Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Bakar Pelepah Kelapa Picu Karhutla 30 Hektare di Pulau Hanaut: Pria 54 Tahun Dibekuk Polisi  

    Bakar Pelepah Kelapa Picu Karhutla 30 Hektare di Pulau Hanaut: Pria 54 Tahun Dibekuk Polisi  

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Praktik konyol membuka lahan dengan cara membakar di tengah kemarau ekstrem kembali menelan korban lingkungan skala besar. Seorang pria paruh baya berinisial S (54) resmi diamankan aparat kepolisian usai diduga memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 30 hektare di Jalan Kelampan Kecil RT 01 RW 01, Desa Bapinang Hilir Laut, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (8/10/2026).

    Aksi nekat pelaku dieksekusi saat kondisi vegetasi gambut dan semak belukar di kawasan pesisir Pulau Hanaut dalam keadaan sangat kering. Keterangan awal kepolisian menyebutkan, bencana karhutla ini bermula dari tindakan ceroboh pelaku yang membersihkan lahan dengan menumpuk pelepah serta sabut kelapa lalu membakarnya menggunakan korek api gas.

    Api yang awalnya kecil mendadak tak terkendali saat hembusan angin kencang langsung menyambar tumpukan semak kering di sekitarnya. Dalam hitungan jam, kobaran api menjalar liar melalap sekitar 30 hektare hamparan lahan di Bapinang Hilir Laut.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Plt. Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo mengonfirmasi penangkapan terduga pelaku dan memberikan peringatan keras kepada masyarakat.

    “Kami menegaskan dan mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak ada lagi yang membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Praktik semacam ini sangat berbahaya dan berisiko tinggi memicu kebakaran meluas, terutama saat cuaca kering dan angin kencang,” tegas IPTU Edi Walujo, Minggu (11/10/2026).

    Saat ini terduga pelaku S bersama barang bukti telah diamankan guna menjalani proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut di Mapolres Kotim untuk membuktikan konstruksi pidana dan pertanggungjawaban hukumnya.

    Penangkapan pelaku pembakaran 30 hektare lahan di Bapinang Hilir Laut ini menjadi bukti otentik pemicu utama melonjaknya 180 hingga 243 titik panas (hotspot) di Kecamatan Pulau Hanaut yang mengirimkan racun asap ke Kota Sampit. Ketika satu tindakan ceroboh membumihanguskan 30 hektare lahan gambut, dampaknya tidak hanya merusak ekosistem lokal tetapi juga mengancam kesehatan saluran pernapasan puluhan ribu warga.

     Polres Kotim dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) KLHK didesak menetapkan sangkaan pasal pidana berlapis terkait UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) terhadap pelaku S. Proses hukum yang transparan wajib berjalan guna memberikan efek jera agar tidak ada lagi warga yang menganggap remeh aksi bakar lahan.

    Pemkab Kotim dan Satgas Karhutla dituntut memperketat patroli darat di seluruh desa pesisir Pulau Hanaut. Penyuluhan bahaya karhutla harus diimbangi dengan penyiagaan sarana pemadam tingkat desa (MPA) agar titik api sekecil apa pun dapat dipadamkan sebelum meluas belasan hektare. (***)

  • Siasat Toilet Sopir Travel Ringkus Pencuri Tas Perawat RSUD dr Murjani Sampit di Pelantaran

    Siasat Toilet Sopir Travel Ringkus Pencuri Tas Perawat RSUD dr Murjani Sampit di Pelantaran

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pelarian terduga pelaku pencurian tas milik seorang perawat RSUD dr Murjani Sampit berakhir dramatis. Bermodal kecerdikan berpura-pura izin ke toilet, seorang sopir travel antar-kota berhasil menghubungi aparat kepolisian hingga terduga pelaku dibekuk di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu, Jumat (9/10/2026) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

    Terduga pelaku diringkus tanpa perlawanan di dalam armada mobil travel yang disewanya, yang diduga hendak melarikannya menyeberang menuju Kalimantan Selatan.

    Keberhasilan penangkapan bermula dari ketelitian istri sang sopir travel yang mengenali wajah penumpang dari foto dan identitas yang beredar luas di grup WhatsApp. Usai mencocokkan ciri-ciri fisik penumpang, pihak travel langsung berkoordinasi secara senyap dengan petugas kepolisian di Sampit. Guna menghindari kecurigaan pelaku, sang sopir sengaja menghentikan kendaraan dan berpura-pura ke toilet untuk mengunci koordinat penangkapan bersama polisi.

    M Teguh, sepupu Febby Lovita Sari perawat IGD RSUD dr Murjani Sampit yang menjadi korbanmembenarkan informasi cepat dari pihak travel menjadi kunci utama pembekuan jejak terduga pelaku.

    “Pihak travel sangat responsif dan mengenali pria itu saat berada di dalam mobil, sehingga informasi tersebut langsung ditindaklanjuti polisi hingga pelaku berhasil diamankan di Pelantaran,” katanya.

    Aksi nekat pencurian tersebut terjadi pada Jumat (9/10/2026) pagi di Ruang Cempaka, Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit. Korban yang meninggalkan tasnya sebentar di kursi perawat mendapati barang berharganya raib saat kembali sekitar pukul 09.30 WIB.

    Rekaman kamera pengawas (CCTV) di lokasi merekam jelas detik-detik seorang pria menutup tas korban menggunakan jaket sebelum membawanya kabur. Tas tersebut berisi aset berharga tinggi, mulai dari satu unit laptop Lenovo, satu unit ponsel iPhone 16 Plus, satu unit ponsel Realme C17, dompet berisi dokumen penting seperti ATM, STNK, dan kunci motor, serta uang tunai Rp300.000.

    Total kerugian yang dialami perawat IGD RSUD dr Murjani ini ditaksir mencapai Rp30 juta. Teguh menambahkan, muncul dugaan ponsel iPhone 16 Plus milik korban sempat dijual terduga pelaku ke salah satu konter di Sampit sebelum ia naik mobil travel. Saat ini, terduga pelaku bersama perkara pelaporan telah ditangani penyidik Polres Kotim guna pengusutan status hukum serta penelusuran seluruh barang bukti milik korban.

     

    Aksi heroik sopir travel di Pelantaran patut diapresiasi tinggi sebagai bukti nyata kepekaan sosial warga (community vigilance) dalam memberantas kejahatan di jalur darat Kotim. Namun di sisi lain, insiden ini membuka tabir rapuhnya pengamanan internal di fasilitas kesehatan vital publik.

    Manajemen RSUD dr Murjani didesak memperketat akses keluar-masuk area pelayanan vital seperti IGD, karena kebebasan orang luar menerobos hingga ke ruang istirahat perawat menjadi preseden buruk keamanan tenaga medis yang sedang bertugas. Selain itu, Satreskrim Polres Kotim dituntut tidak hanya memproses terduga pelaku utama, melainkan menindak tegas konter ponsel di Sampit yang terbukti membeli barang hasil kejahatan pencurian (penadah). (***)

  • Sarang Narkoba Eks Golden Sampit Digerebek: 12 Orang Positif Tes Urine, BNK Kotim Didesak Transparan

    Sarang Narkoba Eks Golden Sampit Digerebek: 12 Orang Positif Tes Urine, BNK Kotim Didesak Transparan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Operasi pekat pembasmian jaringan narkoba di kawasan rawan perkotaan Sampit terus dilancarkan. Aparat gabungan Polres Kotawaringin Timur (Kotim) menggerebek lokasi yang diduga kuat menjadi sarang penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di kawasan eks Golden, Jalan Rahadi Usman, Sampit, Jumat (9/10/2026).

    Penggerebekan berskala besar ini menerjunkan tim gabungan lintas satuan yang terdiri dari Satresnarkoba, Satintelkam, Satsamapta, dan Sipropam Polres Kotim. Sebanyak 31 orang yang berada di lokasi langsung dikepung, diperiksa, dan diuji tes urine di tempat.

    Hasil tes urin maraton mengonfirmasi sebanyak 12 orang dinyatakan positif mengonsumsi narkotika, sementara 19 orang sisanya dikenakan kewajiban lapor.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Ps. Kasi Humas IPTU Edi Walujo membenarkan penindakan tegas di pusat keramaian eks Golden tersebut.

    “Dari hasil pemeriksaan dan tes urine terhadap 31 orang yang diamankan, sebanyak 12 orang dinyatakan positif. Mereka selanjutnya diserahkan kepada Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kotim untuk penanganan dan proses asesmen lebih lanjut,” terang IPTU Edi Walujo, Sabtu (10/10/2026).

    Penggerebekan di eks Golden Jalan Rahadi Usman dilakukan setelah kepolisian menerima aduan intensif masyarakat terkait maraknya aktivitas transaksi dan pengonsumsian zat adiktif di area bekas pusat hiburan malam tersebut.

    Meskipun 12 orang dinyatakan positif hasil tes urine, kepolisian menegaskan bahwa status tes urine positif tidak serta-merta membuktikan keterlibatan langsung seseorang sebagai bandar atau pengedar dalam jaringan peredaran gelap.

    Sejauh ini, Polres Kotim belum mengumumkan secara rinci temuan jumlah gramasi barang bukti sabu atau ekstasi yang berhasil disita dari lokasi penggerebekan. Pihak kepolisian menegaskan penyidikan lanjutan masih terus dilakukan untuk memburu penyuplai utama yang memasok narkoba ke kawasan eks Golden.

    Penggerebekan 31 orang di kawasan eks Golden Sampit mempertegas masih suburnya kantong-kantong sarang narkoba di pusat perkotaan Kotim. Pola penindakan yang hanya berakhir pada penyerahan 12 pengguna positif ke BNK Kotim dan sanksi wajib lapor bagi 19 orang lainnya rawan menjadi preseden berulang tanpa memberikan efek jera (deterrent effect) yang nyata.

    BNK Kotim didesak untuk transparan mempublikasikan hasil asesmen medis terhadap 12 orang yang positif tersebut. Jangan sampai proses penyerahan ini menjadi celah kompromi hukum tanpa ada upaya pembongkaran muara asal-usul barang haram yang mereka konsumsi.

    Pemkab Kotim bersama Polres Kotim dituntut bertindak radikal dengan menyegel atau membongkar bangunan mangkrak di eks Golden Jalan Rahadi Usman agar tidak terus-menerus dijadikan sarang transaksi narkoba dan maksiat terselubung. (***)

  • Malam Cengkeram Racun Asap di Sampit: Pandangan Tersisa 300 Meter, Warga Mulai Sesak

    Malam Cengkeram Racun Asap di Sampit: Pandangan Tersisa 300 Meter, Warga Mulai Sesak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan belum terbebas dari cengkeraman bencana kabut asap akibat pembumihangusan lahan gambut. Hingga Jumat (9/10/2026) malam, selimut asap pekat beracun masih mengepung Kota Sampit dan memaksa jarak pandang (visibility) anjlok drastis hingga tersisa 300 meter.

    Berdasarkan data pengamatan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotim di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, penurunan kualitas udara dan jarak pandang memburuk secara signifikan dalam rentang waktu dua jam pada malam hari:

    Pukul 19.00 WIB: Jarak pandang tercatat 400 meter, suhu udara 27,7°C, kelembapan 77%, dengan angin bertiup dari selatan berkecepatan 7 km/jam.

    Pukul 20.00 WIB: Jarak pandang menyusut drastis menjadi 300 meter, suhu udara 27,3°C, kelembapan naik ke angka 79%, dan angin bergerak lambat dari tenggara berkecepatan 4 km/jam.

    Pukul 21.00 WIB: Jarak pandang tertahan pada level kritis 300 meter, suhu udara melandai ke 26,8°C, serta angin bertiup dari tenggara berkecepatan 6 km/jam.

    Pekatnya racun asap di malam hari yang merayap hingga ke dalam rumah-rumah warga kian memicu keresahan masyarakat, terutama terkait ancaman penyakit saluran pernapasan (ISPA) yang mulai mengintai anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

    “Asap malam ini terasa makin pedih di mata dan bau sangitnya tembus sampai ke dalam kamar. Dada mulai terasa sesak dan tenggorokan gatal. Kalau berkendara di jalan raya, jarak 300 meter sudah sangat gelap dan membahayakan,” ungkap Herman, salah seorang warga kawasan Baamang yang melintas di pusat kota Sampit, Jumat malam.

    Makin pekatnya racun asap pada malam hari di Kota Sampit menjadi bukti otentik bertahannya akumulasi asap kiriman dari ratusan titik panas (hotspot) masif di Seranau dan Pulau Hanaut yang terjebak oleh angin lambat (smoke trap).

    Pemkab Kotim dan BMKG didesak tidak hanya merilis data jarak pandang, tetapi wajib mempublikasikan konsentrasi partikel mikro berbahaya PM2.5 dan PM10 secara transparan kepada publik setiap jam guna memastikan status risiko kesehatan warga.

     Mengingat jarak pandang menyusut ke 300 meter dan warga mulai mengeluhkan sesak napas, Dinas Kesehatan Kotim wajib menyiagakan Puskesmas 24 jam serta mendistribusikan masker respirator standar N95/KN95 gratis untuk mencegah lonjakan kasus ISPA akut pada kelompok rentan. (***)

  • Tribun Stadion  28 Nopember Sampit Jadi Lapak Lem dan Miras: Satpol PP Amankan 5 Remaja

    Tribun Stadion  28 Nopember Sampit Jadi Lapak Lem dan Miras: Satpol PP Amankan 5 Remaja

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ruang publik dan fasilitas olahraga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali tercederai oleh maraknya perilaku berisiko di kalangan remaja. Tribun Stadion  28 Nopember Sampit digerebek Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kotim setelah terbukti dijadikan lokasi mengonsumsi minuman keras (miras) dan mengisap lem kaleng (ngelem) oleh sekelompok anak di bawah umur pada Rabu malam (7/10/2026).

    Penindakan cepat ini berawal dari aduan masyarakat setempat yang resah melihat aktivitas mencurigakan sekelompok remaja saat malam hari di area tribun stadion. Petugas yang melakukan pemantauan mendadak menyergap tujuh anak yang tengah mengonsumsi miras dan mengisap lem.

    Dari tujuh remaja tersebut, lima anak berusia 13 hingga 16 tahun berhasil diamankan petugas, sementara dua anak lainnya kabur melompati pagar stadion.

    Kelima remaja tersebut langsung digelandang ke Kantor Satpol PP Kotim untuk verifikasi. Hasil pemeriksaan mengonfirmasi bahwa tiga di antaranya masih berstatus pelajar aktif di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri di Sampit.

    Kepala Satpol PP Kotim Widya Yulianti melalui Kepala Bidang Penegakan Perundang-Undangan, Eribka Nida Gulo, membenarkan aksi penggerebekan di fasilitas publik tersebut.

    “Laporan masyarakat kami tindak lanjuti dengan pemantauan di lokasi. Dari hasil pemantauan, petugas menemukan anak-anak yang diduga mengonsumsi miras dan mengisap lem. Berdasarkan asesmen, ada yang mengaku sudah beberapa kali ngelem di kawasan tersebut,” terang Eribka Nida Gulo, Jumat (9/10/2026).

    Pemanggilan Orang Tua dan Guru: Bahaya Keracunan Otak Mengintai Remaja

    Merespons temuan ini, Satpol PP Kotim memanggil para orang tua dan perwakilan pihak sekolah tempat para remaja tersebut menimba ilmu. Usai diberikan pengarahan khusus dan menandatangani surat pernyataan, kelima anak diserahkan kembali kepada orang tua masing-masing dengan pendampingan pihak sekolah.

    Penanganan kasus ini menjadi perhatian serius dari sudut pandang kesehatan medis dan psikologi anak. Menghirup uap lem (inhalan) mengandung bahan kimia beracun yang secara drastis dapat merusak sel-sel otak, memicu gagal organ internal, hingga merenggut nyawa secara mendadak (Sudden Sniffing Death Syndrome). Ditambah konsumsi alkohol di usia dini, kombinasi ini berisiko fatal merusak fungsi kognitif dan kontrol emosi anak.

    Maraknya anak-anak yang leluasa menjadikan Tribun Stadion  28 Nopember Sampit sebagai tempat ngelem dan pesta miras menjadi bukti lemahnya sistem pengawasan serta pengamanan aset publik Pemkab Kotim.

    Dispora dan Satpol PP Kotim didesak untuk tidak membiarkan area Stadion  28 Nopember gelap dan tak terjaga pada malam hari. Pemasangan lampu sorot, CCTV, dan penyiagaan personil Satpam wajib dilakukan guna menutup celah kriminalitas remaja.

    Pemkab Kotim dan Polres Kotim dituntut menindak tegas warung atau toko yang sengaja menjual minuman beralkohol tanpa izin serta membatasi penjualan lem kaleng berbahan racun kepada anak-anak berstatus pelajar. (***)

  • 304 Gram Sabu Cempaga Dibongkar: Polres Kotim Didesak Tak Berhenti di Kurir Paruh Baya

    304 Gram Sabu Cempaga Dibongkar: Polres Kotim Didesak Tak Berhenti di Kurir Paruh Baya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Peredaran gelap narkotika jenis sabu skala besar kembali dibongkar jajaran Satresnarkoba Polres Kotawaringin Timur (Kotim). Sebanyak 14 paket sabu dengan berat kotor mencapai 304,1 gram berhasil disita dari dua lokasi penggerebekan di Desa Patai, Kecamatan Cempaga. Seorang perempuan paruh baya berinisial RN alias M (51) berhasil digelandang ke Mapolres Kotim.

    Pengungkapan kasus ini dieksekusi pada Selasa (6/10/2026) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB di pinggir Jalan Tjilik Riwut Km 48, Desa Patai. Penindakan cepat tersebut berkat tindak lanjut informasi akurat dari masyarakat terkait dugaan transaksi barang haram di kawasan tersebut.

    Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra melalui Ps. Kasi Humas IPTU Edi Walujo mengonfirmasi kronologi penangkapan saat tim berhasil mengamankan tersangka RN yang sedang berdiri mencurigakan di tepi jalan.

    “Setelah menunjukkan surat perintah tugas dan disaksikan perangkat desa serta ketua RT setempat, petugas melakukan penggeledahan. Di lokasi pertama tepi jalan, ditemukan 10 paket kecil sabu yang terbungkus tisu dan plastik hitam, berikut satu unit telepon genggam Samsung Galaxy A06 Pro,” terang IPTU Edi Walujo, Jumat (9/10/2026).

    Penggeledahan Lanjutan di Pondok: Ditemukan 4 Paket Besar dan Timbangan Digital

    Tak berhenti di pinggir jalan raya, tim Satresnarkoba bergerak melakukan penggebekan susulan ke sebuah pondok di Gang Bukit Ipuh, Jalan Tjilik Riwut, Desa Patai, merujuk pada pengakuan tersangka RN yang menyimpan sisa pasokan sabu lainnya.

    Di dalam pondok tersebut, polisi membongkar simpanan 4 paket sabu ukuran besar yang disembunyikan di dalam toples bekas terbungkus kantong plastik hitam. Selain itu, petugas juga mengamankan seperangkat alat pengemas berupa, 1 bal plastik klip transparan, 1 unit timbangan digital presisi dan potongan sedotan plastik berujung runcing

    Dengan total 14 paket sabu seberat 304,1 gram tersebut, tersangka RN bersama seluruh barang bukti langsung dibawa ke Mapolres Kotim guna menjalani proses penyidikan dan pengembangan kasus.

    Atas perbuatannya, perempuan berusia 51 tahun ini terancam hukuman berat dengan sangkaan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 UU No. 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

    Pengungkapan 304,1 gram sabu di Cempaga ini menjadi bukti sah bahwa Kabupaten Kotim masih menjadi pasar empuk sekaligus jalur transit utama (syndicate corridor) peredaran gelap narkotika. Keterlibatan perempuan paruh baya berusia 51 tahun yang menguasai ratusan gram sabu siap edar menegaskan pola pergeseran modus operandi sindikat yang memanfaatkan figur rentan sebagai benteng perantara (courier shield).

    Satresnarkoba Polres Kotim dituntut tidak berhenti pada penangkapan RN sebagai pengedar atau kurir di tingkat tapak. Penyidik wajib melacak rekam jejak digital pada telepon genggam tersangka guna membongkar bandar besar pemasok barang 300 gram tersebut.

    Keberhasilan warga Desa Patai membongkar peredaran ini wajib diapresiasi. Polres Kotim didesak memperketat patroli di sepanjang koridor Jalan Tjilik Riwut Km 40–Km 60 yang rawan dijadikan titik penyerahan barang (drop-off point) antar-wilayah. (***)

  • 945 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Seranau dan Pulau Hanaut Paling Padat

    945 Hotspot Terdeteksi di Kotim, Seranau dan Pulau Hanaut Paling Padat

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 945 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dalam akumulasi 24 jam terakhir hingga Kamis (8/10/2026) pukul 16.00 WIB.

    Data tersebut tercantum dalam laporan rekapitulasi hotspot BMKG dan BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebaran titik panas paling banyak berada di Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hilir Utara.

    “Seranau mencatat jumlah tertinggi dengan 294 hotspot. Rinciannya terdiri dari empat titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 285 menengah, dan lima titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkap Wakil Koordinator III Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) adalah Rihel.

    Pulau Hanaut berada di urutan berikutnya dengan 243 hotspot. Sebanyak enam titik masuk kategori rendah, 233 menengah, dan empat titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

    Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 144 hotspot, terdiri dari sembilan titik rendah, 132 menengah, dan tiga titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

    Tiga kecamatan tersebut menyumbang 681 hotspot atau sekitar 72 persen dari total yang terdeteksi dalam periode tersebut.

    Di wilayah lain, Teluk Sampit mencatat 41 hotspot dan Mentaya Hulu 40 titik. Mentawa Baru Ketapang tercatat 31 titik, Antang Kalang 29 titik, sedangkan Cempaga mencapai 26 titik.

    Sebaran berikutnya tercatat di Bukit Santuai sebanyak 18 titik, Kotabesi 15 titik, Mentaya Hilir Selatan 14 titik, Telaga Antang 11 titik, serta Baamang 11 titik.

    Parenggean dan Telawang masing-masing tercatat 10 hotspot. Cempaga Hulu lima titik dan Tualan Hulu tiga titik.

    Jika dilihat berdasarkan tingkat kepercayaan, dari total 945 hotspot terdapat 33 titik kategori rendah, 900 titik kategori menengah, dan 12 titik kategori tinggi.

    “Artinya, sebagian besar deteksi berada pada tingkat kepercayaan menengah. Data hotspot merupakan hasil deteksi satelit sehingga keberadaannya tetap perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” ungkap RIhel.

    Laporan BMKG dan BPBD tersebut mencantumkan rincian koordinat, waktu deteksi, satelit yang menangkap titik panas, serta desa atau kelurahan terkait. Satelit yang digunakan dalam pemantauan antara lain SNPP dan NOAA-20.

    Konsentrasi hotspot di Seranau dan Pulau Hanaut menjadi bagian yang perlu diperhatikan karena kedua wilayah tersebut berada di kawasan yang dalam beberapa hari terakhir juga menjadi bagian dari sebaran titik panas di Kotawaringin Timur.

    Dengan 945 hotspot terdeteksi hanya dalam periode 24 jam, peta kebakaran di Kotim masih menunjukkan tekanan tinggi.

    Angka tersebut bukan berarti 945 lokasi telah dipastikan terbakar. Namun, kepadatan deteksi hotspot memberikan gambaran bahwa pemantauan dan verifikasi lapangan masih menjadi pekerjaan penting, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. (***)

  • Beruang Terluka Belum Ditemukan, Lutung Abu-Abu Ditemukan Mati di Tanah Mas: Rentetan Tragedi Satwa di Perkotaan Sampit

    Beruang Terluka Belum Ditemukan, Lutung Abu-Abu Ditemukan Mati di Tanah Mas: Rentetan Tragedi Satwa di Perkotaan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Gelombang krisis lingkungan dan terdesaknya satwa liar ke kawasan permukiman di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin menunjukkan potret suram. Upaya penyisiran maraton BKSDA Pos Sampit bersama aktivis lingkungan untuk mengevakuasi beruang madu (Helarctos malayanus) yang mengalami luka parah di Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, belum membuahkan hasil hingga Rabu (7/10/2026) sore.

    Pencarian ketat dilakukan sejak pagi dengan menyusuri kawasan perkebunan, hutan, parit sumber air, hingga kebun nanas warga yang diduga menjadi sumber pakan satwa. Bahkan, satu unit drone pencari diterbangkan untuk menyisir tajuk vegetasi dari udara. Namun, beruang yang diduga kuat menjadi korban kejahatan jerat seling baja (jerat sisit) tersebut belum berjumpa fisik.

    Di tengah sengitnya perburuan waktu menyelamatkan beruang berdarah tersebut, BKSDA Pos Sampit justru kembali menerima laporan duka satwa pada pukul 17.40 WIB dari Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK).

    Sekor lutung abu-abu (Trachypithecus cristatus) dilaporkan terluka parah. Namun naas, saat tim BKSDA tiba di lokasi kejadian, mamalia langka tersebut telah meregang nyawa.

    “Saat petugas tiba di lokasi Tanah Mas, lutung abu-abu tersebut sudah dalam kondisi mati. Hasil pemeriksaan awal menemukan dua luka sobek menganga di bagian punggung dan pantat satwa. Dari keterangan warga, lutung terjatuh dari bangunan tinggi lalu diserang dan digigit anjing warga,” terang Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, Rabu (7/10/2026).

    Setelah pengumpulan data dan observasi selesai, bangkai lutung abu-abu tersebut langsung dikuburkan secara layak di wilayah Kelurahan Tanah Mas oleh tim BKSDA bersama relawan lingkungan Sampit.

    Dua Tragedi Satwa yang terjadi bersamaan pada Rabu (7/10/2026) beruang berkaki buntung yang berkeliaran di Km 8 serta lutung abu-abu yang tewas di Tanah Mas menjadi bukti tak terbantahkan hancurnya koridor vegetasi penyangga Kota Sampit.

    Ketika benteng hutan gambut di sekeliling Sampit hangus terbakar karhutla dan dirusak oleh maraknya jerat perburuan liar, satwa liar terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit (habitat fragmentation). Kondisi ini memaksa mereka merangsek ke zona aktivitas manusia, memicu kecelakaan fatal seperti terjatuh dari bangunan, diserang hewan peliharaan, hingga terancam mati perlahan akibat luka infeksi.

    BKSDA Kalteng didesak menerjunkan peralatan pencari bersensor panas (drone thermal) serta menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun). Beruang dalam kondisi terluka parah sangat defensif dan berpotensi memicu konflik mematikan jika terdesak masuk ke rumah warga di Gang Budi Mufakat.

    Kepolisian Polres Kotim bersama Balai Gakkum KLHK dituntut bertindak tegas dengan menggelar operasi penyisiran jerat baja serta menindak pelaku perburuan liar di sepanjang koridor Jalan Tjilik Riwut dan Lingkar Utara Sampit. (***)

  • Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    Kaki Beruang Luka Parah Akibat Jerat Seling Baja, Teror Bencana dan Kejahatan Satwa Merangsek ke Tjilik Riwut Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Konflik antara manusia dan satwa liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus memanas dengan tren yang makin memprihatinkan. Seekor beruang madu (Helarctos malayanus) berusia remaja-dewasa ditemukan berkeliaran dengan kondisi kaki belakang kiri luka parah membusuk di kawasan Jalan Tjilik Riwut Km 8, Gang Budi Mufakat, Sampit, Selasa (6/10/2026).

    ​Kemunculan satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut sempat direkam oleh warga saat beruang pincang tersebut merayap di dekat pohon tumbang tepi saluran parit. Video berdurasi singkat itu mendadak viral dan langsung direspons oleh BKSDA Pos Sampit.

    ​Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa dari visual luka menganga pada kaki beruang, terdapat indikasi kuat satwa tersebut merupakan korban kejahatan jerat berburu berbahan seling baja (jerat sisit).

    ​“Dari kondisi kakinya, kami menduga beruang ini sebelumnya terkena jerat. Biasanya jerat seperti itu menggunakan seling baja atau yang dikenal warga sebagai jerat sisit. Perkiraan kami beruang sempat terjerat cukup lama sebelum akhirnya berhasil memutus rantai atau melepaskan diri secara paksa ,” terang Muriansyah, Rabu (7/10/2026).


    ​Merespons laporan darurat warga, tim gabungan BKSDA Resort Sampit bersama para aktivis lingkungan diterjunkan ke lokasi kejadian. Petugas langsung membagi tim untuk menyisir kawasan perkebunan kelapa sawit seluas dua hektare di Gang Budi Mufakat.

    ​Namun hingga Rabu sore hari menjelang gelap, keberadaan beruang terluka tersebut belum berhasil dijumpai fisik. Petugas terpaksa menghentikan sementara penyisiran demi alasan keselamatan operasional.

    ​”Beruang dalam kondisi normal saja wajib kita waspadai, apalagi dalam kondisi terluka parah. Satwa yang kesakitan akan jauh lebih agresif, defensif, dan berisiko menyerang jika merasa terancam. Kami tidak ingin mengambil risiko, pencarian lanjutan akan diatur kembali,” tegas Muriansyah.

    ​Meskipun keterkaitan antara kemunculan beruang ini dengan kepungan 506 titik panas (hotspot) karhutla Kotim belum bisa disimpulkan secara medis sebelum satwa dievakuasi, warga sekitar mengakui bahwa beruang tersebut belakangan makin sering merangsek ke kebun kelapa sawit dan mengincar tanaman nanas milik warga untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan

    ​Kemunculan beruang dengan kaki hancur di Jalan Tjilik Riwut Km 8 ini membuka sisi gelap ganda bencana lingkungan di Kotim: kehancuran habitat akibat karhutla dan maraknya perburuan liar menggunakan jerat seling baja.

    ​BKSDA Resort Sampit bersama aparat kepolisian didesak tidak hanya fokus mencari keberadaan beruang, tetapi wajib menggelar operasi penyisiran dan pembersihan jerat seling baja di sekitar perkebunan Km 8 Tjilik Riwut. Jerat sisit merupakan pemicu cacat permanen dan kematian perlahan bagi satwa dilindungi.

    Mengingat kondisi beruang mengalami luka infeksi serius, BKSDA Kalteng didesak menyiagakan dokter hewan dan senapan pembius saat pencarian dilanjutkan. Beruang terluka yang terdesak ke pemukiman padat Km 8 berpotensi memicu puncaknya konflik fatal dengan masyarakat jika tidak ditangani secara profesional. (***)

  • Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit bersama BPBD Kotim per Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi akumulasi sebanyak 506 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kotim dalam 24 jam terakhir. 

    ​Angka ini memperlihatkan lonjakan tajam dan mengonfirmasi bahwa amukan api belum terkendali, terutama di wilayah pesisir serta seberang alur Sungai Mentaya. 

    “Bagendang Permai, Sungai Lepeh, kebakaran besar,” ungkap Fatma, salah seorang warga di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Rabu (7/10/2026).

    ​Dari total 506 titik panas, konsentrasi terbesar berada di wilayah penyangga selatan dan seberang kota Sampit: 
    ​Kecamatan Seranau: 227 titik (Mentaya Seberang 121 titik, Ganepo 56 titik, Seragam Jaya 50 titik). 

    ​Kecamatan Pulau Hanaut: 180 titik (Satiruk 43 titik, Serambut 40 titik, Bantian 33 titik, Babaung 22 titik, Bapinang Hilir 17 titik, Bapinang Hulu 7 titik, Bamadu 7 titik, Hanaut 5 titik, Babirah 4 titik, Bapinang Hilir Laut 1 titik, Penyaguan 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga: 29 titik (Luwuk Ranggan 21 titik, Rubung Buyung 8 titik).

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU): 22 titik (Bagendang Hilir 15 titik, Natai Baru 6 titik, Bagendang Tengah 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga Hulu: 15 titik (Parit 5 titik, Bukit Raya 4 titik, Sudan 4 titik, Sungai Ubar Mandiri 2 titik). 
    ​Kecamatan Mentaya Hulu: 7 titik (Pahirangan 4 titik, Kapuk 2 titik, Tangar 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentawa Baru Ketapang: 6 titik (Bangkuang Makmur 3 titik, Bapeang 3 titik). 

    ​Kecamatan Parenggean: 5 titik (Manjalin 4 titik, Kabuau 1 titik). 

    ​Kecamatan Telawang: 5 titik (Tanah Putih 5 titik). 
    ​Kecamatan Teluk Sampit: 5 titik (Lampuyang 5 titik). 
    ​Kecamatan Kota Besi: 2 titik (Palangan 1 titik, Rasau Tumbuh 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Selatan: 1 titik (Sei Ijum Raya 1 titik). 

    ​Kecamatan Bukit Santuai: 1 titik (Tumbang Batu 1 titik). 
    ​Kecamatan Tualan Hulu: 1 titik (Bukit Makmur 1 titik). 
    ​
    ​Korelasi data hotspot BMKG/BPBD Kotim per 7 Oktober 2026 ini memberikan benang merah yang jelas terhadap seluruh rangkaian krisis lingkungan, satwa, dan kesehatan masyarakat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir:

    Krisis Asap & ISPU Ekstrem
    ​Fakta Data: Kecamatan Seranau (227 titik) dan Pulau Hanaut (180 titik) secara akumulatif menyumbang 407 titik panas (80,4% dari total hotspot Kotim). Kelurahan Mentaya Seberang sendiri mencatatkan 121 titik. 

    ​Adapun, data geografis ini membuktikan mengapa udara Kota Sampit yang berada tepat di seberang Sungai Mentaya mengalami fenomena pengendapan asap (smoke trap). Hal ini menjelaskan penyebab Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bergerak fluktuatif di level sangat berbahaya (300–400) hingga sempat menyentuh angka ekstrem di atas 1.000, serta melumpuhkan jarak pandang hingga tersisa 10–20 meter. 
    ​
    Asap pekat hasil pembakaran gambut dalam skala masif di Seranau terus terbawa angin melintasi sungai ke permukiman padat. Ini secara langsung memicu krisis kesehatan reproduksi akibat tingginya konsentrasi racun partikel halus PM2.5, yang meningkatkan risiko kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bagi janin ibu hamil di Kota Sampit.

    ​Tingginya kerapatan hotspot di Ganepo secara objektif menjelaskan mengapa seekor trenggiling dilindungi ditemukan dalam kondisi kritis terpanggang api. Kobaran api yang menyebar cepat di 56 titik tersebut mengurung habitat satwa dan memutus jalur penyelamatan diri mereka. 

    Kejadian Karhutla Bagendang Hilir
    ​Fakta Data: Desa Bagendang Hilir di Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) mencatatkan 15 titik panas. 

    ​Hal ini mengonfirmasi penyebab terbakarnya 10 hektare hutan dan semak belukar yang berlokasi sangat dekat dengan jalan raya dan permukiman warga pada Rabu sore, sehingga membutuhkan pengerahan armada MTPK 12 Damkar Sektor Samuda bersama BPBD dan MPA. (***)