Penulis: Usay Nor Rahmad

  • Buaya Muncul di Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    Buaya Muncul di Sungai Tabuk, Warga Kota Besi Hulu Diminta Waspada

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pagi yang biasanya tenang di bantaran Sungai Tabuk mendadak berubah tegang. Seekor buaya dilaporkan muncul di aliran sungai yang berada di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat pagi (13/2/2026).

    Kemunculan satwa liar tersebut sontak mengundang perhatian warga. Sungai Tabuk yang terhubung langsung dengan Sungai Mentaya selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian masyarakat mulai dari mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya.

    Kini, aliran sungai yang biasa memberi kehidupan justru menghadirkan rasa waswas, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan anak-anak yang kerap bermain di sekitarnya.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengatakan buaya terlihat timbul di belakang rumah warga pada pagi hari.

    “Informasi yang kami terima, buaya muncul di belakang rumah warga di kawasan Sungai Tabuk, Kelurahan Kota Besi Hulu. Waktunya sekitar pukul 07.36 WIB,” ujar Muriansyah saat dikonfirmasi.

    Fenomena kemunculan buaya di wilayah permukiman bukan kali pertama terjadi di Kotim. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik buaya–manusia kerap muncul di daerah aliran Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat alami buaya.

    Alih fungsi lahan, aktivitas manusia di bantaran sungai, serta berkurangnya ruang jelajah satwa liar diduga menjadi faktor yang mendorong buaya mendekati permukiman. Di sisi lain, ketergantungan warga terhadap sungai membuat potensi konflik semakin sulit dihindari.

    Menyikapi kondisi tersebut, warga diimbau untuk sementara waktu mengurangi aktivitas di sungai, khususnya mandi dan berenang yang berisiko tinggi. Masyarakat juga diminta saling mengingatkan, terutama kepada anak-anak, agar tidak bermain di tepi sungai tanpa pengawasan.

    Apabila buaya kembali terlihat, warga diminta segera melapor kepada aparat desa atau pihak berwenang agar dapat segera ditindaklanjuti.

    “Keselamatan warga menjadi prioritas. Kami harap masyarakat tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang membahayakan diri,” tegas Muriansyah.

    Hingga saat ini, pihak terkait masih memantau perkembangan di lapangan guna memastikan situasi tetap terkendali serta mencegah terjadinya konflik yang dapat merugikan manusia maupun satwa liar. (***)

  • Terpisah dari Induk, Tenggiling Betina Dilepasliarkan di Kawasan Restorasi

    Terpisah dari Induk, Tenggiling Betina Dilepasliarkan di Kawasan Restorasi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Seekor tenggiling betina yang ditemukan warga di kebun kelapa sawit akhirnya kembali ke habitat yang lebih aman. Satwa dilindungi dengan berat sekitar 1,5 kilogram itu dilepasliarkan di kawasan Restorasi Ekosistem PT RMU, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (12/2/2026).

    Tenggiling tersebut sebelumnya ditemukan warga Desa Hantipan saat membersihkan kebun sawit. Karena lokasi penemuan berada di luar habitat alaminya, warga memilih melaporkan keberadaan satwa tersebut kepada pihak terkait.

    Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan laporan diterima pada Rabu siang dari staf PT RMU yang bertugas di wilayah Pulau Hanaut. Petugas kemudian meminta agar tenggiling segera diamankan.

    “Ditemukan saat warga membersihkan kebun kelapa sawit. Lokasi itu memang bukan habitat tenggiling,” ujar Muriansyah.

    Proses pengamanan melibatkan anggota Babinsa setempat. Satwa tersebut kemudian dibawa ke Kota Samuda dan diamankan sementara oleh pihak PT RMU sambil menunggu keputusan pelepasliaran.

    Pada Rabu malam, BKSDA Resort Sampit berkoordinasi dengan pihak PT RMU, termasuk manajer biodiversity perusahaan. Hasil koordinasi menyepakati tenggiling betina tersebut dilepasliarkan di kawasan konsesi restorasi ekosistem.

    “Untuk ukuran seperti itu, tenggiling memang sudah terpisah dari induknya,” jelas Muriansyah.

    Sebelum dilepasliarkan, petugas memastikan kondisi fisik satwa dalam keadaan sehat. Pemeriksaan tidak menemukan luka pada tubuh tenggiling.

    “Sudah dicek, tidak ada luka,” katanya.

    Pelepasliaran dilakukan setelah proses serah terima di Samuda, kemudian dilanjutkan langsung ke kawasan restorasi. Langkah ini diharapkan memberi kesempatan bagi tenggiling untuk kembali hidup di lingkungan yang sesuai.

    Muriansyah mengapresiasi kesadaran warga yang melaporkan temuan satwa dilindungi tersebut. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menangkap atau memelihara satwa liar.

    “Jika menemukan satwa dilindungi, segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani dengan benar,” pungkasnya. (***)

  • Kimsin di Kong Miao Litang: Membersihkan Rupang, Menyucikan Hati Menjelang Imlek

    Kimsin di Kong Miao Litang: Membersihkan Rupang, Menyucikan Hati Menjelang Imlek

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Aroma bunga bercampur dupa perlahan memenuhi Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit, Rabu (11/2/2026). Di ruang utama kelenteng, umat Khonghucu tampak khidmat melaksanakan ritual Kimsin, tradisi penyucian patung dewa-dewi yang selalu dilakukan menjelang Tahun Baru Imlek.

    Satu per satu patung dewa-dewi dimandikan dengan air bunga. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian, seolah mengingatkan bahwa ritual ini bukan sekadar membersihkan benda, melainkan perjalanan batin menyambut tahun yang baru. Total ada sekitar 30 patung yang menjalani prosesi penyucian.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, mengatakan Kimsin merupakan tradisi tahunan yang sarat makna spiritual.

    “Membersihkan patung dewa bukan hanya soal kebersihan fisik. Spiritnya adalah membersihkan hati, agar saat menyongsong tahun baru, batin kita juga bersih dan lapang,” ujarnya.

    Prosesi dilakukan menggunakan air bunga, bukan tanpa alasan. Bagi Wen Shi, air bunga melambangkan keharuman dan kebaikan yang diharapkan melekat dalam kehidupan umat. Setelah dimandikan, patung kemudian dibersihkan dengan saksama dan diberi parfum.

    “Maknanya sederhana tapi dalam. Kita ingin membuang sifat-sifat buruk dan membiarkan sifat baik yang melekat. Seperti harum bunga, semoga kehidupan kita ke depan juga membawa kebaikan,” tuturnya.

    Jumlah patung yang cukup banyak membuat proses pembersihan dilakukan bertahap. Jika tidak selesai dalam satu hari, ritual akan dilanjutkan keesokan harinya. Selain patung dewa, altar persembahyangan juga turut dibersihkan sebagai bagian dari persiapan ibadah Imlek.

    “Kenyamanan umat saat sembahyang juga penting. Media persembahyangan harus bersih agar ibadah bisa lebih khusyuk,” kata Wen Shi.

    Dalam kepercayaan Khonghucu, momen menjelang Imlek diyakini sebagai waktu ketika para dewa melaporkan perbuatan manusia selama setahun kepada Tian atau langit. Karena itu, Kimsin juga menjadi refleksi atas sikap dan perbuatan yang telah dijalani umat sepanjang tahun.

    “Harapannya, dengan kebaikan yang kita lakukan, umpan balik yang kita terima juga baik,” ungkapnya.

    Tak sembarang orang bisa terlibat dalam ritual ini. Sebelum prosesi dimulai, umat yang ikut membersihkan patung diwajibkan menyucikan diri secara jasmani dan rohani. Ada ketentuan khusus yang harus dipatuhi demi menjaga kesakralan ritual.

    “Sebelum membersihkan rupang, kami membersihkan hati dulu. Secara jasmani juga harus bersih, mandi dan keramas. Ada aturan, misalnya perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan ikut,” jelas Wen Shi.

    Di Kelenteng Kong Miao Litang, Kimsin tidak menggunakan arak ataupun air kelapa. Pilihan jatuh pada air bunga yang dianggap lebih merepresentasikan kesucian dan keharuman.

    “Air bunga menurut kami lebih membawa makna kebaikan. Itu yang kami pegang,” pungkasnya.

    Di balik kesederhanaan ritual Kimsin, tersimpan pesan mendalam: menyongsong Imlek bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang kesiapan hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru. (***)

  • Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    Shio Kuda Api dan Makna Harmoni Umat Khonghucu di Kotim

    SAMPIT,Kanalindependen.id  – Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tidak hanya menghadirkan ritual dan tradisi, tapi juga filosofi mendalam yang dibawa oleh Shio Kuda Api.

    Menurut Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, shio tahun ini membawa pesan penting bagi umat dan masyarakat luas.

    “Tahun ini kita dengan Shio Kuda Api. Kuda itu lambangnya kecepatan, energi, dan kekuatan, sementara api adalah simbol perubahan dan transformasi,” ujar Wen Shi.

    Ia menjelaskan, secara filosofis, tahun 2577 Kongzili mengajarkan bahwa orang yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan lebih maju, sementara yang lambat akan tertinggal.

    “Seperti seekor kuda yang dinamis dan selalu bergerak, api melambangkan perubahan. Siapa pun yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, maka mereka akan selangkah lebih maju,” tambahnya.

    Lebih dari sekadar simbolisme shio, Wen Shi menekankan pentingnya keharmonisan antarumat beragama di Kotawaringin Timur. “Kami bersyukur berada di Kotim. Hubungan lintas agama di sini sangat harmonis dan kondusif. Saya sendiri merupakan anggota FKUB, mewakili agama Khonghucu, dan bekerja bersama perwakilan lima agama lainnya,” jelasnya.

    Ia menegaskan bahwa toleransi di Sampit tergolong tinggi, terbukti dari berbagai kegiatan keagamaan dan modernisasi praktik ibadah yang berjalan berdampingan.

    “Kami hidup berdampingan dengan agama lain. Ketika Natal dan Idul Fitri, kami juga bersilaturahmi. Bahkan, kami biasa mengadakan open house bagi tamu dari kalangan pemerintahan,” ujarnya.

    Pesan utama Wen Shi untuk umat dan masyarakat luas adalah menjaga kerukunan dan keharmonisan. “Sebagai umat minoritas, kami berterima kasih kepada pemerintah yang telah mengayomi, memberi kami kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti umat lain,” tuturnya.

    Dengan filosofi Shio Kuda Api dan semangat kebersamaan antarumat beragama, Wen Shi berharap keadaan bangsa semakin membaik dan setiap individu mampu bergerak dinamis menyesuaikan perubahan zaman.

    “Hanya mereka yang adaptif yang bisa melangkah lebih maju,” pungkasnya. (***)

  • Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    Tak Semua Mampu, Semua Disatukan: Makna Imlek bagi Umat Khonghucu Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lilin-lilin merah menyala pelan di Kelenteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, Sampit. Asap dupa mengepul tipis, membawa doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Di antara barisan umat yang hadir, tak semua datang dengan kecukupan. Namun malam itu, tak ada jarak antara yang mampu dan yang berkekurangan.

    Di tengah gemerlap lampion dan persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, umat Khonghucu di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menunjukkan sisi lain dari perayaan yang hangat dan penuh makna. Di Keleteng Kong Miao Litang, Jalan MT Haryono, tampak aktivitas ibadah persaudaraan yang sarat dengan nilai kemanusiaan.

    Pemuka Agama Khonghucu Sampit, Wen Shi Suhardi, menjelaskan bahwa ibadah persaudaraan bukan sekadar ritual, tapi juga momentum berbagi bagi mereka yang kurang mampu. “Tidak semua umat Konghucu berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Momentum ini kami gunakan untuk saling berbagi agar mereka tetap dapat merayakan Imlek dengan kebahagiaan,” ujarnya, Rabu malam (12/2/2026).

    Dalam kesempatan ini, sekitar 50 umat yang dinilai kurang mampu menerima bantuan dari komunitas. Wen Shi menekankan bahwa tradisi berbagi ini sudah berjalan ribuan tahun, menjadi bagian dari nilai luhur agama Khonghucu yang menekankan persaudaraan dan kepedulian sosial.

    “Harapannya, mereka yang kurang mampu tetap bisa merasakan sukacita Imlek. Perayaan bukan hanya tentang kemeriahan, tapi tentang hati yang bersih dan kebersamaan,” tambahnya.

    Ibadah persaudaraan berlangsung bertahap. Sebelum tahun baru, umat Khonghucu melakukan ritual enam hari sebelumnya. Malam ini, mereka melaksanakan ibadah khusus, lalu akan kembali melaksanakan ibadah menyambut malam Tahun Baru Imlek pada 16 Februari. Seminggu setelah Imlek akan digelar ibadah syukur, dan dua minggu kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang menandai puncak perayaan Imlek.

    Selain ritual, tradisi bersih-bersih juga tetap dijalankan. Seluruh patung dewa dimandikan dan disucikan sebagai simbol penyambutan tahun baru dengan hati yang bersih. Aktivitas ini juga menjadi momen refleksi dan persiapan spiritual bagi seluruh umat.

    Bagi Wen Shi, Imlek adalah pengingat bahwa dalam perbedaan kondisi ekonomi, semua umat tetap disatukan dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. “Di sinilah makna Imlek yang sesungguhnya,” tuturnya. (***)

  • Menjaga Kekhusyukan Ramadan, Dari Warung Sakadup hingga Potensi Gangguan Sosial, Sejauh Mana Ketegasan Pemkab Kotim?

    Menjaga Kekhusyukan Ramadan, Dari Warung Sakadup hingga Potensi Gangguan Sosial, Sejauh Mana Ketegasan Pemkab Kotim?

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Setiap Ramadan tiba, wajah Sampit selalu berubah. Tirai kain mulai menutup sebagian warung sakadup, jam operasional tempat hiburan dipertanyakan, dan perdebatan lama kembali muncul: sejauh mana toleransi harus dijaga, dan di titik mana ketertiban perlu ditegakkan.

    Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan, persoalan bukan semata warung makan yang tetap buka di siang hari. Gangguan kerap muncul dari hal-hal yang luput dari pengawasan, mulai dari aktivitas hiburan malam yang masih beroperasi diam-diam, hingga keramaian yang memicu keresahan saat umat Muslim tengah menjalankan ibadah.

    Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyadari potensi itu. Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kotim, Umar Kaderi, menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi ruang bersama yang dijaga, bukan sekadar rutinitas tahunan yang berlalu tanpa evaluasi.

    “Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Kita harus menghargai umat Muslim yang melaksanakan ibadah puasa. Jangan sampai kekhusyukan itu terganggu oleh hal-hal yang tidak berkenan,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

    Namun, pernyataan normatif saja kerap belum cukup. Di lapangan, masyarakat masih sering mempertanyakan konsistensi penegakan aturan. Surat edaran kerap terbit, tetapi pengawasan dinilai tidak selalu sejalan dengan isi kebijakan.

    Umar mengungkapkan, Pemkab Kotim dalam waktu dekat akan menggelar rapat koordinasi lintas instansi untuk merumuskan kebijakan Ramadan, termasuk pengaturan tempat hiburan malam dan warung makan.

    “Insya Allah akan kami rapatkan. Nantinya akan diterbitkan surat edaran sebagai pedoman bagi pelaku usaha dan masyarakat,” katanya.

    Pertanyaannya kemudian, apakah surat edaran tersebut hanya akan menjadi dokumen administratif, atau benar-benar diikuti dengan langkah pengawasan yang tegas dan adil?

    Warung sakadup, yang selama ini mengandalkan kearifan lokal seperti penutupan sebagian etalase, sering kali justru menjadi sasaran sorotan publik. Padahal, tidak sedikit gangguan justru datang dari aktivitas lain yang berjalan di balik layar, namun luput dari pengawasan.

    Selain ketertiban sosial, aspek kesehatan juga menjadi catatan penting. Lonjakan konsumsi takjil selama Ramadan kerap dibarengi dengan temuan makanan yang tidak layak konsumsi. Sidak rutin memang direncanakan, tetapi efektivitasnya bergantung pada keseriusan pelaksanaan.

    “Rutinitas pemerintah daerah biasanya berkaitan dengan kesehatan, bekerja sama dengan BPOM, melaksanakan sidak makanan dan takjil,” ujar Umar.

    Pengawasan ini akan melibatkan BPOM, Satpol PP, dan Dinas Perdagangan. Namun, masyarakat berharap pengawasan tidak sekadar seremonial, melainkan benar-benar menyentuh pedagang kecil hingga pasar Ramadan yang kerap luput dari pantauan.

    Terkait warung makan yang tetap buka pada siang hari, Pemkab Kotim menyebut kebijakan akan dituangkan dalam surat edaran. Meski demikian, pendekatan yang diambil diharapkan tidak tebang pilih, melainkan mempertimbangkan realitas sosial dan ekonomi masyarakat.

    “Dalam waktu dekat kami akan rapatkan itu, insya Allah akan keluar surat edaran,” pungkas Umar.

    Ramadan di Kotim pada akhirnya bukan hanya soal menutup warung atau membatasi hiburan malam. Ini tentang keberanian pemerintah hadir secara konsisten: menegakkan aturan tanpa pandang bulu, melindungi kekhusyukan ibadah, sekaligus memastikan toleransi tidak hanya menjadi slogan. (***)

  • Penggelapan di Lingkungan Perusahaan, Polisi Amankan Karyawan Perempuan di Sampit

    Penggelapan di Lingkungan Perusahaan, Polisi Amankan Karyawan Perempuan di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Aktivitas di lingkungan kantor PT Laut Timur Adiprima, Jalan Moh Hatta, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sempat berjalan seperti biasa. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan persoalan yang akhirnya berujung ke ranah hukum.

    Unit Reserse Kriminal Polsek Ketapang, Polres Kotawaringin Timur (Kotim), mengungkap dugaan kasus penggelapan yang diduga dilakukan oleh seorang karyawan perempuan berinisial ADA (31). Dugaan perbuatan tersebut menyebabkan perusahaan mengalami kerugian hampir Rp100 juta.

    Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 19 Juli 2025, sekitar pukul 13.00 WIB. Namun laporan resmi baru diterima pihak kepolisian beberapa bulan kemudian.

    “Laporan masuk ke Polsek Ketapang pada Rabu, 4 Februari 2026, sekitar pukul 09.00 WIB,” ujar Edy, Rabu (11/2/2026).

    Berbekal laporan dari pelapor berinisial RSD (39), Unit Reskrim Polsek Ketapang langsung bergerak melakukan penyelidikan. Sejumlah saksi diperiksa, termasuk pihak-pihak yang mengetahui aktivitas terduga pelaku di lingkungan perusahaan.

    Dari hasil penyelidikan tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa enam lembar nota barang toko yang dikeluarkan oleh PT Laut Timur Adiprima. Nota-nota inilah yang kemudian menjadi petunjuk awal dalam mengurai dugaan penggelapan.

    “Berdasarkan hasil pemeriksaan dan perhitungan sementara, kerugian yang dialami perusahaan mencapai Rp99.999.958 atau hampir Rp100 juta,” jelas Edy.

    Setelah dinilai cukup bukti, terduga pelaku akhirnya diamankan dan dibawa ke Polsek Ketapang untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Saat ini, ADA masih menjalani pemeriksaan intensif guna pendalaman kasus dan melengkapi berkas perkara.

    Atas dugaan perbuatannya, terduga pelaku disangkakan Pasal 488 subsider Pasal 486 dan Pasal 492 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023.

    Polisi menegaskan, proses hukum akan dilakukan secara profesional dan transparan. Sementara itu, penyidik masih terus mendalami kemungkinan adanya unsur lain dalam perkara tersebut. (***)

  • Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    Status Siaga Karhutla Kotim Berakhir, Ancaman Belum Sepenuhnya Pergi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi berakhir. Setelah diberlakukan selama 30 hari sejak 23 Januari 2026, pemerintah daerah memutuskan untuk tidak memperpanjang status tersebut. Namun, berakhirnya status siaga bukan berarti ancaman karhutla benar-benar sirna.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim menegaskan, kewaspadaan tetap menjadi kunci di tengah kondisi cuaca yang masih sulit diprediksi. Meski wilayah Kotim saat ini berada dalam musim hujan, kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah titik.

    “Kalau melihat informasi BMKG, Februari sampai Maret masih musim hujan. Tapi cuacanya berubah-ubah. Sempat panas dua hari saja, langsung terjadi karhutla di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 19 sampai 20, luasnya sekitar 0,3 hektare,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Rabu (11/2/2026).

    Status siaga darurat karhutla sebelumnya ditetapkan Pemkab Kotim menyusul lonjakan titik panas yang tidak lazim pada Januari lalu. Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang dipimpin Wakil Bupati Kotim, Irawati, di Aula BPBD Kotim.

    Saat itu, kondisi cuaca di Kotim menjadi perhatian serius. Ketika sejumlah daerah di Indonesia dilanda hujan lebat hingga banjir, sebagian wilayah Kotim justru mengalami cuaca panas dan kering.

    “Cuaca sekarang sulit diprediksi. Di daerah lain banjir, tapi di Kotim justru panas dan rawan karhutla. Karena itu kita sepakati status siaga darurat diaktifkan,” kata Irawati dalam rapat tersebut.

    BPBD Kotim mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi 61 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan periode Januari pada tahun-tahun sebelumnya. Pada Januari 2023 tercatat 14 hotspot, Januari 2024 sebanyak 18, dan Januari 2025 hanya empat hotspot.

    Lonjakan tersebut dinilai berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut di Kotim. Penurunan muka air tanah hingga minus 35 sampai 60 sentimeter membuat lahan sangat mudah terbakar ketika tersulut api. Sejumlah wilayah rawan berada di Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Cempaga.

    Memasuki Februari, intensitas hujan yang meningkat menjadi salah satu pertimbangan utama tidak diperpanjangnya status siaga darurat karhutla yang berakhir pada 21 Februari 2026. Meski demikian, BPBD menegaskan pemantauan tetap dilakukan.

    “Status siaga kita hentikan dulu, tapi bukan berarti kita lengah. Kami tetap melihat perkembangan cuaca ke depan,” jelas Multazam.

    Selain ancaman karhutla, Kotim juga dihadapkan pada potensi bencana lain seperti banjir, angin kencang, dan petir. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

    Multazam menambahkan, musim kemarau di Kotim umumnya mulai terjadi pada Juli. Jika disertai suhu panas tinggi, risiko karhutla berpotensi kembali meningkat, terutama akibat aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.

    “Kalau kemarau dengan panas tinggi, dampaknya bisa fatal. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.

    Berakhirnya status siaga mungkin menandai meredanya ancaman sementara. Namun bagi Kotim, kewaspadaan tetap menjadi pelindung utama, karena karhutla bisa kembali muncul kapan saja, bahkan di tengah musim hujan. (***)

  • ChatGPT Mulai Tampilkan Iklan untuk Pengguna Gratisan

    ChatGPT Mulai Tampilkan Iklan untuk Pengguna Gratisan

    Kanalindependen.id – Pengguna ChatGPT gratis kini akan mulai melihat iklan saat menggunakan layanan kecerdasan buatan populer ini. OpenAI mengumumkan, uji coba iklan baru ini hanya berlaku bagi pengguna tier Free dan Go, sementara pengguna berlangganan Plus, Pro, Business, Enterprise, maupun Education tetap bebas iklan.

    Iklan yang muncul berbentuk tautan di bawah jawaban ChatGPT dengan label “sponsored”. OpenAI menegaskan, keberadaan iklan ini tidak akan memengaruhi kualitas jawaban yang diberikan ChatGPT.

    “Tujuan kami adalah agar iklan mendukung akses yang lebih luas ke fitur ChatGPT yang lebih canggih, sambil tetap mempertahankan kepercayaan yang diberikan orang-orang untuk tugas-tugas penting dan pribadi,” tulis OpenAI dalam blog resminya, seperti dikutip Engadget, Rabu (11/2/2026).

    Uji coba ini dimulai di Amerika Serikat, dengan tujuan mempelajari pengalaman pengguna dan memastikan iklan tampil dengan tepat. Iklan juga tidak akan ditampilkan ketika pembicaraan mengenai topik sensitif, seperti kesehatan fisik, kesehatan mental, atau politik.

    Menariknya, OpenAI menegaskan bahwa data percakapan pengguna tidak akan dijual kepada pengiklan. Sistem iklan akan menyesuaikan dengan topik percakapan, misalnya pengguna yang sering menanyakan resep makanan kemungkinan akan melihat iklan terkait bahan masakan atau layanan pesan antar makanan.

    Pengguna pun tetap memiliki kontrol penuh: riwayat interaksi dengan iklan bisa dihapus kapan saja, iklan dapat ditutup, dan pengaturan personalisasi iklan bisa disesuaikan.

    Langkah OpenAI ini muncul setelah kompetitor Anthropic menayangkan iklan saat Super Bowl, yang menyindir OpenAI karena memperkenalkan iklan di ChatGPT. Sam Altman, CEO OpenAI, menegaskan bahwa tujuan utama uji coba ini adalah meningkatkan aksesibilitas layanan tanpa mengurangi kualitas dan privasi pengguna. (***)

  • Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    Rak Masih Penuh Jelang Imlek, Pedagang Pernak-pernik Sampit Pilih Bertahan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, suasana penjualan pernak-pernik di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terlihat lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pedagang mengaku omzet tahun ini menurun sekitar 30 persen, seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat.

    Kondisi itu terlihat jelas di Toko Maju Jaya Dupa Sampit, Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Pada Selasa (10/2/2026), deretan angpao merah cerah, bunga hias, hingga gantungan khas Imlek tampak masih tersusun rapi di rak, menunggu tangan-tangan pembeli yang biasanya mulai ramai sejak dua pekan sebelum Imlek.

    Pedagang pernak-pernik Imlek, Gustiana, menatap rak-rak itu sambil menghela napas. “Kalau biasanya tanggal segini sudah ramai, tahun ini kelihatannya sepi-sepi saja. Barang juga terasa tertahan,” katanya, menambahkan bahwa puncak penjualan biasanya terjadi sekitar 15 hari sebelum perayaan hingga sehari menjelang Imlek.

    Tahun ini, tren tersebut tidak terlihat. Penurunan penjualan diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, Gustiana memilih tetap bertahan, menyesuaikan stok dan strategi agar tetap bisa menjajakan pernak-pernik Imlek dengan aman.

    Stok Dikurangi, Tetap Bertahan

    Menurunnya daya beli membuat Gustiana lebih berhati-hati dalam mendatangkan barang. Tahun ini, jumlah stok sengaja dikurangi untuk mengurangi risiko barang tidak laku.

    “Barang yang kita datangkan juga dikurangi. Apalagi kemarin sempat ada imbauan supaya tidak terlalu meriah karena ada bencana di Sumatera, jadi kita menyesuaikan,” ujarnya sambil menata ulang rak-rak angpao yang masih tersusun rapi.

    Tidak semua barang yang dijual baru. Sebagian merupakan stok lama, sementara pernak-pernik baru umumnya bergambar atau berbentuk kuda, simbol Tahun Kuda Api. “Kalau kuda api ini kesannya panas, mungkin juga pengaruh ke ekonomi yang lagi lesu sekarang,” katanya sambil tersenyum tipis.

    Gustiana menilai, kondisi ekonomi tahun ini semakin tertekan karena Imlek berdekatan dengan momen hari besar lainnya, seperti Ramadan dan Idul Fitri, serta dampak bencana di beberapa daerah.

    Harga Variatif, Angpao Masih Favorit

    Harga pernak-pernik bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp300.000. Angpao tetap menjadi favorit pembeli, dengan kisaran harga Rp3.000 hingga Rp15.000 per buah.

    Selain angpao, bunga hias dan gantungan Imlek masih banyak dicari pembeli, meski tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Lampion menjadi pernak-pernik termahal, dijual sekitar Rp300 ribu per buah.

    “Ada lampion yang lebih bagus, tapi harganya mahal. Karena ekonomi sekarang, kita tidak berani mendatangkan banyak, takut barangnya tertahan,” jelas Gustiana sambil menunjuk beberapa lampion yang tersusun di pojok toko.

    Meski rak-rak masih terlihat penuh, Gustiana tetap memilih bertahan. Baginya, menjaga toko tetap buka dan menyiapkan pernak-pernik Imlek adalah cara untuk tetap berbagi keceriaan perayaan, meski di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. (***)