Kategori: Ragam dan Peristiwa

  • Dihadiri Ratusan Pelayat, Sufiansyah Diantar dengan Doa ke Peristirahatan Terakhir

    Dihadiri Ratusan Pelayat, Sufiansyah Diantar dengan Doa ke Peristirahatan Terakhir

    SAMPIT, kanalindependen.id – Cuaca pagi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Usman Harun, Jumat (27/3/2026), tampak teduh. Seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti ratusan pelayat.

    Satu per satu warga, kerabat, hingga jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berdatangan, mengiringi kepergian Camat Baamang, almarhum Sufiansyah bin Nazaruddin, ke peristirahatan terakhirnya.

    Jenazahnya digiring menggunakan ambulans dari kediaman rumahnya di Jalan Cristopel Mihing sekitar pukul 08.10 WIB. Kemudian disalatkan untuk terakhir kalinya di Langgar Al Muhibin, berdekatan dengan Tempat Pemakaman Umum di Jalan Usman Harun.

    Liang kubur sedalam kurang lebih dua meter telah dipersiapkan. Peti jenazah dihantarkan ke pusara terakhir sekitar pukul 08.30 WIB.

    Di antara para pelayat, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, turut hadir memberikan penghormatan terakhir.

    Dengan wajah penuh duka, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian almarhum yang mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Murjani Sampit pada 14.27 WIB, Kamis (26/3/2026).

    ”Pemerintah daerah merasa sangat kehilangan atas sosok ASN yang memiliki integritas cukup tinggi. Sosok seperti beliaulah yang sangat kami harapkan untuk membantu kami dalam melaksanakan pembangunan di Kabupaten Kotawaringin Timur,” ujar Umar Kaderi saat diwawancarai usai proses pemakaman selesai.

    Almarhum Sufiansyah merupakan salah satu aparatur sipil negara (ASN) terbaik yang dimiliki Kotim.

    Rekam jejaknya yang dimulai dari lurah hingga dipercaya menjabat sebagai Camat Baamang menjadi bukti dedikasi dan pengabdian panjang dalam birokrasi.

    Menurutnya, banyak jasa yang telah diberikan almarhum selama bertugas. Meski tidak dapat dirinci satu per satu, kontribusinya sangat dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

    Lebih dari sekadar pejabat, Sufiansyah dikenal sebagai sosok pemimpin yang humanis dan responsif.

    Umar yang juga merupakan warga Kecamatan Baamang menuturkan, almarhum kerap sigap membantu warga, terutama dalam hal pelayanan kesehatan.

    ”Beliau sangat cepat membantu apabila ada masyarakat yang sakit, yang perlu rujukan ke rumah sakit, atau sekadar berobat ke puskesmas. Respons beliau terhadap kebutuhan warga sangat luar biasa,” kenangnya.

    Di antara pelayat, sejumlah warga tampak saling berbagi cerita tentang kebaikan almarhum semasa hidup.

    Ada yang mengenang kepeduliannya, ada pula yang mengingat kesederhanaannya dalam bergaul tanpa memandang status.

    Bagi jajaran pemerintah daerah, kepergian ini menjadi kehilangan besar sekaligus pengingat akan pentingnya integritas dan pengabdian.

    Umar menegaskan bahwa semangat perjuangan almarhum akan terus dilanjutkan.

    ”Kami akan melanjutkan pengorbanan dan perjuangan beliau. Harapan kami, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan,” katanya.

    Prosesi pemakaman berlangsung khidmat hingga selesai. Gundukan tanah yang masih basah menutup liang lahat bertabur bunga. Ratusan doa dipanjatkan mengantar kepergian Sufiansyah, sekaligus meninggalkan jejak keteladanan yang akan terus dikenang di Bumi Habaring Hurung. (hgn/ign)

  • Buaya 1,5 Meter Terjerat Jala Warga di Jalan Iskandar Sampit, Sempat Picu Kebingungan Penanganan

    Buaya 1,5 Meter Terjerat Jala Warga di Jalan Iskandar Sampit, Sempat Picu Kebingungan Penanganan

    ​SAMPIT, Kanalindependen.id – Warga di sekitar Jalan Iskandar 25, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendadak gempar. Seekor buaya muara sepanjang 1,5 meter ditemukan terjerat jala ikan milik warga setempat, Marliansyah,  Jumat (27/3/2026).

    ​Peristiwa bermula saat Marliansyah menjala ikan di muara Sungai Marjan, anak Sungai Mentaya yang merupakan habitat buaya. Bukannya ikan, ia justru mendapati seekor buaya yang tersangkut di jaringnya.

    ​”Buaya itu sedang makan ikan yang terkena jala. Saat mulutnya menyambar, langsung tersangkut di jaring,” ujar Marliansyah.

    ​Lantaran khawatir dan tidak memiliki peralatan khusus, Marliansyah memutuskan membawa buaya tersebut ke rumahnya. Setibanya di pemukiman, keberadaan predator tersebut langsung menarik perhatian warga yang berkerumun karena penasaran.

    ​Muncul persoalan saat warga mencoba melaporkan temuan ini ke pihak berwenang. Proses penanganan sempat terhambat akibat ketidakjelasan wewenang antarinstansi terkait.

    ​Laporan awal diarahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), namun informasi yang diterima warga menyebutkan penanganan konflik satwa tersebut kini dikoordinasikan dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim. Hal ini sempat memicu kebingungan di lapangan mengenai siapa yang harus mengeksekusi evakuasi secara cepat.

    ​Guna menghindari risiko keamanan bagi warga maupun keselamatan satwa, seorang pecinta satwa liar di Sampit, Harry Siswanto, mengambil inisiatif untuk mengamankan buaya tersebut sementara waktu.

    ​”Kami amankan sementara untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, baik bagi warga maupun kondisi buayanya sendiri,” kata Harry.

    ​Saat ini, pihak komunitas tengah berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk pihak Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk menentukan langkah selanjutnya apakah satwa tersebut akan dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman atau dipindahkan ke tempat penangkaran.

    ​Konflik antara manusia dan satwa liar di bantaran Sungai Mentaya terus meningkat seiring menyempitnya habitat asli. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya sistem respons cepat dari otoritas berwenang guna mencegah jatuhnya korban di masa mendatang. (***)

  • Detik-Detik Terakhir Camat Baamang: Tetap Tersenyum di Tengah Sakit, Tinggalkan Pesan Perpisahan lewat Secarik Kertas

    Detik-Detik Terakhir Camat Baamang: Tetap Tersenyum di Tengah Sakit, Tinggalkan Pesan Perpisahan lewat Secarik Kertas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ketegasan sosok Sufiansyah sebagai pemimpin Kecamatan Baamang rupanya membungkus rapat rasa sakit yang ia tahan hingga embusan napas terakhir.

    Camat Baamang, Kotawaringin Timur, itu meninggal dunia di RSUD dr. Murjani Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.

    Berpulangnya birokrat yang lekat dengan sapaan hangat ini memukul batin banyak pihak. Kehilangannya merayap jauh melampaui sekat dinding keluarga, meresap ke tengah masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang pernah merasakan langsung sentuhan pelayanannya.

    Suasana ruang rawat inap di RSUD dr. Murjani Sampit pada Kamis (26/3/2026) siang, mulanya tampak tenang.

    Di ruang perawatan Cempaka, Sufiansyah masih sempat menyambut tamu-tamu yang datang membesuk dengan senyuman khasnya. Tidak ada yang menyangka bahwa senyuman itu adalah salam perpisahan.

    Di tengah kondisi yang terus menurun, Camat Baamang yang terbaring lemas dengan alat bantu pernapasan, masih menyempatkan diri menenangkan keluarga, hingga akhirnya menuliskan pesan perpisahan sebelum akhirnya berpulang, pukul 14.27 WIB, Kamis (26/3/2026).

    Kisah kepergian pria berusia 53 tahun itu diungkap langsung oleh adik kandungnya, Nanang Suriansyah, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur.

    Nanang mengungkapkan, kondisi almarhum sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan sebulan sebelum memasuki Ramadan 1447 Hijriah.

    Ia mengaku kehilangan selera makan dan mengurangi aktivitas di Kantor Kecamatan Baamang, karena tubuhnya sudah memberi sinyal bahwa kondisinya tidak baik-baik saja.

    Sekitar dua minggu memasuki Ramadan, ketika menghadiri safari di salah satu wilayah, mobilnya mogok. Dia sempat mencoba mendorongnya.

    Saat itulah, almarhum mengeluhkan rasa sakit di bagian tungkai paha bagian atas yang membuatnya agak sulit berjalan.

    Namun, di mata keluarga, ia tetap terlihat santai dan tidak pernah mengeluh berlebihan.

    Sifatnya yang tenang membuat orang-orang di sekitarnya tidak menyangka bahwa kondisi tersebut merupakan awal dari penyakit yang lebih serius.

    Memasuki Selasa (24/3/2026) sore, kondisi Sufiansyah mulai memburuk. Ia mengalami sesak napas hingga akhirnya dibawa ke salah satu dokter untuk mendapatkan bantuan uap atau nebulizer.

    Sempat diperbolehkan pulang, namun keluarga merasa kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele.

    Malam harinya, sekitar pukul 20.30 WIB, keluarga memutuskan membawa almarhum ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Di ruang IGD, almarhum menjalani observasi selama kurang lebih dua jam, termasuk pemeriksaan rontgen.

    Hasilnya menunjukkan adanya flek di paru-paru sebelah kiri. Dokter bahkan mengibaratkan kondisi paru-parunya seperti “baling-baling yang jalan sebelah”.

    Selain itu, ditemukan pula adanya cairan di paru-paru yang semakin memperburuk kondisi pernapasannya.

    Namun, fakta yang lebih mengejutkan baru diketahui beberapa waktu kemudian.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel darah yang diambil secara berkala, pada Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, dokter memastikan bahwa almarhum juga mengidap Tuberkulosis (TBC).

    Meski kondisi medisnya cukup serius, suasana di ruang perawatan pada Kamis pagi masih terasa hangat. Sekitar pukul 10.30 WIB, Bupati Kotim Halikinnor bersama istrinya, Khairiyah serta sejumlah pejabat lainnya, datang membesuk.

    Sufiansyah terlihat masih bisa tersenyum. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.00 WIB, giliran Wakil Bupati Irawati yang datang menjenguk.

    Saat itu ia masih tampak santai dan komunikatif meski hanya berinteraksi dengan isyarat gerakan tangan dan anggukan kepala.

    Tak ada tanda bahwa waktu yang dimilikinya tinggal menghitung jam. Sekitar pukul 14.05 WIB, Nanang sempat menawarkan makanan kepada sang kakak agar menambah tenaga.

    Nanang juga menanyakan apakah ada keluhan di bagian tubuhnya. Sufiansyah menggeleng tidak sakit perut, hanya mengakui rasa nyeri di dada. Namun, lagi-lagi, ia tetap menunjukkan ketenangan. Bahkan tersenyum di hadapan istri dan anak-anaknya.

    Lima menit berselang, tepat pukul 14.10 WIB, almarhum meminta kertas. Dengan tulisan tangan, ia menuliskan pesan singkat.

    ”Mau guring (tidur) istirahat,” katanya.

    Tak ada kata panjang, tak ada keluhan. Hanya sebuah kalimat sederhana yang kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga.

    Tak lama setelah itu, Nanang turun dari ruangan, sejenak membakar sebatang rokok. Namun, dalam hitungan menit, Feny anak almarhum memanggilnya kembali. Saat ia bergegas naik melalui lift, waktu seakan berjalan begitu cepat.

    Nanang tak sempat menyaksikan saudara kandungnya menghembuskan napas terakhir. Sufiansyah dinyatakan meninggal dunia pada pukul 14.27 WIB.

    Kepergian mendadak itu meninggalkan duka mendalam. Sufiansyah lahir di Kotawaringin Timur, 5 Desember 1972.

    Ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak mengeluh, bahkan dalam kondisi sakit. Ia juga disebut jarang mengonsumsi obat dan tidak memiliki riwayat penyakit turunan.

    Almarhum merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia meninggalkan seorang istri bernama Wiwit, serta tiga orang anak, yakni Yanti, Fenny, dan Reza.

    Rencananya, almarhum akan dimakamkan Jumat (27/3/2026) pagi sebelum waktu salat Jumat di Tempat Pemakaman Umum Keramat, Sampit.

    Bagi keluarga, kenangan tentang senyum terakhir dan pesan sederhana itu akan selalu melekat.

    Sebuah perpisahan yang singkat, namun menyisakan cerita panjang tentang ketegaran, keikhlasan, dan cinta yang tak sempat terucap sepenuhnya.

    ​Dikenang Karena Kebaikan

    ​Bupati Kotim Halikinnor yang terlihat menjenguk jasad Sufiansyah di rumah duka Jalan Cristopel Mihing juga menunjukkan raut wajah kesedihan dan duka mendalam.

    Halikinnor datang bersama istrinya. Duduk bersila menghadap jasad Sufiansyah yang terbujur kaku dalam balutan kain jarik bercorak batik. Wabup Kotim Irawati juga turut datang mendoakan kepergian almarhum.

    ”Kami atas nama pribadi dan keluarga dan atas nama Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, menyatakan turut berdukacita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke rahmatullah saudara kita Sufiansyah, Camat Baamang, Kabupaten Kotim,” kata Halikinnor, saat diwawancarai awak media usai mendoakan almarhum Sufiansyah.

    ​Menurutnya, Sufiansyah merupakan salah satu putra terbaik daerah Kotim yang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil dari beberapa jabatan dan terakhir menjabat sebagai Camat Baamang di Kecamatan Baamang.

    ”Untuk itu kita merasa kehilangan dan kita sama-sama berdoa semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosa dan kesalahannya,” ujarnya.

    ”Dan, kita juga berdoa mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan itu mendapat ketabahan, kesabaran, serta keikhlasan, sehingga insyaAllah beliau kita doakan husnul khatimah. Jadi sekali lagi, kami pemerintah daerah berdukacita yang sedalam-dalamnya karena kehilangan salah satu putra daerah terbaik kita yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur,” tambahnya.

    ​Halikinnor juga mengenal sosok almarhum sebagai sosok yang mudah bergaul dan tidak banyak mengeluh.

    ”Beliau orang yang supel bergaul. Kalian mungkin tahu sendiri karena beliau baik dengan pemuda, dengan yang tua, beliau bergaul. Makanya dia disenangi sebagai Camat di Baamang ini. Sudah cukup lama di Baamang karena diminta masyarakat di sini, karena dia mudah bergaul,” katanya.

    ”Dan banyak juga kiprah (beliau), untuk itu kami atas nama pemerintah daerah sekali lagi terima kasih atas jasa pengabdian beliau selama beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dan beliau masih belum memasuki pensiun, masih kurang lebih 2 tahun lagi. Tapi ya, Allah memanggil dan sudah saatnya beliau kembali. Sekali lagi kita doakan mudah-mudahan beliau husnul khatimah,” ujar Halikinnor. (hgn/ign)

  • Sungai Mentaya Bergejolak, Kelotok Muatan Sawit Nyaris Tenggelam

    Sungai Mentaya Bergejolak, Kelotok Muatan Sawit Nyaris Tenggelam

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Sebuah kelotok bermuatan buah kelapa sawit nyaris tenggelam di Sungai Mentaya, tepatnya di hilir Dermaga Sebamban, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kamis sore (26/3/2026).

    Peristiwa ini langsung menghebohkan warga setelah video detik-detik kejadian beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, kelotok tampak oleng dihantam gelombang sebelum hampir karam.

    Diketahui, kelotok tersebut milik seorang warga bernama Badri. Saat kejadian, kapal tengah mengangkut muatan buah kelapa sawit yang diduga baru saja dipanen dari wilayah Muara Babirah, Kecamatan Pulau Hanaut.

    “Kelotok tersebut bermuatan kelapa sawit dari Muara Babirah,” ujar Kasmiri Ikas, warga yang berada di lokasi sekaligus perekam video.

    Diduga, kondisi Sungai Mentaya yang tengah bergejolak disertai angin kencang menjadi pemicu utama insiden tersebut. Gelombang yang cukup tinggi membuat kelotok kehilangan keseimbangan, ditambah beban muatan yang berat.

    Beruntung, warga sekitar sigap melakukan upaya penyelamatan. Dalam video yang beredar, kelotok berhasil ditahan sehingga tidak sampai tenggelam sepenuhnya.

    “Alhamdulillah orangnya selamat,” kata Bachtiar, warga Samuda.

    Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski demikian, peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi para pengemudi kelotok agar lebih waspada saat melintasi Sungai Mentaya, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat. (***)

  • Camat Baamang Sufiansyah Meninggal Dunia: Langkah Terakhir yang Tertatih, Jejak Bakti yang Terukir Abadi

    Camat Baamang Sufiansyah Meninggal Dunia: Langkah Terakhir yang Tertatih, Jejak Bakti yang Terukir Abadi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ruang kerja Camat Baamang kini menyisakan keheningan. Kursi pimpinan itu resmi kosong setelah Sufiansyah mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit, Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.

    Kepergiannya memicu respons empati masif dari para kolega. Meninggalkan serangkaian jejak pengabdian yang membumi. Mulai dari lembar usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), angan-angan menata kawasan pasar, hingga pesan-pesan terakhir yang ia titipkan.

    Sufiansyah tumbuh menjadi birokrat bukan dari jalur instan. Ia merangkak menapaki hampir seluruh anak tangga pemerintahan dari akar terbawah.

    Bermula sebagai staf Kantor Cabang Dinas Perikanan, ia meniti jalan panjang menjadi kepala subbagian kepegawaian, kepala urusan pembangunan, lurah, sekretaris camat, hingga memimpin dua kecamatan berbeda.

    Tiga dekade perjalanannya membentuk satu filosofi khas. Jabatan adalah alat ukur tentang apa yang bisa dikerjakan untuk meringankan beban warga.

    Langkah Terakhir di Tengah Rasa Sakit

    Dedikasi Sufiansyah pada tugas kepemerintahan rupanya melampaui kondisi fisiknya. Kabar duka yang menyebar cepat di jaringan komunikasi perangkat daerah turut menguak memori tentang ketangguhannya di masa-masa terakhir.

    Lurah Baamang Barat, Arya Agus Wardhana, merekam jelas keteguhan tersebut. Pagi hari sebelum sang camat berpulang, sekitar pukul 10.30 WIB, Arya bersama Bupati Kotim Halikinnor dan sejumlah pejabat masih sempat menjenguk almarhum di ruang perawatannya.

    Menurut penuturan Arya, kondisi kesehatan Sufiansyah sebenarnya sudah mulai menurun sejak memasuki bulan suci Ramadan.

    Walaupun kondisi fisiknya membatasi ruang gerak sejak pertengahan Ramadan, ia tetap memaksakan diri datang ke kantor meski tak lagi mampu menuntaskan jam kerja secara penuh.

    Puncak pembuktian dedikasi itu terlihat saat kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Sampit. Fisik yang melemah tidak menyurutkan semangatnya untuk mendampingi agenda pimpinan daerah.

    ”Pada saat kunjungan kerja Gubernur di Sampit, beliau tetap berusaha hadir, meski sambil dibantu berjalan,” ujar Arya mengenang ketangguhan rekannya sesama abdi negara tersebut.

    Suara dari Genangan Air di Panggung Terakhir

    Mundur kurang dari dua bulan sebelum wafat, tepatnya Rabu (4/2/2026), Sufiansyah masih berdiri tegak memimpin Musrenbang RKPD tingkat Kecamatan Baamang. Forum tempat suara warga, kelurahan, dan desa se-Baamang bertemu dengan meja perencanaan daerah itu menjadi salah satu agenda publik terakhirnya yang terekam dalam pemberitaan.

    Infrastruktur dan jerit warga soal banjir mendominasi denyut aspirasi hari itu.

    ”Hasil Musrenbang dibacakan dari beberapa pokja, baik pokja ekonomi, dukungan pemerintahan dan kesejahteraan sosial, maupun pokja sarana dan prasarana,” kata Sufiansyah usai forum, seperti dikutip dari pemberitaan media.

    Perhatiannya tertuju lekat pada wilayah pelosok.

    ”Desa Tinduk memprioritaskan pembangunan jalan karena akses aspalnya memang belum tembus sampai ke desa, sehingga itu menjadi prioritas utama. Sementara kelurahan lain, pada tahun 2026 sudah cukup banyak kegiatan sapras yang dilaksanakan,” jelasnya memberikan arah kebijakan.

    Pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan menjadi beban pikiran utamanya. Perhatiannya tertuju pada pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan, yakni Jalan Walter Condrat, Kenan Sandan, dan Muchran Ali.

    ”Beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi ditambah pasang sungai menyebabkan genangan di sejumlah ruas jalan, khususnya di Baamang Tengah, seperti Jalan Al Kamal dan Jalan Cristopel Mihing di depan Panti Asuhan Bahagia. Drainase ini menjadi skala prioritas yang sangat penting,” ujarnya dengan penekanan kuat.

    Menghadapi keterbatasan kas daerah, ia memutar otak mencari jalan keluar pendanaan berlapis.

    ”Tidak semua aspirasi bisa dibiayai melalui APBD kabupaten. Nantinya, dinas teknis diharapkan dapat mengusulkan ke provinsi maupun pusat. Selain itu, kelurahan juga memiliki dana kelurahan yang bisa dimanfaatkan, bahkan melalui swadaya bersama masyarakat,” katanya memetakan solusi.

    Pasar Keramat dan Seruan Gotong Royong

    Hanya berselang lima hari, Senin (9/2/2026), figur pelayan masyarakat ini kembali memimpin serah terima sejumlah pejabat di lingkup Baamang. Momen krusial tersebut ia gunakan untuk menajamkan arah pelayanan publik dan penataan kawasan strategis.

    Pasar Keramat terucap spesifik dari bibirnya sebagai pekerjaan rumah bersama. ”Penataan Pasar Keramat harus dilakukan dengan koordinasi lintas sektor. Tidak bisa sendiri, harus melibatkan Satpol PP dan stakeholder terkait lainnya,” katanya.

    Terkait ancaman banjir, Sufiansyah menolak berpangku tangan pada mesin birokrasi dan terus membakar semangat warga.

    ”Beberapa hari lalu ada genangan di Pasar Al-Kamal dan Jalan Cristopel Mihing. Ini jadi pengingat bahwa drainase kita harus dibenahi bersama,” ujarnya.

    Pesan berikutnya adalah seruan aksi. ”Harus mengakomodir peran RT dan masyarakat. Gotong royong membersihkan drainase itu kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” tegasnya.

    Wasiat Pelayanan Sebagai Inti Pengabdian

    Bagi Sufiansyah, urat nadi pemerintahan adalah pelayanan itu sendiri. “Kami ingin memperkuat pelayanan pemerintahan wilayah Kecamatan Baamang, karena masih banyak yang kurang, terutama terkait sumber daya manusia dan sarana prasarana. Tujuan kami adalah meningkatkan pelayanan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

    Prinsip tersebut ia gaungkan tanpa lelah. Saat menutup prosesi sertijab pejabat kelurahan, ia melontarkan teguran halus yang kini penuh makna.

    ”Perubahan struktur aparatur bukan sekadar soal formasi personel, tetapi harus berdampak langsung pada kualitas layanan kepada masyarakat dan efektivitas pengelolaan wilayah,” kata Sufiansyah, Senin (9/2/2026), sebagaimana dikutip dari Kalteng Pos.

    Satu kalimat meluncur darinya, yang hari ini terasa bagaikan sebuah wasiat tak tertulis.

    ”Yang paling penting bukan siapa orangnya, tapi bagaimana pelayanan ke masyarakat berjalan maksimal dan wilayah tertata dengan baik,” katanya.

    Amanat itu ia kunci secara khusus kepada para ujung tombak pemerintahan. “Saya tekankan kepada lurah, terutama di Baamang Tengah dan Baamang Hilir, agar benar-benar fokus pada pelayanan masyarakat. Itu yang utama,” tegasnya.

    Tiga Dekade Jejak Pengabdian

    Ketulusan kalimat-kalimat tersebut lahir dari peluh mengabdi. Catatan resmi Badan Kepegawaian Negara (BKN) merekam langkah pertamanya berseragam abdi negara di Kantor Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur pada 1 Maret 1994.

    Kariernya bertumbuh dari bawah: Kepala Sub Bagian Kepegawaian Kecamatan Teluk Sampit (2008), Kepala Urusan Pembangunan Kelurahan Baamang Hilir (2012), Lurah Baamang Hulu untuk dua periode (2012 dan 2016), Sekretaris Kecamatan Baamang (2018), Camat Pulau Hanaut (2021), hingga kembali pulang memimpin Kecamatan Baamang sejak 1 Maret 2023.

    Gelar sarjana manajemen ia rengkuh dari STIE Sampit pada 2003, sebuah potret kegigihannya membagi waktu antara bangku kuliah dan tugas melayani warga. Puncak kepangkatannya tertulis sebagai Pembina Tingkat I, golongan IV/b, yang diraih pada 1 Oktober 2025—hanya lima bulan sebelum sang Khalik memanggilnya pulang.

    Sufiansyah telah merampungkan tugasnya di dunia. Sejumlah pekerjaannya masih tertinggal menanti wujud nyata. Sosok pekerja keras itu telah tiada.

    Namun, kalimat yang ia ucapkan pada 9 Februari 2026—hanya 45 hari sebelum ia wafat—akan terus menggema mengetuk nurani siapa saja yang kelak menduduki kursi kosong di kantor kecamatan tersebut. (hgn/ign)

  • Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    Kabar Duka dari Baamang, Satu Sosok Pergi, Banyak Kenangan Tinggal

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, Kamis (26/3/2026), suasana di Sampit mendadak berubah. Kabar yang awalnya beredar pelan di grup WhatsApp, perlahan menjalar membawa duka yang sama ke banyak hati. Camat Baamang Sufiansyah, dikabarkan meninggal dunia.

    Ia mengembuskan napas terakhir di RSUD dr Murjani Sampit, meninggalkan jejak panjang pengabdian di wilayah yang selama ini ia pimpin.

    Tak butuh waktu lama, kabar itu menyebar luas. Dari kantor pemerintahan, dari grup ASN hingga masyarakat biasa emua seperti tersentak oleh satu berita yang sama.

    “Benar , beliau baru saja meninggal dunia. Jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Cristopel Mihing, Baamang Hilir,” ungkap Rahmat Noor, salah seorang pemuda yang akrab dengan mendiang.

    Bagi warga Baamang, Sufiansyah bukan sekadar camat.
    Ia adalah wajah yang akrab di berbagai kegiatan mulai dari rapat, turun lapangan, hingga hadir di tengah masyarakat dalam berbagai persoalan.

    Dalam beberapa agenda dan kesempatan sebelumnya, ia masih terlihat aktif menjalankan tugasnya sebagai kepala wilayah. Ia hadir dalam kegiatan pemerintahan, bahkan ikut turun langsung ke lapangan dalam berbagai agenda pembangunan dan sosial.

    Karena itu, kabar kepergiannya terasa begitu mendadak. Belum banyak kata yang bisa menjelaskan perasaan hari itu. Hanya doa yang perlahan menggantikan percakapan.

    Ucapan belasungkawa mengalir, tak hanya dari kalangan pejabat, tapi juga masyarakat yang pernah bersinggungan langsung dengan almarhum.

    Sosoknya dikenal sederhana, dekat dengan warga, dan tak jarang memilih hadir langsung ketimbang sekadar memberi instruksi.

    Di RSUD dr Murjani, tempat ia mengembuskan napas terakhir, suasana haru tak terelakkan.
    Keluarga, kerabat, dan rekan kerja mulai berdatangan, membawa kehilangan yang sama meski dengan cerita yang berbeda-beda tentang dirinya.

    Kini, Baamang kehilangan satu putra terbaiknya. Namun kenangan tentang Sufiansyah tak akan ikut pergi.

    Ia tinggal dalam cerita, dalam jejak pengabdian, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. (***)

  • Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    Arus Balik Lebaran di Sampit Masih Sepi, Penumpang Kapal Belum Membeludak

    SAMPIT, kanalindependen.id – Arus balik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah melalui jalur laut di Pelabuhan Sampit mulai berlangsung. Namun, hingga Rabu (25/3/2026), pergerakan penumpang kapal yang tiba di Pelabuhan Sampit masih belum menunjukkan lonjakan signifikan.

    Meski Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta telah kembali beraktivitas usai libur panjang, jumlah penumpang kapal masih terpantau landai.

    Kondisi ini diduga dipengaruhi adanya “hari kejepit” di tengah pekan, di mana setelah beberapa hari masuk kerja, masyarakat kembali menghadapi libur akhir pekan.

    Selain itu, kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan pemerintah sebagai upaya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi mobilitas masyarakat.

    Tidak semua pekerja harus kembali ke tempat kerja dalam waktu bersamaan, sehingga arus balik tidak terjadi secara serentak.

    Faktor lain yang turut memengaruhi adalah masa libur sekolah yang belum berakhir. Kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai kembali pada Senin, 30 Maret 2026, sehingga sebagian masyarakat memilih menunda perjalanan kembali.

    Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan KSOP Kelas III Sampit yang juga menjabat sebagai Ketua Posko Angkutan Lebaran, Gusti Muchlis, mengungkapkan bahwa pada kedatangan kapal perdana arus balik, jumlah penumpang masih relatif sedikit.

    ”Untuk KM Lawit yang datang hari ini hanya mengangkut 189 penumpang,” ujarnya.

    Kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) tersebut, berlayar dari Pelabuhan Tanjung Emas dan tiba di Pelabuhan Sampit sekitar pukul 12.30 WIB.

    KM Lawit dijadwalkan kembali berangkat pada Kamis (26/3/2026) pukul 09.00 WIB dengan estimasi jumlah penumpang mencapai 1.195 orang.

    Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat menggunakan transportasi laut masih cukup tinggi, meski arus balik belum mencapai puncaknya.

    ”Biasanya arus balik lewat kapal tidak langsung padat. Jumlah penumpang meningkat secara bertahap. Selain itu, ada juga yang memilih menggunakan transportasi udara,” jelas Muchlis.

    Untuk jadwal berikutnya, KM Kirana III dijadwalkan tiba di Pelabuhan Sampit pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIB dari Pelabuhan Tanjung Perak.

    Kapal tersebut akan kembali diberangkatkan menuju Surabaya pada Jumat (27/3/2026) pukul 10.00 WIB.

    Namun, hingga saat ini, pihak KSOP belum menerima data pasti terkait jumlah penumpang KM Kirana III, baik yang tiba maupun yang akan berangkat.

    ”Jumlah penumpang masih menunggu laporan dari operator kapal. Biasanya akan diketahui setelah kapal sandar,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Warga Membeludak saat Sidak Disdukcapil, Wabup Kotim Menilai Kebijakan WFH Perlu Dievaluasi

    Warga Membeludak saat Sidak Disdukcapil, Wabup Kotim Menilai Kebijakan WFH Perlu Dievaluasi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menilai kebijakan Work From Home (WFH) pada instansi pemerintah perlu dievaluasi, khususnya pada instansi pemerintah yang memberikan pelayanan publik dengan kunjungan masyarakat yang cukup tinggi.

    Seperti misalnya layanan administrasi kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) dan layanan kesehatan di RSUD dr Murjani Sampit yang kerap ramai dikunjungi masyarakat.

    Penilaian tersebut disampaikan Irawati usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) serta RSUD dr Murjani Sampit guna memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.

    Di kantor Disdukcapil Kotim, Irawati mendapati jumlah pemohon administrasi kependudukan (Adminduk) membeludak.

    Warga memadati layanan untuk berbagai keperluan, mulai dari pembuatan KTP, pindah domisili, akta kematian, hingga administrasi pernikahan antarnegara.

    Namun, di sisi lain, jumlah petugas yang berjaga terpantau terbatas karena sebagian masih menjalankan sistem kerja WFH.

    ”Kantor pelayanan seperti Disdukcapil, Bapenda, Dinas Kesehatan, dan rumah sakit sebaiknya tidak menerapkan WFH. Tadi kita lihat staf yang masuk terbatas, sementara masyarakat yang datang sangat banyak,” tegas Irawati usai memantau layanan publik di hari pertama kerja usai libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah, Rabu (25/3/2026).

    Ia menyebut akan menyampaikan masukan tersebut kepada Bupati Kotim agar kebijakan WFH dan Work From Office (WFO) dapat dievaluasi, khususnya bagi instansi yang bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat.

    Selain persoalan SDM, Irawati juga menyoroti fasilitas ruang tunggu Disdukcapil yang dinilai kurang nyaman akibat suhu panas.

    Setelah dilakukan pengecekan, diketahui tiga unit pendingin ruangan (AC) mengalami kerusakan.

    Dia pun meminta perbaikan segera serta penambahan unit AC guna meningkatkan kenyamanan masyarakat saat mengakses layanan.

    Sementara itu, terkait ketersediaan blangko KTP, Irawati memastikan stok dalam kondisi aman.

    Masyarakat yang sebelumnya tertunda pencetakan KTP akibat kekosongan blangko diimbau segera mengurus kembali.

    Di lokasi berbeda, yakni RSUD dr Murjani Sampit, Irawati memastikan pelayanan kesehatan berjalan normal tanpa kendala berarti.

    Berdasarkan koordinasi dengan pihak rumah sakit, seluruh tenaga medis, termasuk dokter, dalam kondisi lengkap dan siap siaga.

    ”Alhamdulillah, pelayanan tidak ada kendala. Hari ini juga tidak terjadi lonjakan pasien yang signifikan, kemungkinan karena masih suasana libur panjang,” ujarnya.

    Meski demikian, pihaknya tetap mengantisipasi potensi lonjakan pasien pada awal pekan mendatang seiring kembalinya aktivitas masyarakat secara normal.

    Irawati juga mengapresiasi kebijakan rumah sakit yang tetap mengakomodasi pasien dari wilayah jauh seperti Antang Kalang dan Telawang. Pasien yang tidak mendapatkan kuota pendaftaran secara daring tetap dilayani melalui jalur manual.

    ”Tidak ada istilah tidak dilayani. Masyarakat dari jauh tetap kita prioritaskan, meskipun kuota online sudah penuh,” ujarnya.

    Irawati juga mengingatkan masyarakat, khususnya yang masih dalam perjalanan mudik atau liburan, untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak menambah beban pelayanan di fasilitas kesehatan.

    ”Jangan sampai pulang liburan malah sakit. Jaga kondisi fisik agar bisa kembali beraktivitas dengan produktif,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Ada Kritikan Pelayanan Kurang Ramah, RSUD Murjani Sebut Jadi Evaluasi Berbenah

    Ada Kritikan Pelayanan Kurang Ramah, RSUD Murjani Sebut Jadi Evaluasi Berbenah

    SAMPIT, kanalindependen.id – Keluhan masyarakat terkait sikap kurang ramah oknum petugas keamanan (satpam) dan staf administrasi di RSUD dr Murjani Sampit mendapat perhatian serius dari manajemen.

    Serangan kritikan itu justru ditanggapi bijak oleh manajemen sebagai bahan evaluasi untuk tak henti berbenah memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

    Direktur RSUD dr Murjani Sampit dr Yulia Nofiany, menegaskan bahwa setiap masukan yang disampaikan masyarakat dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan mutu layanan.

    ”Kami melihat kritik sebagai evaluasi untuk menjadi lebih baik. Terima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan perhatian. Artinya mereka peduli dan ingin kami terus berkembang,” kata dr Yulia Nofiany, Rabu (25/3/2026).

    Menindaklanjuti hal tersebut, manajemen telah menginstruksikan seluruh bidang untuk melakukan evaluasi kinerja secara berjenjang, terutama terhadap petugas yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

    Langkah pembenahan dilakukan melalui penguatan budaya melayani bagi seluruh pegawai, baik tenaga medis maupun non-medis.

    Selain itu, motivasi internal juga terus ditingkatkan agar seluruh staf mampu memberikan pelayanan prima di tengah tingginya ekspektasi masyarakat.

    ”Di tempat kerja, kita adalah pelayan masyarakat. Keramahan dan profesionalitas harus menjadi prioritas,” tegasnya.

    Dengan jumlah pegawai yang mencapai 826 orang dari berbagai profesi, dr. Yulia mengakui pengawasan secara menyeluruh tidaklah mudah.

    Oleh karena itu, pihaknya berharap masyarakat dapat menyampaikan kritik yang lebih spesifik agar penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

    ”Pelayanan di rumah sakit merupakan rangkaian panjang, mulai dari proses pendaftaran hingga pasien selesai mendapatkan layanan. Kritik yang disertai waktu, lokasi, dan kronologi kejadian akan sangat membantu dalam proses evaluasi kinerja,” ujarnya.

    Sebelumnya, persoalan sikap petugas di RSUD dr Murjani juga sempat menjadi perhatian pemerintah daerah.

    Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor bahkan pernah memberikan peringatan tegas, termasuk ancaman sanksi bagi pegawai yang tidak ramah dalam melayani masyarakat.

    Manajemen RSUD pun mengimbau masyarakat yang mengalami pelayanan kurang menyenangkan untuk segera melapor melalui bagian Humas dengan menyertakan informasi pendukung, seperti ciri petugas, waktu dan lokasi kejadian, serta kronologi singkat.

    ”Dengan laporan yang jelas dan terperinci, pihak rumah sakit memastikan setiap aduan dapat ditindaklanjuti secara efektif demi mewujudkan pelayanan yang lebih humanis dan profesional,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Tak Ada Lonjakan Pasien di Poliklinik RSUD dr Murjani Sampit: ”Alhamdulillah, Masyarakat Sampit dalam Kondisi Sehat!”

    Tak Ada Lonjakan Pasien di Poliklinik RSUD dr Murjani Sampit: ”Alhamdulillah, Masyarakat Sampit dalam Kondisi Sehat!”

    SAMPIT, kanalindependen.id – Usai libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, layanan poliklinik rawat jalan di RSUD dr Murjani Sampit terpantau tetap kondusif.

    Tidak seperti yang kerap terjadi pada momen pasca Lebaran, tahun ini justru tidak ditemukan lonjakan signifikan jumlah kunjungan pasien.

    Kondisi tersebut menjadi indikasi positif terhadap kesehatan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meskipun selama Lebaran identik dengan konsumsi makanan berlemak, manis, hingga minuman bersoda yang berpotensi memicu gangguan kesehatan.

    Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengatakan kunjungan pasien, khususnya di klinik penyakit dalam yang biasanya paling tinggi, tidak mengalami peningkatan pasca libur panjang.

    ”Biasanya kunjungan di klinik penyakit dalam itu paling tinggi. Namun menurut dokter kami yang bertugas, setelah libur Lebaran ini justru tidak sepadat hari normal. Alhamdulillah, ini menunjukkan masyarakat Sampit dalam kondisi sehat,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

    Dia menjelaskan, RSUD dr Murjani Sampit memiliki 23 layanan poliklinik rawat jalan dengan rata-rata kunjungan harian berkisar antara 300 hingga 500 pasien.

    ”Pada hari pertama buka layanan setelah libur Lebaran biasanya terjadi lonjakan. Namun hari ini justru tidak seramai hari normal,” ujarnya.

    Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Kesehatan RSUD dr Murjani Sampit, dr Anggun Iman Hernawan, menambahkan, berdasarkan analisa data, kunjungan pasien rawat jalan memang belum menunjukkan peningkatan.

    Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit per 25 Maret 2026, jumlah pasien rawat jalan tercatat sebanyak 291 orang.

    Kunjungan terbanyak berada di Klinik Penyakit Dalam dengan 66 pasien, disusul Klinik Syaraf dan Klinik Jantung masing-masing 35 pasien, serta Klinik Anak sebanyak 28 pasien. Sementara itu, kunjungan di klinik lainnya di bawah 20 pasien.

    ”Secara analisa, kunjungan pasien rawat jalan setelah libur Lebaran belum mengalami lonjakan. Rata-rata masih di angka 300 hingga 400 pasien per hari. Kecuali Kamis saat Klinik Rehabilitasi Medik buka, jumlahnya bisa mencapai 500 pasien,” jelasnya.

    Menurunnya angka kunjungan juga dipengaruhi belum beroperasinya seluruh layanan poliklinik. Dari total 23 klinik, saat ini baru 18 klinik yang aktif melayani.

    ”Untuk sementara Klinik Mata, Klinik Jiwa, dan Klinik Psikologi belum buka. Klinik Jantung buka terjadwal, sedangkan Poli Gizi melayani berdasarkan perjanjian,” terang dr Iman.

    Iman juga mengatakan, sejumlah layanan yang sempat vakum karena keterbatasan dokter spesialis akan segera kembali dibuka.

    ”Klinik Orthopedi dan Klinik Bedah Onkologi direncanakan mulai buka kembali per 1 April 2026. Sedangkan Klinik Bedah Vaskuler masih dalam proses kerja sama dengan RSUD Hanau,” katanya.

    Pihak rumah sakit berharap seluruh layanan poliklinik dapat segera kembali beroperasi secara penuh guna memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat Kotim. (hgn/ign)