Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Hujan Pagi, Udara Sampit Masih Berasap, ISPU PM2.5 Tembus 320

    Hujan Pagi, Udara Sampit Masih Berasap, ISPU PM2.5 Tembus 320

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sampit pada Kamis (17/9/2026) pagi belum sepenuhnya membersihkan udara dari kabut asap. Hingga sore hari, kondisi udara masih terpantau berkabut asap dengan kualitas udara berada pada kategori berbahaya.

    “Pagi hujan tapi siang hingga sore tetap berkabut. Mungkin kurang deras hujannya,” ungkap Dayah, salah seorang warga.

    Berdasarkan data BMKG Kotim pukul 17.00 WIB, jarak pandang di Sampit tercatat sekitar 4 kilometer. Kondisi cuaca dilaporkan berupa kabut asap.

    Suhu udara mencapai 29,9 derajat Celsius dengan kelembaban 65 persen. Angin bertiup dari arah selatan atau 180 derajat dengan kecepatan 7 kilometer per jam.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski hujan sempat turun pada pagi hari, kabut asap masih bertahan di udara Sampit.

    Data kualitas udara dari Sistem Informasi Pemantauan Kualitas Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai.

    Parameter kritis berada pada PM2.5 dengan nilai ISPU 320. Angka tersebut masuk kategori berbahaya.

    PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Tingginya konsentrasi partikel ini menjadi perhatian, terutama ketika masyarakat masih beraktivitas di luar ruangan.

    Kondisi udara tersebut terjadi di tengah ancaman karhutla yang masih tinggi di Kotawaringin Timur. Pada Kamis sore, BMKG dan BPBD Kotim mencatat 288 titik panas yang tersebar di sejumlah kecamatan.

    Sebanyak 281 titik atau sekitar 97,6 persen di antaranya terkonsentrasi di empat kecamatan, yakni Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Teluk Sampit.

    Situasi ini membuat hujan yang turun pagi hari belum serta-merta mengakhiri persoalan kabut asap di Sampit. Kondisi udara masih perlu dipantau, terutama apabila aktivitas kebakaran lahan kembali meningkat.

    Masyarakat diimbau memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan dan mengurangi paparan asap ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya. (***)

  • Karhutla di Kotim Masih Mengkhawatirkan, 288 Hotspot Terdeteksi, 98 Persen Terkonsentrasi di Empat Kecamatan

    Karhutla di Kotim Masih Mengkhawatirkan, 288 Hotspot Terdeteksi, 98 Persen Terkonsentrasi di Empat Kecamatan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih mengkhawatirkan. Sebanyak 288 titik panas (hotspot) terdeteksi berdasarkan rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Kamis (17/9/2026) pukul 16.00 WIB.

    Yang menjadi perhatian, hampir seluruh titik panas tersebut terkonsentrasi di empat kecamatan. Yakni Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Teluk Sampit.

    “Pulau Hanaut menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak. Tercatat 122 titik panas tersebar di sejumlah desa di kecamatan tersebut,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.

    Selanjutnya Mentaya Hilir Utara mencatat 56 titik, Mentaya Hilir Selatan 52 titik, dan Teluk Sampit sebanyak 51 titik.

    Jika digabungkan, empat kecamatan tersebut menyumbang 281 hotspot atau sekitar 97,6 persen dari total 288 titik panas di Kotim.

    Di Pulau Hanaut, hotspot tersebar di Bantian sebanyak 27 titik, Hanaut 28 titik, Makarti Jaya 26 titik, Bapinang Hilir Laut 19 titik, Rawa Sari 11 titik, Serambut 5 titik, serta Bapinang Hilir dan Babaung masing-masing tiga titik.

    Di Mentaya Hilir Utara, titik panas terdeteksi di Bagendang Hilir sebanyak 34 titik, Bagendang Tengah 20 titik, dan Natai Baru dua titik.

    Sementara di Mentaya Hilir Selatan, hotspot tersebar di Samuda Besar 19 titik, Samuda Kecil 15 titik, Sebamban lima titik, Basirih Hilir empat titik, Handil Sohor tiga titik, Samuda Kota tiga titik, Jaya Karet dua titik, dan Sei Ijum Raya satu titik.

    Untuk Kecamatan Teluk Sampit, Lampuyang menjadi lokasi dengan hotspot terbanyak, yakni 30 titik. Kemudian Parebok 18 titik dan Kuin Permai tiga titik.

    “Adapun hotspot di wilayah lainnya relatif lebih sedikit. Mentawa Baru Ketapang tercatat empat titik, Telaga Antang dua titik, dan Baamang satu titik,” imbuhnnya.

    Sebagian besar titik panas yang terdeteksi berada pada tingkat kepercayaan (confidence) medium hingga high.

    Kondisi tersebut menjadi perhatian karena hotspot dapat menjadi indikasi awal adanya kebakaran, terutama ketika berada di wilayah dengan kondisi lahan yang mudah terbakar.

    BPBD bersama tim satgas darat terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik panas dan potensi kebakaran di lapangan.

    Sebaran hotspot yang dominan di wilayah pesisir juga perlu diwaspadai karena kebakaran lahan dapat berkembang dan berdampak pada kualitas udara apabila tidak segera ditangani.

    Masyarakat di wilayah yang terdeteksi memiliki hotspot diimbau meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kebakaran lahan. (***)

  • Dari Lahan ke Dapur Rumah, Api Diduga Merambat dan Bakar Dua Bangunan di Ariyaga

    Dari Lahan ke Dapur Rumah, Api Diduga Merambat dan Bakar Dua Bangunan di Ariyaga

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kebakaran lahan kembali mengancam permukiman warga di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Api diduga merambat dari lahan yang terbakar hingga membakar bagian dua bangunan rumah di Kompleks Perumahan Ariyaga, Jalan Pengaringan Permai, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Selasa (15/9/2026).

    Peristiwa tersebut dilaporkan kepada petugas pemadam kebakaran sekitar pukul 16.03 WIB. Hanya satu menit kemudian, petugas bergerak menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 16.05 WIB.

    “Saat petugas tiba, api telah membakar bagian dapur salah satu rumah yang terbuat dari kayu serta bagian plafon. Api juga mengenai bagian atas plafon rumah lainnya,” Kepala Regu III Disdamkarmat Kotim Didit Guruh

    Berdasarkan laporan Damkarmat Kotim, dugaan sementara api berasal dari kebakaran lahan di belakang rumah. Api kemudian diduga merambat hingga mengenai dapur rumah yang menggunakan material kayu.

    “Informasi yang didapat dari pelapor selaku tetangga pemilik rumah, dugaan api berasal dari lahan yang terbakar di belakang rumah sehingga terjadi perambatan api dari lahan yang terbakar ke dapur pemilik rumah yang terbuat dari kayu,” tambahnya.

    Saat kebakaran terjadi, pemilik rumah pertama disebut sedang tidak berada di tempat.

    Petugas Damkarmat Kotim bersama dukungan sejumlah pihak langsung melakukan pemadaman. Api berhasil dilokalisir sekitar pukul 17.02 WIB.

    Proses pendinginan kemudian dilakukan mulai pukul 17.22 WIB. Petugas juga menyiram area lahan di sekitar rumah untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

    Operasional pemadaman dinyatakan selesai sekitar pukul 18.18 WIB. Petugas kemudian kembali ke Markas Komando Damkarmat dan tiba sekitar pukul 18.44 WIB.

    Dalam penanganan tersebut, Damkarmat mengerahkan satu unit mobil pemadam dan satu mobil tangki. Suplai air juga mendapat dukungan mobil tangki dari PT Wilmar dan PT Suka Jadi Sawit Mekar.

    Tim Posko Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan turut berada di lokasi. Wakil Bupati Kotawaringin Timur Irawati bersama rombongan juga datang ke lokasi kebakaran.

    Dua bangunan yang terdampak masing-masing berukuran sekitar 3 x 6 meter. Bangunan pertama merupakan rumah semi permanen dengan bagian dapur nonpermanen berbahan kayu yang terbakar serta bagian plafon. Bangunan kedua juga mengalami kebakaran pada bagian plafon.

    Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.

    Pemilik bangunan pertama diketahui bernama Muis, sekitar 35 tahun, dengan empat orang penghuni. Sementara identitas pemilik bangunan kedua belum diketahui karena ketua RT dan warga sekitar tidak mengetahui pemiliknya.

    Peristiwa ini kembali menunjukkan bagaimana kebakaran lahan dapat dengan cepat menjadi ancaman bagi permukiman, terutama ketika api berada di sekitar rumah warga.

    Petugas setelah pemadaman tidak hanya memastikan bangunan aman, tetapi juga melakukan penyiraman pada lahan di sekitar lokasi untuk mencegah api kembali menjalar.

    Hingga operasional berakhir, situasi kebakaran dinyatakan aman dan terkendali.(***)

  • Warga Hanjalipan Berduka, Mang Anto Meninggal Usai Ikut Padamkan Karhutla

    Warga Hanjalipan Berduka, Mang Anto Meninggal Usai Ikut Padamkan Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kabut asap masih menyelimuti Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Di tengah kondisi itu, warga dikejutkan kabar duka. Nur Rahmat, atau yang akrab disapa Mang Anto, meninggal dunia pada Selasa (15/9/2026).

    Sebelum meninggal, Mang Anto diketahui ikut berjibaku bersama warga memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mendekati permukiman.

    Warga Desa Hanjalipan, Tommy Aldianto, mengatakan kebakaran terjadi dari arah barat desa. Kobaran api disebut sempat mengepung kawasan permukiman dan membuat warga turun bersama-sama melakukan pemadaman.

    “Beliau sempat berjibaku bersama warga yang lain untuk memadamkan kobaran api yang mengepung Desa Hanjalipan dari arah barat. Alhamdulillah apinya dapat dijinakkan,” kata Tommy.

    Setelah api berhasil dikendalikan, warga kemudian kembali ke rumah masing-masing. Mang Anto juga pulang untuk beristirahat.

    Namun, setelah berada di rumah, almarhum sempat mengeluhkan sesak napas dan sakit kepala. Kondisi tersebut disampaikan istrinya kepada warga.

    Sekitar pukul 04.00 WIB, istrinya terbangun dan mendapati Mang Anto dalam kondisi tidak bergerak. Keluarga kemudian dipanggil untuk memastikan kondisinya.

    Almarhum kemudian dinyatakan meninggal dunia dan dimakamkan pada Selasa sekitar pukul 11.00 WIB.

    Kabar tersebut mengejutkan warga. Sebab, beberapa jam sebelumnya Mang Anto masih terlihat bersama warga berupaya mencegah api merambat lebih dekat ke permukiman.

    Jakaria, warga setempat, mengatakan api pada Senin malam cukup besar. Jarak kobaran disebut sudah tinggal beberapa puluh meter dari rumah warga.

    “Beliau ikut membantu memadamkan api dari belakang kampung. Malam itu apinya cukup besar dan jaraknya sudah tinggal beberapa puluh meter dari rumah warga. Masyarakat akhirnya bersama-sama turun supaya api tidak sampai ke permukiman,” ujar Jakaria.

    Selain membantu pemadaman, kebun sawit milik almarhum di sekitar lokasi juga disebut terdampak kebakaran.

    Meski Mang Anto sempat mengalami sesak napas dan sakit kepala setelah ikut pemadaman, hingga kini belum ada keterangan medis yang memastikan penyebab kematiannya.

    Camat Kota Besi Dedy Jauhari membenarkan kabar meninggalnya warga Hanjalipan tersebut. Ia mengatakan almarhum telah dimakamkan pada Selasa.

    “Benar, sudah dimakamkan,” ujar Dedy.

    Di tengah kabar duka itu, ancaman karhutla di Kecamatan Kota Besi belum sepenuhnya berakhir. Dedy menyebut masih terdapat titik api yang terpantau di sejumlah wilayah, mulai dari Palangan, Kandan, Camba, Soren, Simpur hingga Hanjalipan.

    Kondisi tersebut membuat warga masih harus menghadapi ancaman kebakaran dan asap di tengah lahan yang mudah terbakar.

    Tommy menyampaikan duka mendalam atas kepergian Mang Anto. Menurutnya, warga tidak menyangka sosok yang beberapa jam sebelumnya masih ikut membantu memadamkan api justru telah berpulang.

    “Rasanya tidak percaya beliau sudah berpulang duluan. Selamat jalan Mang Anto,” ucap Tommy.

    Kepergian Mang Anto menjadi duka bagi warga Hanjalipan. Di tengah kabut asap dan ancaman karhutla yang masih berlangsung, warga kehilangan sosok yang sebelumnya ikut turun bersama masyarakat menjaga permukiman dari kobaran api. (***)

  • Warga Bagendang Resah, Dua Beruang Madu Diduga Induk dan Anak Sering Serang Ternak

    Warga Bagendang Resah, Dua Beruang Madu Diduga Induk dan Anak Sering Serang Ternak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Warga Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dibuat resah dengan kemunculan dua ekor beruang madu di sekitar permukiman.

    Satwa liar tersebut disebut kerap berkeliaran di sekitar rumah warga. Bahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun petugas, dua beruang itu diduga telah beberapa kali menyerang ternak milik warga.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal mengenai kemunculan beruang madu disampaikan warga bernama Junah. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Pos Sampit turun melakukan observasi di Desa Bagendang Permai pada Selasa (15/9).

    Observasi berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Petugas juga berkoordinasi dengan pemerintah desa dan bertemu langsung dengan pelapor, kepala desa, ketua RT, staf desa serta warga setempat.

    “Dari informasi warga, beruang berjumlah dua ekor, diduga induk dan anak,” kata Muriansyah.

    Warga menyampaikan bahwa kemunculan beruang madu di kawasan tersebut bukan kejadian pertama. Satwa itu disebut sudah sering terlihat di sekitar permukiman, terutama ketika memasuki musim kemarau dan terjadi kebakaran lahan.

    Keberadaan dua beruang tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah serangan terhadap ternak warga, terutama ayam dan itik.

    Kondisi itu membuat warga takut dan resah saat beraktivitas di sekitar permukiman.

    Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA memberikan penjelasan kepada warga mengenai perilaku beruang madu. Petugas juga memasang satu set perangkap di lokasi dengan menggunakan buah nanas sebagai umpan.

    Pemasangan perangkap dilakukan dengan bantuan dan disaksikan staf desa serta warga.

    Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menangani keberadaan beruang madu yang mulai mendekati kawasan permukiman sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa liar dan manusia.

    BKSDA selanjutnya akan memantau kondisi perangkap dan keberadaan beruang madu di sekitar lokasi.

    Warga diminta tetap berhati-hati dan tidak melakukan tindakan sendiri apabila kembali melihat beruang. (***)

  • 1.706 Hektare Lahan Hangus, Pemkab Kotim Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla 15 Hari

    1.706 Hektare Lahan Hangus, Pemkab Kotim Perpanjang Tanggap Darurat Karhutla 15 Hari

    SAMPIT, Kanalindependen.id– Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menelan korban ekologis masif. Menanggapi situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim resmi memperpanjang masa status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan selama 15 hari, terhitung mulai 15 September hingga 30 September 2026.

    Penetapan keputusan krusial ini dipimpin langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan di Aula Rumah Jabatan Bupati Kotim, Senin (14/9/2026).

    Langkah perpanjangan status hukum ini diambil untuk mempercepat respons penanganan darurat serta mempermudah pengerahan armada pendukung dari tingkat daerah hingga pusat.

    “Penetapan status tanggap darurat ini menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan, mengoptimalkan sumber daya, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta memastikan masyarakat terdampak mendapatkan perlindungan dan bantuan yang diperlukan,” tegas Bupati Halikinnor, Senin (14/9/2026).

    Keputusan perpanjangan masa tanggap darurat ini didasarkan pada data kerusakan ekologis ekstrem yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 9 September 2026. Tercatat akumulasi 776 kejadian karhutla yang menghanguskan total 1.706 hektare lahan gambut serta kepungan 21.132 titik panas (hotspot).

    Perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana hingga 30 September 2026 memberi kewenangan payung hukum penuh bagi Pemkab Kotim untuk mencairkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) guna memobilisasi seluruh armada darat dan udara. Publik kini menuntut agar penerbitan dokumen administratif ini benar-benar berdampak langsung pada penanganan di tingkat tapak, bukan sekadar perpanjangan status di atas kertas.

    Bupati Halikinnor bersama jajaran forkopimda didesak memastikan penyerapan anggaran BTT tepat sasaran: menggratiskan masker N95 dan layanan medis penderita ISPA, menyediakan posko oksigen gratis di pemukiman padat, serta memasok air bersih bagi warga yang terdampak krisis intrusi air asin Sungai Mentaya.

    1.706 Hektare lahan gambut hangus! Pemkab Kotim perpanjang tanggap darurat 15 hari hingga 30 September!  Pemkab wajib tancap gas serap BTT untuk masker N95 gratis dan pemadaman udara masif. (***)

  • Pemuda 33 Tahun Ditemukan Meninggal di Suprapto Selatan, Polisi Pastikan Tak Ada Kekerasan

    Pemuda 33 Tahun Ditemukan Meninggal di Suprapto Selatan, Polisi Pastikan Tak Ada Kekerasan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Warga Jalan Suprapto Selatan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), digegerkan dengan penemuan seorang pemuda berusia 33 tahun yang meninggal dunia di dalam rumahnya, Senin (14/9).

    Korban berinisial Azh ditemukan setelah warga merasa curiga karena korban sudah sekitar tiga hari tidak terlihat beraktivitas maupun keluar rumah.

    Biasanya, korban terlihat menjalani aktivitas sehari-hari. Namun selama beberapa hari, keberadaannya tidak terlihat sehingga warga memutuskan mengecek rumah korban.

    Saat dilakukan pengecekan, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dalam rumah.

    Kapolsek Ketapang AKP Anis membenarkan penemuan tersebut. Ia mengatakan hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

    “Ya benar. Untuk korban tidak ada tanda-tanda kekerasan,” ujar Anis saat dikonfirmasi, Senin malam.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban diduga mengakhiri hidupnya di dalam rumah. Meski demikian, penanganan dan pemeriksaan tetap dilakukan sesuai prosedur untuk memastikan kondisi korban.

    Tim relawan Dompet Peduli Kotim bersama aparat kepolisian kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi.

    Jenazah korban dievakuasi sekitar pukul 13.30 WIB. Setelah itu, jenazah dibawa ke Instalasi Kamar Jenazah untuk menjalani pemeriksaan visum.

    Penemuan tersebut membuat warga sekitar terkejut. Sebab, kondisi korban baru diketahui setelah warga menyadari dirinya tidak terlihat selama beberapa hari.

    Kepolisian memastikan pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan. Selanjutnya, proses penanganan jenazah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. (***)

  • Kabar Duka dari Suprapto Selatan, Pemuda 33 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumah

    Kabar Duka dari Suprapto Selatan, Pemuda 33 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumah

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kabar duka datang dari Jalan Suprapto Selatan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (14/9/2026).

    Seorang pemuda berusia 33 tahun berinisial Azh ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya. Penemuan tersebut membuat warga sekitar geger.

    Korban diketahui setelah warga menyadari dirinya sudah beberapa hari tidak terlihat beraktivitas maupun keluar rumah. Kondisi itu menimbulkan kecurigaan karena korban biasanya masih terlihat melakukan aktivitas sehari-hari.

    Salah seorang warga sekitar, Jais, mengatakan korban sudah sekitar tiga hari tidak terlihat keluar rumah.

    “Kurang lebih tiga hari tidak kelihatan keluar rumah. Biasanya ada aktivitas, tapi beberapa hari ini tidak terlihat,” ujar Jais.

    Warga kemudian melakukan pengecekan ke rumah korban. Dari pengecekan tersebut, korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia.

    Laporan penemuan itu kemudian ditindaklanjuti petugas gabungan yang datang ke lokasi. Proses evakuasi jenazah dilakukan sekitar pukul 13.30 WIB dengan bantuan relawan dan BPBD.

    Jenazah selanjutnya dibawa ke instalasi kamar jenazah untuk menjalani pemeriksaan medis dan visum. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi serta penyebab kematian korban.

    Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kejadian tersebut. Polisi juga masih mendalami kronologi hingga penyebab kematian korban. (***)

  • Terdesak Karhutla di Teluk Sampit, Bekantan Jantan Muncul Sebatang Kara di Tepi Jalan Ujung Pandaran

    Terdesak Karhutla di Teluk Sampit, Bekantan Jantan Muncul Sebatang Kara di Tepi Jalan Ujung Pandaran

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya melumpuhkan kualitas udara, tetapi juga mengancam habitat satwa langka yang dilindungi. Pada Minggu (13/9/2026), seekor bekantan (Nasalis larvatus) jantan terpantau berada sebatang kara di atas pohon tepi jalan raya kawasan Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.

    ​Kemunculan satwa endemik Kalimantan berhidung panjang ini pertama kali diunggah oleh warga bernama Rini Al Rasyid pada Minggu pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Rini mengaku prihatin lantaran saat melintas kembali pada pukul 14.00 WIB, ia menyaksikan sejumlah titik api karhutla membakar vegetasi di sepanjang koridor jalan dekat lokasi kemunculan bekantan tersebut.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa kawasan pesisir Ujung Pandaran memang merupakan habitat alami bekantan dan lutung abu-abu yang didominasi vegetasi mangrove serta nipah.

    ​”Bekantan ini diduga pejantan yang kalah bersaing dari kelompoknya atau terpisah. Kami imbau masyarakat tidak panik dan jangan coba-coba menangkap atau melukai bekantan secara manual. Bekantan tidak akan menyerang jika tidak diganggu, namun taringnya yang tajam bisa memicu luka serius apabila merasa terancam,” imbau Muriansyah, Senin (14/9/2026).


    ​Rekam Jejak Krisis Habitat akibat Karhutla

    ​Kemunculan bekantan jantan di tepi jalan Ujung Pandaran terjadi di tengah kecamuk karhutla ekstrem yang mengepung Kecamatan Teluk Sampit. Data BMKG dan BPBD Kotim mencatat Teluk Sampit dikepung ribuan titik panas, dengan Desa Lampuyang dan kawasan pesisir sekitarnya menjadi pusat titik api paling parah.

    Kemunculan bekantan jantan sebatang kara di jalur utama Ujung Pandaran menelanjangi hancurnya benteng vegetasi mangrove dan nipah akibat kepungan karhutla pesisir Teluk Sampit. Ketika ruang jelajah yang kaya akan sumber pakan hangus terbakar dan terkepung asap pekat, satwa langka ini terdorong ke bahaya jalan raya yang rentan memicu konflik dengan manusia atau menjadi korban kecelakaan lalu lintas.

    ​BKSDA Pos Sampit didesak untuk tidak sekadar memberikan imbauan pasif, melainkan menerjunkan tim rescue ke koridor Ujung Pandaran guna memantau kondisi kesehatan satwa serta memastikan bekantan tidak ditangkap warga secara ilegal. Di sisi lain, Kepolisian bersama Gakkum LHK wajib mengusut tuntas penyebab munculnya titik kebakaran di sepanjang jalan Ujung Pandaran yang merusak ekosistem mangrove pelindung pantai.

    ​Satwa langka terdesak karhutla lagi!  Bekantan jantan muncul sebatang kara di tepi jalan Ujung Pandaran! BKSDA dan warga wajib amankan satwa endemik dari ancaman api dan penangkapan liar! (***)

  • Kepungan Asap Masih Mengkhawatirkan, ISPU Kotim 416 dan Masuk Daftar Terburuk Nasional

    Kepungan Asap Masih Mengkhawatirkan, ISPU Kotim 416 dan Masuk Daftar Terburuk Nasional

    SAMPIT, Kanalindependen.id  — Kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, semakin mengkhawatirkan. Kualitas udara di daerah ini tercatat masuk kategori berbahaya dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 416.

    Angka tersebut menempatkan Kotim di posisi kelima dalam daftar 10 wilayah dengan ISPU tertinggi di Indonesia berdasarkan data pemantauan yang ditampilkan.

    Kotim berada di bawah Pontianak Tenggara dengan ISPU 1.159, Kabupaten Gunung Mas 794, Kabupaten Barito Selatan Sanggu 682, serta Kabupaten Barito Kuala 447.

    Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan pencemaran udara sedang terkonsentrasi di sejumlah wilayah Kalimantan. Dari 10 daerah dengan ISPU tertinggi, sebagian besar berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

    Di Kalimantan Tengah, selain Kotim, Kabupaten Gunung Mas juga mencatat angka sangat tinggi. Mobile AQMS BPBD Provinsi Kalteng berada pada angka 321, sedangkan Kabupaten Kapuas mencapai 298 dan Kabupaten Murung Raya 263.

    Angka ISPU di atas 300 masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara yang dapat memberikan dampak kesehatan serius dan tidak lagi aman bagi masyarakat secara umum.

    Sementara nilai 201 hingga 300 masuk kategori sangat tidak sehat, yang berarti pencemaran udara dapat meningkatkan risiko kesehatan pada sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar.

    Tingginya ISPU di Kotim menjadi perhatian di tengah ancaman karhutla yang masih terjadi. Asap dari kebakaran dapat memperburuk kualitas udara, terutama ketika kondisi cuaca dan atmosfer membuat polutan bertahan lebih lama di permukaan.

    Situasi ini tidak hanya menyangkut jarak pandang atau munculnya kabut asap. Pencemaran udara juga membawa risiko langsung terhadap kesehatan masyarakat yang terus terpapar.

    Masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan. Penggunaan masker yang tepat dan upaya mengurangi masuknya asap ke dalam rumah juga penting dilakukan selama kualitas udara masih berada pada level berbahaya.

    Masuknya Kotim dalam daftar wilayah dengan pencemaran udara tertinggi secara nasional menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya berfokus pada titik api.

    Api mungkin berada di lokasi tertentu, tetapi dampaknya dapat menjalar jauh melalui asap dan memengaruhi kualitas udara serta kesehatan masyarakat. (***)