BMKG Deteksi Awan Hujan Masif, 10 Kecamatan di Kotim Masuk Radius Bahaya

SAMPIT, Kanalindependen.id – Selimut atmosfer di atas langit Bumi Tambun Bungai diproyeksikan berada dalam status waspada tinggi hingga pergantian hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Tengah (Kalteng) merilis peringatan dini darurat (early warning) terkait potensi hantaman hujan berintensitas sedang hingga lebat yang disertai sambaran petir frekuensi tinggi dan amukan angin kencang pada Sabtu (13/6) malam ini.

Pengepungan Awan Konvektif di 10 Kecamatan Kotim

​Berdasarkan citra radar satelit cuaca yang dipantau stasiun meteorologi lokal, pergerakan sel awan hujan konvektif terpantau berkembang sangat agresif di wilayah barat dan utara. Khusus di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), zona bahaya cuaca ekstrem ini mengepung sedikitnya 10 wilayah kecamatan hulu dan hilir meliputi:
– ​Kecamatan Kota Besi
– ​Kecamatan Cempaga dan Cempaga Hulu
– ​Kecamatan Mentaya Hulu
– ​Kecamatan Parenggean
– ​Kecamatan Antang Kalang
– ​Kecamatan Telawang
– ​Kecamatan Bukit Santuai
– ​Kecamatan Tualan Hulu
– ​Kecamatan Telaga Antang

​Selain menjadi ancaman serius bagi aktivitas warga di Kotim, gurita awan hujan ini juga dilaporkan memperluas jangkauan radarnya ke 11 wilayah kabupaten/kota tetangga lainnya. BMKG mendeteksi perturbasi atmosfer yang sama sedang terjadi di Kabupaten Katingan, Gunung Mas, Pulang Pisau, Kapuas, Seruyan, Lamandau, Murung Raya, Barito Utara, Sukamara, Kotawaringin Barat, hingga jantung ibu kota Provinsi di Kota Palangka Raya.

​Otoritas kebencanaan memperkirakan bahwa puncak anomali cuaca berupa hujan lebat dan angin kencang ini akan terus berlangsung secara konsisten hingga pukul 00.00 WIB tengah malam nanti.

​Peringatan cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG hingga tengah malam nanti tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai fenomena alam musiman biasa. Bagi Kabupaten Kotawaringin Timur, kedatangan hujan lebat dan angin kencang malam ini berpotensi menjadi “katalisator” yang memicu kerugian materiil hingga mengancam keselamatan jiwa publik akibat rapuhnya tata kelola infrastruktur hulu dan hilir yang sempat disorot redaksi dalam beberapa hari terakhir.

​Pertama, mari kita benturkan peringatan BMKG ini dengan fakta darurat penanganan infrastruktur jalan di lapangan. Ruas Jalan Negara lintas Sampit-Samuda kilometer 23 Desa Bapeang yang baru saja dilumuri tumpahan 250 meter minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pagi tadi, saat ini berada dalam kondisi yang teramat kritis. Meskipun tim taktis Damkar Sektor Eka Bahurui sudah melakukan penyemprotan deterjen, guyuran hujan lebat malam ini dipastikan akan kembali mengangkat sisa-sisa lemak nabati yang mengendap di dalam lubang aspal yang rusak selama dua tahun terakhir. Jalanan berlubang yang tertutup genangan air hujan akan menjelma menjadi jebakan maut yang tak terlihat bagi pengendara roda dua.

​Kedua, di pusat kota Sampit, proyek bandage (tambal sulam) hari ketiga di Jembatan Patah Jalan Kapten Mulyono juga dipertaruhkan. Konstruksi baja yang saat ini sedang telanjang bulat karena seluruh lantai kayunya dikupas habis, sangat rentan mengalami pergeseran struktural jika fondasi tanah di sekitar oprit jembatan tergerus aliran air hujan berkapasitas tinggi (scouring). Cuaca buruk ini tidak hanya berpotensi memperlambat estimasi kerja tim UPTD di bawah target 90 hari, tetapi juga menuntut pengawasan ekstra dari Dinas SDABMBKPRKP agar material 375 balok ulin baru yang ditumpuk di pinggir jalan tidak mengganggu drainase kota yang rawan memicu banjir genangan (urban flooding).

​Kanal Independen mengimbau secara radikal kepada seluruh masyarakat Kotim, terutama para buruh sawit di wilayah Mentaya Hulu dan Antang Kalang yang kerap melakukan mobilitas malam hari, untuk menunda perjalanan lintas kecamatan. Dengan minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU) di koridor jalan perkebunan, kombinasi angin kencang yang mampu merobohkan pohon besar atau papan reklame usang adalah ancaman nyata di depan mata. Jangan pernah berteduh di bawah struktur yang labil. Pemerintah daerah melalui BPBD dan Satlantas Polres Kotim wajib menyiagakan tim patroli perimeter guna mengantisipasi pohon tumbang dan penyumbatan total arus logistik daerah sebelum badai ini meredup di tengah malam.  (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *