Kategori: Kalteng

  • Remisi Lebaran untuk 509 Warga Binaan, Tujuh Narapidana Lapas Sampit Hirup Udara Bebas

    Remisi Lebaran untuk 509 Warga Binaan, Tujuh Narapidana Lapas Sampit Hirup Udara Bebas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momen penuh harapan bagi ratusan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit.

    Sebanyak 509 narapidana menerima remisi khusus, dan tujuh di antaranya langsung menghirup udara bebas setelah mendapatkan Remisi Khusus II, Sabtu (21/3/2026).

    Pemberian remisi tersebut merupakan bagian dari pemenuhan hak warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif sesuai ketentuan yang berlaku.

    Selain itu, remisi juga menjadi bentuk penghargaan atas sikap baik, kepatuhan, serta keikutsertaan dalam program pembinaan selama menjalani masa pidana.

    Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, mengatakan bahwa remisi khusus Idulfitri merupakan momentum penting yang tidak hanya bermakna secara hukum, tetapi juga secara kemanusiaan.

    Menurutnya, Hari Raya Idulfitri menjadi saat yang tepat untuk menumbuhkan semangat baru bagi warga binaan agar terus memperbaiki diri.

    ”Remisi khusus Hari Raya Idulfitri ini adalah bentuk penghargaan negara kepada warga binaan yang telah menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Kami berharap remisi ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus mengikuti pembinaan dengan sungguh-sungguh dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat,” ujar Muhammad Yani.

    Berdasarkan data per 13 Maret 2026, jumlah warga binaan beragama Islam di Lapas Kelas IIB Sampit tercatat sebanyak 763 orang, terdiri dari 170 tahanan dan 593 narapidana.

    Dari total narapidana tersebut, sebanyak 509 orang dinyatakan memenuhi syarat dan menerima remisi khusus Idulfitri tahun ini.

    Rinciannya, untuk Remisi Khusus I sebanyak 171 orang. Dari jumlah tersebut, 151 orang menerima remisi 15 hari, sementara 20 orang lainnya memperoleh remisi 1 bulan.

    Kemudian pada kategori remisi lanjutan, terdapat 338 orang penerima, dengan rincian 296 orang mendapat remisi 1 bulan, 38 orang menerima 1 bulan 15 hari, dan 4 orang lainnya memperoleh remisi 2 bulan.

    Sementara itu, pada kategori Remisi Khusus II atau remisi yang langsung mengantarkan narapidana bebas, terdapat 7 orang penerima.

    Dari jumlah tersebut, 5 orang menerima remisi 15 hari, dan 2 orang lainnya memperoleh remisi 1 bulan.

    Muhammad Yani menegaskan, pemberian remisi bukan semata-mata pengurangan masa pidana, melainkan bagian dari proses pembinaan yang dirancang untuk membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan warga binaan dalam menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

    ”Idulfitri adalah momen yang sarat dengan makna pengampunan, introspeksi, dan kesempatan untuk memulai lembaran baru. Bagi warga binaan, remisi ini bukan hanya pengurangan hukuman, tetapi juga pesan bahwa selalu ada ruang untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali menjadi bagian yang baik di tengah masyarakat,” katanya.

    Dia menambahkan, pihak lapas terus mendorong seluruh warga binaan agar aktif mengikuti program pembinaan kepribadian maupun kemandirian.

    Dengan demikian, masa pidana yang dijalani tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum, tetapi juga menjadi proses pembelajaran menuju kehidupan yang lebih terarah.

    Pemberian remisi khusus keagamaan pada momen Idulfitri juga menghadirkan suasana haru di lingkungan lapas.

    Bagi para penerima, remisi menjadi hadiah yang penuh makna di hari kemenangan. Terlebih bagi tujuh warga binaan yang langsung bebas, Idulfitri tahun ini menjadi titik awal baru untuk kembali ke keluarga dan menata masa depan dengan lebih baik.

    ”Melalui kebijakan ini, negara tidak hanya menjalankan fungsi pemidanaan, tetapi juga memperlihatkan sisi pembinaan yang humanis. Remisi menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem pemasyarakatan, yakni memberi kesempatan kepada warga binaan untuk berubah dan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih siap, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Skandal Dana Hibah Kotim: Dari Proyek Titipan hingga Organisasi “Hantu”, Siapa Pejabat Bakal Terseret?

    Skandal Dana Hibah Kotim: Dari Proyek Titipan hingga Organisasi “Hantu”, Siapa Pejabat Bakal Terseret?

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tabir gelap yang menyelimuti sengkarut dana hibah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan keagamaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) perlahan tersingkap.

    Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotim tidak lagi sekadar berhadapan dengan tumpukan berkas administrasi yang lemah, melainkan sebuah dugaan pola penyimpangan anggaran yang terstruktur.

    Informasi yang dihimpun mengungkap indikasi pola permainan anggaran. Dana yang semestinya menjadi urat nadi kegiatan sosial masyarakat diduga mengalami penyimpangan sejak fase pengusulan, pengesahan, hingga pencairan.

    Salah satu pintu masuk utama yang dimanfaatkan adalah “titipan anggaran” melalui pokok-pokok pikiran (pokir) anggota legislatif.

    Melalui skema ini, alokasi dana hibah mengalir deras, bukan kepada kelompok yang memiliki kebutuhan riil, melainkan diarahkan kepada nama-nama yang diduga telah disiapkan sebelumnya.

    Praktik ini semakin terang ketika penyidik menelusuri dugaan penerima fiktif. Sejumlah organisasi beserta pengurusnya tercatat menerima dana, namun nihil aktivitas nyata di lapangan.

    Saat diperiksa, beberapa pihak bahkan mengaku terkejut karena tidak pernah mengetahui adanya proposal yang diajukan atas nama mereka.

    ”Ini yang jadi persoalan serius. Ada yang tidak bisa mempertanggungjawabkan, bahkan ada yang merasa namanya dicatut,” ungkap seorang sumber internal yang mengetahui jalannya pemeriksaan.

    Rentetan temuan ini kian menguatkan indikasi bahwa dana hibah tidak sekadar salah sasaran, melainkan diduga telah beralih fungsi menjadi ajang bancakan.

    Anggaran yang semestinya menjadi urat nadi kegiatan sosial dan keagamaan, disinyalir berpindah lintasan melalui skema berlapis yang sengaja dibuat buram dari pengawasan publik.

    Bayang-bayang keterlibatan oknum pejabat politik disebut-sebut mulai terlihat jelas. Pengembangan penyidikan disebut mulai mengarah pada pihak-pihak yang memiliki peran strategis dalam proses penentuan anggaran daerah.

    ”Prosesnya panjang, karena yang diperiksa banyak dan saling berkaitan. Tapi, persoalan intinya sudah terang, tinggal bagaimana penegakan hukumnya. Nama-nama sudah ada, tinggal pembuktian lebih lanjut. Ini tidak mungkin berdiri sendiri,” sebut sumber internal tersebut, mengisyaratkan adanya aktor di balik layar.

    Rentetan temuan ini memantik reaksi keras publik. Aktivis antikorupsi sekaligus mantan Ketua HMI Kotim, Burhanurohman, menilai indikasi ini bukan lagi sekadar kesalahan prosedur administrasi.

    “Kalau benar ada hibah fiktif dan titipan anggaran, ini sudah masuk kategori penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

    Dia mengingatkan bahwa dana hibah mutlak milik publik dan bukan ajang kompromi atau berbagi jatah politik.

    Burhanurohman mendesak penegak hukum bergerak cepat, sebab penanganan yang berlarut hanya akan menghancurkan sisa kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dan legislatif.

    ”Kalau buktinya sudah mengarah, jangan ditahan-tahan lagi. Umumkan tersangkanya. Mau itu pejabat daerah atau oknum DPRD, harus dibuka. Jangan sampai publik menilai ada yang dilindungi,” tandasnya.

    Hingga saat ini, Kejari Kotim belum merilis pernyataan resmi mengenai identitas pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban. Publik masih menunggu langkah berani aparat untuk menyeret aktor utama di balik dugaan skandal ini ke ruang terang. (ign)

  • Beda Generasi, Beda Gaya Lebaran: Ketika Gen Z Kirim Stiker WA dan Mudik Bawa Laptop

    Beda Generasi, Beda Gaya Lebaran: Ketika Gen Z Kirim Stiker WA dan Mudik Bawa Laptop

    SAMPIT, kanalindependen.id – Asap tipis dari tungku kayu bakar yang memanaskan opor ayam masih menyisakan aroma pekat di dapur.

    Sayup-sayup, gema takbir bersahutan dari pengeras suara masjid kampung.

    Duduk tegak di kursi kayu ruang tamu, seorang nenek merapikan letak selendangnya, menanti dengan sabar anak cucu yang sebentar lagi merunduk untuk sungkem.

    Pemandangan klasik ini berpadu dengan realitas baru sejengkal darinya. Seorang perempuan muda berusia 23 tahun bersandar di tembok, jarinya menari cepat di atas layar ponsel cerdas.

    Ia sedang mengirim ucapan Selamat Idulfitri ke puluhan kontak sekaligus lewat fitur siaran (broadcast) WhatsApp, lengkap dengan animasi ketupat bergoyang.

    Selamat datang di lanskap Lebaran tahun 2026. Momen suci yang sama, dirayakan oleh dua generasi yang seolah berdiri di semesta berbeda.

    Dari Kartu Pos ke Stiker Animasi

    Ingatan generasi yang lebih tua mungkin masih lekat pada lembaran kartu pos bergambar masjid.

    Benda itu harus dibeli, ditulisi untaian doa dengan pena, lalu dikirim berhari-hari sebelum tanggal merah tiba. Jika rindu tak tertahan, pilihan lainnya adalah berdiri mengantre panjang di bilik wartel demi mendengar suara keluarga di seberang pulau.

    Anak-anak muda masa kini telah meruntuhkan batas jarak dan waktu itu. Platform seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga Snapchat mengambil alih peran Pak Pos.

    Untaian kalimat khidmat bertransformasi menjadi templat visual estetik bernuansa membumi (earth tone) yang dibagikan ulang tanpa henti.

    Ada kalanya ucapan itu dikirim berupa pesan suara sepuluh detik, direkam dengan napas yang masih terengah usai berjalan pulang dari lapangan tempat Salat Id.

    Ironi manisnya terhampar jelas. Seorang anak muda hari ini bisa menjangkau ratusan kerabat dalam hitungan detik. Sebuah keajaiban yang mustahil dilakukan orang tuanya dahulu meski memborong berkarung-karung kartu pos.

    Amplop Cokelat vs Transfer GoPay

    Anak-anak yang tumbuh di era 90-an pasti mengenal debaran saat menanti pamit pulang. Itulah momen pamungkas ketika paman atau bibi akan menyelipkan amplop cokelat atau merah berbau uang kertas baru ke dalam genggaman.

    Tradisi salam tempel itu kini menemukan bentuk barunya. Para Gen Z tumbuh menjadi generasi yang mendewakan kepraktisan.

    Uang kertas perlahan digantikan oleh rentetan notifikasi dompet digital. Aplikasi seperti GoPay, OVO, DANA, hingga ShopeePay menjelma menjadi amplop virtual.

    Tidak ada lagi drama mengantre di bank untuk menukarkan pecahan uang. Saldo yang masuk pun bisa langsung dihabiskan untuk melunasi keranjang belanja di e-commerce. Lembaran uang fisik memang belum sepenuhnya punah. Maknanya perlahan bergeser dari sebuah keharusan menjadi sekadar pemicu nostalgia.

    Kewajiban Baju Baru yang Mulai Dipertanyakan

    Memasuki hari kemenangan tanpa mengenakan pakaian baru pernah dianggap sebagai sebuah kekurangan besar, setidaknya bagi mereka yang besar di awal tahun 2000-an. Baju baru adalah simbol sakral pembeda hari raya dari hari biasa.

    Pola pikir pragmatis perlahan meruntuhkan tradisi lama. Di kalangan Gen Z, Lebaran tidak lagi melulu soal mematut diri dengan pakaian anyar yang menguras kantong.

    Sebuah pergeseran nilai mulai tampak, mereka lebih mengutamakan fungsi dan kelayakan pakaian yang sudah ada di lemari, demi menjaga napas keuangan tetap sehat pasca-hari raya.

    Pilihan untuk tidak membeli baju baru kini bukan lagi simbol kekurangan, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup yang lebih sadar finansial.

    Fokus mereka bergeser. Dari sekadar mengejar penampilan fisik, menjadi upaya memastikan kondisi tabungan tidak goyah hanya demi perayaan satu hari.

    Menariknya, tren yang justru terasa melonjak adalah pembelian baju sarimbit atau seragam keluarga.

    Kini, pemandangan keluarga besar tampil dengan warna dan corak senada hampir selalu menghiasi linimasa media sosial setiap hari raya.

    Motif utamanya sering kali melenceng dari urusan tradisi. Sebagian besar anak muda menyukai baju seragam karena alasan visual. Memastikan foto keluarga terlihat rapi dan pantas dipajang di galeri Instagram.

    Kewajiban Pulang vs “Lebaran di Kota Aja”

    Memutuskan untuk tidak pulang kampung saat Lebaran adalah pantangan besar bagi orang tua zaman dulu. Keputusan itu sulit dijelaskan kepada kerabat, dan jauh lebih sulit lagi dimaafkan oleh ibu yang menunggu di depan pintu rumah.

    Pola ini retak ketika fenomena “Lebaran di kota” makin lazim diadopsi Gen Z dan milenial.

    Ongkos tiket perjalanan yang mahal, tuntutan pekerjaan yang enggan kompromi, hingga alasan personal menghindari rentetan pertanyaan tajam seputar kehidupan pribadi dari keluarga besar, menjadi pembenar untuk tetap bertahan di perantauan.

    Kelompok yang memutuskan tetap mudik pun menghadirkan anomali gaya baru. Lelucon di platform X kerap memotret realitas ini dengan tajam.

    Meme soal anak muda yang pulang kampung bukan membawa cerita kesuksesan, melainkan menenteng laptop kerja, kerap muncul di platform X setiap musim Lebaran dan disambut ribuan pengakuan serupa.

    Momen kumpul keluarga kini sering kali dijeda oleh rapat Zoom dengan latar belakang gorden batik lawas milik nenek, sementara tenggat waktu pekerjaan tetap mengejar di tengah lantunan takbir.

    Ruang Privat vs Publik

    Perbedaan paling mencolok terlihat dari cara kedua generasi ini merawat memori. Generasi sepuh memperlakukan momen Lebaran sebagai harta karun pribadi.

    Foto keluarga dicetak dengan hati-hati, lalu ditempel di dinding ruang tamu atau dimasukkan ke dalam album tebal yang hanya akan dikeluarkan saat ada tamu berkunjung.

    Cara kerja mesin memori Gen Z jauh lebih terbuka. Mereka mendokumentasikan sekaligus menyiarkan setiap detik perayaan.

    Prosesinya terencana; mulai dari swafoto usai Salat Id, video transisi berganti pakaian tidur menjadi baju koko, hingga vlog perjalanan menembus jalanan menuju halaman rumah kampung halaman.

    Lebaran tidak sekadar dirayakan, melainkan dikurasi ketat sebelum dipublikasikan ke dunia maya. Ada semacam keyakinan baru yang tak tertulis: sebuah perayaan belum benar-benar sahih jika jejak digitalnya tidak terukir di media sosial.

    Esensi yang Menolak Usang

    Mengotakkan fenomena ini ke dalam perdebatan tentang siapa yang paling benar adalah sebuah kesia-siaan. Menyibak semua lapisan perbedaan teknis tersebut, ada satu benang merah yang mengikat erat antargenerasi: insting manusia untuk saling terhubung.

    Nenek yang duduk tenang menunggu di ruang tamu dan cucunya yang sibuk menatap layar membagikan pesan siaran sedang melakukan pekerjaan yang sama.

    Keduanya sedang berusaha merawat ingatan, mengirimkan sinyal tak kasat mata bahwa mereka masih saling mengingat dan memedulikan.

    Bahasanya sudah berubah. Medium penyampaiannya juga telah berganti rupa. Namun, pesan yang dibawa mengarungi puluhan tahun pergantian zaman tetap sama dan tidak pernah membutuhkan pembaruan versi: Mohon maaf lahir dan batin. (ign)

  • Libur Lebaran Rawan Insiden, Ketua DPRD Kotim Tekankan Nihil Kecelakaan di Lokasi Wisata

    Libur Lebaran Rawan Insiden, Ketua DPRD Kotim Tekankan Nihil Kecelakaan di Lokasi Wisata

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang musim libur dan perayaan hari besar keagamaan, keselamatan pengunjung di objek wisata kembali disorot.

    Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rimbun, mengingatkan agar pengelola tidak hanya mengejar ramai pengunjung, tetapi juga memastikan standar pengamanan benar-benar berjalan di lapangan.

    Rimbun mendorong setiap pengelola wisata di Kotim menyiapkan petugas khusus untuk mengantisipasi dan menangani potensi kejadian darurat.

    Menurutnya, kehadiran personel yang memiliki kemampuan penanganan kedaruratan, seperti dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau tenaga terlatih lainnya, menjadi kebutuhan penting, terutama di lokasi yang berisiko tinggi.

    ”Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Kami menekankan agar setiap objek wisata menyiapkan petugas, baik dari BPBD atau tenaga sejenis yang memiliki kemampuan penanganan darurat,” ujarnya.​

    Dia menegaskan, langkah tersebut diperlukan untuk meminimalisir risiko kecelakaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

    Hal itu dinilai sangat penting saat musim libur panjang atau hari besar keagamaan, karena jumlah pengunjung di berbagai titik wisata meningkat signifikan.

    ”Kami menekankan supaya zero accident di wisata-wisata kita bisa benar-benar terwujud, baik di pantai maupun wisata buatan,” tegasnya.​

    Rimbun juga mengingatkan, pengelola tidak boleh hanya fokus pada aspek kenyamanan dan daya tarik semata.

    Standar keselamatan wajib dipenuhi, mulai dari penyediaan alat keselamatan, pemasangan rambu peringatan di titik-titik rawan, hingga prosedur penanganan darurat yang jelas dan bisa segera dijalankan jika terjadi sesuatu.

    Selain kesiapan di tingkat pengelola, ia mendorong adanya koordinasi lintas instansi.

    Dinas terkait, aparat keamanan, hingga relawan diminta terlibat aktif untuk memastikan kesiapsiagaan di setiap objek wisata yang berpotensi ramai dikunjungi.

    ”Ini perlu kolaborasi semua pihak. Jangan sampai ada kejadian yang tidak diinginkan baru kita bertindak. Pencegahan harus menjadi prioritas,” katanya. (ign)

  • Ditenggat Akhir Maret, Unit Pengumpul Zakat Wajib Tuntaskan Laporan Zakat ke Kemenag Kotim

    Ditenggat Akhir Maret, Unit Pengumpul Zakat Wajib Tuntaskan Laporan Zakat ke Kemenag Kotim

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan tenggat waktu bagi seluruh Unit Pengumpul Zakat (UPZ) untuk menuntaskan laporan pengumpulan zakat paling lambat akhir Maret 2026.

    Hal ini ditegaskan dalam surat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Timur Nomor: B-249/Kk.15.4.7/BA.03.2/02/2026 tertanggal 18 Februari 2026 tentang pemberitahuan pelaksanaan kadar zakat fitrah, zakat maal, infak, shodaqoh dan fidyah.

    Surat tersebut ditujukan kepada Ketua BAZNAS Kotim, Ketua Lembaga Amil Zakat (LAZ), Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan, serta Ketua UPZ se-Kotawaringin Timur.

    Dalam isi surat dijelaskan, mekanisme pelaporan dilakukan secara berjenjang. UPZ dan LAZ wajib menyampaikan laporan hasil pengumpulan zakat ke KUA kecamatan masing-masing paling lambat 27 Maret 2026.

    Selanjutnya, laporan tersebut akan direkap oleh KUA untuk kemudian disampaikan ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Timur paling lambat 30 Maret 2026.

    Selain mengatur batas waktu pelaporan, Kepala Kemenag Kotim Nur Widiantoro juga menetapkan besaran zakat fitrah tahun 1447 Hijriah.

    Untuk zakat fitrah dalam bentuk beras ditetapkan sebesar 3,5 liter atau setara 2,8 kilogram per jiwa, disesuaikan dengan jenis beras yang dikonsumsi sehari-hari.

    Sementara jika dibayarkan dalam bentuk uang, nilainya bervariasi berdasarkan kategori beras, yakni Rp39.200 untuk beras biasa, Rp47.600 untuk beras medium, Rp58.800 untuk beras premium, Rp72.800 untuk beras premium super, dan Rp114.800 untuk beras khusus seperti beras merah.

    ”Nilai zakat fitrah, zakat mal, sedekah dan fidyah  mengacu sesuai Surat Edaran MUI Kalteng per 10 April 2022,” ujarnya.

    Adapun fidyah ditetapkan menggunakan bahan mentah berupa beras sebanyak satu mud atau setara 7 ons per hari.

    Sedangkan zakat maal atau harta dihitung berdasarkan harga emas, yakni senilai 85 gram emas dengan tarif 2,5 persen.

    Nur Widiantoro menegaskan bahwa pengelolaan zakat dilakukan oleh UPZ telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) BAZNAS serta Lembaga Amil Zakat (LAZ).

    ”Kami harapkan seluruh pihak terkait dapat menjalankan ketentuan ini secara tertib guna memastikan pengelolaan dan penyaluran zakat berjalan optimal menjelang Hari Raya Idulfitri,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Jelang Lebaran, Harga Ayam, Daging Sapi, dan Cabai Rawit di Sampit Melambung Tinggi

    Jelang Lebaran, Harga Ayam, Daging Sapi, dan Cabai Rawit di Sampit Melambung Tinggi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Sehari menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, sejumlah harga kebutuhan bahan pokok di Pasar Tradisional Kota Sampit melambung tinggi.

    Harga ayam potong terpantau dijual sebesar Rp60 ribu per kilogram. Dua kali lipat dibandingkan harga normal.

    ”Ayam naik per hari ini Rp60 ribu per kilogram. Kemarin masih jual Rp55 ribu. Sebabnya, permintaan tinggi dan sebagian warga Kotim ada yang sudah Lebaran hari ini, sehingga sebagian pedagang ayam ada yang sudah tidak berjualan,” kata Dandi, pedagang ayam di Pasar Tradisional Jalan MT Haryono, Jumat (20/3/2026).

    Dalam empat hari terakhir, penjualan ayam mengalami peningkatan signifikan hingga 2.000 ekor ayam terjual dalam sehari.

    ”Hari normal biasanya laku terjual 800 ekor, ini sudah empat hari permintaan tinggi penjualan tembus sampai 2.000 ekor. Jualan mulai siang sampai jam 10 malam saja,” ujarnya.

    Terkait pasokan ayam potong ia menyebut masih aman. Ayam yang dijualnya berasal dari peternak di Banjarmasin, Palangka Raya dan peternak lokal Sampit.

    ”Pasokan ayam aman saja, ngambil dari mana saja, yang penting barang tersedia, bisa jualan. Besok Lebaran baru libur,” ujarnya.

    Selain ayam potong, penjualan daging sapi turut mengalami kenaikan harga. Dari Rp 150 ribu per kilogram naik menjadi Rp 160 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram.

    ”Sudah dua hari ini naik harga. Karena, stok menipis, dan permintaan masyarakat cukup tinggi,” ujar pedagang di Pasar Ikan Mentaya.

    Sejumlah pedagang sapi baik di Pasar Ikan Mentaya maupun di Pasar Tradisional Jalan MT Haryono memasarkan daging sapi tidak hanya daging sapi lokal tetapi juga daging beku impor.

    ”Ada daging sapi lokal, ada daging impor. Ngambil dari Banjarmasin. Sehari bisa laku terjual lima ekor sapi selama menjelang Lebaran ini,” ujarnya.

    Tidak hanya daging sapi dan daging ayam potong, penjualan lombok rawit di Pasar Al Kamal juga terpantau melambung tinggi mencapai Rp150 ribu per kilogram.

    Sedangkan, bawang merah dijual di kisaran Rp 38-40 ribu per kg dan bawang putih dijual Rp 32-35 ribu per kilogram.

    ”Bawang-bawangan masih stabil. Yang naik ini lombok rawit, sebelumnya jual Rp130 ribu per kilogram, sudah dua hari ini harga pasaran lombok rawit naik lagi Rp 150 ribu per kilogram,” ujarnya.

    Selain permintaan tinggi dan pasokan menipis, sejumlah lapak pedagang di Pasar Al Kamal juga terpantau meliburkan diri, tak berjualan demi menyambut Lebaran.Kesempatan itu dimanfaatkan bagi sebagian pedagang yang masih semangat meraih pundi-pundi rejeki menjelang H-1 Lebaran. (hgn/ign)

  • Peserta Pawai Takbiran di Sampit Tahun Ini Lebih Sedikit, Wabup Kotim Ungkap Penyebabnya

    Peserta Pawai Takbiran di Sampit Tahun Ini Lebih Sedikit, Wabup Kotim Ungkap Penyebabnya

    SAMPIT, kanalindependen.id – Suasana malam kemenangan menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berlangsung khidmat sekaligus meriah.

    Bupati Kotim Halikinnor secara resmi melepas rombongan Pawai Takbiran yang dipusatkan di depan Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kotim, Jumat (20/3/2026) malam

    Semarak takbiran menggema di sepanjang rute pawai yang diikuti puluhan rombongan dari berbagai elemen masyarakat.

    Meski jumlah peserta tahun ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, antusiasme warga tetap tinggi dalam menyambut malam Idulfitri.

    Wakil Bupati Kotim, Irawati, menyebutkan, jumlah peserta pawai takbiran tahun ini mencapai sekitar 80 rombongan.

    Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang menembus lebih dari 100 peserta.

    ”Kemungkinan karena ada perbedaan. Sebagian masyarakat Kotim ada yang Lebaran 20 Maret hari ini, ada juga warga Kotim yang Lebaran tanggal 21 Maret. Kita dengar, tadi malam sebagian masyarakat juga sudah ada yang melaksanakan pawai takbiran. Tapi apa pun itu, yang penting bagaimana ibadah kita lancar dan diterima oleh Allah SWT,” ujar Irawati.

    Dia menegaskan, esensi pawai takbiran bukan sekadar jumlah peserta, melainkan sebagai sarana meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta kecintaan kepada Allah SWT.

    Selain itu, Irawati berharap momentum Idulfitri dapat menjadi ajang mempererat persatuan dan keharmonisan masyarakat di Kotim.

    ”Mudah-mudahan tahun depan pesertanya lebih banyak lagi, dan tidak ada perbedaan antara Muhammadiyah maupun NU,” tambahnya.

    Pejabat Kotim Buka Pintu Silaturahmi

    Dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri, jajaran Pemerintah Kabupaten Kotim juga mengundang masyarakat untuk bersilaturahmi melalui agenda open house yang digelar pada hari pertama Lebaran, Sabtu (21/3/2026).

    Tiga pejabat daerah dipastikan membuka kediamannya untuk masyarakat, yakni Rumah Jabatan Bupati Kotim, Rumah Jabatan Wakil Bupati Kotim, dan Rumah Jabatan Sekretaris Daerah Kotim.

    Kegiatan open house dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB, dan terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

    ”Silakan datang, kami mengundang seluruh masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur untuk bersilaturahmi di hari yang fitri,” pungkas Irawati. (hgn/ign)

  • Ajang Flexing Tebar Pesona, Jelang Lebaran Toko Emas di Sampit Diserbu Pembeli

    Ajang Flexing Tebar Pesona, Jelang Lebaran Toko Emas di Sampit Diserbu Pembeli

    SAMPIT, kanalindependen.id – Fenomena berburu perhiasan emas jelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah sudah menjadi tradisi di Kota Sampit.

    Kendati harga melambung tinggi, emas justru menjadi simbol gaya hidup sekaligus ajang flexing untuk tebar pesona saat momen silaturahmi Lebaran.

    Toko-toko emas pun diserbu pembeli. Salah satunya Toko Emas Mitra Baru di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) yang setiap hari dipadati pengunjung dari pagi hingga sore.

    Harga emas logam mulia bahkan memecah rekor. Untuk perhiasan kadar 999 atau 24 karat kini menembus Rp 2.550.000 per gram, sementara emas batangan murni merek Antam mencapai Rp 3.150.000 per gram.

    ”Untuk emas batangan atau logam mulia murni merek Antam sekarang di posisi Rp 3.150.000 per gram, sedangkan emas perhiasan kadar 999 Rp 2.550.000 per gram,” ujar Muliana Sari, anak pemilik Toko Emas Mitra Baru, Rabu (18/3/2026).

    Selain Antam, tersedia juga emas batangan dari Galery 24 seharga Rp 3.100.000 per gram, UBS dan Emasku di kisaran Rp 2.950.000 per gram, serta emas batangan lokal sekitar Rp 2.550.000 per gram. Namun, untuk sementara stok emas batangan lokal belum tersedia.

    Tak hanya emas batangan, perhiasan emas berbagai kadar juga menjadi incaran.

    Mulai dari kadar 999 seharga Rp 2.550.000 per gram, kadar 750 Rp 2.500.000, kadar 700 Rp 2.050.000, hingga kadar 375 Rp 1.180.000 per gram.

    Menariknya, tingginya harga tidak menyurutkan minat masyarakat. Justru, emas kadar tinggi seperti 999 tetap menjadi favorit karena dinilai menguntungkan sebagai investasi sekaligus menunjang penampilan.

    ”Walaupun harga emas tinggi, emas 999 dan kadar lainnya masih jadi primadona. Karena kalau dijual lagi harganya juga tinggi, jarang orang jual emas rugi, kecuali beratnya berkurang karena pemakaian,” jelasnya.

    Dalam sepekan terakhir, harga emas terpantau stabil tanpa gejolak berarti, meski secara tren tahunan terus mengalami kenaikan. Bahkan, peluang penurunan harga dinilai kecil.

    ”Kalau turun paling sekitar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu per gram, itu pun jarang terjadi. Umumnya tiap tahun terus naik,” tambahnya.

    Lonjakan pembelian semakin terasa menjelang Lebaran, dengan perbandingan transaksi sekitar 80 persen pembelian dan hanya 20 persen penjualan.

    ”Selama seminggu menjelang Lebaran sampai H-1, pengunjung meningkat. Lebih banyak yang membeli, mungkin untuk dipakai saat silaturahmi ke rumah keluarga dan kerabat,” ujarnya.

    Pantauan di lapangan, tiga toko utama Mitra Baru yang saling terhubung dipenuhi pembeli hingga membuat etalase emas nyaris tak terlihat karena kerumunan. Sementara toko keempat yang khusus menjual perhiasan emas putih terlihat lebih lengang.

    Sebanyak 25 karyawan yang mengenakan seragam peach tampak sibuk melayani pembeli tanpa henti, bahkan saat menjalankan ibadah puasa.

    ”Karyawan kami ada 25 orang, itupun masih kewalahan karena pengunjung datang silih berganti dari pagi sampai sore,” ungkap Muliana Sari, putri kedua Darsani.

    Lonjakan aktivitas ini berdampak langsung pada omzet penjualan yang meningkat drastis dibanding hari biasa.

    ”Kalau hari biasa sekitar 5 sampai 6 ons, selama Ramadan hingga menjelang Lebaran bisa mencapai kurang lebih 1 kilogram emas terjual, dengan persentase 80 persen membeli dan 20 persen menjual,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Angkutan Arus Mudik Terakhir, Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Sampit Capai 6.638

    Angkutan Arus Mudik Terakhir, Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Sampit Capai 6.638

    SAMPIT, kanalindependen.id – Puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Sampit resmi berakhir, Kamis (19/3/2026). KM Kirana III tujuan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menjadi kapal terakhir yang melayani angkutan Lebaran tahun ini.

    Aktivitas pemudik yang memadati Pelabuhan Sampit dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat dari Kabupaten Kotawaringin Timur menuju Pulau Jawa.

    Hampir seluruh armada yang beroperasi tercatat berangkat dengan tingkat keterisian maksimal. Namun, meskipun jumlah penumpang padat, layanan angkutan mudik tetap aman terkendali.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran, Gusti Muchlis, mengungkapkan bahwa jumlah penumpang tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

    ”Terjadi peningkatan cukup signifikan. Selain jumlah armada yang lebih banyak, secara persentase kami mencatat kenaikan sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Muchlis saat diwawancarai awak media, Kamis (19/3/2026).

    Berdasarkan data posko, total penumpang yang diberangkatkan selama periode arus mudik 2026 terhitung 13-19 Maret 2026 mencapai 6.638 orang, sedangkan penumpang yang turun di Sampit tercatat sebanyak 968 orang.

    Angka tersebut dinilai menjadi indikator positif bagi sektor transportasi laut di wilayah Kotawaringin Timur, sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap moda angkutan laut sebagai pilihan utama mudik.

    Pada hari terakhir layanan mudik, dua kapal besar melayani keberangkatan penumpang. KM Dharma Rucitra VI yang berangkat lebih dulu pada Rabu malam menuju Semarang dengan membawa 525 penumpang.

    Sementara itu, KM Kirana III menjadi armada penutup yang dijadwalkan berangkat pukul 13.00 WIB, Kamis (19/3/2026). Kapal milik PT Dharma Lautan Utama bertolak dari Pelabuhan Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan mengangkut 770 penumpang, serta menurunkan 144 penumpang di Sampit.

    Secara keseluruhan, selama masa angkutan mudik Lebaran 2026, Pelabuhan Sampit telah melayani 7 call (kunjungan kapal) dari total 12 call yang direncanakan dalam satu periode operasional.

    Seiring berakhirnya arus mudik, pihak otoritas pelabuhan kini mulai mengalihkan fokus pada persiapan arus balik. Gelombang kedatangan penumpang dari Pulau Jawa diperkirakan mulai terjadi dalam waktu dekat.

    Gusti Muchlis menyebutkan, kapal penumpang dijadwalkan mulai tiba pada 24 Maret 2026, disusul kedatangan armada lainnya pada hari berikutnya.

    ”Kami terus berkoordinasi dengan operator kapal terkait ketersediaan tiket arus balik, sekaligus memastikan pelayanan tetap berjalan optimal,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Menjelang Lebaran, Pusat Belanja di Sampit Kian Padat, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Ratusan Miliar

    Menjelang Lebaran, Pusat Belanja di Sampit Kian Padat, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Ratusan Miliar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang Idulfitri, denyut ekonomi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur terasa makin cepat.

    Pasar-pasar penuh sejak pagi, aroma kue kering bercampur suara pedagang yang tak berhenti menawar. Uang mengalir deras di tengah hiruk-pikuk itu. Diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah selama Ramadan hingga Lebaran.

    ”Tahun ini pembeli ramai sekali, terutama sejak dua minggu terakhir,” ujar Rahmat Noor, Ketua UMKM Kotim, Kamis (19/3).

    ”Makanan, kue kering, sampai kebutuhan hari raya semua laku. Tapi harga bahan juga naik,” tambahnya.

    Data Bank Indonesia menunjukkan, kebutuhan uang tunai di Kalimantan Tengah selama Ramadan dan Lebaran tahun ini mencapai sekitar Rp3,28 triliun.

    Dari jumlah itu, Kotim kebagian porsi signifikan: antara Rp500 hingga Rp800 miliar. Tambahan arus uang juga datang dari Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara di Kotim yang mencapai Rp35,6 miliar, belum termasuk tenaga swasta.

    Para pelaku usaha menyebut, Ramadan dan Lebaran ibarat musim panen singkat. Dalam kondisi normal, perputaran ekonomi di Kotim sekitar Rp3 triliun per bulan.

    Ketika Lebaran tiba, pergerakannya bisa melonjak hingga 30 persen, setara tambahan Rp900 miliar yang berputar di pasar, toko, dan pusat perbelanjaan.

    Namun, bagi pedagang kecil, derasnya uang bukan berarti rezeki melimpah. Kenaikan harga bahan baku membuat banyak UMKM berhitung lebih hati-hati.

    ”Kalau harga bahan naik, kami serba salah. Mau dinaikkan takut pelanggan kabur, tapi kalau ditahan, untung tipis sekali,” kata Rahmat.

    Uang yang berputar cepat itu sebagian besar habis untuk sembako, pakaian, dan kebutuhan hari raya.

    Namun, ia menegaskan, banyaknya uang yang beredar tidak selalu berarti masyarakat lebih sejahtera. ”Uang memang lebih banyak berputar, tapi itu karena kebutuhan meningkat. Bukan berarti masyarakat punya uang lebih,” jelasnya.

    Setelah Lebaran, sirkulasinya kembali menurun, meninggalkan ruang bagi para pelaku ekonomi kecil untuk kembali bertahan dengan strategi lama. (ign)