sungai Mentaya yang tengah bergejolak disertai angin kencang menjadi pemicu utama insiden tersebut. Gelombang yang cukup tinggi membuat kelotok kehilangan keseimbangan, ditambah beban muatan yang berat.

    Beruntung, warga sekitar sigap melakukan upaya penyelamatan. Dalam video yang beredar, kelotok berhasil ditahan sehingga tidak sampai tenggelam sepenuhnya.

    “Alhamdulillah orangnya selamat,” kata Bachtiar, warga Samuda.

    Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski demikian, peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi para pengemudi kelotok agar lebih waspada saat melintasi Sungai Mentaya, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat. (***)

  • Camat Baamang Sufiansyah Meninggal Dunia: Langkah Terakhir yang Tertatih, Jejak Bakti yang Terukir Abadi

    Camat Baamang Sufiansyah Meninggal Dunia: Langkah Terakhir yang Tertatih, Jejak Bakti yang Terukir Abadi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ruang kerja Camat Baamang kini menyisakan keheningan. Kursi pimpinan itu resmi kosong setelah Sufiansyah mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit, Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.

    Kepergiannya memicu respons empati masif dari para kolega. Meninggalkan serangkaian jejak pengabdian yang membumi. Mulai dari lembar usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), angan-angan menata kawasan pasar, hingga pesan-pesan terakhir yang ia titipkan.

    Sufiansyah tumbuh menjadi birokrat bukan dari jalur instan. Ia merangkak menapaki hampir seluruh anak tangga pemerintahan dari akar terbawah.

    Bermula sebagai staf Kantor Cabang Dinas Perikanan, ia meniti jalan panjang menjadi kepala subbagian kepegawaian, kepala urusan pembangunan, lurah, sekretaris camat, hingga memimpin dua kecamatan berbeda.

    Tiga dekade perjalanannya membentuk satu filosofi khas. Jabatan adalah alat ukur tentang apa yang bisa dikerjakan untuk meringankan beban warga.

    Langkah Terakhir di Tengah Rasa Sakit

    Dedikasi Sufiansyah pada tugas kepemerintahan rupanya melampaui kondisi fisiknya. Kabar duka yang menyebar cepat di jaringan komunikasi perangkat daerah turut menguak memori tentang ketangguhannya di masa-masa terakhir.

    Lurah Baamang Barat, Arya Agus Wardhana, merekam jelas keteguhan tersebut. Pagi hari sebelum sang camat berpulang, sekitar pukul 10.30 WIB, Arya bersama Bupati Kotim Halikinnor dan sejumlah pejabat masih sempat menjenguk almarhum di ruang perawatannya.

    Menurut penuturan Arya, kondisi kesehatan Sufiansyah sebenarnya sudah mulai menurun sejak memasuki bulan suci Ramadan.

    Walaupun kondisi fisiknya membatasi ruang gerak sejak pertengahan Ramadan, ia tetap memaksakan diri datang ke kantor meski tak lagi mampu menuntaskan jam kerja secara penuh.

    Puncak pembuktian dedikasi itu terlihat saat kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Sampit. Fisik yang melemah tidak menyurutkan semangatnya untuk mendampingi agenda pimpinan daerah.

    ”Pada saat kunjungan kerja Gubernur di Sampit, beliau tetap berusaha hadir, meski sambil dibantu berjalan,” ujar Arya mengenang ketangguhan rekannya sesama abdi negara tersebut.

    Suara dari Genangan Air di Panggung Terakhir

    Mundur kurang dari dua bulan sebelum wafat, tepatnya Rabu (4/2/2026), Sufiansyah masih berdiri tegak memimpin Musrenbang RKPD tingkat Kecamatan Baamang. Forum tempat suara warga, kelurahan, dan desa se-Baamang bertemu dengan meja perencanaan daerah itu menjadi salah satu agenda publik terakhirnya yang terekam dalam pemberitaan.

    Infrastruktur dan jerit warga soal banjir mendominasi denyut aspirasi hari itu.

    ”Hasil Musrenbang dibacakan dari beberapa pokja, baik pokja ekonomi, dukungan pemerintahan dan kesejahteraan sosial, maupun pokja sarana dan prasarana,” kata Sufiansyah usai forum, seperti dikutip dari pemberitaan media.

    Perhatiannya tertuju lekat pada wilayah pelosok.

    ”Desa Tinduk memprioritaskan pembangunan jalan karena akses aspalnya memang belum tembus sampai ke desa, sehingga itu menjadi prioritas utama. Sementara kelurahan lain, pada tahun 2026 sudah cukup banyak kegiatan sapras yang dilaksanakan,” jelasnya memberikan arah kebijakan.

    Pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan menjadi beban pikiran utamanya. Perhatiannya tertuju pada pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan, yakni Jalan Walter Condrat, Kenan Sandan, dan Muchran Ali.

    ”Beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi ditambah pasang sungai menyebabkan genangan di sejumlah ruas jalan, khususnya di Baamang Tengah, seperti Jalan Al Kamal dan Jalan Cristopel Mihing di depan Panti Asuhan Bahagia. Drainase ini menjadi skala prioritas yang sangat penting,” ujarnya dengan penekanan kuat.

    Menghadapi keterbatasan kas daerah, ia memutar otak mencari jalan keluar pendanaan berlapis.

    ”Tidak semua aspirasi bisa dibiayai melalui APBD kabupaten. Nantinya, dinas teknis diharapkan dapat mengusulkan ke provinsi maupun pusat. Selain itu, kelurahan juga memiliki dana kelurahan yang bisa dimanfaatkan, bahkan melalui swadaya bersama masyarakat,” katanya memetakan solusi.

    Pasar Keramat dan Seruan Gotong Royong

    Hanya berselang lima hari, Senin (9/2/2026), figur pelayan masyarakat ini kembali memimpin serah terima sejumlah pejabat di lingkup Baamang. Momen krusial tersebut ia gunakan untuk menajamkan arah pelayanan publik dan penataan kawasan strategis.

    Pasar Keramat terucap spesifik dari bibirnya sebagai pekerjaan rumah bersama. ”Penataan Pasar Keramat harus dilakukan dengan koordinasi lintas sektor. Tidak bisa sendiri, harus melibatkan Satpol PP dan stakeholder terkait lainnya,” katanya.

    Terkait ancaman banjir, Sufiansyah menolak berpangku tangan pada mesin birokrasi dan terus membakar semangat warga.

    ”Beberapa hari lalu ada genangan di Pasar Al-Kamal dan Jalan Cristopel Mihing. Ini jadi pengingat bahwa drainase kita harus dibenahi bersama,” ujarnya.

    Pesan berikutnya adalah seruan aksi. ”Harus mengakomodir peran RT dan masyarakat. Gotong royong membersihkan drainase itu kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” tegasnya.

    Wasiat Pelayanan Sebagai Inti Pengabdian

    Bagi Sufiansyah, urat nadi pemerintahan adalah pelayanan itu sendiri. “Kami ingin memperkuat pelayanan pemerintahan wilayah Kecamatan Baamang, karena masih banyak yang kurang, terutama terkait sumber daya manusia dan sarana prasarana. Tujuan kami adalah meningkatkan pelayanan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

    Prinsip tersebut ia gaungkan tanpa lelah. Saat menutup prosesi sertijab pejabat kelurahan, ia melontarkan teguran halus yang kini penuh makna.

    ”Perubahan struktur aparatur bukan sekadar soal formasi personel, tetapi harus berdampak langsung pada kualitas layanan kepada masyarakat dan efektivitas pengelolaan wilayah,” kata Sufiansyah, Senin (9/2/2026), sebagaimana dikutip dari Kalteng Pos.

    Satu kalimat meluncur darinya, yang hari ini terasa bagaikan sebuah wasiat tak tertulis.

    ”Yang paling penting bukan siapa orangnya, tapi bagaimana pelayanan ke masyarakat berjalan maksimal dan wilayah tertata dengan baik,” katanya.

    Amanat itu ia kunci secara khusus kepada para ujung tombak pemerintahan. “Saya tekankan kepada lurah, terutama di Baamang Tengah dan Baamang Hilir, agar benar-benar fokus pada pelayanan masyarakat. Itu yang utama,” tegasnya.

    Tiga Dekade Jejak Pengabdian

    Ketulusan kalimat-kalimat tersebut lahir dari peluh mengabdi. Catatan resmi Badan Kepegawaian Negara (BKN) merekam langkah pertamanya berseragam abdi negara di Kantor Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur pada 1 Maret 1994.

    Kariernya bertumbuh dari bawah: Kepala Sub Bagian Kepegawaian Kecamatan Teluk Sampit (2008), Kepala Urusan Pembangunan Kelurahan Baamang Hilir (2012), Lurah Baamang Hulu untuk dua periode (2012 dan 2016), Sekretaris Kecamatan Baamang (2018), Camat Pulau Hanaut (2021), hingga kembali pulang memimpin Kecamatan Baamang sejak 1 Maret 2023.

    Gelar sarjana manajemen ia rengkuh dari STIE Sampit pada 2003, sebuah potret kegigihannya membagi waktu antara bangku kuliah dan tugas melayani warga. Puncak kepangkatannya tertulis sebagai Pembina Tingkat I, golongan IV/b, yang diraih pada 1 Oktober 2025—hanya lima bulan sebelum sang Khalik memanggilnya pulang.

    Sufiansyah telah merampungkan tugasnya di dunia. Sejumlah pekerjaannya masih tertinggal menanti wujud nyata. Sosok pekerja keras itu telah tiada.

    Namun, kalimat yang ia ucapkan pada 9 Februari 2026—hanya 45 hari sebelum ia wafat—akan terus menggema mengetuk nurani siapa saja yang kelak menduduki kursi kosong di kantor kecamatan tersebut. (hgn/ign)

  • Innalillahi! Camat Baamang Sufiansyah Wafat di RSUD Murjani Sampit, Sempat Berjuang Menjalankan Tugas meski Kondisi Sakit

    Innalillahi! Camat Baamang Sufiansyah Wafat di RSUD Murjani Sampit, Sempat Berjuang Menjalankan Tugas meski Kondisi Sakit

    SAMPIT, kanalindependen.id – Awan duka kembali menyelimuti birokrasi Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sufiansyah, Camat Kecamatan Baamang, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis (26/3/2026), sekitar pukul 14.27 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit.

    Kabar kepergian almarhum menyebar cepat melalui saluran komunikasi internal perangkat daerah.

    Belum ada pernyataan resmi dari keluarga. Namun, pihak medis RSUD Murjani membenarkan kepulangan almarhum.

    Kepergian Sufiansyah langsung memicu respons empati masif di kalangan kolega. Beragam status belasungkawa membanjiri feed WhatsApp.

    Lurah Baamang Barat Arya Agus Wardhana mengatakan sempat menjenguk koleganya itu bersama Bupati Kotim Halikinnor dan sejumlah pejabat lainnya sekitar pukul 10.30 WIB.

    Arya menuturkan, dari informasi yang dia terima, almarhum sudah mulai sakit sejak Ramadan. Dan mulai mengurangi aktivitas kantor pertengahan Ramadan, namun masih tetap berusaha masuk meski tidak full jam kerja.

    ”Pada saat kunjungan kerja Gubernur di Sampit, beliau tetap berusaha hadir, meski sambil dibantu berjalan,” ujarnya, seraya menambahkan jenazah almarhum sudah berada di rumah duka pukul 15.20 WIB. (hgn/ign)

  • Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, Kamis (26/3/2026), suasana di Sampit mendadak berubah. Kabar yang awalnya beredar pelan di grup WhatsApp, perlahan menjalar membawa duka yang sama ke banyak hati. Camat Baamang Sufiansyah, dikabarkan meninggal dunia.

    Ia mengembuskan napas terakhir di RSUD dr Murjani Sampit, meninggalkan jejak panjang pengabdian di wilayah yang selama ini ia pimpin.

    Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar luas. Dari kantor pemerintahan, dari grup ASN hingga masyarakat biasa emua seperti tersentak oleh satu berita yang sama.

    “Benar , beliau baru saja meninggal dunia. Jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Cristopel Mihing, Baamang Hilir,” ungkap Rahmat Noor, salah seorang pemuda yang akrab dengan mendiang.

    Bagi warga Baamang, Sufiansyah bukan sekadar camat.
    Ia adalah wajah yang akrab di berbagai kegiatan mulai dari rapat, turun lapangan, hingga hadir di tengah masyarakat dalam berbagai persoalan.

    Dalam beberapa agenda dan kesempatan sebelumnya, ia masih terlihat aktif menjalankan tugasnya sebagai kepala wilayah. Ia hadir dalam kegiatan pemerintahan, bahkan ikut turun langsung ke lapangan dalam berbagai agenda pembangunan dan sosial.

    Karena itu, kabar kepergiannya terasa begitu mendadak. Belum banyak kata yang bisa menjelaskan perasaan hari itu. Hanya doa yang perlahan menggantikan percakapan.

    Ucapan belasungkawa mengalir, tak hanya dari kalangan pejabat, tapi juga masyarakat yang pernah bersinggungan langsung dengan almarhum.

    Sosoknya dikenal sederhana, dekat dengan warga, dan tak jarang memilih hadir langsung ketimbang sekadar memberi instruksi.

    Di RSUD dr Murjani, tempat ia mengembuskan napas terakhir, suasana haru tak terelakkan.
    Keluarga, kerabat, dan rekan kerja mulai berdatangan, membawa kehilangan yang sama meski dengan cerita yang berbeda-beda tentang dirinya.

    Kini, Baamang kehilangan satu putra terbaiknya. Namun kenangan tentang Sufiansyah tak akan ikut pergi.

    Ia tinggal dalam cerita, dalam jejak pengabdian, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. (***)

  • Dana Pokir dan Hibah Kotim: Sinyal Keras Bupati Kotim Sentil Usulan Berbasis ”Kepentingan”

    Dana Pokir dan Hibah Kotim: Sinyal Keras Bupati Kotim Sentil Usulan Berbasis ”Kepentingan”

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tata kelola dana aspirasi atau Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi salah satu isu strategis yang ikut mengemuka dari pihak eksekutif.

    Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 menjadi panggung bagi Bupati Kotim Halikinnor memberikan penegasan normatif, yakni penyaluran Pokir dan hibah wajib berbasis masalah nyata, menepis kekhawatiran pergeseran fungsi menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.

    ”Pokok-pokok pikiran DPRD merupakan bagian penting dalam proses perencanaan pembangunan,” tegas Halikinnor dalam forum resmi tersebut, Kamis (26/3/2026).

    ”Namun demikian, saya berharap agar Pokir yang diusulkan benar-benar berbasis pada kebutuhan dan permasalahan riil di daerah pemilihan atau dapil masing-masing,” tambahnya.

    Secara mekanisme, jalur strategis penganggaran tersebut memang dinilai rawan disusupi kepentingan apabila tidak didasarkan pada data dan persoalan konkret di masyarakat.

    Pengamat kebijakan publik, Agung Adisetiyono, mengingatkan risiko tersebut.

    “Kalau tidak berbasis kebutuhan riil, maka program yang dihasilkan berisiko tidak tepat sasaran dan hanya mengulang pola lama setiap tahun,” ujarnya.

    Nilai yang dipertaruhkan dalam pusaran itu mencapai puluhan miliar rupiah. Sebelum kebijakan efisiensi pada tahun anggaran 2026, sejumlah pimpinan dan anggota dewan dalam berbagai pemberitaan menyebut kuota Pokir berada di kisaran Rp2 miliar per tahun untuk setiap anggota.

    Jika dikalikan 40 kursi legislatif, angka ini mengakumulasi total ruang anggaran hingga Rp80 miliar.

    Pemangkasan yang mengikuti kebijakan efisiensi anggaran saat ini tetap merepresentasikan ruang fiskal raksasa yang menuntut akuntabilitas ketat.

    Penegasan Standar Mutlak Pengusulan Pokir

    Halikinnor secara spesifik menetapkan empat syarat mutlak usulan Pokir, yakni mencerminkan aspirasi daerah pemilihan, berangkat dari masalah nyata, sejalan dengan prioritas daerah, serta mengantongi kejelasan lokasi, manfaat, dan kelompok sasaran.

    Dia juga meminta penyaluran hibah dan bantuan sosial terlepas dari jebakan rutinitas administratif dengan menerapkan asas selektif dan transparan. Targetnya, program tidak boleh berdiri sendiri tanpa arah yang jelas.

    Penegasan tersebut memperlihatkan adanya kesadaran di tingkat eksekutif bahwa mekanisme Pokir dan hibah berada dalam titik rawan penyimpangan apabila tidak dikendalikan secara ketat.

    Anomali Lapangan: Modus Pengondisian dan ‘Pinjam Bendera’

    Instruksi normatif di mimbar Musrenbang tersebut berhadapan dengan anomali lapangan. Laporan yang dihimpun Kanal Independen sebelumnya dari internal legislatif serta pihak terkait, menguak pola eksekusi yang diduga menyimpang dari asas pemerataan.

    Beberapa kelompok masyarakat disinyalir diarahkan mengajukan proposal ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tertentu saat alokasi anggaran diduga telah diarahkan atau ditentukan lebih awal melalui jalur Pokir.

    Proses verifikasi di tingkat dinas berisiko menyusut menjadi stempel pengesahan demi melegalkan daftar penerima hibah yang telah tersusun sebelum proposal resmi masuk.

    Eksekusi lapangan turut merekam indikasi manipulasi lewat skema pinjam nama perusahaan atau praktik ‘pinjam bendera’.

    Indikasi di lapangan menunjukkan keterlibatan entitas eksternal, sementara kendali pembelanjaan diduga tetap berada pada pihak internal tertentu.

    Rekanan disinyalir hanya menerima imbalan komisi dari nilai kegiatan, absen penuh dari pengelolaan substantif.

    Konstruksi Perbuatan Melawan Hukum

    Skema tertutup ini membuka ruang lebar bagi penggelembungan anggaran dan penyimpangan distribusi barang.

    Informasi yang dihimpun juga menyebut adanya kecenderungan penerima hibah berasal dari kelompok yang memiliki kedekatan dengan pihak tertentu, sementara kelompok lain yang tidak memiliki akses serupa berisiko terpinggirkan dari alokasi.

    Agung Adisetiyono menilai, rangkaian pengondisian ini melampaui kealpaan teknis administrasi.

    ”Menata proposal sejak awal, mengatur anggaran, hingga merekayasa pelaksanaan adalah konstruksi perbuatan melawan hukum yang sistematis,” tegasnya, dalam keterangan sebelumnya.

    Dia menambahkan, intervensi wakil rakyat hingga level teknis mengaburkan batas kewenangan fungsi penganggaran dan pelaksanaan, memperbesar potensi penyalahgunaan jabatan.

    Preseden Daerah Lain: Saat Modus Serupa Menjadi Perkara

    Rekam jejak pemberantasan korupsi nasional memvalidasi peringatan tersebut. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya membongkar kasus korupsi dana hibah Pokir DPRD Jawa Timur, memenjarakan sejumlah legislator yang terbukti memotong dana hibah dan memanipulasi eksekusi proyek.

    Putusan pengadilan menegaskan bahwa dalam perkara tersebut, praktik merekayasa penerima hibah dan memalsukan proses pengadaan adalah murni tindak pidana korupsi. (ign)

  • Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    SAMPIT, kanalindependen.id – Arus balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah melalui jalur laut di Pelabuhan Sampit mulai berlangsung. Namun, hingga Rabu (25/3/2026), pergerakan penumpang kapal yang tiba di Pelabuhan Sampit masih belum menunjukkan lonjakan signifikan.

    Meski Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta telah kembali beraktivitas usai libur panjang, jumlah penumpang kapal masih terpantau landai.

    Kondisi ini diduga dipengaruhi adanya “hari kejepit” di tengah pekan, di mana setelah beberapa hari masuk kerja, masyarakat kembali menghadapi libur akhir pekan.

    Selain itu, kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan pemerintah sebagai upaya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi mobilitas masyarakat.

    Tidak semua pekerja harus kembali ke tempat kerja dalam waktu bersamaan, sehingga arus balik tidak terjadi secara serentak.

    Faktor lain yang turut memengaruhi adalah masa libur sekolah yang belum berakhir. Kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai kembali pada Senin, 30 Maret 2026, sehingga sebagian masyarakat memilih menunda perjalanan kembali.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran, Gusti Muchlis, mengungkapkan bahwa pada kedatangan kapal perdana arus balik, jumlah penumpang masih relatif sedikit.

    ”Untuk KM Lawit yang datang hari ini hanya mengangkut 189 penumpang,” ujarnya.

    Kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) tersebut, berlayar dari Pelabuhan Tanjung Emas dan tiba di Pelabuhan Sampit sekitar pukul 12.30 WIB.

    KM Lawit dijadwalkan kembali berangkat pada Kamis (26/3/2026) pukul 09.00 WIB dengan estimasi jumlah penumpang mencapai 1.195 orang.

    Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat menggunakan transportasi laut masih cukup tinggi, meski arus balik belum mencapai puncaknya.

    ”Biasanya arus balik lewat kapal tidak langsung padat. Jumlah penumpang meningkat secara bertahap. Selain itu, ada juga yang memilih menggunakan transportasi udara,” jelas Muchlis.

    Untuk jadwal berikutnya, KM Kirana III dijadwalkan tiba di Pelabuhan Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIB dari Pelabuhan Tanjung Perak.

    Kapal tersebut akan kembali diberangkatkan menuju Surabaya pada Jumat (27/3/2026) pukul 10.00 WIB.

    Namun, hingga saat ini, pihak KSOP belum menerima data pasti terkait jumlah penumpang KM Kirana III, baik yang tiba maupun yang akan berangkat.

    ”Jumlah penumpang masih menunggu laporan dari operator kapal. Biasanya akan diketahui setelah kapal sandar,” tandasnya. (hgn/ign)