Kategori: Ragam dan Peristiwa

  • Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    Saat Perayaan Usai, Ancaman Lama Kembali Menyala

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Lebaran baru saja berlalu. Riuh silaturahmi mulai mereda, jalanan yang sempat padat kembali lengang, dan aktivitas perlahan kembali ke ritme biasa. Namun di Kotawaringin Timur, ada sesuatu yang justru mulai kembali api.

    Siang itu, Rabu (25/3/2026), asap membumbung dari semak belukar di Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang. Tidak datang tiba-tiba. Ia seperti kelanjutan dari peringatan yang beberapa hari sebelumnya sudah disampaikan, namun belum benar-benar dirasakan.
    Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim turun ke lokasi, berjibaku menahan api agar tidak menjalar lebih luas di tengah kondisi lahan yang kering.

    “Titik kebakaran pertama sudah bisa diatasi pukul 15.23,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.

    Kata “terkendali” mungkin memberi rasa lega. Tapi di musim seperti ini, ia seringkali hanya berarti: untuk sementara.

    Sebab di balik satu titik api, ada banyak potensi lain yang menunggu giliran.

    Dalam 24 jam terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sejumlah hotspot di wilayah Kotim. Baamang hanya satu yang lebih dulu berubah menjadi kejadian nyata.

    Tak lama berselang, laporan lain masuk. Kali ini dari Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Titiknya masih dilacak, tapi sinyalnya jelas api mulai muncul di lebih dari satu lokasi, tepat setelah momen Lebaran berlalu.

    “Kami juga menerima laporan kebakaran dari arah Desa Eka Bahurui. Kami masih melacak titik koordinatnya,” kata Multazam.

    Kondisi ini sejalan dengan analisis BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah kini berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Cuaca kering, suhu panas, dan minimnya hujan menjadi kombinasi yang membuka ruang bagi api untuk tumbuh.

    Ironisnya, ini terjadi saat masyarakat baru saja melewati masa perayaan waktu di mana perhatian sering terpecah antara mudik, berkumpul, dan kembali ke rutinitas.

    Di sela-sela itu, potensi kebakaran sering luput dari perhatian.

    Padahal, di lahan gambut, api tak hanya menyala di permukaan. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, bergerak pelan, lalu muncul kembali di waktu yang tak terduga.

    BPBD kembali mengingatkan larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Imbauan yang hampir selalu terdengar setiap tahun, namun kerap tak cukup kuat untuk mencegah kejadian serupa.

    Dua titik kebakaran dalam satu hari, tepat setelah Lebaran, menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla tidak mengenal jeda perayaan.

    Justru sebaliknya ia sering datang ketika kewaspadaan mulai menurun.

    Dan seperti yang berulang tiap tahun, semuanya bisa dimulai dari api kecil di semak. Hingga akhirnya, menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar peringatan. (***)

  • Bukan Sekadar Satu Pelaku, 69 Janjang Sawit dan Dugaan Jaringan di Baliknya

    Bukan Sekadar Satu Pelaku, 69 Janjang Sawit dan Dugaan Jaringan di Baliknya

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Siang itu, kebun sawit di Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tampak seperti hari-hari biasa lengang, panas, dan nyaris tanpa aktivitas mencolok. Tapi justru di ruang yang sunyi itu, sebuah pola lama kembali berjalan.

    Seorang pria terlihat bolak-balik di antara barisan pohon sawit. Di pundaknya, janjang demi janjang diangkut menggunakan tojok. Ia bekerja cepat, berulang, seperti memahami betul kapan kebun sedang lengah. Ia adalah RD (39).

    Aksinya pertama kali terendus oleh petugas keamanan PT Sapta Karya Damai (SKD) saat patroli rutin, Senin (23/3) sekitar pukul 12.50 WIB di Blok J18 Divisi 11. Kecurigaan muncul bukan tanpa alasan pelaku tetap melanjutkan aktivitasnya meski telah ditegur.

    “Pelaku sempat diperingatkan, tetapi tidak mengindahkan. Itu yang membuat petugas curiga,” ujar Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko, Rabu (25/3/2026).

    Kecurigaan itu kemudian menemukan petunjuk lain. Di tepi parit, sebuah sampan (klotok) terparkir diam. Tak jauh dari situ, janjang sawit mulai tertumpuk di pinggir jalan blok seolah disiapkan untuk dipindahkan.
    Petugas tak langsung bergerak. Mereka memilih mengamati.

    Dari jarak sekitar 150 meter, RD masih terlihat keluar-masuk blok kebun, memanggul buah sawit dan menumpuknya di satu titik. Aktivitas itu berlangsung sekitar 20 menit cukup lama untuk memastikan bahwa ini bukan sekadar aktivitas biasa.

    Saat tim tambahan datang dan penyisiran dilakukan, semuanya berakhir cepat. RD keluar dari dalam blok sambil membawa tojok, lalu diamankan di dekat sampan tanpa perlawanan.

    Namun yang tersisa di lokasi justru membuka pertanyaan lebih besar.

    Sebanyak 28 janjang sawit ditemukan di pinggir jalan. Di lokasi lain, 41 janjang tambahan turut diamankan. Totalnya 69 janjang jumlah yang sulit diabaikan sebagai aksi spontan.

    Sampan yang digunakan menjadi petunjuk penting. Jalur parit diduga dipilih untuk menghindari pengawasan di akses darat cara lama yang berulang di banyak wilayah perkebunan.

    Di titik inilah, kasus ini tak lagi terlihat sederhana.
    Apakah RD bekerja sendiri? Atau hanya bagian kecil dari rantai yang lebih panjang?

    Polisi belum memberikan jawaban pasti. Namun penyelidikan masih terus berjalan untuk mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain di balik aksi tersebut.

    Pelaku kini telah diamankan dan dibawa ke Polres Kotawaringin Timur setelah melalui pendataan awal di kantor perusahaan. Ia dijerat Pasal 107 huruf d Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan serta Pasal 476 KUHP tentang pencurian.

    Di banyak kasus, pencurian sawit bukan sekadar soal satu orang yang tertangkap. Ia sering menjadi potongan kecil dari sistem yang bekerja dalam diam memanfaatkan luasnya kebun, celah pengawasan, dan jalur-jalur sunyi yang luput dari perhatian.

    Dan selama celah itu masih ada, cerita seperti ini hampir selalu menemukan cara untuk terulang. (***)

  • Kayu Jembatan Akses Kebun di Cempaka Mulia Barat Dicuri Maling, Warga Kehilangan Penghubung Hidup

    Kayu Jembatan Akses Kebun di Cempaka Mulia Barat Dicuri Maling, Warga Kehilangan Penghubung Hidup

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Di Jalan Poros Pertanian, Desa Cempaka Mulia Barat, sebuah jembatan kecil menyimpan cerita besar. Ia bukan sekadar lintasan kayu yang menghubungkan dua sisi. Ia adalah jalan pulang, jalan kerja, sekaligus harapan bagi warga yang menggantungkan hidup dari kebun.

    Kini, jembatan itu tak lagi utuh.

    Fathur Rahman, warga setempat, menjadi salah satu yang pertama menyadari ada yang berubah. Bukan karena ada pemberitahuan resmi, melainkan dari kabar yang beredar pelan di antara warga.

    “Ini jembatan di jalan poros pertanian Cempaka Mulia Barat. Untuk akses ke kebun masyarakat dan kebun buah,” ujarnya.

    Awalnya, informasi soal kerusakan jembatan itu terdengar seperti kabar biasa. Namun, setelah sekitar sebulan isu itu beredar, Fathur memutuskan untuk mengecek langsung. Apa yang ia temukan justru mempertegas kekhawatiran warga.

    “Pas saya balik mengecek, ternyata benar,” katanya singkat.

    Sejumlah kayu penyangga jembatan disebut sudah hilang. Bukan lapuk dimakan usia, melainkan diduga kuat dicuri. Dugaan itu bukan tanpa dasar, meski hingga kini belum ada bukti kuat yang bisa dibawa ke ranah hukum.

    “Saya sudah amati. Ada saksi juga, cuma memang kurang alat bukti saja,” ungkap Fathur.

    Pengakuan itu membuka satu persoalan yang lebih besar: lemahnya pengawasan terhadap infrastruktur yang justru vital bagi masyarakat desa. Di tempat yang jauh dari sorotan, kehilangan bisa terjadi tanpa suara dan dampaknya langsung terasa.

    Bagi warga, hilangnya kayu jembatan bukan sekadar kerugian material. Itu berarti risiko setiap kali mereka melintas. Jalan menuju kebun yang seharusnya menjadi rutinitas, kini berubah menjadi ancaman.

    Tidak ada garis pengaman. Tidak ada peringatan. Hanya sisa jembatan yang mulai rapuh, dan warga yang terpaksa tetap melintas karena tak punya pilihan lain.

    Lebih ironis lagi, hingga saat ini belum ada tanda-tanda penanganan dari pihak terkait. Tidak ada perbaikan, tidak pula penyelidikan terbuka. Seolah kehilangan itu terlalu kecil untuk dianggap penting.

    Padahal, bagi warga Cempaka Mulia Barat, jembatan itu adalah penghubung hidup.

    Ketika kayunya dicuri, yang ikut hilang bukan hanya struktur fisik melainkan rasa aman dan kepastian. Dan selama tak ada tindakan nyata, warga hanya bisa berharap: sebelum jembatan itu benar-benar runtuh, ada yang akhirnya peduli. (***)

  • Pantai yang Dicintai, Tapi Tak Dijaga, Kisah Lebaran di Ujung Pandaran

    Pantai yang Dicintai, Tapi Tak Dijaga, Kisah Lebaran di Ujung Pandaran

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Langit di Ujung Pandaran tetap sama biru yang luas, angin yang tak pernah benar-benar diam, dan ombak yang setia datang dan pergi. Tapi Lebaran tahun ini membawa sesuatu yang berbeda: manusia datang lebih banyak dari biasanya.

    Sejak hari H Idulfitri hingga H+3, arus wisatawan mengalir tanpa jeda ke pesisir Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Jalanan menuju pantai padat, area parkir meluber, dan garis pantai berubah menjadi hamparan manusia yang mencari jeda dari rutinitas.

    Di atas pasir, keluarga-keluarga membentang tikar. Anak-anak berlarian mengejar ombak, orang tua sibuk mengabadikan momen. Tawa terdengar di mana-mana, bercampur dengan suara debur laut. Ujung Pandaran kembali menjadi ruang pulang tempat orang-orang merayakan kebersamaan.

    Dari sisi ekonomi, denyutnya terasa. Penginapan di sekitar kawasan hampir tak menyisakan kamar kosong. Pelaku usaha kecil ikut kecipratan berkah. Libur Lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu menjadi musim panen bagi kawasan ini.

    Wakil Bupati Kotim, Irawati, yang turun langsung ke lokasi pada Selasa (24/3/2026), mengakui lonjakan kunjungan tahun ini lebih tinggi dibanding sebelumnya.

    “Kalau kita lihat langsung di lapangan, pengunjung memang jauh lebih ramai. Bahkan dari laporan pengelola, tingkat kunjungan meningkat dibanding tahun lalu,” ujarnya.

    Wisatawan yang datang pun tak lagi didominasi warga lokal. Beberapa di antaranya berasal dari luar Kalimantan dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Ujung Pandaran semakin dikenal, semakin dicari.

    Namun, di balik keramaian itu, ada cerita lain yang tak selalu masuk ke dalam foto-foto liburan.

    Di sela tikar dan jejak kaki di pasir, sampah mulai terlihat. Bungkus makanan, botol plastik, hingga sisa-sisa yang ditinggalkan begitu saja. Pola lama yang kembali berulang: datang untuk menikmati, pergi tanpa benar-benar peduli.

    Lonjakan pengunjung membawa berkah, tapi juga meninggalkan persoalan yang sama kesadaran yang belum ikut tumbuh.

    “Kami minta kesadaran bersama. Datang menikmati pantai, tapi jangan tinggalkan sampah. Minimal bawa kantong sendiri dan buang di tempat yang tersedia,” tegas Irawati.

    Di lapangan, petugas dan relawan tampak menyisir kawasan pantai, memunguti sampah satu per satu. Pekerjaan yang seolah tak pernah selesai, terutama saat jumlah pengunjung melonjak drastis.

    Ironisnya, pantai yang begitu dicintai justru perlahan dibebani oleh perilaku pengunjungnya sendiri.

    Ujung Pandaran kini berada di persimpangan: antara menjadi destinasi yang terus tumbuh atau kawasan yang pelan-pelan kehilangan daya tariknya karena tak terjaga.

    Sebab pada akhirnya, mencintai tempat seperti pantai bukan hanya soal datang dan menikmati. Tapi juga tentang bagaimana meninggalkannya tetap bersih, tetap layak, dan tetap indah untuk kembali. (***)

  • Remisi Lebaran untuk 509 Warga Binaan, Tujuh Narapidana Lapas Sampit Hirup Udara Bebas

    Remisi Lebaran untuk 509 Warga Binaan, Tujuh Narapidana Lapas Sampit Hirup Udara Bebas

    SAMPIT, kanalindependen.id – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momen penuh harapan bagi ratusan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit.

    Sebanyak 509 narapidana menerima remisi khusus, dan tujuh di antaranya langsung menghirup udara bebas setelah mendapatkan Remisi Khusus II, Sabtu (21/3/2026).

    Pemberian remisi tersebut merupakan bagian dari pemenuhan hak warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif sesuai ketentuan yang berlaku.

    Selain itu, remisi juga menjadi bentuk penghargaan atas sikap baik, kepatuhan, serta keikutsertaan dalam program pembinaan selama menjalani masa pidana.

    Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani, mengatakan bahwa remisi khusus Idulfitri merupakan momentum penting yang tidak hanya bermakna secara hukum, tetapi juga secara kemanusiaan.

    Menurutnya, Hari Raya Idulfitri menjadi saat yang tepat untuk menumbuhkan semangat baru bagi warga binaan agar terus memperbaiki diri.

    ”Remisi khusus Hari Raya Idulfitri ini adalah bentuk penghargaan negara kepada warga binaan yang telah menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Kami berharap remisi ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus mengikuti pembinaan dengan sungguh-sungguh dan mempersiapkan diri kembali ke masyarakat,” ujar Muhammad Yani.

    Berdasarkan data per 13 Maret 2026, jumlah warga binaan beragama Islam di Lapas Kelas IIB Sampit tercatat sebanyak 763 orang, terdiri dari 170 tahanan dan 593 narapidana.

    Dari total narapidana tersebut, sebanyak 509 orang dinyatakan memenuhi syarat dan menerima remisi khusus Idulfitri tahun ini.

    Rinciannya, untuk Remisi Khusus I sebanyak 171 orang. Dari jumlah tersebut, 151 orang menerima remisi 15 hari, sementara 20 orang lainnya memperoleh remisi 1 bulan.

    Kemudian pada kategori remisi lanjutan, terdapat 338 orang penerima, dengan rincian 296 orang mendapat remisi 1 bulan, 38 orang menerima 1 bulan 15 hari, dan 4 orang lainnya memperoleh remisi 2 bulan.

    Sementara itu, pada kategori Remisi Khusus II atau remisi yang langsung mengantarkan narapidana bebas, terdapat 7 orang penerima.

    Dari jumlah tersebut, 5 orang menerima remisi 15 hari, dan 2 orang lainnya memperoleh remisi 1 bulan.

    Muhammad Yani menegaskan, pemberian remisi bukan semata-mata pengurangan masa pidana, melainkan bagian dari proses pembinaan yang dirancang untuk membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan kesiapan warga binaan dalam menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

    ”Idulfitri adalah momen yang sarat dengan makna pengampunan, introspeksi, dan kesempatan untuk memulai lembaran baru. Bagi warga binaan, remisi ini bukan hanya pengurangan hukuman, tetapi juga pesan bahwa selalu ada ruang untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali menjadi bagian yang baik di tengah masyarakat,” katanya.

    Dia menambahkan, pihak lapas terus mendorong seluruh warga binaan agar aktif mengikuti program pembinaan kepribadian maupun kemandirian.

    Dengan demikian, masa pidana yang dijalani tidak hanya menjadi bentuk pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum, tetapi juga menjadi proses pembelajaran menuju kehidupan yang lebih terarah.

    Pemberian remisi khusus keagamaan pada momen Idulfitri juga menghadirkan suasana haru di lingkungan lapas.

    Bagi para penerima, remisi menjadi hadiah yang penuh makna di hari kemenangan. Terlebih bagi tujuh warga binaan yang langsung bebas, Idulfitri tahun ini menjadi titik awal baru untuk kembali ke keluarga dan menata masa depan dengan lebih baik.

    ”Melalui kebijakan ini, negara tidak hanya menjalankan fungsi pemidanaan, tetapi juga memperlihatkan sisi pembinaan yang humanis. Remisi menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem pemasyarakatan, yakni memberi kesempatan kepada warga binaan untuk berubah dan kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih siap, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Skandal Dana Hibah Kotim: Dari Proyek Titipan hingga Organisasi “Hantu”, Siapa Pejabat Bakal Terseret?

    Skandal Dana Hibah Kotim: Dari Proyek Titipan hingga Organisasi “Hantu”, Siapa Pejabat Bakal Terseret?

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tabir gelap yang menyelimuti sengkarut dana hibah organisasi kemasyarakatan (ormas) dan keagamaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) perlahan tersingkap.

    Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotim tidak lagi sekadar berhadapan dengan tumpukan berkas administrasi yang lemah, melainkan sebuah dugaan pola penyimpangan anggaran yang terstruktur.

    Informasi yang dihimpun mengungkap indikasi pola permainan anggaran. Dana yang semestinya menjadi urat nadi kegiatan sosial masyarakat diduga mengalami penyimpangan sejak fase pengusulan, pengesahan, hingga pencairan.

    Salah satu pintu masuk utama yang dimanfaatkan adalah “titipan anggaran” melalui pokok-pokok pikiran (pokir) anggota legislatif.

    Melalui skema ini, alokasi dana hibah mengalir deras, bukan kepada kelompok yang memiliki kebutuhan riil, melainkan diarahkan kepada nama-nama yang diduga telah disiapkan sebelumnya.

    Praktik ini semakin terang ketika penyidik menelusuri dugaan penerima fiktif. Sejumlah organisasi beserta pengurusnya tercatat menerima dana, namun nihil aktivitas nyata di lapangan.

    Saat diperiksa, beberapa pihak bahkan mengaku terkejut karena tidak pernah mengetahui adanya proposal yang diajukan atas nama mereka.

    ”Ini yang jadi persoalan serius. Ada yang tidak bisa mempertanggungjawabkan, bahkan ada yang merasa namanya dicatut,” ungkap seorang sumber internal yang mengetahui jalannya pemeriksaan.

    Rentetan temuan ini kian menguatkan indikasi bahwa dana hibah tidak sekadar salah sasaran, melainkan diduga telah beralih fungsi menjadi ajang bancakan.

    Anggaran yang semestinya menjadi urat nadi kegiatan sosial dan keagamaan, disinyalir berpindah lintasan melalui skema berlapis yang sengaja dibuat buram dari pengawasan publik.

    Bayang-bayang keterlibatan oknum pejabat politik disebut-sebut mulai terlihat jelas. Pengembangan penyidikan disebut mulai mengarah pada pihak-pihak yang memiliki peran strategis dalam proses penentuan anggaran daerah.

    ”Prosesnya panjang, karena yang diperiksa banyak dan saling berkaitan. Tapi, persoalan intinya sudah terang, tinggal bagaimana penegakan hukumnya. Nama-nama sudah ada, tinggal pembuktian lebih lanjut. Ini tidak mungkin berdiri sendiri,” sebut sumber internal tersebut, mengisyaratkan adanya aktor di balik layar.

    Rentetan temuan ini memantik reaksi keras publik. Aktivis antikorupsi sekaligus mantan Ketua HMI Kotim, Burhanurohman, menilai indikasi ini bukan lagi sekadar kesalahan prosedur administrasi.

    “Kalau benar ada hibah fiktif dan titipan anggaran, ini sudah masuk kategori penyalahgunaan kekuasaan,” tegasnya.

    Dia mengingatkan bahwa dana hibah mutlak milik publik dan bukan ajang kompromi atau berbagi jatah politik.

    Burhanurohman mendesak penegak hukum bergerak cepat, sebab penanganan yang berlarut hanya akan menghancurkan sisa kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dan legislatif.

    ”Kalau buktinya sudah mengarah, jangan ditahan-tahan lagi. Umumkan tersangkanya. Mau itu pejabat daerah atau oknum DPRD, harus dibuka. Jangan sampai publik menilai ada yang dilindungi,” tandasnya.

    Hingga saat ini, Kejari Kotim belum merilis pernyataan resmi mengenai identitas pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban. Publik masih menunggu langkah berani aparat untuk menyeret aktor utama di balik dugaan skandal ini ke ruang terang. (ign)

  • Maut di Alur Mentaya Sampit, Jejak Syahrir dan Pola Hilangnya Pekerja Kapal

    Maut di Alur Mentaya Sampit, Jejak Syahrir dan Pola Hilangnya Pekerja Kapal

    SAMPIT, kanalindependen.id – Sungai Mentaya kembali meminta nyawa. Tubuh Muh Syahrir mengapung kaku pada Senin pagi (23/3/2026), sekitar pukul 07.30 WIB, di perairan Terantang, Kecamatan Seranau.

    Tiga hari sebelumnya, anak buah kapal (ABK) tongkang BG Marine Jaya II itu hanya tercatat ringkas sebagai “korban hilang” dalam berita acara kapal dan laporan darurat pencarian.

    Rekaman kamera pengawas (CCTV) merekam jejak terakhirnya pada Kamis malam (19/3/2026) pukul 22.44 WIB, tepat saat gema takbir Idulfitri berkumandang.

    Syahrir terlihat naik turun tangga, berjalan perlahan ke arah buritan tongkang, lalu lenyap ditelan gelap.

    Kru kapal baru menyadari absennya sang rekan saat tongkang bersandar di rede Sampit. Kepanikan pecah, tetapi penyisiran awal di lambung kapal tak membuahkan hasil.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, membenarkan masuknya laporan insiden nahas tersebut.

    Tim SAR gabungan sempat menghentikan sementara penyisiran untuk menunaikan Salat Idulfitri sebelum kembali membelah pekatnya arus Mentaya.

    ”Jam 07.30 korban ditemukan oleh ABK kapal di Terantang dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Multazam saat dikonfirmasi wartawan.

    Penemuan jasad Syahrir oleh sesama pelaut dari kapal lain akhirnya menutup drama pencarian.

    Kabar duka ini mengoyak suasana Lebaran, sekaligus menambah daftar panjang pekerja yang diangkat dari dasar Mentaya menggunakan instrumen serupa: perahu karet, kantong jenazah, dan sirine ambulans di tepi dermaga.

    ABK Jatuh, Karam, dan Hilang

    Tragedi yang menimpa Syahrir sama sekali bukan insiden tunggal. Penelusuran Kanal Independen terhadap arsip pemberitaan menyingkap indikasi pola insiden serupa yang beberapa kali terjadi pada pekerja di alur sungai ini.

    Jarak antara ruang kerja dan ruang bahaya bagi para pelaut terbukti amat tipis.

    Agustus 2025 lalu, misalnya, tragedi serupa merenggut nyawa Bagus Isgiyanto. Berdasarkan catatan pemberitaan, ABK tongkang Karya Maju (TB Satria Raya) itu dilaporkan tergelincir dan tenggelam saat membersihkan tandon air kapal di perairan Kampung Teluk Tewah, Desa Luwuk Bunter. Jasadnya terperangkap arus bawah Mentaya.

    Mengutip laporan sejumlah media lokal pada periode tersebut, jasad Bagus akhirnya ditemukan sekitar pukul 17.55 WIB.

    Operasi penyisiran gabungan berhasil menemukan tubuh korban dalam radius sekitar 100 meter dari titik awal ia dilaporkan tenggelam.

    Jenazah Bagus kemudian dievakuasi ke RSUD dr Murjani Sampit untuk penanganan lebih lanjut.

    Pencarian dengan Arus Deras

    Rangkaian peristiwa ini merajut benang merah yang memilukan. Pekerja beraktivitas di geladak licin atau tepian kapal yang minim pagar pengaman, terpeleset jatuh ke sungai berarus deras, lenyap tak berjejak, lalu berujung pada penemuan jenazah dalam radius tak jauh dari titik jatuh.

    Dalam setiap operasi penyisiran di Mentaya, regu penyelamat selalu berhadapan dengan tabiat sungai yang tak pernah ramah.

    Dalam sejumlah keterangannya kepada publik terkait kecelakaan air di wilayah tersebut, pihak Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palangka Raya kerap menekankan bahwa kuatnya arus bawah dan keruhnya air menjadi kendala utama operasi tim SAR gabungan.

    Setiap kali laporan pelaut hilang masuk ke meja piket, detik itu pula perlombaan melawan waktu dimulai.

    Secara administratif, prosedur pencarian berjalan dengan kerangka yang seragam: tim menyisir dari hulu ke hilir, memetakan radius hingga hitungan kilometer, lalu menyusun target operasi harian.

    Namun, rentetan insiden jatuhnya pekerja membenturkan prosedur rapi tersebut dengan kondisi keras di lapangan.

    Catatan insiden memperlihatkan indikasi celah keselamatan. Dalam sejumlah laporan kecelakaan serupa, faktor seperti geladak licin, minimnya pagar pengaman, hingga penggunaan alat keselamatan (life jacket) yang tidak optimal kerap disebut sebagai penyerta yang mengiringi laporan pelaut hilang.

    Syahrir di Ujung Daftar

    Nama Muh Syahrir kini menjadi catatan terbaru dari pola tersebut. Rekaman CCTV merekam langkah terakhirnya di geladak, laporan otoritas mendokumentasikan proses pencariannya, dan media merekam evakuasi jasadnya.

    Setelah sirine ambulans mereda, namanya menambah deret panjang pekerja perairan yang gagal menyelesaikan jadwal kerjanya.

    Kompilasi insiden di alur Mentaya ini mungkin tidak merekam seluruh kecelakaan kerja yang luput dari pantauan publik.

    Namun, pola dari kasus-kasus yang mencuat memperlihatkan benang merah yang terang: celah keselamatan kerja di atas tongkang dan kapal tunda berhadapan langsung dengan arus bawah Mentaya yang tak terduga.

    Sebuah kombinasi fatal yang sewaktu-waktu siap menarik nama baru ke dasar sungai. (ign)

  • Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pencarian yang sempat terhenti saat gema takbir Idulfitri akhirnya berujung kepastian pahit. Muh Syahrir, anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang di Sungai Mentaya, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Minggu pagi (22/3/2026).

    Tubuhnya ditemukan sekitar pukul 07.30 WIB di wilayah Terantang. Bukan oleh tim penyelamat, melainkan oleh ABK kapal lain yang melintas di jalur perairan tersebut.
    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, memastikan temuan itu.

    “Jam 07.30 korban ditemukan oleh ABK kapal di Terantang dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.

    Penemuan ini menutup pencarian yang sebelumnya berlangsung dalam ritme terputus. Tim gabungan sempat menyisir perairan Sungai Mentaya sejak laporan hilangnya korban pada Kamis malam (19/3). Namun, operasi dihentikan sementara saat Salat Idulfitri, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.

    Syahrir sebelumnya dilaporkan hilang dari atas tongkang BG Marine Jaya II yang ditarik TB Ocean Marine 2. Rekaman CCTV menjadi petunjuk terakhir ia terlihat berjalan ke arah buritan kapal, lalu lenyap dari jangkauan kamera. Tidak ada saksi, tidak ada suara minta tolong. Hanya jeda, lalu kekosongan.

    Pencarian awal dilakukan kru kapal dengan menyisir badan tongkang hingga perairan sekitar. Hasilnya nihil. Upaya diperluas melibatkan tim gabungan, namun waktu berjalan lebih cepat dari pencarian itu sendiri.

    Dua hari kemudian, sungai mengembalikan tubuhnya.
    Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan. Jenazah Syahrir dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

    Di tengah suasana hari raya yang identik dengan kepulangan dan pertemuan, kabar ini justru datang sebagai kehilangan. Sungai Mentaya, yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga, sekali lagi menyisakan cerita yang tak sepenuhnya terjawab. (***)

  • Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam-malam terakhir Ramadan biasanya diisi gema takbir dan persiapan menyambut Hari Raya. Namun di tepian Sungai Mentaya, suasana itu terasa berbeda. Ada satu nama yang terus dipanggil dalam diam: Muh Syahrir.

    Ia adalah anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang dari sebuah tongkang di perairan Mentaya. Hingga Sabtu (21/3), keberadaannya masih menjadi tanda tanya.

    Kamis malam (19/3/2026) sekitar pukul 22.44 WIB, rekaman CCTV di atas tongkang BG Marine Jaya II merekam aktivitas terakhir Syahrir. Ia terlihat naik turun tangga, lalu berjalan ke arah buritan bagian paling belakang kapal. Setelah itu, ia tak lagi terlihat.
    Tak ada teriakan. Tak ada saksi.

    Beberapa jam berselang, Jumat dini hari (20/3/2026) sekitar pukul 01.07 WIB, kru kapal mulai menyadari ada yang tidak beres. Saat tongkang bersandar di rede Sampit, Syahrir tak ditemukan di mana pun. Pencarian awal dilakukan di seluruh bagian kapal dari ruang akomodasi hingga dek luar. Hasilnya nihil.

    Pencarian kemudian melebar. Kapten kapal memerintahkan penyisiran ke arah Luwuk Bunter mulai pukul 01.40 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Upaya itu dilanjutkan kembali hingga pagi, namun jejak Syahrir tetap tak ditemukan.

    Di darat, tim gabungan juga bergerak. Posko didirikan, koordinasi dilakukan. Namun hingga kini, hasilnya masih sama: Syahrir belum ditemukan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya masih menunggu langkah lanjutan setelah Salat Idulfitri.

    “Masih belum terkonfirmasi ditemukan. Kami tetap bersiaga di posko dan akan koordinasi lanjutan dengan tim SAR setelah Salat Id,” ujarnya.

    Keputusan menunda lanjutan pencarian hingga setelah Salat Id menyisakan pertanyaan. Di satu sisi, ini adalah momen besar keagamaan. Namun di sisi lain, waktu adalah faktor krusial dalam operasi pencarian.

    Di tengah gema takbir yang mulai berkumandang, ada keluarga yang menunggu kabar yang tak kunjung datang. Ada harapan yang bertahan, meski terus diuji.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah hilangnya seorang ABK. Ia membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sistem keselamatan kerja di atas kapal dijalankan? Mengapa tidak ada yang mengetahui saat seseorang menghilang di area terbuka seperti buritan?

    Dan sejauh mana pengawasan benar-benar dilakukan, terutama pada malam hari?

    CCTV memang merekam. Tapi rekaman itu baru disadari setelah semuanya terjadi.

    Kini, Sungai Mentaya kembali tenang di permukaan. Namun di balik arusnya, ada cerita yang belum selesai. Tentang seorang pekerja yang hilang di penghujung Ramadan dan tentang pencarian yang masih terus berjalan, di antara takbir dan harapan. (***)

  • Libur Lebaran Rawan Insiden, Ketua DPRD Kotim Tekankan Nihil Kecelakaan di Lokasi Wisata

    Libur Lebaran Rawan Insiden, Ketua DPRD Kotim Tekankan Nihil Kecelakaan di Lokasi Wisata

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang musim libur dan perayaan hari besar keagamaan, keselamatan pengunjung di objek wisata kembali disorot.

    Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rimbun, mengingatkan agar pengelola tidak hanya mengejar ramai pengunjung, tetapi juga memastikan standar pengamanan benar-benar berjalan di lapangan.

    Rimbun mendorong setiap pengelola wisata di Kotim menyiapkan petugas khusus untuk mengantisipasi dan menangani potensi kejadian darurat.

    Menurutnya, kehadiran personel yang memiliki kemampuan penanganan kedaruratan, seperti dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau tenaga terlatih lainnya, menjadi kebutuhan penting, terutama di lokasi yang berisiko tinggi.

    ”Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Kami menekankan agar setiap objek wisata menyiapkan petugas, baik dari BPBD atau tenaga sejenis yang memiliki kemampuan penanganan darurat,” ujarnya.​

    Dia menegaskan, langkah tersebut diperlukan untuk meminimalisir risiko kecelakaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

    Hal itu dinilai sangat penting saat musim libur panjang atau hari besar keagamaan, karena jumlah pengunjung di berbagai titik wisata meningkat signifikan.

    ”Kami menekankan supaya zero accident di wisata-wisata kita bisa benar-benar terwujud, baik di pantai maupun wisata buatan,” tegasnya.​

    Rimbun juga mengingatkan, pengelola tidak boleh hanya fokus pada aspek kenyamanan dan daya tarik semata.

    Standar keselamatan wajib dipenuhi, mulai dari penyediaan alat keselamatan, pemasangan rambu peringatan di titik-titik rawan, hingga prosedur penanganan darurat yang jelas dan bisa segera dijalankan jika terjadi sesuatu.

    Selain kesiapan di tingkat pengelola, ia mendorong adanya koordinasi lintas instansi.

    Dinas terkait, aparat keamanan, hingga relawan diminta terlibat aktif untuk memastikan kesiapsiagaan di setiap objek wisata yang berpotensi ramai dikunjungi.

    ”Ini perlu kolaborasi semua pihak. Jangan sampai ada kejadian yang tidak diinginkan baru kita bertindak. Pencegahan harus menjadi prioritas,” katanya. (ign)