Tag: berita Sampit hari ini

  • Petani Cempaga Babak Belur Kepung Api Siang-Malam, Mana Bantuan Water Bombing Pemerintah?

    Petani Cempaga Babak Belur Kepung Api Siang-Malam, Mana Bantuan Water Bombing Pemerintah?

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebijakan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menuai sorotan tajam. Ketika kobaran api kian liar membakar ratusan hektare lahan warga di Kecamatan Cempaga, masyarakat dan petani kecil dipaksa bertaruh nyawa di garis depan pemadaman tanpa dukungan armada udara yang memadai dari pemerintah.

    Amuk si jago merah yang bermula sejak Minggu siang (23/8/2026) di kawasan Sungai Bijuku, Desa Luwuk Bunter, kini telah merambat masif hingga menembus wilayah Sei Isin Raya di Desa Sungai Paring. Tidak kurang dari 50 hingga 60 hektare perkebunan kelapa sawit produktif milik petani satu-satunya tumpuan ekonomi keluarga ludes dilalap api.

    Salah seorang petani terdampak, Nako, mengungkapkan penderitaan fisik dan mental warga yang terpaksa bertahan di tengah kepungan asap pekat. Tanpa bantuan armada pemadam darat yang menjangkau lokasi pedalaman, petani bertarung secara manual menggunakan mesin pompa Alkon seadanya di tengah krisis air baku.

    “Mulai Minggu siang itu api menyala dari Luwuk Bunter, lalu menyebar sampai ke Sei Isin Raya. Masyarakat sudah babak belur, siang malam berjibaku. Kami sampai bertahan dan beristirahat di lahan. Kalau kebun sawit yang terbakar ada sekitar 50 sampai 60 hektare. Kami sangat berharap ada bantuan water bombing untuk membantu pemadaman,” tutur Nako meratap, Selasa (25/8/2026).

    Jerit histeris para petani di tapak ini menelanjangi ketimpangan respons tanggap darurat daerah. Di saat warga menginap di tengah lahan gambut yang membara demi menyelamatkan sisa kebun, helikopter pengebom air (water bombing) yang sangat dibutuhkan untuk memutus perambatan api di zona sulit jangkau justru tak kunjung terlihat di langit Cempaga. Keterlambatan intervensi udara ini mengancam memusnahkan mata pencaharian ratusan kepala keluarga.

    Kondisi kritis di Luwuk Bunter dan Sungai Paring menelanjangi lemahnya sistem pemetaan prioritas (priority zoning) Satgas Karhutla Kotim dan Provinsi Kalteng. Membiarkan warga bertarung secara swadaya tanpa sokongan water bombing saat ratusan hektare kebun warga terbakar adalah bentuk pembiaran keselamatan publik dan ketahanan ekonomi rakyat bawah.

    Kanal Independen mendesak penanganan konkret secara cepat: Pertama, Mobilisasi Segera Unit Water Bombing: BPBD Kotim dan Satgas Karhutla Provinsi Kalteng wajib segera mengalihkan rute penerbangan helikopter water bombing ke koridor Luwuk Bunter–Sungai Paring sebelum area pemukiman warga ikut terkepung.

    Selanjutnya, Pengiriman Logistik dan Pasokan Bahan Bakar: Pemkab Kotim melalui Dinas Sosial dan Badan Kesbangpol wajib menerjunkan bantuan logistik makanan, air bersih, serta pasokan BBM untuk operasional mesin pompa Alkon warga yang hingga kini masih bertahan di lokasi kebakaran.

    Dengar jerit petani Cempaga, kerahkan water bombing sekarang! UNITED WE STAND!  Ratusan hektare kebun Cempaga ludes terbakar! Petani babak belur di lahan, mana aksi nyata Satgas Karhutla? (***)

  • Kabut Asap Gambut Gerogoti Paru-Paru Warga, Dinkes Kotim Siagakan Oksigen Gratis di 21 Puskesmas

    Kabut Asap Gambut Gerogoti Paru-Paru Warga, Dinkes Kotim Siagakan Oksigen Gratis di 21 Puskesmas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Terkaman bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi bergeser dari krisis lingkungan menjadi ancaman kesehatan publik yang nyata. Keluhan tenggorokan perih, batuk parah, sesak napas akut, hingga serangan asma yang mendadak kambuh kini mulai memburu warga di berbagai pelosok wilayah.

    Meroketnya grafik gangguan pernapasan memicu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mengambil tindakan darurat dengan menyiagakan penuh 21 puskesmas di seluruh kecamatan. Langkah ini diambil untuk memastikan pertolongan medis garis depan dapat diakses cepat sebelum kondisi pasien memburuk.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho, membenarkan meningkatnya laporan kasus penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan kekambuhan asma di lapangan akibat tingginya tingkat pencemaran udara.

    “Dampak asap karhutla ini sudah mulai dirasakan masyarakat. Dari laporan yang kami terima di lapangan, ada warga yang mengalami iritasi tenggorokan, sesak napas, bahkan ada yang asmanya kambuh. Karena itu kami melakukan kesiapsiagaan di seluruh 21 puskesmas,” tegas Nugroho Kuncoro Yudho, Selasa (25/8/2026).

    Guna mengantisipasi lonjakan penderita sesak napas parah, Dinkes Kotim menyediakan fasilitas ruang oksigen gratis di seluruh jaringan puskesmas yang dapat dimanfaatkan langsung oleh warga terdampak tanpa dipungut biaya.

    Masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita riwayat asma, diimbau untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala paparan racun partikulat PM 2.5  serta wajib mengenakan masker standar saat berada di luar ruangan.

    Langkah penyiapan 21 puskesmas dan ruang oksigen gratis oleh Dinkes Kotim patut diapresiasi sebagai upaya penanganan responsif. Namun, tingginya eskalasi asap gambut yang mengepung pemukiman akan dengan cepat memicu ledakan jumlah penderita ISPA (hospital surge).

    Layanan medis darurat ini terancam lumpuh jika tidak disokong oleh ketersediaan tabung oksigen yang memadai serta ketersediaan obat-obatan respirasi dasar di tingkat tapak.

    Dinkes Kotim didesak untuk melakukan audit stok tabung oksigen dan obat ISPA secara berkala di puskesmas-puskesmas zona merah karhutla seperti Mentawa Baru Ketapang dan Baamang. Di samping itu, Puskesmas Mobil Keliling (Pusling) wajib diterjunkan ke titik-titik permukiman yang terisolasi asap pekat agar warga tidak perlu menembus racun udara hanya untuk mendapatkan pengobatan dasar. (***)

  • Aturan Baru Sekolah Saat Bencana Asap Kotim: Jam Belajar Dipangkas & Wajib Bermasker

    Aturan Baru Sekolah Saat Bencana Asap Kotim: Jam Belajar Dipangkas & Wajib Bermasker

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kepungan kabut asap yang makin mengancam kesehatan memaksa Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengambil langkah darurat di sektor pendidikan.

    Melalui Surat Edaran Bupati Kotim Nomor 400.3.1/1184/DISDIK-1/2026 tanggal 24 Agustus 2026, Pemkab merombak total skema kegiatan belajar mengajar di seluruh jenjang sekolah.

    ​Bupati Kotim Halikinnor menegaskan bahwa penyesuaian kegiatan pembelajaran ini diambil sebagai langkah mendesak guna memproteksi kesehatan para siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari paparan polusi asap gambut yang kian pekat tanpa menghentikan total hak anak untuk mendapatkan akses pendidikan.

    ​“Penyesuaian kegiatan pembelajaran ini dilakukan sebagai upaya melindungi kesehatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan akibat meningkatnya potensi bencana kabut asap. Yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan anak-anak. Karena itu, kegiatan yang berpotensi meningkatkan paparan asap seperti olahraga dan aktivitas di luar ruangan perlu ditiadakan selama kondisi belum memungkinkan,” tegas Bupati Kotim, Halikinnor, Senin (24/8/2026).


    ​Melalui aturan baru ini, jam masuk seluruh jenjang sekolah diundurkan menjadi pukul 07.30 WIB hingga 08.00 WIB untuk menghindari paparan kabut asap pekat di pagi hari, dengan pemangkasan durasi jam pulang secara signifikan baik pada sekolah sistem lima hari maupun enam hari belajar. Seluruh warga sekolah juga diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

    ​Pemerintah Daerah melarang keras pelaksanaan kegiatan outdoor seperti upacara bendera, senam pagi, olahraga luar ruangan, dan kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah diminta mengaktifkan ruang UKS sebagai pos pertolongan pertama gangguan pernapasan serta memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara berkala. Pemkab menegaskan bahwa jika Indeks ISPU makin memburuk dan membahayakan, satuan pendidikan diizinkan untuk mengalihkan pembelajaran penuh ke moda Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR)

    ​Langkah Pemkab merilis SE Penyesuaian Pembelajaran patut diapresiasi, namun skema pemangkasan jam tatap muka di tengah kepungan asap tingkat berbahaya masih menyimpan celah kerentanan tinggi (exposure gap) bagi anak-anak. Membiarkan siswa tetap hadir fisik ke sekolah di mana sebagian besa r)r ruang kelas berfasilitas ventilasi terbuka (open-air) sama saja membiarkan paru-paru anak terpapari racun \text{PM}_{2.5} sepanjang proses belajar.

    ​Dinas Pendidikan Kotim dan Dinas Kesehatan didesak untuk tidak ragu mengeksekusi Opsi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara total pada wilayah-wilayah perkotaan dan kecamatan bersatus zona merah karhutla seperti Mentawa Baru Ketapang dan Mentaya Hilir Selatan. Di sisi lain, pembagian masker standar kesehatan N95/KN95 khusus ukuran anak-anak harus segera didistribusikan secara gratis ke sekolah-sekolah, alih-alih menyerahkan beban pengadaan sepenuhnya kepada orang tua murid.

    ​Utamakan paru-paru anak, jangan ragu berlakukan PJJ darurat! SE Bupati Kotim rombak jam sekolah akibat asap!  Disdik dan Dinkes wajib pasok masker gratis anak dan evaluasi PJJ total (***)

  • Di Tengah Kepungan Asap, Kotim Digempur Pasar Sabu Ratusan Juta hingga Kecamatan

    Di Tengah Kepungan Asap, Kotim Digempur Pasar Sabu Ratusan Juta hingga Kecamatan

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Di saat ribuan warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berjibaku melawan pekatnya kabut asap karhutla yang menggerogoti paru-paru, ancaman beracun lain yang tak kalah mematikan diam-diam terus merayap dari sudut-sudut kota hingga ke pelosok kecamatan.

    Daerah kaya sumber daya alam ini nyatanya tak sekadar dikepung jelaga kebakaran lahan, tetapi juga sedang dijadikan pasar empuk peredaran gelap narkotika bernilai ratusan juta rupiah.

    ​Wajah kelam peredaran barang haram tersebut terpapar benderang di halaman Mapolres Kotim pada Kamis (20/8/2026). Di bawah terik matahari yang tertutup kabut tipis, dengung mesin blender menderu nyaring, melumat 511,57 gram atau lebih dari setengah kilogram kristal bening sabu.

    Barang bukti bernilai pasar mencapai Rp767,35 juta itu dilebur menjadi cairan keruh bersama zat kimia sebelum dibuang ke saluran pembuangan, menandai akhir dari rantai bisnis haram yang siap merusak ribuan nyawa.

    ​Pemusnahan massal berupa 333 bungkus plastik klip tersebut merupakan akumulasi tangkapan dari 13 Laporan Polisi dengan 13 orang tersangka yang diringkus Satresnarkoba Polres Kotim bersama polsek jajaran.

    Angka setengah kilogram ini bukan sekadar statistik penyitaan di atas kertas. Kalkulasi matematis kepolisian mencatat bahwa pemusnahan ini secara krusial berhasil menyelamatkan sedikitnya 5.111 jiwa generasi muda Kotim dari ancaman kehancuran mental dan fisik.

    ​Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, menegaskan bahwa penindakan ini merupakan langkah krusial untuk membendung gelombang pasokan yang kian masif.

    “Dengan asumsi sederhana satu gram sabu dikonsumsi oleh 10 orang, setengah kilogram sabu yang dilebur hari itu adalah bom waktu sosial yang berhasil dijinakkan sebelum sempat mengepung perkampungan warga.,” katanya.

    ​Peta pengungkapan kasus ini menyingkap fakta mengerikan tentang betapa mengguritanya jaringan penyebaran sabu di Kotim. Tangkapan terbesar bersumber dari tersangka DMHK yang menguasai 188,98 gram sabu di kawasan Jalan Diponegoro Gang Tinjau 4, disusul tersangka RB dengan kepemilikan 177,64 gram di Jalan Moh. Hatta, Sampit.

    Tidak berhenti di pusat kota, serangkaian penggerebekan mengejar jejak barang haram ini hingga ke koridor Bawi Jahawen, Metro TV 1, Wengga Happy Barat, Jenderal Sudirman Km 28, lalu meluas ke Parenggean, Bagendang Hilir, Kota Besi, Mentaya Hulu, hingga kawasan terpencil di Antang Kalang.

    ​Pemandangan di Mapolres Kotim menyajikan potret anomali yang sangat memprihatinkan: ketika seluruh daya dan fokus daerah tersedot untuk memadamkan kobaran api karhutla, para gembong narkoba justru memanfaatkan situasi krisis ini sebagai celah aman untuk menggelontorkan pasokan sabu hingga ke pelosok desa.

    Kehadiran belasan tersangka dengan barang bukti bernilai ratusan juta membuktikan bahwa Kotim berada dalam status gawat darurat ganda.

    ​Polres Kotim bersama BNNK tidak boleh berpuas diri hanya dengan perayaan pemusnahan barang bukti dan pemenjaraan kurir atau pengecer di tingkat tapak.

    Langkah hukum berikutnya harus berani melompati batas transaksi lapangan untuk membongkar para pemodal besar (funder) dan gembong utama yang mengendalikan pasokan dari luar daerah.

    Penelusuran aliran dana serta penerapan undang-undang tindak pidana pencucian uang (TPPU) menjadi senjata mutlak agar pilar keuangan sindikat ini dapat diruntuhkan hingga ke akar-akarnya.

    ​Bongkar gembong utama sabu Kotim, selamatkan generasi muda dari gempuran narkoba! Pemusnahan 511 gram sabu selamatkan 5 ribu jiwa! Polres Kotim wajib kejar pemodal besar jaringan kecamatan! (***)

  • Kos Harian Manggis 2 Jadi Safe House Sabu 1 Kg, Bisnis Penginapan Kilat Sampit Sorotan

    Kos Harian Manggis 2 Jadi Safe House Sabu 1 Kg, Bisnis Penginapan Kilat Sampit Sorotan

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Kawasan permukiman padat di Kota Sampit kembali menjadi tempat persembunyian peredaran gelap narkotika skala besar. Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kotawaringin Timur (Kotim) berhasil menggerebek sebuah kamar di Kos Harian Manggis 2, Jalan Manggis 2, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dan mengamankan nyaris satu kilogram barang haram jenis sabu.

    ​Dalam penggerebekan tersebut, petugas mencokok seorang pria berinisial R. Polisi menyita barang bukti narkotika jenis sabu seberat bersih 917,38 gram yang dikemas rapi dalam 26 paket plastik klip. Untuk mengelabuhi petugas, puluhan paket sabu tersebut disembunyikan tersangka di dalam sebuah brankas besi khusus di dalam kamar kos yang disewanya.

    ​Kapolres Koti AKBP Resky Maulana Zulkarnain, membeberkan kronologi pengungkapan kasus tersebut saat memimpin konferensi pers dan rilis pemusnahan barang bukti di Mapolres Kotim pada Kamis (20/8/2026).

    Penggerebekan dilakukan berkat laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas peredaran narkoba di lingkungan Jalan Manggis 2, dilanjutkan penggeledahan resmi yang disaksikan langsung oleh Wakil Ketua RT dan warga setempat.

    Dari hasil interogasi awal, tersangka R mengaku menerima pasokan barang haram tersebut dari seseorang tak dikenal melalui sistem transaksi di pinggir Jalan Jenderal Sudirman Km 3, tepatnya di sekitar kawasan Bundaran Burung Sampit.

    ​“Orang yang menyerahkan barang kepada tersangka masih dalam penyelidikan (lidik). Kami akan terus melakukan pengembangan mendalam untuk membongkar mata rantai pemasok dan jaringan besar di atasnya. Selain itu, kami berkoordinasi dengan Kejaksaan agar status barang bukti ini segera ditetapkan dan langsung dimusnahkan sesuai ketentuan,” tegas Kapolres Kotim, AKBP Resky Maulana Zulkarnain, Kamis (20/8/2026).


    ​Pengungkapan kasus sabu bernilai ratusan juta rupiah ini menegaskan bahwa Kotim masih menjadi pasar empuk sekaligus jalur transit rawan jaringan narkotika inter-wilayah. Polisi mengimbau para pemilik kos harian dan kontrakan di MB Ketapang untuk lebih memperketat pendataan identitas penghuni agar usaha akomodasi tidak dijadikan tameng kejahatan terorganisir.

    ​Terbongkarnya tempat penyimpanan 917 gram sabu di kos harian kawasan Mentawa Baru Hilir menelanjangi lemahnya pengawasan terhadap bisnis penginapan dan kos harian kilat di Kotim. Karakter kos harian yang minim verifikasi identitas (no-strings-attached) dimanfaatkan gembong narkoba sebagai safe house aman untuk menyimpan serta memecah paket barang haram sebelum diedarkan ke konsumen.

    ​Polres Kotim didesak tidak berhenti pada tersangka R yang berposisi sebagai gudang atau kurir lapangan. Pengejaran terhadap aktor utama pengendali transaksi di Bundaran Burung harus dilakukan secara transparan untuk membongkar sindikat lintas provinsi yang memasok barang ke Sampit.

    Di sisi lain, Pemkab Kotim melalui Satpol PP serta pihak Kelurahan dan RT wajib memberlakukan regulasi ketat bagi pemilik kos harian. Pengelola kos wajib melaporkan data diri tamu secara berkala ke pengurus RT/RW setempat guna menutup celah pemanfaatan kos sebagai sarana kejahatan narkotika dan kriminalitas lainnya. (***)

  • Dua Relawan Karhutla di Kotim Tumbang Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Tercekik Asap

    Dua Relawan Karhutla di Kotim Tumbang Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Tercekik Asap

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban jiwa dari garda terdepan pemadaman. Muhammad Dimas, seorang relawan tangguh dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Teluk Dalam, terpaksa ditarik mundur dan dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas akut dan kelelahan hebat pada Kamis (20/8/2026).

    Insiden tumbangnya Dimas terjadi saat ia bersama tim gabungan berjibaku memadamkan kobaran api yang mengepung kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Dimas menjadi relawan kedua yang dilarikan ke rumah sakit dalam dua hari terakhir, menyusul insiden serupa yang menimpa Rizky Mubarrak dari Redkar Masjid Jami Assalam pada Rabu lalu.

    Ketua Relawan Ketapi 3, Muhammad Mahdani, mengonfirmasi bahwa padatnya jadwal pemadaman lintas titik serta kepekatan asap di lokasi kejadian menjadi pemicu utama kolapsnya para relawan. Sebelum bertarung di Grand Pelita, tim relawan telah menguras tenaga di Jalan Pelita dan Perumahan Panca Setia.

    “Artinya mungkin karena kelelahan satu. Yang kedua, memang di tempat kejadian itu api membesar dan asap pekat. Akibat itu lalu sesak napas. Walau kadang kita pakai masker, tetap saja membuat sesak. Begitu melihat kondisi Dimas menurun, rekan-rekan langsung menghentikan aktivitasnya dan membawanya menjauh. Sekarang kondisinya sudah mulai stabil,” ungkap Muhammad Mahdani, Kamis (20/8/2026).

    Di tengah ancaman kesehatan yang terus mengintai, pertempuran pemadaman di lapangan makin membentur tembok tebal akibat krisis air baku. Parit-parit di sekitar lokasi kebakaran dilaporkan telah kering kerontang, sementara sumur warga tak lagi menyimpan cadangan air akibat kemarau panjang.

    Operasi pemadaman swadaya yang digerakkan gabungan Redkar Ketapi 3, Redkar Masjid Jami Assalam, MPA Teluk Dalam, dan staf kelurahan terhambat oleh keterbatasan kapasitas armada angkut. Mobil pikap tandon yang diandalkan relawan hanya mampu memuat 1.100 liter air, jumlah yang langsung ludes dalam hitungan menit saat berhadapan dengan luasnya hamparan gambut yang membara. Kondisi ini memaksa relawan bolak-balik meninggalkan garis depan hanya untuk mencari sumber air pengisian ulang.

    Mahdani menegaskan bahwa eskalasi karhutla Kotim sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak bisa hanya dibebankan pada pundak pemerintah, BPBD, atau Damkarmat yang personelnya sudah kewalahan di berbagai zona. Ia mendesak kesadaran penuh masyarakat untuk menghentikan total aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan secara sembarangan di tengah musim kering ekstrem ini.

    Tumbangnya dua relawan secara beruntun di Mentawa Baru Ketapang adalah bukti nyata bahwa garda terdepan pemadaman bekerja di bawah ancaman bahaya ekstrem tanpa ditopang alat pelindung diri (APD) yang memadai. Bertarung melawan asap pekat gambut hanya berbekal masker kain atau masker medis biasa serta armada tandon kecil 1.100 liter menelanjangi rapuhnya sistem jaminan keselamatan bagi relawan swakarsa.

    Satgas Karhutla Kotim dan Dinas Kesehatan harus segera menyalurkan bantuan respirator standar N95/KN95, kacamata pelindung, serta tabung oksigen portable untuk setiap posko relawan swadaya. Di sisi lain, BPBD Kotim bersama Dinas PUPR wajib memfasilitasi titik pangkalan pasokan air baku (water filling point) terdekat dari koridor Pelita Barat agar armada tandon relawan tidak membuang waktu dan bahan bakar hanya untuk mengantre air.

    Selamatkan relawan darat, lengkapi APD dan suplai air pemadam!  Korban relawan karhutla Sampit bertambah! BPBD dan Dinkes Kotim wajib distribusikan pasokan oksigen dan N95 untuk tim swadaya! (***)

  • Gempuran Asap Gambut Tak Kunjung Padam, Warga dan Pelajar Kotim Kepung Langit Lewat Salat Istisqa

    Gempuran Asap Gambut Tak Kunjung Padam, Warga dan Pelajar Kotim Kepung Langit Lewat Salat Istisqa

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kepungan kabut asap pekat yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memantik ikhtiar spiritual secara masif.

    Menanggapi situasi kemarau panjang dan keterbatasan respons fisik yang kian membahayakan, ribuan warga bersama kalangan pelajar di berbagai wilayah Kotim menggelar Salat Istisqa serentak guna memohon petunjuk dan diturunkannya hujan.

    Pelaksanaan Salat Istisqa berlangsung khusyuk di sejumlah titik krusial. Selain di halaman SDN 3 Mentawa Baru Hulu, ibadah memohon hujan ini digelar di Masjid Al-Muhajirin Kompleks Perguruan Muhammadiyah Sampit serta SMAN 3 Sampit.

    Di SMAN 3 Sampit, para siswa dan dewan guru secara mandiri menggelar Salat Istisqa di lingkungan sekolah sebagai ikhtiar bersama menghadapi ancaman bencana asap.

    Salah seorang guru SMAN 3 Sampit, Sarkandi, mengonfirmasi pelaksanaan ibadah tersebut dan berharap doa bersama seluruh warga sekolah dapat diijabah agar hujan segera turun membasahi bumi Kotim.

    “Ya, di sekolah kami juga melaksanakan salat minta hujan. Semoga dalam waktu dekat hujan akan turun,” ungkap Sarkandi.

    Di tempat terpisah, aksi serupa juga berjalan di halaman MTsN 2 Kotim, Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, yang diikuti oleh warga lokal serta civitas akademika madrasah.

    Mobilisasi doa bersama ini dilaksanakan merespons imbauan resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Surat Imbauan Nomor 12/H-MUI-Kab.Kotim/VIII/2026 yang ditandatangani Ketua Umum MUI Kotim  Amrullah. MUI mengimbau pengurus masjid, organisasi keagamaan, dan lembaga pendidikan untuk mengoordinasikan pelaksanaan Salat Istisqa secara berjamaah.

    MUI menegaskan bahwa dalam menyikapi musim kemarau panjang dan adanya kebakaran lahan sehingga asap tebal menyelimuti wilayah Kotim, doa bersama menjadi ikhtiar penting.

    Di tengah keringnya lahan gambut yang memicu munculnya bara tersembunyi di bawah permukaan, guyuran hujan alami menjadi satu-satunya harapan efektif untuk memadamkan titik api terisolasi yang tak terjangkau oleh Satgas darat. Meski ikhtiar spiritual terus dipanjatkan, MUI dan pihak sekolah menegaskan bahwa kesadaran masyarakat untuk mematikan potensi api serta tidak membakar lahan tetap menjadi kewajiban utama agar krisis asap tidak berkepanjangan.

    Gerakan Salat Istisqa massal ini mempertegas kondisi psikologis sosial masyarakat Kotim yang berada di titik jenuh akibat krisis lingkungan dan ancaman kesehatan berkelanjutan. Ketika kapasitas pemadaman armada darat dan bom air udara sudah berada di titik nadir (overwhelmed), ikhtiar spiritual menjadi penguat moral sekaligus simpul kolaborasi warga untuk memperketat pengawasan di lingkungan masing-masing.

    Dinas Pendidikan Kotim didesak untuk menyesuaikan jam belajar atau menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) jika indeks standar pencemar udara (ISPU) akibat kabut asap terus memburuk, guna melindungi kesehatan para siswa yang beraktivitas di luar ruangan. Di sisi lain, Pemkab Kotim dan Satgas Kebencanaan wajib menjadikan momentum konsolidasi warga ini sebagai sarana memperkuat pencegahan karhutla berbasis desa (community-based fire prevention) agar tidak ada lagi oknum yang sengaja memicu titik api baru saat warga sedang memohon hujan.

    Iringi doa dengan aksi, stop bakar lahan! Salat Istisqa serentak digelar di Kotim!  MUI ajak warga mohon hujan, Disdik wajib proteksi kesehatan siswa dari kabut asap!

  • Terisolasi di Tengah Kebun, Rumah di Pelita Barat Ludes Terbakar Digulung Karhutla

    Terisolasi di Tengah Kebun, Rumah di Pelita Barat Ludes Terbakar Digulung Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tragedi memilukan kembali mewarnai bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Satu unit rumah warga di kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, ludes dilalap si jago merah,  Jumat malam (21/8/2026).

    Kobaran api berukuran besar dengan cepat melalap seluruh struktur bangunan yang terletak di tengah area perkebunan tersebut. Dalam rekaman video yang beredar luas di masyarakat, kobaran api tampak membumbung tinggi ke udara dan menghanguskan hampir seluruh bagian rumah tanpa menyisakan bangunan sebelum tim pemadam berhasil menjangkau lokasi.

    Kebakaran hunian ini diduga kuat berkaitan erat dengan rambatan api karhutla yang membara di sekitar kawasan tersebut, meskipun penyebab pasti munculnya titik api utama masih dalam proses penyelidikan.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim sekaligus Ketua Satgas Penanganan Konflik Sosial Kotim, Rihel, membenarkan adanya laporan insiden kebakaran satu unit rumah di kawasan Pelita Barat tersebut.

    Rihel mengonfirmasi kebenaran laporan kebakaran hunian tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya masih berupaya mengumpulkan informasi rinci mengenai kondisi rumah saat kejadian, termasuk memastikan ada atau tidaknya penghuni yang terjebak di dalam bangunan.

    “Ya seperti satu rumah,” singkat Rihel.

    Letak bangunan yang berada di tengah kebun dengan jarak sekitar 100 meter dari badan jalan utama menjadi hambatan besar dalam upaya penyelamatan. Posisi yang terisolasi dan jauh dari akses armada pemadam membuat api dengan cepat meratakan bangunan sebelum bantuan tiba.

    Hingga kini, rincian mengenai kerugian material maupun potensi korban jiwa masih menunggu pendataan resmi dari petugas gabungan di lapangan. Insiden ini mempertegas betapa rawan dan mengancamnya eskalasi karhutla di Kotim saat ini, di mana cuaca panas terik, tingginya tingkat kekeringan lahan gambut, serta maraknya titik api terus membahayakan keselamatan jiwa dan aset permukiman warga.

    Ludesnya satu rumah di Perumahan Grand Pelita adalah alarm bahaya tertinggi bahwa amukan karhutla Kotim telah bergeser dari ancaman lingkungan menjadi ancaman keselamatan jiwa dan harta benda di zona permukiman.

    Terisolasi dan jauhnya posisi bangunan dari jalan utama menelanjangi tiadanya sistem proteksi kebakaran mandiri (fire protection gap) di kawasan perumahan tepi kebun.

    Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) bersama Pemkab Kotim didesak mewajibkan setiap pengembang perumahan di pinggiran kota untuk membangun parit isolasi (firebreak trench) dan sumur resapan air baku. Di sisi lain, Satgas Karhutla dan Damkarmat Kotim harus menempatkan pos tinjau darurat di koridor rawan Mentawa Baru Ketapang agar respon pemadaman (response time) terhadap bangunan terancam dapat dilakukan sebelum api membesar total. (***)

  • Asap di Sampit Mengganas Malam Hari, Warga Mulai Alami Mata Perih dan Wajib Bermasker

    Asap di Sampit Mengganas Malam Hari, Warga Mulai Alami Mata Perih dan Wajib Bermasker

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mencekik warga Kota Sampit.

    Dampak paparan polusi udara akibat pembakaran gambut kini bergeser dengan pola mengkhawatirkan: relatif terkendali pada siang hari, namun mendadak pekat dan mengganas saat malam tiba.

    Data BMKG Kotim per Jumat (21/8/2026) mencatat akumulasi titik panas (hotspot) yang menembus 678 titik dalam 24 jam terakhir. Konsentrasi hotspot terbesar mengepung wilayah selatan, dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menyumbang 205 titik dan Mentawa Baru Ketapang 139 titik.

    Angin kencang dari arah selatan secara konsisten mendorong gumpalan asap pekat tersebut masuk ke jantung perkotaan Sampit.

    Warga lokal merasakan langsung dampak memburuknya kualitas udara malam tersebut. Salah seorang warga Sampit, Hidayah, mengeluhkan rasa perih di mata dan bau sangit tajam yang memaksa warga mengenakan masker saat keluar rumah.

    “ Jika pagi hari asap hanya pekat di beberapa titik seperti Jalan Jenderal Sudirman, maka saat malam asap berubah sangat pekat dan menusuk hingga mata terasa perih, serta merata hampir di seluruh kota,” kata Hidayah.

    Fenomena mengganasnya kabut asap pada malam hari ini berbanding lurus dengan parameter meteorologi BMKG. Meskipun jarak pandang (visibility) terpantau stabil di kisaran 5 km, terjadi penurunan kecepatan angin dari 11 km/jam pada pukul 17.00 WIB menjadi 7 km/jam pada pukul 18.00 WIB, disertai lonjakan kelembaban udara hingga 73 persen.

    Melambatnya pergerakan angin dan melambungnya kelembaban malam hari menyebabkan partikel polutan mikroskopis ($\text{PM}_{2.5}$) terperangkap dan mengendap rendah di permukaan tanah (inversion layer), alih-alih terangkat naik ke atmosfer. Melihat kondisi yang kian mengancam kesehatan ini, warga mendesak Pemkab Kotim dan Satgas Karhutla melipatgandakan gempuran pemadaman di zona rawan wilayah selatan demi memutus suplai asap malam.

    Fenomena mengendapnya asap pada malam hari di Sampit adalah bukti ilmiah terjadinya fenomena inversi suhu (thermal inversion), di mana polutan gambut terperangkap di ruang hidup warga.

    Ketiadaan aksi pemadaman malam yang efektif di titik sumber api wilayah selatan menjadikan kawasan pemukiman perkotaan Sampit sebagai “ruang oven” kabut asap beracun setiap kali matahari terbenam.

    Satgas Karhutla Kalteng dan BPBD Kotim harus menuntaskan pendinginan titik api utama di Mentaya Hilir Selatan dan Ketapang pada sore hari sebelum fenomena inversi malam terbentuk.

    Pengeboman air harus menyasar kepala api di jalur angin selatan agar tidak memproduksi asap pekat saat malam.

    Di sisi lain, Pemkab Kotim melalui Dinas Kesehatan harus segera membagikan masker standar N95/KN95 kepada pengendara dan warga, serta mengeluarkan maklumat resmi pembatasan aktivitas luar ruangan (outdoors) pada malam hari untuk mencegah lonjakan kasus ISPA massal.

    Hentikan kiriman asap malam, lindungi paru-paru warga Sampit!Asap karhutla mengganas saat malam tiba!  BMKG catat 678 hotspot, Dinkes wajib bagikan masker N95 gratis!  (***)

  • Water Bombing Kembali Dikerahkan, Karhutla Dekati Permukiman Warga di Sampit

    Water Bombing Kembali Dikerahkan, Karhutla Dekati Permukiman Warga di Sampit

    SAMPIT – Helikopter water bombing kembali dikerahkan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (20/8/2026).

    Dari pantauan di lapangan, helikopter berulang kali menjatuhkan air ke titik kebakaran di Jalan HM Arsyad tembusan Jalan Metro TV, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Kebakaran di kawasan tersebut cukup luas. Api membakar lahan hingga mendekati kebun kelapa sawit dan kawasan perumahan warga.

    Helikopter mengambil air dari Sungai Mentaya sebelum kembali menuju lokasi kebakaran. Pengisian air dan penjatuhan dilakukan berulang kali untuk membantu petugas di darat mengendalikan api.

    Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan, operasi water bombing juga dilakukan di Desa Terantang, Kecamatan Seranau.

    “Selain di wilayah itu, water bombing juga dilakukan di Desa Terantang, Kecamatan Seranau,” kata Rihel.

    Dukungan dari udara menjadi penting karena sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi lahan yang terbakar cukup luas juga membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.

    Di tengah upaya pemadaman oleh tim gabungan, warga ikut mengambil peran. Sejumlah remaja terlihat membantu mengendalikan api menggunakan ranting pohon.

    Mereka berupaya menghalau pergerakan api agar tidak semakin meluas, terutama ketika kobaran mulai mendekati kawasan yang berpotensi terdampak.

    Peralatan yang digunakan warga memang terbatas. Namun, keterlibatan tersebut menjadi upaya sementara sembari menunggu penanganan dari tim gabungan.

    Kondisi karhutla di Kotim juga tergambar dari data hotspot yang dipantau BMKG. Data yang diakses Kamis (20/8/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan Mentaya Hilir Selatan, Baamang dan Mentawa Baru Ketapang menjadi tiga wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.

    Mentaya Hilir Selatan tercatat memiliki 321 hotspot. Baamang 161 titik dan Mentawa Baru Ketapang 111 titik.

    Di Baamang, terdapat 32 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau minimal 80 persen. Sementara Mentawa Baru Ketapang tercatat memiliki 13 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

    Namun, data hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran. Titik panas merupakan hasil pemantauan satelit dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan untuk memastikan adanya api.

    Di lapangan, upaya pemadaman kini dilakukan dari dua arah. Petugas menggunakan jalur darat, sementara helikopter water bombing membantu menjangkau area yang lebih sulit.

    Kondisi tersebut menunjukkan penanganan karhutla di Kotim masih membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama ketika api muncul di kawasan yang berdekatan dengan perkebunan dan permukiman warga.