Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Tongkang Datang, Lanting Jadi Korban, Cerita Lama yang Terus Berulang di Sungai Cempaga

    Tongkang Datang, Lanting Jadi Korban, Cerita Lama yang Terus Berulang di Sungai Cempaga

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di Sungai Cempaga, suara mesin tongkang bukan lagi hal asing. Ia datang pelan, berat, membawa muatan besar dan bagi sebagian warga di bantaran sungai, kehadirannya justru membawa cemas.

    Kamis (26/3) siang itu, kecemasan itu kembali jadi nyata.

    Sebuah tongkang pengangkut bauksit melintas di wilayah Desa Patai, Kecamatan Cempaga. Tak lama berselang, gelombang besar menghantam tepian. Lanting-lanting warga yang sebelumnya tenang, mendadak bergoyang keras. Tali tambatan tak mampu menahan. Ada yang terlepas. Ada yang rusak. Bahkan satu sempat hanyut terbawa arus.

    “Kurang jelas apakah karena gelombang atau tertabrak, saya kurang tahu. Namun katanya dua lanting kena, tapi” kata Ardi, warga setempat, Jumat (27/3/2026).

    Video kejadian itu cepat menyebar. Suara panik terdengar jelas. Bukan karena baru pertama justru karena kejadian ini terlalu sering terjadi.

    Di dalam video menyebutkan ada empat lanting warga kena imbas senggolan tongkang.

    Di Sungai Cempaga, cerita seperti ini bukan lagi insiden, tapi pola.

    Warga mengaku aktivitas tongkang pengangkut bauksit sudah lama berlangsung dan nyaris tanpa jeda. Jalurt air yang dulunya jadi ruang hidup masyarakat, kini berubah menjadi lintasan rutin angkutan industri. Dan di tengah arus besar kepentingan itu, lanting-lanting kecil milik warga kerap jadi pihak yang paling rentan.

    “Sudah beberapa kali kejadian seperti ini. Lanting kami sering kena dampaknya,” ujar Ardi.

    Pertanyaannya sederhana: mengapa ini terus berulang?

    Apakah tidak ada pengaturan kecepatan saat tongkang melintas di kawasan permukiman? Apakah tidak ada jalur aman atau batas jarak yang wajib dijaga? Atau justru, keberadaan warga di bantaran sungai dianggap sebagai risiko yang harus mereka tanggung sendiri?

    Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan pemilik tongkang. Belum ada pula kejelasan soal tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

    Padahal bagi warga, lanting bukan sekadar bangunan terapung. Ia adalah rumah. Tempat bernaung. Sekaligus ruang hidup yang tak tergantikan.

    Setiap kali tongkang melintas tanpa kendali, yang dipertaruhkan bukan hanya kayu dan paku, tapi rasa aman yang perlahan terkikis.

    Warga tidak menolak aktivitas ekonomi. Mereka paham sungai adalah jalur vital. Tapi mereka juga ingin diakui bahwa di tepian sungai itu, ada kehidupan yang harus dilindungi.

    “Kalau memang ada kerugian, kami harap ada tanggung jawab. Dan ke depan, harus lebih hati-hati,” tegas Ardi.

    Namun sampai hari ini, Sungai Cempaga masih bercerita hal yang sama: tongkang datang, gelombang menghantam, lanting jadi korban.

    Dan pertanyaan itu tetap menggantung sampai kapan?. Yang jelas setiap, ada kabar ganti rugi oeh perusahaan keluhan warga terhenti. Begitu terus bila terjadi insiden serupa selanjutnya. Mungkin ceritanya baru akan berbeda bila sudah ada korban nyawa.  (***)

  • OpenAI Batalkan Pengembangan Fitur Percakapan Dewasa di ChatGPT

    OpenAI Batalkan Pengembangan Fitur Percakapan Dewasa di ChatGPT

    Kanalindependen.id – OpenAI dilaporkan resmi menahan, bahkan cenderung membatalkan rencana pengembangan fitur interaksi dewasa atau yang sempat populer dengan sebutan “NSFW mode” pada ChatGPT.

    Keputusan tersebut diambil menyusul kekhawatiran terkait dampak sosial, psikologis, serta risiko reputasi perusahaan.

    Mengutip Arstechnica.com, laporan internal menyebutkan bahwa sejumlah investor dan tim peneliti OpenAI merasa keberatan dengan arah pengembangan tersebut.

    Kehadiran fitur interaksi erotis dinilai berisiko memicu regulasi ketat di berbagai negara yang dapat menghambat ekspansi teknologi kecerdasan buatan (AI) secara umum.

    Dari sisi teknis, para peneliti menyoroti dampak psikologis yang belum sepenuhnya teruji. Penggunaan AI untuk interaksi seksual dikhawatirkan dapat memicu ketergantungan emosional, distorsi relasi antarmanusia, hingga gangguan kesehatan mental bagi kelompok pengguna tertentu.

    Selain itu, sistem moderasi saat ini dianggap belum cukup tangguh untuk menjamin fitur tersebut aman dari penyalahgunaan, terutama untuk melindungi pengguna di bawah umur.

    OpenAI pun mengakui belum memiliki data ilmiah yang memadai terkait konsekuensi jangka panjang dari interaksi intim antara manusia dan chatbot.

    Alih-alih mengejar fitur kontroversial, perusahaan besutan Sam Altman ini kini memilih untuk memfokuskan sumber daya pada pengembangan teknologi yang dinilai lebih bermanfaat luas dan memiliki standar keamanan tinggi.

    Langkah ini sekaligus menegaskan posisi OpenAI untuk tetap berada pada jalur pengembangan AI yang etis di tengah persaingan industri yang kian kompetitif. (***)

  • Buaya 1,5 Meter Terjerat Jala Warga di Jalan Iskandar Sampit, Sempat Picu Kebingungan Penanganan

    Buaya 1,5 Meter Terjerat Jala Warga di Jalan Iskandar Sampit, Sempat Picu Kebingungan Penanganan

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Warga di sekitar Jalan Iskandar 25, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendadak gempar. Seekor buaya muara sepanjang 1,5 meter ditemukan terjerat jala ikan milik warga setempat, Marliansyah,  Jumat (27/3/2026).

    ​Peristiwa bermula saat Marliansyah menjala ikan di muara Sungai Marjan, anak Sungai Mentaya yang merupakan habitat buaya. Bukannya ikan, ia justru mendapati seekor buaya yang tersangkut di jaringnya.

    ​”Buaya itu sedang makan ikan yang terkena jala. Saat mulutnya menyambar, langsung tersangkut di jaring,” ujar Marliansyah.

    ​Lantaran khawatir dan tidak memiliki peralatan khusus, Marliansyah memutuskan membawa buaya tersebut ke rumahnya. Setibanya di pemukiman, keberadaan predator tersebut langsung menarik perhatian warga yang berkerumun karena penasaran.

    ​Muncul persoalan saat warga mencoba melaporkan temuan ini ke pihak berwenang. Proses penanganan sempat terhambat akibat ketidakjelasan wewenang antarinstansi terkait.

    ​Laporan awal diarahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), namun informasi yang diterima warga menyebutkan penanganan konflik satwa tersebut kini dikoordinasikan dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim. Hal ini sempat memicu kebingungan di lapangan mengenai siapa yang harus mengeksekusi evakuasi secara cepat.

    ​Guna menghindari risiko keamanan bagi warga maupun keselamatan satwa, seorang pecinta satwa liar di Sampit, Harry Siswanto, mengambil inisiatif untuk mengamankan buaya tersebut sementara waktu.

    ​”Kami amankan sementara untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, baik bagi warga maupun kondisi buayanya sendiri,” kata Harry.

    ​Saat ini, pihak komunitas tengah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk pihak Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk menentukan langkah selanjutnya apakah satwa tersebut akan dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman atau dipindahkan ke tempat penangkaran.

    ​Konflik antara manusia dan satwa liar di bantaran Sungai Mentaya terus meningkat seiring menyempitnya habitat asli. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya sistem respons cepat dari otoritas berwenang guna mencegah jatuhnya korban di masa mendatang. (***)

  • Sungai Mentaya Bergejolak, Kelotok Muatan Sawit Nyaris Tenggelam

    Sungai Mentaya Bergejolak, Kelotok Muatan Sawit Nyaris Tenggelam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebuah kelotok bermuatan buah kelapa sawit nyaris tenggelam di Sungai Mentaya, tepatnya di hilir Dermaga Sebamban, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kamis sore (26/3/2026).

    Peristiwa ini langsung menghebohkan warga setelah video detik-detik kejadian beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, kelotok tampak oleng dihantam gelombang sebelum hampir karam.

    Diketahui, kelotok tersebut milik seorang warga bernama Badri. Saat kejadian, kapal tengah mengangkut muatan buah kelapa sawit yang diduga baru saja dipanen dari wilayah Muara Babirah, Kecamatan Pulau Hanaut.

    “Kelotok tersebut bermuatan kelapa sawit dari Muara Babirah,” ujar Kasmiri Ikas, warga yang berada di lokasi sekaligus perekam video.

    Diduga, kondisi Sungai Mentaya yang tengah bergejolak disertai angin kencang menjadi pemicu utama insiden tersebut. Gelombang yang cukup tinggi membuat kelotok kehilangan keseimbangan, ditambah beban muatan yang berat.

    Beruntung, warga sekitar sigap melakukan upaya penyelamatan. Dalam video yang beredar, kelotok berhasil ditahan sehingga tidak sampai tenggelam sepenuhnya.

    “Alhamdulillah orangnya selamat,” kata Bachtiar, warga Samuda.

    Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski demikian, peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi para pengemudi kelotok agar lebih waspada saat melintasi Sungai Mentaya, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat. (***)

  • Digugat karena Bikin Kecanduan, Meta dan YouTube Harus Bayar Rp 95 Miliar

    Digugat karena Bikin Kecanduan, Meta dan YouTube Harus Bayar Rp 95 Miliar

    Kanalindependen.id – Ruang sidang di Los Angeles itu menjadi saksi bagaimana sebuah kebiasaan yang awalnya tampak sepele menonton video dan bermain media sosial berubah menjadi persoalan besar yang menyeret dua raksasa teknologi dunia ke meja hijau.

    Mengutip arstechnica.com, Meta Platforms dan YouTube akhirnya dinyatakan bersalah dan diwajibkan membayar ganti rugi jutaan dolar kepada seorang perempuan muda yang mengaku hidupnya rusak akibat kecanduan sejak usia anak-anak.

    Kisah ini bermula ketika korban, yang masih sangat belia, mulai mengenal dunia digital. Di usia 6 tahun, ia sudah akrab dengan YouTube. Tiga tahun berselang, Instagram menjadi bagian dari kesehariannya. Apa yang semula hanya hiburan perlahan berubah menjadi ketergantungan. Waktu demi waktu habis di depan layar, tanpa terasa. Dunia nyata mulai menjauh, digantikan oleh arus konten yang tidak pernah berhenti.

    Di persidangan, terungkap bahwa kondisi tersebut bukan sekadar kebiasaan buruk. Korban mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri. Pihak penggugat meyakini bahwa akar masalahnya bukan hanya pada penggunaan, melainkan pada desain platform itu sendiri yang dinilai sengaja dibuat untuk membuat pengguna betah berlama-lama.

    Fitur seperti pemutaran otomatis dan gulir tanpa batas menjadi sorotan. Tanpa perlu mencari, konten terus mengalir. Tanpa perlu memilih, video berikutnya langsung berjalan. Dalam situasi itu, batas antara “sebentar lagi berhenti” dan “terus menonton” menjadi kabur. Juri melihat ada pola yang tidak kebetulan, melainkan bagian dari sistem yang memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

    Putusan pun dijatuhkan. Pengadilan menyatakan kedua perusahaan lalai dan harus bertanggung jawab. Total ganti rugi mencapai 6 juta dolar AS atau sekitar Rp 95 miliar, terdiri dari kompensasi dan hukuman tambahan. Dalam pembagian tanggung jawab, Meta Platforms menanggung porsi lebih besar dibandingkan YouTube.

    Yang membuat kasus ini berbeda adalah pendekatan hukumnya. Gugatan tidak menyerang isi konten yang selama ini dilindungi hukum di Amerika Serikat, melainkan menyasar bagaimana platform itu dibangun. Fokusnya ada pada desain yang dianggap mendorong kecanduan, terutama pada pengguna usia muda. Pendekatan ini membuka celah baru dalam upaya menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi.

    Banyak pihak mulai melihat putusan ini sebagai titik balik. Ribuan gugatan serupa disebut tengah menunggu proses hukum. Situasinya bahkan mulai dibandingkan dengan gelombang gugatan terhadap industri rokok puluhan tahun lalu, yang pada akhirnya mengubah wajah regulasi secara global.

    Meski demikian, Meta Platforms dan YouTube tidak menerima begitu saja hasil persidangan tersebut. Keduanya menyatakan akan mengajukan banding dan menilai bahwa persoalan kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan hanya pada satu faktor, apalagi satu platform.

    Di tengah perdebatan itu, satu hal menjadi jelas. Dunia mulai mempertanyakan kembali batas tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap penggunanya, terutama anak-anak. Kasus ini bukan sekadar tentang satu korban, tetapi tentang bagaimana sebuah sistem digital dapat memengaruhi kehidupan seseorang sejak usia dini.

    Dan dari ruang sidang itu, sebuah pesan perlahan menguat bahwa di balik layar yang tampak sederhana, ada mekanisme besar yang kini mulai dipertanyakan, bahkan dituntut untuk berubah. (***)

  • Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, Kamis (26/3/2026), suasana di Sampit mendadak berubah. Kabar yang awalnya beredar pelan di grup WhatsApp, perlahan menjalar membawa duka yang sama ke banyak hati. Camat Baamang Sufiansyah, dikabarkan meninggal dunia.

    Ia mengembuskan napas terakhir di RSUD dr Murjani Sampit, meninggalkan jejak panjang pengabdian di wilayah yang selama ini ia pimpin.

    Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar luas. Dari kantor pemerintahan, dari grup ASN hingga masyarakat biasa emua seperti tersentak oleh satu berita yang sama.

    “Benar , beliau baru saja meninggal dunia. Jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Cristopel Mihing, Baamang Hilir,” ungkap Rahmat Noor, salah seorang pemuda yang akrab dengan mendiang.

    Bagi warga Baamang, Sufiansyah bukan sekadar camat.
    Ia adalah wajah yang akrab di berbagai kegiatan mulai dari rapat, turun lapangan, hingga hadir di tengah masyarakat dalam berbagai persoalan.

    Dalam beberapa agenda dan kesempatan sebelumnya, ia masih terlihat aktif menjalankan tugasnya sebagai kepala wilayah. Ia hadir dalam kegiatan pemerintahan, bahkan ikut turun langsung ke lapangan dalam berbagai agenda pembangunan dan sosial.

    Karena itu, kabar kepergiannya terasa begitu mendadak. Belum banyak kata yang bisa menjelaskan perasaan hari itu. Hanya doa yang perlahan menggantikan percakapan.

    Ucapan belasungkawa mengalir, tak hanya dari kalangan pejabat, tapi juga masyarakat yang pernah bersinggungan langsung dengan almarhum.

    Sosoknya dikenal sederhana, dekat dengan warga, dan tak jarang memilih hadir langsung ketimbang sekadar memberi instruksi.

    Di RSUD dr Murjani, tempat ia mengembuskan napas terakhir, suasana haru tak terelakkan.
    Keluarga, kerabat, dan rekan kerja mulai berdatangan, membawa kehilangan yang sama meski dengan cerita yang berbeda-beda tentang dirinya.

    Kini, Baamang kehilangan satu putra terbaiknya. Namun kenangan tentang Sufiansyah tak akan ikut pergi.

    Ia tinggal dalam cerita, dalam jejak pengabdian, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. (***)

  • Kebakaran Tengah Malam di Sampit, Kamar Rusak Parah Kerugian Capai Puluhan Juta

    Kebakaran Tengah Malam di Sampit, Kamar Rusak Parah Kerugian Capai Puluhan Juta

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana malam yang seharusnya tenang di Perumahan Mandiri Residence, Jalan Walter Condrat, Desa Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendadak berubah mencekam, Rabu (25/3/2026) sekitar pukul 23.22 WIB.

    Sebuah kamar tidur milik Rani (24) dilaporkan terbakar secara tiba-tiba. Kepulan asap tebal yang muncul dari dalam rumah membuat warga sekitar panik dan berhamburan keluar untuk memastikan kondisi lingkungan tetap aman.

    Sejumlah saksi mata menyebut, sebelum api terlihat membesar, sempat terdengar dua kali suara ledakan dari arah kamar. Tak lama kemudian, asap hitam pekat membumbung dan memicu kepanikan di tengah malam.

    Kepala Peleton I Damkar Kotim, Akhmad Ilham Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan darurat dari warga.

    Tiga unit mobil pemadam kebakaran bersama satu unit rescue diterjunkan ke lokasi. Saat petugas tiba, api disebut sudah mulai mengecil, namun masih menyisakan asap di bagian plafon dan dinding kamar.

    “Petugas langsung melakukan penyiraman dan pendinginan selama beberapa menit hingga kondisi benar-benar aman,” ujarnya, Kamis (26/3/2026) .

    Petugas dari tiga regu piket memastikan tidak ada potensi api kembali menyala sebelum meninggalkan lokasi.

    Detik-detik kebakaran sempat memicu kepanikan warga sekitar. Dengan penerangan seadanya, sebagian warga berupaya membantu mengevakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

    Beruntung, api tidak sempat merambat ke bagian lain rumah maupun bangunan di sekitarnya. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

    Rani, pemilik rumah, mengaku syok namun bersyukur seluruh penghuni rumah selamat dari insiden tersebut.

    “Saya sangat panik, tapi bersyukur semua selamat. Petugas juga cepat datang,” ungkapnya.

    Kerugian Puluhan Juta, Penyebab Diselidiki
    Akibat kebakaran tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp30 juta. Sejumlah perabotan serta struktur kamar mengalami kerusakan cukup parah.

    Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Dugaan sementara mengarah pada sumber api dari dalam kamar yang memicu ledakan awal.

    Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama pada malam hari. Pemeriksaan instalasi listrik serta kesiapan alat pemadam sederhana di rumah dinilai penting guna mencegah risiko yang lebih besar. (***)

  • Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lebaran baru saja berlalu. Riuh silaturahmi mulai mereda, jalanan yang sempat padat kembali lengang, dan aktivitas perlahan kembali ke ritme biasa. Namun di Kotawaringin Timur, ada sesuatu yang justru mulai kembali api.

    Siang itu, Rabu (25/3/2026), asap membumbung dari semak belukar di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang. Tidak datang tiba-tiba. Ia seperti kelanjutan dari peringatan yang beberapa hari sebelumnya sudah disampaikan, namun belum benar-benar dirasakan.
    Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim turun ke lokasi, berjibaku menahan api agar tidak menjalar lebih luas di tengah kondisi lahan yang kering.

    “Titik kebakaran pertama sudah bisa diatasi pukul 15.23,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.

    Kata “terkendali” mungkin memberi rasa lega. Tapi di musim seperti ini, ia seringkali hanya berarti: untuk sementara.

    Sebab di balik satu titik api, ada banyak potensi lain yang menunggu giliran.

    Dalam 24 jam terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sejumlah hotspot di wilayah Kotim. Baamang hanya satu yang lebih dulu berubah menjadi kejadian nyata.

    Tak lama berselang, laporan lain masuk. Kali ini dari Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Titiknya masih dilacak, tapi sinyalnya jelas api mulai muncul di lebih dari satu lokasi, tepat setelah momen Lebaran berlalu.

    “Kami juga menerima laporan kebakaran dari arah Desa Eka Bahurui. Kami masih melacak titik koordinatnya,” kata Multazam.

    Kondisi ini sejalan dengan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah kini berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Cuaca kering, suhu panas, dan minimnya hujan menjadi kombinasi yang membuka ruang bagi api untuk tumbuh.

    Ironisnya, ini terjadi saat masyarakat baru saja melewati masa perayaan waktu di mana perhatian sering terpecah antara mudik, berkumpul, dan kembali ke rutinitas.

    Di sela-sela itu, potensi kebakaran sering luput dari perhatian.

    Padahal, di lahan gambut, api tak hanya menyala di permukaan. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, bergerak pelan, lalu muncul kembali di waktu yang tak terduga.

    BPBD kembali mengingatkan larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Imbauan yang hampir selalu terdengar setiap tahun, namun kerap tak cukup kuat untuk mencegah kejadian serupa.

    Dua titik kebakaran dalam satu hari, tepat setelah Lebaran, menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla tidak mengenal jeda perayaan.

    Justru sebaliknya ia sering datang ketika kewaspadaan mulai menurun.

    Dan seperti yang berulang tiap tahun, semuanya bisa dimulai dari api kecil di semak. Hingga akhirnya, menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar peringatan. (***)

  • Bukan Sekadar Satu Pelaku, 69 Janjang Sawit dan Dugaan Jaringan di Baliknya

    Bukan Sekadar Satu Pelaku, 69 Janjang Sawit dan Dugaan Jaringan di Baliknya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, kebun sawit di Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tampak seperti hari-hari biasa lengang, panas, dan nyaris tanpa aktivitas mencolok. Tapi justru di ruang yang sunyi itu, sebuah pola lama kembali berjalan.

    Seorang pria terlihat bolak-balik di antara barisan pohon sawit. Di pundaknya, janjang demi janjang diangkut menggunakan tojok. Ia bekerja cepat, berulang, seperti memahami betul kapan kebun sedang lengah. Ia adalah RD (39).

    Aksinya pertama kali terendus oleh petugas keamanan PT Sapta Karya Damai (SKD) saat patroli rutin, Senin (23/3) sekitar pukul 12.50 WIB di Blok J18 Divisi 11. Kecurigaan muncul bukan tanpa alasan pelaku tetap melanjutkan aktivitasnya meski telah ditegur.

    “Pelaku sempat diperingatkan, tetapi tidak mengindahkan. Itu yang membuat petugas curiga,” ujar Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko, Rabu (25/3/2026).

    Kecurigaan itu kemudian menemukan petunjuk lain. Di tepi parit, sebuah sampan (klotok) terparkir diam. Tak jauh dari situ, janjang sawit mulai tertumpuk di pinggir jalan blok seolah disiapkan untuk dipindahkan.
    Petugas tak langsung bergerak. Mereka memilih mengamati.

    Dari jarak sekitar 150 meter, RD masih terlihat keluar-masuk blok kebun, memanggul buah sawit dan menumpuknya di satu titik. Aktivitas itu berlangsung sekitar 20 menit cukup lama untuk memastikan bahwa ini bukan sekadar aktivitas biasa.

    Saat tim tambahan datang dan penyisiran dilakukan, semuanya berakhir cepat. RD keluar dari dalam blok sambil membawa tojok, lalu diamankan di dekat sampan tanpa perlawanan.

    Namun yang tersisa di lokasi justru membuka pertanyaan lebih besar.

    Sebanyak 28 janjang sawit ditemukan di pinggir jalan. Di lokasi lain, 41 janjang tambahan turut diamankan. Totalnya 69 janjang jumlah yang sulit diabaikan sebagai aksi spontan.

    Sampan yang digunakan menjadi petunjuk penting. Jalur parit diduga dipilih untuk menghindari pengawasan di akses darat cara lama yang berulang di banyak wilayah perkebunan.

    Di titik inilah, kasus ini tak lagi terlihat sederhana.
    Apakah RD bekerja sendiri? Atau hanya bagian kecil dari rantai yang lebih panjang?

    Polisi belum memberikan jawaban pasti. Namun penyelidikan masih terus berjalan untuk mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain di balik aksi tersebut.

    Pelaku kini telah diamankan dan dibawa ke Polres Kotawaringin Timur setelah melalui pendataan awal di kantor perusahaan. Ia dijerat Pasal 107 huruf d Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan serta Pasal 476 KUHP tentang pencurian.

    Di banyak kasus, pencurian sawit bukan sekadar soal satu orang yang tertangkap. Ia sering menjadi potongan kecil dari sistem yang bekerja dalam diam memanfaatkan luasnya kebun, celah pengawasan, dan jalur-jalur sunyi yang luput dari perhatian.

    Dan selama celah itu masih ada, cerita seperti ini hampir selalu menemukan cara untuk terulang. (***)

  • Kayu Jembatan Akses Kebun di Cempaka Mulia Barat Dicuri Maling, Warga Kehilangan Penghubung Hidup

    Kayu Jembatan Akses Kebun di Cempaka Mulia Barat Dicuri Maling, Warga Kehilangan Penghubung Hidup

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di Jalan Poros Pertanian, Desa Cempaka Mulia Barat, sebuah jembatan kecil menyimpan cerita besar. Ia bukan sekadar lintasan kayu yang menghubungkan dua sisi. Ia adalah jalan pulang, jalan kerja, sekaligus harapan bagi warga yang menggantungkan hidup dari kebun.

    Kini, jembatan itu tak lagi utuh.

    Fathur Rahman, warga setempat, menjadi salah satu yang pertama menyadari ada yang berubah. Bukan karena ada pemberitahuan resmi, melainkan dari kabar yang beredar pelan di antara warga.

    “Ini jembatan di jalan poros pertanian Cempaka Mulia Barat. Untuk akses ke kebun masyarakat dan kebun buah,” ujarnya.

    Awalnya, informasi soal kerusakan jembatan itu terdengar seperti kabar biasa. Namun, setelah sekitar sebulan isu itu beredar, Fathur memutuskan untuk mengecek langsung. Apa yang ia temukan justru mempertegas kekhawatiran warga.

    “Pas saya balik mengecek, ternyata benar,” katanya singkat.

    Sejumlah kayu penyangga jembatan disebut sudah hilang. Bukan lapuk dimakan usia, melainkan diduga kuat dicuri. Dugaan itu bukan tanpa dasar, meski hingga kini belum ada bukti kuat yang bisa dibawa ke ranah hukum.

    “Saya sudah amati. Ada saksi juga, cuma memang kurang alat bukti saja,” ungkap Fathur.

    Pengakuan itu membuka satu persoalan yang lebih besar: lemahnya pengawasan terhadap infrastruktur yang justru vital bagi masyarakat desa. Di tempat yang jauh dari sorotan, kehilangan bisa terjadi tanpa suara dan dampaknya langsung terasa.

    Bagi warga, hilangnya kayu jembatan bukan sekadar kerugian material. Itu berarti risiko setiap kali mereka melintas. Jalan menuju kebun yang seharusnya menjadi rutinitas, kini berubah menjadi ancaman.

    Tidak ada garis pengaman. Tidak ada peringatan. Hanya sisa jembatan yang mulai rapuh, dan warga yang terpaksa tetap melintas karena tak punya pilihan lain.

    Lebih ironis lagi, hingga saat ini belum ada tanda-tanda penanganan dari pihak terkait. Tidak ada perbaikan, tidak pula penyelidikan terbuka. Seolah kehilangan itu terlalu kecil untuk dianggap penting.

    Padahal, bagi warga Cempaka Mulia Barat, jembatan itu adalah penghubung hidup.

    Ketika kayunya dicuri, yang ikut hilang bukan hanya struktur fisik melainkan rasa aman dan kepastian. Dan selama tak ada tindakan nyata, warga hanya bisa berharap: sebelum jembatan itu benar-benar runtuh, ada yang akhirnya peduli. (***)