Kategori: Ekonomi

  • Ketika Lampu Menyala Lebih Mahal dan Emas Tak Lagi Sekadar Tabungan

    Ketika Lampu Menyala Lebih Mahal dan Emas Tak Lagi Sekadar Tabungan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang senja di Sampit, lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Dapur kembali hidup, kipas angin berputar lebih lama, dan rice cooker tak pernah benar-benar dingin. Ramadan pun mulai menyapa. Namun, di balik rutinitas itu, ada kegelisahan yang ikut menyala tagihan listrik.

    Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Baamang, Risna (39) menyodorkan ponselnya. Di layar kecil itu, angka tagihan listrik bulan terakhir terpampang jelas.

    “Pemakaian saya sama saja. Masak ya tetap masak, malam kadang kipas nyala karena panas. Tapi begitu mau Ramadan, tagihannya naik,” ujarnya.

    Ia mengaku kini harus lebih berhitung. Bukan hanya soal listrik, tapi juga pengeluaran dapur yang ikut menyesuaikan.

    Data  Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat inflasi Januari 2026 di Sampit sebesar 3,85 persen (y-on-y). Salah satu pendorong terbesarnya adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 13,64 persen, dengan tarif listrik sebagai penyumbang utama.

    Bagi banyak keluarga, angka itu bukan sekadar statistik. Ia menjelma pilihan-pilihan kecil yang terasa berat: mengurangi lauk berbuka, menunda beli kebutuhan nonpokok, hingga membatasi penggunaan listrik di malam hari padahal Ramadan justru membuat aktivitas rumah tangga kian padat.

    Kegelisahan serupa terasa di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Hidayah (35), ibu rumah tangga, menyebut Ramadan tahun ini terasa berbeda.

    “Biasanya jelang puasa saya simpan sedikit uang di emas. Kalau perlu mendadak, bisa dijual. Tapi sekarang harga emas tinggi sekali. Mau beli berat, mau jual juga sayang,” katanya.

    Kenaikan emas perhiasan tercatat menjadi penyumbang terbesar inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melesat 15,05 persen. Bagi rumah tangga seperti Hidayah, emas bukan simbol gaya hidup, melainkan penyangga ekonomi terakhir saat kondisi mendesak.

    Ironisnya, di bulan puasa kebutuhan justru bertambah: zakat, sedekah, persiapan lebaran, hingga biaya sekolah anak. Sementara harga makanan mungkin masih terlihat “terkendali”, biaya memasak yang bergantung pada listrik pelan-pelan menggerus anggaran.

    “Kalau listrik naik, otomatis semua ikut naik. Kita mau hemat juga ada batasnya,” ujar Risna, sambil tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip upaya menenangkan diri.

    Di tengah inflasi yang didorong listrik mahal dan emas yang kian tinggi, pertanyaan kritis pun muncul: sejauh mana rumah tangga kecil mampu bertahan? Tanpa bantalan pengaman yang memadai, tekanan harga akan selalu jatuh paling cepat ke dapur-dapur sederhana.

    Malam-malam Ramadan akan dilalui. Lampu-lampu rumah tetap menyala bukan karena boros, tetapi karena hidup harus berjalan. Dan di balik cahaya itu, ada harapan sederhana agar kebijakan harga lebih peka pada denyut warga, sehingga Ramadan tetap menjadi bulan ketenangan, bukan bulan kecemasan.(***)

  • Kilau Tenang Pasar Emas Sampit Menjelang Ramadan

    Kilau Tenang Pasar Emas Sampit Menjelang Ramadan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Deretan etalase di sebuah toko emas di pusat perbelanjaan Sampit memantulkan cahaya lembut pagi itu. Suasana diramaikan hiruk pikuk peminat investasi melalui perhiasan logam mulia itu. Meski demikian, menjelang Ramadan, denyut pasar emas di kota ini bergerak dengan ritme yang tenang.

    Di Toko Emas Mitra Baru, suasana tersebut terasa jelas. Pembeli datang silih berganti, sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lain serius memilih perhiasan. Tidak ada lonjakan signifikan, tetapi pasar juga tidak lesu.

    “Untuk saat ini penjualan masih stabil, sama seperti hari biasa,” ujar pengelola toko, Muliana Sari, Senin (16/2/2026).

    Di balik kestabilan itu, Muliana mencatat satu kecenderungan menarik. Emas kadar tinggi atau emas 999 justru lebih banyak diminati pembeli. Jumlah orang yang membeli emas jenis ini lebih dominan dibandingkan mereka yang menjual kembali.

    “Kalau emas kadar tinggi, pembelinya lebih banyak. Sementara untuk kadar 375 dan 700 masih seimbang, ada yang jual dan ada juga yang beli,” tuturnya.

    Perubahan selera menjadi salah satu faktor pendorong. Jika dulu emas 999 identik dengan desain klasik, kini perhiasan emas tampil lebih modern dan variatif. Model yang mengikuti tren membuat emas kadar tinggi tak lagi sekadar simbol investasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup.

    “Sekarang desainnya sudah lebih kekinian. Itu yang membuat masyarakat tertarik,” kata Muliana.

    Di antara berbagai pilihan perhiasan, cincin masih menjadi favorit. Selain disiapkan sebagai tabungan nilai, emas juga mulai dibeli untuk kebutuhan menjelang Hari Raya Idulfitri.

    Dari sisi harga, pasar emas di Sampit juga bergerak relatif stabil. Berdasarkan daftar harga terbaru per Senin (16/2/2026), emas kadar 999 dijual Rp2.750.000 per gram. Sementara emas kadar 750 berada di angka Rp2.260.000 per gram, kadar 700 Rp2.110.000 per gram, kadar 420 Rp1.310.000 per gram, dan kadar 375 Rp1.220.000 per gram. Harga tersebut dapat berubah mengikuti dinamika pasar.

    Muliana memperkirakan, suasana yang kini masih tenang akan perlahan berubah. Biasanya, mendekati Lebaran, pembeli mulai mendominasi transaksi.

    “Nanti kalau sudah dekat Lebaran, biasanya pembeli bisa jauh lebih banyak, sekitar 80 persen,” ujarnya.

    Bagi para pedagang emas, Ramadan menjadi masa menanti. Bukan hanya menunggu ramainya transaksi, tetapi juga menyaksikan bagaimana kilau emas tetap hadir di tengah langkah pelan masyarakat yang bersiap menyambut hari kemenangan. (***)

  • Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    SAMPIT,Kanalindependen.id  – Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tidak hanya menghadirkan ritual dan tradisi, tapi juga filosofi mendalam yang dibawa oleh Shio Kuda Api.

    Menurut Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, shio tahun ini membawa pesan penting bagi umat dan masyarakat luas.

    “Tahun ini kita dengan Shio Kuda Api. Kuda itu lambangnya kecepatan, energi, dan kekuatan, sementara api adalah simbol perubahan dan transformasi,” ujar Wen Shi.

    Ia menjelaskan, secara filosofis, tahun 2577 Kongzili mengajarkan bahwa orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan lebih maju, sementara yang lambat akan tertinggal.

    “Seperti seekor kuda yang dinamis dan selalu bergerak, api melambangkan perubahan. Siapa pun yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, maka mereka akan selangkah lebih maju,” tambahnya.

    Lebih dari sekadar simbolisme shio, Wen Shi menekankan pentingnya keharmonisan antarumat beragama di Kotawaringin Timur. “Kami bersyukur berada di Kotim. Hubungan lintas agama di sini sangat harmonis dan kondusif. Saya sendiri merupakan anggota FKUB, mewakili agama Khonghucu, dan bekerja bersama perwakilan lima agama lainnya,” jelasnya.

    Ia menegaskan bahwa toleransi di Sampit tergolong tinggi, terbukti dari berbagai kegiatan keagamaan dan modernisasi praktik ibadah yang berjalan berdampingan.

    “Kami hidup berdampingan dengan agama lain. Ketika Natal dan Idul Fitri, kami juga bersilaturahmi. Bahkan, kami biasa mengadakan open house bagi tamu dari kalangan pemerintahan,” ujarnya.

    Pesan utama Wen Shi untuk umat dan masyarakat luas adalah menjaga kerukunan dan keharmonisan. “Sebagai umat minoritas, kami berterima kasih kepada pemerintah yang telah mengayomi, memberi kami kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti umat lain,” tuturnya.

    Dengan filosofi Shio Kuda Api dan semangat kebersamaan antarumat beragama, Wen Shi berharap keadaan bangsa semakin membaik dan setiap individu mampu bergerak dinamis menyesuaikan perubahan zaman.

    “Hanya mereka yang adaptif yang bisa melangkah lebih maju,” pungkasnya. (***)

  • Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lilin-lilin merah menyala pelan di Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit. Asap dupa mengepul tipis, membawa doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Di antara barisan umat yang hadir, tak semua datang dengan kecukupan. Namun malam itu, tak ada jarak antara yang mampu dan yang berkekurangan.

    Di tengah gemerlap lampion dan persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, umat Khonghucu di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menunjukkan sisi lain dari perayaan yang hangat dan penuh makna. Di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tampak aktivitas ibadah persaudaraan yang sarat dengan nilai kemanusiaan.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, menjelaskan bahwa ibadah persaudaraan bukan sekadar ritual, tapi juga momentum berbagi bagi mereka yang kurang mampu. “Tidak semua umat Konghucu berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Momentum ini kami gunakan untuk saling berbagi agar mereka tetap dapat merayakan Imlek dengan kebahagiaan,” ujarnya, Rabu malam (12/2/2026).

    Dalam kesempatan ini, sekitar 50 umat yang dinilai kurang mampu menerima bantuan dari komunitas. Wen Shi menekankan bahwa tradisi berbagi ini sudah berjalan ribuan tahun, menjadi bagian dari nilai luhur agama Khonghucu yang menekankan persaudaraan dan kepedulian sosial.

    “Harapannya, mereka yang kurang mampu tetap bisa merasakan sukacita Imlek. Perayaan bukan hanya tentang kemeriahan, tapi tentang hati yang bersih dan kebersamaan,” tambahnya.

    Ibadah persaudaraan berlangsung bertahap. Sebelum tahun baru, umat Khonghucu melakukan ritual enam hari sebelumnya. Malam ini, mereka melaksanakan ibadah khusus, lalu akan kembali melaksanakan ibadah menyambut malam Tahun Baru Imlek pada 16 Februari. Seminggu setelah Imlek akan digelar ibadah syukur, dan dua minggu kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang menandai puncak perayaan Imlek.

    Selain ritual, tradisi bersih-bersih juga tetap dijalankan. Seluruh patung dewa dimandikan dan disucikan sebagai simbol penyambutan tahun baru dengan hati yang bersih. Aktivitas ini juga menjadi momen refleksi dan persiapan spiritual bagi seluruh umat.

    Bagi Wen Shi, Imlek adalah pengingat bahwa dalam perbedaan kondisi ekonomi, semua umat tetap disatukan dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. “Di sinilah makna Imlek yang sesungguhnya,” tuturnya. (***)

  • Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, suasana penjualan pernak-pernik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terlihat lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pedagang mengaku omzet tahun ini menurun sekitar 30 persen, seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat.

    Kondisi itu terlihat jelas di Toko Maju Jaya Dupa Sampit, Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Pada Selasa (10/2/2026), deretan angpao merah cerah, bunga hias, hingga gantungan khas Imlek tampak masih tersusun rapi di rak, menunggu tangan-tangan pembeli yang biasanya mulai ramai sejak dua pekan sebelum Imlek.

    Pedagang pernak-pernik Imlek, Gustiana, menatap rak-rak itu sambil menghela napas. “Kalau biasanya tanggal segini sudah ramai, tahun ini kelihatannya sepi-sepi saja. Barang juga terasa tertahan,” katanya, menambahkan bahwa puncak penjualan biasanya terjadi sekitar 15 hari sebelum perayaan hingga sehari menjelang Imlek.

    Tahun ini, tren tersebut tidak terlihat. Penurunan penjualan diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, Gustiana memilih tetap bertahan, menyesuaikan stok dan strategi agar tetap bisa menjajakan pernak-pernik Imlek dengan aman.

    Stok Dikurangi, Tetap Bertahan

    Menurunnya daya beli membuat Gustiana lebih berhati-hati dalam mendatangkan barang. Tahun ini, jumlah stok sengaja dikurangi untuk mengurangi risiko barang tidak laku.

    “Barang yang kita datangkan juga dikurangi. Apalagi kemarin sempat ada imbauan supaya tidak terlalu meriah karena ada bencana di Sumatera, jadi kita menyesuaikan,” ujarnya sambil menata ulang rak-rak angpao yang masih tersusun rapi.

    Tidak semua barang yang dijual baru. Sebagian merupakan stok lama, sementara pernak-pernik baru umumnya bergambar atau berbentuk kuda, simbol Tahun Kuda Api. “Kalau kuda api ini kesannya panas, mungkin juga pengaruh ke ekonomi yang lagi lesu sekarang,” katanya sambil tersenyum tipis.

    Gustiana menilai, kondisi ekonomi tahun ini semakin tertekan karena Imlek berdekatan dengan momen hari besar lainnya, seperti Ramadan dan Idul Fitri, serta dampak bencana di beberapa daerah.

    Harga Variatif, Angpao Masih Favorit

    Harga pernak-pernik bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp300.000. Angpao tetap menjadi favorit pembeli, dengan kisaran harga Rp3.000 hingga Rp15.000 per buah.

    Selain angpao, bunga hias dan gantungan Imlek masih banyak dicari pembeli, meski tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Lampion menjadi pernak-pernik termahal, dijual sekitar Rp300 ribu per buah.

    “Ada lampion yang lebih bagus, tapi harganya mahal. Karena ekonomi sekarang, kita tidak berani mendatangkan banyak, takut barangnya tertahan,” jelas Gustiana sambil menunjuk beberapa lampion yang tersusun di pojok toko.

    Meski rak-rak masih terlihat penuh, Gustiana tetap memilih bertahan. Baginya, menjaga toko tetap buka dan menyiapkan pernak-pernik Imlek adalah cara untuk tetap berbagi keceriaan perayaan, meski di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (***)