Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Siklus Hujan Tak Berujung, 80 Rumah di Antang Kalang Terendam, BMKG Sinyalkan Bahaya Lanjutan

    Siklus Hujan Tak Berujung, 80 Rumah di Antang Kalang Terendam, BMKG Sinyalkan Bahaya Lanjutan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Harapan warga Desa Sungai Hanya, Kecamatan Antang Kalang, untuk segera membersihkan sisa lumpur banjir terpaksa pupus. Hingga Kamis (14/5/2026), debit air yang merendam permukiman justru kembali meningkat. Tercatat, lebih dari 80 rumah kini terkepung luapan air yang tak kunjung surut sejak Selasa lalu.

    Anomali Cuaca: Surut Sesaat Lalu Meluap Kembali

    ​Situasi di Desa Sungai Hanya sempat memberikan secercah harapan pada Rabu sore (13/5) saat air terpantau mulai turun. Namun, alam berkata lain. Hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah tersebut sepanjang malam, memaksa air naik lebih tinggi dari sebelumnya.

    ​Kondisi ini praktis melumpuhkan aktivitas ekonomi warga. Akses jalan lingkungan kini berubah menjadi jalur air yang sulit dilalui, memaksa sebagian besar masyarakat bertahan di dalam rumah sembari mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

    ​“Warga kini berada dalam posisi siaga penuh. Hujan malam tadi merusak tren penurunan air kemarin sore. Jika hujan kembali turun malam ini, skala luapan diprediksi akan semakin meluas,” ungkap sumber di lapangan. 🗣️

    Sinyal Merah BMKG: Konvergensi dan Labilitas Atmosfer

    ​Kekhawatiran warga diperkuat oleh rilis resmi dari Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya. BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung hingga 16 Mei 2026.

    ​Berdasarkan analisis atmosfer, terdapat daerah belokan angin serta perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Kalimantan Tengah. Kondisi ini, ditambah dengan kelembapan udara yang basah, menciptakan “pabrik hujan” yang sangat aktif di langit Kotawaringin Timur.

    Situasi di Antang Kalang bukan sekadar urusan air lewat. Kejadian di Desa Sungai Hanya menunjukkan betapa rentannya daya dukung lingkungan kita terhadap siklus hujan yang kini kian ekstrem. Ketika air sempat turun namun langsung naik drastis hanya dengan satu kali hujan lebat, itu menandakan area resapan atau aliran sungai sudah berada pada titik jenuh (maksimal).

    ​Pemerintah daerah tidak bisa hanya mengandalkan bantuan logistik pasca-banjir. Peringatan BMKG mengenai perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di atas langit Kotim seharusnya menjadi alarm bagi tim tanggap darurat untuk mulai memetakan jalur evakuasi yang lebih aman. Warga dipaksa berpacu dengan waktu sebelum puncak hujan sedang-lebat yang diprediksi terjadi dalam 48 jam ke depan benar-benar mengisolasi desa mereka. (***)


  • Karyawan Swasta di Baamang Nyambi Jual Sabu, Puluhan Gram Ditemukan Polisi

    Karyawan Swasta di Baamang Nyambi Jual Sabu, Puluhan Gram Ditemukan Polisi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Profesi sebagai karyawan swasta ternyata hanya menjadi tameng bagi SR (35) untuk menutupi bisnis gelapnya sebagai pengedar narkotika. Warga Baamang Tengah ini tak berkutik saat jajaran Satresnarkoba Polres Kotim menggerebek kediamannya dan menemukan puluhan gram sabu yang siap diedarkan ke pelanggan, Selasa sore (12/5/2026).

    Penyergapan di Gang Sungkai

    ​Operasi penangkapan ini bermula dari “radar” warga di sekitar Jalan Cristopel Mihing, Gang Sungkai, yang mencium adanya aktivitas mencurigakan di rumah pelaku. Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi melakukan pengintaian intensif sebelum akhirnya mencegat SR saat ia tengah mengendarai sepeda motor menuju rumahnya.

    ​Pemeriksaan awal di lapangan langsung membuahkan hasil. Polisi menemukan modus lama namun berisiko: empat paket sabu yang dibungkus rapi dengan tisu, diselipkan di dalam kotak rokok yang diletakkan begitu saja di dashboard motor.

    Gudang Sabu di Rak Kosmetik

    ​Tak berhenti di situ, petugas merangsek masuk untuk melakukan penggeledahan di dalam kamar SR. Di sana, polisi menemukan kejutan lain. Delapan paket sabu tambahan ditemukan tersimpan dalam sebuah kotak hitam yang diletakkan di atas rak kosmetik.

    ​Total barang bukti yang disita mencapai 12 paket dengan berat kotor 20,60 gram. Kasat Narkoba Polres Kotim, AKP Suherman, menegaskan bahwa penangkapan ini adalah bukti nyata sinergi antara kepolisian dan masyarakat yang sudah gerah dengan peredaran narkoba.

    ​“Informasi dari warga sangat membantu kami. Setelah dilakukan penyelidikan, pelaku berhasil kami amankan bersama barang bukti sabu sebanyak 12 paket. Sebanyak 20,6 gram sabu ini berpotensi merusak banyak generasi muda,” tegas AKP Suherman mewakili Kapolres Kotim.


    ​Selain serbuk kristal haram tersebut, polisi juga menyita satu unit telepon genggam merek Oppo yang diduga kuat digunakan untuk mengatur transaksi, serta satu unit sepeda motor yang digunakan pelaku sebagai sarana operasional “nyambi” berjualan sabu.

    Kasus SR menjadi potret buram bagaimana tekanan ekonomi atau gaya hidup membuat seorang karyawan swasta nekat menempuh jalan pintas. Menyimpan sabu di tempat yang “dekat dengan kehidupan sehari-hari” seperti dashboard motor dan rak kosmetik menunjukkan bahwa pelaku merasa cukup aman dengan kedok profesinya selama ini.

    ​Namun, berat kotor yang mencapai 20,60 gram bukan lagi angka untuk pemain kecil. SR diduga memiliki jaringan distribusi yang cukup mapan di wilayah Baamang. Penangkapan ini memang memutus satu rantai, namun pekerjaan rumah bagi Polres Kotim adalah mencari tahu siapa “suplier” besar di balik karyawan swasta yang beralih profesi menjadi saudagar sabu ini. (***)



  • Misteri Hilangnya Kakek Pensiunan Sarpatim di Dusun Danau Purun, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    Misteri Hilangnya Kakek Pensiunan Sarpatim di Dusun Danau Purun, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Operasi pencarian terhadap Anudin alias Aket (65) yang akrab disapa Bapak Yusuf di Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Payang, Kecamatan Bukit Santuai, memasuki fase krusial. Hingga hari kelima, Rabu (13/5/2026), kakek yang diketahui merupakan pensiunan PT Sarpatim tersebut belum juga ditemukan meski teknologi drone dan tim gabungan telah dikerahkan ke jantung hutan.

    ​Keluarga dan kerabat korban terus berjibaku di lapangan mendampingi tim ahli. Yuliandi, salah seorang kerabat korban yang terjun langsung dalam proses penyisiran, mengungkapkan bahwa hingga Rabu sore, upaya tim gabungan masih belum membuahkan titik terang.

    ​“Hari ini memasuki hari kelima pencarian, yakni Rabu (13/5/2026), namun hasilnya masih nihil. Kami bersama warga dan petugas terus menyisir area, tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Bapak Yusuf,” ujar Yuliandi dengan nada cemas.

    ​Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam, mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memonitor perkembangan melalui koordinasi dengan Camat Bukit Santuai. Kekhawatiran mendalam muncul mengingat kondisi fisik korban yang dilaporkan sudah mulai terbatas.

    ​“Kami sudah berkomunikasi dengan Camat Bukit Santuai, terkonfirmasi memang betul kakek itu hilang. Beliau memang kondisi fisik sudah terbatas sebenarnya,” ungkap Multazam.

    ​Saat ini, Tim Pos SAR Sampit telah berada di lokasi. Fokus utama tim adalah menyisir area di sekitar pemukiman dan jalur yang biasa dilalui korban, di mana anak korban diketahui masih aktif bekerja di PT Sarpatim, perusahaan tempat ayahnya dulu mengabdi.

    ​Di sisi lain, Multazam menjelaskan bahwa BPBD Kotim saat ini belum bisa terjun langsung berkolaborasi dalam pencarian fisik di lapangan. Hal ini dikarenakan seluruh personel tengah dalam status siaga penuh menghadapi ancaman bencana Karhutla dan kekeringan.

    Diberitakan sebelumnya, kecemasan mendalam tengah menyelimuti warga Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Payang, Kecamatan Bukit Santuai. Seorang kakek berusia 65 tahun bernama Anudin alias Aket yang akrab disapa Bapak Yusuf dilaporkan hilang secara misterius dari kediamannya sejak Sabtu dini hari, 9 Mei 2026. Hingga memasuki hari kelima, Rabu (13/5/2026), keberadaan pria lansia tersebut masih menjadi teka-teki besar bagi pihak keluarga maupun tim pencari. (***)

  • Ekosistem yang Terluka: Saat Beruang di Kotim Tak Lagi Malu Mengetuk Pintu Rumah Warga

    Ekosistem yang Terluka: Saat Beruang di Kotim Tak Lagi Malu Mengetuk Pintu Rumah Warga

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Fenomena kemunculan satwa liar di tengah aktivitas manusia di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini mencapai level yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu sepekan, rentetan kemunculan beruang madu di berbagai titik mulai dari Kecamatan Cempaga, Mentaya Hilir Selatan, hingga Kota Besi bukan lagi sekadar kejadian viral di media sosial, melainkan sinyal nyata dari ekosistem yang sedang terluka parah.

    Anomali Perilaku di Tengah Pemukiman

    Ketegangan pertama pecah di Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga. Sebuah video berdurasi 21 detik memperlihatkan seekor beruang dewasa berada di semak belukar, hanya beberapa meter dari sebuah rumah makan kelapa yang ramai aktivitas. Ironisnya, video tersebut juga merekam aksi nekat seorang warga berkaos merah yang mencoba mendekati pemangsa tersebut hanya dengan sebilah parang.

    Tak berselang lama, “teror” serupa berpindah ke kawasan Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kali ini, dua ekor anak beruang terekam kamera warga tengah berkeliaran di area perladangan. Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menegaskan bahwa fenomena beruang yang menampakkan diri pada siang hari merupakan anomali besar bagi satwa nokturnal tersebut.

    “Kalau beruang merasa terancam dan terdesak, mereka bisa menyerang. Namun, selama masih bisa menghindar, biasanya mereka akan menjauh. Masalahnya, sekarang potensi konflik makin tinggi karena perilaku alaminya berubah akibat habitat yang terganggu,” ujar Muriansyah, Rabu (13/5/2026).

    Lapar dan Aroma Sampah sebagai Magnet

    BKSDA menengarai bahwa rusaknya habitat asli memaksa beruang-beruang ini melakukan pengungsian massal ke wilayah peradaban manusia demi menyambung hidup. Musim kemarau yang mulai melanda membuat sumber air dan pakan alami di dalam hutan menipis, menjadikan kebun buah milik warga seperti nangka, nanas, hingga cempedak sebagai sasaran empuk.

    Namun, yang paling krusial adalah “undangan” tidak sengaja dari warga sendiri: aroma sampah rumah tangga. Kebiasaan membuang sisa makanan di semak belakang rumah menjadi magnet kuat yang menyeret beruang keluar dari rimbunnya hutan menuju pintu rumah warga.

    “Beruang juga memakan sisa sampah rumah tangga yang dibuang warga sembarangan. Di daerah dekat semak belukar, masih banyak warga yang membuang sampah di belakang rumah atau pinggir jalan. Itu yang memancing satwa datang,” tambah Muriansyah.

    Judul “Ekosistem yang Terluka” bukanlah sebuah hiperbola. Ketika predator hutan mulai kehilangan rasa malunya dan berani menampakkan diri di tengah pemukiman pada siang hari, itu adalah tanda bahwa rumah asli mereka sudah tidak lagi mampu memberikan kehidupan.

    Kita sedang menyaksikan sebuah pengungsian ekologis. Beruang-beruang ini tidak sedang menyerang; mereka sedang bertahan hidup di tengah sisa-sisa habitat yang kian terjepit. Namun, empati saja tidak cukup. Masyarakat harus memutus rantai penarik satwa ini dengan cara yang paling sederhana: mengelola sampah dengan benar. Tanpa kesadaran kolektif untuk menjaga jarak aman dan menjaga kebersihan lingkungan, “ketukan pintu” dari beruang-beruang lapar ini bisa berubah menjadi tragedi yang mematikan bagi kedua belah pihak. (***)

  • Misteri Dusun Danau Purun: Kakek 65 Tahun Hilang Tak Berbekas, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    Misteri Dusun Danau Purun: Kakek 65 Tahun Hilang Tak Berbekas, Tim SAR Sisir Hutan Bukit Santuai Siang dan Malam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kecemasan mendalam tengah menyelimuti warga Dusun Danau Purun, Desa Tumbang Ayang, Kecamatan Bukit Santuai. Seorang kakek berusia 65 tahun bernama Anudin alias Aket—yang akrab disapa Bapak Yusuf—dilaporkan hilang secara misterius dari kediamannya sejak Sabtu dini hari, 9 Mei 2026. Hingga memasuki hari kelima, Rabu (13/5/2026), keberadaan pria lansia tersebut masih menjadi teka-teki besar bagi pihak keluarga maupun tim pencari.

    Pencarian Lintas Medan: Teknologi Drone Dikerahkan

    ​Upaya pencarian dilakukan tanpa henti, menembus lebatnya kawasan hutan di sekitar desa baik saat matahari terik maupun di bawah kegelapan malam. Mengingat luasnya medan dan kondisi geografis yang menantang, Tim SAR mulai meningkatkan intensitas pencarian dengan mengerahkan teknologi drone guna memantau area dari udara yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

    ​Nur Reniwati, pihak keluarga korban, mengonfirmasi bahwa segala cara tengah ditempuh untuk menemukan titik terang mengenai posisi Anudin.

    ​“Hari ini dilakukan pencarian menggunakan drone oleh petugas SAR. Kami terus berusaha maksimal agar beliau segera ditemukan,” ujar Nur Reniwati dengan nada penuh harap, Rabu (13/5/2026).

    Harapan dan Doa dari Warga Sekitar

    ​Solidaritas warga Tumbang Ayang terlihat nyata dalam proses pencarian ini. Tak hanya membantu menyisir hutan, warga juga terus memantau setiap perkembangan informasi di lapangan. Yuliandi, salah seorang warga setempat, mengungkapkan kegelisahan yang dirasakan seluruh komunitas desa atas hilangnya sosok yang mereka kenal baik tersebut.

    ​“Kami semua di sini terus berupaya membantu dan sangat berharap segera ada titik terang mengenai keberadaan Bapak Yusuf. Kasihan pihak keluarga, kami ingin beliau segera ditemukan dalam keadaan selamat,” tutur Yuliandi.

    Di samping operasi teknis, keluarga bersama warga juga telah menggelar doa bersama dan ritual tolak bala pada Selasa malam (12/5/2026). Isak tangis dan harapan mewarnai suasana rumah korban, mencerminkan betapa besarnya keinginan warga agar Bapak Yusuf bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

    Kasus hilangnya lansia di kawasan hutan Kalimantan selalu menjadi balapan melawan waktu. Memasuki hari kelima, faktor kelelahan, dehidrasi, dan risiko paparan alam menjadi ancaman nyata bagi keselamatan korban. Penggunaan drone oleh tim SAR adalah langkah tepat, namun dukungan moral dan fisik dari warga seperti yang disampaikan Yuliandi adalah modal sosial yang sangat berharga.

    ​Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih memperketat pengawasan terhadap anggota keluarga lanjut usia, terutama di daerah yang berbatasan langsung dengan alam liar. Harapan publik Sampit kini tertuju pada Tim SAR; semoga koordinasi yang apik antara teknologi dan kearifan lokal segera membuahkan hasil. (***)

  • Ternyata Industri AI “Rampok” Air Warga, 30 Juta Galon Dipakai Tanpa Terdeteksi

    Ternyata Industri AI “Rampok” Air Warga, 30 Juta Galon Dipakai Tanpa Terdeteksi

    Kanalindependen.id  – Ledakan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memunculkan persoalan baru yang jarang disadari publik: konsumsi air dalam jumlah masif.

    Mengutip Arstechnica.com,  sebuah kasus di Fayette County, Georgia, Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah sebuah proyek pusat data (data center) diketahui menggunakan lebih dari 30 juta galon air tanpa pembayaran awal dan tanpa terdeteksi selama berbulan-bulan.

    Fakta itu terungkap setelah warga di kawasan Annelise Park mengeluhkan tekanan air rumah mereka melemah. Dalam beberapa kesempatan, aliran air bahkan disebut tidak stabil saat jam-jam tertentu.

    Investigasi pemerintah daerah kemudian menemukan bahwa fasilitas data center milik perusahaan teknologi Quality Technology Services (QTS) ternyata memakai suplai air dalam skala besar untuk kebutuhan proyek konstruksi.

    Air digunakan untuk pencampuran beton, pengendalian debu, hingga kebutuhan pembangunan fasilitas pusat data berskala raksasa yang nantinya menopang layanan komputasi dan AI.

    Ironisnya, penggunaan air jumbo tersebut terjadi saat wilayah Georgia tengah menghadapi ancaman kekeringan dan pemerintah meminta masyarakat melakukan penghematan air.

    Infrastruktur Publik Mulai Terbebani

    Kasus ini memicu kemarahan warga karena penggunaan air dalam jumlah sangat besar itu baru diketahui setelah berlangsung cukup lama.

    Pemerintah daerah akhirnya menagihkan biaya sekitar US$147 ribu kepada perusahaan. Namun tidak ada sanksi tambahan maupun denda yang diberikan.

    Otoritas utilitas setempat berdalih masalah muncul akibat transisi sistem pencatatan dan lemahnya pengawasan lapangan.

    Meski demikian, banyak warga mempertanyakan bagaimana penggunaan air sebesar itu bisa lolos dari pemantauan.

    Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari industri AI yang selama ini lebih banyak dipromosikan sebagai simbol kemajuan teknologi.

    Di balik perkembangan chatbot, cloud computing, dan kecerdasan buatan, terdapat kebutuhan infrastruktur besar yang menyedot listrik dan air dalam skala luar biasa.

    AI Tidak Hanya “Haus” Listrik

    Pusat data modern membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga suhu ribuan server tetap stabil. Sistem inilah yang membuat konsumsi air melonjak drastis.

    Beberapa studi menyebut satu fasilitas data center besar dapat menggunakan jutaan galon air setiap hari, terutama di wilayah bercuaca panas.

    Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi global berlomba membangun pusat data baru untuk mendukung pertumbuhan AI generatif.

    Namun di sejumlah daerah, pembangunan tersebut mulai memicu kekhawatiran terkait keberlanjutan sumber daya air dan tekanan terhadap infrastruktur publik.

    Kasus di Georgia kini menjadi peringatan bahwa perkembangan AI ternyata tidak hanya soal inovasi digital, tetapi juga menyangkut perebutan sumber daya dasar yang digunakan masyarakat sehari-hari. (***)

  • Aksi Teror Jalanan: Truk CPO Dilempar Batu di Jalur Trans Kalimantan , Kaca Pecah Berantakan

    Aksi Teror Jalanan: Truk CPO Dilempar Batu di Jalur Trans Kalimantan , Kaca Pecah Berantakan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Jalan Trans Kalimantan kembali menjadi arena berbahaya bagi para pengguna jalan. Sebuah aksi pelemparan batu yang menyasar kendaraan angkutan Crude Palm Oil (CPO) terjadi di Jalan Jenderal Sudirman Km 37, arah Sampit–Pangkalan Bun, pada Senin malam (11/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Insiden ini menambah panjang daftar kerawanan di jalur vital lintas kabupaten tersebut.

    ​Kejadian bermula saat truk CPO yang dikemudikan korban melintas dari arah Sampit menuju Pangkalan Bun. Di tengah perjalanan yang gelap, korban berpapasan dengan dua unit sepeda motor yang masing-masing ditumpangi oleh dua orang tak dikenal. Secara tiba-tiba, salah seorang dari rombongan tersebut melempar batu ke arah truk. Lemparan pertama menghantam kaca depan hingga pecah berantakan, sementara hantaman lainnya mengenai bagian tangki truk.

    ​Ternyata, aksi vandalisme ini bukan kejadian tunggal. Muhammad Algazhali, seorang sopir angkutan lainnya, mengaku mengalami nasib serupa di lokasi yang berbeda. Hal ini mengindikasikan adanya pola teror yang mulai menyebar di beberapa titik jalur logistik Kotim.

    ​“Sama, pikap kami kemarin juga seperti itu. Tapi kejadiannya saat melintas di sekitar Jalan Tjilik Riwut, Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu,” ungkap Algazhali menceritakan pengalaman pahitnya.


    ​Ketiadaan motif yang jelas dalam rentetan kejadian ini membuat para sopir merasa waswas. Korban di Km 37 mengaku tidak memiliki persoalan dengan siapa pun sebelum serangan terjadi. Kejadian yang berlangsung sangat cepat membuat para pelaku mudah melarikan diri ke kegelapan malam setelah melancarkan aksinya.

    ​Laporan dari dua titik berbeda—Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Tjilik Riwut Pelantaran—menunjukkan bahwa “teror lempar batu” ini bukan lagi masalah sepele. Ini adalah ancaman nyata terhadap nyawa sopir dan keselamatan lalu lintas secara umum.

    ​Kaca yang pecah mungkin bisa diganti, namun trauma dan risiko kecelakaan fatal akibat sopir yang kaget saat mengemudi bermuatan berat adalah taruhan yang terlalu besar. Pihak kepolisian diinstruksikan untuk tidak hanya menunggu laporan formal, tetapi segera memetakan titik rawan dan memperketat patroli malam. Jalur Trans Kalimantan adalah urat nadi ekonomi; jangan sampai jalur ini berubah menjadi “jalur maut” karena dibiarkannya aksi vandalisme jalanan tanpa penindakan tegas. (***)

  • Maraton Penggeledahan Kejati: KPU Kotim Tak Lagi Lengang Saat Data Digital Hibah Disita

    Maraton Penggeledahan Kejati: KPU Kotim Tak Lagi Lengang Saat Data Digital Hibah Disita

    SAMPIT, Kanalindependen.id  –Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang biasanya tenang dan lengang kini tampak lebih berisik dan panik . Pada Senin pagi (11/5/2026), rombongan penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Tengah kembali mendatangi kantor tersebut. Kedatangan mereka kali ini tidak main-main, karena turut memboyong auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk membedah dugaan korupsi dana hibah Pilkada 2024 senilai Rp40 miliar.

    Penyisiran Ruang Tertutup dan Data Digital

    Suasana kantor yang biasanya lengang mendadak sibuk sejak pukul 09.00 WIB. Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah pegawai KPU tampak keluar masuk ruangan membawa tumpukan dokumen administrasi, sementara tim penyidik melakukan pemeriksaan mendalam secara tertutup di beberapa ruangan inti.

    Fokus penyidikan kali ini tidak hanya terpaku pada lembaran kertas. Petugas dilaporkan telah mengamankan sejumlah data digital yang diduga berisi rekam jejak penggunaan anggaran hibah. Kehadiran tim BPKP memperkuat indikasi bahwa penyidik tengah melakukan sinkronisasi data untuk menghitung angka pasti potensi kerugian negara dalam kasus ini.

    Seorang sumber internal mengungkapkan bahwa pemeriksaan berlangsung sangat mendetail hingga melewati jam istirahat siang.

    “Sejumlah dokumen yang diamankan diduga memiliki keterkaitan langsung dengan penggunaan dana hibah Pilkada 2024 yang saat ini tengah ditelusuri. Pemeriksaan mencakup aliran dana fisik hingga data digital,” ujar sumber tersebut.

    Kepingan Terakhir dalam Rangkaian Penggeledahan

    Langkah maraton Kejati Kalteng di Kantor KPU ini merupakan kepingan penting dari rangkaian panjang penyidikan di Kotim. Sebelumnya, jaksa telah lebih dulu menyisir dan menyita dokumen di sejumlah instansi kunci lainnya, mulai dari Kesbangpol, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD), hingga Sekretariat DPRD Kotim. Bahkan, pemeriksaan juga telah menyasar pihak swasta yang diduga terlibat dalam pusaran aliran dana tersebut.

    Hingga sore hari, pemeriksaan masih berlangsung dan belum ada pernyataan resmi mengenai penetapan tersangka. Namun, penggeledahan yang dilakukan secara bertubi-tubi di berbagai instansi ini memberikan sinyal kuat bahwa penyidik sedang merampungkan konstruksi perkara untuk segera membawa kasus ini ke tahap selanjutnya.

    Keputusan Kejati untuk menggandeng BPKP dan menyita data digital dari Kantor KPU Kotim menunjukkan bahwa mereka tidak ingin terjebak pada formalitas laporan administrasi semata. Dalam kasus korupsi modern, “jejak digital” seringkali lebih jujur daripada laporan di atas kertas yang bisa dimanipulasi.

    Rangkaian maraton penggeledahan ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang terlibat. Ketika auditor BPKP sudah turun ke lapangan dan data digital mulai berpindah tangan, biasanya hanya tinggal menunggu waktu hingga angka kerugian negara diumumkan secara resmi ke publik. Publik Sampit kini menanti, siapa saja yang akan terseret dalam “badai” dana hibah Rp40 miliar ini? (***)

  • Sinergi Lintas Negara di Sungai Keramat: Turis Norwegia Turun ke Sungai Gabung Aktivis Lingkungan Sampit

    Sinergi Lintas Negara di Sungai Keramat: Turis Norwegia Turun ke Sungai Gabung Aktivis Lingkungan Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Ada pemandangan yang tidak biasa di tengah tumpukan eceng gondok dan sampah yang menyumbat aliran sungai Sungai Keramat, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, Senin (11/5/2026).

    Di antara puluhan relawan lokal yang berjibaku dengan lumpur, tampak seorang warga negara asing asal Norwegia yang ikut terjun langsung membersihkan saluran air. Kehadiran turis mancanegara ini menjadi tamparan sekaligus penyemangat bagi warga Sampit dalam menghadapi persoalan banjir yang tak kunjung usai.

    Aksi gotong royong ini digagas oleh kelompok aktivis lingkungan setempat sebagai respons atas seringnya banjir merendam pemukiman warga setiap kali hujan deras turun. Sekitar 50 orang relawan, mulai dari pemuda, unsur kecamatan, hingga petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), terlibat dalam normalisasi sungai sepanjang 10 meter tersebut.

    Namun, keterlibatan wisatawan asal Norwegia itulah yang mencuri perhatian dan memberikan pesan kuat tentang pentingnya kepedulian lingkungan tanpa batas teritorial.

    Harie, salah satu penggerak aksi lingkungan di Sampit, menjelaskan bahwa gerakan ini murni berangkat dari keprihatinan kolektif. Ia menekankan bahwa selain tindakan fisik, misi utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai dampak buruk dari tumpukan sampah di drainase.

    “Karena banjir belakangan ini kami bergerak dan sekaligus memberikan edukasi juga ke masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kami tidak memaksa siapapun untuk ikut, intinya siapa saja yang peduli silakan bergabung,” kata Harie di sela-sela kegiatannya.

    Di tengah proses pengangkatan gulma dan sampah, suasana sempat tegang ketika relawan menemukan seekor ular piton sepanjang kurang lebih dua meter yang bersembunyi di semak liar yang lembap. Penemuan ini segera ditangani dengan evakuasi agar tidak membahayakan warga pemukiman padat penduduk tersebut. Harie kembali mengingatkan bahwa kondisi lingkungan yang kotor tidak hanya menghambat air, tetapi juga menjadi sarang bagi satwa berbahaya.

    “Dalam kegiatan ini kami tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Kami hanya ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekitar karena dampaknya kembali lagi ke kita semua. Selain mengurangi risiko banjir, lingkungan yang bersih juga dapat meminimalkan kemunculan satwa liar,” tegasnya.

    Kegiatan yang berlangsung secara swadaya ini diharapkan mampu memantik kesadaran yang lebih luas di tengah masyarakat Kotim. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk keterlibatan spontan dari warga asing, para aktivis berharap normalisasi drainase tidak lagi hanya menjadi beban segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama demi kenyamanan hidup di Kota Sampit. (***)

  • Waspada Jalur Licin di Jemaras: Truk CPO Terguling dan Menumpahkan Muatan ke Badan Jalan

    Waspada Jalur Licin di Jemaras: Truk CPO Terguling dan Menumpahkan Muatan ke Badan Jalan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk pengangkut Crude Palm Oil (CPO) kembali terjadi di jalur vital Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada Minggu sore (10/5/2026).

    Insiden yang terjadi sekitar pukul 15.00 WIB ini mengakibatkan tangki kendaraan bocor hingga meluberkan minyak ke permukaan aspal, menciptakan kondisi jalan yang sangat berbahaya bagi para pengguna jalan lainnya.

    Kecelakaan bermula saat truk bermuatan minyak sawit mentah tersebut melaju dari arah Palangka Raya menuju Sampit. Di lokasi kejadian, truk diduga mengalami kerusakan teknis pada bagian blombongan hingga mengakibatkan salah satu ban terlepas secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat sopir kehilangan kendali, hingga akhirnya kendaraan tersebut terguling di sisi jalan.

    Sebuah mobil Daihatsu Sigra putih yang berada tepat di belakang truk pun nyaris terlibat benturan, namun berhasil menghindar saat ban truk tersebut menggelinding liar di badan jalan.

    Novita, seorang warga yang berada di sekitar lokasi, menceritakan kepanikan saat peristiwa tersebut pecah. Menurutnya, ban truk yang terlepas menjadi pemicu utama kendaraan oleng hingga terbalik.

    “Awalnya ban truk CPO terlepas, lalu langsung terbalik sendiri. Minyak dari tangki bocor dan meluber ke jalan,” ujar Novita saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.

    Dampak dari tumpahan minyak ini langsung dirasakan oleh pengendara lain. Permukaan aspal yang dilapisi minyak sawit menjadi sangat licin dan sulit dilalui, terutama bagi kendaraan roda dua. Novita menambahkan bahwa sudah ada korban yang terjatuh akibat kondisi jalan yang tidak kondusif tersebut.

    “Informasinya dua pengendara sempat jatuh karena jalannya licin kena minyak CPO. Ada juga mobil putih yang tadi sempat menghindari ban truk yang terlepas itu supaya tidak kena,” tambahnya.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim segera merespons laporan warga yang masuk melalui layanan hotline. Dalam laporan darurat tersebut, warga mendesak agar armada bantuan segera tiba untuk menetralisir tumpahan minyak agar tidak memakan lebih banyak korban.

    “Mohon izin bisa minta bantu armada tangki. Ada kecelakaan lalu lintas antara mobil truk CPO dan mobil Sigra di Jemaras dekat SPBU Jemaras. CPO-nya tumpah di jalan sehingga jalan licin Pak,” demikian bunyi laporan yang diterima BPBD Kotim.

    Hingga berita ini diturunkan, petugas kepolisian telah berada di lokasi untuk mengatur lalu lintas serta melakukan pendalaman terkait penyebab pasti kerusakan mekanis pada truk tersebut. Pengendara yang melintas di kawasan Jemaras diimbau untuk sangat berhati-hati dan menurunkan kecepatan secara drastis.

    Insiden ban lepas ini adalah pengingat keras bahwa kelaikan teknis kendaraan angkutan berat tidak bisa ditawar. Tumpahan CPO di jalan umum bukan hanya merugikan pemilik barang, tetapi menjadi ancaman nyawa bagi masyarakat umum yang melintas. Kejadian ini mempertegas perlunya pengawasan lebih ketat terhadap standar perawatan armada angkutan sebelum mereka dilepas ke jalan raya lintas kabupaten. (***)