Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Digugat karena Bikin Kecanduan, Meta dan YouTube Harus Bayar Rp 95 Miliar

    Digugat karena Bikin Kecanduan, Meta dan YouTube Harus Bayar Rp 95 Miliar

    Kanalindependen.id – Ruang sidang di Los Angeles itu menjadi saksi bagaimana sebuah kebiasaan yang awalnya tampak sepele menonton video dan bermain media sosial berubah menjadi persoalan besar yang menyeret dua raksasa teknologi dunia ke meja hijau.

    Mengutip arstechnica.com, Meta Platforms dan YouTube akhirnya dinyatakan bersalah dan diwajibkan membayar ganti rugi jutaan dolar kepada seorang perempuan muda yang mengaku hidupnya rusak akibat kecanduan sejak usia anak-anak.

    Kisah ini bermula ketika korban, yang masih sangat belia, mulai mengenal dunia digital. Di usia 6 tahun, ia sudah akrab dengan YouTube. Tiga tahun berselang, Instagram menjadi bagian dari kesehariannya. Apa yang semula hanya hiburan perlahan berubah menjadi ketergantungan. Waktu demi waktu habis di depan layar, tanpa terasa. Dunia nyata mulai menjauh, digantikan oleh arus konten yang tidak pernah berhenti.

    Di persidangan, terungkap bahwa kondisi tersebut bukan sekadar kebiasaan buruk. Korban mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri. Pihak penggugat meyakini bahwa akar masalahnya bukan hanya pada penggunaan, melainkan pada desain platform itu sendiri yang dinilai sengaja dibuat untuk membuat pengguna betah berlama-lama.

    Fitur seperti pemutaran otomatis dan gulir tanpa batas menjadi sorotan. Tanpa perlu mencari, konten terus mengalir. Tanpa perlu memilih, video berikutnya langsung berjalan. Dalam situasi itu, batas antara “sebentar lagi berhenti” dan “terus menonton” menjadi kabur. Juri melihat ada pola yang tidak kebetulan, melainkan bagian dari sistem yang memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

    Putusan pun dijatuhkan. Pengadilan menyatakan kedua perusahaan lalai dan harus bertanggung jawab. Total ganti rugi mencapai 6 juta dolar AS atau sekitar Rp 95 miliar, terdiri dari kompensasi dan hukuman tambahan. Dalam pembagian tanggung jawab, Meta Platforms menanggung porsi lebih besar dibandingkan YouTube.

    Yang membuat kasus ini berbeda adalah pendekatan hukumnya. Gugatan tidak menyerang isi konten yang selama ini dilindungi hukum di Amerika Serikat, melainkan menyasar bagaimana platform itu dibangun. Fokusnya ada pada desain yang dianggap mendorong kecanduan, terutama pada pengguna usia muda. Pendekatan ini membuka celah baru dalam upaya menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi.

    Banyak pihak mulai melihat putusan ini sebagai titik balik. Ribuan gugatan serupa disebut tengah menunggu proses hukum. Situasinya bahkan mulai dibandingkan dengan gelombang gugatan terhadap industri rokok puluhan tahun lalu, yang pada akhirnya mengubah wajah regulasi secara global.

    Meski demikian, Meta Platforms dan YouTube tidak menerima begitu saja hasil persidangan tersebut. Keduanya menyatakan akan mengajukan banding dan menilai bahwa persoalan kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan hanya pada satu faktor, apalagi satu platform.

    Di tengah perdebatan itu, satu hal menjadi jelas. Dunia mulai mempertanyakan kembali batas tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap penggunanya, terutama anak-anak. Kasus ini bukan sekadar tentang satu korban, tetapi tentang bagaimana sebuah sistem digital dapat memengaruhi kehidupan seseorang sejak usia dini.

    Dan dari ruang sidang itu, sebuah pesan perlahan menguat bahwa di balik layar yang tampak sederhana, ada mekanisme besar yang kini mulai dipertanyakan, bahkan dituntut untuk berubah. (***)

  • Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, Kamis (26/3/2026), suasana di Sampit mendadak berubah. Kabar yang awalnya beredar pelan di grup WhatsApp, perlahan menjalar membawa duka yang sama ke banyak hati. Camat Baamang Sufiansyah, dikabarkan meninggal dunia.

    Ia mengembuskan napas terakhir di RSUD dr Murjani Sampit, meninggalkan jejak panjang pengabdian di wilayah yang selama ini ia pimpin.

    Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar luas. Dari kantor pemerintahan, dari grup ASN hingga masyarakat biasa emua seperti tersentak oleh satu berita yang sama.

    “Benar , beliau baru saja meninggal dunia. Jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Cristopel Mihing, Baamang Hilir,” ungkap Rahmat Noor, salah seorang pemuda yang akrab dengan mendiang.

    Bagi warga Baamang, Sufiansyah bukan sekadar camat.
    Ia adalah wajah yang akrab di berbagai kegiatan mulai dari rapat, turun lapangan, hingga hadir di tengah masyarakat dalam berbagai persoalan.

    Dalam beberapa agenda dan kesempatan sebelumnya, ia masih terlihat aktif menjalankan tugasnya sebagai kepala wilayah. Ia hadir dalam kegiatan pemerintahan, bahkan ikut turun langsung ke lapangan dalam berbagai agenda pembangunan dan sosial.

    Karena itu, kabar kepergiannya terasa begitu mendadak. Belum banyak kata yang bisa menjelaskan perasaan hari itu. Hanya doa yang perlahan menggantikan percakapan.

    Ucapan belasungkawa mengalir, tak hanya dari kalangan pejabat, tapi juga masyarakat yang pernah bersinggungan langsung dengan almarhum.

    Sosoknya dikenal sederhana, dekat dengan warga, dan tak jarang memilih hadir langsung ketimbang sekadar memberi instruksi.

    Di RSUD dr Murjani, tempat ia mengembuskan napas terakhir, suasana haru tak terelakkan.
    Keluarga, kerabat, dan rekan kerja mulai berdatangan, membawa kehilangan yang sama meski dengan cerita yang berbeda-beda tentang dirinya.

    Kini, Baamang kehilangan satu putra terbaiknya. Namun kenangan tentang Sufiansyah tak akan ikut pergi.

    Ia tinggal dalam cerita, dalam jejak pengabdian, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. (***)

  • Kebakaran Tengah Malam di Sampit, Kamar Rusak Parah Kerugian Capai Puluhan Juta

    Kebakaran Tengah Malam di Sampit, Kamar Rusak Parah Kerugian Capai Puluhan Juta

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Suasana malam yang seharusnya tenang di Perumahan Mandiri Residence, Jalan Walter Condrat, Desa Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendadak berubah mencekam, Rabu (25/3/2026) sekitar pukul 23.22 WIB.

    Sebuah kamar tidur milik Rani (24) dilaporkan terbakar secara tiba-tiba. Kepulan asap tebal yang muncul dari dalam rumah membuat warga sekitar panik dan berhamburan keluar untuk memastikan kondisi lingkungan tetap aman.

    Sejumlah saksi mata menyebut, sebelum api terlihat membesar, sempat terdengar dua kali suara ledakan dari arah kamar. Tak lama kemudian, asap hitam pekat membumbung dan memicu kepanikan di tengah malam.

    Kepala Peleton I Damkar Kotim, Akhmad Ilham Wahyudi, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan darurat dari warga.

    Tiga unit mobil pemadam kebakaran bersama satu unit rescue diterjunkan ke lokasi. Saat petugas tiba, api disebut sudah mulai mengecil, namun masih menyisakan asap di bagian plafon dan dinding kamar.

    “Petugas langsung melakukan penyiraman dan pendinginan selama beberapa menit hingga kondisi benar-benar aman,” ujarnya, Kamis (26/3/2026) .

    Petugas dari tiga regu piket memastikan tidak ada potensi api kembali menyala sebelum meninggalkan lokasi.

    Detik-detik kebakaran sempat memicu kepanikan warga sekitar. Dengan penerangan seadanya, sebagian warga berupaya membantu mengevakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

    Beruntung, api tidak sempat merambat ke bagian lain rumah maupun bangunan di sekitarnya. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

    Rani, pemilik rumah, mengaku syok namun bersyukur seluruh penghuni rumah selamat dari insiden tersebut.

    “Saya sangat panik, tapi bersyukur semua selamat. Petugas juga cepat datang,” ungkapnya.

    Kerugian Puluhan Juta, Penyebab Diselidiki
    Akibat kebakaran tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp30 juta. Sejumlah perabotan serta struktur kamar mengalami kerusakan cukup parah.

    Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Dugaan sementara mengarah pada sumber api dari dalam kamar yang memicu ledakan awal.

    Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama pada malam hari. Pemeriksaan instalasi listrik serta kesiapan alat pemadam sederhana di rumah dinilai penting guna mencegah risiko yang lebih besar. (***)

  • Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lebaran baru saja berlalu. Riuh silaturahmi mulai mereda, jalanan yang sempat padat kembali lengang, dan aktivitas perlahan kembali ke ritme biasa. Namun di Kotawaringin Timur, ada sesuatu yang justru mulai kembali api.

    Siang itu, Rabu (25/3/2026), asap membumbung dari semak belukar di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang. Tidak datang tiba-tiba. Ia seperti kelanjutan dari peringatan yang beberapa hari sebelumnya sudah disampaikan, namun belum benar-benar dirasakan.
    Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim turun ke lokasi, berjibaku menahan api agar tidak menjalar lebih luas di tengah kondisi lahan yang kering.

    “Titik kebakaran pertama sudah bisa diatasi pukul 15.23,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.

    Kata “terkendali” mungkin memberi rasa lega. Tapi di musim seperti ini, ia seringkali hanya berarti: untuk sementara.

    Sebab di balik satu titik api, ada banyak potensi lain yang menunggu giliran.

    Dalam 24 jam terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sejumlah hotspot di wilayah Kotim. Baamang hanya satu yang lebih dulu berubah menjadi kejadian nyata.

    Tak lama berselang, laporan lain masuk. Kali ini dari Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Titiknya masih dilacak, tapi sinyalnya jelas api mulai muncul di lebih dari satu lokasi, tepat setelah momen Lebaran berlalu.

    “Kami juga menerima laporan kebakaran dari arah Desa Eka Bahurui. Kami masih melacak titik koordinatnya,” kata Multazam.

    Kondisi ini sejalan dengan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah kini berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Cuaca kering, suhu panas, dan minimnya hujan menjadi kombinasi yang membuka ruang bagi api untuk tumbuh.

    Ironisnya, ini terjadi saat masyarakat baru saja melewati masa perayaan waktu di mana perhatian sering terpecah antara mudik, berkumpul, dan kembali ke rutinitas.

    Di sela-sela itu, potensi kebakaran sering luput dari perhatian.

    Padahal, di lahan gambut, api tak hanya menyala di permukaan. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, bergerak pelan, lalu muncul kembali di waktu yang tak terduga.

    BPBD kembali mengingatkan larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Imbauan yang hampir selalu terdengar setiap tahun, namun kerap tak cukup kuat untuk mencegah kejadian serupa.

    Dua titik kebakaran dalam satu hari, tepat setelah Lebaran, menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla tidak mengenal jeda perayaan.

    Justru sebaliknya ia sering datang ketika kewaspadaan mulai menurun.

    Dan seperti yang berulang tiap tahun, semuanya bisa dimulai dari api kecil di semak. Hingga akhirnya, menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar peringatan. (***)

  • Bukan Sekadar Satu Pelaku, 69 Janjang Sawit dan Dugaan Jaringan di Baliknya

    Bukan Sekadar Satu Pelaku, 69 Janjang Sawit dan Dugaan Jaringan di Baliknya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, kebun sawit di Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tampak seperti hari-hari biasa lengang, panas, dan nyaris tanpa aktivitas mencolok. Tapi justru di ruang yang sunyi itu, sebuah pola lama kembali berjalan.

    Seorang pria terlihat bolak-balik di antara barisan pohon sawit. Di pundaknya, janjang demi janjang diangkut menggunakan tojok. Ia bekerja cepat, berulang, seperti memahami betul kapan kebun sedang lengah. Ia adalah RD (39).

    Aksinya pertama kali terendus oleh petugas keamanan PT Sapta Karya Damai (SKD) saat patroli rutin, Senin (23/3) sekitar pukul 12.50 WIB di Blok J18 Divisi 11. Kecurigaan muncul bukan tanpa alasan pelaku tetap melanjutkan aktivitasnya meski telah ditegur.

    “Pelaku sempat diperingatkan, tetapi tidak mengindahkan. Itu yang membuat petugas curiga,” ujar Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko, Rabu (25/3/2026).

    Kecurigaan itu kemudian menemukan petunjuk lain. Di tepi parit, sebuah sampan (klotok) terparkir diam. Tak jauh dari situ, janjang sawit mulai tertumpuk di pinggir jalan blok seolah disiapkan untuk dipindahkan.
    Petugas tak langsung bergerak. Mereka memilih mengamati.

    Dari jarak sekitar 150 meter, RD masih terlihat keluar-masuk blok kebun, memanggul buah sawit dan menumpuknya di satu titik. Aktivitas itu berlangsung sekitar 20 menit cukup lama untuk memastikan bahwa ini bukan sekadar aktivitas biasa.

    Saat tim tambahan datang dan penyisiran dilakukan, semuanya berakhir cepat. RD keluar dari dalam blok sambil membawa tojok, lalu diamankan di dekat sampan tanpa perlawanan.

    Namun yang tersisa di lokasi justru membuka pertanyaan lebih besar.

    Sebanyak 28 janjang sawit ditemukan di pinggir jalan. Di lokasi lain, 41 janjang tambahan turut diamankan. Totalnya 69 janjang jumlah yang sulit diabaikan sebagai aksi spontan.

    Sampan yang digunakan menjadi petunjuk penting. Jalur parit diduga dipilih untuk menghindari pengawasan di akses darat cara lama yang berulang di banyak wilayah perkebunan.

    Di titik inilah, kasus ini tak lagi terlihat sederhana.
    Apakah RD bekerja sendiri? Atau hanya bagian kecil dari rantai yang lebih panjang?

    Polisi belum memberikan jawaban pasti. Namun penyelidikan masih terus berjalan untuk mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain di balik aksi tersebut.

    Pelaku kini telah diamankan dan dibawa ke Polres Kotawaringin Timur setelah melalui pendataan awal di kantor perusahaan. Ia dijerat Pasal 107 huruf d Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan serta Pasal 476 KUHP tentang pencurian.

    Di banyak kasus, pencurian sawit bukan sekadar soal satu orang yang tertangkap. Ia sering menjadi potongan kecil dari sistem yang bekerja dalam diam memanfaatkan luasnya kebun, celah pengawasan, dan jalur-jalur sunyi yang luput dari perhatian.

    Dan selama celah itu masih ada, cerita seperti ini hampir selalu menemukan cara untuk terulang. (***)

  • Kayu Jembatan Akses Kebun di Cempaka Mulia Barat Dicuri Maling, Warga Kehilangan Penghubung Hidup

    Kayu Jembatan Akses Kebun di Cempaka Mulia Barat Dicuri Maling, Warga Kehilangan Penghubung Hidup

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di Jalan Poros Pertanian, Desa Cempaka Mulia Barat, sebuah jembatan kecil menyimpan cerita besar. Ia bukan sekadar lintasan kayu yang menghubungkan dua sisi. Ia adalah jalan pulang, jalan kerja, sekaligus harapan bagi warga yang menggantungkan hidup dari kebun.

    Kini, jembatan itu tak lagi utuh.

    Fathur Rahman, warga setempat, menjadi salah satu yang pertama menyadari ada yang berubah. Bukan karena ada pemberitahuan resmi, melainkan dari kabar yang beredar pelan di antara warga.

    “Ini jembatan di jalan poros pertanian Cempaka Mulia Barat. Untuk akses ke kebun masyarakat dan kebun buah,” ujarnya.

    Awalnya, informasi soal kerusakan jembatan itu terdengar seperti kabar biasa. Namun, setelah sekitar sebulan isu itu beredar, Fathur memutuskan untuk mengecek langsung. Apa yang ia temukan justru mempertegas kekhawatiran warga.

    “Pas saya balik mengecek, ternyata benar,” katanya singkat.

    Sejumlah kayu penyangga jembatan disebut sudah hilang. Bukan lapuk dimakan usia, melainkan diduga kuat dicuri. Dugaan itu bukan tanpa dasar, meski hingga kini belum ada bukti kuat yang bisa dibawa ke ranah hukum.

    “Saya sudah amati. Ada saksi juga, cuma memang kurang alat bukti saja,” ungkap Fathur.

    Pengakuan itu membuka satu persoalan yang lebih besar: lemahnya pengawasan terhadap infrastruktur yang justru vital bagi masyarakat desa. Di tempat yang jauh dari sorotan, kehilangan bisa terjadi tanpa suara dan dampaknya langsung terasa.

    Bagi warga, hilangnya kayu jembatan bukan sekadar kerugian material. Itu berarti risiko setiap kali mereka melintas. Jalan menuju kebun yang seharusnya menjadi rutinitas, kini berubah menjadi ancaman.

    Tidak ada garis pengaman. Tidak ada peringatan. Hanya sisa jembatan yang mulai rapuh, dan warga yang terpaksa tetap melintas karena tak punya pilihan lain.

    Lebih ironis lagi, hingga saat ini belum ada tanda-tanda penanganan dari pihak terkait. Tidak ada perbaikan, tidak pula penyelidikan terbuka. Seolah kehilangan itu terlalu kecil untuk dianggap penting.

    Padahal, bagi warga Cempaka Mulia Barat, jembatan itu adalah penghubung hidup.

    Ketika kayunya dicuri, yang ikut hilang bukan hanya struktur fisik melainkan rasa aman dan kepastian. Dan selama tak ada tindakan nyata, warga hanya bisa berharap: sebelum jembatan itu benar-benar runtuh, ada yang akhirnya peduli. (***)

  • Pantai yang Dicintai, Tapi Tak Dijaga, Kisah Lebaran di Ujung Pandaran

    Pantai yang Dicintai, Tapi Tak Dijaga, Kisah Lebaran di Ujung Pandaran

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Langit di Ujung Pandaran tetap sama biru yang luas, angin yang tak pernah benar-benar diam, dan ombak yang setia datang dan pergi. Tapi Lebaran tahun ini membawa sesuatu yang berbeda: manusia datang lebih banyak dari biasanya.

    Sejak hari H Idulfitri hingga H+3, arus wisatawan mengalir tanpa jeda ke pesisir Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Jalanan menuju pantai padat, area parkir meluber, dan garis pantai berubah menjadi hamparan manusia yang mencari jeda dari rutinitas.

    Di atas pasir, keluarga-keluarga membentang tikar. Anak-anak berlarian mengejar ombak, orang tua sibuk mengabadikan momen. Tawa terdengar di mana-mana, bercampur dengan suara debur laut. Ujung Pandaran kembali menjadi ruang pulang tempat orang-orang merayakan kebersamaan.

    Dari sisi ekonomi, denyutnya terasa. Penginapan di sekitar kawasan hampir tak menyisakan kamar kosong. Pelaku usaha kecil ikut kecipratan berkah. Libur Lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu menjadi musim panen bagi kawasan ini.

    Wakil Bupati Kotim, Irawati, yang turun langsung ke lokasi pada Selasa (24/3/2026), mengakui lonjakan kunjungan tahun ini lebih tinggi dibanding sebelumnya.

    “Kalau kita lihat langsung di lapangan, pengunjung memang jauh lebih ramai. Bahkan dari laporan pengelola, tingkat kunjungan meningkat dibanding tahun lalu,” ujarnya.

    Wisatawan yang datang pun tak lagi didominasi warga lokal. Beberapa di antaranya berasal dari luar Kalimantan dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Ujung Pandaran semakin dikenal, semakin dicari.

    Namun, di balik keramaian itu, ada cerita lain yang tak selalu masuk ke dalam foto-foto liburan.

    Di sela tikar dan jejak kaki di pasir, sampah mulai terlihat. Bungkus makanan, botol plastik, hingga sisa-sisa yang ditinggalkan begitu saja. Pola lama yang kembali berulang: datang untuk menikmati, pergi tanpa benar-benar peduli.

    Lonjakan pengunjung membawa berkah, tapi juga meninggalkan persoalan yang sama kesadaran yang belum ikut tumbuh.

    “Kami minta kesadaran bersama. Datang menikmati pantai, tapi jangan tinggalkan sampah. Minimal bawa kantong sendiri dan buang di tempat yang tersedia,” tegas Irawati.

    Di lapangan, petugas dan relawan tampak menyisir kawasan pantai, memunguti sampah satu per satu. Pekerjaan yang seolah tak pernah selesai, terutama saat jumlah pengunjung melonjak drastis.

    Ironisnya, pantai yang begitu dicintai justru perlahan dibebani oleh perilaku pengunjungnya sendiri.

    Ujung Pandaran kini berada di persimpangan: antara menjadi destinasi yang terus tumbuh atau kawasan yang pelan-pelan kehilangan daya tariknya karena tak terjaga.

    Sebab pada akhirnya, mencintai tempat seperti pantai bukan hanya soal datang dan menikmati. Tapi juga tentang bagaimana meninggalkannya tetap bersih, tetap layak, dan tetap indah untuk kembali. (***)

  • Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pencarian yang sempat terhenti saat gema takbir Idulfitri akhirnya berujung kepastian pahit. Muh Syahrir, anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang di Sungai Mentaya, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Minggu pagi (22/3/2026).

    Tubuhnya ditemukan sekitar pukul 07.30 WIB di wilayah Terantang. Bukan oleh tim penyelamat, melainkan oleh ABK kapal lain yang melintas di jalur perairan tersebut.
    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, memastikan temuan itu.

    “Jam 07.30 korban ditemukan oleh ABK kapal di Terantang dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.

    Penemuan ini menutup pencarian yang sebelumnya berlangsung dalam ritme terputus. Tim gabungan sempat menyisir perairan Sungai Mentaya sejak laporan hilangnya korban pada Kamis malam (19/3). Namun, operasi dihentikan sementara saat Salat Idulfitri, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.

    Syahrir sebelumnya dilaporkan hilang dari atas tongkang BG Marine Jaya II yang ditarik TB Ocean Marine 2. Rekaman CCTV menjadi petunjuk terakhir ia terlihat berjalan ke arah buritan kapal, lalu lenyap dari jangkauan kamera. Tidak ada saksi, tidak ada suara minta tolong. Hanya jeda, lalu kekosongan.

    Pencarian awal dilakukan kru kapal dengan menyisir badan tongkang hingga perairan sekitar. Hasilnya nihil. Upaya diperluas melibatkan tim gabungan, namun waktu berjalan lebih cepat dari pencarian itu sendiri.

    Dua hari kemudian, sungai mengembalikan tubuhnya.
    Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan. Jenazah Syahrir dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

    Di tengah suasana hari raya yang identik dengan kepulangan dan pertemuan, kabar ini justru datang sebagai kehilangan. Sungai Mentaya, yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga, sekali lagi menyisakan cerita yang tak sepenuhnya terjawab. (***)

  • Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam-malam terakhir Ramadan biasanya diisi gema takbir dan persiapan menyambut Hari Raya. Namun di tepian Sungai Mentaya, suasana itu terasa berbeda. Ada satu nama yang terus dipanggil dalam diam: Muh Syahrir.

    Ia adalah anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang dari sebuah tongkang di perairan Mentaya. Hingga Sabtu (21/3), keberadaannya masih menjadi tanda tanya.

    Kamis malam (19/3/2026) sekitar pukul 22.44 WIB, rekaman CCTV di atas tongkang BG Marine Jaya II merekam aktivitas terakhir Syahrir. Ia terlihat naik turun tangga, lalu berjalan ke arah buritan bagian paling belakang kapal. Setelah itu, ia tak lagi terlihat.
    Tak ada teriakan. Tak ada saksi.

    Beberapa jam berselang, Jumat dini hari (20/3/2026) sekitar pukul 01.07 WIB, kru kapal mulai menyadari ada yang tidak beres. Saat tongkang bersandar di rede Sampit, Syahrir tak ditemukan di mana pun. Pencarian awal dilakukan di seluruh bagian kapal dari ruang akomodasi hingga dek luar. Hasilnya nihil.

    Pencarian kemudian melebar. Kapten kapal memerintahkan penyisiran ke arah Luwuk Bunter mulai pukul 01.40 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Upaya itu dilanjutkan kembali hingga pagi, namun jejak Syahrir tetap tak ditemukan.

    Di darat, tim gabungan juga bergerak. Posko didirikan, koordinasi dilakukan. Namun hingga kini, hasilnya masih sama: Syahrir belum ditemukan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya masih menunggu langkah lanjutan setelah Salat Idulfitri.

    “Masih belum terkonfirmasi ditemukan. Kami tetap bersiaga di posko dan akan koordinasi lanjutan dengan tim SAR setelah Salat Id,” ujarnya.

    Keputusan menunda lanjutan pencarian hingga setelah Salat Id menyisakan pertanyaan. Di satu sisi, ini adalah momen besar keagamaan. Namun di sisi lain, waktu adalah faktor krusial dalam operasi pencarian.

    Di tengah gema takbir yang mulai berkumandang, ada keluarga yang menunggu kabar yang tak kunjung datang. Ada harapan yang bertahan, meski terus diuji.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah hilangnya seorang ABK. Ia membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sistem keselamatan kerja di atas kapal dijalankan? Mengapa tidak ada yang mengetahui saat seseorang menghilang di area terbuka seperti buritan?

    Dan sejauh mana pengawasan benar-benar dilakukan, terutama pada malam hari?

    CCTV memang merekam. Tapi rekaman itu baru disadari setelah semuanya terjadi.

    Kini, Sungai Mentaya kembali tenang di permukaan. Namun di balik arusnya, ada cerita yang belum selesai. Tentang seorang pekerja yang hilang di penghujung Ramadan dan tentang pencarian yang masih terus berjalan, di antara takbir dan harapan. (***)

  • Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Takbir berkumandang. Pagi itu, Sabtu (20/3/2026) suasana Idulfitri terasa khidmat di Perguruan Muhammadiyah Sampit.

    Di atas mimbar, Khatib Salat Idulfitri, HM Fatchurrahman, tidak hanya mengajak jamaah merayakan kemenangan. Ia justru mengajak untuk bertanya tentang apa yang tersisa setelah Ramadan pergi.

    “Kita baru saja menunaikan ibadah puasa Ramadan, bulan yang mulia dan sangat dirindukan orang beriman,” ucapnya.

    Namun ia tak berhenti pada pujian.
    Ramadan, kata dia, bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga bulan pendidikan. Tempat manusia dilatih menahan diri bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari segala yang dilarang.

    Masalahnya, semangat itu tak selalu bertahan.
    Di awal Ramadan, masjid dan musala penuh. Saf-saf rapat. Namun perlahan, jumlah jamaah menyusut. Hingga di sepuluh malam terakhir yang justru paling istimewa sebagian orang malah sibuk di pusat perbelanjaan.

    Padahal di situlah letak inti Ramadan.
    “Malam yang lebih baik dari seribu bulan justru sering terlewatkan,” sindirnya halus.

    Kini Ramadan telah pergi.
    Pertanyaannya, apakah nilai-nilainya ikut pergi?
    Dulu, selama sebulan penuh, umat Islam rela menahan diri. Tapi setelah itu, apakah masih mampu menahan diri dari yang haram?

    Ia mengingatkan, larangan Allah bukan hanya berlaku saat Ramadan.

    Mengutip Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik, serta menjaga setiap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
    Lebih jauh, ia mengajak jemaah untuk merenung lebih dalam.

    Seakan Ramadan berbicara.
    “Apakah kalian masih menjaga tangan kalian setelah aku pergi?”

    Pertanyaan itu bukan tanpa makna. Sebab pada akhirnya, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi.

    “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan,” ujarnya, mengutip QS Yasin ayat 65.

    Tak hanya itu, Ramadan juga seakan bertanya: apakah kita masih menjaga pandangan, pendengaran, dan hati?
    Selama sebulan, semua itu dijaga. Tapi setelahnya, sering kali kembali longgar.

    Padahal, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
    Ia juga menyinggung kebiasaan baik selama Ramadan bersedekah, membantu sesama, mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Hal-hal yang sering kali perlahan ditinggalkan setelah bulan suci berlalu.

    Jangan sampai, katanya, Al-Qur’an yang dulu sering dibaca justru kalah oleh layar gawai. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan nyata.

    Dalam satu kalimat yang terasa menampar, ia menggambarkan Ramadan seperti tamu.

    “Aku hanya pulang, namun aku seperti tamu yang tidak diharapkan kembali.”

    Sebuah sindiran, sekaligus pengingat.
    Bahwa semangat Ramadan seharusnya tidak berhenti di hari kemenangan.

    Di akhir khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk berdoa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang tengah dilanda musibah.

    Ia memohon agar umat tetap diberi kekuatan untuk istiqamah, menjaga iman, dan kembali dipertemukan dengan Ramadan di masa mendatang.

    Idulfitri, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan.
    Ia adalah titik awal. Pertanyaannya sederhana tapi sering dihindari: setelah Ramadan pergi, apa yang benar-benar kita bawa?(***)