Tag: pelabuhan sampit

  • Kabut Asap Ganggu Pelayaran Sampit, KSOP Sesuaikan Waktu Keberangkatan Kapal

    Kabut Asap Ganggu Pelayaran Sampit, KSOP Sesuaikan Waktu Keberangkatan Kapal

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, selama kurang lebih empat bulan terakhir turut mengancam kelancaran transportasi.

    Untuk menjaga keselamatan pelayaran di perairan Sampit, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit mengatur waktu keberangkatan kapal saat jarak pandang terganggu.

    ”Untuk kapal-kapal berukuran kecil, kami memberikan imbauan khusus dan tidak mengizinkan keberangkatan pada malam hari atau saat dini hari ketika kabut asap sangat tebal dan jarak pandang terbatas. Keberangkatan diarahkan pada pagi menjelang siang hari saat kondisi visual lebih aman,” kata Hotman Siagian saat acara coffee morning dan pelepasan Kepala KSOP Kelas III Sampit di Aquarius Boutique Hotel Sampit, Selasa (20/10/2026).

    Di akhir  masa tugasnya, Kepala KSOP Kelas III Sampit Hotman Siagian kini berpindah tugas sebagai Kepala KSOP Kelas III Sunda Kelapa, Jakarta Utara, pada 23 Oktober 2026.

    Sebelum meninggalkan Kota Sampit, ia masih menanggapi sejumlah pertanyaan awak media terkait situasi pelayaran di Pelabuhan Sampit saat kabut asap tebal mengganggu jarak pandang.

    Hotman Siagian  menegaskan, berkurangnya jarak pandang akibat kabut asap tidak serta-merta membuat kapal dilarang berlayar.

    Langkah yang diambil adalah menunda keberangkatan apabila kondisi perairan belum memungkinkan untuk dilalui dengan aman.

    Pengaturan tersebut terutama diberlakukan terhadap kapal-kapal berukuran kecil yang menghadapi risiko lebih besar ketika harus bernavigasi dalam kondisi kabut tebal, khususnya pada malam hingga dini hari.

    ”Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelayakan operasional kapal. Karena itu, waktu keberangkatan perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang,” ujarnya.

    Penurunan jarak pandang menjadi salah satu persoalan yang harus diantisipasi dalam operasional kapal di perairan Sampit selama kabut asap melanda.

    Hotman menyebut, berdasarkan pemantauan terakhir yang disampaikannya, jarak pandang berada pada kisaran 800 meter. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang sekitar 500 meter masih memungkinkan kapal bermanuver dengan aman pada kecepatan sekitar 10 knot.

    Sementara itu, kecepatan kapal penumpang rata-rata berkisar 6–10 knot, meskipun kapal Pelni dapat beroperasi dengan kecepatan lebih tinggi.

    ”Secara umum, pada kecepatan kapal sekitar 10 knot, jarak pandang 500 meter masih memungkinkan untuk bermanuver aman. Rata-rata kecepatan kapal penumpang berkisar 6 hingga 10 knot, bahkan kapal Pelni bisa lebih, dan sejauh ini navigasi tetap berjalan dengan aman serta terkendali,” ujarnya.

    Kondisi tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan nakhoda karena kemampuan melihat objek di sekitar kapal merupakan faktor penting dalam bernavigasi. Ketika jarak pandang menurun, nakhoda harus menyesuaikan pengoperasian kapal dengan kondisi aktual di perairan.

    Hotman menegaskan, angka jarak pandang yang disampaikannya bukan berarti seluruh kapal otomatis dapat diberangkatkan pada kondisi yang sama.

    Keputusan operasional tetap harus mempertimbangkan prakiraan cuaca, kondisi kapal, kecepatan, serta persyaratan keselamatan pelayaran.

    Untuk mengantisipasi risiko pelayaran akibat kabut asap, KSOP Sampit telah mengeluarkan surat edaran dan imbauan kepada pengguna jasa maritim.

    Pengawasan juga dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memantau perkembangan cuaca serta jarak pandang di perairan Sampit.

    ”Terkait penurunan jarak pandang akibat kabut asap dalam beberapa bulan terakhir, kami telah mengeluarkan surat edaran dan imbauan kepada seluruh pengguna jasa maritim. Kami berkoordinasi secara intensif 24 jam dengan pihak BMKG untuk memantau prakiraan cuaca dan kondisi jarak pandang (visibility),” jelas Hotman yang telah bertugas selama 1 tahun 5 bulan sebagai Kepala KSOP Kelas III Sampit.

    Pemantauan tersebut menjadi dasar penting bagi petugas dan pengguna jasa maritim untuk mengantisipasi perubahan kondisi perairan. Sebab, jarak pandang yang masih memadai pada suatu waktu dapat berubah ketika kabut asap semakin tebal.

    Hotman menegaskan, penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) tetap harus memenuhi persyaratan teknis dan mempertimbangkan kondisi cuaca berdasarkan informasi BMKG.

    ”Sesuai arahan Direktur Jenderal Perhubungan Laut, keselamatan berlayar adalah prioritas utama. Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) wajib memenuhi kelengkapan dokumen teknis serta memperhitungkan prakiraan cuaca dari BMKG,” tegasnya.

    Selain pemantauan cuaca, KSOP Sampit juga rutin melakukan pemeriksaan kelaiklautan kapal atau ramp check sebelum menerbitkan SPB. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan kapal yang berangkat memenuhi persyaratan keselamatan.

    ”Kami terus mengimbau nakhoda untuk waspada dan berhati-hati. Kami juga rutin melaksanakan uji kelaiklautan kapal (ramp check) sebelum menerbitkan SPB guna memastikan seluruh kapal penumpang yang keluar masuk benar-benar laik laut,” katanya.

    Meski kabut asap menurunkan jarak pandang di perairan Sampit, pelayanan kapal penumpang untuk rute menuju Semarang dan Surabaya masih berjalan.

    Hotman menyebut, kapal penumpang dari Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, maupun Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, tetap terlayani.

    ”Untuk kapal penumpang tujuan Sampit–Tanjung Emas (Semarang) maupun Sampit–Tanjung Perak (Surabaya), operasional tetap berjalan dan terlayani dengan baik,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Pamit Tinggalkan KSOP Sampit, Hotman Siagian Titip Pesan Tegas: Kapal Tak Layak Jangan Diberi Izin Berlayar

    Pamit Tinggalkan KSOP Sampit, Hotman Siagian Titip Pesan Tegas: Kapal Tak Layak Jangan Diberi Izin Berlayar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang kepindahannya ke KSOP Kelas III Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit Hotman Siagian menitipkan pesan tegas kepada seluruh insan transportasi laut agar tidak berkompromi dengan keselamatan pelayaran.

    Ia menegaskan kalimat berulang sebanyak dua kali, bahwa kapal yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan tidak boleh diberi izin berlayar, apa pun alasannya.

    ”Keselamatan adalah harga diri kita sebagai insan transportasi. Jangan pernah berkompromi dengan keselamatan; jika kapal tidak memenuhi persyaratan keselamatan, maka jangan diberikan izin berlayar,” tegas Hotman Siagian dalam kegiatan coffee morning sekaligus pelepasannya di Aquarius Boutique Hotel Sampit, Selasa (20/10/2026).

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga integritas, ketegasan dalam menjalankan pengawasan, serta tanggung jawab petugas dalam melindungi keselamatan awak kapal, penumpang, dan pengguna transportasi laut.

    ”Sebagaimana arahan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi 14 Oktober lalu, beliau menyampaikan, keselamatan bukan sekadar bagian  dari prosedur pelayanan, melainkan prinsip utama yang harus menjadi pegangan setiap insan transportasi,” ujarnya.

    Ia mengingatkan bahwa keputusan memberikan izin berlayar harus didasarkan pada pemenuhan persyaratan yang berlaku. Kelancaran operasional tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kekurangan yang berpotensi membahayakan pelayaran.

    Karena itu, pemeriksaan dan pengawasan kapal harus dijalankan secara sungguh-sungguh, bukan sekadar memenuhi formalitas administrasi.

    Setiap keputusan harus berpijak pada aturan dan mempertimbangkan risiko yang dapat timbul apabila kapal beroperasi tanpa memenuhi standar keselamatan,” tegasnya.

    Petugas Harus Berani Menolak Pelanggaran

    Selain menekankan keselamatan, Hotman mengingatkan jajaran KSOP agar menjaga integritas dalam menjalankan kewenangan.

    Menurutnya, profesionalisme petugas tidak hanya terlihat dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dari keberanian mengambil keputusan yang benar ketika berhadapan dengan pelanggaran.

    ”Tingkatkan integritas, berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang salah dan berani menindak pelanggaran,” pesannya.

    Peringatan tersebut menjadi penegasan bahwa pengawasan keselamatan membutuhkan ketegasan, termasuk ketika petugas harus menolak sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan.

    Aturan tidak boleh dikesampingkan demi kepentingan tertentu karena konsekuensinya dapat menyangkut keselamatan banyak orang.

    Hotman juga meminta seluruh pegawai membangun kerja tim yang solid, responsif terhadap persoalan, dan terbuka dalam berbagi pengetahuan.

    Hubungan baik dengan instansi terkait serta para pemangku kepentingan, menurutnya, perlu terus dijaga agar pelaksanaan tugas di lingkungan kepelabuhanan berjalan efektif.

    Ia mengingatkan kualitas pelayanan publik tidak cukup diukur dari pencapaian administrasi maupun angka kinerja. Pelayanan harus dilandasi tanggung jawab, kepedulian, dan kesungguhan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

    ”Cintai apa yang kamu kerjakan. Kerjakan apa yang kamu cintai. Teruslah bekerja sesuai aturan dan layani dengan prima, niscaya Tuhan akan menolong kita,” ujarnya.

    Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar jajaran KSOP tidak berhenti pada rutinitas pekerjaan.

    Setiap tugas harus dilaksanakan dengan kesadaran terhadap tanggung jawab yang melekat, terutama ketika keputusan petugas berhubungan langsung dengan keselamatan pelayaran.

    Hotman mengakui masih terdapat berbagai hal yang perlu dibenahi dalam penyelenggaraan pelayanan kepelabuhanan.

    Menurutnya, tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh KSOP, tetapi membutuhkan kerja sama berkelanjutan dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, operator pelabuhan, dan pelaku usaha.

    Ia berharap koordinasi yang telah terbangun selama masa kepemimpinannya tetap dipertahankan meskipun dirinya akan melanjutkan tugas di tempat berbeda.

    ”Saya berharap jajaran yang melanjutkan tugas di Sampit perlu mempertahankan capaian yang telah diraih sekaligus terus memperbaiki kekurangan dalam pelayanan,” ujarnya.

    Ia juga mendorong agar pengembangan Pelabuhan Sampit dilakukan secara lebih proaktif dan inovatif. Ke depan, pelabuhan tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak kunjungan kapal berukuran besar serta menjawab tantangan kepelabuhanan yang semakin kompleks.

    ”Ke depan, tantangan akan semakin kompleks, namun saya percaya dengan semangat kebersamaan dan tekad untuk terus maju, Pelabuhan Sampit ke depannya akan banyak dikunjungi oleh kapal besar, mampu menjawab setiap tantangan dengan solusi yang inovatif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

    Hotman menilai kemajuan pelabuhan membutuhkan komitmen bersama, bukan hanya mengandalkan capaian yang sudah ada.

    Perbaikan perlu dilakukan secara berkelanjutan, disertai keberanian mengatasi persoalan sejak awal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

    Dalam menjalankan amanah, ia kembali mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap aturan dan tanggung jawab setiap pihak.

    Prinsip tersebut, termasuk dalam urusan keselamatan pelayaran, harus tetap dijaga agar perkembangan aktivitas pelabuhan tidak mengesampingkan aspek keamanan.

    Berharap Pelabuhan Sampit Terus Berkembang

    Selama 1 tahun 5 hulan Hotman bertugas, tepatnya pada 9 Mei 2025 hingga 14 Oktober 2026, ia menaruh harapan tinggi kedepannya Pelabuhan Sampit dapat terus menjadi pelabuhan yang berkembang maju.

    ”Tujuan kami hanya satu, Pelabuhan Sampit menuju kelas dunia yang diwujudkan dengan telah adanya kapal asing yang masuk di perairan Sampit,” ujarnya diakhir masa tugasnya.

    Sebelum ia melanjutkan penugasan sebagai Kepala KSOP Kelas III Sunda Kelapa, Jakarta Utara, mulai Jumat, 23 Oktober 2026.

    Hotman menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), instansi terkait, asosiasi, pelaku usaha, jajaran KSOP, dan insan pers yang telah mendukung pelaksanaan tugasnya selama di Sampit.

    ”Terima kasih atas sinergi dan kerjasama yang terjalin dan kami mohon maaf apabila selama bertugas terdapat perkataan maupun tindakan yang kurang berkenan. Semoga semangat kebersamaan yang telah dibangun dapat terus terpelihara, jajaran KSOP tetap menjaga integritas, meningkatkan pelayanan, dan mengutamakan keselamatan dalam setiap pelaksanaan tugas,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Hotman Siagian Pindah ke KSOP Sunda Kelapa, Ini Capaian Kinerjanya Selama 1,5 Tahun di Sampit

    Hotman Siagian Pindah ke KSOP Sunda Kelapa, Ini Capaian Kinerjanya Selama 1,5 Tahun di Sampit

    SAMPIT, kanalindependen.id – Hotman Siagian resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit dengan meninggalkan sejumlah capaian kinerja selama 1 tahun 5 bulan bertugas.

    Mulai dari realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mencapai 135 persen dari target nasional pada 2025, peningkatan pengawasan keselamatan kapal, peningkatan penerbitan sertifikat keselamatan kapal, hingga pengembangan inovasi digital pelayanan kepelabuhanan.

    Belasan capaian tersebut menjadi bagian dari hasil kerja yang dipaparkannya dalam acara Coffee Morning dan Pelepasan Kepala KSOP Kelas III Sampit di Aquarius Boutique Hotel Sampit, Selasa (20/10/2026).

    ”Hari ini menjadi hari yang bersejarah dan penting bagi saya, karena setelah 1 tahun 5 bulan bertugas di Kantor KSOP Kelas III Sampit sejak 09 Mei 2025, saya menerima amanah tugas baru sebagai Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sunda Kelapa, Jakarta Utara mulai 23 Oktober 2026,” kata Hotman Siagian.

    Hotman menyampaikan pesan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengenai prinsip profesionalitas dalam rotasi jabatan. Menurutnya, penempatan pejabat harus mengedepankan kompetensi, rekam jejak, dan kinerja, bukan kepentingan pribadi.

    ”Perpindahan jabatan ini murni didasarkan pada penilaian profesional, rekam jejak, dan kinerja, tanpa adanya transaksi finansial maupun sekadar kedekatan pribadi,” katanya, mengutip arahan Menteri Perhubungan pada 14 Oktober 2026 saat ia dilantik sebagai Kepala KSOP Kelas III Sunda Kelapa.

    Ia menegaskan, pergantian pejabat merupakan bagian dari dinamika organisasi dan upaya penyegaran untuk meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat.

    ”Mutasi atau rotasi yang terjadi dalam satu sistem organisasi merupakan satu hal yang sangat wajar dan harus dilakukan dengan baik oleh pejabat yang digantikan ataupun yang menggantikan dalam mewujudkan integritas pelayanan, optimis, humanis serta bekerja dengan hati,” ujar Hotman.

    PNBP Lampaui Target Nasional, Aktivitas Kepelabuhanan Meningkat

    Sebelum pamit, ia meninggalkan sejumlah capaian kinerja diantaranya, realisasi PNBP yang tercatat mencapai 135 persen dari target nasional, sedangkan serapan anggaran dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) mencapai 99,94 persen.

    Hingga 20 Oktober 2026, realisasi PNBP KSOP Sampit tercatat sebesar 84,64 persen, sedangkan realisasi DIPA mencapai 68,24 persen.

    Capaian tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas pelayanan dan pengawasan keselamatan kapal. Sepanjang 2025, KSOP Kelas III Sampit menerbitkan 2.954 sertifikat keselamatan kapal, meningkat 56 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.

    Aktivitas keluar masuk kapal dan bongkar muat juga mengalami peningkatan mencapai 16.206.406 ton, naik 55,73 persen. Sementara itu, data kunjungan dan keberangkatan kapal mencapai 9.493.390, meningkat 34,33 persen dibandingkan 2024.

    Hotman menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama, bukan semata-mata keberhasilan internal KSOP. Sinergi dengan pemerintah daerah, TNI/Polri, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam menjalankan fungsi pelayanan serta pengawasan transportasi laut.

    Semua tugas dan capaian tersebut dapat diraih, terealisasikan atas sinergitas, kolaborasi dan dukungan serta kerja sama dengan TNI/Polri, Kantor Kementerian/Pemda Kabupaten Kotawaringin Timur/lembaga/instansi terkait, para pegawai Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas III Sampit yang terus berupaya meningkatkan integritas pelayanan dan bekerja dengan hati nurani,” ungkapnya.

    Atas capaian kinerja tersebut, KSOP Kelas III Sampit juga meraih penghargaan terbaik kedua SMRT Challenge kategori Lomba Video Angkutan Laut Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan.

    KSOP Kelas III Sampit turut menyelenggarakan posko angkutan laut Natal 2025 dan angkutan Lebaran 2026 melalui koordinasi dengan berbagai pihak. Atas keberhasilan mendukung kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran 2026, Hotman menerima penghargaan dari Bupati Kotim Halikinnor.

    ”Terima kasih kepada Pak Bupati Kotim atas penghargaan yang telah diberikan kepada kami,” ucap Hotman dihadapan Halikinnor yang juga turut hadir dalam acara Coffee Morning tersebut.

    Selain itu, KSOP Kelas III Sampit meraih predikat terbaik kedua 2026 dalam kategori penyusunan laporan keuangan tingkat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) tingkat sedang se-Kalimantan Tengah dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan.

    Inovasi Digital dan Legalitas Kapal Jadi Perhatian

    Dalam aspek peningkatan pelayanan publik, Hotman menyampaikan pengembangan SI-JELAWAT, singkatan dari Sistem Integrasi Jajak Evaluasi, Layanan Administrasi dan Wadah Aspirasi Terpadu.

    Inovasi tersebut dikembangkan sebagai sarana monitoring dan evaluasi pelayanan yang transparan, responsif, serta akuntabel.

    Berdasarkan data yang disampaikan, mutu pelayanan melalui sistem tersebut memperoleh rata-rata nilai A atau kategori sangat baik selama periode 26 Januari hingga 20 Oktober 2026.

    Peningkatan layanan juga dilakukan melalui pemanfaatan sistem Inaportnet dan MaritimHUB bagi pengguna jasa di wilayah Pelabuhan Sampit.

    Di bidang legalitas kapal, KSOP melaksanakan pengukuran dan penerbitan E-Pas Kecil untuk kapal di bawah GT 7, sosialisasi keselamatan pelayaran, serta pembagian jaket pelampung gratis di wilayah Pegatan.

    Hotman memaparkan, pada periode 2019–2021 telah diterbitkan 1.253 pas kecil. Sementara itu, sejak 2022 hingga 18 September 2026, penerbitan E-Pas Kecil mencapai 644 dokumen. Dengan demikian, total pas kecil yang diterbitkan dalam kedua periode tersebut mencapai 1.897 dokumen.

    ”Penerbitan dokumen ini menjadi bagian dari upaya kami memberikan kepastian legalitas kapal sekaligus mendorong pemenuhan ketentuan keselamatan pelayaran,” ujarnya.

    Pada 2026, KSOP Kelas III Sampit juga merealisasikan progres penggantian dermaga kapal patroli untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan keandalan armada dalam menjalankan pengawasan serta menjaga keselamatan pelayaran.

    ”Realisasi kapal patroli di wilayah Bagendang, hngga saat ini sudah mencapai 60 persen, kami berharap pembangunannya selesai tahun ini,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Hotman menyampaikan sejak ia pindah tugas, posisi jabatan Kepala KSOP Kelas III Sampit dijabat oleh Capt Indra Novel Sinaga sebagai pelaksana tugas (Plt) terhitung sejak 15 Oktober 2026. Secara defenitif, Indra masih menjabat sebagai Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli KSOP Kelas III Sampit.

    Selain pergantian kepala kantor, posisi Kepala Seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal yang sebelumnya dijalankan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Herianto,  juga digantikn oleh Luis Setiawan yang sebelumnya bertugas di KSOP Kelas I Balikpapan.

    Hotman memperkenalkan sekaligus menyambut kehadiran Luis dan berharap koordinasi serta kolaborasi yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan.

    ”Kami doakan dan percaya bahwa Bapak Luis akan dapat melanjutkan perjuangan sinergitas dan kolaborasi untuk mewujudkan pelayanan prima di Kota Sampit yang kita cintai ini,” ujarnya.

    Sementara itu, Capt Indra Novel Sinaga, juga turut menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Hotman Siagian.

    Indra mengatakan, arahan dan evaluasi yang diberikan selama bekerja bersama Hotman menjadi bekal bagi jajaran KSOP untuk menjalankan tanggung jawab kedinasan dengan lebih baik.

    ”Selama bekerja bersama Bapak Hotman, banyak pelajaran dan pengalaman yang kami peroleh. Tugas di KSOP Kelas III Sampit mempertemukan kita dengan berbagai tugas dan tanggung jawab, mulai dari pelayanan kepada masyarakat dan pengguna jasa, pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran, hingga koordinasi dengan instansi terkait,” ungkap Indra.

    Apresiasi juga disampaikan Bupati Kotim Halikinnor kepada Hotman Siagian atas pengabdian selama memimpin KSOP Kelas III Sampit.

    ”Atas nama pemerintah daerah dan mewakili seluruh masyarakat Kotawaringin Timur, kami menyampaikan ucapan selamat bertugas kepada Pak Hotman Siagian. Teriring doa semoga beliau beserta keluarga selalu diberikan kesehatan dan meraih kesuksesan yang lebih besar di tempat penugasan yang baru,” ujar Halikinnor.

    Ia menilai Hotman telah membangun hubungan kerjasama yang baik dengan pemerintah daerah, menjaga keselamatan dan keamanan pelayaran, serta menjalin komunikasi dengan pelaku usaha, masyarakat, dan insan pers.

    ”Kepemimpinan yang baik tidak diukur dari lamanya waktu, tetapi dari kesan, capaian dan manfaat yang ditinggalkan,” ujar Halikinnor.

    Menurutnya, sejumlah capaian selama masa kepemimpinan Hotman menjadi bagian dari rekam jejak yang patut diapresiasi. Salah satunya adalah pengembangan inovasi pelayanan digital yang terintegrasi dengan Kementerian Perhubungan.

    ”Inovasi pelayanan dan kemitraan lintas instansi penting untuk dipertahankan agar kualitas pelayanan publik di sektor kepelabuhanan terus berkembang,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa perpindahan tugas merupakan hal lumrah dalam perjalanan pengabdian seorang aparatur negara. Karena itu, hubungan baik yang telah terjalin diharapkan tidak berhenti hanya karena pergantian penugasan.

    Halikinnor berharap Hotman memperoleh kelancaran dalam menjalankan amanah baru sebagai Kepala KSOP Kelas III Sunda Kelapa.

    Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama berinteraksi terdapat kekeliruan, baik dalam hubungan kedinasan maupun pribadi.

    ”Perpindahan tugas hanyalah rotasi tempat penugasan. Sebagai ASN, kita ibarat prajurit yang harus siap ditempatkan di mana saja. Namun, perpindahan tugas ini tentu tidak memutuskan tali silaturahmi yang sudah terjalin sangat erat selama ini. Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada beliau di tempat tugas yang baru dan semoga tidak melupakan Kota Sampit,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Serangan Balasan Asap Lumpuhkan Sampit: Jarak Pandang Cuma 100 Meter, Seruyan dan Kotim Dihantam 1.001 Hotspot!

    Serangan Balasan Asap Lumpuhkan Sampit: Jarak Pandang Cuma 100 Meter, Seruyan dan Kotim Dihantam 1.001 Hotspot!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Harapan warga Kota Sampit untuk menghirup udara segar sirna seketika. Setelah sempat melandai beberapa hari, serangan balasan pekatnya kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Senin (19/10/2026) pagi.

    Data pengamatan resmi BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit mencatat jarak pandang horizontal (visibility) berada pada tingkat ekstrem dan membahayakan, yakni hanya 100 meter pada pukul 08.00 WIB.

    Kondisi ini diperparah oleh suhu udara 26,4 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 90 persen serta pergerakan angin dalam status calm (0 km/jam). Ketiadaan angin ini membuat gumpalan racun asap mengendap pekat tepat di atas wilayah pemukiman warga Sampit tanpa bisa terurai.

    Penderitaan dan keputusasaan warga terekam di kawasan Pelabuhan Sampit. Bejo, seorang warga lokal, mengaku kaget saat terbangun dan mendapati kota kembali dipenuhi jelutut asap pekat.

    “Padahal beberapa hari ini sudah mereda. Kami kira kabut asap akan berakhir, ternyata tidak,” keluh Bejo menahan kekecewaan, Senin (19/10/2026).

    Kembalinya teror asap pekat ini dipicu oleh ledakan drastis akumulasi titik panas (hotspot). Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim, Rihel, membeberkan bahwa rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP (BRIN Hotspot) merekam rekor mengerikan: 1.001 titik panas menggulung Kotim dan Kabupaten Seruyan dalam akumulasi 24 jam terakhir (data per Minggu, 18/10/2026 pukul 16.00 WIB).

    Dari total 1.001 titik tersebut, sebanyak 977 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium), 7 titik tingkat tinggi (high), dan 17 titik tingkat rendah (low).

    Dari jumlah tersebut, 977 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 17 titik pada tingkat kepercayaan rendah, dan tujuh titik pada tingkat kepercayaan tinggi. Pemantauan menggunakan satelit NOAA-20 dan SNPP dengan instrumen VIIRS.

    Sebaran terbanyak tercatat di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 253 titik, disusul Seranau sebanyak 239 titik dan Teluk Sampit sebanyak 216 titik. Kecamatan Kota Besi mencatat 70 titik, Antang Kalang 63 titik, Mentaya Baru Ketapang 57 titik, Mentaya Hulu 50 titik, dan Mentaya Hilir Utara 49 titik.

    Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim, Rihel, menjadi sumber keterangan terkait rekapitulasi tersebut. Data itu menunjukkan banyaknya indikasi panas yang terdeteksi di wilayah Kotim dan Seruyan, tetapi tidak serta-merta berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif.

    Titik panas merupakan hasil deteksi satelit yang masih memerlukan verifikasi lapangan. Data tersebut juga belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh kabut asap yang menyelimuti Sampit berasal dari titik-titik panas di wilayah tersebut.

    Jarak pandang menjadi perhatian

    Jarak pandang 100 meter yang tercatat BMKG menjadi gambaran kondisi atmosfer di Sampit pada pagi hari. Di tengah aktivitas warga yang kembali berhadapan dengan kabut asap, kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama bagi pengguna jalan dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

    Kabut asap yang kembali muncul setelah sempat mereda juga menunjukkan bahwa perubahan kondisi udara belum tentu menandai berakhirnya persoalan karhutla. Selama sumber asap masih ada dan kondisi atmosfer belum mendukung penyebarannya, kualitas udara dapat kembali memburuk.

    Namun, untuk mengetahui tingkat paparan yang dialami warga, diperlukan data kualitas udara, seperti konsentrasi partikulat PM2.5 atau PM10. Data jarak pandang dan kondisi cuaca saja belum dapat menentukan tingkat pencemaran maupun risiko kesehatan secara terukur.

    Bagi warga Sampit, meredanya asap beberapa hari lalu sempat memberi harapan bahwa kondisi akan membaik. Pengamatan BMKG pada Senin pagi menunjukkan bahwa harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud.(***)

  • Kabut Asap Pekat Kepung Sampit: Jarak Pandang 50 Meter, Pelayaran Mentaya Terancam Tabrakan dan Udara Berbahaya

    Kabut Asap Pekat Kepung Sampit: Jarak Pandang 50 Meter, Pelayaran Mentaya Terancam Tabrakan dan Udara Berbahaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (31/8/2026) pagi.

    Kondisinya cukup pekat. Jarak pandang di daratan maupun kawasan Sungai Mentaya terbatas. Aktivitas warga tetap berlangsung, tetapi sejumlah kegiatan harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi.

    Data BMKG Kotim mencatat jarak pandang di Sampit hanya sekitar 50 meter pada pukul 06.00 WIB. Kondisi tersebut masih bertahan hingga pukul 07.00 WIB.

    Pada pukul 06.00 WIB, suhu udara tercatat 22,8 derajat Celsius dengan kelembapan 97 persen. Angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 4 kilometer per jam.
    Satu jam kemudian, suhu meningkat menjadi 23,3 derajat Celsius dengan kelembapan 98 persen. Kecepatan angin tercatat 0 kilometer per jam atau calm.

    Kabut asap tidak hanya mengurangi jarak pandang. Warga juga mengeluhkan bau asap yang menyengat serta mata perih dan berair ketika berada di luar ruangan.

    “Jarak pandang sekitar 5 meter saja, udara menyengat, mata perih dan berair bila terpapar langsung,” kata Nurul Hidayah, warga Sampit.

    Warga lainnya, Nanang menyebut kondisi Senin pagi sebagai kabut asap terparah yang dirasakannya selama karhutla tahun ini.

    “Ini yang terparah,” katanya.

    Udara Berbahaya
    Kondisi atmosfer tersebut beriringan dengan buruknya kualitas udara Kotim.

    Berdasarkan data ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup pada pukul 05.00 WIB, kualitas udara Kotim berada dalam kategori BERBAHAYA. Parameter kritis yang tercatat adalah PM₁₀.

    Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar ruangan. Warga diminta tetap berada di dalam ruangan serta menutup pintu dan jendela.

    Kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan, diminta menghindari paparan udara luar. Masyarakat yang terpaksa keluar juga dianjurkan menggunakan masker.

    Anak Tak Diizinkan Sekolah
    Kondisi kabut asap juga memengaruhi aktivitas pendidikan. Sejumlah orang tua memilih tidak mengizinkan anak mereka berangkat sekolah.

    Febby, salah seorang wali murid di Sampit, mengatakan ia memilih menahan anaknya di rumah karena belum mendapat arahan yang dianggap cukup jelas mengenai pembelajaran saat kabut asap parah.

    “Sudah liburkan saja dulu dari pada bengek,” ungkap Febby.

    Menurutnya, informasi dari sekolah sebelumnya menyebutkan siswa dapat diliburkan ketika kabut asap dalam kondisi parah. Persoalannya, kondisi asap tidak selalu sama di setiap wilayah.

    Namun Senin pagi, menurut pengamatannya, asap terlihat sangat pekat dan menyelimuti kawasan Sampit.
    Meski demikian, aktivitas sekolah tidak sepenuhnya berhenti. Pantauan Kanalindependen.id menunjukkan sejumlah pelajar tetap berangkat. Beberapa orang tua masih mengantar anak mereka menggunakan kendaraan.

    Sebagian pelajar dan orang tua terlihat mengenakan masker selama perjalanan.

    Sungai Mentaya Tak Luput
    Kabut asap juga membuat aktivitas transportasi di Sungai Mentaya menghadapi risiko lebih besar.
    Sejumlah motoris kelotok dari Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, tetap melakukan penyeberangan menuju Sampit. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, komunikasi antarmotoris dilakukan dengan saling berteriak untuk mengetahui posisi masing-masing.

    Para motoris juga mengandalkan tanda-tanda yang masih dapat terlihat, termasuk sinar matahari, untuk membantu menentukan arah perjalanan.

    “Bisa saja, cuma memang rawan nyasar. Tapi selama masih terlihat matahari bisa jadi pemandu, kalau mau menyeberang ke Sampit, berati harus membelakangi. Kalau ke Mentaya Seberang harus mendatangi matahari,” kata Mansyah, salah seorang motoris kelotok.

    Situasi menjadi lebih menegangkan ketika kapal roro milik Dharma Lautan Utama masuk untuk bersandar di Pelabuhan Sampit.

    Kapal berukuran besar tersebut berada di jalur yang sama dengan aktivitas perahu kecil. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, motoris harus memperhatikan suara terompet kapal untuk memperkirakan keberadaannya.

    “Cuma kalau barengan dengan kapal datang hatus ekstra waspada,” ujar Mansyah.

    Junus, warga yang memantau aktivitas di kawasan Sungai Mentaya, menilai kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan transportasi air.

    “Kondisi ini berbahaya, bisa saja terjadi tabrakan,” ungkap Ju us.

    Menurutnya, aktivitas kapal besar sebaiknya mempertimbangkan kondisi jarak pandang sebelum masuk ke perairan Mentaya.

    “Kalau bisa ditunda dulu masuk ke perairan Mentaya. Begitu pun dengan aktivitas seperti tongkang, kapal penumpang, feri penyeberangan dan perahu kelotok kecil,” katanya.

    Pantauan di kawasan pelabuhan menunjukkan sejumlah petugas Dinas Perhubungan turut memantau kedatangan kapal yang akan tambat di Pelabuhan Sampit.

    Hingga jarak pandang berangsur membaik, tidak dilaporkan adanya insiden berarti dalam aktivitas transportasi sungai pagi itu.

    Namun, kondisi kabut asap disebut bukan persoalan baru bagi motoris kelotok. Ketika jarak pandang turun drastis, risiko kehilangan orientasi meningkat.

    Beberapa kelotok yang seharusnya menuju Dermaga Pusat Perbelanjaan Mentaya maupun Dermaga Habaring Hurung bahkan pernah tersasar hingga ke kawasan Pelabuhan Sampit.

    960 Hotspot dalam 24 Jam
    Kabut asap tersebut terjadi di tengah tingginya aktivitas titik panas di Kotim.

    Data rekapitulasi hotspot yang diakses pada 31 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan terdapat 960 titik panas dalam akumulasi 24 jam terakhir.

    Sebanyak 917 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 36 titik pada tingkat kepercayaan tinggi, dan tujuh titik pada tingkat kepercayaan rendah.

    Mentawa Baru Ketapang menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 215 titik.

    Berikutnya Mentaya Hilir Selatan dengan 164 titik, Mentaya Hilir Utara 155 titik, Telawang 116 titik, dan Baamang 99 titik.

    Di Mentawa Baru Ketapang, Bangkuang Makmur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbesar, mencapai 116 titik. Lima di antaranya berada pada tingkat kepercayaan tinggi.

    Sementara di Mentaya Hilir Selatan, Desa Jaya Karet mencatat 57 titik dengan enam titik berkepercayaan tinggi.

    Data hotspot tersebut merupakan hasil pemantauan titik panas. Keberadaan hotspot tidak otomatis menunjukkan seluruh titik merupakan karhutla dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan.

    Namun, tingginya jumlah titik panas, kabut asap yang menurunkan jarak pandang hingga 50 meter, serta kualitas udara yang berada pada kategori berbahaya menunjukkan dampak asap sudah dirasakan langsung dalam aktivitas harian masyarakat Sampit.

    Transportasi sungai tetap bergerak. Pelajar masih berangkat sekolah. Warga tetap menjalankan aktivitas. Tetapi, Senin pagi itu, hampir seluruh kegiatan berlangsung dalam kondisi jarak pandang yang jauh dari normal. (***)

  • Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Sampit Mulai Melonjak, Puncak Keramaian Diprediksi Berlanjut hingga April

    Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Sampit Mulai Melonjak, Puncak Keramaian Diprediksi Berlanjut hingga April

    SAMPIT, kanalindependen.id – Arus balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Sampit mulai menunjukkan lonjakan peningkatan signifikan. Bahkan, di hari terakhir masa angkutan Lebaran, Senin (30/3/2026) kedatangan penumpang kapal yang tiba di Pelabuhan Sampit mencapai 2.130 orang.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit, Gusti Muchlis, yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran di Pelabuhan Sampit, menyampaikan selama 18 hari pelaksanaan, terhitung sejak 13 hingga 30 Maret 2026, total penumpang terakumulasi sebanyak 13.190 orang.

    ”Jumlah penumpang naik kapal sebanyak 8.873 orang, sedangkan penumpang turun mencapai 4.317 orang,” ungkap Muchlis.

    Dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, angka tersebut mengalami penurunan sebesar 16,69 persen atau berkurang 2.643 penumpang dari total sebelumnya 15.836 orang. Pada tahun lalu, tercatat 10.551 penumpang naik dan 5.285 penumpang turun.

    Data tersebut juga termasuk kedatangan dua kapal yang sandar di Pelabuhan Sampit di waktu bersamaan sekitar pukul 16.00 WIB.

    ”Data ini sudah termasuk kedatangan dua kapal di waktu bersamaan sekitar pukul 16.00 WIB, yaitu KM Kirana III tiba dari Surabaya sekitar pukul 15.30 menurunkan 721 penumpang dan KM Leuser tiba dari Semarang sekitar 15.45 WIB menurunkan 1.409 penumpang,” jelasnya.

    Kepala PT Pelni Cabang Sampit, Siti Nafillah, menambahkan lonjakan ini menjadi indikator awal fase padat arus balik yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa kali kunjungan kapal  ke depan.

    ”Sore ini KM Leuser dari Semarang menurunkan penumpang turun sebanyak 1.406 orang. Ini menjadi awal keramaian pada momentum arus balik Lebaran,” ujar Siti Nafillah saat diwawancarai di Pelabuhan Sampit, Senin (30/3/2026).

    Tak hanya kedatangan, arus keberangkatan dari Sampit menuju Semarang juga masih terus ramai meski tidak sepadat di periode arus mudik.

    ”Untuk keberangkatan besok ke Semarang, estimasi sementara sekitar 416 penumpang dan kami masih membuka penjualan tiket hingga besok, jadi ada kemungkinan masih akan terus bertambah,” katanya.

    Pergerakan arus balik dipastikan berlanjut pada 31 Maret 2026 dengan kedatangan KM Lawit dari Surabaya yang dijadwalkan tiba pada pukul 18.00 WIB dengan estimasi 1.335 penumpang turun.

    Siti memperkirakan lonjakan penumpang pada momen arus balik akan terus berlangsung hingga April.

    ”Dipastikan ada empat kali kedatangan dengan jumlah penumpang di atas 1.200an, yaitu kedatangan 30 Maret sore ini, kedatangan 31 Maret, kemudian tanggal 8 dan kedatangan kapal pada 9 April,” ungkapnya.

    Menurutnya, pola arus balik tahun ini cenderung bertahap. Pada gelombang awal, jumlah penumpang masih relatif rendah, namun meningkat signifikan pada kedatangan berikutnya.

    ”Yang awal arus balik kedatangan 25 Maret 2026 itu masih sepi hanya menurunkan 189 penumpang, tapi sekarang sudah mulai ramai dan puncaknya terlihat di angka 1.400-an,” jelasnya.

    Siti juga menyebut arus balik tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang karena dipengaruhi masa libur panjang.

    ”Arus balik ini tidak langsung memuncak sekaligus, tapi berangsur-angsur. Karena masih masa libur, jadi kedatangan penumpang pada momen arus balik berlangsung lebih panjang justru setelah masa posko angkutan Lebaran berakhir,” katanya.

    Untuk operasional Pelni, masa layanan angkutan Lebaran akan berakhir pada 6 April 2026. Namun, pergerakan penumpang diprediksi masih berlangsung hingga 8–9 April.

    ”Untuk Pelni, masa angkutan Lebaran berakhir tanggal 6 April. Tapi arus balik kemungkinan masih terasa sampai tanggal 8 dan 9,” pungkasnya.

    Secara nasional, PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) mencatat lonjakan signifikan jumlah penumpang pada Senin (30/3/2026).

    Total penumpang yang dilayani mencapai 27.296 orang, meningkat 34,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 20.304 penumpang.

    Sebagai informasi, PELNI saat ini mengoperasikan 25 kapal penumpang yang melayani 483 ruas dengan singgah di 75 pelabuhan.

    Selain itu, terdapat 30 trayek kapal perintis yang menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP) dengan total 229 pelabuhan, 516 ruas, dan 2.515 rute.

    Tak hanya itu, PELNI juga mengoperasikan 17 kapal rede serta melayani delapan trayek tol laut dan satu trayek khusus kapal ternak untuk mendukung distribusi logistik nasional.

    Terpisah, Direktur Utama PELNI, Tri Andayani menyebut capaian tersebut menjadi salah satu yang tertinggi selama periode arus balik Lebaran tahun ini.

    ”Hari ini menjadi salah satu hari dengan realisasi penumpang tertinggi selama periode arus balik Lebaran 2026. Kami mencatat total penjualan tiket untuk seluruh periode Angkutan Lebaran, 6 Maret hingga 6 April 2026, mencapai 594.547 tiket, yang terdiri dari 541.144 penumpang kapal penumpang dan 53.403 penumpang kapal perintis,” ujarnya.

    Hingga 30 Maret 2026, total penumpang arus balik periode 23 Maret hingga 6 April 2026 tercatat mencapai 277.549 orang.

    Ia menilai lonjakan ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan PELNI.

    ”Alhamdulillah selama periode Angkutan Lebaran berjalan, rata-rata on time performance kapal kami mencapai 97 persen. Meskipun terjadi lonjakan signifikan, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Kami memastikan kapasitas kapal tidak melebihi batas serta terus berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan setempat,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Penumpang Angkutan Lebaran Turun 16,69 Persen, KSOP Sampit Evaluasi Jadwal Keberangkatan Kapal di Waktu Berdekatan

    Penumpang Angkutan Lebaran Turun 16,69 Persen, KSOP Sampit Evaluasi Jadwal Keberangkatan Kapal di Waktu Berdekatan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Posko Angkutan Lebaran 2026 di Pelabuhan Sampit resmi ditutup pada Senin (30/3/2026).

    Selama 18 hari posko diaktifkan terhitung 13-30 Maret 2026, Kantor Kesyabandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit mencatat penurunan jumlah penumpang sebesar 16,69 persen dibandingkan tahun lalu.

    Berdasarkan data posko, jumlah penumpang yang naik selama periode angkutan Lebaran 2026 tercatat sebanyak 8.873 orang.

    Sedangkan, jumlah penumpang turun mencapai 4.317 orang. Total keseluruhan penumpang naik dan turun sebanyak 13.190 orang.

    ”Angka ini mengalami penurunan sebesar 16,69 persen atau berkurang 2.643 orang dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 15.836 penumpang, dengan rincian 10.551 penumpang naik dan 5.285 penumpang turun,” kata Hotman Siagian, Kepala KSOP Kelas III Sampit, Senin (30/3/2026).

    Meski terjadi penurunan, Hotman menilai kondisi tersebut tidak mengganggu kelancaran pelayanan secara keseluruhan.

    Justru, situasi ini dinilai membantu menjaga stabilitas operasional di lapangan.

    Menurutnya, secara umum pelaksanaan angkutan laut selama periode Lebaran tahun ini berjalan tertib, aman, dan lancar tanpa insiden yang mengganggu keselamatan pelayaran.

    ”Pelaksanaan posko ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi bentuk komitmen bersama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik melalui transportasi laut,” ujarnya.

    Selama posko angkutan Lebaran diaktifkan, seluruh stakeholder terkait mampu bekerja secara maksimal memastikan kelancaran arus penumpang, keamanan pelayaran, serta kenyamanan pengguna jasa.

    ”Berkat sinergi lintas instansi, koordinasi yang solid, dan dedikasi seluruh petugas, pelaksanaan angkutan laut Lebaran tahun ini berjalan dengan tertib, aman, dan humanis,” ujarnya.

    Kendati demikian, KSOP Sampit juga mencatat beberapa hal yang perlu dievaluasi kedepannya, yakni terkait pengaturan jadwal keberangkatan kapal agar waktunya tidak terlalu berdekatan di hari yang sama.

    Seperti yang terjadi pada Minggu, 15 Maret 2026, terdapat tiga kapal yang berangkat dalam waktu berdekatan yakni keberangkatan KM Leuser pada pukul 11.00 WIB, dilanjutkan KM Kirana III berangkat pukul 12.00 WIB dan KM Rucitra VI berangkat pukul 14.00 WIB.

    Meski, jadwal keberangkatan kapal di waktu berdekatan sudah diantisipasi dengan menerapkan check in penumpang lebih awal sekitar 3-4 jam lebih awal dan penumpang diarahkan menaiki kapal secara bertahap untuk menghindari penumpukkan penumpang, pihaknya tetap berharap ke depannya jadwal keberangkatan kapal tidak lagi dijadwalkan di waktu yang berdekatan dengan kapal lainnya di hari yang sama.

    ”Ke depan, kami akan berkoordinasi lebih intens dengan operator kapal agar ada pengaturan jeda minimal tiga jam antar keberangkatan. Ini penting untuk menghindari antrean dan penumpukan,” tegasnya.

    Ia juga mengapresiasi sikap kooperatif masyarakat yang datang lebih awal ke pelabuhan, bahkan sudah memulai proses embarkasi sekitar 3,5 jam sebelum jadwal keberangkatan, sehingga kekhawatiran terjadinya penumpukkan penumpang bisa teratasi.

    Selama periode angkutan Lebaran, terdapat lima armada yang melayani penumpang dari Pelabuhan Sampit menuju dua rute yakni Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

    Tiga kapal di antaranya merupakan kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), yakni KM Lawit, KM Leuser, dan KM Kelimutu.

    Sementara dua kapal lainnya dioperasikan oleh PT Dharma Lautan Utama, yaitu KM Kirana III dan KM Rucitra VI.

    Menutup pelaksanaan posko, Hotman menegaskan bahwa berakhirnya masa angkutan Lebaran bukan berarti tugas selesai. Justru, hal tersebut menjadi titik awal untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

    ”Ini menjadi bahan pembelajaran bagi kami untuk meningkatkan kualitas pelayanan ke depan, baik dari sisi keselamatan, pelayanan prima, maupun transparansi,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya penguatan digitalisasi layanan, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta pendekatan humanis dalam melayani masyarakat.

    ”Keberhasilan kita bukan hanya diukur dari angka statistik, tetapi dari rasa aman dan kenyamanan masyarakat yang kita layani,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Keberangkatan Kapal Penumpang Masih Tinggi, Arus Balik Lebaran Diprediksi Lebih Panjang

    Keberangkatan Kapal Penumpang Masih Tinggi, Arus Balik Lebaran Diprediksi Lebih Panjang

    SAMPIT, kanalindependen.id – Keberangkatan kapal penumpang di Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, masih terpantau tinggi hingga H+6 Lebaran 1447 Hijriah.

    Di sisi lain, arus balik diprediksi berlangsung lebih panjang dan belum menunjukkan lonjakan signifikan selama periode posko angkutan Lebaran tahun ini.

    Pada Jumat (27/3/2026), sebanyak 595 penumpang diberangkatkan menggunakan KM Kirana III milik PT Dharma Lautan Utama (DLU) menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal tersebut bertolak dari Pelabuhan Sampit, sekitar pukul 10.00 WIB.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit, Gusti Muchlis, mengatakan KM Kirana III sebelumnya tiba dari Surabaya pada Kamis (26/3/2026) siang dengan membawa ratusan penumpang.

    ”KM Kirana III tiba kemarin sekitar pukul 12.12 WIB dengan membawa 429 penumpang dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Pagi tadi kembali berangkat dengan mengangkut 595 penumpang,” ujar Muchlis, yang juga ditugaskan sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran di Pelabuhan Sampit, Jumat (27/3/2026).

    Selain itu, pada hari yang sama juga dijadwalkan kedatangan KM Rucitra VI sekitar pukul 14.00 WIB dengan menurunkan sebanyak 532 penumpang di Pelabuhan Sampit.

    Sehari sebelumnya, KM Lawit telah diberangkatkan pada Kamis (26/3/2026) pukul 09.00 WIB dengan mengangkut 1.209 penumpang.

    Kapal tersebut sebelumnya tiba pada Rabu (25/3/2026) siang dengan membawa 189 penumpang.

    Secara kumulatif, sejak Posko Angkutan Lebaran dibuka pada 13 Maret hingga 27 Maret 2026, tercatat sebanyak 8.582 penumpang berangkat dari Pelabuhan Sampit, sementara jumlah penumpang yang datang sebanyak 2.370 orang.

    ”Selama masa angkutan Lebaran, terdapat lima armada dari dua operator kapal dengan total 12 call kunjungan kapal. Dari jumlah tersebut, masih tersisa dua kunjungan kapal lagi hingga penutupan posko,” jelas Gusti.

    Gusti menambahkan, jumlah penumpang arus mudik yang melonjak tajam, berbeda saat masa arus balik di Pelabuhan Sampit hingga saat ini masih cenderung landai.

    Ia memprediksi puncak arus balik kemungkinan besar akan terjadi setelah periode resmi posko berakhir.

    ”Kemungkinan puncak arus balik terjadi di luar periode posko. Penumpang arus balik biasanya lebih santai dan tidak terburu-buru,” katanya.

    Menurutnya, durasi posko angkutan Lebaran tahun ini yang lebih singkat dibandingkan tahun sebelumnya turut memengaruhi pola pergerakan penumpang.

    ”Posko Angkutan Lebaran 2026 berlangsung selama 18 hari, mulai 13 sampai 30 Maret 2026. Tahun lalu periode berangsung selama 22 hari. Selain itu, masyarakat juga memiliki alternatif moda transportasi lain seperti pesawat udara maupun melalui pelabuhan lain seperti Kumai dan Banjarmasin, sehingga arus balik tidak terpusat di Sampit,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    SAMPIT, kanalindependen.id – Arus balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah melalui jalur laut di Pelabuhan Sampit mulai berlangsung. Namun, hingga Rabu (25/3/2026), pergerakan penumpang kapal yang tiba di Pelabuhan Sampit masih belum menunjukkan lonjakan signifikan.

    Meski Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta telah kembali beraktivitas usai libur panjang, jumlah penumpang kapal masih terpantau landai.

    Kondisi ini diduga dipengaruhi adanya “hari kejepit” di tengah pekan, di mana setelah beberapa hari masuk kerja, masyarakat kembali menghadapi libur akhir pekan.

    Selain itu, kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan pemerintah sebagai upaya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi mobilitas masyarakat.

    Tidak semua pekerja harus kembali ke tempat kerja dalam waktu bersamaan, sehingga arus balik tidak terjadi secara serentak.

    Faktor lain yang turut memengaruhi adalah masa libur sekolah yang belum berakhir. Kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai kembali pada Senin, 30 Maret 2026, sehingga sebagian masyarakat memilih menunda perjalanan kembali.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran, Gusti Muchlis, mengungkapkan bahwa pada kedatangan kapal perdana arus balik, jumlah penumpang masih relatif sedikit.

    ”Untuk KM Lawit yang datang hari ini hanya mengangkut 189 penumpang,” ujarnya.

    Kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) tersebut, berlayar dari Pelabuhan Tanjung Emas dan tiba di Pelabuhan Sampit sekitar pukul 12.30 WIB.

    KM Lawit dijadwalkan kembali berangkat pada Kamis (26/3/2026) pukul 09.00 WIB dengan estimasi jumlah penumpang mencapai 1.195 orang.

    Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat menggunakan transportasi laut masih cukup tinggi, meski arus balik belum mencapai puncaknya.

    ”Biasanya arus balik lewat kapal tidak langsung padat. Jumlah penumpang meningkat secara bertahap. Selain itu, ada juga yang memilih menggunakan transportasi udara,” jelas Muchlis.

    Untuk jadwal berikutnya, KM Kirana III dijadwalkan tiba di Pelabuhan Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIB dari Pelabuhan Tanjung Perak.

    Kapal tersebut akan kembali diberangkatkan menuju Surabaya pada Jumat (27/3/2026) pukul 10.00 WIB.

    Namun, hingga saat ini, pihak KSOP belum menerima data pasti terkait jumlah penumpang KM Kirana III, baik yang tiba maupun yang akan berangkat.

    ”Jumlah penumpang masih menunggu laporan dari operator kapal. Biasanya akan diketahui setelah kapal sandar,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Angkutan Arus Mudik Terakhir, Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Sampit Capai 6.638

    Angkutan Arus Mudik Terakhir, Jumlah Penumpang Kapal di Pelabuhan Sampit Capai 6.638

    SAMPIT, kanalindependen.id – Puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Sampit resmi berakhir, Kamis (19/3/2026). KM Kirana III tujuan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menjadi kapal terakhir yang melayani angkutan Lebaran tahun ini.

    Aktivitas pemudik yang memadati Pelabuhan Sampit dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat dari Kabupaten Kotawaringin Timur menuju Pulau Jawa.

    Hampir seluruh armada yang beroperasi tercatat berangkat dengan tingkat keterisian maksimal. Namun, meskipun jumlah penumpang padat, layanan angkutan mudik tetap aman terkendali.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran, Gusti Muchlis, mengungkapkan bahwa jumlah penumpang tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

    ”Terjadi peningkatan cukup signifikan. Selain jumlah armada yang lebih banyak, secara persentase kami mencatat kenaikan sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Muchlis saat diwawancarai awak media, Kamis (19/3/2026).

    Berdasarkan data posko, total penumpang yang diberangkatkan selama periode arus mudik 2026 terhitung 13-19 Maret 2026 mencapai 6.638 orang, sedangkan penumpang yang turun di Sampit tercatat sebanyak 968 orang.

    Angka tersebut dinilai menjadi indikator positif bagi sektor transportasi laut di wilayah Kotawaringin Timur, sekaligus menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap moda angkutan laut sebagai pilihan utama mudik.

    Pada hari terakhir layanan mudik, dua kapal besar melayani keberangkatan penumpang. KM Dharma Rucitra VI yang berangkat lebih dulu pada Rabu malam menuju Semarang dengan membawa 525 penumpang.

    Sementara itu, KM Kirana III menjadi armada penutup yang dijadwalkan berangkat pukul 13.00 WIB, Kamis (19/3/2026). Kapal milik PT Dharma Lautan Utama bertolak dari Pelabuhan Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan mengangkut 770 penumpang, serta menurunkan 144 penumpang di Sampit.

    Secara keseluruhan, selama masa angkutan mudik Lebaran 2026, Pelabuhan Sampit telah melayani 7 call (kunjungan kapal) dari total 12 call yang direncanakan dalam satu periode operasional.

    Seiring berakhirnya arus mudik, pihak otoritas pelabuhan kini mulai mengalihkan fokus pada persiapan arus balik. Gelombang kedatangan penumpang dari Pulau Jawa diperkirakan mulai terjadi dalam waktu dekat.

    Gusti Muchlis menyebutkan, kapal penumpang dijadwalkan mulai tiba pada 24 Maret 2026, disusul kedatangan armada lainnya pada hari berikutnya.

    ”Kami terus berkoordinasi dengan operator kapal terkait ketersediaan tiket arus balik, sekaligus memastikan pelayanan tetap berjalan optimal,” pungkasnya. (hgn/ign)