Kategori: Ragam dan Peristiwa

  • Peserta Pawai Takbiran di Sampit Tahun Ini Lebih Sedikit, Wabup Kotim Ungkap Penyebabnya

    Peserta Pawai Takbiran di Sampit Tahun Ini Lebih Sedikit, Wabup Kotim Ungkap Penyebabnya

    SAMPIT, kanalindependen.id – Suasana malam kemenangan menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berlangsung khidmat sekaligus meriah.

    Bupati Kotim Halikinnor secara resmi melepas rombongan Pawai Takbiran yang dipusatkan di depan Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kotim, Jumat (20/3/2026) malam

    Semarak takbiran menggema di sepanjang rute pawai yang diikuti puluhan rombongan dari berbagai elemen masyarakat.

    Meski jumlah peserta tahun ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, antusiasme warga tetap tinggi dalam menyambut malam Idulfitri.

    Wakil Bupati Kotim, Irawati, menyebutkan, jumlah peserta pawai takbiran tahun ini mencapai sekitar 80 rombongan.

    Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang menembus lebih dari 100 peserta.

    ”Kemungkinan karena ada perbedaan. Sebagian masyarakat Kotim ada yang Lebaran 20 Maret hari ini, ada juga warga Kotim yang Lebaran tanggal 21 Maret. Kita dengar, tadi malam sebagian masyarakat juga sudah ada yang melaksanakan pawai takbiran. Tapi apa pun itu, yang penting bagaimana ibadah kita lancar dan diterima oleh Allah SWT,” ujar Irawati.

    Dia menegaskan, esensi pawai takbiran bukan sekadar jumlah peserta, melainkan sebagai sarana meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta kecintaan kepada Allah SWT.

    Selain itu, Irawati berharap momentum Idulfitri dapat menjadi ajang mempererat persatuan dan keharmonisan masyarakat di Kotim.

    ”Mudah-mudahan tahun depan pesertanya lebih banyak lagi, dan tidak ada perbedaan antara Muhammadiyah maupun NU,” tambahnya.

    Pejabat Kotim Buka Pintu Silaturahmi

    Dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri, jajaran Pemerintah Kabupaten Kotim juga mengundang masyarakat untuk bersilaturahmi melalui agenda open house yang digelar pada hari pertama Lebaran, Sabtu (21/3/2026).

    Tiga pejabat daerah dipastikan membuka kediamannya untuk masyarakat, yakni Rumah Jabatan Bupati Kotim, Rumah Jabatan Wakil Bupati Kotim, dan Rumah Jabatan Sekretaris Daerah Kotim.

    Kegiatan open house dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB, dan terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

    ”Silakan datang, kami mengundang seluruh masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur untuk bersilaturahmi di hari yang fitri,” pungkas Irawati. (hgn/ign)

  • Ajang Flexing Tebar Pesona, Jelang Lebaran Toko Emas di Sampit Diserbu Pembeli

    Ajang Flexing Tebar Pesona, Jelang Lebaran Toko Emas di Sampit Diserbu Pembeli

    SAMPIT, kanalindependen.id – Fenomena berburu perhiasan emas jelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah sudah menjadi tradisi di Kota Sampit.

    Kendati harga melambung tinggi, emas justru menjadi simbol gaya hidup sekaligus ajang flexing untuk tebar pesona saat momen silaturahmi Lebaran.

    Toko-toko emas pun diserbu pembeli. Salah satunya Toko Emas Mitra Baru di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) yang setiap hari dipadati pengunjung dari pagi hingga sore.

    Harga emas logam mulia bahkan memecah rekor. Untuk perhiasan kadar 999 atau 24 karat kini menembus Rp 2.550.000 per gram, sementara emas batangan murni merek Antam mencapai Rp 3.150.000 per gram.

    ”Untuk emas batangan atau logam mulia murni merek Antam sekarang di posisi Rp 3.150.000 per gram, sedangkan emas perhiasan kadar 999 Rp 2.550.000 per gram,” ujar Muliana Sari, anak pemilik Toko Emas Mitra Baru, Rabu (18/3/2026).

    Selain Antam, tersedia juga emas batangan dari Galery 24 seharga Rp 3.100.000 per gram, UBS dan Emasku di kisaran Rp 2.950.000 per gram, serta emas batangan lokal sekitar Rp 2.550.000 per gram. Namun, untuk sementara stok emas batangan lokal belum tersedia.

    Tak hanya emas batangan, perhiasan emas berbagai kadar juga menjadi incaran.

    Mulai dari kadar 999 seharga Rp 2.550.000 per gram, kadar 750 Rp 2.500.000, kadar 700 Rp 2.050.000, hingga kadar 375 Rp 1.180.000 per gram.

    Menariknya, tingginya harga tidak menyurutkan minat masyarakat. Justru, emas kadar tinggi seperti 999 tetap menjadi favorit karena dinilai menguntungkan sebagai investasi sekaligus menunjang penampilan.

    ”Walaupun harga emas tinggi, emas 999 dan kadar lainnya masih jadi primadona. Karena kalau dijual lagi harganya juga tinggi, jarang orang jual emas rugi, kecuali beratnya berkurang karena pemakaian,” jelasnya.

    Dalam sepekan terakhir, harga emas terpantau stabil tanpa gejolak berarti, meski secara tren tahunan terus mengalami kenaikan. Bahkan, peluang penurunan harga dinilai kecil.

    ”Kalau turun paling sekitar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu per gram, itu pun jarang terjadi. Umumnya tiap tahun terus naik,” tambahnya.

    Lonjakan pembelian semakin terasa menjelang Lebaran, dengan perbandingan transaksi sekitar 80 persen pembelian dan hanya 20 persen penjualan.

    ”Selama seminggu menjelang Lebaran sampai H-1, pengunjung meningkat. Lebih banyak yang membeli, mungkin untuk dipakai saat silaturahmi ke rumah keluarga dan kerabat,” ujarnya.

    Pantauan di lapangan, tiga toko utama Mitra Baru yang saling terhubung dipenuhi pembeli hingga membuat etalase emas nyaris tak terlihat karena kerumunan. Sementara toko keempat yang khusus menjual perhiasan emas putih terlihat lebih lengang.

    Sebanyak 25 karyawan yang mengenakan seragam peach tampak sibuk melayani pembeli tanpa henti, bahkan saat menjalankan ibadah puasa.

    ”Karyawan kami ada 25 orang, itupun masih kewalahan karena pengunjung datang silih berganti dari pagi sampai sore,” ungkap Muliana Sari, putri kedua Darsani.

    Lonjakan aktivitas ini berdampak langsung pada omzet penjualan yang meningkat drastis dibanding hari biasa.

    ”Kalau hari biasa sekitar 5 sampai 6 ons, selama Ramadan hingga menjelang Lebaran bisa mencapai kurang lebih 1 kilogram emas terjual, dengan persentase 80 persen membeli dan 20 persen menjual,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Takbir berkumandang. Pagi itu, Sabtu (20/3/2026) suasana Idulfitri terasa khidmat di Perguruan Muhammadiyah Sampit.

    Di atas mimbar, Khatib Salat Idulfitri, HM Fatchurrahman, tidak hanya mengajak jamaah merayakan kemenangan. Ia justru mengajak untuk bertanya tentang apa yang tersisa setelah Ramadan pergi.

    “Kita baru saja menunaikan ibadah puasa Ramadan, bulan yang mulia dan sangat dirindukan orang beriman,” ucapnya.

    Namun ia tak berhenti pada pujian.
    Ramadan, kata dia, bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga bulan pendidikan. Tempat manusia dilatih menahan diri bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari segala yang dilarang.

    Masalahnya, semangat itu tak selalu bertahan.
    Di awal Ramadan, masjid dan musala penuh. Saf-saf rapat. Namun perlahan, jumlah jamaah menyusut. Hingga di sepuluh malam terakhir yang justru paling istimewa sebagian orang malah sibuk di pusat perbelanjaan.

    Padahal di situlah letak inti Ramadan.
    “Malam yang lebih baik dari seribu bulan justru sering terlewatkan,” sindirnya halus.

    Kini Ramadan telah pergi.
    Pertanyaannya, apakah nilai-nilainya ikut pergi?
    Dulu, selama sebulan penuh, umat Islam rela menahan diri. Tapi setelah itu, apakah masih mampu menahan diri dari yang haram?

    Ia mengingatkan, larangan Allah bukan hanya berlaku saat Ramadan.

    Mengutip Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik, serta menjaga setiap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
    Lebih jauh, ia mengajak jemaah untuk merenung lebih dalam.

    Seakan Ramadan berbicara.
    “Apakah kalian masih menjaga tangan kalian setelah aku pergi?”

    Pertanyaan itu bukan tanpa makna. Sebab pada akhirnya, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi.

    “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan,” ujarnya, mengutip QS Yasin ayat 65.

    Tak hanya itu, Ramadan juga seakan bertanya: apakah kita masih menjaga pandangan, pendengaran, dan hati?
    Selama sebulan, semua itu dijaga. Tapi setelahnya, sering kali kembali longgar.

    Padahal, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
    Ia juga menyinggung kebiasaan baik selama Ramadan bersedekah, membantu sesama, mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Hal-hal yang sering kali perlahan ditinggalkan setelah bulan suci berlalu.

    Jangan sampai, katanya, Al-Qur’an yang dulu sering dibaca justru kalah oleh layar gawai. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan nyata.

    Dalam satu kalimat yang terasa menampar, ia menggambarkan Ramadan seperti tamu.

    “Aku hanya pulang, namun aku seperti tamu yang tidak diharapkan kembali.”

    Sebuah sindiran, sekaligus pengingat.
    Bahwa semangat Ramadan seharusnya tidak berhenti di hari kemenangan.

    Di akhir khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk berdoa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang tengah dilanda musibah.

    Ia memohon agar umat tetap diberi kekuatan untuk istiqamah, menjaga iman, dan kembali dipertemukan dengan Ramadan di masa mendatang.

    Idulfitri, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan.
    Ia adalah titik awal. Pertanyaannya sederhana tapi sering dihindari: setelah Ramadan pergi, apa yang benar-benar kita bawa?(***)

  • Danau Tak Terkelola Jadi Tempat Liburan, Nyawa Jadi Taruhan

    Danau Tak Terkelola Jadi Tempat Liburan, Nyawa Jadi Taruhan

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Airnya tenang. Sekilas terlihat aman.

    Di beberapa sudut Kota Sampit, danau-danau itu kini berubah wajah. Dari bekas galian C yang dulu ditinggalkan, kini menjelma menjadi tempat wisata dadakan. Orang datang, anak-anak bermain, keluarga berkumpul.

    Tak banyak yang tahu atau mungkin tak banyak yang mau tahu apa yang tersembunyi di balik permukaan airnya.

    Kedalamannya tak selalu terukur. Dasarnya tak selalu rata. Dan pengawasannya, sering kali, nyaris tak ada.
    Libur Lebaran hanya akan memperbesar semuanya: jumlah pengunjung, tingkat keramaian, dan tentu saja risiko.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyebut pihaknya tidak ingin kecolongan lagi. Pengalaman awal tahun 2026 menjadi pengingat yang sulit dilupakan.

    Seorang anak berusia 12 tahun meninggal dunia akibat tenggelam di lokasi wisata air.

    Sebuah tragedi yang seharusnya cukup untuk membuat semua pihak berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya seaman apa tempat-tempat ini?

    “Kami mempersiapkan diri, bukan hanya di Ujung Pandaran, tapi juga di lokasi wisata dalam kota, terutama wisata air,” ujar Multazam.

    Namun kesiapan itu tampaknya masih harus berpacu dengan kenyataan di lapangan.

    BPBD hanya menyiagakan 12 personel khusus pada hari kedua dan ketiga Lebaran di titik-titik rawan. Sementara di luar itu, petugas tetap siaga 24 jam di posko menunggu laporan, menunggu kejadian.

    Jumlah yang terasa kecil jika dibandingkan dengan potensi lonjakan pengunjung di banyak titik sekaligus.

    Sementara itu, tidak semua lokasi wisata memiliki pengelolaan yang memadai. Beberapa memang sudah dikelola, tapi tak sedikit yang dibiarkan tanpa kontrol.

    Tanpa standar keselamatan. Tanpa pembatas area berbahaya. Tanpa pengawasan yang jelas.

    Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal kesiapan BPBD semata.

    Ini soal siapa yang bertanggung jawab.

    BPBD sendiri mengakui, banyak kejadian di wisata air berawal dari kelalaian. Entah dari pengunjung yang abai, atau pengelola yang tidak benar-benar menyiapkan sistem pengamanan.

    Padahal, ketika sebuah tempat dibuka atau dibiarkan menjadi ruang publik, maka keselamatan seharusnya menjadi prioritas, bukan pilihan.

    BPBD berharap ada kolaborasi dengan sukarelawan dan masyarakat. Mereka juga meminta pengelola wisata untuk menambah personel pengawasan.
    Namun harapan saja tak cukup jika tidak diikuti tindakan nyata.

    Sebab ketika danau-danau tak terkelola itu terus dipadati pengunjung, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kenyamanan liburan.

    Melainkan nyawa. (***)

  • Saat Hilal Tak Terlihat, Perbedaan Kembali Tak Terelakkan

    Saat Hilal Tak Terlihat, Perbedaan Kembali Tak Terelakkan

    Kanalindependen.id – Malam itu, keputusan kembali diambil. Bukan tanpa perhitungan, bukan pula tanpa perdebatan.

    Di balik meja Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama RI, Kamis (19/3/2026), berbagai data dikumpulkan, laporan dibacakan, dan hasil pengamatan dari seluruh penjuru Indonesia disampaikan satu per satu. Namun ujungnya sama: hilal tak terlihat.

    Dari 117 titik pemantauan, tak satu pun yang berhasil melihat tanda awal bulan Syawal itu.

    “Berdasarkan hasil hisab dan laporan rukyat, hilal belum memenuhi kriteria. Karena itu, 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada Sabtu (21/3/2026),” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar.

    Secara astronomis, posisi hilal memang masih berada di bawah ambang batas visibilitas yang ditetapkan pemerintah berdasarkan standar MABIMS. Tingginya belum cukup, elongasinya belum memenuhi syarat. Dengan kata lain, Syawal belum bisa dimulai setidaknya menurut metode ini.

    Namun di luar ruang sidang, keputusan itu bukan satu-satunya.

    Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan Idulfitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Metode yang digunakan berbeda: hisab dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Tanpa menunggu terlihatnya hilal, perhitungan matematis sudah memberikan kepastian.

    Dan seperti yang sudah-sudah, Indonesia kembali berada di dua tanggal.

    Perbedaan ini bukan hal baru. Ia hadir hampir setiap tahun, menjadi semacam “ritual lain” menjelang Lebaran. Bagi sebagian orang, ini membingungkan. Bagi yang lain, ini sudah menjadi bagian dari dinamika.

    Di satu sisi, ada rukyat pengamatan langsung terhadap hilal. Di sisi lain, ada hisab perhitungan ilmiah yang tak bergantung pada cuaca atau visibilitas.

    Keduanya punya dasar. Keduanya punya pengikut.
    Pemerintah pun kembali menyampaikan imbauan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: menjaga toleransi.

    Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal kapan dirayakan. Tapi bagaimana perbedaan itu disikapi.
    Karena ketika hilal tak terlihat, yang sering kali justru paling tampak adalah perbedaan itu sendiri. (***)

  • Menjelang Lebaran, Pusat Belanja di Sampit Kian Padat, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Ratusan Miliar

    Menjelang Lebaran, Pusat Belanja di Sampit Kian Padat, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Ratusan Miliar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang Idulfitri, denyut ekonomi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur terasa makin cepat.

    Pasar-pasar penuh sejak pagi, aroma kue kering bercampur suara pedagang yang tak berhenti menawar. Uang mengalir deras di tengah hiruk-pikuk itu. Diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah selama Ramadan hingga Lebaran.

    ”Tahun ini pembeli ramai sekali, terutama sejak dua minggu terakhir,” ujar Rahmat Noor, Ketua UMKM Kotim, Kamis (19/3).

    ”Makanan, kue kering, sampai kebutuhan hari raya semua laku. Tapi harga bahan juga naik,” tambahnya.

    Data Bank Indonesia menunjukkan, kebutuhan uang tunai di Kalimantan Tengah selama Ramadan dan Lebaran tahun ini mencapai sekitar Rp3,28 triliun.

    Dari jumlah itu, Kotim kebagian porsi signifikan: antara Rp500 hingga Rp800 miliar. Tambahan arus uang juga datang dari Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara di Kotim yang mencapai Rp35,6 miliar, belum termasuk tenaga swasta.

    Para pelaku usaha menyebut, Ramadan dan Lebaran ibarat musim panen singkat. Dalam kondisi normal, perputaran ekonomi di Kotim sekitar Rp3 triliun per bulan.

    Ketika Lebaran tiba, pergerakannya bisa melonjak hingga 30 persen, setara tambahan Rp900 miliar yang berputar di pasar, toko, dan pusat perbelanjaan.

    Namun, bagi pedagang kecil, derasnya uang bukan berarti rezeki melimpah. Kenaikan harga bahan baku membuat banyak UMKM berhitung lebih hati-hati.

    ”Kalau harga bahan naik, kami serba salah. Mau dinaikkan takut pelanggan kabur, tapi kalau ditahan, untung tipis sekali,” kata Rahmat.

    Uang yang berputar cepat itu sebagian besar habis untuk sembako, pakaian, dan kebutuhan hari raya.

    Namun, ia menegaskan, banyaknya uang yang beredar tidak selalu berarti masyarakat lebih sejahtera. ”Uang memang lebih banyak berputar, tapi itu karena kebutuhan meningkat. Bukan berarti masyarakat punya uang lebih,” jelasnya.

    Setelah Lebaran, sirkulasinya kembali menurun, meninggalkan ruang bagi para pelaku ekonomi kecil untuk kembali bertahan dengan strategi lama. (ign)

  • Harga Naik Gila-gilaan, Warga Sampit Tetap Borong Emas Jelang Lebaran

    Harga Naik Gila-gilaan, Warga Sampit Tetap Borong Emas Jelang Lebaran

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Harga emas boleh saja melonjak tinggi, tapi satu hal yang sulit dibendung: keinginan tampil “lebih” saat Lebaran.

    Di sudut-sudut toko emas di Kota Sampit, terutama di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM), suasana justru semakin ramai. Kilau etalase seolah tak pernah sepi dari tatapan, bahkan ketika harga per gramnya sudah bikin dahi berkerut.

    “Naiknya lumayan drastis. Dibanding hari biasa, penjualan naik sekitar 30 persen. Kalau mendekati Lebaran, bisa tembus 40 persen,” ujar Muliana Sari, pengelola toko emas, Rabu (18/3/2026).

    Angka itu bukan sekadar statistik. Ia hidup dalam antrean, dalam percakapan ringan di depan etalase, dalam keputusan spontan membeli meski harga tak lagi bersahabat.

    Harga emas sendiri masih bergerak liar, mengikuti pasar global. Sempat melonjak, kini sedikit melandai. Tapi jika dibandingkan tahun lalu, lonjakannya terasa “tidak main-main”.

    Emas 999 yang dulu berada di kisaran Rp1,6 jutaan per gram, kini sudah menyentuh Rp2,5 jutaan. Selisihnya lebih dari 60 persen.

    Logikanya sederhana: harga naik, pembeli turun. Tapi yang terjadi di Sampit justru sebaliknya.

    “Tidak terlalu berpengaruh. Walaupun mahal, orang tetap beli,” kata Lia, sapaan akrab Muliana.

    Fenomena ini menarik. Jika biasanya perbandingan pembeli dan penjual emas ada di angka 60:40, kini berubah drastis menjadi 80:20. Artinya, lebih banyak orang datang untuk membeli ketimbang melepas perhiasan mereka.

    Ada sesuatu yang lebih dari sekadar transaksi di sini.
    Bagi sebagian warga, khususnya perempuan, emas bukan hanya soal nilai. Ia adalah simbol tentang kesiapan menyambut hari kemenangan, tentang kepercayaan diri saat bersilaturahmi, bahkan tentang “status kecil” yang ingin ditampilkan tanpa banyak kata.
    Fitriani, salah satu pembeli, mengaku sengaja menyisihkan THR-nya untuk membeli emas.
    Bukan tanpa alasan.

    “Saya beli emas supaya uang THR tidak habis untuk belanja saja. Jadi bisa jadi simpanan juga,” ujarnya.

    Di tengah budaya konsumtif jelang Lebaran, keputusan itu terasa seperti jalan tengah: antara ingin tampil dan tetap berpikir jangka panjang.

    Data per 13 Maret 2026 menunjukkan harga emas di Sampit memang sedang tinggi. Emas Antam tembus Rp3,15 juta per gram, UBS di Rp2,95 juta. Sementara emas perhiasan seperti 999 di Rp2,55 juta, dan kadar lebih rendah seperti 375 berada di kisaran Rp1,18 juta.

    Namun di balik angka-angka itu, ada pola yang sulit diabaikan: emas tak lagi sekadar barang mewah. Ia sudah menjadi “alat bertahan”.

    Ketika kebutuhan meningkat, harga naik, dan godaan belanja Lebaran tak terhindarkan emas justru dipilih sebagai cara menyelamatkan nilai uang.

    Di Sampit, kilau emas bukan hanya soal gaya. Tapi juga tentang cara masyarakat berdamai dengan kondisi ekonomi dengan cara mereka sendiri. (***)

  • Saat Jalan Tak Lagi Aman, Kecelakaan di Kota Besi Sisakan Duka

    Saat Jalan Tak Lagi Aman, Kecelakaan di Kota Besi Sisakan Duka

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Jalan yang setiap hari dilalui, tak selalu menjanjikan keselamatan. Rabu pagi (18/3/2026), suasana di Jalan Tjilik Riwut KM 17, Kelurahan Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, berubah menjadi duka setelah kecelakaan lalu lintas merenggut satu nyawa.

    Peristiwa terjadi sekitar pukul 08.30 WIB, melibatkan satu unit sepeda motor Honda Supra tanpa nomor polisi dan sebuah mobil pikap Grandmax warna silver bernomor polisi KH 8271 BR.

    Kecelakaan bermula saat sepeda motor yang dikendarai JS (35) melaju dari arah Kota Besi menuju Sampit. Di titik kejadian, korban diduga hendak berbelok ke kanan.

    Namun, manuver tersebut dilakukan tanpa memberikan isyarat atau menyalakan lampu sein. Di saat bersamaan, mobil pikap yang berada tepat di belakang tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar.

    Tabrakan dari arah belakang pun tak terelakkan.

    Benturan keras membuat korban terjatuh ke badan jalan. Nahas, korban kemudian terlindas dan mengalami luka serius di bagian wajah hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara.

    Sementara itu, pengemudi mobil pikap dilaporkan selamat tanpa mengalami luka.

    Petugas dari Polsek Kota Besi yang menerima laporan langsung menuju lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mengamankan area, serta mengumpulkan barang bukti.

    Penanganan juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama Satlantas Polres Kotawaringin Timur.

    Akibat kejadian tersebut, kerugian materil diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta, dengan kerusakan pada kedua kendaraan, terutama di bagian depan.
    Selama proses penanganan berlangsung, situasi di lokasi terpantau aman dan kondusif.

    Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa kelalaian sekecil apa pun di jalan raya bisa berujung fatal.

    Di tengah meningkatnya aktivitas berkendara menjelang Idulfitri, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati, mematuhi aturan lalu lintas, dan memastikan setiap manuver dilakukan dengan aman.

    Karena di jalan, satu detik lengah bisa berarti kehilangan yang tak tergantikan. (***)

  • Bencana Tak Menunggu, BPBD Kotim Pasang Status Siaga Penuh Sepekan

    Bencana Tak Menunggu, BPBD Kotim Pasang Status Siaga Penuh Sepekan

    SAMPIT, Kanalindependen.id  – Bencana tidak pernah memberi tanda pasti kapan datang. Kesadaran itu yang membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur memilih bersiap lebih awal bukan menunggu.

    Selama periode 18 hingga 25 Maret 2026, BPBD Kotim resmi memasang status siaga penuh. Pos Komando diaktifkan 24 jam tanpa henti, dengan sistem jaga bergilir dua shift dan tambahan 20 personel yang disiapkan sebagai kekuatan perbantuan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, memastikan kesiapsiagaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah konkret menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

    “Personel sudah kami atur. Posko aktif 24 jam, dan tim siap bergerak kapan saja dibutuhkan,” ujarnya.

    Status siaga bukan berarti menunggu. Di balik itu, seluruh unit rescue dan peralatan pendukung telah dipastikan dalam kondisi siap pakai.

    Perahu karet, kendaraan operasional, hingga perlengkapan water rescue disiagakan untuk merespons berbagai kemungkinan mulai dari banjir hingga kondisi darurat lain yang kerap muncul di masa peralihan cuaca.

    BPBD juga membuka akses pelaporan bagi masyarakat melalui nomor siaga darurat. Jalur ini menjadi bagian penting dalam mempercepat respons di lapangan.

    Kesiapsiagaan BPBD Kotim tidak dilakukan secara umum, tetapi berbasis pemetaan wilayah rawan.

    Pada 22 hingga 23 Maret, fokus pengamanan diarahkan ke wilayah pesisir Ujung Pandaran. Sebanyak 10 personel diterjunkan dengan dukungan dua unit perahu karet, kendaraan rescue, serta perlengkapan water rescue.

    Di saat yang sama, penguatan juga dilakukan di dalam Kota Sampit. Delapan personel disiagakan dengan dukungan perahu, kendaraan operasional, hingga enam unit water tank dan pompa pemadam.

    Tak hanya itu, sejak 20 hingga 25 Maret, tambahan 10 personel disiagakan di Kota Sampit dengan status mobile siap bergerak ke lokasi mana pun saat kondisi darurat terjadi.

     Langkah ini menjadi cerminan bahwa potensi bencana di Kotawaringin Timur bukan hal yang bisa dianggap sepele.

    Perubahan cuaca, kondisi geografis, hingga aktivitas masyarakat menjadi faktor yang membuat risiko selalu ada.

    Namun di tengah kesiapan aparat, ada satu hal yang tak kalah penting: kesiapan masyarakat itu sendiri.

    Tanpa kewaspadaan dan respons cepat dari warga, upaya penanganan bisa menjadi lebih berat.

     BPBD boleh menyiagakan personel dan peralatan selama sepekan penuh. Namun pada akhirnya, kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama.

    “Salam Tangguh, Salam Kemanusiaan,” menjadi penutup yang bukan sekadar slogan, tetapi pengingat bahwa setiap langkah antisipasi adalah upaya menjaga keselamatan banyak orang. (***)

  • Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Dishub Kotim Perkuat Sinergi Transportasi

    Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Dishub Kotim Perkuat Sinergi Transportasi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan komitmennya memperkuat sinergi lintas sektor demi mendorong kemajuan sistem transportasi yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Raihansyah, menyampaikan, sektor transportasi menjadi penopang utama perekonomian daerah. Karena itu, optimalisasi jalur laut, darat, dan sungai menjadi strategi yang terus didorong sejalan dengan program pemerintah pusat.

    ”Ini bentuk sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Raihansyah saat menghadiri undangan buka puasa bersama PT Dharma Lautan Utama (DLU) di Palace Ballroom, Aquarius Boutique Hotel Sampit, Kamis (12/3/2026).

    Menurutnya, penguatan distribusi kebutuhan pokok melalui jalur laut menjadi langkah strategis untuk menjaga kelancaran pasokan sembako. Dishub juga tengah mendorong pengembangan Pelabuhan Sampit agar lebih representatif, baik dari sisi pelayanan penumpang maupun pengelolaan arus barang.

    Raihansyah menuturkan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan manajemen PT Pelindo di Surabaya untuk memaparkan rencana pengembangan pelabuhan tersebut.

    ”Harapannya Pelabuhan Sampit bisa lebih tertata dan mampu mendukung aktivitas transportasi secara optimal,” ucapnya.

    Realisasi program di tahun 2026 juga mulai terlihat melalui sejumlah kegiatan bersumber dari APBN, antara lain pengerjaan pemagaran bandara serta pembangunan dermaga apung untuk mendukung operasional kapal.
    Menurut Raihansyah, program tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang menuju sistem transportasi daerah yang efisien dan berdaya saing.

    ”Kita tidak hanya berpikir saat ini, tapi juga 5 sampai 10 tahun ke depan,” tegasnya.

    Untuk sektor transportasi darat, Dishub Kotim membuka trayek baru bus DAMRI rute Sampit–Telaga Antang dengan tarif terjangkau sebesar Rp40 ribu.

    Jalur ini melintasi sejumlah desa dan ke depan akan dilengkapi dengan halte sebagai titik naik-turun penumpang. Pemerintah juga berencana mengusulkan perpanjangan rute hingga Pangkalan Banteng guna memperluas jangkauan layanan masyarakat.

    Sementara di sektor transportasi sungai, Dishub merencanakan pembangunan halte-halte sungai untuk mempermudah mobilitas masyarakat pedalaman yang bergantung pada jalur air.

    ”Ini menjadi solusi bagi masyarakat di daerah yang bergantung pada transportasi sungai,” jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Raihansyah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan transportasi, termasuk pelaku usaha dan agen ekspedisi yang berperan dalam menggerakkan roda perekonomian daerah.

    ”Saya berharap kolaborasi yang terjalin dapat semakin memperkuat posisi Kotim sebagai kota jasa yang didukung sektor transportasi yang andal. Saya ucapkan selamat, bertepatan 15 Februari lalu, PT DLU genap berusia ke-50 tahun. Kita doakan bersama, semoga perusahaan ini semakin maju, membawa manfaat bagi masyarakat serta terus bersinergi dengan pemerintah daerah,” tandasnya. (hgn)