Kategori: Kotawaringin Timur

  • Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    Data Hotspot Kotim Melonjak 506 Titik: Pesisir Sungai Mentaya Kritis, Asap Terus Pengepul ke Sampit

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan rekapitulasi data satelit NOAA-20 dan SNPP yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit bersama BPBD Kotim per Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi akumulasi sebanyak 506 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Kotim dalam 24 jam terakhir. 

    ​Angka ini memperlihatkan lonjakan tajam dan mengonfirmasi bahwa amukan api belum terkendali, terutama di wilayah pesisir serta seberang alur Sungai Mentaya. 

    “Bagendang Permai, Sungai Lepeh, kebakaran besar,” ungkap Fatma, salah seorang warga di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Rabu (7/10/2026).

    ​Dari total 506 titik panas, konsentrasi terbesar berada di wilayah penyangga selatan dan seberang kota Sampit: 
    ​Kecamatan Seranau: 227 titik (Mentaya Seberang 121 titik, Ganepo 56 titik, Seragam Jaya 50 titik). 

    ​Kecamatan Pulau Hanaut: 180 titik (Satiruk 43 titik, Serambut 40 titik, Bantian 33 titik, Babaung 22 titik, Bapinang Hilir 17 titik, Bapinang Hulu 7 titik, Bamadu 7 titik, Hanaut 5 titik, Babirah 4 titik, Bapinang Hilir Laut 1 titik, Penyaguan 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga: 29 titik (Luwuk Ranggan 21 titik, Rubung Buyung 8 titik).

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU): 22 titik (Bagendang Hilir 15 titik, Natai Baru 6 titik, Bagendang Tengah 1 titik). 

    ​Kecamatan Cempaga Hulu: 15 titik (Parit 5 titik, Bukit Raya 4 titik, Sudan 4 titik, Sungai Ubar Mandiri 2 titik). 
    ​Kecamatan Mentaya Hulu: 7 titik (Pahirangan 4 titik, Kapuk 2 titik, Tangar 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentawa Baru Ketapang: 6 titik (Bangkuang Makmur 3 titik, Bapeang 3 titik). 

    ​Kecamatan Parenggean: 5 titik (Manjalin 4 titik, Kabuau 1 titik). 

    ​Kecamatan Telawang: 5 titik (Tanah Putih 5 titik). 
    ​Kecamatan Teluk Sampit: 5 titik (Lampuyang 5 titik). 
    ​Kecamatan Kota Besi: 2 titik (Palangan 1 titik, Rasau Tumbuh 1 titik). 

    ​Kecamatan Mentaya Hilir Selatan: 1 titik (Sei Ijum Raya 1 titik). 

    ​Kecamatan Bukit Santuai: 1 titik (Tumbang Batu 1 titik). 
    ​Kecamatan Tualan Hulu: 1 titik (Bukit Makmur 1 titik). 
    ​
    ​Korelasi data hotspot BMKG/BPBD Kotim per 7 Oktober 2026 ini memberikan benang merah yang jelas terhadap seluruh rangkaian krisis lingkungan, satwa, dan kesehatan masyarakat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir:

    Krisis Asap & ISPU Ekstrem
    ​Fakta Data: Kecamatan Seranau (227 titik) dan Pulau Hanaut (180 titik) secara akumulatif menyumbang 407 titik panas (80,4% dari total hotspot Kotim). Kelurahan Mentaya Seberang sendiri mencatatkan 121 titik. 

    ​Adapun, data geografis ini membuktikan mengapa udara Kota Sampit yang berada tepat di seberang Sungai Mentaya mengalami fenomena pengendapan asap (smoke trap). Hal ini menjelaskan penyebab Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) bergerak fluktuatif di level sangat berbahaya (300–400) hingga sempat menyentuh angka ekstrem di atas 1.000, serta melumpuhkan jarak pandang hingga tersisa 10–20 meter. 
    ​
    Asap pekat hasil pembakaran gambut dalam skala masif di Seranau terus terbawa angin melintasi sungai ke permukiman padat. Ini secara langsung memicu krisis kesehatan reproduksi akibat tingginya konsentrasi racun partikel halus PM2.5, yang meningkatkan risiko kelahiran prematur dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) bagi janin ibu hamil di Kota Sampit.

    ​Tingginya kerapatan hotspot di Ganepo secara objektif menjelaskan mengapa seekor trenggiling dilindungi ditemukan dalam kondisi kritis terpanggang api. Kobaran api yang menyebar cepat di 56 titik tersebut mengurung habitat satwa dan memutus jalur penyelamatan diri mereka. 

    Kejadian Karhutla Bagendang Hilir
    ​Fakta Data: Desa Bagendang Hilir di Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) mencatatkan 15 titik panas. 

    ​Hal ini mengonfirmasi penyebab terbakarnya 10 hektare hutan dan semak belukar yang berlokasi sangat dekat dengan jalan raya dan permukiman warga pada Rabu sore, sehingga membutuhkan pengerahan armada MTPK 12 Damkar Sektor Samuda bersama BPBD dan MPA. (***)

  • Karhutla Dekat Permukiman: 10 Hektare Semak dan Hutan Terbakar di Bagendang Hilir

    Karhutla Dekat Permukiman: 10 Hektare Semak dan Hutan Terbakar di Bagendang Hilir

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam keselamatan dan ruang hidup warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kobaran api hebat melalap sekitar 10 hektare semak belukar dan hutan di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), Rabu (7/10/2026).

    Ancaman kali ini kian krusial karena titik api berkobar sangat dekat dengan area permukiman padat warga serta jalur lintasan jalan raya utama Sampit–Samuda.

    Merespons laporan darurat warga, armada Pos Damkar Sektor Samuda langsung meluncur ke lokasi kejadian sekitar pukul 13.05 WIB. Menempuh jarak sekitar 13 kilometer, tim tiba di lokasi pukul 13.36 WIB dan langsung melakukan isolasi serta penyiraman api sekitar pukul 13.40 WIB.

    Operasi pemadaman dan pendinginan (cooling down) berlangsung marathon hingga pukul 15.30 WIB di bawah cuaca terik cerah.

    Empat personel Pos Damkar Sektor Samuda dikerahkan menggunakan armada unit MTPK 12, yang dipimpin langsung oleh Kepala Pos (Kapos) Supianor.

    “Operasi pemadaman dan pendinginan dilakukan secara terpadu di area hutan serta semak belukar yang terbakar. Penanganan di lapangan mendapat dukungan penuh dari personel BPBD Kotim, Yon TP, PT Simon, serta jajaran Masyarakat Peduli Api (MPA) Kecamatan,” terang Kapos Damkar Sektor Samuda, Supianor, Rabu (7/10/2026).

    Hingga operasi penanganan dinyatakan selesai, petugas memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Sementara itu, penyebab pasti pemicu kebakaran 10 hektare lahan di Bagendang Hilir tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.

    Amukan api yang melahap 10 hektare lahan di Bagendang Hilir menjadi alarm keras bahaya laten karhutla yang merangsek ke zona pemukiman warga (wildland-urban interface). Ketika titik api berada sangat dekat dengan rumah dan jalur transportasi utama, risiko ancaman tidak hanya berupa bahaya ISPU, melainkan potensi perambatan api melalap bangunan fisik dan melumpuhkan mobilitas publik.

    Pemkab Kotim melalui BPBD dan Camat MHU didesak untuk tidak hanya mengandalkan pemadaman reaktif. Harus ada pembuatan sekat bakar basah atau kanalisasi di sekitar benteng semak Bagendang Hilir guna memutus perambatan api ke rumah warga.

    Polres Kotim dan instansi terkait dituntut mengusut tuntas penyebab munculnya titik api di pinggir jalan raya ini. Apakah terdapat unsur kelalaian pembakaran sampah/lahan (land clearing) yang disengaja oleh oknum tidak bertanggung jawab di tengah kemarau ekstrem. (***)

  • Di Balik Kabut Asap, Ada Janin yang Ikut Terpapar : Bencana Karhutla Kotim Cengkeram Kesehatan Ibu dan Anak

    Di Balik Kabut Asap, Ada Janin yang Ikut Terpapar : Bencana Karhutla Kotim Cengkeram Kesehatan Ibu dan Anak

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak sekadar mengancam jarak pandang lalu lintas atau melumpuhkan aktivitas ekonomi. Di balik racun kabut asap yang merayap hingga ke dalam rumah warga, terdapat ancaman biologis terselubung (silent threat) yang membahayakan kelompok paling rentan: ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur Nugroho Kuncoro Yudho, mengingatkan pentingnya mengurangi paparan asap bagi ibu hamil ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

    “Janin memang tidak menghirup udara secara langsung seperti orang dewasa. Namun, kebutuhan oksigen dan nutrisi janin bergantung pada kondisi ibu melalui plasenta,” katanya, Rabu (7/10/2026).

    Karena itu, kualitas udara yang dihirup ibu menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan selama kehamilan.

    Salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah partikel halus PM2.5. Ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

    Paparan polusi udara dan asap kebakaran selama kehamilan dalam berbagai penelitian dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Namun, hubungan tersebut merupakan risiko pada tingkat populasi dan bukan berarti setiap ibu hamil yang terpapar asap pasti mengalami komplikasi.

    Kondisi kehamilan dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kesehatan ibu, kecukupan gizi, infeksi, usia kehamilan, kondisi sosial, akses layanan kesehatan hingga lingkungan.

    “Karena itu, perlindungan tidak harus menunggu sampai muncul keluhan berat,” katanya.

    Ibu hamil disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap sedang tebal. Jika harus keluar, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

    Namun, masker bukan berarti seseorang aman untuk tetap berada lama di tengah kepungan asap.

    Udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Pintu dan jendela dapat ditutup ketika kondisi luar dipenuhi asap, sementara sumber polusi lain seperti asap rokok sebaiknya tidak ada di dalam rumah. Penyaring udara dengan filter HEPA dapat digunakan jika tersedia.

    “Pemeriksaan kehamilan juga tetap perlu dilakukan sesuai jadwal,” sarannya.

    Nugroho mengingatkan agar ibu hamil segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas, nyeri dada, pusing berat, kehilangan kesadaran, atau keluhan kehamilan yang mengkhawatirkan.

    Perlindungan tidak berhenti setelah bayi lahir. Sistem pernapasan bayi masih berkembang sehingga bayi juga termasuk kelompok yang rentan terhadap kualitas udara buruk.

    Dalam kondisi karhutla, perlindungan terhadap ibu hamil dan bayi tidak hanya menjadi urusan mereka sendiri. Keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran untuk mengurangi paparan, terutama ketika asap mulai memenuhi ruang hidup.

    Karhutla akhirnya bukan hanya persoalan titik api dan luas lahan terbakar. Dampaknya bisa masuk sampai ke rumah, ruang perawatan, dan kehidupan yang bahkan belum lahir.

    Di balik kabut asap yang terlihat dari jalan, ada paparan yang tidak selalu terlihat. Dan di dalam tubuh seorang ibu, ada janin yang bergantung pada kondisi tubuh serta udara yang dihirup ibunya. (***)

  • Di Balik Bantuan Gubernur Kalteng di Telawang: Jalan, Plasma, dan Tagihan untuk Investasi

    Di Balik Bantuan Gubernur Kalteng di Telawang: Jalan, Plasma, dan Tagihan untuk Investasi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kedatangan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu (4/10/2026), tidak hanya diisi penyaluran bantuan bagi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan.

    Di hadapan masyarakat, pemerintah membicarakan pangan dan air bersih. Namun, sambutan Camat Telawang Rendra Repati Putra, Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor, dan gubernur juga membuka persoalan lain, yakni ketepatan sasaran bantuan, kondisi akses jalan, serta kewajiban perusahaan melalui program tanggung jawab sosial dan kebun plasma.

    Bantuan menjadi kebutuhan mendesak saat warga terdampak karhutla. Tetapi dari rangkaian pernyataan tiga pejabat itu, terlihat kebutuhan masyarakat Telawang tidak hanya berhenti pada bantuan sekali salur.

    Tambahan Bantuan Pangan

    Camat Telawang Rendra Repati Putra menyampaikan bantuan pangan yang disiapkan untuk wilayahnya semula berjumlah 1.000 paket. Dalam agenda tersebut, menurut dia, Gubernur menambah 500 paket.

    ”Yang sekarang 1.000, tapi tadi Pak Gubernur tambah 500 lagi porsinya,” kata Rendra.

    Dengan tambahan tersebut, total bantuan pangan yang disebut disiapkan untuk Telawang mencapai 1.500 paket. Rendra menyebut paket itu berisi beras kemasan 5 kilogram, minyak goreng 1 liter, serta bantuan kebutuhan lain.

    Ia juga menjelaskan mekanisme penerima bantuan. Menurut Rendra, penerima bantuan beras bagi warga terdampak karhutla tidak boleh merupakan penerima Kartu Huma Betang Sejahtera atau KHBS. Namun, penerima Program Keluarga Harapan atau PKH masih dapat menerima bantuan pangan tersebut.

    ”Penerima beras yang karhutla ini tidak boleh penerima KHBS. Yang boleh dobel itu PKH,” ujarnya.

    Untuk bantuan air bersih, Rendra mengatakan, penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan dari wilayah yang membutuhkan. Sekitar 1.000 liter air bersih disiapkan. Penyaluran berikutnya, menurut dia, dilakukan bertahap.

    Investasi dan Akses Jalan

    Dalam sambutannya, Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor menyebut Simpang Sebabi sebagai kawasan yang berkembang karena investasi.

    ”Di sinilah investasi banyak, Pak. Perkebunan juga ada, tambang dan lainnya,” kata Halikinnor.

    Di tengah gambaran mengenai investasi itu, Halikinnor turut menyampaikan permintaan agar pemerintah provinsi memberi perhatian terhadap akses jalan dari Sampit menuju salah satu wilayah di Kotim.

    Ia menyebut terdapat persoalan kemacetan dan kondisi jalan yang memerlukan penanganan.

    Pernyataan itu memperlihatkan kontras yang muncul dari acara tersebut. Telawang disebut memiliki aktivitas investasi perkebunan dan pertambangan, tetapi kebutuhan pembenahan akses jalan tetap menjadi permintaan yang disampaikan langsung kepada gubernur.

    Bagi warga, akses jalan bukan hanya urusan konektivitas. Jalan menentukan mobilitas layanan kesehatan, distribusi bantuan saat keadaan darurat, perjalanan sekolah, kegiatan ekonomi, dan hubungan antarwilayah.

    CSR dan Plasma Disebut

    Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyatakan pemerintah harus hadir untuk melayani masyarakat dan mencari solusi atas kebutuhan mereka. Dalam sambutannya, ia menyebut persoalan yang dihadapi masyarakat meliputi pekerjaan, layanan kesehatan, pendidikan, pangan, dan air bersih.

    ”Pimpinan harus mengedukasi orang, melayani orang. Contohnya ini pengangguran, bagaimana menjadi pegawai. Contohnya orang sakit, bagaimana ini bisa berobat. Tentang pendidikan macam apa, solusi yang macam itu,” ujar Agustiar.

    Ia juga menyinggung persoalan masyarakat yang berhadapan dengan perusahaan. Menurut gubernur, investasi diberikan ruang untuk beroperasi, tetapi perusahaan memiliki kewajiban untuk ikut menyelesaikan persoalan masyarakat di sekitarnya.

    ”Kita namanya investasi, kita layani kasih tempat wilayah. Tapi kewajiban mereka harus melayani, harus ini, selesaikan,” katanya.

    Agustiar lalu menyebut secara khusus soal tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, plasma, dan program perusahaan lainnya.

    ”Mengenai CSR-nya, mengenai plasmanya, betul tidak?” ucapnya.

    Pernyataan itu menjadi relevan dalam konteks sengketa lahan antara masyarakat Desa Sebabi di Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Desa Bangkal di Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, dengan PT Binasawit Abadipratama atau PT BAP.

    Menurut penetapan Majelis Kerapatan Mantir Basara Hai dan Let Perdamaian Adat Provinsi Kalimantan Tengah yang dipublikasikan, pada 24 September 2026 majelis menjalankan eksekusi terhadap objek sengketa seluas 1.607 hektare.

    Eksekusi itu disebut sebagai tindak lanjut Putusan Nomor 002/MKMBH-KT/PTS/VIII/2026 tertanggal 28 Agustus 2026.

    Dalam penetapan tersebut, majelis adat menyatakan objek seluas 1.607 hektare dikembalikan kepada masyarakat Desa Sebabi dan Desa Bangkal. Majelis juga memerintahkan PT BAP mengosongkan fasilitas di area sengketa dalam waktu 3×24 jam.

    Sengketa tersebut juga tercatat menempuh jalur peradilan umum. Hasil penelusuran perkara di Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Sampit menampilkan perkara Nomor 81/Pdt.G/2026/PN Spt dengan klasifikasi perbuatan melawan hukum dan PT Binasawit Abadipratama sebagai penggugat. (hgn/ign)

  • Sempat Tertunda Karhutla, MTQ Kotim Jadi Ujian Pembinaan Generasi Qurani

    Sempat Tertunda Karhutla, MTQ Kotim Jadi Ujian Pembinaan Generasi Qurani

    SAMPIT, kanalindependen.id – Musabaqah Tilawatil Quran atau MTQ ke-57 dan Festival Seni Qasidah tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur berlangsung di Kelurahan Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, pada 3–7 Oktober 2026.

    Kegiatan tersebut diikuti 429 peserta dari 17 kecamatan se-Kotawaringin Timur. Sebanyak 10 cabang diperlombakan, yakni tilawah Al-Qur’an, syarhil Al-Qur’an, qiraat sab’ah murattal, tartil Al-Qur’an, fahmil Al-Qur’an, tahfiz Al-Qur’an, khat Al-Qur’an, makalah Al-Qur’an, bintang vokalis pop religi, dan gambus.

    Pelaksanaan MTQ tahun ini sebelumnya direncanakan pada 5 September 2026. Namun, kegiatan ditunda akibat kabut asap dan karhutla yang saat itu melanda Kotawaringin Timur.

    Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor menegaskan MTQ tidak boleh dimaknai sebatas agenda rutin atau perlombaan untuk mencari juara.

    Menurut dia, nilai dan ajaran Al-Qur’an harus diwujudkan dalam pembentukan perilaku masyarakat serta menjadi bagian dari arah pembangunan daerah.

    ”Sungguh keliru apabila pelaksanaan MTQ hanya dipahami sebagai kegiatan syiar keagamaan semata, tanpa memaknai secara lebih luas nilai manfaat dan kemaslahatan yang menyertainya,” kata Halikinnor dalam sambutan pembukaan MTQ di Mentaya Hulu, Sabtu (3/10/2026) lalu.

    Ia mengatakan, pemahaman tersebut perlu tumbuh di tengah masyarakat agar MTQ tidak berhenti menjadi kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum untuk mewarnai pembangunan dan kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai Qurani.

    Pembinaan dan Regenerasi

    Pesan Bupati itu sejalan dengan penekanan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Timur, Nur Widiantoro.

    Menurutnya, MTQ merupakan salah satu instrumen untuk mengukur sejauh mana pembelajaran, pembinaan, dan pengamalan Al-Qur’an telah berkembang di masyarakat.

    ”MTQ hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perlombaan untuk mencari juara, tetapi menjadi salah satu instrumen untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran, pembinaan dan pengamalan Al-Qur’an telah tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Nur Widiantoro.

    Ia menyebut rumah tahfiz, taman pendidikan Al-Qur’an, taman kanak-kanak Al-Qur’an, madrasah diniyah, dan pondok pesantren sebagai basis pembinaan calon qori, qoriah, hafiz, hafizah, mufasir, serta generasi Qurani.

    Menurut dia, kualitas pembinaan dapat dilihat dari kemampuan daerah melahirkan peserta baru yang semakin baik. Sebaliknya, kesulitan mencari peserta untuk mengikuti cabang perlombaan perlu menjadi bahan evaluasi bersama.

    MTQ tingkat kabupaten ini juga menjadi tahapan untuk memilih peserta terbaik yang diharapkan dapat mewakili Kotawaringin Timur pada MTQ dan Festival Seni Qasidah tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.

    Pesan Karhutla dari Bupati

    Dalam sambutannya, Halikinnor turut mengaitkan pelaksanaan MTQ dengan situasi kekeringan dan karhutla di Kotawaringin Timur.

    Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan titik api kepada aparat desa, camat, atau pihak berwenang.

    Ia juga meminta masyarakat bijak menggunakan air bersih dan menjaga kesehatan selama musim kemarau.

    Kepada panitia, kafilah, dan peserta, Halikinnor mengingatkan agar mencukupi kebutuhan air minum, menggunakan masker apabila kabut asap mengganggu, serta menjaga kebersihan dan keamanan lokasi kegiatan dari risiko kebakaran.

    “Sebagaimana ajaran Al-Qur’an yang melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi, menjaga alam merupakan bagian dari amanah dan ibadah kita,” ujar Halikinnor.

    Pernyataan itu relevan dengan perjalanan kegiatan tahun ini. Ketua Panitia MTQ ke-57 dan Festival Seni Qasidah Kotawaringin Timur, Muhammad Edison, menyebut persiapan telah dilakukan sejak Maret 2026, tetapi panitia menghadapi kendala kekeringan dan kekurangan air bersih.

    Panitia menyatakan kendala tersebut telah diatasi sehingga pelaksanaan kegiatan dapat berlangsung.

    Penilaian dan Pembiayaan

    Bupati juga meminta dewan hakim, juri, dan panitia menjalankan tugas dengan baik serta memberikan penilaian yang objektif, jujur, profesional, dan menjunjung sportivitas.

    Penekanan terhadap integritas itu penting karena hasil perlombaan akan menentukan peserta terbaik yang menjadi basis kafilah Kotawaringin Timur ke tingkat provinsi.

    Sekitar 50 dewan hakim, dewan juri, dan panitera dilantik menjelang MTQ. Dalam pelantikan tersebut, Halikinnor mengingatkan agar penilaian tidak dipengaruhi hubungan pribadi, asal daerah, kedekatan dengan peserta, maupun kepentingan lain.

    Menurut laporan panitia, pelaksanaan MTQ dan Festival Seni Qasidah didukung APBD murni sekitar Rp1,5 miliar, APBD Perubahan Rp200 juta, serta sponsor dan donatur sekitar Rp135 juta. Total dukungan pembiayaan kegiatan disebut sekitar Rp1,8 miliar.

    Dengan keterlibatan 17 kecamatan, MTQ di Mentaya Hulu tidak hanya menempatkan peserta dalam persaingan untuk meraih juara.

    Ajang ini juga menguji keberlanjutan pembinaan Al-Qur’an di tingkat akar rumput, sekaligus mengingatkan bahwa nilai keagamaan dan kepedulian menjaga lingkungan perlu berjalan beriringan. (hgn/ign)

  • Atasi Persoalan Banjir di Kota Sampit, Bupati Kotim Pastikan Pembangunan Drainase di Tjilik Riwut dan DI Panjaitan Tuntas Akhir Tahun

    Atasi Persoalan Banjir di Kota Sampit, Bupati Kotim Pastikan Pembangunan Drainase di Tjilik Riwut dan DI Panjaitan Tuntas Akhir Tahun

    SAMPIT, kanalindependen.id – Persoalan genangan banjir yang kerap terjadi saat hujan deras di sejumlah kawasan Kota Sampit menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Upaya penanganan serius dilakukan dengan membangun drainase permanen di Jalan Tjilik Riwut dan Jalan DI Panjaitan yang kini masih dalam tahap pekerjaan. 

    Bupati Kotim Halikinnor mengatakan pembangunan drainase di dua ruas jalan tersebut merupakan tindaklanjut pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan genangan banjir di areal Kota Sampit, terutama di Jalan Tjilik Riwut dan DI Panjaitan yang kerap jadi langganan genangan banjir setiap hujan deras melanda.

    ”Selama ini yang sering dikeluhkan warga, ketika terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi, menimbulkan genangan banjir. Kami berharap dengan dibangunnya drainase permanen ini, persoalan banjir terutama di dua titik ruas jalan ini dapat teratasi,” ujar Halikinnor saat diwawancara awak media usai meninjau progress pembangunan drainase di kedua ruas jalan tersebut, Kamis (1/10/2026).

    Halikinnor menyebut penanganan persoalan drainase di Kota Sampit masih membutuhkan pekerjaan lanjutan karena terdapat sejumlah kawasan lain yang juga memerlukan pembenahan.

    ”Sebenarnya masih banyak titik yang perlu ditangani, seperti arah Jalan Pelita hingga Jalan Pangeran Antasari. Namun, penanganannya dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah,” jelasnya.

    Halikinnor menjelaskan, pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut tidak hanya berkaitan dengan persoalan genangan.

    Ruas tersebut memiliki intensitas kendaraan yang cukup tinggi karena menjadi jalur yang menghubungkan jalan nasional dengan jalan kabupaten.

    ”Pembangunan di Tjilik Riwut juga sekaligus untuk mengatasi persoalan di kawasan dengan intensitas kendaraan yang cukup tinggi, karena merupakan jalur dari jalan nasional dan juga jalan kabupaten,” ungkapnya.

    Untuk konstruksinya, kedua lokasi menggunakan metode yang berbeda. Drainase di Jalan Tjilik Riwut menggunakan sistem precast, sedangkan di Jalan DI Panjaitan menggunakan sistem cor beton.

    Pemilihan sistem precast di Jalan Tjilik Riwut mempertimbangkan kebutuhan kekuatan konstruksi meskipun biaya yang dibutuhkan lebih tinggi.

    ”Di Tjilik Riwut digunakan sistem precast, sedangkan di sini menggunakan sistem cor. Memang sistem precast lebih mahal, tetapi lebih kuat,” ujarnya.

    Konstruksi tersebut juga disesuaikan dengan fungsi saluran yang nantinya akan menerima aliran air dari kawasan lain.

    ”Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan karena saluran ini nantinya menampung aliran air dari Jalan Pelita dan Jalan MT Haryono,” jelas Halikinnor.

    Selain membangun saluran drainase baru, Dinas SDABMBKPRKP Kotim juga merencanakan opsi pemanfaatan salah satu ruas jalan untuk dijadikan bagian dari saluran drainase.

    Namun, fungsi jalan tetap dipertahankan karena bagian atas saluran akan ditutup sehingga dapat kembali digunakan sebagai jalur lalu lintas.

    ”Ada rencana kemungkinan membuka salah satu ruas jalan untuk dijadikan saluran drainase. Namun, bagian atasnya tetap akan ditutup sehingga masih dapat difungsikan sebagai jalan dan tidak menghilangkan fungsi lalu lintas,” katanya.

    Ditarget Rampung Akhir Tahun

    Halikinnor memastikan pembangunan drainase di ruas Jalan Tjilik Riwut dan DI Panjaitan tidak akan melewati target yang telah ditetapkan.

    ”Insyaallah selesai, karena masa kontraknya ditargetkan selesai akhir tahun ini,” tegas Halikinnor.

    Dia mengakui pekerjaan pada tahap awal terlihat belum terlalu cepat karena masih berada dalam proses pemasangan konstruksi. Namun, setelah tahapan tersebut selesai, pengerjaan diperkirakan akan berlangsung lebih cepat.

    ”Memang pada tahap awal pekerjaan terlihat lambat karena masih proses pemasangan. Namun, setelah tahap itu selesai, pengerjaan akan lebih cepat,” ujarnya.

    Selama pekerjaan pembangunan drainase pada ruas jalan yang menjadi jalur aktivitas masyarakat berpotensi menimbulkan gangguan sementara, terutama terhadap arus lalu lintas dan aktivitas perdagangan.

    Namun, Halikinnor mengatakan pemerintah daerah telah lebih dulu melakukan sosialisasi sebelum pekerjaan dimulai.

    Saat meninjau lokasi, Halikinnor juga berkomunikasi langsung dengan masyarakat, terutama pedagang yang berada di sekitar lokasi pekerjaan.

    Tadi saya juga sudah bertanya langsung, terutama kepada warga yang berjualan. Pedagang yang paling berpotensi terdampak karena mungkin khawatir pembeli terganggu atau penyeberangan menjadi sulit.

    Namun ternyata mereka tidak merasa terganggu dan aktivitas usaha tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya.

    Bahkan, kata Halikinnor, masyarakat yang ditemuinya justru menyampaikan apresiasi terhadap pembangunan tersebut.

    ”Mereka justru berterima kasih,” katanya.

    Halikinnor pun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang dapat memahami pekerjaan tersebut sekaligus meminta maaf apabila proses pembangunan menimbulkan gangguan sementara terhadap lalu lintas.

    ”Saya juga berterima kasih kepada warga dan meminta maaf apabila selama pekerjaan berlangsung arus lalu lintas sedikit terganggu,” ujarnya.

    Halikin menambahkan, pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari upaya pemerintah menciptakan kondisi kawasan yang lebih nyaman bagi masyarakat.

    ”Semua ini dilakukan demi kenyamanan kita bersama,” ujar Halikinnor.

    Mentana: Progres Tjilik Riwut 50 Persen, DI Panjaitan 35 Persen

    Kepala DSDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, peninjauan bersama Bupati dilakukan untuk memastikan pekerjaan di lapangan berjalan sesuai rencana.

    ”Intinya, kami melakukan pemantauan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana,” kata Mentana.

    Berdasarkan hasil pemantauan, pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut telah mencapai sekitar 50 persen. Sementara progres pekerjaan di Jalan DI Panjaitan berada di kisaran 35 persen.

    ”Untuk pekerjaan drainase di Jalan Tjilik Riwut, progresnya kurang lebih sudah mencapai 50 persen. Sementara di Jalan DI Panjaitan sudah sekitar 35 persen,” jelasnya.

    Mentana mengatakan kedua pekerjaan tersebut masih memiliki waktu pelaksanaan hingga awal Desember sesuai masa kontrak.

    ”Proyeksi kami, insyaallah seluruh pekerjaan dapat selesai pada akhir tahun sesuai kontrak,” ujarnya.

    Mentana menjelaskan, pembangunan drainase di Jalan DI Panjaitan dikerjakan pada dua sisi jalan dengan total panjang mencapai 1.050 meter.

    Pada sisi kanan atau barat, saluran dibangun sepanjang 850 meter, dimulai dari pertigaan Jalan DI Panjaitan–Pelita Timur ke arah selatan hingga Pasar Sajumput.

    Sementara di sisi kiri atau timur, pembangunan dilakukan sepanjang 200 meter, dimulai dari Jembatan Pasar Sajumput ke arah utara.

    Paket tersebut juga mencakup pengaspalan pada sejumlah titik badan jalan yang mengalami kerusakan atau berlubang.

    Pekerjaan pembangunan drainase Jalan DI Panjaitan dilaksanakan CV Reza Permata Indah dengan konsultan CV Unika Citra Mandiri. Nilai kontraknya mencapai Rp7,1 miliar bersumber dari APBD Kotim.

    Sementara peningkatan jalan sekaligus pembangunan drainase di Jalan Tjilik Riwut dikerjakan sepanjang sekitar 600 meter dengan lebar 1,5 meter, dimulai dari kawasan depan Hotel Wella menuju arah Jalan Wengga Agung.

    Paket tersebut dikerjakan dengan nilai kontrak Rp7,5 miliar bersumber dari APBD Kotim. Pelaksananya adalah CV Lintas Utama, sedangkan konsultansinya ditangani CV Berlian Kalimantan Engineering.

    Kedua paket pekerjaan memiliki masa kontrak yang sama, yakni mulai 10 Juli hingga 6 Desember 2026.

    Mentana menjelaskan, penanganan tidak hanya mengandalkan pembangunan drainase baru. Saluran lama yang menjadi bagian dari sistem pengaliran air juga terus dipelihara agar dapat berfungsi optimal.

    ”Ada beberapa titik yang sering mengalami banjir saat musim hujan. Rekan-rekan media tentu mengetahui kawasan Jalan Pelita dan sekitar Jalan Suprapto yang kerap tergenang,” katanya.

    Untuk mendukung fungsi drainase baru, pemerintah daerah melakukan pembersihan dan pengerukan saluran, terutama di kawasan Jalan Pelita dan Jalan Tjilik Riwut.

    ”Harapannya, air dari kawasan DI Panjaitan dapat ditarik dan dialirkan melalui saluran yang dibangun. Tahun depan, kami berencana melanjutkan pembangunan drainase ke arah Jalan Pelita,” jelas Mentana.

    Salah satu persoalan di Jalan Pelita adalah kondisi saluran yang sempit, mengalami pendangkalan, serta sebagian tertutup.

    ”Kendalanya adalah saluran yang sempit, mengalami pendangkalan, dan sebagian besar tertutup,” ujarnya.

    Karena pembangunan permanen di kawasan tersebut baru direncanakan untuk dilanjutkan tahun depan, pembersihan menjadi langkah sementara untuk menjaga kelancaran aliran.

    ”Untuk sementara kami melakukan pembersihan sambil berharap pembangunan drainase di kawasan tersebut dapat direalisasikan pada tahun depan,” katanya.

    Mentana menambahkan, normalisasi saat ini juga menyasar sejumlah kawasan lain, termasuk Baamang. Tim pemeliharaan disebar di berbagai lokasi sesuai kebutuhan.

    ”Fokus normalisasi saat ini antara lain di Jalan Pelita dan Jalan Tjilik Riwut. Selain itu, pembersihan juga dilakukan di sejumlah kawasan lain, termasuk Baamang,” ungkapnya.

    Hasil pembersihan yang belum seluruhnya diangkut masih terlihat berupa tumpukan lumpur dan material di sejumlah pinggir jalan.

    ”Tumpukan material di pinggir jalan yang terlihat merupakan hasil pembersihan dan masih menunggu pengangkutan,” jelas Mentana.

    Keterbatasan armada menjadi salah satu kendala dalam proses pengangkutan tersebut. Dua truk yang dimiliki pemerintah daerah saat ini juga masih digunakan untuk membantu distribusi air bersih.

    ”Kendala kami, armada pengangkut terbatas. Dua truk yang dimiliki saat ini juga masih digunakan untuk distribusi air bersih,” pungkas Mentana. (hgn/ign)

  • Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    Sampit Terancam Asap Kiriman dari Seberang Mentaya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kota Sampit kembali berhadapan dengan ancaman kabut asap. Ratusan titik panas terdeteksi di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), termasuk di kawasan seberang Sungai Mentaya yang berhadapan langsung dengan pusat kota.

    Data rekapitulasi BMKG dan BPBD Kotim per Senin (5/10/2026) sore mencatat 482 titik panas dalam 24 jam terakhir.

    Konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Hanaut dengan 189 titik. Kecamatan Seranau menyusul dengan 128 titik, sedangkan Kecamatan Teluk Sampit tercatat 25 titik panas.

    Di Kecamatan Seranau, Kelurahan Mentaya Seberang mencatat 101 titik panas. Lokasinya berada tepat di seberang kawasan perkotaan Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya.

    Sebaran titik panas tersebut menjadi salah satu sumber asap yang dapat masuk ke Sampit. Pergerakannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

    Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kotim masih berubah dalam waktu singkat.

    “ISPU itu masih fluktuatif. Dalam hitungan jam saja nilainya bisa naik dan bisa turun,” kata Rihel, Senin (5/10/2026).

    Menurut Rihel, asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kawasan kota. Asap dari Seranau, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit juga dapat terbawa menuju pusat perkotaan.

    Kondisi menjadi lebih buruk ketika angin melemah. Asap yang sudah mencapai kota tidak segera bergerak keluar dan kemudian bertahan di kawasan permukiman.

    “Setelah asap sampai ke kota, ketika kecepatan angin rendah atau tidak ada angin, akhirnya menetap di kota. Itu yang membuat asap semakin tebal dan ISPU naik, bahkan sampai 1.000 lebih,” ujarnya.

    Dampaknya terlihat pada jarak pandang. Rihel menyebut jarak pandang di Sampit beberapa kali turun drastis ketika konsentrasi asap meningkat. Dalam kondisi terburuk, jarak pandang hanya sekitar 10–20 meter.

    Nilai ISPU sempat turun dari kondisi ekstrem ke kisaran 300–400. Namun, angka tersebut masih jauh dari kondisi udara yang ideal.

    “Sebenarnya yang aman ISPU di bawah 50. Yang paling parah pernah di atas 1.000, biasanya sekitar 400, 300,” kata Rihel.

    Kondisi ini membuat kualitas udara Sampit sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah sekitar dan perubahan pola angin.

    Mentaya Seberang menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan. Wilayah tersebut berada sangat dekat dengan pusat Kota Sampit dan mencatat 101 titik panas dalam data 24 jam terakhir.

    Ketika asap bergerak menuju kota sementara angin melemah, asap dapat bertahan lebih lama di kawasan perkotaan.

    Dengan ratusan titik panas masih terdeteksi di Kotim, ancaman asap bagi Sampit belum berakhir. Perubahan arah angin dalam beberapa jam ke depan akan ikut menentukan apakah asap bergerak menjauh atau kembali menumpuk di atas kota. (***)

  • Di Tengah Lahan yang Masih Terbakar, BKSDA Temukan 6 Sarang Orangutan

    Di Tengah Lahan yang Masih Terbakar, BKSDA Temukan 6 Sarang Orangutan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Jejak keberadaan orangutan ditemukan di tengah kawasan yang masih dilanda kebakaran lahan di Desa Kotabesi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). BKSDA Resort Sampit menemukan enam sarang orangutan saat menyisir kebun karet warga, Minggu (4/10/2026).

    Enam sarang tersebut terdiri atas dua sarang kelas A dan empat sarang kelas D. Temuan ini didapat saat petugas menindaklanjuti laporan warga terkait kemunculan satu individu orangutan yang diduga berjenis kelamin jantan.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, laporan awal diterima dari warga bernama Adut pada Sabtu (3/10). Warga melaporkan melihat orangutan di kebun karet milik masyarakat.

    Petugas Resort Sampit kemudian melakukan observasi bersama rekan-rekan dari Kumai, yakni Haru, Yogi dan lainnya, serta seorang wartawan televisi. Pemantauan berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 17.30 WIB.

    Di lokasi, tim bertemu dengan pemilik lahan bernama Wahyu. Berdasarkan keterangannya, orangutan memang terlihat di kawasan tersebut pada Sabtu sore.

    Petugas selanjutnya menyisir area kebun untuk mencari keberadaan satwa. Namun, individu orangutan yang dilaporkan warga belum ditemukan.

    Api Masih Berlangsung

    Di tengah pencarian, petugas menemukan kondisi lain yang tidak kalah mengkhawatirkan. Kawasan di sekitar kebun karet tersebut telah mengalami kebakaran lahan dan hingga saat observasi dilakukan, kebakaran masih berlangsung.

    Enam sarang orangutan yang ditemukan menjadi bukti adanya aktivitas satwa tersebut di kawasan itu. Dua di antaranya merupakan sarang kelas A, sedangkan empat lainnya masuk kelas D.

    Meski demikian, BKSDA belum dapat memastikan apakah orangutan yang dilaporkan warga masih berada di sekitar lokasi atau telah berpindah ke kawasan lain.

    Muriansyah mengatakan, petugas juga memberikan pengarahan kepada pemilik lahan mengenai perilaku orangutan. Warga diminta tidak mengambil tindakan sendiri apabila satwa kembali muncul.

    “Petugas memberikan pengarahan terkait perilaku satwa orangutan dan meminta warga agar segera memberikan laporan apabila orangutan muncul kembali,” kata Muriansyah dalam laporannya.

    BKSDA akan terus memantau informasi dari warga terkait kemunculan orangutan tersebut. Terlebih, kawasan yang menjadi lokasi temuan masih berhadapan dengan ancaman kebakaran lahan.

    Temuan enam sarang di kawasan yang terbakar menjadi pengingat bahwa keberadaan satwa liar perlu diperhatikan di tengah meluasnya aktivitas kebakaran lahan di Kotim.(***)

  • Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    Orangutan Belum Ditemukan di Kebun Karet Baamang Hulu, BKSDA Temukan Jejak

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Upaya mencari tiga individu orangutan yang diduga keluar dari habitatnya dan muncul di kebun karet warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur (Kotim), kembali dilakukan BKSDA Resort Sampit, Minggu (4/10/2026).

    Pencarian dilakukan di kebun karet milik warga bernama Rey yang berada di Jalan Soekarno atau Lingkar Utara, masuk Gang Mustika. Namun, petugas belum menemukan keberadaan satwa yang sebelumnya dilaporkan muncul di kawasan tersebut.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, pemantauan kembali dilakukan karena waktu masih memungkinkan. Petugas Pos Sampit bersama rekan-rekan dari Kumai, di antaranya Haru dan Yogi, bergerak menyisir lokasi.

    “Di lokasi bertemu dengan pemilik lahan di sebuah pondok. Kemudian dilakukan pencarian dengan membagi menjadi dua tim, kiri dan kanan kebun,” kata Muriansyah.

    Dari penyisiran tersebut, orangutan tidak ditemukan. Meski demikian, petugas menemukan jejak yang diduga milik orangutan di sekitar lokasi.

    Diduga Ada Tiga Individu

    Temuan tersebut menambah petunjuk terkait keberadaan orangutan yang sebelumnya dilaporkan warga. BKSDA masih menduga terdapat tiga individu di kawasan tersebut, terdiri atas satu jantan, satu induk dan satu anak.

    Sebelumnya, warga melaporkan kemunculan induk dan anak orangutan di kebun karet tersebut. Sementara dokumentasi yang diterima petugas juga menunjukkan dugaan keberadaan satu individu jantan dewasa.

    Muriansyah mengatakan, keberadaan tanaman nanas menjadi salah satu alasan yang membuat orangutan diduga berpotensi kembali ke lokasi.

    “Dugaan kuat, cepat atau lambat, orangutan akan datang lagi ke lokasi tersebut karena ada tanaman nanas,” ujarnya.

    Karena itu, petugas meminta pemilik lahan dan warga sekitar segera menghubungi BKSDA apabila orangutan kembali terlihat.

    Langkah tersebut penting untuk memastikan keberadaan satwa dapat dipantau sekaligus mengantisipasi terjadinya interaksi langsung antara orangutan dengan manusia.

    Hingga pemantauan terakhir, keberadaan ketiga individu orangutan tersebut masih belum diketahui. BKSDA masih membuka kemungkinan satwa kembali muncul di kebun warga, terutama karena terdapat sumber makanan yang menarik perhatian satwa. (***)

  • Terdesak Karhutla ke Jantung Kota: Tenggiling 4 Kg Ditemukan di Parit Depan Puskesmas Ketapang II Sampit

    Terdesak Karhutla ke Jantung Kota: Tenggiling 4 Kg Ditemukan di Parit Depan Puskesmas Ketapang II Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Dampak buruk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin nyata merangsek ke area perkotaan. Seekor trenggiling (Manis javanica) berbobot sekitar 4 kilogram ditemukan warga tersesat di saluran parit Jalan H. Imran, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Sampit, Minggu (4/10/2026) sore.

    Satwa langka yang dilindungi undang-undang tersebut ditemukan tepat di depan bangunan Puskesmas Ketapang II sekitar pukul 15.00 WIB. Diduga kuat, trenggiling ini terdesak keluar dari kawasan habitat aslinya di pinggiran perkotaan yang kini ludes terbakar dan terkepung kabut asap pekat.

    Sadar akan status perlindungan satwa tersebut, warga setempat tidak menangkapnya untuk dipelihara atau diperjualbelikan, melainkan langsung menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim.

    Kepala BKSDA Pos Sampit Muriansyah, menyampaikan bahwa penanganan evakuasi berjalan cepat berkat kolaborasi responsif warga, tim Damkar, dan komunitas relawan lingkungan.

    “Tenggiling awalnya diamankan oleh Danregu Damkar, Febri, lalu dibawa ke Mako Damkar. Selanjutnya, satwa diserahkan kepada Hari bersama aktivis lingkungan untuk diteruskan kepada petugas BKSDA Pos Sampit sekitar pukul 18.40 WIB,” terang Muriansyah dalam laporan resminya, Minggu (4/10/2026).

    Kondisi Sehat Tanpa Luka, Siap Dilepasliarkan di Kebun Raya Sampit

    Setelah menerima penyerahan satwa, petugas BKSDA Pos Sampit langsung melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Pemeriksaan medis awal menunjukkan kondisi mamalia bersisik tersebut dalam keadaan sehat dan mulus tanpa luka bakar maupun cidera fisik.

    Penyerahan trenggiling ini dilakukan usai tim BKSDA Pos Sampit menyelesaikan observasi lapangan terkait kemunculan orangutan di dua lokasi terpisah pada hari yang sama.

    Merespons temuan ini, BKSDA Pos Sampit berkoordinasi dengan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun untuk proses pelepasliaran (release).

    “Rencananya, trenggiling ini akan dilepasliarkan pada Senin (5/10/2026) pagi di kawasan Kebun Raya Sampit. Proses pelepasliaran dibantu oleh Hadi, aktivis lingkungan sekaligus pengelola Kebun Raya Sampit dan staf DLH Kotim,” tambah Muriansyah.

    Kesadaran warga Ketapang yang memilih melaporkan temuan satwa dilindungi kepada pihak berwenang mendapat apresiasi tinggi. Tindakan ini mencegah potensi perdagangan satwa ilegal maupun kematian satwa akibat terisolasi di pemukiman padat penduduk.

    Penemuan trenggiling di parit pusat kota Sampit menjadi alarm keras hancurnya ekosistem penyangga (buffer zone) di sekitar MB Ketapang. Ketika hutan dan semak belukar di pinggiran kota terbakar habis, satwa-satwa liar yang selamat tidak lagi memiliki ruang jelajah selain menerobos ke kawasan padat permukiman warga untuk mencari perlindungan.

    Keputusan melepasliarkan trenggiling ke Kebun Raya Sampit harus diimbangi dengan pengamanan ketat dari ancaman karhutla dan pemburu liar. Pemkab Kotim melalui DLH wajib menyiagakan personel dan jaringan sumur bor di kawasan Kebun Raya agar ruang konservasi ini tidak ikut terbakar.

    BKSDA Resort Sampit dan Damkarmat Kotim didesak memperluas sosialisasi call center darurat konflik satwa. Mengingat krisis karhutla masih berlangsung, potensi kemunculan satwa liar lain seperti ular, trenggiling, hingga primata di permukiman kota diperkirakan masih tinggi.