Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Kebakaran Hutan dan Semak Belukar Dekat Permukiman Samuda Kecil, 3 Hektare Terbakar

    Kebakaran Hutan dan Semak Belukar Dekat Permukiman Samuda Kecil, 3 Hektare Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kebakaran hutan dan semak belukar terjadi di dekat permukiman warga Desa Samuda Kecil, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu malam (14/10/2026). Petugas pemadam kebakaran bersama sejumlah unsur terkait melakukan pemadaman dan pendinginan hingga pukul 21.00 WIB. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai tiga hektare.

    Berdasarkan laporan Pos Damkar Sektor Samuda, informasi kebakaran diterima dari masyarakat. Petugas berangkat pukul 13.30 WIB dan tiba di lokasi 15 menit kemudian. Operasi pemadaman dimulai pukul 13.50 WIB.

    “Objek yang terbakar berupa hutan dan semak belukar di dekat permukiman. Hingga operasi selesai, penyebab kebakaran belum diketahui,” ungkap Kepala Damkar Pos Samuda Supianor.

    Pemadaman Berlangsung hingga Malam

    Pos Damkar Sektor Samuda mengerahkan satu unit MTPK 12 dengan empat personel, yakni Kepala Pos Supianor, Saleh, Haris, dan Rusdiansyah.

    Penanganan juga melibatkan unsur Kecamatan MHS, Polsek Samuda, Koramil Samuda, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) tingkat kecamatan dan desa.

    Setibanya di lokasi, petugas melakukan pemadaman dan dilanjutkan dengan pendinginan pada area yang terbakar. Setelah operasi selesai, unit kembali untuk mengisi tangki air sebelum disiagakan untuk penanganan berikutnya.

    Laporan Kepala Pos Damkar Sektor Samuda Supianor menyebut dukungan logistik selama operasi berada dalam kategori cukup. Penanganan, kemampuan petugas, dan komunikasi juga dilaporkan berjalan baik.

    Penyebab Belum Diketahui

    Luas lahan terbakar diperkirakan sekitar tiga hektare. Laporan tidak mencatat adanya korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.

    Meski operasi pemadaman dan pendinginan telah selesai, penyebab munculnya api belum diketahui. Belum ada pula keterangan lebih lanjut mengenai titik awal kebakaran maupun hasil pemeriksaan di lokasi.

    Lokasi kebakaran yang berada dekat permukiman menjadi perhatian dalam penanganan. Namun, laporan yang tersedia belum merinci jarak area terbakar dari rumah warga ataupun apakah terdapat bangunan yang terancam. (***)

  • Sudah Tercekik Asap, Warga Sampit Kini Dipaksa Minum Air Asin: Intrusi Laut Tembus Baamang

    Sudah Tercekik Asap, Warga Sampit Kini Dipaksa Minum Air Asin: Intrusi Laut Tembus Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menderita di bawah cengkeraman racun asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum cukup bagi warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kini, masyarakat Kota Sampit dan sekitarnya dihadapkan pada penderitaan ganda: rusaknya sumber air bersih akibat lonjakan kadar garam (salinitas) Sungai Mentaya. Lidah intrusi air laut yang kian menyorok jauh ke hulu resmi menembus wilayah Kecamatan Baamang, Rabu (14/10/2026).

    Kondisi darurat ini memaksa Perumdam Tirta Mentaya Kotim merilis imbauan agar warga di lima kecamatan terdampak menghentikan total penggunaan air leting/PDAM untuk kebutuhan minum dan memasak.

    Kecamatan Baamang menjadi wilayah terbaru yang terjangkit racun air asin setelah sebelumnya melumpuhkan pasokan air bersih di Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, dan Mentawa Baru Ketapang.

    Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Kotim  Edy Dyufriadi, membeberkan bahwa air baku di Intake Tanah Mas, Kecamatan Baamang, telah berubah rasa menjadi payau akibat kemarau ekstrem yang mengeringkan debit air tawar dari daratan.

    “Sehubungan dengan kondisi musim kemarau yang menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan peningkatan kadar salinitas, air baku Sungai Mentaya di Intake Tanah Mas mulai terasa payau. Pelanggan di lima kecamatan diimbau tidak menggunakan air distribusi untuk minum maupun memasak, dan sementara ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan MCK,” tegas Edy Dyufriadi, Rabu (14/10/2026).

    Debit Anjlok 50 Liter per Detik dan Penyaluran Bantuan Digeser ke Kota Besi

    Dampak mengganasnya intrusi air laut ini tidak hanya merusak cita rasa air baku, tetapi juga memangkas kemampuan produksi Perumdam Tirta Mentaya. Debit air baku dilaporkan merosot drastis antara 40 hingga 50 liter per detik, yang mengakibatkan gangguan tekanan dan penurunan volume distribusi di zona pelayanan Baamang dan Ketapang.

    Meski demikian, Perumdam memilih tetap mengoperasikan pompa distribusi agar kebutuhan mendasar MCK (mandi, cuci, kakus) masyarakat tidak terhenti total. Sebagai langkah darurat, titik pengisian tangki bantuan air bersih layak minum terpaksa digeser dari Baamang ke Kecamatan Kota Besi yang pasokannya dinilai masih aman.

    Namun, Perumdam memperingatkan zona aman tersebut terancam sirna. Jika hujan berintensitas tinggi tidak kunjung turun hingga akhir Oktober 2026, air asin diprediksi bakal terus merayap naik dan melumpuhkan intake air di Kecamatan Kota Besi.

    Lumpuhnya kualitas air minum di lima kecamatan utama Kotim menjadi bukti konkret rapuhnya infrastruktur mitigasi bencana kekeringan Perumdam Tirta Mentaya. Membiarkan ratusan ribu warga mengonsumsi air asin atau membeli air galon dengan biaya membengkak di tengah bencana asap karhutla adalah bentuk pembiaran krisis multidimensi.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Urgensi Pendistribusian Tangki Air Bersih Gratis: Pemkab Kotim dan Perumdam Tirta Mentaya didesak mengerahkan seluruh armada tangki air secara sistematis ke permukiman padat penduduk. Bantuan air minum gratis wajib didistribusikan untuk mencegah keputusasaan warga yang nekat memasak menggunakan air asin berpolusi tinggi.
    2. Pembangunan Bendung Gerak/Teknologi Pengolahan Salinitas: Perumdam dan Dinas PUPR Kotim dituntut menyusun solusi jangka panjang berupa pembangunan struktur penahan intrusi (estuary dam) atau sistem pengolahan air asin (Desalination System) pada intake utama, agar krisis tahunan ini tidak terus berulang setiap kali kemarau melanda.

    Sudah tercekik asap, warga Sampit kini dipaksa minum air asin!  Intrusi air laut tembus Baamang, air PDAM di 5 kecamatan resmi tak layak minum dan memasak!  Debit air turun 50 liter/detik, Pemkab dan  Perumdam didesak pasok tangki air bersih gratis untuk warga! (***)

  • 3 Relawan Gugur Padamkan Api, Menhut Malah Melengos ke Kobar: Tangis Wabup Kotim Meledak di Telepon

    3 Relawan Gugur Padamkan Api, Menhut Malah Melengos ke Kobar: Tangis Wabup Kotim Meledak di Telepon

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Batalnya kunjungan kerja Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu duka mendalam sekaligus amarah publik yang meledak. Di tengah pertaruhan nyawa membendung bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim bersama para relawan dibuat gigit jari setelah berjam-jam menunggu kedatangan menteri di Jalan Jaksa Agung, Sampit, Rabu (14/10/2026). Rombongan kementerian justru melengos dan mengalihkan rute ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat pada hari yang seharusnya diagendakan di Kotawaringin Timur.

    Pemerintah daerah telah merampungkan seluruh prosedur penyambutan, mulai dari pengamanan lintasan, pemetaan titik kritis peninjauan karhutla, hingga hidangan jamuan di Restoran Phoenix. Kekecewaan yang teramat sangat akhirnya meletup dalam sambungan telepon antara Wakil Wabup Kotim Irawati dan Staf Ahli Menhut Fahrizal Fitri.

    Dengan suara bergetar menahan tangis dan emosi, Irawati meluapkan kepedihan atas sikap kementerian yang terkesan tak bersimpati pada pengorbanan jiwa para pejuang pemadam di tingkat tapak.

    “Kami juga, Pak, manusia yang perlu diperhatikan. Tiga orang yang meninggal relawan kami, Pak! Kami sudah mengorbankan relawan kami, api terus meluas dan tim masih berjibaku memadamkan api sampai jam dua malam,” jerit Irawati dalam percakapan telepon bertekanan tinggi tersebut, Rabu (14/10/2026).

    Sumbat Komunikasi Pusat-Daerah dan Realita Berat Petugas Tapak

    Staf Ahli Menhut Fahrizal Fitri berdalih tidak mengetahui bahwa jajaran Forkopimda Kotim sedang bersiap menyambut di lokasi peninjauan. Fahrizal beralasan rombongan harus berkoordinasi di Pangkalan Bun serta bersiap kembali ke Palangka Raya menyambut kedatangan Menteri Koordinator pada Jumat (16/10/2026). Ia berjanji menyampaikan keluhan Wabup Kotim kepada menteri serta membuka peluang persinggahan singkat saat perjalanan balik melalui jalur darat, meski tanpa kepastian waktu.

    Batalnya peninjauan ini menutup pintu bagi Pemkab Kotim untuk memperlihatkan bobroknya kendala operasional di lapangan. Penjabat Sekretaris Daerah Kotim Diana Setiawan membeberkan bahwa ribuan titik api berada di lokasi terisolasi yang memaksa petugas berjalan kaki belasan kilometer. Bahkan saat kehabisan logistik, para relawan terpaksa menyaring air rawa seadanya untuk bertahan hidup di tengah kepungan asap.

    Skala bencana di Kotim sendiri merupakan yang paling kritis di Kalteng. Data BPBD Kotim per 11 Oktober 2026 mencatat 1.400 kejadian kebakaran, 2.137 hektare lahan hangus (884 hektare di Kecamatan Seranau), serta 44.251 titik panas.

    Insiden pembatalan sepihak dan ketiadaan koordinasi ini bukan sekadar persoalan salah paham jadwal, melainkan bentuk pengabaian terhadap krisis kemanusiaan di Kotim. Saat tiga nyawa relawan lokal melayang dan ribuan hektare tanah terbakar, jajaran Kementerian Kehutanan justru mempertunjukkan lemahnya tata kelola komunikasi bencana.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Evaluasi Total Jalur Komunikasi Kementerian Kehutanan: Kemenhut dituntut menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada jajaran Forkopimda Kotim dan keluarga relawan yang gugur. Alasan koordinasi internal tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menelantarkan jajaran pejabat daerah dan relawan yang telah bersiap di lapangan.
    2. Realisasi Kompensasi dan Armada Pemadam: Pemkab Kotim didesak memanfaatkan rekaman komplain resmi ini untuk menekan Kemenhut agar segera mencairkan santunan bagi keluarga relawan yang gugur, serta menerjunkan bantuan alat pemadam tekanan tinggi dan armada water bombing tanpa syarat. (***)

  • Rapat Digelar Lokasi Disiapkan, Kunjungan Menhut ke Kotim Batal: Warga Kecewa Berat Ditinggal ke Kobar

    Rapat Digelar Lokasi Disiapkan, Kunjungan Menhut ke Kotim Batal: Warga Kecewa Berat Ditinggal ke Kobar

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Harapan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan masyarakat untuk menagih bantuan pemadam serta melaporkan secara langsung bencana parah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni pupus total. Kendati Pemkab Kotim telah merampungkan rapat koordinasi dan menyiapkan skenario peninjauan lapangan, kunjungan kerja Menhut yang dijadwalkan pada Rabu (14/10/2026) mendadak dipastikan batal.

    Rombongan Menteri Kehutanan secara mengejutkan membatalkannya dan memilih langsung meluncur ke Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

    Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kotim, Legendaria Okta BN, mengonfirmasi pembatalan mendadak tersebut berdasarkan laporan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho. Pengalihan rute ini otomatis membatalkan seluruh agenda peninjauan zona kritis karhutla di Mentawa Baru Hulu dan Mentawa Baru Ketapang (MBK) serta forum diskusi bersama Forkopimda Kotim.

    Padahal, sehari sebelumnya, jajaran Pemkab Kotim telah menggelar rapat koordinasi matang di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kotim pada Selasa (13/10/2026) pagi demi menyambut kedatangan Menhut.

    Pembatalan sepihak tanpa alasan transparan ini memicu gelombang kekecewaan mendalam dari masyarakat Kotim yang selama berminggu-minggu terendam racun asap dan terancam penyakit saluran pernapasan.

    “Ternyata Menhut lebih mementingkan ke Pangkalan Bun daripada Kotim. Kotim ini wilayah terparah, loh! Dampaknya langsung ke manusia, enggak cuma hewan. Ternyata nyawa manusia di Sampit tak kalah berharga dibanding orangutan,” cetus Rahmat, salah seorang warga Sampit, menumpahkan kekecewaannya, Rabu (14/10/2026).

    Bandingkan Data Kritis: Kotim Hangus 2.137 Hektare dan 44.251 Hotspot Ditinggalkan

    Di balik pembatalan kunjungan Menhut Raja Juli Antoni, fakta lapangan menunjukkan bahwa Kabupaten Kotim merupakan daerah terparah korban amukan karhutla di Kalteng. Data resmi BPBD Kotim per 11 Oktober 2026 mencatat angka kehancuran ekologis yang fantastis:

    • 1.400 kejadian kebakaran lahan aktif.
    • 2.137 hektare total luas lahan terbakar (Kecamatan Seranau menyumbang angka terbesar yaitu 884 hektare).
    • 44.251 titik panas (hotspot) terekam satelit sepanjang musim kemarau ini.

    Sesuai rincian agenda yang dihimpun, Menhut justru dijadwalkan meninjau kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, lokasi karhutla Pangkalan Bun, Daops Manggala Agni Kobar, serta menggelar rapat evaluasi di Kobar pada Kamis (15/10/2026) sebelum kembali ke Jakarta pada Jumat (16/10/2026).

    Pengalihan sepihak agenda kunjungan Menhut Raja Juli Antoni melukai nurani publik Kotim dan memicu kesan sikap diskriminatif penanganan bencana oleh Kementerian Kehutanan. Ketika 2.137 hektare lahan di Kotim hangus dan ratusan ribu warga dipaksa bernapas dalam racun asap hingga penerbangan lumpuh, Menhut justru melompati daerah paling terpuruk.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Tagih Kepastian Realisasi Bantuan Tanpa Kunjungan Fisik: Pembatalan peninjauan lapangan tidak boleh menjadi alasan bagi Kemenhut untuk mengabaikan jeritan Satgas Karhutla Kotim. Pemkab Kotim didesak menyurat resmi untuk menagih pemenuhan armada pemadam modern, mesin high pressure, serta percepatan penuntasan status penetapan kawasan hutan.
    2. Evaluasi Penanganan Bencana Berbasis Kerugian Manusia: Kementerian Kehutanan dan Satgas Karhutla Nasional diingatkan bahwa prioritas penanganan karhutla wajib menempatkan keselamatan jiwa dan kesehatan masyarakat di tingkat teratas, bukan sekadar agenda simbolis di wilayah konservasi.

    Menhut Raja Juli Antoni batal ke Kotim! Beralih ke Kobar, warga Sampit murka, sebut nyawa manusia tak dianggap! 2.137 Hektare lahan hangus & 44.251 hotspot Kotim diabaikan, Pemkab didesak tetap tagih peralatan pemadam ke pusat! (****)

  • Menhut Raja Juli Antoni Dijadwalkan Turun ke Kotim, Peralatan dan Penetapan Kawasan Jadi Harapan

    Menhut Raja Juli Antoni Dijadwalkan Turun ke Kotim, Peralatan dan Penetapan Kawasan Jadi Harapan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Di tengah kepungan asap pekat dan amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian tak terkendali, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dijadwalkan turun langsung meninjau sejumlah titik lokasi pembumihangusan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Rabu (14/10/2026).

    Rombongan Menhut dijadwalkan tiba di Sampit pada Selasa sore (13/10/2026) melalui jalur darat dari Palangka Raya. Peninjauan lapangan akan difokuskan pada zona kritis kebakaran di wilayah Kelurahan Mentawa Baru Hulu dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), disusul agenda diskusi tertutup bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim.

    Koordinator Lapangan Satuan Tugas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, membenarkan agenda peninjauan menteri tersebut dan menegaskan bahwa momentum ini wajib menjadi ajang penagihan komitmen pemerintah pusat.

    “Ya  Menhut kemungkinan nanti sore sampai ke Sampit dan hari Rabu baru meninjau ke lapangan. Harapan kita, dengan mereka datang, mudah-mudahan bantuan-bantuan yang kita harapkan bisa terealisasi, apakah terkait bantuan peralatan pemadaman atau penetapan status kawasan,” tegas Rihel, Selasa (13/10/2026).

    Rekor Parah Karhutla Kotim: 2.137 Hektare Hangus dan 44.251 Hotspot

    Kedatangan Menhut Raja Juli Antoni bertepatan dengan rekor kehancuran ekologis terparah di Kotim. Data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 11 Oktober 2026 mencatat sebanyak 1.400 kejadian kebakaran dengan total luas lahan terbakar fantastis mencapai 2.137 hektare.

    Kecamatan Seranau menjadi wilayah paling porak-poranda dengan luasan lahan terbakar menyentuh 884 hektare. Secara akumulatif, sensor satelit merekam 44.251 titik panas (hotspot) yang mengepung Kotim sepanjang musim kemarau ini.

    Sempitnya keterbatasan armada pemadam darat serta konflik ketidakjelasan status penetapan kawasan hutan selama ini kerap menjadi tembok penghambat bagi petugas Satgas Karhutla di lapangan untuk melakukan pemadaman dan penegakan hukum.

    Kunjungan kerja Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Kotim tidak boleh sekadar menjadi ajang seremonial foto di atas lahan gambut yang mengepulkan asap. Besarnya angka 2.137 hektare lahan hangus menjadi bukti sah bahwa Satgas Karhutla Kotim telah kehabisan napas menghadapi anarki kebakaran tanpa sokongan armada pemadam udara (water bombing) dan alat berat dari pusat.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    1. Realisasi Bantuan Peralatan Pemadam Modern dan Armada Air: Menhut didesak tidak hanya membawa janji manis. Kementerian Kehutanan wajib merealisasikan pengerahan helikopter water bombing tambahan, mesin pompa tekanan tinggi (high pressure pump), serta perlengkapan perlindungan diri (PPE) bagi Tim Serbu Api di tingkat tapak.
    2. Penuntasan Konflik Penetapan Kawasan Hutan: Karhutla di Kotim tak pernah usai karena maraknya overlapping klaim kawasan hutan dan perkebunan. Kemenhut dituntut mempermudah proses legalitas penetapan kawasan serta memperketat sanksi pencabutan izin bagi korporasi yang terbukti membiarkan konsesi mereka terbakar. (***)

  • Gedor Pengedar Pasir Putih: Satresnarkoba Polres Kotim Sita Paket Sabu dan Alat Pengemas

    Gedor Pengedar Pasir Putih: Satresnarkoba Polres Kotim Sita Paket Sabu dan Alat Pengemas

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Upaya penumpasan peredaran gelap narkotika di wilayah hukum Polres Kotawaringin Timur (Kotim) kembali membuahkan hasil nyata. Seorang pria berinisial S tak berkutik saat tim Satresnarkoba Polres Kotim menyergap dan menggeledah saku celananya hingga menemukan satu paket plastik klip berisi kristal bening diduga kuat narkotika jenis sabu.

    Penggerebekan tersebut dieksekusi di area pekarangan belakang rumah tersangka di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Sampit, pada Senin (12/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

    Aksi gedor penindakan ini berawal dari aduan masyarakat setempat yang resah akan maraknya indikasi transaksi barang haram di lingkungan permukiman mereka. Menindaklanjuti informasi akurat tersebut, petugas bergerak cepat melakukan pemantauan ketat hingga mendapati tersangka S sedang berada di pekarangan belakang rumahnya.

    Plt. Kasi Humas Polres Kotim IPTU Edi Walujo, mewakili Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra, mengonfirmasi bahwa penggeledahan dilakukan secara transparan dan sesuai prosedur kepolisian.

    “Penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat yang langsung kami tindak lanjuti melalui penyelidikan. Saat dilakukan penggeledahan dengan disaksikan Ketua RT dan warga setempat, petugas menemukan satu bungkus plastik klip berisi kristal yang diduga sabu di saku celana terlapor,” terang IPTU Edi Walujo, Selasa (13/10/2026).

    Selain menyita paket kristal diduga sabu, petugas mengamankan seperangkat alat pengemas dan uang tunai dari saku celana tersangka. Dari saku sebelah kiri, polisi menyita uang tunai sebesar Rp250.000 yang diduga hasil penjualan. Sementara dari saku sebelah kanan, petugas membongkar barang bukti berupa satu pak plastik klip transparan siap pakai, potongan sedotan hitam yang diruncingkan sebagai sekop paket, serta satu unit ponsel Oppo A3X berwarna merah metalik beserta kartu SIM.

    Seluruh barang bukti beserta tersangka S langsung digelandang ke Mapolres Kotim guna menjalani proses penyidikan mendalam. Atas perbuatannya, S disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (1) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal VII angka 50 UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

     

    Penangkapan tersangka S di Pasir Putih menegaskan bahwa peredaran gelap narkotika di Sampit makin berani merambah area pekarangan rumah warga. Temuan satu pak plastik klip siap pakai dan sedotan peruncing mengindikasikan kuat bahwa lokasi tersebut  

    Penyidik Satresnarkoba Polres Kotim dituntut tidak berhenti pada penyitaan paket sabu di saku celana S. Penelusuran riwayat komunikasi pada ponsel Oppo A3X milik tersangka wajib dibuka secara transparan guna membongkar jaringan pemasok utama (bandar) yang menyuplai barang haram tersebut ke wilayah Pasir Putih.

    Pemkab Kotim bersama aparat kepolisian didesak menggiatkan peran aktif Pos Satkamling serta sosialisasi pencegahan narkoba di kawasan Mentawa Baru Ketapang, agar area pemukiman padat tidak terus-menerus disusupi jaringan pengedar.

  • Rimba Kotim Hangus, Orangutan Merangsek Kandan: Jejak Sarang Bongkar Krisis Habitat

    Rimba Kotim Hangus, Orangutan Merangsek Kandan: Jejak Sarang Bongkar Krisis Habitat

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memicu teror krisis habitat yang kian mengkhawatirkan. Hangusnya benteng ekosistem hutan gambut memaksa satwa langka yang dilindungi melarikan diri dari kobaran api dan terdesak masuk ke perkebunan warga. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit menggelar penyisiran dan observasi darurat di kebun karet dan rotan milik masyarakat Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Senin (12/10/2026).

    Penyisiran intensif yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.50 WIB tersebut dilakukan guna menindaklanjuti laporan resmi warga bernama Sandy mengenai kemunculan koloni orangutan (Pongo pygmaeus) yang merangsek ke area perkebunan demi bertahan hidup dari ancaman kelaparan dan kepungan api.

    Meskipun satwa tidak dijumpai fisik saat penyisiran berjalan, petugas gabungan bersama warga menemukan jejak aktivitas otentik di atas lahan perkebunan seluas 10 hektare tersebut. Petugas menemukan satu sarang di permukaan tanah, dua sarang kelas C di atas pohon, serta bekas kulit kayu yang telah dikupas dan dimakan orangutan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa berdasarkan analisis fisik struktur sarang serta keterangan warga setempat, populasi satwa yang berkeliaran di lokasi tersebut diperkirakan berjumlah lebih dari satu individu.

    “Dari sarang yang ditemukan dan keterangan warga, diduga kuat orangutan di lokasi tersebut berjumlah tiga individu. Kami bersama tiga warga, termasuk Pak Karyadi, menyisir areal kebun karet, rotan, dan semak belukar ini menggunakan sepeda motor trail dan berjalan kaki,” terang Muriansyah.

    Temuan tiga sarang orangutan di perkebunan karet Desa Kandan menjadi bukti otentik hancurnya koridor jelajah (home range) akibat maraknya karhutla dan pembukaan lahan masif di Kotim. Ketika rimba tempat tinggal mereka hangus terbakar, mamalia langka ini terisolasi di pulau-pulau vegetasi sempit dan terdesak merangsek ke perkebunan warga untuk mencari pakan alternatif.

    BKSDA Kalteng didesak tidak hanya memberikan imbauan pasif kepada warga. Tim rescue bersama tim medis dokter hewan wajib menyiagakan senapan pembius (tranquilizer gun) dan perangkap khusus guna mengevakuasi ketiga orangutan tersebut sebelum menjadi korban amuk massa atau konflik fatal dengan warga.

    Pemkab Kotim dan Polres Kotim dituntut meningkatkan edukasi hukum UU Nomor 5 Tahun 1990 kepada masyarakat Desa Kandan. Warga dilarang keras melukai, menembak, atau memasang jerat terhadap orangutan yang terdesak mencari makan di kebun warga.(***)

  • NAM Air Hentikan Penerbangan Sampit hingga 15 Oktober, Kabut Asap Belum Mereda

    NAM Air Hentikan Penerbangan Sampit hingga 15 Oktober, Kabut Asap Belum Mereda

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Maskapai NAM Air membatalkan penerbangan dari dan menuju Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), hingga 15 Oktober 2026. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat jarak pandang di bandara belum memenuhi batas minimum keselamatan penerbangan.

    Pembatalan yang berlaku mulai 11 Oktober itu mencakup dua rute, yakni Sampit-Surabaya-Sampit dan Sampit-Semarang-Sampit. Keputusan tersebut diambil setelah kondisi jarak pandang berulang kali tidak memungkinkan penerbangan beroperasi sesuai jadwal.

    District Manager NAM Air Sampit Harli Rahman mengatakan, penerbangan terakhir yang dapat beroperasi dari Sampit berlangsung pada 22 September 2026, dengan rute Semarang.

    “Penerbangan kita kemarin itu terakhir kita bisa terbang tanggal 22 September. Setelah itu kondisi di bandara Sampit ini setiap harinya jarak pandang tidak mencapai jarak pandang minimum,” kata Harli, Senin (12/10/2026).

    Sebelumnya, NAM Air masih membuka penjualan tiket meskipun kondisi cuaca di Sampit belum mendukung penerbangan. Namun, penerbangan berulang kali harus dibatalkan pada hari keberangkatan karena jarak pandang berada di bawah batas minimum.

    Situasi itu berisiko membuat penumpang telanjur datang ke bandara, kemudian menunggu berjam-jam tanpa kepastian keberangkatan. Karena itu, maskapai memilih mengumumkan pembatalan lebih awal agar calon penumpang dapat menyesuaikan rencana perjalanan.

    Menurut Harli, pembatalan dilakukan secara bertahap untuk empat hari ke depan. Jika kabut asap belum membaik setelah periode tersebut, NAM Air akan mempertimbangkan perpanjangan pembatalan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.

    Harli menyebut, berdasarkan koordinasi dan informasi cuaca dari BMKG, kabut asap berpotensi bertahan hingga hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Sampit. Pihaknya terus memantau perkembangan kondisi sebelum menentukan kelanjutan operasional penerbangan.

    Di tengah penghentian sementara penerbangan, NAM Air masih membuka loket pelayanan di Bandara H Asan Sampit mulai pukul 09.00 WIB. Calon penumpang diimbau memeriksa status penerbangan kepada petugas maskapai sebelum berangkat ke bandara.

    Harli juga menyebut Bandara Iskandar Pangkalan Bun sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan penumpang. Namun, ia memperkirakan kondisi di bandara tersebut tidak jauh berbeda dengan Sampit.

    Pembatalan lebih awal juga dilakukan untuk mengantisipasi risiko operasional. Harli mengatakan, pihaknya belum menghitung secara pasti kerugian akibat pembatalan penerbangan. Meski demikian, penerbangan dalam kondisi jarak pandang yang tidak memadai berpotensi menambah biaya operasional.

    Salah satu risiko yang diantisipasi ialah pesawat harus melakukan holding, atau berputar di udara, ketika tiba di Sampit karena kondisi bandara belum memungkinkan untuk pendaratan. Situasi tersebut dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.

    Bagi masyarakat, dampak kabut asap kini melampaui gangguan jarak pandang di darat. Pembatalan penerbangan membatasi pilihan perjalanan udara dari dan menuju Sampit, sementara kepastian pemulihan layanan masih bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang.

    “Semoga kondisi cuaca di Sampit segera membaik, tidak kabut asap lagi, sehingga penerbangan dapat kembali beroperasi normal dan mobilitas masyarakat tidak terus terganggu,” pungkas Harli. (***)

  • Langit Sampit Tertutup Racun Asap: Ratusan Penumpang Terdampar, Rute Udara Dibatalkan Massal

    Langit Sampit Tertutup Racun Asap: Ratusan Penumpang Terdampar, Rute Udara Dibatalkan Massal

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana racun kabut asap akibat pembumihangusan lahan gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi melumpuhkan gerbang penerbangan udara. Buruknya jarak pandang (visibility) yang anjlok drastis hingga tersisa 100 meter memaksa tiga maskapai penerbangan nasional Wings Air, Super Air Jet, dan NAM Air membatalkan (cancel flight) seluruh jadwal penerbangan dari dan menuju Bandara H. Asan Sampit, Senin (12/10/2026).

    Penyusutan jarak pandang yang tidak memenuhi batas keselamatan penerbangan (minimum operational visibility) ini memutus total akses transportasi udara yang menghubungkan Sampit dengan kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang.

    Person in Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H Asan Sampit, Alfiansyah, membenarkan terjadinya gelombang pembatalan massal penerbangan tersebut.

    “Ya batal semua,” katanya saat dikonfirmasi.

    Seluruh penerbangan dari tiga maskapai berstatus cancel flight akibat dampak kabut asap pekat yang memangkas jarak pandang, mencakup rute strategis penghubung Sampit menuju Surabaya, Jakarta, dan Semarang.

    Gelombang pembatalan operasional penerbangan di Bandara H. Asan Sampit mencakup beberapa jadwal utama: Wings Air: Membatalkan penerbangan nomor IW 1805/IW 1804 untuk rute Surabaya–Sampit–Surabaya pada Senin (12/10/2026). Super Air Jet: Membatalkan penerbangan nomor IU 350/IU 351 untuk rute penerbangan langsung Jakarta–Sampit–Jakarta pada Senin (12/10/2026). NAM Air: Menghentikan sementara operasional secara berkala dalam periode 11 hingga 15 Oktober 2026 untuk dua rute penerbangan, yakni rute IN240/IN241 Semarang–Sampit–Semarang (jadwal keberangkatan pukul 10.35 WIB) serta rute IN242/IN243 Surabaya–Sampit–Surabaya (jadwal keberangkatan pukul 12.55 WIB).

    Melumpuhnya gerbang udara ini memicu penumpukan ratusan calon penumpang di areal terminal Bandara H Asan Sampit. Pihak otoritas bandara mengimbau para calon penumpang untuk segera menghubungi perwakilan customer service maskapai masing-masing guna melakukan pengurusan pengembalian dana tiket (full refund) atau penjadwalan ulang penerbangan (reschedule).

    Lumpuhnya konektivitas udara di Bandara H. Asan Sampit menjadi bukti sah bahwa bencana karhutla Kotim telah mengakibatkan kerugian ekonomi sistemik (systemic economic loss). Ketika rute udara yang menghubungkan pusat bisnis Jakarta, Surabaya, dan Semarang terputus total hingga pertengahan Oktober, iklim investasi, distribusi logistik medis, serta mobilitas masyarakat terancam lumpuh total.

    Satgas Karhutla Kalteng dan BNPB Pusat didesak menerjunkan armada helikopter water bombing secara intensif untuk memadamkan sebaran titik api aktif di Seranau, Pualau Hanaut dan Baamang yang mengepulkan asap tepat di lintasan pendekatan landasan (runway approach) Bandara H. Asan.

    Pengelola Bandara H. Asan bersama Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub wajib memastikan maskapai memberikan kemudahan proses refund tanpa potongan serta menyediakan layanan informasi yang transparan bagi calon penumpang. (***)

  • Racun PM2.5 Cengkeram Sampit: ISPU Tembus Kategori Berbahaya 318, Jarak Pandang Lumpuh Sisa 100 Meter

    Racun PM2.5 Cengkeram Sampit: ISPU Tembus Kategori Berbahaya 318, Jarak Pandang Lumpuh Sisa 100 Meter

    ​SAMPIT, Kanalindepenen.id – Bencana kualitas udara di ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi menyentuh garis merah darurat kesehatan. Berdasarkan data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Senin, 12 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kota Sampit meroket ke angka 318 dengan status Kategori Berbahaya.

    ​Partikel mikro halus PM2.5 ditetapkan sebagai parameter pencemar kritis utama. Kondisi ini diperparah oleh kepungan kabut asap pekat yang melumpuhkan ruang gerak warga. Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mencatat jarak pandang (visibility) anjlok dari 200 meter pada pukul 08.00 WIB menjadi tersisa 100 meter saja pada pukul 09.00 WIB.

    ​Pekatnya racun asap di pagi hari mengancam keselamatan pengendara dan memicu iritasi fisik hebat bagi warga yang beraktivitas di luar rumah.

    ​”Aduh, sepertinya ini makin parah. Asap membuat mata perih. Menggunakan masker biasa pun sepertinya tak mempan,” keluh Mansyah, warga Kecamatan Baamang, Senin (12/10/2026).


    ​Suhu Naik dan Angin Lambat Kunci Pengendapan Racun PM2.5

    ​Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan dinamika atmosfer yang menyebabkan penumpukan racun asap di atas kawasan perkotaan.

    ​”Pada pukul 08.00 WIB, kondisi kabut asap tercatat dengan suhu 26,3°C, kelembapan 89%, dan angin tenang. Memasuki pukul 09.00 WIB, suhu meningkat menjadi 27,9°C, kelembapan turun ke 80%, dan angin mulai bertiup dari timur laut dengan kecepatan 6 km/jam,” terang Mulyono Leo Nardo, Senin (12/10/2026).


    ​Dampak penumpukan pencemar ini tekeram jelas dalam rincian parameter ISPUnet:

    -​ PM2.5: Nilai 318 (Kategori Berbahaya)
    – ​PM10: Nilai 236 (Kategori Sangat Tidak Sehat)
    – ​Ozon (O3): Nilai 35 (Kategori Baik)
    – ​Sulfur Dioksida (SO2): Nilai 17 (Kategori Baik)
    – ​Nitrogen Dioksida (NO2) & Karbon Monoksida (CO): Nilai 5 (Kategori Baik)

    ​PM2.5 merupakan partikel halus berdiameter  2,5 mikrometer yang mampu menembus hingga ke dalam kantong udara paru-paru (alveoli) dan merembes ke sistem pembuluh darah. Kondisi ini sangat fatal bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, serta penderita asma dan lansia.

    ​Melonjaknya ISPU ke level Berbahaya (318) dan jarak pandang yang tersisa 100 meter menjadi bukti sah kegagalan antisipasi karhutla di kawasan penyangga Kotim. Bencana ini bukan lagi sekadar persoalan gangguan jarak pandang penerbangan, melainkan ancaman kejahatan kesehatan publik (public health disaster) yang mengorbankan paru-paru ratusan ribu warga Sampit.

    Pemkab Kotim melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan didesak untuk tidak bersikap pasif. Sekolah-sekolah wajib diliburkan atau dialihkan ke pembelajaran jarak jauh (PJJ), serta masker respirator standar N95 wajib didistribusikan secara gratis karena masker kain/medis biasa terbukti tidak mampu menyaring mikro partikel PM2.5.

    Dinkes Kotim dituntut membuka Clean Air Shelter (ruangan ber-AC dengan filter HEPA) di seluruh Puskesmas Kota guna memberikan penanganan medis darurat bagi warga yang mulai mengalami gejala sesak napas berat dan iritasi paru-paru. (***)