Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Kebakaran HKBP Parulian Sampit: Titik Awal Terlihat, Penyebab Belum Terjawab

    Kebakaran HKBP Parulian Sampit: Titik Awal Terlihat, Penyebab Belum Terjawab

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Api terlihat dari bagian belakang Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parulian Sampit sebelum kebakaran membesar dan melanda bangunan tersebut, Sabtu (17/10/2026). Meski titik awal kemunculan api telah disebut dalam keterangan saksi, penyebab kebakaran di Jalan Lingkar Utara atau Jalan Ir Soekarno, kawasan Wengga Metropolitan, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), itu belum diketahui.

    Kobaran api terlihat dari bangunan gereja dalam video yang beredar. Sejumlah warga berkumpul di sekitar lokasi dan berupaya membantu memadamkan api sembari menunggu petugas pemadam kebakaran tiba.

    Kasi Humas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim, Hery Wahyudi, mengatakan laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 13.28 WIB. Personel berangkat dua menit kemudian dan tiba di lokasi pada pukul 13.46 WIB.

    “Berdasarkan keterangan saksi yang tercatat dalam laporan petugas, api terlihat dari bagian belakang gereja atau dapur. Untuk penyebab kebakaran masih belum diketahui,” ujarnya.

    Informasi tersebut menunjukkan lokasi awal api berdasarkan keterangan saksi, tetapi belum menjelaskan pemicu kebakaran. Belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan penyebab api muncul dan kemudian membesar.

    Api dilokalisir dalam 16 menit

    Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan pemadaman. Penanganan melibatkan tim Posko Kebakaran Hutan dan Lahan Kotim, kepolisian, serta relawan pemadam kebakaran.

    Api berhasil dilokalisir pada pukul 14.02 WIB, atau 16 menit setelah petugas tiba. Petugas kemudian melanjutkan dengan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

    Bangunan yang terbakar merupakan bangunan semi permanen dengan perkiraan ukuran sekitar 20 x 10 meter. Laporan sementara tidak mencatat adanya korban jiwa maupun korban luka. Sementara itu, kerugian material belum ditaksir.

    Operasi pemadaman berakhir pada pukul 15.05 WIB setelah proses pendinginan dan pemeriksaan selesai. Petugas kemudian kembali ke markas komando pada pukul 15.23 WIB.

    Kerusakan dan penyebab masih perlu dipastikan

    Kebakaran di kawasan Wengga Metropolitan itu menjadi perhatian warga sekitar. Namun, informasi yang tersedia belum merinci tingkat kerusakan bangunan setelah api berhasil dikendalikan.

    Penyebab kebakaran juga belum dapat dipastikan. Keterangan mengenai api yang terlihat dari bagian belakang gereja masih mengacu pada kesaksian yang tercatat dalam laporan petugas, bukan kesimpulan akhir mengenai sumber api.

    Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebab kebakaran, kondisi bangunan setelah kejadian, serta besarnya kerugian yang ditimbulkan. (***)

  • Omon-Omon “Kalimantan Tak Baik-Baik Saja”: Menhut Injak Sampit, Pemkab Kotim Langsung Tagih Helikopter Water Bombing

    Omon-Omon “Kalimantan Tak Baik-Baik Saja”: Menhut Injak Sampit, Pemkab Kotim Langsung Tagih Helikopter Water Bombing

    SAMPIT,  Kanalindependen.id   – Retorika simpati menteri kembali diuji di atas tanah gambut Kalimantan Tengah yang membara. Usai sempat memicu gelombang kekecewaan publik akibat pembatalan agenda sebelumnya, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni akhirnya menginjakkan kaki di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu (17/10/2026). Ingin menunjukkan kepekaan, Menhut melemparkan pengakuan bahwa kondisi ekologis Pulau Kalimantan saat ini memang “sedang tidak baik-baik saja”.

    Namun bagi pemerintah daerah dan ratusan petugas pemadam di tingkat tapak yang sudah kehabisan air dan tenaga, pengakuan manis itu tak ada gunanya tanpa armada tempur udara. Bupati Kotim Halikinnor langsung memanfaatkan momentum tatap muka tersebut untuk melayangkan desakan keras: menagih komitmen nyata pengerahan helikopter water bombing guna mengguyur titik api yang terisolasi.

    Dua kawasan paling kritis yang tak tersentuh armada darat adalah Desa Ganepo di Kecamatan Seranau dan Desa Camba di Kecamatan Kota Besi. Titik kebakaran di Ganepo membentang 7 hingga 9 kilometer dari tepi Sungai Mentaya, sementara lokasi kebakaran di Camba berada di pedalaman hutan gambut tanpa akses air.

    “Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar karena prediksi dari BMKG bahwa hujan alami di Kalimantan Tengah baru akan ada di November. Namun saya pastikan pemerintah hadir semaksimal mungkin, tidak cuci tangan, agar api padam dan masyarakat tidak terus terpapar ISPA,” klaim Menhut Raja Juli Antoni di Sampit, Sabtu (17/10/2026).

    448 Personel Tercekik Air Mengering, Modifikasi Cuaca Terhalang Awan

    Di atas kertas, Pemkab Kotim telah mengerahkan kekuatan penuh: 448 personel gabungan, 29 unit armada mobil, 113 mesin alkon, selang pemadam sepanjang 5.000 meter, serta 43 unit mobil tangki air. Namun di lapangan, pengerahan ratusan petugas ini menemui benteng tebal berupa mengeringnya embung, parit, dan sumur bor akibat kemarau panjang.

    Menhut berdalih bahwa pemerintah telah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hasil kolaborasi BMKG, BNPB, dan Kemenhut. Ia menyebut hujan yang sempat turun di Palangka Raya dan Kotawaringin Barat merupakan buah dari penyemaian awan buatan.

    Akan tetapi, teknologi OMC di Kalteng dilaporkan membentur tembok tebal: minimnya bibit awan semai akibat puncak fenomena El Nino. Ketika teknologi hujan buatan lumpuh dan BMKG memprediksi hujan alami baru menyiram merata pada pertengahan November 2026, membiarkan tim darat bertarung tanpa water bombing sama saja dengan membiarkan Kotim dipanggang asap satu bulan penuh.

    Pengakuan Menhut Raja Juli Antoni bahwa “Kalimantan Tidak Baik-Baik Saja” tidak boleh sekadar menjadi omon-omon politik untuk meredam kekecewaan warga Kotim. Tanpa pengiriman armada helikopter water bombing secara riil ke Desa Ganepo dan Camba, kalimat “pemerintah tidak cuci tangan” hanya akan menjadi slogan hampa di tengah penderitaan warga yang tercekik asap dan ancaman diare massal.

     Kemenhut bersama BNPB didesak tidak memutar-mutar birokrasi penanganan darurat. Pengerahan helikopter bom air wajib direalisasikan dalam hitungan jam ke Desa Ganepo dan Camba untuk memadamkan api bawah tanah (ground fire) yang mengancam pemukiman.

    Mengingat kepungan asap diprediksi bertahan hingga November, Kemenhut dan Pemkab Kotim dituntut menyalurkan ribuan masker standar N95 serta menjamin seluruh fasilitas kesehatan/puskesmas menggratiskan penanganan ISPA dan diare bagi anak-anak korban krisis lingkungan.

  • Hotspot Kotim 445 Titik, Ganepo Masih Membara, Camba Terdeteksi 74 Titik Panas

    Hotspot Kotim 445 Titik, Ganepo Masih Membara, Camba Terdeteksi 74 Titik Panas

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebaran titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mencapai 445 titik dalam akumulasi 24 jam terakhir berdasarkan data yang diakses Sabtu (17/10/2026) pukul 16.00 WIB. Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, mencatat jumlah terbanyak dengan 103 titik, disusul Desa Camba, Kecamatan Kota Besi, sebanyak 74 titik.

    Rekapitulasi yang bersumber dari BMKG dan BPBD Kotim, dengan data dasar BRIN Hotspot, mencatat 436 titik pada tingkat kepercayaan menengah, empat titik pada tingkat kepercayaan tinggi, dan lima titik pada tingkat kepercayaan rendah.

    “Sebaran terbanyak berada di Kecamatan Seranau dengan 147 titik. Berikutnya, Pulau Hanaut mencatat 94 titik, Kota Besi 76 titik, Teluk Sampit 71 titik, dan Mentaya Hilir Utara 20 titik,” Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.

    Di tingkat desa dan kelurahan, Ganepo di Kecamatan Seranau mencatat 103 titik panas. Desa Camba di Kecamatan Kota Besi berada di urutan berikutnya dengan 74 titik, disusul Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit sebanyak 46 titik dan Kelurahan Mentaya Seberang di Kecamatan Seranau sebanyak 43 titik.

    Titik panas lainnya tercatat di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, sebanyak 20 titik dan Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, sebanyak 10 titik.

    Camba sebelumnya mengalami kebakaran

    Tingginya deteksi titik panas di Camba menjadi perhatian setelah operasi pemadaman kebakaran di desa tersebut berlangsung hingga pukul 21.15 WIB pada Jumat (16/10/2026).

    Berdasarkan laporan Pos Sektor Pemadam Kebakaran Kota Besi, informasi kebakaran diterima pukul 13.25 WIB. Petugas berangkat lima menit kemudian dan mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 14.05 WIB dengan mengerahkan satu unit kendaraan MTPK 11.

    Operasi dipimpin Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Ubay Dillah, dengan dukungan Camat Kota Besi, Masyarakat Peduli Api (MPA) Kota Besi, dan anggota Polsek Kota Besi.

    Laporan tersebut mencantumkan dugaan penyebab kebakaran sebagai arson atau pembakaran. Namun, unsur kesengajaan belum dapat dipastikan tanpa keterangan resmi hasil pemeriksaan. Luas area terbakar, nilai kerugian, dan kondisi akhir lokasi juga belum tercantum dalam laporan yang tersedia.

    “Sebanyak 74 titik panas yang terdeteksi di Camba tidak serta-merta menunjukkan terdapat 74 kebakaran terpisah. Data hotspot merupakan indikasi panas yang dideteksi melalui pemantauan satelit, sehingga perlu diverifikasi dengan pemeriksaan lapangan untuk memastikan keberadaan dan kondisi kebakaran,” Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim Rihel.

    Dengan 445 titik panas yang tersebar di berbagai kecamatan, perkembangan di lapangan masih perlu dipantau. Konfirmasi mengenai kondisi pascapemadaman di Camba serta verifikasi titik panas menjadi penting untuk mengetahui apakah masih terdapat kebakaran yang membutuhkan penanganan. (***)

  • Tega! Dana Bencana Karhutla Kalteng Digerogoti Korupsi: KPK Tetapkan 5 Tersangka Pengadaan DSP BNPB Rp148 Miliar

    Tega! Dana Bencana Karhutla Kalteng Digerogoti Korupsi: KPK Tetapkan 5 Tersangka Pengadaan DSP BNPB Rp148 Miliar

    JAKARTA, Kanalindependen.id – Di tengah perjuangan hidup-mati warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang tercekik racun kabut asap dan amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), anggaran darurat kebencanaan justru dijadikan bancakan korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar skandal korupsi pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari Dana Siap Pakai (DSP) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) periode 2024–2026.

    Penanganan darurat bencana yang dikorupsi ini mencakup alokasi anggaran penanganan karhutla di Kalimantan dan Papua, gempa di NTT, serta bencana banjir di Aceh dan Sumatra.

    Plt. Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein mengungkapkan skandal terorganisir ini dalam konferensi pers resmi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

    “Dalam proses penggunaan DSP tersebut, KPK menemukan adanya dugaan konflik kepentingan dan suap. Pengadaan dari penyedia yang diduga terafiliasi dengan tersangka bernilai paket mencapai sekitar Rp148 miliar,” ungkap Achmad Taufik Husein.

    Konflik Kepentingan Adik Mantan Kepala BNPB dan Sitaan Barang Bukti Rp5,47 Miliar

    Guna merespons cepat kondisi darurat bencana, BNPB menggunakan mekanisme penunjukan langsung berdasarkan Rencana Kerja Kolaboratif (RKK). Namun, diskresi ini dimanfaatkan untuk memperkaya diri dan kelompok. KPK menetapkan lima orang tersangka yang terdiri atas pejabat BNPB dan pihak swasta:

    1. Bima Setiawan (Tenaga Ahli Kepala BNPB saat itu, adik dari mantan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto).
    2. Richard Erlangga (Tenaga Ahli Kepala BNPB saat itu).
    3. Gabriel Purwaka Sigit (Kasubdit Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB sekaligus PPK).
    4. Syifa Nrika Ghifarian (Swasta).
    5. Gery Prasetiawan (Swasta).

    Dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) dan penggeledahan, KPK menyita barang bukti tindak pidana senilai Rp5,47 miliar yang terdiri atas uang tunai Rp3,35 miliar, USD 7.500, SGD 9.000, 56 keping emas (133 gram), tabungan emas (192 gram), serta aset kripto senilai Rp1,10 miliar.

    Kelima tersangka telah ditahan di Rutan Cabang Gedung Merah Putih KPK untuk 20 hari pertama sejak 14 Oktober hingga 2 November 2026.

    Terbongkarnya skandal korupsi DSP BNPB senilai Rp148 miliar oleh KPK menjelaskan alasan di balik lambat dan minimnya alokasi bantuan helikopter water bombing serta peralatan pemadam untuk daerah krisis seperti Kotim. Ketika masyarakat Kotim diselimuti racun asap, anak-anak terserang diare dan ISPA, serta tiga relawan gugur di lapangan, oknum pejabat di Jakarta justru menikmati komitmen fee miliaran rupiah dari dana darurat.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Jerat dengan Pasal Pemberatan Pidana Mati: KPK didesak tidak ragu menerapkan ancaman sanksi maksimal. Korupsi yang dilakukan terhadap dana bencana alam (disaster emergency fund) pada saat status darurat berlangsung merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang layak dijatuhi hukuman terberat.
    2. Audit Total Alokasi Bantuan Karhutla Kalteng: BPK dan BPKP dituntut melakukan audit investigatif secara menyeluruh terhadap seluruh proyek pengadaan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, untuk memastikan tidak ada pemotongan anggaran operasional petugas pemadam di tingkat tapak. (***)

  • Pemadaman Kebakaran di Desa Camba Berlangsung hingga Malam, Kotim Terdeteksi 207 Titik Panas

    Pemadaman Kebakaran di Desa Camba Berlangsung hingga Malam, Kotim Terdeteksi 207 Titik Panas

    SAMPIT Kanalindependen.id – Petugas pemadam kebakaran bersama sejumlah unsur terkait melakukan operasi pemadaman kebakaran di Desa Camba, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (16/10/2026). Operasi berlangsung hingga pukul 21.15 WIB, setelah petugas mulai melakukan pemadaman sekitar pukul 14.05 WIB.

    Berdasarkan laporan Pos Sektor Pemadam Kebakaran Kota Besi, informasi kejadian diterima pada pukul 13.25 WIB. Petugas berangkat menuju lokasi lima menit kemudian dan mengerahkan satu unit kendaraan MTPK 11 untuk mendukung operasi.

    Pemadaman dipimpin Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Ubay Dillah, dengan dukungan Camat Kota Besi, Masyarakat Peduli Api (MPA) Kota Besi, serta anggota Polsek Kota Besi.

    Dalam laporan tersebut, dugaan penyebab kejadian dikategorikan sebagai arson atau dugaan pembakaran. Namun, informasi itu belum cukup untuk memastikan adanya unsur kesengajaan. Penyebab kebakaran masih perlu dikonfirmasi kepada pihak berwenang.

    Laporan Pos Sektor Kota Besi juga belum mencantumkan luas area yang terbakar maupun taksiran kerugian. Kondisi akhir lokasi setelah operasi pemadaman belum dijelaskan dalam laporan yang tersedia.

    207 Titik Panas Terdeteksi di Kotim

    Di tengah penanganan kebakaran tersebut, rekapitulasi hotspot atau titik panas wilayah Kotim menunjukkan terdapat 207 titik dalam akumulasi 24 jam terakhir, berdasarkan data yang diakses pada Jumat (16/10/2026) pukul 16.00 WIB.

    Data yang bersumber dari BMKG dan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur itu mencatat seluruh titik berada pada tingkat kepercayaan menengah atau medium, dengan rentang 30–79 persen. Pemantauan menggunakan satelit NOAA-20 dan SNPP dengan tipe deteksi piksel.

    Sebaran terbanyak berada di Kecamatan Seranau, dengan 98 titik. Rinciannya, 63 titik di Desa Ganepo dan 35 titik di Kelurahan Mentaya Seberang.

    Kecamatan Teluk Sampit menyusul dengan 63 titik, terdiri atas 42 titik di Desa Lampuyang dan 21 titik di Desa Ujung Pandaran. Sementara itu, Kecamatan Pulau Hanaut mencatat 23 titik yang tersebar di delapan desa.

    Titik panas lainnya terdeteksi di Kecamatan Mentaya Hilir Utara sebanyak sembilan titik, Bukit Santuai delapan titik, Antang Kalang dua titik, serta Mentawa Baru Ketapang dua titik. Masing-masing satu titik juga tercatat di Kecamatan Mentaya Hulu dan Telaga Antang.

    Data tersebut menggambarkan sebaran indikasi panas yang terdeteksi satelit di sejumlah wilayah Kotim. Namun, titik panas tidak serta-merta membuktikan adanya kebakaran di setiap lokasi, terlebih tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan penyebab kebakaran di Desa Camba.

    Belum tersedia informasi mengenai luas lahan yang terbakar di Desa Camba, hasil pemeriksaan penyebab kejadian, maupun kondisi akhir lokasi setelah pemadaman. Konfirmasi dari petugas dan pihak berwenang diperlukan untuk melengkapi gambaran peristiwa tersebut. (***)

  • Sabu 4,82 Gram Tergeletak di Atas Meja Kamar: Pengedar Pasir Putih Dibekuk Bersama Timbangan Digital

    Sabu 4,82 Gram Tergeletak di Atas Meja Kamar: Pengedar Pasir Putih Dibekuk Bersama Timbangan Digital

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Praktik peredaran gelap narkotika di kawasan pemukiman Pasir Putih kembali terbongkar. Tim Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim) menyergap seorang pria berusia 43 tahun berinisial M di dalam kamar rumahnya di Jalan Jenderal Sudirman Km 9, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kamis (15/10/2026) malam sekitar pukul 22.30 WIB.

    Dalam penggeledahan yang disaksikan lurah setempat dan warga, petugas mendapati satu paket bungkus plastik klip berisi kristal bening diduga sabu seberat 4,82 gram yang tergeletak secara terbuka di atas meja kamar tersangka.

    Penggerebekan ini mengeksekusi laporan masyarakat yang resah akan maraknya aktivitas transaksi narkoba yang dijalankan tersangka di kawasan tersebut.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Plt. Kasi Humas IPTU Edi Walujo mengonfirmasi penangkapan dan penyitaan barang bukti dari kamar M.

    “Setelah menerima informasi masyarakat, anggota melakukan penyelidikan hingga mengamankan terlapor di dalam kamar rumahnya. Saat penggeledahan yang disaksikan aparat kelurahan dan warga, ditemukan barang yang diduga sabu dengan berat kotor 4,82 gram beserta sejumlah barang lainnya,” terang IPTU Edi Walujo, Jumat (16/10/2026).

    Timbangan Digital dan HP Vivo Tergeletak di Lantai Kamar

    Selain menyita 4,82 gram sabu dari atas meja, petugas membongkar perlengkapan transaksi milik tersangka yang terserak di lantai kamar. Polisi mengamankan satu unit timbangan digital, satu unit telepon genggam Vivo Y27s berwarna ungu, serta kartu SIM yang diduga kuat digunakan untuk mengendalikan pesanan pelanggan.

    Kepada petugas, tersangka M mengakui secara terbuka bahwa seluruh barang bukti yang ditemukan di dalam kamar tersebut adalah milik pribadinya.

    Atas perbuatannya, M disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

     

    Penangkapan M di Km 9 Jalan Jenderal Sudirman hanya berselang beberapa jam dari penangkapan tersangka lain di kawasan yang sama menjadi bukti otentik bahwa Kelurahan Pasir Putih telah berstatus darurat narkotika. Keberadaan timbangan digital di lantai kamar membuktikan M bukan sekadar pemakai, melainkan sub-agen pemecah paket (retailer) yang aktif melayani pembeli eceran di perkotaan Sampit.

    Penyidik Satresnarkoba Polres Kotim dituntut tidak berpuas diri dengan barang bukti 4,82 gram. Jejak digital dan riwayat pesan singkat pada ponsel milik M wajib dibongkar secara transparan guna melacak identitas bandar besar yang menyuplai paket sabu siap timbang tersebut.

    Berulangnya pengungkapan kasus narkotika di Pasir Putih menuntut Polres Kotim dan Pemkab Kotim untuk menggelar operasi pembersihan skala besar (sweeping) serta menempatkan pos pemantauan kepolisian permanen di koridor Jalan Jenderal Sudirman. (**)

  • Aksi Drama Lantai Dua Gagal: Pengedar Sabu Wonosobo Digulung di Pasir Putih, 32 Gram Kristal Disita

    Aksi Drama Lantai Dua Gagal: Pengedar Sabu Wonosobo Digulung di Pasir Putih, 32 Gram Kristal Disita

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Upaya nekat seorang pria berinisial MN (40) meloncat dari jendela lantai dua rumahnya demi menghindari sergapan petugas berakhir sia-sia. Pria asal Wonosobo, Jawa Tengah, tersebut berhasil diringkus tim Satresnarkoba Polres Kotim di area pekarangan belakang rumahnya di Jalan Jenderal Sudirman Km 9, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (15/10/2026) malam sekitar pukul 22.45 WIB.

    Dari hasil penggeledahan yang disaksikan lurah dan warga setempat, petugas menyita barang bukti kategori jumbo berupa tujuh paket plastik klip berisi kristal bening diduga sabu dengan berat kotor mencapai 32,19 gram.

    Penggerebekan berawal dari laporan masyarakat yang resah akan maraknya indikasi transaksi narkotika di lokasi tersebut. Jajaran Satresnarkoba Polres Kotim kemudian bergerak melakukan pemantauan ketat hingga melakukan tindakan kepolisian.

    Plt. Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo, mewakili Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, mengonfirmasi bahwa penangkapan berlangsung dramatis saat tersangka berusaha kabur.

    “Berawal dari informasi masyarakat, anggota melakukan penyelidikan hingga mengamankan terlapor yang sempat mencoba kabur melalui jendela lantai dua. Dalam penggeledahan, petugas menemukan tujuh bungkus plastik klip yang diduga berisi sabu dengan berat kotor keseluruhan 32,19 gram,” terang IPTU Edi Walujo, Jumat (16/10/2026).

    Barang Bukti Jumbo: 32,19 Gram Sabu, Alat Pengemas, dan Uang Tunai Disita

    Selain menyita 32,19 gram sabu, petugas mengamankan perlengkapan pengemasan eceran tersangka. Di antaranya satu pak plastik klip kosong, satu plastik klip ukuran besar, serta potongan sedotan plastik berujung lancip sebagai alat takar.

    Polisi juga menyita uang tunai Rp200.000 hasil transaksi yang disembunyikan di dalam kotak kacamata, serta satu unit ponsel Vivo A17 berwarna biru navy dari kantong celana depan tersangka.

    Atas kepemilikan barang bukti skala sedang-besar ini, MN disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

    Penangkapan MN di Km 9 Jalan Jenderal Sudirman mempertegas fakta bahwa kawasan Pasir Putih dan koridor poros utama Sampit–Pangkalan Bun masih menjadi benteng empuk jaringan pengedar narkotika. Berat barang bukti mencapai 32,19 gram menunjukkan bahwa status tersangka bukan sekadar pengedar eceran kecil, melainkan disinyalir kuat berperan sebagai sub-agen di wilayah Mentawa Baru Ketapang.

    Penyidik Satresnarkoba Polres Kotim dituntut membongkar total riwayat komunikasi pada ponsel Vivo A17 milik tersangka. Mengingat MN berasal dari Wonosobo, polisi wajib menelusuri apakah pasokan sabu tersebut dipasok dari jaringan antar-kota/provinsi melalui jalur darat atau pelabuhan.

    Berulangnya penangkapan kasus narkoba di Kelurahan Pasir Putih menandakan kawasan ini masuk zona merah peredaran narkotika. Polres Kotim dan Pemkab Kotim didesak mendirikan posko pengawasan serta operasi penyakit masyarakat (pekat) secara berkala.(***)

  • Belum Usai Racun Asap, Kini Racun Air: Kasus Diare Anak di Sampit Meledak!

    Belum Usai Racun Asap, Kini Racun Air: Kasus Diare Anak di Sampit Meledak!

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Penderitaan warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) seolah tak bertepi. Belum usai berjuang melawan cengkeraman racun kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bencana kesehatan baru kini mengintai keselamatan generasi muda. Kasus diare, terutama yang menyerang kelompok anak-anak dan balita, dilaporkan meledak hingga 25–30 persen dibandingkan kondisi normal akibat krisis air bersih dan lonjakan salinitas intrusi air laut yang mencemari sumber air warga.

    Kondisi darurat sanitasi lingkungan ini memicu sidik lapangan langsung oleh Bupati Kotim Halikinnor, saat meninjau kesiapan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani Sampit, Kamis (15/10/2026).

    Anak-anak menjadi kelompok paling rentan (high-risk group) yang harus menanggung dampak fatal akibat terpaksa mengonsumsi atau menggunakan air berpolusi dan payau untuk kebutuhan harian.

    “Yang mengalami peningkatan sekarang justru kasus diare, khususnya pada anak-anak. Kondisi air di daerah kita yang sudah terdampak intrusi air laut juga perlu diperhatikan karena air tersebut dikonsumsi masyarakat,” tegas Bupati Kotim Halikinnor usai mengecek ruang perawatan anak di RSUD dr. Murjani Sampit.

    RSUD dr Murjani Siaga Lonjakan Pasien, Pemkab Bergantung Pada Hujan

    Guna mengantisipasi kolapsnya fasilitas kesehatan jika terjadi lonjakan pasien dalam jumlah besar, manajemen RSUD dr. Murjani Sampit diperintahkan menyiagakan ruangan perawatan khusus, ketersediaan cairan infus, serta penebalan personel tenaga medis dan perawat.

    Sementara itu, untuk kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap karhutla yang tidak membutuhkan rawat inap, penanganannya difokuskan melalui puskesmas di wilayah masing-masing guna mengurai penumpukan pasien di rumah sakit rujukan utama.

    Di sisi lain, harapan Pemkab Kotim untuk menyapu bersih sisa kabut asap dan menetralkan racun air asin kini bergantung penuh pada keajaiban cuaca. Hujan dilaporkan mulai turun di kawasan utara Kotim, namun belum merata menyiram wilayah perkotaan Sampit.

    Meledaknya kasus diare anak hingga 30 persen di tengah krisis intrusi air laut Baamang dan karhutla merupakan bukti sah gagalnya penanganan mitigasi krisis air bersih oleh Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya. Hanya menyiapkan kasur rumah sakit tanpa menghentikan sumber penularan di tingkat hilir (pasokan air bersih) adalah strategi pemadam kebakaran yang amat berbahaya.

    Dinas Kesehatan Kotim bersama Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) dituntut segera melakukan uji sampel mikrobiologi dan kadar garam air sungai/PDAM secara transparan. Pemkab wajib menyuplai tangki air bersih steril secara gratis ke pemukiman padat penduduk guna memutus mata rantai penularan diare pada balita.

    Dinkes Kotim didesak menyebarkan instruksi bahaya penggunaan air payau/asin untuk merebus makanan atau susu formula anak. Seluruh puskesmas di Kotim wajib menjamin ketersediaan ORS (oralit) dan suplemen Zinc gratis bagi keluarga terdampak.

    Usai racun asap, kini racun air! Kasus diare anak di Sampit meledak hingga 30 persen . Bupati Halikinnor sidak RSUD dr Murjani Sampit! Dampak intrusi air laut racuni sanitasi warga, Pemkab & Perumdam didesak bagi tangki air bersih gratis sebelum jatuh korban jiwa! (***)

  • Sabu dan Somadril Lolos ke THM Sampit: Razia Dini Hari Jaring Dua Pengunjung Positif

    Sabu dan Somadril Lolos ke THM Sampit: Razia Dini Hari Jaring Dua Pengunjung Positif

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ruang hiburan malam di Kota Sampit terbukti masih menjadi zona nyaman yang rawan disusupi peredaran gelap zat terlarang. Dalam razia gabungan yang digelar Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim) pada Kamis (15/10/2026) dini hari, dua pengunjung tempat hiburan malam (THM) terjaring usai terbukti positif mengonsumsi narkotika jenis sabu (methamphetamine) dan obat keras somadril.

    Operasi penertiban intensif yang berlangsung selama dua jam mulai pukul 01.00 hingga 03.00 WIB tersebut melibatkan personel lintas fungsi dari Satresnarkoba, Satintelkam, Satsamapta, Propam Polres Kotim, serta Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kotim.

    Petugas mengambil sampel urine secara acak terhadap 12 pengunjung THM di lokasi. Hasil skrining cepat menunjukkan satu pengunjung positif methamphetamine dan satu pengunjung lainnya positif somadril.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Plt. Kasi Humas IPTU Edi Walujo mengonfirmasi bahwa kedua pengunjung tersebut langsung diamankan dan digelandang ke kantor BNK Kotim guna menjalani pemeriksaan medis dan prosedur hukum lanjutan.

    “Pemeriksaan ini merupakan langkah pencegahan untuk mengantisipasi penyalahgunaan narkoba serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif. Kedua pengunjung yang tes urine-nya menunjukkan hasil positif langsung diserahkan ke BNK Kotim untuk penanganan sesuai prosedur,” terang IPTU Edi Walujo, Kamis (15/10/2026).

    Lolosnya penggunaan methamphetamine dan obat keras somadril di dalam lingkungan THM Sampit menjadi bukti otentik bahwa pengawasan internal pengelola tempat hiburan malam sangat lemah atau sengaja membiarkan barang haram beredar. Penindakan tidak boleh berhenti sebatas penyerahan dua pengunjung ke BNK untuk asesmen rehabilitasi, melainkan harus menyasar keterlibatan jaringan pengedar di area hiburan tersebut.

    Pemkab Kotim melalui Satpol PP serta Polres Kotim didesak untuk tidak tebang pilih. Pengelola THM yang terbukti membiarkan tempat usahanya dijadikan arena transaksi atau konsumsi narkoba wajib dikenai sanksi tegas hingga pencabutan izin usaha (blacklisting).

    Satresnarkoba Polres Kotim dituntut melacak dari mana pengunjung tersebut mendapatkan pasokan methamphetamine dan somadril sebelum memasuki THM, guna memutus rantai pasokan jaringan pengedar yang beroperasi di kawasan perkotaan Sampit. (***)

  • Orangutan Terbius Tersangkut di Pohon: Jaring Pengaman Dibentangkan di Bawahnya, Ira Dievakuasi dari Lahan Hangus Baamang

    Orangutan Terbius Tersangkut di Pohon: Jaring Pengaman Dibentangkan di Bawahnya, Ira Dievakuasi dari Lahan Hangus Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana pembumihangusan hutan dan lahan (karhutla) yang terus menggerogoti Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali membuahkan tragedi ekologis.

    Satu individu orangutan betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan terluntang-lantar dalam kondisi tubuh kurus kering di atas pohon sisa kebakaran di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Gang Sahabat, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Rabu (14/10/2026) malam.

    Proses evakuasi yang berlangsung menegangkan tersebut bermula dari laporan warga bernama Sabinus pada pagi hari pukul 10.10 WIB. Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Seksi KSDA Wilayah II, dan Orangutan Foundation International (OFI) yang tiba di lokasi terpaksa melepaskan tembakan bius.

    Namun, satwa liar berbobot 28 kilogram tersebut tidak langsung jatuh melainkan tersangkut pingsan di dahan pohon. Petugas merespons cepat dengan membentangkan jaring pengaman di bawahnya sebelum seorang personel memanjat pohon untuk menurunkan tubuh satwa terlindung tersebut.

    Kepala BKSDA Resort  Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa penanganan darurat di zona bekas terbakar tersebut berhasil menyelamatkan nyawa primata tersebut.

    “Orangutan terbius, namun sempat tersangkut di pohon. Petugas memanjat dan berhasil menurunkannya ke jaring pengaman yang dibentangkan di bawah. Hasil pemeriksaan awal dokter tidak menemukan luka bakar, tetapi kondisi tubuh satwa sangat kurus,” terang Muriansyah.

    Satwa betina itu kemudian diberi nama Ira oleh Wakil Bupati Kotim Irawati yang hadir langsung memantau proses evakuasi hingga malam hari. Nama tersebut diambil sebagai simbol keprihatinan mendalam atas hancurnya rumah alami satwa akibat amukan api. Usai pengambilan sampel darah dan pemeriksaan medis darurat, Ira dimasukkan ke kandang angkut untuk dilarikan ke Kantor BKSDA di Pangkalan Bun guna perawatan pemulihan.

    Evakuasi orangutan “Ira” di Baamang Hulu menjadi bukti otentik betapa ganasnya dampak karhutla Kotim yang telah menghancurkan koridor jelajah (home range) satwa langka. Temuan kondisi fisik Ira yang kurus kering mengindikasikan bahwa satwa ini telah mengalami kelaparan panjang (starvation) akibat vegetasi pakan alami di hutan hancur dilalap api.

    BKSDA Kalteng bersama KLHK didesak membentuk Satgas Khusus Penyelamatan Satwa di seluruh zona karhutla Kotim. Keberadaan tiga individu orangutan yang dievakuasi dalam beberapa bulan terakhir menegaskan bahwa masih banyak satwa terlindung yang terjebak di pulau-pulau vegetasi yang terkepung api.

    Pemkab Kotim dan penegak hukum dituntut menindak tegas pelaku pembakaran lahan di area pemukiman dan pinggiran kota. Pembiaran pembakaran vegetasi tidak hanya melumpuhkan kesehatan warga, tetapi secara sistematis memusnahkan keanekaragaman hayati yang dilindungi undang-undang.

    Orangutan terbius tersangkut di pohon! Ira dievakuasi dari lahan hangus Baamang Hulu usai jaring pengaman dibentangkan! Kondisi tubuh kurus kering akibat habitat hancur terbakar, BKSDA didesak bentuk Satgas Rescue Satwa Karhutla! (***)