Penulis: Gunawan

  • Lapis Tebal Pembuktian Pidana Korporasi Karhutla Kotim, DAD: Tindak Sampai ke Akar

    Lapis Tebal Pembuktian Pidana Korporasi Karhutla Kotim, DAD: Tindak Sampai ke Akar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Tiga pekan bergulir sejak September bermula, daftar tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur (Kotim) terus bertambah.

    Penambahan ini hanya menyasar perorangan. Tercatat satu warga ditahan pada 1 September. Angkanya merangkak naik menjadi tujuh tersangka per 21 September.

    Sebaliknya, ketika daftar tersangka warga biasa kian panjang, belum ada satu pun korporasi yang menyandang status serupa.

    Padahal, perkara yang membelit sebuah korporasi sawit di Kecamatan Kota Besi telah dinaikkan ke tahap penyidikan sejak awal bulan yang sama.

    Kesenjangan penindakan ini menyeruak saat Kapolres Kotim AKBP I Kadek Yoga Sidhimantra bertatap muka dengan jajaran pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim di Kantor DAD, Jalan Ahmad Yani Sampit, Senin (21/9/2026).

    ”Untuk korporasi masih dalam pemeriksaan saksi-saksi,” kata Kadek Yoga.

    Tujuh tersangka yang ada saat ini ditetapkan dari tujuh perkara berbeda yang telah masuk tahap penyidikan.

    Polres Kotim bersama jajaran Polsek juga masih memproses 17 kasus lain di tahap penyelidikan.

    Total 24 perkara karhutla kini tertumpuk di meja penyidik. Peluang bertambahnya jumlah tersangka tetap terbuka lebar. ”Kalau sudah terbukti ya pasti ada tambahan,” ujarnya.

    Bidikan yang Tertahan di Kota Besi

    Lonjakan angka tersangka perorangan melaju sangat cepat. Pada 1 September, Kasat Reskrim Polres Kotim AKP Sugiarso membongkar 18 kasus karhutla yang terindikasi memuat unsur kesengajaan atau kelalaian.

    Tersangka perdana berinisial EP langsung ditahan akibat membakar lahan miliknya sendiri seluas 17 x 22 meter di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

    Tiupan angin kencang berpadu dengan kondisi gambut kering membuat api menjalar, menghanguskan lebih dari lima hektare lahan sekitar.

    Laporan yang sama juga menyingkap langkah penyidik Satreskrim Polres Kotim yang tengah membidik satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Kota Besi.

    Kasus ini sudah menapak tahap penyidikan. Perusahaan dinilai lalai saat karhutla melanda area sekitar konsesinya.

    Api menjalar bebas membakar 181 hektare lahan sawit, padahal korporasi tersebut tercatat memiliki peralatan dan prasarana pemadam kebakaran yang memadai.

    Situasi ini berpotensi menyeret manajemen perusahaan sebagai tersangka baru, kendati identitas korporasinya belum diungkap kepolisian.

    Pertemuan dengan DAD pada 21 September tidak mengupas rincian jumlah perkara korporasi yang sedang diperiksa saksi-saksinya.

    Tidak ada juga kepastian apakah kasus Kota Besi masuk dalam daftar tersebut.

    Satu hal yang pasti dari keterangan Kadek Yoga: belum ada satu pun korporasi di seluruh Kotim yang naik status menjadi tersangka.

    Fakta ini sejalan dengan kasus Kota Besi yang sudah tiga pekan bertengger di tahap penyidikan semenjak pertama kali mencuat ke publik.

    Catatan rilis Polres Kotim tertanggal 5 September sempat menyinggung 22 perkara karhutla dengan empat tersangka.

    Terdapat satu laporan polisi berstatus korporasi yang ditangani gabungan Ditreskrimsus. Enam belas hari kemudian, total perkara naik menjadi 24 dan tersangka bertambah menjadi tujuh orang. Semuanya tetap perorangan.

    Eskalasi Ketegasan dari Istana

    Ketimpangan penegakan hukum ini rupanya menggema hingga level nasional, bahkan bertahan setelah turunnya tekanan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

    Rekapitulasi Bareskrim Polri pada 4 September melaporkan 112 tersangka perorangan dari 167 laporan polisi sejak Januari.

    Kalimantan Tengah menyumbang 20 tersangka. Saat itu, belum ada satu pun korporasi yang dijerat secara nasional.

    Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Kombes Pipit Subiyanto menjelaskan, mayoritas kasus yang sampai ke tahap tersangka merupakan perkara perorangan di lahan hak milik sendiri. Faktor inilah yang membuat identifikasi pelaku jauh lebih ringkas.

    Tiga hari berselang, pada 7 September, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melaporkan 138 tersangka perorangan dan delapan korporasi yang sedang diproses.

    Sehari setelahnya, Presiden Prabowo turun tangan menegaskan niat pemerintah memburu identitas pemilik korporasi yang terlibat, diiringi ancaman pencabutan izin usaha.

    Eskalasi memuncak delapan hari kemudian. Melalui rapat terbatas di Istana Merdeka pada 16 September, Presiden menginstruksikan sikap yang lebih keras, yakni mencabut izin bagi korporasi yang terbukti melanggar sekaligus tetap menyelidiki unsur pidananya.

    Sehari sesudahnya, pada 17 September, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol Muhammad Irhamni mengumumkan 162 tersangka perorangan dari 219 perkara.

    Terdapat pula 95 korporasi yang kini masuk radar penyelidikan dan penyidikan di 10 polda. Angka korporasi ini melompat tajam dari delapan entitas yang dilaporkan 10 hari sebelumnya.

    Polda Kalimantan Tengah menyumbang 14 dari 95 korporasi tersebut. Angka ini melonjak dari empat korporasi yang pernah disebutkan sedang diselidiki Polda Kalteng pada Agustus lalu, meskipun dua data ini berasal dari mekanisme pelaporan yang berbeda sehingga tidak sepenuhnya bisa dibandingkan langsung.

    Kendati jumlah yang diselidiki membeludak, Bareskrim belum merinci berapa banyak korporasi yang sudah berstatus tersangka, serta belum mengungkap satu pun nama perusahaan terkait.

    Labirin Syarat Pidana Korporasi

    Lambannya penetapan tersangka korporasi memiliki pijakan kuat dalam hukum acara pidana.

    Sistem hukum pidana Indonesia pada mulanya dibangun dengan asumsi bahwa terdakwa adalah manusia bernyawa.

    Tidak ada mekanisme eksplisit untuk memanggil, memeriksa, atau mendakwa sebuah badan hukum.

    Celah kosong ini baru diisi Mahkamah Agung melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi.

    Aturan turunan ini memaksa penyidik membuktikan salah satu dari tiga syarat berat untuk mempidanakan korporasi.

    Syarat itu mencakup bukti bahwa korporasi mendapat untung dari tindak pidana, korporasi membiarkan kejahatan terjadi, atau korporasi gagal melakukan langkah pencegahan.

    Beban pembuktian ini jauh melampaui kerumitan kasus perorangan. Korporasi sebagai entitas tidak memiliki niat jahat seperti manusia, sehingga kesalahannya harus dibongkar melalui analisis kebijakan dan jejak pembiaran internal perusahaan, bukan sekadar melihat titik api di lapangan.

    Ancaman pidananya pun terbatas pada denda dan pidana tambahan, sebab badan hukum tidak bisa dijebloskan ke sel tahanan.

    Individu penguruslah yang harus menanggung hukuman penjara sebagai perwakilan entitas tersebut.

    Alasan inilah yang memperjelas mengapa laporan pemberitaan pada awal September menyebut kasus Kota Besi berpotensi memunculkan tersangka baru dari pihak manajemen perusahaan.

    Aparat harus lebih dulu mengidentifikasi dan membuktikan keterlibatan personal jajaran pengurus, menciptakan lapisan pembuktian baru di atas pembuktian kesalahan korporasi itu sendiri.

    Doktrin pertanggungjawaban mutlak (strict liability) dalam Pasal 88 Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup kerap disalahpahami sebagai jalan pintas menjerat korporasi.

    Regulasi ini nyatanya hanya berlaku untuk gugatan ganti rugi perdata. Jalur pidana tetap mewajibkan penyidik membuktikan unsur kesalahan secara konvensional.

    Riwayat penanganan perkara masa lalu menjadi cermin betapa panjangnya proses pembuktian ini.

    Penyelidikan sebuah korporasi sawit di Kabupaten Pelalawan, Riau, pada 2019 misalnya, sudah dimulai sejak awal Februari.

    Perusahaan itu baru resmi menyandang status tersangka pada 9 Agustus, sekitar enam bulan kemudian.

    Rentang waktu itu dihabiskan aparat untuk memeriksa jajaran direksi, menyusun konstruksi hukum, serta mempelajari keterangan saksi ahli.

    Begitu korporasi resmi berstatus tersangka, kepolisian saat itu belum menetapkan individu pengurus yang harus bertanggung jawab, menandakan etape terpisah yang tak kalah memakan waktu.

    Pola serupa terlihat dari pengumuman 95 korporasi yang kini diperiksa Bareskrim secara nasional.

    Kerumitan pengelolaan kawasan menuntut aparat memeriksa berlapis-lapis saksi dan mengurai tumpukan dokumen sebelum menunjuk pihak yang bersalah.

    Kasus Kota Besi yang baru berjalan tiga pekan di tahap penyidikan memang belum bisa disimpulkan sebagai bentuk pembiaran aparat.

    Namun, preseden Riau menawarkan alat uji yang lebih presisi ketimbang sekadar menunggu kapan tersangka muncul.

    Titik ujinya terletak pada kedalaman jangkauan pemeriksaan, yakni keharusan aparat menyentuh jajaran pengurus manajemen perusahaan alih-alih sekadar berkutat di level staf operasional lapangan.

    Barisan Kawalan Tokoh Adat

    Menghadapi kesenjangan penegakan hukum ini, DAD Kotim memilih bersikap terbuka.

    Ketua Harian DAD Kotim Gahara meminta proses hukum tidak membedakan pelaku berdasarkan latar belakang, termasuk bila pemeriksaan menemukan bukti keterlibatan perusahaan.

    ”Harus demikian dong, tindak tegas tanpa pandang bulu. Siapa pun pelaku, baik itu yang melaksanakan di lapangan maupun yang menyuruh, tindak tegas sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai ini terulang lagi,” tegas Gahara.

    Penindakan hukum menurutnya tidak boleh berhenti pada pihak yang berada di lapangan. Siapa pun yang bertindak sebagai penyuruh atau ikut terlibat harus turut diproses.

    DAD Kotim menyatakan kesiapan mendukung kepolisian secara penuh, terutama jika korporasi memberikan perlawanan saat ditindak.

    ”Kalau itu pasti, back up kita back up,” ujarnya.

    ”Apabila ada perlawanan dari korporasi, ya kita semua lah, masyarakat juga,” tegasnya.

    Hingga hari ini, tujuh perkara karhutla di Kotim telah menghasilkan tersangka. Semuanya berstatus perorangan.

    Kasus korporasi Kota Besi yang sempat diproyeksikan menyeret tersangka dari jajaran manajemen sejak awal September, belum juga menghasilkan satu nama pun setelah tiga pekan berlalu. (ign)

  • Diduga Korban KM Virgo Transport 8, Dua Jasad Masih Mengenakan Pelampung Ditemukan di Pesisir Seruyan

    Diduga Korban KM Virgo Transport 8, Dua Jasad Masih Mengenakan Pelampung Ditemukan di Pesisir Seruyan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Dua jasad ditemukan terdampar di pesisir Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan.

    Saat ditemukan nelayan pada Minggu (20/9/2026), kedua jasad tersebut masih mengenakan pelampung sehingga diduga kuat berkaitan dengan musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 pada, Minggu (13/9/2026).

    Informasi itu kemudian dilaporkan nelayan dan ditindaklanjuti Tim SAR Gabungan yang masih menjalankan operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8.

    Lokasi penemuan berada di kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting, tepatnya di wilayah pesisir Desa Sungai Perlu.

    Setelah menerima laporan, Kantor SAR Palangka Raya mengerahkan personel untuk menuju lokasi dan melakukan evakuasi terhadap kedua jasad.

    Kepala Kantor SAR Palangka Raya AA. Ketut Alit Supartana mengatakan, personel yang dikerahkan merupakan bagian dari Tim Rescue yang sebelumnya telah terlibat dalam operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8.

    ”Begitu mendapatkan informasi adanya penemuan dua korban di wilayah Seruyan, kami langsung mengerahkan Tim Rescue yang sudah terlibat dalam operasi pencarian untuk menuju lokasi,” kata Alit.

    Tim kemudian melakukan proses evakuasi melalui jalur perairan menggunakan Rigid Buoyancy Boat (RBB). Kedua jasad dibawa menuju Pelabuhan Segintung untuk selanjutnya diteruskan ke Pos TNI AL Kuala Pembuang.

    ”Kedua korban kita evakuasi menggunakan RBB (Rigid Buoyancy Boat) menuju Pelabuhan Segintung. Setelah itu akan dibawa ke Pos AL Kuala Pembuang dan selanjutnya dibawa ke Banjarmasin menggunakan ambulans untuk dilakukan proses identifikasi,” jelas Alit.

    Proses identifikasi akan menjadi tahapan penting untuk memastikan identitas kedua jasad tersebut. Meski terdapat dugaan keduanya merupakan korban KM Virgo Transport 8, kepastian mengenai identitas korban tetap menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

    Dugaan tersebut diperkuat dengan kondisi kedua jasad yang ditemukan masih mengenakan pelampung.

    Namun, pihak SAR tidak langsung memastikan identitas maupun keterkaitan kedua jasad dengan kecelakaan kapal sebelum proses identifikasi dilakukan.

    Setelah tiba di Banjarmasin, kedua jasad akan menjalani proses identifikasi guna memastikan identitas masing-masing korban. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya menjadi dasar untuk memberikan kepastian kepada pihak keluarga.

    Dalam proses evakuasi tersebut, sejumlah unsur terlibat dalam operasi SAR Gabungan. Personel berasal dari Tim Rescue Kantor SAR Palangka Raya, Pos TNI AL Samuda, Pos TNI AL Kuala Pembuang, Polairud Polda Kalimantan Tengah, Polres Seruyan, dan Polsek Seruyan Hilir.

    Penemuan dua jasad tersebut menjadi perkembangan penting dalam operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8. Namun, operasi belum berhenti karena Tim SAR masih berupaya menemukan korban lain yang hingga kini belum ditemukan.

    Alit menegaskan, personel akan terus dikerahkan untuk melakukan pencarian di wilayah yang menjadi sasaran operasi. Setiap informasi mengenai kemungkinan keberadaan korban akan ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.

    ”Dengan ditemukannya dua korban di wilayah Seruyan, kami mengerahkan personel untuk terus melakukan pencarian untuk mencari keberadaan korban yang lain,” tegasnya.

    Dengan adanya tambahan dua jenazah yang diduga korban KM Virgo, menambah daftar korban yang berhasil dievakuasi menjadi 123 korban. Dengan rincian, 108 korban dinyatakan selamat, 15 korban dinyatakan meninggal dunia daj 120 korban lainnya masih dalam upaya pencarian.

    ”Penemuan korban KM Virgo yang ditemukan di pantai seruyan, Kalteng. Kami koordinasikan dengan kantor SAR palangkaraya, jenazah dievakuasi dalam perjalanan menuju RS Bhayangkara Banjarmasin,” kata Kepala SAR Mission Coordinator (SMC) Banjarmasin, I Putu Sudayana, Senin (21/9/2026) malam.

    Putu Sudayana menambahkan, untuk memaksimalkan operasi, pencarian tidak hanya dilakukan dengan bantuan penyelaman dari Surabaya, tetapi juga mengerahkan helikopter milik Basarnas yang mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin untuk mempercepat dan memperluas jangkauan pencarian.

    ”Kami menggelar Ops SAR dari pagi hari, semoga besok cuaca sesuai prediksi BMKG dimana gelombang rendah yang memudahkan pergerakan di lapangan,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu, Ikan Nila Ikut Melambung hingga Rp65 Ribu

    Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu, Ikan Nila Ikut Melambung hingga Rp65 Ribu

    SAMPIT, kanalindependen.id – Harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Tradisional Sampit, kembali mengalami fluktuatif.

    Cabai rawit menjadi salah satu komoditas dengan kenaikan paling mencolok karena harganya kini menembus Rp100 ribu per kilogram, sementara ikan nila segar ikut melambung hingga Rp65 ribu per kilogram.

    Kenaikan harga cabai rawit disebut pedagang sudah berlangsung sekitar sebulan. Hal ini terjadi karena  berkurangnya pasokan yang masuk ke Sampit, terutama kiriman dari Jawa dan Banjarmasin.

    ”Harga cabai masih tinggi Rp100 ribu per kilogram, kalau beli banyak bisa saja saya diskon Rp95 ribu per kilogram,” kata Dewi Ayu Putri Kasiyani, Pedagang di Pasar Al Kamal, Senin (21/9/2026).

    Dewi menduga berkurangnya pasokan tidak terlepas dari kondisi cuaca selama musim kemarau. Kekeringan membuat media tanam petani kekurangan air sehingga berdampak terhadap produksi dan jumlah cabai yang dapat dipanen.

    ”Harga cabai sudah sebulanan belum bisa turun, sepertinya karena faktor kekeringan selama musim kemarau, produksi panen berkurang, otomatis pasokan ke daerah-daerah juga berkurang,” ujarnya.

    Untuk menjaga ketersediaan barang, Dewi tidak hanya mengandalkan satu daerah pemasok. Cabai yang dijualnya ada yang dari hasil petani di Tanjung, Kalimantan Selatan, kiriman dari Pulau Jawa hingga cabai lokal dari petani Kotabesi.

    ”Saya jual kadang cabai dari Tanjung, ada juga yang cabai kiriman dari Jawa dan kadang jual juga cabai lokal dari petani Kotabesi, yang penting barang tersedia bisa jualan,” ujarnya.

    Tekanan harga bahkan sempat lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini. Dewi menyebut harga cabai rawit sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram setelah terjadi insiden tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang melayani rute Surabaya menuju Banjarmasin di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).

    ”Sejak kejadian kapal tenggelam seminggu yang lalu itu, harga cabai ada yang jual sampai Rp200 ribu per kilogram, kalau saya gak sampai jual segitu, karena pasokan masih ada walau terbatas saya masih jual Rp100 ribu per kilogram, kasihan juga sama pelanggan setia yang sudah biasa beli sama saya,” ujarnya.

    Meski cabai rawit masih tinggi, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga bawang merah justru turun dan kini berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp38-40 ribu per kilogram.

    Harga tersebut relatif sama dengan bawang putih yang masih stabil di kisaran Rp30-35 ribu per kilogram.

    ”Harga bawang merah Purbolinggo ini sudah lama turunnya, ada sekitar tiga bulan lalu. Ada juga yang jual Rp30 ribu, ukurannya agak kecil-kecil,” ujar Dewi.

    Sebaliknya, sejumlah sayuran mulai mengalami kenaikan. Tomat yang biasanya dijual Rp10-15 ribu per kilogram kini mencapai Rp18 ribu per kilogram.

    Kenaikan juga terjadi pada manisa yang bergerak dari Rp13-15 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram.

    Terong naik dari Rp18-20 ribu menjadi Rp22-23 ribu per kilogram, sedangkan timun yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu kini berada di kisaran Rp18-30 ribu per kilogram.

    ”Tomat sudah naik dua hari lalu, Manisa juga naik dari Rp13-15 ribu jadi Rp18 ribu, terong juga naik dari harga Rp18-20 ribu per kg, jadi Rp22-23 per kilogram dan timun juga naik dari Rp10 ribu jadi Rp18-30 ribu per kilogram,” ujarnya.

    Kenaikan harga juga terjadi pada ayam potong. Dari harga normal sekitar Rp33-35 ribu per kilogram, kini ayam dijual pada kisaran Rp37-38 ribu per kilogram.

    ”Ayam kotor Rp37 ribu, kalau ayam broiler bersih Rp38 ribu per kilogram,” ucap pedagang lain.

    Komoditas lain yang mengalami kenaikan cukup terasa adalah ikan nila segar. Harganya yang sebelumnya berada di kisaran Rp45-55 ribu per kilogram, kini terpantau mencapai Rp63-65 ribu per kilogram.

    Kenaikan tersebut turut dirasakan pedagang makanan yang menggunakan nila sebagai salah satu bahan utama menu jualannya.

    Maryam, pedagang Lalapan Warung Suramadu, mengatakan tingginya harga ikan membuat dirinya harus mengurangi jumlah pembelian.

    ”Sudah setengah bulan lebih ini, harga nila naiknya kebangetan. Saya sampai gak beli, tapi karena kasihan sama pelanggan yang nyari, saya beli sedikit saja, karena harga ikan segarnya saja sudah naik, terpaksa harga nila goreng lalapan juga saya naikan,” ujar Maryam.

    Maryam terpaksa menyesuaikan harga menu nila goreng lalapan yang sebelumnya dijual Rp23 ribu, sudah termasuk nasi. Kini harga jualnya menjadi Rp30 ribu.

    ”Sudah seminggu lebih ini saya jual Rp30 ribu. Sebelum pesan, saya kasih tahu dulu ke pelanggan, kalau harganya naik, jadi bagi yang mau-mau aja, nyetok juga gak banyak,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Krisis Air Bersih di Wilayah Selatan Belum Berakhir, Bupati Kotim Instruksikan Perumdam dan SOPD Suplai 60.000 Liter Per Hari

    Krisis Air Bersih di Wilayah Selatan Belum Berakhir, Bupati Kotim Instruksikan Perumdam dan SOPD Suplai 60.000 Liter Per Hari

    SAMPIT, kanalindependen.id – Kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan mulai membawa dampak berantai khususnya bagi warga di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

    Tak hanya menghadapi ancaman karhutla, masyarakat kini juga kesulitan mendapatkan air bersih layak konsumsi.

    Menindaklanjuti persoalan tersebut Bupati Kotim Halikinnor memastikan suplai air untuk warga wilayah selatan akan terus berlanjut selama tidak ada hujan dan selama masih ada usulan permintaan dari desa setempat.

    Bupati Kotim juga membuktikan ucapannya sebelumnya pada Kamis (17/9/2026) lalu, saat meninjau proses distribusi air ke rumah warga di sejumlah desa wilayah selatan, ia menyatakan bantuan akan terus disalurkan secara berkelanjutan.

    Sehari setelah kunjungannya, Halikin tak banyak menbuang waktu dan merespons cepat keluhan warganya dengan menginstruksikan Perumdam Tirta Mentaya Sampit bersama sejumlah SOPD memasok sekitar 60.000 liter air bersih setiap hari ke rumah-rumah warga di wilayah selatan sesuai kebutuhan masyarakat.

    ”Kurang lebih 60.000 liter per hari kita salurkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di wilayah selatan. Ini bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan masyarakat tetap mendapatkan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar,” ujar Halikinnor, Senin (21/9/2026).

    Halikin meminta camat dan kepala desa aktif memantau persediaan air masyarakat sekaligus menghitung kebutuhan di wilayah masing-masing. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan kapan dan ke mana armada kembali digerakkan.

    Dengan demikian, distribusi air tidak semata berdasarkan jadwal, tetapi dapat disesuaikan apabila persediaan warga mulai menipis atau terdapat wilayah yang membutuhkan penanganan lebih cepat.

    Krisis Air Bersih Belum Berakhir

    Persoalan krisis air bersih di wilayah selatan Kotim berawal dari kemarau panjang yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

    Curah hujan yang minim membuat sumber air masyarakat semakin terbatas, sementara sebagian sumber air baku PDAM mengalami perubahan kualitas.

    Di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), jaringan Perumdam Tirta Mentaya masih mengalir. Namun, air yang mengalir melalui jaringan tersebut tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk konsumsi karena kadar salinitas pada sumber air meningkat.

    Perumdam mengambil salah satu sumber air terdekat dari Sungai Sampit. Ketika musim kemarau berkepanjangan, masuknya air laut menyebabkan kadar garam pada sumber air tersebut meningkat sehingga kualitas air menurun.

    Situasi tersebut membuat sebagian warga harus membeli air dari sumber lain untuk kebutuhan minum dan memasak.

    Kondisi lebih berat dialami sejumlah wilayah Kecamatan Teluk Sampit karena jaringan PDAM belum menjangkau kawasan tersebut. Warga di wilayah ini lebih bergantung pada sumber air setempat yang ikut terdampak kekeringan.

    Ketua Pemuda Tani Kotim Muhammad Abdul Rasyid mengatakan respons pemerintah daerah sangat dibutuhkan karena kebutuhan masyarakat terus berjalan setiap hari.

    ”Kami sangat berterima kasih Pak Bupati merespons cepat keluhan warga di wilayah selatan yang sangat membutuhkan air bersih. Saya hanya ingin ikut membantu Pak Bupati dan jajaran Pemkab mendistribusikan air bersih. Saya kasihan melihat masyarakat yang sangat membutuhkan air,” kata Rasyid saat diwawancarai melalui telepon, Senin (21/9/2026).

    Menurutnya, Teluk Sampit menjadi salah satu wilayah yang paling membutuhkan perhatian karena belum terjangkau jaringan PDAM.

    ”Paling mendesak ke Teluk Sampit karena jaringan PDAM belum sampai sana. Jadi kondisinya benar-benar kekeringan dan sangat membutuhkan air. Di MHS ini masih ada PDAM, air masih mengalir, tetapi tidak layak untuk konsumsi karena asin. Kalau di Teluk Sampit benar-benar menghadapi krisis air bersih,” ujarnya.

    Dari Bantuan Awal Menjadi Suplai Harian

    Langkah Pemkab Kotim memperpanjang distribusi air bersih tersebut merupakan kelanjutan dari penyaluran bantuan yang dilakukan Halikinnor bersama jajarannya pada Kamis (17/9/2026).

    Saat itu, sebanyak 40.000 liter air bersih disalurkan untuk warga Desa Sei Ijum Raya, Sebamban, Parebok dan Lampuyang. Distribusi melibatkan delapan mobil tangki serta 28 mobil double cabin yang membawa profil tank berkapasitas 5.000 liter.

    Bantuan awal tersebut kemudian berkembang menjadi distribusi rutin setelah pemerintah melihat kebutuhan warga masih berlangsung dan sumber air belum kembali normal.

    Dari laporan camat setempat, diperkirakan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah terdampak mencapai sekitar 60.000 liter per hari.

    Perhitungannya antara lain mengacu pada sasaran sekitar 300 rumah di setiap desa dengan alokasi satu drum berkapasitas sekitar 220 liter untuk setiap rumah.

    ”Setelah dilakukan pendataan, kebutuhan air untuk Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan dikisaran 66.000 liter per hari. Supaya penyalurannya terukur dan terarah, kami tuntaskan penyaluran air per desa, berlanjut ke desa lainnya,” katanya.

    Hal tersebut dilakukan karena jumlah armada yang tersedia terbatas. Namun, apabila terdapat kondisi mendesak, armada dapat digeser ke wilayah lain tanpa harus menunggu seluruh distribusi di satu desa selesai.

    ”Kalau urgent, kami bisa saja lompat dan menggeser armada ke warga desa yang membutuhkan. Karena armada yang disediakan terbatas, kami harus mengatur supaya distribusinya efektif,” ujarnya.

    ”Kami gotong royong bersama kades dan lurah menurunkan armadanya. Karena itu, warga desa yang masih belum mendapatkan mohon bersabar karena distribusi air disalurkan bertahap per desa,” tambahnya.

    Ia memastikan bantuan air bersih tersebut diupayakan tetap diberikan secara gratis kepada warga terdampak.

    ”Insya Allah diupayakan warga di wilayah selatan yang terdampak mendapat bantuan air bersih dari Pemkab Kotim secara gratis,” katanya.

    Posko MHS Jadi Titik Pengendalian Distribusi

    Untuk mempercepat mobilisasi, Pemkab Kotim menjadikan halaman Kantor Kecamatan MHS sebagai posko distribusi air bersih.

    Lokasi tersebut dipilih karena berada pada jalur yang dinilai lebih efektif untuk mengatur distribusi ke wilayah MHS sekaligus mendukung pengiriman air menuju Teluk Sampit.

    Perumdam Tirta Mentaya difokuskan memasok sekitar 30.000 liter air per hari ke Kantor Kecamatan MHS.

    Air yang tiba di posko kemudian didistribusikan menuju rumah warga menggunakan mobil double cabin, pikap pemerintah desa maupun kendaraan masyarakat yang mampu menjangkau permukiman.

    Sementara sejumlah SOPD diarahkan melakukan pengiriman langsung ke rumah warga.

    Camat MHS Wahyudah mengatakan pola tersebut sudah berjalan sejak Jumat dan terus dilakukan hingga semua warganya mendapatkan bantuan air bersih.

    ”Mulai Jumat sampai hari ini kami terus menyalurkan air ke setiap desa. Total ada delapan desa dan dua kelurahan di wilayah Kecamatan MHS, kami upayakan semua akan menerima bantuan air bersih,” kata Wahyudah.

    Pemerintah kecamatan telah mendata sasaran penerima. Masing-masing desa dialokasikan bantuan untuk sekitar 300 kepala keluarga, dengan setiap rumah memperoleh satu drum air berkapasitas sekitar 220 liter.

    ”Kami sudah data, masing-masing desa mendapatkan bantuan air bersih untuk 300 KK. Setiap rumah mendapatkan bantuan satu drum. Kami meminta setiap warga meletakkan drum kosong di depan rumahnya agar saat suplai air datang tidak perlu menunggu,” jelasnya.

    Wahyudah mengatakan distribusi dilakukan langsung ke rumah warga karena tidak semua kawasan dapat dijangkau kendaraan tangki berukuran besar.

    ”Air bersih diantar ke rumah-rumah warga. Dari Kamis sampai Senin ini terus disalurkan. Siang malam kami bergerak, bukan hanya untuk warga MHS tetapi juga enam desa di Teluk Sampit,” katanya.

    Namun, keterbatasan kendaraan membuat distribusi belum dapat menjangkau seluruh wilayah secara bersamaan.

    ”Karena memang kita kekurangan armada, baru tiga desa di MHS yang terpenuhi dan Teluk Sampit sudah dua desa,” ujar Wahyudah.

    Keterbatasan armada menjadi salah satu persoalan yang harus diatasi pemerintah dalam mempercepat distribusi.

    Karena itu, sejumlah SOPD ikut mengerahkan kendaraan masing-masing. Perumdam tidak hanya menjadi pemasok air, tetapi difokuskan mengisi posko sehingga kendaraan lain dapat bergerak lebih fleksibel menuju permukiman.

    Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) Kotim mengerahkan satu mobil tangki dan dua mobil double cabin dengan total kapasitas sekitar 15.000 liter.

    Dinas SDABMBKPRKP menurunkan empat truk dan empat mobil double cabin dengan kapasitas total sekitar 20.000 liter.

    Sekretariat Daerah Kotim turut mengerahkan satu mobil tangki berkapasitas 5.000 liter.

    Selain itu, tambahan armada double cabin dari perangkat daerah juga dimanfaatkan untuk menjangkau jalan lingkungan dan gang sempit yang tidak dapat dimasuki truk tangki.

    Wahyudah mengatakan kendaraan berukuran lebih kecil justru sangat penting dalam tahap distribusi terakhir.

    ”Kalau berupa mobil tangki tidak bisa masuk, sehingga harus menunggu di jalan utama. Mulai Sabtu lalu ada tambahan bantuan air dari Setda. Mobil double cabin ini sangat membantu karena bisa masuk ke wilayah yang tidak bisa dijangkau truk,” jelasnya.

    Ia menyebut dukungan armada terus bertambah untuk mempercepat distribusi.

    ”Hari ini ada tambahan bantuan armada dari Disdik untuk menyalurkan ke gang-gang sempit menggunakan mobil double cabin, penyaluran air masih terus berlanjut ke desa-desa lainnya di Kecamatan MHS dan Teluk Sampit,” pungkasnya. (hgn/ign)

  • Akhir Penangguhan Janggal: Tersangka Kekerasan Seksual Anak Kembali ke Sel di Bawah Komando Kapolresta Baru

    Akhir Penangguhan Janggal: Tersangka Kekerasan Seksual Anak Kembali ke Sel di Bawah Komando Kapolresta Baru

    PALANGKA RAYA, kanalindependen.id – Perlu waktu 13 hari dan seorang pemimpin baru untuk mengembalikan seorang mahasiswa tersangka dugaan kekerasan seksual anak ke tempat yang semestinya.

    Mahasiswa berinisial D tersebut akhirnya kembali diringkus ke sel tahanan Polresta Palangka Raya pada Senin (21/9), mengakhiri polemik status tahanannya yang sempat memicu gelombang kritik publik.

    Kapolresta Palangka Raya yang baru menjabat, Kombes Pol. Andiyatna, membenarkan penahanan kembali tersangka tersebut. Saat dikonfirmasi wartawan via pesan WhatsApp pada Senin (21/9), ia memberikan jawaban ringkas namun pasti.

    ”Terhadap yang bersangkutan sudah kita lakukan penahanan,” ujarnya singkat.

    Eksekusi penahanan ini menciptakan kontras yang tajam dalam lini masa penanganan perkara.

    Andiyatna resmi menjabat pada pertengahan September, menggantikan Kombes Pol. Dedy Supriadi.

    Dia adalah figur pimpinan baru yang tidak tersangkut paut dengan keputusan penangguhan awal, maupun perintah pembatalan pertama yang sebelumnya belum dijalankan oleh penyidik Satreskrim selama 13 hari.

    Apresiasi dan Peringatan “Lex Specialis”

    Langkah tegas di bawah kepemimpinan baru ini disambut positif oleh pihak korban. Penasihat hukum korban, Ari Yunus Hendrawan, menilai kepolisian telah mengembalikan marwah penegakan hukum pada jalur yang semestinya demi mewujudkan Palangka Raya sebagai kota ramah anak.

    ”Dalam hal tersangka kasus pelecehan seksual terhadap anak itu ditahan, kita apresiasi. Kepolisian berarti sudah melaksanakan tugas dan fungsi yang sebenarnya dengan mengutamakan keadilan bagi korban,” ujar Ari.

    Kendati demikian, Ari memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak bersifat lex specialis.

    Penanganannya mengikat secara khusus dan tidak boleh disamakan dengan delik pidana umum.

    ”Ini adalah lex specialis, maka perlakuannya harus ketat, tidak boleh sembarangan. Penanganannya harus khusus, jangan asal memberi pertimbangan yang keliru meskipun itu kewenangan. Apabila merobek keadilan buat masyarakat, kita akan lawan,” tegasnya.

    Menatap fase hukum selanjutnya, Ari mendesak Kejaksaan Negeri setempat untuk bersikap progresif.

    Dia meminta jaksa penuntut umum memastikan tersangka tetap ditahan begitu berkas perkara dinyatakan lengkap (P-21), guna menutup celah kejanggalan berulang seperti di tingkat penyidikan.

    Teka-Teki Prosedur yang Belum Terjawab

    Kembalinya tersangka D ke sel tahanan sekaligus menjawab desakan publik yang memuncak dalam 13 hari terakhir.

    Akademisi hukum Deky Kasenda sebelumnya menilai penangguhan tersebut sebagai indikator lemahnya penegakan hukum perlindungan anak yang berisiko mengganggu pemulihan mental korban.

    Nada tak kalah keras disuarakan praktisi hukum Rusli Kliwon yang secara gamblang menyebut keputusan itu sebagai “pelecehan hukum”.

    Ia menegaskan bahwa tidak ada landasan moral maupun hukum yang kuat untuk membebaskan tersangka, mengingat delik ini adalah pidana berat dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara bagi korban di bawah 16 tahun.

    Sementara Ketua PPKHI Kalteng, Suriansyah Halim, menduga penyidik telah melanggar aturan kepatutan.

    Baginya, melonggarkan perkara dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara teramat janggal dan hanya akan menanam preseden buruk yang memicu krisis kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. (ign)

  • Tenggat Terlewati, PAD Nihil: KPPM Menagih Nyali Kepala DKUKMPP Kotim Hidupkan Swalayan UMKM

    Tenggat Terlewati, PAD Nihil: KPPM Menagih Nyali Kepala DKUKMPP Kotim Hidupkan Swalayan UMKM

    SAMPIT, kanalindependen.id –  Bangunan Swalayan UMKM di Jalan Yos Sudarso, Sampit, menyimpan riwayat tenggat waktu yang terus meleset.

    Diresmikan pada awal 2025 sebagai proyeksi sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kotawaringin Timur (Kotim), tempat ini beroperasi lebih dari setahun tanpa ada catatan realisasi retribusi yang terkonfirmasi ke kas daerah.

    Pengelola pertamanya, Sardi Fakhri Rakhman, mundur sebelum masa tugas dua tahun yang diberikan kepadanya rampung.

    Berdasarkan Surat Keputusan (SK) 5 Mei 2025, ia sesungguhnya mengantongi keleluasaan waktu untuk memutar roda bisnis swalayan tersebut.

    Pemerintah Kabupaten Kotim kemudian merombak strategi. Melalui SK tertanggal 8 April 2026, penunjukan beralih kepada Rahmad Noor. Tenggat waktu dipangkas tajam menjadi tiga bulan.

    Pihak pengelola diwajibkan memulai penyetoran retribusi selambat-lambatnya awal Juli 2026.

    ”Saya yakin dengan strategi yang dijalankan, swalayan ini bisa hidup dan nantinya berkontribusi pada PAD,” kata Rahmad saat menerima tanggung jawab tersebut.

    Namun, tenggat Juli terlewati tanpa ada konfirmasi resmi penyetoran. Persoalan retribusi ini kini melekat pada Muslih, yang pada 11 September 2026 resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kotim definitif, setelah sekitar enam bulan menjabat pelaksana tugas.

    Muslih menjadi bagian dari rotasi 16 pejabat eselon II bentukan Bupati Halikinnor berdasarkan Keputusan Bupati Kotawaringin Timur Nomor 800.1.3.3/774/BKPSDM-MP/.

    Sebelum berstatus definitif, ia mengendalikan dinas ini sejak 2 Maret 2026, menggantikan Johny Tangkere yang purnatugas sehari sebelumnya. Sembari menjabat, Muslih merangkap Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM.

    Rentetan Tenggat yang Meleset

    Sepanjang April hingga Agustus 2026, jajaran DKUKMPP menginisiasi serangkaian kampanye promosi.

    Mereka menggelar uji coba “ngopi bareng” mingguan yang bermula di swalayan sebelum digeser ke Ikon Jelawat, penyelenggaraan Bazar Swalayan UMKM pada 10 Juni 2026, serta pelibatan sekitar 20 pelaku usaha dalam Bazar Bhayangkara.

    Deretan agenda tersebut belum terkonversi menjadi catatan pendapatan daerah. Saat peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 pada 12 Juli 2026, Penjabat Sekretaris Daerah Kotim saat itu, Umar Kaderi, masih menempatkan kontribusi PAD swalayan dalam bingkai target, bukan capaian.

    Tiga pekan berselang, 3 Agustus 2026, Muslih memproyeksikan tempat itu sebagai sentra oleh-oleh daerah, tanpa menyebutkan status realisasi retribusi yang jatuh tempo sebulan sebelumnya.

    Sejauh penelusuran, tidak ditemukan dokumen atau pernyataan resmi DKUKMPP yang mengonfirmasi retribusi Swalayan UMKM telah berjalan.

    KPPM Tagih Target 100 Hari

    Persoalan itulah yang menjadi latar ketika Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM) Sampit mendesak Muslih segera menunjukkan gebrakan nyata di sektor UMKM, koperasi, perdagangan, dan perindustrian.

    ”Dengan telah definitifnya pimpinan DKUKMPP, tentu masyarakat menaruh harapan besar. Kami tidak ingin terburu-buru memberikan penilaian, tetapi sekarang saatnya kita melihat apa yang mampu dilakukan dan diselesaikan. Jangan sampai persoalan yang selama ini menjadi pekerjaan rumah hanya terus berputar tanpa penyelesaian yang jelas,” ujar Wakil Ketua Umum KPPM, Habib.

    Terkait Swalayan UMKM secara khusus, Habib meminta pengelolaannya dilakukan profesional.

    ”Kami berharap Swalayan UMKM jangan hanya menjadi tempat menitipkan produk. Harus ada strategi pemasaran, peningkatan kunjungan, evaluasi omzet dan target yang jelas. Kalau pemerintah menargetkan kontribusi terhadap PAD, publik juga berhak mengetahui bagaimana progresnya,” katanya.

    Evaluasi yang sama diarahkan pada program pembinaan. “Jangan sampai keberhasilan hanya dihitung dari berapa kali pelatihan dilaksanakan atau berapa banyak peserta yang hadir. Yang paling penting adalah apa yang terjadi setelah pelatihan. Apakah omzet mereka meningkat? Apakah pasarnya bertambah? Apakah mereka mampu bertahan dan berkembang?” tambahnya.

    Data Bank Indonesia yang dihimpun BPS Kotim menunjukkan skala perputaran modal yang dipertaruhkan di balik rentetan pertanyaan tersebut.

    Posisi kredit UMKM di Kotim bergerak naik dari Rp2,44 triliun pada Januari 2024 menjadi Rp2,65 triliun pada Desember 2024, tumbuh sekitar 8,6 persen.

    Dari sisi sektor usaha, hampir separuh dari total posisi kredit tersebut, atau sekitar Rp1,23 triliun, tertanam di sektor perdagangan besar dan eceran.

    Serapan ini jauh melampaui sektor pertanian yang hanya Rp91,7 miliar dan industri pengolahan Rp66,1 miliar, meski Kotim identik sebagai daerah penyokong sawit dan karet.

    Secara skala usaha, kredit mikro dengan plafon di bawah Rp50 juta turut mendominasi di angka Rp1,23 triliun pada akhir 2024, mencakup sekitar 46 persen dari total kredit UMKM yang beredar.

    Selain urusan swalayan dan pembinaan pedagang, KPPM meminta DKUKMPP memastikan kelancaran distribusi dan stabilitas harga kebutuhan pokok. Sorotan juga merambah pada pembinaan ratusan koperasi di Kotim.

    ”Koperasi jangan hanya bagus di data administrasi. Ukurannya adalah apakah koperasi tersebut benar-benar berjalan, melakukan RAT, memiliki aktivitas usaha dan memberikan manfaat ekonomi bagi anggotanya,” lanjut Habib.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim memberi angka pada kekhawatiran itu. Berdasarkan publikasi Kabupaten Kotawaringin Timur Dalam Angka 2025, tercatat 458 koperasi berdiri di wilayah ini sepanjang 2024, dengan 384 entitas berstatus aktif.

    Walau secara kuantitas dominan, dari 384 koperasi aktif tersebut, hanya 78 yang benar-benar menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT).

    Angka partisipasi RAT ini terus merosot setiap tahun, dari 29 persen pada 2022, turun menjadi 21,8 persen pada 2023, dan menyusut ke 20,3 persen pada 2024.

    Nilai kapital yang berputar di ekosistem koperasi Kotim sendiri berjumlah besar. BPS mencatat modal sendiri koperasi aktif se-Kotim sepanjang 2024 menembus 85,15 miliar rupiah, ditopang modal luar 76,97 miliar rupiah.

    Entitas-entitas ini membukukan omzet tahunan 224,63 miliar rupiah serta Sisa Hasil Usaha (SHU) mencapai 105,58 miliar rupiah.

    Secara peta sebaran, 90 koperasi aktif berpusat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, melampaui statistik kecamatan mana pun.

    Habib menegaskan organisasi kepemudaan itu tidak bermaksud menghakimi kepala dinas yang baru definitif.

    ”Kami tidak sedang mencari-cari kesalahan. Kami ingin melihat keberanian seorang pimpinan definitif dalam menyelesaikan persoalan. Karena jabatan bukan hanya soal kewenangan, tetapi juga soal tanggung jawab dan hasil yang bisa dirasakan masyarakat,” tegasnya.

    Karena itu, KPPM mendorong Muslih menyusun dan membuka ke publik target kinerja 100 hari pertama.

    ”Sekarang pertanyaannya bukan lagi siapa yang menjabat, tetapi apa yang mampu diselesaikan. Kami akan melihat dan mengawal progresnya. Kalau ada capaian, tentu harus diapresiasi. Kalau ada persoalan yang belum selesai, kami akan menyampaikan kritik secara terbuka dan berdasarkan data,” kata Habib. (ign)

  • Menguji Proses Adat di Meja Hijau: Saat Korporasi Menggali Sidang yang Lima Kali Diabaikan

    Menguji Proses Adat di Meja Hijau: Saat Korporasi Menggali Sidang yang Lima Kali Diabaikan

    SAMPIT, kanalindependen.id – Ruang sidang Pengadilan Negeri Sampit, Rabu (16/9/2026), menjadi saksi sebuah kontras yang tajam.

    Pertanyaan yang sama menggema sampai dua kali dari lisan Ivan MP Tampubolon. Kuasa hukum PT Binasawit Abadipratama (BAP) itu mendesak Sardiono menjelaskan makna takian petak, istilah yang menjadi nama perkara adat warga Desa Sebabi.

    “Takian petak,” jawab Sardiono saat menyebut nama perkara tersebut. “Takian petak itu apa?” kejar Ivan. “Kurang paham saya.”

    Ivan tidak berhenti. Ia menegaskan posisinya bukan orang setempat dan bukan masyarakat adat, lalu kembali meminta penjelasan. Jawaban Sardiono tak bergeser, ”Saya juga kurang paham,” katanya.

    Sardiono merupakan satu dari enam Pangadu dalam perkara adat tersebut. Makna istilah yang ditanyakan, beserta hampir seluruh jawaban atas rentetan pertanyaan lain seputar proses adat hari itu, sebenarnya tertulis rapi dalam berkas perkara Majelis Kerapatan Mantir Basara Hai.

    Sebuah forum peradilan adat yang lima kali melayangkan panggilan kepada PT BAP, tetapi tak sekalipun dihadiri oleh pihak perusahaan.

    Terseret ke Pusaran Sidang Adat

    Perkara yang tengah bergulir di PN Sampit ini sejatinya memiliki objek yang berbeda. Gugatan senilai Rp104 miliar dari PT BAP menyasar Damang Kepala Adat Kecamatan Telawang Yustinus Saling Kupang, Anggota DPRD Kotawaringin Timur Parimus, dan Kepala Desa Sebabi Dematius atas lahan seluas 50,38 hektare.

    Sementara itu, perkara adat menyangkut hamparan 1.607 hektare, area yang jauh lebih luas dan berjalan pada jalur hukum terpisah.

    Dua tergugat, Parimus dan Dematius, hadir langsung di ruang sidang sebagai prinsipal, pihak berperkara yang hadir sendiri mendampingi kuasa hukumnya, untuk menyaksikan jalannya pemeriksaan.

    Isu adat justru menyeruak dari mulut saksi. Saat Sapriyadi, kuasa hukum para tergugat, menanyakan apakah ada keterangan tambahan yang ingin disampaikan.

    Sardiono merespons dengan menyinggung dasar penguasaan lahan warga. “Bukti kepemilikan memang kami tidak mempunyai surat. Tetapi kami sudah dibuktikan dengan adanya putusan dari sidang adat,” katanya.

    Pernyataan inilah yang memicu pendalaman bertahap. Ivan mengonfirmasi posisi Sardiono sebagai Pangadu beserta jumlah pengadu, sebelum menukik ke substansi sengketa.

    Dia mencecar apakah takian petak berkaitan dengan ganti rugi kepemilikan, menyangkut kebun plasma, berapa nominal tuntutannya, hingga eksistensi bukti yang diajukan.

    Sardiono merespons tidak untuk dua pertanyaan pertama, mengaku tidak tahu nilai tuntutan, lalu menyebut ada bukti berupa surat keterangan.

    Jawaban terakhir ini memancing reaksi meja hakim. Majelis mencatat bahwa sebelumnya saksi mengaku tidak tahu menahu soal bukti surat, tetapi mendadak menyebut surat keterangan.

    ”Saya masih catat loh, Pak,” ujar hakim, lalu mempertanyakan kesediaan saksi untuk menjawab.

    Sardiono secara lisan menyatakan tidak bersedia menjawab.

    Sapriyadi melayangkan keberatan beruntun. ”Yang Mulia, ini mendalami perkara lain. Kita fokus ke perkara ini saja, jangan sampai ke urusan adat,” katanya.

    Ketika Ivan bersikeras menggali proses adat, Sapriyadi kembali memotong tajam.

    ”Silakan bertanya kepada damang saja. Ini saksi fakta, bukan ranah adat,” tegasnya.

    Pemeriksaan tetap berlanjut. Majelis hakim mengambil alih kendali, menanyakan apakah pengaduan dalam sidang Basara Hai diajukan secara tertulis atau lisan. “Tertulis,” jawab Sardiono.

    Saat ditanya siapa yang menyusun draf tersebut, ia mengaku membuatnya melalui jasa rental. Ivan kembali mendesak apa instruksi yang diberikan kepada pihak rental.

    ”Tidak menjawab, Yang Mulia,” kata Sardiono.

    Begitu didesak lebih jauh mengenai isi dan lampiran bukti dalam pengaduan tertulis itu, ia menutup rapat keterangannya. ”Tidak mau jawab,” kata Sardiono.

    Pola pertahanan serupa berulang pada Priono, saksi kedua. Hakim Anggota Qurratul Aini Fikasari mempertanyakan rujukan hukum adat yang digunakan.

    ”Tidak tahu. Hukum adat, itu hukum orang Dayak,” jawab Priono. Tatkala ditanya apakah proses tersebut sudah usai, ia menyatakan sudah selesai dan hasilnya memenangkan pihak warga.

    Namun, saat diminta menjabarkan arti memenangkan dan wujud pelaksanaannya, Priono menolak.

    ”Saya tidak mau jawab, Bu. Supaya lebih jelas, tanya ke Mantir Basara Hai-nya saja supaya lebih jelas,” katanya sembari menyebut nama Wawan Embang.

    Priono juga menarik batas sendiri ketika pertanyaan meluas ke urusan koordinasi 1.600 warga.

    ”Mohon izin, Bu, karena ranah kita ke 50,38 hektare. Saya tidak mau menjawab,” ujarnya.

    Saksi ketiga, Anti Panting, tak luput dari cecaran soal adat. Ivan menanyakan apakah ia pernah berposisi sebagai pengadu. ”Siap, belum,” jawabnya.

    Menjelang akhir pemeriksaan Sardiono, Ketua Majelis Hakim Gorga Guntur menyinggung posisinya sebagai perwakilan kelompok enam yang membawa perkara ke forum yang ia sebut Pengadilan Basara Hai.

    Hakim menanyakan kapan putusan dijatuhkan. Sardiono menyebut tanggal 28 Agustus 2026, melalui proses sekitar sepuluh hari sidang, dari tanggal 20 hingga 28 Agustus.

    ”Oh, cepat ya,” ujar Gorga Guntur, sebelum memastikan ada tidaknya pemeriksaan lokasi, yang dijawab ada oleh saksi.

    Sisa pertanyaan hari itu dilempar oleh Ivan yang menyoal apakah bidang yang diperkarakan masih diduduki, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan apakah kelompok enam yang mendudukinya.

    Sardiono menjawab lahan itu masih diduduki, sementara jawaban atas pertanyaan berikutnya tidak terdengar jelas sebelum sidang akhirnya dirampungkan.

    Batas Kuasa Palu Hakim

    Pemeriksaan perkara perdata di pengadilan negeri di luar Jawa dan Madura mengacu pada Reglemen Daerah Seberang (RBg).

    Konstruksi hukum dalam Pasal 178 ayat (1) dan (2) RBg, yang setara dengan Pasal 150 ayat (1) dan (2) HIR, membekali hakim dengan wewenang penuh untuk memimpin jalannya pemeriksaan saksi.

    Kewenangan ini mencakup hak menolak pertanyaan dari pihak berperkara yang dinilai tidak relevan dengan pokok sengketa.

    Lebih jauh, ayat (3) pada pasal tersebut memberikan ruang bagi hakim untuk mengajukan pertanyaan yang dipandang perlu guna mengungkap kebenaran.

    Asas dominus litis menempatkan hakim bukan sekadar wasit pasif, melainkan pengendali aktif yang bertugas menggali kejelasan fakta demi penyelesaian sengketa secara tepat.

    Ruang gerak ini tetap memiliki pagar pembatas. Asas relevansi pembuktian mengunci bahwa hanya fakta terkait pokok perkara yang berhak diuji, sementara asas ultra petita partium melarang palu hakim memutus melebihi apa yang dimohonkan para pihak.

    Fakta yang Tertinggal di Lembar Berkas

    Dokumen resmi perkara adat memuat hampir seluruh jawaban atas rentetan pertanyaan yang bergelantungan di ruang sidang negara.

    Istilah takian petak yang gagal dijabarkan Sardiono, dirinci dalam putusan adat sebagai Pasal 90 Hukum Adat Dayak Tumbang Anoi 1894, yakni Perkara Takian Helang Tana, Bahu, Kabun.

    Klausul ini mencakup penyelesaian perselisihan batas ladang, kebun, serta sengketa bekas berladang dan berkebun.

    Secara kronologis, berkas mencatat jejak pengaduan tertulis yang berlapis. Enam warga melayangkan laporan awal pada 23 Februari 2026 kepada Damang Kepala Adat Kecamatan Telawang, Damang Kepala Adat Seruyan Raya, Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Telawang, dan seluruh Mantir Kecamatan Telawang.

    Damang Telawang lantas melimpahkan perkara tersebut ke Forum Koordinasi Damang Kepala Adat Kotawaringin Timur melalui surat bernomor 52/DKA-TLW/V/2026 tertanggal 14 Mei 2026.

    Berselang sehari, forum kabupaten meneruskannya ke tingkat provinsi, yang pada 16 Mei 2026 diteruskan lagi kepada Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah.

    Pertanyaan Hakim Gorga Guntur mengenai tinjauan lapangan juga terjawab.

    Pemeriksaan lapangan secara resmi digelar pada 20 dan 21 Mei 2026 berbekal Surat Tugas Dewan Adat Dayak Provinsi Nomor 069/DAD-KTG/ST/V/2026, jauh sebelum sidang adat dimulai.

    Rentang sepuluh hari yang disebut Sardiono ternyata hanya mencakup tahap persidangan akhir.

    Bila dihitung dari laporan awal 23 Februari 2026 hingga putusan dibacakan 28 Agustus 2026, keseluruhan proses berjalan sekitar enam bulan.

    Pijakan Konstitusi Peradilan Adat

    Majelis Kerapatan Mantir Basara Hai dibentuk melalui Keputusan Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 18/DAD-KT/SK/VI/2026. Konsiderans keputusan ini menunjuk dua pijakan operasional.

    Pertama, Pasal 31 ayat (1) Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak.

    Aturan ini menetapkan bahwa prosedur dan tata cara penyelesaian sengketa oleh Kerapatan Mantir atau Let Perdamaian Adat ditetapkan oleh Dewan Adat Dayak Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan memperhatikan masukan Damang Kepala Adat.

    Kedua, Bab IV angka 4.1.3 Peraturan Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Peradilan Adat Dayak Kalimantan Tengah, yang mengatur penanganan Perkara Berat melalui basara atau gelar perkara.

    Memayungi kedua aturan tersebut, Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menyatakan negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Dalam amar putusannya, majelis menempatkan Basara Hai sebagai majelis tertinggi dalam Peradilan Adat Dayak di Kalimantan Tengah.

    Di sisi lain, perda yang sama juga mengatur kekuatan putusan adat. Pasal 28 ayat (1) menyebut segala perselisihan, sengketa, dan pelanggaran hukum adat yang telah diselesaikan dan diberi sanksi adat melalui keputusan Damang dan Mantir atau Let Perdamaian Adat tingkat Kecamatan bersifat final dan mengikat semua pihak yang terlibat.

    Kendati demikian, berbagai kajian hukum mencatat bahwa minimnya mekanisme koordinasi perda dengan aparat penegak hukum formal kerap membuat putusan adat dinilai kekurangan daya eksekutorial setara putusan pengadilan negara, meski secara empiris memiliki legitimasi kuat di tengah masyarakat.

    Lima Panggilan yang Tak Pernah Dijawab

    Bagian yang paling menonjol dari putusan adat adalah catatan kehadiran. Putusan Nomor 002/MKMBH-KT/PTS/VIII/2026 mencatat Majelis Kerapatan Mantir Basara Hai melayangkan panggilan sidang adat kepada PT BAP secara berturut-turut pada 10 Agustus, 12 Agustus, 14 Agustus, 26 Agustus, dan 27 Agustus 2026.

    Dalam rumusan putusan itu, pihak perusahaan tidak pernah sekalipun menghadiri panggilan dimaksud, dan hanya membalas dengan dua pucuk surat.

    Majelis adat menilai sikap tersebut sebagai pelecehan terhadap Peradilan Adat sekaligus pelanggaran atas Pasal 96 Garis Besar Hukum Adat Dayak Perjanjian Damai Tumbang Anoi 1894.

    Sidang lanjutan perkara Rp104 miliar di PN Sampit dijadwalkan bergulir pada Rabu (30/9/2026), dengan agenda menghadirkan seorang ahli agraria dan satu saksi fakta tambahan dari pihak penggugat.

    Seluruh keterangan saksi yang mengemuka pada 16 September merupakan kesaksian dalam persidangan yang masih berjalan, dan penilaian atas bobot pembuktiannya berada murni di tangan majelis hakim. (ign)

  • Maut dari Laras Pinjaman di Tumbang Sepayang: Kematian Bocah SD dan Gelapnya Peredaran Senapan Angin di Kotim

    Maut dari Laras Pinjaman di Tumbang Sepayang: Kematian Bocah SD dan Gelapnya Peredaran Senapan Angin di Kotim

    SAMPIT, kanalindependen.id – Rutinitas di sekitar mess karyawan perkebunan kelapa sawit PT Unggul Lestari, Desa Tumbang Sepayang, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur mendadak terhenti oleh satu letusan tajam senapan angin.

    Seorang buruh panen berinisial Ss diduga tengah mencoba senjata laras panjang berjenis PCP milik tetangganya, dan diduga masih ada peluru tersisa di dalam laras saat itu. Senjata tersebut meletus.

    Pelurunya melesat menembus bagian bawah ketiak Rv, seorang pelajar sekolah dasar yang tengah berada tidak jauh dari lokasi kejadian pada Sabtu, 19 September 2026.

    Anak itu masih duduk di kelas V. Beredar informasi usianya 13 tahun. Rv sempat dibawa ke Puskesmas Santuai demi pertolongan medis dan visum, tetapi nyawanya tidak tertolong. Sesuai rencana keluarga, jenazah dimakamkan pada hari yang sama.

    Malam Tegang di Blok R30

    Kabar tewasnya Rv menyebar cepat ke seluruh desa. Terduga pelaku, Ss, diduga memilih melarikan diri sesaat setelah insiden terjadi.

    Warga yang marah kemudian melakukan penyisiran ke dalam areal perkebunan hingga masuk ke Blok R30, area yang diduga sebagai rute pelariannya. Sebagian dari massa membawa senjata tajam.

    Kepala Desa Tumbang Sepayang, Akwila, segera turun tangan menenangkan warganya. Ia khawatir kemarahan meluas menjadi isu kesukuan, kendati tidak merinci pemicu kekhawatiran tersebut.

    ”Saya tetap meminta agar semua pihak bisa menahan diri dan kita percayakan penanganan ini kepada aparat kepolisian,” katanya.

    Weldrek, perwakilan keluarga yang menyebut Rv, turut menyisir lokasi sembari berusaha meredam massa.

    ”Kalau kami ikuti emosi, sudah habis dia di lokasi karena massa yang hadir sangat banyak membawa senjata tajam. Kami masih menghargai adanya hukum,” ujarnya.

    Ia mendesak perkara ini diusut tuntas dan menolak narasi kelalaian biasa. ”Jangan sampai dialihkan ini dengan ketidaksengajaan menembak korban itu,” tegasnya.

    Pencarian semalaman itu berakhir pada Minggu dini hari. Kepolisian dan warga mengamankan Ss sekitar pukul 02.45 WIB.

    Kepala Desa bersama Ketua RT setempat mendampingi proses penangkapan sebelum Ss dibawa ke Polsek Parenggean.

    ”Bersama ketua RT, saya mengamankan pelaku dari massa untuk dibawa ke Polsek Parenggean dan akan dibawa ke Sampit,” kata Akwila.

    Satu Dekade Lintasan Peluru

    Letusan senjata api di kawasan perkebunan Kotawaringin Timur sebenarnya memiliki riwayat panjang. Catatan Kanal Independen merekam rentetan kekerasan bersenjata selama lebih dari satu dekade.

    Namun, insiden Rv membawa dimensi berbeda. Rentetan kasus terdahulu umumnya melibatkan senjata api sungguhan dengan motif sengketa keamanan atau pencurian aset.

    Kali ini, instrumennya adalah senapan angin. Korbannya anak sipil tanpa irisan konflik lahan. Terduga pelakunya buruh panen yang tengah mencoba senjata pinjaman.

    Tragedi ini menyingkap realitas lain. Senjata beredar dalam keseharian pekerja, luput dari pengawasan, lalu merenggut nyawa tanpa ada konflik yang melatarinya.

    Ironi Regulasi dan Senapan Pinjaman

    Kepemilikan senapan angin tidak luput dari jerat aturan. Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 mengategorikan senapan angin sebagai senjata api untuk kepentingan olahraga.

    Regulasi itu yang mensyaratkan keanggotaan klub menembak Perbakin, surat keterangan sehat jasmani rohani, serta melarang penggunaannya di luar lokasi latihan resmi.

    Ketentuan ini kemudian diperbarui lewat Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 1 Tahun 2023, yang mengategorikan senapan angin sebagai senjata api non-organik TNI/Polri.

    Realitas di Tumbang Sepayang justru menampilkan ironi. Senjata itu diletuskan bukan di lapangan tembak, melainkan di sekitar mess karyawan yang berdekatan dengan permukiman.

    Fakta bahwa senjata itu berstatus pinjaman dari tetangga menyisakan celah mengenai kejelasan izin resminya.

    Tragedi ini sekaligus menyingkap belum terukurnya skala peredaran senapan angin secara informal di kalangan buruh perkebunan Kotim, entah untuk berburu maupun mengusir hama, yang selama ini berjalan tanpa pengawasan.

    Penelusuran menyeluruh atas tata edar ini menjadi pijakan penting guna memetakan risiko keberadaan senjata setengah mematikan di kawasan kerja ribuan buruh.

    Kecepatan di Bawah Tekanan Massa

    Penanganan kasus Rv berlangsung sangat cepat dibandingkan riwayat penembakan di Kotim yang sering berlarut-larut.

    Terduga pelaku diamankan dalam hitungan jam. Kendati demikian, kecepatan ini lahir dari dorongan dan tekanan massa yang nyaris bergerak sendiri.

    Ujian sesungguhnya pada hari-hari mendatang adalah memastikan proses hukum berjalan sama tuntasnya, tanpa meredup begitu ketegangan lapangan mereda. (ign)

  • Targetkan Kotim Berkembang Pesat dalam 10 Tahun, Bupati Ungkap Rencana Bangun Hotel Berbintang 400 Kamar

    Targetkan Kotim Berkembang Pesat dalam 10 Tahun, Bupati Ungkap Rencana Bangun Hotel Berbintang 400 Kamar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor ingin melihat daerah yang dipimpinnya berkembang jauh lebih pesat dalam 10 tahun ke depan.

    Target itu tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan pembangunan, tetapi juga peningkatan aktivitas investasi dan ekonomi yang membuat Kotim semakin diperhitungkan di tingkat Kalimantan.

    Halikinnor mengatakan, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan anggaran pemerintah.

    Dengan kondisi fiskal yang terbatas, investasi swasta perlu menjadi bagian dari penggerak aktivitas ekonomi daerah.

    ”Target saya lima sampai sepuluh tahun ke depan, Kotawaringin Timur ini bukan hanya berkembang di Kalimantan Tengah, tetapi kalau bisa masuk lima atau tujuh besar daerah yang berkembang di Kalimantan,” kata Halikinnor, saat memberikan arahan dalam serah terima jabatan Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda), pejabat pimpinan tinggi pratama, pejabat administrator dan camat di Ruang Anggrek Tewu Lantai II Setda Kotim, Senin (14/9/2026).

    Halikin menyebut perkembangan Kotim harus dibangun melalui keberanian menangkap peluang, baik dari sisi investasi, pembangunan infrastruktur maupun upaya pemerintah daerah mencari program dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

    Halikinnor kemudian mengungkapkan rencana investasi hotel berkapasitas besar yang menurutnya dapat menjadi salah satu indikator mulai tumbuhnya kepercayaan investor terhadap Sampit.

    ”Ada investor yang berencana bangun hotel kurang lebih 400 kamar. Di bawahnya juga ada mal. Pemiliknya sudah bertemu dengan saya dan sekarang sedang dalam perencanaan,” ungkapnya.

    Menurutnya, investasi seperti itu tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Kehadiran investor akan menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka kebutuhan tenaga kerja dan mendorong perputaran usaha di daerah.

    ”Kalau investasi masuk, tentu ada lapangan pekerjaan. Ekonomi juga bergerak. Karena itu investasi ini harus kita dorong,” ujarnya.

    Sampit Mulai Mendapat Perhatian

    Halikinnor mengatakan Sampit kini semakin banyak mendapat perhatian karena memiliki posisi yang strategis untuk dikembangkan.

    Ia mengaitkan hal tersebut dengan semakin terbukanya konektivitas dan peluang investasi di daerah.

    Ia mencontohkan perkembangan Bandara Haji Asan Sampit yang kini telah melayani pesawat Airbus A320 yang telah melayani penerbangan perdana pada 12 Juni 2026 lalu.

    ”Tidak ada yang tidak bisa apabila kita memiliki kemauan, tekad, semangat, dan kegigihan untuk mencapai sesuatu,” tegasnya.

    Perkembangan sektor transportasi menunjukkan bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap sulit tetap dapat diwujudkan apabila pemerintah memiliki kemauan dan terus mengupayakannya.

    Masuknya pesawat Airbus A320 ke Sampit menjadi contoh bahwa peluang baru dapat terbuka ketika pemerintah terus berkomunikasi dan memperjuangkan kebutuhan daerah.

    ”Kalau kita punya kemauan, kita perjuangkan. Tidak boleh kita mengatakan tidak bisa sebelum kita berusaha,” ujarnya.

    Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan infrastruktur pendukung. Di Bandara Haji Asan, misalnya, pengembangan fasilitas masih menjadi bagian yang diupayakan pemerintah.

    Salah satunya, rencana perpanjangan runway Bandara Haji Asan Sampit dari panjang saat ini 2.060 meter dan lebar 30 meter menjadi panjang 2.250 dengan lebar 45 meter.

    Halikinnor menilai kemajuan daerah tidak boleh hanya dilihat dari apa yang sudah tersedia saat ini. Pemerintah harus berani membayangkan kebutuhan beberapa tahun ke depan sekaligus mulai menyiapkan fondasinya sejak sekarang.

    Karena itu, Halikinnor meminta jajaran perangkat daerah tidak hanya menjalankan rutinitas administrasi.

    Setiap kepala OPD harus mampu membaca peluang pembangunan dan aktif mencari program yang dapat dibawa ke Kotim.

    ”Jangan hanya bekerja dengan rutinitas. Kalau ada program, kegiatan atau anggaran yang bisa dibawa ke daerah, cari. Kita harus aktif,” katanya.

    Halikinnor menyadari kemampuan fiskal daerah memiliki keterbatasan. Karena itu, pembangunan Kotim membutuhkan kombinasi antara kemampuan APBD, dukungan pemerintah pusat dan masuknya investasi.

    Ia meminta perangkat daerah memahami bahwa mencari peluang pembangunan merupakan bagian dari tanggung jawab birokrasi, bukan semata-mata urusan kepala daerah.

    ”OPD itu pembantu utama bupati dan wakil bupati. Jadi harus tahu apa yang menjadi kebutuhan daerah, apa masalahnya, kemudian bagaimana mencari solusinya,” ujarnya.

    Ia menggambarkan perangkat daerah sebagai “dapur daerah” yang harus mampu bekerja cepat ketika menemukan persoalan maupun peluang.

    Menurut Halikinnor, kepala OPD harus mampu menggerakkan organisasi, membangun koordinasi dan menghasilkan program yang dapat dirasakan masyarakat. Kinerja tersebut nantinya menjadi bagian dari evaluasi terhadap pejabat.

    ”Kalau kita ingin daerah ini maju, cara kerjanya juga harus berubah. Harus ada inovasi, harus ada kemampuan menggerakkan organisasi dan harus ada hasil,” katanya.

    Kotim Harus Berani Menatap 10 Tahun ke Depan

    Halikinnor mengatakan target lima atau tujuh besar daerah berkembang di Kalimantan merupakan gambaran yang ingin ia kejar dalam jangka panjang.

    Ia menyebut pernah melihat informasi melalui YouTube mengenai daftar kabupaten yang diproyeksikan berkembang dalam 10 tahun mendatang.

    Dalam informasi yang ia sampaikan, Kotim disebut berada di urutan ketujuh di Kalimantan, sementara Berau, Kalimantan Timur, disebut berada di posisi pertama.

    Pernyataan tersebut disampaikan Halikinnor sebagai gambaran mengenai peluang pertumbuhan Kotim, bukan sebagai hasil pemeringkatan resmi pemerintah.

    ”Kalau dari Kalimantan Tengah, Kotawaringin Timur disebut masuk urutan ketujuh. Nomor satu disebut Berau, Kalimantan Timur,” katanya.

    Halikin menegaskan bahwa target pemerintah daerah bukan sekadar mengejar posisi dalam sebuah daftar, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar diwujudkan dengan meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

    Karena itu, Halikinnor meminta jajaran birokrasi memiliki cara pandang yang sama. Setiap peluang pembangunan harus dipetakan, dikomunikasikan dan diperjuangkan secara bersama-sama.

    ”Kalau kita mau maju, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Semua harus bergerak dan semua harus punya semangat yang sama untuk membangun daerah,” katanya.

    Halikin meyakini, peluang investasi akan semakin terbuka apabila pemerintah mampu memberikan kepastian, membangun komunikasi dengan calon investor dan memastikan perangkat daerah bekerja cepat ketika dibutuhkan.

    ”Harapan saya, lima sampai sepuluh tahun ke depan Kotim ini bisa menjadi daerah yang betul-betul berkembang pesat. Bukan hanya kita yang mengatakan, tetapi masyarakat bisa melihat dan merasakan hasilnya,” pungkas Halikinnor. (hgn/ign)

  • Akibat Intrusi Air Laut, Kadar Salinitas di Sungai Sampit Capai 630, Air PDAM Selatan Kotim Tak Layak Konsumsi

    Akibat Intrusi Air Laut, Kadar Salinitas di Sungai Sampit Capai 630, Air PDAM Selatan Kotim Tak Layak Konsumsi

    SAMPIT, kanalindependen.id – Persoalan krisis air bersih di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini bukan lagi sekadar berkurangnya debit air, tetapi sudah menyangkut masuknya air asin ke aliran Sungai Sampit yang menjadi salah satu sumber air baku PDAM.

    Kondisi itu membuat kadar salinitas air baku meningkat hingga 630, sehingga air hasil produksi Perumdam Tirta Mentaya tidak lagi layak diperuntukkan untuk konsumsi khususnya di wilayah selatan Kotim yang dekat kawasan pesisir.

    ”Keluhan warga di wilayah selatan ini persoalannya bukan kering, tapi kadar airnya asin. Kita masih bisa produksi, tetapi hanya untuk MCK. Kalau untuk diminum tidak bisa,” kata Ismanadi Direktur Perumdam Tirta Mentaya Sampit, saat diwawancarai, Rabu (16/9/2026).

    Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan kadar salinitas di sejumlah wilayah selatan sudah berada di atas ambang yang dinilai aman untuk dikonsumsi.

    Ismanadi menyebut pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) juga menunjukkan kadar salinitas sudah lebih dari 500.

    Bahkan, pengukuran di kawasan Samuda, Bapinang dan sekitarnya menunjukkan kadar salinitas sekitar 630.

    Ismanadi menjelaskan, air dengan salinitas di bawah 300 masih berada dalam batas aman untuk dikonsumsi. Karena itu, ketika angkanya sudah menembus lebih dari 500 hingga sekitar 630, air tersebut tidak lagi digunakan sebagai air minum.

    ”Kalau salinitasnya tinggi dipaksakan untuk dikonsumsi, bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti diare,” ujarnya.

    Air Tawar dari Hulu Berkurang, Air Asin Lebih Mudah Masuk

    Tingginya kadar garam tersebut berkaitan dengan kondisi Sungai Sampit yang mulai kehilangan dorongan air tawar dari bagian hulu.

    Ketika aliran air tawar dari hulu masih cukup kuat, air sungai memiliki tekanan yang lebih besar untuk mengalir ke arah hilir. Kondisi itu membantu menahan pengaruh air asin yang masuk bersama saat air pasang.

    Namun, ketika debit air tawar dari hulu mulai berkurang akibat kondisi kering berkepanjangan, pengaruh pasang menjadi lebih kuat.

    Air asin dapat masuk lebih jauh ke badan sungai dan bertahan lebih lama. Akibatnya, kadar garam pada sumber air baku meningkat.

    Berdasarkan pengamatan Perumdam. Biasanya, kadar salinitas akan diperiksa ketika air laut mengalami pasang. Namun persoalan kali ini tidak berhenti ketika pasang berakhir.

    ”Biasanya kalau pasang kita cek salinitasnya. Tapi ini pasang tinggi salinitas tinggi, kita tunggu surut ternyata masih tinggi juga,” jelasnya.

    Hujan menjadi faktor penting yang dapat mengubah kondisi tersebut. Bertambahnya air dari hulu akan meningkatkan kembali debit air tawar sehingga pengaruh air asin dapat berkurang.

    Sebaliknya, apabila kondisi kering terus berlangsung, kadar salinitas berpotensi tetap tinggi.

    Namun, persoalannya Kotim dan sekitarnya masih menghadapi kemarau panjang yang mengakibatkan hampir tak ada hujan lebih dua bulan.

    ”Kondisi air asin seperti ini juga pernah terjadi sekitar 1997, kadar salinitas bisa berkurang, apabila terjadi hujan di hulu yang membawa air tawar ke hilir,” ujarnya.

    Pelangsian Mulai Waspada, Sampit Masih Relatif Aman

    Saat ini kawasan yang paling terdampak adalah wilayah selatan, khususnya yang menggunakan sumber air dari Sungai Sampit. Sementara wilayah Kota Sampit secara umum masih relatif aman untuk kebutuhan air minum.

    Perumdam bahkan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk mengantisipasi pergerakan kondisi tersebut, terutama di kawasan Pelangsian.

    Di Pelangsian, kadar salinitas saat air pasang tinggi tercatat mendekati 400, sementara Total Dissolved Solids (TDS) atau total padatan terlarut, juga sudah berada di atas 300.

    ”Pelangsian ini kita pantau terus. Karena saat pasang bisa mendekati 400, TDS di atas 300. Kalau surut turun lagi,” ujar Ismanadi.

    Untuk memastikan air tetap berada dalam kondisi yang dapat diproses, pemeriksaan bahkan dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari.

    ”Bisa kita cek di laboratorium dua atau tiga kali sehari karena salinitasnya berubah-ubah,” katanya.

    Sementara itu, kawasan Baamang dan wilayah utara Kotim secara umum belum mengalami persoalan serupa. Air Perumdam di kawasan tersebut masih dapat digunakan untuk konsumsi.

    Enam Mobil Tangki Disiapkan Kirim Air dari Sampit

    Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah selatan, Perumdam Tirta Mentaya menyiapkan langkah distribusi air dari Sampit.

    Langkah tersebut dilakukan berdasarkan arahan Bupati Kotim. Delapan mobil tangki dan 28 mobil yang mengangkut profil tank dengan total 40.000 liter telah didistribusikan ke wilayah selatan di sejumlah desa terdampak seperti Desa Sei Ijum Raya, Sebamban dan Desa Parebok pada Kamis (17/9/2026).

    “Distribusi air bersih sebenarnya sudah disaluran ke wilayah Selatan Kotim sejak 17 Juli 2026 sesuai usulan desa,” ujarnya.

    Dalam pelaksanaannya, setiap hari sekitar empat hingga enam kendaraan dikerahkan, dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 liter.

    Keterbatasan utama yang dihadapi adalah kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Perumdam juga telah mengupayakan bantuan BBM untuk mendukung distribusi agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti.

    ”Distribusi ini setiap hari kita lakukan. Sekarang kendalanya BBM. Kita juga sudah mengajukan bantuan BBM,” kata Ismanadi.

    Air Gratis Disediakan di Sejumlah Titik

    Selain mengirimkan air langsung ke wilayah terdampak, Perumdam juga menyediakan air bersih gratis di sejumlah titik produksi.

    Di antaranya Kota Besi, Cempaka Mulia, Lubuk Ranggan dan Pundu.

    Masyarakat yang terdampak dapat mengambil air tersebut menggunakan kendaraan sendiri. Bahkan kelompok masyarakat dapat membawa kendaraan seperti pikap yang dilengkapi profil tank berkapasitas 1.000 hingga 2.000 liter.

    Namun pengambilan air gratis tersebut harus disertai surat dari camat atau lurah setempat.

    Persyaratan itu diberlakukan untuk memastikan air benar-benar diberikan kepada masyarakat yang terdampak dan tidak diperjualbelikan kembali.

    ”Kalau mau ambil air gratis, harus ada surat dari camat atau lurah. Ini supaya air gratis itu tidak dikomersialkan atau dijual lagi,” tegas Ismanadi.

    Air Perumdam Bukan untuk Sawah

    Prioritas distribusi air bersih saat ini adalah kebutuhan masyarakat, terutama untuk kebutuhan minum dan rumah tangga.

    Karena itu, air yang didistribusikan Perumdam tidak diarahkan untuk kebutuhan persawahan.

    Menurut Ismanadi, kebutuhan air untuk pertanian berbeda dengan kebutuhan air yang telah melalui proses pengolahan untuk masyarakat.

    ”Kalau untuk sawah itu bukan air yang kita distribusikan. Prioritas kita masyarakat, terutama untuk minum,” katanya.

    Air produksi Perumdam telah melalui proses pengolahan, termasuk penjernihan dan penyesuaian pH, sedangkan kebutuhan sawah lebih membutuhkan air baku dalam jumlah besar.

    Perumdam Tak Bisa Menjamin Air Sumur Bor

    Ismanadi juga mengingatkan masyarakat yang menggunakan sumur bor agar tidak langsung menganggap air tersebut aman hanya karena terlihat jernih.

    Perumdam tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan apakah air sumur bor milik masyarakat aman dikonsumsi atau tidak.

    Kepastian mengenai kualitas air sumur bor harus ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.

    ”Kalau sumur bor itu kita tidak bisa menjamin aman atau tidak. Itu harus diperiksa di laboratorium,” jelasnya.

    Parenggean Ditangani dengan Pompa Ponton

    Di sisi lain, persoalan air baku di Parenggean untuk sementara berhasil ditangani dengan pembangunan pompa ponton.

    Sebelumnya, sumber air baku yang digunakan Perumdam di kawasan tersebut menyusut hingga mengalami kekeringan. Untuk mengatasinya, Perumdam membangun pompa terapung di sungai yang berjarak sekitar 400 meter dari kantor yang sudah bisa dioperasikan.

    Dengan beroperasinya pompa tersebut, persoalan kekurangan air baku di Parenggean untuk sementara dapat diatasi.

    ”Perumdam masih terus memantau kemampuan produksi air apabila kondisi sumber air terus berubah, untuk sementara kekurangan air baku di Parenggean sudah dapat diatasi,” pungkasnya. (hgn/ign)