Di momen genting itu, sejumlah warga lain yang berada di sekitar lokasi sigap menahan keduanya.
Tangan dan badan dua orang yang saling berhadapan itu ditarik warga hingga mereka berhasil dipisahkan.
Bentrokan terbuka yang berpotensi memakan korban luka akhirnya urung terjadi, meski bara konflik di Irigasi Danau Lentang belum benar-benar padam.
Sementara itu, Kepala Desa Luwuk Bunter Kurnainoor membenarkan insiden tersebut. Konflik lebih besar bisa dicegah karena masih ada warga lain yang tidak ikut terpancing.
Menurutnya, konflik itu terjadi karena PT BSP masih memaksakan menggarap lahan.
”Saya sesalkan perusahaan tidak ada upaya meredam dan menyelesaikan. Ini sudah kejadian kedua di lokasi yang sama dan kami masih bersyukur tidak ada yang terluka,” katanya.
Sebelumnya, Manajer Humas PT Borneo Sawit Perdana (BSP) Rosi Andreas menanggapi kekhawatiran warga soal potensi bentrokan di lapangan, terutama ketika alat berat dan bibit sawit kembali masuk ke lahan yang diklaim sebagai jalur irigasi.
Dia menegaskan, perusahaan tidak menginginkan konflik terbuka.
”Kalau bicara potensi bentrok, itu justru yang harus dihindari. Kami tidak ingin kehadiran BSP menjadi sesuatu yang buruk bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, langkah yang semestinya diambil adalah menelusuri siapa penjual lahan yang kini diklaim, melapor ke kepala desa dan camat, lalu menempuh mediasi agar status jual beli dan batas lahan bisa diklarifikasi terbuka. (ign)

Tinggalkan Balasan