Kategori: Kotawaringin Timur

  • Pawai Pembangunan HUT RI ke-81 Kotim Usung Keberagaman dan Ekonomi, Pendaftaran Gratis Masih Dibuka hingga 21 Agustus 2026

    Pawai Pembangunan HUT RI ke-81 Kotim Usung Keberagaman dan Ekonomi, Pendaftaran Gratis Masih Dibuka hingga 21 Agustus 2026

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pawai Pembangunan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya disiapkan sebagai agenda perayaan rutin tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan keberagaman budaya dan pesan pembangunan daerah.

    Tahun ini, pawai mengusung subtema “Merajut Keberagaman, Menggerakkan Ekonomi, Bersatu, Bangkit dan Sejahtera”.

    Masyarakat, pelajar, instansi, dunia usaha hingga komunitas masih memiliki kesempatan untuk ikut ambil bagian karena pendaftaran peserta masih dibuka dan tidak dipungut biaya.

    Pendaftaran dibuka hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB. Hingga saat ini, tercatat 123 peserta telah mendaftarkan diri. Namun, jumlah tersebut belum final karena pendaftaran masih berlangsung.

    Ketua Seksi Pawai Pembangunan Alang Arianto mengatakan, peserta yang sudah terdaftar berasal dari lima kategori.

    ”Untuk saat ini yang sudah mendaftar ada 123 peserta, terdiri dari 41 pejalan kaki umum, 38 peserta pejalan kaki pelajar, 15 peserta drum band, 21 peserta kendaraan hias, dan 8 peserta sepeda hias. Jumlah ini belum final dan masih akan terus bertambah sampai batas akhir pendaftaran 21 Agustus 2026,” kata Alang Arianto yang juga menjabat sebagai Kepala Bapperida Kotim, Senin (17/8/2026).

    Alang mengatakan panitia telah membuka Pawai Pembangunan untuk berbagai kelompok masyarakat.

    Ada lima kategori yang dapat diikuti, yakni kendaraan hias, pejalan kaki pelajar, pejalan kaki umum, sepeda hias pelajar, dan drum band.

    Kategori kendaraan hias dapat diikuti OPD, kecamatan, instansi vertikal, dunia usaha, organisasi, lembaga, komunitas maupun masyarakat umum.

    Untuk kategori pejalan kaki, peserta berasal dari pelajar SMP dan SMA sederajat, mahasiswa, OPD, kecamatan, instansi vertikal, dunia usaha, organisasi, lembaga, komunitas serta masyarakat umum.

    Sementara kategori sepeda hias diperuntukkan bagi pelajar tingkat SD, SMP dan SMA sederajat.

    Kategori terakhir adalah drum band yang juga terbuka bagi peserta sesuai ketentuan panitia.

    Wajib Angkat Keberagaman dan Budaya

    Subtema pawai menjadi bagian penting dalam konsep penampilan peserta. Setiap peserta tidak hanya dituntut ikut meramaikan kegiatan, tetapi juga harus menyesuaikan penampilan sesuai dengan tema “Merajut Keberagaman, Menggerakkan Ekonomi, Bersatu, Bangkit dan Sejahtera.”

    ”Khusus kendaraan hias, konsep yang ditampilkan wajib menggambarkan pembangunan Kotim yang berkelanjutan, sekaligus menampilkan ornamen khas Kotawaringin Timur dan budaya Nusantara,”  ujar Alang.

    Sementara, kendaraan hias diperbolehkan menggunakan kendaraan jenis pick-up. Panitia tidak memperbolehkan penggunaan truk, tronton maupun longbed.

    ”Setiap peserta kendaraan hias hanya diperbolehkan menggunakan satu kendaraan hias dan tidak boleh diikuti pejalan kaki pendamping,” ujarnya.

    Selain itu, ada aturan khusus bagi peserta kendaraan hias. Kendaraan wajib mengikuti pawai sampai garis finis, kemudian dibariskan atau disusun di sekeliling Taman Kota Sampit untuk menjalani penilaian akhir oleh dewan juri.

    Peserta baru diperbolehkan membubarkan diri setelah dinyatakan selesai oleh dewan juri.

    Untuk peserta pejalan kaki, setiap regu maksimal terdiri dari 30 orang. Peserta diwajibkan mengusung subtema pawai serta menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara.

    Sedangkan peserta sepeda hias maksimal terdiri dari tujuh sepeda dalam satu regu.

    Tema yang dapat digunakan untuk sepeda hias antara lain Anggrek Tebu, Gayung Birang, Jelawat, pakaian adat dan nuansa merah putih.

    Adapun kategori drum band mensyaratkan minimal 30 orang dalam satu regu. Penampilan drum band juga harus mengusung subtema pawai dengan memainkan lagu-lagu nasional dan atau lagu daerah.

    Atraksi Maksimal Lima Menit

    Panitia memberikan ruang bagi peserta untuk menunjukkan kreativitas selama pawai.

    ”Peserta diperbolehkan melakukan atraksi di depan panggung kehormatan. Tetapi, durasinya dibatasi maksimal lima menit,” ujarnya.

    Dalam barisan pejalan kaki juga terdapat larangan penggunaan kendaraan tertentu. Peserta tidak diperbolehkan menggunakan Tosa maupun kendaraan bermotor, dengan pengecualian untuk gerobak.

    “Setiap peserta juga diwajibkan menjaga ketertiban, kelancaran dan kesopanan selama mengikuti seluruh rangkaian pawai,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Alang menegaskan kepada para peserta dilarang membawa senjata tajam maupun mengikuti kegiatan dalam kondisi berada di bawah pengaruh minuman keras atau narkoba.

    “Peserta juga kami sarankan memainkan atau memperdengarkan musik bertema kemerdekaan maupun perjuangan selama mengikuti pawai. Bukan sound horeg yang mengganggu pendengaran penonton dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

    Materi yang ditampilkan peserta juga harus memperhatikan ketentuan yang berlaku. Peserta dilarang membawa atau mempertontonkan unsur partai politik, simbol LGBT, logo, lambang, gambar maupun tulisan yang mengandung unsur SARA, hoaks, pornografi, pornoaksi ataupun materi lain yang dianggap di luar kepatutan.

    Seluruh peserta wajib mematuhi ketentuan dan arahan panitia di lapangan.

    Nomor Peserta Bukan Urutan Keberangkatan

    Peserta juga perlu memperhatikan ketentuan mengenai nomor peserta. Nomor peserta yang diberikan panitia bukan merupakan nomor urut keberangkatan.

    Nomor urut keberangkatan atau boarding pass akan diberikan oleh koordinator masing-masing kategori di lokasi keberangkatan berdasarkan urutan kedatangan peserta.

    Karena itu, peserta diminta memperhatikan arahan koordinator kategori ketika berada di lokasi keberangkatan.

    Dimulai Sabtu Pagi

    Pawai Pembangunan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kotim akan dilaksanakan pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

    Persiapan peserta dimulai pukul 06.00 WIB, sedangkan start pawai dijadwalkan pukul 07.00 WIB hingga selesai.

    ”Urutan pemberangkatan telah ditetapkan panitia. Peserta pertama yang diberangkatkan adalah sepeda hias pelajar SD, SMP dan SMA sederajat,” jelasnya.

    Selanjutnya pejalan kaki pelajar SMP dan SMA sederajat serta mahasiswa. Setelah itu, giliran pejalan kaki OPD, kecamatan, instansi vertikal, dunia usaha, organisasi, lembaga, komunitas dan masyarakat umum.

    Kategori terakhir yang diberangkatkan adalah kendaraan hias.

    Sementara pemberangkatan drum band akan diatur tersendiri oleh panitia.

    Pendaftaran Gratis hingga 21 Agustus

    Bagi masyarakat atau kelompok yang ingin ikut serta, kesempatan mendaftar masih terbuka.

    “Pendaftaran dan pengambilan nomor peserta dilayani Senin hingga Jumat, 6-21 Agustus 2026, pada pukul 08.00-15.00 WIB selama jam kerja. Bagi yang berminat ikut berpartisipasi bisa mendaftar mulai dari sekarang,” ujarnya.

    Lokasi pendaftaran berada di Gedung E Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 01 Sampit.

    Panitia hanya akan melayani pendaftaran sampai batas waktu yang telah ditentukan, yakni Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB. Pendaftaran di luar ketentuan tersebut tidak akan dilayani.

    Panitia juga tidak menggelar technical meeting. Karena itu, calon peserta yang membutuhkan penjelasan mengenai persyaratan maupun tata tertib teknis diminta berkoordinasi langsung dengan narahubung bagian pendaftaran.

    Pawai Pembangunan tahun ini diarahkan menjadi panggung yang mempertemukan keberagaman budaya, kreativitas masyarakat dan pesan pembangunan daerah dalam satu rangkaian kegiatan.

    “Pendaftaran gratis tidak dipungut biaya. Kami harap banyak peserta yang ikut berpartisipasi meramaikan Pawai Pembangunan yang dapat menghibur para penonton,” tandasnya. (hgn)

  • Kepungan Karhutla di 22 Titik Perkotaan Sampit, BPBD Minta Maaf Tak Semua Terjangkau

    Kepungan Karhutla di 22 Titik Perkotaan Sampit, BPBD Minta Maaf Tak Semua Terjangkau

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gelombang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung kawasan perkotaan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa Pasukan Gabungan Satgas Karhutla bekerja ekstra keras hingga malam hari.

    Laporan Cepat Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Posko Bencana Karhutla dan Kekeringan Kotim hingga Selasa malam (18/8/2026) pukul 19.24 WIB mencatat sedikitnya 22 lokasi pemadaman dan pengerahan personel disebar secara bersamaan di dua kecamatan rawan, yakni Mentawa Baru Ketapang dan Baamang.

    Melihat besarnya sebaran titik api yang muncul secara serentak di berbagai sudut perkotaan dan keterbatasan armada di lapangan, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat karena belum seluruh laporan kebakaran dapat ditangani secara bersamaan.

    Pihaknya atas nama Posko Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya lantaran tidak dapat menangani semua kejadian yang terlapor akibat keterbatasan jangkauan dan personel.

    “ Kami atas nama Posko Tanggap Darurat Bencana Kahutla dan Kekeringan, mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak dapat menangani semua kejadian yang terlapor kepada kami,” katanya.

    Penanganan di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang berlangsung sengit, terutama di sepanjang koridor Jalan Moh. Hatta Lingkar Selatan. Di kawasan ini, pengerahan Regu 6, Regu 12, dan Regu 3 Back Up BPBD berhasil melokalisir lahan terbakar seluas lebih dari 4,7 hektare di sekitar Gang Kusuma, meski petugas harus bertarung dengan kendala minimnya sumber air dan lokasi yang masih menyisakan kepulan asap pekat. Selain Lingkar Selatan, pemadaman masif juga menyasar Jalan Panglima Hamdan, Jalan MT. Haryono Barat Perum Sriwijaya Asri 3, serta koridor Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5 hingga Km 4 dekat kantor BPJS Ketenagakerjaan. Operasi pemadaman di Jalan HM. Arsyad depan gudang pupuk bahkan sempat terkendala oleh gangguan mesin pada armada Regu 12, yang menyebabkan sebagian titik api di area tersebut masih aktif membara.

    Sementara itu di Kecamatan Baamang, amukan api menyasar kawasan pemukiman warga dan fasilitas umum. Regu 9 bersama personel Yon TP menerjunkan 17 personel di Jalan Bumi Raya 1, tepatnya kawasan Perum Citra Mandiri dan seberang Pesantren As-Syifa, untuk memadamkan lahan seluas lebih dari 1,2 hektare meski terhambat terbatasnya panjang selang pemadam.

    Di tempat terpisah, Regu 1 BPBD menyisir kawasan Perumahan WMP 31 Jalan Yuliana, Jalan WMP 19, WMP 7, serta WMP 14. Kolaborasi masif Regu 3 dan Regu 4 BPBD dengan pengerahan 19 personel dan dua unit mobil tangki air berhasil memblokir pergerakan api agar tidak merembet mendekati bangunan rumah warga. Sebagian besar lokasi kini berada dalam fase pendinginan (overhaul), meski potensi api menyala kembali (re-ignition) tetap tinggi akibat karakter lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan.

     Laporan operasional Pusdalops PB Kotim malam ini menyingkap dua kendala fatal yang konsisten memperlambat penetrasi penanganan karhutla perkotaan: minimnya pasokan air (water source deficit) dan kerentanan teknis armada (equipment failure). Pernyataan jujur dari Kalaksa BPBD Kotim mengenai ketidakmampuan menjangkau seluruh laporan warga serta adanya gangguan mesin unit pada Regu 12 di Jalan HM. Arsyad mengindikasikan bahwa kapasitas operasional Satgas sudah berada di titik nadir (overwhelmed).

    Pemkab Kotim dan PDAM didesak segera memasang hidran darurat di sepanjang jalur utama seperti Jalan Mohammad Hatta Lingkar Selatan dan Jenderal Sudirman. Ketergantungan armada pada sumber air alami yang mengering memaksa mobil tangki membuang waktu hanya untuk menyuplai ulang air. Di sisi lain, kejadian trouble engine di tengah operasi pemadaman adalah alarm bahaya bagi kesiapan tempur Satgas. Disdamkarmat dan BPBD wajib menyiagakan mekanik mobile serta unit cadangan agar tidak ada titik api yang ditinggalkan dalam kondisi aktif akibat kendala teknis kendaraan. (***)

  • Dikepung 3.840 Hotspot, Karhutla Kotim Tembus 1.317 Hektare Lahan Terbakar

    Dikepung 3.840 Hotspot, Karhutla Kotim Tembus 1.317 Hektare Lahan Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mengalami eskalasi kritis. Rekapitulasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim hingga Selasa (18/8/2026) mencatat total akumulasi lahan terbakar di bumi Habaring Hurung telah menembus angka 1.317,15 hektare dari 354 kejadian yang ditangani petugas sepanjang tahun ini.

    Skala bencana yang masif ini berbanding lurus dengan tingginya aktivitas pemantauan satelit, di mana rekap hotspot BPBD Kotim hingga Selasa siang pukul 13.24 WIB mencatat sebanyak 3.840 titik panas terdeteksi mengepung seluruh wilayah kecamatan di Kotim.

    Ancaman terbesar saat ini terkonsentrasi di wilayah selatan dan seberang perkotaan Sampit. Kecamatan Teluk Sampit menyumbang indikator hotspot tertinggi yang mencapai 829 titik.

    Sementara itu, Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan kerusakan lahan terluas, yakni hangus hingga 703,50 hektare atau menyedot 53,41 persen dari total seluruh lahan terbakar di Kotim dengan sebaran 314 hotspot.

    Di tempat lain, Kecamatan Kota Besi mencatatkan 551 hotspot dengan luas lahan terbakar 172,76 hektare (13,12 persen). Wilayah lainnya yang turut membara meliputi Mentaya Hilir Selatan dengan 434 titik dan 83,21 hektare lahan terbakar, Mentaya Hilir Utara dengan 397 titik, Baamang dengan 309 titik dan 122,11 hektare, Mentawa Baru Ketapang dengan 309 titik, serta Pulau Hanaut dengan luasan terbakar mencapai 82,65 hektare.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengaitkan luasan terukur tersebut dengan pergerakan cepat tim di lapangan, sekaligus mengingatkan bahwa angka tersebut masih bersifat dinamis.

    “Data ini berdasarkan penanganan kejadian yang dilakukan petugas di lapangan dan merupakan area terukur saat kejadian berhasil ditangani,” ungkapnya, Selasa (18/8/2026).

    Angka ini mengutamakan kecepatan sehingga masih dapat berubah sesuai kelengkapan data. Multazam menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menekan laju perluasan titik api dengan tidak membakar lahan serta segera melapor jika melihat indikasi asap, tanpa harus menunggu api membesar.

    Tingginya akumulasi 3.840 hotspot yang berbanding lurus dengan hangusnya 1.317 hektare lahan adalah bukti bahwa strategi pencegahan di tingkat tapak belum mampu membendung laju pembersihan lahan secara sporadis.

    Lonjakan hotspot di Teluk Sampit serta dominasi kerusakan di Seranau mengindikasikan bahwa wilayah gambut dalam pesisir dan seberang sungai sangat rentan menjadi penyumbang kabut asap pekat (haze) yang mengancam penerbangan Bandara H. Asan Sampit.

    Tingginya angka titik panas di Seranau dan Teluk Sampit tidak bisa hanya mengandalkan satgas darat. BNPB dan BPBD Kalteng wajib memprioritaskan helikopter water bombing untuk memutus rantai api di lahan gambut dalam yang tidak terjangkau selang pemadam.

    Di sisi lain, banyaknya hotspot di wilayah pertanian dan perkebunan pesisir harus ditindaklanjuti dengan investigasi lapangan oleh Satreskrim Polres Kotim dan Gakkum KLHK guna menindak tegas pelaku pembakaran lahan secara sengaja.

    Cegah kabut asap melumpuhkan Sampit, tindak tegas pembakar lahan!  Karhutla Kotim tembus 1.317 hektare! Kepungan 3.840 hotspot butuh gempuran pemadaman udara! (***)

  • 567 Warga Binaan Lapas Sampit Terima Remisi Kemerdekaan, 12 Orang Langsung Bebas

    567 Warga Binaan Lapas Sampit Terima Remisi Kemerdekaan, 12 Orang Langsung Bebas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Sebanyak 567 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit menerima remisi khusus dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Dari jumlah tersebut, 12 orang dinyatakan langsung bebas setelah mendapatkan pengurangan masa pidana.

    Kalapas Kelas IIB Sampit Muhammad Yani mengatakan, seluruh warga binaan yang diajukan untuk mendapatkan remisi kemerdekaan tahun ini dinyatakan memenuhi persyaratan. Tidak ada pengajuan yang ditolak.

    ”Untuk sementara tidak ada yang ditolak. Semua yang diajukan mendapatkan remisi. Totalnya ada 567 warga binaan yang menerima remisi,” kata Muhammad Yani, Senin (17/8/2026).

    Pemberian remisi tersebut merupakan remisi umum yang diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus.

    Remisi diberikan kepada warga binaan yang memenuhi ketentuan setelah melalui proses pengusulan dan verifikasi.

    Yani menjelaskan ada sejumlah persyaratan yang wajib dipenuhi warga binaan untuk memperoleh remisi. Salah satunya telah menjalani masa pidana sekurang-kurangnya enam bulan.

    Selain itu, warga binaan harus berkelakuan baik selama menjalani pidana, mengikuti program pembinaan dengan baik, serta tidak memiliki catatan pelanggaran disiplin atau register F.

    ”Jadi, warga binaan yang mendapatkan remisi tidak pernah melakukan pelanggaran selama berada di lapas,” ujarnya.

    364 Warga Binaan Kasus Narkotika

    Dari 567 penerima remisi, sebanyak 203 orang masuk kategori remisi normal. Sementara 364 orang lainnya merupakan warga binaan yang mendapatkan remisi berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012.

    Yani menyebut penerima remisi dari kedua kategori tersebut relatif berimbang, meski jumlah penerima yang terkait PP Nomor 99 Tahun 2012 lebih banyak.

    ”Untuk remisi normal ada 203 orang. Kemudian yang terkait PP Nomor 99 ada 364 orang, yang merupakan warga binaan kasus narkotika,” jelasnya.

    Ia menegaskan, warga binaan yang tersangkut perkara narkotika tetap dapat memperoleh remisi sepanjang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

    ”Bisa. Yang penting sudah menjalani pidana minimal enam bulan, berkelakuan baik, dan mengikuti program pembinaan,” kata Yani.

    Sementara untuk perkara tindak pidana korupsi, tahun ini tidak terdapat warga binaannya di Lapas Sampit yang menerima remisi.

    Yani menjelaskan, narapidana kasus korupsi tidak ditempatkan di Lapas Sampit karena penanganan perkara tersebut dialihkan ke Palangka Raya, baik dalam proses persidangan maupun penempatannya setelah menjalani pidana.

    ”Untuk kasus tipikor, sementara tidak ada di sini. Karena perkara tipikor dialihkan ke Palangka Raya, baik untuk proses persidangan maupun penempatannya di Lapas Palangka Raya atau Rutan Palangka Raya,” terangnya.

    12 Orang Langsung Bebas

    Dari ratusan warga binaan yang memperoleh remisi, sebanyak 12 orang mendapatkan pengurangan masa pidana hingga dinyatakan bebas.

    Namun, satu dari 12 orang tersebut masih harus menjalani pidana subsider sehingga belum sepenuhnya dapat meninggalkan proses pemidanaan.

    ”Yang bebas ada 12 orang. Namun, satu orang masih harus menjalani pidana subsider,” ungkap Yani.

    Lebih lanjut, Yani mengatakan pemberian remisi tidak sekadar menjadi pengurangan masa pidana, tetapi juga menjadi momentum bagi warga binaan untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

    Yani berharap warga binaan yang telah mendapatkan remisi maupun yang nantinya bebas dapat diterima kembali oleh keluarga dan lingkungan sosialnya.

    ”Harapan saya, mereka yang mendapatkan remisi dapat segera kembali ke masyarakat, diterima oleh keluarga dan lingkungan, serta mampu berintegrasi dengan baik,” katanya.

    Ia juga berharap mereka dapat menjadi bagian yang aktif dan produktif dalam pembangunan serta tidak kembali melakukan tindak pidana.

    Dibekali Keterampilan Sebelum Kembali ke Masyarakat

    Selama menjalani masa pidana, warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga mengikuti berbagai program pembinaan dan kegiatan kemandirian.

    Sejumlah keterampilan diberikan sebagai bekal agar warga binaan memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.

    ”Selama di lapas, mereka juga telah dibekali kegiatan kemandirian, seperti perikanan, pertukangan, pengelasan, dan barbershop,” ujarnya.

    Ia berharap keterampilan yang diperoleh selama berada di Lapas Sampit dapat benar-benar diterapkan setelah warga binaan kembali ke lingkungan masing-masing.

    ”Mudah-mudahan ilmu serta hal-hal positif yang diperoleh dapat diterapkan saat kembali ke masyarakat,” harapnya.

    57 Warga Binaan Diajukan untuk Amnesti

    Selain pemberian remisi kemerdekaan, Lapas Kelas IIB Sampit saat ini juga tengah mengajukan amnesti bagi sejumlah warga binaan.

    Yani menyebut ada sekitar 57 orang yang diajukan untuk mendapatkan amnesti. Pengajuan tersebut masih dalam proses dan pihak lapas masih menunggu keputusan lebih lanjut.

    ”Saat ini juga sedang ada pengajuan amnesti. Sambil menunggu prosesnya, kurang lebih ada 57 orang yang kami ajukan,” katanya.

    Namun, tidak semua perkara dapat diusulkan untuk mendapatkan amnesti. Pengajuan hanya dilakukan terhadap warga binaan yang memenuhi kriteria serta persyaratan yang telah ditentukan.

    ”Untuk kasus-kasus dengan kriteria tertentu. Ada syarat-syarat dan jenis perkara yang tidak dapat diusulkan,” jelas Yani.

    Penghuni 851 Orang, Pernah Tembus 1.019

    Di sisi lain, jumlah warga binaan yang saat ini menghuni Lapas Kelas IIB Sampit masih jauh di atas kapasitas ideal. Saat ini  jumlah warga binaan tercatat sebanyak 851 orang.

    Jumlah tersebut memang telah mengalami penurunan dibandingkan kondisi tertinggi yang pernah terjadi selama Yani bertugas di Lapas Sampit. Pada 2025, jumlah warga binaan sempat mencapai 1.019 orang.

    ”Per hari ini, jumlahnya 851 orang. Pada tahun 2025 sempat mencapai 1.019 orang. Itu angka tertinggi selama saya bertugas di Lapas Sampit,” kata Yani.

    Sementara berdasarkan hasil pengukuran ulang, kapasitas Lapas Sampit saat ini hanya sekitar 240 orang.

    Dengan kondisi tersebut, jumlah penghuni saat ini masih lebih dari tiga kali lipat kapasitas ideal berdasarkan hasil pengukuran ulang.

    Yani mengatakan pihaknya sedang mengusulkan perubahan kapasitas karena terdapat penambahan bangunan atau ruang baru di lingkungan Lapas Sampit.

    Meski demikian, ketika ditanyakan apakah jumlah penghuni saat ini sudah mencapai tiga kali lipat kapasitas, Yani menegaskan bahwa angkanya belum sampai 300 persen.

    ”Setelah pengukuran ulang, kapasitasnya 240 orang. Saat ini kami sedang mengusulkan perubahan kapasitas karena ada penambahan bangunan atau ruang baru,” pungkasnya. (hgn)

  • Merah Putih Berkibar Tanpa Hambatan, 70 Paskibraka Kotim Tuntaskan Tugas di HUT RI ke-81

    Merah Putih Berkibar Tanpa Hambatan, 70 Paskibraka Kotim Tuntaskan Tugas di HUT RI ke-81

    SAMPIT, kanalindependen.id – Hentakan 70 pasang kaki Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terdengar serempak menuju Lapangan Stadion 29 November Sampit.

    Langkah mereka tegap, terukur dan presisi, bergerak dalam satu irama menuju tiang bendera.

    Di tengah barisan itu, Novinjian Safira, siswi SMAN 1 Sampit, bertugas membawa baki berisi Sang Saka Merah Putih dengan kedua tangan yang tetap tenang.

    Bendera Merah Putih tersebut sebelumnya diserahkan Bupati Kotim Halikinnor yang bertindak sebagai inspektur upacara.

    Dengan langkah perlahan dan penuh konsentrasi, Novinjian membawa bendera menuju tiang, sementara perhatian hadirin tertuju pada setiap gerakan para Paskibraka.

    Suasana Stadion 29 November Sampit berlangsung khidmat, ketika prosesi pengibaran bendera dimulai.

    Tidak ada langkah yang tergesa. Tidak ada gerakan yang melenceng dari rangkaian yang telah mereka latih sejak 4 Agustus 2026 lalu.

    Diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sang Saka Merah Putih perlahan dikerek ke puncak tiang. Prosesi berlangsung lancar tanpa hambatan.

    Tugas yang dipersiapkan selama hampir dua pekan itu akhirnya tuntas dilaksanakan tanpa hambatan oleh 70 Paskibraka Kotim yang terdiri dari 43 putra dan 27 putri. Mereka berasal dari sejumlah SMA dan SMK negeri maupun swasta di Kabupaten Kotim.

    Bupati Kotim Halikinnor mengapresiasi keberhasilan para Paskibraka menjalankan tugas tersebut. Ia menilai prosesi pengibaran bendera berjalan baik dengan penuh khidmat tanpa kesalahan.

    ”Tadi kita menyaksikan kenaikan bendera pusaka Merah Putih, alhamdulillah anak-anak Paskibraka menjalankan tugasnya dengan baik, dengan penuh khidmat, tidak salah dan tidak ada yang keliru,” kata Halikinnor saat diwawancarai awak media usai upacara peringatan Detik-detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Stadion 29 November Sampit, Senin (17/8/2026).

    Keberhasilan tersebut tidak lepas dari persiapan yang telah dilakukan para Paskibraka bersama seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara.

    Sebelum menjalankan tugas pada upacara HUT ke-81 RI, para Paskibraka menjalani pemusatan latihan sejak 4 Agustus 2026.

    Latihan tidak hanya berfokus pada kemampuan Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Mereka juga mendapatkan pembinaan fisik, mental, kedisiplinan, karakter serta wawasan kebangsaan.

    Setiap gerakan harus dilakukan secara seragam dan tepat. Kekompakan menjadi bagian penting karena seluruh rangkaian pengibaran berlangsung dalam hitungan dan formasi yang telah dipersiapkan.

    Bagi para anggota Paskibraka, prosesi di Stadion 29 November Sampit menjadi puncak dari proses seleksi dan latihan yang mereka jalani.

    ”Untuk itu saya terima kasih kepada Paskibraka dan semua pihak atas kelancaran acara pada hari ini,” ujarnya.

    Dalam kesempatan itu, Halikin mengajak masyarakat memaknai keberhasilan dan momentum peringatan kemerdekaan tersebut dengan melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui pembangunan.

    ”Mari kita isi kemerdekaan ini dengan melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Kita isi kemerdekaan dengan pembangunan, bagaimana bisa mensejahterakan masyarakat kita,” katanya.

    Novinjian Wujudkan Keinginan Jadi Pembawa Baki

    Di antara 70 anggota Paskibraka, Novinjian Safira merasakan pengalaman yang berbeda. Siswi SMAN 1 Sampit itu dipercaya menjadi pembawa baki bendera pusaka Merah Putih.

    Bagi Novinjian, tugas tersebut bukan sekadar tanggung jawab dalam sebuah upacara. Ada kebanggaan tersendiri karena ia berhasil mewujudkan keinginan yang sejak awal diimpikannya.

    ”Saya merasa senang sekaligus membanggakan orang tua saya,” ujarnya.

    Ia mengaku menjalani persiapan secara intensif selama sekitar dua pekan. Latihan mencakup pembentukan karakter, fisik, PBB dan berbagai materi lainnya.

    Sebelum sampai pada tahap latihan, Novinjian terlebih dahulu melewati proses seleksi. Pendaftaran dilakukan secara daring, kemudian dilanjutkan dengan tes fisik dan sejumlah tahapan lainnya.

    ”Alhamdulillah selama proses ini tidak ada hambatan,” katanya.

    Dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya mampu menjalani seluruh tahapan tersebut.

    ”Orang tua sangat mendukung, disertai doa orang tua dan usaha,” ujar pelajar yang bercita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan).

    Menjadi anggota Paskibraka juga menjadi pengalaman yang berarti baginya. Lebih dari itu, sejak awal mengikuti seleksi Paskibraka, ia memang berharap dapat dipercaya membawa baki.

    ”Tentunya masuk Paskibraka dan cita-cita saya ingin menjadi pembawa baki. Alhamdulillah terkabul,” katanya.

    Keinginannya tersebut akhirnya terwujud setelah dirinya masuk dalam empat orang yang dipersiapkan untuk tugas pembawa baki. Dua orang ditetapkan sebagai pembawa baki utama dan dua lainnya sebagai cadangan.

    Ketika mengetahui dirinya dipercaya menjalankan tugas utama, Novinjian mengaku sempat merasakan gugup.

    Namun, rasa itu tidak bertahan lama. Setelah prosesi dimulai, ia mampu mengendalikan diri dan menjalankan tugas hingga selesai.

    ”Jelas saya senang. Di awal masuk gugup. Setelahnya bisa tenang dan tidak gugup lagi,” tuturnya. (hgn)

  • Makna Kemerdekaan RI ke-81, Halikinnor Tegaskan Perjuangan Masa Kini Bangun Kotim dan Sejahterakan Masyarakat

    Makna Kemerdekaan RI ke-81, Halikinnor Tegaskan Perjuangan Masa Kini Bangun Kotim dan Sejahterakan Masyarakat

    SAMPIT, kanalindependen.id – Memaknai 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor menegaskan bahwa perjuangan generasi saat ini bukan lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kerja nyata untuk membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    ”Perjuangan kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata untuk membangun, memberikan pelayanan terbaik, menjaga persatuan, melindungi lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, perjuangan generasi saat ini harus diwujudkan dalam bentuk pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Halikinnor saat memberikan sambutan dalam agenda Silaturahmi Kebangsaan di Gedung Futsal Indoor Stadion 29 November, Senin (17/8/2026).

    Halikinnor menyebut kemerdekaan yang diraih melalui pengorbanan para pahlawan merupakan warisan sekaligus amanah yang harus dijaga dan diisi dengan kerja nyata.

    ”Hari ini bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah. Hari ini adalah saat bagi kita untuk mensyukuri pengorbanan para pahlawan, sekaligus meneguhkan kembali tanggung jawab kita untuk melanjutkan perjuangan,” kata Halikinnor.

    Menurut Halikin, pembangunan Kotim masih menghadapi pekerjaan besar. Pemerintah daerah masih harus meningkatkan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan perekonomian masyarakat, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda.

    Pembangunan tersebut tidak boleh hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi harus menjangkau desa-desa hingga wilayah pelosok.

    ”Kita ingin masyarakat merasakan perubahan yang nyata, jalan yang lebih baik, pelayanan publik yang mudah dan cepat, pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang memadai, dan kesejahteraan yang semakin baik,” ujarnya.

    Pembangunan Kotim Tetap Bergerak di Tengah Keterbatasan Anggaran

    Halikin menyadari pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi semangat dalam menjalankan pembangunan.

    ”Keterbatasan tersebut tidak boleh membatasi semangat kita untuk bekerja. Pemerintah harus semakin efisien, cermat, dan berani menentukan prioritas,” kata Halikinnor.

    Menurutnya, keterbatasan fiskal justru menuntut pemerintah semakin selektif dalam menentukan program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

    ”Artinya, pembangunan harus diarahkan pada kebutuhan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

    Halikinnor berharap selama proses memperjuangkan pembangunan di Kotim berjalan dengan aman dan kondusif.

    Karena itu, ia menyampaikan apresiasi kepada berbagai unsur yang selama ini berperan menjaga keamanan dan ketertiban, mulai dari TNI, Polri, Satpol PP hingga perangkat pemerintahan di tingkat kecamatan, kelurahan, desa, RT dan RW.

    ”Mari kita cegah konflik, selesaikan persoalan dengan musyawarah, dan jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persatuan,” ujarnya.

    Halikinnor ingin Kotim menjadi daerah yang memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam bekerja dan berusaha, sekaligus menjadi tempat yang baik bagi generasi muda untuk belajar dan berkembang.

    ”Kita ingin Kotawaringin Timur menjadi daerah yang aman untuk bekerja, berusaha, berinvestasi, belajar, dan membesarkan anak-anak kita,” katanya.

    Habaring Hurung sebagai Modal Pembangunan

    Halikinnor juga menempatkan semangat Habaring Hurung sebagai kekuatan masyarakat Kotim dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

    Ia meyakini Kotim memiliki modal besar berupa sumber daya alam, sumber daya manusia, masyarakat yang bekerja keras dan generasi muda yang kreatif. Namun, yang tidak kalah penting adalah semangat gotong royong.

    ”Habaring Hurung bukan sekadar ungkapan. Habaring Hurung adalah jati diri kita dan merupakan pesan yang dititipkan oleh nenek moyang kita agar kita terus bersemangat untuk saling membantu, saling menguatkan, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar,” ujarnya.

    Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh unsur daerah mengambil peran dalam pembangunan.

    ”Pemerintah bekerja. Masyarakat bergerak. Dunia usaha berkontribusi. Generasi muda berkarya. Seluruh elemen daerah bergotong royong,” tegasnya.

    Halikinnor juga mengingatkan bahwa keberagaman masyarakat Kotim harus menjadi kekuatan untuk membangun daerah.

    Perbedaan suku, agama, budaya dan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh.

    ”Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, dan latar belakang. Tetapi kita memiliki rumah yang sama, yaitu Kotawaringin Timur,” katanya.

    Ia meminta kepentingan daerah dan masa depan generasi muda menjadi perhatian.

    ”Jangan biarkan perbedaan memisahkan kita, jangan biarkan provokasi merusak persaudaraan, dan jangan biarkan kepentingan sesaat mengalahkan kepentingan daerah serta masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

    Halikinnor berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi penguat tekad seluruh elemen daerah untuk melanjutkan pembangunan.

    ”Kita harapkan masyarakat membangun Kotim melalui karya, menjaga daerah dengan kepedulian dan memperkuat kebersamaan agar pembangunan benar-benar bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. (hgn)

  • Terisolasi dan Kehabisan Air, Petani di Sampit Ini Nekat Bakar Lahan Demi Tahan Karhutla

    Terisolasi dan Kehabisan Air, Petani di Sampit Ini Nekat Bakar Lahan Demi Tahan Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Perjuangan nekat mewarnai upaya penyelamatan lahan pertanian warga dari ancaman amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Menghadapi kobaran api dari kawasan Jalan Kacapiring Barat yang terus merambat mendekati kawasan pertanian Bumi Indah, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, para petani terpaksa mengambil keputusan ekstrem pada Minggu malam (16/8/2026).

    Tanpa akses armada pemadam dan di tengah kondisi sumber air yang mengering, petani memilih membakar lahan kosong di jalur rambatan api guna membuat sekat bakar darurat (backfiring).

    Langkah nekat ini diambil lantaran api yang berasal dari Kacapiring Barat bergerak makin agresif ke arah hulu kawasan pertanian Bumi Indah. Jika tidak diputus pasokan bahan bakarnya, belasan hektare kebun dan tanaman siap panen milik warga bakal menjadi sasaran berikutnya.

    Salah seorang petani lokal, Ian, mengungkapkan bahwa keputusan membakar lahan secara terkendali untuk membuat sekat api adalah satu-satunya opsi rasional yang tersisa di lapangan.

    “Tidak akan ke sini apinya karena sudah saya putus jalannya,” ucapnya.

    Menurutnya, kalau tak seperti itu, api mengancam kebun nanas dan pondoknya . Sementara  mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk.  

    “Mau bagaimana lagi sumber air habis. Panggil pemadam pun tidak bias masuk,” imbuhnya.

    Dijelaskannya lokasi kawasan pertaniannya berada di dekat sungai. Sehingga rawan ambles bagi truk bertonase berat seperti pemadam kebakaran.


    “Truk pengantar pasir saja ambles karena jalannya,” ungkap Ian, menceritakan terisolasinya jalur darat ke lokasi.

    Kondisi geografis kawasan pertanian Bumi Indah yang terletak di sisi Sungai Mentawa memang sangat menyulitkan penanganan teknis. Selain akses jalan tanah yang lembek dan tidak sanggup menahan bobot armada tangki besar, Sungai Mentawa yang biasanya menjadi tumpuan utama pasokan air pemadaman kini surut total hingga mengering akibat kemarau.

    Petani lainnya, Siti, membenarkan bahwa warga sempat berulang kali menghubungi petugas pemadam kebakaran. Namun, ketiadaan sumber air dan akses jalan yang tidak memungkinkan membuat armada darurat tidak bisa berbuat banyak.

    “Kami juga sudah telepon pemadam, namun karena tidak ada solusi akses dan sumber air maka pemadam tidak bisa ke sini,” tutur Siti.

    Meski sekat bakar buatan Ian berhasil menahan laju utama kepala api sebelum menembus kebun warga, ancaman belum sepenuhnya sirna. Angin malam yang bertiup kencang kerap membawa terbang bara api (flying embers) dan abu panas dari sisa pembakaran menuju kebun serta area pemukiman.

    Hingga saat ini, para petani Bumi Indah terpaksa melakukan ronda pemantauan mandiri secara bergantian sepanjang malam. Warga berharap ada solusi darurat berupa bantuan pompa portabel atau pembuatan sumur bor di kawasan pertanian tersebut agar sumber penghidupan mereka tidak ludes dilalap api.

    Aksi nekat petani Bumi Indah yang membuat sekat bakar (backfiring) dengan cara membakar lahan adalah potret keputusasaan warga akibat terputusnya akses pertolongan darurat dan keringnya infrastruktur air (water deficit). Meskipun skema backfiring adalah teknik pemadaman tradisional yang diakui secara teknis untuk memutus bahan bakar api, aksi swakarsa tanpa pengawasan ahli sangat berisiko memicu titik kebakaran baru yang lebih tidak terkendali.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan desakan penanganan lingkungan yang sangat tajam: Di antaranya, pengadaan pompa portabel dan sumur bor pertanian: Pemkab Kotim melalui Dinas Pertanian dan BPBD didesak segera menerjunkan unit pompa air portabel serta membangun titik sumur bor darurat di sentra pertanian Bumi Indah. Ketergantungan pada air sungai yang mengering saat kemarau terbukti menjadi titik lemah yang membahayakan ketahanan pangan daerah.

    Selain itu, standardisasi Jalur Evakuasi dan Pemadam di Kawasan Pesisir Sungai: Akses jalan menuju kawasan pertanian di sepanjang koridor Sungai Mentawa wajib diperbaiki dan diperkeras (paving/sirtu). Jalur darat yang memadai adalah syarat mutlak agar armada Damkar dan Satgas Karhutla dapat melakukan intervensi cepat sebelum warga bertindak nekat di luar prosedur keselamatan.

    Penuhi pasokan air darurat, lindungi kebun petani dari karhutla! Petani Bumi Indah nekat bikin sekat bakar! BPBD dan Dinas Pertanian wajib turunkan bantuan pompa portabel! (***)

  • Gudang Alat Tulis di SPG Permai I Terbakar, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah

    Gudang Alat Tulis di SPG Permai I Terbakar, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Musibah kebakaran hebat melanda kawasan permukiman perkotaan di Jalan SPG Permai I, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Senin (17/8/2026) sore. Sebuah bangunan semi permanen berukuran 10 x 20 meter persegi yang difungsikan sebagai gudang alat tulis sekolah (ATS) ludes dilalap api.

    Bangunan penampungan material perlengkapan sekolah tersebut diketahui milik Erlinda (50). Laporan amukan api pertama kali diterima oleh Mako Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim pada pukul 16.01 WIB dari kepulan asap tebal yang disaksikan warga sekitar.

    Kepala Disdamkarmat Kotim Achmad Taufik, mengonfirmasi bahwa penanganan langsung dilakukan secara masif mengingat banyaknya bahan mudah terbakar berupa kertas dan plastik di dalam gudang.

    “Objek yang terbakar merupakan gudang alat tulis sekolah. Pihak kami mengerahkan armada ke lokasi untuk melakukan pemadaman dan memblokir pergerakan api agar tidak merembet,” ungkap Achmad Taufik, Senin (17/8/2026).

    Mengerahkan unit MUPK 05, MUPK 06, MTPK 14, serta satu unit armada suplai pemadam, petugas mulai melakukan penetrasi penjinakan api pada pukul 16.16 WIB. Amukan api berhasil dikendalikan dan dilanjutkan dengan proses pendinginan (overhaul) hingga seluruh operasi dinyatakan rampung pada pukul 17.45 WIB.

    Operasi pemadaman ini melibatkan tim gabungan dari BPBD, PLN, Kepolisian, PMI Kotim, Relawan Masjid Jami, Relawan Ketapi 3, serta MPA Kelurahan Mentawa Baru Hilir. Bahkan, Wakil Bupati Kotim turut hadir langsung di lokasi kejadian untuk meninjau penanganan darurat.

    Meski dipastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini, nilai kerugian materiil akibat hangusnya persediaan alat tulis sekolah tersebut ditaksir mencapai Rp700 juta. Hingga saat ini, penyebab pasti kemunculan api masih dalam penyelidikan (investigation) jajaran kepolisian setempat.

    Terbakarnya gudang alat tulis sekolah di Jalan SPG Permai I ini menggarisbawahi risiko tinggi keberadaan gudang penyimpanan bahan kearsipan/kertas (flammable materials) di tengah kawasan padat permukiman. Penumpukan barang kering dalam skala besar tanpa proteksi sistem pemadam otomatis (sprinkler) menjadikan bangunan sangat rentan memicu kebakaran berdaya rusak tinggi.

    Kanal Independen memberikan catatan evaluasi dan penegakan regulasi keselamatan yang sangat tajam:

    1. Audit Proteksi Kebakaran Gudang Niaga dan Bangunan Komersial: Pemkab Kotim melalui Disdamkarmat didesak mengintensifkan inspeksi kelayakan Sistem Proteksi Kebakaran (SKK) pada seluruh gudang niaga di wilayah Mentawa Baru Ketapang. Bangunan komersial wajib dilengkapi APAR memadai dan instalasi listrik berstandar SNI.
    2. Standardisasi Izin Layak Fungsi (SLF) Bangunan Penyimpanan: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kotim perlu mengevaluasi izin zonasi gudang penyimpanan barang di dalam gang permukiman warga untuk mengantisipasi potensi bahaya kebakaran serupa di masa mendatang.

    Audit proteksi gudang niaga, amankan permukiman warga!  Gudang alat tulis SPG Permai I ludes terbakar!  Kerugian capai Rp700 juta, Polres Kotim usut pemicu api! (***)

  • 490 Hotspot Terdeteksi di Kotim, 189 Titik Terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan

    490 Hotspot Terdeteksi di Kotim, 189 Titik Terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 490 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam akumulasi 24 jam terakhir. Sebaran titik panas tersebut didominasi kawasan selatan Kotim, dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah paling banyak menyumbang hotspot.

    Data rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses pada 17 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan, dari 490 titik panas yang terpantau, sebanyak 441 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 37 titik rendah dan 12 titik tinggi.

    ”Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi. Kecamatan tersebut mencatat 189 titik panas, atau hampir 40 persen dari seluruh hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo dalam perbaruan data titik panas di Kotim, Senin (17/8/2026).

    Sebaran di Mentaya Hilir Selatan juga tidak merata. Samuda Besar menyumbang 50 titik, disusul Handil Sohor 35 titik, Kelurahan Samuda Kota 32 titik, Samuda Kecil 23 titik, Sebamban 22 titik dan Jaya Karet 18 titik.

    Kondisi ini membuat kawasan selatan Kotim menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian serius di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Setelah Mentaya Hilir Selatan, jumlah hotspot terbanyak berada di Teluk Sampit dengan 75 titik. Selanjutnya Mentaya Hilir Utara mencatat 60 titik dan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 54 titik.

    Di Teluk Sampit, sebagian besar hotspot terkonsentrasi di Lampuyang dengan 53 titik, kemudian Parebok 17 titik dan Kuin Permai lima titik.

    Sementara di Mentaya Hilir Utara, Bagendang Tengah menjadi titik konsentrasi utama dengan 53 hotspot dari total 60 titik yang terpantau di kecamatan tersebut.

    Adapun di Mentawa Baru Ketapang, hotspot tersebar di sejumlah wilayah. Kelurahan Ketapang mencatat 16 titik, Kelurahan Pasir Putih 12 titik dan Bangkuang Makmur 12 titik. Selain itu, terdapat hotspot di Bapeang, Eka Bahurui, Kelurahan Mentawa Baru Hulu dan Telaga Baru.

    Jika empat kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi tersebut digabungkan, terdapat 378 titik panas. Angka itu setara sekitar 77 persen dari total hotspot Kotim dalam periode pemantauan.

    Sebaran hotspot juga terpantau di sejumlah kecamatan lain. Baamang mencatat 41 titik, Antang Kalang 10 titik, Mentaya Hulu 11 titik, Seranau sembilan titik, sedangkan Kota Besi, Parenggean dan Telawang masing-masing delapan titik.  

    Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi memang hanya berjumlah 12. Namun, seluruhnya terkonsentrasi di Mentaya Hilir Selatan, sehingga wilayah tersebut menjadi perhatian tersendiri dalam pemantauan potensi karhutla.

    “Data hotspot sendiri merupakan indikator adanya anomali panas yang terdeteksi sensor satelit dan bukan otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Karena itu, temuan tersebut tetap membutuhkan verifikasi di lapangan,” katanya.

    Dengan ratusan hotspot yang tersebar dalam 24 jam terakhir, ancaman karhutla di Kotim masih cukup tinggi. Pemantauan dan pemeriksaan lapangan menjadi penting, terutama pada wilayah dengan konsentrasi hotspot yang padat.

    Kondisi ini juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus di sekitar pusat Kota Sampit. Kawasan selatan Kotim kini menjadi salah satu titik perhatian karena konsentrasi hotspot yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. (***)

  • Karhutla Kapten Mulyono Sampit Jadi Pertarungan Panjang, Api Masih Berasap di Hari Ketiga

    Karhutla Kapten Mulyono Sampit Jadi Pertarungan Panjang, Api Masih Berasap di Hari Ketiga

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Kapten Mulyono tepatnya Jalan Kacapiring Barat, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum benar-benar berakhir.

    Memasuki hari ketiga, asap masih mengepul dari kawasan lahan yang terbakar. Api yang sempat membesar kembali menyisakan bara di areal gambut, membuat penanganan menjadi lebih sulit.

    Warga yang tinggal tak jauh dari lokasi mengatakan kebakaran pertama kali terjadi pada Sabtu (15/8/2026). Kobaran api kemudian membesar pada Minggu dan hingga Senin (17/8/2026) masih terlihat asap dari kawasan tersebut.

    “Sudah tiga hari ini. Kebakaran ini sudah terjadi sejak Sabtu, membesar kemarin, lalu hingga hari ini masih mengeluarkan asap,” ungkap Dima, warga di Jalan Kacapiring Barat.

    Persoalan tidak berhenti pada kondisi lahan yang mudah terbakar. Titik karhutla berada cukup jauh dari akses utama dan tidak memiliki sumber air di sekitar lokasi.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan lokasi kebakaran berada sekitar satu kilometer dari Jalan Kapten Mulyono Sampit.

    “Lokasi sekitar 1 kilometer dari jalan utama, sementara sumber air tidak ada,” ungkap Rihel saat berada di lokasi.

    Jarak tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan upaya lebih. Petugas harus membawa air menuju titik kebakaran menggunakan kendaraan dengan kapasitas terbatas.

    Menurut Rihel, jalur menuju lokasi hanya dapat dilalui truk dengan tangki kecil. Untuk menjangkau titik api, petugas juga harus menggunakan selang yang cukup panjang.

    Situasi semakin rumit karena personel Satgas Karhutla tidak dapat menetap selama 24 jam di satu lokasi. Mereka harus berpindah untuk menangani titik kebakaran lain yang juga membutuhkan penanganan.

    Kondisi itu diduga membuat api kembali membesar setelah petugas meninggalkan lokasi. Apalagi lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut.

    Pada lahan gambut, api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah terlihat sudah mengecil. Bara yang tersisa dapat kembali muncul ketika kondisi mendukung.

    “Petugas tidak bisa 24 jam berada di lokasi karena harus memadamkan di lokasi lain,” kata Rihel.

    Karhutla di Kacapiring Barat akhirnya menjadi pertarungan panjang antara petugas dan kondisi lapangan. Jarak dari jalan utama, ketiadaan sumber air serta karakter lahan gambut membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan hanya dengan sekali penanganan.

    Hingga Senin, kawasan tersebut masih mengeluarkan asap. Satgas Karhutla Kotim terus melakukan pemantauan dan penanganan untuk mencegah api kembali membesar dan merembet ke area lain. (***)