Kategori: Ragam dan Peristiwa

  • Maut di Alur Mentaya Sampit, Jejak Syahrir dan Pola Hilangnya Pekerja Kapal

    Maut di Alur Mentaya Sampit, Jejak Syahrir dan Pola Hilangnya Pekerja Kapal

    SAMPIT, kanalindependen.id – Sungai Mentaya kembali meminta nyawa. Tubuh Muh Syahrir mengapung kaku pada Senin pagi (23/3/2026), sekitar pukul 07.30 WIB, di perairan Terantang, Kecamatan Seranau.

    Tiga hari sebelumnya, anak buah kapal (ABK) tongkang BG Marine Jaya II itu hanya tercatat ringkas sebagai “korban hilang” dalam berita acara kapal dan laporan darurat pencarian.

    Rekaman kamera pengawas (CCTV) merekam jejak terakhirnya pada Kamis malam (19/3/2026) pukul 22.44 WIB, tepat saat gema takbir Idulfitri berkumandang.

    Syahrir terlihat naik turun tangga, berjalan perlahan ke arah buritan tongkang, lalu lenyap ditelan gelap.

    Kru kapal baru menyadari absennya sang rekan saat tongkang bersandar di rede Sampit. Kepanikan pecah, tetapi penyisiran awal di lambung kapal tak membuahkan hasil.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, membenarkan masuknya laporan insiden nahas tersebut.

    Tim SAR gabungan sempat menghentikan sementara penyisiran untuk menunaikan Salat Idulfitri sebelum kembali membelah pekatnya arus Mentaya.

    ”Jam 07.30 korban ditemukan oleh ABK kapal di Terantang dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Multazam saat dikonfirmasi wartawan.

    Penemuan jasad Syahrir oleh sesama pelaut dari kapal lain akhirnya menutup drama pencarian.

    Kabar duka ini mengoyak suasana Lebaran, sekaligus menambah daftar panjang pekerja yang diangkat dari dasar Mentaya menggunakan instrumen serupa: perahu karet, kantong jenazah, dan sirine ambulans di tepi dermaga.

    ABK Jatuh, Karam, dan Hilang

    Tragedi yang menimpa Syahrir sama sekali bukan insiden tunggal. Penelusuran Kanal Independen terhadap arsip pemberitaan menyingkap indikasi pola insiden serupa yang beberapa kali terjadi pada pekerja di alur sungai ini.

    Jarak antara ruang kerja dan ruang bahaya bagi para pelaut terbukti amat tipis.

    Agustus 2025 lalu, misalnya, tragedi serupa merenggut nyawa Bagus Isgiyanto. Berdasarkan catatan pemberitaan, ABK tongkang Karya Maju (TB Satria Raya) itu dilaporkan tergelincir dan tenggelam saat membersihkan tandon air kapal di perairan Kampung Teluk Tewah, Desa Luwuk Bunter. Jasadnya terperangkap arus bawah Mentaya.

    Mengutip laporan sejumlah media lokal pada periode tersebut, jasad Bagus akhirnya ditemukan sekitar pukul 17.55 WIB.

    Operasi penyisiran gabungan berhasil menemukan tubuh korban dalam radius sekitar 100 meter dari titik awal ia dilaporkan tenggelam.

    Jenazah Bagus kemudian dievakuasi ke RSUD dr Murjani Sampit untuk penanganan lebih lanjut.

    Pencarian dengan Arus Deras

    Rangkaian peristiwa ini merajut benang merah yang memilukan. Pekerja beraktivitas di geladak licin atau tepian kapal yang minim pagar pengaman, terpeleset jatuh ke sungai berarus deras, lenyap tak berjejak, lalu berujung pada penemuan jenazah dalam radius tak jauh dari titik jatuh.

    Dalam setiap operasi penyisiran di Mentaya, regu penyelamat selalu berhadapan dengan tabiat sungai yang tak pernah ramah.

    Dalam sejumlah keterangannya kepada publik terkait kecelakaan air di wilayah tersebut, pihak Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palangka Raya kerap menekankan bahwa kuatnya arus bawah dan keruhnya air menjadi kendala utama operasi tim SAR gabungan.

    Setiap kali laporan pelaut hilang masuk ke meja piket, detik itu pula perlombaan melawan waktu dimulai.

    Secara administratif, prosedur pencarian berjalan dengan kerangka yang seragam: tim menyisir dari hulu ke hilir, memetakan radius hingga hitungan kilometer, lalu menyusun target operasi harian.

    Namun, rentetan insiden jatuhnya pekerja membenturkan prosedur rapi tersebut dengan kondisi keras di lapangan.

    Catatan insiden memperlihatkan indikasi celah keselamatan. Dalam sejumlah laporan kecelakaan serupa, faktor seperti geladak licin, minimnya pagar pengaman, hingga penggunaan alat keselamatan (life jacket) yang tidak optimal kerap disebut sebagai penyerta yang mengiringi laporan pelaut hilang.

    Syahrir di Ujung Daftar

    Nama Muh Syahrir kini menjadi catatan terbaru dari pola tersebut. Rekaman CCTV merekam langkah terakhirnya di geladak, laporan otoritas mendokumentasikan proses pencariannya, dan media merekam evakuasi jasadnya.

    Setelah sirine ambulans mereda, namanya menambah deret panjang pekerja perairan yang gagal menyelesaikan jadwal kerjanya.

    Kompilasi insiden di alur Mentaya ini mungkin tidak merekam seluruh kecelakaan kerja yang luput dari pantauan publik.

    Namun, pola dari kasus-kasus yang mencuat memperlihatkan benang merah yang terang: celah keselamatan kerja di atas tongkang dan kapal tunda berhadapan langsung dengan arus bawah Mentaya yang tak terduga.

    Sebuah kombinasi fatal yang sewaktu-waktu siap menarik nama baru ke dasar sungai. (ign)

  • Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    Dua Hari Hilang di Mentaya, Tubuh Syahrir Ditemukan Mengapung di Terantang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Pencarian yang sempat terhenti saat gema takbir Idulfitri akhirnya berujung kepastian pahit. Muh Syahrir, anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang di Sungai Mentaya, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Minggu pagi (22/3/2026).

    Tubuhnya ditemukan sekitar pukul 07.30 WIB di wilayah Terantang. Bukan oleh tim penyelamat, melainkan oleh ABK kapal lain yang melintas di jalur perairan tersebut.
    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, memastikan temuan itu.

    “Jam 07.30 korban ditemukan oleh ABK kapal di Terantang dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.

    Penemuan ini menutup pencarian yang sebelumnya berlangsung dalam ritme terputus. Tim gabungan sempat menyisir perairan Sungai Mentaya sejak laporan hilangnya korban pada Kamis malam (19/3). Namun, operasi dihentikan sementara saat Salat Idulfitri, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.

    Syahrir sebelumnya dilaporkan hilang dari atas tongkang BG Marine Jaya II yang ditarik TB Ocean Marine 2. Rekaman CCTV menjadi petunjuk terakhir ia terlihat berjalan ke arah buritan kapal, lalu lenyap dari jangkauan kamera. Tidak ada saksi, tidak ada suara minta tolong. Hanya jeda, lalu kekosongan.

    Pencarian awal dilakukan kru kapal dengan menyisir badan tongkang hingga perairan sekitar. Hasilnya nihil. Upaya diperluas melibatkan tim gabungan, namun waktu berjalan lebih cepat dari pencarian itu sendiri.

    Dua hari kemudian, sungai mengembalikan tubuhnya.
    Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan. Jenazah Syahrir dievakuasi untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

    Di tengah suasana hari raya yang identik dengan kepulangan dan pertemuan, kabar ini justru datang sebagai kehilangan. Sungai Mentaya, yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas warga, sekali lagi menyisakan cerita yang tak sepenuhnya terjawab. (***)

  • Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    Antara Takbir dan Pencarian, Syahrir yang Tak Pernah Pulang

    SAMPIT, Kanalindependen.id – Malam-malam terakhir Ramadan biasanya diisi gema takbir dan persiapan menyambut Hari Raya. Namun di tepian Sungai Mentaya, suasana itu terasa berbeda. Ada satu nama yang terus dipanggil dalam diam: Muh Syahrir.

    Ia adalah anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang dari sebuah tongkang di perairan Mentaya. Hingga Sabtu (21/3), keberadaannya masih menjadi tanda tanya.

    Kamis malam (19/3/2026) sekitar pukul 22.44 WIB, rekaman CCTV di atas tongkang BG Marine Jaya II merekam aktivitas terakhir Syahrir. Ia terlihat naik turun tangga, lalu berjalan ke arah buritan bagian paling belakang kapal. Setelah itu, ia tak lagi terlihat.
    Tak ada teriakan. Tak ada saksi.

    Beberapa jam berselang, Jumat dini hari (20/3/2026) sekitar pukul 01.07 WIB, kru kapal mulai menyadari ada yang tidak beres. Saat tongkang bersandar di rede Sampit, Syahrir tak ditemukan di mana pun. Pencarian awal dilakukan di seluruh bagian kapal dari ruang akomodasi hingga dek luar. Hasilnya nihil.

    Pencarian kemudian melebar. Kapten kapal memerintahkan penyisiran ke arah Luwuk Bunter mulai pukul 01.40 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Upaya itu dilanjutkan kembali hingga pagi, namun jejak Syahrir tetap tak ditemukan.

    Di darat, tim gabungan juga bergerak. Posko didirikan, koordinasi dilakukan. Namun hingga kini, hasilnya masih sama: Syahrir belum ditemukan.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya masih menunggu langkah lanjutan setelah Salat Idulfitri.

    “Masih belum terkonfirmasi ditemukan. Kami tetap bersiaga di posko dan akan koordinasi lanjutan dengan tim SAR setelah Salat Id,” ujarnya.

    Keputusan menunda lanjutan pencarian hingga setelah Salat Id menyisakan pertanyaan. Di satu sisi, ini adalah momen besar keagamaan. Namun di sisi lain, waktu adalah faktor krusial dalam operasi pencarian.

    Di tengah gema takbir yang mulai berkumandang, ada keluarga yang menunggu kabar yang tak kunjung datang. Ada harapan yang bertahan, meski terus diuji.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah hilangnya seorang ABK. Ia membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sistem keselamatan kerja di atas kapal dijalankan? Mengapa tidak ada yang mengetahui saat seseorang menghilang di area terbuka seperti buritan?

    Dan sejauh mana pengawasan benar-benar dilakukan, terutama pada malam hari?

    CCTV memang merekam. Tapi rekaman itu baru disadari setelah semuanya terjadi.

    Kini, Sungai Mentaya kembali tenang di permukaan. Namun di balik arusnya, ada cerita yang belum selesai. Tentang seorang pekerja yang hilang di penghujung Ramadan dan tentang pencarian yang masih terus berjalan, di antara takbir dan harapan. (***)

  • Libur Lebaran Rawan Insiden, Ketua DPRD Kotim Tekankan Nihil Kecelakaan di Lokasi Wisata

    Libur Lebaran Rawan Insiden, Ketua DPRD Kotim Tekankan Nihil Kecelakaan di Lokasi Wisata

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang musim libur dan perayaan hari besar keagamaan, keselamatan pengunjung di objek wisata kembali disorot.

    Ketua DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rimbun, mengingatkan agar pengelola tidak hanya mengejar ramai pengunjung, tetapi juga memastikan standar pengamanan benar-benar berjalan di lapangan.

    Rimbun mendorong setiap pengelola wisata di Kotim menyiapkan petugas khusus untuk mengantisipasi dan menangani potensi kejadian darurat.

    Menurutnya, kehadiran personel yang memiliki kemampuan penanganan kedaruratan, seperti dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau tenaga terlatih lainnya, menjadi kebutuhan penting, terutama di lokasi yang berisiko tinggi.

    ”Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Kami menekankan agar setiap objek wisata menyiapkan petugas, baik dari BPBD atau tenaga sejenis yang memiliki kemampuan penanganan darurat,” ujarnya.​

    Dia menegaskan, langkah tersebut diperlukan untuk meminimalisir risiko kecelakaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

    Hal itu dinilai sangat penting saat musim libur panjang atau hari besar keagamaan, karena jumlah pengunjung di berbagai titik wisata meningkat signifikan.

    ”Kami menekankan supaya zero accident di wisata-wisata kita bisa benar-benar terwujud, baik di pantai maupun wisata buatan,” tegasnya.​

    Rimbun juga mengingatkan, pengelola tidak boleh hanya fokus pada aspek kenyamanan dan daya tarik semata.

    Standar keselamatan wajib dipenuhi, mulai dari penyediaan alat keselamatan, pemasangan rambu peringatan di titik-titik rawan, hingga prosedur penanganan darurat yang jelas dan bisa segera dijalankan jika terjadi sesuatu.

    Selain kesiapan di tingkat pengelola, ia mendorong adanya koordinasi lintas instansi.

    Dinas terkait, aparat keamanan, hingga relawan diminta terlibat aktif untuk memastikan kesiapsiagaan di setiap objek wisata yang berpotensi ramai dikunjungi.

    ”Ini perlu kolaborasi semua pihak. Jangan sampai ada kejadian yang tidak diinginkan baru kita bertindak. Pencegahan harus menjadi prioritas,” katanya. (ign)

  • Peserta Pawai Takbiran di Sampit Tahun Ini Lebih Sedikit, Wabup Kotim Ungkap Penyebabnya

    Peserta Pawai Takbiran di Sampit Tahun Ini Lebih Sedikit, Wabup Kotim Ungkap Penyebabnya

    SAMPIT, kanalindependen.id – Suasana malam kemenangan menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berlangsung khidmat sekaligus meriah.

    Bupati Kotim Halikinnor secara resmi melepas rombongan Pawai Takbiran yang dipusatkan di depan Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Kotim, Jumat (20/3/2026) malam

    Semarak takbiran menggema di sepanjang rute pawai yang diikuti puluhan rombongan dari berbagai elemen masyarakat.

    Meski jumlah peserta tahun ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, antusiasme warga tetap tinggi dalam menyambut malam Idulfitri.

    Wakil Bupati Kotim, Irawati, menyebutkan, jumlah peserta pawai takbiran tahun ini mencapai sekitar 80 rombongan.

    Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang menembus lebih dari 100 peserta.

    ”Kemungkinan karena ada perbedaan. Sebagian masyarakat Kotim ada yang Lebaran 20 Maret hari ini, ada juga warga Kotim yang Lebaran tanggal 21 Maret. Kita dengar, tadi malam sebagian masyarakat juga sudah ada yang melaksanakan pawai takbiran. Tapi apa pun itu, yang penting bagaimana ibadah kita lancar dan diterima oleh Allah SWT,” ujar Irawati.

    Dia menegaskan, esensi pawai takbiran bukan sekadar jumlah peserta, melainkan sebagai sarana meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta kecintaan kepada Allah SWT.

    Selain itu, Irawati berharap momentum Idulfitri dapat menjadi ajang mempererat persatuan dan keharmonisan masyarakat di Kotim.

    ”Mudah-mudahan tahun depan pesertanya lebih banyak lagi, dan tidak ada perbedaan antara Muhammadiyah maupun NU,” tambahnya.

    Pejabat Kotim Buka Pintu Silaturahmi

    Dalam rangka menyambut Hari Raya Idulfitri, jajaran Pemerintah Kabupaten Kotim juga mengundang masyarakat untuk bersilaturahmi melalui agenda open house yang digelar pada hari pertama Lebaran, Sabtu (21/3/2026).

    Tiga pejabat daerah dipastikan membuka kediamannya untuk masyarakat, yakni Rumah Jabatan Bupati Kotim, Rumah Jabatan Wakil Bupati Kotim, dan Rumah Jabatan Sekretaris Daerah Kotim.

    Kegiatan open house dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB, dan terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

    ”Silakan datang, kami mengundang seluruh masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur untuk bersilaturahmi di hari yang fitri,” pungkas Irawati. (hgn/ign)

  • Ajang Flexing Tebar Pesona, Jelang Lebaran Toko Emas di Sampit Diserbu Pembeli

    Ajang Flexing Tebar Pesona, Jelang Lebaran Toko Emas di Sampit Diserbu Pembeli

    SAMPIT, kanalindependen.id – Fenomena berburu perhiasan emas jelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah sudah menjadi tradisi di Kota Sampit.

    Kendati harga melambung tinggi, emas justru menjadi simbol gaya hidup sekaligus ajang flexing untuk tebar pesona saat momen silaturahmi Lebaran.

    Toko-toko emas pun diserbu pembeli. Salah satunya Toko Emas Mitra Baru di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) yang setiap hari dipadati pengunjung dari pagi hingga sore.

    Harga emas logam mulia bahkan memecah rekor. Untuk perhiasan kadar 999 atau 24 karat kini menembus Rp 2.550.000 per gram, sementara emas batangan murni merek Antam mencapai Rp 3.150.000 per gram.

    ”Untuk emas batangan atau logam mulia murni merek Antam sekarang di posisi Rp 3.150.000 per gram, sedangkan emas perhiasan kadar 999 Rp 2.550.000 per gram,” ujar Muliana Sari, anak pemilik Toko Emas Mitra Baru, Rabu (18/3/2026).

    Selain Antam, tersedia juga emas batangan dari Galery 24 seharga Rp 3.100.000 per gram, UBS dan Emasku di kisaran Rp 2.950.000 per gram, serta emas batangan lokal sekitar Rp 2.550.000 per gram. Namun, untuk sementara stok emas batangan lokal belum tersedia.

    Tak hanya emas batangan, perhiasan emas berbagai kadar juga menjadi incaran.

    Mulai dari kadar 999 seharga Rp 2.550.000 per gram, kadar 750 Rp 2.500.000, kadar 700 Rp 2.050.000, hingga kadar 375 Rp 1.180.000 per gram.

    Menariknya, tingginya harga tidak menyurutkan minat masyarakat. Justru, emas kadar tinggi seperti 999 tetap menjadi favorit karena dinilai menguntungkan sebagai investasi sekaligus menunjang penampilan.

    ”Walaupun harga emas tinggi, emas 999 dan kadar lainnya masih jadi primadona. Karena kalau dijual lagi harganya juga tinggi, jarang orang jual emas rugi, kecuali beratnya berkurang karena pemakaian,” jelasnya.

    Dalam sepekan terakhir, harga emas terpantau stabil tanpa gejolak berarti, meski secara tren tahunan terus mengalami kenaikan. Bahkan, peluang penurunan harga dinilai kecil.

    ”Kalau turun paling sekitar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu per gram, itu pun jarang terjadi. Umumnya tiap tahun terus naik,” tambahnya.

    Lonjakan pembelian semakin terasa menjelang Lebaran, dengan perbandingan transaksi sekitar 80 persen pembelian dan hanya 20 persen penjualan.

    ”Selama seminggu menjelang Lebaran sampai H-1, pengunjung meningkat. Lebih banyak yang membeli, mungkin untuk dipakai saat silaturahmi ke rumah keluarga dan kerabat,” ujarnya.

    Pantauan di lapangan, tiga toko utama Mitra Baru yang saling terhubung dipenuhi pembeli hingga membuat etalase emas nyaris tak terlihat karena kerumunan. Sementara toko keempat yang khusus menjual perhiasan emas putih terlihat lebih lengang.

    Sebanyak 25 karyawan yang mengenakan seragam peach tampak sibuk melayani pembeli tanpa henti, bahkan saat menjalankan ibadah puasa.

    ”Karyawan kami ada 25 orang, itupun masih kewalahan karena pengunjung datang silih berganti dari pagi sampai sore,” ungkap Muliana Sari, putri kedua Darsani.

    Lonjakan aktivitas ini berdampak langsung pada omzet penjualan yang meningkat drastis dibanding hari biasa.

    ”Kalau hari biasa sekitar 5 sampai 6 ons, selama Ramadan hingga menjelang Lebaran bisa mencapai kurang lebih 1 kilogram emas terjual, dengan persentase 80 persen membeli dan 20 persen menjual,” tandasnya. (hgn/ign)

  • Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    Ramadan Pergi, Iman Diuji, Ini Pesan Menohok dari Mimbar Idulfitri di Sampit

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Takbir berkumandang. Pagi itu, Sabtu (20/3/2026) suasana Idulfitri terasa khidmat di Perguruan Muhammadiyah Sampit.

    Di atas mimbar, Khatib Salat Idulfitri, HM Fatchurrahman, tidak hanya mengajak jamaah merayakan kemenangan. Ia justru mengajak untuk bertanya tentang apa yang tersisa setelah Ramadan pergi.

    “Kita baru saja menunaikan ibadah puasa Ramadan, bulan yang mulia dan sangat dirindukan orang beriman,” ucapnya.

    Namun ia tak berhenti pada pujian.
    Ramadan, kata dia, bukan sekadar bulan ibadah, tapi juga bulan pendidikan. Tempat manusia dilatih menahan diri bukan hanya dari lapar dan dahaga, tapi juga dari segala yang dilarang.

    Masalahnya, semangat itu tak selalu bertahan.
    Di awal Ramadan, masjid dan musala penuh. Saf-saf rapat. Namun perlahan, jumlah jamaah menyusut. Hingga di sepuluh malam terakhir yang justru paling istimewa sebagian orang malah sibuk di pusat perbelanjaan.

    Padahal di situlah letak inti Ramadan.
    “Malam yang lebih baik dari seribu bulan justru sering terlewatkan,” sindirnya halus.

    Kini Ramadan telah pergi.
    Pertanyaannya, apakah nilai-nilainya ikut pergi?
    Dulu, selama sebulan penuh, umat Islam rela menahan diri. Tapi setelah itu, apakah masih mampu menahan diri dari yang haram?

    Ia mengingatkan, larangan Allah bukan hanya berlaku saat Ramadan.

    Mengutip Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk mengonsumsi yang halal dan baik, serta menjaga setiap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
    Lebih jauh, ia mengajak jemaah untuk merenung lebih dalam.

    Seakan Ramadan berbicara.
    “Apakah kalian masih menjaga tangan kalian setelah aku pergi?”

    Pertanyaan itu bukan tanpa makna. Sebab pada akhirnya, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi.

    “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan,” ujarnya, mengutip QS Yasin ayat 65.

    Tak hanya itu, Ramadan juga seakan bertanya: apakah kita masih menjaga pandangan, pendengaran, dan hati?
    Selama sebulan, semua itu dijaga. Tapi setelahnya, sering kali kembali longgar.

    Padahal, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.
    Ia juga menyinggung kebiasaan baik selama Ramadan bersedekah, membantu sesama, mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Hal-hal yang sering kali perlahan ditinggalkan setelah bulan suci berlalu.

    Jangan sampai, katanya, Al-Qur’an yang dulu sering dibaca justru kalah oleh layar gawai. Jangan sampai Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan nyata.

    Dalam satu kalimat yang terasa menampar, ia menggambarkan Ramadan seperti tamu.

    “Aku hanya pulang, namun aku seperti tamu yang tidak diharapkan kembali.”

    Sebuah sindiran, sekaligus pengingat.
    Bahwa semangat Ramadan seharusnya tidak berhenti di hari kemenangan.

    Di akhir khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk berdoa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang tengah dilanda musibah.

    Ia memohon agar umat tetap diberi kekuatan untuk istiqamah, menjaga iman, dan kembali dipertemukan dengan Ramadan di masa mendatang.

    Idulfitri, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan.
    Ia adalah titik awal. Pertanyaannya sederhana tapi sering dihindari: setelah Ramadan pergi, apa yang benar-benar kita bawa?(***)

  • Danau Tak Terkelola Jadi Tempat Liburan, Nyawa Jadi Taruhan

    Danau Tak Terkelola Jadi Tempat Liburan, Nyawa Jadi Taruhan

    SAMPIT, Kanalindependen.id –  Airnya tenang. Sekilas terlihat aman.

    Di beberapa sudut Kota Sampit, danau-danau itu kini berubah wajah. Dari bekas galian C yang dulu ditinggalkan, kini menjelma menjadi tempat wisata dadakan. Orang datang, anak-anak bermain, keluarga berkumpul.

    Tak banyak yang tahu atau mungkin tak banyak yang mau tahu apa yang tersembunyi di balik permukaan airnya.

    Kedalamannya tak selalu terukur. Dasarnya tak selalu rata. Dan pengawasannya, sering kali, nyaris tak ada.
    Libur Lebaran hanya akan memperbesar semuanya: jumlah pengunjung, tingkat keramaian, dan tentu saja risiko.

    Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyebut pihaknya tidak ingin kecolongan lagi. Pengalaman awal tahun 2026 menjadi pengingat yang sulit dilupakan.

    Seorang anak berusia 12 tahun meninggal dunia akibat tenggelam di lokasi wisata air.

    Sebuah tragedi yang seharusnya cukup untuk membuat semua pihak berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya seaman apa tempat-tempat ini?

    “Kami mempersiapkan diri, bukan hanya di Ujung Pandaran, tapi juga di lokasi wisata dalam kota, terutama wisata air,” ujar Multazam.

    Namun kesiapan itu tampaknya masih harus berpacu dengan kenyataan di lapangan.

    BPBD hanya menyiagakan 12 personel khusus pada hari kedua dan ketiga Lebaran di titik-titik rawan. Sementara di luar itu, petugas tetap siaga 24 jam di posko menunggu laporan, menunggu kejadian.

    Jumlah yang terasa kecil jika dibandingkan dengan potensi lonjakan pengunjung di banyak titik sekaligus.

    Sementara itu, tidak semua lokasi wisata memiliki pengelolaan yang memadai. Beberapa memang sudah dikelola, tapi tak sedikit yang dibiarkan tanpa kontrol.

    Tanpa standar keselamatan. Tanpa pembatas area berbahaya. Tanpa pengawasan yang jelas.

    Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal kesiapan BPBD semata.

    Ini soal siapa yang bertanggung jawab.

    BPBD sendiri mengakui, banyak kejadian di wisata air berawal dari kelalaian. Entah dari pengunjung yang abai, atau pengelola yang tidak benar-benar menyiapkan sistem pengamanan.

    Padahal, ketika sebuah tempat dibuka atau dibiarkan menjadi ruang publik, maka keselamatan seharusnya menjadi prioritas, bukan pilihan.

    BPBD berharap ada kolaborasi dengan sukarelawan dan masyarakat. Mereka juga meminta pengelola wisata untuk menambah personel pengawasan.
    Namun harapan saja tak cukup jika tidak diikuti tindakan nyata.

    Sebab ketika danau-danau tak terkelola itu terus dipadati pengunjung, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kenyamanan liburan.

    Melainkan nyawa. (***)

  • Saat Hilal Tak Terlihat, Perbedaan Kembali Tak Terelakkan

    Saat Hilal Tak Terlihat, Perbedaan Kembali Tak Terelakkan

    Kanalindependen.id – Malam itu, keputusan kembali diambil. Bukan tanpa perhitungan, bukan pula tanpa perdebatan.

    Di balik meja Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama RI, Kamis (19/3/2026), berbagai data dikumpulkan, laporan dibacakan, dan hasil pengamatan dari seluruh penjuru Indonesia disampaikan satu per satu. Namun ujungnya sama: hilal tak terlihat.

    Dari 117 titik pemantauan, tak satu pun yang berhasil melihat tanda awal bulan Syawal itu.

    “Berdasarkan hasil hisab dan laporan rukyat, hilal belum memenuhi kriteria. Karena itu, 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada Sabtu (21/3/2026),” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar.

    Secara astronomis, posisi hilal memang masih berada di bawah ambang batas visibilitas yang ditetapkan pemerintah berdasarkan standar MABIMS. Tingginya belum cukup, elongasinya belum memenuhi syarat. Dengan kata lain, Syawal belum bisa dimulai setidaknya menurut metode ini.

    Namun di luar ruang sidang, keputusan itu bukan satu-satunya.

    Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan Idulfitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Metode yang digunakan berbeda: hisab dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Tanpa menunggu terlihatnya hilal, perhitungan matematis sudah memberikan kepastian.

    Dan seperti yang sudah-sudah, Indonesia kembali berada di dua tanggal.

    Perbedaan ini bukan hal baru. Ia hadir hampir setiap tahun, menjadi semacam “ritual lain” menjelang Lebaran. Bagi sebagian orang, ini membingungkan. Bagi yang lain, ini sudah menjadi bagian dari dinamika.

    Di satu sisi, ada rukyat pengamatan langsung terhadap hilal. Di sisi lain, ada hisab perhitungan ilmiah yang tak bergantung pada cuaca atau visibilitas.

    Keduanya punya dasar. Keduanya punya pengikut.
    Pemerintah pun kembali menyampaikan imbauan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: menjaga toleransi.

    Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan hanya soal kapan dirayakan. Tapi bagaimana perbedaan itu disikapi.
    Karena ketika hilal tak terlihat, yang sering kali justru paling tampak adalah perbedaan itu sendiri. (***)

  • Menjelang Lebaran, Pusat Belanja di Sampit Kian Padat, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Ratusan Miliar

    Menjelang Lebaran, Pusat Belanja di Sampit Kian Padat, Perputaran Uang Diperkirakan Capai Ratusan Miliar

    SAMPIT, kanalindependen.id – Menjelang Idulfitri, denyut ekonomi di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur terasa makin cepat.

    Pasar-pasar penuh sejak pagi, aroma kue kering bercampur suara pedagang yang tak berhenti menawar. Uang mengalir deras di tengah hiruk-pikuk itu. Diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah selama Ramadan hingga Lebaran.

    ”Tahun ini pembeli ramai sekali, terutama sejak dua minggu terakhir,” ujar Rahmat Noor, Ketua UMKM Kotim, Kamis (19/3).

    ”Makanan, kue kering, sampai kebutuhan hari raya semua laku. Tapi harga bahan juga naik,” tambahnya.

    Data Bank Indonesia menunjukkan, kebutuhan uang tunai di Kalimantan Tengah selama Ramadan dan Lebaran tahun ini mencapai sekitar Rp3,28 triliun.

    Dari jumlah itu, Kotim kebagian porsi signifikan: antara Rp500 hingga Rp800 miliar. Tambahan arus uang juga datang dari Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara di Kotim yang mencapai Rp35,6 miliar, belum termasuk tenaga swasta.

    Para pelaku usaha menyebut, Ramadan dan Lebaran ibarat musim panen singkat. Dalam kondisi normal, perputaran ekonomi di Kotim sekitar Rp3 triliun per bulan.

    Ketika Lebaran tiba, pergerakannya bisa melonjak hingga 30 persen, setara tambahan Rp900 miliar yang berputar di pasar, toko, dan pusat perbelanjaan.

    Namun, bagi pedagang kecil, derasnya uang bukan berarti rezeki melimpah. Kenaikan harga bahan baku membuat banyak UMKM berhitung lebih hati-hati.

    ”Kalau harga bahan naik, kami serba salah. Mau dinaikkan takut pelanggan kabur, tapi kalau ditahan, untung tipis sekali,” kata Rahmat.

    Uang yang berputar cepat itu sebagian besar habis untuk sembako, pakaian, dan kebutuhan hari raya.

    Namun, ia menegaskan, banyaknya uang yang beredar tidak selalu berarti masyarakat lebih sejahtera. ”Uang memang lebih banyak berputar, tapi itu karena kebutuhan meningkat. Bukan berarti masyarakat punya uang lebih,” jelasnya.

    Setelah Lebaran, sirkulasinya kembali menurun, meninggalkan ruang bagi para pelaku ekonomi kecil untuk kembali bertahan dengan strategi lama. (ign)