Kategori: Kotawaringin Timur

  • Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    Api Belum Padam, Jejak Orangutan Masih Tertinggal di Kebun Kota Besi Hulu

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mendesak ruang jelajah satwa langka yang dilindungi.

    Di tengah kepulan asap dan bara api yang belum padam di kawasan kebun warga Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, tim BKSDA menemukan jejak aktivitas orangutan yang terisolasi di lingkaran kebakaran, Rabu (30/9/2026).

    Menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan primata raksasa tersebut, personel BKSDA Pos Sampit menerjunkan tim untuk melakukan observasi dan penyisiran lapangan mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengungkapkan bahwa saat tim tiba di lokasi sasaran, hamparan kebun warga telah hangus terbakar dan beberapa titik api tampak masih aktif membara.

    “Sekitaran lokasi telah terjadi kebakaran lahan dan saat ini masih terjadi kebakaran. Meski satwa tidak ditemukan saat observasi berlangsung, tim menemukan dua sarang orangutan masing-masing kategori kelas 2 dan kelas 4 di atas pohon kawasan kebun,” terang Muriansyah, Rabu (30/9/2026).

    Sarang di Tengah Kebun Karet-Sawit dan Edukasi Penanganan Satwa bagi Warga

    Temuan dua sarang orangutan (sarang bekas dan sarang baru) tersebut menjadi bukti sah bahwa kawasan kebun warga Kota Besi Hulu yang didominasi tanaman karet, kelapa sawit, semak belukar, serta pepohonan buah—merupakan koridor jelajah aktif bagi orangutan.

    Lokasi tersebut juga tergolong sangat dekat dengan akses manusia karena terhubung langsung dengan jalan aspal menuju Desa Kandan.

    Saat penyisiran, petugas bertemu dengan penyadap karet setempat yang membenarkan bahwa individu orangutan tersebut memang kerap menampakkan diri sebelum kobaran api karhutla mengepung area tersebut.

    Merespons potensi konflik dan bahaya kebakaran, Muriansyah memberikan arahan langsung kepada warga mengenai mitigasi perilaku satwa liar. Warga diimbau tegas tidak mengganggu, mengusir secara anarkis, atau melukai orangutan yang terdesak keluar dari hutan akibat karhutla.

    “Segera lapor kamijika satwa tersebut kembali muncul agar proses evakuasi (rescue/translocation) dapat segera dilakuka,” imbuhnya.

    Temuan sarang orangutan di tengah amukan api Kota Besi Hulu mempertegas ancaman nyata genosida satwa secara perlahan akibat karhutla. Ketika hutan penyangga hancur dan kebun warga di sekitarnya ikut terbakar, orangutan terperangkap dalam lingkaran api (fire trap), memicu risiko kematian akibat terpanggang, ISPA parah, atau konflik fatal dengan manusia.

    BKSDA Resort Sampit bersama masyarakat dan stakeholder terkait didesak meningkatkan frekuensi pemantauan di jalur Kandan–Kota Besi Hulu guna mengunci pergerakan api agar tidak membumihanguskan pohon-pohon pakan tersisa.

    Sementara itu, BKSDA Kalteng diminta bersiap mengerahkan regu pembiusan dan evakuasi jika orangutan tersebut kembali ke lokasi sarang, mengingat struktur tanah gambut di Kota Besi masih menyimpan underground fire yang sangat membahayakan keselamatan satwa.  (***)

  • Kualitas Air Baku Anjlok, Perumda Tirta Mentaya Imbau Warga 3 Kecamatan Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi

    Kualitas Air Baku Anjlok, Perumda Tirta Mentaya Imbau Warga 3 Kecamatan Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Krisis lingkungan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang dipicu kemarau dan karhutla makin mengancam kebutuhan dasar masyarakat. Perusahaan Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Mentaya Sampit mengeluarkan imbauan resmi bahwa air bersih yang didistribusikan ke ribuan pelanggan di tiga kecamatan saat ini belum aman dan tidak diperuntukkan untuk konsumsi (minum dan memasak).

    Langkah darurat ini diambil setelah hasil pengujian laboratorium menunjukkan kualitas air baku Sungai Mentaya mengalami penurunan signifikan dan tidak memenuhi standar baku mutu air minum.

    Kepala Seksi Teknik Perumda Tirta Mentaya Sampit Edy Dyufriadi mengatakan, air yang saat ini didistribusikan kepada pelanggan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).

    “Perumdam Tirta Mentaya menginformasikan bahwa air yang didistribusikan saat ini belum diperuntukkan untuk konsumsi karena kondisi kualitas air baku belum memenuhi standar untuk dikonsumsi. Air tersebut untuk sementara hanya dapat digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus (MCK),” ujar Edy, Rabu (30/9/2026).

    Pengolahan Tetap Berjalan

    Edy menjelaskan, proses pengolahan air tetap berjalan di instalasi pengolahan. Namun, kondisi air baku menjadi kendala yang harus dihadapi dalam menghasilkan air yang memenuhi standar untuk konsumsi.

    Penurunan kualitas air baku terjadi di tengah kondisi kemarau dan karhutla yang masih berlangsung di Kotim.

    Perumda Tirta Mentaya terus melakukan proses pengolahan sesuai tahapan yang berlaku. Namun, untuk sementara air hasil distribusi belum diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi.

    Tiga wilayah kecamatan yang menjadi sasaran imbauan tersebut yakni Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentawa Baru Ketapang.

    Perumda meminta pelanggan di wilayah tersebut mematuhi imbauan sampai terdapat pemberitahuan lebih lanjut mengenai kondisi kualitas air.

    Masyarakat juga diminta tidak menggunakan air yang didistribusikan untuk minum maupun memasak selama larangan konsumsi masih berlaku.

    Perkembangan kualitas air akan menjadi dasar untuk menentukan kapan air kembali dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi. (***)

  • ISPU Kotim Tembus 763, Sampit Kembali Masuk Level Berbahaya

    ISPU Kotim Tembus 763, Sampit Kembali Masuk Level Berbahaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memburuk. Setelah sempat membaik, indeks pencemaran udara di Sampit pada Rabu (30/9/2026) pagi kembali menembus kategori Berbahaya.

    Berdasarkan pemantauan aplikasi ISPUnet pada pukul 07.00 WIB, nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Kotim mencapai 763. Parameter paling tinggi adalah PM10 dengan angka yang sama.

    PM2.5 juga berada pada kategori Berbahaya dengan nilai 439. Sementara parameter lainnya tercatat lebih rendah, yakni ozon (O3) sebesar 51 atau kategori Sedang.

    Adapun sulfur dioksida (SO2) berada pada angka 26, karbon monoksida (CO) 5, nitrogen dioksida (NO2) 5, dan hidrokarbon (HC) 0. Parameter tersebut berada dalam kategori Baik.

    Jarak Pandang Hanya 600 Meter

    Kondisi kualitas udara tersebut sejalan dengan pengamatan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim.

    Pada pukul 07.00 WIB, Sampit terpantau mengalami kabut asap dengan jarak pandang hanya 600 meter. Suhu tercatat 26,6 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 91 persen.

    Kondisi angin juga tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.

    Kondisi kabut asap juga dirasakan warga yang melakukan perjalanan dari Sampit menuju wilayah sekitar.

    Didi Mursidi mengatakan, dirinya melakukan perjalanan dari Sampit menuju Bapanggang pada Rabu pagi dan mendapati kondisi kabut asap cukup tebal sepanjang perjalanan.

    “Saya pagi perjalanan dari Sampit-Bapanggang, kondisi kabut asap tebal,” kata Didi.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya terpantau dari data BMKG, tetapi juga dirasakan langsung masyarakat yang beraktivitas dan melakukan perjalanan pada pagi hari.

    Dengan ISPU yang kembali berada pada level Berbahaya, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap dan polusi udara. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi dan penggunaan masker yang sesuai untuk perlindungan dari polusi dapat dipertimbangkan.

    Kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, juga perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. (***)

  • Korban Gagal Terbang, Bupati Kotim Taruh Nasib Bandara dan Sekolah pada Tanggap Darurat 15 Hari

    Korban Gagal Terbang, Bupati Kotim Taruh Nasib Bandara dan Sekolah pada Tanggap Darurat 15 Hari

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kabut asap akibat karhutla yang berlangsung berbulan-bulan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin mengkhawatirkan.

    Kualitas udara yang semakin memburuk akibat kabut asap kian mengancam kesehatan masyarakat. Tidak hanya itu, kabut asap juga telah mengganggu aktivitas pendidikan serta operasional penerbangan di Bandara Haji Asan.

    Karena itu, perpanjangan status tanggap darurat selama 15 hari yang terhitung sejak 1 hingga 15 Oktober 2026, tidak ingin dijadikan sekadar perpanjangan status tanggap darurat.

    Bupati Kotim Halikinnor memasang dua target yang harus dicapai: aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah kembali normal dan operasional penerbangan berjalan normal sesuai jadwal.

    ”Kita berharap anak-anak kita bisa kembali sekolah tatap muka mulai 1 Oktober, paling lambat 5 Oktober. Kemudian Bandara Haji Asan juga bisa kembali normal,” kata Halikinnor saat memimpin Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla di Rumah Jabatan Bupati Kotim, Selasa (29/9/2026).

    Halikinnor mengatakan perpanjangan status tanggap darurat harus dimanfaatkan untuk memulihkan aktivitas masyarakat yang selama ini terdampak asap, bukan hanya mengejar berkurangnya titik api.

    Untuk mengejar target tersebut, Halikinnor meminta seluruh unsur penanganan segera melakukan rapat teknis. Rapat yang direncanakan pada 30 September itu melibatkan para pimpinan dan personel yang selama ini berada di lapangan.

    Ia ingin seluruh tim memiliki gambaran yang sama mengenai titik-titik yang harus menjadi prioritas, terutama lokasi yang asapnya paling mengganggu masyarakat maupun fasilitas penting.

    ”Kita harus duduk bersama lagi untuk merapatkan secara teknis. Semua ketua tim dan personel yang terlibat harus tahu titik mana yang menjadi prioritas,” ujarnya.

    Halikinnor menilai penanganan tidak dapat dilakukan tanpa skala prioritas. Kawasan perkotaan secara umum disebut mulai mendekati kondisi padam, sementara persoalan lebih berat masih berada pada sejumlah lokasi yang sulit dijangkau.

    Karena itu, titik yang menghasilkan asap tebal dan mengganggu aktivitas masyarakat harus segera mendapat perhatian.

    ”Kalau ada titik yang asapnya sangat mengganggu, itu harus kita prioritaskan. Kita tidak bisa bekerja tanpa menentukan mana yang paling urgent,” katanya.

    Sekolah dan Penerbangan Jadi Indikator Pemulihan

    Sektor pendidikan menjadi salah satu perhatian karena kondisi asap telah memengaruhi proses pembelajaran siswa.

    Halikinnor ingin pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan dalam waktu dekat. Target 1 Oktober, atau paling lambat 5 Oktober, diberikan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi karhutla dan kualitas udara.

    Sekolah yang berada di sekitar wilayah rawan kebakaran juga diminta menjadi bagian dari pemetaan prioritas. Pemerintah ingin memastikan lingkungan pendidikan aman sebelum kegiatan tatap muka kembali berjalan.

    ”Objek vital seperti bandara dan sekolah harus mendapat perhatian khusus, karena ini mejadi indikator daerah kita pulih dari karhutla dan pulih dari kabut asap,” tegas Halikinnor.

    Dengan demikian, keberhasilan penanganan tidak hanya dilihat dari berkurangnya titik api, tetapi juga dari kemampuan pemerintah mengembalikan aktivitas masyarakat yang sempat terganggu.

    Jika anak-anak sudah kembali ke sekolah dan penerbangan kembali normal, dua kondisi tersebut menjadi indikator konkret yang ingin dicapai pemerintah selama perpanjangan status tanggap darurat diaktifkan.

    Asap Ganggu Penerbangan, Dampaknya Merembet ke Ekonomi

    Bandara Haji Asan menjadi perhatian tersendiri karena kabut asap membatasi jarak pandang dan berdampak terhadap operasional penerbangan.

    Halikinnor berharap kondisi asap membaik sebelum 15 Oktober sehingga pesawat kembali dapat mendarat dan berangkat secara normal.

    ”Harapan saya sebelum tanggal 15 Oktober hujan sudah turun sehingga bandara bisa normal. Pesawat bisa mendarat seperti biasa,” ujarnya.

    Gangguan penerbangan tersebut bukan sekadar persoalan mobilitas penumpang. Halikinnor mengatakan, ketika pesawat tidak dapat mendarat dan harus berputar atau kembali ke bandara asal, terdapat konsekuensi operasional yang ikut muncul, termasuk penggunaan bahan bakar yang lebih banyak.

    Ia sendiri mengalami dampak tersebut ketika harus bepergian. Halikinnor mengungkapkan, selama dua hari dirinya tidak dapat terbang dari Sampit maupun Pangkalan Bun sehingga agenda menghadiri penyerahan penghargaan digitalisasi tidak dapat diikutinya secara langsung.

    ”Dua hari saya tidak bisa terbang dari Sampit maupun Pangkalan Bun,” ungkapnya.

    Dampak serupa dirasakan sektor pariwisata. Halikinnor menyebut aktivitas wisata sungai menggunakan kelotok ikut sepi karena kondisi asap membuat masyarakat maupun wisatawan tidak nyaman untuk beraktivitas.

    ”Kelotok wisata sekarang sepi. Orang juga tidak nyaman kalau kondisi seperti ini,” katanya.

    Meski demikian, Halikinnor tidak menyebut angka kerugian ekonomi akibat kondisi tersebut. Menurutnya, besaran dampak harus dihitung berdasarkan data yang lebih objektif.

    Ia menyebut Badan Pusat Statistik (BPS) dapat dilibatkan untuk menghitung dampak karhutla terhadap aktivitas ekonomi daerah.

    ”Kalau dampak ekonominya mau dihitung, BPS yang bisa menghitung secara lebih jelas,” kata Halikinnor.

    Artinya, pemerintah saat ini baru melihat sejumlah aktivitas ekonomi yang terdampak, sementara nilai kerugian secara keseluruhan belum dihitung.

    Jika Berlanjut, Bantuan Bisa Diperluas

    Halikinnor juga menyiapkan kemungkinan langkah lanjutan apabila kondisi karhutla belum membaik setelah 15 Oktober.

    Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat jika persoalan asap dan kebakaran masih berlanjut.

    Bantuan untuk masyarakat terdampak juga dapat dipertimbangkan, termasuk bantuan pangan maupun dukungan permodalan bagi pelaku UMKM.

    ”Kalau sampai nanti setelah 15 Oktober masih seperti ini, kita akan koordinasikan dengan provinsi dan pusat. Bisa saja nanti ada bantuan pangan atau dukungan modal untuk UMKM,” ujarnya.

    Langkah tersebut baru akan ditempuh apabila kondisi memang masih membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pemerintah tidak ingin mengambil kesimpulan mengenai dampak ekonomi tanpa perhitungan yang jelas.

    Karena itu, Halikinnor menempatkan 15 Oktober sebagai batas penting untuk melihat apakah kondisi sudah benar-benar bergerak menuju pemulihan.

    Jika hujan sudah turun dengan intensitas memadai, asap berkurang dan titik api tidak lagi muncul, penanganan darurat akan diakhiri dan pemerintah masuk ke tahap pemulihan.

    Sebaliknya, apabila kondisi belum memungkinkan, koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat akan dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya.

    Halikinnor ingin hasil kerja 15 hari ke depan dapat menunjukkan aktivitas masyarakat kembali normal, bukan hanya melaporkan penanganan kebakaran.

    Dua tanda yang ia pasang pun sederhana: anak-anak kembali ke ruang kelas dan operasional penerbangan di Bandara Haji Asan kembali lancar.

    ”Kalau dua itu sudah tercapai, berarti pekerjaan kita sudah sesuai target,” katanya.

    Ia mengingatkan bahwa kemampuan manusia memiliki batas dalam menghadapi kondisi tersebut.

    ”Kemampuan manusia ada batasnya, selain terus bekerja dan brupaya, kita semua harus tetap berdoa agar hujan segera turun dan kondisi Kotim kembali normal,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Karhutla Belum Terkendali, Pemkab Kotim Kembali Perpanjang Tanggap Darurat hingga 15 Oktober

    Karhutla Belum Terkendali, Pemkab Kotim Kembali Perpanjang Tanggap Darurat hingga 15 Oktober

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Perpanjangan status disepakati berlaku selama 15 hari, terhitung mulai 1 hingga 15 Oktober 2026, dalam Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla yang dipimpin Bupati Kotim Halikinnor di Rumah Jabatan Bupati, Selasa (29/9/2026).

    Keputusan itu diambil setelah pemerintah daerah mengevaluasi kondisi lapangan yang masih menunjukkan adanya sejumlah titik kejadian kebakaran di sejumlah wilayah, kabut asap yang masih pekat, sekaligus mempertimbangkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

    Selama kejadian kebakaran lahan semakin masif, Pemkab Kotim mulanya telah menetapkan status siaga darurat selama 185 hari, terhitung 8 April hingga 10 Oktober 2026.

    Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah hotspot serta meningkatnya jumlah kejadian karhutla, Pemkab Kotim mulai meningkatkan status dari siaga menjadi tanggap darurat sejak 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.

    Kemudian diperpanjang sampai 15 September dan kembali diperpanjang mulai 16 hingga 30 September 2026. Dan, ini kali keempat Pemkab krmbali memperpanjang status tanggap darurat selama terhitung mulai 1-15 Oktober 2026.

    Halikinnor mengatakan, status tanggap darurat sebelumnya berakhir pada 30 September. Namun, kondisi karhutla yang masih terjadi membuat pemerintah belum dapat langsung beralih ke tahap pemulihan.

    ”Jadi hari ini kita rapat evaluasi bagaimana perkembangan dan penanganan karhutla. Sekaligus memang besok itu masa tanggap darurat kita berakhir,” kata Halikinnor.

    Berdasarkan data hingga 28 September 2026 yang dipaparkan dalam rapat, jumlah hotspot di Kotim telah mencapai 38.304 titik. Kebakaran tercatat sebanyak 1.171 kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 2.007,9 hektare.

    Besarnya angka tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan yang dihadapi bukan lagi kebakaran yang ditimbulkan di satu-dua lokasi, melainkan penanganan yang berlangsung berulang di wilayah dengan kondisi kering dan sumber air yang semakin terbatas.

    Halikinnor menjelaskan, BMKG sebelumnya telah memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang. Curah hujan berada di bawah normal, sementara hujan yang terjadi di sejumlah wilayah belum sepenuhnya merupakan hujan alami.

    ”Musim kemarau kita ini dimulai lebih awal, sekitar awal Juli. Puncaknya Agustus sampai September, dan dampaknya kemungkinan masih sampai Oktober,” ujarnya.

    Ia menyebut hujan yang turun saat ini sebagian masih berkaitan dengan operasi modifikasi cuaca. Karena itu, pemerintah daerah tidak ingin terlalu cepat menganggap kondisi sudah memasuki musim hujan hanya karena beberapa wilayah sempat diguyur hujan.

    Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah kemudian menyepakati perpanjangan status hingga 15 Oktober.

    ”Kalau sampai 15 Oktober hujan sudah intensitasnya cukup tinggi, titik api sudah tidak ada dan asap juga tidak ada, maka kita akhiri masa tanggap darurat dan tinggal masuk tahap pemulihan,” tegas Halikinnor.

    Namun, perpanjangan status tersebut tidak boleh dimaknai sebagai kesempatan untuk menghabiskan anggaran.

    Halikinnor menegaskan, apabila kondisi membaik sebelum masa tanggap darurat berakhir, pemerintah tidak boleh memaksakan belanja hanya karena status bencana masih berlaku.

    ”Jangan karena statusnya diperpanjang kemudian anggaran harus dipaksakan habis. Kalau hujan turun dan memang kondisi sudah tidak darurat lagi, ya jangan dipaksakan,” katanya.

    Menurut Halikin, anggaran yang tidak terserap tidak harus dipaksakan keluar. Sisa anggaran dapat menjadi sisa lebih perhitungan anggaran atau SiLPA.

    Ia bahkan mencontohkan pengadaan kendaraan pemadam. Menurutnya, kebutuhan barang harus berdasarkan kondisi lapangan, bukan semata-mata karena masih tersedia anggaran.

    ”Kalau memang tidak diperlukan, jangan kemudian kita belanjakan. Nanti kalau tidak terserap, ya menjadi SiLPA,” ujarnya.

    Untuk penanganan tahun ini, Kotim mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp15 miliar dari pemerintah pusat. Sementara dari daerah tersedia Rp5 miliar melalui APBD dan tambahan sekitar Rp2 miliar melalui APBD Perubahan, sehingga total dukungan anggaran daerah mencapai sekitar Rp7 miliar.

    Dana tersebut dapat digunakan selama status tanggap darurat masih berlangsung, termasuk mendukung kebutuhan penanganan di kecamatan serta operasional relawan seperti konsumsi dan bahan bakar.

    Meski demikian, persoalan karhutla tidak semata-mata dapat diselesaikan dengan anggaran.

    Halikinnor mengapresiasi seluruh personel TNI, Polri, ASN, relawan, masyarakat dan unsur lainnya yang selama ini berada di lapangan, bekerja siang dan malam menghadapi api dan kabut asap.

    ”Saya mengucapkan terima kasih kepada TNI, Polri, ASN, masyarakat dan para relawan. Mereka ini bekerja siang malam untuk memadamkan api,” katanya.

    Ia mengingatkan seluruh personel agar tetap mengutamakan keselamatan karena sebagian lokasi kebakaran memiliki kondisi yang sangat sulit.

    Halikinnor juga mengapresiasi dukungan jajaran TNI yang ikut menambah kekuatan penanganan. Menurutnya, komunikasi Danrem dengan Panglima TNI turut menghasilkan tambahan kendaraan pemadam yang kini dapat digunakan bersama unsur lainnya.

    ”Sekarang kendaraan sudah ada dari Korem, Kodim, Polres, Pemkab dan perusahaan. Ini tentu sangat membantu,” ujarnya.

    Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah pencegahan untuk menghadapi kemungkinan kondisi serupa pada musim kemarau berikutnya.

    Halikinnor mengatakan, pola kebakaran besar seperti tahun ini menurut pengamatannya muncul dalam siklus sekitar tiga sampai empat tahun. Karena itu, penanganan tidak boleh hanya dilakukan ketika api sudah muncul.

    ”Kebakaran ini hampir setiap tiga sampai empat tahun pasti ada kondisi panas seperti ini. Ini menjadi pelajaran dan evaluasi kita bagaimana langkah selanjutnya supaya ke depan kita tidak kewalahan seperti sekarang,” katanya.

    Ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memetakan lokasi yang berulang kali terbakar dan menyiapkan sumber air sebelum musim kemarau tiba.

    Sumber air, termasuk sumur bor, embung dan penampungan, harus disiapkan di lokasi yang memang memiliki riwayat kebakaran.

    ”Jangan setelah terjadi kebakaran baru kita berpikir mencari air. Lokasi yang memang berulang terbakar harus kita petakan, kemudian sumber airnya disiapkan,” tegasnya.

    Pemerintah juga akan mendorong pemilik lahan membersihkan dan memelihara lahannya. Untuk kawasan yang rawan terbakar, penyediaan sumur bor akan menjadi salah satu langkah pencegahan.

    Halikinnor menilai persoalan sumber air menjadi salah satu kelemahan paling nyata dalam penanganan karhutla tahun ini, ditambah keterbatasan tenaga ahli pengeboran.

    ”Masalah kita memang air. Kalau kemarau panjang, sumber air habis. Tenaga untuk mengebor sumur juga terbatas,” ujarnya.

    Ia berharap perpanjangan 15 hari tersebut menjadi kesempatan terakhir untuk menuntaskan penanganan dalam kondisi darurat.

    Pemerintah akan kembali mengevaluasi perkembangan kebakaran, kondisi asap dan curah hujan menjelang pertengahan Oktober. Jika kondisi sudah memungkinkan, status tanggap darurat akan diakhiri dan penanganan diarahkan ke pemulihan lahan serta pencegahan.

    ”Manusia ada batasnya. Kita tetap bekerja, tetap berusaha dan tetap berdoa mudah-mudahan hujan turun dan karhutla ini segera berakhir,” pungkas Halikinnor. (hgn/ign)

  • Kepungan Titik Panas di Pesisir Mentaya: Seranau dan Mentaya Hilir Utara Dominasi Hotspot Kotim

    Kepungan Titik Panas di Pesisir Mentaya: Seranau dan Mentaya Hilir Utara Dominasi Hotspot Kotim


    SAMPIT, Kanalindependen.id
     – Peta titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan sebaran yang luas. Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa (29/9/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 218 titik panas di berbagai wilayah.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan Kecamatan Seranau dan Mentaya Hilir Utara menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi.

    “Keduanya mencatat total 123 titik panas atau lebih dari separuh keseluruhan hotspot yang terdeteksi di Kotim,” ungkpa Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo.

    Seranau menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 78 titik. Sebarannya berada di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 44 titik dan Desa Ganepo 34 titik.

    Mentaya Seberang berada tepat di seberang pusat Kota Sampit. Kondisi tersebut membuat perkembangan titik panas di wilayah tersebut perlu mendapat perhatian, terutama jika kebakaran berkembang dan asap bergerak ke arah permukiman.

    Sementara Mentaya Hilir Utara mencatat 45 titik panas. Sebanyak 35 titik berada di Desa Bagendang Tengah, sembilan titik di Bagendang Hilir, dan satu titik di Bagendang Permai.

    Seluruh hotspot tersebut terdeteksi melalui sensor satelit NOAA-20 dan S-NPP dengan tingkat kepercayaan sedang, yakni 30–79 persen.

    Hotspot Menyebar ke Sejumlah Wilayah

    Sebaran titik panas tidak hanya terkonsentrasi di dua kecamatan tersebut. Kota Besi mencatat 28 titik yang tersebar di Kelurahan Kota Besi Hulu, Kandan, Simpur, dan Soren.

    Di kawasan muara, Pulau Hanaut terdeteksi 25 titik. Sebarannya antara lain berada di Desa Satiruk dan Hanaut, serta Serambut, Bapinang Hilir, dan Babaung.

    Sementara itu, Mentawa Baru Ketapang mencatat 11 titik yang berada di Bangkuang Makmur dan Bapeang.

    Kecamatan Baamang juga masih memiliki titik panas dengan total sembilan titik. Sebarannya berada di Baamang Hulu, Baamang Barat, dan Tanah Mas.

    Di wilayah selatan, Teluk Sampit terdeteksi tujuh titik panas yang berada di Lampuyang dan Ujung Pandaran.

    “Sebaran juga muncul di wilayah pedalaman. Antang Kalang mencatat enam titik, Bukit Santuai empat titik, Telawang tiga titik, serta Mentaya Hulu dan Tualan Hulu masing-masing satu titik,” tambahnya.

    Dengan sebaran yang mencakup wilayah pesisir, perkotaan hingga pedalaman, kondisi ini menjadi perhatian bagi tim penanganan karhutla. Titik panas yang terdeteksi satelit tetap memerlukan pengecekan lapangan untuk memastikan apakah merupakan kebakaran aktual dan menentukan kebutuhan penanganannya. (***)

  • Rumahnya Hangus Terbakar, Anak Kucing Hutan Lucu ini Ditemukan Merayap Sendirian di Bumi Raya Sampit

    Rumahnya Hangus Terbakar, Anak Kucing Hutan Lucu ini Ditemukan Merayap Sendirian di Bumi Raya Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung mereda di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban satwa tak berdosa. Seekor anak kucing hutan (Prionailurus bengalensis) mungil bercorak indah terpaksa kehilangan tempat tinggalnya setelah hutan gambut tempat ia berlindung hangus dilalap si jago merah di kawasan Jalan Bumi Raya 1, Perumahan Citra Mandiri Tahap 1, Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Senin (28/9/2026) malam.

    Dalam kondisi terpisah dari induknya, anak kucing hutan yang imut dan polos tersebut ditemukan merayap sendirian di sekitar pekarangan rumah warga sekitar pukul 22.00 WIB.

    Saksi mata yang menemukan satwa malang tersebut, Muhamad Wildan Halim (Awil), mengaku terenyuh melihat kondisi anak kucing hutan yang kebingungan dan ketakutan di tengah kepulan asap karhutla yang masih membara di sepanjang Jalan Bumi Raya.

    Merespons temuan tersebut, Awil bersama komunitas aktivis lingkungan di Sampit bergerak cepat menyerahkan anak kucing hutan lucu itu ke Pos BKSDA Resort Sampit pada malam yang sama sekitar pukul 23.10 WIB.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, membenarkan penyerahan satwa dilindungi yang terdesak akibat karhutla di pemukiman Baamang Barat tersebut.

    “Anak kucing hutan ditemukan sendirian di dekat rumah warga di tengah kondisi kawasan sekitar yang terdampak kebakaran. Saat diserahkan, kondisinya terlihat sehat dan aktif, meski terdapat sedikit luka lecet pada bagian mulutnya,” jelas Muriansyah, Selasa (29/9/2026).

    Saat ini, anak kucing hutan mungil tersebut diamankan di Pos BKSDA Sampit untuk mendapatkan perawatan intensif, pemulihan trauma, serta penanganan medis lebih lanjut sebelum ditentukan langkah konservasi berikutnya.

    Penemuan anak kucing hutan yang imut dan terpisah dari induknya di Baamang Barat ini menjadi potret pilu betapa kejamnya dampak karhutla terhadap keberlangsungan hidup satwa endemik Kalimantan. Ketika habitat gambut yang menjadi benteng perlindungan hangus terbakar, anakan satwa yang belum mandiri menjadi pihak yang paling rentan—terancam mati terpanggang, kehabisan nafas akibat racun asap, atau kelaparan.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen: Pertama, edukasi penyelamatan satwa oleh warga: Kesadaran dan kepedulian Muhamad Wildan Halim bersama relawan lingkungan yang menyelamatkan tanpa melukai atau memelihara ilegal satwa dilindungi ini patut menjadi contoh patut diapresiasi bagi seluruh masyarakat Kotim.

    Kedua, penanganan darurat habitat satwa terisolasi: BKSDA bersama Satgas Karhutla didesak memperketat patroli di titik-titik perbatasan pemukiman dan vegetasi gambut Baamang guna mengantisipasi makin banyaknya anakan satwa liar yang terisolasi dari induknya akibat amukan api. (***)

  • Langkah Catur dan Penanya Kini Hening: Obituari H. Ruslan Abdul Gani, Pewarta Senior Kotim

    Langkah Catur dan Penanya Kini Hening: Obituari H. Ruslan Abdul Gani, Pewarta Senior Kotim

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Dunia jurnalistik dan komunitas olahraga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kehilangan salah satu pilar terbaiknya. H. Ruslan Abdul Gani, SH bin Kanti Hamdan, jurnalis senior yang dikenal gigih menyuarakan fakta sekaligus benteng pecatur andal di bumi Tambun Bungi, mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa pagi (29/9/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.

    ​Kabar duka yang mengejutkan insan pers tersebut disampaikan langsung oleh putra bungsu almarhum, Rendy Muhamad Iqbal, PhD.

    ​“Assalamualaikum wr wb. Saya Rendy Muhamad Iqbal, PhD putra bungsu Bapak H. Ruslan Abdul Gani, SH bin Kanti Hamdan. Izin menyampaikan bahwa ayahanda saya meninggal pagi tadi pada pukul 08.00 WIB,” tutur Rendy, Selasa (29/9/2026).

    ​Jenazah almarhum disemayamkan di kediaman keluarga di Jalan Delima 5 Nomor 117, Sampit. Berdasarkan keterangan keluarga, almarhum diberangkatkan dan dimakamkan ba’da salat Zuhur di Pemakaman Sanaim Samaun Al-Qurbah, Sampit. Mewakili keluarga besar, Rendy menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh kerabat, rekan sejawat, serta masyarakat atas segala kekhilafan almarhum sepanjang hayatnya.

    ​Harmoni Pena Tajam dan Langkah Strategi di Atas Papan 64 Petak

    ​Kepergian H. Ruslan Abdul Gani, SH menyisakan ruang hampa yang mendalam. Bagi dunia pers Kotim, almarhum adalah sosok wartawan yang konsisten merawat integritas dan nurani publik lewat karya tulisnya. Sementara di lingkungan olahraga, ia adalah pecatur yang disegani karena kalkulasi strateginya yang tenang serta dedikasinya menginspirasi para pemuda di Kotim.

    ​Pemimpin Redaksi Kanalindependen.id, Gunawan, yang juga merupakan sahabat karib almarhum sesama jurnalis dan insan catur, mengungkapkan rasa duka mendalam atas berpulangnya sang senior.

    ​“Beliau adalah wartawan senior sekaligus pecatur andal. Langkah penanya tajam dan langkah caturnya begitu tenang. Kami sangat kehilangan sosok teladan dan merasa berduka yang sangat mendalam atas kepergian almarhum,” ungkap Gunawan.

    ​Kiprah H. Ruslan Abdul Gani dalam membangun iklim media yang independen serta memajukan olahraga catur di Kotawaringin Timur akan terus membekas sebagai warisan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.

    ​Analisis Kanal Independen: Penghormatan Terakhir untuk Rekam Jejak Pers dan Olahraga Kotim

    ​Berpulangnya H. Ruslan Abdul Gani, SH menjadi momen perenungan bersama bagi seluruh ekosistem media independen dan persatuan catur di Kalimantan Tengah. Almarhum mengajarkan bahwa kedalaman berpikir seorang jurnalis dalam mengawal isu publik berbanding lurus dengan ketenangan seorang pecatur dalam mengkalkulasi setiap keputusan.

    ​Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    ​Merawat Warisan Integritas Pers: Generasi muda wartawan di Kotim didesak untuk terus melanjutkan keberanian dan profesionalisme yang telah diteladankan almarhum H. Ruslan Abdul Gani dalam menjaga independensi serta keberpihakan pers pada kebenaran.

    ​Penghargaan Dedikasi Percasi Kotim: Pengurus Percasi Kotim diimbau untuk memberikan panggung penghormatan atas kontribusi almarhum, salah satunya dengan menginisiasi turnamen catur peringatan (memorial tournament) guna menjaga cita-cita almarhum dalam melahirkan bibit-bibit pecatur muda daerah.

    ​Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhum H. Ruslan Abdul Gani, SH diampuni segala khilafnya, diterima amal ibadahnya, dan diberikan tempat termulia di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa dianugerahi ketabahan dan kekuatan.

    ​Langkah catur dan penanya kini hening!  Pewarta senior dan pecatur andal H. Ruslan Abdul Gani tutup usia!  Kanalindependen.id menyampaikan duka cita mendalam, keteladanan almarhum abadi! (***)

  • Hujan Guyur Kotim Dua Hari, BMKG: Belum Cukup untuk Redakan Karhutla

    Hujan Guyur Kotim Dua Hari, BMKG: Belum Cukup untuk Redakan Karhutla

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam dua hari terakhir. Namun, turunnya hujan belum menjadi tanda bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut akan segera berakhir.

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, hujan yang mulai turun menjadi salah satu tanda Kotim memasuki fase awal transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

    Meski demikian, secara umum Kotim masih berada dalam musim kemarau.

    “Bisa dikatakan kita memasuki awal transisi dari musim kemarau ke hujan, tapi secara umum kita masih musim kemarau,” kata Mulyono, Senin (28/9/2026).

    BMKG memperkirakan awal musim hujan tidak terjadi serentak di seluruh wilayah Kotim. Bagian utara diprakirakan lebih dahulu memasuki musim hujan sekitar pertengahan Oktober 2026.

    Sementara Sampit dan sekitarnya diperkirakan memasuki awal musim hujan pada awal November. Adapun wilayah selatan diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada akhir November.

    Hingga akhir September, peluang pertumbuhan awan hujan di Kotim masih cukup tinggi. BMKG memperkirakan peluang tersebut berada di kisaran 50–70 persen, bahkan pada 27 September potensinya diprakirakan di atas 70 persen.

    “Untuk besok hingga akhir bulan ini ada potensi pertumbuhan awan hujan sekitar 50–70 persen di wilayah Kotim. Besok 27 September potensi di atas 70 persen,” jelasnya.

    Hujan Belum Jadi Jaminan Karhutla Reda

    Di tengah masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah Kotim, hujan yang turun memang membantu mengurangi kondisi kering di permukaan lahan.

    Namun, Mulyono menegaskan hujan tersebut belum dapat disebut mampu meredakan karhutla secara menyeluruh. Api, terutama pada lahan yang kering, membutuhkan hujan dengan intensitas lebih tinggi dan durasi yang cukup lama.

    “Untuk meredakan masih belum bisa dikatakan demikian, tepatnya mengurangi. Hujan dengan intensitas lebat dan durasinya lama yang bisa meredakan karhutla,” pungkasnya.

    Dengan demikian, hujan yang mulai mengguyur Kotim belum menjadi alasan untuk menganggap ancaman karhutla telah berakhir. Wilayah Kotim masih berada dalam masa kemarau dan baru memasuki fase peralihan menuju musim hujan.(***)

  • Lutung Merah Ditemukan Kritis di Tepi Jalan Cempaga Hulu, Mati Sebelum Ditangani Dokter

    Lutung Merah Ditemukan Kritis di Tepi Jalan Cempaga Hulu, Mati Sebelum Ditangani Dokter

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Seekor lutung merah atau kelasi ditemukan dalam kondisi terluka parah di tepi jalan raya wilayah Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Senin (28/9/2026).

    Satwa liar tersebut ditemukan di kawasan yang berada di sekitar areal bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisinya mengenaskan karena mengalami patah tulang pada kedua kaki.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan informasi mengenai keberadaan lutung merah tersebut diterimanya sekitar pukul 13.00 WIB dari wartawan media online Borneo.news, Dewi, yang meneruskan laporan warga di media sosial.

    Petugas kemudian menelusuri informasi tersebut dan menghubungi Arlan, warga Kecamatan Tualan Hulu yang mengunggah informasi keberadaan satwa tersebut.

    Dari keterangan Arlan, lutung merah berada di tepi jalan raya. Satwa itu diduga mengalami kecelakaan saat hendak menyeberang jalan.

    “Lutung terluka di kedua kaki, kemungkinan besar tertabrak mobil atau truk saat mau menyeberang jalan,” kata Muriansyah berdasarkan laporan yang diterimanya.

    Setelah mendapat informasi tersebut, lutung kemudian dijemput komunitas atau aktivis lingkungan dari Sampit untuk dibawa ke klinik hewan.

    Namun, upaya penyelamatan itu berakhir tragis.

    Mati Sebelum Mendapat Penanganan

    Lutung merah tersebut sempat dibawa ke klinik hewan. Namun, sebelum dokter sempat memberikan tindakan medis, satwa tersebut mengembuskan napas terakhir.

    Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan terdapat tiga bagian tulang yang patah.

    Patahan ditemukan pada paha kaki kanan, paha kaki kiri serta bagian engkel kaki kanan.

    Kondisi luka pada bagian paha juga cukup parah. Pada paha kanan terdapat luka robek besar yang mengeluarkan banyak darah.

    Sementara pada paha kiri, ujung tulang yang patah bahkan terlihat menyembul keluar.

    Kondisi tersebut menunjukkan lutung mengalami cedera berat sebelum berhasil dievakuasi dari tepi jalan.

    Setelah lutung dinyatakan mati, petugas BKSDA Resort Sampit melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan di Pangkalan Bun.

    Berdasarkan arahan pimpinan, bangkai lutung kemudian dikuburkan dan dibuatkan berita acara kematian sebagai bagian dari penanganan satwa liar dilindungi tersebut.

    Kemunculan lutung merah dalam kondisi terluka di tepi jalan kembali menunjukkan risiko yang dihadapi satwa liar ketika wilayah jelajahnya bersinggungan dengan jalur kendaraan dan kawasan yang terdampak kebakaran.

    Kali ini, pertolongan datang sebelum terlambat, tetapi cedera yang dialami terlalu parah. Lutung merah itu akhirnya mati sebelum sempat mendapat penanganan dokter. (***)