Kategori: Kotawaringin Timur

  • Menagih Wajah Baru Titik Nol Sampit: Proyek Terpadu Bundaran KB Wajib Masuk APBD Kalteng 2027

    Menagih Wajah Baru Titik Nol Sampit: Proyek Terpadu Bundaran KB Wajib Masuk APBD Kalteng 2027

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kawasan strategis Bundaran KB yang menjadi titik nol ruas jalan penghubung Sampit–Samuda di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK) kini resmi masuk radar prioritas pembangunan skala besar. Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah melancarkan desakan kuat agar proyek penataan kawasan terpadu di gerbang selatan Kota Sampit ini resmi diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kalteng Tahun Anggaran 2027.

    Langkah ini diambil seiring dengan pesatnya pertumbuhan pemukiman, sentra ekonomi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta kepadatan arus lalu lintas menuju wilayah pesisir Samuda dan Ujung Pandaran yang melintasi kawasan bersejarah tersebut.

    Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Abdul Hafid, menegaskan bahwa penataan Bundaran KB tidak boleh sekadar menyentuh polesan estetika Tugu KB semata, melainkan wajib mengeksekusi infrastruktur penunjang secara holistik guna menciptakan simpul lalu lintas yang tertib, modern, dan representatif.

    “Saya mengusulkan agar penataan kawasan Bundaran KB ini dapat masuk pada tahun anggaran 2027. Ruas jalannya merupakan kewenangan provinsi, sementara bundarannya kewenangan kabupaten. Dengan kolaborasi penataan dari provinsi, pemerintah kabupaten tentu terdorong menata tugu bundaran ini agar lebih ikonik dan menjadi salah satu titik wisata baru,” ujar Abdul Hafid usai meninjau lokasi, Sabtu (3/10/2026).

    Sinergi Lintas Kewenangan dan Rencana Pengoperasian Infrastruktur Terpadu

    Kawasan Bundaran KB memiliki irisan kewenangan yang unik. Badan jalan utama yang menghubungkan Sampit–Samuda berada di bawah wewenang Dinas PUPR Provinsi Kalteng, sedangkan fisik Tugu KB berada di bawah kewenangan Pemkab Kotim.

    Menanggapi usulan legislatif tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kalteng, Chandra Puji Asmara mewakili Kepala Dinas PUPR Kalteng Juni Gultom menyatakan kesiapannya untuk mematangkan konsep teknis penataan kawasan terpadu.

    PUPR Kalteng merancang penataan terpadu yang mencakup: Pertama, Pelebaran Badan Jalan: Mengantisipasi kemacetan dan lonjakan volume kendaraan menuju wilayah selatan.

    Selanjutnya, Drainase Modern dan Trotoar Ramah Pejalan Kaki: Mencegah genangan air saat hujan deras serta menyediakan ruang pedestrian yang aman.

    Kemudian, Ruang Terbuka Hijau (RTH): Menjadikan kawasan bersejarah simbol Keluarga Berencana (KB) tersebut lebih tertata dan asri.

    Dukungan penuh juga disampaikan oleh Camat Mentawa Baru Ketapang (MB Ketapang), Irpansyah. Pihak kecamatan menegaskan kesiapan jajarannya untuk memfasilitasi sosialisasi dan pendekatan komunikatif kepada para pedagang serta warga jika terdampak langsung rencana pelebaran lahan proyek tersebut.

    Rencana penataan Bundaran KB masuk APBD 2027 merupakan langkah progresif untuk mempercantik gerbang selatan Kota Sampit. Namun, belajar dari proyek infrastruktur publik terdahulu di Kotim, kolaborasi antar-pemerintah (cross-jurisdictional collaboration) sering kali terkendala ego sektoral dan koordinasi lapak warga.

     Pemprov Kalteng dan Pemkab Kotim didesak menyusun MoU resmi serta Detail Engineering Design (DED) yang transparan sejak 2026, guna memastikan proyek ini tidak sekadar menjadi wacana politik menjelang pembahasan anggaran.

    Sementara itu, Pemerintah Kecamatan MB Ketapang bersama Satpol PP wajib mengedepankan pendekatan komunikatif terhadap para pelaku UMKM dan pemilik lapak di sekitar Bundaran KB agar rencana pelebaran jalan dan trotoar tidak memicu konflik sosial baru di tengah kondisi ekonomi yang tertekan. (***)

  • Korban Jiwa Karhutla Seranau: Seekor Tenggiling Terpanggang Api di Desa Ganepo

    Korban Jiwa Karhutla Seranau: Seekor Tenggiling Terpanggang Api di Desa Ganepo

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kehancuran ekosistem akibat amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memakan korban satwa langka yang dilindungi. Seekor Tenggiling (Manis javanica) ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat terpanggang hidup-hidup setelah terjebak di dalam benteng api di kawasan lahan Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Jumat (2/10/2026).

    Penemuan memilukan ini terjadi saat kobaran api membakar habis semak belukar dan vegetasi gambut di Seranau wilayah yang saat ini tercatat sebagai penyumbang hotspot terbesar di Kotim.

    Mengetahui keberadaan satwa malang tersebut, tim relawan karhutla setempat, Manggala Agni  bersama Aktivis Peduli Lingkungan dan Pecinta Satwa Liar Harry Siswanto bergerak cepat melakukan evakuasi darurat dari tengah kepungan bara api.

    Salah seorang warga yang terlibat langsung dalam proses evakuasi, Wildan, menuturkan bahwa kondisi Tenggiling tersebut sangat kritis saat ditemukan dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.

    “Ketika ditemukan kondisinya sudah terbakar parah. Kemungkinan besar tidak sempat menyelamatkan diri saat api membesar dengan cepat. Sampai saat ini posisi Tenggiling masih berada di Ganepo, kondisinya sangat memprihatinkan dengan bau menyengat akibat luka bakar,” ungkap Wildan, Sabtu (3/10/2026).

    Tragedi memilu ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman karhutla tidak hanya berdampak pada polusi udara racun ISPU bagi manusia atau kehancuran fisik lahan, tetapi juga memicu kepunahan perlahan (silent extinction) bagi biodiversitas liar yang kehilangan ruang hidup. Satwa lambat seperti Tenggiling kerap kali tidak memiliki kesempatan melarikan diri saat melompatnya lidah api menjebak habitat mereka.

    Tragedi terpanggangnya Tenggiling dilindungi di Desa Ganepo menjadi tamparan keras bagi efektivitas mitigasi bencana ekologis di Kotim. Ketika penanganan karhutla hanya difokuskan pada pemadaman fisik lahan, keselamatan dan penyelamatan darurat satwa terabaikan, menyerahkan nasib satwa kritis sepenuhnya pada inisiatif swakarsa relawan tanpa dukungan peralatan medis yang memadai.

    BKSDA Resort Sampit bersama BKSDA Kalteng didesak untuk segera mengevakuasi tenggiling yang selamat ke pusat rehabilitasi. Sehingga tak ada tenggiling lainnya yang menjadi korban.

    Polres Kotim dan Gakkum KLHK dituntut tidak menutup mata. Pembakaran lahan di Seranau yang membumihanguskan habitat dan membinasakan satwa dilindungi merupakan tindak pidana kejahatan lingkungan berat yang harus diusut tuntas hingga ke dalang utamanya. (***)

  • Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    Terusir dari Hutan Gambut: Induk, Anak, dan Jantan Orangutan Merangsek ke Kebun Warga Baamang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Amukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumihanguskan ekosistem gambut di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memaksa satwa liar keluar dari habitat aslinya. Diduga akibat habitatnya terkurung api, satu keluarga orangutan (Pongo pygmaeus) yang terdiri dari induk, anak, dan satu individu jantan dewasa, terusir dan merangsek masuk ke kawasan kebun karet milik warga di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi kemunculan tiga individu orangutan tersebut di Jalan Ir. Soekarno (Lingkar Utara), Gang Mustika, berdasarkan laporan yang diterima pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Laporan awal disampaikan oleh Hadi Suryani, staf DPMD Kotim, berdasarkan kesaksian warga bernama Rey yang mendapati dua individu orangutan (induk dan anak) merusak tanaman di kebun karet miliknya.

    Petugas BKSDA Pos Sampit bersama tim pendamping dari Kumai langsung bergerak ke lokasi sekitar pukul 15.00 WIB untuk melakukan observasi. Di lokasi, tim bertemu dengan Rey dan keluarganya yang mengonfirmasi bahwa satwa tersebut semakin sering terlihat selama kemarau dan karhutla massif terjadi di sekitar area tersebut.

    “Warga mendokumentasikan individu orangutan pada Rabu lalu di dekat pondok. Namun dari foto tersebut, individu yang terlihat diduga kuat jantan dewasa. Dipadukan dengan laporan warga yang melihat induk dan anak, besar kemungkinan terdapat 3 individu yang terisolasi di lokasi tersebut,” jelas Muriansyah, Sabtu (3/10/2026).

    BKSDA Temukan Belasan Sarang di Zona Kepungan Api

    Petugas kemudian membagi personel menjadi dua regu untuk menyisir kebun karet seluas 4 hektare tersebut. Meski ketiga individu orangutan tidak berjumpa fisik saat penyisiran berlangsung, tim menemukan bukti otentik berupa belasan sarang orangutan di atas pohon, termasuk dua di antaranya merupakan sarang Kelas A (sarang segar).

    Penemuan belasan sarang tersebut, dipadukan dengan kondisi sekeliling kebun karet yang hangus bekas terbakar dan tebalnya kepulan asap aktif dari karhutla di ekosistem gambut sekitarnya, memperkuat dugaan bahwa habitat asli orangutan telah hancur. Aktivitas pembakaran dan asap pekat memaksa satwa merangsek ke kebun warga demi menyelamatkan diri.

    BKSDA Pos Sampit mengimbau keras warga untuk tidak melukai atau mengusir satwa secara anarkis, serta segera melapor ke petugas jika orangutan kembali muncul agar proses evakuasi darurat (rescue/translocation) dapat segera dieksekusi.

    Terusirnya satu keluarga orangutan ke Baamang Hulu menjadi pukulan telak atas kepunahan biodiversitas akibat ambisi land clearing ilegal dan karhutla. Ketika hutan gambut di zona penyangga Jalan Ir. Soekarno terbakar habis, orangutan terperangkap di pulau-pulau vegetasi tersisa di tengah kepungan asap dan api, memicu risiko kematian akibat ISPA parah atau konflik fatal dengan manusia.

     BKSDA Kalteng bersama tim medis konservasi diharapkan harus segera menggelar operasi evakuasi darurat untuk translokasi tiga individu orangutan ini ke zona konservasi aman sebelum satwa tewas atau konflik pecah.

    Sementara itu, Pemkab Kotim dan penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut terbakar di sepanjang Lingkar Utara guna mencegah adanya oknum spekulan yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah alih fungsi lahan ilegal. (***)

  • Perang Panjang Setelah Api Padam: Sinergi Pasukan Gabungan Basahi Ekosistem Gambut Kritis Kotim

    Perang Panjang Setelah Api Padam: Sinergi Pasukan Gabungan Basahi Ekosistem Gambut Kritis Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan tidak akan berakhir saat kobaran api di permukaan berhasil dipadamkan. Realitas geologis lahan gambut dalam yang menyimpan bara api (smoldering fire) menuntut perang panjang berupa pendinginan intensif dan restorasi hidrologis agar kawasan terdegradasi tidak kembali meledak menjadi titik api baru (fire risk).

    Merespons ancaman tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotim menginisiasi langkah taktis berupa pemulihan hidrologis awal ekosistem gambut pascaterbakar sejak 26 September hingga 30 September 2026 di sejumlah kawasan terdampak parah.

    Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kotim Titik Setiyowati menegaskan bahwa memadamkan api hanyalah tahap awal dari siklus pencegahan bencana permanen.

    “Karhutla tidak selesai ketika api padam. Setelah itu, kita harus memastikan lahan benar-benar aman, kelembapannya terjaga, dan fungsi hidrologis gambut dapat dipulihkan. Ini membutuhkan kerja bersama, komitmen sinergis, dan pemantauan berkelanjutan,” ujar Dr. Titik Setiyowati, Jumat (2/10/2026).

    Aksi “Perang Panjang Setelah Api Padam” ini difokuskan di tiga zona kritis: Baamang Hulu, Baamang Barat, dan Pasir Putih. Di lokasi-lokasi tersebut, sinergi pasukan gabungan menggelontorkan pasokan air mulai dari 5.000 liter hingga lebih dari 22.000 liter menggunakan armada mobil tangki, mesin pompa alkon, serta jaringan selang pemadaman guna membasahi permukaan dan lapisan bawah tanah (underground fire).

    Operasi pemulihan ini melibatkan kekuatan 30 personel gabungan yang terdiri dari: 10 personel DLH Kotim. 10 personel Yonif TP 923/Mentaya yang dipimpin oleh Letda Inf Jonni H Manalu 10 personel Masyarakat Peduli Api (MPA)

    Tidak sekadar menyiram permukaan, DLH Kotim bersama TNI dan MPA juga mengambil langkah taktis jangka panjang dengan membangun 14 titik sumur bor baru di zona ekosistem gambut terdampak. Pembangunan sumur bor ini dirancang untuk membasahi kembali (rewetting) dan merawat kelembapan tanah gambut agar tidak mengering secara ekstrem di musim kemarau.

    “Gambut adalah ekosistem yang harus kita jaga bersama. Ketika kita menjaga air dan kelembapannya, kita juga sedang menjaga lingkungan dan masa depan masyarakat,” tambah Titik Setiyowati.

     

    Langkah DLH Kotim membasahi kembali gambut pascaterbakar merupakan pendekatan sains lingkungan yang tepat untuk memutus siklus tahunan karhutla. Fenomena kebakaran membara di bawah tanah gambut sering kali menjadi jebakan yang memicu kebakaran ulang saat diterpa tiupan angin kencang dan suhu tinggi, meski asap di permukaan tidak terlihat.

    Pemkab Kotim dan DLH didesak untuk memastikannya tidak sekadar menjadi proyek fisik seremonial. Sinergi TNI dan DLH harus memastikan sumur bor yang telah dibangun wajib dipelihara secara rutin dan dipastikan fungsinya tetap optimal saat puncak kemarau, bukan dibiarkan terbengkalai atau rusak saat difungsikan.

    Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum wajib mengunci status lahan gambut pascaterbakar di Baamang dan Pasir Putih guna mencegah adanya oknum spekulan atau pengusaha ilegal yang sengaja membiarkan lahan terbakar untuk mempermudah pembersihan lahan (land clearing). (***)

  • Kabut Asap Serang Sampit, Jarak Pandang Anjlok hingga 100 Meter

    Kabut Asap Serang Sampit, Jarak Pandang Anjlok hingga 100 Meter

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (2/10/2026) dini hari hingga pagi. Hampir seluruh kawasan kota terdampak, dengan jarak pandang sempat anjlok hingga hanya 100 meter.

    Kondisi tersebut terpantau dari pengamatan BMKG Kotim di Stasiun Meteorologi H Asan Sampit. Pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang tercatat hanya 100 meter dengan kondisi cuaca berupa kabut asap.

    Saat itu suhu udara berada di 23,3 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 96 persen. Angin dalam kondisi tenang atau calm, dengan kecepatan 0 kilometer per jam.

    Kondisi tersebut membuat kabut asap tampak pekat di sejumlah kawasan Sampit. Warga yang beraktivitas sejak pagi harus berhadapan dengan jarak pandang yang sangat terbatas.

    Sampit Ikut Dikepung Asap

    Warga Sampit, Didi Mursidi, mengatakan kondisi kabut asap kali ini terasa cukup parah karena tidak hanya terjadi di kawasan luar kota.

    “Kabut asap pagi ini makin merajalela, jarak pandang beberapa meter saja. Jarang-jarang dalam kota Sampit sampai parah begini, biasanya yang parah di luar kota yang masih banyak lahan kosongnya,” kata Didi.

    Pengamatan BMKG menunjukkan kondisi mulai membaik setelah matahari meninggi. Namun, kabut asap masih bertahan.

    Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 300 meter. Suhu naik menjadi 26,4 derajat Celsius dengan kelembapan 88 persen.

    Angin mulai bergerak dari arah timur dengan kecepatan 4 kilometer per jam.

    Satu jam kemudian, pukul 09.00 WIB, jarak pandang kembali meningkat menjadi 800 meter. Meski demikian, BMKG masih mencatat kondisi cuaca berupa kabut asap.

    Suhu saat itu mencapai 29,8 derajat Celsius dengan kelembapan 70 persen. Angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 7 kilometer per jam.

    Dini Hari Jadi Titik Terparah

    Perubahan jarak pandang tersebut menunjukkan kondisi paling buruk terjadi pada pagi buta. Dari 100 meter pukul 07.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 300 meter pada pukul 08.00 WIB dan 800 meter pada pukul 09.00 WIB.

    Namun, kabut asap yang masih tercatat hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan kualitas udara dan kondisi atmosfer di Sampit belum sepenuhnya terbebas dari paparan asap.

    Kondisi angin yang sempat tenang pada pagi hari juga membuat asap lebih mudah bertahan di sekitar permukaan. Terlebih, kelembapan udara saat itu mencapai 96 persen.

    Kabut asap kembali menjadi ancaman bagi aktivitas warga Sampit. Selain mengganggu jarak pandang pengguna jalan, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak selalu berhenti di lokasi lahan yang terbakar.

    Asap dapat terbawa hingga kawasan permukiman dan pusat kota, tergantung kondisi angin serta atmosfer. (***)

  • Jeratan Inflasi Sampit: Harga Pangan dan Bensin Mengamuk, Daya Beli Warga Terbakar

    Jeratan Inflasi Sampit: Harga Pangan dan Bensin Mengamuk, Daya Beli Warga Terbakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Tekanan ekonomi yang menimpa masyarakat Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kini berada dalam taraf yang sangat memprihatinkan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim melaporkan laju inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada September 2026 melonjak hingga 4,21 persen.

    Kenaikan tak terkendali pada kelompok bahan makanan harian dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi biang kerok utama yang menggerus daya beli masyarakat di tengah kepungan krisis bencana ekologis.

    Data tersebut tertuang secara resmi dalam Berita Resmi Statistik (BRS) No. 10/10/6202/Th. XX yang dirilis BPS Kotim pada Kamis (1/10/2026). Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Sampit melompat signifikan dari angka 108,00 pada September 2025 menjadi 112,55 pada September 2026.

    “Secara bulanan (month-to-month), Sampit mengalami inflasi sebesar 0,62 persen, sementara laju inflasi tahun kalender (year-to-date) telah menyentuh angka 3,57 persen,” katanya, Kamis (1/10/2026).

    Membumbungnya inflasi ini dipicu oleh lonjakan harga pada berbagai sektor pengeluaran rumah tangga. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pemicu utama jeratan inflasi dengan mencatatkan kenaikan harga tahunan sebesar 6,23 persen dan memberikan andil dominan sebesar 2,28 persen terhadap total inflasi daerah.

    Sektor transportasi turut menguras dompet warga dengan inflasi 6,03 persen dan memberikan andil 0,54 persen. Sementara itu, persentase kenaikan paling drastis dicatat oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meroket hingga 8,72 persen.

    Tekanan harga juga merembet ke sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 1,95 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga yang naik 2,86 persen, serta sektor usaha kuliner dan restoran yang meningkat 2,42 persen.

    Di tingkat pasar tradisional, BPS Kotim mencatat bahwa emas perhiasan memberikan andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 0,46 persen, diikuti oleh komoditas ikan nila sebesar 0,43 persen dan bensin sebesar 0,40 persen.

    Komoditas bahan pokok lainnya seperti minyak goreng turut memberi sumbangan inflasi sebesar 0,22 persen, sedangkan cabai rawit, beras, dan bahan bakar rumah tangga masing-masing menyumbangkan andil sebesar 0,16 persen.

    Khusus untuk dinamika inflasi bulanan pada September 2026, cabai rawit menjadi komoditas yang paling melambung dengan andil 0,10 persen, disusul oleh ikan nila sebesar 0,09 persen, ketimun sebesar 0,08 persen, serta rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,05 persen. Meski demikian, laju inflasi sempat tertahan oleh beberapa komoditas yang mengalami deflasi, seperti daging ayam ras dengan andil -0,15 persen, biaya pendidikan SMP dan telur ayam ras masing-masing sebesar -0,10 persen, serta tarif angkutan udara sebesar -0,08 persen.

    Data historis menunjukkan tren kenaikan inflasi tahunan pada bulan September di Sampit dalam tiga tahun terakhir. Pada September 2024, inflasi tahunan tercatat berada pada level 1,46 persen dengan inflasi bulanan 0,11 persen. Angka tersebut merangkak naik pada September 2025 menjadi 2,76 persen secara tahunan dan 0,47 persen secara bulanan, hingga akhirnya menembus puncaknya pada September 2026 di angka 4,21 persen secara tahunan dan 0,62 persen secara bulanan.

     Meledaknya inflasi Sampit hingga 4,21 persen menjadi bukti sah rapuhnya ketahanan pangan dan distribusi logistik di Kotim saat bencana karhutla melanda. Ketika jalur transportasi terganggu oleh kabut asap pekat dan harga BBM eceran melambung di pasaran, beban biaya distribusi langsung dialihkan kepada rakyat kecil melalui lonjakan harga bahan pokok seperti cabai, beras, hingga ikan budidaya.

    Pemerintah Kabupaten Kotim bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tidak boleh bersikap pasif. Intervensi pasar harus difokuskan pada pemangkasan rantai tengkulak dan spekulan yang memanfaatkan situasi krisis bencana karhutla untuk mendongkrak harga pangan dan bahan bakar demi keuntungan sepihak.

    Dinas Sosial bersama Dinas Perdagangan didesak untuk segera menyalurkan bantuan subsidi pangan terfokus bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang menjadi kelompok paling rentan dan paling terdampak oleh tingginya inflasi bahan pokok ini.(***)

  • Penyangga Kota Sampit Meredup: Seranau Sumbang Separuh Hotspot Kotim

    Penyangga Kota Sampit Meredup: Seranau Sumbang Separuh Hotspot Kotim

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebanyak 176 titik panas (hotspot) masih terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (1/10/2026) pukul 16.00 WIB. Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, menyumbang 88 titik atau tepat separuh dari seluruh hotspot yang terpantau.

    Data pemantauan BMKG dan BPBD Kotim menunjukkan hotspot di Seranau tersebar di Kelurahan Mentaya Seberang sebanyak 60 titik dan Desa Ganepo 28 titik.

    Titik panas tersebut terdeteksi dengan tingkat kepercayaan 30–79 persen melalui pantauan satelit SNPP dan NOAA20.

    Seranau berada tepat di seberang Kota Sampit dan dipisahkan oleh Sungai Mentaya. Tingginya konsentrasi hotspot di wilayah ini membuat perkembangan kebakaran lahan tetap perlu dipantau, terutama terkait potensi asap yang dapat bergerak mengikuti kondisi angin.

    Hotspot Mulai Berkurang

    Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo mengatakan, jumlah hotspot sebenarnya mulai menunjukkan penurunan dibandingkan hari sebelumnya.

    Pada 29 September, BMKG mendeteksi sekitar 306 hotspot di Kotim. Konsentrasinya saat itu masih dominan berada di wilayah selatan.

    “Untuk hotspot hari ini, terdeteksi sekitar 306 titik. Jumlah itu mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya, tetapi titik panas masih dominan berada di wilayah selatan,” kata Mulyono.

    Sehari kemudian, kondisi kemudahan terbakar diperkirakan mulai menurun. Namun, penurunan tersebut tidak berlangsung lama karena potensi kemudahan terbakar diprediksi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober.

    “Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Pada 30 September dan 1 Oktober diperkirakan berkurang, tetapi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober,” paparnya.

    Hujan Belum Banyak Membantu

    Persoalan lainnya adalah minimnya peluang pembentukan awan hujan. BMKG memperkirakan peluang pertumbuhan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil hingga 5 Oktober.

    “Berdasarkan potensi pertumbuhan awan kumulus pada 29 September hingga 5 Oktober, peluang pembentukan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil,” ujar Mulyono.

    Potensi pertumbuhan awan yang lebih besar justru berada di Kalimantan Barat dan wilayah utara Kalimantan.

    Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran lahan di Kotim masih membutuhkan kewaspadaan. Apalagi hotspot masih tersebar di sejumlah kecamatan.

    Selain Seranau, Mentaya Hilir Utara mencatat 28 titik, dengan konsentrasi terbesar di Desa Bagendang Tengah sebanyak 21 titik. Kota Besi menyusul dengan 23 titik, termasuk 14 titik di Desa Simpur.

    Pulau Hanaut mencatat 10 titik. Hotspot lainnya tersebar di Baamang empat titik, Mentawa Baru Ketapang empat titik, Teluk Sampit empat titik, Bukit Santuai tiga titik, Cempaga Hulu tiga titik, Mentaya Hilir Selatan tiga titik, Mentaya Hulu tiga titik, Cempaga dua titik, dan Antang Kalang satu titik.

    Dengan kondisi cuaca yang masih kering dan peluang hujan signifikan yang rendah, pemantauan terhadap titik panas dan potensi kebakaran masih menjadi pekerjaan penting di sejumlah wilayah Kotim. (***)

  • Karhutla di Selatan Berpotensi Bawa Kabut Asap ke Sampit, Angin Melandai Bikin Asap Terperangkap

    Karhutla di Selatan Berpotensi Bawa Kabut Asap ke Sampit, Angin Melandai Bikin Asap Terperangkap

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berpotensi membawa kabut asap hingga ke Kota Sampit.

    Kondisi tersebut diperburuk pola angin yang beberapa hari terakhir cenderung melandai sehingga menimbulkan asap tebal yang telah masuk ke kawasan perkotaan berpotensi terperangkap dan tidak bergerak menjauh.

    Kepala BMKG Kotim Mulyono Leonardo mengatakan, pola angin saat ini didominasi dari arah timur, tenggara, dan selatan yang bergerak menuju barat hingga utara.

    ”Secara umum, arah angin saat ini dominan berasal dari timur, tenggara, dan selatan, kemudian bergerak menuju barat hingga utara,” kata Mulyono saat diwawancara seusai rapat teknis penanganan karhutla di BPBD Kotim, Rabu (30/9/2026).

    Menurutnya, pola angin yang terjadi memungkinkan asap dari kejadian karhutla di wilayah selatan terbawa menuju Kota Sampit. Namun, Mulyono tidak menyebut seluruh kabut asap yang berada di Sampit dipastikan berasal dari selatan.

    ”Apabila terdapat titik panas yang menghasilkan asap di wilayah selatan Kota Sampit, asap tersebut berpotensi terbawa ke Kota Sampit. Hal itu dipengaruhi arah angin yang dominan berasal dari timur, tenggara, dan selatan,” jelasnya.

    Persoalan berikutnya muncul ketika asap telah mencapai kawasan perkotaan. Dalam beberapa hari terakhir, kecepatan angin justru cenderung melemah sehingga pergerakan asap menjadi terbatas.

    ”Salah satu indikasinya adalah asap kiriman. Selain itu, angin saat ini cenderung melemah, sehingga asap seolah terperangkap di wilayah kota,” ungkap Mulyono.

    Kondisi tersebut membuat kabut asap yang sudah masuk ke Sampit tidak mudah terdorong keluar.

    ”Beberapa hari terakhir, angin cenderung melandai. Kondisi itu menyebabkan tidak ada pergerakan signifikan yang membawa asap menjauh dari Kota Sampit,” ujarnya.

    Malam Hari Asap Berpotensi Terbawa, Siang Hari Tertahan

    Pola angin di Sampit juga berubah menurut waktu. Mulyono menjelaskan, angin pada malam hari dapat bertiup lebih kencang sehingga berpotensi membawa asap dari wilayah selatan menuju kota.

    Sebaliknya, pada pagi hingga siang hari, angin cenderung kembali tenang.

    ”Asap yang berasal dari wilayah selatan dapat terbawa angin yang cukup kencang pada malam hari,” katanya.

    ”Namun, pada pagi hingga siang hari, angin cenderung lebih tenang atau melandai. Akibatnya, asap yang sudah masuk ke wilayah kota menjadi tertahan atau terkurung di Kota Sampit,” lanjutnya.

    Secara rata-rata, angin dengan kecepatan lebih dari 15 km per jam memiliki kemampuan lebih besar membawa asap dari wilayah selatan menuju Sampit.

    Sedangkan angin yang hanya bergerak 0–5 km per jam tidak cukup signifikan untuk mengangkut asap menjauh.

    ”Berdasarkan rata-rata, angin dengan kecepatan di atas 15 km per jam berpotensi membawa asap dari wilayah selatan,” terang Mulyono.

    ”Sementara kondisi angin yang sedang melandai berkisar antara 0 hingga 5 atau 6 km per jam. Kecepatan tersebut tidak cukup signifikan untuk membawa asap menjauh,” tambahnya.

    Posisi Matahari Turut Memengaruhi Pola Angin

    Mulyono menjelaskan, kondisi angin yang melandai saat ini berkaitan dengan posisi semu Matahari yang berada di sekitar ekuator.

    ”Saat ini posisi semu Matahari berada di sekitar ekuator, sehingga angin cenderung lebih landai,” jelasnya.

    Sebelumnya, angin cenderung lebih kencang ketika posisi semu Matahari masih berada di utara ekuator. Memasuki September hingga November, posisi semu Matahari bergerak menuju selatan ekuator dan perubahan tersebut turut memengaruhi pola angin.

    ”Sebelumnya angin lebih kencang ketika posisi semu Matahari masih berada di utara ekuator. Dalam periode September hingga November, posisi semu Matahari bergerak menuju selatan ekuator. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola angin yang lebih melandai,” katanya.

    El Niño Sangat Kuat hingga Awal 2027

    Kecepatan angin dan arah pergerakan angin yang terjadi di Kotim juga dipengaruhi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

    Dalam rapat evaluasi penanganan karhutla, Selasa (29/9/2026), Mulyono memaparkan bahwa El Niño masih berada dalam kategori sangat kuat. BMKG memperkirakan fenomena tersebut bertahan hingga awal 2027.

    ”Berdasarkan analisis anomali suhu muka laut dasarian, nilainya masih sekitar 2,726. Kondisi itu mengindikasikan El Niño masih berada pada kategori sangat kuat. BMKG memprediksi El Niño akan bertahan hingga awal tahun 2027,” paparnya.

    IOD juga diperkirakan masih berada pada fase positif hingga awal 2027.

    ”Kemudian, berdasarkan indeks Indian Ocean Dipole atau IOD, BMKG memprediksi IOD masih berada pada fase positif hingga awal tahun 2027,” ujarnya.

    Kombinasi kedua fenomena tersebut berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah dan Kotim.

    ”Kombinasi El Niño dan IOD positif akan berdampak signifikan terhadap berkurangnya curah hujan di Indonesia, terutama Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur,” tegas Mulyono.

    20 Hari Hampir Tanpa Hujan

    Gambaran kondisi kering terlihat dari analisis curah hujan 20 hari terakhir. BMKG mencatat curah hujan di Kotim berada pada kategori sangat rendah, hanya sekitar 0–20 milimeter.

    ”Berdasarkan analisis curah hujan 20 hari terakhir, curah hujan di Kabupaten Kotawaringin Timur berada dalam kategori sangat rendah, sekitar 0 sampai 20 milimeter,” ungkapnya.

    Hujan memang terpantau di sejumlah titik bagian tengah Kotim, tetapi BMKG mencatat sebagian besar hujan tersebut merupakan hasil operasi modifikasi cuaca.

    ”Ada beberapa titik hujan di bagian tengah Kotawaringin Timur, tetapi sebagian besar merupakan hasil operasi modifikasi cuaca,” katanya.

    Sementara hasil pemantauan hari tanpa hujan menunjukkan sejumlah kawasan utara dan selatan Kotim telah mengalami periode kering lebih dari 60 hari.

    ”Pada pemantauan anomali hari tanpa hujan, wilayah yang mendapat hujan terlihat berada di bagian tengah. Sementara sejumlah titik di utara dan selatan berwarna merah muda hingga merah, yang menunjukkan tidak menerima hujan selama lebih dari 60 hari,” jelas Mulyono.

    306 Hotspot, Risiko Kebakaran Kembali Naik

    Di tengah kondisi kering tersebut, titik panas masih tersebar di Kotim. BMKG mendeteksi sekitar 306 hotspot pada 29 September, dengan konsentrasi masih dominan di wilayah selatan.

    ”Untuk hotspot hari ini, terdeteksi sekitar 306 titik. Jumlah itu mulai berkurang dibandingkan hari sebelumnya, tetapi titik panas masih dominan berada di wilayah selatan,” kata Mulyono.

    Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Kondisi itu diperkirakan menurun pada 30 September dan 1 Oktober, sebelum kembali meningkat pada 2–5 Oktober.

    ”Potensi kemudahan terbakar pada 29 September masih cukup tinggi. Pada 30 September dan 1 Oktober diperkirakan berkurang, tetapi kembali meningkat pada 2 hingga 5 Oktober,” paparnya.

    Peluang pembentukan awan hujan di Kalimantan Tengah juga masih kecil hingga 5 Oktober.

    ”Berdasarkan potensi pertumbuhan awan kumulus pada 29 September hingga 5 Oktober, peluang pembentukan awan hujan signifikan di Kalimantan Tengah masih sangat kecil,” ujarnya.

    Potensi pertumbuhan awan yang lebih besar justru berada di Kalimantan Barat dan wilayah utara Kalimantan.

    Peluang Awan 50–70 Persen Jadi Dasar OMC

    Meski peluang hujan secara umum rendah, terdapat jendela waktu yang masih memungkinkan terbentuknya awan. Pada 29 September hingga 1 Oktober, peluang pertumbuhan awan diperkirakan mencapai 50–70 persen.

    ”Pada 29 September, 30 September, dan 1 Oktober, terdapat potensi pertumbuhan awan dengan peluang sekitar 50 hingga 70 persen,” jelas Mulyono.

    Potensi tersebut menjadi salah satu dasar tim operasi modifikasi cuaca melakukan penyemaian awan.

    Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim operasi modifikasi cuaca untuk melakukan penyemaian awan,” katanya.

    Namun, peluang tersebut diperkirakan kembali menurun mulai 1 hingga 5 Oktober.

    ”Mulai 1 hingga 5 Oktober, potensi pertumbuhan awan diperkirakan kembali berkurang. Karena itu, risiko kebakaran berpotensi meningkat lagi,” tegasnya.

    Untuk 30 September dan 1 Oktober, BMKG masih memperkirakan peluang curah hujan lebih dari 0,5 hingga 20 milimeter. Setelah itu, peluang hujan kembali rendah.

    Musim Hujan Bergerak dari Utara ke Selatan

    Proyeksi BMKG menunjukkan musim hujan di Kotim tidak datang serentak. Wilayah utara diperkirakan lebih dahulu mengalami transisi, kemudian bergerak menuju wilayah tengah dan Sampit, sebelum mencapai kawasan selatan.

    Pada Oktober, curah hujan wilayah selatan diperkirakan masih rendah, sekitar 50–100 milimeter. Wilayah tengah diperkirakan menerima 100–150 milimeter, sedangkan wilayah utara berada pada kisaran 150–200 milimeter.

    ”Musim hujan diperkirakan datang dari wilayah utara menuju selatan, dengan wilayah selatan dan kawasan Teluk Sampit menjadi salah satu daerah yang terakhir memasuki musim hujan,” ujar Mulyono.

    Memasuki November, sebagian besar Kotim diperkirakan mulai mengalami awal musim hujan dengan curah hujan kategori menengah sekitar 150–200 milimeter per bulan. Namun, sifat hujannya masih dipengaruhi El Niño dan IOD positif.

    ”Namun, sifat hujannya diperkirakan masih di bawah normal karena pengaruh El Niño dan IOD positif,” katanya.

    Ketika ditanya mengenai waktu datangnya hujan pada November, Mulyono menjelaskan bahwa angka curah hujan tersebut merupakan akumulasi satu bulan.

    ”Ini merupakan akumulasi satu bulan,” jawabnya.

    Menurut Mulyono, peluang hujan pada awal November tetap ada, meskipun intensitasnya diperkirakan belum seperti kondisi normal.

    ”Ada kemungkinan besar terjadi hujan pada awal bulan, Bapak. Namun, curah hujan diperkirakan tetap berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena El Niño dan IOD positif masih memengaruhi kondisi atmosfer,” jelasnya.

    Awal Musim Hujan Berbeda Tiap Wilayah

    BMKG memperkirakan wilayah utara Kotim mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober. Wilayah tersebut masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 8.

    ”Wilayah utara yang masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 8 diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober,” terang Mulyono.

    Selanjutnya, Zona Musim Kalimantan Tengah 9 diperkirakan memasuki awal musim hujan pada dasarian III Oktober atau sekitar akhir Oktober.

    ”Pada periode itu diperkirakan sudah mulai terjadi masa transisi dengan hujan awal,” katanya.

    Sampit dan sejumlah wilayah di sekitarnya, termasuk Baamang, Ketapang, Seranau, Mentawa Baru Hilir dan Mentawa Baru Hulu, diperkirakan memasuki awal musim hujan pada dasarian I November.

    Sementara kawasan selatan menjadi wilayah yang paling akhir. Sebagian wilayah yang masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 13 diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada November.

    ”Wilayah yang paling akhir memasuki awal musim hujan adalah sebagian kawasan selatan, yang masuk Zona Musim Kalimantan Tengah 13. Daerah ini diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada November. Karena itu, wilayah selatan masih menjadi kawasan yang perlu diwaspadai,” tegasnya.

    Hujan Belum Otomatis Menandai Musim Hujan

    Mulyono menegaskan, munculnya hujan sesekali belum dapat langsung dijadikan patokan bahwa suatu wilayah telah memasuki musim hujan.

    BMKG menetapkan awal musim hujan berdasarkan akumulasi curah hujan yang mencapai ambang tertentu secara berurutan.

    ”Penentuan awal musim hujan dilakukan dengan melihat akumulasi curah hujan. Apabila curah hujan mencapai lebih dari 50 milimeter per dasarian dan berlangsung secara berurutan, wilayah tersebut dapat dinyatakan memasuki musim hujan,” jelasnya.

    Dasarian merupakan periode 10 harian dalam satu bulan, yakni dasarian I tanggal 1–10, dasarian II tanggal 11–20, dan dasarian III tanggal 21 hingga akhir bulan.

    Dengan parameter tersebut, masa transisi di Kotim diperkirakan berlangsung secara bertahap dari utara menuju selatan.

    Puncak Musim Hujan Januari 2027

    BMKG memperkirakan puncak musim hujan Kotim terjadi pada Januari 2027. Sifat hujan diproyeksikan normal di wilayah tengah, sementara bagian utara dan selatan berpotensi berada pada kategori di atas normal.

    ”Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2027. Sifat hujan diperkirakan normal di wilayah tengah, sedangkan bagian utara dan selatan dapat berada pada kategori di atas normal,” kata Mulyono.

    Namun, musim hujan tahun ini diperkirakan berlangsung lebih singkat sekitar tiga dasarian atau 30 hari dibandingkan kondisi normal.

    ”Durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih pendek sekitar tiga dasarian atau 30 hari. Artinya, musim hujan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal,” ungkapnya.

    Kondisi tersebut membuat Oktober masih menjadi periode penting dalam penanganan karhutla, khususnya di kawasan yang belum memperoleh hujan memadai. Wilayah selatan menjadi perhatian karena diperkirakan paling akhir memasuki musim hujan, sementara titik panas masih dominan berada di kawasan tersebut.

    Pada saat yang sama, arah angin dari selatan menuju utara membuka potensi asap dari kejadian karhutla terbawa ke Sampit.

    Ketika kecepatan angin kemudian melemah, asap yang telah mencapai kawasan kota berpotensi bertahan lebih lama karena tidak terdorong keluar secara signifikan.

    Mulyono menegaskan, kondisi cuaca tersebut perlu menjadi bagian dari perhitungan penanganan karhutla Kotim hingga memasuki periode musim hujan.

    ”BMKG memperkirakan El Niño dan IOD positif masih bertahan hingga awal 2027,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Mesin Alkon dan Selang Langka, BPBD Kotim Berburu Peralatan hingga Luar Daerah

    Mesin Alkon dan Selang Langka, BPBD Kotim Berburu Peralatan hingga Luar Daerah

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kebutuhan mesin alkon dan selang untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih belum terpenuhi.

    BPBD Kotim bahkan harus memburu peralatan hingga Banjarmasin, Palangka Raya, Surabaya dan Jakarta karena stok di pasaran cepat habis diborong daerah lain yang juga sedang menghadapi karhutla.

    ”Kami sudah berkoordinasi dengan beberapa rekanan. Sebelumnya kami sempat mendapatkan barang. Namun, untuk pengadaan berikutnya, barang cukup sulit diperoleh karena karhutla tidak hanya terjadi di Kotim. Semua kabupaten dan kota yang menghadapi karhutla juga sedang memesan perlengkapan yang sama,” kata Imam Subekti, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Selasa (29/9/2026).

    BPBD berharap dalam satu atau dua hari berikutnya kembali mendapatkan tambahan perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan pemadaman di lapangan.

    ”Kami memiliki anggaran, tetapi barangnya tidak tersedia. Mudah-mudahan dalam satu atau dua hari ke depan kami bisa mendapatkan tambahan barang, termasuk selang, alkon, nozzle, dan perlengkapan lainnya,” ujarnya.

    Dalam rapat lanjutan pembahasan teknis penanganan karhutla di BPBD Kotim, Imam melaporkan update terkait jumlah ketersediaan peralatan pemadam.

    ”Ada tambahan kedatangan 20 unit alkon dan tambahan 7 profil tank sehingga total yg tersedia 28 profil tank. Selang masih menunggu kedatangan. Peralatan pemadaman yang ada diharapkan dapat memaksimalkan upaya pemadaman hingga proses pendinginan,” ujar Imam Subekti, Rabu (30/9/2026).

    Upaya mendapatkan peralatan dilakukan melalui berbagai jalur. BPBD tidak hanya mendatangi toko, tetapi juga mencari melalui penjual daring.

    Namun, cara tersebut belum menjamin barang bisa diperoleh karena kebutuhan terhadap peralatan karhutla terjadi hampir bersamaan di berbagai daerah.

    ”Penjual daring juga tidak semuanya mampu menyediakan barang karena banyak daerah lain yang juga memerlukan peralatan tersebut,” jelas Imam.

    Ia mencontohkan pencarian selang yang dilakukan seorang rekannya ke Palangka Raya. Saat hendak berangkat, informasi yang diterima menyebutkan masih tersedia sekitar 50 unit.

    Namun, ketika tiba di Palangka Raya, stok tersebut sudah dibeli pihak lain.

    ”Saat akan berangkat, stoknya masih ada sekitar 50 unit. Namun, ketika tiba di sana, berkurang 43 karena barangnya sudah dibeli pihak lain,” ungkapnya.

    Upaya pencarian alat pemadaman khsusunya mesin alkon dan selang sudah diupayakan sejak status tanggap darurat diaktifkan.

    ”Pencarian sudah dilakukan ke berbagai daerah. Namun, daerah lain juga mencari barang yang sama. Jadi, siapa yang lebih dulu mendapatkan barang dan memperoleh kepastian ketersediaan, itu yang bisa melakukan pembelian,” katanya.

    Pengadaan Tak Bisa Asal Beli

    Dalam kondisi tanggap darurat, kepastian waktu pengiriman menjadi pertimbangan utama BPBD. Imam mengatakan pihaknya tidak berani membeli barang apabila dealer atau rekanan tidak dapat memastikan kapan peralatan tersebut tiba.

    ”Karena ini dalam masa tanggap darurat, kami tidak berani membeli jika tidak ada kepastian waktu pengiriman. Pengadaan harus bisa dipastikan tiba dalam masa tanggap darurat,” tegasnya.

    Imam mencontohkan pengadaan trailer yang diserahkan Bupati Kotim kepada BPBD pada Sabtu (26/9/2026) lalu.

    ”Contohnya pengadaan trailer yang diserahkan Bupati kepada BPBD pada Sabtu. Kami memesan pada Rabu dan barang tiba pada Sabtu, sehingga waktunya sekitar empat hari,” jelasnya.

    Menurut Imam, apabila dealer hanya menyatakan barang tersedia tetapi tidak mampu memberikan kepastian waktu pengiriman, BPBD tidak dapat mengambil risiko melakukan pembelian.

    ”Kalau dealer menyatakan ada barang tetapi tidak bisa menjamin waktu penyediaannya, kami tidak bisa mengambilnya. Masa tanggap darurat terbatas. Setelah lewat masa itu, pengadaan tidak bisa lagi dilakukan dengan mekanisme tersebut,” katanya.

    Stok Alkon Tinggal Satu

    Kelangkaan peralatan juga tercermin dari stok alkon yang tersisa di BPBD. Dari empat unit yang tersedia, tiga di antaranya langsung disalurkan untuk kebutuhan pemadaman.

    ”Kebutuhan dari pemerintah kecamatan dan relawan masih cukup banyak. Kami belum bisa mengakomodasi seluruh kebutuhan tersebut,” ujar Imam ketika ditanya apakah bantuan peralatan yang tersedia sudah mencukupi kebutuhan.

    Karena stok terbatas, BPBD harus selektif menentukan lokasi penerima.

    ”Kami harus selektif dalam menyalurkan peralatan yang tersedia. Hari ini, stok alkon tersisa empat unit. Dua unit diberikan kepada Seranau dan satu unit kepada MPA, sehingga tersisa satu unit,” ungkapnya.

    BPBD berharap tambahan peralatan segera masuk agar distribusi kepada wilayah yang membutuhkan dapat kembali dilakukan.

    ”Mudah-mudahan besok ada lagi barang yang masuk,” tambah Imam.

    Ia menjelaskan alkon memiliki fungsi penting dalam sistem suplai air untuk pemadaman. Mesin tersebut digunakan untuk menyedot air ke profil tank, sebelum kemudian air disalurkan dari profil tank ke mobil pemadam.

    Untuk pengadaan baru, BPBD memiliki sekitar 31 unit alkon. Namun, seluruhnya sudah digunakan atau didistribusikan dalam penanganan karhutla.

    ”Alkon yang dimiliki jumlahnya puluhan unit, tetapi sebagian besar sudah didistribusikan ke kecamatan, MPA, OPD yang membutuhkan, serta tim atau regu pemadam,” katanya.

    Imam tidak dapat menyebutkan secara pasti total keseluruhan alkon yang menjadi aset BPBD karena sebagian sudah tersebar di berbagai lokasi.

    ”Jumlah keseluruhan yang tersimpan di gudang, saya tidak hafal. Yang saya ingat adalah pengadaan baru, yakni sekitar 31 unit. Barang yang ada juga sudah tersebar dan digunakan,” ujarnya.

    Sejumlah alkon bahkan sudah melekat pada delapan mobil BPBD. Sementara alkon lainnya digunakan tim suplai dan personel yang berjaga di sejumlah titik, antara lain di Jalan Wengga, Kawasan Bandara, Pertamina, KPT, KP3 dan KPM.

    ”Seluruhnya merupakan aset BPBD,” tegasnya.

    Pengadaan Baru Hanya 43 Selang

    Keterbatasan juga terjadi pada selang pemadam. Dalam pengadaan baru, BPBD hanya memperoleh 43 unit, sedangkan kebutuhan lainnya masih mengandalkan stok lama.

    ”Untuk selang, pengadaan baru kami hanya memperoleh 43 unit. Selebihnya masih menggunakan selang lama,” kata Imam.

    Pengadaan selang tersebut menggunakan dana belanja tidak terduga (BTT). Namun, jumlah keseluruhan selang yang tersedia saat ini tidak dapat dipastikan karena telah tersebar di sejumlah lokasi.

    ”Jumlah total selang belum dapat dipastikan karena barang telah didistribusikan ke sejumlah lokasi,” jelasnya.

    Sumur Bor Butuh Hingga Sebulan

    Persoalan sarana pendukung karhutla tidak hanya terjadi pada mesin dan perlengkapan pemadaman. Kebutuhan sumber air melalui sumur bor juga menjadi tantangan.

    ”Yang langka adalah sarana dan prasarana pendukung. Termasuk kebutuhan sumur bor,” kata Imam.

    Menurutnya, sumur bor memang dapat dibuat, tetapi pengerjaan sumur dalam membutuhkan waktu cukup lama. Terlebih kedalaman pengeboran sangat bergantung pada kondisi titik air.

    ”Kalau yang dibutuhkan adalah sumur dalam, pengerjaannya tidak bisa cepat. Untuk sumur dalam, paling cepat membutuhkan waktu sekitar tiga minggu sampai satu bulan hingga bisa beroperasi,” jelasnya.

    Kedalamannya dapat mencapai 80 meter, 90 meter, 100 meter atau lebih.

    ”Kedalamannya bisa 80 meter, 90 meter, 100 meter, atau lebih, tergantung titik air,” ujarnya.

    Dari pekerjaan yang dilakukan BPBD, baru tiga titik sumur bor yang siap. Lokasinya berada di Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Pustu Pasir Putih di wilayah Perumahan Pandawa.

    ”Dari BPBD, yang sudah siap baru tiga titik,” ungkap Imam.

    Sementara itu, pengerjaan sumur bor juga dilakukan pihak lain. Imam menyebut ada pekerjaan dari pihak Dandim dan informasi pengerjaan dari pihak Kapolres, tetapi datanya belum disampaikan kepada BPBD.

    ”Di pihak Dandim ada pengerjaan, tetapi datanya belum disampaikan kepada kami. Dari pihak Kapolres juga ada informasi soal pengerjaan,” katanya.

    Jumlah titik sumur bor masih berpotensi bertambah apabila pekerjaan di Bagendang selesai.

    ”Apabila pengerjaan di Bagendang selesai, jumlahnya kemungkinan akan bertambah,” tambahnya.

    306 Hotspot Terdeteksi

    Keterbatasan peralatan berlangsung ketika aktivitas kebakaran masih terjadi di berbagai wilayah Kotim. Imam menyebut terdapat 306 titik panas per 29 September 2026.

    Dari jumlah tersebut, 23 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 279 titik sedang dan empat titik tinggi.

    ”Hari ini terdapat 306 titik panas. Rinciannya, 23 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 279 titik sedang, dan empat titik tinggi,” kata Imam.

    Untuk kawasan dalam kota, pada hari sebelumnya terdapat sekitar 15 kejadian kebakaran.

    Sementara, sejumlah lokasi yang masih ditangani antara lain di Lingkar Utara, Eka Bahurui, Bagendang, Seranau, Mentaya Seberang, Satiruk dan Pulau Hanaut.

    ”Sebagian kejadian baru dan sebagian kejadian lanjutan dari hari sebelumnya,” jelasnya.

    Di Eka Bahurui, misalnya, kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 20.30 WIB pada malam sebelumnya dan masih berlangsung hingga pagi.

    ”Saya sempat memeriksa kondisi di lapangan sebelum berangkat,” ujar Imam.

    Di Seranau, Mentaya Seberang, kebakaran sebelumnya sudah dilakukan pemadaman. Namun, diduga masih ada bara atau titik api yang kembali muncul.

    ”Di Seranau, Mentaya Seberang, sebelumnya sudah dilakukan pemadaman. Namun, diduga masih terdapat bara atau titik api yang kembali muncul,” katanya.

    Kondisi serupa terjadi di Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut yang telah berlangsung sejak sehari sebelumnya.

    ”Tim dari Polres, Kodim, Korem dan Lion dalam beberapa hari terakhir sudah dikerahkan untuk menangani pemadaman di wilayah Pulau Hanaut,” ujarnya.

    Selain itu, penanganan pemadaman di areal Kota Sampit masih ditangani secara berkelanjutan

    ”Di perkotaan tetap ditangani pemadaman hingga pendinginan,” ujar Imam.

    Konsentrasi penanganan juga diarahkan ke sekitar kawasan Bandara. Sejumlah kebakaran di Jalan Jaksa Agung, Jalan Tjilik Riwut hingga arah Kandan disebut turut menyumbang asap ke sekitar bandara, termasuk yang berdampak ke Desa Ganepo dan Seranau.

    Imam mengungkapkan dari sejumlah kejadian karhutla, penanganan di Pulau Hanaut menjadi salah satu operasi yang membutuhkan upaya lebih karena titik kebakaran berada jauh dari akses sungai.

    ”Seperti di Pulau Hanaut itu masuknya tujuh kilometer jalan kaki dari pinggir sungai. Itu ditangani secara berkelanjutan,” ungkap Imam.

    Peralatan pemadaman juga harus dibawa menggunakan klotok untuk mencapai lokasi.

    ”Peralatan pemadaman dibawa menggunakan klotok, semua pembiayaan dari BPBD,” katanya.

    Untuk kebutuhan sumber air, BPBD mendapatkan dukungan dari PT RMU dan pemerintah desa setempat.

    ”Untuk sumber air ada bantuan dari PT RMU dan pemerintah desa setempat,” tambahnya.

    Water Bombing Terkendala Jarak Pandang

    Upaya pemadaman melalui udara juga telah dilakukan di Desa Rawa Sari dan Baamang Hulu. Namun, operasi water bombing belum dapat berjalan karena kondisi jarak pandang tidak memenuhi batas yang diperlukan.

    ”Water bombing sudah dilakukan di Desa Rawa Sari dan Baamang Hulu. Namun, karena visibilitas masih 800 meter belum bisa operasional,” kata Imam.

    Menurutnya, water bombing membutuhkan jarak pandang minimal 4.800 meter.

    ”Water bombing minimal jarak pandang 4.800 meter. Jarak pandang ini yang jadi kendala, water bombing tidak bisa dilakukan,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Lalai Penanganan ODGJ Memicu Petaka: Rumah di Jalan Kembali 1 Sampit Diduga Sengaja Dibakar

    Lalai Penanganan ODGJ Memicu Petaka: Rumah di Jalan Kembali 1 Sampit Diduga Sengaja Dibakar

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Kelemahan sistem penanganan dan pengawasan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memicu ancaman keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat.

    Suasana tenang dini hari warga di Jalan Kembali 1, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), berubah menjadi mencekam setelah sebuah rumah semi-permanen seluas 150 meter persegi ludes dibakar pada Rabu (30/9/2026) sekitar pukul 02.10 WIB.

    Kobaran api pecah saat mayoritas warga sekitar sedang terlelap. Konstruksi bangunan yang didominasi material kayu membuat si jago merah membumbung tinggi dan melahap habis seluruh isi rumah peninggalan almarhum Asikinoor hanya dalam hitungan menit.

    Saksi mata di lokasi kejadian, Lidia, menceritakan kepanikan warga saat melihat api melahap bangunan tersebut.

    “Api cepat sekali membesar. Rumah itu sebagian besar kayu, sehingga dalam waktu singkat kobaran api sudah menghanguskan seluruh bangunan,” tutur Lidya, Rabu (30/9/2026).

    Sengaja Dibakar Anak Pemilik Rumah dan Respons Tim Damkar

    Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim menerima laporan darurat pada pukul 02.39 WIB dan langsung menerjunkan dua unit armada ke lokasi di bawah pimpinan Komandan Regu III, Supriansyah.

    Tiba di TKP pukul 02.49 WIB, petugas berjibaku melokalisir perambatan api agar tidak meluas ke permukiman padat di sekitarnya.

    Proses pemadaman hingga pendinginan selesai penuh pada pukul 04.12 WIB dengan bantuan personel PMI Kotim, Redkar Ketapi 3, serta relawan MPA Teluk Dalam. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, meski kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp200 juta.

    Sisi paling krusial dari insiden ini terungkap dalam laporan resmi Disdamkarmat Kotim. Supriansyah menyampaikan bahwa pemicu kebakaran diduga kuat berasal dari tindakan sengaja membakar yang dilakukan oleh anak pemilik rumah yang mengidap gangguan jiwa (ODGJ).

    Kendati demikian, pihak Disdamkarmat menegaskan bahwa kepastian motif dan dinamika kejadian masih memerlukan pembuktian serta investigasi mendalam dari pihak berwajib.

    Tragedi kebakaran di Jalan Kembali 1 MB Ketapang ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan cermin buram dari pengabaian sistemik terhadap penanganan medis dan sosial ODGJ di daerah. Ketika individu yang mengalami gangguan kejiwaan berat dibiarkan tanpa pendampingan intensif, isolasi medis, atau terapi berkala di lingkungan pemukiman padat kayu, risiko kelalaian yang mengancam keselamatan publik tinggal menunggu waktu.

    Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kotim didesak untuk tidak lepas tangan. Harus ada langkah aktif (outreach) pendataan, evakuasi medis, serta penyediaan fasilitas perawatan ODGJ yang layak di Kotim agar pasien tidak menjadi ancaman bahaya bagi keluarga dan lingkungannya.

    Pihak Polres Kotim juga dituntut untuk mengusut tuntas kronologi peristiwa secara transparan (scientific crime investigation) guna memastikan penyebab pasti kebakaran serta menetapkan langkah penanganan hukum atau rekomendasi medis yang tepat bagi terduga pelaku. (***)