Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Pantai yang Dicintai, Tapi Tak Dijaga, Kisah Lebaran di Ujung Pandaran

    Pantai yang Dicintai, Tapi Tak Dijaga, Kisah Lebaran di Ujung Pandaran

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Langit di Ujung Pandaran tetap sama biru yang luas, angin yang tak pernah benar-benar diam, dan ombak yang setia datang dan pergi. Tapi Lebaran tahun ini membawa sesuatu yang berbeda: manusia datang lebih banyak dari biasanya.

    Sejak hari H Idulfitri hingga H+3, arus wisatawan mengalir tanpa jeda ke pesisir Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Jalanan menuju pantai padat, area parkir meluber, dan garis pantai berubah menjadi hamparan manusia yang mencari jeda dari rutinitas.

    Di atas pasir, keluarga-keluarga membentang tikar. Anak-anak berlarian mengejar ombak, orang tua sibuk mengabadikan momen. Tawa terdengar di mana-mana, bercampur dengan suara debur laut. Ujung Pandaran kembali menjadi ruang pulang tempat orang-orang merayakan kebersamaan.

    Dari sisi ekonomi, denyutnya terasa. Penginapan di sekitar kawasan hampir tak menyisakan kamar kosong. Pelaku usaha kecil ikut kecipratan berkah. Libur Lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu menjadi musim panen bagi kawasan ini.

    Wakil Bupati Kotim, Irawati, yang turun langsung ke lokasi pada Selasa (24/3/2026), mengakui lonjakan kunjungan tahun ini lebih tinggi dibanding sebelumnya.

    “Kalau kita lihat langsung di lapangan, pengunjung memang jauh lebih ramai. Bahkan dari laporan pengelola, tingkat kunjungan meningkat dibanding tahun lalu,” ujarnya.

    Wisatawan yang datang pun tak lagi didominasi warga lokal. Beberapa di antaranya berasal dari luar Kalimantan dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Ujung Pandaran semakin dikenal, semakin dicari.

    Namun, di balik keramaian itu, ada cerita lain yang tak selalu masuk ke dalam foto-foto liburan.

    Di sela tikar dan jejak kaki di pasir, sampah mulai terlihat. Bungkus makanan, botol plastik, hingga sisa-sisa yang ditinggalkan begitu saja. Pola lama yang kembali berulang: datang untuk menikmati, pergi tanpa benar-benar peduli.

    Lonjakan pengunjung membawa berkah, tapi juga meninggalkan persoalan yang sama kesadaran yang belum ikut tumbuh.

    “Kami minta kesadaran bersama. Datang menikmati pantai, tapi jangan tinggalkan sampah. Minimal bawa kantong sendiri dan buang di tempat yang tersedia,” tegas Irawati.

    Di lapangan, petugas dan relawan tampak menyisir kawasan pantai, memunguti sampah satu per satu. Pekerjaan yang seolah tak pernah selesai, terutama saat jumlah pengunjung melonjak drastis.

    Ironisnya, pantai yang begitu dicintai justru perlahan dibebani oleh perilaku pengunjungnya sendiri.

    Ujung Pandaran kini berada di persimpangan: antara menjadi destinasi yang terus tumbuh atau kawasan yang pelan-pelan kehilangan daya tariknya karena tak terjaga.

    Sebab pada akhirnya, mencintai tempat seperti pantai bukan hanya soal datang dan menikmati. Tapi juga tentang bagaimana meninggalkannya tetap bersih, tetap layak, dan tetap indah untuk kembali. (***)

  • Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pencarian yang sempat terhenti saat gema takbir Idulfitri akhirnya berujung kepastian pahit. Muh Syahrir, anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang di Sungai Mentaya, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Minggu pagi (22/3/2026).

    Tubuhnya ditemukan sekitar pukul 07.30 WIB di wilayah Terantang. Bukan oleh tim penyelamat, melainkan oleh ABK kapal lain yang melintas di jalur perairan tersebut.
    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, memastikan temuan itu.

    “Jam 07.30 korban ditemukan oleh ABK kapal di Terantang dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.

    Penemuan ini menutup pencarian yang sebelumnya berlangsung dalam ritme terputus. Tim gabungan sempat menyisir perairan Sungai Mentaya sejak laporan hilangnya korban pada Kamis malam (19/3). Namun, operasi dihentikan sementara saat Salat Idulfitri, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.

    Syahrir sebelumnya dilaporkan hilang dari atas tongkang BG Marine Jaya II yang ditarik TB Ocean Marine 2. Rekaman CCTV menjadi petunjuk terakhir ia terlihat berjalan ke arah buritan kapal, lalu lenyap dari jangkauan kamera. Tidak ada saksi, tidak ada suara minta tolong. Hanya jeda, lalu kekosongan.

    Pencarian awal dilakukan kru kapal dengan menyisir badan tongkang hingga perairan sekitar. Hasilnya nihil. Upaya diperluas melibatkan tim gabungan, namun waktu berjalan lebih cepat dari pencarian itu sendiri.

    Dua hari kemudian, sungai mengembalikan tubuhnya.
    Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan. Jenazah Syahrir dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

    Di tengah suasana hari raya yang identik dengan kepulangan dan pertemuan, kabar ini justru datang sebagai kehilangan. Sungai Mentaya, yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga, sekali lagi menyisakan cerita yang tak sepenuhnya terjawab. (***)

  • Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam-malam terakhir Ramadan biasanya diisi gema takbir dan persiapan menyambut Hari Raya. Namun di tepian Sungai Mentaya, suasana itu terasa berbeda. Ada satu nama yang terus dipanggil dalam diam: Muh Syahrir.

    Ia adalah anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang dari sebuah tongkang di perairan Mentaya. Hingga Sabtu (21/3), keberadaannya masih menjadi tanda tanya.

    Kamis malam (19/3/2026) sekitar pukul 22.44 WIB, rekaman CCTV di atas tongkang BG Marine Jaya II merekam aktivitas terakhir Syahrir. Ia terlihat naik turun tangga, lalu berjalan ke arah buritan bagian paling belakang kapal. Setelah itu, ia tak lagi terlihat.
    Tak ada teriakan. Tak ada saksi.

    Beberapa jam berselang, Jumat dini hari (20/3/2026) sekitar pukul 01.07 WIB, kru kapal mulai menyadari ada yang tidak beres. Saat tongkang bersandar di rede Sampit, Syahrir tak ditemukan di mana pun. Pencarian awal dilakukan di seluruh bagian kapal dari ruang akomodasi hingga dek luar. Hasilnya nihil.

    Pencarian kemudian melebar. Kapten kapal memerintahkan penyisiran ke arah Luwuk Bunter mulai pukul 01.40 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Upaya itu dilanjutkan kembali hingga pagi, namun jejak Syahrir tetap tak ditemukan.

    Di darat, tim gabungan juga bergerak. Posko didirikan, koordinasi dilakukan. Namun hingga kini, hasilnya masih sama: Syahrir belum ditemukan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya masih menunggu langkah lanjutan setelah Salat Idulfitri.

    “Masih belum terkonfirmasi ditemukan. Kami tetap bersiaga di posko dan akan koordinasi lanjutan dengan tim SAR setelah Salat Id,” ujarnya.

    Keputusan menunda lanjutan pencarian hingga setelah Salat Id menyisakan pertanyaan. Di satu sisi, ini adalah momen besar keagamaan. Namun di sisi lain, waktu adalah faktor krusial dalam operasi pencarian.

    Di tengah gema takbir yang mulai berkumandang, ada keluarga yang menunggu kabar yang tak kunjung datang. Ada harapan yang bertahan, meski terus diuji.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah hilangnya seorang ABK. Ia membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sistem keselamatan kerja di atas kapal dijalankan? Mengapa tidak ada yang mengetahui saat seseorang menghilang di area terbuka seperti buritan?

    Dan sejauh mana pengawasan benar-benar dilakukan, terutama pada malam hari?

    CCTV memang merekam. Tapi rekaman itu baru disadari setelah semuanya terjadi.

    Kini, Sungai Mentaya kembali tenang di permukaan. Namun di balik arusnya, ada cerita yang belum selesai. Tentang seorang pekerja yang hilang di penghujung Ramadan dan tentang pencarian yang masih terus berjalan, di antara takbir dan harapan. (***)

  • Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Takbir berkumandang. Pagi itu, Sabtu (20/3/2026) suasana Idulfitri terasa khidmat di Perguruan Muhammadiyah Sampit.

    Di atas mimbar, Khatib Salat Idulfitri, HM Fatchurrahman, tidak hanya mengajak jamaah merayakan kemenangan. Ia justru mengajak untuk bertanya tentang apa yang tersisa setelah Ramadan pergi.

    “Kita baru saja menunaikan ibadah puasa Ramadan, bulan yang mulia dan sangat dirindukan orang beriman,” ucapnya.

    Namun ia tak berhenti pada pujian.
    Ramadan, kata dia, bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga bulan pendidikan. Tempat manusia dilatih menahan diri bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari segala yang dilarang.

    Masalahnya, semangat itu tak selalu bertahan.
    Di awal Ramadan, masjid dan musala penuh. Saf-saf rapat. Namun perlahan, jumlah jamaah menyusut. Hingga di sepuluh malam terakhir yang justru paling istimewa sebagian orang malah sibuk di pusat perbelanjaan.

    Padahal di situlah letak inti Ramadan.
    “Malam yang lebih baik dari seribu bulan justru sering terlewatkan,” sindirnya halus.

    Kini Ramadan telah pergi.
    Pertanyaannya, apakah nilai-nilainya ikut pergi?
    Dulu, selama sebulan penuh, umat Islam rela menahan diri. Tapi setelah itu, apakah masih mampu menahan diri dari yang haram?

    Ia mengingatkan, larangan Allah bukan hanya berlaku saat Ramadan.

    Mengutip Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik, serta menjaga setiap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
    Lebih jauh, ia mengajak jemaah untuk merenung lebih dalam.

    Seakan Ramadan berbicara.
    “Apakah kalian masih menjaga tangan kalian setelah aku pergi?”

    Pertanyaan itu bukan tanpa makna. Sebab pada akhirnya, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi.

    “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan,” ujarnya, mengutip QS Yasin ayat 65.

    Tak hanya itu, Ramadan juga seakan bertanya: apakah kita masih menjaga pandangan, pendengaran, dan hati?
    Selama sebulan, semua itu dijaga. Tapi setelahnya, sering kali kembali longgar.

    Padahal, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
    Ia juga menyinggung kebiasaan baik selama Ramadan bersedekah, membantu sesama, mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Hal-hal yang sering kali perlahan ditinggalkan setelah bulan suci berlalu.

    Jangan sampai, katanya, Al-Qur’an yang dulu sering dibaca justru kalah oleh layar gawai. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan nyata.

    Dalam satu kalimat yang terasa menampar, ia menggambarkan Ramadan seperti tamu.

    “Aku hanya pulang, namun aku seperti tamu yang tidak diharapkan kembali.”

    Sebuah sindiran, sekaligus pengingat.
    Bahwa semangat Ramadan seharusnya tidak berhenti di hari kemenangan.

    Di akhir khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk berdoa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang tengah dilanda musibah.

    Ia memohon agar umat tetap diberi kekuatan untuk istiqamah, menjaga iman, dan kembali dipertemukan dengan Ramadan di masa mendatang.

    Idulfitri, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan.
    Ia adalah titik awal. Pertanyaannya sederhana tapi sering dihindari: setelah Ramadan pergi, apa yang benar-benar kita bawa?(***)

  • Danau Tak Terkelola Jadi Tempat Liburan, Nyawa Jadi Taruhan

    Danau Tak Terkelola Jadi Tempat Liburan, Nyawa Jadi Taruhan

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Airnya tenang. Sekilas terlihat aman.

    Di beberapa sudut Kota Sampit, danau-danau itu kini berubah wajah. Dari bekas galian C yang dulu ditinggalkan, kini menjelma menjadi tempat wisata dadakan. Orang datang, anak-anak bermain, keluarga berkumpul.

    Tak banyak yang tahu atau mungkin tak banyak yang mau tahu apa yang tersembunyi di balik permukaan airnya.

    Kedalamannya tak selalu terukur. Dasarnya tak selalu rata. Dan pengawasannya, sering kali, nyaris tak ada.
    Libur Lebaran hanya akan memperbesar semuanya: jumlah pengunjung, tingkat keramaian, dan tentu saja risiko.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyebut pihaknya tidak ingin kecolongan lagi. Pengalaman awal tahun 2026 menjadi pengingat yang sulit dilupakan.

    Seorang anak berusia 12 tahun meninggal dunia akibat tenggelam di lokasi wisata air.

    Sebuah tragedi yang seharusnya cukup untuk membuat semua pihak berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya seaman apa tempat-tempat ini?

    “Kami mempersiapkan diri, bukan hanya di Ujung Pandaran, tapi juga di lokasi wisata dalam kota, terutama wisata air,” ujar Multazam.

    Namun kesiapan itu tampaknya masih harus berpacu dengan kenyataan di lapangan.

    BPBD hanya menyiagakan 12 personel khusus pada hari kedua dan ketiga Lebaran di titik-titik rawan. Sementara di luar itu, petugas tetap siaga 24 jam di posko menunggu laporan, menunggu kejadian.

    Jumlah yang terasa kecil jika dibandingkan dengan potensi lonjakan pengunjung di banyak titik sekaligus.

    Sementara itu, tidak semua lokasi wisata memiliki pengelolaan yang memadai. Beberapa memang sudah dikelola, tapi tak sedikit yang dibiarkan tanpa kontrol.

    Tanpa standar keselamatan. Tanpa pembatas area berbahaya. Tanpa pengawasan yang jelas.

    Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal kesiapan BPBD semata.

    Ini soal siapa yang bertanggung jawab.

    BPBD sendiri mengakui, banyak kejadian di wisata air berawal dari kelalaian. Entah dari pengunjung yang abai, atau pengelola yang tidak benar-benar menyiapkan sistem pengamanan.

    Padahal, ketika sebuah tempat dibuka atau dibiarkan menjadi ruang publik, maka keselamatan seharusnya menjadi prioritas, bukan pilihan.

    BPBD berharap ada kolaborasi dengan sukarelawan dan masyarakat. Mereka juga meminta pengelola wisata untuk menambah personel pengawasan.
    Namun harapan saja tak cukup jika tidak diikuti tindakan nyata.

    Sebab ketika danau-danau tak terkelola itu terus dipadati pengunjung, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kenyamanan liburan.

    Melainkan nyawa. (***)

  • Saat Hilal Tak Terlihat, Perbedaan Kembali Tak Terelakkan

    Saat Hilal Tak Terlihat, Perbedaan Kembali Tak Terelakkan

    Kanalindependen.id – Malam itu, keputusan kembali diambil. Bukan tanpa perhitungan, bukan pula tanpa perdebatan.

    Di balik meja Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama RI, Kamis (19/3/2026), berbagai data dikumpulkan, laporan dibacakan, dan hasil pengamatan dari seluruh penjuru Indonesia disampaikan satu per satu. Namun ujungnya sama: hilal tak terlihat.

    Dari 117 titik pemantauan, tak satu pun yang berhasil melihat tanda awal bulan Syawal itu.

    “Berdasarkan hasil hisab dan laporan rukyat, hilal belum memenuhi kriteria. Karena itu, 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada Sabtu (21/3/2026),” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar.

    Secara astronomis, posisi hilal memang masih berada di bawah ambang batas visibilitas yang ditetapkan pemerintah berdasarkan standar MABIMS. Tingginya belum cukup, elongasinya belum memenuhi syarat. Dengan kata lain, Syawal belum bisa dimulai setidaknya menurut metode ini.

    Namun di luar ruang sidang, keputusan itu bukan satu-satunya.

    Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan Idulfitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Metode yang digunakan berbeda: hisab dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Tanpa menunggu terlihatnya hilal, perhitungan matematis sudah memberikan kepastian.

    Dan seperti yang sudah-sudah, Indonesia kembali berada di dua tanggal.

    Perbedaan ini bukan hal baru. Ia hadir hampir setiap tahun, menjadi semacam “ritual lain” menjelang Lebaran. Bagi sebagian orang, ini membingungkan. Bagi yang lain, ini sudah menjadi bagian dari dinamika.

    Di satu sisi, ada rukyat pengamatan langsung terhadap hilal. Di sisi lain, ada hisab perhitungan ilmiah yang tak bergantung pada cuaca atau visibilitas.

    Keduanya punya dasar. Keduanya punya pengikut.
    Pemerintah pun kembali menyampaikan imbauan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: menjaga toleransi.

    Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal kapan dirayakan. Tapi bagaimana perbedaan itu disikapi.
    Karena ketika hilal tak terlihat, yang sering kali justru paling tampak adalah perbedaan itu sendiri. (***)

  • Harga Naik Gila-gilaan, Warga Sampit Tetap Borong Emas Jelang Lebaran

    Harga Naik Gila-gilaan, Warga Sampit Tetap Borong Emas Jelang Lebaran

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Harga emas boleh saja melonjak tinggi, tapi satu hal yang sulit dibendung: keinginan tampil “lebih” saat Lebaran.

    Di sudut-sudut toko emas di Kota Sampit, terutama di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM), suasana justru semakin ramai. Kilau etalase seolah tak pernah sepi dari tatapan, bahkan ketika harga per gramnya sudah bikin dahi berkerut.

    “Naiknya lumayan drastis. Dibanding hari biasa, penjualan naik sekitar 30 persen. Kalau mendekati Lebaran, bisa tembus 40 persen,” ujar Muliana Sari, pengelola toko emas, Rabu (18/3/2026).

    Angka itu bukan sekadar statistik. Ia hidup dalam antrean, dalam percakapan ringan di depan etalase, dalam keputusan spontan membeli meski harga tak lagi bersahabat.

    Harga emas sendiri masih bergerak liar, mengikuti pasar global. Sempat melonjak, kini sedikit melandai. Tapi jika dibandingkan tahun lalu, lonjakannya terasa “tidak main-main”.

    Emas 999 yang dulu berada di kisaran Rp1,6 jutaan per gram, kini sudah menyentuh Rp2,5 jutaan. Selisihnya lebih dari 60 persen.

    Logikanya sederhana: harga naik, pembeli turun. Tapi yang terjadi di Sampit justru sebaliknya.

    “Tidak terlalu berpengaruh. Walaupun mahal, orang tetap beli,” kata Lia, sapaan akrab Muliana.

    Fenomena ini menarik. Jika biasanya perbandingan pembeli dan penjual emas ada di angka 60:40, kini berubah drastis menjadi 80:20. Artinya, lebih banyak orang datang untuk membeli ketimbang melepas perhiasan mereka.

    Ada sesuatu yang lebih dari sekadar transaksi di sini.
    Bagi sebagian warga, khususnya perempuan, emas bukan hanya soal nilai. Ia adalah simbol tentang kesiapan menyambut hari kemenangan, tentang kepercayaan diri saat bersilaturahmi, bahkan tentang “status kecil” yang ingin ditampilkan tanpa banyak kata.
    Fitriani, salah satu pembeli, mengaku sengaja menyisihkan THR-nya untuk membeli emas.
    Bukan tanpa alasan.

    “Saya beli emas supaya uang THR tidak habis untuk belanja saja. Jadi bisa jadi simpanan juga,” ujarnya.

    Di tengah budaya konsumtif jelang Lebaran, keputusan itu terasa seperti jalan tengah: antara ingin tampil dan tetap berpikir jangka panjang.

    Data per 13 Maret 2026 menunjukkan harga emas di Sampit memang sedang tinggi. Emas Antam tembus Rp3,15 juta per gram, UBS di Rp2,95 juta. Sementara emas perhiasan seperti 999 di Rp2,55 juta, dan kadar lebih rendah seperti 375 berada di kisaran Rp1,18 juta.

    Namun di balik angka-angka itu, ada pola yang sulit diabaikan: emas tak lagi sekadar barang mewah. Ia sudah menjadi “alat bertahan”.

    Ketika kebutuhan meningkat, harga naik, dan godaan belanja Lebaran tak terhindarkan emas justru dipilih sebagai cara menyelamatkan nilai uang.

    Di Sampit, kilau emas bukan hanya soal gaya. Tapi juga tentang cara masyarakat berdamai dengan kondisi ekonomi dengan cara mereka sendiri. (***)

  • Saat Jalan Tak Lagi Aman, Kecelakaan di Kota Besi Sisakan Duka

    Saat Jalan Tak Lagi Aman, Kecelakaan di Kota Besi Sisakan Duka

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Jalan yang setiap hari dilalui, tak selalu menjanjikan keselamatan. Rabu pagi (18/3/2026), suasana di Jalan Tjilik Riwut KM 17, Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, berubah menjadi duka setelah kecelakaan lalu lintas merenggut satu nyawa.

    Peristiwa terjadi sekitar pukul 08.30 WIB, melibatkan satu unit sepeda motor Honda Supra tanpa nomor polisi dan sebuah mobil pikap Grandmax warna silver bernomor polisi KH 8271 BR.

    Kecelakaan bermula saat sepeda motor yang dikendarai JS (35) melaju dari arah Kota Besi menuju Sampit. Di titik kejadian, korban diduga hendak berbelok ke kanan.

    Namun, manuver tersebut dilakukan tanpa memberikan isyarat atau menyalakan lampu sein. Di saat bersamaan, mobil pikap yang berada tepat di belakang tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar.

    Tabrakan dari arah belakang pun tak terelakkan.

    Benturan keras membuat korban terjatuh ke badan jalan. Nahas, korban kemudian terlindas dan mengalami luka serius di bagian wajah hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara.

    Sementara itu, pengemudi mobil pikap dilaporkan selamat tanpa mengalami luka.

    Petugas dari Polsek Kota Besi yang menerima laporan langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mengamankan area, serta mengumpulkan barang bukti.

    Penanganan juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama Satlantas Polres Kotawaringin Timur.

    Akibat kejadian tersebut, kerugian materil diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta, dengan kerusakan pada kedua kendaraan, terutama di bagian depan.
    Selama proses penanganan berlangsung, situasi di lokasi terpantau aman dan kondusif.

    Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kelalaian sekecil apa pun di jalan raya bisa berujung fatal.

    Di tengah meningkatnya aktivitas berkendara menjelang Idulfitri, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati, mematuhi aturan lalu lintas, dan memastikan setiap manuver dilakukan dengan aman.

    Karena di jalan, satu detik lengah bisa berarti kehilangan yang tak tergantikan. (***)

  • Bencana Tak Menunggu, BPBD Kotim Pasang Status Siaga Penuh Sepekan

    Bencana Tak Menunggu, BPBD Kotim Pasang Status Siaga Penuh Sepekan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana tidak pernah memberi tanda pasti kapan datang. Kesadaran itu yang membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur memilih bersiap lebih awal bukan menunggu.

    Selama periode 18 hingga 25 Maret 2026, BPBD Kotim resmi memasang status siaga penuh. Pos Komando diaktifkan 24 jam tanpa henti, dengan sistem jaga bergilir dua shift dan tambahan 20 personel yang disiapkan sebagai kekuatan perbantuan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, memastikan kesiapsiagaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah konkret menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

    “Personel sudah kami atur. Posko aktif 24 jam, dan tim siap bergerak kapan saja dibutuhkan,” ujarnya.

    Status siaga bukan berarti menunggu. Di balik itu, seluruh unit rescue dan peralatan pendukung telah dipastikan dalam kondisi siap pakai.

    Perahu karet, kendaraan operasional, hingga perlengkapan water rescue disiagakan untuk merespons berbagai kemungkinan mulai dari banjir hingga kondisi darurat lain yang kerap muncul di masa peralihan cuaca.

    BPBD juga membuka akses pelaporan bagi masyarakat melalui nomor siaga darurat. Jalur ini menjadi bagian penting dalam mempercepat respons di lapangan.

    Kesiapsiagaan BPBD Kotim tidak dilakukan secara umum, tetapi berbasis pemetaan wilayah rawan.

    Pada 22 hingga 23 Maret, fokus pengamanan diarahkan ke wilayah pesisir Ujung Pandaran. Sebanyak 10 personel diterjunkan dengan dukungan dua unit perahu karet, kendaraan rescue, serta perlengkapan water rescue.

    Di saat yang sama, penguatan juga dilakukan di dalam Kota Sampit. Delapan personel disiagakan dengan dukungan perahu, kendaraan operasional, hingga enam unit water tank dan pompa pemadam.

    Tak hanya itu, sejak 20 hingga 25 Maret, tambahan 10 personel disiagakan di Kota Sampit dengan status mobile siap bergerak ke lokasi mana pun saat kondisi darurat terjadi.

     Langkah ini menjadi cerminan bahwa potensi bencana di Kotawaringin Timur bukan hal yang bisa dianggap sepele.

    Perubahan cuaca, kondisi geografis, hingga aktivitas masyarakat menjadi faktor yang membuat risiko selalu ada.

    Namun di tengah kesiapan aparat, ada satu hal yang tak kalah penting: kesiapan masyarakat itu sendiri.

    Tanpa kewaspadaan dan respons cepat dari warga, upaya penanganan bisa menjadi lebih berat.

     BPBD boleh menyiagakan personel dan peralatan selama sepekan penuh. Namun pada akhirnya, kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama.

    “Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan,” menjadi penutup yang bukan sekadar slogan, tetapi pengingat bahwa setiap langkah antisipasi adalah upaya menjaga keselamatan banyak orang. (***)

  • Skandal AI Mengguncang, xAI Digugat Usai Ubah Foto Remaja Nyata Jadi Konten Terlarang

    Skandal AI Mengguncang, xAI Digugat Usai Ubah Foto Remaja Nyata Jadi Konten Terlarang

    Kanalindependen.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, digugat setelah diduga mengubah foto nyata remaja perempuan menjadi konten terlarang tanpa persetujuan.

    Gugatan tersebut diajukan oleh tiga remaja perempuan di Amerika Serikat. Mereka menuding teknologi milik xAI dimanfaatkan untuk memanipulasi foto asli menjadi konten bermuatan seksual yang masuk kategori eksploitasi anak.

    Kasus ini bermula dari beredarnya gambar-gambar yang diduga hasil manipulasi AI di sejumlah platform digital. Foto-foto tersebut disebut diambil dari sumber publik, seperti media sosial, lalu diolah menggunakan teknologi berbasis AI hingga berubah menjadi konten yang tidak pantas.

    Tak hanya satu korban, laporan menyebutkan praktik serupa diduga terjadi pada lebih banyak remaja lainnya. Hal ini memperbesar kekhawatiran publik terhadap potensi penyalahgunaan teknologi AI yang semakin mudah diakses.

    Dalam gugatan tersebut, pihak korban menilai xAI lalai dalam menghadirkan teknologi yang dinilai memiliki celah penyalahgunaan.

    Fitur pengolahan gambar berbasis AI disebut memungkinkan manipulasi visual secara ekstrem, bahkan hingga mengubah konteks foto menjadi berbeda jauh dari aslinya.

    Kuasa hukum korban menilai sistem tersebut bermasalah sejak awal karena tidak memiliki pengamanan yang cukup kuat untuk mencegah penyalahgunaan.

    Kasus ini pun memicu perhatian luas, termasuk dari regulator yang mulai menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi AI.
    Dampak Nyata bagi Korban

    Bagi para korban, dampak yang ditimbulkan tidak hanya sebatas di dunia maya. Penyebaran gambar manipulatif tersebut disebut berdampak pada kondisi psikologis, rasa aman, hingga kehidupan sosial mereka.

    Konten yang sudah tersebar di internet juga sulit untuk sepenuhnya dihapus, sehingga berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang.

    Kasus ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tanpa kontrol dapat membawa konsekuensi serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak dan remaja.

    Di tengah pesatnya inovasi, kasus ini kembali membuka diskusi besar soal batas penggunaan teknologi AI.
    Kemampuan AI untuk memanipulasi gambar secara realistis memang menawarkan banyak manfaat, namun di sisi lain juga membuka peluang penyalahgunaan jika tidak diiringi regulasi dan pengamanan yang memadai.
    Para penggugat kini menuntut pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami, sekaligus mendorong adanya pembatasan terhadap fitur-fitur AI yang berpotensi disalahgunakan.

    Kasus ini diperkirakan akan menjadi salah satu titik penting dalam menentukan arah regulasi teknologi AI ke depan antara mendorong inovasi atau memperketat perlindungan pengguna. (***)