Tag: Kemarau 2026

  • Amuk Karhutla Ancam Pemukiman Basirih Hulu: 3 Hektare Lahan Hangus Terbakar, Tim Gabungan Samuda Baku Hantam dengan Api Hingga Malam!

    Amuk Karhutla Ancam Pemukiman Basirih Hulu: 3 Hektare Lahan Hangus Terbakar, Tim Gabungan Samuda Baku Hantam dengan Api Hingga Malam!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mengganas dan mengintai keselamatan nyawa warga. Lahan hutan dan semak belukar seluas kurang lebih tiga hektare di Desa Basirih Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), hangus terbakar pada Kamis (22/10/2026) malam.

    Kobaran api yang berkobar hebat hingga merambat mendekati kawasan pemukiman padat penduduk tersebut memicu kepanikan warga di sekitar lokasi kejadian.

    Laporan darurat diterima Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Sektor Samuda dari masyarakat setempat. Armada pemadam meluncur pukul 18.27 WIB, tiba di TKP pukul 18.40 WIB, dan langsung menggempur titik api utama mulai pukul 18.42 WIB.

    Kepala Pos Damkar Sektor Samuda, Supianor, menegaskan pengerahan personel gabungan skala besar untuk mengisolasi kobaran api agar tidak merembet melahap rumah-rumah warga.

    **”Personel langsung menuju lokasi setelah menerima laporan kebakaran hutan dan semak belukar di dekat permukiman warga. Setelah api berhasil ditangani, petugas melanjutkan dengan pendinginan

    Pemadaman melibatkan personel Pos Damkar Sektor Samuda, unsur Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Polsek Samuda, Koramil Samuda, serta masyarakat peduli api (MPA) tingkat kecamatan dan desa.

    Operasi berakhir pukul 20.00 WIB. Setelah itu, unit kembali untuk mengisi tangki air dan bersiaga menghadapi kemungkinan adanya laporan kebakaran berikutnya.

    Laporan petugas tidak mencatat adanya korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Namun, penyebab kebakaran dan sumber awal api belum diketahui.

    Kebakaran ini menjadi perhatian karena terjadi di dekat permukiman warga. Informasi lebih lanjut mengenai jarak titik api dari rumah penduduk serta langkah pencegahan di sekitar lokasi masih diperlukan untuk menggambarkan tingkat risiko yang dihadapi warga (***)

  • Warga Bagendang Resah, Dua Beruang Madu Diduga Induk dan Anak Sering Serang Ternak

    Warga Bagendang Resah, Dua Beruang Madu Diduga Induk dan Anak Sering Serang Ternak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Warga Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dibuat resah dengan kemunculan dua ekor beruang madu di sekitar permukiman.

    Satwa liar tersebut disebut kerap berkeliaran di sekitar rumah warga. Bahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun petugas, dua beruang itu diduga telah beberapa kali menyerang ternak milik warga.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal mengenai kemunculan beruang madu disampaikan warga bernama Junah. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Pos Sampit turun melakukan observasi di Desa Bagendang Permai pada Selasa (15/9).

    Observasi berlangsung sekitar tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Petugas juga berkoordinasi dengan pemerintah desa dan bertemu langsung dengan pelapor, kepala desa, ketua RT, staf desa serta warga setempat.

    “Dari informasi warga, beruang berjumlah dua ekor, diduga induk dan anak,” kata Muriansyah.

    Warga menyampaikan bahwa kemunculan beruang madu di kawasan tersebut bukan kejadian pertama. Satwa itu disebut sudah sering terlihat di sekitar permukiman, terutama ketika memasuki musim kemarau dan terjadi kebakaran lahan.

    Keberadaan dua beruang tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah serangan terhadap ternak warga, terutama ayam dan itik.

    Kondisi itu membuat warga takut dan resah saat beraktivitas di sekitar permukiman.

    Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA memberikan penjelasan kepada warga mengenai perilaku beruang madu. Petugas juga memasang satu set perangkap di lokasi dengan menggunakan buah nanas sebagai umpan.

    Pemasangan perangkap dilakukan dengan bantuan dan disaksikan staf desa serta warga.

    Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menangani keberadaan beruang madu yang mulai mendekati kawasan permukiman sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa liar dan manusia.

    BKSDA selanjutnya akan memantau kondisi perangkap dan keberadaan beruang madu di sekitar lokasi.

    Warga diminta tetap berhati-hati dan tidak melakukan tindakan sendiri apabila kembali melihat beruang. (***)

  • Baamang Hulu Kembali Memerah, Enam Hotspot Muncul dalam Sehari, Ancaman Karhutla Kotim Belum Mereda

    Baamang Hulu Kembali Memerah, Enam Hotspot Muncul dalam Sehari, Ancaman Karhutla Kotim Belum Mereda

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah musim kemarau yang diprakirakan berlangsung hingga puncaknya pada September, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mendeteksi belasan titik panas yang tersebar di tiga kecamatan.

    Berdasarkan pembaruan rekapitulasi hotspot BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit yang diakses Kamis (16/7/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 12 hotspot dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

    Baamang menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Sebanyak enam hotspot terpantau seluruhnya berada di Kelurahan Baamang Hulu. Seluruh titik tersebut terekam oleh satelit NOAA20 dengan tingkat kepercayaan level 8, yang menunjukkan indikasi kuat adanya sumber panas di permukaan.

    Sementara itu, Kecamatan Antang Kalang mencatat tiga hotspot yang tersebar di Desa Tumbang Manya, Tumbang Kalang, dan Sungai Hanya. Adapun Kecamatan Mentawa Baru Ketapang terdeteksi memiliki dua hotspot di Desa Eka Bahurui, wilayah yang dalam beberapa pekan terakhir berulang kali menjadi lokasi penanganan karhutla.

    Seluruh hotspot yang terpantau memiliki radius kemungkinan mencapai 1.125 meter, sehingga memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah sumber panas tersebut berkaitan dengan kebakaran lahan atau faktor lainnya.

    Data BMKG menunjukkan titik panas terdeteksi pada dua waktu pengamatan, yakni pukul 00.18 WIB dan 12.56 WIB, menggunakan satelit NOAA20.

    Munculnya enam hotspot di Baamang Hulu menjadi perhatian tersendiri. Kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir juga dilaporkan mengalami sejumlah kejadian kebakaran lahan yang melibatkan personel BPBD Kotim, Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan dalam proses pemadaman.

    Di sisi lain, Desa Eka Bahurui kembali masuk dalam daftar wilayah yang terpantau memiliki hotspot. Sebelumnya, desa tersebut juga beberapa kali menjadi titik penanganan karhutla dan bahkan sempat menjadi lokasi operasi pemadaman melalui jalur udara.

    BMKG menegaskan bahwa hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal adanya sumber panas di permukaan bumi yang masih harus dipastikan melalui pengecekan langsung di lapangan.

    Meski demikian, kemunculan hotspot secara berulang di wilayah yang sama menjadi sinyal penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat patroli dan deteksi dini. Terlebih, BMKG sebelumnya telah memperkirakan puncak musim kemarau di Kotim bergeser ke September dengan durasi kemarau yang lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino.

    Kondisi tersebut berpotensi membuat vegetasi semakin kering dan mempercepat penyebaran api apabila muncul kebakaran.

    Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila melihat asap maupun titik api agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.

    Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan instansi terkait juga diharapkan terus memusatkan patroli terpadu di wilayah yang berulang kali terdeteksi memiliki hotspot. Langkah itu dinilai penting agar setiap indikasi kebakaran dapat direspons lebih cepat sebelum berkembang menjadi karhutla berskala besar. (***)

  • Alarm Bahaya El Nino Menguat BMKG Revisi Puncak Kemarau Kotim Bergeser ke September Ancaman Karhutla Bakal Lebih Horor

    Alarm Bahaya El Nino Menguat BMKG Revisi Puncak Kemarau Kotim Bergeser ke September Ancaman Karhutla Bakal Lebih Horor

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Periode krisis hidrometeorologi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan bakal berlangsung jauh lebih lama dan melelahkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi merevisi prakiraan puncak musim kemarau 2026 di bumi Habaring Hurung. Hasil evaluasi atmosfer terbaru menunjukkan pergeseran krusial dari yang semula diprediksi terjadi pada Agustus, kini mundur menjadi September, sekaligus memperpanjang napas ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Manifes Pergeseran Musim dan Prediksi Lima Bulan Kekeringan Kritis

    Perubahan fundamental pada proyeksi cuaca ini dirilis langsung oleh Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit. Kepala Stasiun, Mulyono Leo Nardo, mengungkapkan bahwa dinamika pergeseran ini dipicu oleh mundurnya awal musim kemarau yang awalnya dipatok pada awal Juni, namun baru benar-benar masuk pada dasarian II atau pertengahan Juni.

    “Awalnya diprakirakan awal musim kemarau itu awal Juni, tetapi bergeser ke Juni dasarian II. Pada awal Juni masih ada kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca sehingga sampai akhir Juni curah hujan masih lumayan banyak,” papar Mulyono pada Rabu.

    Keterlambatan onset kemarau ini secara otomatis menciptakan efek domino pada durasi kekeringan di lapangan. BMKG mengalkulasi masa kering tahun ini akan membentang hingga lima bulan penuh. Kondisi ini kian diperparah oleh pergerakan anomali iklim global, di mana fenomena El Nino dilaporkan terus merangkak naik menuju intensitas kuat, yang siap memanggang wilayah Kotim dengan temperatur yang lebih kering dan gersang dibanding beberapa tahun terakhir.

    Peta Merah Indikator Kebakaran dan Penilaian Tapak Vegetasi

    Meskipun pencatatan suhu maksimum harian di Kotim hingga pertengahan Juli ini masih tertahan di angka normal sekitar 33 derajat Celsius, BMKG memperingatkan agar pemangku kebijakan tidak terkecoh. Ancaman nyata yang kini sedang mengintai di bawah permukaan adalah tingkat kekeringan lahan gambut dan semak belukar yang terus melesat ke level kritis.

    Pantauan satelit terkini menunjukkan peta potensi kemudahan kebakaran lahan di mayoritas wilayah Kotim sudah didominasi oleh warna merah pekat. Indikator makro ini menegaskan status vegetasi di lapangan berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, di mana satu percikan api kecil saja sudah cukup untuk memicu kobaran api raksasa yang sulit dijinakkan di wilayah langganan karhutla.

    Mundurnya puncak kemarau ke September dengan ancaman El Nino kuat adalah tamparan keras yang menuntut Pemkab Kotim melakukan perombakan total pada strategi anggaran kedaruratan. Peringatan sains dari BMKG ini menelanjangi satu kenyataan pahit: jika dengan kondisi kemarau normal saja armada BPBD dan Damkar sudah pontang-panting kehabisan air permukaan di Baamang dan Cempaga, bisa dibayangkan betapa hancurnya pertahanan daerah ini saat dipaksa bertahan di bawah siksaan El Nino hingga September mendatang.

    Kanal Independen memberikan catatan investigatif yang tajam. Pola penanganan karhutla di Kotim tidak bisa lagi menggunakan skema responsif jangka pendek yang menguras anggaran logistik secara harian. Durasi kemarau yang memanjang hingga lima bulan akan menguras stamina fisik personel di lapangan dan mempercepat kerusakan armada taktis. Pemerintah daerah bersama DPRD Kotim harus segera merumuskan skema darurat jaminan logistik, memperbanyak titik sumur bor tanggap darurat, serta memperketat sanksi hukum di tingkat hilir.

    Imbauan lisan agar masyarakat tidak membakar lahan sudah menjadi komoditas retorika yang usang dan mandul. Otoritas penegak hukum harus mulai melakukan patroli preventif yang agresif di kawasan pinggiran kota.

    Jika pergeseran data BMKG ini hanya direspons dengan rapat-rapat koordinasi seremonial di hotel tanpa adanya aksi nyata memperkuat pasokan air di zona merah, maka bersiaplah warga Sampit: bulan Agustus dan September 2026 akan menjadi neraka asap terpanjang yang siap melumpuhkan seluruh sendi kehidupan kita. (***)

  • Ketiadaan Air Permukaan Paksa Petugas Lakukan Pemadaman Estafet Guna Bendung Api Dua Hektare

    Ketiadaan Air Permukaan Paksa Petugas Lakukan Pemadaman Estafet Guna Bendung Api Dua Hektare

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Cekaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memperlihatkan kondisi kritis prabencana yang mengkhawatirkan.

    Di tengah nihilnya potensi hujan, amukan api kembali pecah dan menghanguskan lahan kosong berselimut semak belukar seluas dua hektare di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, pada Senin (13/7/2026).

    Insiden ini memaksa tim gabungan melancarkan strategi pemadaman yang menguras energi akibat hilangnya sumber air di sekitar lokasi tapak.

    Kendala Hidrologi Lapangan dan Taktik Suplai Air Estafet

    Sirkuit kedaruratan karhutla ini pertama kali terdeteksi sekitar pukul 10.07 WIB setelah seorang warga bernama Sarah melemparkan laporan taktis ke pos jaga.

    Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim langsung menerjunkan personel darat ke lokasi karena posisi kepala api berada sangat dekat dan mengancam perimeter permukiman warga.

    Komandan Regu Jaga Disdamkarmat Kotim, Supriansyah, menjelaskan bahwa setelah melakukan penilaian situasi (size up), petugas langsung bertindak cepat melokalisir kobaran api.

    Dalam durasi 39 menit, api berhasil dijinakkan pada pukul 11.17 WIB, dilanjutkan dengan proses pendinginan total hingga operasi dinyatakan selesai pada pukul 11.37 WIB tanpa adanya korban jiwa maupun luka. Laporan awal mengindikasikan adanya unsur kesengajaan (arson).

    Namun, ancaman tidak berhenti di sana. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa tim gabungan harus bekerja ekstra keras memblokir perluasan sisa bara api akibat kendala hidrologi yang akut di lapangan.

    “Saat ini empat unit water tank sedang berupaya memblokir perluasan kebakaran. Air permukaan di lokasi tidak tersedia sehingga pasokan air dilakukan secara estafet menggunakan mobil tangki. Kami juga membuka dua jalur fighter menuju garis depan dengan dukungan lima selang sepanjang sekitar 150 meter dari unit water tank. Perhitungan sementara luas lahan yang terbakar sekitar dua hektare,” papar Multazam secara rigid.

    Cekaman Kekeringan Ekstrem dan Peta Merah Satelit BMKG

    Kondisi penanganan darurat di lapangan kian dipersulit oleh manifes cuaca ekstrem yang dirilis oleh BMKG. Berdasarkan pembaruan data satelit NOAA-20 and TERRA per pukul 07.00 WIB, terdapat tujuh titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan level 8 hingga 9 yang mengepung tiga kecamatan strategis di Kotim;  Kecamatan Kota Besi: Merekam akumulasi terbanyak dengan 3 titik panas yang mendominasi Desa Soren, Kelurahan Kota Besi Hulu, and Desa Pamalian.

    Kecamatan Parenggean: Mendeteksi 2 titik panas di Desa Tehang, di mana salah satunya mengunci status high confidence (level 9). Kecamatan Telawang: Memetakan sebaran 2 titik panas di koridor Desa Tanah Putih.

    Lebih mengkhawatirkan lagi, model prakiraan cuaca numerik BMKG menegaskan bahwa wilayah Kotim diproyeksikan absen dari guyuran hujan setidaknya hingga Selasa (14/7/2026) pagi. Hal ini menempatkan mayoritas wilayah Kotim dalam peta merah kategori “sangat mudah terbakar”, di mana peluang pembasahan lahan secara alami berada di angka nol.

    Fakta bahwa petugas BPBD and Damkar harus pontang-panting melakukan pemadaman secara estafet menggunakan mobil tangki di Jalan Tjilik Riwut Km 9 menelanjangi bobroknya mitigasi infrastruktur hidrologi prabencana yang dikelola Pemkab Kotim. Sektor Baamang Hulu, khususnya koridor Km 9, merupakan zona langganan karhutla yang terus berulang setiap tahun.

    Sangat tidak masuk akal jika hingga pertengahan tahun 2026 ini, pemerintah daerah dan dinas terkait belum juga membangun sumur bor statis, embung buatan, atau tandon air darurat di perimeter rawan tersebut.

    Kanal Independen memberikan catatan investigatif yang sangat tajam. Mengandalkan pasokan air estafet dari mobil tangki yang harus bolak-balik mengambil air di tempat jauh adalah pola penanganan yang tidak efisien, membuang waktu krusial, and menguras anggaran logistik.

    Jika penanganan di jalur protokol utama saja sudah kedodoran air permukaan, bisa dibayangkan betapa mengerikannya nasib pemadaman di wilayah pedalaman yang jauh dari akses mobil tangki.

    Di sisi lain, munculnya indikasi kuat unsur kesengajaan (arson) di tepi jalan utama membuktikan bahwa para pelaku kejahatan lingkungan sama sekali tidak memiliki rasa takut terhadap sanksi hukum.

    Mereka dengan sengaja memanfaatkan celah cuaca kering and lumpuhnya infrastruktur air untuk melakukan pembersihan lahan secara murah and ilegal.

    Polres Kotim tidak boleh tinggal diam: lakukan audit kepemilikan lahan kosong yang terbakar di Km 9, buru aktor intelektual di balik aksi sabotase api ini, and seret mereka ke pengadilan!

    Jika tata kelola lingkungan and penegakan hukum di Kotim tetap berjalan lemas and amatiran, maka sisa musim kemarau 2026 ini akan menjadi neraka asap yang siap mengurung seluruh warga Sampit tanpa ampun. (***)

  • Kepungan Ratusan Hotspot Mengunci Tujuh Belas Kecamatan di Kotim

    Kepungan Ratusan Hotspot Mengunci Tujuh Belas Kecamatan di Kotim

    Saat Puluhan Hektare Lahan Parenggean dan MB Ketapang Hangus Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sirkuit pemantauan udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendeteksi lonjakan indikator bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas memasuki siklus musim kemarau. Berdasarkan manifes data Pusdalops BPBD Kotim per 9 Juli 2026, sebanyak 286 titik panas (hotspot) kini resmi mendominasi ruang udara di 17 kecamatan. Angka sebaran ini menjadi alarm dini bahwa potensi kebakaran vegetasi di tingkat tapak berada dalam status siaga tinggi.

    Manifes Sebaran Hotspot: Antang Kalang dan Kota Besi Jadi Zona Merah Pemantauan Satelit

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menyampaikan bahwa data sebaran hotspot merupakan indikator krusial hasil pemantauan satelit yang mendeteksi anomali suhu panas bumi. Data tersebut dijadikan kompas rigid bagi petugas gabungan untuk melakukan verifikasi faktual di lapangan. Meskipun tidak seluruh titik panas merepresentasikan kejadian kebakaran fisik secara langsung, parameter ini wajib diwaspadai karena memiliki probabilitas tinggi untuk eskalasi menjadi kepala api yang destruktif.

    Pusdalops BPBD memetakan sirkuit wilayah dengan akumulasi hotspot tertinggi sebagai berikut: Kecamatan Antang Kalang mencatat akumulasi tertinggi dengan total 67 titik panas. Kecamatan Kota Besi menyusul di urutan kedua dengan deteksi 41 titik panas. Kecamatan Mentaya Hulu mengunci angka 31 titik panas. Kecamatan Bukit Santuai merekam keberadaan 22 titik panas. Kecamatan Telaga Antang mendeteksi sebaran 21 titik panas. Kecamatan Tualan Hulu mencatat pertahanan 20 titik panas di wilayahnya.

    “Hotspot merupakan hasil pemantauan satelit yang menjadi dasar bagi petugas untuk melakukan verifikasi di lapangan. Tidak semua hotspot merupakan kebakaran, namun tetap harus diwaspadai karena berpotensi berkembang menjadi titik api,” urai Multazam dalam konfirmasi resminya pada Jum’at (10/7/2026).

    Anatomi Amukan Api: Rekor Tragis Parenggean dan Dominasi Insiden Ketapang

    Selain ancaman indikator makro berupa ratusan hotspot, potret karhutla riil di sepanjang tahun 2026 telah menorehkan jejak kerusakan lingkungan yang nyata. BPBD Kotim mencatat total akumulasi kejadian kebakaran lahan telah menembus angka 63 insiden. Dari jumlah tersebut, tim gabungan mengklaim baru berhasil menjinakkan 56 kejadian kebakaran.

    Total luasan tanah and vegetasi gambut yang hangus menjadi abu di seluruh teritori Kotim telah mencapai angka 142,99 hektare. Pola sebaran kerusakan lahan ini terbagi dalam beberapa wilayah utama: Kecamatan Mentawa Baru Ketapang: Menjadi wilayah dengan frekuensi bencana tertinggi, yakni menyumbang 28 kejadian karhutla dengan total luasan tanah terbakar mencapai 32,83 hektare. Kecamatan Baamang: Mengekor di posisi kedua dengan catatan 13 kejadian karhutla yang menghanguskan sekitar 21,94 hektare lahan. Kecamatan Parenggean: Kendati hanya mencatatkan 2 kejadian kebakaran, wilayah ini menorehkan rekor kehancuran terluas dengan luasan lahan gambut yang terbakar mencapai 40 hektare akibat lambatnya penanganan hulu.

    Guna membendung perambatan api di sisa musim kering ini, BPBD Kotim bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni, pihak korporasi swasta, serta relawan terus meningkatkan sirkuit patroli and pemantauan berkala di zona rawan. Pemerintah daerah juga mengimbau keras masyarakat agar tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar serta meminta warga proaktif melaporkan sekecil apa pun indikasi kepulan asap kepada petugas terdekat.

    Pemaparan data 286 hotspot and hangusnya 142,99 hektare lahan di Kotim sepanjang tahun 2026 ini harus dibaca secara kritis, bukan sekadar diterima sebagai laporan administratif tahunan. Siasat membandingkan angka hotspot tahun ini yang berada di bawah periode yang sama pada tahun 2025—di mana tahun lalu mencapai 453 titik—adalah retorika birokrasi yang menidurkan kewaspadaan publik and berpotensi memicu kepuasan semu (complacency) di tingkat pengambil kebijakan. Mengklaim situasi “lebih baik” hanya karena angka statistik satelit lebih rendah, di saat puncak musim kemarau bahkan belum menyentuh fase puncaknya, adalah kecerobohan mitigasi prabencana yang sangat berbahaya.

    Kanal Independen memberikan catatan investigatif yang sangat tajam terkait anomali di Kecamatan Parenggean. Bagaimana mungkin hanya dengan 2 kejadian karhutla, luasan lahan yang hangus bisa langsung meroket menembus 40 hektare? Angka ini adalah tamparan keras bagi sistem respons cepat (quick response) satgas darat. Ini membuktikan bahwa sirkuit deteksi dini di Parenggean total kedodoran, sehingga api dibiarkan bebas melahap puluhan hektare vegetasi sebelum akhirnya petugas datang melakukan pemadaman. Hal ini berbanding terbalik dengan Mentawa Baru Ketapang yang dengan 28 kejadian mampu melokalisir luasan di angka 32,83 hektare. Ketimpangan performa penanganan antar-kecamatan ini menelanjangi tidak meratanya distribusi logistik and personel di wilayah pelosok Kotim.

    Pemerintah Kabupaten Kotim and BPBD tidak boleh hanya sibuk melempar imbauan moral kepada masyarakat kecil agar tidak membakar lahan. Sudah saatnya Pemkab Kotim mengaudit komitmen konsesi perusahaan swasta yang wilayahnya mendeteksi titik panas, mempertegas sanksi bagi pemilik lahan terlantar di Baamang and Ketapang, serta membangun posko taktis mandiri di Parenggean. Jika performa satgas di pelosok masih lamban and hanya bertumpu pada wilayah urban Sampit, maka ratusan hotspot satelit tersebut akan dengan sangat cepat berubah menjadi lautan api riil yang kembali mengurung anak-anak Kotim dalam kepungan asap beracun. (***)

  • Sengaja Dibakar di Pinggir Jalan Raya Titik Api Baru HM Arsyad Menelanjangi Bebalnya Hukum di Tengah Cekaman Karhutla Kotim

    Sengaja Dibakar di Pinggir Jalan Raya Titik Api Baru HM Arsyad Menelanjangi Bebalnya Hukum di Tengah Cekaman Karhutla Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Belum kering peluh tim satgas gabungan setelah berjuang melawan kepungan asap masif dalam sepekan terakhir, bumi Desa Eka Bahurui kembali diguncang oleh kemunculan titik api baru pada Kamis siang. Kali ini, jilatan api secara mendadak membakar hamparan semak belukar yang berada tepat di pinggir koridor vital Jalan HM Arsyad Kilometer 10,5, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Beruntung, penetrasi taktis petugas berhasil melokalisir sirkuit kebakaran sebelum merembet menjadi petaka yang lebih luas.

    Penanganan Kilat Personel Pos Sektor Eka Bahurui di Perimeter Jalan Utama

    Sirkuit kedaruratan karhutla ini pertama kali terdeteksi sekitar pukul 13.00 WIB setelah seorang warga secara proaktif mendatangi langsung pos jaga Sektor Eka Bahurui untuk memberikan laporan tapak. Merespons laporan tersebut, petugas segera bergerak menuju lokasi menggunakan satu unit mobil tangki pemadam dan tiba hanya beberapa menit kemudian.

    Setelah melakukan penilaian kondisi lapangan (size up), personel langsung melancarkan gempuran air ke titik api yang melahap lahan kosong berselimut vegetasi belukar dengan dimensi sekitar 3 x 10 meter. Dalam durasi singkat sekitar 20 menit, amukan api berhasil dipadamkan sepenuhnya.

    “Begitu menerima laporan, personel langsung menuju lokasi dan melakukan penanganan. Api berhasil dipadamkan sehingga tidak sempat meluas ke area sekitar,” urai Kasi Humas Disdamkarmat Kotim, Hery Wahyudi, memberikan konfirmasi resmi.

    Operasi pemadaman darurat ini dinyatakan selesai pada pukul 13.25 WIB tanpa adanya korban jiwa maupun luka, and seluruh personel ditarik kembali ke pos pada pukul 13.30 WIB dengan dukungan cuaca cerah di lapangan.

    Aroma Arson dan Ironi Gempuran Udara Helikopter BNPB

    Peristiwa ini secara otomatis menambah daftar panjang kejadian karhutla yang mengunci wilayah Desa Eka Bahurui dalam beberapa hari terakhir. Kawasan ini sebelumnya telah menjadi zona merah setelah dihantam kebakaran hebat yang berkobar selama lima hari berturut-turut and belum sepenuhnya padam akibat sulitnya akses serta kondisi lahan gambut. Untuk memutus kepala api yang merayap di lapisan dalam tanah, dua unit helikopter bantuan dari BNPB bahkan harus dikerahkan melakukan operasi pengeboman air (water bombing) dengan menjatuhkan ribuan liter air ke titik-titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

    Namun, di tengah masifnya operasi udara tersebut, munculnya titik api baru di pinggir jalan utama yang diduga kuat dipicu oleh unsur kesengajaan (arson) menelanjangi betapa beraninya para pelaku kejahatan lingkungan menantang hukum. Pihak berwenang menegaskan bahwa dugaan sabotase pembakaran sengaja ini masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Pos Sektor Eka Bahurui melaporkan bahwa operasi pemadaman di lapangan berjalan dengan baik dari sisi kemampuan personel, komunikasi, hingga dukungan logistik. Kendati demikian, munculnya kembali titik api ini menjadi peringatan keras bahwa ancaman karhutla di Kotim masih berada pada level yang sangat tinggi seiring datangnya musim kemarau.

    Pecahnya titik api baru di Jalan HM Arsyad Km 10,5 Desa Eka Bahurui yang dilaporkan terindikasi kuat akibat unsur kesengajaan (arson) adalah puncak kebebalan hukum and bentuk penghinaan nyata terhadap negara. Di saat anggaran negara dikuras habis untuk menerbangkan dua helikopter water bombing BNPB guna memadamkan bara lima hari di wilayah yang sama, para spekulan tanah atau oknum tidak bertanggung jawab justru dengan santai menyulut korek api di pinggir jalan raya. Lokasi pembakaran yang berada tepat di tepi jalan utama membuktikan bahwa pelaku tidak lagi memiliki rasa takut terhadap sanksi hukum maupun patroli satgas.

    Kanal Independen mengecam keras jika insiden ini hanya diselesaikan dengan ritual pemadaman 20 menit lalu dianggap angin lalu karena luasannya yang kecil. Justru dari lahan kecil berukuran 3 x 10 meter inilah modus operandi land clearing murah bermula. Mengaitkan kemunculan api murni karena “cuaca panas kemarau” di pinggir jalan aspal adalah kenaifan birokrasi.

    Polres Kotim bersama Unit Reskrim Polsek MB Ketapang tidak boleh menunda waktu lagi: lakukan investigasi forensik di Km 10,5, cari saksi mata yang melihat pergerakan mencurrigaan pada pukul 13.00 WIB tersebut, and kejar pelaku pembakaran sengaja ini!

    Jika hukum tidak ditegakkan secara radikal and pelaku arson tidak dipenjarakan sebagai contoh di ruang publik, maka imbauan larangan membakar lahan dari pemerintah hanya akan menjadi bahan tertawaan para mafia tanah yang siap mengubah seluruh lanskap hijau Kotim menjadi abu di sisa musim kemarau 2026 ini. (***)

  • Kepungan Asap Eka Bahurui Belum Mampu Takluk Selama Lima Hari Saat Amukan Api Berat Mendadak Membakar Perbatasan Soren

    Kepungan Asap Eka Bahurui Belum Mampu Takluk Selama Lima Hari Saat Amukan Api Berat Mendadak Membakar Perbatasan Soren

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian bergerak tak terkendali and memasuki fase krusial. Memasuki hari kelima, amukan api yang mengepung Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, masih belum mampu ditaklukkan sepenuhnya. Guna memutus sirkuit perambatan api yang terus mengganas di bawah cekaman cuaca kering, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terpaksa menerjunkan dua unit helikopter water bombing (pembom air) sekaligus untuk melakukan operasi pemadaman dari udara.

    Gempuran Dua Helikopter Pembom Air di Langit Mentawa Baru Ketapang

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Multazam, yang memimpin langsung operasi di lapangan mengonfirmasi bahwa situasi di Desa Eka Bahurui menuntut penanganan berlapis. Upaya pemadaman terus digencarkan secara agresif baik melalui jalur darat maupun sirkuit udara karena api tak kunjung padam selama lima hari berturut-turut.

    “Saya sekarang di Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Saat ini ada dua helikopter pembom air yang dioperasikan BNPB sedang menangani kebakaran di Eka Bahurui. Sudah lima hari ini api tak kunjung padam,” urai Multazam memberikan laporan rigid langsung dari lokasi bencana pada Rabu (8/7/2026).

    Operasi water bombing ini menjadi tumpuan utama tim satgas untuk menekan penyebaran api, terutama pada titik-titik hotspot di pedalaman yang memiliki akses logistik sulit and tidak terjangkau oleh armada darat.

    Amukan Api Berat Mendadak Pecah di Perbatasan Soren dan Desa Camba

    Belum selesai urusan pemadaman di Mentawa Baru Ketapang, sirkuit kedaruratan Kotim kembali dikejutkan oleh pecahnya titik karhutla baru yang sangat mengkhawatirkan. Lidah api dilaporkan mendadak berkobar and melahap kawasan vegetasi di wilayah perbatasan antara Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, dengan Desa Camba.

    Kondisi kebakaran baru di wilayah perbatasan ini langsung memantik perhatian serius dari tim penanganan karhutla karena skala kebakarannya berkembang sangat masif dalam waktu singkat. Multazam mengonfirmasi bahwa situasi di titik terbaru ini tergolong ekstrem.

    “Selanjutnya di perbatasan Soren, Kecamatan Kota Besi, dengan Desa Camba. Yang paling berat di Desa Soren, baru terbakar sejak siang tadi,” pungkasnya memberikan estimasi rintangan baru di lapangan.

    Saat ini, BPBD Kotim bersama BNPB and instansi lintas sektoral terkait terus berkoordinasi erat untuk melakukan lokalisir api guna mencegah dampak perluasan yang lebih masif. Sirkuit pemantauan and evaluasi berkala di tingkat tapak akan terus dilakukan guna memperbarui manifes perkembangan data karhutla secara berkala.

    Amukan api yang gagal dipadamkan selama lima hari berturut-turut di Eka Bahurui, ditambah pecahnya kebakaran berat yang mendadak di perbatasan Soren-Camba, adalah bukti nyata dari rapuhnya sistem deteksi dini and mandulnya pengawasan prabencana di Kotim. Menerjunkan dua helikopter water bombing sekaligus adalah keputusan darurat yang sangat mahal, sekaligus menjadi pengakuan tidak langsung bahwa kekuatan satgas darat telah benar-benar kewalahan menghadapi rintangan hidrologis serta minimnya sumber air di lokasi. Kebakaran yang baru pecah pada siang hari di Desa Soren namun langsung dikategorikan sebagai “yang paling berat” mengindikasikan adanya kelengahan sirkuit patroli wilayah yang membuat api dengan sangat cepat meluas sebelum sempat diisolasi.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam. Satgas Karhutla and aparat penegak hukum tidak boleh hanya menjadikan operasi udara ini sebagai tontonan administratif atau sekadar mencatat statistik luasan lahan yang hangus. Kawasan perbatasan Soren and Desa Camba dikenal sebagai wilayah yang sarat akan kepentingan tata ruang and rawan dimanfaatkan oleh spekulan tanah untuk melakukan pembersihan lahan (land clearing) secara ilegal dengan memanfaatkan puncak musim kemarau.

    Polres Kotim and Gakkum KLHK harus segera turun ke lapangan untuk memasang garis polisi di kedua lokasi tersebut, menyelidiki status kepemilikan lahan, and menyeret aktor intelektual di balik pembakaran ini ke ranah hukum pidana. Negara tidak boleh terus-menerus membakar miliaran rupiah anggaran water bombing hanya untuk membersihkan lahan para pelaku kriminal lingkungan secara gratis.(***)

  • Ancaman Dua Wabah Kemarau Mengintai Kotim: Dinkes Siagakan Masker dan Obat-Obatan di Tengah Risiko Lonjakan Kasus ISPA serta Diare

    Ancaman Dua Wabah Kemarau Mengintai Kotim: Dinkes Siagakan Masker dan Obat-Obatan di Tengah Risiko Lonjakan Kasus ISPA serta Diare

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Perubahan siklus cuaca di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya membawa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan juga mulai memicu krisis kesehatan masyarakat. Seiring dengan datangnya musim kemarau yang membuat udara semakin panas dan kering, potensi merebaknya berbagai jenis penyakit infeksi kini berada pada level yang sangat diwaspadai. Dinas Kesehatan Kotim secara rigid menempatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare sebagai dua momok penyakit utama yang paling mengancam ketenteraman warga di tingkat tapak.

    Prediksi Kemarau Panjang BMKG and Risiko Gangguan Pernapasan

    Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, membeberkan bahwa berdasarkan manifes prakiraan cuaca dari BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung dalam durasi yang lebih panjang dengan paparan suhu udara yang jauh lebih panas. Kondisi ekstrem tersebut dipastikan bakal berdampak destruktif pada sirkuit kesehatan masyarakat apabila tidak dilakukan langkah mitigasi taktis sejak dini.

    Kombinasi antara parameter udara yang kering, debu jalanan yang beterbangan, hingga potensi kepulan asap pekat akibat karhutla dinilai menjadi motor penggerak utama yang memperbesar risiko gangguan saluran pernapasan pada warga.

    Di sisi lain, menyusutnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah pelosok juga menjadi pemicu utama di balik merangkaknya kasus diare, terutama jika higienitas makanan dan sirkuit sanitasi lingkungan tidak dijaga secara ketat oleh masyarakat.

    “Biasanya saat musim kemarau kasus diare dan ISPA mengalami peningkatan. Karena itu masyarakat perlu lebih memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta menjaga daya tahan tubuh,” urai Umar Kaderi saat memberikan konfirmasi pada Selasa (7/7/2026).

    Manifes Kesiapan Logistik Medis and Pemetaan Zona Merah Diare

    Guna menghadapi potensi lonjakan pasien di sisa musim kering ini, Dinas Kesehatan Kotim mengklaim telah mengaktifkan status siaga dengan mengamankan pasokan logistik medis hulu. Langkah taktis yang diambil meliputi: Penyediaan stok obat-obatan esensial yang memadai di seluruh lini pelayanan. Pengadaan cadangan masker dalam jumlah masif untuk didistribusikan saat kualitas udara memburuk. Mobilisasi tenaga kesehatan (SDM) and penyiapan fasilitas pelayanan kesehatan (Faskes) agar tetap optimal memberikan penanganan darurat.

    “Kesiapan sudah kami lakukan. Masker, obat-obatan, SDM, dan fasilitas kesehatan sudah kami siapkan agar pelayanan tetap optimal apabila terjadi peningkatan kasus akibat musim kemarau maupun dampak karhutla,” tegas Umar.

    Selain penguatan logistik, Dinkes Kotim juga telah merampungkan sirkuit pemetaan wilayah rawan (vulnerability mapping) yang selama ini memiliki rekam jejak historis lonjakan kasus diare tertinggi saat kemarau melanda. Peta risiko ini dijadikan acuan rigid bagi para petugas kesehatan di tingkat Puskesmas hingga Posyandu untuk mempertegas sirkuit edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

    Warga diimbau kuat untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi cairan agar terhindar dari dehidrasi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mulai merasakan gejala klinis ISPA atau diare.

    Peringatan dari Dinas Kesehatan Kotim mengenai ancaman ISPA and diare di awal Juli 2026 ini adalah manifes rutinitas birokrasi yang klise and selalu berulang setiap tahun tanpa ada terobosan solutif di tingkat hulu. Membagikan masker and menumpuk stok obat-obatan di Puskesmas adalah strategi kuratif-defensif yang hanya mengobati gejala, bukan menyelesaikan akar masalah. Ketika Dinkes menyatakan bahwa debu, asap karhutla, and berkurangnya air bersih adalah pemicu utama penyakit, mereka sebenarnya sedang menelanjangi kegagalan lintas sektoral Pemkab Kotim dalam melindungi hak-hak dasar rakyat atas lingkungan and air bersih.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam terkait ancaman wabah diare akibat menyusutnya air bersih. Masalah ini bukan semata-mata karena faktor “alam yang mengering”, melainkan akibat belum meratanya infrastruktur pipa air bersih (PDAM) hingga ke pemukiman pelosok and desa-desa riparian di Kotim. Saat kemarau tiba, warga miskin di pinggiran kota and pedalaman terpaksa mengonsumsi air sungai atau sumur gali yang surut and telah tercemar bakteri demi bertahan hidup. Menyuruh masyarakat menjaga sanitasi tanpa memberikan akses air bersih yang layak adalah sebuah ironi kebijakan yang tidak adil.

    Dinkes Kotim and jajaran lintas dinas tidak boleh hanya berlindung di balik tameng imbauan moral agar warga “rajin berolahraga and minum air putih”.

    Pemkab Kotim harus melakukan intervensi struktural: aktifkan armada tangki air bersih untuk menyuplai zona-zona merah diare secara gratis, pasang alat monitor kualitas udara (ISPU) yang transparan di ruang publik, and tindak tegas faskes atau Puskesmas yang lamban dalam melayani pasien miskin terdampak ISPA.

    Jika penanganan kesehatan ini tetap dikelola dengan mentalitas proyek tahunan yang reaktif, maka warga Kotim terutama anak-anak and lansia akan terus dipaksa menjadi korban musiman yang bertaruh nyawa di tengah kepungan debu asap and krisis air bersih. (***)

  • Bara Gambut Lingkar Utara Dongkrak Akumulasi Karhutla Kotim

    Bara Gambut Lingkar Utara Dongkrak Akumulasi Karhutla Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Eskalasi bencana kebakaran hutan and lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus merangsek naik ke level yang kian mencemaskan seiring dengan kian mengganasnya cekaman musim kemarau. Setelah sebelumnya akumulasi luas lahan terbakar berada di kisaran 11 hektare, kemunculan titik api baru yang membakar kawasan Lingkar Kota Utara Sampit pada Senin (6/7/2026) secara drastis mendongkrak total luasan lahan gambut and belukar yang hangus menjadi sekitar 14 hektare.

    Pengepungan Api Tiga Mil dari Koridor Vital Bandara H Asan

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Multazam, membenarkan bahwa titik api terbaru terdeteksi aktif merayap di kawasan Lingkar Kota Utara, Kecamatan Baamang. Tim gabungan langsung dikerahkan secara taktis ke lapangan guna memotong perambatan lidah api agar tidak meluas ke area yang lebih kritis.

    Berdasarkan manifes data taktis BPBD, kebakaran terbaru ini telah menghanguskan lahan semak belukar seluas kurang lebih tiga hektare. Secara geografis, titik api tersebut mengunci koordinat rigid S 02°30′34.00″ dan E 112°54′55.00″, atau hanya berjarak sekitar 3 nautical mile (5,5 kilometer) dari Bandara H Asan Sampit. Kedekatan jarak ini memicu perhatian super ketat dari lintas sektoral karena posisinya berada di perimeter ring satu kawasan vital transportasi udara daerah.

    “Lokasi kebakaran berada di kawasan Lingkar Kota Utara. Saat ini lahan terpantau masih berasap tebal and berpotensi kuat membesar akibat dorongan angin. Tim gabungan sudah bergerak cepat menuju lokasi untuk melakukan lokalisir and penanganan intensif,” urai Multazam saat memberikan konfirmasi pada Senin (6/7/2026).

    Rekam Jejak Spasial Karhutla Kotim Sepanjang Awal Juli

    Lonjakan dramatis menjadi 14 hektare ini merupakan akumulasi dari rentetan petaka karhutla yang melanda bumi Kotim sejak awal pekan Juli 2026. Sebelum titik api Lingkar Kota Utara pecah, sirkuit pemantauan udara menggunakan pesawat nirawak (drone) and patroli darat telah mencatat sebaran kerusakan lingkungan di beberapa titik, meliputi: Kecamatan Mentaya Hulu: Dua titik kebakaran vegetasi berhasil dipetakan dengan estimasi luasan mencapai tiga hektare. Kecamatan Seranau: Kobaran api melahap hamparan lahan gambut di Desa Ganepo dengan tingkat kerusakan mencapai kurang lebih empat hektare. Kecamatan Baamang (Jalan Ir Soekarno): Lahan seluas empat hektare sempat terbakar hebat and memicu kepulan asap sebelum akhirnya berhasil dipadamkan secara total oleh tim gabungan.

    Multazam menegaskan bahwa meningkatnya grafik karhutla ini dipicu oleh parameter meteorologi yang didominasi oleh Hari Tanpa Hujan (HTH). Kondisi ekstrem tersebut membuat vegetasi and hamparan tanah gambut kehilangan pasokan kadar air hingga menjadi sangat kering and mudah menyala (highly flammable).

    Guna meminimalkan risiko kabut asap yang dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi and kesehatan masyarakat, BPBD Kotim kini memperkuat sirkuit koordinat patroli darat serta memperketat pengawasan udara di zona-zona rawan gambut. Masyarakat kembali diingatkan dengan keras agar tidak melakukan pembukaan lahan atau pembersihan kebun dengan metode pembakaran.

    Meledaknya total luasan karhutla menjadi 14 hektare dengan tambahan titik api baru di Lingkar Kota Utara Sampit bukan lagi sekadar isu perubahan iklim biasa, melainkan sinyal anarki agraria yang sengaja memanfaatkan momentum puncak musim kemarau. Keberadaan titik api seluas 3 hektare yang berada tepat di koordinat S 02°30′34.00″ and E 112°54′55.00″ hanya berjarak 3 mil laut dari jalur penerbangan Bandara H Asan Sampit—adalah ancaman nyata bagi keselamatan transportasi publik berskala tinggi (high-risk security threat). Kondisi lahan yang terus berasap and berpotensi membesar membuktikan bahwa lapisan bawah gambut telah dikorbankan demi efisiensi biaya pembersihan lahan.

    Kanal Independen memberikan catatan kritis yang sangat tajam terhadap pola kebakaran di kawasan Lingkar Kota Utara and Jalan Ir Soekarno. Kedua koridor ini adalah zona pengembangan tata ruang kota yang bernilai ekonomi tinggi, sangat rawan menjadi ladang pembantaian lingkungan oleh para mafia tanah and spekulan kavlingan.

    Menerima narasi bahwa lahan ini terbakar murni karena “faktor alam and gesekan semak kering” di kawasan strategis pinggiran kota adalah bentuk kelengahan jurnalisme and kelalaian birokrasi.

    Satgas Karhutla bersama Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup and Kehutanan (KLHK) serta Polres Kotim wajib segera mengambil tindakan represif: segel total area koordinat tersebut menggunakan garis polisi, lacak kepemilikan sertifikat tanahnya melalui BPN, and seret pemilik konsesi ke ranah pidana lingkungan!

    Jika pembiaran ini terus berlanjut tanpa adanya penyitaan aset lahan yang terbakar untuk dikembalikan menjadi tanah milik negara, maka sepanjang sisa musim kemarau tahun 2026 ini, koridor udara Bandara H Asan and paru-paru warga Kota Sampit akan terus disandera oleh ketakutan kabut asap demi keuntungan ekonomi segelintir spekulan ugal-ugalan. (***)