Kategori: Berita Utama

  • Maut di Tanjakan Akap Seruyan: Jalur Predator Merenggut Tiga Nyawa, ”Mereka Tetangga Kami di Sampit”

    Maut di Tanjakan Akap Seruyan: Jalur Predator Merenggut Tiga Nyawa, ”Mereka Tetangga Kami di Sampit”

    KUALA PEMBUANG, kanalindependen.id – Kematian sering kali datang tanpa peringatan. Menyelinap di antara aspal curam perbukitan.

    Minggu sore (12/4/2026), maut itu menjemput satu keluarga asal Desa Derawa di tanjakan ekstrem Bukit Akap, kawasan Desa Gantung Pengayuh. Sebuah perjalanan pulang yang seharusnya berakhir tenang, terhenti secara tragis.

    Jarum jam menunjuk sekitar pukul 16.30 WIB ketika minibus yang mereka tumpangi mencoba menaklukkan perbatasan Seruyan Tengah.

    Tanjakan Bukit Akap dikenal tanpa kompromi. Di tengah kemiringan aspal, kendaraan itu mendadak kehilangan tenaga.

    Hukum gravitasi pun mengambil alih. Mobil nahas tersebut gagal menanjak, meluncur mundur tanpa kendali, dan menyudahi rutenya dalam sebuah benturan keras.

    Tiga penumpang tewas seketika di titik kejadian. Sementara itu, dua nyawa lainnya kini tengah bertaruh di fasilitas kesehatan terdekat, berjuang melewati masa kritis akibat luka berat.

    Kabar duka ini merambat cepat menembus batas kabupaten hingga ke Sampit, Kotawaringin Timur.

    Siah, salah seorang warga, memastikan identitas para korban yang tak lain adalah tetangga di lingkungan tempat tinggalnya.

    ”Mereka itu, tetangga kami di Sampit sini,” ucapnya lirih. Tiga warga Sampit itu kini telah tiada, meninggalkan duka yang mendalam bagi kerabat di Desa Derawa.

    Predator Diam di Jalur Lintas

    Kawasan Bukit Akap, atau yang kerap disebut Bukit Badung oleh para sopir lintas, memendam paradoks. Menawarkan jalur yang indah, sekaligus menyembunyikan ancaman.

    Tanjakannya yang ekstrem mensyaratkan presisi mutlak. Kondisi mesin yang prima dan konsentrasi yang tak boleh lengah sedetik pun.

    Aparat Kepolisian Seruyan masih menyisir lokasi, merangkai teka-teki apakah tragedi ini dipicu oleh beban muatan, kendala teknis mesin, atau murni kelalaian di balik kemudi.

    Namun, menyalahkan kondisi kendaraan semata sering kali hanya menyentuh permukaan masalah.

    Realitasnya, insiden yang terus berulang di Bukit Akap menelanjangi satu kenyataan tentang infrastruktur jalan antar-kabupaten.

    Medan curam di sana berdiri sebagai rute yang hampir tidak memberikan ruang toleransi bagi kesalahan teknis sekecil apa pun.

    Ketika nyawa kembali melayang di tanjakan yang sama, peristiwa ini memaksa pemerintah daerah untuk mengevaluasi ulang standar pengamanan jalan.

    Rambu peringatan di jalur ekstrem terbukti tidak lagi cukup untuk menahan laju maut. Tanpa rekayasa jalan yang lebih memadai bagi kendaraan bermuatan, Bukit Akap akan tetap menjadi predator diam yang siap menelan korban berikutnya di saat mesin kehilangan daya dorong.(***)

  • Ironi Sawit Kotim: Menelan Hampir Sepertiga Daratan, Menyisakan Remah Anggaran

    Ironi Sawit Kotim: Menelan Hampir Sepertiga Daratan, Menyisakan Remah Anggaran

    SAMPIT, kanalindependen.id – Jika kemakmuran hanya diukur dari hamparan hijau di atas peta, Kotawaringin Timur seharusnya tak tertandingi.

    Membentang 4.621 kilometer persegi, hampir sepertiga daratan kabupaten ini telah bersalin rupa menjadi kebun kelapa sawit yang mencetak 2,07 juta ton produksi pada 2024.

    Namun, kemegahan agribisnis penguasa daratan Kalimantan Tengah itu seketika runtuh saat disandingkan dengan buku kas daerah.

    Ketika jutaan ton minyak nabati terus dikeruk untuk pasar global, pundi-pundi Dana Bagi Hasil (DBH) untuk kas daerah justru dibiarkan mengering. Hanya menyisakan remah belasan miliar rupiah.

    Sawit meluas tanpa batas, namun grafik kesejahteraan justru terjun bebas.

    Analisis Save Our Borneo yang merujuk MapBiomas Indonesia 2024 menyingkap realitas muram. Luas kebun sawit Kotim diperkirakan telah melampaui sisa hutan alam.

    Dominasi sektor ini begitu mutlak, namun data Pemkab Kotim justru menyimpan deretan angka yang sulit dinalar.

    Dana Bagi Hasil (DBH) sawit untuk Kotim pada 2023 tercatat Rp46 miliar. Setahun berselang, angkanya merosot menjadi Rp41 miliar.

    Memasuki 2025, kucuran dana itu terjun bebas ke level Rp16,6 miliar. Hilang 60 persen hanya dalam dua tahun.

    Baca Juga: ”Tragedi” Sepertiga Daratan: Menjamu Raksasa, Mengemis di Rumah Sendiri

    Ironisnya, krisis kas ini terjadi di tengah lahan kebun yang terus meluas dan angka produksi yang tetap raksasa.

    Persoalannya melampaui urusan penyusutan kas daerah. Kepala BPS Kotim Eddy Surahman pernah melontarkan peringatan yang menunjukkan tekanan tak terlihat dalam angka kemiskinan semata.

    “Indeks kedalaman kemiskinan (2024) naik dari 0,75 menjadi 0,96, dan indeks keparahan kemiskinan dari 0,15 menjadi 0,24. Ini menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin makin jauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan di antara mereka makin melebar,” ujarnya, dalam pernyataannya 7 Juni 2025 lalu.

    Dalam periode berikutnya, persentase kemiskinan Kotim kembali merangkak naik, bergeser dari 5,66 menjadi 5,83 persen.

    Pohon sawit tumbuh menjulang, namun manfaatnya bagi warga belum terlihat merata.

    Nilai ekonomi raksasa ini jelas terukur di bursa komoditas. Satu-satunya hitungan yang tak pernah tuntas adalah seberapa banyak kekayaan itu benar-benar mengalir kembali ke tanah asalnya, dan berapa besar yang pergi tanpa jejak.

    Mesin Ekonomi yang Berputar

    Jejak data Kementerian Pertanian yang dikutip Databoks Katadata pernah menempatkan Kotim sebagai kabupaten dengan lahan sawit terluas di Indonesia.

    Untuk data 2024, posisinya terkonfirmasi sebagai pemilik kebun sawit terluas di Kalimantan Tengah. Menyumbang 26,68 persen total produksi provinsi, atau sekitar 2,07 juta ton berdasarkan data BPS dan Dinas Perkebunan Kalteng.

    Luas arealnya menyentuh 462 ribu hektare, dengan tren yang meningkat sejak 2020.

    Angka itu nyata di lapangan. Hampir sepertiga daratan Kotim kini ditutupi hamparan kelapa sawit yang tertanam rapi dari selatan hingga hulu.

    Sektor ini juga menjadi tumpuan utama urat nadi pekerja. Pertanian dan perkebunan tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar di Kotim.

    Hal itu merujuk data BPS Kotim per Agustus 2024 yang mencatat 94.164 orang, 45,14 persen dari seluruh penduduk bekerja, terserap di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan.

    Mengingat skala produksinya, sawit diindikasikan menjadi komponen dominan dalam sektor ini, meski angka khusus buruh perkebunan tidak dipublikasikan terpisah oleh BPS.

    Kontribusinya terhadap ekonomi daerah juga signifikan. Sektor pertanian dan perkebunan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar PDRB Kotim sepanjang 2015 hingga 2024 bersama industri pengolahan.

    Namun, satu angka tidak perlu estimasi. Dana bagi hasil.

    Kotim menerima DBH sawit Rp46 miliar pada 2023, turun menjadi Rp41 miliar pada 2024, lalu anjlok ke Rp16,6 miliar pada 2025.

    Proyeksi 2026 bahkan hanya Rp9 miliar. Kepala Bapenda Kotim Ramadansyah tidak menyangkal kenyataan itu.

    ”Semakin besar DBH sawit yang diterima, maka semakin banyak program infrastruktur yang bisa dilaksanakan,” katanya, 14 Januari 2026.

    Ketua DPRD Kotim Rimbun merespons keras.

    ”Ini sangat janggal. Kotim itu nomor dua se-Indonesia untuk luasan sawit, tapi bagi hasilnya hanya Rp16 miliar,” ujarnya, dalam pernyataannya 6 Agustus 2025 silam.

    Dia menegaskan, kernel sawit Kotim dikirim hingga ke Vietnam, namun kontribusi langsung ke kas daerah dirasakan sangat minim.

    ”Rp1.000 pun tidak ada yang masuk ke kas daerah,” tegasnya.

    Siapa yang Kebagian

    Hukum mewajibkan perusahaan menyisihkan 20 persen areal untuk kebun plasma masyarakat.

    Payung hukumnya jelas: UU Cipta Kerja, PP Nomor 26 Tahun 2021, hingga Perda Kalteng. Namun di Kotim, kewajiban itu bertahun-tahun lebih banyak hidup di atas kertas.

    Kondisi itu tercermin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Kotim yang berakhir tanpa garansi eksekusi, Senin (6/4/2026) lalu.

    Dari 28 perusahaan yang diundang, enam Perusahaan Besar Swasta (PBS) memilih absen. Rimbun yang memimpin rapat kecewa berat.

    ”Silakan yang tidak bisa mengambil keputusan meninggalkan ruangan rapat,” tegasnya saat menghadapi staf perusahaan yang hadir tanpa mandat strategis.

    Aliansi Masyarakat Plasma Sawit (Amplas) Kotim mewakili 32 koperasi dengan lebih dari 12 ribu anggota.

    Berdasarkan keterangan Koordinator Amplas Audy Valent, baru sekitar 10 koperasi yang telah diakomodasi untuk plasma.

    Dalam forum tersebut, disebutkan hanya satu perusahaan yang diklaim telah menjalankan kewajiban sesuai aturan.

    Audy Valent mengingatkan kembali janji pemerintah daerah pada 2025 soal progres plasma yang tak kunjung terealisasi.

    ”Jangan dianggap remeh permasalahan ini, karena menyangkut masyarakat banyak di pedalaman,” tegasnya.

    Amplas menyiagakan opsi pendudukan perusahaan sebagai bentuk protes warga yang merasa diabaikan.

    Dari sisi industri, Ketua GAPKI Kalteng Rizky D Djaya menyampaikan perspektif berbeda.

    ”Saat ini pun PBS itu bukan sedang baik-baik saja. Banyak aturan-aturan regulasi kita yang sangat membingungkan,” katanya.

    Dia memperingatkan bahwa tekanan yang tidak terukur bisa mengancam iklim investasi dan tenaga kerja lokal yang bergantung pada sektor ini.

    Paradoks ini terus menganga. Industri mengklaim menopang ekonomi, sementara kewajiban dasar terhadap masyarakat sekitar kebun belum tuntas dipenuhi setelah bertahun-tahun.

    Data Walhi Kalteng memperlihatkan ketimpangan itu. Dari sekitar 2,3 juta hektare sawit di provinsi ini, lahan plasma hanya mencakup sekitar 222 ribu hektare. Tidak sampai sepuluh persen.

    Tanah dalam Ketidakpastian

    Masalah legalitas turut memperkeruh situasi. Ketua DPRD Kotim Rimbun menyingkap tabir buram ini dalam pernyataannya pada 13 Maret 2025: ada 16 perusahaan sawit yang beroperasi tanpa mengantongi Hak Guna Usaha (HGU).

    Imbasnya tidak main-main. Potensi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang seharusnya mengalir ke kas daerah, tertahan hingga Rp800 miliar lebih.

    Gebrakan dari pusat sebenarnya sudah dimulai lebih awal. Berpijak pada Perpres Nomor 5 Tahun 2025 yang terbit pada 21 Januari, Satgas Penertiban Kawasan Hutan mulai memasang garis segel di lahan-lahan sawit yang dianggap menabrak kawasan hutan.

    Aksi pertama di Kotim pecah pada 7 Maret 2025. Lahan PT Agro Bukit seluas 3.798,9 hektare disita di bawah pengawasan sejumlah pejabat daerah.

    Akan tetapi, Walhi Kalteng mencium aroma anomali di balik operasi tersebut.

    Rilis Walhi pada Juli 2025 mencatat bahwa penyegelan di Kotim dan Seruyan tidak didasari koordinat dan luasan yang presisi.

    Ironisnya, lahan masyarakat adat dan petani kecil yang selama ini berkonflik dengan korporasi justru ikut terjepit garis segel. Bukan perusahaan besar swasta (PBS) yang menjadi sasaran utama.

    ”Ini bukan penertiban, tapi pemutihan korporasi dan legalisasi kejahatan lingkungan oleh negara,” tulis Walhi dalam rilis resminya.

    Forum RDP di DPRD Kotim pada April 2026 menyingkap fakta lain. BPN Kotim mengonfirmasi 14 perusahaan sedang berupaya mengajukan permohonan HGU.

    Nasib plasma masyarakat tersandera birokrasi ini. Sebagai syarat mutlak perpanjangan HGU, alokasi 20 persen itu akan terus menggantung selama legalitas lahan perusahaan belum tuntas.

    Ujung Rantai Ketimpangan

    Kotawaringin Timur adalah produsen raksasa. Produksinya terbesar di Kalimantan Tengah dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Namun, angka-angka itu tampak kontras dengan realitas di desa-desa lingkar kebun.

    DBH yang terus menyusut, kewajiban plasma yang mandek, hingga status lahan yang abu-abu menjadi potret yang belum terselesaikan.

    Pada 11 September 2025, warga dari 23 koperasi berdiri di depan Kantor Bupati membawa spanduk bertuliskan: “Perusahaan Diutamakan, Plasma Diabaikan. Ingin Masyarakat Sejahtera, Hanya Mimpi Komandan.”

    Kalimat itu adalah ringkasan paling jujur dari situasi yang berlangsung bertahun-tahun.

    Pohon sawit terus tumbuh, namun manfaat yang kembali ke daerah tak ikut tumbuh secara proporsional. Dan warga di pedalaman masih menunggu janji kesejahteraan yang belum sepenuhnya datang. (ign)

  • Labirin Digital Remaja Sampit: Ruang Gelap Grup Anonim yang Bergerak tanpa Pengawasan

    Labirin Digital Remaja Sampit: Ruang Gelap Grup Anonim yang Bergerak tanpa Pengawasan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ponsel itu hampir tak pernah lepas dari tangan mereka. Di warung kopi, di sudut kelas, hingga di kamar tidur setelah lampu dipadamkan.

    Bagi sebagian besar remaja di Sampit, dunia digital bukan lagi tempat yang mereka kunjungi; itu adalah tempat mereka tinggal.

    Secara kasat mata, tak ada yang ganjil. Penelusuran awal tim redaksi Kanal Independen menemukan sebuah grup media sosial lokal beranggotakan lebih dari seribu anggota, didominasi unggahan tanpa nama (anonim).

    Isinya beragam. Dari sekadar ajakan berkenalan hingga koordinasi pertemuan fisik yang sama sekali tak terdeteksi radar keluarga.

    Grup publik ini sejatinya hanya etalase. Pintu masuk sebelum percakapan digiring ke ruang yang lebih tertutup: aplikasi pesan terenkripsi dan grup tertutup yang lebih sulit dilacak dari luar.

    GRUP ANONIM: Tangkapan layar grup anonim yang ditemukan redaksi. Identitas disamarkan untuk melindungi privasi. (Kanal Independen)

    Ruang tertutup ini menjadi titik buta pengawasan keluarga. Tempat interaksi berlangsung tanpa saringan dan risiko tumbuh tanpa terdeteksi.

    ”Kita tidak tahu mereka ngobrol apa saja di dalam sana. Takutnya mereka terpengaruh hal-hal yang belum pantas sebelum waktunya,” ungkap seorang warga Sampit, mewakili kegelisahan kolektif yang kini merayapi para orang tua.

    Bukan Paranoia, tapi Fenomena Nasional

    Kegelisahan di Sampit itu nyatanya sangat beralasan. Apa yang terjadi di daerah ini mencerminkan fenomena yang juga menjadi perhatian secara nasional.

    Remaja kita saat ini rata-rata menghabiskan waktu hingga tujuh jam sehari menatap layar—sebuah durasi yang dicatat secara resmi oleh riset Kemkomdigi dan UNICEF (2024-2025).

    Dengan fakta bahwa lebih dari 80 persen anak Indonesia mengakses internet setiap hari, hampir seluruh waktu sadar mereka dihabiskan di jagat maya.

    Gelombang raksasa ini dikonfirmasi oleh survei APJII 2024. Mengutip Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, sebanyak 48 persen dari total 221 juta pengguna aktif internet di Indonesia adalah anak di bawah usia 18 tahun.

    Populasi itulah yang kini menjelajah tanpa pengawalan memadai. Ironisnya, kemudahan akses ini dibiarkan berjalan pincang.

    Survei YouGov pada Januari 2025 terhadap 892 orang tua di Indonesia memperlihatkan sebuah paradoks: 82 persen orang tua memberikan izin bermedia sosial, namun hanya 35 persen yang sungguh-sungguh memantau aktivitas anak secara berkala.

    Sisanya terpecah. Memberi izin lewat perangkat orang tua, menerapkan batasan waktu, hingga benar-benar melepas mereka tanpa kebijakan apa pun sama sekali.

    Sebenarnya, para orang tua tahu ada bahaya yang mengintai.

    Survei yang sama mencatat kekhawatiran mereka terhadap paparan konten dewasa (81 persen), kecanduan layar (74 persen), dampak kesehatan mental (70 persen), hingga penyebaran misinformasi (62 persen).

    Sayangnya, pengetahuan itu mengendap sekadar menjadi kekhawatiran, belum berubah menjadi tindakan preventif di rumah.

    Ancaman Eksploitasi di Balik Anonimitas

    Pola transisi dari ruang publik ke grup tertutup yang kami temukan di Sampit bukanlah anomali lokal, melainkan pola yang dalam literatur dikenal sebagai praktik grooming.

    Ini adalah proses manipulatif di mana pelaku membangun kepercayaan dengan anak secara bertahap demi tujuan eksploitasi.

    Pada platform anonim, predator tak perlu hadir secara fisik. Identitas palsu bekerja sempurna untuk memancing korban.

    Angka dampaknya sangat memukul. Komnas Perempuan mencatat lonjakan tajam Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) sepanjang 2024 dengan 1.791 kasus, naik 40,8 persen dari tahun sebelumnya.

    Lebih mengerikan lagi, laporan Disrupting Harm dari UNICEF mengestimasi sekitar 2 persen anak Indonesia—setara lebih dari setengah juta jiwa setiap tahunnya—mengalami eksploitasi seksual daring.

    Fakta paling kelamnya: 56 persen insiden ini tak pernah dilaporkan.

    Bukan karena tidak terjadi, tapi karena korban terlalu takut atau tak tahu harus mengadu ke mana. Angka-angka ini hanyalah ujung dari gunung es.

    Celah Hukum dan Pertahanan Terakhir

    Negara bukannya diam. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas) resmi berlaku mulai 28 Maret 2026.

    Aturan ini tegas melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun di platform berisiko tinggi seperti YouTube, TikTok, Instagram, hingga X. Ini bukan lagi wacana, melainkan hukum positif.

    Namun, jarak antara regulasi dan kenyataan di lapangan masih lebar.

    Regulasi negara hanya memagari platform terbuka, sementara percakapan paling berbahaya justru berlangsung di ruang privat yang luput dari jangkauan hukum, seperti WhatsApp yang tidak memiliki fitur pengawasan orang tua.

    Pertahanan paling efektif untuk mencegah grooming bukanlah pelarangan total yang justru membuat anak semakin cerdik bersembunyi, melainkan komunikasi terbuka.
    Orang tua di Sampit tak perlu menjadi ahli teknologi.

    Mereka hanya perlu hadir, mendampingi, dan rutin bertanya kepada siapa anak mereka bertukar pesan. Bagi yang menemukan tanda-tanda bahaya atau membutuhkan bantuan, layanan pengaduan Kementerian PPPA selalu terbuka melalui hotline SAPA 129 atau WhatsApp 08-111-129-129. (***/ign)

  • Tiga Rumah di Desa Batuah Seranau Ludes, Warga Berjibaku tanpa Dukungan Pemadam

    Tiga Rumah di Desa Batuah Seranau Ludes, Warga Berjibaku tanpa Dukungan Pemadam

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kepulan asap hitam pekat memecah rutinitas Minggu (12/4/2026) pagi di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Tepat pukul 09.30 WIB, kobaran api dengan beringas meratakan tiga bangunan tempat tinggal, merampas habis harta benda warga tanpa sisa.

    Tragedi ini menyimpan ironi yang getir. Saat lidah api mulai melahap dinding-dinding rumah, ketiga bangunan tersebut dalam kondisi tak berpenghuni.

    Para pemiliknya tengah berada di luar, entah bekerja maupun urusan lainnya, tanpa menyadari bahwa tempat bernaung dan hasil keringat mereka sedang dilalap api.

    Amuk si jago merah membesar dengan sangat agresif.

    Izai, salah seorang warga yang menjadi saksi mata detik-detik kehancuran tersebut, menuturkan bahwa tidak ada peringatan berarti sebelum api menguasai bangunan.

    ”Baru saja terjadi sekitar pukul 09.30 tadi. Ada tiga rumah yang terbakar,” ungkap Izai di tengah hiruk-pikuk dan kepanikan warga yang berupaya memadamkan kobaran.

    Pertahanan Swadaya di Seberang Sungai

    Peristiwa ini kembali membuka mata terkait kerentanan penanganan musibah di wilayah Kecamatan Seranau.

    Keterbatasan akses dan bentang sungai yang memisahkan desa dari pusat kota Sampit, membuat jangkauan armada pemadam kebakaran terhambat.

    Kondisi ini memaksa warga Desa Batuah untuk mengambil alih kendali.

    Dengan semangat gotong royong, mereka bahu-membahu menahan laju api bermodalkan ember, pompa air kecil, dan wadah penampung air seadanya.

    Kerja keras tersebut membuahkan hasil; api berhasil dikendalikan sebelum merembet ke permukiman lain.

    Meski tidak ada korban jiwa, dampak materiel yang ditimbulkan sangat telak.

    Karena rumah dalam kondisi kosong, praktis tidak ada barang berharga, mulai dari pakaian, surat berharga, hingga perabotan, yang berhasil diselamatkan. Semuanya kini menyatu dengan tanah dalam bentuk arang dan abu.

    Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan.

    Aparat desa setempat juga masih melakukan pendataan identitas korban, sembari menunggu kepulangan para pemilik rumah untuk mendapati kenyataan pahit tersebut.

    Di luar dugaan penyebab teknis, tragedi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk kembali memikirkan penguatan sarana pemadam api di desa-desa yang memiliki akses geografis sulit seperti Seranau. (***/ign)

  • Hitung Mundur Sampai Senin: Tagih Kasus Dugaan Gratifikasi Ketua DPRD Kotim, Ancam Aksi Lebih Besar di Polda Kalteng

    Hitung Mundur Sampai Senin: Tagih Kasus Dugaan Gratifikasi Ketua DPRD Kotim, Ancam Aksi Lebih Besar di Polda Kalteng

    PALANGKA RAYA, kanalindependen.id – Jarum jam mulai bergerak sejak Jumat sore. Aliansi Pemuda Kalteng Angkat Bicara (APKAB) menetapkan tenggat waktu 3×24 jam bagi Polda Kalimantan Tengah untuk menunjukkan progres nyata dalam pengusutan dugaan gratifikasi yang menyeret Ketua DPRD Kotawaringin Timur, Rimbun.

    Tenggat itu dihitung sejak aksi digelar Jumat (10/4/2026). Artinya, Senin (13/4/2026) adalah batas yang mereka tentukan sendiri.

    Ketua APKAB Muhammad Ridho menegaskan, langkah ini adalah bentuk kontrol sosial pemuda terhadap proses penegakan hukum di daerah.

    “Kami tidak ingin hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Semua pihak harus diperlakukan sama di hadapan hukum. Jika memang ada dugaan gratifikasi, maka harus diusut tuntas tanpa pandang bulu,” tegas Ridho.

    Aksi dan Tuntutan

    Massa APKAB menggelar aksi di depan Mapolda Kalteng mulai pukul 14.30 WIB. Aksi diwarnai pembakaran ban di depan gerbang Mapolda sebagai bentuk protes.

    Massa membawa sejumlah lembar cetakan pemberitaan daring yang berkaitan dengan laporan kasus yang kini ditangani Subdit III Tipikor.

    Dalam orasinya, massa menegaskan sikap tidak terjebak dalam konflik elite, tetapi fokus pada transparansi dan keadilan hukum.

    “Kami tidak ingin instrumen kerakyatan justru menjadi alat kekuasaan. Hukum tidak boleh dipermainkan oleh elit,” tegas salah satu orator.

    APKAB menyampaikan empat tuntutan. Pertama, mendesak proses penyelidikan berjalan serius, profesional, independen, dan transparan di Subdit III Tipikor, serta menolak segala bentuk intervensi politik.

    Kedua, menuntut keterbukaan informasi terkait dugaan maladministrasi dalam kasus yang dikenal sebagai “surat sakti.”

    Ketiga, menolak politisasi koperasi rakyat dan mendesak skema KSO 80:20 berpihak pada masyarakat adat dan petani.

    Keempat, mendesak pengusutan kasus secara menyeluruh dari hulu ke hilir, termasuk dugaan keterlibatan koperasi dan proses rekomendasi DPRD Kotim.

    Aksi berakhir kondusif setelah perwakilan massa diterima pihak kepolisian. Surat tuntutan ditandatangani perwakilan Polda, AKBP Telly Avinsih.

    “Kami menerima dari pihak aliansi. Mengenai perkara ini masih dalam proses, dan semua berjalan sesuai prosedur. Nanti perkembangan pasti akan kami sampaikan,” ujar AKBP Telly.

    Ia juga menyebut bahwa pihak terkait, termasuk koperasi yang disebut dalam perkara, telah beberapa kali dipanggil untuk dimintai keterangan.

    Lebih dari Sebulan di Meja Penyelidik

    Kasus ini bermula dari laporan Ormas Tantara Lawung Adat Mandau Talawang ke Polda Kalteng dan Kejaksaan Tinggi Kalteng pada 18 Februari 2026, menyusul polemik penerbitan dan pencabutan surat rekomendasi KSO antara sejumlah koperasi dengan PT Agrinas Palma Nusantara.

    Laporan ditangani Subdit III Tipikor dan sudah masuk tahap penyelidikan. Sejauh ini penyelidik telah meminta keterangan dari pelapor dan melayangkan undangan klarifikasi kedua kepada sejumlah pengurus koperasi.

    Ketua DPRD Kotim Rimbun membantah seluruh tuduhan dan menyatakan siap menghadapi proses hukum sepenuhnya.

    Senin Jadi Penanda

    Koordinator Lapangan APKAB, Andriyanto, menegaskan, bahwa gerakan ini adalah bentuk kontrol sosial pemuda Kotim terhadap isu-isu yang berkembang di daerah.

    ”Kami akan terus mengawal. Mata pemuda dan rakyat tidak akan berkedip melihat bagaimana hukum ditegakkan di tanah ini. Jika hari ini janji ‘Usut Tuntas’ hanya menjadi slogan, maka kami akan kembali dengan massa yang lebih besar,” tegasnya. (ign)

  • FOMO Kafe di Sampit: Sepertiga Gaji Menguap, Anak Muda Tersandera Eksistensi

    FOMO Kafe di Sampit: Sepertiga Gaji Menguap, Anak Muda Tersandera Eksistensi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Gelas Lia sudah kosong sejak setengah jam lalu. Ia tak memesan lagi, tak juga beranjak pulang.

    Perempuan 20 tahun itu tahu persis nominal yang telah menguap malam itu: Rp150 ribu.

    Angka itu setara upah lelah dua hari kerja, memotong gajinya yang mandek di angka Rp3,6 juta sebulan. Jauh di bawah batas aman UMK Kotawaringin Timur 2026 sebesar Rp3,75 juta.

    Namun, urusan tekor bisa dipikir besok. Prioritas malam ini: kursinya tetap terisi selama teman-temannya masih sudi bertahan.

    ”Kalau lagi ramai sama teman, ya bayar masing-masing. Kalau sudah tanggal tua, pindah ke kopi Rp20 ribuan. Yang penting tetap nongkrong,” katanya, baru-baru ini.

    Satu kalimat pendek meluncur dari bibirnya saat ditanya alasan bertahan di tengah impitan finansial. ”Kadang bukan soal mampu. Tapi takut ketinggalan.”

    Ironi Statistik yang Menampar

    Realitas Lia mengonfirmasi anomali tajam dalam catatan resmi pemerintah. Beban terberat dari gaya hidup ini secara ironis justru dipikul oleh mereka yang paling rentan.

    Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kotawaringin Timur 2025 lansiran Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap rata-rata warga Kotim menghabiskan Rp206.833 per bulan untuk makanan dan minuman di luar rumah. Seluruh kategori, bukan hanya kafe.

    Fakta mengejutkan bersembunyi di balik nominal tersebut. Kelompok 40 persen berpenghasilan terendah nekat membakar 16 persen dari total pengeluaran bulanan mereka untuk kategori ini.

    Angka ini jauh mengungguli kelompok 20 persen teratas yang hanya menyisihkan 11,7 persen.

    Semakin tipis ketebalan dompet seseorang, semakin buas hasrat membelanjakannya di luar rumah.

    BPS mencatat fenomena ini sebagai imbas modernisasi. Namun, lompatan angka tersebut menggarisbawahi realitas sosiologis yang lebih kelam: tekanan sosial memaksa warga terus hadir di ruang publik, menabrak rasionalitas kondisi keuangan mereka.

    Bukan Kopi, Tapi Validasi Sosial

    Yuli (30) menjadi potret hidup tekanan tersebut. Mengantongi gaji bulanan Rp3,5 juta, ia rutin mengalokasikan Rp1 juta khusus untuk rutinitas kafe.

    Nominal itu menembus lima kali lipat rata-rata pengeluaran warga Kotim yang dicatat BPS. Minimal dua kali seminggu, ia wajib hadir.

    “Bukan karena kopinya. Lebih ke foto-foto buat media sosial,” tegasnya.

    Motivasi Yuli mewakili keresahan massal. Riset Kaloeti dkk. (2021) membedah bahwa 64,6 persen remaja Indonesia terjangkit Fear of Missing Out (FOMO).

    Kecemasan ini memicu individu memaksakan presensi demi menghindari pengucilan dari lingkaran pergaulan.

    Dampaknya telak menghantam. Lonjakan kecemasan, kelelahan mental, dan kebocoran finansial yang tak terencana.

    Pakar psikologi Vera Itabiliana menelanjangi peran media sosial sebagai akselerator tekanan.

    Deretan likes, komentar, dan repost bermutasi menjadi mata uang baru penentu kelas sosial. Fluktuasi metrik virtual ini mampu mendikte suasana hati pemiliknya sepanjang hari.

    Temuan Kartohadiprodjo dan Suryadi (2025) mengerucutkan benang merahnya.

    FOMO memantik gairah konsumsi impulsif remaja di kafe-kafe viral. Kafe telah bersalin rupa. Ia kini adalah panggung teater eksistensi.

    Tempat manusia hadir, direkam, dan dipamerkan. Tanpa jejak konten, sebuah kunjungan dianggap batal demi hukum pergaulan.

    Survei Jakpat 2024 menyajikan bukti konkret: 66 persen Gen Z menenggak kopi setiap hari, menobatkan mereka sebagai ras penyumbang pengeluaran kopi tertinggi dibanding generasi pendahulu.

    Siasat Bertahan di Tanggal Tua

    Industri kafe di Sampit mekar subur memangsa peluang tersebut. Mulai dari warung trotoar hingga kedai estetik berbalut nuansa Instagramable, semua berebut isi kantong anak muda.

    Data BPS 2023 merekam lonjakan usaha penyediaan makanan dan minuman nasional hingga 4,85 juta unit, meroket 21 persen dari tahun 2016. Kota-kota seperti Sampit turut tersapu gelombang invasi ini.

    Taktik gerilya mulai dimainkan saat saldo rekening kian sekarat. Lia menurunkan standar gengsinya ke kopi Rp20 ribuan.

    Yuli mengasah ketelitiannya membedah daftar harga sebelum melangkah melewati pintu kaca. Keduanya menolak menyerah.

    ”Kalau lagi ada uang, ke kafe yang agak naik kelas. Kalau lagi tipis, cari yang harganya miring saja. Yang penting tetap nongkrong,” ucap Lia.

    Esensi nongkrong di Sampit telah bergeser fatal. Bukan lagi tentang tempat atau sajian di atas meja, melainkan soal fungsi pembuktian diri.

    Kehadiran fisik dan digital di meja kafe adalah cara memvalidasi bahwa mereka masih ada, masih relevan, dan belum terdepak dari arena sosial.

    Layaknya kewajiban kredit, tagihan eksistensi ini akan terus datang bulan depan, tanpa peduli sisa saldo di rekening mereka. (ign)


    Catatan Redaksi: Sumber data pengeluaran per kapita dan distribusi kelompok penghasilan bersumber dari Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kotawaringin Timur 2025, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, diterbitkan November 2025. Data pertumbuhan usaha makanan dan minuman bersumber dari Statistik Penyediaan Makanan dan Minuman 2023, BPS Pusat. Data perilaku konsumsi kopi Gen Z bersumber dari Survei Jakpat, Desember 2024.

  • Penggelapan Mobil Rental Sampit: Sinyal Mati di Palangka Raya, Misteri Grand Max Ratusan Juta

    Penggelapan Mobil Rental Sampit: Sinyal Mati di Palangka Raya, Misteri Grand Max Ratusan Juta

    SAMPIT, kanalindependen.id – Titik koordinat di layar monitor CV 31 Rencar itu berkedip untuk terakhir kalinya di Jalan Mahir Mahar, Kota Palangka Raya.

    Setelah Selasa (3/3/2026) siang itu, sistem Global Positioning System (GPS) pada Daihatsu Grand Max senilai Rp150 juta tersebut mendadak buta.

    Lenyapnya sinyal pikap sewaan itu menjadi babak pembuka dari skenario penggelapan rapi yang diduga dilakukan NF (32).

    Perempuan tersebut tidak merampas kendaraan dengan kekerasan di jalanan.

    Dia menembus pertahanan bisnis rental menggunakan senjata yang jauh lebih mematikan: kepercayaan dan janji manis.

    Kepanikan pemilik rental di Baamang Tengah yang kehilangan jejak asetnya sempat diredam oleh sandiwara pelaku.

    Menjawab rentetan pesan penagihan, NF masih memainkan lakonnya dengan sempurna dari balik layar ponsel.

    Ia menebar garansi bahwa armada akan kembali kandang pada 5 Maret 2026.

    Tenggat waktu itu terbukti hanya isapan jempol. Nomor WhatsApp yang semula kooperatif mendadak mati total.

    NF menghilang, meninggalkan pemilik rental dengan kerugian ratusan juta dan jejak digital yang sengaja diputus bersih.

    Namun, pelarian terduga pelaku penggelapan ini tak berumur panjang.

    Pengejaran intensif Unit Reskrim Polsek Baamang memaksa NF menyerahkan diri dan mengakhiri sandiwaranya di hadapan penyidik pada Sabtu (11/4/2026).

    ”Pelaku sempat menjanjikan pengembalian unit, namun itu hanya modus. Saat ini terlapor sudah kami amankan. Tetapi pekerjaan rumah kami belum selesai: unit Daihatsu Grand Max tersebut masih dalam pencarian,” tegas Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko.

    Ruang pemeriksaan kini menjadi arena adu taktik untuk menguliti ke mana NF melempar mobil tersebut.

    Indikasi keterlibatan jaringan spesialis penadah rental hingga transaksi gadai bawah tangan masih terus digali oleh aparat kepolisian.

    Titik Buta Bisnis Kendaraan

    Padamnya sinyal pelacak di Jalan Mahir Mahar membuktikan bahwa teknologi keamanan paling canggih sekalipun bisa takluk oleh niat jahat yang terencana.

    Kejahatan rental di Kotim disinyalir telah bergeser. Pelaku tak lagi ragu menggadaikan identitas aslinya, karena mereka yakin bisa melempar unit kendaraan lebih cepat dari kejaran aparat.

    NF kini memang telah bertukar tempat, dari balik kemudi menuju dinginnya lantai sel tahanan Baamang. Sandiwaranya tuntas.

    Namun, selama pikap Grand Max itu masih menjadi ”hantu” di jalanan, jaringan penadah di belakangnya akan terus leluasa mengintai kelengahan bisnis rental berikutnya. (***)

  • Curanmor di Pasar Sejumput Sampit: PNS Seruyan Gadaikan Karir demi Yamaha Mio Rp6 Juta

    Curanmor di Pasar Sejumput Sampit: PNS Seruyan Gadaikan Karir demi Yamaha Mio Rp6 Juta

    SAMPIT, kanalindependen.id – Oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal Kabupaten Seruyan berinisial N (47) diringkus Unit Reskrim Kepolisian Sektor (Polsek) Ketapang.

    Abdi negara tersebut terbukti menggasak satu unit Yamaha Mio M3 di kawasan Pasar Sejumput, Kecamatan Baamang, Sampit, usai aksinya terekam kamera pengawas (CCTV) dan memicu amarah warga maya.

    Kapolsek Ketapang AKP Anis, mewakili Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim) AKBP Resky Maulana Zulkarnain, membenarkan penangkapan tersangka yang memegang status abdi negara tersebut.

    Dari tangan pelaku, aparat mengamankan paket lengkap barang bukti: motor curian bernopol lucut, kunci ring pembobol, serta pakaian yang identik dengan rekaman visual di tempat kejadian perkara (TKP).

    ”Benar, pelaku curanmor berinisial N telah kami amankan. Yang bersangkutan adalah oknum PNS dari Seruyan. Pelaku kini ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas AKP Anis, Sabtu (11/4/2026).

    Detik-Detik yang Viral

    Jejak kejahatan tersangka bermula pada Kamis (9/4/2026) pagi. Pukul 06.00 WIB, saat warga mulai beraktivitas, N terekam mondar-mandir mengintai mangsa di Jalan Ir. H. Juanda, Gang Rahimah.

    Memanfaatkan kelengahan Ardiansyah (53) yang memarkir motor senilai Rp6 juta tanpa pengunci pagar tambahan, N dengan tenang membawa kabur kendaraan tersebut.

    Berbalut kaos kuning dan tas ransel, pelaku tak menyadari lensa kamera terus merekam gerak-geriknya.

    Jejak digital inilah yang menjadi kompas bagi aparat penegak hukum untuk memburu dan menggulung pelarian tersangka.

    N kini tak lagi duduk di balik meja birokrasi, melainkan mendekam di sel tahanan Polsek Ketapang bersiap menghadapi jerat pidana.

    Integritas Birokrasi di Balik Jeruji

    Keterlibatan seorang aparatur sipil negara dalam tindak pidana pencurian kendaraan bermotor bukan sekadar statistik kriminal biasa.

    Peristiwa ini memotret ironi tajam tentang integritas abdi negara yang kandas di ujung kunci ring.

    Fakta bahwa seorang pegawai dengan jaminan penghasilan tetap nekat bertransformasi menjadi pelaku kriminal di wilayah tetangga, memicu tanda tanya besar terkait degradasi moral di luar jam kerja.

    Masa depan, jaminan pensiun, dan harga diri sang birokrat kini tergadai habis demi satu unit skuter matik.

    Di sisi lain, kecepatan polisi menjawab keresahan warga patut diapresiasi, namun kewaspadaan warga tak boleh surut.

    Gembok pagar dan kunci stang yang dirusak mungkin mudah diganti, tetapi kepercayaan publik terhadap integritas abdi negara yang tercuri di pagi buta itu, butuh waktu panjang untuk dipulihkan. (***)

  • Temuan Jasad di Jalan Delima 7 Sampit: Nihil Kekerasan, Realita Pahit Pekerja Informal di Tanah Rantau

    Temuan Jasad di Jalan Delima 7 Sampit: Nihil Kekerasan, Realita Pahit Pekerja Informal di Tanah Rantau

    SAMPIT, kanalindependen.id – Penyelidikan terkait penemuan jasad di kontrakan Jalan Delima 7, Sampit, akhirnya menemui titik terang.

    Kepolisian Sektor (Polsek) Ketapang memastikan Suwardi (51), perantau asal Bojonegoro yang ditemukan tak bernyawa, meninggal dunia murni akibat riwayat penyakit, bukan karena tindak kriminal.

    Kapolsek Ketapang AKP Anis, mewakili Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain, menegaskan hasil visum dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) tidak menemukan indikasi penganiayaan.

    ”Tidak ada tanda kekerasan ataupun luka di tubuh korban. Pihak keluarga juga sudah menyatakan penolakan autopsi karena korban memang diketahui memiliki riwayat penyakit,” jelas Anis, Sabtu (11/4/2026).

    Pemeriksaan intensif bersama tim medis RSUD dr Murjani Sampit mengonfirmasi kondisi fisik korban bersih dari jejak benturan fisik.

    Fakta bahwa pintu kamar terkunci rapat dari dalam saat warga mendobrak masuk turut memperkuat kesimpulan bahwa pedagang pentol keliling itu mengembuskan napas terakhirnya tanpa campur tangan pihak lain.

    Pihak keluarga telah membuat surat pernyataan resmi untuk mengikhlaskan kepergian Suwardi tanpa proses bedah mayat, sekaligus menutup ruang spekulasi liar di tengah masyarakat.

    Penanganan saat ini murni berfokus pada proses pemakaman jenazah pria yang bertahun-tahun merantau demi keluarga di Jawa Timur tersebut.

    Konfirmasi rekam medis Suwardi merekam realitas senyap kehidupan perantau sektor informal di Sampit.

    Pekerja harian kerap menekan alarm darurat kesehatan tubuh mereka, memilih bertahan dalam diam demi menjaga aliran rupiah yang harus dikirim ke kampung halaman.

    Kepergian Suwardi tanpa ada yang menyadari selama tiga hari mencerminkan isolasi sosial yang ekstrem di balik petak-petak kontrakan sempit.

    Ketiadaan tempat mengadu atau sekadar meminta segelas air saat kondisi fisik anjlok menjadi ironi bagi mereka yang setiap hari berbaur di ruang publik.

    Kesehatan masyarakat urban sejatinya bertumpu pada jaring pengaman sosial antar-tetangga.

    Tragedi berulang dari balik pintu terkunci ini menjadi alarm keras bahwa kemandirian ekonomi pekerja informal sering kali harus dibayar dengan kerentanan absolut saat mereka jatuh sakit.

    Perjuangan Suwardi di tanah rantau telah usai, menyisakan pekerjaan rumah tentang pentingnya kepekaan merawat ruang-ruang bertetangga. (***)

  • Harga Minyak Kita di Sampit Tembus Rp17 Ribu, Pedagang Terpaksa Jual Melebihi HET

    Harga Minyak Kita di Sampit Tembus Rp17 Ribu, Pedagang Terpaksa Jual Melebihi HET

    SAMPIT, kanalindependen.id – Keterbatasan pasokan minyak goreng bersubsidi Minyak Kita di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai berdampak langsung ke harga di tingkat pasar.

    Sejumlah pedagang nekat menjual di atas harga eceran tertinggi (HET) karena kesulitan mendapatkan stok dari jalur resmi Bulog.

    Di Pasar PPM Sampit, seorang pedagang sembako, Maria, mengaku sudah beberapa waktu terakhir tidak lagi mudah memperoleh Minyak Kita dari Bulog. Kondisi ini memaksanya mengambil barang dari agen swasta dengan harga lebih tinggi.

    ”Kalau di Bulog itu sekitar Rp177 ribu, tapi sekarang sering ambil dari agen sampai Rp190 ribu per dus,” ujarnya.

    Menurutnya, keterbatasan pasokan dari agen pun, tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan karena tetap dibatasi.

    Dengan harga modal yang sudah tinggi, pedagang tidak memiliki ruang untuk mengikuti HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

    ”Biasanya kami jual Rp16 ribu, tapi sekarang terpaksa jual sampai Rp17 ribu,” katanya.

    Maria mengatakan, kenaikan harga ini bukan untuk memperbesar keuntungan, melainkan menyesuaikan biaya pembelian yang sudah naik di tingkat distributor.

    Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada minyak goreng. Sejumlah komoditas lain juga ikut terdampak.

    Tepung terigu misalnya, yang sebelumnya dijual sekitar Rp10 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp12 ribu. Untuk tepung kemasan, harga bahkan berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp16 ribu.

    ”Tepung tapioka juga naik, rata-rata di atas Rp2 ribu dari harga sebelumnya,” ujarnya.

    Komoditas beras juga mengalami kenaikan yang cukup terasa, berkisar Rp5 ribu hingga Rp6 ribu tergantung jenis dan asalnya.

    Beras lokal dari luar daerah seperti Banjarmasin, termasuk jenis Mayang, disebut mengalami kenaikan paling signifikan. Sementara beras dari Pagatan relatif lebih stabil.

    ”Kalau beras dari Pulau Jawa naik sekitar Rp5 ribu,” ujarnya.

    Di tengah kondisi tersebut, mulai muncul pola distribusi baru.

    Sejumlah distributor kini menawarkan pasokan beras langsung ke toko, sehingga sedikit membantu pedagang menekan biaya transportasi dibandingkan harus mengambil sendiri ke gudang.

    Meski demikian, tekanan harga tetap berdampak pada daya beli masyarakat. Maria mengaku omzet penjualannya menurun, sehingga ia kini lebih selektif dalam menambah stok barang.

    ”Sekarang kami kurangi stok, kecuali barang yang cepat laku saja yang kami restock,” katanya.

    Terpisah, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad, menjelaskan keterbatasan pasokan Minyak Kita tidak terlepas dari kebijakan distribusi nasional.

    Berdasarkan ketentuan Kementerian Perdagangan, Bulog dan BUMN pangan hanya memperoleh alokasi sekitar 30 persen dari total produksi Minyak Kita, yang masih harus dibagi dengan ID Food. Sementara 70 persen lainnya disalurkan melalui swasta.

    ”Jadi memang sebagian besar distribusi ada di pihak swasta,” jelas Azwar saat diwawancarai awak media usai pemantauan harga di PPM dan Pasar Keramat bersama Pemkab Kotim, Jumat (10/4/2026).

    Ia juga mengungkapkan, pada Maret lalu produsen sempat diprioritaskan untuk menyalurkan Minyak Kita ke program bantuan pangan nasional.

    Dalam program tersebut, setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menerima 10 kilogram beras dan 2 liter Minyak Kita per bulan selama dua bulan.

    ”Kemungkinan karena fokus ke program itu, suplai ke pasar sempat berkurang,” ujarnya.

    Meski demikian, ia memperkirakan pada April distribusi mulai kembali normal. Ia juga menegaskan bahwa harga Minyak Kita seharusnya berada di kisaran Rp15.700 per liter, atau maksimal Rp16 ribu di lapangan karena pembulatan.

    ”Kalau sudah sampai Rp17 ribu, berarti memang ada kenaikan di rantai distribusi,” katanya.

    Azwar menduga pedagang yang menjual di atas HET tidak mendapatkan pasokan dari Bulog, melainkan dari jalur swasta dengan harga lebih tinggi.

    Untuk wilayah Kotim, kuota Minyak Kita pada Maret diperkirakan sekitar 300 ribu liter, menurun dibanding Februari yang mencapai 350 ribu liter.

    Kuota tersebut merupakan bagian dari alokasi Bulog Kalimantan Tengah yang kemudian dibagi ke seluruh cabang.

    Saat ini, Bulog Kotim memiliki sekitar 60 mitra penyalur, termasuk Rumah Pangan Kita (RPK) dan pengecer. Jumlah ini terus bertambah, dengan rata-rata 1–2 pedagang mendaftar setiap hari.

    Namun, distribusi di pasar tradisional masih menghadapi kendala. Banyak pedagang enggan melengkapi persyaratan administrasi seperti KTP, NPWP, dan NIB karena khawatir terkait urusan pajak.

    ”Padahal tidak ada pungutan biaya. Kalau mereka mau melengkapi, bisa dapat harga lebih murah dari Bulog. Akibatnya, sekitar 70 persen mitra Bulog justru berada di luar pasar tradisional,” ujarnya.

    Bulog juga menerapkan pengawasan melalui pakta integritas dan survei rutin kepada mitra pengecer.

    Pedagang yang menjual Minyak Kita di atas HET akan dikenakan sanksi secara bertahap, mulai dari teguran hingga pencabutan kemitraan bagi yang melanggar ketentuan harga.

    Selain Minyak Kita, Bulog juga menanggapi kenaikan harga tepung. Namun, dalam beberapa  tahun terakhir Bulog sudah tidak mendapat penugasan untuk menyalurkan tepung.

    Sementara untuk stok gula tersedia 50 ton dengan harga jual Rp18 ribu per kilogram. Sementara, stok minyak goreng saat ini tersedia 40.000 liter.

    Lebih lanjut, Azwar mengatakan, Bulog mulai mengantisipasi potensi dampak El Nino terhadap produksi beras.

    Meski data produksi berada di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Bulog telah diwanti-wanti untuk menyiapkan cadangan beras menghadapi kemungkinan gagal panen akibat kekeringan.

    ”Saat ini, stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog Kotim mencapai sekitar 6.900 ton, dengan ketahanan hingga sembilan bulan,” ujarnya

    Azwar juga memastikan stok beras untuk program bantuan pangan tahap dua yang akan disalurkan pada April–Mei dipastikan aman.

    Penyaluran untuk tiga wilayah, yakni Kotim, Seruyan, dan Katingan, diperkirakan mencapai 1.200 ton.

    ”Dengan stok 6.900 ton, sangat mencukupi. Namun, jika ke depan terjadi gangguan produksi dan harga beras naik, Bulog akan memassifkan penyaluran beras SPHP serta bantuan pangan guna menjaga stabilitas harga di pasaran,” pungkasnya. (hgn/ign)