Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Karhutla Dekat Permukiman: 10 Hektare Semak dan Hutan Terbakar di Bagendang Hilir

    Karhutla Dekat Permukiman: 10 Hektare Semak dan Hutan Terbakar di Bagendang Hilir

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam keselamatan dan ruang hidup warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kobaran api hebat melalap sekitar 10 hektare semak belukar dan hutan di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Rabu (7/10/2026).

    Ancaman kali ini kian krusial karena titik api berkobar sangat dekat dengan area permukiman padat warga serta jalur lintasan jalan raya utama Sampit–Samuda.

    Merespons laporan darurat warga, armada Pos Damkar Sektor Samuda langsung meluncur ke lokasi kejadian sekitar pukul 13.05 WIB. Menempuh jarak sekitar 13 kilometer, tim tiba di lokasi pukul 13.36 WIB dan langsung melakukan isolasi serta penyiraman api sekitar pukul 13.40 WIB.

    Operasi pemadaman dan pendinginan (cooling down) berlangsung marathon hingga pukul 15.30 WIB di bawah cuaca terik cerah.

    Empat personel Pos Damkar Sektor Samuda dikerahkan menggunakan armada unit MTPK 12, yang dipimpin langsung oleh Kepala Pos (Kapos) Supianor.

    “Operasi pemadaman dan pendinginan dilakukan secara terpadu di area hutan serta semak belukar yang terbakar. Penanganan di lapangan mendapat dukungan penuh dari personel BPBD Kotim, Yon TP, PT Simon, serta jajaran Masyarakat Peduli Api (MPA) Kecamatan,” terang Kapos Damkar Sektor Samuda, Supianor, Rabu (7/10/2026).

    Hingga operasi penanganan dinyatakan selesai, petugas memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Sementara itu, penyebab pasti pemicu kebakaran 10 hektare lahan di Bagendang Hilir tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.

    Amukan api yang melahap 10 hektare lahan di Bagendang Hilir menjadi alarm keras bahaya laten karhutla yang merangsek ke zona pemukiman warga (wildland-urban interface). Ketika titik api berada sangat dekat dengan rumah dan jalur transportasi utama, risiko ancaman tidak hanya berupa bahaya ISPU, melainkan potensi perambatan api melalap bangunan fisik dan melumpuhkan mobilitas publik.

    Pemkab Kotim melalui BPBD dan Camat MHU didesak untuk tidak hanya mengandalkan pemadaman reaktif. Harus ada pembuatan sekat bakar basah atau kanalisasi di sekitar benteng semak Bagendang Hilir guna memutus perambatan api ke rumah warga.

    Polres Kotim dan instansi terkait dituntut mengusut tuntas penyebab munculnya titik api di pinggir jalan raya ini. Apakah terdapat unsur kelalaian pembakaran sampah/lahan (land clearing) yang disengaja oleh oknum tidak bertanggung jawab di tengah kemarau ekstrem. (***)

  • Di Balik Kabut Asap, Ada Janin yang Ikut Terpapar : Bencana Karhutla Kotim Cengkeram Kesehatan Ibu dan Anak

    Di Balik Kabut Asap, Ada Janin yang Ikut Terpapar : Bencana Karhutla Kotim Cengkeram Kesehatan Ibu dan Anak

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak sekadar mengancam jarak pandang lalu lintas atau melumpuhkan aktivitas ekonomi. Di balik racun kabut asap yang merayap hingga ke dalam rumah warga, terdapat ancaman biologis terselubung (silent threat) yang membahayakan kelompok paling rentan: ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur Nugroho Kuncoro Yudho, mengingatkan pentingnya mengurangi paparan asap bagi ibu hamil ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

    “Janin memang tidak menghirup udara secara langsung seperti orang dewasa. Namun, kebutuhan oksigen dan nutrisi janin bergantung pada kondisi ibu melalui plasenta,” katanya, Rabu (7/10/2026).

    Karena itu, kualitas udara yang dihirup ibu menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan selama kehamilan.

    Salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2.5. Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

    Paparan polusi udara dan asap kebakaran selama kehamilan dalam berbagai penelitian dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Namun, hubungan tersebut merupakan risiko pada tingkat populasi dan bukan berarti setiap ibu hamil yang terpapar asap pasti mengalami komplikasi.

    Kondisi kehamilan dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kesehatan ibu, kecukupan gizi, infeksi, usia kehamilan, kondisi sosial, akses layanan kesehatan hingga lingkungan.

    “Karena itu, perlindungan tidak harus menunggu sampai muncul keluhan berat,” katanya.

    Ibu hamil disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap sedang tebal. Jika harus keluar, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

    Namun, masker bukan berarti seseorang aman untuk tetap berada lama di tengah kepungan asap.

    Udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Pintu dan jendela dapat ditutup ketika kondisi luar dipenuhi asap, sementara sumber polusi lain seperti asap rokok sebaiknya tidak ada di dalam rumah. Penyaring udara dengan filter HEPA dapat digunakan jika tersedia.

    “Pemeriksaan kehamilan juga tetap perlu dilakukan sesuai jadwal,” sarannya.

    Nugroho mengingatkan agar ibu hamil segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas, nyeri dada, pusing berat, kehilangan kesadaran, atau keluhan kehamilan yang mengkhawatirkan.

    Perlindungan tidak berhenti setelah bayi lahir. Sistem pernapasan bayi masih berkembang sehingga bayi juga termasuk kelompok yang rentan terhadap kualitas udara buruk.

    Dalam kondisi karhutla, perlindungan terhadap ibu hamil dan bayi tidak hanya menjadi urusan mereka sendiri. Keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran untuk mengurangi paparan, terutama ketika asap mulai memenuhi ruang hidup.

    Karhutla akhirnya bukan hanya persoalan titik api dan luas lahan terbakar. Dampaknya bisa masuk sampai ke rumah, ruang perawatan, dan kehidupan yang bahkan belum lahir.

    Di balik kabut asap yang terlihat dari jalan, ada paparan yang tidak selalu terlihat. Dan di dalam tubuh seorang ibu, ada janin yang bergantung pada kondisi tubuh serta udara yang dihirup ibunya. (***)

  • Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Ratusan titik panas terdeteksi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), termasuk di kawasan seberang Sungai Mentaya yang berhadapan langsung dengan pusat kota.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Senin (5/10/2026) sore mencatat 482 titik panas dalam 24 jam terakhir.

    Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 189 titik. Kecamatan Seranau menyusul dengan 128 titik, sedangkan Kecamatan Teluk Sampit tercatat 25 titik panas.

    Di Kecamatan Seranau, Kelurahan Mentaya Seberang mencatat 101 titik panas. Lokasinya berada tepat di seberang kawasan perkotaan Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya.

    Sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu sumber asap yang dapat masuk ke Sampit. Pergerakannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

    Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim masih berubah dalam waktu singkat.

    “ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10/2026).

    Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kawasan kota. Asap dari Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit juga dapat terbawa menuju pusat perkotaan.

    Kondisi menjadi lebih buruk ketika angin melemah. Asap yang sudah mencapai kota tidak segera bergerak keluar dan kemudian bertahan di kawasan permukiman.

    “Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.

    Dampaknya terlihat pada jarak pandang. Rihel menyebut jarak pandang di Sampit beberapa kali turun drastis ketika konsentrasi asap meningkat. Dalam kondisi terburuk, jarak pandang hanya sekitar 10–20 meter.

    Nilai ISPU sempat turun dari kondisi ekstrem ke kisaran 300–400. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang ideal.

    “Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” kata Rihel.

    Kondisi ini membuat kualitas udara Sampit sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitar dan perubahan pola angin.

    Mentaya Seberang menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan. Wilayah tersebut berada sangat dekat dengan pusat Kota Sampit dan mencatat 101 titik panas dalam data 24 jam terakhir.

    Ketika asap bergerak menuju kota sementara angin melemah, asap dapat bertahan lebih lama di kawasan perkotaan.

    Dengan ratusan titik panas masih terdeteksi di Kotim, ancaman asap bagi Sampit belum berakhir. Perubahan arah angin dalam beberapa jam ke depan akan ikut menentukan apakah asap bergerak menjauh atau kembali menumpuk di atas kota. (***)

  • Kabar Duka Kalteng: H. Nadalsyah (Koyem) Meninggal Dunia, Tinggalkan Jejak Politik Panjang dari Barito Utara hingga Pilgub

    Kabar Duka Kalteng: H. Nadalsyah (Koyem) Meninggal Dunia, Tinggalkan Jejak Politik Panjang dari Barito Utara hingga Pilgub

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabar duka mendalam menyelimuti panggung politik dan masyarakat Kalimantan Tengah. Ketua DPD Partai Demokrat Kalteng yang juga mantan Bupati Barito Utara dua periode, H. Nadalsyah yang akrab disapa Koyem dilaporkan meninggal dunia pada Senin (5/10/2026).

    Kepergian sosok pimpinan politik daerah tersebut mengakhiri rekam jejak panjang pengabdiannya di struktur pemerintahan, kepartaian, hingga arena kontestasi tingkat provinsi.

    Kabar duka meninggalnya Nadalsyah dibenarkan secara resmi oleh Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), SP Lumban Gaol, merespons gelombang ucapan belasungkawa yang menyebar dari jajaran kader Demokrat.

    “Benar, kami mendapat kabar bahwa beliau telah meninggal dunia,” ungkap SP Lumban Gaol singkat, Senin (5/10/2026) malam.

    Hingga berita ini diturunkan pada Senin malam, informasi mengenai penyebab pasti meninggalnya Nadalsyah, lokasi rumah duka persemayaman, waktu pemakaman, serta prosesi penghormatan terakhir masih menunggu keterangan resmi pihak keluarga.

    Rekam Jejak Kepemimpinan: Dua Periode Barito Utara hingga Ketum ASBWI

    Sebelum memuncak di pucuk pimpinan Demokrat Kalteng, H. Nadalsyah dikenal luas sebagai peletak dasar pembangunan di Kabupaten Barito Utara. Ia mengemban amanah sebagai Bupati Barito Utara selama dua periode berturut-turut, yakni 2013–2018 dan 2018–2023.

    Selama satu dekade memimpin Barito Utara, namanya melekat kuat dengan akselerasi pembangunan daerah, terutama dalam konektivitas infrastruktur jalan dan jembatan serta pembukaan akses wilayah terisolasi.

    Usai purna tugas sebagai bupati, kiprah politiknya makin berkibar setelah dipercaya memegang tongkat kepemimpinan DPD Partai Demokrat Kalteng periode 2022–2026. Dari posisi inilah ia melangkah ke panggung elektoral tertinggi Kalimantan Tengah.

    Pada Pilgub Kalteng 2024 lalu, Koyem maju sebagai Calon Gubernur berpasangan dengan Supian Hadi (nomor urut 2). Pasangan Koyem-SHD berhasil meraih 468.925 suara dan finis di posisi kedua di bawah pasangan Agustiar Sabran–Edy Pratowo.

    Di luar arena politik dan pemerintahan, Nadalsyah juga merupakan pilar penting dalam dunia olahraga. Ia pernah memimpin KONI Barito Utara dan memegang jabatan nasional sebagai Ketua Umum Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) periode 2021–2025.

    Wafatnya H. Nadalsyah (Koyem) merupakan kehilangan besar bagi peta politik dan kepemimpinan di Kalimantan Tengah. Figur Koyem memberikan pelajaran tentang konsistensi pengabdian dari tingkat daerah (bottom-up) hingga mampu menggalang dukungan hampir setengah juta pemilih pada Pilgub Kalteng 2024.

    Dedikasi Koyem dalam membangun aksesibilitas Barito Utara dan kepemimpinannya di ASBWI menjadi rekam jejak nyata yang patut diapresiasi oleh seluruh elemen masyarakat dan penerus kepemimpinan Kalteng.

    Kepergian Ketua DPD Demokrat Kalteng ini menyisakan duka mendalam sekaligus pekerjaan rumah bagi konsolidasi kepartaian Demokrat di Kalteng untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita politik almarhum. (***)

  • Di Tengah Lahan yang Masih Terbakar, BKSDA Temukan 6 Sarang Orangutan

    Di Tengah Lahan yang Masih Terbakar, BKSDA Temukan 6 Sarang Orangutan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Jejak keberadaan orangutan ditemukan di tengah kawasan yang masih dilanda kebakaran lahan di Desa Kotabesi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). BKSDA Resort Sampit menemukan enam sarang orangutan saat menyisir kebun karet warga, Minggu (4/10/2026).

    Enam sarang tersebut terdiri atas dua sarang kelas A dan empat sarang kelas D. Temuan ini didapat saat petugas menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan satu individu orangutan yang diduga berjenis kelamin jantan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal diterima dari warga bernama Adut pada Sabtu (3/10). Warga melaporkan melihat orangutan di kebun karet milik masyarakat.

    Petugas Resort Sampit kemudian melakukan observasi bersama rekan-rekan dari Kumai, yakni Haru, Yogi dan lainnya, serta seorang wartawan televisi. Pemantauan berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 17.30 WIB.

    Di lokasi, tim bertemu dengan pemilik lahan bernama Wahyu. Berdasarkan keterangannya, orangutan memang terlihat di kawasan tersebut pada Sabtu sore.

    Petugas selanjutnya menyisir area kebun untuk mencari keberadaan satwa. Namun, individu orangutan yang dilaporkan warga belum ditemukan.

    Api Masih Berlangsung

    Di tengah pencarian, petugas menemukan kondisi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan. Kawasan di sekitar kebun karet tersebut telah mengalami kebakaran lahan dan hingga saat observasi dilakukan, kebakaran masih berlangsung.

    Enam sarang orangutan yang ditemukan menjadi bukti adanya aktivitas satwa tersebut di kawasan itu. Dua di antaranya merupakan sarang kelas A, sedangkan empat lainnya masuk kelas D.

    Meski demikian, BKSDA belum dapat memastikan apakah orangutan yang dilaporkan warga masih berada di sekitar lokasi atau telah berpindah ke kawasan lain.

    Muriansyah mengatakan, petugas juga memberikan pengarahan kepada pemilik lahan mengenai perilaku orangutan. Warga diminta tidak mengambil tindakan sendiri apabila satwa kembali muncul.

    “Petugas memberikan pengarahan terkait perilaku satwa orangutan dan meminta warga agar segera memberikan laporan apabila orangutan muncul kembali,” kata Muriansyah dalam laporannya.

    BKSDA akan terus memantau informasi dari warga terkait kemunculan orangutan tersebut. Terlebih, kawasan yang menjadi lokasi temuan masih berhadapan dengan ancaman kebakaran lahan.

    Temuan enam sarang di kawasan yang terbakar menjadi pengingat bahwa keberadaan satwa liar perlu diperhatikan di tengah meluasnya aktivitas kebakaran lahan di Kotim.(***)

  • Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Upaya mencari tiga individu orangutan yang diduga keluar dari habitatnya dan muncul di kebun karet warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur (Kotim), kembali dilakukan BKSDA Resort Sampit, Minggu (4/10/2026).

    Pencarian dilakukan di kebun karet milik warga bernama Rey yang berada di Jalan Soekarno atau Lingkar Utara, masuk Gang Mustika. Namun, petugas belum menemukan keberadaan satwa yang sebelumnya dilaporkan muncul di kawasan tersebut.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, pemantauan kembali dilakukan karena waktu masih memungkinkan. Petugas Pos Sampit bersama rekan-rekan dari Kumai, di antaranya Haru dan Yogi, bergerak menyisir lokasi.

    “Di lokasi bertemu dengan pemilik lahan di sebuah pondok. Kemudian dilakukan pencarian dengan membagi menjadi dua tim, kiri dan kanan kebun,” kata Muriansyah.

    Dari penyisiran tersebut, orangutan tidak ditemukan. Meski demikian, petugas menemukan jejak yang diduga milik orangutan di sekitar lokasi.

    Diduga Ada Tiga Individu

    Temuan tersebut menambah petunjuk terkait keberadaan orangutan yang sebelumnya dilaporkan warga. BKSDA masih menduga terdapat tiga individu di kawasan tersebut, terdiri atas satu jantan, satu induk dan satu anak.

    Sebelumnya, warga melaporkan kemunculan induk dan anak orangutan di kebun karet tersebut. Sementara dokumentasi yang diterima petugas juga menunjukkan dugaan keberadaan satu individu jantan dewasa.

    Muriansyah mengatakan, keberadaan tanaman nanas menjadi salah satu alasan yang membuat orangutan diduga berpotensi kembali ke lokasi.

    “Dugaan kuat, cepat atau lambat, orangutan akan datang lagi ke lokasi tersebut karena ada tanaman nanas,” ujarnya.

    Karena itu, petugas meminta pemilik lahan dan warga sekitar segera menghubungi BKSDA apabila orangutan kembali terlihat.

    Langkah tersebut penting untuk memastikan keberadaan satwa dapat dipantau sekaligus mengantisipasi terjadinya interaksi langsung antara orangutan dengan manusia.

    Hingga pemantauan terakhir, keberadaan ketiga individu orangutan tersebut masih belum diketahui. BKSDA masih membuka kemungkinan satwa kembali muncul di kebun warga, terutama karena terdapat sumber makanan yang menarik perhatian satwa. (***)

  • Terdesak Karhutla ke Jantung Kota: Tenggiling 4 Kg Ditemukan di Parit Depan Puskesmas Ketapang II Sampit

    Terdesak Karhutla ke Jantung Kota: Tenggiling 4 Kg Ditemukan di Parit Depan Puskesmas Ketapang II Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Dampak buruk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin nyata merangsek ke area perkotaan. Seekor trenggiling (Manis javanica) berbobot sekitar 4 kilogram ditemukan warga tersesat di saluran parit Jalan H. Imran, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Sampit, Minggu (4/10/2026) sore.

    Satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut ditemukan tepat di depan bangunan Puskesmas Ketapang II sekitar pukul 15.00 WIB. Diduga kuat, trenggiling ini terdesak keluar dari kawasan habitat aslinya di pinggiran perkotaan yang kini ludes terbakar dan terkepung kabut asap pekat.

    Sadar akan status perlindungan satwa tersebut, warga setempat tidak menangkapnya untuk dipelihara atau diperjualbelikan, melainkan langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim.

    Kepala BKSDA Pos Sampit Muriansyah, menyampaikan bahwa penanganan evakuasi berjalan cepat berkat kolaborasi responsif warga, tim Damkar, dan komunitas relawan lingkungan.

    “Tenggiling awalnya diamankan oleh Danregu Damkar, Febri, lalu dibawa ke Mako Damkar. Selanjutnya, satwa diserahkan kepada Hari bersama aktivis lingkungan untuk diteruskan kepada petugas BKSDA Pos Sampit sekitar pukul 18.40 WIB,” terang Muriansyah dalam laporan resminya, Minggu (4/10/2026).

    Kondisi Sehat Tanpa Luka, Siap Dilepasliarkan di Kebun Raya Sampit

    Setelah menerima penyerahan satwa, petugas BKSDA Pos Sampit langsung melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Pemeriksaan medis awal menunjukkan kondisi mamalia bersisik tersebut dalam keadaan sehat dan mulus tanpa luka bakar maupun cidera fisik.

    Penyerahan trenggiling ini dilakukan usai tim BKSDA Pos Sampit menyelesaikan observasi lapangan terkait kemunculan orangutan di dua lokasi terpisah pada hari yang sama.

    Merespons temuan ini, BKSDA Pos Sampit berkoordinasi dengan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun untuk proses pelepasliaran (release).

    “Rencananya, trenggiling ini akan dilepasliarkan pada Senin (5/10/2026) pagi di kawasan Kebun Raya Sampit. Proses pelepasliaran dibantu oleh Hadi, aktivis lingkungan sekaligus pengelola Kebun Raya Sampit dan staf DLH Kotim,” tambah Muriansyah.

    Kesadaran warga Ketapang yang memilih melaporkan temuan satwa dilindungi kepada pihak berwenang mendapat apresiasi tinggi. Tindakan ini mencegah potensi perdagangan satwa ilegal maupun kematian satwa akibat terisolasi di pemukiman padat penduduk.

    Penemuan trenggiling di parit pusat kota Sampit menjadi alarm keras hancurnya ekosistem penyangga (buffer zone) di sekitar MB Ketapang. Ketika hutan dan semak belukar di pinggiran kota terbakar habis, satwa-satwa liar yang selamat tidak lagi memiliki ruang jelajah selain menerobos ke kawasan padat permukiman warga untuk mencari perlindungan.

    Keputusan melepasliarkan trenggiling ke Kebun Raya Sampit harus diimbangi dengan pengamanan ketat dari ancaman karhutla dan pemburu liar. Pemkab Kotim melalui DLH wajib menyiagakan personel dan jaringan sumur bor di kawasan Kebun Raya agar ruang konservasi ini tidak ikut terbakar.

    BKSDA Resort Sampit dan Damkarmat Kotim didesak memperluas sosialisasi call center darurat konflik satwa. Mengingat krisis karhutla masih berlangsung, potensi kemunculan satwa liar lain seperti ular, trenggiling, hingga primata di permukiman kota diperkirakan masih tinggi.

  • Menagih Wajah Baru Titik Nol Sampit: Proyek Terpadu Bundaran KB Wajib Masuk APBD Kalteng 2027

    Menagih Wajah Baru Titik Nol Sampit: Proyek Terpadu Bundaran KB Wajib Masuk APBD Kalteng 2027

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kawasan strategis Bundaran KB yang menjadi titik nol ruas jalan penghubung Sampit–Samuda di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK) kini resmi masuk radar prioritas pembangunan skala besar. Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah melancarkan desakan kuat agar proyek penataan kawasan terpadu di gerbang selatan Kota Sampit ini resmi diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kalteng Tahun Anggaran 2027.

    Langkah ini diambil seiring dengan pesatnya pertumbuhan pemukiman, sentra ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta kepadatan arus lalu lintas menuju wilayah pesisir Samuda dan Ujung Pandaran yang melintasi kawasan bersejarah tersebut.

    Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Abdul Hafid, menegaskan bahwa penataan Bundaran KB tidak boleh sekadar menyentuh polesan estetika Tugu KB semata, melainkan wajib mengeksekusi infrastruktur penunjang secara holistik guna menciptakan simpul lalu lintas yang tertib, modern, dan representatif.

    “Saya mengusulkan agar penataan kawasan Bundaran KB ini dapat masuk pada tahun anggaran 2027. Ruas jalannya merupakan kewenangan provinsi, sementara bundarannya kewenangan kabupaten. Dengan kolaborasi penataan dari provinsi, pemerintah kabupaten tentu terdorong menata tugu bundaran ini agar lebih ikonik dan menjadi salah satu titik wisata baru,” ujar Abdul Hafid usai meninjau lokasi, Sabtu (3/10/2026).

    Sinergi Lintas Kewenangan dan Rencana Pengoperasian Infrastruktur Terpadu

    Kawasan Bundaran KB memiliki irisan kewenangan yang unik. Badan jalan utama yang menghubungkan Sampit–Samuda berada di bawah wewenang Dinas PUPR Provinsi Kalteng, sedangkan fisik Tugu KB berada di bawah kewenangan Pemkab Kotim.

    Menanggapi usulan legislatif tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kalteng, Chandra Puji Asmara mewakili Kepala Dinas PUPR Kalteng Juni Gultom menyatakan kesiapannya untuk mematangkan konsep teknis penataan kawasan terpadu.

    PUPR Kalteng merancang penataan terpadu yang mencakup: Pertama, Pelebaran Badan Jalan: Mengantisipasi kemacetan dan lonjakan volume kendaraan menuju wilayah selatan.

    Selanjutnya, Drainase Modern dan Trotoar Ramah Pejalan Kaki: Mencegah genangan air saat hujan deras serta menyediakan ruang pedestrian yang aman.

    Kemudian, Ruang Terbuka Hijau (RTH): Menjadikan kawasan bersejarah simbol Keluarga Berencana (KB) tersebut lebih tertata dan asri.

    Dukungan penuh juga disampaikan oleh Camat Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang), Irpansyah. Pihak kecamatan menegaskan kesiapan jajarannya untuk memfasilitasi sosialisasi dan pendekatan komunikatif kepada para pedagang serta warga jika terdampak langsung rencana pelebaran lahan proyek tersebut.

    Rencana penataan Bundaran KB masuk APBD 2027 merupakan langkah progresif untuk mempercantik gerbang selatan Kota Sampit. Namun, belajar dari proyek infrastruktur publik terdahulu di Kotim, kolaborasi antar-pemerintah (cross-jurisdictional collaboration) sering kali terkendala ego sektoral dan koordinasi lapak warga.

     Pemprov Kalteng dan Pemkab Kotim didesak menyusun MoU resmi serta Detail Engineering Design (DED) yang transparan sejak 2026, guna memastikan proyek ini tidak sekadar menjadi wacana politik menjelang pembahasan anggaran.

    Sementara itu, Pemerintah Kecamatan MB Ketapang bersama Satpol PP wajib mengedepankan pendekatan komunikatif terhadap para pelaku UMKM dan pemilik lapak di sekitar Bundaran KB agar rencana pelebaran jalan dan trotoar tidak memicu konflik sosial baru di tengah kondisi ekonomi yang tertekan. (***)

  • Korban Jiwa Karhutla Seranau: Seekor Tenggiling Terpanggang Api di Desa Ganepo

    Korban Jiwa Karhutla Seranau: Seekor Tenggiling Terpanggang Api di Desa Ganepo

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kehancuran ekosistem akibat amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban satwa langka yang dilindungi. Seekor Tenggiling (Manis javanica) ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat terpanggang hidup-hidup setelah terjebak di dalam benteng api di kawasan lahan Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Jumat (2/10/2026).

    Penemuan memilukan ini terjadi saat kobaran api membakar habis semak belukar dan vegetasi gambut di Seranau wilayah yang saat ini tercatat sebagai penyumbang hotspot terbesar di Kotim.

    Mengetahui keberadaan satwa malang tersebut, tim relawan karhutla setempat, Manggala Agni  bersama Aktivis Peduli Lingkungan dan Pecinta Satwa Liar Harry Siswanto bergerak cepat melakukan evakuasi darurat dari tengah kepungan bara api.

    Salah seorang warga yang terlibat langsung dalam proses evakuasi, Wildan, menuturkan bahwa kondisi Tenggiling tersebut sangat kritis saat ditemukan dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.

    “Ketika ditemukan kondisinya sudah terbakar parah. Kemungkinan besar tidak sempat menyelamatkan diri saat api membesar dengan cepat. Sampai saat ini posisi Tenggiling masih berada di Ganepo, kondisinya sangat memprihatinkan dengan bau menyengat akibat luka bakar,” ungkap Wildan, Sabtu (3/10/2026).

    Tragedi memilu ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman karhutla tidak hanya berdampak pada polusi udara racun ISPU bagi manusia atau kehancuran fisik lahan, tetapi juga memicu kepunahan perlahan (silent extinction) bagi biodiversitas liar yang kehilangan ruang hidup. Satwa lambat seperti Tenggiling kerap kali tidak memiliki kesempatan melarikan diri saat melompatnya lidah api menjebak habitat mereka.

    Tragedi terpanggangnya Tenggiling dilindungi di Desa Ganepo menjadi tamparan keras bagi efektivitas mitigasi bencana ekologis di Kotim. Ketika penanganan karhutla hanya difokuskan pada pemadaman fisik lahan, keselamatan dan penyelamatan darurat satwa terabaikan, menyerahkan nasib satwa kritis sepenuhnya pada inisiatif swakarsa relawan tanpa dukungan peralatan medis yang memadai.

    BKSDA Resort Sampit bersama BKSDA Kalteng didesak untuk segera mengevakuasi tenggiling yang selamat ke pusat rehabilitasi. Sehingga tak ada tenggiling lainnya yang menjadi korban.

    Polres Kotim dan Gakkum KLHK dituntut tidak menutup mata. Pembakaran lahan di Seranau yang membumihanguskan habitat dan membinasakan satwa dilindungi merupakan tindak pidana kejahatan lingkungan berat yang harus diusut tuntas hingga ke dalang utamanya. (***)

  • Menatap Kapolri Baru: Menagih Amanah Perang Narkoba dari Bumi Tambun Bungai untuk Indonesia

    Menatap Kapolri Baru: Menagih Amanah Perang Narkoba dari Bumi Tambun Bungai untuk Indonesia

    Oleh: Ririen Binti (Ketua Gerakan Dayak Anti Narkoba – GDAN)

    Kamis, 20 Agustus 2026, menjadi tonggak sejarah yang menggetarkan Bumi Tambun Bungai. Kurang lebih tiga ribu pasang mata berkumpul di Kawasan Bundaran Besar Palangka Raya dengan satu tekad bulat yang membakar dada: mendeklarasikan perang total melawan narkoba.

    Di tengah gemuruh semangat itu, Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) memanjatkan rasa syukur dapat menginisiasi perlawanan nyata ini. Sebuah komitmen suci yang juga dihadiri langsung oleh Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia.

    Saat saya menyampaikan sambutan dan meneriakkan seruan perang terhadap para perusak generasi bangsa, tepuk tangan riuh ribuan peserta pecah. Kepala BNN RI pun secara luar biasa memberikan kobaran semangat. Momentum tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan ikrar bersama bahwa tanah Kalimantan Tengah tidak sudi diinjak-injak oleh sindikat barang haram.

    Mandat Suci Tongkat Ulin

    Esensi terdalam dari peristiwa tersebut terukir saat perwakilan pelajar, mahasiswa, dan tokoh adat melangkah maju. Di tangan mereka, tergenggam tongkat komando yang terbuat dari kayu ulin kayu khas Kalimantan yang kokoh, abadi, dan tak goyah oleh zaman.

    Tongkat itu diserahkan secara khusus kepada para penegak hukum dan pimpinan daerah: Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, serta Ketua GDAN Ririen Binti.

    Bagi GDAN, penyerahan tongkat ulin bukanlah formalitas belaka. Ini adalah penyerahan mandat—simbol titipan kepercayaan tertinggi dari rakyat. Lewat tongkat tersebut, kami menegaskan: “Kami menyerahkan marwah dan harapan agar para penerima berani bertindak tegas serta berjalan di jalur yang benar demi memberantas peredaran narkoba sampai ke akar-akarnya.”

    Amanah Nasional Kapolri dan Doa untuk Kapolda Kalteng

    Atas perkenan Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak sampai dua bulan setelah menerima amanah suci dan tongkat komando dari masyarakat Dayak, kabar membanggakan itu tiba. Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dipercaya mengemban amanah tertinggi sebagai Kapolri.

    Sebagai bagian dari masyarakat adat yang menitipkan harapan, kami menaruh ekspektasi besar. Kami berharap dan memohon agar Jenderal Suyudi tidak pernah melupakan amanah dari masyarakat Dayak. Jabatan baru ini harus menjadi momentum bagi beliau untuk terus berkarya, semakin bersemangat, dan tanpa kompromi memimpin Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam memerangi narkoba serta kejahatan lainnya. Amanah perang narkoba dari Bumi Tambun Bungai kini dibawa ke panggung nasional.

    Di sisi lain, rasa syukur dan apresiasi yang mendalam kami haturkan kepada Kapolda Kalteng, Irjen Pol. Iwan Kurniawan. Sebagai salah satu penerima tongkat komando ulin, beliau telah terbukti secara nyata mendukung penuh langkah GDAN. Sinergi yang kokoh ini semakin membakar keberanian GDAN untuk terus memerangi narkoba di Tanah Dayak.

    Kami mendoakan yang terbaik bagi kepemimpinan beliau di Kalimantan Tengah. Berdasarkan waktu Tuhan yang indah, kami berdoa agar Irjen Pol. Iwan Kurniawan kelak dipercaya mengemban tanggung jawab yang lebih besar dari negara atas dedikasi serta penegakan hukum yang tak kenal lelah.

    Tongkat ulin telah diserahkan, janji setia terhadap bangsa telah diikrarkan. Kini, di bawah kepemimpinan Kapolri yang baru dan didukung penuh oleh jajaran Polda Kalteng, masyarakat Dayak akan terus mengawal perjuangan ini. Perang melawan narkoba adalah harga mati demi masa depan anak cucu dan kejayaan NKRI! (***)