Menurutnya, pemeriksaan itu dilakukan ketika pembukaan lahan baru dimulai dan perubahan fisik belum sejauh sekarang.
”Waktu awal mereka mulai garap tahun 2023 memang ada pengecekan. Tapi setelah itu? Sekarang sudah 2026. Kondisinya jauh berbeda,” tegasnya.
Isur menduga, pemerintah hanya memotret situasi di fase paling awal. Dalam tiga tahun terakhir, warga melihat pembukaan jalan, perataan lahan, hingga penanaman sawit terus meluas menyentuh lebih banyak bagian jaringan sekunder.
Pada sejumlah titik, saluran yang dulu bisa dilewati air kini menyempit, sementara di titik lain alur lama nyaris tak lagi terbaca di permukaan.
”Kalau cuma datang sekali di awal, wajar saja kelihatan tidak apa‑apa. Tapi sekarang coba lihat lagi. Sudah banyak berubah,” katanya.
Gambaran itu juga tampak dari udara. Rekaman drone yang diambil warga memperlihatkan sebagian besar lahan di sekitar irigasi tertutup sawit, dengan sisa jalur air yang tampak seperti garis‑garis tipis terjepit di antara blok tanaman.
Warga khawatir fungsi irigasi sebagai penopang pertanian akan semakin melemah jika pola ini dibiarkan.
Mereka menilai, ketika saluran sekunder diiris atau ditimbun, sistem distribusi air tidak lagi optimal dan risiko kekurangan pasokan bagi lahan di hilir akan meningkat.
”Ini bukan cuma soal lahan kami. Ini soal irigasi untuk banyak orang. Kalau saluran ditutup atau dipotong‑potong, dampaknya ke semua,” ujar Isur.
Dia bahkan menilai pemerintah berpotensi tertipu jika hanya mengandalkan laporan lama dan pengecekan awal yang dilakukan ketika pembukaan lahan belum masif. Baginya, perbedaan antara klaim dan kondisi nyata di saluran sekunder 6 sampai 12 adalah bukti bahwa irigasi Danau Lentang perlu ditinjau ulang dengan kacamata hari ini, bukan kemarin.
”Kalau hanya pegang laporan lama, ya pasti dianggap aman. Padahal sekarang sudah berbeda jauh,” katanya.
PT Borneo Sawit Perdana sebelumnya telah menegaskan tak merusak jalur irigasi. Manajer Humas PT BSP Rosi Andreas mengatakan, perusahaan tidak merusak saluran maupun aset negara di kawasan Danau Lentang.
Rosi juga menyebut tim Pemerintah Kabupaten Kotim yang turun pada 16 Juni 2023 tidak menemukan kerusakan pada saluran irigasi, melainkan hanya mendapati sengketa klaim lahan di sekelilingnya. (ign)

Tinggalkan Balasan