Hujan Sempat Redakan Asap, Kini 68 Titik Panas Kembali Berpidar di Kotim: Natai Baru Jadi Pusat Ancaman

SAMPIT, Kanalaindependen.id  – Harapan warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk menghirup udara bersih pasca-guyuran hujan ternyata masih jauh dari kenyataan. Meski hujan sempat menurunkan intensitas kabut asap, rekapitulasi data BMKG dan BPBD Kotim periode 28–29 Oktober 2026 mencatat lonjakan tajam pemunculan titik panas (hotspot), yakni sebanyak 68 titik panas berpidar kembali di bumi Habaring Hurung.

Angka ini melonjak drastis dibandingkan pemantauan pada 27 Oktober 2026 yang sempat melandai hingga tersisa satu titik di Desa Tumbang Manya, Kecamatan Antang Kalang.

Kekecewaan dan kekhawatiran dirasakan warga Kota Sampit yang sempat merasa lega saat hujan turun. Izuk, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, mengungkapkan bahwa sisa-sisa endapan asap masih pekat menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya.

“Awalnya kami berharap udara semakin membaik setelah hujan. Namun kenyataannya asap masih muncul dari bekas kebakaran,” keluh Izul , Kamis (29/10/2026).

Kecamatan Mentaya Hilir Utara Paling Kritis, Desa Natai Baru Sumbang 57 Hotspot

Berdasarkan rincian data satelit penginderaan jauh (SNPP dan NOAA20), dari total 68 titik panas yang terdeteksi, sebanyak 55 titik masuk kategori tingkat kepercayaan medium (menengah), 9 titik kategori low (rendah), dan 4 titik masuk kategori high (tinggi) yang mengindikasikan kuat adanya kebakaran aktif di atas permukaan gambut.

Konsentrasi pendaran api terbesar mengumpul di wilayah pesisir selatan Kotim, di antaranya Kecamatan Mentaya Hilir Utara (64 Titik): Desa Natai Baru menjadi episentrum paling mengkhawatirkan dengan menyumbang 57 titik panas (4 titik di antaranya berkategori kepercayaan tinggi via satelit NOAA20). Selebihnya tersebar di Desa Bagendang Tengah (5 titik) dan Bagendang Hilir (2 titik).

Kemudian , kecamatan Lain (4 Titik): Terdeteksi di Desa Tanjung Bantur, Kecamatan Mentaya Hulu (2 titik); Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga (1 titik); serta Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit (1 titik).

Model Prediksi Cuaca Numerik (Weather Research and Forecasting/WRF) BMKG memetakan bahwa hujan tipis yang sempat turun sebelumnya belum mampu membasahi lapisan dalam gambut (deep peat). Sebagian besar wilayah Kotim bagian tengah dan selatan bahkan diprakirakan tetap berada pada status Sangat Mudah Terbakar.

Peningkatan dari 1 menjadi 68 titik panas mengonfirmasi fenomena efek pemicu semu (pseudo-rain effect), di mana hujan intensitas ringan-sedang hanya memadamkan api di permukaan rumput, sementara bara api di kedalaman lahan gambut Natai Baru tetap menyala dan kembali mengepulkan asap saat terik matahari muncul.

Merespons ancaman laten tersebut, Bupati Kotim Halikinnor  mengambil langkah tegas dengan memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan selama 16 hari, terhitung mulai 31 Oktober hingga 15 November 2026. Keputusan krusial ini ditetapkan dalam Rapat Evaluasi Bencana di Pusdalops BPBD Kotim, Kamis (29/10/2026).

Bupati Halikinnor menginstruksikan seluruh jajaran Satgas Karhutla untuk tidak mengendurkan kesiapsiagaan kendati cuaca mulai membasahi sebagian wilayah.

“Walaupun hujan sudah turun, kita tidak boleh lengah. Kita masih harus memastikan kondisi di lapangan benar-benar aman, karena masih ada titik yang memerlukan penanganan intensif,” tegas Halikinnor saat memimpin rapat evaluasi di Pusdalops BPBD Kotim, Kamis (29/10/2026).

Halikinnor secara khusus menyoroti bahaya laten karakter lahan gambut Kotim yang sering kali menipu penglihatan mata.

“Bara api di dalam tanah, khususnya lahan gambut, sangat berpotensi kembali menyala dan membesar meskipun asap di permukaan sudah tidak terlihat,” ingat Bupati Halikinnor kepada petugas lapangan dan masyarakat.

Keputusan Bupati Halikinnor memperpanjang status Tanggap Darurat hingga 15 November 2026 merupakan langkah taktis dan tepat sasaran dalam mencegah bencana karhutla susulan (second wave). Status ini memberikan legalitas operasional dan fleksibilitas anggaran bagi Satgas untuk menggencarkan pemadaman darat.

BPBD Kotim, Manggala Agni, dan Satgas Karhutla didesak tidak hanya mengandalkan pemantauan layar satelit. Empat titik hotspot berkategori kepercayaan tinggi di Desa Natai Baru harus segera diserbu melalui pemadaman darat (ground fighting) dan pengerahan helikopter water bombing sebelum api menjalar ke perkebunan warga.

Polres Kotim dan jajaran Polsek Mentaya Hilir Utara dituntut memperketat patroli di kawasan Bagendang dan Natai Baru guna mengantisipasi oknum masyarakat atau korporasi yang sengaja memanfaatkan momen pasca-hujan untuk membakar lahan secara ilegal. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *