Kategori: Kalteng

  • Asap Belum Mereda, Satwa Dilindungi Jadi Korban Kebakaran Lahan di Kotawaringin Timur

    Asap Belum Mereda, Satwa Dilindungi Jadi Korban Kebakaran Lahan di Kotawaringin Timur

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Dampak buruk bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya menghanguskan vegetasi dan meracuni udara manusia, tetapi juga menghancurkan habitat asli satwa liar yang dilindungi.

     Seekor kukang (Nycticebus) ditemukan warga dalam kondisi terluka parah di Kecamatan Kota Besi pada Senin (21/9/2026) setelah diduga kuat tersengat aliran listrik saat melarikan diri dari kobaran api.

    Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengonfirmasi bahwa satwa nokturnal yang dilindungi undang-undang tersebut pertama kali ditemukan oleh warga setempat.

    Temuan tersebut langsung dilaporkan kepada aktivis lingkungan untuk mendapatkan pertolongan darurat.

    “Aktivis lingkungan malam kemarin mendapat laporan dari warga Kecamatan Kota Besi terkait penemuan satu ekor kukang yang terluka, diduga kuat tersetrum listrik,”ungkap Muriansyah, Senin (21/9/2026).

    Kukang tersebut diamankan oleh aktivis lingkungan Harie bersama rekan-rekannya dan langsung dibawa ke klinik dokter hewan untuk perawatan medis. Kami sangat berterima kasih atas respon cepat rekan-rekan aktivis.

    Aktivis lingkungan, Harie, menjelaskan bahwa berdasarkan informasi warga di lapangan, kukang tersebut nekat merangsek mendekati kawasan permukiman penduduk akibat vegetasi hutan dan lahan yang menjadi tempat tinggal utamanya habis dilalap api karhutla.

    Saat berusaha menyeberang melalui tiang dan kabel jaringan listrik antarrumah warga, satwa malang tersebut tersengat aliran listrik hingga jatuh dan terluka.

    Saat ini, kondisi kesehatan kukang tersebut masih dipantau secara intensif oleh tim dokter hewan bersama BKSDA Pos Sampit.

    Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata bagaimana eskalasi kebakaran lahan memaksa satwa liar keluar dari zona aman habitatnya dan masuk ke area berbahaya aktivitas manusia.

    Tragedi tersengatnya kukang di Kota Besi menelanjangi dampak komplikasi ekologis yang makin memprihatinkan akibat karhutla Kotim.

    Ketika hutan gambut dan semak belukar terbakar habis, satwa-satwa yang bergerak lambat seperti kukang, tenggiling, hingga orangutan tidak memiliki pilihan selain lari ke arah permukiman warga, di mana risiko tersetrum listrik, ditabrak kendaraan, atau dipelihara secara ilegal meningkat drastis.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    BKSDA Resort Sampit bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng didesak untuk membentuk Unit Rescue Satwa Karhutla yang bersiaga di setiap kecamatan zona merah seperti Kota Besi, MHU, dan Pulau Hanaut.

    Di sisi lain, PLN Rayon Sampit diimbau bekerja sama dengan instansi lingkungan untuk memasang pengaman isolator pada jaringan kabel udara yang melintasi koridor vegetasi guna mencegah insiden satwa tersengat listrik berulang.

    Asap belum mereda, satwa dilindungi jadi korban! Kukang masuk permukiman Kota Besi hingga tersengat listrik akibat karhutla! BKSDA dan Pemkab Kotim wajib bentuk tim evakuasi satwa korban kebakaran lahan!(***)

  • Bagendang Tengah Jadi Titik Paling Panas, 454 Hotspot Terdeteksi

    Bagendang Tengah Jadi Titik Paling Panas, 454 Hotspot Terdeteksi

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Konsentrasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mengkhawatirkan. Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), resmi menjadi titik paling membara setelah terdeteksi sebanyak 454 titik panas (hotspot) dalam kurun waktu 24 jam.

    Berdasarkan rekapitulasi data satelit BMKG dan BPBD Kotim hingga Senin (21/9/2026) pukul 16.00 WIB, angka di Bagendang Tengah tersebut menyumbang sekitar 29 persen dari total 1.563 hotspot yang mengepung seluruh wilayah Kotim.

    Kecamatan Mentaya Hilir Utara memimpin sebagai wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Kotim, yakni mencapai 608 titik. Angka tersebut terdiri dari 574 titik berkepercayaan menengah, 20 titik berkepercayaan tinggi, dan 14 titik berkepercayaan rendah.

    “Konsentrasi hotspot di Bagendang Tengah menjadi yang tertinggi di Kotim dengan 454 titik. Secara keseluruhan di Kotim terdeteksi 1.563 hotspot, di mana 1.503 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 30 titik tingkat kepercayaan tinggi, dan 30 titik tingkat kepercayaan rendah,” rilis BMKG dan BPBD Kotim, Senin (21/9/2026).

    Sebaran hotspot di tingkat desa menunjukkan dominasi kawasan selatan dan pinggiran perkotaan. Setelah Bagendang Tengah dengan 454 titik, Desa Bagendang Hilir mencatat 120 hotspot, disusul Desa Hanaut di Kecamatan Pulau Hanaut sebanyak 118 hotspot. Selanjutnya, Kelurahan Baamang Hulu mencatat 102 hotspot, Desa Lampuyang 86 hotspot, serta Desa Bangkuang Makmur di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 72 hotspot.

    Secara pemetaan kecamatan, Pulau Hanaut berada di posisi kedua setelah Mentaya Hilir Utara dengan 330 hotspot. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menyusul dengan 159 titik, Baamang 131 titik, serta Teluk Sampit 99 titik. Tingginya angka hotspot hasil sensor satelit ini menjadi indikator krusial yang membutuhkan verifikasi serta penanganan darurat langsung di lapangan.

    Penumpukan 454 hotspot hanya di satu desa seperti Bagendang Tengah menjadi alarm bahaya tingkat tinggi bagi Satgas Karhutla Kotim. Mengingat kawasan Mentaya Hilir Utara merupakan koridor ekonomi strategis yang menampung fasilitas pelabuhan CPO dan bongkar muat logistik, pembiaran kebakaran gambut di wilayah ini berpotensi merembet serta menghentikan total denyut nadi perekonomian daerah.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    Satgas Karhutla dan BPBD Kalteng didesak untuk segera memprioritaskan penuangan air (water bombing) serta pengerahan armada darat ke Desa Bagendang Tengah dan Bagendang Hilir guna memutus lidah api. Selain itu, kepolisian bersama Gakkum LHK wajib mengusut tuntas pemicu konsentrasi ratusan titik panas ini untuk memastikan tidak ada praktik pembakaran lahan secara masif di tengah masa perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana. (***)

  • Intrusi Air Laut Kian Masuk, Air Perumdam di Samuda Hingga Ketapang Terasa Asin

    Intrusi Air Laut Kian Masuk, Air Perumdam di Samuda Hingga Ketapang Terasa Asin

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Bencana kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mengancam ketahanan air bersih warga. Pasokan air dari Perumdam Tirta Mentaya di sejumlah kawasan mulai mengalami peningkatan salinitas atau perubahan rasa menjadi asin akibat penetrasi intrusi air laut yang kian jauh merangsek ke aliran Sungai Mentaya.

    Kondisi berubahnya kualitas air ini terpantau meluas mulai dari Samuda (Mentaya Hilir Selatan), Bagendang (Mentaya Hilir Utara), hingga Pelangsian dan Ketapang di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi, membenarkan fenomena peningkatan salinitas air baku tersebut yang mulai terpantau sejak Sabtu (19/9/2026). Perumdam terus melakukan pengecekan kualitas air setiap hari untuk memantau kadar garam di setiap jaringan pelanggan.

    “Peningkatan rasa asin mulai terpantau sejak Sabtu kemarin. Kami lakukan pengecekan tiap hari untuk memantau perkembangan salinitas di masing-masing wilayah,” ujar Edy Dyufriadi, Minggu (20/9/2026).

    Menanggapi kondisi tersebut, Perumdam Tirta Mentaya merilis instruksi khusus penggunaan air bagi pelanggan. Warga di Samuda, Bagendang, dan Pelangsian dilarang keras menggunakan air Perumdam untuk minum maupun memasak, dan hanya diperbolehkan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Sementara itu, pelanggan di wilayah Ketapang masih diizinkan mengonsumsinya dengan syarat wajib merebus air hingga mendidih terlebih dahulu.

    Anjuran ini diterbitkan karena tingginya kadar salinitas serta Total Dissolved Solids (TDS) berisiko memicu gangguan kesehatan seperti perut kembung, mual, muntah, hingga diare.

    Meskipun intrusi air laut telah memengaruhi rasa air di jaringan pelanggan wilayah selatan hingga Ketapang, Perumdam memastikan sumber air baku pada Intake Baamang sejauh ini masih dalam kondisi aman. Petugas mengantisipasinya dengan menggeser titik pengambilan air (intake) lebih jauh ke arah hulu sungai, yakni sekitar 8 hingga 9 kilometer ditarik lurus dari lokasi semula.

    Fenomena masuknya air asin ini tidak hanya dialami Kotim, tetapi juga melanda sejumlah kabupaten tetangga di Kalimantan Tengah seperti Kapuas, Pangkalan Bun (Kobar), dan Seruyan. Jika hujan bercurah tinggi tak kunjung turun hingga Oktober, intrusi laut diprediksi akan terus bergerak semakin jauh mengancam sumber air baku perkotaan.

     

    Masuknya intrusi air laut hingga ke wilayah Pelangsian dan Ketapang membuktikan bahwa Kotim kini berada dalam krisis bencana ganda: terkepung racun asap di udara dan krisis air minum di darat. Ketika air kran warga tak lagi layak minum akibat kadar garam dan TDS tinggi, beban ekonomi masyarakat miskin perkotaan akan melonjak drastis karena harus membeli air galon kemasan untuk kebutuhan harian.

    Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:

    Pemkab Kotim bersama Perumdam Tirta Mentaya didesak untuk tidak sekadar mengeluarkan larangan konsumsi, melainkan wajib mendistribusikan armada mobil tangki air bersih gratis secara rutin ke titik-titik pemukiman terdampak di Samuda, Bagendang, Pelangsian, dan Ketapang. Di sisi lain, instansi kesehatan masyarakat perlu menyiagakan fasilitas Pustu dan Puskesmas guna mengantisipasi lonjakan kasus penyakit pencernaan (gastroenteritis) akibat ketidaktahuan warga yang nekat mengonsumsi air ber-TDS tinggi.

    Air kran Sampit mulai asin! Intrusi air laut serbu Samuda, Bagendang, Pelangsian hingga Ketapang! Perumdam larang konsumsi air kran di wilayah selatan, Pemkab wajib bagi air bersih gratis! (***)

  • Jarak Pandang Sempat 5 Km, Bandara H. Asan Sampit Ambil Peluang Pendaratan

    Jarak Pandang Sempat 5 Km, Bandara H. Asan Sampit Ambil Peluang Pendaratan

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Aktivitas penerbangan komersial di Bandara H. Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali memanfaatkan celah cuaca kondusif pada Minggu (20/9/2026). Di tengah ancaman fluktuasi kabut asap karhutla, dua maskapai utama berhasil mengambil peluang pendaratan saat jarak pandang horizontal sempat membaik hingga menyentuh angka 5 kilometer.

    Person In Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H. Asan Sampit, Alfiansyah, mengonfirmasi pendaratan mulus pesawat Super Air Jet dan Wings Air pada siang hari.

    “Penerbangan Wings Air rute Surabaya–Sampit mendarat normal pada pukul 13.16 WIB, disusul Super Air Jet rute Jakarta–Sampit yang sukses menyentuh landasan pacu pada pukul 14.13 WIB,” jelasnya.
     
    Keberhasilan pendaratan dua maskapai komersial tersebut berkejaran langsung dengan dinamika cuaca ekstrem di kawasan bandara. Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi BMKG Kotim, jarak pandang di area bandara pada pukul 14.00 WIB berada di angka 5 kilometer dengan cuaca kabut asap, suhu udara 36,1 derajat Celsius, kelembapan 42 persen, serta angin bertiup dari arah tenggara berkecapatan 6 km/jam.

    Namun, kondisi atmosfer berubah drastis hanya dalam rentang satu jam. Pada pukul 15.00 WIB, jarak pandang horizontal merosot tajam menjadi 700 meter akibat desakan kabut asap. Suhu udara mencatatkan angka 33,9 derajat Celsius dengan kelembapan naik menjadi 55 persen, sementara angin bertiup lebih kencang dari arah selatan dengan kecepatan 13 km/jam.

    Pendaratan Super Air Jet dan Wings Air membuktikan bahwa efektivitas operasional penerbangan di Bandara H. Asan Sampit sangat bergantung pada ketepatan memanfaatkan operational window atau jendela peluang cuaca.

    Keputusan tepat untuk mendarat saat jarak pandang mencapai 5 kilometer pada pukul 14.00 WIB menjadi kunci keberhasilan sebelum dorongan angin selatan berkecepatan 13  km/jam kembali membawa kabut asap pekat dan memangkas jarak pandang menjadi 700 meter pada pukul 15.00 WIB.

    Otoritas penerbangan Bandara H. Asan bersama BMKG Kotim didesak untuk terus memperkuat koordinasi real-time terkait pergerakan angin dan kepekatan asap. Langkah ini krusial agar maskapai lain seperti NAM Air dan para calon penumpang dapat mengantisipasi penyesuaian jadwal penerbangan secara presisi tanpa mengorbankan standar keselamatan operasional penerbangan.

    Bandara H. Asan manfaatkan celah cuaca! Jarak pandang sempat 5 KM, Super Air Jet & Wings Air sukses landing di Sampit! Otoritas bandara wajib terus pantau fluktuasi asap yang berubah cepat! (***)

  • Hotspot Kotim Tembus 1.980 Titik, Api Tak Lagi Terkonsentrasi di Satu Wilayah

    Hotspot Kotim Tembus 1.980 Titik, Api Tak Lagi Terkonsentrasi di Satu Wilayah

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin meluas. Dalam pemantauan selama 24 jam hingga pembaruan pukul 16.00 WIB, Minggu (20/9), tercatat sebanyak 1.980 hotspot terdeteksi di wilayah tersebut.

    Data rekap hotspot menunjukkan, sebanyak 243 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi atau confidence level minimal 80 persen. Sementara itu, 1.662 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah dan 75 titik masuk kategori rendah.

    Sebaran hotspot tidak lagi terkonsentrasi di satu kawasan. Mentaya Hilir Utara menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 582 titik. Disusul Pulau Hanaut sebanyak 386 titik, Teluk Sampit 203 titik, dan Mentawa Baru Ketapang 190 titik.

    Selanjutnya, hotspot terdeteksi di Kota Besi sebanyak 123 titik, Baamang 121 titik, Mentaya Hulu 108 titik, Mentaya Hilir Selatan 73 titik, Seranau 48 titik, serta Cempaga Hulu 33 titik.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa deteksi hotspot telah menyebar di sejumlah wilayah Kotim, termasuk kawasan perkotaan dan wilayah kecamatan di bagian selatan.

    Pada kategori confidence tinggi, sejumlah lokasi tercatat memiliki konsentrasi yang cukup menonjol. Bagendang Tengah di Kecamatan Mentaya Hilir Utara mencatat 53 titik, disusul Bagendang Hilir sebanyak 26 titik.

    Sementara itu, Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit memiliki 23 hotspot confidence tinggi. Desa Hanaut di Kecamatan Pulau Hanaut tercatat 20 titik.

    Lokasi lainnya yang masuk dalam daftar dengan confidence tinggi antara lain Kelurahan Baamang Hulu sebanyak 12 titik, Ujung Pandaran 12 titik, serta Kelurahan Pasir Putih sebanyak 11 titik.

    Seluruh data tersebut diperoleh melalui pemantauan sejumlah sensor satelit BMKG, di antaranya SNPP, NOAA20, TERRA, dan AQUA.

    Meski demikian, hotspot merupakan hasil deteksi sensor satelit dan tidak secara otomatis menunjukkan jumlah titik kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

    Dengan jumlah hotspot yang mencapai 1.980 titik dalam 24 jam, sebaran deteksi panas di Kotim kini mencakup banyak wilayah. Kondisi ini menjadi indikator yang perlu terus dipantau di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan. (***)

  • Targetkan Kotim Berkembang Pesat dalam 10 Tahun, Bupati Ungkap Rencana Bangun Hotel Berbintang 400 Kamar

    Targetkan Kotim Berkembang Pesat dalam 10 Tahun, Bupati Ungkap Rencana Bangun Hotel Berbintang 400 Kamar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor ingin melihat daerah yang dipimpinnya berkembang jauh lebih pesat dalam 10 tahun ke depan.

    Target itu tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan pembangunan, tetapi juga peningkatan aktivitas investasi dan ekonomi yang membuat Kotim semakin diperhitungkan di tingkat Kalimantan.

    Halikinnor mengatakan, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan anggaran pemerintah.

    Dengan kondisi fiskal yang terbatas, investasi swasta perlu menjadi bagian dari penggerak aktivitas ekonomi daerah.

    ”Target saya lima sampai sepuluh tahun ke depan, Kotawaringin Timur ini bukan hanya berkembang di Kalimantan Tengah, tetapi kalau bisa masuk lima atau tujuh besar daerah yang berkembang di Kalimantan,” kata Halikinnor, saat memberikan arahan dalam serah terima jabatan Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda), pejabat pimpinan tinggi pratama, pejabat administrator dan camat di Ruang Anggrek Tewu Lantai II Setda Kotim, Senin (14/9/2026).

    Halikin menyebut perkembangan Kotim harus dibangun melalui keberanian menangkap peluang, baik dari sisi investasi, pembangunan infrastruktur maupun upaya pemerintah daerah mencari program dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

    Halikinnor kemudian mengungkapkan rencana investasi hotel berkapasitas besar yang menurutnya dapat menjadi salah satu indikator mulai tumbuhnya kepercayaan investor terhadap Sampit.

    ”Ada investor yang berencana bangun hotel kurang lebih 400 kamar. Di bawahnya juga ada mal. Pemiliknya sudah bertemu dengan saya dan sekarang sedang dalam perencanaan,” ungkapnya.

    Menurutnya, investasi seperti itu tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Kehadiran investor akan menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka kebutuhan tenaga kerja dan mendorong perputaran usaha di daerah.

    ”Kalau investasi masuk, tentu ada lapangan pekerjaan. Ekonomi juga bergerak. Karena itu investasi ini harus kita dorong,” ujarnya.

    Sampit Mulai Mendapat Perhatian

    Halikinnor mengatakan Sampit kini semakin banyak mendapat perhatian karena memiliki posisi yang strategis untuk dikembangkan.

    Ia mengaitkan hal tersebut dengan semakin terbukanya konektivitas dan peluang investasi di daerah.

    Ia mencontohkan perkembangan Bandara Haji Asan Sampit yang kini telah melayani pesawat Airbus A320 yang telah melayani penerbangan perdana pada 12 Juni 2026 lalu.

    ”Tidak ada yang tidak bisa apabila kita memiliki kemauan, tekad, semangat, dan kegigihan untuk mencapai sesuatu,” tegasnya.

    Perkembangan sektor transportasi menunjukkan bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit tetap dapat diwujudkan apabila pemerintah memiliki kemauan dan terus mengupayakannya.

    Masuknya pesawat Airbus A320 ke Sampit menjadi contoh bahwa peluang baru dapat terbuka ketika pemerintah terus berkomunikasi dan memperjuangkan kebutuhan daerah.

    ”Kalau kita punya kemauan, kita perjuangkan. Tidak boleh kita mengatakan tidak bisa sebelum kita berusaha,” ujarnya.

    Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan infrastruktur pendukung. Di Bandara Haji Asan, misalnya, pengembangan fasilitas masih menjadi bagian yang diupayakan pemerintah.

    Salah satunya, rencana perpanjangan runway Bandara Haji Asan Sampit dari panjang saat ini 2.060 meter dan lebar 30 meter menjadi panjang 2.250 dengan lebar 45 meter.

    Halikinnor menilai kemajuan daerah tidak boleh hanya dilihat dari apa yang sudah tersedia saat ini. Pemerintah harus berani membayangkan kebutuhan beberapa tahun ke depan sekaligus mulai menyiapkan fondasinya sejak sekarang.

    Karena itu, Halikinnor meminta jajaran perangkat daerah tidak hanya menjalankan rutinitas administrasi.

    Setiap kepala OPD harus mampu membaca peluang pembangunan dan aktif mencari program yang dapat dibawa ke Kotim.

    ”Jangan hanya bekerja dengan rutinitas. Kalau ada program, kegiatan atau anggaran yang bisa dibawa ke daerah, cari. Kita harus aktif,” katanya.

    Halikinnor menyadari kemampuan fiskal daerah memiliki keterbatasan. Karena itu, pembangunan Kotim membutuhkan kombinasi antara kemampuan APBD, dukungan pemerintah pusat dan masuknya investasi.

    Ia meminta perangkat daerah memahami bahwa mencari peluang pembangunan merupakan bagian dari tanggung jawab birokrasi, bukan semata-mata urusan kepala daerah.

    ”OPD itu pembantu utama bupati dan wakil bupati. Jadi harus tahu apa yang menjadi kebutuhan daerah, apa masalahnya, kemudian bagaimana mencari solusinya,” ujarnya.

    Ia menggambarkan perangkat daerah sebagai “dapur daerah” yang harus mampu bekerja cepat ketika menemukan persoalan maupun peluang.

    Menurut Halikinnor, kepala OPD harus mampu menggerakkan organisasi, membangun koordinasi dan menghasilkan program yang dapat dirasakan masyarakat. Kinerja tersebut nantinya menjadi bagian dari evaluasi terhadap pejabat.

    ”Kalau kita ingin daerah ini maju, cara kerjanya juga harus berubah. Harus ada inovasi, harus ada kemampuan menggerakkan organisasi dan harus ada hasil,” katanya.

    Kotim Harus Berani Menatap 10 Tahun ke Depan

    Halikinnor mengatakan target lima atau tujuh besar daerah berkembang di Kalimantan merupakan gambaran yang ingin ia kejar dalam jangka panjang.

    Ia menyebut pernah melihat informasi melalui YouTube mengenai daftar kabupaten yang diproyeksikan berkembang dalam 10 tahun mendatang.

    Dalam informasi yang ia sampaikan, Kotim disebut berada di urutan ketujuh di Kalimantan, sementara Berau, Kalimantan Timur, disebut berada di posisi pertama.

    Pernyataan tersebut disampaikan Halikinnor sebagai gambaran mengenai peluang pertumbuhan Kotim, bukan sebagai hasil pemeringkatan resmi pemerintah.

    ”Kalau dari Kalimantan Tengah, Kotawaringin Timur disebut masuk urutan ketujuh. Nomor satu disebut Berau, Kalimantan Timur,” katanya.

    Halikin menegaskan bahwa target pemerintah daerah bukan sekadar mengejar posisi dalam sebuah daftar, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar diwujudkan dengan meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

    Karena itu, Halikinnor meminta jajaran birokrasi memiliki cara pandang yang sama. Setiap peluang pembangunan harus dipetakan, dikomunikasikan dan diperjuangkan secara bersama-sama.

    ”Kalau kita mau maju, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Semua harus bergerak dan semua harus punya semangat yang sama untuk membangun daerah,” katanya.

    Halikin meyakini, peluang investasi akan semakin terbuka apabila pemerintah mampu memberikan kepastian, membangun komunikasi dengan calon investor dan memastikan perangkat daerah bekerja cepat ketika dibutuhkan.

    ”Harapan saya, lima sampai sepuluh tahun ke depan Kotim ini bisa menjadi daerah yang betul-betul berkembang pesat. Bukan hanya kita yang mengatakan, tetapi masyarakat bisa melihat dan merasakan hasilnya,” pungkas Halikinnor. (hgn/ign)

  • Akibat Intrusi Air Laut, Kadar Salinitas di Sungai Sampit Capai 630, Air PDAM Selatan Kotim Tak Layak Konsumsi

    Akibat Intrusi Air Laut, Kadar Salinitas di Sungai Sampit Capai 630, Air PDAM Selatan Kotim Tak Layak Konsumsi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Persoalan krisis air bersih di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini bukan lagi sekadar berkurangnya debit air, tetapi sudah menyangkut masuknya air asin ke aliran Sungai Sampit yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM.

    Kondisi itu membuat kadar salinitas air baku meningkat hingga 630, sehingga air hasil produksi Perumdam Tirta Mentaya tidak lagi layak diperuntukkan untuk konsumsi khususnya di wilayah selatan Kotim yang dekat kawasan pesisir.

    ”Keluhan warga di wilayah selatan ini persoalannya bukan kering, tapi kadar airnya asin. Kita masih bisa produksi, tetapi hanya untuk MCK. Kalau untuk diminum tidak bisa,” kata Ismanadi Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, saat diwawancarai, Rabu (16/9/2026).

    Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan kadar salinitas di sejumlah wilayah selatan sudah berada di atas ambang yang dinilai aman untuk dikonsumsi.

    Ismanadi menyebut pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) juga menunjukkan kadar salinitas sudah lebih dari 500.

    Bahkan, pengukuran di kawasan Samuda, Bapinang dan sekitarnya menunjukkan kadar salinitas sekitar 630.

    Ismanadi menjelaskan, air dengan salinitas di bawah 300 masih berada dalam batas aman untuk dikonsumsi. Karena itu, ketika angkanya sudah menembus lebih dari 500 hingga sekitar 630, air tersebut tidak lagi digunakan sebagai air minum.

    ”Kalau salinitasnya tinggi dipaksakan untuk dikonsumsi, bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti diare,” ujarnya.

    Air Tawar dari Hulu Berkurang, Air Asin Lebih Mudah Masuk

    Tingginya kadar garam tersebut berkaitan dengan kondisi Sungai Sampit yang mulai kehilangan dorongan air tawar dari bagian hulu.

    Ketika aliran air tawar dari hulu masih cukup kuat, air sungai memiliki tekanan yang lebih besar untuk mengalir ke arah hilir. Kondisi itu membantu menahan pengaruh air asin yang masuk bersama saat air pasang.

    Namun, ketika debit air tawar dari hulu mulai berkurang akibat kondisi kering berkepanjangan, pengaruh pasang menjadi lebih kuat.

    Air asin dapat masuk lebih jauh ke badan sungai dan bertahan lebih lama. Akibatnya, kadar garam pada sumber air baku meningkat.

    Berdasarkan pengamatan Perumdam. Biasanya, kadar salinitas akan diperiksa ketika air laut mengalami pasang. Namun persoalan kali ini tidak berhenti ketika pasang berakhir.

    ”Biasanya kalau pasang kita cek salinitasnya. Tapi ini pasang tinggi salinitas tinggi, kita tunggu surut ternyata masih tinggi juga,” jelasnya.

    Hujan menjadi faktor penting yang dapat mengubah kondisi tersebut. Bertambahnya air dari hulu akan meningkatkan kembali debit air tawar sehingga pengaruh air asin dapat berkurang.

    Sebaliknya, apabila kondisi kering terus berlangsung, kadar salinitas berpotensi tetap tinggi.

    Namun, persoalannya Kotim dan sekitarnya masih menghadapi kemarau panjang yang mengakibatkan hampir tak ada hujan lebih dua bulan.

    ”Kondisi air asin seperti ini juga pernah terjadi sekitar 1997, kadar salinitas bisa berkurang, apabila terjadi hujan di hulu yang membawa air tawar ke hilir,” ujarnya.

    Pelangsian Mulai Waspada, Sampit Masih Relatif Aman

    Saat ini kawasan yang paling terdampak adalah wilayah selatan, khususnya yang menggunakan sumber air dari Sungai Sampit. Sementara wilayah Kota Sampit secara umum masih relatif aman untuk kebutuhan air minum.

    Perumdam bahkan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk mengantisipasi pergerakan kondisi tersebut, terutama di kawasan Pelangsian.

    Di Pelangsian, kadar salinitas saat air pasang tinggi tercatat mendekati 400, sementara Total Dissolved Solids (TDS) atau total padatan terlarut, juga sudah berada di atas 300.

    ”Pelangsian ini kita pantau terus. Karena saat pasang bisa mendekati 400, TDS di atas 300. Kalau surut turun lagi,” ujar Ismanadi.

    Untuk memastikan air tetap berada dalam kondisi yang dapat diproses, pemeriksaan bahkan dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari.

    ”Bisa kita cek di laboratorium dua atau tiga kali sehari karena salinitasnya berubah-ubah,” katanya.

    Sementara itu, kawasan Baamang dan wilayah utara Kotim secara umum belum mengalami persoalan serupa. Air Perumdam di kawasan tersebut masih dapat digunakan untuk konsumsi.

    Enam Mobil Tangki Disiapkan Kirim Air dari Sampit

    Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah selatan, Perumdam Tirta Mentaya menyiapkan langkah distribusi air dari Sampit.

    Langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan Bupati Kotim. Delapan mobil tangki dan 28 mobil yang mengangkut profil tank dengan total 40.000 liter telah didistribusikan ke wilayah selatan di sejumlah desa terdampak seperti Desa Sei Ijum Raya, Sebamban dan Desa Parebok pada Kamis (17/9/2026).

    “Distribusi air bersih sebenarnya sudah disaluran ke wilayah Selatan Kotim sejak 17 Juli 2026 sesuai usulan desa,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaannya, setiap hari sekitar empat hingga enam kendaraan dikerahkan, dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter.

    Keterbatasan utama yang dihadapi adalah kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Perumdam juga telah mengupayakan bantuan BBM untuk mendukung distribusi agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti.

    ”Distribusi ini setiap hari kita lakukan. Sekarang kendalanya BBM. Kita juga sudah mengajukan bantuan BBM,” kata Ismanadi.

    Air Gratis Disediakan di Sejumlah Titik

    Selain mengirimkan air langsung ke wilayah terdampak, Perumdam juga menyediakan air bersih gratis di sejumlah titik produksi.

    Di antaranya Kota Besi, Cempaka Mulia, Lubuk Ranggan dan Pundu.

    Masyarakat yang terdampak dapat mengambil air tersebut menggunakan kendaraan sendiri. Bahkan kelompok masyarakat dapat membawa kendaraan seperti pikap yang dilengkapi profil tank berkapasitas 1.000 hingga 2.000 liter.

    Namun pengambilan air gratis tersebut harus disertai surat dari camat atau lurah setempat.

    Persyaratan itu diberlakukan untuk memastikan air benar-benar diberikan kepada masyarakat yang terdampak dan tidak diperjualbelikan kembali.

    ”Kalau mau ambil air gratis, harus ada surat dari camat atau lurah. Ini supaya air gratis itu tidak dikomersialkan atau dijual lagi,” tegas Ismanadi.

    Air Perumdam Bukan untuk Sawah

    Prioritas distribusi air bersih saat ini adalah kebutuhan masyarakat, terutama untuk kebutuhan minum dan rumah tangga.

    Karena itu, air yang didistribusikan Perumdam tidak diarahkan untuk kebutuhan persawahan.

    Menurut Ismanadi, kebutuhan air untuk pertanian berbeda dengan kebutuhan air yang telah melalui proses pengolahan untuk masyarakat.

    ”Kalau untuk sawah itu bukan air yang kita distribusikan. Prioritas kita masyarakat, terutama untuk minum,” katanya.

    Air produksi Perumdam telah melalui proses pengolahan, termasuk penjernihan dan penyesuaian pH, sedangkan kebutuhan sawah lebih membutuhkan air baku dalam jumlah besar.

    Perumdam Tak Bisa Menjamin Air Sumur Bor

    Ismanadi juga mengingatkan masyarakat yang menggunakan sumur bor agar tidak langsung menganggap air tersebut aman hanya karena terlihat jernih.

    Perumdam tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan apakah air sumur bor milik masyarakat aman dikonsumsi atau tidak.

    Kepastian mengenai kualitas air sumur bor harus ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.

    ”Kalau sumur bor itu kita tidak bisa menjamin aman atau tidak. Itu harus diperiksa di laboratorium,” jelasnya.

    Parenggean Ditangani dengan Pompa Ponton

    Di sisi lain, persoalan air baku di Parenggean untuk sementara berhasil ditangani dengan pembangunan pompa ponton.

    Sebelumnya, sumber air baku yang digunakan Perumdam di kawasan tersebut menyusut hingga mengalami kekeringan. Untuk mengatasinya, Perumdam membangun pompa terapung di sungai yang berjarak sekitar 400 meter dari kantor yang sudah bisa dioperasikan.

    Dengan beroperasinya pompa tersebut, persoalan kekurangan air baku di Parenggean untuk sementara dapat diatasi.

    ”Perumdam masih terus memantau kemampuan produksi air apabila kondisi sumber air terus berubah, untuk sementara kekurangan air baku di Parenggean sudah dapat diatasi,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Sehari Diwarnai Cancel, Penerbangan Bandara H Asan Sampit Kembali Lancar

    Sehari Diwarnai Cancel, Penerbangan Bandara H Asan Sampit Kembali Lancar

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali berjalan lancar, Sabtu (19/9/2026).

    Kondisi ini berbeda dengan sehari sebelumnya ketika seluruh penerbangan terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu jarak pandang di sekitar bandara.

    Pada Sabtu ini, maskapai Nam Air kembali melayani penerbangan dari dan menuju Sampit. Dua rute dilayani, yakni Surabaya-Sampit pulang pergi (PP) dan Semarang-Sampit PP.

    “Penerbangan Nam Air hari ini lancar,” kata Person In Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H Asan Sampit, Alfiansyah.

    Pesawat Nam Air dari Surabaya mendarat di Bandara H Asan Sampit pada pukul 12.24 WIB. Penerbangan tersebut menjadi salah satu tanda aktivitas penerbangan kembali berjalan setelah sehari sebelumnya terganggu akibat kabut asap.

    Selanjutnya, pesawat Nam Air dari Semarang tiba di Bandara H Asan Sampit pada pukul 13.35 WIB.

    Kembali beroperasinya penerbangan tersebut membuat aktivitas penumpang di Bandara H Asan Sampit mulai berjalan normal. Sehari sebelumnya, dua maskapai, yakni Nam Air dan Wings Air, membatalkan penerbangan rute Sampit-Surabaya akibat kondisi kabut asap.

    Namun, tidak seluruh maskapai memiliki jadwal penerbangan pada Sabtu ini.

    Alfiansyah mengatakan Super Air Jet dan Wings Air tidak memiliki jadwal penerbangan dari maupun menuju Bandara H Asan Sampit pada hari ini.

    Dengan kembali lancarnya penerbangan Nam Air, aktivitas Bandara H Asan Sampit berangsur pulih setelah sebelumnya terganggu akibat kabut asap karhutla. (***)

  • Bukan Cuma Karhutla, Sampit Kini Diintai Potensi Banjir Rob

    Bukan Cuma Karhutla, Sampit Kini Diintai Potensi Banjir Rob

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ancaman bencana di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya datang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sampit kini juga masuk dalam wilayah yang berpotensi terdampak banjir pesisir atau banjir rob.

    Peringatan tersebut tercantum dalam Informasi Potensi Banjir Pesisir (Rob) yang diterbitkan Direktorat Meteorologi Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 16 September 2026.

    Dalam informasi tersebut, Sampit masuk periode potensi banjir rob pada 18–24 September 2026.

    Selain Sampit, BMKG juga mencantumkan Kuala Pembuang dan Kapuas dalam daftar wilayah Kalimantan Tengah yang berpotensi mengalami banjir pesisir pada periode 18–24 September.

    Sementara wilayah Kumai, Pantai Lunci, dan Kuala Jelai memiliki periode potensi rob pada 19–27 September 2026.

    Potensi tersebut berkaitan dengan fenomena fase Bulan Purnama yang diperkirakan terjadi pada 26 September 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum di sejumlah wilayah pesisir.

    BMKG mengingatkan kondisi tersebut dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Di antaranya kegiatan bongkar muat di pelabuhan, permukiman pesisir, tambak garam, hingga aktivitas perikanan darat.

    Bagi Sampit, informasi ini menjadi perhatian karena wilayah tersebut berada dalam periode potensi rob sejak 18 September. Masyarakat di kawasan yang berdekatan dengan pesisir dan perairan diminta memperhatikan perkembangan kondisi air laut.

    BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap siaga dan rutin memantau pembaruan informasi cuaca maritim melalui kanal resmi.

    Informasi dapat dipantau melalui situs maritim.bmkg.go.id, media sosial @BMKGmaritim, layanan Call Center BMKG 196 atau 021-6546315/18, maupun kantor BMKG terdekat.

    Potensi banjir rob tersebut menjadi perhatian tambahan bagi Kotim di tengah kondisi karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

    Masyarakat diharapkan tidak hanya mewaspadai dampak asap dan kebakaran, tetapi juga memperhatikan potensi kenaikan air laut selama periode yang telah diinformasikan BMKG. (***)

  • 964 Hotspot Muncul di Kotim, Pulau Hanaut dan MHU Jadi Sorotan

    964 Hotspot Muncul di Kotim, Pulau Hanaut dan MHU Jadi Sorotan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum mereda.

    Dalam 24 jam terakhir, 964 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Kotim. Dari jumlah tersebut, 110 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

    Data itu berdasarkan rekapitulasi hotspot wilayah Kotim dari BMKG/BPBD per Sabtu (19/9/2026) pukul 16.00 WIB.

    Selain 110 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, terdapat 737 titik dengan tingkat kepercayaan menengah dan 117 titik dengan tingkat kepercayaan rendah.

    “Sebaran hotspot paling banyak terkonsentrasi di bagian selatan Kotim,” ungkap Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorogi H Asan Kotawaringin Timur Suci Priatin Ningsih.

    Pulau Hanaut menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 285 titik. Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) menyusul dengan 256 titik.

    Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding sejumlah kecamatan lainnya. Mentaya Hilir Selatan tercatat memiliki 90 titik, Mentawa Baru Ketapang 89 titik, dan Teluk Sampit 88 titik.

    Lima kecamatan tersebut secara keseluruhan menyumbang 808 hotspot, atau sekitar 84 persen dari total titik panas yang terdeteksi di Kotim.

    Konsentrasi hotspot juga terlihat pada sejumlah desa.

    Di Kecamatan MHU, Bagendang Tengah mencatat 142 titik panas, sedangkan Bagendang Hilir mencapai 107 titik. Sementara di Pulau Hanaut, Desa Hanaut tercatat memiliki 128 titik panas.

    Tiga wilayah tersebut saja menyumbang 377 hotspot dalam periode pemantauan 24 jam.

    Dari 110 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, MHU menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 41 titik. Pulau Hanaut menyusul dengan 37 titik.

    “Dengan demikian, kedua kecamatan tersebut memiliki 78 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, atau sekitar 71 persen dari total hotspot kategori tinggi di Kotim,” imbuhnya.

    Selain dua kecamatan tersebut, hotspot juga terdeteksi di Kota Besi sebanyak 45 titik, Mentaya Hulu 40 titik, Cempaga Hulu 19 titik, Seranau 13 titik, Parenggean 12 titik, Baamang 11 titik, Telawang tujuh titik, Tualan Hulu empat titik, Bukit Santuai tiga titik, dan Telaga Antang dua titik.

    Sementara itu, Mentawa Baru Ketapang yang berada di kawasan perkotaan Sampit juga mencatat 89 hotspot. Angka tersebut menempatkannya sebagai wilayah dengan jumlah hotspot kelima terbanyak di Kotim.

    Data BMKG/BPBD tersebut merupakan akumulasi titik panas dalam 24 jam terakhir hingga Sabtu pukul 16.00 WIB. Tingkat kepercayaan hotspot menunjukkan tingkat keyakinan deteksi satelit terhadap adanya anomali suhu dan tetap membutuhkan verifikasi di lapangan.

    Sebaran 964 hotspot di berbagai wilayah menunjukkan potensi karhutla masih menjadi perhatian serius di Kotim, terutama di Pulau Hanaut dan MHU yang mencatat konsentrasi hotspot tertinggi. (***)